Anda di halaman 1dari 11

6

BAB II
KEADAAN UMUM STASIUN KARANTINA PERTANIAN KELAS I
BANDUNG

2.1. Karantina Pertanian


Lalu lintas manusia dan barang dari satu negara ke negara lain atau dari
satu area ke area lain di mana secara bersamaan dengan lalu lintas tersebut dapat
terjadi perpindahan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) dari satu
ekosistem ke ekosistem yang lain. OPTK baru yang masuk di suatu area tertentu
(ekosistem baru) akan berkembang biak dan merusak pertanian kita khususnya
komoditi yang mempunyai nilai ekonomi. Pada waktu bersamaan komoditi
pertanaman mengalami penurunan produksi dan semakin peka terhadap OPTK,
karena pada area baru tersebut mungkin tidak ada musuh alami dan banyak jenis
tanaman inangnya. Bila dilakukan waktu pencegahan pada waktu yang tepat, dan
sistematis dapat memperkecil peluang masuk, menetap, dan menyebarkan OPTK
(Pusat Karantina Tumbuhan, 2010).
Menurut Undang-undang Republik Indonesia No. 16 Tahun 1992 tentang
Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, yang dimaksud dengan karantina adalah
tempat pengasingan dan/atau tindakan sebagai upaya pencegahan masuk dan
tersebarnya hama dan penyakit atau organisme pengganggu dari luar negeri dan
dari suatu area ke area lain didalam negeri atau keluarnya dari dalam wilayah
Negara Republik Indonesia. Kegiatan karantina pertanian di Indonesia merupakan
tanggung jawab Kementerian Pertanian yang pelaksanaannya oleh Badan
Karantina Pertanian. Badan Karantina Pertanian adalah organisasi eselon I
lingkup Kementerian Pertanian dan dipimpin oleh seorang Kepala Badan.
Badan Karantina Pertanian memiliki tupoksi untuk mencegah masuk dan
tersebarnya OPT dari luar negeri ke dalam negeri; mencegah tersebarnya
OPT/OPTK dari suatu area ke area lain di dalam wilayah RI; dan mencegah
keluarnya OPT/OPTK dari dalam wilayah RI bila negara lain
mempersyaratkannya. Selain itu pun, Badan Karantina Pertanian memiliki visi
menjadi karantina yang modern, tangguh, dan terpercaya, juga misi :
a. Menjaga dan mencegah masuk dan tersebesarnya OPTK dan HPHK di
7

wilayah Republik Indonesia;


b. Melindungi kelestarian sumber daya alam hayati, hewani dan tumbuhan; dan
c. Mendukung keberhasilan program pengembangan agribisnis, dan peningkatan
ketahanan pangan nasional.
Pegawai Badan Karantina Pertanian adalah petugas karantina pertanian
dengan komposisi petugas fungsional, petugas teknis dokter hewan, paramedik,
pengendali organisme pengganggu tanaman (POPT), petugas laboratorium, dan
pegawai administrasi. Petugas teknis dibekali kemampuan dengan basis ilmiah
untuk memeriksa dan mendeteksi adanya penyakit hewan dan tumbuhan yang
dimungkinkan masuk melalui komoditi pertanian (media pembawa)
(BARANTAN, 2016).
Badan Karantina Pertanian melakukan delapan tindakan karantina dalam
rangka melaksanakan tugas pokok dan fungsinya yaitu pemeriksaan, pengasingan,
pengamatan, perlakuan, penahanan, penolakan, pemusnahan, dan pembebasan
atau dikenal sebagai 8P tindakan karantina. Tindakan karantina tersebut
mencakup tindakan yang dapat dilakukan pada saat OPTK belum masuk, pada
saat masuk maupun jika terjadi masuknya OPTK ke wilayah Republik Indonesia
dengan tujuan keamanan maksimal dalam langkah cegah tangkal OPTK (Pusat
Karantina Tumbuhan, 2010).

