Anda di halaman 1dari 19

MAKLAH ASUHAN KEPERAWATAN

TENTANG TINGKAT KECEMASAN PADA LANSIA


Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Gerontik
Dosen pengampu : Puji Purwaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep.

Disusun Oleh :
1. Fiorentina Z.A (010117A033)
2. Fira ILa Mafa Ida (010117A034)
3. Kartika Budhi Pertiwi (010117A042)
4. Luluk Fuadah (010117A051)

PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNUVERSITAS NGUDIWALUYO
2019
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur terhadap Allah swt, yang telah melimpahkan rahmat
dan hidayahnya sehingga penulis bias menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Keperawatan
Gerontik“yang berjudul Auhan Keperawatan Tentang Tingkat Kecemasan” tugas ini dibuat
untuk memenuhi mata kuliah Keperawatan Gerontik.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangannya.
Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.

Semoga tugas ini memberi manfaat bagi pembaca terutama bagi penulis sendiri.
Apabila ada kata-kata yang kurang berkenan bagi pembaca saya mohon maaf sebesar-besarnya.

Ungaran, 14 Oktober 2019


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jumlah lansia di dunia saat ini diperkirakan sekitar 500 juta orang dengan usia
rata-rata 60 tahun dan akan meningkat ditahun 2025 menjadi 1,2 miliyar (Padila, 2013).
Di Indonesia jumlah lansia meningkat setiap tahun. Data Badan Pusat Statistik (BPS)
Indonesia pada tahun 2014 menunjukan bahwa proporsi lansia berjumlah 8.03% dari
populasi dan di tahun 2015 proporsi lansia meningkat menjadi 8.5% dari total populasi.
Menurut BPS Kabupaten Sikka tahun 2015 jumlah lansia di Kecamatan Nita mencapai
2.654 orang atau 12,1% dari total populasi. Ada beberapa perubahan fungsi tubuh yang
berhubungan dengan lansia dan salah satunya terjadi pada sistem kardiovaskuler.
Perubahan terjadi pada sistem kardiovaskuler ini disebabkan oleh penurunan elastisitas
arteri dan kekakuan pada aorta. Hal ini menyebabkan terjadinya pengapuran dan
penyempitan di sepanjang pembuluh darah. Terjadinya penyempitan dan pengapuran
pada pembuluh darah ini memacu daya kerja jantung untuk memompa darah lebih cepat
dan kuat dalam usaha memenuhi darah dan nutrisi keseluruh tubuh. Daya kerja jantung
yang semakin kuat ini yang menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah sistolik
dan diastolik atau hipertensi (Comer, 2005).
Untuk mengatasi masalah kecemasan, perawat harus menjadi figur sentral,
karena dengan pemahaman dan pengetahuannya perawat dapat membantu memelihara
rasa aman yang mendasar, dan dapat memberikan informasi bagaimana menghadapi
atau mengatasi kecemasan yang dialami (Bruner & Suddarth, 2006).

