Anda di halaman 1dari 18

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Psikoterapi Behavioristik

Psikoterapi Behavioral adalah terapi yang berfokus pada perilaku


yang dapat dilihat dan dapat diukur, bukan pada fenomena mental yang
hanya dapat diinferensi secara tidak langsung dengan tujuan perubahan
perilaku yang dapat dilihat, dan metode-metodenya menyandarkan diri pada
hipotesis empiris yang dapat diuji. Terapi behavior adalah teknik yang
digunakan pada gangguan tingkah laku yang diperoleh dari cara belajar
yang salah, dan karena diubah melalui proses belajar, untuk mendapatkan
tingkah laku yang sesuai. Behaviorisme adalah sebuah pandangan yang
menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang
dapat diamati, bukan dengan proses mental. Artinya, menurut aliran ini
perilaku adalah segala sesuatu yang kita lakukan dan bisa dilihat secara
langsung. Misalnya, guru tersenyum terhadap murid, atau murid
mengganggu murid yang lainnya, dan sebagainya. Namun pemikiran,
perasaan dan motif yang dialami yang tidak dapat dilihat oleh orang lain
bukanlah objek yang tepat untuk ilmu perilaku karena tidak bisa diobservasi
secara langsung. Terapi behavior adalah salah satu teknik yang digunakan
dalam menyelesaikan tingkah laku yang ditimbulkan oleh dorongan dari
dalam dan dorongan untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan hidup, yang
dilakukan melalui proses belajar agar bisa bertindak dan bertingkah laku
lebih efektif, lalu mampu menanggapi situasi dan masalah dengan cara yang
efektif dan efisien. Aktifitas inilah yang disebut dengan belajar

 Perbedaan dengan psikoterapi yang lain


Terapi behavioral berbeda dengan sebagian besar pendekatan terapi lainnya,
ditandai oleh:
(a) pemusatan perhatian kepada tingkah laku yang tampak dan spesifik,
(b) kecermatan dan penguraian tujuantujuan treatment,
(c) perumusan prosedur treatment yang spesifik yang sesuai dengan
masalah, dan (d) penafsiran objektif atas hasil-hasil terapi.

 Konsep dasar

Asumsi Dasar dan Konsep Teori Behavioristik

Menurut Kazdin (2001), Miltenberger (2004), dan Spiegler &


Guevremont (2003) yang dikutip oleh Corey (2005) karakteristik dan
asumsi mendasar dalam behavioristik adalah (1) terapi perilaku didasarkan
pada prinsip dan prosedur metode ilmiah, (2) terapi perilaku berhubungan
dengan permasalahan konseli dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, (3)
konseli dalam terapi perilaku diharapkan berperan aktif berkaitan dengan
permasalahannya, (4) menekankan keterampilan konseli dalam mengatur
dirinya dengan harapan mereka dapat bertanggung jawab, (5) ukuran
perilaku yang terbentuk adalah perilaku yang nampak dan tidak nampak,
mengidentifikasi permasalahan dan mengevaluasi perubahan, (6)
menekankan pendekatan self-control di samping konseli belajar dalam
strategi mengatur diri, (7) intervensi perilaku bersifat individual dan
menyesuaikan pada permasalahan khusus yang dialami konseli, (8)
kerjasama antara konseli dengan konselor, (9) menekankan aplikasi secara
praktis dan (10) konselor bekerja keras untuk mengembangkan prosedur
kultural secara spesifik untuk mendapatkan konseli yang taat dan kooperatif.
Conditioning and learning memegang peranan yang sangat penting dalam
pendekatan behavoristik, terutama dalam memahami urutan terbentuknya
tingkah laku. Landasan dalam pendekatan behavior menurut pandangan
Aubrey J. Yates (1970) adalah sebagai berikut :

a. Psikodinamika dan psikiatri tidak mampu menyelesaikan seluruh tingkah


laku yang salah suai.
b. Tingkah laku abnormal yang tidak disebabkan gangguan organik terjadi
karena kekeliruan belajar. Individu memperoleh tingkah laku baru yang
dipandang menyimpang melalui proses belajar.
c. Konsep-konsep seperti ketidaksadaran, id, ego, super ego, insight dan self,
tidak digunakan dalam memahami dan menyembuhkan penyimpangan
tingkah laku.
d. Simptom merupakan penyimpangan tingkah laku yang penyembuhannya
dilakukan dengan menghilangkan tingkah laku tersebut, dan bukan sekedar
mengganti simptom.
e. Penelitian tentang sebab-sebab terjadinya simptom dan mencari stimulus
yang menyebabkan terjadinya simptom sangat diperlukan bagi
penyembuhannya.

