Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masyarakat Indonesia memiliki kebudayaan yang multi dimensi, begitu


pula dengan aspek bahasa, agama, ras dan warna kulit sehingga aspek pluralitas
menjadi karakter dari bangsa ini. Dimensi keragaman di atas adalah perwujudan
dari integritas bangsa itu sendiri. Hal ini merupakan konsekuensi dari aspek
pluralitas dan multi dimensi masyarakat Indonesia, untuk itu transformasi kearifan
lokal melalui wadah pendidikan menjadi sebuah alternatif untuk kembali
membangun kemandirian bangsa di era global sekarang ini. Kearifan lokal sering
dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat (local wisdom), pengetahuan
setempat (local knowledge) atau kecerdasan setempat (local genious). Kearifan
lokal adalah sikap, pandangan, dan kemampuan suatu komunitas di dalam
mengelola lingkungan rohani dan jasmaninya, yang memberikan kepada komunitas
itu daya-tahan dan daya tumbuh di dalam wilayah dimana komunitas itu berada.
Dengan kata lain kearifan lokal adalah jawaban kreatif terhadap situasi geografis-
geopolitis, historis, dan situasional yang bersifat lokal.

Menggali dan menanamkan kembali kearifan lokal secara inheren melalui


pendidikan dapat dikatakan sebagai gerakan kembali pada basis nilai budaya
daerahnya sendiri sebagai bagian upaya membangun identitas bangsa, dan sebagai
semacam filter dalam menyeleksi pengaruh budaya lain. Nilai-nilai kearifan lokal
itu meniscayakan fungsi yang strategis bagi pembentukan karakter dan identitas
bangsa.

Peran pendidikan yang secara esensi mengandung upaya “memanusiakan


manusia” merupakan sebuah perwujudan pembentukan karakter masyarakat yang
lebih mandiri dengan berangkat dari kearifan lokal masing-masing daerah.

Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai
strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal
dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Kearifan

1
lokal pada dasarnya dapat dipandang sebagai landasan bagi pembentukan jati diri
bangsa secara nasional. Pendidikan dalam arti luas tidak hanya terjebak pada
terminologi pendidikan formal, yang memiliki acuan perjenjangan yang jelas.
Namun lebih dari itu pendidikan baik formal maupun non-formal harus mampu
melakukan transformasi local wisdom dalam aktifitas pendidikan itu sendiri.
Kerangka sederhana ini memungkinkan adanya hubungan relasional antara
pendidikan dan kebudayaan. Dengan pendidikan orang dapat berbudaya, dan
melalui budaya persaingan di era global menjadi lebih berarti.

1.2 Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang diatas, dapat dirumuskan beberapa pertanyaan


yang nantinya akan menjadi obyek kajian dalam perumusan makalah ini, yang
mencakup:

1. Memaknai kearifan lokal sebagai intisari dari kekayaan budaya yang ada di
Indonesia. Mampukah kekuatan local wisdom menjadi kekuatan dalam
persaingan di era global?
2. Bisakah Indonesia bersaing di dunia Internasional? Membaca ulang peran
masyarakat lokal dalam melestarikan pendidikan dan kebudayaan.
3. Mengetahui kearifan lokal berupa nilai sosial, kepercayaan dan tradisi
Sumatera Selatan

1.3 Tujuan

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa kearifan lokal yang ada di


Indonesia akan menemukan eksistensinya jika ditopang oleh usaha
mengintegrasikan antara pendidikan dan kebudayaan, sehinggandiharapkan
mampu memberi kontribusi kepada masyarakat guna melestarikan dan
mengembangkan local wisdom masing-masing untuk bersaing di era globalisasi.

Berangkat dari kerangka di atas maka tujuan penulisan makalah ini adalah:

2
1. Memaknai intisari kearifan lokal sebagai khasanah kekayaan bangsa,
sehingga kekuatan itu harus terus digali untuk membentuk kebudayaan yang
mampu bersaing.
2. Mengetahui konsistensi masyarakat Indonesia dalam melestarikan dan
mengembangkan kebudayaan nasional melalui aspek pendidikan.

1.4 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah:

1. Memberikan gambaran akan kekayaan budaya yang seharusnya menjadi


kekuatan untuk bersaing di dunia Internasional.
2. Menjadikan kekuatan menulis sebagai kultur intelektual untuk membangun
peradaban masyarakat Indonesia.
3. Memposisikan peranan penting pendidikan dalam membangun kekuatan
kebudayaan.

1.5 Metode Penulisan

Proses penulisan makalah ini berangkat dari minat untuk melakukan riset
secara sederhana dalam lingkup literatur kepustakaan yang selanjutnya membentuk
gagasan, konsep maupun teori. Proses ini dilakukan melalui penelusuran dan
menelaah referensi-referensi yang ada kaitannya dengan tema yang penulis angkat.
Sebagai layaknya studi kualitatif yang sederhana proses bimbingan dan dialog
secara intensif juga kami lakukan dalam perumusan naskah ini kepada dosen
pembimbing yang bersangkutan.

Karena proses penulisan ini menggunakan pola riset yang sederhana maka
pola pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan membaca serta mempelajari
buku atau karya yang telah dikelompokkan menjadi sumber primer dan sekunder.
Sumber primer merupakan buku-buku pendidikan dan kebudayaan yang kemudian
dikorelasikan dengan tema yang diangkat.

3
Sedangkan sumber sekunder adalah buku penopang yang lain. Begitu juga
dengan jurnal, dan data-data yang bisa dipertanggung jawabkan.

Dalam pengolahan data penulis menggunakan metode deskriptif-analitis.


Deskriptif dalam artian metode yang digunakan memakai pencarian data yang
berkaitan dengan tema yang diangkat dengan interpretasi yang jelas, tepat, akurat
dan sistematis. Sedangkan analitis dimaksudkan untuk menguraikan data secara
kritis, cermat dan terarah.

