Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK SEDIAAN LIKUID DAN SEMISOLID

(NONSTERIL)
MODUL 3
Suspensi dan Suspensi Rekonstitusi

Disusun oleh:
Kelompok 4/E

Friska Aulia H (10060316192)


Putri Nosa Dwiawanda (10060316193)
Sinta Nia Rahayu (10060316194)
Alleina Nurfitriani (10060316195)
Fatma Wati (10060316196)
Herlan Azzahra Salsabila (10060316197)

Asisten: Rifnie Raisya, S. Farm


Tanggal Praktikum: 04 Oktober 2018
Tanggal Pengumpulan: 11 Oktober 2018

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT E


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1440 H/2018M
MODUL 3
SUSPENSI DAN SUSPENSI REKONSTITUSI

I. Teori Dasar
1.1 Pengertian Suspensi
Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang
terdispersi dalam fase cair (Dirjen POM, 2014; 27). Sedangkan menurut Bambang
(2007:315), suspensi adalah suatu bentuk sediaan yang mengandung bahan obat padat
dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa.
Suspensi juga disebut sebagai sediaan obat yang terbagi dengan halus yang
ditahan dalam suspensi dengan menggunakan pembawa yang sesuai
(Ansel,1998;739). Sedangkan menurut Syamsuni (2006;135), suspensi adalah sediaan
cair yang mengandung partikel tidak larut dalam bentuk halus yang terdispersi ke
dalam fase cair.
1.2 Jenis-Jenis Suspensi
Suspensi dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu suspensi yang siap digunakan atau
suspensi yang dikonstitusikan dengan sejumlah air untuk injeksi atau pelarut lain
yang sesuai sebelum digunakan. Suspensi tidak boleh diinjeksikan secara intravena
dan intratekal (Dirjen POM, 1995 : 17).
Suatu suspensi yang direkonstitusikan adalah campuran sirup dalam keadaan
kering yang akan didispersikan dengan air pada saat akan digunakan dan dalam USP
tertera sebagai “for oral suspension”. Bentuk suspensi ini digunakan terutama untuk
obat yang mempunyai stabilitas terbatas di dalam pelarut air, seperti golongan
antibiotika (Pharm Dosage Forms,1989; 318,326).
Menurut Syamsuni (2006;478), jenis-jenis suspensi adalah sebagai berikut:
1. Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam
bentuk halus yang terdispersi dalam fase cair dengan bahan pengaroma yang
sesuai yang ditujukan untuk pemakaian oral.
2. Suspensi topikal adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat dalam
bentuk halus yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk
penggunaan pada kulit.
3. Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikel-partikel halus
yang ditujukan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.
4. Suspensi oftalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-
partikel sangat halus yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian
pada mata.
5. Suspensi untuk injeksi adalah sediaan cair steril berupa suspensi serbuk dalam
medium cair yang sesuai dan tidak boleh menyumbat jarum suntiknya
(syringe ability) serta tidak disuntikkan secara intravena atau ke dalam larutan
spinal.
6. Suspensi untuk injeksi terkonstitusi adalah sediaan padat kering dengan bahan
pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua
persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang
sesuai.
1.3 Keuntungan dan Kekurangan Sediaan Suspensi
Sediaan suspensi memiliki keuntungan dan kerugian tersendiri, yaitu:
 Ukuran partikel lebih kecil sehingga lebih mudah diabsorbsi.
 Suspensi injeksi mudah disuntikkan dan tidak menyumbat jarum suntik.
 Dapat menutupi bau dan rasa dari obat karena menggunakan sirup simplex
(Anief ,1987:448).
Sedangkan kekurangannya adalah sebagai berikut:
 Masalah dalam proses pembuatan suspensi (cara memperlambat penimbunan
partikel serta menjaga homogenitasnya).
 Terjadinya agregasi yang membuatnya tidak terdistribusi merata (Syamsuni,
2006:529).
1.4 Metode Pembuatan Suspensi
Menurut Bambang (2007;317), terdapat beberapa metode dalam proses
pembuatan sediaan suspensi, yaitu:
 Metode flokulasi
Dalam sistem flokulasi, partikel obat terflokulasi merupakan agregat yang
bebas dalam ikatan lemah. Sistem ini peristiwa sedimentasi cepat terjadi dan partikel
mengandap sebagai flok (kumpulan partikel). Sedimen terbentuk dalam keadaan
“terbungkus” dan bebas, tidak membentuk “cake” yang keras dan padat serta mudah
terdispersi kembali ke bentuk semula. Sistem ini kurang disukai karena sedimentasi
cepat terjadi dan terbentuk lapisan yang jernih dan nyata di atasnya.
 Metode deflokulasi
Dalam metode deflokulasi, partikel terdeflokulasi mengendap perlahan dan
akhirnya membentuk “cake” yang keras dan sukar terdispersi kembali. Pada metode
ini partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain, dan masing-
masing partikel mengendap secara terpisah. Jika kecepatan pengendapan dapat
ditahan dalam jangka waktu yang lama, metode ini lebih disukai karena tidak terjadi
lapisan yang bening (berkabut) dan terbentuk endapan secara perlahan.
 Metode kombinasi
Kecepatan (laju) sedimentasi harus sekecil mungkin sehingga partikel tetap
dalam bentuk dispersi merata dan apabila terbentuk endapan (cake) maka dengan
mudah terdispersi kembali dengan penggojokan ringan, sehingga stabilitas suspensi
menjadi optimal. Kondisi ideal ini dapat dicapai dengan penggabungan kedua metode
di atas (Pusdinakes, 2004;109).
1.5 Faktor yang berpengaruh dalam proses pembuatan sediaan suspensi
Faktor-Faktor yang berpengaruh dalam proses pembuatan sediaan suspensi
adalah :
a) Ukuran partikel
Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut
serta daya tekan ke atas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel
merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antara luas
penampang dengan daya tekan ke atas terdapat hubungan linier. Artinya semakin
kecil ukuran partikel semakin besar luas penampangnya (dalam volume yang sama).
Sedangkan semakin besar luas penampang partikel, daya tekan ke atas cairan akan
semakin besar, akibatnya memperlambat gerakan partikel untuk mengendap.
Sehingga, untuk memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan
memperkecil ukuran partikel (Syamsuni, 2006: 388).
b) Kekentalan (Viskositas)
Kekentalan suatu cairan memengaruhi pula kecepatan aliran cairan tersebut,
semakin kental suatu cairan, kecepatan alirannya semakin turun atau semakin kecil.
Kecepatan aliran dari cairan tersebut akan memengaruhi pula gerakan turun partikel
yang terdapat di dalamnya. Dengan demikian, dengan menambah kekentalan atau
viskositas cairan, gerakan turun partikel yang dikandungnya akan diperlambat. Perlu
diingat bahwa kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah
dikocok dan dituang (Syamsuni, 2006: 388).
c) Jumlah partikel (Konsentrasi)
Jika di dalam suatu ruangan terdapat partikel dalam jumlah besar, maka
partikel akan sulit melakukan gerakan bebas karena sering terjadi benturan antara
partikel tersebut. Oleh benturan ini akan menyebabkan terbentuknya endapan zat
tersebut, oleh karena itu semakin besar konsentrasi partikel, makin besar
kemungkinannya terjadi endapan partikel dalam waktu yang singkat (Syamsuni,
2006: 388).
d) Sifat atau muatan partikel
Suatu suspensi kemungkinan besar terdiri atas beberapa macam campuran
bahan yang sifatnya tidak selalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi
interaksi antar bahan yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan
tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alam, kita tidak dapat
memengaruhinya (Syamsuni, 2006: 388).
1.6 Bahan Pensuspensi (Suspending agent)
Suspending agent adalah bahan pengental untuk menaikkan viskositas dari
suspensi, umumnya bersifat mudah mengembang di dalam air (hidrokoloid)
(Syamsuni, 2006: 386). Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat di kelompok
an menjadi:
a. Bahan pensuspensi dari alam
Bahan alam dari jenis gom sering disebut “gom atau hidrokoloid”. Gom dapat
larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk
musilago atau lendir. Bahan pensuspensi ini terbagi menjadi dua, yaitu :
 Gom arab meliputi akasia, chondrus, tragakan, dan algin.
 Bahan pensuspensi alam bukan gom adalah tanah liat.
b. Bahan pensuspensi sintesis
Bahan ini terbagi menjadi dua, yaitu:
 Derivat selulosa, contohnya metil selulosa (methosol, tylose), hidroksimetil
selulosa dan karboksimetilselulosa (CMC).
 Golongan organik polimer, contohnya adalah carbophol 934.
1.7 Persyaratan Suspensi Rekonstitusi
Persyaratan Sediaan Suspensi Rekonstitusi (Pharm Dosage Form, 1989: 318)
adalah:
a. Campuran serbuk/granul haruslah merupakan campuran yang homogen,
sehingga konsentrasi/dosis tetap untuk setiap pemberian obat.
b. Selama rekonstitusi campuran serbuk harus terdispersi secara cepat dan
sempurna dalam medium pembawa.
c. Suspensi yang sudah direkonstitusi harus dengan mudah didispersikan
kembali dan dituang oleh pasien untuk memperoleh dosis yang tepat dan
serba sama.
d. Produk akhir haruslah menunjukkan penampilan, rasa, dan aroma yang
menarik
1.8 Keuntungan dan Jenis Sediaan Suspensi Rekonstitusi
Keuntungan suspensi kering diantaranya:
Untuk zat aktif yang tidak stabil dalam pembawa air, kestabilan zat aktif dapat
dipertahankan karena kontak zat padat dengan medium pendispersi dapat dipersingkat
dengan mendispersikan zat padat dalam medium pendispersi pada saat akan
digunakan (Goeswin 1993: 89).
Ada 2 jenis sediaan suspensi rekonstitusi, yaitu :
1. Suspensi rekonstitusi yang berupa campuran serbuk
Formulasi berupa campuran serbuk merupakan cara yang paling mudah dan
sederhana. Proses pencampuran dilakukan secara bertahap apabila ada bahan
berkhasiat dalam komponen yang berada dalam jumlah kecil. Penting untuk
diperhatikan, alat pencampur untuk mendapatkan campuran yang homogeny
(Goeswin 1993: 92).
Keuntungan formulasi bentuk campuran serbuk :
a. Alat yang dibutuhkan sederhana, hemat energi dan tidak banyak
b. Jarang menimbulkan masalah stabilitas dan kimia karena tidak digunakannya
pelarut dan pemanasan saat pembuatan.
c. Dapat dicapai keadaan kelembaban yang sangat rendah
Kerugian formulasi bentuk campuran serbuk :
a. Homogenitas kurang baik. Sulit untuk menjamin distribusi obat yang
homogen ke dalam campuran.
b. Kemungkinan adanya ketidakseragaman ukuran partikel.
c. Aliran serbuk kurang baik.
d. Variasi ukuran partikel yang terlalu banyak berbeda dapat menyebabkan
pemisahan dalam bentuk lapisan dengan ukuran berbeda. Aliran yang tidak
baik dapat menimbulkan pemisahan.
2. Suspensi rekonstitusi yang digranulasi
Pembuatan dengan cara digranulasi terutama ditujukan untuk memperbaiki
sifat aliran serbuk dan pengisian dan mengurangi volume sediaan yang voluminous
dalam wadah (Goeswin 1993: 94).
Keuntungan cara granulasi:
a. Memiliki penampilan yang lebih baik daripada campuran serbuk.
b. Memiliki sifat aliran yang lebih baik.
c. Tidak terjadi pemisahan.
d. Tidak terlalu banyak menimbulkan debu selama pengisian.
Kerugian cara granulasi :
a. Melibatkan proses yang lebih panjang serta dibutuhkan peralatan yang lebih
banyak dan butuh energi listrik.
b. Adanya panas dan kontak dengan pelarut dapat menyebabkan terjadinya
resiko instabilitas zat akif.
c. Sulit sekali menghilangkan sesepora cairan penggranul dari bagian dalam
granul dimana dengan adanya sisa cairan penggranul kemungkinan dapat
menurunkan stabilitas cairan.
d. Eksipien yang ditambahkan harus stabil terhadap proses granulasi (Goeswin
1993; 94).
e. Ukuran granul diusahakan sama karena bagian yang halus akan memisah
sebagai fines (Pharm Dosage Forms,1989: 318, 323-325)
II. Data Preformulasi Zat Aktif
1. Asam Mefenamat
 Pemerian : Serbuk hablur putih atau hampir putih, tidak berasa, dan tidak
berbau
 Kelarutan : Larut dalam larutan alkali hidroksida, agak sukar larut dalam
kloroform, sukar larut dalam etanol dan metanol, praktis tidak larut dalam air.
 Titik lebur : ± 230ºC
 pKa/pKb : 4,2
 pH larutan : 4-7
 Stabilitas : Terhadap cahaya lebih mudah terurai dengan adanya cahaya,
terhadap udara higroskopis dan mudah terurai dengan adanya udara.
(Dirjen POM, 1995: 43)
2. Amoksisilin
 Pemerian : Serbuk hablur putih, tidak berasa, dan praktis tidak berbau
 Kelarutan : Sukar larut dalam air dan methanol, tidak larut dalam benzen,
dalam karbon tetraklorida dan dalam kloroform.
 pH larutan : 3,5 dan 6,0
 Polimorfisme : Kristal amorf
 Stabilitas : Terurai pada suhu 30ºC-35ºC, tidak stabil terhadap paparan
cahaya, stabil pada pH 3,5-6,0.
 Inkompatibilitas : -
(Dirjen POM, 1995: 95)
III. Data Preformulasi Bahan Tambahan
1. PGA (Pulpis Gummi Arabicum)
 Pemerian : Butir, bentuk bulat (bulat telur) putih, rasa tawar seperti lender,
hampir tidak berbau
 Kelarutan : Mudah larut dalam air, menghasilkan larutan yang kental dan
tembus cahaya, praktis tidak larut dalam etanol (95%)
 Ukuran partikel : Penampang 0,5 cm sampai 6 cm
 Stabilitas :Lebih mudah terurai dengan adanya udara dari luar, mudah terurai
oleh bakteri dan reaksi enzimatik, mudah teroksidasi
 Inkompatibilitas : Inkompatibel dengan amidopyrin, apomorfin, aerosol,
etanol 95 %, garam ferri, morfin, tanin, timol, banyak kandungan garam
menurunnya viskositas.
(Dirjen POM, 1979: 297)
(Raymond et al, 2009: 2)
2. Aqua Destilata
 Berat Molekul : 18,02 g/mol
 Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak mempunya rasa, tidak berbau.
 Kelarutan : Tercampur dengan pelarut yang paling polar.
 Khasiat : Dapat melarutkan berbagai zat.
 Kegunaan : Pelarut.
 Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
 Bobot jenis : 1gr/cm3 atau 1 gr/ml
 Titik didih : 100º C
 pH larutan : 7
 Stabilitas : secara kimiawi air stabil terhadap semua bentuk fisik (es, cair uap)
dalam penyimpanannya, air dilindungi terhadap kontaminasi ion dan organik
juga dilindungi terhadap masuknya fisik partikel asing dan mikroorganisme
 Inkompabilitas : air dapat bereaksi dengan adanya air/uap air pada suhu kamar
dan tinggi. Air dapat bereaksi dengan logam alkali. Air juga bereaksi dengan
garam anhidrat untuk membentuk hidrat dari berbagai komposisi, dan dengan
bahan organik tertentu.
(Dirjen POM, 1979; 96)
(Dirjen POM, 1995: 23)
(Raymond et al, 2009; 5)
3. Sukrosa
 Nama resmi : Sukrosum
 Nama lain : Sakarosa
 Rumus molekul : C12H22O11
 Berat molekul : 342,30 g/mol
 Pemerian : Hablur putih atau tidak berwarna, massa hablur atau berbentuk
kubus, atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa manis, stabil di udara.
Larutannya netral terhadap lakmus.
 Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air
mendidih, sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform dan eter.
 Khasiat : Meningkatkan viskositas.
 Kegunaan : Zat tambahan dan pemanis.
 Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
 Stabilitas : Panas suhu > 160º C dapat teroksidasi, udara lebih mudah terurai
dengan adanya udara dari luar
 Inkompatibilitas : logam berat, dapat mendegradasi zat
(Raymond, 2006:622-624)
(Dirjen POM, 1995: 762)