Corey (2005) mengemukakan bahwa dalam behavioristik kontomporer


terdapat empat konsep teori yang mengembangkan behavioristik, yaitu ;

1. Classical Conditioning
2. Operant Conditioning
3. Social Learning Theory
4. Cognitive Behavior Therapy

Classical conditioning merupakan usaha mendapatkan beberapa perilaku


organisme seperti ; sentakan lutut dan ludah yang diperoleh dari organisme yang
pasif. Pada tahun 1950-an Joseph Wolpe dan Arnold Lazarus di Afrika Selatan
dan Hans Eysenck di Inggris memulai penelitian eksperimen dengan
menggunakan binatang. Mereka bekerja dengan menggunakan Hullian learning
theory dan Pavlovian conditioning dan kemudian teori yang dikembangkan
difokuskan pada evaluasi dan analisis eksperimental dari prosedur-prosedur
terapeutik. Tokoh sentral yang merupakan pionir dari classical conditioning
adalah Ivan Pavlov yang melakukan eksperimen dengan anjing. Operant
conditioning merupakan tipe perilaku belajar yang dipengaruhi oleh adanya
penguatan-penguatan (reinforcer) positif dan atau negatif. Model dari Skinner
merupakan dari dari prinsip penguatan terhadap identifikasi tujuan dengan
mengontrol fakktor lingkungan yang berperan penting dalam perubahan
perilaku. Social learning theory yang dikembangkan Albert Bandura dan
Richard Walters merupakan interaksi timbal balik dari tiga komponen (triadic
reciprocal interaction) yaitu antara lingkungan, faktor personal dan perilaku
individual. Seseorang dapat capable jika self-directed dalam mengubah
perilakunya. Cognitive behavior therapy beserta social learning theory
merupakan representasi dari mainstream terapi perilaku kontemporer. Sejak
tahun 1970 pergerakan konsep behavioral menempatkan faktor kognitif dan
emosi sebagai upaya untuk memahami masalah perilaku individu.

 Perilaku bermasalah
Perilaku yang bermasalah dalam pandangan behavioristik dapat
dimaknakan sebagai perilaku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau
perilaku yang tidak tepat, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan apa yang
di harapkan. Artinya bahwa perilaku individu itu meskipun secara sosial
tidak tepat, dalam beberapa saat memperoleh ganjaran dari pihak tertentu.
Dari cara demikian akhirnya perilaku yang tidak diharapkan secara sosial
atau perilaku yang tidak tepat itu menguat pada individu (Latipun, 2010)

Behaviorist memandang perilaku yang bermasalah adalah sebagai berikut:

1) Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-


kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat, yaitu tingkah laku yang
tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan.

2) Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau
lingkungan yang salah.

3) Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon


tingkah laku negatif dari lingkungannya. Tingkah laku maladaptif terjadi
juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat.

4) Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga
tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip
belajar

Dalam suasana hidup seperti di atas, banyak orang menggunakan


mekanisme pelarian dan mekanisme pertahanan diri yang negatif. Untuk
dapat bertahan dan menghindari kesulitan hidup tidak sedikit terjadi
tindakan kriminal. Bentuk mekanisme yang negatif menyebabkan
timbulnya tingkah laku yang tidak normal (patologis).

Terbentuknya suatu perilaku dikarenakan adanya pembelajaran, perilaku itu


akan dipertahankan atau dihilangkan tergantung pada konsekuensi yang
menyertainya. Misalnya perilaku merusak (destructif) di kelas dapat
bertahan karena adanya ganjaran (reinforcement) berupa pujian dan
dukungan dari sebagian teman-temannya dan merasa puas dengan ganjaran
itu, sedangkan hukuman (punishment) yang diberikan oleh guru tidak cukup
kuat untuk melawan kekuatan ganjaran yang diperolehnya.

Perubahan perilaku yang diharapkan dapat terjadi jika pemberian ganjaran


atau hukuman dapat diberikan secara tepat. Terbentuknya perilaku yang
dicontohkan di atas disebabkan karena adanya peran lingkungan dalam
bentuk konsekuensi - konsekuensi yang mengikuti dari suatu perilaku dan
hal itu termasuk dalam teori belajar perilaku operan dari Skinner.

Selain teori belajar Skinner, Bandura juga mencontohkan perilaku agresif di


kalangan anak-anak.Timbulnya perilaku bermasalah yang ditandai dengan
tindakan melukai atau menyerang baik secara fisik maupun verbal,
dikarenakan adanya proses mencontoh atau modeling baik secara langsung
yang disebut imitasi atau melalui pengamatan tidak langsung (vicarious).