Untuk memperoleh analisis yang komprehensif, berikut akan diurai


komposisi penyusunan makalah ini yakni terdiri atas tiga bab yang terdiri dari: Bab
Pertama, merupakan bab pendahuluan yang memuat tentang latar belakang,
rumusan maslah, tujuan penulisan dan manfaat penulisan. Bab Kedua, menjelaskan
tentang pembahasan dari tema yang sedang diangkat. Sedangkan Bab Ketiga,
merupakan penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

4
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kearifan Lokal

Kearifan lokal berasal dari dua kata yaitu kearifan (wisdom), dan
lokal (local). Secara umum maka local wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami
sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan,
bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Kearifan lokal
terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi
geografis dalam arti luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang
patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal
tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal.

Kearifan lingkungan atau kearifan lokal masyarakat sudah ada di dalam


kehidupan masyarakat semenjak zaman dahulu mulai dari zaman prasejarah hingga
saat ini, kearifan lingkungan merupakan perilaku positif manusia dalam
berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitarnya yang dapat bersumber dari
nilai-nilai agama, adat istiadat, petuah nenek moyang atau budaya setempat yang
terbangun secara alamiah dalam suatu komunitas masyarakat untuk beradaptasi
dengan lingkungan di sekitarnya. Wietoler dalam Akbar (2006)

Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai
strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal
dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Sistem
pemenuhan kebutuhan masyarakat tersebut meliputi seluruh unsur-unsur kehidupan
Agama/Kepercayaan, Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Ekonomi, Organisasi Sosial
(Hukum, Politik), Bahasa/Komunikasi serta Kesenian. Mereka mempunyai
pemahaman, program, kegiatan, pelaksanaan terkait untuk mempertahankan,
memperbaiki, mengembangkan unsur kebutuhan mereka itu dengan
memperhatikan ekosistem (flora, fauna dan mineral) serta sumberdaya manusia
yang terdapat pada warga mareka sendiri.

5
Kearifan lokal sesungguhnya mengandung banyak sekali keteladanan dan
kebijaksanaan hidup. Pentingnya kearifan lokal dalam pendidikan kita secara luas
adalah bagian dari upaya meningkatkan ketahanan nasional kita sebagai sebuah
bangsa. Budaya nusantara yang plural dan dinamis merupakan sumber kearifan
lokal yang tidak akan mati, karena semuanya merupakan kenyataan hidup (living
reality) yang tidak dapat dihindari.

a) Landasan Historis

Kearifan lokal dapat bersumber dari kebudayaan masyarakat dalam suatu


lokalitas tertentu. Dalam perspektif historis, kearifan lokal dapat membentuk suatu
sejarah lokal. Sebab kajian sejarah lokal yaitu studi tentang kehidupan masyarakat
atau khususnya komunitas dari suatu lingkungan sekitar tertentu dalam dinamika
perkembangannya dalam berbagai aspek kehidupan. Wijda dalam
(Koentjaraningrat, 1986).

Awal pembentukan kearifan lokal dalam suatu masyarakat umumnya tidak


diketahui secara pasti kapan kearifan lokal tersebut muncul. Pada umumnya
terbentuk mulai sejak masyarakat belum mengenal tulisan (praaksara). Tradisi
praaksara ini yang kemudian melahirkan tradisi lisan.

Secara historis tradisi lisan banyak menjelaskan tentang masa lalu suatu
masyarakat atau asal-usul suatu komunitas. Perkembangan tradisi lisan ini dapat
menjadi kepercayaan atau keyakinan masyarakat. Dalam masyarakat yang belum
mengenal tulisan terdapat upaya untuk mengabadikan pengalaman masa lalunya
melalui cerita yang disampaikan secara lisan dan terus menerus diwariskan dari
generasi ke genarasi. Pewarisan ini dilakukan dengan tujuan masyarakat yang
menjadi generasi berikutnya memiliki rasa kepemilikan atau mencintai cerita masa
lalunya. Tradisi lisan merupakan cara mewariskan sejarah pada masyarakat yang
belum mengenal tulisan, dalam bentuk pesan verbal yang berupa pernyataan yang
pernah dibuat di masa lampau oleh generasi yang hidup sebelum generasi yang
sekarang ini.

b) Landasan Psikologis

6
Secara psikologis pembelajaran berbasis kearifan lokal memberikan sebuah
pengalaman psikologis kepada siswa selaku pengamat dan pelaksana kegiatan.
Dampak psikologis bisa terlihat dari keberanian siswa dalam bertanya tentang
ketidaktahuannya, mengajukan pendapat, persentasi di depan kelas, dan
berkomunikasi dengan masyarakat. Dengan pemanfaatan lingkungan maka
kebutuhan siswa tentang perkembangan psikologisnya akan diperoleh. Karena
lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan dan
perkembangan perilaku individu, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-
psikologis, termasuk didalamnya adalah belajar. Terhadap faktor lingkungan ini ada
pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman.

c) Landasan Politik dan Ekonomi

Secara politik dan ekonomi pembelajaran berbasis kearifan lokal ini


memberikan sumbangan kompetensi untuk mengenal persaingan dunia kerja. Dari
segi ekonomi pembelajaran ini memberikan contoh nyata kehidupan sebenarnya
kepada siswa untuk mengetahui kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Karena pada akhirnya siswa dididik dan disiapkan untuk menghadapi persaingan
global yang menuntut memiliki ketrampilan dan kompetensi yang tinggi di
lingkungan sosial.

d) Landasan Yuridis

Secara yuridis pembelajaran berbasis kearifan lokal mengarahkan peserta


didik untuk lebih menghargai warisan budaya Indonesia. Sekolah Dasar tidak hanya
memiliki peran membentuk peserta didik menjadi generasi yang berkualitas dari
sisi kognitif, tetapi juga harus membentuk sikap dan perilaku peserta didik sesuai
dengan tuntutan yang berlaku. Apa jadinya jika di sekolah peserta didik hanya
dikembangkan ranah kognitifnya, tetapi diabaikan afektifnya. Tentunya akan
banyak generasi penerus bangsa yang pandai secara akademik, tapi lemah pada
tataran sikap dan perilaku. Hal demikian tidak boleh terjadi, karena akan
membahayakan peran generasi muda dalam menjaaga keutuhan bangsa dan Negara
Indonesia. Nilai-nilai kearifan lokal yang ada di sekitar sekolah dapat dimanfaatkan
untuk pembelajaran di Sekolah Dasar. Tak terkecuali dalam pembelajaran untuk
menanamkan nilai-nilai nasionalisme. Dengan diintegrasikannya nilai-nilai

7
kearifan lokal dalam pembelajaran di Sekolah Dasar diharapkan siswa akan
memiliki pemahaman tentang kerifan lokalnya sendiri, sehingga menimbulkan
kecintaan terhadap budayanya sendiri.

