Anda di halaman 1dari 48

UJIAN AKHIR SEMESTER GANJIL TAKE HOME

MANAJEMEN RISIKO

Nama : Ika Andriani


NPM: 113216056

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT (S-1)


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
JENDERAL ACHMAD YANI CIMAHI
2018
1. Manajemen resiko diperusahaan didukung oleh berbagai standar, seperti ISO
31000:2009, ISO 18001, dan PP no. 50 tahun 2012.
a. Berikut penjelasan tentang aturan-aturan pendukung dalam pelaksanaan
manajemen risiko.
1) ISO 31000:2009
ISO 31000:2009 memiliki kemiripan dengan AS/NZS 4360:2004.
Dalam menerapkan manajemen risiko berbasis ISO 31000 ada tigas
aspek yang harus diperhatikan, yakni: pertama, penerapan
manajemen risiko harus disertai komitmen yang tinggi dari pengurus
organisasi (corporate boards), dimana dalam perusahaan berarti
direksi dan komisaris. Kedua, manajemen risiko harus diintegrasikan
ke dalam seluruh proses organisasi dan menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dari core responsibilities para pemilik/penanggung
jawab proses (dalam perusahaan berarti para manajer dan staf di
setiap departemen), dan ketiga manajemen risiko harus merupakan
bagian dari proses pengambilan keputusan baik pada tingkat
governance maupun manajerial.
Definisi risiko menurut ISO 31000:2009 yakni dampak dari
ketidakpastian terhadap pencapaian obyektif. Dampak ini merupakan
deviasi dari apa yang diharapkan, bisa bersifat positif dan/atau
negatif. Sementara itu, manajemen resiko merupakan aktivitas yang
terkoordinasi untuk mengarahkan dan mengendalikan sebuah
organisasi dalam menangani risiko.
Menurut ISO 31000:2009, manajemen risiko suatu organisasi
haus mengikuti 11 prinsip dasar agar dapat dilaksanakan secara
efektif. Berikut prinsip-prinsip tersebut:
a) Manajemen risiko menciptakan nilai tambah (creates value)
Manajemen risiko berkontribusi terhadap pencapaian nyata
objektif dan peningkatan, antara lain kesehatan dan keselamatan
manusia, kepatuhan terhadap hukum dan peraturan, penerimaan
publik, perlindungan lingkungan, kinerja keuangan, kualitas
produk, efisiensi operasi, serta tata kelola dan reputasi
perusahaan.
b) Manajemen risiko adalah bagian integral proses dalam
organisasi (an integral part of organizational processes)
Manajemen risiko merupakan bagian tanggung jawab
manajemen dan merupakan suau bagian integral dalam proses
normal organisasi seperti juga merupakan bagian dari seluruh
proses proyek dan manajemen perubahan. Manajemen risiko
bukanlah merupakan aktivitas yang berdiri sendiri yang terpisah
dari aktivitas-aktivias utama dan proses dalam organisasi.
c) Manajemen risiko adalah bagian dari pengambilan keputusan
(part of decision making)
Manajemen risiko membantu mengambil keputusan dengan
informasi yang cukup. Manajemen risiko dapat membantu
memprioritaskan tindakan dan membedakan berbagai pilihan
alternatif tindakan. Pada akhirnya, manajemen risiko dapat
membantu memutuskan apakah suatu risiko dapat diterima atau
apakah suatu penanganan risiko telah memadai dan efektif.
d) Manajemen risiko secara eksplisit menangani ketidakpastian
(explicity addresses uncertainy)
Manajemen risiko menangani aspek-aspek ketidakpastian dalam
pengambian keputusan, sifat alami dari ketidakpastian itu, dan
bagaimana menanganinya.
e) Manajemen risiko berisifat sistematis, terstruktur, dan tepat
waktu (systematic, strutured and timely)
Suatu pendekatan sistematis, tepat waktu, dan terstruktur
terhadap manajemen risiko memiliki kontribusi terhadap
efisiensi dan hasil yang konsisten, dapat dibandingkan, serta
andal.
f) Manajemen risiko berdasarkan informasi terbaik yang tersedia
(based on the best available information)
Masukan untuk proses pengelolaan risiko didasarkan oleh
sumber informasi seperti pengalaman, umpan balik,
pengamatan, prakiraan, dan pertimbangan pakar. Meskipun
demikian, pengambil keputusan harus terinformasi dan harus
mempertimbangkan segala keterbatasan data atau model yang
diunakan atau kemungkinan perbedaan pendapat antar pakar.
g) Manajemen risiko dibuat sesuai kebutuhan (tailored)
Manajemen risiko diselaraskan dengan konteks eksternal dan
internal organisasi serta profil risikonya.
h) Manajemen risiko memperhitungkan faktor manusia dan budaya
(takes human and cultural factors into account)
Manajemen risiko organisasi mengakui kapabilitas, persepsi,
dan tujuan pihak-pihak eskternal dan internal yang dapat
mendukung atau malah menghambat pencapaian tujuan
organisasi.
i) Manajemen risiko bersifat transparan dan inklusif (transparent
and inclusive)
Keikutsertaan para pemangku kepentingan, terutama pengambil
keputusan, dengan sesuai dan tepat waktu pada semua tingkatan
organisasi, memastikan manajemen risiko tetap relevan dan
mengikuti perkemangan. Partisipasi ini juga memungkinkan
pemangku kepentingan untuk cukup terwakili dan
diperhitungkan sudut pandangnya dalam menentukan kriteria
risiko.
j) Manajemen risiko bersifat dinamis, interatif, dan responsif
terhadap perubahan (dynamic, iterative, dan responsive to
change)
Seiring dengan timbulnya peristiwa internal dan eksternal,
perubahan konteks dan pengetahuan, serta diterapkannya
pemantauan dan peninjauan, risiko-risiko baru bermunculan,
sedangkan yang ada bisa berubah atau hilang. Karenanya, suatu
organisasi harus memastikan bahwa manajemen risiko terus
menerus memantau dan menanggapi perubahan.
k) Manajemen risiko memfasilitasi perbaikan dan pengembangan
berkelanjutan organisasi (facilitates continual improvemen and
enhancement of the organization)
Organisasi harus mengembangkan dan mengimplementasikan
strategi untuk memperbaiki kematangan manajemen risiko
mereka bersama aspek-aspek lain dalam organisasi mereka.
Pola kerja manajemen risiko ISO 31000:2009 terlihat dalam
pemahaman tentang pendekatan yang disajikan dalam ISO 31000
terhadap pengelolaan risiko didalam sebuah organisasi melalui
gambaran relasi antara prinsip, kerangka kerja, dan proses
pengelolaan risiko.
Setelah pemberian mandat dan komitmen, kerangka kerja ISO
31000:2009 dilanjutkan dengan kerangka implementasi “Plan, DO,
Check, Act”, yaitu dengan melakukan:
a) Perencanaan kerangka kerja manajemen risiko
Plan-mendefinisikan dan analisis suatu masalah serta
mengidentifikasi akar masalahnya
 Mengkomunikasikan dan melatih
 Rencana komunikasi dan pelaporan
 Strategi training
 Jaringan manajemen risiko
b) Penerapan manajemen risiko
Do-melaksanakan solusi, embuat rencana kerja secara terinci
dan menerapkanya secara sistematis. Yang termasuk dalam
tahap ini, yakni:
 Mengelola dan mengalokasikan
 Komite manajemen risiko komisaris/dewan pengawas
 Komite manajemen risiko eksekutif/direksi
 Manajer manajemen risiko
 RM champions
 Risiko, pengendalianya, ownernya
 Penyedia asuransi/penjaminnya
c) Monitoring dan review terhadap kerangka kerja manajemen
risiko
Check-memeriksa hasil kerja dibandingkan dengan rencanya
dan mengidentifikasi penyimpanganya serta masalah-
masalahnya, berikut yang termasuk dalam tahap ini:
 Mengukur dan mengkaji
 Mengendalikan asuransi/penjaminannya
 Kemajuan rencana manajemen risiko
 Pelaporan taka kelola
 Benchmarking/study banding
 Kriteria unjuk kerja
d) Perbaikan kerangka kerja manajemen risiko secara
berkelanjutan
Act-menstadarisasi solusi. Mengkaji ulang dan
mendefinisikan masalah-masalah yang akan datang. Yang
termasuk dalam act, yakni:
 Komitmen dan mandat dari atasan kepada bawahannya,
mulai dari pemegang saham, komisaris, direksi, sampai
dnegan karyawan level terendah dalam masalah manajemen
risiko.
 Pernyataan kebijakan manajemen risiko
 Rencana manajemen risiko
 Rencana asuransi’standar-standar manajemen risiko
 Prosedur dan petunjuk kerja

