Anda di halaman 1dari 14

Makalah Fisiologi Hewan

Mekanisme Pengendalian Hormon

Disusun Oleh : Arini Ulfa Hidayah

Diani Purbandari

Fitri Kurniawati

Nuranisah

Kelompok : 6

Kelas : Biologi 6A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

JAKARTA

2015
Mekanisme Pengendalian Hormon

A. Pengertian Umpan Balik


Menurut Anderson (1996) hormon disekresi terus menerus, dan frekuensi dari
sekresinya diatur oleh tuntutan dari kebutuhan tubuh. Sistem saraf mengontrol sistem
endokrin baik secara langsung atau tidak langsung. Pengaruh langsungnya adalah
minimal dan digambarkan dengan baik oleh efek dari sistem saraf simpatis pada sekresi
medula adrenal. Kontrol tak langsung adalah lebih umum dan dipusatkan di sekitar peran
dari hipotalamus. Hipotalamus mensekresi hormon tertentu dan menyebarkan hormon ini
ke pituitari posterior di tempat hormon tersebut disimpan. Juga, hipotalamus mensekresi
bahan kimiawi, yang dikenal sebagai faktor realising, yang dilepaskan ke dalam vaskular
di antara hipotalamus dan pituitari anterior. Faktor realising ini adalah spesifik dan
mengatur pelepasan dari hormon-hormon pituitari. Hormon yang dilepaskan oleh
kelenjar target mungkin mengumpan balik dan mempengaruhi pelepasan atau
penghambatan dari hormon pituitari atau hipotalamus.
Menurut Rumanta (2007) jumlah hormon yang disekresikan oleh kelenjar endokrin
ditentukan oleh kebutuhan tubuh akan hormon tersebut dalam waktu tertentu. Pada
umumnya sekresi hormon diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengakibatkan adanya
produksi berlebihan atau berkurang. Jadi terdapat suatu mekanisme kontrol untuk
mengatur produksi dan sekresi hormon. Mekanisme tersebut adalah umpan balik atau
feedback. Menurut Despopulos (1998) umpan balik adalah keadaan yang merupakan
respons terhadap suatu sinyal (misalnya sebuah sel terhadap rangsangan hormonal)
mempengaruhi sumber sinyal (dalam kasus ini, kelenjar penghasil hormon). Dapat
dikatakan, umpan balik terdiri dari dua macam yaitu, umpan balik positif dan umpan
balik negatif. Penjelasan lebih lanjut terdapat pada sub-bab berikutnya.

B. Umpan Balik Negatif (Feedback Negatif)


Menurut Despopoulos (1998) pada umpan balik negatif suatu rangsangan diturunkan
oleh respons. Seperti kebanyakan mekanisme pengaturan lainnya pada organisme, kerja
hormon kebanyakan diutamakan untuk umpan balik negatif. Menurut Rumanta (2007)
feedback negatif merupakan suatu mekanisme dimana jumlah suatu output (pengeluaran
hormon) berperan untuk mengurangi jumlah input (pemasukan hormon) dengan tujuan
untuk mencapai suatu keseimbangan (homesostatis). Contohnya : hormon insulin
berperan dalam meningkatkan difusi berfasilitas glukosa ke dalam sel, akibatnya kadar
glukosa darah akan turun (output), kadar glukosa darah yang rendah akan mengurangi
sekresi insulin oleh sel-sel beta pankreas (input). Penjelasan lebih lanjut terdapat pada
sub-bab berikutnya.

C. Umpan Balik Positif (Feedback Positif)


Menurut Rumanta (2007) mekanisme feedback positif berlawanan dengan feedback
negatif, dimana jumlah suatu ouput yang akan merangsang suatu input. Proses ini akan
menyebabkan suatu ketidakseimbangan. Mekanisme ini jarang terjadi namun ada
beberapa hormon yang bekerja mengikuti mekanisme ini. Misalnya, oksitosin yang
disekresikan hipofisis bagian belakang (neurohipofisa) akan merangsang kontraksi otot
rahim sewaktu persalinan, yang berpengaruh pada terbukanya serviks (leher rahim).
Pembukaan serviks ini menimbulkan impuls sensoris ke hipotalamus, yang
memerintahkan hipofisis untuk lebih banyak menghasilkan oksitosin sehingga uterus
berkontraksi. Proses tersebut sangat penting untuk proses kehamilan. Penjelasan lebih
lanjut terdapat pada sub-bab berikutnya.

