Anda di halaman 1dari 12

TEOLOGI DALAM KITAB KISAH PARA RASUL

DEFINISI
Kisah Para Rasul (Bahasa Yunani; Praxeis Apostolon ) adalah buku kelima Perjanjian
Baru pada Alkitab Kristen, yang terutama berisi tentang pertama kali terbentuknya gereja Kristen
serta pertumbuhannya sampai pada pertengahan abad pertama Masehi.1 Kisah Para Rasul
diyakini ditulis oleh Lukas yang adalah seorang Yunani, bukan seorang Yahudi (Kol. 4:l0- l4: 2)
dan merupakan lanjutan buku Injil Lukas dimana dalam kitab ini, penulis hendak mengabarkan
tindakan Allah dan cara orang mengikuti Tuhan Yesus dalam situasi yang berbeda-beda. Dengan
kata lain, kitab ini mempunyai sifat pekabaran Injil.2 Sehingga, dapat dikatakan teologi dalam kitab
Kisah Para Rasul adalah Teologi Lukas. Berikut Teologi dalam Kitab Kisah Para Rasul :

A. TEOLOGI LUKAS : TEOLOGI PROPER3


Teologi Lukas yang dimaksud di sini adalah teologi dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul
(untuk selanjutnya acuan pada Injil Lukas diberikan hanya dengan menyebut pasal dan ayatnya,
sedangkan acuan pada Kisah Para Rasul didahului dengan kata Kisah). Banyak sarjana
Perjanjian Baru yang tidak meragukan bahwa Injil Lukas dan Kisah Para Rasul ditulis oleh penulis
yang sama, yaitu Lukas. Meskipun ada anggapan bahwa Lukas adalah seorang sejarawan,
potensinya sebagai teolog tampaknya lebih dominan. Perhatian utama Lukas adalah pada teologi,
bukan sejarah. Ia tidak menyatakan diri sebagai penulis karya teologi, namun apa yang ditulisnya
sarat dengan gagasan teologi dan sangat menolong pemahaman kita tentang teologi Perjanjian
Baru.

 Pokok-Pokok Pikiran Teologis

Terus terang bahwa garis besar isi teologi proper Lukas kuranglah sistematis dan tidak
mengacu pada pokok-pokok isi teologi proper pada umumnya. Meskipun demikian, tidak dapat
disangkal bahwa tulisannya sarat dengan pokok-pokok pikiran teologi proper.

1. Allah yang Mahakuasa

Teologi Proper Lukas dimulai dengan pikiran bahwa Allah adalah Allah yang Mahakuasa (1:35,
49). Pelayanan yesus di dunia ini dilaksanakan dalam kuasa Allah yang Mahakuasa (Kisah 10:38;
21:27; 22:69).Bagi Lukas kuasa Allah itu tanpa batas dan ia bersukacita karena kuasa tersebut
telah dinyatakan dalam karya penyelamatan melalui Kristus (18:27, Kisah 20:32).

1 W. R. F. Browning. Kamus Alkitab.(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007) hal. 204-206.


2 B.F. Drewes. Tafsiran Alkitab Kisah Para Rasul (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016) hal. 3

3 Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru (Jawa Timur: Gandum Mas,2014) hlm. 197-215.
2. Kerajaan Allah

Sebagaimana dalam kitab-kitab Injil Matius dan Markus, demikian pula tema Kerajaan Allah
begitu penting dalam tulisan Lukas, yang menggunakan ungkapan tersebut sebanyak 32 kali
ditambah 6 kali dalam Kisah Para Rasul. Gagasan Lukas tentang kerajaan Allah banyak
kesamaannya dengan Matius dan Markus. Akan tetapi, ada cukup banyak pernyataan Lukas
tentang kerajaan Allah yang merupakan ciri khas tulisannya. Hal ini cocok sekali dengan
penekanan Lukas pada kekuasaan, sebab itu berarti bahwa kehendak Allah yang Mahaagung
sedang bekerja. Dan di mana Allah ditinggikan sebagai Raja, di situ kehendak-Nya terlaksana
(4:43; 8:1; 9:11, 59-62; 10:11; 13:28-30; 18:28-30).

Sudah ada banyak diskusi tentang nas di mana beberapa orang Farisi bertanya kepada
Yesus kapan Kerajaan Allah datang. Mungkin mereka itu benar-benar ingin tahu atau mungkin
juga mereka hanya ingin menjebak Yesus dengan maksud suatu ketika akan memakainya untuk
melawan Dia. Bagaimanapun juga, Yesus menjawab, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda
lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab
sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (17:20-21). Makna “di antara kamu” (entos
hymon) masih diperdebatkan dan di antara ragam pendapat yang ada, tampaknya ungkapan
tersebut berarti “di tengah-tengah kamu,” artinya dalam pribadi Yesus Kerajaan itu telah datang di
antara mereka.