Menurut Feist & Feist (2008: 398) menyatakan bahwa perilaku yang tidak
tepat meliputi:

1. Perilaku terlalu bersemangat yang tidak sesuai denga situasi yang


dihadapi, tetapi mungkin cocok jika dilihat berdasarkan sejarah masa
lalunya.
2. Perilaku yang terlalu kaku, digunakan untuk menghindari stimuli yang
tidak diinginkan terkait dengan hukuman.
3. Perilaku yang memblokir realitas, yaitu mengabaikan begitu saja
stimuli yang tidak diinginkan.
4. Pengetahuan akan kelemahan diri yang termanifestasikan dalam
respon-respon-respon menipu diri.
 Tujuan psikoterapi behavioristik
Tujuan utama psikoterapi behavioral adalah Perubahan perilaku yang dapat
diobservasi. Tujuan ini berlawanan dengan tujuan pendekatan psikodinamik
dan humanistic, yang masing-masing menekankan proses-proses mental
internal, yaitu masing-masing membuat yang tidak sadar menjadi sadar dan
membantu perkembangan aktualisasi diri. Faktanya, muncul dan
bangkitnya pendekatan perilaku berasal dari ketidak puasan terhadap
banyak aspek pendekatan psikodinamik yang mendominasi sepanjang awal
dan pertengahan tahun 1990-an (Craske,2010). Sebagai reaksi terhadap
kelemahan yang dipersepsikan dari pendekatan-pendekatan yang menonjol
pada zaman itu, kaum behavioris awal menempa sebuah terapi baru yang
dibedakan sejak awal kelahirannya melalui sejumlah karakteristik yang
khas (Kazdin, 1980); Spiegler & Guevremont, 2010; Yates, 1970).
 Hubungan klien dengan terapis

Ada suatu kecenderungan yang menjadi bagian dari sejumlah kritik untuk
menggolongkan hubungan antara terapis dengan klien dalam terapi tingkah
laku sebagai hubungan yang mekanis, manipulatif, dan sangat impersonal.
Peran terapi yang esensial adalah peran sebagai agen pemberi perkuatan.
Para terapis tingkah laku tidak dicetak untuk memainkan peran yang dingin
dan impersonal yang mengerdilkan mereka menjadi mesin-mesin yang
deprogram yang memaksakan teknik-teknik kepada para klien yang mirip
robot. Bahwa faktor-faktor seperti kehangatan, empati, keotentikan, sikap
permisif, dan penerimaan adalah kondisi-kondisi yang diperlukan, tetapi
tidak cukup bagi kemunculan perubahan tingkah laku dalam proses
terapeutik.

Tahap-tahap konseling atau terapi behavioral terdiri atas 4 tahap, yaitu:


a. Pengukuran (assesment)
Hal-hal yang digali dalam assesmen meliputi analisis tingkah laku
bermasalah yang dialami konseli saat ini, yaitu analisis situasi yang di
dalamnya terjadi masalah konseli; analisis self-control; analisis hubungan
sosial; dan analisis lingkungan fisik-sosial budaya.
b. Menentukan tujuan
Tujuan yang ditetapkan akan digunakan sebagai tolak ukur untuk melihat
keberhasilan proses terapi. Proses terapi akan dihentikan jika telah
mencapai tujuan. Tujuan terapi harus jelas konkret, dipahami, dan
disepakati oleh klien dan konselor. Konselor dan klien mendiskusikan
perilaku yang terkait dengan tujuan keadaan yang diperlukan untuk
perubahan sifat tujuan dan rencana tindakan untuk bekerja ke arah tujuan
tersebut.
c. Mengimplementasikan teknik
Setelah merumuskan tujuan yang ingin dicapai, konselor dan konseli
menentukan strategi belajar yang terbaik untuk membantu konseli mencapai
perubahan tingkah laku yang diinginkan. Konselor dan konseli
mengimplementasikan teknik-teknik konseling sesuai dengan masalah yang
dialami oleh konseli.
d. Mengakhiri konseling
Proses konseling akan berakhir jika tujuan yang ditetapkan di awal
konseling telah tercapai. Mekipun demikian, konseli tetap memiliki tugas
yaitu terus melaksanakan perilaku baru yang diperolehnya selama proses
konseling di dalam kehidupannya sehari-hari.
 Peran dan fungsi terapis

Peran terapis berakar pada cara-cara keberadaanya dan sikap-sikapnya,


bukan pada penggunaan teknik-teknik yang dirancang untuk menjadikan klien
“berbuat sesuatu”. Penelitian tentang terapi tampaknya menunjukkan bahwa
yang menuntut perubahan kepribadian klien adalah sikap-sikap terapis dengan
pengetahuan, teori-teori atau teknik-teknik yang digunakannya. Pada dasarnya,
terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai alat untuk mengubah. Dengan
menghadapi klien pada taraf pribadi ke pribadi, maka “peran” terapis adalah
tanpa peran. Krasner (1967) mengajukan argumen bahwa peran seorang
terapis, terlepas dari aliansi teorinya, sesungguhnya adalah “mesin perkuatan.”
Apapun yang dilakukannya, terapi pada dasarnya terlibat dalam pemberian
perkuatan – perkuatan sosial, baik yang positif maupun yang negative. Bahkan
meskipun mempersepsikan dirinya sebagai pihak yang netral sehubungan
dengan pertimbangan – pertimbangan nilai, terapis membentuk tingkah laku
klien, baik melalui cara – cara langsung maupun melalui cara - cara tidak
langsung.

