Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH GANGGUAN KESEHATAN JIWA

NON PSIKOTIK (NEUROSA)

DISUSUN OLEH :

Kelompok 2

- Annisatul Ulfiati Rifa’i (201701006)


- Erisa Bekti Pratiwi (201701016)
- Frida Ferinia (201701020)
- Nindiya Erly Agustina (201701028)
- Riko Priyandana (201701029)
- Yoga Deris Prasetiya (201701038)
- Yola Oktarina (201701039)

POLTEKKES KEMENKES MALANG PRODI D-III KEPERAWATAN


KAMPUS VI PONOROGO
T.A 2019/2020

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
Makalah Jiwa yang berjudul “Non Psikotik/Nerosa“ dengan baik. Shalawat serta
salam kami sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga
dan sahabat beliau, serta orang-orang mukmin yang tetap istiqamah di jalan-Nya.
Makalah ini kami rancang untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah
Farmakologi dan agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang gangguan jiwa
yaitu non psikotik/neurosa dan bagaimana pengobatan atau penalataksanaan dari
gangguan jiwa tersebut, yang disajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai
sumber.
Kami sangat berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu
dalam pembuatan makalah ini. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini
tidaklah sempurna. Kami mengharapkan adanya sumbangan pikiran serta
masukan yang sifatnya membangun dari pembaca, sehingga dalam penyusunan
makalah yang akan datang menjadi lebih baik.
Terima kasih

Ponorogo, 17 Januari 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul................................................................................................ i
Kata Pengantar ............................................................................................... ii
Daftar Isi......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................... 1
1.3 Tujuan ............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian ....................................................................................... 3
2.2 Diagnosa ......................................................................................... 3
2.3 Penyebab ......................................................................................... 4
2.4 Klasifikasi ....................................................................................... 6
2.5 Pola Gangguan Nerosa ................................................................... 18
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Nerosa ialah kesalahan penyesuaian diri secara emosional karena tidak
dapat diselesaikan suatu konflik tak-sadar. Kecemasan yang timbul dirasakan
secara langsung atau diubah oleh berbagai mekanisme pembelaan psikologik
dan muncullah gejala-gejala subyektif lain yang mengganggu. Penyebab
primer dari nerosa adalah psikogenik, misal adanya rasa bersalah.
Ketidakpuasaan dalam pernikahan dan pekerjaan, rasa kebencian, tidak
terpenuhinya kebutuhan akan persetujuan dan keamanan dan kejadian yang
mengesankan yang dialami penderita (Ibrahim, 2013).
Menurut Maramis, di Indonesia terdapat 17.616.000 penderita gangguan
jiwa dan diantaranya terdapat penderita nerosa sebanyak 6.500.000 orang
(36,89%). Nerosa menempati urutan pertama dibandingkan gangguan jiwa
lain. Ini berarti nerosa menjadi masalah di Indonesia. (TRISNOWATI, 2006)
Gangguan nerosa dapat dicegah dengan menghindarkan penyebab-
penyebab yang terkait. Salah satunya dengan mencegah faktor psikogenik
agar tidak menimbulkan nerosa. Untuk itu peneliti mencoba untuk
menganalisis sejauh mana faktor psikogenik yang beresiko terhadap kejadian
nerosa, yang nantinya upaya pencegahan dapat dilaksanakan dengan tujuan
menurunkan kejadian nerosa (Horney, 2015).

1.2 Rumusan Masalah


a. Apakah pengertian dari nerosa?
b. Apa saja faktor yang dapat menyebabkan nerosa?
c. Bagaimana klasifikasi dari nerosa?
d. Bagamana cara pengobatan dari nerosa?
e. Bagaimana bentuk pola gangguan dari nerosa?

4
1.3 Tujuan
a. Mahasiswa dapat mengerti apa pengertian dari nerosa.
b. Mahasiswa dapat memahami faktor yang menyebabkan nerosa.
c. Mahasiswa dapat megerti klasifikasi dari nerosa.
d. Mahasiswa dapat mengerti cara pengobatan nerosa.
e. Mahasiswa dapat memahami pola gangguan nerosa.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Nerosa adalah suatu kesalahan menyesuaikan diri secara emosional karena tidak
dapat diselesaikannya suatu konflik tak sadar. Kecemasan yang timbul dirasakan secara
langsung atau diubah oleh berbagai mekanisme pembelaan psikologik dan munculah
gejala-gejala subyektif lain yang mengganggu (Pusat Penyembuhan Penyakit Jiwa dan
Gangguan Kejiwaan di Yogyakarta, 2015).
Mula-mula dipakai istilah nerosa, tetapi kemudian untuk menegaskan bahwa
etiologinya psikogenik dan bahwa neron itu tidak apa-apa (sebab kata nerosa dapat
memberi kesan bahwa neronnya yang sakit), maka ditambah awalan psiko dijadikan
psikonerosa. Sekarang kita kembali kepada istilah semula, kita tidak ragu-ragu lagi
bahwa penyebab primer ialah psikogenik (Maramis, 2009).

