Anda di halaman 1dari 8

ANANDA SEPTIANI YUNUS RMK SISTEM INFORMASI KEPERILAKUAN

A31116039
AKUNTANSI

KONSEP DASAR SISTEM INFORMASI KEPERILAKUAN

A. Pendahuluan
Secara teknis system teknologi informasi telah berkembang dengan pesat. Secara
kualitas system teknologi informasi juga sudah meningkat dengan drastis. System
teknologi informasi diterapkan di organisasi menjadi komponen dari organisasi bersama-
sama dengan manusia. Manusia berinteraksi menggunakan system teknologi informasi.
Interaksi ini menimbulkan masalah keperilakuan (behavioral). Sekarang masih banyak
terdengar bahwa system teknologi informasi gagal diterapkan karena manusianya
menolak atau tidak mau menggunakannya dengan banyak alasan. Menolak menggunakan
system adalah suatu perilaku (behavior).
Untuk memahami penentu-penentu perilaku, teori keperilakuan (behavioral theory)
perlu digunakan. Hasil dari penggabungan teori keperilakuan dengan penggunaan system
teknologi informasi di organisasi menjadi dasar dari system informasi keperilakuan
(behavioral information systems).

B. Psikologi
Psikologi (psychology) didefinisikan sebagai sain dari perilaku dan proses-proses
mental yang mental yang mencoba mendeskripsikan, menjelaskan, memprediksikan, dan
mengendalikan aspek-aspek dari perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, persepsi-persepsi
dan kegiatan-kegiatan.
1. Perkembangan Awal Psikologi
Macam-macam system psikologi yang paling awal adalah structuralism,
functionalism, psychodynamic psychology, behaviorism, dan gestalt psychology.
Strukturalisma
Strukturalisma (structuralism) merupakan psikologi awal yang mempunyai tujuan
menganalisis elemen-elemen dasar atau struktur dari pengalaman mental yang sadar
melalui penggunaan introspeksi. Wilhelm Wundl (1876) adalah orang yang membuat
aliran ini.
Fungsionalisma
Fungsionalisma (functionalism) mengeksplorasi bagaimana suatu organisma
menggunakan kemampuan-kemampuan persepsualnya untuk dapat berfungsi di
lingkungannya. Fungsionalisma lebih memfokuskan pada fungsi organisma di
lingkungannya bukan pada strukturalisma. Fungsionalisma juga memfokuskan pada
alasan dan perilaku yang dilakukan oleh organisma. Aliran ini tidak hanya terbatas
mempelajari manusia dewasa tetapi juga mempelajari anak kecil dan juga binatang-
binatang. Willian James adalah psikologis Amerika yang pertama mengenalkan aliran
ini pada tahun 1875 dengan menawarkan kelas psikologi di Harvard University.
Psikologi Psikodinamik
Psikologi psikodinamik (psychodynamic psychology) berargumentasi bahwa
perilaku berasal dari faktor-faktor psikologi berupa dorongan-dorongn tidak sadar dan
resolusi-resolusi konflik yang berinteraksi di individual. Psikologi psikodinamik ini
pertama kali dipraktikkan oleh Sigmund Freud (1856-1939) dari Austria. Menurutnya,
keinginan-keinginan tidak sadar dan konflik-konflik berada di bawah gejala-gejala
yang dimotivasi oleh insting-insting tidak sadar yang tidak tersedia di pikiran sadar.
Behaviorisma
Behaviorisma (behaviorism) adalah aliran psikologi yang mempelajari perilaku
(behavior) yang dapat diobservasi dan diukur. Aliran ini berpendapat bahwa perilaku
dapat dipelajari dan dijelaskan secara saintik. Behaviorisma menekankan pada respon-
respon perilaku yang data diobservasi dan diukur.
John B. Watson pada tahun 1913 menerbitkan karyanya yang berjudul
“Psychology as the Behaviorist Views It” berargumentasi bahwa psikologi adalah
sesuatu yang objektif yang harus dapat diobservasi dan diukur yang merupakan
cabang dari sains almiah (natural science).
Psikologi Gestalt
Psikologi gestalt (gestalt psychology) mempelajari bagaimana manusia
memandang objek-objek sebagai bentuk-bentuk yang utuh. Psikologi gestalt ini
mempelajari pikiran dan otak mengusulkan bahwa prinsip kerja dari otak adalah