4. Gliserin
 Pemerian : Bentuk bulat (bulat telur) putih, rasa tawar seperti lender, hampir
tidak berbau
 Kelarutan : Dapat bercampur dengan air dan dengan etanol 95 %, praktis
tidak larut dalam kloroform dalam eter dan dalam minyak lemak dan dalam
minyak menguap.
 Titik lebur : 18ºC
 Titik didih : 29ºC
 Massa molekular : 92,09382g/mol
 Bobot jenis : 1,261 g/ml
 pH larutan : 7
 Stabilitas : Terhadap udara higroskopik dengan adanya udara dari luar (mudah
teroksidasi), Terhadap panas mudah terdekomposisi dengan adanya
pemanasan, mengkristal dalam suhu rendah, kristal tidak akan mencair sampai
dengan suhu 20 0C akan timbul ledakan jika dicampur dengan bahan
teroksidasi.
 Inkompatibilitas : Seperti kromium trioksid, kalium horat, atau kalium
permanganat. Berubah warna menjadi hitam dengan adanya cahaya atau
setelah kontak dengan ZnO dan bisulfat. Gliserin + kontaminan yang
mengandung logam akan berubah warna dengan penambahan fenol salisilat
dan tanin. Asam borat membentuk kompleks gliseroborik acid (lebih kuat dari
pada asam borat)
(Dirjen POM, 1979: 413)
(Raymond et al, 2006: 59)
5. PVP (Poly vinyl pyrrolidone)
 Pemerian :Serbuk putih, agak putih atau tidak berbau, serbuk higroskopis.
 Kelarutan :Mudah larut dalam suasana asam, sukar larut dalam etanol 95%,
methanol dan asam asetat.
 Kegunaan :Bahan pengikat
 Konsentrasi :0,5 – 5 %
 Stabilitas : Stabil dalam lingkaran kecil pemansan antara 110 -130°C.
 Titik lebur : 160-186º C
 Ukuran Partikel : 90 : 90% > 200 µm, 95% > 250 µm, 25/30 : 90% > 50 µm,
50% > 100 µm, 5% > 200µm.
 Bobot Jenis : 1,180 gr/cm3
 pH larutan : 3 – 7 (5% b/v)
 Stabilitas : Stabil pada suhu 110 – 130º C, mudah terurai dengan adanya udara
dari luar, dapat bercampur dengan airStabil bila disimpan ditempat kering
 Inkompatibilitas : Jika ditambahkan thimerosol akan membentuk senyawa
kompleksKompatibel terhadap gerak organik alami, resin sintetik dan
senyawa lainnya.Akan terbentuk senyawa sulfathiazole, sodium salisilat, asam
salisilat, fenol barbital dan komponen lainnya.
(Dirjen POM, 1995: 510)
(Raymond et al, 2006: 508)
(Raymond et al,2009: 581)
6. Mg Silikat (Veegum)
 Pemerian : serbuk halus licin, mudah melekat pada kulit , mempunyai baud an
rasa khas lemah
 Kelarutan : praktis tidak larut dalam air
 Stabilitas : stabil dan simpan di tempat kering
 Inkompabitlitas :dengan asam kuat, garam besi dan hindari pencampuran
dengan oksidator kuat
 Konsentrasi : 0,25 – 5,0 %
 Kegunaan : lubrikan/ zat pelicin
 Penyimpanan : dalam wadah tertutp rapat dan tempat sejuk
(Dirjen POM, 1995: 115)
(Raymon et al, 2006: 432)
7. CMC Na
 Pemerian : serbuk atau granul, warna putih sampai krem, tidak berasa.
 Kelarutan : praktis tidak larut dalam aseton, etanol, eter, dan toluene. Mudah
terdispersi dalam air, pada semua temperatur menghasilkan larutan koloidal
 Bobot jenis : 0,52
 Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
 Konsentrasi : 0,1,-1,0%
 pH : 6,5-8,5
 Kegunaan : Pengental (thickening agent) dan suspending agent.
 Titik leleh : 227-252º C
 pKa : 4,3
 Bobot jenis : 0,52 gram/cm3
 Inkompatibilitas : Inkompatible dengan larutan asam kuat dan dengan larutan
garam dari beberapa logam pengendapan terjadi pada pH 2 dan pada saat
pencampuran dengan etanol 95%, membentuk kompleks dengan gliserin dan
pektin.
 Stabilitas : CMC stabil, meskipun bahan tersebut bersifat higroskopik.
Higroskopik dan dapat menyerap air pada kelembapan tinggi, Stabil pada pH
2-10, pengendapan terjadi pada pH 2, viskositas berkurang pada pH lebih dari
pH 10, Sterilisasi cara kering pada suhu 160º C selama 1 jam, akan
mengurangi viskositas dalam larutan, Perlu penambahan antimikroba dalam
larutan
(Raymond et al, 2006; 97-99)
(Raymond et al, 2006: 134
IV. Alat dan Bahan
4.1 Alat 4.2 Bahan
1. Batang Pengaduk 1. Amoxicillin
2. Botol coklat 60 mL 2. Asam Mefenamat
3. Cawan Penguap 3. Aquadest
4. Gelas Kimia 250 mL 4. CMC-Na
5. Gelas Kimia 50 mL 5. Gliserin
6. Gelas Ukur 10 mL 6. PGA (Pulvis Gummi
7. Gelas Ukur 100 mL Arabicum)
8. Hot plate 7. PVP
9. Kaca Arloji 8. Sukrosa
10. Kertas pH 9. Veegum
11. Matkan
12. Mortir
13. Overhead Stirrer
14. Pengayak
15. Pipet tetes
16. Spatel
17. Stamper
18. Stopwatch
19. Tabung Sedimentasi 100 mL
20. Timbangan analitik
V. Perhitungan dan Penimbangan
5.1 Suspensi
a. Perhitungan bahan
1. Asam Mefenamat