2.2 Diagnosa
Penderita dengan nerosa pada umumnya menyadari bahwa ia sedang terganggu,
berbeda dengan psikosa, nerosa tidak menunjukan tanggapan yang sangat keliru terhadap
kenyataan ataupun unsur-unsur kepribadian yang sangat terganggu (Kuntojojo, 2009).
Untuk memahami suatu nerosa tidak dapat hanya dilihat dari gejala-gejalanya saja.
Gejala-gejala nerosa hanya menujukan bahwa individu itu sedang terganggu karena
keadaan tegang dan cemas. Gejala dapat menunjukan jalan kejenis konflik, tetapi
sebaiknya bila diusahakan untuk menggenal masud yang tidak sadar yang oleh individu
itu hendak dicapai dengan gejala-gejalanya (Kuntojojo, 2009).
Kita mengenal macam-macam reaksi nerotik yang dinamakan menurut gejala yang
paling menonjol. Tetapi dengan menggambarkan gejala-gejala saja belum cukup untuk
mengerti dan mengobati orang itu. Mengenal gejala baru merupakan diagnosa klinik.
Harus diselidiki bagaimanakah gejala itu sampai terjadi atau masalah apakah yang
sedang dihadapi pasien. Hal ini merupakan psikodinamika atau patogenesisnya (Horney,
2015).
Selanjutnya kita mencari faktor kontitusional dan kejadian dalam hidup individu itu
yang menghambat perkembangan kepribadian yang harmonis (Maramis, 2009).

6
Faktor Nerosa Psikosa

Perilaku umum Dekompensasi kepribadian Dekompensasi kepribadian


ringan: kontak dengan hebat: kontak dengan
kenyataan dan fungsi kenyataan sangat terganggu:
sosial terganggu penderita tidak dapat
berfungsi sosial.

Gejala-gejala Gejala-gejala psikologik Gejala-gejala bervariasi luas


dan somatik bervariasi dengan waham, halusinasi,
luas, tetapi tidak terdapat kedangkalan emosi dan
halusinasi atau gangguan gangguan perilaku yang
proses berfikir, emosi dan hebat.
tindakan yang ekstrim.
Orientasi Penderita jarang Penderita sering kehilangan
kehilangan orientasi orientasi terhadap
tehadap lingkungan. lingkungan

Pemahaman Penderita sering masih Penderita jarang sekali


(“insight”) memahami bahwa ia memahami bahwa ia
terganggu terganggu

Aspek sosial Perilaku penderita jarang Perilaku penderita


membahayakan diri sendiri berbahaya bagi diri sendiri
atau masyarakat. atau masyarakat.

Pengobatan Jarang diperlukan Biasanya diperlukan


pengobatan dirumah sakit pengobatan di rumah sakit.

2.3 Penyebab
Faktor yang menyebabkan gangguan ini terletak terutama pada bidang emosi. Tidak
jarang sejak jaman kanak-kanak terdapat sifat yang merupakan gejala nerosa. Tetapi
yang sudah sedemikian berakar didalam kepribadian sehingga tidak dapat dipisahkan lagi
dan dianggap sebagai sifat kontitusional (Kuntojojo, 2009).
Tetapi mungkin juga bahwa hal itu tidak diwariskan, akan tetapi diperoleh pada
waktu individu itu masih kanak-kanak. Banyak peneliti berpendapat bahwa tidak sedikit
reaksi yang abnormal berdasarkan konflik pada masa kanak-kanak (Kuntojojo, 2009).
Untuk mengerti suatu nerosa harus dicari hubungan antara gejala sekarang dengan
suatu situasi pada masa kanak-kanak yang masih belum dapat diatasi secara emosional
oleh individu itu. Seperti luka yang sudah sembuh, tetapi parutnya masih sangat sensitif
dan nyeri bila tersentuh (Kuntojojo, 2009).

7
Bila kemudian terdapat suatu benda atau suatu keadaan yang mengingatkan kepada
keadaan dahulu,maka timbulah suatu nerosa. Dan meskipun proses ini berjalan secara
tidak disadari, secara otomatis, akibatnya ialah timbul rasa cemas (Maramis, 2009).
Dalam banyak hal dapat ditemukan gejala pada masa kanak-kanak yang
menunjukkan adanya kecemasan seperti enuresis, jerit-jeritan waktu tidur, kelainan
bicara, mudah marah, kekejaman, penarikan diri, menggigit kuku dan lain-lain (Maramis,
2009).
Selain memeriksa adanya “perut” ini , kita menyelidiki juga adanya rasa salah,
peristiwa yang mengesankan, ketidakpuasan dalam pernikahan (terutama hubungan
seksual) dan pekerjaan. Kejadian yang baru sering hanya merupakan faktor yang
mempercepat timbulnya gangguan (faktor pencetus) (Maramis, 2009).
Meskipun banyak orang yang terhambat oleh gejala nerotik, tetapi sebaliknnya
didunia ini terdapat tidak sedikit hasil karya yang gilang-gemilang yang merupakan hasil
mekanisme pembelaan, terutama dalam bidang seni dan sastra. Akan tetapi hal ini tdak
dapat dikatakan begitu saja, tetapi perlu diteliti hidup emosi, latar belakang, kepribadian,
motivasi dan sebagainya mengenai orang yang bersangkutan (Ibrahim, 2013).
Kebanyakan penyebab nerosa terdapat dalam perasaan yang direpresi, didesak lalu
diubah atau dialihkan menjadi dorongan rasa kebencian, permusuhan, kebutuhan akan
persetujuan dan keamanan, ketidakmampuan untuk mengadakan ketertiban dan
keamanan dalam penghidupan. Hal-hal ini sendiri kemudian sering menimbulkan konflik
dan menimbulkan kecemasan yang menjadi sumber utama nerosa (Maramis, 2009).
Suatu reaksi abnormal biasanya timbul bukan karena satu faktor saja (hanya satu
faktor dari dalam kepribadian atau hanya satu faktor dari lingkungan atau pengalaman
individu), tetapi karena beberapa faktor yang bertemu dan menjadi kombinasi tertentu
sehingga akhirnya timbulah gangguan itu. Kadang-kadang faktor ini terletak pada sikap
dan hubungan sehari-hari dengan orang yang berpengaruh pada masa kanak-kanak.
Faktor ini mungkin juga terletak dengan kehidupan psikoseksual yang mempunyai
banyak larangan, kebiasaan dan kepercayaan sehingga terpaksa dibangun pertahanan
terhadap keinginan dan dorongan dibidang ini. Faktor lain dapat dicari dalam perasaan
bersalah, situasi sosial (pernikahan, pekerjaan, teman) (Maramis, 2009).

