Anda di halaman 1dari 5

Nama : Sukardi

NIM : 20180309068
Ujian Akhir Semester
Kelas : C
Mata Kuliah : Patient centre care
Jurusan MARS
Dosen : Dr. Djoni Darmadjaja, SpB. MARS, FCSI, FInaCS
Universitas Esa Unggul

Soal
1. Keterlibatan pasien dan keluarga dalam asuhan pasien
2. Expected value decision making / pengambilan keputusan medis berdasarkan nilai yang
diharapkan
3. Asuhan gizi terintegrasi di rumah sakit
Jawab
1. Keterlibatan pasien dan keluarga dalam asuhan pasien juga diartikan sebagai upaya
menciptakan sebuah lingkungan dimana pasien, keluarga, PPA rumah sakit semua
bekerja sama sebagai mitra untuk meningkatkan mutu dan keselamatan pelayanan rumah
sakit
Melibatkan pasien dan anggota keluarga sebagai anggota tim pelayanan kesehatan,
advisor bekerja Bersama dengan PPA dan para leader untuk meningkatkan kebijakan dan
prosedur

Keterlibatan pasien dan keluarga dalam asuhan pasien didefinisikan sebagai pasien,
keluarga, representasi mereka, professional pemberi asuhan yang bekerja dalam
kemitraan yang aktif diberbagai tingkatan system kesehatan, direct care, organizational
design-governace dan policy making untuk memperbaiki perawtan dan meningkatkan
pemberian pelayanan kesehatan.
a) Pada tingkat direct care
 Keterlibatan dalam meingtegrasikan nilai-nilai pasien, pengalaman, dan
perpektif yang berkaitan dengan pencegahan, diagnosis dan pengobatan,
termasuk mengelola kesehatan pasien dan memilih cakupan pelayanan
kesehatan dan penyedia layanan
 Keterlibatan pasien untuk menerima informasi , menjadi mitra aktif dalam
tim perawatan, menerapkan tujuan, membuat keputusan, dan secara
proaktif mengelola kesehatannya
 Dalam hal kemitraan, keterlibatan pasien dicirikan dengan pasien
berkomunikasi dengan PPA tentang situasi kesehatan, memahami resiko
dan manfaat yang terkait dengan pilihan perawatan yang diambil, bersedia
mengajukan pertanyaan, memiliki akses dan membantu membuat catatan
medis mereka
 PPA memberi pasien waktu dan memahami informasi yang didapat secara
lengkap seperti : mendapatkan nilai-nilai pasien, keyakinan, dan toleransi
atas risiko pilihan perawatan yang diambil, memberikan pasien dorongan
dan dukungan, melibatkan keluarga dan lainnya sesuai keiginan pasien

1
b) Pada tingkat Organizational design dan governance
 Pada tingkat ini, keterlibatan dicirikan dengan kemampuan
mengintegrasikan nilai-nilai pasien, pengalaman dan perspektif pasien
kedalam desain dan tata kelola organisasi kesehatan seperti rumah sakit,
organisasi perawatan yang akuntabel
 Pasien bertpatner dengan para pemimpin organisasi, manajer lini depan,
dan PPA dalam merencanakan. Menyampaikan, dan mengevaluasi
perawatan.
 Pasien juga membantu mendesign fasilitas perawatan
c) Pada tingkat policy making
 Keterlibatan berfokus pada hal untuk mengembangkan, melaksanakan,
dan mengevaluasi kebijakan program kesehatan
 Keterlibatan pasien dalam hal kebijakan dapat digambarkan sebagai
keterlibatannya sebagai warga negara
 Pasien berkolaborasi dengan tokoh masyarakat dan pembuat kebijakan
seperti perwakilan dari pemerintah
Manfaat keterlibatan pasien dan keluarga sebagai berikut:
 Meningkatkan kinerja rumah sakit: mutu & keselamatan
 Penggunaan obat yang aman, inisiatif dalam pengendalian infeksi,
observasi proses perawatan dan melaporkan adanya komplikasi
 Mencegah readmissions  memperbaiki outcome
 Terlibat emosional kesehatan, resolusi gejala, kontrol nyeri, pengukuran
fisiologis
 Komunikasi pasien- providers, manajemen nyeri, obat-obatan, penyediaan
informasi discharge planning