60 mL
x 200 mg = 2400 mg
5 mL

2. PGA (Pulvis Gummi Arab)

10 gr
x 60 mL = 6 gr
100 mL

Air PGA = 1,5 x 6 = 9 mL

3. CMC-Na

1 gr
x 60 mL = 0,6 gr
100 mL

Air CMC-Na = 20 x 0,6 = 12mL

4. Veegum

2,5 gr
x 60 mL = 1,5 gr
100 mL

Air Veegum = 12 x 1,5 = 18 mL

5. Gliserin

3 gr
x 60 mL = 1,8 gr
100 mL

6. Aquadest ad 60 mL
b. Perhitungan Volume Sedimentasi
Vu
F=
Vo
Keterangan :
F : Volume Sedimentasi
Vu : Volume akhir sedimen
Vo : Volume awal
 Suspensi I (CMC Na)
a. T10 F = 0,083
Vu =0 e. T120
Vo = 60 ml Vu = 7 ml
F =0 Vo = 60 ml
b. T20 Vu 7 ml
F = =
Vo 60 ml
Vu = 5 ml
F = 0,116
Vo = 60 ml
f. 1 Hari
Vu 5 ml
F = = Vu = 12,5 ml
Vo 60 ml
F = 0,083 Vo = 60 ml
c. T30 Vu 12,5 ml
F = =
Vo 60 ml
Vu = 5 ml
F = 0,208
Vo = 60 ml
g. 3 Hari
Vu 5 ml
F = = Vu = 14 ml
Vo 60 ml
F = 0,083 Vo = 60 ml
d. T60 Vu 14 ml
F = =
Vo 60 ml
Vu = 5 ml
F = 0,233
Vo = 60 ml
Vu 5 ml
F = =
Vo 60 ml
 Suspensi II (PGA)
a. T10 e. T120
Vu = 0 ml Vu = 0,3 ml
Vo = 60 ml Vo = 60 ml
F =0 Vu 0,3 ml
F = =
Vo 60 ml
b. T20
F = 0,005
Vu = 0,1 ml
f. 1 Hari
Vo = 60 ml
Vu = 2,5 ml
Vu 0,1 ml
F = = Vo = 60 ml
Vo 60 ml
F = 0,0016 Vu 2,5 ml
F = =
Vo 60 ml
c. T30
F = 0,041
Vu = 0,1 ml
g. 3 Hari
Vo = 60 ml
Vu = 2,5 ml
Vu 0,1 ml
F = = Vo = 60 ml
Vo 60 ml
F = 0,0016 Vu 2,5 ml
F = =
Vo 60 ml
d. T60
F = 0,041
Vu = 0,25 ml
Vo = 60 ml
Vu 0,25 ml
F = =
Vo 60 ml
F = 0,00416
 Suspensi III (Veegum)
a. T10 e. T120
Vu (10’) = 0 ml Vu = 0 ml
Vo = 60 ml Vo = 60 ml
F =0 F =0

b. T20 f. 1 Hari
Vu = 0 ml Vu = 36,5 ml
Vo = 60 ml Vo = 60 ml
F =0 Vu 36,5 ml
F = =
Vo 60 ml
F = 0,608
c. T30
Vu = 0 ml
g. 3 Hari
Vo = 60 ml
Vu = 34 ml
F =0
Vo = 60 ml
Vu 34 ml
d. T60 F = =
Vo 60 ml
Vu = 0 ml F = 0,566
Vo = 60 ml
F =0
c. Penimbangan
Tabel 5.1 Penimbangan Bahan untuk Suspensi
Jumlah Air Untuk
Nama Zat Konsentrasi Volume Untuk 60 ml
Melarutkan
60 𝑚𝑙
Asam 200 mg/ 5 x 200 mg = 2400
50 𝑚𝑙 PTL dalam air
Mefenamat ml mg
10 𝑔𝑟
PGA 10 % x 60 ml = 6 gram 1,5 x 6 = 9 ml
100 𝑚𝑙
2,5 𝑔𝑟
x 60 ml = 1,5
Veegum 2,5 % 100 𝑚𝑙 12 x 1,5 = 18 ml
gram
1 𝑔𝑟
x 60 ml = 0,6
CMC – Na 1% 100 𝑚𝑙 20 x 0,6 = 12 ml
gram
3 𝑔𝑟
Gliserin 3% x 60 ml = 1,8 ml
100 𝑚𝑙
Aquadest Ad 60 ml