Framework manajemen risiko ISO 31000:2009 pada gambar


diatas erdiri atas kerangka kerja manajemen risiko ISO 31000:2009.
Risk management-principles and guidelines dimulai dengan
pemerian mandat dan komitmen. Pemberian mandat dan komitmen
merupakan hal yang penting dalam menentukan akuntabilitas,
kewenangan, dan kapabiltas dari pelaku manajemen risiko. Hal-hal
penting yang harus dilakkan pada pemberian mandat dan komitmen
adalah:
a) Membuat dan menyetujui kebijakan manajemen risiko
b) Menyesuaikan indikator kinerja manajemen risiko dengan
indikator kinerja perusahaan
c) Menyesuaikan kultur organisasi dengan nilai-nilai manajemen
risiko
d) Menyesuaikan sasaran manajemen risiko dengan sasaran
strategis perusahaan
e) Memberikan kejelasan peran dan tanggung jawab
f) Menyesuaikan kerangka kerja manajemen risiko dengan
kebutuhan organisasi
Kerangka kerja implementasi manajemen risiko. Perencanaan
kerangka kerja manajemen risiko mencakup pemahaman mengenai
organisasi dan konteksnya, menetapkan kebijakan manajemen risiko,
menetapkan akuntabilitas manajemen risiko, mengintegrasikan
manajemen risiko kedalam proses bisnis organisasi, alokasi sumber
daya manajemen risiko, dan menetapkan mekanisme komunikasi
internal dan eskternal. Setelah melakukan perencanaan kerangka
kerja, maka dilakukan penerapan proses manajemen risiko.
Dalam penerapan manajemen risiko, perlu dilakukan monitoring dan
review terhadap kerangka kerja manajemen risiko. Setelah iu,
kerangka kerja manajemen risiko perlu diperbaiki secara
berkelanjutan untuk memfasilitasi perubahan yang terjadi pada
konteks internal dan eksternal organisasi. Proses-proses tersebut
kemudian berulang kembali untuk memastikan adanya kerangka
kerja manajemen risiko yang andal. ISO 31000 menyediakan
kerangka kerja sebagai pedoman dalam implementasi manajemen
risiko yang efektif. Tujuan dari kerangka kerja implementasi
pengelolaan risiko, antara lain:
a) Memastikan bahwa informasi mengenai pengelolaan risiko yang
dihasilan dari proses pengelolaan risiko telah cukup dilaporkan
dan digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan.
b) Pemenuhan akuntabilitas pada setiap tingkatan organisasi yang
relevan.
Proses pengelolaan risiko menurut ISO 31000 seharusnya
merupakan bagian yang erintegrasi, melekat dalam budaya dan
praktik manajemen, dan terkustominasi menurut proses bisnis
organisasi. Menurut ISO 31000, asessment risiko merupakan bagian
yang paling penting dan fundamental dalam proses pengelolaan
risiko. Oleh karena iu, organisasi perlu melakukan asesmne risiko
yang benar agar memperoleh laporan profil risiko yang tepat
sehingga organisasi dapat secara cermat mengelola risikonya.
Proses manajemen risiko merupakan kegiatan kritikal dalam
manajemen risiko, karena merupakan penerapan dari pada prinsip
dan kerangka kerja yang telah dibangun. Proses manajemen risiko
terdiri dari tiga proses besar, yaitu:
a) Penetapan konteks (establishing the context)
Penetapan konteks bertujuan untuk mengidentifikasi dan
mengungkapkan sasaran organisasi, lingkungan dimana sasaran
hendak dicapai, stakeholders yang berkepentingan, dan
keberagaman kriteria risiko, dimana hal-hal ini akan membantu
mengungkapkan dan menilai sifat dan kompleksitas dari risiko.
Terdapat empat konteks yang perlu ditentukan dalam penetapan
konteks, yaitu konteks internal, konteks eksternal, konteks
manajemen risiko, dan kriteria risiko.
 Konteks internal memperhatikan sisi internal organisasi
yaitu struktur organisasi, kultur dalam organisasi, dan hal-
hal lain yang dapat mempengaruhi pencapaian sasaran
organisasi.
 Konteks eksternal mendefinisikan sisi eksternal organisasi
yaitu pesaing, otoritas, perkembangan teknologi, dan hal-hal
lain yang dapat mempengaruhi pencapaian sasaran
organisasi.
 Konteks manajemen risiko memperhatikan bagaimana
manajemen risiko diberlakukan dan bagaimana hal tersebut
akan diterapkan di masa yang akan datang
 Terakhir dalam pembentukan manajemen risiko organisasi
perlu mendefinisikan parameter yang disepakati bersama
untuk digunakan sebagai kriteria risiko.
b) Penilaian risiko (risk assessment)
Penilaian risiko, terdiri dari:
 Identifikasi risiko: mengidentifikasi risiko apa saja yang
dapat mempengaruhi pencapaian sasaran organisasi
 Analisa risiko: menganalisis kemungkinan dan dampak dari
risko yang telah diidentifikasi
 Evaluasi risko: membandingkan hasil analisis risiko dengan
kriteria risiko untuk menentukan bagaimana penanganan
risiko yang akan diterapkan
c) Penanganan risiko (risk treatment)
Dalam menghadapi risiko terdapat empat penanganan yang
dapat dilakukan oleh organisasi:
 Menghindari risiko
 Mitigasi risiko, dapat dilakukan dengan mengurangi
kemungkinan atau dampak
 Transfer risiko kepada pihak ketiga
 Menerima risiko
Ketiga proses tersebut didamingi oleh dua proses, yaitu:
a) Komunikasi dan konsultasi
Komunikasi dan konsultasi merupakan hal yang penting
mengingat prinsip mannajemen risiko yang kesembilan
menuntut manajemen risiko yang transparan dan inklusif,
dimana manajemen risiko harus dilakukan oleh seluruh bagian
organisasi dan memperhitungkan kepentingan dari seluruh
stakeholders organisasi. Adanya komunikasi dan konsultasi
diharapkan dapat menciptakan dukungan yang memadai pada
kegiatan manajemen risiko dan membuat kegiatan manajemen
risiko menjadi tepat sasaran.
b) Monitoring dan review
Hal ini diperlukan unuk memastikan bahwa implementasi
manajemen risiko terlah berjalan sesuai dengan perencanaan
yang dilakukan. Hasil monitoring dan review juga dapat
digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan
perbaikan terhadap proses manajemen risiko.
Proses manajemen risiko ISO 31000:29 digambarkan sebagai
berikut:

Proses pertama yakni establishing the context (menetapkan konteks)


meliputi penetapan tujuan, strategi, ruang lingkup, dan parameter-
parameter lain yang berhubungan dengan proses pengelolaan risiko
suatu organisasi. Penetapan konteks ini menunjukkan hubungan
antara masalah atau hal yang akan dikelola risikonya dengan
lingkungan organisasi, proses manajemen risiko dan ukuran atau
kriteria risiko yang dijadikan standar.
Kriteria risiko merupakan ukuran standar seberapa besar dampak
atau konsekwensi yang mungkin akan terjadi dan seberapa besar
kemungkinan atau frekuensi atau likehood risiko akan terjadi. Dalam
penetapan konteks ini ditetapkan pula sumber daya, struktur
organisasi yang diperlukan dalam pengelolaan risiko.