Krasner (1967, hlm, 202) menandakan bahwa “terapis atau pemberi


pengaruh adalah suatu mesin perkuatan, yang dengan kehadirannya memasok
perkuatan yang digeneralisasikan pada setiap kesempatan dalam situasi terapi,
terlepas dari teknik atau kepribadian yang terlibat ia menyatakan bahwa
tingkah laku klien tunduk pada manipulasi yang halus oleh tingkah laku terapis
yang memperkuat.

Frankl (1959, hlm.174) menjabarkan peran terapis sebagai “spesialis mata


daripada sebagai pelukis”, yang bertugas “memperluas dan memperlebar
lapangan visual pasien sehingga spektrum kepribadian keseluruhan dari makna
dan nilai-nilai menjadi disadari dan dapat diamati oleh pasien”.
Fungsi terapis adalah membangun suatu iklim terapeutik yang menunjang
pertumbuhan klien. Jadi, terapis membangun hubungan yang membantu dimana
klien akan mengalami kebebasan yang diperlukan untuk mengeksplorasi area-
area hidupnya yang sekarang diingkari atau didistorsinya.

2.2 Teknik-teknik Psikoterapi Behavioristik


 Desensitisasi Sistematis

Wolpe (dalam Corey,2007:208) mengungkapkan bahwa teknik


desensitisasi sitematis merupakan salah satu teknik perubahan perilaku yang
didasari oleh teori atau pendekatan behavioral klasikal. Pendekatan behavioral
memandang manusia atau kepribadian manusia pada hakikatnya adalah
perilaku yang dibentuk berdasarkan hasil pengalaman dari interaksi individu
dengan lingkungannya. Menurut sejarah teknik desensitisasi sitematis, Corey
(2005:254) mengemukakan tentang latar belakang teknik ini melihat bahwa
rasa takut dipelajari lewat pengkondisian, demikian juga sebaliknya rasa takut
dapat dihilangkan lewat pusat pengkondisiannya. Asumsi dasar teknik ini
adalah respon ketakutan merupakan perilaku yang dipelajari dan dapat dicegah
dengan menggantikan aktivitas yang berlawanan dengan respon ketakutan
tersebut. Respon khusus yang dihambat oleh proses perbaikan (treatment) ini
adalah kecemasan-kecemasan atau perasaan takut yang kurang beralasan; dan
respon yang sering dijadikan pengganti atas kecemasan tersebut adalah
relaksasi atau penenangan.

Bilamana asesmen perilaku mengindikasikan bahwa klien memiliki


kecemasan atau bidang fobia spesifik tertentu, dan bukan sekadar ketegangan
umum, maka desentisisasi sistematis mungkin menjadi intervensi yang lebih
baik. Desensitisasi sistematis sebuah penanganan yang juga digunakan terutama
untuk fobia dan gangguan kecemasan lain, sangat mirip dengan terapi
paparan—faktanya, paparan stimulus yang membangkitkan ketakutan adalah
salah satu komponen kuncinya—tetapi, daripada sekedar memutuskan asosiasi
antara objek yang ditakuti dan perasaan aversif, desensitisasi sistematis
melibatkan pemasangan ulang (pengkondisian balik) objek yang ditakuti dengan
sebuah respons baru yang tidak sesuai dengan kecemasannya. Langkah pertama
pada desensitisasi ini adalah latihan relaksasi, yaitu terapis behavioral
mengajarkan teknik relaksasi progresif kepada klien, bebagai otot
direnggangkan dan dikendurkan secara sistematis. Seorang terapi behavioral
yang menggunakan desensitisati sistematis akan menyusun hierarki kecemasan
dan melaksanakan paparan persis seperti di dalam terapi paparan, tetapi latihan
relaksasi akan lebih dulu terjadi dan respon relaksasinya harus dibangkitkan
secara sengaja selama proses paparan untuk memfasilitasi penggantian
kecemasan dengan sebuah respons pencegah-kecemasan baru. Jadi, desentisisasi
sistematis melibatkan tiga elemen:

a. Latihan Relaksasi Otot


Bernstein dan Borkovec (1973) melihat bahwa dalam mengajarkan relaksasi
otot, ada suksesi kejadian-kejadian yang harus diamati dengan setiap
kelompok otot. Siklus peregangan-relaks ini memiliki 5 elemen:
 Focus, memfokuskan perhatian pada kelompok otot tertentu;
 Tense, meregangkan kelompok otot itu;
 Hold, mempertahankan ketegangan itu selama 5-7 detik;
 Release, melepaskan ketegangan di dalam kelompok otot tersebut;
 Relax, memfokuskan perhatian padamelepaskan ketegangan dan
relaksasi lebih jauh pada kelompok otot tadi.