Lukas juga menunjukkan kepada kita bahwa Kerajaan itu mempunyai aspek masa depan
yang penting dan itu tergantung pada kedatangan Kristus kembali (19:11). Merujuk pada pasal
22:16, 18, Yesus bermaksud mengatakan bahwa peristiwa Paskah itu mempunyai arti tipologis,
yaitu: pembebasan yang hebat di masa lampau merujuk pada pembebasan yang lebih hebat yang
akan terjadi pada waktu kegenapan segala sesuatu, yakni kedatangan Kerajaan.

3. Karya Allah Dalam Kristus

Jelas merupakan bagian penting dari pemahaman Kristen bahwa dalam kehidupan, kematian,
kebangkitan dan kenaikan Yesus, yang kita saksikan tidak lain adalah karya Allah sendiri (2:52,
8:39, 24:19, Kisah 2:22, 24, 32; 10:38, dll.).

4. Karya Allah Dalam dan Melalui Orang Percaya

Allah tidak hanya bekerja melalui Yesus, tapi Ia terus bekerja melalui para pengikut yesus. Tidak
ada penulis Perjanjian Baru lain yang lebih yakin daripada Lukas bahwa Allah bekerja sekarang
ini, sebagaimana nyata dari mukjizat-mukjizat yang dikisahkannnya dalam Kitab Kisah Para
Rasul.

5. Allah Juruselamatku
Seperti semua penulis Injil lainnya, Lukas memberi banyak tempat untuk kisah sengsara. Kisah
tersebut merupakan puncak karyanya, dan ia mengisahkannya dengan teliti. Salah satu ciri
tulisannya adalah ia menjelaskan bahwa Allah aktif dalam karya keselamatan yang diselesai-kan-
Nya pada kayu salib. “Menurut maksud dan rencana Allah” Yesus dislibkan (Kisah 2:23). Allah
tidak hanya mengetahui apa yang akan terjadi; Allah yang merencana-kan-Nya. Kematian Yesus
merupakan cara Allah untuk mendatangkan keselamatan. Dalam Magnificat, Maria berbicara
tentang “Allah Juruselamatku” (1:47).

6. Kasih Karunia Allah

Sebutan “rahmat dan belas kasihan” dari Allah oleh Lukas (1:78) memang tidak lazim. Secara
harfiahnya istilah tersebut berarti “intinya belas kasihan.” Dalam tulisan-tulisan Yunani “inti” tidak
hanya merujuk pada bagian dalam tubuh manusia, melainkan sering juga mengacu pada
perasaan yang mendalam. Tetapi menariknya: jika orang Yunani memakai kata tersebut, maka
yang mereka maksudkan adalah semacam kemarahan. Bagi mereka, bila seseorang sangat
tergerak berarti orang itu marah. Namun bagi orang Kristen, sangat tergerak berarti merasa belas
kasihan. Bila dipakai untuk Allah, itu merupakan istilah yang mengesankan; istilah itu
menunjukkan secara jelas bahwa Allah bertindak dengan penuh belas kasihan.
Belas kasihan Allah tampak dalam sikap-Nya terhadap semua ciptaan-nya (12:6, 24, 27-
28) dan dalam mengampuni (5:21; 7:47).

Kadang-kadang Lukas mengisahkan bahwa Allah “melawat” umat-Nya. Bagi orang-orang


berdosa lawatan Allah bisa tidak mengenakkan, dan memang kadang-kadang kata kerja
“melawat” dipakai untuk mengajarkan bahwa Allah pasti akan menghukum orang-orang yang
berbuat jahat. Akan tetapi, di sini Lukas memakainya untuk menunjukkan gagasan bahwa Allah
melawat untuk memberikan berkat (1:68; 7:16).

Tentu saja kasih karunia merupakan salahs atu istilah kristiani yang penting, satu istilah
yang khas dari Paulus (Paulus memakainya sebanyak 100 kali dari 155 pemakaian dalam seluruh
Perjanjian Baru). Biasanya kita tidak menyadari bahwa Lukaslah pemakai paling banyak yang
kedua (8 kali dalam Injil Lukas dan 17 kali dalam Kisah Para Rasul). Kadang-kadang ia memakai
istilah itu dalam arti “jasa” (6:32-34), kadang-kadang ia memakainya dalam arti yang sangat dekat
dengan pengertian Paulus (misalnya Kisah 15:11). Namun Lukas tidak sekedar menjiplak Paulus.
Lukaslah satu-satunya penulis dalam Perjanjian Baru yang memakai ungkapan “berita tentang
kasih karunia-Nya” (Kisah 14:3; 20:32), dan James Moffatt melihat dalam ungkapan ini dan dalam
ungkapan “Injil kasih karunia Allah” (Kisah 20:24) bukti keorisinilan Lukas dalam menggunakan
konsepsi kasih karunia.
B. TEOLOGI LUKAS: KRISTOLOGI DAN SOTERIOLOGI4