Proses kedua yakni risk identification yaitu melakukan identifikasi


risiko-rsiko yang dapat terjadi di masa yang akan datang. Identfikasi
ini termasuk pengidentifikasi proses/aktifitas kritikal, pengenalan
area risiko dan kategorinya.
Proses ketiga yakni risk analysis yaitu menentukan berapa besar
dampak dan kemungkinan risiko yang akan terjadi, serta enghiung
berapa besar level risikonya dengan mengalihkan antara besar
dampak dan besar kemungkinan (risk=consequencesxlikehood).
Proses keempat adalah risk evaluation dimana membandingkan
risiko yang sudah dihitung diatas dengan krtiteria risiko yang sudah
distandarkan, apakah risiko itu dapat diterima atau menjadi issue,
atau tidak dapat diterima, serta memperioritaskan mitigasi atau
penangannya.
Proses elima adalah risk treatment. Mitigasi risiko harus
direncanakan sebaik-baiknya dan dipertimbangkan semua alternatif
solusinya, sebelum dilaksanakan mitigasinya, agar mendapatkan
hasil yang diharapkan secara efektif dan efisien. Beberapa alternatif
bisa diertimbangkan untuk digunakan, seperti membagi risiko,
mengurangi likehood, menghindari risiko, menerima risiko.
Proses keenam yakni monitor dan review. Pemantauan dan
pengkajian ulang dilaksanakan terhadap seluruh proses manajemen
risiko termasuk konteksnya. Catatan hasl pemantauan dan
pengkajian ulang disimpan sebagai bukti dan laporan.
2) ISO 18001 atau OHSAS 18001
OHSAS (occupational health and safety assessment series)-18001
merupakan standar internasional untuk penerapan sistem manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja. Tujuannya yakni sebagai
perlindungan terhadap para pekerja dari hal yang tidak diinginkan
yang timbul dari lingkungan kerja pekerjaan itu sendiri yang
berdampak terhadap keselamatan dan kesehatan para pekerja dan
tidak menimbulkan kerugian bagi perusahaan dan pekerja.
Persyaratan penilaian K3 (OHSAS) menyatakan persyaratan
sistem manajemen K3, agar organisasi mampu mengendalikan
risiko-risiko K3 dan meningkakan kinerjanya. Persyaratan OHSAS
diaplikasikan kepada organisasi yang berniat untuk:
a) Membuat suatu SMK3 untuk menghilangkan atau
meminimalisisr risiko kepada personel dan pihak-pihak terkait
lain yang mungkin ditimbulkan oleh risiko K3 yang terkait
dengan aktivitas kerja organisasi.
b) Menerapkan, melihara dan secara berkelanjutan meningkatkan
smk3
c) Menentukan persyaratan tersebut sesuai dengan kebijakan K3
yang ditetapkan
d) Memperlihatkan kesesuaian dengan standar OHSAS:
 Menentukan sendiri ketentuan dan deklarasi kesesuaian
 Mendapatkan konfirmasi kesesuainya oleh pihak lain yang
mempunyai hubungan misalnya pelanggan
 Mendapatkan pernyataan deklarasi sendiri oleh pihak luar
 Mendapatkan sertifikat/registrasi atas smk3 oleh organisasi
eksternal
Standar OHSAS ditunjukan untuk mengelola aspek kesehatan dan
keselamatan kerja, dan bukan ditujukan untuk mengelola area-area
kesehatan dan keselamatan lain seperti program-program
kesejahteraan karyawan, keselamatan produk, kerusakan properti
ataupun dampak lingkungan.
Persyaratan-persyaratan SMK3, organisasi harus membuat,
mendokumentasikan, memelihara, dan meningkatkan secara
berkelanjutan SMK3 sesuai dengan persyaratan standar OHSAS dan
menetapkan bagaimana memenuhi persyaratan ini. Organsasi harus
mennetukan dan mendokumenasikan ruang lingkup smk3 organisasi.
Manajemen Puncak harus mendefinisikan dan menyetujui
kebijakan k3 dan memastikan bahwa didalam ruang lingkup dari
smk3:
a) Sesuai dengan sifat dan skala risiko-risiko K3 organisasi
b) Mencakup suatu komiten untuk pencegahan cidera dan sakit
penyakit dan peningkatan berkelanjutan manajemen dan kinerja
k3
c) Mencakup suatu komitmen untuk paling tidak mematuhi
peraturan k3 dan persyaratan lain yang relevan yang biasa
dilakukan oleh organisasi yang terkait dengan risiko k3
d) Memberikan kerangka kerja untuk menetapkan dan meninjau
tjuan k3
e) Didokumentasikan, diterapkan, dan dipelihara
f) Dikomunikasikan ke seluruh personel dalam kendali organisasi
dengan tujuan bahwa personel menyadari kewajiban k3 masing-
masing
g) Tersedia untuk pihak terkait
h) Dikaji secara periodik untuk memastikan kebijakan tetap relevan
dan sesuai untuk organisasi
Perencanaanya, meliputi:
a) Identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan penetapan
pengendalian
Hal yang diperhatikan dalam identifikasi bahaya dan menilai
risiko, yakni:
 Aktifitas rutin dan tidak rutin
 Aktifitas seluruh personel yang mempunyai akses ketempat
kerja
 Perilaku manusia, kemampuan, dan faktor manusia lainnya
 Bahaya-bahaya yang timbul dari luar tempat kerja yang
berdampak pada kesehatan dan keselamatan personel
didalam kendali organisasi di lingkungan tempat kerja
 Bahaya-bahaya yang terjadi disekitar tempat kerja hasil
aktifitas kerja yang terkait didalam kendali organisasi
 Prasarana, peralatan dan material ditempat kerja, yang
disediakan baik oleh organisasi ataupun pihak lain
 Perubahan-perubahan atau usulan perubahan didalam
organisasi, aktifitas-aktifitas atau material
 Modifikasi smk3 termasuk perubahan sementara dan
dampaknya kepada operasional, proses dan aktifitas
 Adanya kewajiban perundangan yang relevan terkait
dengan penilaian risiko dan penerapan pengendalian yang
dibutuhkan
 Rancangan area kerja, proses, instalansi, mesin/alat,
prosedur operasional dan organisasi kerja termasuk
adaptasinya kepada kemampuan manusia
Metodologi organisasi dalam melakukan identifikasi bahaya
dan penilaian risiko harus:
 Ditetapkan dengan memperhatikan ruang lingkup, sifat, dan
waktu untuk memastikan metodenya proaktif
 Menyediakan identifikasi, piorits, dan dokumentasi risiko,
dan penerapan pengendalian, sesuai keperuan.
Organisasi harus memastikan hasil dari penilaian ini
dipertimbangkan dalam menetapkan pengendalian berdasarkan
eliminasi, substitusi, pendengalian teknik, rambu/peringatan,
dan alat pelindung diri.
b) Peraturan perundangan dan persyaratan lain
Organisasi harus membuat, menerangkan dan memelihara suatu
prosedur untuk mengidentifikasi dan mengakses peraturan
perundangan dan persyaratan K3 lain yang diaplikasikan unuk
K3.
Organisasi harus memastikan bahwa peraturan perundangan dan
persyaratan lain yang relevan dimana organisasi
mendapatkannya harus dipertimbangkan dalam membuat,
menerapkan dan memelihara smk3 organisasi.
Organisasi harus mengkomunikasikan peraturan perundangan
dan persyaratan lain yang relevan kepada orang yang bekerja
didalam kendali organisasi dan pihak terkait lain.
c) Tujuan dan program
Tujuan harus dapat diukur, bila memungkinkan, dan konsisten
dengan kebijakan k3 termasuk komitmen untuk mencegah
cidera dan sakit penyakit, memenuhi peraturan perundangan
yang relevan dan persyaratan lain dimana organisasi
mendapatkan dan untuk peningkatan berkelanjutan.
Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara suatu
program untuk mencapai tujuan organisasi. Dimana program
tersebut yakni:
 Penunjukan penanggung jawab dan kewenangan untuk
mencapai tujuan pada setiap fungsi dan ingat organisasi
 Cara-cara dan jangka waktu untuk mencapai tujuan
Manajemen puncak harus menjadi penanggung jawab tertinggi
untuk smk3, dengan memperhatikan hal berikut:
a) Memastikan ketersediaan sumberdaya yang esensial untuk
membuat, menerapkan, memelihara, dan meningkatkan smk3
b) Menetapkan peran-peran, alokasi tanggung jawab dan
akuntabilitas dan delegasi wewenanguntuk memfasilitasi
efektivitas smk3, peran, tanggung jawab, akuntabilitas dan
wewenang harus didokumentasikan dan dikomunikasikan.
Organisasi harus menunjuk seorang anggota manajemen puncak
dengan tanggug jawab khusus k3, diluar tanggung jawabnya, dan
menetapkan peran-peran dan wewenang untuk:
a) Menjamin smk3 dibuat, diterapkan, dan dipelihara sesuai
dengan standar OHSAS
b) Melaporkan kinerja smk3 kepada manajemen puncak untuk
dikaji dan sebagai dasar untuk peningkatan smk3
Organisasi harus memastikan bahwa setiap orang dalam
pengendalianya yang melakukan tugas yang mempunyai dampak
pada K3 harus kompeten sesuai dengan tingkat pendidikan,
pelatihan, dan pengalaman dan meimpan catatannya.
Organisasi harus mengidentifikasi kebutuhan pelatihan sesuai
dengan risiko k3 terkait dan smk3. Organisasi harus menyediakan
pelatihan atau mengambil tindakan untuk memenuhi kebutuhan
tersebut, melakukan evaluasi efekifitas pelatihan atau tindakan yang
diambil, dan menyimpan catatannya.
Organisasi harus membuat, menerapkan, dan memelihara
prosedure untuk memastikan semua orang yang bekerja dalam
pengendaliannya peduli akan:
a) Konsekuensi-konsekuensi K3, yang aktual atau potensial,
kegiatan kerjanya, perilakunya, serta manfaat-manfaat K3 untuk
peningkatan kinerja perorangan
b) Peranan dan tanggung jawabnya dan pentingnya dalam
mencapai kesesuaianya dengan kebijakan dan prosedur-prosedur
K3 dan dengan persyaratan SMK3, termasuk persyaratan
kesiapsiagaan dan tanggap darurat
c) Konsekuensi potensial dari penyimpangan dari prosedur yang
telah ditetapkan
Prosedure pelatihan harus mempertimbangkan tingkat perbedaan
dari:
a) Tanggung jawab, kemampuan, bahasa, dan keterampilan, dan
b) Risiko
Sesuai dengan bahaya K3 dan SMK3, organisasi harus membuat,
menerapkan, dan memelihara prosedure untuk:
a) Komunikasi internal antar berbagai tingkatan dan fungsi dalam
organisasi
b) Komunikasi dengan para kontraktor dan tamu lainnya ke tempat
kerja
c) Menerima, mendokumentasikan dan merespon komunikasi yang
relevan dari pihak-pihak eksternal terkait
Organisasi harus membuat, menerapkan, dan memelihara
prosedure, untuk:
a) Partisipasi pekerja melalui:
 Keterlibatanya dan identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan
penetapan pengendalian
 Keterlibatanya dalam penyelidikan insiden
 Keterlibatanya dalam pengembangan dan peninjauan
kebijakan dan tujuan K3
 Konsultasi dimana ada perubahan yang berdampak pada K3
 Diwakilkan dalam hal-hal terkait K3. Pekerja harus
diinformasikan terkait pengaturan partisipasi, termasuk
siapa yang menjadi wakil mereka dalam hal terkait K3
b) Konsultasi dengan para kontraktor atas perubahan-perubahan
yang terjadi dan berdampak pada K3
Dokumentasi smk3 harus termasuk:
a) Kebijakan k3 dan sasaran
b) Penjelasan ruang lingkup smk3
c) Penjelasan elemen-elemen inti sistem manajemen dan
interaksinya, dan rujukanya ke dokumen terkait
d) Dokumen-dokumen, termasuk catatan-catatan yang disyaratkan
oleh standar OHSAS
e) Dokumen termasuk catatan yang ditetapkan oleh organisasi
yang dianggap penting untuk memastikan perencanaan, operasi,
dan pengendalian proses yang berhubungan dengan
pengendalian risiko K3 efektif
Organisasi harus membuat, menerapkan, dan memelihara prosedur
untuk:
a) Menyetujui kecukupan dokumen sebelum diterbitkan
b) Meninjau dokumen secara berkala, dirubah bila diperlukan dan
disetujui kecukupanya
c) Memastikan perubahan dan status revisi saat ini dalam dokumen
teridentifikasi
d) Memastikan versi yang relevan dari dokumen yang diterapkan
tersedia di tempat penggunaan
e) Memastikan bahwa dokumen dapat terbaca dan dengan cepat
teridentifikasi
f) Memastikan bahwa dokumen yang berasal dari luar dan
dianggap penting oleh organsiasi untuk perencanaan dan operasi
smk3 diidentifikasi dan distribusinya terkendali
g) Mencegah penggunaan dokumen kadaluarasa dan menetapkan
identifikasi jika dipertahankan untuk tujuan tertentu
Organisasi harus mengidentifikasi operasi dan kegiatan yang
berkaitan dengan bahaya yang teridentifikasi dimana kendali
pengukuran perlu dilakukan untuk mengendalikan risiko K3. Hal
yang harus diterapkan organisasi yakni:
a) Kendali operasional sesuai keperluan organisasi dan
aktivitasnya, organsiasi harus mengintegrasikan kendali
operasionalnya ke dalam smk3 secara keseluruhan
b) Pengendalian terkait pembelian material, peralatan, dan jasa
c) Pengendalian terkait para kontraktor dan tamu lain ke tempat
kerja
d) Mendokumentasikan prosedur mencakup situasi dimana
ketiadaanya dapat menyebabkan penyimpangan dari kebijakan
dan tujuan K3
e) Kriteria operasi yang telah ditetapkan dimana ketiadaanya dapat
menyebabkan penyimpangan dari kebijakan dan tujuan K3
Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara prosedur
untuk identikasi potensi keadaan darurat dan menanggapi keadaan
darurat. Dalam perencanaan tanggap darurat organsiasi harus
mempertimbangkan kebutuhan pihak-pihak terkait yang relevan,
misal jasa keadaan darurat dan masyarakat sekitar.
Organisasi harus secara berkala menguji prosedur keadaan
darurat serta melibatkan pihk terkait. Jika diperlukan, dapat merubah
prosedur kesiapsiagaan dan tanggap darurat secara khusus, setelah
pengujian periodik dan setelah terjadinya keadaan darurat.
Organisasi harus membuat, menerapkan, memelihara prosedur
untuk memantau dan mengukur kinerja k3 secara teratur. Prosedur
ini harus dibuat untuk:
a) Pengukuran kualitatif dan kuantitatif, sesuai dengan keperluan
organisasi
b) Memantau perluasan yang memungkinkan tujuan k3 organisasi
tercapai
c) Memantau efektivitas pengendalian
d) Mengukur kinerja secara proaktif untuk memantau kesesuaian
dengan program manajemen k3, pengendalian, dan kriteria
operasional.
e) Mengukur kinerja secara reaktif untuk memantau kecelakaan,
sakit penyakit, insiden dan bukti catatan lain penyimpangan
kinerja k3
f) Mencatata data dan hasil pemantauan dan mengukur kecukupan
untuk melakukan analisis tindakan perbaikan dan pencegahan
lanjutan.
Organisasi harus membuat, menerapkan, dan memelihara
prosedur untuk mencatat, menyelidiki dan menganalisis insiden
untuk:
a) Menetapkan penyebab penyimpangan k3 dan faktor lain yang
dapat menyebabkan atau berkontribusi atas terjadinya insiden
b) Mengidentifikasi kebutuhan untuk mengambil tindakan
perbaikan
c) Mengidentifikasi kesempatan melakukan tindakan pencegahan
d) Mengidentifikasi kesempatan untuk melakukan peningkatan
berkelanjutan
e) Mengkomunikasikan hasil dari penyelidikan
Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara prosedur
untuk menangani ketidaksesuaian yang aktual dan potensial dan
untuk melakukan tindakan perbaikan dan tindakan pencegaran.
Prosedur harus menetapkan persyaratan untuk:
a) Mengidentifikasi dan memperbaiki ketidaksesuain dan
mengambil tindakan perbaikan untuk mengurangi dampak k3
b) Menyelidiki ketidaksesuaian, menetapkan penyebab dan
mengambil tindakan untuk mencegah terjadi lagi
c) Evaluasi kebutuhan untuk melakukan tindakan pencegahan dan
menerapkan tindakan yang dirancang untuk mencegah agar
tidak terjadi
d) Mencatat dan mengkomunikasi hasil tindakan perbaikan dan
tindakan pencegahan yang dilakukan
e) Meninjau efektifitas tindakan perbaikan dan tindakan
pencegahan yang dilakukan.
Oraganisasi harus membuat dan memelihara program dan
prosedur untuk membuat dan memelihara program dan prosedur
untuk pelaksanaan audit smk3 secara berkala, agar dapat:
a) Menentukan apakah smk3 sesuai dengan pengaturan yang
direncakan untuk manajemen k3, telah ditetapkan dan
diperlihara sevara baik, dan efektif memenuhi kebijakan dan
tujuan organisasi
b) Memberikan informasi tentang hasil audit kepada pihak
manajemen
Prosedur audit harus dibuat, diterapkan, dan dipelihara yang
menjelaskan:
a) Tanggung jawab, kompetensi, dan persyaratan untuk
merencanakan dan melaksanakan audit, melaporkan hasil audit
dan menyimpan catatan terkait
b) Menetapkan kriteria, ruang lingkup, frekuensi dan metode audit
3) PP no. 50 tahun 2012
Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja menurut PP
no. 50 tahun 2012 adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan
secara keseluruhan dalam rangka pendendalian risiko yang berkaitan
dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang mana,
efisien, dan produktif.
Tujuan penerapan smk3, yakni:
a) Meningkatkan efektifitas perlindungan k3 yang terencana,
terukur, terstruktur, dan terintegrasi
b) Mencegah dan mengurangi k3 dan pak dengan melibatkan unsur
manajemen, pekerja, dan seikat pekerja
c) Menciptakan tempat kerja yang aman, nyaman, dan efisien
untuk mendorong produktivitas
Penerapan smk3 dilakukan berdasarkan kebijakan nasional
tentang smk3 dimana kebijakan nasional tersebut digunakan sebagai
pedoman perusahaan dalam menerapkan smk3, instansi pembina
sektor usaha dapat mengembangkan pedoman penerapan smk3
sesuai dengan kebutuhan berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Kewajiban penerapan smk, sebagai berikut:
a) Perusahaan yang mempekerjakan pekerja/buruh paling sedikit
100 (seratus) orang; atau
b) Perusahaan yang mempunyai tingkat potensi bahaya tinggi.
(Ketentuan mengenai tingkat potensi bahaya tinggi sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan).
c) Penerapan SMK3 memperhatikan ketentuan peraturan
perundang-undangan serta konvensi atau standar internasional.
Penerapan smk3 di perusahaan, meliputi:
a) Penetapan kebijakan k3
Pengusaha dalam meyusun kebijakan k3 paling sedikit harus:
 Melakukan tinjauan awal kondisi k3, meliputi identifikasi
bahaya, penilaian, dan pengendalian risiko. Perbandingan
penerapan k3 dengan perusahaan lain. Peninjauan sebab-
akibat. Kompensasi dan gangguan serta hasil penilaian
sebelumnya yang berkaitan dengan keselamatan. Penilaian
efisiensi dan efektifitas sumber daya.
 Memperhatikan peningkatan kinerja manajemen k3 secara
terus-meneruts
 Memperhatikan masukan dari pekerja/buruh dan/atau
serikat pekerja
b) Perencanaan k3, berikut yang harus dipertimbangkan:
 Hasil penelaahan awal;
 Identifikasi bahaya, penilaian, dan pengendalian risiko;
 Peraturan perundang-undangan dan persyaratan lainnya;
dan
 Sumber daya yang dimiliki.
c) Pelaksanaan rencana k3, harus didukung oleh sumber daya
manusia, prasarana, dan sarana.
 SDM harus memiliki kompetensi kerja melalui sertifikat
dan kewenangan melalui surat izin kerja dari instansi yang
berwenang
 Prasarana dan sarana terdiri dari organisasi bidang k3,
anggaran, prosedur, dan instruksi kerja.
 Kegiatan yang harus dilakukan dalam pemenuhan
persyaratan k3, meliputi: Tindakan pengendalian,
perancangan (design) dan rekayasa, prosedur dan instruksi
kerja, penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan,
pembelian/pengadaan barang dan jasa, produk akhir, upaya
menghadapi keadaan darurat kecelakaan dan bencana
industri, dan rencana dan pemulihan keadaan darurat.
 Agar kegiatan dapat berjalan, maka harus menunjuk SDM
yang berkompeten dan berwenang, melibatkan seluruh
pekerja, membuat petunjuk k3, membuat prosedur
informasi, membuat prosedur laporan, dan dokumentasi
d) Pemantauan dan evaluasi kinerja k3
 Melalui pemeriksaan, pengujian, pengukuran dan audit
internal SMK3 dilakukan oleh sumber daya manusia yang
kompeten
 Dalam hal perusahaan tidak mempunyai SDM dapat
menggunakan pihak lain
 Hasil pemantauan dilaporkan kepada pengusaha
 Hasil tersebut digunakan untuk untuk melakukan tindakan
pengendalian
 Pelaksanaan pemantauan & Evaluasi dilakukan berdasarkan
peraturan Perundang-undangan
e) Peninjauan dan peningkatan kinerja smk3
 Untuk menjamin kesesuaian dan efektifitas penerapan
SMK3, dilakukan peninjauan terhadap kebijakan,
perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi
 Hasil peninjauan digunakan untuk perbaikan dan
peningkatan kinerja
 Perbaikan dan peningkatan kinerja dilaksanakan dalam hal:
perubahan peraturan perundang-undangan, tuntutan dari
pihak terkait, perubahan produk dan kegiatan perusahaan,
perubahan struktur organisasi, perkembangan IPTEK, hasil
kajian kecelakaan di tempat kerja, pelaporan, dan saran dari
pekerja.
Penilaian penerapan SMK3 dilakukan oleh lembaga audit
independen yang ditunjuk oleh Menteri atas permohonan perusahaa.
Untuk perusahaan yang memiliki potensi bahaya tinggi wajib
melakukan penilaian penerapan SMK3 sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan. Hasil audit sebagai bahan
pertimbangan dalam upaya peningkatan SMK3.
Adapun audit smk3, meliputi:
a) pembangunan dan terjaminnya pelaksanaan komitmen;
b) pembuatan dan pendokumentasian rencana K3;
c) pengendalian perancangan dan peninjauan kontrak;
d) pengendalian dokumen;
e) pembelian dan pengendalian produk;
f) keamanan bekerja berdasarkan SMK3;
g) standar pemantauan;
h) pelaporan dan perbaikan kekurangan;
i) pengelolaan material dan perpindahannya;
j) pengumpulan dan penggunaan data;
k) pemeriksaan SMK3; dan
l) pengembangan keterampilan dan kemampuan
Hasil audit dilaporkan kepada Menteri dengan tembusan
disampaikan kepada menteri pembina sektor usaha, gubernur,
dan bupati/walikota.
Pengawasan SMK3 dilakukan oleh pengawas ketenagakerjaan
pusat, provinsi dan/atau kabupaten/kota sesuai dengan
kewenangannya. Pengawasan SMK3 meliputi:
a) pembangunan dan terjaminnya pelaksanaan komitmen;
b) organisasi;
c) sumber daya manusia;
d) pelaksanaan peraturan perundang-undangan bidang K3;
e) keamanan bekerja;
f) pemeriksaan, pengujian dan pengukuran penerapan SMK3;
g) pengendalian keadaan darurat dan bahaya industri;
h) pelaporan dan perbaikan kekurangan; dan
i) tindak lanjut audit.
b. Alasan perlunya manajemen terlibat dalam pelaksanaan penilaian risiko
karena penilaian risiko merupakan bagian dari manajemen risiko.
Dimana proses manajemen risiko merupakan tanggung jawab manajemen
dan merupakan suatu bagian integral dalam proses normal
organisasi/perusahaan.