8
2.4 Klasifikasi
Menurut gejala-gejala, nerosa di dalam (Pusat Penyembuhan Penyakit Jiwa dan
Gangguan Kejiwaan di Yogyakarta, 2015) dibagi menjadi beberapa jenis nomor kode
300, yaitu :
1. Nerosa cemas
2. Nerosa histerik :
a. Reaksi konvensi
b. Reaksi disosiasi
3. Nerosa fobik
4. Nerosa obsesif-kompulsif
5. Nerosa depresif
6. Nerosa nerastenik
7. Nerosa depersonalisasi
8. Nerosa hipokondrik
Jenis-jenis ini tidak merupakan kesatuan dalam hal etiologi, psikodinamika ataupun
gejala. Batas anatara jenis-jenis tidak begitu jelas. Pada tiap jenis terdapat ciri-ciri jenis
lain. Kita hanya menamakan suatu jenis tertentu menurut gejala yang terkemuka atau
yang paling menonjol pada penderita. Jarang terdapat suatu nerosa cemas yang murni,
begitu juga dengan jenis lain. Kadang-kadang seorang pasien menunjukkan begitu
banyak gejala sehingga sukar untuk memasukkannya ke dalam salah satu golongan
(Maramis, 2009).
Juga batas antara “normal” dan nerosa tidak begitu jelas. Banyak sifat perorangan
sebenarnya merupakan mekanisme pembelaan nerotik yang telah dipergunakannya
seumur hidup pada waktu-waktu menghadapi situasi tertentu. Nanti bila individu itu atau
orang lain dilingkungannya mengeluh karenannya , baru ia mencari pertolongan (pada
orang lain atau pada dokter, yang lalu mendiagnosannya sebagai nerosa) (Maramis,
2009).
Selanjutnya kita akan membicarakan berbagai jenis nerosa. Menurut (Sobur, 2016)
macam-macam nerosa dapat dibagi sebagai berikut, yaitu :
1) Nerosa Cemas
Pada nerosa cemas, seperti telah dikatakan tadi, kecemasan tidak terikat pada
suatu benda atau keadaan akan tetapi mengambang bebas. Bila kecemasan hebat

9
sekali mungkin terjadi panik. Orang itu menjadi berbahaya dengan sikap yang
agresif dan mengancam.
Gejala-gejala (komponen) somatik mungkin berupa napas sesak, dada tertekan,
kepala enteng seperti mengambang, linu-linu, epigastrium nyeri, lekas lelah,
palpitasi, keringat dingin. Macam gejala yang lain mugkin mengenai motorik,
pencernaan, pernafasan, sistem kardiovaskuler, genitourinaria atau susunan saraf
pusat.
Gejala-gejala (komponen) psikologik mungkin timbul sebagai rasa was-was,
khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan (umpamanya akan
bepergian, tetapi pikir-pikir nanti terjadi apa-apa di tengah jalan sedang bepergian
ingat-ingat tentang hal-hal yang mungkin terjadi di rumah), prihatin dengan pikiran
orang mengenai dirinya. Penderita tegang terus-menerus dan tak mampu berlaku
santai. Pemikirannya penuh tentang kekhawatirannya. Kadang-kadang bicaranya
cepat, tetapi terputus-putus.
Pada pemeriksaan fisik terdapat nadi yang sedikit lebih cepat (biasanya tidak
lebih dari 100 per detik), pernapasan yang cepat (kadang-kadang hiperventilasi
dengan keluhan-keluhan yang menyertainya. Gangguan psikosomatik saluran
pernapasan), kaki dan tangan dingin, tremor pada jari-jari tangan dan reflex tendon
yang meningkat
Disamping kecemasan terdapat juga gejala-gejala lain seperti depresi, amarah,
perasaan tak mampu, gangguan psikosomatik, dan sebagainnya. Kadang-kadang
kecemasan tidak tampak jelas dalam keadaan bangun, tetapi dalam tidur keluar
tanda-tandanya seperti mimpi yang menakutkan dan sering terkejut bangun. Pada
keadaan cemas yang menahun mungkin terjadi serangan-serangan kecemasan yang
akut.
Faktor pencetus sering jelas dan secara psikodinamik berhubungan dengan
faktor-faktor yang menahun seperti amarah yang direpresi tau impuls untuk
melampiaskan hal sex. Biasanya urut-urutan kejadian sebagai berikut : Ketakutan
(kecemasan akut) → represi dan konflik (tak sadar) → kecemasan menahun → stres
pencetus → penurunan daya tahan dan mekanisme untuk mengatasi → nerosa cemas
Pengobatan dan prognosa
Mencari dan membicara kan konflik, menjamin kembali (“reassurance”), gerak
badan serta reaksi yang baik dan obat tranquilazer biasanya dapat menghilangkan
dengan segera nerosa cemas yang baru.