b.1. Kristologi

Kristologi Lukas boleh dibilang unik sebab Yesus dijelaskan sebagai “sahabat para pemungut
cukai dan orang-orang berdosa” (7:34). Kata “sahabat” (philo) muncul 15 kali dalam Injil Lukas
dan 3 kali dalam Kisah Para Rasul—dari 29 kali pemakaiannya dalam seluruh PB).

b.1.1 Kemanusiaan Yesus

Di dalam tulisan Lukas tidak dapat diragukan bahwa Yesus adalah “seorang manusia.” Lukas
mencatat beberapa peristiwa dari masa kanak-kanak Yesus, dan ia mencatat kenyataan bahwa
“Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-
Nya” (2:40). Lukas menutup kisah kunjungan ke Yerusalem dan petualangan kanak-kanak Yesus
di Bait Allah dengan menyebutkan kembalinya Yesus ke Nazaret dengan keterangan, “Yesus
makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah
dan manusia” (2:52). Yesus memiliki kebutuhan-kebutuhan jasmaniah yang biasa, misalnya Ia
bisa merasa lapar (4:2). Ia pun mempunyai perasaan manusiawi, yang terbukti ketika Ia
menangisi kota Yerusalem (19:41). Dari Lukaslah kit amendapat informasi mengenai kebiasaan
yesus beribadah di sinagoge setiap hari Sabat (4:16). Tidak jarang pula orang memperlakukan
Yesus sebagai manusia: ditertawakan orang (8:53), dikritik orang (7:34). Meskipun sedikit, Lukas
pun mencatat satu dual hal tentang kematian Yesus. Yesus berdoa dengan sungguh-sungguh di
taman Getsemani (22:42). Kebanyakan manuskrip menambah keterangan mengenai seorang
malaikat yang meneguhkan Dia dan mengenai penderitaan-Nya dan mengenai keringat-Nya yang
bertetesan ke tanah bagaikan titik-titik darah (22:43-44).

b.1.2. Anak Allah dan Anak Manusia

Lukas menggunakan sejumlah gelar yang sudah kita lihat dalam Injil Matius dan Markus. Kadang-
kadang ia menyebut Yesus sebagai “Anak Allah.” Gelar ini sudah ada sejak awal Injilnya. Diawali
dengan pernyataan malaikat Gabriel kepada Maria (1:31-35); dalam kisah pencobaan (4:3, 9);
ketika Tuhan Yesus dipermuliakan di atas gunung (9:35); ketika keluarnya setan-setan dari
banyak orang (4:41); dalam arena pengadilan (22:70). Lukas juga mengisahkan beberapa kalai
pemakaian ungkapan tersebut oleh Paulus (Kisah 9:20; 13:33).

Tidak banyak berbeda halnya dengan gelar “Anak Manusia.” Lukas mempunyai cukup banyak
ayat di mana ia bersama Matius atau bersama Markus atau bersama keduanya mencatat
beberapa pernyataan yang di dalamnya Yesus memakai ungkapan ini untuk diri-Nya sendiri.
Dalam Injil ini kita melihat juga penggunaan isitlah itu dalam tiga aspeknya, yaitu yang mengacu
pada Yesus: (1) yang sedang menjalankan pelayanan di depan publik (6:22), (2) dalam

4
Leon Morris, Ibid, hal. 217-264.
penderitaan-Nya (22:48; 24:7), dan (3) pada saat kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan
(17:22; 18:8, Kisah 7:56).

b.1.3. Anak Daud

Lukas menyebut nama “Daud” sebanyak 13 kali dalam Injilnya dan 11 kali dalam Kisah Para
Rasul. Menurut cerita Lukas, sebelum Yesus dilahirkan Maria “bertunangan dengan seorang
bernama Yusuf dari keluarga Daud” (1:27). Di sini rupanya Lukas ingin menunjukkan bahwa Maria
adalah keturunan Daud (1:32, 69) seperti juga Yusuf (2:4). Hubungan Yesus dengan raja Daud
dijelaskan lebih lanjut oleh Lukas dalam Nyanyian Zakharia (1:69); dalam pembelaan Stefanus
(Kisah 7:45-46); dalam khotbah pertama Paulus (13:22-23); pada Sidang di Yerusalem (Kisah
15:16). Dari semuanya ini rupanya Lukas ingin menunjukkan kesadarannya akan makna
ungkapan itu untuk kemesiasan Yesus. Allah senantiasa mempunyai rencana untuk mengerjakan
hal-hal besar dengan perantaraan keturunan raja agung ini, dan hal-hal besar itu Dia kerjakan
melalui Yesus.