2. Metode dalam melakukan identifikasi bahaya, sebagai berikut:


a. Job Safety Analysis/Job Hazard Analysis
Job Safety Analysis (JSA) merupakan suatu prosedur yang digunakan
untuk membahas ulang metode atau cara dan melakukan identifikasi
pekerjaan yang memiliki potensi terjadinya kecelakaan kerja dan
dilakukan koreksi sebelum kecelakaan kerja terjadi.
Job safety analysis (JSA) atau job hazard analysis (JHA) atau yang
sering disebut pula sebagai analisa keselamatan pekerjaan memiliki arti
salah satu sistem atau proses dimana penilaian resiko dan identifikasi
bahaya (hazard) yang dalam pelaksanaannya ditekankan pada identifikasi
bahaya (hazard) yang muncul pada tiap-tiap tahapan pekerjaan atau tugas
yang dilakukan pekerja.
Kelebihan yang dapat diperoleh dari pelaksanaan job safety analysis
adalah sebagai berikut:
1) Sebagai upaya pencegahan kecelakaan (accident) pada saat proses
bekerja.
2) Sebagai alat penunjang keselamatan atau safety training terhadap
tenaga kerja baru di dalam perusahaan.
3) Melakukan kajian ulang (review) pada prosedur pekerjaan setelah
terjadi kecelakaan kerja (working accident).
4) Memberikan instruksi kerja (pre job instruction) pada pekerjan yang
baru didapatkan.
5) Memberikan pelatihan kerja secara pribadi kepada pekerja agar dpat
bekerja secara maksimal.
6) Dapat Meninjau ulang SOP
Cara pembuatan JSA, sebagai berikut:
1) Memilih pekerja yang tepat untuk melakukan observasi atau
pengamatan, contohnya pada pekerja yang berpengalaman dalam
pengerjaan suatu pekerjaan, mampu dan mau bekerja sama sekaligus
dapat saling bertukar pikiran dan gagasan pada sesama pekerja.
2) Apabila pekerja tersebut tidak faham akan peranannya dalam
pembuatan job safety analysis, maka pekerja tersebut akan diberi
pengarahan terlebih dahulu tentang maksud dan tujuan dari
pembuatan job safety analisis itu sendiri.
3) Bersama pekerja tersebut melakukan pengamatan ataupun
pengawasan terhadap pekerjaan dan mencoba untuk membagi atau
memilah pekerjaan tersebut menjadi beberapa langkah dasar untuk
mengerjaannya.
4) Mencatat pekerjaan yang telah dilakukan setelah membagi beberapa
pekerjaan tersebut.
5) Memeriksa dengan seksama maupun mendetail dan mendiskusikan
hasil catatan tersebut ke bagian pemimpin atau section head atas
pekerjaan yang telah diamati.
Tujuan dari pelaksanaan Job safety analysis (JSA) secara umum
adalah bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya (hazard) disetiap
aktivitas pekerjaan sehingga tenaga kerja diharapkan dapat mengenali
bahaya yang akan didapat sebelum terjadi kecelakaan (accident) atau
penyakit akibat kerja.
Tujuan jangka panjang yang dimiliki oleh program job safety analysis
(JSA) ini diharapkan pekerja dapat ikut serta berperan aktif dalam
pelaksanan job safety analysis (JSA) sehingga dapat menanamkan
kepedulian pekerja terhadap kondisi wilayah kerjanya guna menciptakan
keadaan lingkungan kerja yang nyaman, aman dan dapat meminimalkan
kondisi yang tidak aman (unsafe condition) dan perilaku yang tidak aman
(unsafe action) untuk pekerja itu sendiri.
Pelaksanaan dari job safety analysis (JSA) mempunyai beberapa
manfaat dan keuntungan sebagai berikut :
1) Memberikan penjelasan yang sama kepada setiap pekerja tentang
apa yang harus dilakukan untuk mengerjakan pekerjaan dengan
efisien dan aman.
2) Suatu alat pelatihan (training tools) yang efektif dan efisien untuk
para pekerja baru.
3) Point utama yang dapat dimasukkan dalam daftar keselamatan,
pengarahan sebelum memulai pekerjaan, observasi keselamatan, dan
sebagai topic pada rapat keselamatan kerja.
4) Membantu dalam penulisan tata cara atau prosedur keselamatan
kerja untuk jenis pekerjaan yang baru maupun pekerjaan yang
mendapatkan modifikasi.
5) Sebgai alat (tools) pembantu yang efektif untuk mengendalikan
potensi bahya kecelakaan kerja pada pekerjaan yang dilakukan tidak
sesuai dan rutin.
Tahapan penyusunan JSA, sebagai berikut:
1) Memilih jenis pekerjaan yang akan dikerjakan
2) Membentuk Suatu Tim Job Safety Analysis (JSA) atau Analisa
Keselamatan Pekerjaan
3) Mengidentifikasikan Suatu Pekerjaan Terlebih Dahulu
4) Mengidentifikasi Bahaya (Hazard) yang Memiliki Potensi
Kerusakan
5) Membuat Penyelesaian atau Solusi dari Bahaya (Hazard) yang Akan
Ditimbulkan
b. Fault Tree Analysis
Fault Tree Analysis (FTA) diperkenalkan pertama kali oleh Bell
Telephone Laboratories pada tahun 1962. FTA (Fault Tree Analysis)
adalah suatu metode analisa resiko dengan model grafik dan logika yang
menampilkan kombinasi kejadian yang memungkinkan yaitu rusak atau
baik, yang terjadi dalam sistem, aplikasinya dapat mencakup suatu
sistem, equipment dan sebagai analisa.
Berikut adalah simbol dalam FTA:
1) Simbol kejadian