10
Prognosa pada umumnya tergantung pada kepribadian sebelumya (bila relatif
setabil, maka prognosa lebih baik), permulaannya (bila akut, maka prognosa), bila
stres yang menimbulkan nerosa cemas itu mudah diatasi, maka prognosa juga baik,
bila gejala-gejala itu mengguntungkan penderita (mendapatkan kasih sayang,
perhatian, simpati, uang, pembebasan tanggung jawab), maka prognosa jelek.

2) Nerosa Histerik
Pada nerosa ini fungsi badaniah atau mental hilang, terutama bila penderita
menghadapi keadaan yang menimbulkan emosi yang sering yang mempunyai arti
simbolik mengenai suatu konflik. Gejala-gejala dapat dimodifikasi hanya dengan
sugesti.
Nerosa histerik bagi menjadi dua jenis, yaitu reaksi konversi dan reaksi
disosiasi.
a. Reaksi konversi (nerosa histerik, jenis konversi).
Pada reaksi konversi kecemasan dikonversikan, diubah, menjadi gangguan
fungsional susunan saraf somatomotorik atau somatosensorik (yaitu saraf yang
dapat dipengaruhi kemauan/ kehendak kita).
Gejala-gejala yang mungkin timbul ialah kelumpuhan satu atau beberapa
ekstremitas (astasia abasia atau tidak berdaya untuk duduk, berdiri danberjalan),
kejang kejang, anestesia, analgesia, buta atau tuli. Dengan timbulnya gejala-
gejala ini, maka rasa cemas akan hilang. Hal disebut ini keuntungan primer
(primary gaun). Akan tetapi dengan tambulnya gejala-gejala ini sering juga
terdapat keunrungan sekunder (secondary gain) berupa keuntungan material atau
emosional seperti menarik perhatian, lebih dilayani, mendapatkan cinta kasih,
penggantian kerugian, hadiah dan sebagainya.
Pada reaksi konversi keuntungan sekunder sangat mencolok. Sikap pasien
terhadap gangguannya juga acuh tak acuh, gejala ini oleh Janet dalam bahasa
Perancis dinamakan “a belle indifference" atau "keacuhan yang indah" dan
merupakan gejala yang penting pada reaksi konversi.

Pengobatan
Psikoterapi suportif (sugesti dapat menghilangkan gejala-gejala secara
dramatis pada reaksi konversi yang baru), dapat diberi tranquilaizer atau

11
dilakukan narkosintesa. Penderita perlu dibantu menjadi lebih bebas dalam
perbuatannya, lebih independent dan percaya pada diri sendiri.
b. Reaksi disosiasi (nerosa histerik, jenis disosiasi)
Kadang-kadang kecemasan itu begitu hebat sehingga mengakibatkan
pemisahan beberapa fungsi kepribadian satu dari yang lain dan bagian itu
terisolasi serta bekerja secara otonom maka timbullah reaksi disosiasi.
Umpamanya terjadi amnesia hal-hal yang menimbulkan stres itu dilupakan.
Bahwa maksud penderita memang demikian dapat dilihat dari sikap acuh
terhadap amnesianya itu.
Mungkin juga timbul gangguan kesadaran yaitu stupor atau kadang kadang
keadaan senja ("twilight state") yang dapat menyerupai psikosa. Pada fugue orang
itu tiba-tiba berubah kesadarannya dan dalam keadaan iniidentitasnya berubah, ia
berbuat lain dari pada biasa, mungkin pergi ketempat yang jauh-jauh. Sesudahnya
terdapat amnesia, ia lupa segala hal yang telah terjadi sewaktu ia dalam keadaan
fugue itu.
Pengobatan
Psikoterapi suportif, menemukan konflik, memakai dan menganalisa
transferensi. Dapat dilakukan juga hipnosa dan narkosintesa Bila kecemasan
jelas, dapat diberi tranquilairer. Pengobatan pada umumnya sama dengan
pengobatan terhadap reaksi konversi.

3) Nerosa Fobik
Menurut Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa ke 1 (PPDG 1)
nerosa fobik "ditandai oleh rasa takut yang hebat sekali terhadap suatu benda atau
keadaan yang oleh individu sebenarnya disadari sebagai bukan ancaman". Rasa takut
ini dapat mengakibatkan perasaan seperti akan pingsan, lelah, palpitasi, berkeringat,
mual, tremor dan panik.
Bila penderita menghadapi barang atau keadaan itu ia akan tidak berdaya lagi
untuk berbuat apa-apa dan bila ia dipaksa mungkin timbul panik, atau ia pingsan.
Bila pasien harus melakukan perbuatan yang fotik itu, secara tidak sadar hal itu
berarti baginya seperti ia harus melakukan perbuatan yang dilarang dan yang telah
menimbulkan kecemasan semulanya.

12
Fobi mungkin begitu keras sehingga penderita tidak dapat berbuat apa apa, tidak
berani meninggalkan rumah atau tidak dapat bekerja. Bila dihadapi dengan obyek
yang ditakuti, maka mungkin terjadi panik.