B. Tujuan
1. Memberikan penanganan terhadap gejalan dan tanda kecemasan
2. Diharapkan mengetahui tentang tinjauan umum lanjut usia
3. Diharapkan mengetahui tentang tinjauan umum kecemasan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Lanjut Usia
1. Konsep Lanjut Usia
Batasan lanjut usia bervariasi sesuai dengan yang dikemukakan oleh para ahli.
Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk
mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stress fisiologis. Kegagalan ini
berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta peningkatan
kepekaan secara individu (Hawari, dikutip dalam Efendi & Makhfudli, 2013, p.
635).
2. Batasan Umur Lansia
Adapun batasan-batasan umur lansia yang dikutip oleh Efendi & Makhfudli
(2013) dari beberapa pendapat para ahli adalah sebagi berikut :
a. Menurut UU nomor 13 tahun 1998 dalam Bab 1 ayat 2 yang berbunyi
“ Lanjut Usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas “.
b. Menurut WHO
Lanjut usia (elderly) : 60-74 tahun
Lanjut usia tua (old) : 75- 90 tahun
Usia sangat tua (very old) : > 90 tahun
c. Permenkes RI No. 67 Tahun 2015
Mengartikan bahwa lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia
60 (enam puluh) tahun keatas.
3. Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia :
a. Perubahan Fisik
Secara umum, proses menjadi tua dapat ditandai dengan kemunduran
biologis yang dapat kita lihat sebagai gejala – gejala kemunduran fisik yaitu
:
1. Kulit mulai mengendur dan wajah mulai keriput serta garis-garis yang
menetap.
2. Rambut kepala mulai memutih dan beruban.
3. Gigi mulai lepas (ompong).
4. Penglihatan dan pendengaran mulai berkurang.
5. Mudah lelah dan mudah jatuh.
6. Mudah terserang penyakit.
7. Nafsu makan menurun.
8. Penciuman mulai berkurang.
9. Gerakan menjadi lamban dan kurang lincah.
10. Pola tidur berubah.
Adapun perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada lansia pada sistem
tubuh adalah sebagai berikut :
1. Sistem Kardiovaskuler
Perubahan yang sering terjadi secara patolgis pada lansia pada sistem
kardiovaskuler adalah :
1) Hipertensi
Suatu kondisi dimana tekanan darah sistolik melebihi 140 mmHg
dan diastolik melebihi 90 mmHg. Terjadi karena menurunnya
elstisitas arteri pada proses menua. Bila tidak ditangani akan
menyebabkan terjadinya stroke, kerusakan pembuluh darah.
2) Penyakit jantung coroner
Terjadi penyempitan pembuluh darah jantung sehingga aliran darah
menuju jantung terganggu. Gejala yang biasa yang ditimbulkan
adalah sesak napas, pingsan hingga kebingungan.
3) Disritmia
Terjadi karena perubahan structural dan fungsional pada penuaan.
Insiden disritmia atrial dan ventrikel meningkat pada usia lanjut.
Disritmia ini dimanifestasikan dengan perubahan perilaku, palpitasi,
sesak napas, keletihan dan jatuh.
4) Penyakit vaskuler perifer
Gejala yang sering terjadi adalah rasa terbakar, kram atau nyeri yang
sangat saat terjadi pada saat aktivitas fisik dan menghilang saat
istirahat.
5) Penyakit katup jantung
Manifestasi dari penyakit ini bervariasi dari fase kompensasi sampai
dengan fase pasca kompensansi. Gejala yang yang khas yaitu
terdengar mur-mur pada saat auskultasi.
2. Sistem Respiratori
Penyakit yang sering menyertai usia lanjut adalah sebagai berikut :
1) Pneumonia
Kejadian pneumonia pada usia lanjut tergantung pada 3 hal yaitu:
kondisi fisik penderita, lingkungan dimana lansia tinggal dan kuman
penyebab virulensinya.
2) TBC
Sering dilupakan pada usia lanjut dan penyebabnya adalah bakteri
gran positif. Dan gejala yang ditimbulkan adalah sesak napas, berat
badan menurun dan gangguan mental.
3) PPOM
Kelainan paru yang ditandai dengan gagguan fungsi paru berupa
memanjangnya periode ekspirasi yang disebabkan oleh adanya
penyempitan saluran saluran napas. Yang termasuk PPOM adalah
bronchitis kronis, emfisema paru dan penyakit saluran napas perifer.
4) Karsinoma paru
Ada beberapa factor yang menjadi timbunya karsinoma paru adalah
merokok, polusi udara dan bahan industri yang bersifat karsinogen.
Perkiraan penyebabnya adalah iritasi bahan-bahan yang bersifat
karsinogen dan berlangsung kronik. Gejala yang timbul pada
karsinoma paru adalah sesak napas, hemoptisis, nyeri daerah dada
dan timbulnya benjolan di dad.
3. Sistem Gastrointestinal
1) Terjadinya penurunan produksi saliva.
2) Fungsi ludah sebagai pelican pun berkurang.
3) Penurunan fungsi kelenjar pencernaan : keluhan kembung, perasaan
tidak enak diperut.
4) Intoleransi terhadap makanan terutama lemak.
5) Kadar selulosa menurun sehingga terjadi konstipasi.
6) Penyakit yang sering terjadi adalah gastritis dan ulkus peptikum.
4. Sistem Muskuloskeletal
1) Penyakit sendi degenerative (PSD)
Penyebab tidak diketahui, namun sendi cenderung mengalami
deteriorasi seiring dengan bertambahnya usia. Diawali dengan
kerusakan tulang rawan dan tulang berusaha untuk memperbaiki
proses tersebut. Sering mengeluh nyeri pada sendi dan bahkan