b.1.4. Kristus

Bagi Lukas gelar “Kristus” itu penting untuk pemahamannya tentang karya Allah melalui Yesus.
Hanya Lukas yang mengisahkan bahwa dari gelar inilah para pengikut Yesus mendapat sebutan
khusus “Kristen” (Kisah 11:26). Gelar itu dipakainya sebanyak 12 kali dalam Injilnya dan 25 kali
dalam Kisah Para Rasul. Hampir selalu Lukas membubuhkan kata sangdang pada gelar itu: ia
berbicara tentang “Sang Kristus” dan tidak memakai “Kristus” sebagai nama diri sebagaimana
yang dilakukan oleh Paulus. Kadang-kadang ia menghubungkan kata itu dengan “Yesus” (“Yesus
Kristus” atau “Kristus Yesus”) atau dengan “Tuhan.” Menarik bahwa ketig aInjil Sinopsis
mempunyai tiga versi yang berbeda-beda mengenai pengakuan agung petrus di Kaisarea Filipi.
Matius menulis “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Matius 16:16), sedang Injil
Markus sekedar menyatakan “Engkau adalah Mesias!” (Markus 8:29). Lukas menulis, “Mesias dari
allah” (9:20). Hal ini menunjukkan keyakinan kuat Lukas bahwa Mesias adalah ornag yang
dipanggil allah, diperlengkapi oleh allah, dan diutus oleh allah. Mesias bukanlah figur yang berdiri
sendiri, melainkan merupakan milik Allah. Suatu hal yang penting dijelaskan oleh Lukas, yaitu baik
penderitaan maupun kebangkitan ditentukan bagi Mesias, seperti yang sudah dinubuatkan
(24:26), sehingga tak mungkin bahwa Ia akan mempunyai nasib yang lain. Alur pemikiran ini
berlanjut dalam Kisah Para Rasul (3:18; 17:3). Merupakan pemberitaan khas Lukas bahwa Kristus
harus menderita untuk mendatangkan keselamatan (Kisah 11:17; 20:21; 24:24). Lukas sering
menggunakan “nama” Kristus (Kisah 2:38; 3:6-8; 4:10; 10:36). Dari semuanya ini jelas bahwa
Lukas memandang “Kristus,” yakni gelar untuk Mesias Yahudi. Kita memperkirakan gelar dini
dipakai dalam konteks Yahudi, tetapi Lukas terus-menerus memakainya dalam lingkungan bukan
Yahudi.

b.1.5. Tuhan

Gelar yang paling sering dipakai Lukas untuk Yesus adalah Tuhan (103 kali dalam Injilnya dan
107 kali dalam Kisah Para Rasul). Tentu saja gelar itu memiliki macam-macam arti. Gelas itu
dipakai untuk pemilik dari sesuatu misalnya keledai (19:33) atau kebun anggur (20:13). Gelar itu
sering dipakai sebagai bentuk sapaan yang sopan, seperti jika seorang pelayan menyapa
majikannya (13:8; 14:22). Dalam Septuaginta, kata tersebut merupakan cara untuk menyebut
nama Ilahi Yahweh. Menggunakan kyrios untuk yesus berarti menempatkan yesus pada tingkatan
yang sama dengan Yahweh, namun tanpa mengidentikkan Dia dengan Yahweh. Lukas
mempertahankan pemakaian ini. Kita menemukan paling sedikit 25 kali pada kedua pasal
pembukaan dari Injilnya (1:6, 25). Ia memakainya juga dalam Kisah Para Rasul, khususnya dalam
kaitannya dengan “malaikat Tuhan” (Kisah 5:19; 8:26). Dalam Injil Lukas istilah itu sering dipakai
sebagai sebutan untuk Yesus (5:8; 9:61; 11:1, Kisah 7:59-60). Ciri penting dalam penggunaan
istilah itu oleh Lukas adalah cara dia menggunakannya dalam cerita (7:13). Berhubung dia adalah
Tuhan, Tuhan yang mati dan bangkit, maka titik berat pemberitaan para rasul adalah bahwa
orang-orang berdosa harus percaya kepada-Nya (Kisah 5:14; 9:35, 42; 20:21). Orang-orang yang
memberikan tanggapan dipanggil untuk hidup dalam pengabdian sepenuh hati (Kisah 9:31;
21:13).