2) Simbol gerbang

3) Simbol transfer

NO Simbol Keterangan Simbol


Transfer Out Transfer out menyatakan bahwa
1 bagian dari Fault Tree harus
dilampirkan sesuai dengan transfer
in.
Transfer
Transfer In menyatakan bahwa fault
2 tree dikembangkan lebih jauh dan
berkaitan dengan transfer out.
Langkah-langkah mengerjakan FTA:
1) Menentukan masalah yang akan dianalisa (problem definition)
dengan syarat main sistem failure, jangan terlalu umum, jangan
terlalu sempit, dan sebisa mungkin untuk masalah yang akan
dianalisa lebih spesifik.
2) Membuat gambar konstruksi FTA yaitu dengan cara dari top event,
kemudian ke event berikutnya sampai akhirnya ke basic event.Fault
Tree harus diselesaikan pada masing- masing level sampai ke basic
event sebelum memulai level berikutnya.
Adapun beberapa aturan dalam menggambarkan model grafis FTA
sebagai berikut:
a) Mendeskripsikan fault event
b) Mengevaluasi fault event
c) Melengkapi semua gerbang logika
3) Memberikan jawaban masalah FTA (FTA solution) merupakan
berbagai kemungkinan kombinasi resiko yang mungkin, yang
mana jika mereka semua terjadi atau ada secara serempak akan
menyebabkan terjadi top event dengan menentukan minimal cut set
rangking.
Langkah-langkah penentuan minimal cut set adalah:
a) Modifikasi FTA menjadi AND dan OR gate saja
b) Beri nama masing-masing gate dengan huruf latter
c) Beri nama masing-masing basic event dengan angka
d) Penentuan cut set
e) Penentuan minimal cut set
f) Oenentuan rangking minimal cut set
Didalam menyelesaikan analisis pohon kegagalan dilakukan
tahapan sebagai berikut :
1) Mengubah logika pohon kegagalan menjadi persamaan boolean
2) Menyederhanakan (mereduksi) persamaan boolean menjadi
bentuk sederhana, dengan aturan seperti dalam gambar berikut :

Aljabar boolean merupakan aljabar yang berhubungan


dengan variabel-variabel biner dan operasi-operasi logika.
Variabel-variabel diperlihatkan dengan huruf-huruf alfabet, dan
tiga operasi dasar dengan AND, OR, dan NOT. Fungsi boolean
terdiri dari variabel-variabel biner yang menunjukkan fungsi,
suatu tanda sama dengan dan suatu ekspresi aljabar yang
dibentuk dengan menggunakan variabel-variabel biner,
konstanta-konstanta 0 dan 1, simbol-simbol operasi logika, dan
tanda kurung.
c. Event Tree Analysis
Event tree analysis adalah teknik analisis untuk mengidentifikasi dan
mengevaluasi urutan peristiwa dalam skenario kecelakaan yang
potensial. ETA menggunakan struktur pohon logika visual yang dikenal
sebagai pohon kejadian (ET). Tujuan dari ETA adalah untuk menentukan
apakah suatu kejadian akan berkembang menjadi sebuah kecelakaan
serius atau jika peristiwa tersebut dapat dikendalikan oleh sistem
keselamatan dan prosedur yang diterapkan dalam desain sistem. ETA
dapat menghasilkan berbagai kemungkinan hasil keluaran dari sebuah
kejadian awal, dan dapat memprediksi kemungkinan terjadinya
kecelakaan untuk setiap hasil keluaran.
Definisi-definisi yang digunakan pada teknik ETA, yakni:
1) Accident Scenario
Serangkaian kejadian yang akhirnya mengakibatkan kecelakaan.
Urutan kejadian dimulai dengan kejadian awal (pemicu) dan
biasanya diikuti oleh satu atau lebih peristiwa penting lainnya yang
akhirnya mengarah ke keadaan akhir yang tidak diinginkan (terjadi
sebuah kecelakaan).
2) Initiating event (IE)
Kesalahan atau peristiwa yang tidak diinginkan yang memulai awal
dari rangkaian kecelakaan. IE dapat mengakibatkan kecelakaan
tergantung pada sukses tidaknya pelaksanaan metode
penanggulangan bahaya yang dirancang ke dalam sistem.
3) Pivotal events
Peristiwa perantara penting yang terjadi antara kejadial awal dan
kecelakaan akhir. PE merupakan kejadian gagal maupun sukses dari
metode keselamatan yang ditetapkan untuk mencegah IE agar tidak
mengakibatkan sebuah kecelakaan. Jika peristiwa penting bekerja
dengan sukses, itu menghentikan kecelakaan skenario dan disebut
sebagai peristiwa meringankan. Jika peristiwa penting gagal bekerja,
maka skenario kecelakaan diperbolehkan untuk kemajuan dan
disebut sebagai acara memberatkan.
4) Probabilistic risk assessment (PRA)
Metode analisis yang komprehensif, terstruktur, dan logis untuk
mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko pada system teknologi
yang kompleks. Tujuan PRA adalah identifikasi secara terperinci
terperinci dan penilaian skenario kecelakaan dengan analisis
kuantitatif.
Ketika melakukan PRA, mengidentifikasi dan mengembangkan
skenario kecelakaan adalah Fundamental untuk konsep evaluasi resiko.
Proses ini dimulai dengan satu set IES yang mengacaukan sistem (yaitu,
menyebabkan untuk mengubah status pengoperasian atau konfigurasi).
Masing-masing IE dianalisis dengan menentukan mode kegagalan
tambahan diperlukan untuk mengarah pada konsekuensi yang tidak
diinginkan. Konsekuensi dan frekuensi dari masing-masing skenario
dihitung untuk setiap IE dan kumpulan probabilitas membentuk profil
risiko untuk sistem.
ET digunakan untuk memodelkan skenario kecelakaan. ET dimulai
dengan IE dan berlangsung melalui skenario melalui serangkaian
peristiwa penting (PEs) sampai kejadian akhir. PEs adalah peristiwa yang
meringankan atau memberatkan scenario. Frekuensi atau probabilitas PE
dapat diperoleh dari FTA kejadian.
Teori PRA berhubungan erat dengan terminologi standar sistem
keselamatan. Skenario kecelakaan setara dengan bahaya, frekuensi
skenario setara untuk probabilitas bahaya, hasil skenario setara dengan
tingkat bahaya. Manajemen risiko melibatkan identifikasi dan
pencegahan atau pengurangan skenario kecelakaan merugikan dan
promosi skenario menguntungkan. Manajemen risiko memerlukan
pemahaman unsur-unsur skenario kecelakaan sehingga dapat dicegah
atau dikurangi, dan pemahaman tentang skenario yang menguntungkan
agar komponennya dapat ditingkatkan.
Sebuah skenario kecelakaan berisi satu atau lebih IE dan biasanya
peristiwa penting yang mengarah ke keadaan akhir seperti yang
ditunjukkan pada gambar dibawah ini.

Seperti yang dimodelkan dalam PRA, IE adalah gangguan yang


memerlukan respon dari operator dan atau sistem untuk mencegah
konsekuensi yang tidak diinginkan. PE merupakan respon yang berhasil
atau gagal atau mungkin terjadi atau tidaknya kondisi eksternal atau
fenomena kunci. Kejadian akhir dihasilkan sesuai dengan keputusan yang
didukung oleh analisis. Skenario diklasifikasikan menjadi kejadian akhir
sesuai dengan jenis dan beratnya konsekuensi seperti
1) Kematian atau luka /cacat
2) Kerusakan atau kehilangan peralatan atau properti (termasuk
perangkat lunak)
3) Kerusakan tak terduga sebagai akibat dari uji coba
4) Kegagalan misi
5) Kehilangan ketersediaan sistem
6) Kerusakan lingkungan
ET mengklasifikasikan PE berdasarkan perannya dalam mendukung
atau mencegah kecelakaan terjadi dan menyajikan informasi ini di ET
yang digunakan untuk mengklasifikasikan skenario sesuai dengan
konsekuensinya. Bagian dari ET dimulai IE kemudian PE, dan Kejadian
akhir. Struktur di bawah IE menunjukkan berbagai kemungkinan
skenario berikutnya yaitu sukses tidaknya PE terjadi. Konsep ET
ditunjukkan pada gambar dibawah ini.