beberapa ansia tidak mengeluh apa-apa walaupun pada gambaran
radiologisnya terlihat gambaran adanya kerusakan parah pada sendi.
2) Nyeri leher dan punggung
Sering terjadi pada semua golongan umur namun penyebabnya
berbeda-beda. Pada kelompok lanjut usia penyebab tersering
terjadinya nyeri pada leher dan punggung adalah dapat berupa PSD,
fraktur osteoporosis, ataupun spinal stenosis.
3) Nyeri bahu
Penyebab yang sering ditemui adalah chronic rotator culf tears
serta ruptur dari tendon biseps.
4) Nyeri bokong
Penyebab yang sering terjadi adalah karena bokong merupakan
struktur tubuh yang menyokong tubuh dan area tubuh sudah
mengalami penyusutan baik massa otot dan tulang mengalami
kerapuhan maka sebagai kompensasinya lansia sering mengalami
keluhan yang nyata yaitu nyeri
pada bokong. Dapat diatasi dengan pemberian NSAID, pemberian
tongkat serta olahraga yang ringan.
5) Nyeri tungkai dan lutut
Sebagian besar disebabkan oleh PSD dan dapat diatasi dengan
pemberian NSAID serta strengthening exercise.
6) Nyeri pada kaki
Dapat disebabkan PSD pada sendi dikaki, neuropati perifer, penyakit
jaringan ikat yang melibatkan kaki dan merupakan suatu kondisi
yang disebabkan oleh penggunaan kaki yang berlebihan adalah
achiles tendonitis.
5. Sistem Penglihatan
1) Lensa mata mengalami kehilangan elastisitas dan kaku.
2) Ketajaman penglihatan serta daya akomodasi dari jarak jauh atau
dekat berkurang
3) Sering terjadi presbiopi.
4) Sering terjadi sindrom meniere dengan gejala vertigo, mual, muntah,
telinga terasa penuh, tinnitus dan hilangnya daya pendengaran.
6. Sistem Integumen
Kulit mengalami atrofi, kendur dan tidak elastis dan berkerut
disebabkan oleh berkurangnya cairan dan timbulnya pigmen coklat pada
kulit.
7. Sistem Neurologi
Gangguan saraf yang sering terjadi pada lanjut usia adalah :
Dizzines perasaan berputar dan sering disebut sebagai vertigo serta
sinkop yang disebabkan oleh beberapa gangguan seperti baroreseptor,
persarafan pada leher dan perubahan aliran darah sistemik.
8. Sistem Sensori
Gangguan pada system sensori yanh sering terjadi lansia yang
patologis adalah :
1) Mata dan penglihatan
Penurunan kemampuan penglihatan, ARMD (age-related macular
degeneration), glukoma.
2) Telinga atau pendengaran
Gangguan pendengaran biasanya sering terjadi pada usia 65 tahun
keatas (55%) – 80 tahun dan ada 3 gangguan pendengaran yaitu
gangguan pendengaran konjungtiva, gangguan pendengaran sensori
serta gabungan antara konjungtiva serta sensori.
3) Pengecap dan pembau
Fungsi pengecap dan pembau sudah berkurang sehingga
menyebabkan terjadinya perubahan dalam pemenuhan nutrisi tubuh
pun akan berkurang. Kenikmatan makanan ini pun didukung oleh
faktor pembau dimana akan merangsang mukosa hidung yang
menghantar impuls ke otak untuk menyimpulkan makanan tersebut
enak atau tidak. Hal tersebut diatas pun akan berpengaruh pada
pemenuhan nutrisi pada lanjut usia.
4) Vertigo
Perasaan tidak seimbang, disebabkan oleh tidak seimbangnya
labirin pada system pendengaran, gangguan pada system
cardiovaskuler, keseimbangan cairan elektrolit serta penggunaan
obat dan alkohol.
b. Masalah-Masalah Psikologis
Ada beberapa faktor yang dihadapi oleh lanjut usia yang sangat berpengaruh
dengan kesehatan jiwa mereka adalah :
1. Penurunan kondisi fisik
Banyak terjadi perubahan fisik seiring bertambahnya usia seperti
rambut menjadi uban, gigi rontok atau ompong, tenaga menjadi
berkurang, kulit makin keriput. Secara umum seseorang memasuki masa
lansia akan mengalami berlipatganda terjadinya penurunan. Hal ini
dapat menyebabkan tejadinya gangguan psikologis, sosial yang
selanjutnya akan mengalami ketergantungan pada orang lain.
2. Penurunan fungsi dan potensi seksual
Seringkali berhubungan dengan gangguan fisik seperti adanya
gangguan pada sistem cardiovaskuler, gangguan metabolisme seperti
DM, vaginitis dll. Faktor psikologis yang sering menyertai adalah :
1) Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada
lansia.
2) Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta
diperkuat oleh tradisi dan budaya.
3) Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam
kehidupannya.
4) Pasangan hidup telah meninggal.
5) Disfungsi seksual karena menurunnya hormonal atau perubahan
kesehatan jiwa lainnya seperti cemas, depresi dan pikun.
3. Perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan
Hilangnya pekerjaan dalam hal ini lansia sering diartikan dengan
hilangnya jabatan yang mungkin menghasilkan banyak uang dan tidak
bisa melakukan suatu pekerjaan tertentu karena ada hubungan dengan
gangguan fisik.
4. Perubahan dalam peran sosial di masyarakat
Akibat kurang atau menurunnya fungsi penglihatan, pendengaran
sehingga menimbulkan kecacatan pada lansia yang menyebabkan
terjadinya keterasingan pada lansia. Lansia sering menolak untuk
berkomunikasi atau bahkan mengalami regresi seperti mudah menangis,
mengurung diri, mengumpulkan barang-barang yang tidak berguna dan