4) Nerosa Obsesif Kompulsif


Istilah obsesi menunjuk pada suatu idea yang mendesak tidak dapat ditahan
untuk melakukan sesuatu, sering suatu pikiran obsesif. Istilah kompuls menunjuk
pada dorongan atau impuls yang mengakibatkan suatu tindakan kompulsif.
Terdapat beberapa persamaan antara obsesi dan kompulsi, yaitu
1. Suatu pikiran atau dorongan mendesak ke alam sadar secara gigih menerus.
2. Timbul perasaan takut yang hebat dan penderita berusaha untuk menghilangkan
pikiran atau dorongan itu,
3. Obsesi dan kompulsi iru dirasakan sebagai asing, tidak disukai, diterima dan tidak
dapat ditekan.
4. Penderita tetap sadar akan gangguan ini, ia tetap mengenal bahwa hal ini tidak
wajar dan tidak rasional, biarpun obsesi atau kompulsi itu sangat hebat
5. Penderita merasakan suatu kebutuhan yang besar untuk melawan obsesi dan
kompulsi itu.
Pada nerosa jenis ini individu menghilangkan kecemasannya dengan perbuatan
buah pikiran yang berulang ulang. Penderita mengetahui bahwa perbuatan dan
pikirannya itu tidak masuk akal, tidak pada tempatnya sesuai dengan keadaan, tetapi
ia tidak dapat menghilangkannya dan ia udak tidak mengerti mengapa ia mempunyai
dorongan yang begitu kuat berbuat dan berpikir demikian. Bila ia tidak maka akan
timbul kecemasan yang hebat.
Mungkin hanya obsesi atau kompulsi saja, mungkin juga obsesi itu
menyebabkan kompulsi Pikiran obsesif itu sering tentang hal hal yang tidak
menyenangkan atau yang bertentangan dengan norma sosial atau kesusilaan.
Obsesi mungkin merupakan kesangsian tentang apa yang telah dikerjakan,
umpamanya waktu mau tidur berulang ulang melihat apakah pintudan jendela sudah
dikunci baik-baik.
Kompulsi ialah suatu tindakan dilakukan berkali-kali, umpamanya sering
mencuci tangan, menghitung nomer nomer rumah atau mengatur barang barang
tertentu ke dalam posisi tertentu. Kadang kadang perbuatan kompulsi sangat

13
kompleks. Tidak jarang juga kompulsi terjadi karena fobi (cuci tangan karena
bakteriofobia) atau sebab obsesi (cuci tangan karena obsesi tangannya itu kotor).
Pengobatan dan prognosa
Dapat dipakai psikoterapi suportif, penerangan dan pendidikan.obat psikotropik
berguna untuk mengurangi ketakutan secara simptomi bila (umpamanya kombinasi
medazepam dan perfenazini dan antidepresant bila perlu).

5) Nerosa Depresif
Nerosa depresif ialah suatu gangguan perasaan dengan ciri ciri semangat
berkurang, rasa harga diri rendah, menyalahkan diri sendiri, gangguan tidur dan
makan.
Karena manusia bereaksi secara holistik, maka pada depresi terdapat juga
komponen psikologik dan komponen somatik. Gejala-gejala psikologik ialah
menjadi pendiam, rasa sedih, pesimistik, putus asa, nafsu bekerja dan bergaul
berkurang, tidak dapat mengambil keputusan, lekas lupa, timbul pikiran pikiran
bunuh diri. Perlu dibedakan antara perasaan yang kadang-kadang timbul bahwa
hidup ini tidak ada gunanya, dan pemikiran khusus tentang bunuh diri, serta
rancangan bunuh diri yang sering.
Gejala badaniah ialah penderita kelihatan tak senang, lelah, tak bersemangat
atau apatis. Bicara dan gerak-geriknya pelan dan kurang hidup. Terdapat anorexia
(kadang kadang makan terlalu banyak sebagai pelarian), insomnia (sukar untuk
tertidur) dan konstipasi.
Nerosa depresif sering berakar pada rasa salah tak-sadar. Penderita secara tak
sadar ambivalent terhadap seseorang yang harus ditaatinya menurut norma-norma
masyarakat. Umpamanya seorang gadis tidak dapat menikah sebab harus menjaga
ibunya. Rasa bermusuhan itu yang sebenarnya timbul terhadap ibunya itu (tetapi
dilarang oleh norma norma) diarahkan kepada dirinya sendiri.Pada waktu depresi
akan menjadi berat, maka timbul bahaya bunuh-diri.
Depresi juga mungkin timbul karena gangguan badaniah (bukan depresif,
umpamanya pemakaian reserpin dan steroid, gangguan hormonal seperti disfungsi
tiroid, menopauze dan disfungsi kortikal adrenal, gizi dan elektrolit, tumor otak,
aterosklerosa otak dan sklerosa multiplex.