holistic, parallel, dan analog dengan kecenderungan-kecenderungan
mengorganisasikan dirinya sendiri.
Gestaltis (gestaltist) adalah orang yang ahli di aliran ini, percaya bahwa
keseluruhan lebih besar dari jumlah keseluruhan bagian-bagiannya (the whole is
greater than the sum of all of the parts). Dari perspektif aliran ini, memecah perilaku
ke dalam bagian-bagiannya merupakan hal yang sangat disederhanakan, karena
sesuatu mempengaruhi sesuatu yang lainnya, sehingga perilaku tidak dapat dipecah-
pecah.
2. Perkembangan Psikologis Berikutnya
Perkembangan berikutnya dari psikologi adalah munculnya beberapa perspektif
baru dari psikologi. Kedelapan perspektif baru ini adalah sebagai berikut ini:
Psikologi Keberadaan dan Humanistic
Psikologi keberadaan (existential psychology) mengarahkan orang ke suatu
perasaan identitas internal untuk menyadari potensinya yang memungkinkan mereka
untuk bertanggungjawab terhadap tindakan-tindakan dan untuk mencapai
kebebasannya.
Psikologi humanistic (humanistic psychology) muncul ditahun 1950an yang
berakar dari psikologi keberadaan (existential psychology). Psikologi humanistic
(humanistic psychology) berargumentasi bahwa manusia harus belajar bagaimana
menyadari kemampuannya. Pendekatan humanistic ini berfokus pada kesatuan
pemikiran dan merubah tingkat kesadaran sebagai satu cara untuk menyadari potensi
manusia.
Beberapa ahli teori yang mendasarkan pada perspektif ini adalah Abraham Maslow
yang menyadari potensi manusia yang diformulasikan kedalam tingkatan kebutuhan-
kebutuhan manusia (human needs), dan Carl Rogers yang mneciptakan dan
mengembangkan terapi berpusat pada klien (client-centred therapy).
Psikologi Bioogikal atau Fisiologikal
Psikologi bioogikal ini menekankan pada proses-proses biological yang kemudian
digunakan untuk menjelaskan perilaku, mempelajari otak dan system jaringan saraf
pusat. Perspektif ini sangat dekat sekali dengan ilmu pengetahuan saraf
(neuroscience).
Psikologi Evolusionari
Psikologi evolusionari (evolutionary psychology) merupakan perspektif dalam
psikologi yang mempelajari sumber-sumber perkembangan perilaku dan proses-
proses mental, nilai adaptif, dan tujuan-tujuan yang akan terus individual lakukan.
Psikologi evolusionari ini juga mencoba menjelaskan mental dan psikologikal trait
tertentu, semacam memori, persepsi, atau bahasa mengenai proses evolusi dan
adaptasinya.
Psikologi Kognitif
Salah satu hal yang baru ditahun 1960an adalah mempelajari bagaimana orang
berpikir, merasakan, belajar, mengingat, membuat keputusan, dan bagaimana orang
memproses (mempersepsikan, menginterpretasikan, menyimpan, mengambil) data di
memori otak. Psikologi Kognitif (cognitive psychology) adalah ilmu pengetahuan
ilmiah dari psikologi yang mempelajari kognisi, yaitu proses-proses mental yang
mendasari perilaku. Psikologi kognitif mempunyai riset domain yang luas termasuk
bekerja dengan memori, atensi, persepsi, representasi pengetahuan, member alasan,
kreativitas, dan pemecahan masalah.
Psikologi Kognitif (cognitive psychology) menerima konsep dan penggunaan
metode imiah tetapi menolak introspeksi sebagai suatu metodevalid untuk
investigasinya. Psikologi kognitif percaya bahwa proses-proses mental dapat dan
seharusnya dipelajari secara ilmiah dengan cara engobservasi perilaku orang-orang
tentang bagaimana mereka mengingat dan mengambil data dari memori.
Dengan Psikologi kognitif, psikologi strukturalisma yang dikenalkan oleh Wilhelm
Wundt mulai ditinggalkan, karena psikologi ini menggunakan introspeksi dan tidak
menggunakan cara observasi secara ilmiah.
Psikologi Sosial
Psikologi sosial (social psychology) merupakan studi saintifik tentang bagaiman
pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, dan perilaku-perilaku orang dipengaruhi oleh
kehadiran dari lainnya.