2. Pengambilan keputusan merupakan bagian dari suatu peristiwa yang meliputi diagnosa,
seleksi tindakan dan implementasi (Beach & Connolly, 2005). Definisi lain tentang
pengambilan keputusan juga dikemukakan oleh Nigro (dalam Ridho, 2003) bahwa
keputusan ialah pilihan sadar dan teliti terhadap salah satu alternatif yang memungkin‐
kan dalam suatu posisi tertentu untuk merealisasikan tujuan yang diharapkan.
Cooke & Slack (1991) menjelaskan 9 tahap yang dilalui individu dalam mengambil
keputusan yaitu:
1. Observasi. Individu memperhatikan bahwa ada sesuatu yang keliru atau kurang
sesuai, sesuatu yang merupa‐ kan kesempatan untuk memutuskan sedang terjadi
pada lingkungannya. Suatu kesadaran bahwa keputusan sedang diperlukan.
Kesadaran ini diikuti oleh satu periode perenungan seperti proses inkubasi.
2. Mengenali masalah. Sesudah mele‐ wati masa perenungan, atau karena
akumulasi dari banyaknya bukti‐ bukti atau tanda‐tanda yang tertang‐ kap, maka
individu semakin menyadari bahwa kebutuhan untuk memutuskan sesuatu
menjadi semakin nyata.
3. Menetapkan tujuan. Fase ini adalah masa mempertimbangkan harapan yang akan
dicapai dalam mengambil keputusan. Tujuan pada umumnya berkaitan dengan
kesenjangan antara sesuatu yang telah diobservasi dengan sesuatu yang
diharapkan, berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi.
4. Memahami masalah. Merupakan suatu kebutuhan bagi individu untuk memahami
secara benar permasalah‐ an, yaitu mendiagnosa akar permasa‐ lahan yang

2
terjadi. Kesalahan dalam mendiagnosa dapat terjadi karena memformulasikan
masalah secara salah, karena hal ini akan mempe‐ ngaruhi rangkaian proses
selanjut‐ nya. Jawaban yang benar terhadap pemahaman masalah yang salah
memiliki makna/akibat sama seperti halnya jawaban yang salah terhadap
pemahaman masalah yang benar.
5. Menentukan Pilihan‐pilihan. Jika batas‐batas keputusan telah didefini‐ sikan
dengan lebih sempit maka pilihan‐pilihan dengan sendirinya lebih mudah tersedia.
Namun, jika keputusan yang diambil masih didefinisikan secara luas maka proses
menetapkan pilihan merupakan proses kreatif.
6. Mengevaluasi Pilihan‐pilihan. Fase ini melibatkan penentuan yang lebih luas
mengenai ketepatan masing‐ masing pilihan terhadap tujuan pengambilan
keputusan
7. Memilih. Pada fase ini salah satu dari beberapa pilihan keputusan yang tersedia
telah dipilih, dengan pertimbangan apabila diterapkan akan menjanjikan suatu
kepuasan
8. Menerapkan. Fase ini melibatkan perubahan‐perubahan yang terjadi karena
pilihan yang telah dipilih. Efektivitas penerapan ini bergantung pada ketrampilan
dan kemampuan individu dalam menjalankan tugas serta sejauh mana
kesesuaian pilihan tersebut dalam penerapan.
9. Memonitor. Setelah diterapkan, maka keputusan tersebut sebaiknya dimonitor
untuk melihat efektivitas dalam memecahkan masalah atau mengurangi
permasalahan yang sesungguhnya

Terdapat beberapa model dalam pengambilan keputusan (Reed, 2000), namun dapat
dibedakan dalam dua kategori utama yaitu model pengambilan keputusan tanpa
mempertimbangkan kemungkinan (probabilitas) dan model pengambilan keputusan
dengan mempertimbangkan kemungkinan (probabilitas).
 Tanpa mempertimbangkan probabilitas
o Model pengganti (compensa‐ tory model) adalah model pengambilan
keputusan dengan memasukkan atribut yang menarik/positif untuk
mengganti‐ kan yang tidak menarik/negatif.
o Model tanpa pengganti (non compensatory model) adalah sebuah strategi
pengambilan keputusan dengan mengeliminasi alternatif yang memiliki
atribut negatif tanpa mempertimbangkan atribut‐atribut positif yang dimiliki.
Teori ini dikemukakan oleh Tversky pada tahun 1972 dengan menyatakan
bahwa individu membuat pilihan dengan melakukan eliminasi secara
bertahap terhadap alternatif yang dinilai kurang menarik. Teori ini disebut
dengan eliminasi berdasarkan aspek‐ aspek (elimination by aspects). Jika
sebuah atribut dari sebuah alternatif dinilai tidak memuaskan untuk kriteria
yang paling minimal maka alternatif ini dieliminasi dari serangkaian pilihan‐
pilihan (Reed, 2000).
 Mempertimbangkan probabilitas
o Pada situasi ketika individu diharapkan untuk dapat membuat pengambilan
keputusan dengan perma‐ salahan yang lebih kompleks, yaitu mengambil
keputusan dalam kondisi ketidakpastian maka individu akan
memperkirakan kemungkinan bahwa suatu peritiwa pasti akan terjadi,
namun individu tersebut tidak tahu peristiwa seperti apa yang akan terjadi.