14
Pengobatan dan prognosa
Bila diagnosa depresi sudah dibuat, maka perlu dinilai beratnya depresi d
besarnya kemungkinan bunuh diri. Hal ini ditanyakan dengan bijaksana dan
penderita sering merasa lega bila ia dapat mengeluarkan pikiran-pikiran bunuh diri
kepada orang yang memahami masalahnya. Bila sering terdapat pikiran-pikiran atau
rancangan bunuh diri, maka sebaiknya penderita dirawat di rumah sakit dengan
pemberian terapi elektrokonvulsi di samping psikoterapi dan obat antidepresi.
Bila depresi itu tidak berat, maka dapat diobati ambulatoar, menyelidiki sumber
stres dan psikodinamika, suportif dan obat antidepresi. Disamping depresi sering
terdapat juga kecemasan yang timbul sekunder karena depresi itu (pada nerosa
cemas kecemasan itu timbul primer) Bila terdapat kecemasan, maka di samping obat
antidepresi dapat diberi obat anti cemas (tranquilaizer) atau neroleptik. Bila
masalahnya ialah rasa harga diri yang rendah, maka penderita dibantu untuk lebih
mengenal diri sendiri serta kemampuannya dan menerima sebagaimana ia adanya.
Hati nurani yang terlalu keras, sehingga sering menyalahkan diri sendiri, perlu
dimodifikasi.
Nerosa depresif biasanya hilang secara spontan tanpa pengobatan. Akan tetapi
tanpa pengobatan berlangsungnya mungkin lama dan penderita tetap peka terhadap
episoda depresi di hari kemudian. Dengan pengobatan depresi lekas hilang.
Biarpun bunuh diri jauh lebih kurang pada nerosa depresi dibandingkan dengan
depresi psikotik, namun selalu kita harus waspada terhadap hal ini.

6) Nerosa Nerastenik (Nerastenia)


Menurut Pedoman Penggolongan, di nerosa nerastenik atau nerastenia ditandai
oleh keluhan kelesuan umum yang menahun, mudah lelah dan kadang-kadang
kehabisan tenaga.
Kepribadian premorbid seorang dengan nerosa nerastenik ialah terus menerus
merasa tidak puas dan merasa ditolak atau tidak diterima.
Penderita nerosa nerastik merasa lengan dan tungkainya berat, ia merasa tidak
mampu menyelesaikan pekeraannya. Satu kali ia sudah memuiai, ia dapat saja
menyelesaikan tugasnya, hanya untuk memulainya itu yang dirasakan seperti tidak
mungkin. Tidur semalam tidak membawa kesegaran karena sering ia tidak dapat
tidur dengan nyenyak. Waktu bangun pagi ia masih merasa tak kuat dan tidak segar.
Pada akhir sore hari rasa lelah sering berkurang. Bila terjadi sesuatu yang menarik

15
minatnya, maka penderita ini mungkin lupa akan lelahnya serta mulai kelihatan
hidup dan asyik.
Pengobatan dan prognosa
Belum terdapat pengobatan yang ampuh. Secara simptomatik dapat diberi obat
stimulant. Bila terdapat depresi atau kecemasan dapat diberikan psikoterapi supori
depresant atau tranquilaizer. Bimbingan yang baik, membantu pasien d kelompok
serta olahraga dapat banyak dapat memberi petunjuk untuk memahami konfliknya.

7) Nerosa Depersonalisasi
Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa ke-1 (PPDGJ-1) memerikan
nerosa depersonalisasi sebagai suatu keadaan yang didominasi oleh ketidakwajaran
(unreality) dan keasingan (estrangement) terhadap dirinya, tubuhnya atau
lingkungannya.
Diagnosa ini tidak dipakai bila depersonalisasi itu hanya merupakan gejala
gangguan mental yang lain, umpamanya reaksi situasional sementara. Perlu
diingatkan juga bahwa suatu pengalaman depersonalisasi yang singkat tidak usah
merupakan suatu gejala gangguan mental.
Pada penderita nerosa depersonadisasi terjadi perubahan kesadaran yang tidak
menyenangkan terhadap dunia luar, ia merasa aneh, barang-barang dan keadaan
yang sudah sering dilihatnya bergerak seperti otomatis atau karena suatu kekuatan
gaib. Diri sendiri dirasakan lain, asing, seperti dalam atau mungkin ia berada diluar
tubuhnya dan melihat tubuhnya dari atas.
Sering penderita merasa ditinggalkan sendirian, ditolak tidak disukai terkurung
dari dunia luar. Suara-suara dan bahasa terdengar asing baginya.
Ackner menyebut empat kriteria untuk diagnosa depersonalisasi :
1. Kenyataan yang berubah
2. Perubahan yang tidak menyenangkan
3. Perubahan persepsi ini bukan suatu waham
4. Tidak adanya respons emosional
Pengobatan
Suatu depersonalisasi yang akut dapat dihilangkan dengan tranquilaizer. Bila
kecemasan hebat, dapat diberi klorpromazin, terutama bila ada petunjuk mengenai
suatu skizofrenia. Bila terdapat depres maka diberi antidepresant. Jika terdapat
bahaya bunuh diri maka sebaiknya diberi terapi elektro konvulsi. Bila

16
depersonalisasi itu hanya merupakan suatu gejala gangguan lain, maka gangguan
yang mendasarinya harus diobati.
Nerosa depersonalisasi kadang-kadang berlangsung lama. Dengan psikoterapi
jangka panjang dan obat-obatan dapat diperoleh kesembuhan simptomatik, tetapi
penderita kadang kadang masih tetap mengalami serangan serangan depersonalisasi
itu.