5.2 Suspensi Rekonstitusi


a. Perhitungan Bahan
1. Amoxicilin
60 mL
x 250 mg = 3000 mg
5 mL
2. CMC-Na
1
x 60 mL = 0,6 gr
100

3. Sukrosa
30
x 60 mL = 18 gr
100

4. PVP
2
x (massa amoxicilin + gr sukrosa)
98
2
x (3 + 18) = 0,43
98
b. Perhitungan Volume Sedimentasi
a. T10
Vu (10’) = 0 ml e. T120
Vo = 60 ml Vu = 0 ml
F =0 Vo = 60 ml
F =0
b. T20
Vu = 0 ml f. 1 Hari
Vo = 60 ml Vu = 10,5 ml
F =0 Vo = 60 ml
Vu 10,5 ml
F = =
Vo 60 ml
c. T30
F = 0,175
Vu = 0 ml
Vo = 60 ml
g. 3 Hari
F =0
Vu = 11 ml
Vo = 60 ml
d. T60
Vu 11 ml
Vu = 0 ml F = =
Vo 60 ml
Vo = 60 ml F = 0, 183
F =0
c. Penimbangan Bahan

Tabel 5.2 Penimbangan Baha

Nama Zat Konsentrasi Volume u/ 1 botol (60ml)

Amoxicilin 60 ml/5 ml 3 gram


CMC-Na 1% 1% x 60 ml = 0,6 gr
Sukrosa 30% 30% x 60 ml = 18 gr
PVP 2/98 x (3+8) = 0,43

VI. Prosedur
6.1 Suspensi
Suspensi dengan suspending Agent CMC-Na
Aquadest yang akan digunakan sebagai fase pendispersi dididihkan. Asam
mefenamat dan bahan tambahan seperti CMC-Na serta gliserin ditimbang sesuai
dengan perhitungan yang telah dilakukan. Kemudian CMC-Na dilakukan
pengembangan dengan cara membuat dispersi hidrokoloid, CMC-Na ditaburkan
secara perlahan-lahan diatas air panas sebanyak 12 mL lalu diamkan sampai
mengembang. Lalu asam mefenamat digerus halus didalam mortir dengan
penambahan gliserin sedikit demi sedikit. Setelah itu CMC-Na yang telah
dikembangkan digerus bersama campuran asam mefenamat dan gliserin lalu digerus
sampai homogen dan membentuk mucilago CMC. Kemudian campuran dipindahkan
kedalam matkan lalu ditambahkan aquadest sampai 60 ml dan dilakukan pengadukan
dengan menggunakan stirer sampai homogen. Setelah pengadukan homogen lalu
dimasukkan kedalam tabung sedimentasi untuk diamati pengendapannya.
Suspensi dengan Suspending Agent PGA
Aquadest yang akan digunakan sebagai fase pendispersi dididihkan. Asam
mefenamat dan bahan tambahan seperti PGA serta gliserin ditimbang sesuai dengan
perhitungan yang telah dilakukan. Kemudian PGA dilakukan pengembangan dengan
cara dimasukkan PGA dengan aquadest sebanyak 9 ml ke dalam cawan penguap lalu
diaduk sampai homogen. Lalu asam mefenamat digerus halus didalam mortir dengan
penambahan gliserin sedikit demi sedikit. Setelah itu PGA yang telah dikembangkan
digerus bersama campuran asam mefenamat dan gliserin lalu digerus sampai
homogen dan membentuk korpus suspensi. Kemudian campuran dipindahkan
kedalam matkan lalu ditambahkan aquadest sampai 60 ml dan dilakukan pengadukan
dengan menggunakan stirer sampai homogen. Setelah pengadukan homogen lalu
dimasukkan kedalam tabung sedimentasi untuk diamati pengendapannya.
Suspensi dengan Suspending Agent Veegum
Aquadest yang akan digunakan sebagai fase pendispersi dididihkan. Asam
mefenamat dan bahan tambahan seperti veegum serta gliserin ditimbang sesuai
dengan perhitungan yang telah dilakukan. Kemudian veegum dilakukan
pengembangan dengan cara veegum ditaburkan secara perlahan-lahan diatas air panas
sebanyak 18 mL lalu diamkan sampai mengembang. Lalu asam mefenamat digerus
halus didalam mortir dengan penambahan gliserin sedikit demi sedikit. Setelah itu
veegum yang telah dikembangkan digerus bersama campuran asam mefenamat dan
gliserin lalu digerus sampai homogen dan membentuk korpus suspensi. Kemudian
campuran dipindahkan kedalam matkan lalu ditambahkan aquadest sampai 60 ml dan
dilakukan pengadukan dengan menggunakan stirer sampai homogen. Setelah
pengadukan homogen lalu dimasukkan kedalam tabung sedimentasi untuk diamati
pengendapannya.
6.2 Suspensi Rekonstitusi
Ditimbang masing- masing zat, kalibrasikan botol 60mL, setelah semua zat
ditimbang (asam mefenamat, sukrosa, CMC-Na, PVP). Dimasukan sukrosa yang
sudah ditimbang kedalam mortir, kemudian digerus sukrosa sampai halus.
Dimasukan PVP kedalam mortir, kemudian digerus ad homogen. Dimasukan
amoxicilin kedalam mortir, kemudian digerus ad homogen. Ditambahkan etanol 96%
sampai serbuk dapat dikepal, kemudian diayak hingga terayak semua. Dikeringkan,
dimasukan CMC-Na kedalam mortir diaduk hingga homongen. Kemudian dimasukan
kedalam botol dan diberi aquadest ad 60ml.
6.3 Prosedur Evaluasi
Pada sediaan suspensi rekonstitusi dilakukan uji waktu rekomstitusi dengan
cara dimasukan serbuk rekonstitusi kedalam botol kering dan bersih, kemudian
dimasukan aquadest ad batas, kemudian botol dikocok sampai terdispersi dalam air,
dan waktu rekonstitusi adalah mulai dari air dimasukan sampai serbuk terdispersi
sempurna waktu rekonstitusi yang baik kurang dari 30 detik. Kemudian pada sediaan
suspensi dan suspensi rekonstitusi diuji organoleptis (bau, rasa, dan warna).
Kemudian dilakukan pengaturan pH larutan dengan cara, diukur pH cairan
dengan menggunakan pH meter, dicelupkan pH meter kedalam larutan. Dilakukan
pada setiap botol. Kemudian dilakukan uji homogenitas.
Kemudian dilakukan volume sedimentasi yang diukur menggunakan tabung
sedimentasi, sediaan dimasukan kedalam tabung sedimentasi yang berskala. Volume
awal adalah volume yang diisikan (Vo), kemudian setelah ditunggu beberapa
waktu/hari diamati volume akhir dengan terjadinya sedimentasi (Vu), dan hitunglah
volume sedimentasi (F). Kemudian dilakukan kecepatan resdispersi dengan cara
melakukan pengocokan pada suspensi dengan pengocokan tangan maksimum dengan
waktu 30 detik.
VII. Hasil Pengamatan
7.1 Evaluasi Suspensi
Tabel 7.1 Evaluasi Sediaan Suspensi

Jenis Organoleptis Kecepatan Waktu


pH Homogenitas
Sediaan Warna Bau Rasa Redispersi Rekonstitusi
Manis,
Suspensi I Tidak
Putih Sedikit 6 Homogen 24 detik -
(CMC Na) Berbau
pahit
Suspensi II Tidak
Putih Hambar 6 Homogen 30 detik -
(PGA) Berbau
Suspensi III Tidak
Putih Hambar 7 Homogen 19 detik -
(Veegum) Berbau

Suspensi Tidak Tidak


Manis 7 Homogen 5 detik 35,33 detik
Rekonstitusi Berwarna Berbau

7.2 Volume Sedimentasi

Tabel 7.2. Hasil pengamatan volume sedimentasi

Sediaan T10 T20 T30 T60 T120 1 Hari 3 Hari

Suspensi I (CMC
0 0,083 0,083 0,083 0,116 0,208 0,233
Na 1%)
Suspensi II
0 0,0016 0,0016 0,00416 0,005 0,041 0,041
(PGA 10%)
Suspensi III
0 0 0 0 0 0,608 0,566
(Veegum 2,5 %)
Suspensi
0 0 0 0 0 0,175 0,183
Rekonstitusi
Tabel 7.3 Hasil pengamatan volume sedimentasi