sering menangis merengek-rengek sehingga perlakuannya seperti anak
kecil.
5. Perubahan tingkat depresi
Tingkat depresi adalah kemampuan lansia dalam menjalani hidup
dengan tenang, damai serta mengalami masa pensiun dengan anak cucu
dengan penuh kasih sayang.
6. Perubahan stabilitas emosi
Adanya perubahan lansia dalam menghadapi konflik akibat
perubahan fisik maupun sosial psikologis. Dimana kemampuannya
harus diselaraskan dengan apa yang dialaminya dengan tuntutan yang
harus dihadapi lansia. Hal ini menyebabkan lansia akan mengalami
perubahan dalam status emosi untuk tidak menimbulkan masalah baru
lagi.
B. Tinjauan Umum Kecemasan
1. Pengertian
Kecemasan adalah pengalaman pribadi yang bersifat subyektif, yang sering
bermanifestasi sebagai perilaku yang disfungsional yang diartikan sebagai perasaan
“kesulitan “dan kesusahan terhadap kejadian yang tidak diketahui dengan pasti
(Varcarolis, 2007, dikutip dalam Donsu, 2017). Kecemasan menurut Stuart (2016)
adalah sesuatu yang tidak jelas dan berhubungan dengan perasaan yang tidak
menentu dan tidak berdaya dan merupakan suatu respon emosi yang tidak memiliki
suatu obyek yang spesial. Kecemasan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari dan
memberikan peringatan yang berharga, bahkan kecemasan diperlukan untuk
bertahan hidup.
2. Etiologi
Ada beberapa factor yang mempengaruhi kecemasan, (Donsu, 2017) adalah sebagai
berikut :
a. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi adalah factor yang mempengaruhi jenis dan jumlah yang
dapat digunakan individu untuk mengatasi stress :
1) Biologi
Suatu model biologis yang menerangkan bahwa ekspresi emosi yang
melibatkan struktur anatomi dalam otak. Dan aspek biologis ini yang
menerangkan adanya pengaruh neutransmiter yang dapat menyebabkan
kecemasan. Dikatakan bahwa ada 3 jenis neurotransmiten yang
berhubungan dengan anatomi otak yang dapat mempengaruhi kecemasan
adalah norepineprin, serotonin dan gamma-aminobutyric acid (GABA).
2) Psikologis
Stuart & Laraia (2005) yang dikutip dalam Donsu (2017) mengatakan
bahwa factor psikologis yang mempengaruhi kecemasan adalah konflik
emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian yaitu id dan
superego. Sedangkan menurut Suliswati, et al., (2005) oleh Donsu (2017)
menjelaskan bahwa ketegangan dalam kehidupan yang dapat menimbulkan
ansietas diantaranya adalah suatu tragedi yang membuat trauma baik krisis
perkembangan maupun situasional seperti terjadinya bencana, konflik
emosional individu yang terselesaikan dengan baik serta mengalami konsep
diri yang terganggu.
3) Sosial Budaya
Adanya riwayat gangguan ansietas dalam keluarga yang mempengaruhi
respon individu dalam bereaksi terhadap konflik dan bagaimana cara
mengatasi kecemasan. Dikatakan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya kecemasan adalah social budaya, potensi stress, serta
lingkungan.
b. Faktor Pencetus
Digambarkan oleh Stuart & Laraia (2005), yang dikutip dalam Donsu (2017)
bahwa stresor pencetus sebagai stimulant yang dipersepsikan oleh individu
sebagai tantangan, ancaman, atau tuntutan yang memerlukan tenaga ekstra
untuk mempertahankan diri. Faktor pencetus ini bisa dari internal maupun
eksternal yaitu :
1) Biologi ( fisik )
Gangguan kesehatan pada tubuh merupakan suatu keadaan yang terganggu
secara fisik oleh penyakit maupun secara fungsional berupa aktifitas sehari-
hari yang menurun. Menurut Stuart & Laraia (2005) oleh Donsu (2017)
mengutip dalam bukunya mengatakan bahwa kesehatan umum seseorang
akan memiliki efek yang nyata sebagai presipitasi terjadinya kecemasan.
Apabila seseorang sudah mengalami gangguan pada kesehatan akan
berakibat pada kemampuan seseorang dalam mengatasi ancaman berupa
penyakit (gangguan fisik) akan menurun.
2) Psikologis
Suatu ancaman eksternal yang berhubungan dengan kondisi psikologis dan
dapat menyebabkan suatu keadaan kecemasan seperti kematian, perceraian,
dilema etik, pindah kerja sedangkan ancaman internal yang terkait dengan
kondisi psikologis yang dapat menyebabkan kecemasan seseorang seperti
gangguan hubungan interpersonal dalam rumah tangga, menerima peran
yang baru dalam berkeluarga sebagai istri, suami atau sebagai ibu baru.
3) Sosial Budaya
Status sosial ekonomi seseorang dapat juga mempengaruhi timbulnya stress
yang akan berakibat terjadinya kecemasan. Seseorang dengan status
ekonomi yang kuat akan susah mengalami stress dibandingkan dengan
orang yang mempunyai status ekonomi yang rendah. Secara tidak langsung
akan mempengaruhi seseorang akan mengalami kecemasan dan pergaulan
sosial pun akan ikut terganggu.
3. Tanda Dan Gejala
Menurut Hawari (2001), tanda dan gejala kecemasan pada setiap orang
bervariasi, tergantung dari beratnya atau tingkatan yang dirasakan oleh individu
tersebut. Keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang saat mengalami
kecemasan secara umum antara lain adalah sebagai berikut:
a. Gejala psikologis : pernyataan cemas atau khawatir, firasat buruk, takut akan
fikirannya sendiri, mudah tersinggung, merasa tegang, tidak tenang, gelisah,
mudah terkejut.
b. Gangguan pola tidur, seperti mimpi-mimpi yang menegangkan
c. .Gangguan konsentrasi dan daya ingat.
d. Gejala somatik : rasa sakit pada otot dan tulang, berdebar-debar, sesak nafas,
gangguan pencernaan, sakit kepala, gangguan perkemihan, tangan terasa dingin
dan lembab dan sebagainya.
Kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis
dan perilaku dan secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme
koping sebagai upaya untuk melawan timbulnya kecemasan. Menurut Stuart (2016),
pada orang yang cemas akan muncul beberapa respon yang meliputi :
a. Respon fisiologis
1) Kardiovaskuler : palpitasi, tekanan darah meningkat, tekanan darah menurun,
denyut nadi menurun,
2) Pernafasan : nafas cepat dan pendek, nafas dangkal dan terengahengah.
3) Gastrointestinal : nafsu makan menurun, tidak nyaman pada perut, mual dan
diare.
4) Neuromuskuler : tremor, gugup, gelisah, insomnia dan pusing.
5) Traktus urinarius : sering berkemih.
6) Kulit : keringat dingin, gatal, wajah kemerahan.
b. Respon perilaku
Respon perilaku yang muncul adalah gelisah, tremor, ketegangan fisik, reaksi
terkejut, gugup, bicara cepat, menghindar, kurang koordinasi, menarik diri dari
hubungan interpersonal dan melarikan diri dari masalah.
c. Respon kognitif
Respon kognitif yang muncul adalah perhatian terganggu, mudah lupa, salah
dalam memberikan penilaian, hambatan berpikir, kesadaran diri meningkat, tidak
mampu berkonsentrasi, tidak mampu mengambil keputusan, menurunnya
lapangan persepsi dan kreatifitas, bingung, takut, kehilangan kontrol, takut pada
gambaran visual, dan takut cedera atau kematian.
d. Respon afektif
Respon afektif yang sering muncul adalah mudah terganggu, tidak sabar, gelisah,
tegang, ketakutan, waspada, gugup, mati rasa, rasa bersalah dan malu.
4. Tingkat Kecemasan
Menurut Stuart (2016), tingkat kecemasan atau ansietas dapat dibagi atas :
a. Cemas ringan
Cemas ringan terjadi saat ketegangan hidup seseorang. Selama tahap ini
seseorang waspada dan lapang persepsi meningkat. Kemampuan seseorang
untuk melihat, mendengar dan menangkap lebih dari sebelumnya. Jenis
kecemasan ringan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan
dan kreativitas.
b. Cemas sedang
Seseorang berfokus pada hal yang penting saja. Lapang persepsi menyempit
sehingga kurang melihat, mendengar dan menangkap. Seseorang memblokir
area tertentu tetapi masih mampu mengikuti perintah jika diarahkan untuk
melakukannya.
c. Cemas berat
Cemas berat ditandai dengan penurunan yang signifikan di lapang persepsi.
Cenderung memfokuskan pada hal yang detail dan tidak berpikir tentang hal
lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ansietas, dan banyak arahan
yang dibutuhkan untuk fokus pada area lain.
d. Panik
Panik dikaitkan dengan rasa takut dan teror, sebagian orang yang mengalami
kepanikan tidak dapat melakukan hal-hal bahkan dengan arahan. Gejala panik
adalah peningkatan aktifitas motorik, penurunan kemampuan untuk
berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyempit dan kehilangan
pemikiran rasional. Orang panik tidak mampu berkomunikasi atau berfungsi
secara efektif.
5. Faktor yang mempengaruhi kecemasan
Menurut Isaac (2004) yang dikutip dalam Pramana, K. D., Ningrum, P. T., &
Oktatiranti., (2016) mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kecemasan adalah:
a. Umur
Bertambahnya usia akan menjadikan seseorang menjadi baik dalam tingkat
kematangan walaupun sebenarnya tidak mutlak. Umur menjadi patokan
seseorang dalam kematangan dan perkembangan serta makin kontruktif dalam
penggunaan koping untuk menghadapi suatu masalah.
b. Jenis Kelamin
Wanita dikatakan lebih cenderung mengalami cemas karena lebih sensitif
terhadap terhadap emosi yang pada akhirnya peka juga terhadap cemas.
c. Pendidikan
Semakin rendah pendidikan akan mudah mengalami cemas karena semakin
tinggi tingkat pendidikan akan mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang
dalam menghadapi suatu masalah.
6. Alat Ukur Kecemasan
Berat ringannya cemas dapat terlihat dari manifestasi yang ditimbulkan.
Pengukuran berat ringannya cemas dapat membantu dalam mengatur strategi
intervensi yang akan dilakukan. Alat ukur kecemasan terdapat dalam beberapa versi
:
a. The State-Trait Inventory for Cognitive and Somatic Anxiety (STICSA)
Alat ukur ini dikembangkan oleh Ree, Macleod, French dan Locke (2001).
STISCA adalah alat ukur yang didesain untuk mengkaji gejala kognitif dan
somatik dari tingkat kecemasan saat ini dan secara umum. Merupakan format
tiruan dari STAI’s dan digunakan untuk mengetahui keadaan responden saat itu
dan ciri dari kecemasan itu sendiri. Terdiri dari 21 pertanyaan untuk mengetahui
bagaimana responden “rasakan sekarang, pada waktu sekarang, kejadian