8) Nerosa Hipokondrik
Keadaan ini ditandai oleh pikiran yang terpaku (preoccupied) pada kesehatan
fisik atau mentalnya, penderita takut akan adanya penyakit pada berbagai bagian
tubuh. Begitulah pemerian Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan ke-1
(PPDGJ-1) tentang nerosa hipokondrik. Selanjutnya dikatakan bahwa walaupun
ketakutan tersebut belum mencapai tingkat waham seperti pada depresi psikotik,
sukar sekali untuk menghilangkannya dengan jalan sugesti dan bujukan. Berlainan
dengan nerosa histerik, tidak terdapat kehilangan fungsi tubuh.
Seorang hipokondriak terus berbicara tentang keluhannya dengan teman waktu
diperiksa oleh dokter seakan-akan tidak temannya dan menghiraukan perkataan
dokter itu, perhatiannya hanya pada gangguannya Ia memerikan keluhan dan
gejalanya secara terperinci serta perubahan perubahan kecilpun sudah dirasakan. Ia
sering memakai istilah istilah kedokteran" dan menyebut nama obat-obat yang telah
dipakainya karena biasanya ia sudah keliling dari dokter yang satu ke dokter yang
lain dan telah mencoba berbagai macam cara pengobatan non-medik.
Pengobatan dan prognosa
Bila setelah pemeriksaan yang teliti tidak terdapat gangguan organik dan
pemeriksaan psikiatrik memang menunjukkan pada suatu nerosa hipokondrik, maka
dokter harus tegas dan tidak ragu-ragu. Sering mengulangi pemeriksaan dapat
memperkokoh gejala-gejala pada pasien.
Prognosa biasanya jelek, terlebih bila gejala-gejala sudah terdapat sejak masi
anak-anak. Dengan psikoterapi suportif, penjaminan kembali, sugesti, bimbingan
dan tranquilaizer (atau neroleptika dalam dosis rendah) dapat dicapai peringanan dan
penderita dapat berfungsi terus dalam masyarakat. Dapat dipakai juga terapi
keluarga, terapi kelompok dan latihan fisik.
Dokter tidak jarang merasakan frustrasi dalam menghadapi pasien hipokondrik
dan ia cenderung menolak atau menimbulkan perasaan benci dan muak (pemindahan

17
balasan atau counter transference), karena pasien mengharapkan suatu obat yang
mujarab, Sikap dokter seperti ini tidak akan membantu pasien.

2.5 Pola – Pola Gangguan Neurosa


a. Gangguan kecemasan
Sebagian ahli psikologi berpendapat bahwa “kecemasan” adalah ketakutan yang
tidak nyata, suatu perasaaan terancam sebagai tanggapan terhadap sesuatu yang
sebenarnya tidak mengancam; sedangkan “ketakutan” menurut batasannya adalah
suatu yang memang nyata-ketakutan akan sesuatu yang menakutkan. Penulis
psikologi lainnya secara bergantian menggunakan istilah “ketakutan” dan
“kecemasan”, sebenarnya istilah “kegugupan” dan “ketegangan” (Gunawan, 2017).
(Kuntojojo, 2009), mencoba menguraikan hubungan antara kecemasan dan
ketakutan secara terperinci. Menurut Yoseph, dalam rasa takut. Seseorang
menyadari bahwa yang sedang mengancam keselamatan dirinya. Ia bahkan didorong
dan diperkuat oleh situasi tersebut. Persepsi-persepsi indra akan menjadi lebih tajam
sehingga ia dapat menemukan jalan dan cara pemecahan yang sungguh disadari.
Lain halnya dengan kecemasan. Menurut Yoseph, dalam kecemasan orang
terancam, orang yang terancam keselamatannya tidak mengetahui langkah dan cara
yang harus diambil untuk menyelamatkan dirinya. Dalam pandangannya, kecemasan
adalah rasa yang sudah terkepung, sudah terjepit dan sudah terperangkap oleh dan
didalam bahaya. Persepsi-persepsi indriawi pun tidak bertambah tajam, sebagai
mana dalam rasa takut, tapi semakin menjadi kabur (Gunawan, 2017).
Selain perbedaan yang diuraikan diatas, Yoseph juga menyebutkan persamaan
antara keduanya. Persamaannya, menurut Yoseph, adalh baik kecemasan ataupun
ketakutan, mempunyai objek sama, yaitu “keselamatan yang terancam” dari manusia
dalam eksistensi psikologisnya. (Sobur, 2016)
Dalam buku Principle of Psychotherapy: an Experimental Approach (1996),
Maher menyebutkan 3 komponen dari reaksi kecemasan yang kuat, yaitu :
1) Emosional : orang tersebut mempunyai ketakutan yang amat sangat dan secara
sadar.
2) Kognitif : ketakutan meluas dan sering berpengaruh terhadap kemampuan
berpikir jernih, memecahkan masalah, dan mengatasi tuntutan lingkungan.
3) Psikologis : tanggapan tubuh terhadap rasa takut berupa pengerasaan diri untuk
bertindak, baik tindakan itu dikehendaki maupun tidak. (Sobur, 2016).