D. Contoh Umpan Balik (Feedback) pada Hormon


Seperti yang sudah dibahas dalam sub-bab sebelumnya, kinerja hormon dapat terdiri
dari dua macam feedback, yaitu feedback positif ataupun feedback negatif. Kebanyakan
mekanisme pada organisme, diutamakan lebih banyak kerja hormon secara feedback
negatif dan sedikit yang feedback positif. Namun tetap masih ada seperti yang dijelaskan
dalam sub-bab berikutnya. Untuk mengetahui lebih lanjut seperti apa kinerja hormon
baik secara feedback positif ataupun negatif, berikut beberapa contoh kinerja hormon
yang dapat dipahami :

1. Kontrol Hormonal Spermatogenesis


Menurut Surjono (2000) spematogenesis dikendalikan oleh suatu sistem
hormonal. Aksi hipotalamus-hipofisis berperan penting di dalam sekresi
gonadotropin yang mengatur aktivitas hormon dan sel spermatogenik di dalam testis.
Gonadotrophic releasing hormone (GnRH) yang dikeluarkan oleh hipotalamus
merangsang sintesis dan sekresi FSH dan LH oleh sel-sel gonadotrof di dalam
hipofisis. LH dan FSH berfungsi merangsang proses spermatogenesis di dalam testis.
LH berfungsi merangsang sel-sel Leydig untuk menghasilkan testoteron, sedangkan
testoteron dan FSH merangsang sel-sel spermatogenik untuk melakukan meiosis dan
berdiferensiasi mernjadi sperma. Selain itu FSH juga berfungsi merangsang sel
Sertoli untuk mensekresikan ABP (Androgen Binding Protein) dan inhibin. ABP
berfungsi mengangkut testoteron ke dalam lumen tubulus seminiferus. Tanpa ABP
testoteron tidak dapat memasuki lumen tubulus. Sedangkan inhibin berfungsi
menghambat pembentukan FSH.
Menurut Shostak (1991) injeksi inhibin terhadap hewan jantan dapat
menghambat produksi GnRH dan pelepasan LH. Selain menghasilkan inhibin dan
ABP, sel Sertoli juga berfungsi sebagai penyedia makanan bagi sel-sel
spermatogenik yang sedang tumbuh, memakan (fagositosis) sel-sel germinal yang
abnormal, menggetahkan lendir yang ikut membina plasma semen, dan sebagai
pelindung sel-sel germinal yang sedang tumbuh (Surjono, 2000).
Feedback negatif selain dilakukan oleh inhibin juga dilakukan oleh testoteron.
Testoteron dalam kadar tertentu dapat menghambat pengeluaran FSH dan LH oleh
hipofisis. Untuk lebih jelasnya mengenai peran hormonal dalam spermatogenesis,
perhatikan gambar di bawah ini :