Tujuan dari ETA adalah untuk menentukan kemungkinan semua hasil


yang mungkin terjadi akibat terjadinya IE. Dengan menganalisis semua
hasil yang mungkin, dimungkinkan untuk menentukan persentase hasil
yang mengarah pada hasil yang diinginkan dan persentase hasil yang
mengarah pada hasil yang tidak diinginkan. ET dapat digunakan untuk
menganalisis sistem di mana semua komponennya terus beroperasi atau
sistem di mana beberapa atau semua komponen berada dalam mode
standby. Titik awal (IE) mengganggu operasi system. ET menampilkan
urutan peristiwa yang sukses dan atau gagal dari komponen sistem.
ETA didasarkan pada logika biner yang tersusun peristiwa baik yang
telah ataupun belum terjadi atau komponen yang sudah atau belum gagal.
ETA sangat penting digunakan dalam menganalisis konsekuensi yang
timbul dari kegagalan atau peristiwa yang tidak diinginkan. ET dimulai
dengan IE misalnya peluncuran zat berbahaya yang dapat menyebabkan
kecelakaan. Konsekuensi kejadian tersebut diikuti serangkaian jalur yang
mungkin. Masing-masing jalur berisi berbagai kejadian yang mungkin
ditimbulkan dan probabalitas kejadian tersebut terjadikemungkinan
terjadinya dan probabilitas kejadian tersebut untuk terjadi,
ETA dimulai dengan diidentifikasi IE seperti yang tercantum di sisi
kiri dari diagram pada gambar dibawah ini. Semua desain metode
keselamatan kemudian dicatat di atas diagram sebagai peristiwa
berkontribusi dalam mencegah atau menimbulkan kecelakaan pada
bagian akhir. Setiap metode desain keamanan dievaluasi berdasarkan: (a)
berjalan dengan sukses dan (b) gagal beroperasi. Diagram yang
dihasilkan menggabungkan semua kejadian yang berhasil dan gagal dan
dijabarkan ke samping kanan pada struktur diagram. Setiap kejadian
yang berhasil dan gagal diberi kemungkinan peristiwa tersebut terjadi
dan probabilitas hasil akhirnya merupakan hasil dari probabilitas setiap
kejadian disepanjang jalur tertentu. Hasil akhir dapat berupa range
kejadian yang berkisar dari aman sampai bencana, tergantung pada
rangkaian peristiwa sebelumnya.
d. Failure Mode and Effect Analysis
FMEA (failure mode and effect analysis) adalah suatu prosedur
terstruktur untuk mengidentifikasi dan mencegah sebanyak mungkin
mode kegagalan (failure mode). FMEA digunakan untuk
mengidentifikasi sumber-sumber dan akar penyebab dari suatu masalah
kualitas.
Terdapat dua penggunaan FMEA yaitu dalam bidang desain (FMEA
Desain) dan dalam proses (FMEA Proses). FMEA Desain akan
membantu menghilangkan kegagalan-kegagalan yang terkait dengan
desain, misalnya kegagalan karena kekuatan yang tidak tepat, material
yang tidak sesuai, dan lain-lain. FMEA Proses akan menghilangkan
kegagalan yang disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam variabel
proses, misal kondisi diluar batas-batas spesifikasi yang ditetapkan
seperti ukuran yang tidak tepat, tekstur dan warna yang tidak sesuai,
ketebalan yang tidak tepat, dan lain-lain.
Tujuan FMEA, sebagai berikut:
1) Mengenal dan memprediksi potensial kegagalan dari produk atau
proses yang dapat terjadi
2) Memprediksi dan mengevaluasi pengaruh dari kegagalan pada fungsi
dalam sistem yang ada
3) Menunjukkan prioritas terhadap perbaikan suatu proses atau sub
sistem melalui daftar peningkatan proses atau sub sistem yang harsu
diperbaiki
4) Mengidentifikasi dan membangun tindakan perbaikan yang bisa
diambil untuk mencegah atau mengurangi kesempatan terjadinya
potensi kegagalan atau pengaruh pada sistem
5) Mendokumentasikan proses secara keseluruhan

Terdapat langkah dasar dalam proses FMEA yang dilakukan oleh tim
desain for six sigma (DFSS) adalah :
1) Membangun batasan proses yang dibatasi oleh struktur proses.
2) Membangun proses pemetaan dari FMEA yang
mendiskripsikan proses produksi secara lengkap
dan alat penghubung tingkat hirarki dalam struktur
proses dan ruang lingkup.
3) Melihat struktur proses pada seluruh tingkat hirarki
dimana masing- masing parameter rancangan
didefinisikan.
4) Identifikasi kegagalan potensial pada masing-masing proses.
5) Mempelajari penyebab kegagalan dari pengaruhnya.
Elemen FMEA dibangun berdasarkan informasi yang mendukung
analisa. Beberapa elemen-elemen FMEA sebagai berikut:
1) Nomor FMEA (FMEA Number)
Berisi nomer dokumentasi FMEA yang berguna untuk identifikasi
dokumen.
2) Jenis (item)
Berisi nama dan kode nomer sistem, subsistem atau komponen
dimana akan dilakukan analisa FMEA.
3) Penanggung Jawab Proses (Process Responsibility)
Adalah nama departemen/bagian yang bertanggung jawab terhadap
berlangsungnya proses item diatas.
4) Disiapkan Oleh (Prepared by)
Berisi nama, nomer telepon, dan perusahaan dari personal yang
bertanggung jawab terhadap pembuatan FMEA ini.
5) Tahun Model (Model Year(s))
Adalah kode tahun pembuatan item, bentuk ini yang dapat berguna
terhadap analisa sistem ini.
6) Tanggal Berlaku (Key Date)
Adalah FMEA due date dimana harus sesuai dengan jadwal.
7) Tanggal FMEA (FMEA Date)
Tanggal dimana FMEA ini selesai dibuat dengan tanggal revisi
terkini.
8) Tim Inti (Core Team)
Berisi daftar nama anggota tim FMEA serta departemennya.
9) Fungsi Proses (Process Function)
Adalah deskripsi singkat mengenai proses pembuatan item dimana
sistem akan dianalisa.
10) Bentuk Kegagalan Potensial (Potential Failure Mode)
Merupakan suatu kejadian dimana proses dapat dikatakan secara
potensial gagal untuk memenuhi kebutuhan proses atau tujuan akhir
produk.
11) Efek Potensial dari Kegagalan (Potential Effect(s) of Failure)
Merupakan suatu efek dari bentuk kegagalan terhadap pelanggan.
Dimana setiap perubahan dalam variabel yang mempengaruhi proses
akan menyebabkan proses itu menghasilkan produk diluar batas-
batas spesifikasi.
12) Tingkat Keparahan (Severity (S))
Penilaian keseriusan efek dari bentuk kegagalan potensial.
13) Klasifikasi (Classification)
Merupakan dokumentasi terhadap klasifikasi karakter khusus dari
subproses untuk menghasilkan komponen, sistem atau subsistem
tersebut.
14) Penyebab Potensial (Potential Cause(s))
Adalah bagaimana kegagalan tersebut bisa terjadi. Dideskripsikan
sebagai sesuatu yang dapat diperbaiki.
15) Keterjadian (Occurrence (O))
Adalah sesering apa penyebab kegagalan spesifik dari suatu proyek
tersebut terjadi.
16) Pengendali Proses saat ini (Current Process Control)
Merupakan deskripsi dari alat pengendali yang dapat mencegah atau
memperbesar kemungkinan bentuk kegagalan terjadi atau
mendeteksi terjadinya bentuk kegagalan tersebut.

17) Deteksi (Detection (D))


Merupakan penilaian dari kemungkinan alat tersebut dapat
mendeteksi penyebab potensial terjadinya suatu bentuk kegagalan.
18) Nomor Prioritas Resiko (Risk Priority Number (RPN))
Merupakan angka prioritas resiko yang didapatkan dari
perkalian Severity, Occurrence, dan Detection
RPN = S * O * D
19) Tindakan yang direkomendasikan (Recommended Action)
Setelah bentuk kegagalan diatur sesuai peringkat RPNnya, maka
tindakan perbaukan harus segera dilakukan terhadap bentuk
kegagalan dengan nilai RPN tertinggi.
20) Penanggung jawab Tindakan yang Direkomendasikan
(Responsibility (for the Recommended Action))
Mendokumentasikan nama dan departemen penanggung jawab
tindakan perbaikan tersebut serta target waktu penyelesaian.
21) Tindakan yang Diambil (Action Taken)
Setelah tindakan diimplementasikan, dokumentasikan secara singkat
uraian tindakan tersebut serta tanggal efektifnya.
22) Hasil RPN (Resulting RPN)
Setelah tindakan perbaikkan diidentifikasi, perkiraan dan rekam
Occurrence, Severity, dan Detection baru yang dihasilkan serta
hitung RPN yang baru. Jika tidak ada tindakan lebih lanjut diambil
maka beri catatan mengenai hal tersebut.
23) Tindak Lanjut (Follow Up)
Dokumentasi proses FMEA ini akan menjadi dokumen hidup
dimana akan dilakukan perbaikan terus menerus sesuai kebutuhan
perusahaan
Untuk menentukan prioritas dari suatu bentuk kegagalan aka tim
FMEA harus mendefinisikan terlebih dahulu tentang severity,
occurrence, detection, serta hasil akhirnya yang berupa risk priority
number.
1) Severity
Severity adalah langkah pertama untuk menganalisa resiko yaitu
menghitung seberapa besar dampak/intensitas kejadian
mempengaruhi output proses. Dampak tersebut diranking mulai
skala 1 sampai 10, dimana 10 merupakan dampak terburuk.

Proses sistem peringkat yang dijelaskan sesuai dengan standar


AIAG (Automotive Industry Action Group) dibawah ini :
Effect Severity of Effect for FMEA Rating

Tidak Ada  Bentuk kegagalan tidak memiliki pengaruh 1


 Gangguan minor pada lini produksi
 Fit & finish atau squeak & rattle produk
Sangat 2
tidak sesuai
Minor
 Sebagian kecil produk harus dikerjakan
ulang ditempat
 Pelanggan yang jeli menyadari defect tersebut

 Gangguan minor pada lini produksi


 Sebagian produk harus dikerjakan secara
Minor 3
on- line ditempat
 Fit & finish atau squeak & rattle tidak sesuai
 Sebagian pelanggan menyadari defect tersebut

 Gangguan minor pada lini produksi


 Produk harus dipilah dan sebagian
Sangat 4
dikerjakan ulang
Rendah
 Fit & finish atau squeak & rattle tidak sesuai
 Pelanggan secara umum menyadari defect
tersebut

 Gangguan minor pada lini produksi


 100% produk harus dikerjakan ulang
Rendah 5
 Produk dapat beroperasi, tetapi sebagian item
tambahan beroperasi dengan performansi
yang berkurang

 Gangguan minor pada lini produksi


 Sebagian produk harus dikerjakan ulang
Sedang 6
(tanpa ada pemilahan)
 Produk dapat beroperasi, tetapi sebagian
item tambahan tidak dapat berfungsi

 Gangguan minor pada lini produksi


 Produk harus dipilah dan sebagian
Tinggi 7
dibongkar ulang
 Produk dapat beroperasi,
performansinya berkurang

 Gangguan major pada lini produksi


Sangat Tinggi 8
 100% produk harus dibongkar
 Produk tidak terdapat dioperasikan
dan kehilangan fungsi utamanya
 Dapat membahayakan operator mesin
 Kegagalan dapat mempengaruhi keamanan
Berbahaya 9
operasional produk atau tidak sesuai
dengan
dengan peraturan
peringatan
 Kegagalan akan terjadi dengan
didahului peringatan

 Dapat membahayakan operator mesin


 Kegagalan dapat mempengaruhi keamanan
Berbahaya 10
operasional produk atau tidak sesuai
tanpa adanya
dengan peraturan pemerintah
peringatan
 Kegagalan akan terjadinya tanpa
adanya peringatan terlebih dahulu
Tabel severity diatas merupakan adopsi dari Automotive Industry
Action Group (AIAG) yang menggambarkan industri otomotif,
sedangkan objek penelitian yang digunakan adalah filter rokok
sehingga diperlukan modifikasi dari tabel severity tersebut untuk
menggambarkan industri filter. Dimana tabel modifikasi tersebut
disajikan dibawah ini:
Effect Severity of Effect for FMEA Rating

Tidak  Bentuk kegagalan tidak memiliki pengaruh 1


Ada

 Gangguan minor pada lini produksi


Sangat  Spesifikasi produk tidak sesuai tetapi diterima 2
Minor
 Pelanggan yang jeli menyadari defect tersebut

 Gangguan minor pada lini produksi


Minor  Spesifikasi produk tidak sesuai tetapi diterima 3
 Sebagian pelanggan menyadari defect tersebut