b.2. Soteriologi

Seperti para penulis Injil yang lain, Lukas berusaha menerangkan kebenaran agung bahwa Allah
telah mendatangkan keselamatan bagi bangsa yang tidak layak menerimanya.

b.2.1. Rencana Allah

Salib bukanlah kekalahan Allah, melainkan pelaksanaan apa yang telah direncanakan-Nya
(26:42). Dengan memakai kata kerja yang kita terjemahkan dengan “harus” (atau “perlu”; Yunani:
dei) Lukas menunjukkan pandangan bahwa Allah sedang melaksanakan kehendak dan rencana-
Nya di dunia ini. Pengertian rencana sering terkandung juga dalam kata kerja teleoo yang dipakai
Lukas untuk menyebut baptisan yang harus dijalani Yesus (12:50) dan untuk penggenapan nas
Kitab Suci (18:31; 22:37).

b.2.2. Sejarah Keselamatan

Para penulis tentang Lukas sering menggunakan istilah bahasa Jerman Heilgeschichte untuk
menunjukkan isi Injilnya. Istilah itu tidak mudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, namun
paling tidak isitlah itu mengingatkan kita pada perhatian Lukas terhadap sejarah dan
keyakinannya bahwa apa yang dikerjakan allah melalui Yesus terjadi dengan latar belakang
sejarah yang luas. Lukas berbicara tentang perintah Kaisar Augustus yang mewajibkan seluruh
dunia untuk didaftar (2:1). Dalam pandangan Lukas rencana allah dinyatakan tidak hanya oleh
peristiwa-peristiwa di Yudea dan Galilea, melainkan juga oleh apa yang dikerjakan oleh Kaisar
yang nun jauh di Roma.Hal yang sama terulang lagi pada keterangan waktu yang rumit pada 3:1-
2. Namun sekali lagi, Lukas sedang menyampaikan tujuan teologisnya, yaitu seluruh sejarah
mendapat tempat dalam rencana Allah: tidak peduli berapa hebat orangnya, seperti kaisar
misalnya, ia hanya mempunyai makna yang sebenarnya sejauh ia mengambil bagian dalam
rencana agung yang sedang dilaksanakan oleh Allah.

b.2.3. Pertanggungjawaban

Bagi Lukas semua orang harus bertanggung jawab kepada Allah: Dalam perumpamaan pohon
ara yang tidak berbuah (13:6-9); dalam kisah orang kaya dan Lazarus (16:19-31); perumpamaan
orang kaya yang bodoh (12:16-21); penggarap-penggarap kebun anggur (20:9-18).

b.2.4. Pertobatan

Seperti Matius dan Markus, Lukas memberitahu para pembacanya bahwa Yohanes pembaptis
memanggil orang untuk “bertobatlah dan … dibaptis” (3:3, Kisah 13:24; 19:4) dan mengajak orang
untuk menghasilkan “buah-buah yang sesuai dengan pertobatan” (3:8). Bertobat bukan hanya
berarti berhenti berbuat dosa. Dalam arti tertentu pertobatan adalah karunia Allah (Kisah 5:31).
Allahlah yang mengaruniakan kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi “pertobatan yang memimpin
kepada hidup” (Kisah 11:18).

b.2.5. Sentralnya Kesengsaraan dan Kematian Kristus

Seperti penulis Injil lainnya Lukas menjadikan kesengsaraan dan kematian Yesus tema penting
sekali dalam Injilnya. Injil Lukas telah disusun sedemikian rupa sehingga kesengsaraan dan
kematian Kristus menjadi puncaknya. Kita sudah melihat bahwa dalam kisah Transfigurasi
menurut versi Lukas, Musa dan Elia disebutkan sedang berbicara tentang kematian Yesus (9:31),
kemudian pada pasal yang sama kita menemukan berita lain tentnag nubuat-nubuat Yesus
mengenai kesengsaraan-Nya yang akan datang (9:44-45). Salah satu ciri khas Lukas yang patut
dicatat adalah Kisah Perjalanan (9:51-19:44). Bagian ini menunjukkan bahwa dari 9:51 dan
seterusnya, Lukas menampilkan salib. Seluruh bagian ini menekankan pentingnya kesengsaraan
dan kematian Kristus. Sejak awal Lukas mengatakan bahwa Yesus “mengarahkan pandangan-
Nya untuk pergi ke Yerusalem” (9:51). Ide tentang perjalanan ke Yerusalem itu diulangi beberapa
kali dalam Kisah Perjalanan. Rupanya Yerusalem bagi Lukas adalah kota tujuan, tempat Allah
akan menyelesaikan karya keselamatan melalui sengsara Tuhan, tempat Roh Kudus akan
diberikan, tempat jemaat akan lahir.
b.2.6. Kemenangan Allah