Sediaan T10 T20 T30 T60 T120 1 Hari 3 Hari


Suspensi 1 (CMC
0 0 0 0 0 0 0,05
Na 0,5%)
Suspensi 2 (PGA
0 0 0 0 0 0,2 0,3
5%)
Suspensi 3
0 0 0 0 0 0,06 0,09
(Veegum 0,5 %)
Suspensi
0 0 0 0,09 0,1 0,1 0,1
Rekonstitusi

VIII. Pembahasan
8.1 Suspensi
Praktikum yang dilakukan kali ini mengenai pembuatan suspensi. Menurut
Syamsuni (2006:135), suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel tidak
larut dalam bentuk halus yang terdispersi ke dalam fase cair. Fase terdispersi terdiri
dari partikel padat dengan ukuran partikel tertentu yang tidak larut dalam fase
pendispersi. Fase luar merupakan bagian yang terbesar berbentuk larutan. Ada
beberapa alasan dalam pembuatan suspensi, salah satunya adalah karena obat-obatan
tertentu tidak stabil secara kimia bila dalam bentuk larutan tetapi stabil bila dalam
suspensi atau zat-zat yang mempunyai kelarutan kecil sehingga harus dibuat sediaan
suspensi. Bahan yang digunakan sebagai zat aktif dalam pembuatan suspensi adalah
asam mefenamat. Asam mefanamat merupakan senyawa yang praktis tidak larut
dalam air dan berkhasiat sebagai obat pereda nyeri terutama pada nyeri sakit gigi,
nyeri otot dan nyeri sendi sehingga penggunaannya dalam sediaan cair dibuat dalam
bentuk suspensi.
Pada praktikum ini digunakan 3 suspending agent sebagai perbandingan
bahwa suspending agent mana yang memiliki kestabilan untuk sediaan suspensi asam
mefenamat. Suspending agent yang digunakan berbeda golongan, dimana untuk
golongan polisakarida digunakan PGA (Pulvis Gummi Arabicum), untuk golongan
selulosa digunakan CMC-Na (Carboxy Methyl Cellulosa Natrium), sedangkan untuk
golongan tanah liat digunakan veegum. Suspending agent sendiri berfungsi
mendispersikan partikel tidak larut kedalam pembawa dan meningkatkan viskositas
sehingga kecepatan pengendapan bisa diperkecil. Mekanisme kerja suspending agent
adalah untuk memperbesar kekentalan (viskositas), tetapi kekentalan yang berlebihan
akan mempersulit rekonstitusi dengan pengocokan. Pada pembuatan suspensi zat
aktif tidak dipaksakan untuk melarut dalam cairan pembawanya, tapi zat aktif harus
dapat terdispersi dengan fase cair dimana fase cair disini yaitu aquadest atau cairan
pembawanya. Metode yang digunakan pada pembuatan suspensi ini yaitu metode
dispersi dimana Serbuk terbagi halus didispersikan di dalam cairan pembawa.
Suspensi dengan Suspending Agent CMC-Na
Pada pembuatan suspensi I digunakan CMC-Na sebagai suspending agent.
CMC-Na merupakan turunan dari selulosa dan sering digunakan dalam industri
pangan. Kegunaannya antara lain sebagai suspending agent, stabilizing agent (Rowe,
et al., 2009: 118). CMC-Na yang digunakan adalah sebanyak 1%, karena menurut
Rowe, et al (2009: 118) konsentrasi CMC-Na untuk penggunaan suspending agent
adalah 0,25-1%. Pada prosedur pembuatannya, CMC-Na terlebih dahulu
dikembangkan dengan cara membuat dispersi hidrokoloid dengan menaburkan CMC-
Na kedalam cawan berisi air panas sejumlah 20 kali bobot CMC-Na dan ditunggu
hingga mengembang. Lalu CMC-Na diaduk. Pada proses pengembangannya, CMC-
Na akan terdispersi dalam air, kemudian butir-butir CMC-Na yang bersifat hidrofilik
akan menyerap air dan terjadi pembengkakan (Fennema, et al., 1996).
Zat aktif yang digunakan pada sediaan suspensi ini adalah asam mefenamat,
asam mefenamat tidak larut dalam air sehingga dibuat sedian suspensi. Asam
mefenamat digerus terlebih dahulu di mortir untuk memperkecil ukuran partikel,
karena ukuran partikel yang kecil akan memperlambat kecepatan sedimentasi. Asam
mefenamat yang telah digerus lalu ditambahkan gliserin kedalamnya, penambahan
gliserin berfungsi sebagai wetting agent atau zat pembasah. Gliserin akan
menghilangkan lapisan udara disekitar zat aktif sehingga zat aktif lebih mudah
dibasahi. Lalu kedalam mortir dimasukkan CMC-Na yang sudah dalam bentuk
mucilago, kemudian digerus sampai homogen. Suspensi yang telah terbentuk
kemudian dimasukan kedalam matkan lalu ditambahkan aquadest ad 60 ml dan
dilakukan pengadukan menggunakan stirer. Penambahan CMC-Na berfungsi sebagai
bahan pengental, dengan tujuan untuk membentuk sistem dispersi koloid dan
meningkatkan viskositas. Dengan adanya CMC-Na ini maka partikel-partikel yang
tersuspensi akan terperangkap dalam sistem tersebut atau tetap tinggal ditempatnya
dan tidak mengendap oleh pengaruh gaya gravitasi (Potter, 1986).
Setelah melakukan pembuatan suspensi, selanjutnya adalah evaluasi sediaan
suspensi. Evaluasi sediaan suspensi terdiri dari organoleptis, pH, Homogenitas,
volume sedimentasi, kecepatan redispersi dan waktu rekonstitusi untuk suspensi
rekonstitusi. Pemeriksaan organoleptis dilakukan untuk mengetahui sediaan sudah
sesuai atau tidak. Pada hasil evaluasi organoleptis, didapat bahwa suspensi I yang
menggunakan CMC-Na 1% sebagai suspending agent memiliki warna putih, tidak
berbau, dan rasa manis sedikit pahit. Pada pengujian pH dengan menggunakan kertas
pH, didapat bahwa pH suspensi dengan suspending agent CMC-Na adalah 6, hasil
tersebut sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa CMC-Na stabil pada pH 5-
10 ( Rowe, et al., 2009 : 118). Sedangkan pada evaluasi homogenitas dapat diketahui
bahwa sediaan suspensi yang dibuat sudah homogen, homogenitas dapat ditentukan
secara visual. Selanjutnya adalah melakukan evaluasi volume sedimentasi
(pengendapan). Parameter pengendapan dari suatu suspensi dapat ditentukan dengan
mengukur volume sedimentasi (F) yaitu perbandingan volume akhir endapan (Vu)
dengan volume awal sebelum terjadi pengendapan (Vo) yaitu F = Vu/Vo (Anief,
1994). Pengujian volume sedimentasi dilakukan untuk mengetahui rasio pengendapan
(F) yang terjadi selama penyimpanan waktu tertentu (Popa & Ghica, 2011: 500-506).
Dari hasil pengamatan didapat hasil bahwa nilai F pada sediaan suspensi I
(CMC Na 1%) meningkat seiring bertambahnya waktu penyimpanan. Pada
penyimpanan menit ke-10, belum terbentuk endapan, pada 20 menit penyimpanan
terdapat rasio endapan (F) sebesar 0,083 begitu pula dengan penyimpanan menit ke
30 dan 60 terdapat volume endapan sebesar 0,083. Sedangkan pada penyimpanan 120
menit volume endapan yang terbentuk sebesar 0,116. Pada penyimpanan 1 hari
terdapat volume endapan sebesar 0,208 dan pada penyimpanan 3 hari terdapat
volume endapan sebesar 0,233. Menurut Anief (1994) semakin besar nilai F, maka
semakin baik suspendibilitasnya. Bila nilai F = 1 atau mendekati 1, maka sediaan
baik karena tidak adanya supernatan jernih pada pendiaman, bila F > 1 terjadi floc
sangat longgar dan halus sehingga volume akhir lebih besar dari volume awal
(Martin, 1993:1132). Jika dibandingkan dengan sediaan yang mengandung CMC-Na
dengan konsentrasi lebih rendah (0,5%), nilai F pada sediaan tersebut memiliki nilai
yang lebih kecil, hal tersebut dikarenakan konsentrasi CMC-Na yang digunakan lebih
sedikit. Tetapi endapan terbentuk pada saat penyimpanan 1 hari dan 3 hari sedangkan
pada penyimpanan menit ke 10,20,30,60 dan 120 tidak terbentuk endapan.
Setelah dilakukan evaluasi volume sedimentasi selanjutnya dilakukan evaluasi
kecepatan redispersi, dari hasil pengamatan yang telah dilakukan diketahui bahwa
suspensi dengan suspending agent CMC-Na dapat diredispersikan dalam waktu 24
detik, hasil tersebut menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat memiliki kecepatan
redispersi yang baik karena dapat terdispersi sempurna dalam waktu kurang dari 30
detik, selain itu salah satu ciri suspensi yang ideal adalah ketika terbentuk endapan
dapat didispersikan kembali. Dari pengamatan kecepatan redispersi juga dapat
diketahui bahwa suspensi I (CMC-Na) adalah jenis suspensi flokulasi karena pada
penyimpanannya terbentuk endapan dengan cepat dan endapan tersebut dapat
didispersikan kembali, hal tersebut dapat dipengaruhi karna CMC-Na selain berperan
sebagai suspending agen, ia juga dapat berperan sebagai flocculating agent yang
dapat menghasilkan suspensi dengan sistem terflokulasi. Suspensi dengan CMC-Na
sebagai suspending agent juga memiliki sifat alir pseudoplastis yaitu viskositas zat
pseudoplastis berkurang dengan meningkatnya laju geser (Martin et all., 2008).
Pseudoplastis merupakan aliran non newton yang tidak dipengaruhi waktu,
kurva naik dan kurva turunnya berhimpit, sehingga pada penyimpanannya suspensi
dengan sifat alir pseudoplastis terlihat kental tetapi setelah diberi gaya pada saat
pengocokkan sebelum digunakan maka viskositasnya akan menurun kemudian
setelah gaya dihilangkan maka viskositasnya akan kembali ke keadaan semula
(viskositas awal).
Suspensi dengan Suspending Agent PGA
Suspending agent yang digunakan yaitu PGA (Pulvis Gummi Arabicum) yang