2.2 Pulau Sulawesi

Secara Etimologi, Sulawesi atau Pulau Sulawesi (atau sebutan lama


dalambahasa Inggris: Celebes) adalah sebuah pulau dalam wilayah Indonesia yang
terletak di antara PulauKalimantan disebelah barat dan
Kepulauan Maluku disebelah timur. Dengan luas wilayah sebesar 174.600 km²,
Sulawesi merupakan pulau terbesar ke-11di dunia. Di Indonesia hanya luas
pulau Sumatera, Kalimantan, dan pulau Papuasajalah yang lebih luas wilayahnya
daripada pulau Sulawesi, sementara dari segi populasi hanya
pulau Jawa dan Sumatera sajalah yang lebih besar populasinya daripada Sulawesi.

Nama Sulawesi diperkirakan berasal dari kata dalam bahasa-bahasa di


Sulawesi Tengah yaitu kata sula yang berarti nusa (pulau) dan kata mesi yang
berarti besi (logam), yang mungkin merujuk pada praktik perdagangan bijih
besi hasil produksi tambang-tambang yang terdapat di sekitar Danau Matano,
dekat Sorowako, Luwu Timur. Sedangkan bangsa/orang-orang Portugis yang
datang sekitar abad 14-15 masehi adalah bangsa asing pertama yang menggunakan
nama Celebes untuk menyebut pulau Sulawesi secara keseluruhan.

Sedangkan berdasarkan letak geografisnya Sulawesi merupakan pulau


terbesar keempat di Indonesia setelah Papua, Kalimantan dan Sumatera dengan
luas daratan 174.600 kilometer persegi. Bentuknya yang unik menyerupai bunga
mawar laba-laba atau huruf K besar yang membujur dari utara ke selatan dan tiga
semenanjung yang membujur ke timur laut, timur dan tenggara. Pulau ini dibatasi
oleh Selat Makasar di bagian barat dan terpisah dari Kalimantan serta dipisahkan
juga dari Kepulauan Maluku oleh Laut Maluku. Sulawesi berbatasan
dengan Borneo di sebelah barat,Filipina di utara, Flores di selatan, Timor di
tenggara dan Maluku di sebelah timur.

8
Pada saat kemerdekaan Indonesia, Sulawesi berstatus
sebagai propinsi dengan bentuk pemerintahan otonom di bawah pimpinan
seorang Gubernur. Propinsi Sulawesi ketika itu beribukota di Makassar,
dengan GubernurDR.G.S.S.J. Ratulangi. Bentuk sistem pemerintahan propinsi ini
merupakan perintis bagi perkembangan selanjutnya, hingga dapat melampaui
masa-masa di saat Sulawesi berada dalamNegara Indonesia Timur (NIT) dan
kemudian NIT menjadi negara bagian dari negarafederasiRepublik Indonesia
Serikat (RIS). Saat RIS dibubarkan dan kembali kepadaNegara Kesatuan Republik
Indonesia, Sulawesi statusnya dipertegas kembali menjadi propinsi.Status Propinsi
Sulawesi ini kemudian terus berlanjut sampai pada tahun 1960.

2.2.1 Sistem Pemerintahan

Pemerintahan di Sulawesi dibagi menjadi enam provinsi berdasarkan urutan


pembentukannya yaitu provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara,Sulawesi
Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Sulawesi Barat. Sulawesi Tengah
merupakan provinsi terbesar dengan luas wilayah daratan 68,033 kilometer persegi
dan luas laut mencapai 189,480 kilometer persegi yang mencakup semenanjung
bagian timur dan sebagian semenanjung bagian utara serta Kepulauan Togean di
Teluk Tomini dan pulau-pulau di Banggai Kepulauan di Teluk Tolo. Sebagian besar
daratan di provinsi ini bergunung-gunung (42.80% berada di atas ketinggian 500
meter dari permukaan laut) dan Katopasa adalah gunung tertinggi dengan
ketinggian 2.835 meter dari permukaan laut.

2.2.2 Suku – Suku di Pulau Sulawesi Selatan

Pulau Sulawesi, berada di Indonesia Bagian Tengah, dan memiliki


bermacam-macam suku bangsa dengan corak budaya dan adat-istiadat yang
memiliki keunikan masing-masing. Beberapa suku di pulau Sulawesi memiliki
keterkaitan sejarah asal-usul dengan Formosa Taiwan, Filipina, Kalimantan dan
Sumatra.

 Bentong
 Bugis
 Duri

9
 Enrekang
 Kalekaju (To Kalekaju)
 Konjo, terdiri dari:
o Konjo Pesisir
o Konjo Gunung
o Konjo Hitam (Kajang)
 Maiwa
 Makassar
 Mandar
 Maroangin (Marowangin)
 Massenrempulu
 Rampi (To Rampi)
 Pattinjo
 Seko (To Seko, To Lemo)
 Selayar (To Silajara)
 Toala (Pannei)
 To Balo
 Tolotang (Towani Tolotang)
 Toraja (To Raja, To Raya)
 Wotu (suku Luwu)
 distrik Nuha Luwu Timur:
o Weula (To Weula)
o Kondre (To Kondre)
o Taipa (To Taipa)
o Padoe (To Padoe)
o Karunsie (To Karunsi'e)
o Tambee (To Tambe'e)
o Tokinadu
o Routa (To Routa), pindah ke Sulawesi Tenggara
o Lamundre (To Lamundre), pindah ke Sulawesi Tenggara

10
2.3 Suku Bugis

Suku Bugis, adalah salah satu suku bangsa yang terdapat di Sulawesi
Selatan. Populasi suku Bugis ini adalah yang terbesar di Sulawesi Selatan, dan
diperkirakan mencapai 6 juta orang pada sensus tahun 2000.