 Gangguan minor pada lini produksi


Sangat  Spesifikasi produk tidak sesuai tetapi diterima 4
Rendah  Pelanggan secara umum menyadari defect
tersebut
 Gangguan minor pada lini produksi
Rendah  Defect tidak mempengaruhi proses berikutnya 5
 Produk dapat beroperasi tetapi tidak sesuai
dengan spesifikasi

 Gangguan minor pada lini produksi


 Defect mempengaruhi terjadinya defect atau
Sedang 6
mempengaruhi 1 - 2 proses berikutnya
 Produk akan menjadi waste pada proses
berikutnya

 Gangguan minor pada lini produksi


 Defect mempengaruhi terjadinya defect atau
Tinggi 7
mempengaruhi 3 - 4 proses berikutnya
 Produk akan menjadi waste pada proses
berikutnya

 Gangguan major pada lini produksi


Sangat  Defect mempengaruhi terjadinya defect atau 8
Tinggi mempengaruhi 4 - 6 proses berikutnya
 Produk akan menjadi waste pada proses
berikutnya

2) Occurence
Occurrence adalah kemungkinan bahwa penyebab tersebut akan
terjadi dan menghasilkan bentuk kegagalan selama masa penggunaan
produk. Dengan memperkirakan kemungkinan occurrence pada
skala 1 sampai 10. Pada tabel 2.3 berdasarkan standar AIAG
mendeskripsikan proses sistem peringkat. Karena peringkat
kegagalan jatuh antara dua angka skala. Standar menilai dengan cara
interpolasi dan pembulatan nilai Occurrence.
Probability of Failure Occurrence Cpk Rating

Sangat tinggi : 1 in 2 < 10


0.33
Kegagalan hampir tak
1 in 3 ≥ 9
bisa dihindari
0.33
Tinggi : 1 in 8 ≥ 8
0.51
Umumnya berkaitan
dengan proses terdahulu 1 in 20 ≥ 7
yang 0.67
kadang mengalami

Sedang: 1 in 80 ≥ 6
0.83
Umumnya berkaitan
1 in 400 ≥ 5
dengan proses terdahulu
1.00
yang kadang mengalami
kegagalan tetapi tidak
1 in 2000 ≥ 4
dalam jumlah yang besar
1.17
Rendah :
1 in 15,000 ≥ 1.33 3

Kegagalan terisolasi
berkaitan proses serupa

Sangat rendah :

1 in 150,000 ≥ 1.50 2
Hanya kegagalan terisolasi
dengan proses hampir identik

Remote:

1 in 1,500,000 ≥ 1.67 1
Kegagalan mustahil. Tak
pernah ada kegagalan
terjadi dalam proses yang
identik

3) Detection
Nilai Detection diasosiasikan dengan pengendalian saat ini.
Detection adalah pengukuran terhadap kemampuan mengendalikan /
mengontrol kegagalan yang dapat terjadi. Proses penilaian
ditunjukkan pada tabel 2.4 berdasarkan standar AIAG adalah sebagai
berikut :
Likelihood of % Repeatability
Detection % R &R
Detection Rank
% Reproducibility

Tidak ada alat % Repeatability ≥


Hampir Tidak ≥ 80 % 10
Mungkin pengontrol yang
% Reproducibility
mampu mendeteksi
Alat pengontrol saat
% Repeatability <
ini sangat sulit
Sangat Jarang mendeteksi bentuk ≥ 80 % 9
atau penyebab % Reproducibility
kegagalan

Alat pengontrol saat % Repeatability ≥


ini sulit mendeteksi
Jarang bentuk dan penyebab ≥ 60 % 8
kegagalan
% Reproducibility

Kemampuan alat
% Repeatability <
kontrol untuk
Sangat Rendah mendeteksi bentuk ≥ 60 % 7
dan penyebab % Reproducibility
kegagalan sangat
rendah
Kemampuan alat
% Repeatability ≥
kontrol untuk
Rendah mendeteksi bentuk ≥ 40 % 6
dan penyebab % Reproducibility
kegagalan rendah
Kemampuan alat
% Repeatability <
kontrol untuk
Sedang mendeteksi bentuk ≥ 40 % 5
dan penyebab % Reproducibility
kegagalan sedang
Kemampuan alat
% Repeatability ≥
kontrol untuk
mendeteksi bentuk
Agak Tinggi ≥ 20 % 4
dan penyebab % Reproducibility
kegagalan sedang
sampai tinggi
Kemampuan alat
% Repeatability <
kontrol untuk
Tinggi mendeteksi bentuk ≥ 20 % 3
dan penyebab % Reproducibility
kegagalan tinggi
Kemampuan alat
% Repeatability ≥
kontrol untuk
Sangat Tinggi mendeteksi bentuk < 20 % 2
dan penyebab % Reproducibility
kegagalan sangat
tinggi
Kemampuan alat
% Repeatability <
kontrol untuk
Hampir Pasti mendeteksi bentuk < 20 % 1
dan penyebab
kegagalan hampir % Reproducibility
pasti
4) Risk priority number
RPN merupakan produk matematis dari keseriusan effects
(Severity), kemungkinan terjadinya cause akan menimbulkan
kegagalan yang berhubungan dengan effects (Occurrence), dan
kemampuan untuk mendeteksi kegagalan sebelum terjadi pada
pelanggan (Detection). RPN dapat ditunjukkan dengan persamaan
sebagai berikut :
RPN = S * O * D
Angka ini digunakan untuk mengidentifikasikan resiko yang
serius, sebagai petunjuk ke arah tindakan perbaikan.
5) Analisa sistem pengukuran
Analisa ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan alat ukur
yang dipakai untuk mendeteksi terjadinya suatu kegagalan dalam
proses. Dari perhitungan akan didapatkan Gage repeatability,
reproducibility, dan nilai number of distinct category (n).
Repeatability adalah variasi pengukuran yang didapat pada saat
operator menggunakan alat yang sama untuk mengukur dimensi
yang sama beberapa kali. Reproducibility merupakan variasi
pengukuran antara satu operator dengan operator yang lain. Number
of distinct category untuk mengetahui seberapa banyak / teliti alat
ukur dapat membedakan.
e. Hazards and Operability Study
HazOp adalah suatu metode identifikasi bahaya yang sistematis teliti
dan terstruktur untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan yang
menganggu jalanya proses dan resiko yang terdapat pada suatu peralatan
yang dapat menimbulkan resiko merugikan bagi manusia/fasilitas pada
sistem.
HazOp digunakan sebagai metode untuk meninjau suatu proses atau
operasi pada suatu sistem secara sistematis untuk menentukan apakah
proses penyimpangan dapat mendorong kearah kejadian atau kecelakaan
yang tidak diinginkan.
Berikut manfaat dari hazop:
1) Dapat mengetahui secara pasti profile tingkat risiko yang
ada dalam fasilitas proyek.
2) Dapat digunakan untuk menentukan skala prioritas
permasalahan keelamatan yang ada dalam operasi proyek
sebagai masukan untuk menetapkan program kerja.
3) Identifikasi operability dimaksudkan agar proses dapat
berjalan normal sehingga mengurangi/menghilangkan
kemungkinan terjadinya kecelakaan sertadapat
meningkatkan plant performance (product quality,
production rate)
4) Untuk penghematan biaya (khususnya pada proses/plant
yang baru dibangun),sehingga perubahan/improvisasi
aliran proses yang dilakukan pada masa yangakan datang
dapat lebih efisien.
5) Dapat digunakan sebagai acuan dan pedoman bagi semua
pihak yang terkait dengan operasi proyek.
Hazop terdiri dari beberapa jenis, sebagai berikut:
1) Proses HazOp merupakan teknik HazOp yang
dikembangkan untuk menilai peralatan dan mesin-mesin di
pabrik sistem proses produksi.
2) Human HazOp merupakan teknik HazOp yang lebih fokus
untuk menilai kesalahan manusia dari pada kegagalan
teknik.
3) Prosedure HazOp merupakan teknik HazOp yang lebih
digunakan untuk menilai ulang prosedur kerja atau
rangkaian operasi dan kadang-kadang ditandai dengan safe
operation study (SAFOPs).
4) Software HazOp merupakan teknik HazOp yang digunakan
untuk mengidentifikasi kemungkinan kesalahan-kesalahan
dalam pengembangan perangkat lunak.
Proses dari hazop, sebagai berikut:
1) Identifikasi potensi bahaya
Hazop digunakan untuk melakukan identifikasi terjadinya
potensi bahaya berdasarkan proses pengoprasiannya. Dari
instruksi kerja dapat ditentukan titik kajian. Titik kajian
merupakan titik atau bagian dari proses yang ditentukan
sebelumnya untuk dijadikan sebagai objek analisis.
2) Penilaian risiko
Setelah identifikasi potensi bahaya kemudian dilakukan
penentuan nilai resiko (menentukan nilai likelyhood dan
severity) dengan menggunakan Tabel Risk Index. Langkah
penentuan standar nilai resiko adalah sebagai berikut:
a) Untuk menentukan tingkat kemungkinan kejadian
(likelyhood), adapun kriteria likehood sebagai berikut:

b) Menentukan tingkat keparahan (severity), berikut


kriteria severity:

c) Menentukan peringkat risiko Untuk menentukan


peringkat risiko digunakan tabel matriks risiko
3) Hazop result
Menurut Safety Enginer Career workshop (2003),
Phytagoras Global Development, seluruh rekomendasi
yang dibuat oleh tim yang terlibat dalamHazop umumnya
menghasilkan sejumlah perbahan disain yang signifikan.
Perubahan tersebut dapat berupa teknologi proses, kondisi
proses ataumetode/prosedur operasi. Contoh spesifik
perubahan tersebut antara lain:
a) Perubahan kecil pada perancangan bejana dan sistem
perpipaan.
b) Perubahan besar pada bentuk rancangan keseluruhan
penambahan peralatan pabrik.
c) Penambahan alat-alat instrumen untuk pengendaliam
rutim dan perlindungan pabrik.
d) Perubahan tata letak alat.
e) Perubahan prosedur dan perintah pengoperasian
alat/operasi.
Kelebihan hazop, yakni:
1) Teknik analisis bahaya disusun secara sistematis,
komperhensif dan fleksibel baik sebelum suatu sistem
berproduksi, bisa juga mengidentifikasi modifikasi pada
peralatan yang sudah ada untuk mengurangi masalah
resikodan pengoperasian.
2) Hazop dapat mengidentifikasi dengan tepat apa saja
penyimpangan- penyimpangan kritis yang terjadi dan
penyebabnya.
3) Tidak hanya fokus pada safety , tapi juga mengidentifikasi
hazard (mencegah kecelakaan) dan operability (berjalan
lancarnya suatu proses sehingga meningkatkan plant
performance).
4) Cocok dilakukan secara berkelompok yang melibatkan
ahli-ahli dari multidisiplin ilmu dan dipimpin oleh spesialis
keselamatan kerja yang berpengalaman atau konsultan
khusus.
5) Penggunaan kata kunci (guide word ) sangat efektif untuk
menjaga para partisipan yang melakukan Hazop agar tidak
ada point yang terlupakan.
Kekurangan hazop, sebagai berikut:
1) Prosesnya memakan waktu lama dan melelahkan
2) Hazop tidak cukup efektif jika berurusan dengan multiple
failure.
3) Cenderung memperkirakan kerusakan, tingkat keparahan
dari material konstruksi tidak dimunculkan.
4) Metode ini tidak akan mampu memberikan penyelesaian
perancangan yang memadai untuk pokok-pokok
permasalahan yang berkaitan dengan human factor karena
hanya berorientasi pada perangkat keras dan prosesnya.
5) Hazop tidak mengidentifikasi semua penyebab
penyimpangan dan karena itu mengabaikan banyak
skenario.
f. Preliminary Hazard Analysis
Preliminary Hazard Analysis (PHA) atau Analisis Bahaya Awal,
merupakan suatu sistem atau metode yang biasanya digunakan untuk
menjelaskan dengan teknik kualitatif untuk identifikasi bahaya pada
tahap awal dalam proses desain.
PHA digunakan untuk studi kasus risiko dalam tahap awal sebuah
proyek, sebagai langkah husus untu analisis risiko yang detail dalam
konsep sistem yang telah ada, dan sebagai analisis risiko yang lengkap
dalam sebuah sistem yang simpel.
Ruang lingkup dari PHA, yakni:
1) Komponen berbahaya
2) Hubungan antar elemen sistem terkait dengan keselamatanya
3) Bahaya lingkungan termasuk lingkungan operasi
4) Operasi, tes, pemeliharaan, diagnosa, dan prosedur darurat
5) Fasilitas, properti, peralatan, pendukung, dan pelatihan
6) Keamanan peralatan yang terkait, perlindungan dan kemungkinan
pendekatan pengendalian alternatif
7) Kesalahan dalam sistem, subsistem atau software
Prosedur PHA, berikut dibawah ini:
1) Syarat dan ketentuan PHA
a) Membuat tim PHA, harus terdiri dari ketua, sekretaris, dan
anggota
b) Mendefinisikan dan menjelaskan sistem yang akan di analisis
c) Kumpulkan informasi risiko dari analisis sebelumnya yang
merupakan sistem yang serupa
2) Identifikasi bahaya
Semua bahaya dan kemungkinan kejadian kecelakaan harus
diidentifikasi. Sangat penting untuk memperhatikan seluruh baian
sistem, bagian operasional, maintenance operation, sistem
keselamatan, dan lainnya. Semua temua harus di record. Tidak ada
bahaya yang idak signifikan untuk di record.
3) Estimasi konsekuensi dan frekuensi
Untuk menilai risiko, kita perlu untuk mengestimasi frekuensi dan
tingkat keparahan setiap kejadian kecelakaan. Klasifikasi tingkat
keparahan konsekuensi sebagai berikut:
Sedangkan contoh untuk klasifikasi frekeunsi:

4) Rangking risiko dan follow up actions


Rangking risiko dinilai berdasarkan tingkat keparahan konseuensi
dan frekuensi dari sebuah kejadian. Berikut risk ranking:

Tiap bagian dalam PHA worksheet dapat memberikatan tingkatan


risiko yang lebih spesifik, seperti:

3. Kondisi darurat
a. Alasan prosedur tanggap darurat diterapkan pada setiap kegiatan industri
Keadaan darurat disebabkan oleh kegagalan teknologi, ulah manusia
atau alam yang dapat terjadi kapan saja dan dimana saja bahkan ditempat
kerja sehingga perlu mempersiapkan cara penanggulangan untuk
mengurangi dampak kerugian bagi perusahaan dan pekerja. Pada kondisi
darurat diperlukan proses pelaksanaan penyelamatan secara teknis dalam
waktu singkat sehingga diperlukan prosedur tanggap darurat. Dimana
prosedur tanggap darurat meliputi rencana dalam menghadapi keadaan
darurat, pendidikan dan pelatihan, penanggulangan, pemindahan dan
penutupan.
b. Perencanaan prosedur keadaan darurat kebakaran di Rumah Sakit “X”
1) Pembentukan tim khusus penanggulangan kebakaran dan security
dengan diberikan pelatihan penanggulangan kebakaran.
2) Menyediakan perlengkapan keadaan darurat seperti APAR dan
sirine, kotak P3K, jalur evakuasi, dan assembly point.
3) Melakukan inspeksi terhadap kelengkapan tanggap darurat secara
berkala
4) Mengadakan simulasi dan pelatihan keadaan darurat
c. Penanganan keadaan darurat di Rumah Sakit “X”
1) Jika mendengar bunyi alarm terus menerus. Ikuti petunjuk tim
evakuasi.
2) Berjalanlah cepat mengikuti evacuation route menuju tangga darurat
dan pintu darurat terdekat.
3) Segera menuju emergency assembly point sampai ada petunjuk
selanjutnya.
4) Intruksi untuk kembali kedalam gedung dan melanjutkan aktivitas
diberikan oleh ketua tim tanggap darurat.
d. Pihak luar yang membantu perencanaan keadaan darurat, yakni: jika
terjadi kebakaran dan penanggulangan bencana dapat menghubungi
petugas pemadam kebakaran. Jika terjadi banyak korban bencana dan
membutuhkan petugas evakuasi dapat meminta bantuan petugas
pelayanan kesehatan mobile.
e. Pelatihan tanggap darurat dilakukan setiap 1 tahun sekali, agar
mengupdate ilmu jegawat daruratan terbaru dan dilakukan oleh semua
pihak yang ada di lingkungan tersebut.

4. Safety sign dan hazard communication


a. Komunikasi yang dapat mempengaruhi pekerja dapat berperilaku safety
dalam bekerja, yakni:
1) Lembar Data Kesehatan (SDS) atau Material Safety Data Sheet
(MSDS), merupakan buletin informasi rinci dipersiapkan oleh
produsen atau importir bahan kimia yang menggambarkan sifat fisik
bahan kimia, bahaya fisik dan kesehatan, rute pemaparan, tindakan
pencegahan untuk penanganan yang aman dan tindakan
pengendalian. SDS ata MSDS mencakup beberapa informasi seperti
informasi umum, informasi komponen bahaya, informasi data
fisikoa, informasi data kemudahan terbakar dan ledakan, informasi
data reaktifitas, informasi bahaya kesehatan, informasi
pengumpulan, pengelolaan dan pengolahan limbah, informasi
perlindungan bahan kimia, informasi penanganan awal khusus, dan
informasi data transportasi.
2) Pemasangan label dan tanda, digunakan padawadah untuk bahan
berbahaya sebagai tindakan pencegahan esensial.
3) Pelatihan k3, sebaga upaya meningkatkan kemampuan dan prestasi
kerja karyawan.
b. Hambatan dalam melakukan komunikasi hazard, yakni
1) Masih kurang adanya kesadaran pekerja dalam melaksanakan hazard
komunikasi di tempat kerja sebagaimana sudah ditetapkan
peraturannya.
2) Kurangan pengetahuan pekerja terhadap hazard communication
3) Point-point penting tentang hazard communication masih belum
sesuai standar
Penanganan yang dapat dilakukan yakni diberikan pelatihan dan simulasi
tentang hazard communication dan memperbaiki manajemen hazard
communication.

5. Studi kasus
a. Analisa bahaya secara kualitatif pada kegiatan perusahaan:
1) Inspeksi terhadap alat-alat dan bahan yang digunakan tidak
dilakukan secara rutin
2) Perilaku unsafe action dari pekerja
3) Tidak patuh pekerja dalam menggunakan APD
4) Jumlah APD yang disediakan perusahaan tidak sesuai dengan jumlah
pekerja
5) Ketentuan dalam menggunakan alat/bahan melebihi NAB yang
ditetapkan
6) Jam kerja yang berlebihan menyebabkan kelelahan
7) Kurangnya pengetahuan pekerja dalam melaksanaan pekerjaan
8) Perusahaan tidak memberikan pelatihan kepada pekerja
9) Tidak ada simulasi penanganan darurat di perusahaan
10) Tidak ada sosialisasi tentang hazard communication di perusahaan
b. Diketahui : jumlah pekerja : 500 orang, Jam kerja : 40 jam/minggu dalam
50 minggu. Pada tahun 2015 terjadi : 46 kecelakaaan, Absen : 5%
tidak masuk kerja (500 orang x 5% = 25 orang). Waktu kerja hilang : 46
hari (9,2 minggu x 40 jam = 368 jam). Pada tahun 2016 terjadi : 23
kecelakaan, Jam kerja : 175 hari kerja hilang
Ditanyakan :
1) FR
2) SR
3) Incidence rate
4) FSI
5) Safe T-score
Jawab :
1) FR pada tahun 2015 :
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑐𝑒𝑙𝑎𝑘𝑎𝑎𝑛 𝑥 1.000.000
FR = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐽𝑎𝑚 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑃𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎
46𝑥 1.000.000
= = 48,43
949.632
FR pada tahun 2016 :
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑐𝑒𝑙𝑎𝑘𝑎𝑎𝑛 𝑥 1.000.000
FR = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐽𝑎𝑚 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑃𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎
23𝑥 1.000.000
= = 23,03
998.600
Maka dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2016 lebih baik (FR =
23,03) dibanding pada tahun 2015 (FR = 48,43).
2) SR pada tahun 2015 :
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐻𝑎𝑟𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝐻𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑥 1.000.000
SR = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐽𝑎𝑚 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑃𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎
46 𝑥 1.000.000
= = 48,43
949.632

SR pada tahun 2016 :


𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐻𝑎𝑟𝑖 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝐻𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑥 1.000.000
SR = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐽𝑎𝑚 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑃𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎
175 𝑥 1.000.000
= = 175,24
998.600
Maka dapat disimpulkan penurunan total hari kerja hilang yang
diikuti penurunan jumlah jam pekerja menyebabkan tingkat
keparahan cidera (SR) juga menurun.
3) Incidence rate pada tahun 2015 :
IR = ( jumlah total kasus / jumlah tenaga kerja terpapar) x 100%
= ( 46 / 500) x 100% = 9,2%
Maka presentase kecelakaan kerja pada tahun 2015 adalah 9,2%
Incidence rate pada tahun 2016 :
IR = ( jumlah total kasus / jumlah tenaga kerja terpapar) x 100%
= ( 23 / 500) x 100% = 4,6%
Maka presentase kecelakaan kerja pada tahun 2016 adalah 4,6%
4) Frequency Severity Indicator (FSI)
FSI pada tahun 2015 :
FSI = ( Frequency rate X Severity rate) / 1000
= ( 48,43 X 48,43 ) / 1000 = 2,34
FSI pada tahun 2016 :
FSI = ( Frequency rate X Severity rate) / 1000
= ( 23,03 X 175, 24 ) / 1000 = 4,03
5) Safe T-score :

𝐹𝑅 𝑘𝑖𝑛𝑖−𝐹𝑅 𝑙𝑎𝑚𝑝𝑎𝑢
𝐹𝑅 𝑙𝑎𝑚𝑝𝑎𝑢
Safe – T – Score = 1.000.000 𝑗𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑘𝑖𝑛𝑖

= 23,03 – 48,03

48,03

1.000.000

= 0,000023
Maka dapat disimpulkan bahwa upaya keselamatan dan kesehatan
kerja yang dilakukan perusahaan tersebut belum menunjukan
perubahan yang berarti.