Setelah menjelaskan siklus peregangan-relaks dasar, terapis kemudian


bisa mendemonstrasikannya dengan mempraktikkan siklus itu dengan
telapak tangan dan lengan bawah bagian kanannya dan di setiap tahap
meminta klien untuk melakukan hal yang sama. Kemudian terapis akan
memimpin klien untuk mempraktikkanna dengan kelompok-kelompok otot
lainnya, dengan mendemonstrasikan caranya, bila perlu.

Setelah klien mempelajari meregangkan berbagai kelompok otot, klien


diinstruksikan untuk tetap memejamkan matanya selama latihan dan praktik
relaksasi. Menjelang akhir sesi relaksasi, terapis dapat meminta klien untuk
merangkum kegiatan relaksasinya dan mendiskusikan isu-isu yang timbul.
Pemberhentian sesi relaksasi dapat dilakukan dengan menghitung mundur
lima sampai satu dan ketika sampai ke hitungan satu terapis meminta klien
untuk bangun dengan relaks seakan-akan baru terbangun dari tidur yang
damai. Klien mungkin akan diberi tugas pekerjaan rumah berupa
mempraktikkan relaksasi otot selama 15 menit per hari.

b. Menyusun Hirarki Stimuli yang Membangkitkan kecemasan


Hirarki kecemasan adalah daftar stimuli pembangkit kecemasan-
kecemasan yang saling berkaitan secara tematik, yang diperingkat menurut
banyaknya kecemasan yang dibangkitkan. Ada sejumlah pertimbangan
dalam menyusun hirarki desentisisasi. Pertama, tema-tema yang cocok
harus diidentifikasi yang dapat mengklaster stimuli pembangkit kecemasan
di seputar tema-tema tersebut. Kedua, klien dapat dikenalkan dengan
gagasan tentang skala subjektif kecemasan atau ketakutan. Salah satu cara
yang lazim digunakan untuk memeriksa potensi item-item hirarki untuk
membangkitkan kecemasan adalah dengan mengatakan bahwa nol adalah
sama sekali tidak merasakan kecemasan, dan 100 adalah kemungkinan
kecemasan maksimum dalam kaitannya dengan sebuah tema tertentu.
Ketiga, item-item hirarki yang tepat perlu dimunculkan di seputar masing-
masing tema. Oleh karena klien akan diminta untuk membayangkan item-
item itu, situasinya perlu dideskripsikan secara spesifik maupun grafik.
Keempat, item-item yang dimunculkan di seputar tema tertentu perlu
diurutkan ke dalam hirarki.
c. Meminta klien, setelah rilaks, untuk membayangan item-item dari hirarki
stimuli yang membangkitkan kecemasan
Saat terapis yakin bahwa klien telah mencapai keadaan relaksasi yang
dalam, terapis bisa mulai menyajikan berbagai scene dengan kalimat
“Sekarang saya ingin anda membayangkan bahwa anda sedang memikiekan
tentang ujian sambil mengerjakan revisi di atas meja kerja anda tiga bulan
sebelum ujian”