2.2. Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Bandung


2.2.1. Sejarah Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Bandung
Penyelenggaraan perkarantinaan tumbuhan di Jawa Barat diawali dengan
mendirikan kantor Stasiun Karantina Tumbuhan (SKT) Kelas I Cirebon yang
mempunyai wilayah kerja mencakup sebagian besar wilayah kerja Jawa Barat
sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri Pertanian nomor
547/Kpts/OT.140/9/2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai dan Stasiun
Karantina Tumbuhan. Wilayah Kerja dimaksud antara lain Pelabuhan Cirebon,
Kantor Pos Cirebon, Kantor Pos Bandung, dan Bandara Husein Sastranegara
Bandung. Di samping itu, tempat-tempat pengeluaran dan pemasukan lainnya di
Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah kerja dari Balai Besar Karantina Tanjung
Priok yaitu Kantor Wilayah Kerja Terminal Peti Kemas Gede Bage. Selain
8

karantina tumbuhan, di Jawa Barat terdapat pula karantina hewan yang


merupakan wilayah kerja Balai Karantina Hewan (BKH) Kelas I Tanjung Priok
yaitu Kantor Wilayah Kerja Bandara Husein Sastranegara Bandung dan Kantor
Wilayah Kerja Pelabuhan Laut Cirebon.
Hasil dari Peraturan Menteri Pertanian No. 22/Permentan/OT.140/4/2008
tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian,
menjadi awal terbentuknya Stasiun Karantina Pertanian (SKP) Kelas I Bandung.
SKP Kelas I Bandung merupakan gabungan dari SKT Kelas I Cirebon, Balai
Besar Karantina Tanjung Priok Kantor Wilayah Kerja Terminal Peti Kemas Gede
Bage, SKH Kelas I Tanjung Priok Wilayah Kerja Bandara Husein Sastranegara,
dan Kantor Wilayah Kerja Pelabuhan Laut Cirebon.
Tanggal 18 Juni 2008, terbit Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor
808/Kpts/KP.330/6/2008 tentang Pengangkatan dalam Jabatan Struktur Eselon
III, IV, dan V Lingkup Badan Karantina Pertanian Departemen Pertanian.
Menindaklanjuti surat keputusan tersebut, Kepala Badan Karantina Pertanian
melantik pejabat Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Bandung bersama-sama
dengan pejabat lingkup Badan Karantina Pertanian lainnya.

2.2.2. Lokasi Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Bandung


Lokasi kantor pusat Stasiun Karantina Pertanian (SKP) Kelas I Bandung
terletak di Jalan Soekarno-Hatta No. 725 C, Bandung, Jawa Barat. SKP Kelas I
Bandung dapat dihubungi melalui jaringan telepon dengan nomor (022) 7300002,
Faximile dengan nomor (022) 7300014, surat elektronik dengan alamat
skpbandung@karantinaonline.com, dan melalui situs online di laman
www.karantinabandung.org.

2.2.3. Organisasi Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Bandung


Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Bandung adalah unit pelaksana teknis
(UPT) yang berasal di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Badan
Karantina Pertanian. Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Bandung dipimpin oleh
Ir. Iyus Hidayat, M.P selaku Kepala Unit Pelaksana Teknis dengan dibantu dua
pejabat struktural yaitu Kepala Urusan Tata Usaha oleh R. Murtini, S.E yang
9

menangani operasiona 3M dan Kepala Sub-Seksi Pelayanan Operasional yaitu


Drh, Lussy Silvianingrum yang menangani kegiatan operasional teknis karantina
hewan tumbuhan, dan keamanan pangan hayati, hewani, dan nabati, serta
membawahi kelompok jabatan fungsional tertentu (Gambar 1.).

Kepala Stasiun
Karantina Pertanian
Kelas I Bandung

Kepala Urusan Tata


Usaha
Kepala Sub Seksi
Pelayanan
Operasional

Kelompok Jabatan
Fungsional Tertentu

Gambar 1. Struktur Organisasi SKP Kelas I Bandung


(Sumber : Laporan Tahunan SKP Kelas I Bandung 2017)

2.2.4. Visi, Misi, Motto, Maklumat, dan Janji Layanan Stasiun Karantina
Pertanian Kelas I Bandung
2.2.4.1. Visi SKP Kelas I Bandung
Visi merupakan gambaran tentang masa depan yang realistik dan ingin
diwujudkan dalam kurun waktu tertentu. Visi merupakan kondisi ideal tentang
masa depan, terjangkau, dipercaya, meyakinkan serta mengandung daya tarik,
sekaligus merupakan refleksi keadaan internal dan potensi kemampuan inti serta
fleksibilitas suatu organisasi dalam menghadapi hambatan dan tantangan masa
depan. Visi Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Bandung adalah menjadi UPT
Karantina yang Tangguh dan Terpercaya dalam Perlindungan Kelestarian
10

Sumberdaya Alami Hayati Hewan dan Tumbuhan, Lingkungan, dan


Keanekaragaman Hayati serta Keamanan Pangan di Provinsi Jawa Barat dan
wilayah sekitarnya.