Orang Bugis adalah termasuk bangsa perantau dan pengembara. Populasi


suku Bugis tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, selain di Sulawesi Selatan,
suku Bugis juga tersebar di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua,
Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Komunitas suku Bugis juga ditemukan
ada di provinsi Riau, tapi pada umumnya sudah mengikuti adat-istiadat suku
Melayu Riau, walaupun begitu mereka tetap mengaku sebagai orang Bugis.
Keturunan orang Bugis juga ditemukan di Malaysia dan Brunei.

Agama Islam masuk ke kalangan orang Bugis pada abad 17, yang
berkembang dengan cepat, sehingga saat ini menjadi agama rakyat bagi masyarakat
Bugis. Orang Bugis mayoritas adalah pemeluk agama Islam.

Asal-usul suku Bugis pertama kali diperkirakan berasal dari daratan China
Selatan, menurut para peneliti dikatakan dari Yunnan, China Selatan, sekitar awal
abad Masehi, bersama kelompok deutro malayan, yang masuk dengan kelompok
yang besar- ke wilayah kepulauan Asia Tenggara ini. Menurut dugaan lain, bahwa
orang Bugis ini adalah penduduk penghuni daerah pesisir Indochina, di sekitar
Burma dan Thailand, yang terdesak oleh bangsa Arya yang menginvasi daerah
pesisir Indochina. Mereka sempat bertahan dan berperang melawan bangsa Arya
ini, tapi karena mereka hanya terdiri dari para petani dan nelayan dan kalah dalam
persenjataan, akhirnya mereka pun terpecah-pecah dan tersebar ke daerah
kepulauan di Asia Tenggara dan salah satunya mendarat ke daerah Sulawesi Selatan
sekarang ini.

Di daerah baru ini, mereka berbaur dengan penduduk asli yang terlebih
dahulu berada di daerah ini. Tapi karena pertumbuhan mereka sangat pesat dengan
budaya yang mereka bawa, akhirnya penduduk asli terdesak masuk lebih ke
pedalaman dan menyingkir ke daerah lain.

11
Orang Bugis menyebut dirinya sebagai "To Ugi" yang berarti "orang
Bugis". Nama "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di
Pammana, kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La
Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka
menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La
Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan
Batara Lattu, ayah dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We
Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya
sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio.
Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang
dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading
juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi
lain di Sulawesi seperti Buton.

Seiring waktu berjalan, masyarakat Bugis purba ini tumbuh dan


berkembang selama beberapa abad, dan menjadi beberapa kelompok-kelompok
kecil yang tersebar ke segala penjuru pulau Sulawesi. Setelah beberapa abad
berjalan, dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk
beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa,
aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara
lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski
tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya
pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam
beberapa kabupaten yaitu Luwu, Bone,Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Barru.
Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros,
Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten
Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama
kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian
Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan).

Secara sejarah asal-usul orang Bugis masih satu rumpun dengan orang
Makassar dan orang Mandar. Banyak terdapat kemiripan dari segi adat-istiadat,
budaya dan bahasa antara ketiga suku bangsa ini. Selain banyak terlibat hubungan
kekerabatan di antara mereka.

12
Pemukiman masyarakat suku Bugis tersebar di dataran rendah yang subur
dan pesisir, kebanyakan masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata
pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat
Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.

2.4 Kearifan Lokal Suku Bugis

Pada masyarakat Bugis, kearifan lokal ternyata terdokumntasi dengan


baik dalam karya sastra mereka dan tertuang dalam karya sastra Bugis klasik.

1. Bawaan Hati yang Baik (Ati Mapaccing)

Dalam bahasa Bugis, Ati Mapaccing (bawaan hati yang baik) berarti nia’
madeceng (niat baik), nawa-nawa madeceng (niat atau pikiran yang baik) sebagai
lawan dari kata nia’ maja’ (niat jahat), nawa-nawa masala (niat atau pikiran
bengkok). Dalam berbagai konteks, kata bawaan hati, niat atau itikad baik juga
berarti ikhlas, baik hati, bersih hati atau angan-angan dan pikiran yang baik.

Tindakan bawaan hati yang baik dari seseorang dimulai dari suatu niat atau
itikad baik (nia mapaccing), yaitu suatu niat yang baik dan ikhlas untuk melakukan
sesuatu demi tegaknya harkat dan martabat manusia. Bawaan hati yang baik
mengandung tiga makna, yaitu a) menyucikan hati, b) bermaksud lurus, dan c)
mengatur emosi-emosi. Pertama, manusia menyucikan dan memurnikan hatinya
dari segala nafsu- nafsu kotor, dengki, iri hati, dan kepalsuan-kepalsuan. Niat suci
atau bawaan hati yang baik diasosiasikan dengan tameng (pagar) yang dapat
menjaga manusia dari serangan sifat-sifat tercela. Ia bagai permata bercahaya yang
dapat menerangi dan menjadi hiasan yang sangat berharga. Ia bagai air jernih yang
belum tercemar oleh noda-noda atau polusi. Segala macam hal yang dapat menodai
kesucian itu harus dihindarkan dari hati, sehingga baik perkataan maupun perbuatan
dapat terkendali dengan baik.