C. Perilaku
Perilaku (behavior) adalah tindakan-tindakan (actions) atatau reaksi-reaksi (reactions)
dari suatu obyek atau organisma. Perilaku dapat berupa sadar (conscious) atau tidak sadar
(unconscious), terus terang (overt), atau diam-diam (covert), sukarela (voluntary) atau
tidak sukarela (involuntary).
Di hewan, perilaku dikontrol oleh system endocrine (endocrine system) dan system
saraf (nervous system). Kerumitan perilaku dari organisma dihubungkan dengan
kerumitan dari system sarafnya. Secara umum, organism dengan system-sistem saraf
yang komplek mempunyai kapasitas yang lebih besar untuk belajar respon-respon baru
untuk menyeesuaikan perilaku mereka.
Perilaku manusia dapat berupa perilaku yang umum (common behavior), tidak umum,
dapat diterima, atau tidak dapat diterima. Manusia mengevaluasi penerimaan dari
perilaku dengan menggunakan suatu standar pembandingan yang disebut dengan norma-
norma sosial (social norms) dan meregulasi perilaku dengan menggunakan control sosial
(social controls).

D. Perilaku Organisasional
Mempelajari system informasi keperilakuan juga tidak lepas dari perilaku organisasi.
System informasi keperilakuan mempelajari bagaimana perilaku dan individual-
individual di organisasi berinteraksi dengan teknologi informasi. Perilaku-perilaku
individual-individual di organisai merupakan bagian dari perilaku organisasi.
Bowditch dan Buono (1990) mendefinisikan perilaku organisasional (organizational
behavior) sebagai pemahaman-pemahaman dari proses-proses yang dilakukan oleh
manager-manager. Mempelajari aspek teknis dari manajemen merupkan hal yang penting.
Akan tetapi, mempelajari proses-proses dari nmanajemen atau bagaimana pekerjaan
manajemen juga merupakan hal yang penting juga.
1. Teori Manajemen Neoklasik
Mempelajari proses interaksi manusia di organisasi dimulai pada jaman teori
manajemen neoklasik (neoclassical management theory). Teori manajemen neoklasik
(neoclassical management theory) dimulai pada awal-awal abad 20 sampai dengan
akhir tahun 1920-an. Teori manajemen neoklasik mengabaikan interaksi manusia.
Teori neoklasik mulai mengenalkan ilmu-ilmu pengetahuan keperilakuan (behavioral
sciences) kedalam pemikiran manajemen. Teori neoklasik dapat dikelompokan ke
dalam dua aliran, yaitu sekolah hubungan manusia (human relations school) dan
sekolah keperiakuan (behavioral school).
2. Sekolah Hubungan Manusia
Sekolah hubungan manusia (human relations school) dimulai karena ahli sosiologi
dan psikologi sosial menaruh perhatian pada hubungan dan interaksi manusia-
manusia di dalam grup-grup. Sekolah hubungan manusia (human relations school)
dimuai pada tahun 1930 sampai dengan tahun 1950 yang muncul dari studi-studi
suatu grup yang dikenal dengan “Hawthorne Experiments”. Eksperimen ini dilakukan
di pabrik Western Electric di Hawthorne untuk menilai efek dari kondisi-kondisi kerja
terhadap produktivitas. Awalnya, sebuah grup terdiri dari wanita-wanita yang dipilih
khusus untuk eksperimen, ditempatkan disuatu ruang khusus dibuat untuk ini dan
perilku mereka diawali ketika kondisi-kondisi kerja mereka dirubah.
Hasil-hasil yang diperoleh dari eksperimen ini sangat mengejutkan bagi para
peneliti, karena mereka menemukan bahwa kondisi-kondisi kerja tidak mempengaruhi
produktivitas. Apapun bentuk kondisi-kondisi kerja, jelek atau baik, ternyata dalam
bentuk grup, kinerja mereka meniingkat. Setelah diperiksa lebih lanjut, mereka
menemukan bahwa yang meningkatkan kinerja grup adalah moral-moral yang tinggi
dari anggota grup. Analisis lebih lanjut menunjukkan yang meningkatkan moral
adalah karena mereka membangun hubungan interpersonal satu dengan lainnya yang
sudah terjadi mempunyai akibat lebih lanjut menciptakan lingkungan kerja yang
menyenangkan sehingga meningkatkan produktivitas kerja mereka.
3. Sekolah Keperilakuan
Jika sekolah hubungan manusia (human relations school) menekankan pada grup,
beberapa ahli teori mulai bergeser untuk memahami perilaku individual dan sifat dari
kerja itu sendiri. Asumsi dasar dari sekolah ini adalah perilaku manusia dipersepsikan
berhubungan dengan pertumbuhan personal, pencapaian, dan pengembangan diri.
Untuk didapatkan hasil kerja yang efisien dan efektif, organisai seharusnya
mengembangkan suaru pekerjaan-pekerjaan dan struktur-struktur organisasi yang
memungkinkan orang-orang memupunyai kesempatan untuk mengembangkan
kemampuannya dan mengalami pertumbuhan personal.