berfungsi mendispersikan partikel tidak larut dalan pembawa dan meningkatkan
viskositas sehingga kecepatan sedimentasi diperlambat. PGA ini digunakan sebagai
koloid pelindung, diperoleh dari tanaman akasia yang dapat larut dalam air dan
bersifat asam karena adanya aktivitas enzim yaitu enzim oksidase. Karena PGA
merupakan golongan polisakarida maka PGA lebih cenderung terkontaminasi oleh
adanya mikroorganisme maka pada PGA dibutuhkan pengawet untuk mencegah
pertumbuhan mikroorganisme. PGA sebagai suspending agent digunakan pada
konsentrasi antara 1-5% (Boyland, 1986:2). Hal pertama yang dilakukan yaitu dengan
menimbang asam mefenamat dan bahan tambahan yang akan digunakan yakni PGA
dan gliserin. PGA yang digunakan sebanyak 10%. Lalu PGA terlebih dahulu
dikembangkan dengan cara menambahkan satu setengah kali air dari berat zat aktif
pada gom itu, kemudian diaduk sampai diperoleh suatu massa yang homogen atau
terbentuk korpus suspensi (Vanduin, 1947:58).
Asam mefenamat yang digunakan dimasukkan kedalam mortir lalu digerus
sampai halus, hal ini bertujuan untuk menyeragamkan ukuran partikel agar zat mudah
terbasahi. Tetapi perlu diperhatikan serbuk yang sangat halus mudah kemasukan
udara sehingga sukar dibasahi. Mudah dan sukarnya serbuk dibasahi tergantung
besarnya udara sudut kontak antara zat terdispersi dengan medium. Bila sudut kontak
900 serbuk akan mengembang di atas cairan. Serbuk yang demikian disebut memiliki
sifat hidrofob, untuk menurunkan tegangan antar muka antara partikel zat padat
dengan cairan tersebut perlu ditambahkan zat pembasah atau wetting agent. Pada
praktikum ini digunakan gliserin sebagai wetting agent untuk membuat zat aktif
mudah terbasahi oleh air. Gliserin salah satu contoh bahan pembasah golongan
humektan yang dapat menurunkan tegangan antar muka sehingga akan memudahkan
proses pembasahan. Mekanisme kerja humektan adalah menghilangkan lapisan udara
pada permukaan zat padat, sehingga zat padat dan humektan lebih mudah kontak
dengan pembawa. Gliserin biasa digunakan pada konsentrasi antara 1-3%. Terdapat
juga zat pembasah dari golongan surfaktan yang memiliki mekanisme menurunkan
sudut kontak sehingga zat mudah terbasahi.
Selanjutnya korpus suspensi PGA yang telah dibuat dimasukkan kedalam
mortir digerus dengan campuran asam mefenamat sampai homogen. Lalu campuran
tersebut di pindahkan kedalam matkan dan ditambahkan aquadest sebanyak 60 mL
kemudian di aduk dengan menggunakan stirer. Tujuan dari pengadukan ini agar
campuran homogen dan terdispersi secara merata. Setelah homogen maka campuran
dimasukkan kedalam tabung sedimentasi untuk diamati volume pengendapannya.
Sebelumnya dilakukan evaluasi suspensi yaitu meliputi organoleptik (bau, rasa dan
warna), pH, homogenitas, volume sedimentasi dan kecepatan redispersi.
Pemeriksaan organoleptis dilakukan pada hari pembuatannya. Organoleptis
meliputi bau, rasa dan warna sediaan, uji organoleptis ini sebagai langkah awal untuk
mengetahui sediaan layak atau tidak digunakannya. Hasil yang diperoleh dari uji
organoleptis yaitu suspensi dengan suspending agent PGA memiliki warna putih,
tidak berasa dan tidak berbau. Hal ini karena tidak adanya penambahan zat pemanis
maka tidak berasa, walaupun gliserin mempunyai rasa manis tapi oleh karena
penambahan gliserin yang sedikit maka tidak mempengaruhi rasa. Lalu pemeriksaan
pH dilakukan dengan menggunakan kertas pH universal yang dicelupkan kedalam
sediaan dan didapat hasil pHnya sebesar 6. Hasil yang didapat sesuai teori karena
asam mefenamat berbentuk asam dan memiliki pH 4-7. Pengujian homogenitas
dilakukan dengan cara melihat sediaan yang telah dibuat. Pengujian ini bertujuan
untuk mengetahui apakah saat proses pembuatan suspensi bahan aktif dengan bahan
tambahan lain tercampur secara merata. Persyaratannya harus homogen, sehingga
sediaan dapat terditribusi merata pada saat dikonsumsi, dari hasil pengamatan
didapatkan sediaan suspensi yang homogen.
Selanjutnya dilakukan pengukuran volume sedimentasi, sediaan yang telah
dimasukkan kedalam tabung sedimentasi diamati pengendapannya. Pada menit ke 10,
sediaan masih belum terdapat endapan, lalu pada menit ke 20 endapan terbentuk
setinggi 0,1 mL dengan hasil fraksi (F) 0,0016, untuk menit ke 30 endapan masih
setinggi 0,1 mL dengan fraksi (F) 0,0016, untuk menit ke 60 endapan terbentuk
setinggi 0,25 mL dengan fraksi (F) 0,00416, untuk menit ke 120 endapan terbentuk
setinggi 0,3 mL dengan fraksi (F) 0,005, selanjutnya dilakukan lagi pengamatan
untuk 1 hari dengan hasil endapan 2,5 mL dengan fraksi (F) 0,0416, untuk
pengamatan 3 hari endapan masih setinggi 2,5 mL dengan fraksi (F) 0,0416. Volume
sedimentasi yaitu mempertimbangkan rasio tinggi akhir endapan (Vu) terhadap tinggi
awal (Vo) pada waktu suspensi mengendap dalam suatu kondisi standar. Makin besar
fraksi ini, makin baik kemampuan suspensinya (Lachman, 1994).
Sedangkan untuk kecepatan redispersi diperlukan 30 detik untuk teredispersi
kembali. Waktu ini terbilang cukup memenuhi syarat kecepatan redispersi yang ideal
yaitu >30 detik atau maksimum 30 detik dengan pengocokan tangan (Lieberman,
1989: Hal 304). Kecepatan redispersi ini bertujuan untuk mengetahui PGA sendiri
termasuk cairan non-newton yaitu aliran pseudoplastik yang tidak dipengaruhi waktu
yang artinya jika cairan diberi gaya atau dikocok maka viskositasnya akan semakin
encer (turun) (Sarfaraz, 2009). Cairan non-newton adalah cairan yang biasanya
memiliki molekul yang paling besar atau mempunyai struktur tambahan, dimana
untuk mengalir harus diberi gaya jika perlu memecah strukturnya (Wiroatmojo,
1988). Dimana kurva aliran pseudoplastis akan berhimpit yang artinya jika sediaan
suspensi diberi gaya atau dikocok maka viskositasnya akan turun atau menjadi encer
dan untuk menjadi kental kembali tidak dipengaruhi waktu (dengan cepat kembali
seperti semula).
Sedangkan untuk penggunaan PGA sebanyak 5% diperoleh hasil volume
sedimentasinya yaitu pada menit ke 10 sampai menit ke 120 endapan belum terbentuk
sehingga nilai fraksi (F) adalah 0, untuk pengamatan 3 hari endapan dengan fraksi (F)
3,5. Menurut Nussinovitch (1997), PGA pada konsentrasi kurang dari 10% memiliki
viskositas yang rendah dapat mempercepat terjadinya sedimentasi yang menyebabkan
sediaan menjadi tidak stabil. Untuk perbandingan volume sedimentasi antara PGA
5% dan 10% ternyata memiliki nilai paling besar PGA dengan konsentrasi 5% pada
hari ke 3 dengan nilai fraksi 0,05. Dimana hasilnya bahwa PGA dengan konsentrasi
5% pada 10 menit pertama sampai 1 hari pengukuran tidak terbentuk endapan yang
artinya sediaan memiliki viskositas yang tinggi. Tetapi pada literatur yang telah
disebutkan (Nussinovitch, 1997) bahwa konsentrasi PGA kurang dari 10% akan
memiliki viskositas yang rendah sehingga tidak stabil dan akan mudah mengendap.
Hal ini terdapat beberapa kesalahan yaitu pada saat pengadukan, atau pada saat
melihat hasil pengukuran. PGA bukan termasuk contoh zat flocculating agent, tetapi
PGA mempunyai viskositas yang paling baik pada range pH 5-9 sesuai dengan
sediaan yang memiliki pH 6 sehingga kemampuan untuk teredispersi kembali juga
baik.
Suspensi dengan Suspending Agent Veegum
Pembuatan suspensi dengan suspending agent Veegum memiliki prosedur
yang sama seperti suspensi dengan suspending agent CMC-Na. Veegum merupakan
suspending agent golongan Clay (tanah liat) yang berfungsi mendispersikan partikel
tidak larut dalan pembawa dan meningkatkan viskositas sehingga kecepatan
sedimentasi diperlambat. Veegum juga merupakan suspending agent yang berasal
dari alam, dimana pada saat kontak dengan air akan mengalami proses
pengembangan yang dapat menghasilkan viskositas yang lebih besar ketika diberi
kedalam sediaan. Sifat alir yang dimiliki oleh veegum adalah Tiksotropik.
Tiksotropik merupakan sifat alir non-newton yang dipengaruhi oleh waktu, dimana
terjadi pembengkakan karena didiamkan dan kembali ke konsistensinya yang lebih
mudah bergerak dengan pengocokan tanpa perubahan suhu. Veegum juga merupakan
bahan tambahan yang praktis tidak larut dalam air, tetapi akan membentuk suatu
disperse koloid tiksotropik (Aulton, 2003 : 277). Dispersi yang terjadi adalah ketika
konsentrasi tiksotropiknya diatas 3%. Tetapi adanya garam dapat mengubat sifat alir
tiksotropik tersebut diubah karena adanya efek flokulasi dari ion positif. Viskositas
veegum dapat dinaikkan dengan cara pemanasan, penambahan elektrolit, peningkatan
konsentrasi dan pengadukan. Kemuadian hal pertama yang dilakukan pada
pembuatan suspensi yaitu dengan menimbang asam mefenamat dan bahan tambahan
yang akan digunakan yakni Veegum dan gliserin. Veegum yang digunakan sebanyak