Seluruh Injil Lukas mengetengahkan peperangan antara kebaikan dan kejahatan, antara allah dan
Iblis—suatu pertempuran yang mencapai klimaksnya pada kayu salib. Lukas tidak meragukan
bahwa akhirnya kemenangan bukanlah di pihak kejahatan, melainkan di pihak Allah dan kebaikan.
Iblis aktif terutama dalam sengsara dan kematian Yesus. Ia punya andil dalam pengkhianatan
Yudas dengan jalan merasukinya (22:3). Ia ingin menampi Petrus bagaikan gandum (22:31).
Tentu saja kayu salib menuju pada kebangkitan, yakni kemenangan gemilang Kristus atas
kejahatan. Akhir Injil Lukas dan pembukaan Kisah Para Rasul penuh dengan getaran
kemenangan itu.

C. TEOLOGI LUKAS: PNEUMATOLOGI DAN KEMURIDAN5

c.1. Pneumatologi

Lukas banyak berbicara tentang Roh Kudus. Ia menggunakan kata pneuma sebanyak 36 kali
dalam Injilnya dan 70 kali dalam Kisah Para Rasul. Jumlah tersebut dalam Kisah Para Rasul
merupakan jumlah terbanyak dalam seluruh PB (1 Korintus dengan 40 kali, menduduki tempat
kedua, namun jumlah kata tersebut dalam semua tulisan Paulus yang mencapai 146 kali itu
melebihi Lukas). Kadang-kadang ia memakai kata pneuma untuk menyebut roh-roh najis yang
selalu menentang Yesus (4:33; 9:39, Kisah 5:16; 8:7), tapi kebanyakan ia menggunakannya untuk
menyebut Roh Kudus.

Lukas mengawali tema ini sejak malaikat menyampaikan pesan kepada Zakharia bahwa anak
yang akan dilahirkan baginya “akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya” (1:15).
Tak ada bagian dan hidup Yohanes Pembaptis yang dijalaninya tanpa kehadiran Roh Kudus.
Kedua peristiwa yang dialami oleh Elisabet (1:41) dan Zakharia (1:67) menyatakan pencurahan
Roh Kudus untuk kesempatan-kesempatan khusus. Seangkan apa yang kita baca tentang
Simeon yang diatasnya “Roh Kudus ada” (2:25), rupanya lebih merupakan suatu keadaan tetap
(2:26-27).

c.1.1 Yesus dan Roh Kudus

Ada beberapa pernyataan penting yang menghubungkan Roh Kudus dengan Yesus. Pertama-
tama, Roh Kudus memainkan peranan penting dalam mewujudkan inkarnasi (1:35). Selanjutnya
dalam peristiwa Yesus dibaptiskan (3:16, 22) dan dalam kisah pencobaan (4:1). Kisah Para Rasul
mencatat perintah Yesus kepada para murid untuk tinggal di Yerusalem menantikan “janji Bapa”,
sesudah itu Ia berkata, “Sebab Yohanes membaptis dengan air, tapi tidak alam lagi kamu akan
dibaptis dengan Roh Kudus” (Kisah 1:4-5, 8).

5
Leon Morris, Ibid, hlm. 265-306.
c.1.2. Pentakosa

Bagi Lukas peristiwa Hari Pentakosta adalah amat penting. Ia mencatat kata-kata Yesus bahwa
Bapa Surgawi “akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (11:13).
Yesus melihat penggenapan nubuat Yohanes Pembaptis bahwa Ia akan membaptis degan Roh
Kudus, bukan dalam karya-karya-Nya selama Ia hidup di dunia ini, melainkan dalam pencurahan
Roh yang dikisahkan dalam Kisah 2. Bukan hanya gejala fisik yang luar biasa (Kisah 2:2-3) yang
menyertai peristiwa hari Pentakosta, tapi juga perubahan dalam hidup para murid. Ada banyak
berita mengenai bimbignan yang diberikan Roh Kudus kepada para hamba Allah, dimulai dalam
Sidang di Yerusalem (Kisah 15:28, 32) dan dalam kisah perginya Paulus ke Yerusalem (Kisah
19:21, 23; 21:4). Selain itu, nyata dari semuanya itu bahwa Roh itu satu Oknum yang sangat
penting. Kata Yesus, setiap kata yang diucapkan melawan Anak Manusia dapat diampuni, tetapi
setiap orang yang menghujat Roh Kudus tidak akan diampuni (12:10). Ananias dan Safira mati
karena berdusta terhadap Roh Kudus (Kisah 5:3) dan “bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan”
(ayat 9). Stefanus mengeluh bahwa orang-orang yang menuduh dia selalu menentang Roh sama
seperti nenek moyang mereka (Kisah 7:51).

c.2. Kemuridan

Karya Allah dalam diri Kristus menuntut suatu tanggapan, dan sama gamblangnya dengan para
penulis Injil lainnya Lukas menyatakan bahwa orang-orang harus memberikan tanggapan. Inilah
bagian yang khas di dalam teologi Lukas yang membedakannya dari teologi-teologi Injil lainnya,
yaitu Kemuridan.