2.2.4.2. Misi SKP Kelas I Bandung


Misi adalah tugas utama yang harus dilakukan organisasi dalam mencapai
tujuan. Untuk mewujudkan visi, terdapat 6 misi Stasiun Karantina Pertanian Kelas
I Bandung, yaitu :
1. Melindungi kelestarian sumber daya hayati hewan dan tumbuhan dari
serangan hama dan penyakit hewan karantina (HPHK) dan organisme
pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) di Provinsi Jawa Barat dan wilayah
sekitarnya.
2. Mendukung terwujudnya keamanan pangan di Provinsi Jawa Barat dan
wilayah sekitarnya.
3. Memasilitasi perdagangan dalam rangka memertahankan dan meningkatkan
akses pasar komoditas pertanian Provinsi Jawa Barat dan wilayah sekitarnya.
4. Memperkuat kemitraan perkarantinaan di Provinsi Jawa Barat dan wilayah
sekitarnya.
5. Meningkatkan citra dan kualitas layanan publik.

2.2.4.3. Motto SKP Kelas I Bandung


“Cegah tangkal HPHK/OPTK Petani Sejahtera”.

2.2.4.4. Maklumat SKP Kelas I Bandung


“Kami akan memberikan pelayanan sesuai prosedur dan siap menerima
sanksi apabila tidak sesuai dengan janji layanan kami”.

2.2.4.5. Janji Layanan SKP Kelas I Bandung


Janji layanan merupakan tekad dari SKP Kelas I Pertanian kepada
masyarakat, demi terwujudnya visi dan misi, dan janji layanan SKP Kelas I
Pertanian yaitu :
11

Kami pegawai Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Bandung adalah manusia yang
bertakwa ke pada Tuhan Yang Maha Esa berjanji :
1. Akan memberikan pelayanan yang prima kepada pengguna jasa yang
meminta pelayan tindakan karantina.
2. Tidak akan melakukan praktek KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) dalam
melaksanakan tugas sebagai pelayan masyarakat.
3. Akan berperan aktif dalam proses pemberantasan KKN dalam proses
pelaksanaan tugas sebagai aparat negara.
4. Dalam melaksanakan tugas sebagai pelayanan masyarakat akan bertindak
secara bersih, transparan, dan profesional dalam arti akan mengerahkan
segala kemampuan dan sumber daya secara optimal untuk memberikan hasil
kerja yang terbaik.

2.2.5. Tugas Pokok SKP Kelas I Bandung


Tugas pokok dari SKP Kelas I Bandung adalah menjalankan tugas pokok
Badan Karantina Pertanian di wilayah kerja SKP Kelas I Bandung. Tugas pokok
tersebut adalah pelaksanaan kegiatan operasional pencegahan masuk dan
tersebarnya hama penyakit hewan/hama penyakit hewan karantina (HPH/HPHK)
dan organisme pengganggu tumbuhan pertanian/organisme pengganggu
tumbuhan karantina (OPT/OPTK) kedalam wilayah Republik Indonesia dan antar
area di dalam wilayah Republik Indonesia, serta keluarnya HPHK dan OPTK
tertentu dari wilayah Republik Indonesia khususnya di wilayah Provinsi Jawa
Barat serta melakukan pengawasan keamanan hayati.
Kegiatan operasional perkarantinaan hewan dan tumbuhan dilaksanakan
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di antaranya sebagai
berikut :
1. Undang-Undang RI Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan,
dan Tumbuhan.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan.
3. Peraturan Pemerintah RI Pertanian Nomor 14 Tahun 2002 tentang Karantina
Tumbuhan.
4. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang Ratifikasi Konvensi PBB
12

mengenai Keanekaragaman Hayati.


5. Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 73/Permentan/OT.140/12/2012 tentang
Persyaratan dan Tata Cara Penetapan Instalasi Karantina Tumbuhan Milik
Perorangan atau Badan Hukum.
6. Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor
38/Permentan/OT.140/3/2014 tentang Tindakan Karantina Tumbuhan di
Luar Tempat Pemasukan dan Pengeluaran.
7. Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor
51/Permentan/KR.010/9/2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri
Pertanian Nomor 93/Permentan/OT.140/12/2011 tentang Jenis Organisme
Pengganggu Tumbuhan Karantina.
8. Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor
14/Permentan/KR.050/4/2016 tentang Bentuk san Jenis Dokumen Tindakan
Karantina Tumbuhan dan Pengawasan Keamanan Pangan Segar Asal
Tumbuhan.
9. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif atas
Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak.
10. Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor
1436/Kpts/KU.030/L/10/2016 tentang Tata Cara Pengenaan, Pemungutan,
dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berasal dari
Pelaksanaan Tindakan Karantina.