2,5%. Lalu Veegum pun, terlebih dahulu dikembangkan dengan cara menaburkan
serbuk secara perlahan-lahan diatas air yang sudah dididihkan (air panas).
Pengembangan untuk setiap zat berbeda-beda, dimana fungsi dari penaburan secara
perlahan tersebut adalah supaya masing masing serbuk tersebut terbasahi secara
sempurna tanpa menghasilkan gumpalan. Penaburan pun juga tidak boleh terlalu lama
karena larutan akan menjadi kental sebelum semua serbuk ditambahkan. Dan juga
kenapa digunakan air panas, adalah karena akan lebih cepat mengembang dan larut
dalam air panas.
Asam mefenamat yang digunakan, dimasukkan kedalam mortir lalu digerus
sampai halus. Tujuan dari penggerusan adalah untuk menyeragamkan ukuran partikel
agar zat mudah terbasahi. Selanjutnya digunakan bahan pembasah seperti gliserin
yang berfungsi untuk membuat zat aktif mudah terbasahi oleh air dan meningkatkan
disperse bahan yang tidak larut (Scoville, 1957 : hal 300). Gliserin salah satu contoh
bahan pembasah (wetting agent) yang merupakan golongan humektan dengan
mekanismenya menurunkan tegangan antar muka sehingga akan memudahkan proses
pembasahan (Anggraeni, 2013). Mekanisme kerja humektan adalah menghilangkan
lapisan udara pada permukaan zat padat, sehingga zat padat dan humektan lebih
mudah kontak dengan pembawa. Gliserin biasa digunakan pada konsentrasi antara 1-
3%. Terdapat juga zat pembasah dari golongan surfaktan yang memiliki mekanisme
menurunkan sudut kontak sehingga zat mudah terbasahi.
Selanjutnya korpus suspensi Veegum yang telah dibuat dimasukkan kedalam
mortir digerus dengan campuran asam mefenamat sampai homogen. Lalu campuran
tersebut di pindahkan kedalam matkan dan ditambahkan aquadest sebanyak 60 ml
kemudian di aduk dengan menggunakan stirer. Tujuan dari pengadukan ini agar
campuran homogen dan terdispersi secara merata. Setelah homogen maka campuran
dimasukkan kedalam tabung sedimentasi untuk diamati volume pengendapannya.
Sebelumnya dilakukan evaluasi suspensi yaitu meliputi organoleptik (bau, rasa dan
warna), pH, homogenitas, volume sedimentasi dan kecepatan redispersi.
Pemeriksaan organoleptis dilakukan pada hari pembuatannya. Organoleptis
yang meliputi bau, rasa dan warna sediaan, uji organoleptis ini sebagai langkah awal
untuk mengetahui sediaan layak atau tidak untuk digunakan. Hasil yang diperoleh
dari uji organoleptis yaitu suspensi dengan suspending agent Veegum memiliki warna
putih, tidak berasa (rasa hambar) dan tidak berbau. Hal ini karena tidak adanya
penambahan zat pemanis maka tidak berasa. Meskipun sebenarnya gliserin
mempunyai rasa manis tetapi oleh karena penambahan gliserin yang sedikit maka
tidak akan mempengaruhi rasa. Selanjutnya adalah pemeriksaan pH yang dilakukan
dengan menggunakan kertas pH universal yang dicelupkan kedalam sediaan dan
didapat hasil pHnya sebesar 7. Hasil yang didapat sesuai teori karena asam
mefenamat berbentuk asam dan memiliki pH 4-7 (Dirjen POM, 1979 : 43). Pengujian
homogenitas dilakukan dengan cara melihat sediaan yang telah dibuat. Pengujian ini
bertujuan untuk melihat ataupun mengetahui apakah bahan aktif dan bahan tambahan
yang digunakan untuk pembuatan suspensi ini tercampur dengan merata atau tidak.
Persyaratannya harus homogen, sehingga sediaan dapat terditribusi merata pada saat
dikonsumsi, dari hasil pengamatan didapatkan bahwa sediaan suspensi yang dibuat
adalah sediaan yang homogen.
Selanjutnya dilakukan pengukuran volume sedimentasi, sediaan yang telah
dimasukkan kedalam tabung sedimentasi diamati pengendapannya. Pada menit ke 10,
sediaan masih belum terdapat endapan, begitu pun sampai menit ke 120 (2 jam) yang
masih belum terjadi pengendapan. Bisa dilihat jika pengamatan hanya sampai dua
jam saja, dapat dikatakan suspensi yang dihasilkan baik. Namun, pengendapan
ternyata terjadi setelah 1 hari berikutnya. Dimana pengendapan yang dihasilkan
adalah 36,5 mL dan dihasilkan fraksi (F) sebesar 0,608 mL, untuk pengamatan 3 hari
endapan yang dihasilkan adalah 34 mL dan dihasilkan fraksi (F) sebesar 0,566 mL
.Volume sedimentasi yaitu mempertimbangkan rasio tinggi akhir endapan (Vu)
terhadap tinggi awal (Vo) pada waktu suspensi mengendap dalam suatu kondisi
standar. Makin besar fraksi ini, makin baik kemampuan suspensinya (Anief, 1993
:31). Volume sedimentasi veegum sendiri, volume akhirnya berupa F yang mendekati
1 adalah suspensi yang baik.
Setelah dilakukan evaluasi volume sedimentasi, selanjutnya dilakukan
evaluasi kecepatan redispersi, dari data pengamatan bahwa suspensi dengan
suspending agent veegum dapat didispersikan kembali dalam waktu 19 detik. Hasil
tersebut membuktikkan bahwa sediaan memiliki redispersi yang baik karena kurang
dari 30 detik dan juga kurang dari redispersi PGA dan CMC-Na. Dan suspensi yang
ideal juga adalah ketika terbentuk endapan, endapan tersebut bisa didispersikan
kembali.
Hasil perbandingan antara penggunaan Veegum dengan konsentrasi 2,5% dan
konsentrasi 0,5 % diperoleh hasil yang cukup berbeda jauh. Dimana volume
pengendapan dengan konsentrasi yang lebih kecil akan lebih besar dibandingkan
yang konsesntrasinya besar.
8.2 Suspensi Rekonstitusi
Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan suspensi rekonstitusi (suspensi
kering), suspensi kering dibuat dengan cara granulasi. Granulasi adalah suatu metode
yang memperbesar ukuran partikel serbuk guna memperbaiki sifat alir (Pharm
Dosage Forms, 1989; 318). Komponen bahan dalam suspensi rekonstitusi terdiri dari
2 komponen yaitu bahan berkhasiat/ zat aktif dan bahan tambahan. Bahan berkhasiat
yang digunakan adalah amoxicilin dan bahan tambahan yang digunakan adalah
sukrosa, CMC-Na, PVP sebagai pengikat, etanol 96% sebagai pengikat pelarut.
Kemudian masing-masing bahan tersebut ditimbang sesuai dengan perhitungan yang
sudah dilakukan. Alasan amoxicilin dibuat sediaan suspensi rekonstitusi yaitu karena
amoxicilin adalah obat antibiotik golongan penicilin, umumnya antibiotik
mempunyai stabilitas yang terbatas didalam pelarut air, dan mudah terurai oleh air
(hidrolisis).
Dimasukan semua zat aktif dan zat tambahan kedalam mortir kecuali CMC-
Na, karena CMC-Na sifatnya hidroskopik etanol 96% hingga serbuk dapat dikepal,
digunakan etanol 96% karena sifat etanol yang mudah menguap, mudah bergerak (FI
III,1979:65) dan untuk dijadikan sebagai pelarut pengikat. Sehingga pada sesudah
pengayakan serbuk cepat kering, dibandingkan jika ditetesi aqua dest. Setelah
ditetesi etanol 96% dilakukan granulasi agar memperbaiki sifat alir. Kemudian
diayak, dilakukan pengayakan karena agar suatu granul tersebut menjadi serbuk
untuk menyamakan ukuran partikel. Kemudian dimasukan kedalam botol kering,
diberi aquadet ad 60mL, kocok kuat agar membentuk suspensi.
Dilakukan evaluasi yang meliputi evaluasi organoleptis, waktu rekonstitusi,
pengukuran pH larutan, homogenitas, volume sedimentasi (10’, 20’, 30’, 60’, 120’,
1hari, 3hari), kecepatan redispersi (3hari). Evaluasi organoleptis dilakukan untuk
melihat atau mengetahui karakteristik sediaan yang dibuat yaitu meliputi warna, bau
dan rasa, pada suspensi redispersi didapat hasil sediaan memiliki rasa manis,tidak
berbau, dan tidak berwarna, rasa manis disebabkan karena adanya zat tambahan
sukrosa. Kemudian dilakukan waktu rekonstitusi ini untuk mengetahui seberapa
lamanya suatu sediaan serbuk suspensi terdispersi, pada percobaan ini waktu
rekonstitusinya adalah 35,33 menit, yang seharusnya waktu rekonstitusi kurang dari
30 menit kemungkinan hal ini disebabkan karena kurang kuat pada saat pengocokan,
dan kesamaan ukuran partikel sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama.
Kemudian dilakukan uji homogenitas ini untuk mengetahi suatu
kehomogenan suspensi, pada percobaan ini suatu suspensi homogen. Kemudian
dilakukan uji pH untuk mengetahi pH suatu sediaan, pada percobaan ini didapat nilai
pH 7, seharusnya pH amoxicilin 3,5 dan 6 (FI IV,1995:95), hal ini dapat disebabkan
karena adanya zat tambahan seperti aquadest yang memiliki pH 7 (FI III, 1979:96)
dan CMC-Na yang memiliki pH 7-9.
Kemudian dilakukan uji volume sedimentasi pada menit ke 10,20,30,60,120
dihasilkan volume sedimentasi 0 karena tidak terjadinya sedimentasi pada menit
menit tersebut yang artinya lamanya terjadi pengendapan . Pada penelitian ke 1 hari
didapat volume sedimentasi 0,175mL. pada penelitian ke 3 hari didapat 0,183mL.
kemudian dilakukan kecepatan redispersi untuk mengetahui suatu suspensi tersebut
dapat didispersikan kembali ketika sudah mengendap, pada percobaan ini didapat
kecepatan redispersi 5 detik, yang artinya mudah terdispersi kembali, maka sediaan
suspensi rekonstitusi ini terasuk kedalam flokulasi terkontrol.