2. Konsep Pemerintahan yang Baik (good governance)

Istilah good governance tak bisa dilepaskan dari konteks perbincangan


mengenai politik dan paradigma pembangunan yang berkembang di dunia. Bila

13
dilacak agak teliti, penggunaan istilah ini belum lebih dari dua dekade. Diduga,
good governance pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 1991 dalam sebuah
resolusi The Council of the European Community yang membahas Hak Asasi
Manusia, Demokrasi, dan Pembangunan.. Di dalam resolusi itu disebutkan,
diperlukan empat prasyarat lain untuk dapat mewujudkan Pembangunan yang
berkelanjutan, yaitu mendorong penghormatan atas hak asasi manusia,
mempromosikan nilai demokrasi, mereduksi budget pengeluaran militer yang
berlebihan dan mewujudkan good governance. Sejak saat itu, good governance
mulai diperbincangkan dan diakomodasi dalam berbagai konvensi dan resolusi
yang berkaitan dengan pembangunan, baik dalam perbincangan pembangunan di
UNDP maupun di Lome Convention, Bantuan Pembangunan yang bersifat
Multilateral dan Bilateral.

Istilah good governance telah diterjemahkan menjadi penyelenggaraan


pemerintahan yang amanah (Bintoro Tjokroamidjojo), tata pemerintahan yang baik
(UNDP), pengelolaan pemerintahan yang baik dan bertanggunjawab (LAN), dan
ada juga yang mengartikan secara sempit sebagai pemerintahan yang bersih
(Effendi, 2005).

Dalam kepustakaan Bugis, untuk terwujudnya permerintahan yang baik,


seorang pemimpin dituntut memiliki 4 kualitas yang tak terpisahkan antara satu
dengan lainnya. Keempat kualitas itu terungkap dalam ungkapan Bugis.

Maccai na Malempu;

Waraniwi na Magetteng

(Cendekia lagi Jujur, Berani lagi Teguh dalam Pendirian.)

Bila ungkapan di atas diurai maka ada empat karakteristik seorang


pemimpin yang diangap dapat memimpin suatu negeri, yaitu: cendekia, jujur,
berani, dan teguh dalam pendirian. Ungkapan itu bermakna bahwa kepandaian saja
tidak cukup. Kepandaian haruslah disertai dengan kejujuran, karena banyak orang
pandai menggunakan kepandaiannya membodohi orang lain. Karerna itu,
kepandaian haruslah disertai dengan kejujuran. Selanjutnya, keberanian saja tidak
cukup. Keberanian haruslah disertai dengan keteguhan dalam pendirian. Orang

14
yang berani tetapi tidak cendekia dan teguh dalam pendirian dapat terjerumus dalam
kenekadan.

Syarat terselenggaranya pemerintahan negeri dengan baik terungkap dalam


Lontarak bahwa pemimpin negeri haruslah:

1. Jujur terhadap Dewata Seuwae (Tuhan YME) dan sesamanya manusia.


2. Takut kepada Dewata Seuwae (Tuhan YME) dan menghormati rakyatnya
dan orang asing serta tidak membeda-bedakan rakyatnya.
3. Mampu memperjuangkan kebaikan negerinya agar berkembang biak
rakyatnya, dan mampu menjamin tidak terjadinya perselisihan antara
pejabat kerajaan dan rakyat.
4. Mampu menjamin kesejahteraan rakyatnya.
5. Berani dan tegas, tidak gentar hatinya mendapat berita buruk (kritikan) dan
berita baik (tidak mudah terbuai oleh sanjungan).
6. Mampu mempersatukan rakyatnya beserta para pejabat kerajaan.
7. Berwibawa terhadap para pejabat dan pembantu-pembantunya.
8. Jujur dalam segala keputusannya.

Kemudian, I Mangada’cina Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang membuat


pesan yang isinya bahwa ada lima sebab yang menyebabkan negeri itu rusak, yaitu:

1. Kalau raja yang memerintah tidak mau diperingati.


2. Kalau tidak ada cendekiawan dalam suatu negara besar.
3. Kalau para hakim dan para pejabat kerajaan makan sogok.
4. Kalau terlampau banyak kejadian-kejadian besar dalam suatu negara.
5. Kalau raja tidak menyayangi rakyatnya.
4. Demokrasi (Amaradekangeng)

Kata amaradekangeng berasal dari kata maradeka yang berarti merdeka atau
bebas. Pengertian tentang kemerdekaan ditegaskan dalam Lontarak sebagai berikut:

Niaa riasennge maradeka, tellumi pannessai:

Seuani, tenrilawai ri olona.

Maduanna, tenriangkai’ riada-adanna.

15
Matellunna, tenri atteanngi lao ma-niang, lao manorang, lao orai, lao alau, lao ri
ase, lao ri awa

Demokrasi sebagai bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu


negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas
negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara terungkap dalam sastra Bugis
sebagai berikut:

Yang disebut merdeka (bebas) hanya tiga hal yang menentukannya:

pertama, tidak dihalangi kehendaknya;

kedua, tidak dilarang mengeluarkan pendapat;

ketiga tidak dilarang ke Selatan, ke Utara, Ke Barat, ke Timur, ke atas dan ke


bawah. Itulah hak-hak kebebasan.

Rusa taro arung, tenrusa taro ade,

Rusa taro ade, tenrusa taro anang,

Rusa taro anang, tenrusa taro tomaega.

(Batal ketetapan raja, tidak batal ketetapan adat, Batal ketetapan adat, tidak batal
ketetapan kaum Batal ketetapan kaum, tidak batal ketetapan orang banyak).

Keamanaan, dan pelaksanaan pemerintahan negara (Said, 1998). Konsep di


atas sejalan dengan konsep demokrasi yang dianut saat ini yang mana kedaulatan
ada di tangan rakyat. Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang
berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat
diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai
pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Dalam ungkapan itu, jelas tergambar bahwa kedudukan rakyat amat besar
dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Rakyat berarti segala-galanya bagi
negara. Raja atau penguasa hanyalah merupakan segelintir manusia yang diberi
kepercayaan untuk mengurus administrasi.