E. Teori-Teori dan Model-Model Sistem Informasi Keperilakuan


Sistem informasi keperilakuan menjelaskan tindakan-tindakan pemakai pemakai
informasi dari sudut pandang psikologi. Sistem informasi keperilakuan (behavioral
information system) mempelajari bagaimana organisasi harus mengembangkan suatu
sistem teknologi informasi untuk mengarahkan perilaku-perilaku (behaviors) individual-
individual dalam berinteraksi dengan sistem teknologi informasi tersebut untuk
membantu mencapai tujuan mereka.
Sejak tahun 1980an, penelitian-penelitian sistem informasi telah mencoba mempelajari
perilaku bagaimana dan mengapa individual menggunakan sistem teknologi informasi.
Penelitian-penelitian tersebut dikelompokkan menjadi dua aliran sebagai berikut:
1) Yang memfokuskan pada penerimaan, adopsi, dan penggunaan dari sistem teknologi
informasi. Di mana lebih memfokuskan pada anteseden-anteseden dari perilaku.
Aliran ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
 Anteseden-anteseden perilaku lebih berupa suatu perasaan dan kognitif, misalnya
sikap, norma-norma, persepsi-persepsi terhadap penggunaan.
 Anteseden-anteseden perilaku lebih ke suatu proses, misalnya proses penilaian,
proses partisipasi dan keterlibatan serta proses pencocokkan tugas dan
teknologinya.
2) Yang memfokuskan pada kesuksesan implementasi di tingkat organisasi. Di mana
sebenarnya aliran kedua ini lebih memfokuskan pada pengaruh perilaku
menggunakan sistem teknologi informasi ke dampak individual dan dampak
organisasi.
1. Model Penerimaan Pemakai
Untuk menjelaskan interaksi individual-individual dengan sistem informasi
diperlukan teori-teori dan model-model. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa
aliran pertama adalah yang memfokuskan pada penerimaan, adopsi, dan penggunaan
dari sistem teknologi informasi. Di mana pada aliran ini terdiri dari dua kelompok
yang memiliki masing-masing teori-teori dan model-model.
Berikut ini teori-teori dan model-model anteseden-anteseden perilaku, antara lain:
a. Teori tindakan beralasan (theory of reasoned action atau TRA) oleh Fishbein dan
Ajzen (1975). Yang merupakan teori perilaku manusia yang paling mendasar dan
berpengaruh.
b. Model penerimaan teknologi (technology acceptance model atau TAM) oleh
Davis et al. (1989). Di mana model ini dikhususkan untuk digunakan di bidang
sistem informasi untuk memprediksi penerimaan dan penggunaan sistem
informasi di pekerjaan individu pemakai.
c. Teori perilaku rencanaan (theory of planned behavior atau TPB) oleh Ajzen