Gambar 1. Kontrol Hormonal Spermatogenesis


(Wongso, 2012)
2. Kontrol Hormon Paratiroid dan Kalsitonin
Menurut Starr (2013) hormon paratiroid meningkatkan Ca2+ darah dengan cara
merangsang reabsorbsi Ca2+ di ginjal dan dengan cara penginduksian sel-sel tulang
sejati khusus yang disebut osteoklas untuk merombak matriks bermineral pada tulang
sejati dan melepaskan Ca2+ ke dalam darah.
Menurut Campbel (2008) PTH memiliki target sel tulang dan sel ginjal. Pada
tulang, PTH menginduksi sel terspesialisasi disebut osteoklas untuk menyekresikan
enzim pencerna tulang. Kalsium dan mineral lain yang dilepaskan dari tulang
memasuki darah. Pada ginjal, PTH menstimulasi sel tubulus untuk mereabsorbsi
lebih banyak kalsium. Hormone tersebut juga menstimulasi sekresi enzim yang
mengaktivasi vitamin D, mengubahnya menjadi kalsitriol. Kalsitriol ialah hormon
steroid yang menstimulasi sel dalam lapisan usus untuk mengabsorbsi lebih banyak
kalsium dari makanan.
Menurut Starr (2013) kekurangan PTH menyebabkan kadar kalsium darah
turun secara dramatis, yang menyebabkan kontraksi berlebihan pada otot rangka. Jika
tidak diperbaiki, kondisi ini yang dikenal sebagai tetanus akan sangat fatal.
Pengontrolan kadar kalsium darah merupakan salah satu contoh bagaimana
homeostatis seringkali dipertahankan dengan cara penyeimbangan dua hormone yang
saling berlawanan yaitu PTH dan kalsitonin. Kalsitonin mempunyai pengaruh yang
berlawanan pada tulang sejati ginjal, sehingga menurunkan Ca2+ darah. Vitamin D
yang disintesis pada kulit dan diubah menjadi bentuk aktifnya pada banyak jaringan,
sangat penting bagi fungsi PTH, sehingga juga diperlukan untuk keseimbangan
kalsium yang sempurna.
Menurut Koswara (2014) pengaruh kalsitonin diduga terjadi dengan cara
merangsang pengendapan kalsium pada tulang. Hal ini terjadi dalam keadaan stress,
seperti pada masa pertumbuhan dan kehamilan. Dalam hal ini kalsitonin menurunkan
kalsium darah.Bila darah kalsium terlalu rendah, kelanjar paratiroid mengeluarkan
hormon paratiroid. Sistem pengendalian kalsium ini akan menjaga kalsium darah
dalam keadaan normal. Bila terjadi kagagalan dalam sistem pengendalian, kalsium
darah akan berubah. Bila kalsium darah lebih tinggi dari normal akan terjadi
kekakuan otot. Sebaliknya, bila kalsium darah lebih rendah dari normal, akan terjadi
kajang otot. Kegagalan sistem ini tidak disebabkan kekurangan atau kelebihan
kalsium dari makanan, akan tetapi kekurangan vitamin D atau gangguan sekresi
hormon-hormon yang berperan.
Gambar 2. Kontrol Hormon Paratiroid dan Kalsitonin
(Anonim, 2012)
Seperti pada gambar diatas hormon paratiroid dan kalsitonin memiliki sistem
umpan balik negatif yang saling antagonis. Peningkatan Ca2+ dalam darah
menginduksi kelenjar tiroid untuk mensekresi kalsitonin, yang menurunkan
konsentrasi Ca2+ dengan cara meningkatkan deposisi tulang sejati, sehingga
mengurangi pengambilan Ca2+ dalam usus, dan menurunkan reabsorbsi dalam ginjal.
Pengaruh tersebut dilawan oleh PTH, yang disekresikan oleh kelenjar paratiroid
ketika konsentrasi Ca2+ darah turun dibawah titik pasang. Kadar kalsium darah mulai
meningkat ketika sel-sel target diginjal, usus dan tulang sejati merespons PTH.
Kalsium darah akan naik hanya sejauh sebelum tiroid melawan dan menghambat
dengan cara mensekresikan kalsitonin. Seperti mekanisme umpan-balik klasik, kedua
hormon tersebut akan menyeimbangkan pengaruh masing-masing, sehingga
meminimalkan fluktasi konsentrasi Ca2+ darah, ion yang sangat penting dalam
menjaga fungsi normal semua sel tubuh. Vitamin D disintesis dalam bentuk inaktif
oleh kulit yang terpapar ke cahaya matahari, dan memainkan peranan penting dalam
homeostatis kalsium. Vitamin D dibawa dalam darah dan diubah menjadi bentuk
aktifnya pada banyak jaringan seperti hati dan ginjal. Bentuk aktif itu membuat PTH
mampu untuk meningkatkan pengambilan Ca2+ oleh usus.
3. Kontrol Hormon Insulin dan Hormon Glukagon
Menurut Starr (2013) pankreas ialah organ yang terletak di rongga abdominal,
di belakang lambung serta memiliki fungsi endokrin dan eksokrin, sel eksokrin
menyekresikan enzim pencernaan ke usus kecil. Sel endokrin terkumpul dalam islet
pankreas. Dimana terdiri dari dua macam sel islet, yaitu sel alfa dan sel beta.
Sel alfa islet pankreas menyekresikan hormon glukagon. Glukagon memiliki
sel target dalam hati dan menyebabkan aktivasi enzim yang memecah glikogen
menjadi subunit glukosa. Dalam aksinya, glukosa meningkatkan kadar glukosa darah.
Sel beta islet pankreas menyekresikan hormon insulin. Target utama hormon itu ialah
hati, lemak, dan sel otot. Insulin menstimulasi otot dan sel lemak untuk mengambil
glukosa. Dalam semua sel target tersebut, insulin mengaktivasi enzim yang berfungsi
dalam pembentukan protein dan lemak serta menghambat enzim yang mengatalisis
penguraian protein dan lemak. Akibatnya, insulin menurunkan kadar glukosa darah.
Seperti yang diketahui glukagon dan insulin memiliki efek yang berlawanan
pada kadar glukosa darah. Secara bersama-sama, kedua hormon tersebut menjaga
kadar gula darah dalam rentang toleransi sel tubuh. Ketika kadar glukosa darah naik
di atas normal, sel alfa menyekresikan lebih sedikit glukagon dan sel beta
menyekresikan lebih banyak insulin. Ketika glukosa diambil dan disimpan dalam sel,
kadar glukosa darah menurun. Sebaliknya, penurunan kadar glukosa darah dibawah
kadar normal meningkatkan sekresi glukagon dan menurunkan sekresi.