Dari kutipan itu, jelas tergambar bahwa kekuatan berada di tangan rakyat,
bukan di tangan raja. Jika hal ini dihubungkan dengan teori demokrasi Rousseau

16
tentang volonte generale atau kehendak umum dan volonte de tous atau kehendak
khusus, jelas tergambar bahwa teori Rousseau berkesesuaian dengan sistem
pemerintahan yang dikembangkan di Tanah Bugis yaitu apabila dua kepentingan
(antara penguasa dan rakyat) bertabrakan, kepentingan yang harus dimenangkan
adalah kepentingan rakyat (umum).

Dalam menjalankan pemerintahan, raja selalu berusaha untuk bertindak


secara ekstra hati-hati. Sesuatu yang akan dibebankan kepada rakyat haruslah
terlebih dahulu dipertimbangkan. Artinya, acuan utama dari setiap tindakan adalah
rakyat. Hal tersebut tertuang dalam Getteng Bicara (undang-undang) sebagai
berikut. “Takaranku kupakai menakar, timbanganku kupakai menimbang, yang
rendah saya tempatkan di bawah, yang tengah saya tempatkan di tengah, yang
tinggi saya tempatkan di atas.”

Ketetapan hukum yang tergambar dalam getteng bicara di tanah Bugis


menunjukkan bahwa raja tidak akan memutuskan suatu kebijakan bila raja itu
sendiri tidak merasa nyaman. Raja menjadikan dirinya sebagai ukuran dan selalu
berusaha berbuat sepatutnya. Dari argumentasi itu, jelas tergambar bahwa negara
adalah sepenuhnya milik rakyat dan bukan milik raja. Raja tidak dapat berbuat
sekehendak hatinya kepada negara yang menjadi milik dari rakyat itu. Raja sama
sekali tidak dapat membuat peraturan dengan seenaknya, terutama menyangkut
kepentingan dirinya atau keluarganya. Semua peraturan yang akan ditetapkan oleh
raja harus melalui persetujuan dari kalangan wakil rakyat yang telah mendapatkan
kepercayaan dari rakyat. Jika raja melanggar ketentuan itu, berarti raja telah
melanggar kedaulatan rakyat.

Adat menjamin hak dan protes rakyat dengan lima cara sebagai berikut:

1. Mannganro ri ade’, memohon petisi atau mengajukan permohonan kepada


raja untuk mengadakan suatu pertemuan tentang hal-hal yang
mengganggu, seperti kemarau panjang karena dimungkinkan sebagai
akibat kesalahan pemerintah.
2. Mapputane’, menyampaikan keberatan atau protes atas perintah-perintah
yang memberatkan rakyat dengan menghadap raja. Jika itu menyangkut

17
kelompok, maka mereka diwakili oleh kelompok kaumnya untuk
menghadap raja, tetapi jika perseorangan, langsung menghadap raja.
3. Mallimpo-ade’, protes yang mendesak adat karena perbuatan sewenang-
wenang raja, dan karena usaha melalui mapputane’ gagal. Orang banyak,
tetapi tanpa perlengkapan senjata mengadakan pertemuan dengan para
pejabat negara dan tidak meninggalkan tempat itu kecuali
permasalahannya selesai.
4. Mabbarata, protes keras rakyat atau kaum terhadap raja, karena secara
prinsipial masyarakat merasa telah diperlakukan tidak sesuai dengan
panngadereng oleh raja, keluarga raja, atau pejabat kerajaan. Masyarakat
atau kaum berkumpul di balai pertemuan (baruga) dan mendesak agar
masalahnya segera ditangani. Kalau tidak, rakyat atau kaum bisa
mengamuk yang bisa berakibat sangat fatal pada keadaan negara.
5. Mallekke’ dapureng, tindakan protes rakyat dengan berpindah ke negeri
lain. Hal ini dilakukan karena sudah tidak mampu melihat kesewenang-
wenangan di dalam negerinya dan protes-protes lain tidak ampuh. Mereka
berkata: “Kamilah yang memecat raja atau adat, karena kami sekarang
melepaskan diri dari kekuasaannya”.(Mattulada, 1985)

3. Kesetiakawanan Sosial (assimellereng)

Konsep assimellereng mengandung makna kesehatian, kerukunan,


kesatupaduan antara satu anggota keluarga dengan anggota keluarga lain, antara
seorang sahabat dengan sahabat yang lain. Memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi,
setia kawan, cepat merasakan penderitaan orang lain, tidak tega membiarkan
saudaranya berada dalam keadaan menderita, dan cepat mengambil tindakan
penyelamatan atas musibah yang menimpa seseorang, dikenal dengan konsep
“sipa’depu-repu” (saling memelihara). Sebaliknya, orang yang tidak
mempedulikan kesulitan sanak keluarganya, tetangganya, atau orang lain sekali pun
disebut bette’ perru. Dalam kehidupan sehari-hari, manifestasi kesehatian dan
kerukunan itu disebutkan dalam sebuah ungkapan Bugis:

“tejjali tettappere , banna mase-mase”.

18
Ungkapan tersebut biasanya diucapkan ketika seorang tuan rumah
kedatangan tamu. Maksunya adalah “kami tidak mempunyai apa-apa untuk kami
suguhkan kepada tuan. Kami tidak mempunyai permadani atau sofa yang empuk
untuk tuan duduki. Yang kami miliki adalah kasih sayang.

Lontarak sangat menganjurkan manusia memiliki perasaan kemanusiaan


yang tinggi, rela berkorban menghormati hak-hak kemanusiaan seseorang, demi
kesetiakawanan atau solidaritas antara sesama manusia, berusaha membantu orang,
suka menolong orang menderita, berkorban demi meringankan penderitaan dan
kepedihan orang lain dan berusaha pula untuk membagi kepedihan itu ke dalam
dirinya. Dalam Lontarak disebutkan:

Iya padecengi assiajingeng:

 Sianrasa-rasannge nasiammase-maseie;
 Sipakario-rio;
 Tessicirinnaiannge ri sitinajae;
 Sipakainge’ ri gau’ patujue;
 Siaddappengeng pulanae.