(1991). TPB mengembangkan TRA dengan menambahkan sebuah konstruk yaitu
kontrol perilaku persepsian yang dipersepsikan akan mempengaruhi minat dan
perilaku.
d. Teori perencanaan perilaku didekomposisi (decomposed theory of planned
behavior atau DTPB) oleh Taylor dan Todd (1995). DTPB berbeda dengn TPB, di
mana DTPB memecah sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku persepsian ke
dalam beberapa sub-konstruk.
e. Teori gabungan TAM dan TPB oleh Taylor dan Todd (1995). Model ini
menggabungkan konstruk-konstruk TBP dengan menmbahkan konstruk kegunaan
persepsian di TAM.
f. Model pemanfaatan komputer personal (model of PC utilization atau MPCU) oleh
Thompson, et al. (1991). Model ini dibangun berdasarkan teori perilaku
interpersonal oleh Triandis (1977) dan digunakan untuk memprediksi
pemanfaatan dari PC.
g. Teori kogniti sosial (social cognitive theory atau SCT) Compeau dan Higgins
(1995). Mereka menerapkan teori ini untuk memprediksi penerimaan individual
terhadap pemanfaatan PC.
h. Teori gabungan penerimaan dan penggunaan teknologi (unifed theory of
acceptance and use of technology atau UTAUT) oleh Venkatesh et al. (2003).
Teori ini dikembangakan dengan menggabungkan delapan model penerimaan
individual terhadap teknologi.
Adapun teori dan model dari sistem informasi keperilakuan yang anteseden-
antesedennya berupa suatu proses yang merupakan kelompok kedua aliran
penerimaan, yaitu:
a. Model penyelesaian adaptasi pemakai (coping model of user adaptation) oleh
Beaudry dan Pinsonneault (2005). Berbasis pada teori penyelesaian, pemakai-
pemakai akan memilih strategi-strategi adaptasi berdasarkan suatu kombinasi dari
penilaian primer dan sekunder.
b. Partisipasi dan keterlibatan pemakai oleh Hartwick dan Barki (1989)dan
Jarvenpaa dan Ives (1991).
c. Kesesuaian tugas-teknologi (task-technology fit) oleh Goodhue dan Thompson
(1995).
2. Model Pengaruh Perilaku ke Organisasi
Aliran yang kedua adalah yang memfokuskan pada kesuksesan implementasi di
tingkat organisasi. Adapun teori-teori dan model-model perilaku organisasi, adalah:
a. Model kesuksesan sistem informasi (information system success model) oleh
DeLone dan McLean (1992).
b. Model kesuksesan sistem informasi diperbarui (updated information system
success model) oleh DeLone dan McLean (2003). Model ini menggabungkan
dampak-dampak individual menjadi sebuah konstruk, yaitu manfaat-manfaat
bersih (net benefits). Selain itu, juga menambahkan suatu konstruk, yaitu kualitas
pelayanan karena penggunaan internet yang memberikan jasa pelayanan kepada
pemakainya.