 Pembanjiran (Flooding)
Metode yang disebut flooding adalah suatu bentuk dari terapi pemaparan di
mana subjek dihadapkan kepada stimuli pembangkit kecemasan tingkat tinggi baik
melalui imajinasi ataupun situasi aktual. Kepercayaan adalah bahwa kecemasan
merupakan representasi dari respons terkondisi dari suatu stimulus fobik dan akan
punah bila individu tinggal di dalam situasi fobik tersebut untuk waktu yang cukup
lama dan tidak terjadi konsekuensi yang merugikan. Kebanyakan individu yang
mengalami fobia menghindari konfrontasi dengan stimuli fobik atau cepat-cepat
menyingkir pada kesempatan pertama untuk kabur bila mereka tidak dapat
menghindari stimulus tersebut. Konsekuensinya mereka tidak mempunyai
kesempatan untuk belajar menghilangkan respons takut tersebut melalui
pemenuhan. Dalam suatu contoh riset, 9 dari 10 dengan fobia sosial memperoleh
sedikitnya peningkatan dalam taraf sedang melalui teknik flooding di mana mereka
secara langsung dihadapkan pada situasi pembangkit ketakutan, seperti memberi
ceramah di hadapan khalayak ahli (Turner, Beidel, & Jacob 1994).
Membanjiri (flooding) klien dengan situasi atau penyebab yang menimbulkan
kecemasan atau tingkah laku yang tidak dikehendaki, bertahan di sana sampai yang
bersangkutan menyadari bahwa malapetaka yang dicemaskannya tidak terjadi.
Flooding harus dilakukan dengan sangat berhati-hati karena reaksi emosi yang
sangat tinggi bisa menimbulkan akibat tertentu, bahkan pada penderita gangguan
jantung flooding bisa berakibat fatal. Namun dampak Flooding luar biasa. Penderita
fobia ketinggian dapat sekali sembuh dengan memaksanya naik lift dan berjalan-
jalan di atap gedung bertingkat. Penjenuhan (satiation) adalah varian flooding yang
dipakai organisme untuk mengontrol tingkah lakunya sendiri (self control).
 Shaping (Pembentukan)
Shaping adalah suatu prosedur ketika peneliti atau lingkungan
memberikan sesuatu penghargaan atas perkiraan kasar dari perilaku tersebut, lalu
perkiraan yang lebih dekat, dan terakhir, perilaku yang diinginkan tersebut.
Melalui proses penguatan perkiraan berkala, peneliti atau lingkungan secara
bertahap membentuk suatu kumpulan yang kompleks dan final dari perilaku
(Skinner, 1953).
Pembentukan dapat diilustrasikan dengan suatu contoh dari melatih
seorang anak laki-laki yang memiliki keterbatasan mental yang parah untuk
memakai baju sendiri. Perilaku utama dari anak tersebut adalah untuk
mengenakan bajunya sendiri. Apabila orang tua menahan pemberian penguatan
sampai perilaku target ini terjadi, maka anak tersebut tidak akan berhasil dalam
menyelesaikan kegiatan tersebut. Untuk melatih anak tersebut, orang tua harus
memecah perilaku mengenakan pakaian yang kompleks menjadi bagian-bagian
yang sederhana. Pertama, orang tua memberikan penghargaan, misalnya permen,
kapan pun anak tersebut mengira-ngira perilaku memosisikan tangan kirinya
berdekatan dengan bagian dalam lengan kiri dari kemejanya. Saat perilaku
tersebut telah diberi penguatan dengan cukup, orang tua dapat menahan
pemberian penghargaan sampai anak tersebut dapat menempatkan tangannya ke
dalam lengan yang benar. Kemudian, orang tua memberikan penghargaan sampai
anak tersebut dapat memasukkan seluruh tangan kirinya ke dalam lengan.
Mengikuti hal ini, prosedur yang sama digunakan dengan lengan kanan, kancing-
kancing, celana panjang, kaus kaki, dan sepatu. Setelah anak belajar untuk
mengenakan pakaiannya sendiri dengan lengkap, penguatan tidak mengikuti
setiap usaha percobaan yang sukses. Bahkan, kemampuan untuk mengenakan
pakaiannya secara lengkap mungkin akan menjadi suatu penghargaan dari
tindakan itu sendiri. Cukup jelas bahwa anak dapat mencapai target akhir perilaku
apabila orang tua memecah suatu perilaku yang kompleks menjadi bagian-bagian
perilaku yang lebih spesifik, kemudian menguatkan perkiraan berkala pada suatu
respons.
Dalam ilustrasi diatas, seperti dalam setiap contoh pengondisian operan,
tiga kondisi harus ada: antesenden (A), perilaku (B), konsekuensi (C). Antesenden
(A) merujuk pada sebuah lingkungan atau situasi ketika perilaku muncul. Dalam
ilustrasi diatas, lingkungan dapat berupa rumah atau tempat-tempat lainnya yang
anak tersebut mungkin akan mengenakan pakaiannya. Kondisi kedua yang
penting dalam ilustrasi tersebut adalah perilaku (B) anak laki-laki untuk
mengenakan pakaiannya sendiri. Respons ini harus berbeda dalam jangkauan
anak laki-laki tersebut dan tidak boleh diganggu oleh perilaku kompetitif atau
antagonis, seperti distraksi dari saudara kandung atau dari televisi. Konsekuensi
(C) yang dipersiapkan adalah permen.
 Token economy

Token merupakan salah satu bentuk reinforcement atau pengukuh. Teknik


yang didasarkan pada prinsip kondisioning operan, didesain untuk mengubah
tingkah laku klien. Adapun tujuan dari pemberian token ekonomi adalah untuk
meningkatkan perilaku yang diharapkan muncul dengan memberi konsekuensi
positif. Intervensi ini bisa dipakai untuk mendidik anak di rumah dan sekolah,
khususnya kepada anak yang lambat belajar, dan autistik. Conditioned reinforcer
(pengukuh yang dikondisikan) dalam bentuk token diberikan pada individu yang
memunculkan respon yang diinginkan. Token nantinya dapat ditukar untuk
mendapatkan primary reinforcer, yaitu sesuatu yang diinginkan. Token dipilih
sebagai pengukuh perantara sebelum pengukuh yang sebenarnya diberikan karena
token dapat dibuat dalam bermacammacam bentuk, mudah dibawa, dapat
diberikan dimana saja dan segera setelah perilaku target dicapai (Kazdin, dalam
Suprihatin). Keuntungan lain dari token ekonomi adalah perilaku individu dapat
dihargai dengan segera, dengan backup reinforcement yang diberikan belakangan,
mudah dan efektif untuk dilakukan pada individu maupun kelompok (Martin &
Pear dalam Suprihatin 2014)