Yang memperbaiki hubungan kekeluargaan yaitu:

 Sependeritaan dan kasih-mengasihi;


 Gembira menggembirakan;
 Rela merelakan harta benda dalam batas-batas yang wajar;
 Ingat memperingati dalam hal-hal yang benar;
 Selalu memaafkan.

Dorongan perasaan solidaritas untuk membela, menegakkan, memperjuangkan


harkat kemanusiaan orang lain atau perasaan senasib sepenanggungan di antara
keluarga, kerabat, dan masyarakat dilukiskan dalam ungkapan-ungkapan Lontarak
sebagai berikut:

 Siadampengeng pulanae masseajing.


 Tessicirinnaiannge warangparang masseajing, ri sesena gau’ sitinajae.

19
 Sipakainge’ pulannae masseajing ri sesena gau’ patujue sibawa winru’
madeceng.

Empat hal yang mengeratkan hubungan kekeluargaan:

 Senantiasa kasih mengasihi sekeluarga.


 Maaf memaafkan sekeluarga.
 Rela merelakan sebagian harta benda sekeluarga dalam batas-batas yang
layak.
 Ingat memperingati sekeluarga demi kebenaran dan tujuan yang baik.

4. Kepatutan (Mappasitinaja)

Mappasitinaja berasal dari kata sitinaja yang berarti pantas, wajar atau patut.
Mappasitinaja berarti berkata atau berbuat patut atau memperlakukan seseorang
secara wajar.

Bahwa seseorang dikatakan bertindak patut atau wajar bila ia mampu


menempatkan sesuatu pada tempatnya. Seseorang yang bertindak wajar berarti ia
mampu menempatkan dirinya sesuai dengan kedudukannya. Ia tidak menyerakahi
hak-hak orang lain, melainkan memahami hak-haknya sendiri. Di samping itu, ia
pula dapat memperlakukan orang lain pada tempatnya. Ia sadar bahwa orang lain
mempunyai hak-hak yang patut dihormati.

Perbuatan wajar atau patut, dalam bahasa Bugis biasa juga disebut
mappasikoa. Seorang yang berbuat wajar dalam arti mappasikoa berarti ia merasa
cukup atas sesuatu yang dimilikinya. Ia bertindak sederhana. Dicontohkan oleh
Rahim (1985), tentang sikap wajar Puang Rimaggalatung. Puang Rimaggalatung
pernah berkali-kali menolak tawaran rakyat Wajo untuk diangkat menjadi Arung
Matoa Wajo atas kematian Batara Wajo III yang bernama La Pateddungi
Tosamallangi. Bukannya beliau tidak mampu memangku jabatan yang ditawarkan
kepadanya, tetapi ia sadar bahwa jabatan itu sungguh sulit untuk diembannya.
Namun, karena Adat (para wakil rakyat) dan rakyat Wajo sendiri merasa bahwa
beliau pantas memimpin mereka, akhirnya tawaran itu diterima.

20
Dua hal saling mencari lalu bersua, yakni perbuatan baik dan yang pantas.
Barulah baik bila keduanya berpadu. Cara memadukannya ialah:

1. Membiasakan diri berbuat baik meskipun sulit dilakukan.


2. Rendahkanlah dirimu sepantasnya.
3. Ambillah hati orang sepantasnya
4. Menghadapi semak-semak ia surut langkah
5. Melalui jalan ia berhati-hati dan menyandarkan diri kepada Tuhan
6. Berusahalah dengan benar.

Sebaliknya, lawan dari kata patut adalah berlebih-lebihan dan serakah.


Watak serakah diawali keinginan untuk menang sendiri. Keinginan untuk menang
sendiri dapat menghasilkan pertentangan-pertentangan dan menutup kemungkinan
untuk mendapatkan restu dari pihak lain. Manusia yang berbuat serakah, justru akan
menghancurkan dirinya sendiri karena orang lain akan menjauhinya. Dan apabila
hati manusia dipenuhi sifat serakah, maka tiada lagi kebaikan yang bisa diharapkan
dari manusia itu.

5. Kepercayaan

Filsafat local adalah sebuah pandangan filosofis, petuah-petuah, wejangan-


wejangan yang tumbuh dan berkembang pada sebuah tempat/daerah yang masih
mempertahankan budayanya. Secara umum maka local wisdom (kearifan setempat)
dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana,
penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota
masyarakatnya.

Di Sulawesi Selatan sendiri terdapat beberapa daera-daerah yang masih


memegang teguh sifat-sifat kebujaksanaan dari para sesepuh yang pernah hidup di
tengah pusaran budayanya. Secara garis besar prinsip Siri’ na Pacce adalah
pandangan hidup yang mendominasi masyarakat di Sulawesi Selatan secara umum
dan di suku Bugis-Makassar secara khusus.

Kearifan Lokal tersebut hadir karena adanya sikap mengormati terhadap


sesame, terhadap alam dan terutama kepada Yang Adikodrati. Di Sulawesi Selatan

21
sendiri sumber utama kebijaksanaan tersebut terdapat pada Sure’ Galigo.yang
membahas tentang kebijaksanaan hidup pada masa Sawerigading.