sekarang yang ia pun tidak tau bagaimana ia merasakannya”. Menggunakan
skala Likert yang terdiri dari 4 poin dimulai dari 1 dengan tidak ada gejala
sampai 4 atau banyak/sering (Grӧs, et al., 2007). Skala ini dibuat untuk orang
dewasa muda dan menengah, namun penelitian lebih lanjut banyak digunakan
untuk meneliti sifat psikometrik pada orang dewasa tua. Secara keseluruhan,
penelitian yang meneliti dengan menggunakan STAI harus hati-hati disaat
menilai kegelisahan pada orang dewasa tua. (Therrien & Hunsley, 2012).
b. Hospital Anxiety Depression Scale (HADS)
HADS dikembangkan oleh Zigmond dan Saith (1983) yang berisi 36 pertanyaan
tentang kecemasan dan telah diuji kembali validitas dan reabilitasnya sebagai
alat ukur kecemasan dan depresi oleh Ioannis Michopoulos, et al., (2007)
dengan hasil HADS valid dengan koefisien α cronbach 0,884 (0,829 untuk
cemas dan 0,840 untuk depresi) serta stabil dengan test-retest
intraclasscorrelation coefficient 0,944.
c. Zung Self Rating Anxiety Scale (ZSAS)
ZSAS dikembangkan oleh Wiliam W. K. Zung (1971) adalah metode
pengukuran tingkat kecemasan. Skala berfokus pada kecemasan umum dan
koping dalam mengatasi stress. Terdiri dari 20 pertanyaan dengan 15 pertanyaan
tentang peningkatan kecemasan dan 5 pertanyaan tentang penurunan
kecemasan.
d. Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS)
HARS dibuat oleh M. Hamilton pada tahun 1959 yang terdiri atas 14 pertanyaan
tentang suasana hati, ketegangan, ketakutan, insomnia, konsentrasri, depresi,
tonus otot, sensori somatik, gejala kardiovaskuler, gejala sistem respirasi, gejala
sistem gastrointestinal, gejala sistem genitourinaria, gejala otonom dan perilaku.
Masing-masing kelompok dalam 14 kategori ini dibagi menjadi beberapa item
pertanyaan. Kategori yang dihasilkan adalah cemas ringan, sedang dan berat.
Digunakan untuk populasi dewasa, remaja dan anak-anak.
e. Beck Anxiety Inventory (BAI)
BAI merupakan kuesioner self-report yang dirancang untuk mengukur
keparahan kecemasan dan membedakan antara kecemasan dengan depresi.
Terdiri dari 21 pertanyaan dan masing-masing pertanyaan ada empat poin
menggunakan skala likert dengan skor terendah 0 dan tertinggi 63. Pada
awalnya BAI dikembangkan untuk pasien dewasa di rawat jalan psikiatri.
Seiring perkembangannya, ada beberapa penelitian yang mengevaluasi
penggunaannya pada populasi dewasa yang lebih tua atau lansia. BAI ini harus
digunakan secara hati-hati karena ada 2 hal yang harus diperhatikan adalah
potensi confound dengan gejala depresi dan pertanyaan pada item untuk
somatiknya tinggi yaitu terdapat 13 yang berhubungan dengan gejala somatik
dari 21 pertanyaan. (Therrien & Hunsley, 2012).
f. Geriatric Anxiety Inventory (GAI)
Terdiri dari 20 pertanyaan yang dirancang untuk mengukur gejala kecemasan
pada orang dewasa yang lebih tua/lansia. Menggunakan format pilihan
tanggapan setuju atau tidak setuju. Skor maksimal 20, dengan skor tertinggi
menunjukkan tingkat kecemasan tinggi. Dikembangkan untuk lansia di
masyarakat dan yang mendapat perawatan psikiatri. Dari beberapa penelitian
yang dikutip dalam Therrien & Hunsley (2012) bahwa GAI cenderung
digunakan sebagai alat ukur kecemasan pada lansia. Meskipun format ini
membantu untuk kalangan dewasa lebih tua, namun ada yang membatasi
kemampuan penggunaan yang menunjukkan gradasi kecemasan saat menjawab
pertanyaan. Selain itu, 8 dari 20 pertanyaan di GAI lebih dominan aspek
kekwatiran yang memungkinkan akan membatasi pengukuran aspek kunci
kecemasan lain termasuk somatik dan afektif (Yochim, Mueller, June, & Segal,
2011)
g. Worry Scale
Skala kecemasan yang dipakai untuk mengukur kekwatiran dibidang kesehatan
(17 item), keuangan (5 item), kondisi sosial (13 item), dengan skor berkisar
antara 0-140 pada lansia. ( Mueller, et al., 2014)
h. Geriatric Anxiety Scale (GAS)
Alat ukur yang dirancang untuk digunakan pada orang dewasa yang lebih tua
atau lansia (Segal, et al., 2010., dikutip dalam Yochim et al., 2011). Dibuat
berdasarkan berbagai gejala kecemasan yang termasuk dalam Manual
Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental dan berbeda dari alat ukur
kecemasan lain yang tidak sepenuhnya membahas tentang gejala DSM yang
lengkap. Secara khusus GAS menilai gejala kecemasan afektif, soamatik dan
kognitif yang semuanya merupakan gejala kecemasan pada lansia. Pada GAS
terdiri dari 30 pertanyaan yang mengarah pada setiap gejala yang dialami pada
minggu lalu sampai saat sekarang. Menggunakan skala likert dimana masing-
masing pertanyaan terdiri dari empat poin yaitu 0 (tidak sama sekali) sampai 3
(sepanjang hari) (Segal, 2013).
Dari berbagai alat ukur kecemasan diatas, GAS adalah salah satu alat ukur
kecemasan terbaru yang dirancang dan digunakan khusus lansia yang mencakup
aspek somatik, afektif dan kognitif yang dialami lansia dengan kecemasan
(Yochim, et al., 2010) dan instrumen ini akan digunakan dalam penelitian ini.