Token ekonomi adalah sebuah pengaturan ketika klien mengumpulkan token


untuk berpartisipasi di dalam perilaku – perilaku target yang telah di lakukan
sebelumnya (Ghezzi, Wilson, Tarbox & MacAlesse, 2008). Token ini dapat
ditukarkan untuk sejumlah penguatan, termasuk makanan, permainan, mainan, hak
istimewa, waktu untuk mengikuti kegiatan yang sangat diinginkan, atau hal lain
yang diharapkan oleh klien. Di dalam beberapa token ekonomi, klien juga bisa
kehilangan token jika terlibat perilaku yang tidak diharapkan (Stuve dan
Salinas,2002). Token ekonomi sering digunakan di dalam lingkungan seperti unit
rawat inap, lembaga pemasyarakatan, dan tempat-tempat lain yang terus menerus
mengawasi perilaku klien. Keterbatasan potensial token ekonomi melibatkan
generalisasi ( Spiegler & Guevremont,2010) Generalisasi mengacu pada penerapan
sebuah kontingensi yang telah dipelajari pada perilaku-perilaku atau situasi-situasi
serupa. Tujuan token ekonomi bukan hanya untuk memodifikasi perilaku di
lingkungan itu saja tetapi memodifikasi di semua lingkungan. Terapis behavioral
dapat menggunakan sejumlah strategi untuk memaksimalkan generalisasi,
termasuk mengurangi token secara berangsur, tidak sekaligus, dengan
menggunakan penguatan yang terjadi secara alamiah (seperti pujian sosial) dan
bukan penguatan palsu, dengan sedikit demi sedikit meningkatkan penundaan
antara perilaku dan penguatan, dan memberikan penguatan di dalam lingkungan
yang seberagam mungkin (Stuve & Salinas, 2002)

Token economy merupakan salah satu contoh dari perkuatan yang ekstrinsik,
yang menjadikan orang-orang melakukan sesuatu untuk meraih “pemingkat di
ujung tongkat”. Tujuan prosedur ini adalah mengubah motivasi yang ekstrinsik
menjadi motivasi yang instrinsik. Diharapakna bahwa perolehan tingkah laku yang
diinginkan akhirnya dengan sendrinya akan menjadi cukup mengajar untuk
memelihara tingkah laku baru.

 Latihan Asertif

Asertivitas merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang


diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga dan
menghargai hak-hak serta perasaan orang lain. Tujuan dari sikap asertif adalah
untuk menyenangkan orang lain dan menghindari konflik dengan segala
akibatnya.
Ada empat kategori yang dikelompokkan dalam perilaku asertif
(Walker,1996):

o Kemampuan untuk berinisiasi dengan memulai percakapan, menyambung


dan menghentikan percakapan
o Berani berkata “tidak”
o Mengajukan suatu pertanyaan dan keinginan
o Mengekspresikan perasaan suka dan tidak suka

Latihan asertif merupakan latihan keterampilan-sosial yang diberikan pada


individu yang diganggu kecemasan, tidak mampu mempertahankan hak-
haknya, terlalu lemah, membiarkan orang lain merongrong dirinya, tidak
mampu mengekspresikan amarahnya dengan benar dan cepat tersinggung.
Manfaat dari latihan asertif adalah sebagai berikut:

 Melatih individu yang tidak dapat menyatakan kemarahan dan kejengkelan


 Melatih individu yang mempunyai kesulitan untuk berkata tidak dan yang
membiarkan orang lain memanfaatkannya
 Melatih individu yang merasa bahwa dirinya tidak memiliki hak untuk
menyatakan pikiran, kepercayaan, dan perasaan-perasaannya
 Melatih individu yang sulit mengungkapkan rasa kasih dan respon-repon
positif yang lain

Tujuan

o Mengajarkan individu untuk menyatakan diri mereka dalam suatu cara


sehingga memantulkan kepekaan kepada perasaan dan hak-hak orang lain.
o Meningkatkan keterampilan behavioralnya sehingga mereka bisa menentukan
pilihan apakah pada situasi tertentu perlu berperilaku seperti apa yang
diinginkan atau tidak
o Mengajarkan pada individu untuk mengungkapkan diri dengan cara
sedemikian rupa sehingga terefleksi kepekaanya terhadap perasaan dan hak
orang lain.
o Meningkatkan kemampuan individu untuk menyatakan dan mengekspresikan
dirinya dengan enak dalm berbagai situasi social.
o Menghindari kesalahpahaman dari pihak lawan komunikasi

Teknik ini sangat relevan digunakan pada permasalahan yang menyangkut


hubungan social. Misalnya dalam lingkup sekolah, organisasi, dan sebagainya.
Dimana seringkali terjadi kebingungan pandangan mengenai asertif, agresi, dan
sopan.