Fungsi Kearifan Lokal:

1. Berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam.


2. Berfungsi untuk pengembangan sumber daya manusia, misalnya
berkaitan dengan upacara daur hidup, konsep kanda pat rate.
3. Berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan,
misalnya pada upacara saraswati, kepercayaan dan pemujaan pada pura
Panji.
4. Berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan
5. Bermakna sosial, misalnya upacara integrasi komunal/kerabat.
6. Bermakna sosial, misalnya pada upacara daur pertanian.
7. Bermakna etika dan moral, yang terwujud dalam upacara Ngaben dan
penyucian roh leluhur.
8. Bermakna politik, misalnya upacara ngangkuk merana dan kekuasaan
patron client

Dalam buku Nilai-nilai Utama Kebudayaan Bugis, karangan Prof.Dr.H.A


Rahman Rahim, dijelaskan bahwa ada 5 nilai-nilai utama yang terdapat dalam
kebudayaan Bugis-Makassar, yaitu:

 Lempu’ ( Bugis ), kontu tojeng/kana tojeng ( Makassar ) yang berarti jujur


 Acca ( Bugis ), caradde ( Makassar ) yang berarti certdas.
 Assitinajang ( Bugis ), sitinaja ( Makassar ) yang berarti kepatutan.
 Getting ( Bugis ) , tojeng ( Makassar ) yang berarti kesungguhan.
 Usaha

Beberapa Kearifan Lokal kepercayaan di Sulwesi Selatan

a. Kepercayaan Toani Tolotang

Ajaran Toani Tolotang tentang pandangan ke-Tuhanannya mengakui


adanya Tuhan sebagaimana pula pengakuan dari agama lain, dan bagi ajaran

22
Tolotang yang diakui Tuhan adalah “Dewata SeuwaE (Tuhan yang Maha Esa) yang
bergelar PatotoE

b. Kepercayaan Ammatoa

Kepercayaan Ammatoa termasuk Kepercayaan Patuntung. Yaitu


kepercayaan kepada nenek moyang yang bersumber kepada Amma Toa ( leluhur
yang tertua )

c. Aluk Tudolo

Aluk tudolo adalah salah satu keprcayaan Religio-magis yang ada di Tana
Toraja, dengan tokoh sentral adalah Puang Matua. Penyelenggaraan kegiatan
kepercayaan itu melalui berbagai upacara ritual, seperti: Rambu Tuka dan Rambu
Solo’. Pemujaan dan penghormatan kepada leluhur di alam Puya ( alam Roh ),
dihubungkan dengan kehidupan dalam keluarga, melalui berbagai Tongkonan
Layuk

d. Kepercayaan kepada Saukang

Kata Saukang berasal dari 2 kata yaitu, Sau yang berarti istirahat/ammari-
mari dan Kang yang berarti menunjukkan tempat. Saukang dipercayai sebagai
tempat beristirahatnya arwah para nenek moyang, orang-orang hebat, karaeng,
Dewata

6. Kearifan Lokal tradisi di Daerah Malakaji

Ada beberapa kearifan local yang akan penulis sebutkan sebagai sebuah
tambahan ditulisan ini, di antaranya:

 Akkudu’-kudu’, adalah tradisi yang dilakukan masyarakat setelah masa


panen padi. Tradisi ini adalah sebuah tanda rasa sykur kepada Yang Maha
Esa atas karunia yang telah diberikan. Tradisi ini masih terjaga sampai
sekarang, terutama di daerah Sapayya ( Kec.Bungayya ). Alat utama yang
digunakan dalam tradisi ini adalah Assung ( lesung ) yang melahirkan irama
music yang merdu.
 A’rate’, adalah tradisi pembacaan kitab Barzanji pada bulan Rabiul Awwal
( bukan kelahiran Nabi Muhammad saw ). Tradisi ini menyebear di semua

23
wilayah yang berada di dataran tinggi Kabupaten Gowa. A’rate’, pada
umumnya dilakukan oleh kaum laki-laki, baik usia muda maupun tua.
 Accera’ Pabballe, yang berarti memotong hewan tertentu disebabkan karena
ada hajat. Dilakukannya tradisi ini dikarenakan ada orang yang berhajat bila
mendapatkan hal yang baik, misalnya kesembuhan, kesehatan, maka akan
memotong hewan tertentu pada tempat yang memang sudah sering
didatangi, seperti Saukang dan Batarayya.
 Appalili’, adalah tradisi pembacaan kemenyam dan mengarak sepasang
sapi/kerbau di sawah. Tradisi ini dilaksanakan sebelum tanam padi. Ada
juga tradisi appalili’ yang dilaksanakan secara besar-besaran yaitu
mengarak seekor kerbau jantan besar mengelilingi kampong dan diiringi
dengan ganrang dan pui-pui.

Kearifan local seperti yang tertera di atas menjadi salah satu wadah dalam
menguatkan kebersamaan atau nuansa kolektifitas, dimana hal yang seperti itu
sudah sangat sulit dijumpai terutama di kota-kota besar seperti Makassar. Dengan
adanya kearifan local maka secara tidak langsung harga diri dari masyarakat ikut
juga terjaga. Karena kearifan local ini adalah cirri khas yang dimiliki setiap
masyarakat yang mendiami daerahnya masing-masing.

Kearifan local ini akan tetap terjaga manakala selalu ada kesadaran dalam setiap
inividu ataupun masyarakat. Di tengah derasnya arus modernisasi merupakn
tantangan bagi masyarakat terutama kalangan muda untuk bisa menjaga tradisi
tetapi tidak juga membelakangi modernitas.

24
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Kearifan Lokal dalam


kepustakaan Bugis masih sangat relevan dengan perkembangan zaman. Karena itu,
Kearifan Lokal sebagai jati diri bangsa perlu direvitalisasi, khususnya bagi generasi
muda dalam percaturan global saat dan di masa datang. Dengan demikian, identitas
sebagai bangsa baik secara fisik maupun non fisik akan tetap terjaga.

3.2 Saran

Mengingat aspek kebudayaan yang ada di Indonesia begitu beragam, maka


perlu kiranya Perguruan Tinggi sebagai representasi dari dunia pendidikan yang ada
dimasing-masing daerah untuk lebih serius dalam melakukan eksperimen ilmiah
mengenai kekayaan etnisitas daerah masing-masing. Kemudian perhatian secara
serius dapat dilakukan dan dikampanyekan guna kembali menjadi kearifan lokal
sebagai pilar kemajuan bangsa Indonesia. Sehingga aspek kebudayaan yang
beragam tersebut mampu diketahui, dikembangkan serta menjadi karakter
masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam etnis dan latar belakang budaya.

25