18
b. Gangguan fobia
James drever (1988) mengartikan fobia sebagi “ketakutan pada suatu obyek atau
keadaan yang tidak dapat dikendalikan, yang biasanya disertai dengan rasa sakit
yang perlu diobati”. Pendapat lain menyebuatka fobia sebagai “rasa takut terhadap
hal-hal yang mengancam”. Misalnya rasa takut ditempat-tempat yang tinggi
letaknya. Suprtiknya (2015), menjelaskan fobia sebagai “perasaan takut yang
bersifat menetap terhadap obyek atau situasi tertentu yang sesusngguhnya tidak
menyebabkan ancaman nyata bagi yang bersangkutan atau bahayanya terlalu
dibesar-besarkan”.
Selanjutnya, Supratiknya mengemukakan beberapa contoh fobia yang penting
sebagai berikut:
1) Akrofobia, takut terhadap ketinggian.
2) Agorafobia, takut ditempat terbuka.
3) Klaustrofobia, takut berada ditempat tertutup.
4) Hematofobia, takut melihat darah.
5) Monofobia, takut sendirian disuatu tempat.
6) Niktofobia, takut pada kegelapan.
7) Pirofobia takut melihat api.
8) Zoofobia, takut pada binatang pada umumnya atau hanya jenis binatang
tertentu.
Fobia pada umumnya memiliki beberapa sifat khusus, yaitu
 Perasaan takutnya intens dan mengganggu kegiatan sehari-hari penderita.
Misalnya, sesorang pemuda harus kehilangan pekerjaannya sebagi perawat
karena takut melihat darah (Hematofobia) atau seorang wanita eksekutif merasa
sangat terhambat pelaksanaan tugas-tuganya karena takut naik lift kendati pun
selalu dikawal oleh seorang bawahannya (klaustrofobia)
 Biasanya disertai simtom-simtom lain, seperti : pusing-pusing, sakit punggung,
sakit perut dan sebagainya.
 Kadang-kadang disertai kesulitan membuat keputusan. Gejala ini disebut
desidofobia atau takut membuat keputusan. (Sobur, 2016).

19
c. Gangguan kompulsif-obsesif
Gangguan kompulsif-obsesif yaitu penderita berulang-ulang memikirkan
pemikiran yang mengganggu atau merasa terpaksa berulang-ulang melakukan
beberapa tindakan yang tidak penting, dorongan kompulsif atau keduanya. Menurut
Calhoun dan Acocela (1990), pikiran obsesif sering bersifat agak mengeruhkan.
Sebagai contoh, orang mungkan berulang-ulang membayangkan dirinya mencekik
istrinya. Sebaiknya, dorongan kompulsif cenderung berpusat disekitar kewajibannya
dan peringatan. Dua dari dorongan kompulsif paling umum adalah mencucu
(mungkin mencuci tangan 50-60 kali sehari) dan mengecek kegiatan rutin (merasa
harus menghentikan kegiatan untuk melihat dan menyakinkan bahwa ia telah
melakukan sesuatu yang harus ia lakukan, seperti mengunci seluruh jendela dan
pintu sebelum tidur) (Ibrahim, 2013).
Seperti para penderita fobia yang umumnya menyadari tidak ada alasan drai
ketakutan merekan, penderita gangguan kompulsif-obsesif menyadari bahwa tidak
ada kepentinagan objektif untuk tetap mengunci atau mengecek apapun. Meskipun
demikian, mereka terpaksa melalukan dan mungkin mengalami kecemasan luar
biasa apabila meraka tidak mememuhi dorongan kompulsif tersebut.
Pada umunya gangguan kompulsif-obsesif lazim diderita oleh orang-orang
yang rendah diri dan merasa tidak aman, kaku suara hatinya, mudah merasa bersalah
dan mudah merasa terancam. (Sobur, 2016)

20
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Nerosa ialah suatu kesalahan penyesuaian dari secara emosional karena tidak dapat
diselesaikannya suatu konflik tak sadar. Penderita nerosa umunya menyadari
gangguannya (kecuali pada reaksi disosiasi). Hal ini berbeda dengan penderita psikosa
yang sudah kehilangan kontak dengan kenyataan.
2. Pengobatan penderita neurosa ialah tertuma psikoterapi disamping ini dapat dipakai
obat psikotropik sesuai dengan gejala sasaran (dengan mengingat bahwa obat itu
dtidak dapat menyeselaikan konflik penderita yang menimbulkan nerosa itu, tetapi
berguna dalam membantu secara simtomatik).
3. Pola – pola gangguan neurosa ada 3 yaitu:
a. Gangguan kecemasan adalah ketakutan yang tidak nyata, suatu perasaaan terancam
sebagai tanggapan terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak mengancam.
b. Gangguan fobia adalahi “perasaan takut yang bersifat menetap terhadap obyek atau
situasi tertentu yang sesusngguhnya tidak menyebabkan ancaman nyata bagi yang
bersangkutan atau bahayanya terlalu dibesar-besarkan”.
c. Gangguan kompulsif-obsesif adalah penderita berulang-ulang memikirkan
pemikiran yang mengganggu atau merasa terpaksa berulang-ulang melakukan
beberapa tindakan yang tidak penting, dorongan kompulsif atau keduanya.

21
DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, N. E. (2017). Gangguan Psikotik, Neurotik, dan Psikopatik. Jakarta.

Horney, K. (2015). Neurosis and Human Growth. Jakarta: ECG.

Ibrahim, A. S. (2013). Panik Neurosis dan Ganggaun Cemas. Jakarta: Jelajah Nusa.

Kuntojojo. (2009). Psikologi Abnormal. Kediri.

Maramis, W. F. (2009). Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.

Pusat Penyembuhan Penyakit Jiwa dan Gangguan Kejiwaan di Yogyakarta. (2015).


Diagnosis Gangguan Jiwa Rangkuman PPDGJ-III, 2003. Yogyakarta: Niko Jaya.

Sobur, A. (2016). Psikologi Umum. bandung: Pustaka Setia.

TRISNOWATI, T. (2006). Beda resiko kejadian nerosa menurut faktor psikogenik.


SURABAYA: AIRLANGGA.

22