Beberapa ajaran Yesus tentang kemuridan sebagian besar terdapat pada Injil Lukas saja (14:25-
33; Matius 10:37-38 paralel dengan ayat-ayat 26-27). Kemudian Lukas mencatat dua
perumpamaan yang menekankan pentingnya memperhitungkan biaya (14:28-33). Seorang petani
yang memutuskan untuk membangun sebuah menara akan tampak tolol apabila ia memulai
pembangunannya, tapi kemudian ternyata ia tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya karena
kehabisan uang. Seorang raja yang mau pergi berperang harus memperhitungkan apakah ia
memiliki pasukan yang mampu mengalahkan musuh; jika ia tidak mempunyai pasukan semacam
itu, ia tidak akan pergi bertempur, melainkan mengusahakan perdamaian sebelum perang pecah.
Kedua kisah ini mengandung pokok-pokok pikiran yang serupa, namun tidak identik. Si petani bisa
membangun, bisa juga tidak, sesuai dengan kehendaknya sendiri; sedangkan si raja berada
dalam bahaya. Ia sedang diserbu; raja yang lain “mendatanginya” dan ia harus mengambil suatu
tindakan. Dalam hal yang pertama, pertanyaan yang diajukan kepada calon murid adalah,
“Dapatkah engkau memenuhi tuntutan menjadi seorang murid?” Dalam hal kedua, pertanyaannya
adalah, “Dapatkah engkau menolak menjadi murid?” Kedua gagasan ini penting dalam
pandangan Lukas.
Ada banyak pokok kemuridan yang dibicarakan oleh Lukas, namun karena sifatnya yang rancuh
maka hanya dua saja yang akan kita bahas di sini:

c.2.1. Universalisme Injil

Mungkin Lukas adalah seorang yang bukan Yahudi. Hal ini bisa menjelaskan mengapa ia
menunjukkan bahwa keselamatan dalam Kristus itu terbuka bagi semua orang dari segala ras.
Bukannya Lukas meremehkan orang-orang Yahudi. Dengan mengutip nyanyian pujian Simeon,
Lukas berbicara tentang keselamatan dari Allah sebagai “terang yang menjadi penyataan bagi
bangsa-bangsa lain,” namun ia segera menambahkan, “dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu,
Israel” (2:32).

Menarik bahwa Injil Matius, Injil kepada orang “Yahudi” itu, mengisahkan kunjungan orang-orang
majus pada pembukaannya dan mengakhirinya dengan amanat untuk memberitakan Injil kepada
seluruh bangsa di dunia. Injil Lukas, Injil kepada bangsa bukan Yahudi, diwali dan diakhiri dengan
Bait Allah di Yerusalem! Dan Lukaslah yang bercerita tentang kanak-kanak Yesus yang
dipersembahkan di Bait Allah (2:22) dan tentang kunjungan-Nya ke Bait itu ketika Ia berusia 12
tahun (2:41-51).

Kendati semuanya itu, Lukas tetap berpandangan luas. Baginya orang dari semua bangsa
termasuk dalam lingkup keselamatan (2;14; 3:4-6).

Baik Matius maupun Lukas menyajikan silsilah Tuhan, akan tetapi kalau Matius mengawalinya
dengan Abraham, maka Lukas menelusurinya ke belakang sampai kepada Adam (3:38), leluhur
semua orang dan bukan hanya leluhur bangsa Yahudi. Beberapa perwakilan bangsa-bangsa yang
disebut di dalam tulisan Lukas antara lain adalah orang-orang Samaria (10:30-37, Kisah 8:1-25)
dan janda di Sarfat serta Naaman orang Siria (4:26-27).

Dalam khotbah tentang akhir zaman Yesus menyebut tentang bangsa-bangsa bukan Yahudi
(21:24). Dalam Kisah Para Rasul, penglihatan Petrus, kunjungannya kepada Kornelius,
pembaptisan orang-orang bukan Yahudi, dan perjalanan misi Paulus di Antiokhia di Pisidia (Kisah
13:46), semuanya membuktikan tentang urgennya pemberitaan Injil kepada bangsa-bangsa lain.