2.2.6. Fungsi SKP Kelas I Bandung


Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Bandung menyelenggarakan fungsi
sebagai berikut :
1. Penyusunan rencana evaluasi dan pelaporan.
2. Pelaksanaan pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penahanan,
penolakan, pemusnahan, dan pembebasan media pembawa hamapenyakit
hewan karantina (HPHK) dan organisme pengganggu tumbuhan karantina
(OPTK) tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan.
3. Pelaksanaan pemantauan daerah sebar HPHK dan OPTK tanaman pangan,
hortikultura, dan perkebunan.
13

4. Pelaksanaan pembuatan koleksi HPHK dan OPTK.


5. Pelaksanaan pengawasan keamanan hayati hewani dan nabati.
6. Pelaksanaan pemberian pelayanan operasional karantina hewan dan
tumbuhan.
7. Pelaksanaan pemberian pelayanan operasional pengawasan keamanan hayati
hewani dan nabati.
9. Pengelolaan sistem informasi, dokumentasi, dan sarana teknik karantina
hewan dan tumbuhan.
10. Pelaksanaan pengawasan dan penindakan pelanggaran peraturan perundang-
undangan di bidang karantina hewan, karantina tumbuhan, dan keamanan
hayati hewani dan nabati.
11. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

2.2.7. Wilayah Kerja Stasiun Karantina Kelas I Bandung


Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor
22/Permentan/Ot.140/4/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana
Teknis Karantina Pertanian, SKP Kelas I Bandung mempunyai wilayah kerja
meliputi :
1. Bandara Husein Sasatranegara Bandung di Jln. Terusan Padjajaran No. 156
Bandung.
2. Pelabuhan Laut Cirebon di Jln. Maluku No. 1 Cirebon.
3. Terminal Peti Kemas Gedebage Bandung di Jln. Gedebage No. 68 Bandung.
4. Kantor Pos MPC (Mail Processing Center) Bandung di Jln. Soekarno Hatta
No. 558 Bandung.
Masing-masing wilayah kerja karantina pertanian dipimpin oleh seorang
Penanggungjawab Wilayah Kerja yang diangkat dan ditetapkan oleh Kepala
Stasiun Karantian Pertanian Kelas I Bandung.

2.2.8. Sarana dan Prasarana Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Bandung


Stasiun Karantina Pertanian memiliki sarana dan prasarana yang berguna
untuk menunjang kelancaran dan aktivitas kerja yaitu sebagai berikut :
1. Bangunan kantor dengan status hak milik di Jl. Soekarno Hatta no. 725 C
14

Bandung, dengan luas tanah 840 m2, bangunan kantor seluas 600 m2, terdiri
dari 3 lantai. Lantai 1 yaitu ruang pelayanan, laboratorium karantina
tumbuhan dan hewan, ruang POPT, dan ruang laktasi. Lantai 2 digunakan
untuk ruang pimpinan beserta staf dan mushola, sedangkan lantai 3
digunakan untuk ruang rapat, arsip, server, gudang persediaan, dan ruang
koleksi karantina tumbuhan.
2. Kendaraan operasional berupa kendaraan dinas roda dua dan roda empat.