Gambar 3. Kontrol Hormon Insulin dan Glukagon


(Starr, 2013)
Insulin dan glukagon bekerja secara antagonis untuk mengatur kadar glukosa,
suatu contoh homeostasis yang terdapat pada gambar di atas. Setelah makan, glukosa
memasuki darah lebih cepat dari pada sel mengambilnya. Kadar glukosa darah
meningkat (a). Dalam pankreas, kenaikan ini menghentikan sel alfa yang
menyekresikan glukagon dan menstimulasi sel beta yang menyekresikan insulin (b
dan c). Sebagai respons terhadap insulin, otot dan jaringan adiposa mengambil dan
menyimpan glukosa serta sel hati membentuk lebih banyak glikogen (d) dan hasilnya
insulin menurunkan kadar glukosa darah (e).
Antara jam makan, kadar glukosa darah menurun (f). Hal tersebut
menstimulasi sel alfa untuk menyekresikan glukagon dan menghentikan sel beta yang
menyekresikan insulin (g dan h). Dalam hati, glukagon menyebabkan sel memecah
glikogen menjadi glukosa, yang memasuki darah (i) dan hasilnya glukagon
meningkatkan kadar glukosa darah (j).
Selanjutnya menurut Campbel (2008) dalam proses umpan balik negatif,
konsentrasi glukosa dalam darah menentukan jumlah relatif insulin dan glukagon
yang disekresikan oleh sel-sel Langerhens. Hal tersebut dapat terlihat pada gambar
homeostatis kadar glukosa dalam darah di bawah ini :

Gambar 4. Mekanisme Homeostatis Kadar Glukosa Darah


(Anugrah, 2012)
Baik insulin maupun glukagon mempengaruhi konsentrasi glukosa darah
melalui berbagai mekanisme. Insulin menurunkan kadar glukosa darah dengan cara
merangsang hampir semua sel tubuh kecuali sel-sel otak untuk mengambil glukosa
dari darah. (Sel-sel otak unik karena mampu mengambil glukosa tanpa insulin ;
sebagai akibatnya, otak mempunyai akses terhadap molekul bahan bakar itu hampir
setiap saat). Insulin juga menurunkan glukosa darah dengan memperlambat
perombakan glikogen dalam hati dan menghambat konversi atau perubahan asam
amino dan asam lemak menjadi gula.