7. Aspek-aspek kecemasan (Anxiety)


Gail W. Stuart (2006: 149) mengelompokkan kecemasan (anxiety) dalam
respon perilaku, kognitif, dan afektif, diantaranya.
a. Perilaku, diantaranya: 1) gelisah, 2) ketegangan fisik, 3) tremor, 4) reaksi
terkejut, 5) bicara cepat, 6) kurang koordinasi, 7) cenderung mengalami cedera,
8) menarik diri dari hubungan interpersonal, 9) inhibisi, 10) melarikan diri dari
masalah, 11) menghindar, 12) hiperventilasi, dan 13) sangat waspada.
b. Kognitif, diantaranya: 1) perhatian terganggu, 2) konsentrasi buruk, 3) pelupa,
4) salah dalam memberikan penilaian, 5) preokupasi, 6) hambatan berpikir, 7)
lapang persepsi menurun, 8) kreativitas menurun, 9) produktivitas menurun, 10)
bingung, 11) sangat waspada, 12) keasadaran diri, 13) kehilangan objektivitas,
14) takut kehilangan kendali, 15) takut pada gambaran visual, 16) takut cedera
atau kematian, 17) kilas balik, dan 18) mimpi buruk.
c. Afektif, diantaranya: 1) mudah terganggu, 2) tidak sabar, 3) gelisah, 4) tegang,
5) gugup, 6) ketakutan, 7) waspada, 8) kengerian, 9) kekhawatiran, 10)
kecemasan, 11) mati rasa, 12) rasa bersalah, dan 13) malu.
Kemudian Shah (dalam M. Nur Ghufron & Rini Risnawita, S, 2014: 144) membagi
kecemasan menjadi tiga aspek, yaitu.
a. Aspek fisik, seperti pusing, sakit kepala, tangan mengeluarkan keringat,
menimbulkan rasa mual pada perut, mulut kering, grogi, dan lain-lain.
b. Aspek emosional, seperti timbulnya rasa panik dan rasa takut.
c. Aspek mental atau kognitif, timbulnya gangguan terhadap perhatian dan
memori, rasa khawatir, ketidakteraturan dalam berpikir, dan bingung.
Kemudian menurut Ivi Marie Blackburn & Kate M. Davidson (1994: 9) membagi
analisis fungsional gangguan kecemasan, diantaranya.
a. Suasana hati, diantaranya: kecemasan, mudah marah, perasaan sangat tegang.
b. Pikiran, diantaranya: khawatir, sukar berkonsentrasi, pikiran kosong,
membesar-besarkan ancaman, memandang diri sebagai sangat sensitif, dan
merasa tidak berdaya.
c. Motivasi, diantaranya: menghindari situasi, ketergantungan tinggi, dan ingin
melarikan diri.
d. Perilaku, diantaranya: gelisah, gugup, kewaspadaan yang berlebihan.
e. Gejala biologis, diantaranya: gerakan otomatis meningkat, seperti berkeringat,
gemetar, pusing, berdebar-debar, mual, dan mulut kering.