3
o Kahneman dan Tversky (dalam Reed, 2000) menunjukkan bahwa perkiraan
terhadap kemungkinan adalah berdasar pada sesuatu yang heuristik,
kadang‐kadang menghasilkan perkiraan yang masuk akal namun juga
sering tidak. Tiga jenis dari model heuristik ini adalah:
(1) Ketersediaan heuristik, yaitu suatu pendapat yang menyatakan bahwa
individu mengevaluasi probabilitas suatu peritiwa dengan menilai sesuatu
dengan hal yang relevan, mudah terlintas dalam fikiran serta mudah
dikenali.
(2) Keterwakilan, yaitu suatu pendapat yang menyediakan bentuk heuristik
yang lain dalam membuat penilaian probabilitas, yaitu sampai taraf
seberapa sebuah kejadian serupa dengan suatu kejadian yang lebih besar
(Reed, 2000; Manstead & Hewstone, 1996)
(3) Penjangkaran dan penyesuaian, mengacu pada proses penilaian secara
umum dengan respon awal dijadikan sebagai jangkar (tambatan) dan
informasi yang lain digunakan untuk melengkapi dan menyesuaikan respon
tersebut

4
3. Asuhan gizi terintegrasi di rumah sakit merupakan suatu system diaman Pasien
dikonsultasikan ke ahli gizi untuk dilakukan asesmen lebih lanjut. Jika ditemukan risiko
nutrisi maka dibuat rencana terapi gizi dan dilaksanakan. Kemajuan keadaan pasien
dimonitor dan dicatat di rekam medis pasien. DPJP, perawat, ahli gizi, dan keluarga
pasien bekerjasama dalam konteks asuhan gizi terintegrasi.

Terapi gizi medis adalah terapi gizi khusus untuk penyembuhan penyakit baik akut
maupun kronis, serta merupakan suatu penilaian terhadap kondisi pasien sesuai dengan
intervensi yang telah diberikan, agar pasien serta keluarganya dapat menerapkan
rencana diet yang telah disusun. Terapi gizi medis merupakan integrasi antara ilmu gizi,
medis dan ilmu perilaku yang memungkinkan tenaga kesehatan membuat perubahan
yang bermakna pada kehidupan pasien.
Terapi gizi adalah pelayanan gizi klinik dan asuhan gizi yang merupakan bagian dari
pelayanan medis untuk penyembuhan pasien yang diselenggarakan secara tepadu
dengan upaya pelayanan gizi promotif, preventif dan rehabilitatif.

Terapi gizi medis ini diselenggarakan oleh sekelompok tenaga kesehatan di rumah sakit
yang disebut dengan Tim Terapi Gizi. Tim ini terdiri dari dokter spesialis, dokter, dietisien,
perawat ruangan, serta ahli farmasi yang mempunyai komitmen terhadap pelayanan gizi
klinik.

Pasien yang beresiko nutrisi mendapat terapi gizi


1. Pasien yang pada assasmen berada pada resiko nutrisi mendapat terapi gizi
2. Suatu proses kerjasama dipakai untuk merencanakan, memberikan dan
memonitor terapi gizi
3. Respon pasien terhadap terapi gizi di monitor
4. Respon pasien terhadap terapi gizi dicatat dalam rekam medisnya
Prinsip dasar terapi gizi medis antara lain:
1. Makan beraneka ragam dan gizi seimbang.
2. Memberikan pelayanan gizi khusus untuk tujuan menyembuhkan pasien.
3. Mengatur diet dan pola makan yang disesuaikan dengan penyakit
4. mengikutsertakan pasien dan keluarganya agar mampu mengatur dietnya
sendiri

Terapi gizi medis harus selalu disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan proses
pengobatan meliputi jenis, komposisi dan jenis zat gizi yang dibutuhkan. Selain itu
konsistensi dan jenis makanan disesuaikan dengan penerimaan pasien.
Pelaksanaan terapi gizi medis harus menyeluruh dan dinamis mengikuti
perkembangan klinis pasien. Diperlukan kerjasama yang baik antara dokter, dietisien,
perawat dan petugas lain yang terkait sejalan dengan pelaksanaan Tim Asuhan Gizi
di rumah sakit.