4. Kontrol Hormonal Fase Folikular dalam Siklus Menstruasi


Seperti yang telah dijelaskan pada sub-bab sebelumnya, bahwa adanya kineja
feedback positif jarang terjadi pada suatu hormon. Namun terdapat beberapa hormon
yang dapat menyebabkan feedback untuk menghasilkan suatu rangsangan yang tetap
lebih besar, misalnya pada fase folikular dalam siklus menstruasi seorang wanita.
Sebelumnya pada wanita, gonadoliberin atau GnRH meningkatkan pelepasan
FSH dan LH dari lobus anterior hipofisis. GnRH dilepaskan tiba-tiba denga interval
1,5 jam sebelum ovulasi dan 3-4 jam sesudahnya. Irama yang lebih cepat atau
pelepasan yang terus menerus akan menurunkan sekresi FSH dan LH (infertilitas).
Karena jumlah FSH dan LH yang dilepaskan, berhubungan satu dengan yang lain,
terus menerus berubah selama siklus menstruasi, maka harus ada faktor lain yang
mempengaruhi pelepasannya. Di samping pengaruh saraf pusat (meliputi efek
kejiwaan), estradiol mempunyai peranan khusus. Pada gilirannya kerja estradiol
dimodifikasi oleh progesteron (Despopulos, 1998).
Selama fase folikular siklus menstruasi, sekresi LH relatif tetap lebih rendah.
Pada hari ke-12 sampai ke-13 produksi estradiol ditingkatkan oleh kerja FSH,
menyebabkan perangsangan terhadap pelepasan FSH dan LH, yang pada gilirannya,
merangsang pelepasan estradiol dan kemudian juga progesteron. Melalui putaran
feedback positif, kadar LH yang sangat tinggi dalam darah dengan cepat dicapai dan
memulai ovulasi pada hari ke-14 atau dapat bervariasi. Bila peningkatan LH secara
tiba-tiba tidak berlangsung, atau peningkatannya terlalu kecil, maka ovulasi dan oleh
karena itu kehamilan tidak dapat terjadi (infertilitas anovulatori). Untuk lebih
jelasnya perhatikan gambar di bawah ini :
Gambar 5. Kontrol Hormonal Menstruasi
(Despopoulos, 1998)

Untuk fase menstruasi yang selanjutnya masuk kembali dalam feedback


negatif dimana akan menghambat sekresi hormon. Dan untuk lebih jelas mengenai
siklus mentruasi akan dibahas oleh kelompok yang lain.

5. Kontrol Hormon Ositosin atau Selama Kelahiran


Hal yang paling penting dalam organisme disimpan dalam homeostasis
dengan umpan balik negatif dan kontra-regulasi hormon. Namun beberapa hal
dikendalikan dalam cara yang berbeda. Salah satu cara yang jarang adalah umpan
balik positif. Dalam umpan balik negatif, efek hormon membuat kelenjar berhenti
membuat hormon. Dalam umpan balik positif sebaliknya terjadi. Efek hormon
memberitahu kelenjar hormon untuk membuatbahkan lebih. Sebuah contoh dari
umpan balik positif adalah hormon oksitosin (ketika bayi lahir.). Hormon ini dibuat
oleh kelenjar hipofisis. Ketika bayi mulai keluar, itu meregangkan otot di leher
rahim atau di bagian bawah rahim (Aprilia, 2011).
Menurut Despopoulos (1998) pengaturan hormonal untuk kelahiran masih
belum dimengerti sepenuhnya. Dianggap bahwa pada akhir kehamilan peningkatan
pelepasan ACTH pada bayi merangsang korteks adrenalnya untuk mengsekresi
kortisol, yang pada gilirannya menghambat produksi progesteron plasental dan
sehingga meningkatkan estrogen. Akibatnya adalah depolarisasi otot uterus,
peningkatan gap junction atau pertemuan celah dan meningkatkan jumlah reseptor
untuk oksitosin dan katekolamin, misalnya reaksi yang meningkatkan eksitabilitas
uterus. Reseptor regang pada uterus respons terhadap peningkatan ukuran dan
pergerakan fetus, dan akibatnya sinyal saraf ke hipotalamus menyebabkan pelepasan
ositosin yang lebih banyak, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan
kontraksi uterus. Itu merupakan feedback positif. Untuk lebih jelasnya, perhatikan
gambar di bawah ini :