2.2.9. Kegiatan Pelayanan Operasional SKP Kelas I Bandung


Kegiatan Pelayanan Operasional SKP Kelas I Bandung mencakup
kegiatan Tindakan Karantina Hewan dan Karantina Tumbuhan yang dilaksanakan
di tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran yang terdapat di wilker SKP Kelas
I Bandung.
Upaya untuk meningkatkan pencegahan masuk dan tersebarnya Hama
Penyakit Hewan Karantina (HPHK) dan Organisme Pengganggu Tumbuhan
Karantina (OPTK) dari luar negeri dan dari suatu area ke area lainnya di dalam
serta keluarnya dari wilayah RI dan pengawasan terhadap keamanan hayati, SKP
Kelas I Bandung menetapkan dan mengimplementasikan Standar Pelayanan
Publik (SPP) dalam memberikan pelayanan secara cepat, tepat, transparan, dan
akuntabel sesuai kebutuhan dan harapan pelanggan.
Pelayanan yang diberikan SKP Kelas I Bandung berupa tindakan
karantina terhadap hewan dan produk hewan atau tindakan karantina terhadap
benih/bibit tumbuhan atau tindakan terhadap hasil tumbuhan atau pengawasan
keamanan hayati dan penerbitan sertifikat kesehatan hewan atau tumbuhan serta
laporan hasil uji laboratorium. Beberapa kegiatan tindakan karantina tumbuhan di
SKP Kelas I Bandung adalah :
a. Tindakan Karantina Ekspor
Kegiatan ekspor tahun 2017, merupakan pelayanan sertifikasi yang
dilakukan di 4 wilker SKP Kelas I Bandung yaitu wilker Bandara Husein
Sasatranegara Bandung, Pelabuhan Laut Cirebon, Terminal Peti Kemas
Gedebage, dan Kantor Pos MPC (Mail Processing Center) Bandung. Media
pembawa OPTK yang banyak diekspor sebanyak 7.734 kali adalah perabot rotan,
15

kakao bubuk, kayu albasia, kakao pasta, bibit tanaman hias, bibit kaktus, kopra,
bawang merah, buah manggis, jambu, pakcoy, sayuran buncis, biji kopi, dll..

b. Tindakan Karantina antar Area


Kegiatan operasional antar area dilakukan di 4 wilker SKP Kelas I
Bandung yaitu wilker Bandara Husein Sasatranegara Bandung, Pelabuhan Laut
Cirebon, Terminal Peti Kemas Gedebage, dan Kantor Pos MPC (Mail Processing
Center) Bandung, serta di SKP Kelas I Bandung, terdiri dari domestik masuk dan
domestik keluar.
Kegiatan domestik masuk sebanyak 331 kali yaitu tepung sagu, buah
durian, paprika, buah salak, buah duku berasal dari Riau, Selat Panjang, Padang,
Medan, Bali, Batam, Pekanbaru, Palembang, dan Lampung.
Kagiatan domestik keluar sebanyak 19.785 kali yaitu benih semangka,
benih pare, benih kubis, benih kentang, baby pakcoy, bibit anggrek Oncidium,
bibit mangga, sayuran brokoli, paprika, bibit anggrek, dan bibit kaktus, dengan
daerah tujuannya meliputi wiayah Jawa, Bali, Lombok, Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, NTT, Kupang, Ambon, dan Papua.

c. Pemantauan Daerah Sebar OPTK


Wilayah pemantauan daerah sebar Organisme Pengganggu Tumbuhan
pada Balai dan Stasiun Karantina Pertanian telah diatur dalam Surat Kepala
Badan Karantina Pertanian No. 204/Kpts/OT.140/07/2009, tentang wilayah
pemantauan Hama Penyakit Hewan dan Organisme Pengganggu Tumbuhan
Karantina (OPTK) pada Balai Besar, Balai, dan Stasiun Karantina Pertanian.
Tujuan pemantauan adalah untuk memeroleh atau mengetahui data
perkembangan Organisme Pengganggu Tumbuhan/Organisme Pengganggu
Tumbuhan Karantina (OPT/OPTK) golongan 1 dan 2, kategori A1 dan A2.
Lokasi pemantauan disesuaikan dengan target OPTK yang akan dipantau; Kab.
Bandung, Kab. Bandung Barat, Kab. Majalengka, Kab. Garut.

2.9.1. Persyaratan Karantina Tumbuhan


Setiap media pembawa tumbuhan yang dimasukkan ke dalam wilayah
negara Republik Indonesia harus memenuhi persyaratan-persyaratan karantina
tumbuhan. Setiap media pembawa OPTK berupa benih tumbuhan, yang
16

dimasukkan atau diimpor ke dalam wilayah negara Indonesia wajib :


a. Dilengkapi surat kesehatan tumbuhan (phytosanitary certificate) dari negara
asal dan negara transit;
b. Disertai surat izin pemasukan (SIP), dari Menteri Pertanian atau pejabat
yang ditunjuknya (dalam hal ini Direktur Jenderal terkait);
c. Melalui tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran yang telah ditetapkan;
d. Dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina tumbuhan di tempat-
tempat pemasukan dan pengeluaran untuk keperluan tindakan karantina; dan
e. Dalam hal tertentu Menteri Pertanian dapat menetapkan kewajiban
tambahan, persyaratan tambahan ini antara lain dengan dilakukannya
Analisis Risiko OPT (AROPT) atau Pest Risk Analysis (PRA).