Perhatian Lukas kepada universalisme Injil tidaklah terbatas pada lingkup nasional dan geografis
saja. Lukas memandang penting bahwa orang dari segala bangsa masuk ke dalam lingkup
aktivitas Kristus yang menyelamatkan itu dan juga penting bahwa Injil disampaikan kepada
kelompok orang yang dalam hal tertentu dirampas hak-haknya, seperti kepada kaum wanita,
anak-anak, kaum miskin, dan orang-orang yang dipandang hina dalam masyarakat.

c.2.2. Eskatologi

Orang-orang yang memandang Lukas sebagai salah seorang pembentuk katolisisme awal kurang
begitu memperhitungkan perhatian Lukas pada eskatologi. Pikirannya terarah pada penghakiman
eskatologis, ketika ia bercerita tentang Yohanes Pembaptis, yakni tentang “Kapak sudah tersedia
pada akar pohon” (3:9), dan tentang penampian dan pembakaran debu jerami dalam api yang tak
terpadamkan (3:17). Lukas mengisahkan bagaimana Yesus menyuruh 70 murid untuk berkata,
“Kerajaan Allah sudah dekat padamu” (10:9) dan kalau orang tidak menerima pemberitaan
mereka, mereka harus mengebaskan debu kota itu dari kaki mereka di depan penduduknya
sambil berkata, “Tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat” (10:11).

Lukas juga mengharapkan supaya kita melihat makna eskatologis dalam khotbah-khotbah tentang
perjamuan pada Lukas 14. Perlu kita ingat bahwa menurut paham Yahudi perjamuan mesianis
merupakan bagian integral dari gambaran tentang eskatologi, dan ketika Yesus berbicara tentang
perjamuan barangkali hal ini yang ada dalam pikiran-Nya, apapun penerapan yang mungkin ada
pada waktu itu.

D. TEOLOGI LUKAS : KONTEKSTUAL6

Lukas meliput perjalanan Paulus dalam kitab Kisah Para Rasul. Seluruh cerita Lukas dibangun
dengan pusat kebangkitan Yesus. Bagi Lukas, di luar keyakinan kepada kebangkitan Yesus
bukanlah iman Kristen yang sesungguhnya (bdk. 1Kor. 15:1-20). Dalam hal ini, para rasul adalah
saksi-saksi kebangkitan itu. Khotbah-khotbah mereka merupakan pemberitaan yang berpusat
pada kebangkitan Kristus sebagai pembalikan total atas kebenaran manusia yang dilakukan oleh
Allah sendiri (bdk. Kis. 2:22-24, 36; 3:14-15; 5:30-31; 10:39-42). Maka, pada tahun 46 atau
sekitarnya gereja di Antiokhia telah tumbuh menjadi suatu kelompok yang mantap dan aktif.
Ketika mereka sedang menjalankan ibadah sebagaimana biasanya, datanglah panggilan untuk
meng-"khususkan Barnabas dan Saulus" (Kis 13:2) untuk melakukan suatu tugas khusus. Untuk
menaati perintah Roh Kudus, gereja mengkhususkan kedua orang ini untuk menjalankan tugas
yang baru dan mengutus mereka untuk menjalankan misinya baik ke Siprus, tempat asal
Barnabas, Antiokhia di Pisidia, dan di Ikonium, Listra juga Derbe.
Dengan pokok pemberitaan yang sangat sentral ialah keselamatan dari Allah dikehendaki
bagi seluruh umat manusia, maka para Rasul mengemas isi berita Injil secara kontekstual.
Sebagaimana yang terjadi dalam sidang jemaat di Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 15,
Golongan orang Yahudi percaya bahwa orang Yunani harus menjadi seperti orang Yahudi untuk
memperoleh keselamatan. Namun, hal ini dibantah oleh, Golongan Paulus yang percaya bahwa
baik orang Yahudi maupun orang Yunani diselamatkan hanya oleh iman. Mereka tidak usah
meninggalkan kebudayaan atau adat-istiadat mereka untuk diselamatkan, asalkan mereka mau
bertobat dan percaya kepada Yesus.

Begitu juga pada waktu paulus di athena, ia memakai pendekatan kontekstual dalam Kisah
Para Rasul 17:22-34, untuk menjadikan sebuah mezbah, bukan sebuah patung berhala sebagai

6
B.F. Drewes. Ibid, Hal. 6
titik tolak peyampaian Injil. Melalui mezbah ini. Paulus kemudian menyatakan bahwa tugas dan
tujuannya ialah memperkenalkan Allah yang tidak dikenal oleh mereka.