Pendekatan behavioral yang dengan cepat mencapai popularitas adalah latihan


asertif yang bisa diterapkan terutama pada situasi-situasi interpersonal, di mana
individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan, bahwa menyatakan atau
menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar. Latihan asertif akan
membantu bagi orang-orang yang:

- Tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung


- Menunjukan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk
mendahuluinya
- Memiliki kesulitan untuk mengatakan tidak
- Memiliki kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respon-respon positif
lainnya
- Merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-
pikiran sendiri
Dimana cara yang digunakan dalam latihan asertif ini adalah menggunakan
prosedur permainan peran, disini konselor bertindak sebagai fasilitator. Selain itu
diskusi kelompok juga sangat bermanfaat dalam latihan asertif ini, untuk saling
membantu satu sama lain dalam membantu klien untuk mengembangkan cara
berhubungan yang lebih langsung dalam situasi interpersonal.

Prosedur Asertif Training

Prosedur dasar dalam pelatihan asertif menyerupai beberapa pendekatan perilaku


dalam konseling. Prosedur-prosedur ini mengutamakan tujuan-tujuan spesifik dan
kehati-hatian, sebagaimana diuraikan Osipow dalam A Survey of Counseling
Methode (1984):

1. Menentukan kesulitan konseli dalam bersikap asertif


Dengan penggalian data terhadap klien, konselor mengerti dimana ketidakasertifan
pada konselinya. Contoh: konseli tidak bisa menolak ajakan temannya untuk
bermain voli setiap minggu pagi padahal ia lebih menyukai berenang, hal itu karena
konseli sungkan, khawatir temannya marah atau sakit hati sehingga ia selalu
menuruti ajakan temannya.

2. Mengidentifikasi perilaku yang diinginkan oleh klien dan harapan-harapannya.

Diungkapkan perilaku/sikap yang diinginkan konseli sehubungan dengan


permasalahan yang dihadapi dan harapan-harapan yang diinginkannya.

3. Menentukan perilaku akhir yang diperlukan dan yang tidak diperlukan.

Dengan kata lain, konselor dapat menentukan perilaku yang harus dimiliki konseli
untuk menyelesaikan masalahnya dan juga mengenali perilaku-perilaku yang tidak
diperlukan yang menjadi pendukung ketidakasertifannya. Contoh: Dengan
mempelajari secara mendetail kasus yang dialami konselinya, konselor menarik
kesimpulan awal bahwa, konseli tidak perlu menuruti terus ajakan temannya yang
sebenarnya tidak ia sukai. Perilaku yang ia perlukan adalah menolak dengan jujur,
tegas dan sopan ajakan temannya tersebut.

4. Membantu klien untuk membedakan perilaku yang dibutuhkan dan yang tidak
dibutuhkan dalam rangka menyelesaikan masalahnya.

Setelah konselor menentukan perilaku yang dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan,
kemudian ia menjelaskannya pada konseli tentang apa yang seharusnya dilakukan
dan dihindari dalam rangka menyelesaikan permasalahannya dan memperkuat
penjelasannya.

5. Mengungkapkan ide-ide yang tidak rasional, sikap-sikap dan kesalahpahaman


yang ada difikiran konseli.

Konselor dapat mengungkap ide-ide konseli yang tidak rasional yang menjadi
penyebab masalahnya, sikap-sikap dan kesalahpahaman yang mendukung
timbulnya masalah tersebut.

6. Menentukan respon-respon asertif/sikap yang diperlukan untuk menyelesaikan


permasalahannya (melalui contoh-contoh).
7. Mengadakan pelatihan perilaku asertif dan mengulang-ulangnya.

Konselor memandu konseli untuk mempraktikkan perilaku asertif yang diperlukan,


menurut contoh yang diberikan konselor sebelumnya.

8. Melanjutkan latihan perilaku asertif

9. Memberikan tugas kepada konseli secara bertahap untuk melancarkan perilaku


asertif yang dimaksud.

Untuk kelancaran dan kesuksesan latihan, konselor memberikan tugas kepada


konseli untuk berlatih sendiri di rumah ataupun di tempat-tempat lainnya.

10. Memberikan penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan.

Penguatan dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa konseli harus dapat bersikap tegas
terhadap permintaan orang lain padanya, sehingga orang lain tidak mengambil
mafaat dari kita secara bebas. Selain itu yang lebih pokok adalah konseli dapat
menerapkan apa yang telah dilatihnya dalam situasi yang nyata.

Anda mungkin juga menyukai