IX. Usulan Formulasi


9.1 Suspensi Asam Mefenamat dengan PGA
Asam Mefenamat 200 mg/5mL
PGA 10%
Gliserin 3%
Aquadest ad 60 mL

9.2 Suspensi Asam Mefenamat dengan CMC-Na


Asam Mefenamat 200 mg/5mL
CMC-Na 1%
Gliserin 3%
Aquadest ad 60 mL

9.3 Suspensi Asam Mefenamat dengan Veegum


Asam Mefenamat 200 mg/5mL
Veegum 2,5%
Gliserin 3%
Aquadest ad 60 mL

9.4 Suspensi Rekonstitusi


Amoxicillin 250mg/5mL
PVP 2%
CMC-Na 1%
Sukrosa 30%
X. Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

Pharm Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, New York.


Bambang, P. 2007. Manajemen Farmasi Industri. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan (1995). Farmakope Indonesia IV,
Jakarta: Depkes RI
Dirjen POM, (1979), Farmakope Indonesia Edisi Ke-III, Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.
Dirjen POM, (2014), Farmakope Indonesia Edisi Ke-V, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
Syamsuni, H. A., (2006), Ilmu Resep, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Anief, M. A. 1987. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press,
Ansel H.C, (1989), Pengatar Bentuk sediaan Farmasi Edisi 4. UI Press, Jakarta.
PUSDIKNAKES (2004) ILMU RESEP TEORI Jilid II ( untuk kelas II ) Jakarta:
Departemen Kesehatan RI. Hal. 17- 19
Agoes, Goeswin. (1993). Pengembangan Sediaan Farmasi. Bandung: ITB Press.
Hal. 195, 297
Fennema, (1996), Food Chemistry. 3th Edition, Marcel Dekker, Inc, New York.
Rowe, R.C., et al. 2006. Handbook of Pharmaceutical Excipients 5th edition. London:
Pharmaceutical Press.
Rowe, R.C., et al. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th edition. London:
Pharmaceutical Press.
Popa, L., & Ghica, M.V., (2011), Ibuprofen pediatric suspension design and
optimized by response surface, Journal of Physical and Colloidal Chemistry.
Rowe, R.C., Sheskey, P.J., & Quinn, M.E., (2009), Handbook of pharmaceutical
excipients, (6 th ed), Pharmaceutical Press and American Pharmacists
Association, Washington D.C.
Martin, A., Swarbrick, J., & Cammarata, A., (1993), Farmasi fisik jilid II (Edisi 3).
Penerjemah: Joshita Djajadisastra, Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Van Duin, C.F., (1947), Buku Penuntun Ilmu Resep Dalam Praktek Dan Teori.
Penerjemah K. Satiadarma Apt., Pecenongan 58, Jakarta.
Boyland, J.C., et all., (1986), “Handbook of Pharmaceutical Excipients”, American
Pharmaceutical Association, Washington.
Niazi, Sarfaraz, (2009), Handbook Of Pharmaceutical Manufacturing
Formulation Liquid Products; 3 Edition, Informe Health Care, New York,
London.
Lachman, L.; Lieberman, H. A.; Kanig, J. L., (1994), Teori dan Praktek Farmasi
Industri. Jilid 2. Penerjemah Siti Suyatmi, UI Press, Jakarta
Aulton, M.E., (2003), Pharmaceutics The Science of Dosage Form Design, 2nd
edition, British Government : ELBS Fonded.
Lieberman, Rieger & Banker, (1989), Pharmaceutical Dosage Form: Disperse
System, Vol ke-2, Marcel Dekker Inc, New York
Nussinovitch A., (1997), Hydrocolloid Applications Chapman & Hall, UK, hal 128.
Scoville, (1957), The Art Of Compounding, New York : In Mc-Graw-Hill Book
Company
Wiroatmojo,(1988), Kimia Fisika, Depdikbud, Jakarta.
Aulton, M. E. 1988. Pharmaceutics, The Science of Dosage From Design. London:
Churcill Livingstone.
Anief,M., (1993), Farmasetika, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Anief, M. A. 1994. Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sweetnam, S.C. 2009. Martindale 36 th edition. London: Pharmaceutical Press.

Anda mungkin juga menyukai