Gambar 6. Kontrol Hormonal Kelahiran


(Shamedisa, 2011)

Menurut Despopoulos (1998) istilah “oksitosin” telah digantikan dengan


istilah ositosin yang lebih tepat, dimana berasal dari bahasa Yunani yang artinya
adalah persalinan cepat. Di samping itu, ositosin meningkatkan produksi
prostaglandin dalam endometrium, di mana setibanya dalam miometrium juga
mempunyai efek pengaktifan terhadapnya. Gap junction menjamin bahwa eksitasi
spontan dari sel pemacu individual di fundus dapat menyebar dalam suatu pola
bersama ke seluruh miometrium sekitar 2cm/detik.
E. Kesimpulan
Dapat disimpulkan, mekanisme pengendalian hormon terdiri dari dua macam
pengendalian, yaitu feedback negatif dan feedback positif. Di mana feedback negatif
berkaitan dengan menurunkan suatu rangsangan dalam suatu respons dan menghambat
sekresi hormon lain. Sedangkan feedback positif berkaitan dengan meningkatkan suatu
rangsangan dalam respons dan meningkatkan sekresi hormon. Dalam kebanyakan
pengendalian hormon, hanya terdapat beberapa pengendalian feedback positif dan lebih
banyak feedback negatif.
DAFTAR PUSTAKA

Anderson, Paul D. 1996. Anatomi dan Fisologi Tubuh Manusia. Jakarta : Buku Kedokteran
EGC.

Anonim. 2012. Perpustakaan Cyber. “Kelenjar Paratiroid (Anak Gondok) : Fungsi Hormon”.
diakses dari http://perpustakaancyber.blogspot.com/2012/12/kelenjar-paratiroid-
anak-gondok-fungsi-hormon.html pada tanggal 31 Mei 2015 pukul 20:36 WIB.

Anugrah, Novia. 2012. BiologiZone. “Sistem Hormon”. diakses dari


http://biologiol.blogspot.com/p/blog-page_15.html pada tanggal 30 Mei 2015
pukul 20:00 WIB.

Aprilia, Eka. 2011. Fisiologi – Dian Husada. “Kelenjar Umpan Balik Hormon”. diakses dari
http://ekaapriliah.blogspot.com/p/kelenjar-umpan-balik-hormon.html pada
tanggal 27 April 2015 pukul 18.00 WIB.

Campbel, Neil A. 2008. Biologi Jilid 3. Jakarta : Erlangga.

Despopoulos, Agamemnon. 1998. Atlas Berwarna dan Teks Fisiologi. Jakarta Hipokrates.

Koswara, Isa. 2014. Kalsium Organik Terbaik. “Pengendalian Kalsium dalam Darah dan
Tulang”. diakses dari
http://kalsiumorganikterbaik.blogspot.com/2014/02/pengendalian-kalsium-dalam-
darah-dan.html pada tanggal 28 April 2015 pukul 15.00 WIB.

Rumanta, Maman. 2007. Fisiologi Hewan. Jakarta : Universitas Terbuka.

Starr, Cecte., dkk. 2013. Biologi Kesatuan dan Keanekaragaman Makhluk Hidup. Jakarta :
Salemba Teknika.

Shamedisha. 2011. SHAMEDISHA. “Biologi, Media & Teknologi Pebelajaran IPA


(Assignment)”. Diakses dari https://shamedisha.wordpress.com/tag/assignment/
pada tanggal 31 Mei 2015 pukul 20:44 WIB.
Surjono, Tien Wiati. 2000. Perkembangan Hewan. Jakarta : Universitas Terbuka

Wongso, Anton Darsono. 2012. dr. Anton Darsono Wongso, MM, MH, SpAnd. “Interaksi
Hormon dalam Pengendalian Spermatogenesis”. diakses dari
http://antondarsonowongso.blogspot.com/2012/02/interaksi-hormon-untuk-
spermatogenesis.html pada tanggal 30 Mei 2015 pukul 20:11 WIB.