8. Jenis-jenis kecemasan (anxiety)


Menurut Spilberger (dalam Triantoro Safaria & Nofrans Eka Saputra, 2012: 53)
menjelaskan kecemasan dalam dua bentuk, yaitu.
a. Trait anxiety
Trait anxiety, yaitu adanya rasa khawatir dan terancam yang menghinggapi diri
seseorang terhadap kondisi yang sebenarnya tidak berbahaya. Kecemasan ini
disebabkan oleh kepribadian individu yang memang memiliki potensi cemas
dibandingkan dengan individu yang lainnya.
b. State anxiety
State anxiety, merupakan kondisi emosional dan keadaan sementara pada diri
individu dengan adanya perasaan tegang dan khawatir yang dirasakan secara
sadar serta bersifat subjektif.
Sedangkan menurut Freud (dalam Feist & Feist, 2012: 38) membedakan
kecemasan dalam tiga jenis, yaitu.
a. Kecemasan neurosis
Kecemasan neurosis adalah rasa cemas akibat bahaya yang tidak diketahui.
Perasaan itu berada pada ego, tetapi muncul dari dorongan id. Kecemasan
neurosis bukanlah ketakutan terhadap insting-insting itu sendiri, namun
ketakutan terhadap hukuman yang mungkin terjadi jika suatu insting dipuaskan.
b. Kecemasan moral
Kecemasan ini berakar dari konflik antara ego dan superego. Kecemasan ini
dapat muncul karena kegagalan bersikap konsisten dengan apa yang mereka
yakini benar secara moral. Kecemasan moral merupakan rasa takut terhadap
suara hati. Kecemasan moral juga memiliki dasar dalam realitas, di masa
lampau sang pribadi pernah mendapat hukuman karena melanggar norma moral
dan dapat dihukum kembali.
c. Kecemasan realistic
Kecemasan realistik merupakan perasaan yang tidak menyenangkan dan tidak
spesifik yang mencakup kemungkinan bahaya itu sendiri. Kecemasan realistik
merupakan rasa takut akan adanya bahaya-bahaya nyata yang berasal dari dunia
luar.
9. Upaya untuk mengurangi kecemasan (Anxiety)
Cara yang terbaik untuk menghilangkan kecemasan ialah dengan jalan
menghilangkan sebeb-sebabnya.
Menurut Zakiah Daradjat (1988: 29) adapun cara-cara yang dapat dilakukan,
antaralain.
a. Pembelaan
Usaha yang dilakukan untuk mencari alasan-alasan yang masuk akal bagi
tindakan yang sesungguhnya tidak masuk akal, dinamakan pembelaan.
Pembelaan ini tidak dimaksudkan agar tindakan yang tidak masuk akal itu
dijadikan masuk akal, akan tetapi membelanya, sehingga terlihat masuk akal.
Pembelaan ini tidak dimaksudkan untuk membujuk atau membohongi orang
lain, akan tetapi membujuk dirinya sendiri, supaya tindakan yang tidak bisa
diterima itu masih tetap dalam batas-batas yang diingini oleh dirinya.
b. Proyeksi
Proyeksi adalah menimpakan sesuatu yang terasa dalam dirinya kepada orang
lain, terutama tindakan, fikiran atau dorongan-dorongan yang tidak masuk akal
sehingga dapat diterima dan kelihatannya masuk akal.
c. Identifikasi
Identifikasi adalah kebalikan dari proyeksi, dimana orang turut merasakan
sebagian dari tindakan atau sukses yang dicapai oleh orang lain. Apabila ia
melihat orang berhasil dalam usahanya ia gembira seolah-olah ia yang sukses
dan apabila ia melihat orang kecewa ia juga ikut merasa sedih.
d. Hilang hubungan (disasosiasi)
Seharusnya perbuatan, fikiran dan perasaan orang berhubungan satu sama lain.
Apabila orang merasa bahwa ada seseorang yang dengan sengaja menyinggung
perasaannya, maka ia akan marah dan menghadapinya dengan balasan yang
sama. Dalam hal ini perasaan, fikiran dan tindakannya adalah saling
berhubungan dengan harmonis. Akan tetapi keharmonisan mungkin hilang
akibat pengalaman- pengalaman pahit yang dilalui waktu kecil.
e. Represi
Represi adalah tekanan untuk melupakan hal-hal, dan keinginan-keinginan yang
tidak disetujui oleh hati nuraninya. Semacam usaha untuk memelihara diri
supaya jangan terasa dorongan-dorongan yang tidak sesuai dengan hatinya.
Proses itu terjadi secara tidak disadari.
f. Subsitusi
Substitusi adalah cara pembelaan diri yang paling baik diantara cara-cara yang
tidak disadari dalam menghadapi kesukaran. Dalam substitusi orang melakukan
sesuatu, karena tujuan-tujuan yang baik, yang berbeda sama sekali dari tujuan
asli yang mudah dapat diterima, dan berusaha mencapai sukses dalam hal itu.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian dituju pada fungsi fisiologi dan perubahab prilaku melalui gejala atau
mekanisme koping sebagai pertahanan terhadap kecemasan. Kaji faktor predisposisi,
faktor predisposisi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang menyebabkan
timbulnya kecemasan seperti :
1. Peristiwa traumatik yang dapat memicu terjadinya kecemasan dengan krisis yang
dialami individu baik krisis perkembangan atau situasional.
2. Konflik emosional yang dialami individu dan tidak dapat terselesaikan dengan
baik.
3. Konsep diri terganggu akan menimbulkan ketidakmampuan individu berpikir
secara realita sehinggan menimbulkan kecemasan.
4. Frustasi akan menimbulkan rasa ketidakberdayaan untuk mengambil keputusan
yang berdampak terhadap ego.
5. Gangguan fisik akan menimbulkan kecemasan karena merupakan ancaman
terhadap integritas fisik yang dapat mempengaruhi konsep diri individual. Pola
mekanisme koping keluarga atau pola keluarga menangani stres akan
mempengaruhi individu dalam respon terhadap konflik yang dialami karena pola
mekanisme koping individu banyak dipelajari dalam keluarga.
6. Riwayat angguan cemas dalam keluarga akan mempengaruhi respon individu
dalam respon terhadap konflik dan mengatasi kecemasan.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Ansietas b/d ancaman kematian
C. Intervensi
No Diagnosa NOC NIC
1. Ansietas b/d
ancaman kenatian

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Indonesia sebagai negara berkembang memiliki jumlah penduduk dengan usia 60 tahun
ke atas sekitar 8,90% dari jumlah penduduk di Indonesia. Dengan semakin
meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia, akan menimbulkan berbagai
persoalan dan permasalahan yang akan muncul baik fisik maupun psikologis, yaitu
kecemasan. Masalah psikologis yang terjadi pada lanjut usia ini merupakan kondisi
penurunan yang turut dipengaruhi oleh kesehatan fisik dengan persoalan mental seperti
pola dan sikap hidup, merasa kesepian, perasaan tidak berharga, emosi yang meningkat
pada lanjut usia, serta ketidakmampuan dalam menyesuaikan tugas perkembangan
lanjut usia. Dengan demikian para lanjut usia khususnya yang bertempat tinggal di Panti
Jompo perlu dibekali konsep mengenai kecemasan yang dapat terjadi pada masa lanjut
usia, sehingga dampak psikologis pada lanjut usia dapat diminimalisir.
B. Saran
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar penulis
dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari, semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA

Bura, A. E. D. (2018). GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PADA LANSIA DENGAN


HIPERTENSI DI PUSKESMAS NITA KABUPATEN SIKKA NTT. Keperawatan,
10(2), 1–15.

Annisa, D. F. (2016). Konsep Kecemasan ( Anxiety ) pada Lanjut Usia ( Lansia ). 5(2).