Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

“ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI”


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa
Dosen Pengampu: Ns. Asnah, S.Kep, M.Pd

Disusun Oleh :
1. Amalia Rosida P07220117042
2. Kris Wahyudi P07220117057
3. Nelvia Ivanka P07220117061
4. Reischa Delfi Octavia P07220117069
5. Widya Hartati P07220117078

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR
PRODI D-III KEPERAWATAN
KELAS BALIKPAPAN
2017/2018

0
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT


karena berkat rahmat dan karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan makalah asuhan
keperawatan jiwa yang membahas tentang “Defisit Perawatan Diri” tepat pada
waktunya.
Terima kasih kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu
dalam proses penyusunan makalah ini, baik yang terlibat secara langsung maupun
yang tidak.
Kelompok menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna
karena keterbatasan yang kami miliki. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya
membangun dari para pembaca sangat kami harapkan agar terciptanya makalah yang
lebih baik lagi.

Balikpapan,21 Juli 2019

Kelompok 8

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................. 1


BAB I ............................................................................................................................ 3
PENDAHULUAN .......................................................................................................... 3
A. Latar Belakang .................................................................................................. 3
B. Rumusan Masalah ......................................................................................... 3
C. Tujuan ............................................................................................................. 3
BAB II ........................................................................................................................... 5
PEMBAHASAN .......................................................................................................... 5
A. Definisi .......................................................................................................... 5
B. Etiologi .......................................................................................................... 5
C. Tanda dan Gejala ........................................................................................... 7
D. Jenis– Jenis .................................................................................................... 7
E. Rentang Respon ............................................................................................. 8
F. Proses Terjadinya Masalah ............................................................................... 8
G. Mekanisme Koping ..................................................................................... 10
I. Akibat .............................................................................................................. 12
J. Masalah Keperawatan yang Mungkin Muncul ............................................... 12
K. Konsep Asuhan Keperawatan ......................................................................... 12
2. Diagnosa Keperawatan.................................................................................... 16
3. Rencana Tindakan Keperawatan ..................................................................... 16
4. Tindakan Keperawatan.................................................................................... 19
5. Evaluasi ........................................................................................................... 22
BAB IV ...................................................................................................................... 28
PENUTUP .................................................................................................................. 28
A. Kesimpulan .................................................................................................. 28
B. Saran ............................................................................................................ 28
DAFTAR PUSTKA ................................................................................................... 29

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pemeliharaan hygiene perorangan diperlukan untuk kenyamananindividu,
keamanan, dan kesehatan. Seperti pada orang sehat dapatmemenuhi
kebutuhan personal hygienenya sendiri. Cara perawatan dirimenjadi rumit
dikarenakan kondisi fisik atau keadaan emosional klien.Selain itu,beragam
faktor pribadi dan sosial budaya mempengaruhi praktikhygiene klien.Karena
perawatan hygiene seringkali memerlukan kontak yangdekat dengan klien
maka perawat menggunakan ketrampilan komunikasiuntuk meningkatkan
hubungan terapeutik dan belajar tentang kebutuhanemosional klien. Oleh
karena itu penulis membahas makalah ini untukmempelajari tentang defisit
perawatan diri dan mengkaji pasien dengangangguan perawatan diri.
Cara perawatan dirimenjadi rumit dikarenakan kondisi fisik atau keadaan
emosional klien. Selainitu,beragam faktor pribadi dan sosial budaya
mempengaruhi praktik hygieneklien.Karena perawatan hygiene seringkali
memerlukan kontak yang dekat dengan klien maka perawat menggunakan
ketrampilan komunikasi untukmeningkatkan hubungan terapeutik dan belajar
tentang kebutuhan emosionalklien. Oleh karena itu penulis membahas
makalah ini untuk mempelajaritentang defisit perawatan diri dan mengkaji
pasien dengan gangguan perawatan diri.

B. Rumusan Masalah
1.Bagaimana Konsep Asuhan Keperawatan Defisit Perawatan diri ?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk Mengetahui Konsep Asuhan Keperawatan Defisit Perawatan Diri
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mengetahui definisi defisit perawatan diri.
b. Mahasiswa mengetahui etiologi defisit perawatan diri.
c. Mahasiswa mengetahui tanda dan gejala defisit perawatan diri.

3
d. Mahasiswa mengetahui jenis defisit perawatan diri.
e. Mahasiswa mengetahui rentang respon defisit perawatan diri.
f. Mahasiswa mengetahui mekanisme koping defisit perawatan diri.
g. Mahasiswa mengetahui penatalaksanaan defisit perawatan diri.
h. Mahasiswa mengetahui akibat defisit perawatan diri.
i. Mahasiswa mengetahuimasalah keperawatan yang mungkin muncul.
j. Mahasiswa mengetahui asuhan keperawatan pada klien defisit
perawatan diri.

4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Defisit perawatan diri adalah kurangnya perawatan diri pada
pasiendengan gangguan jiwa terjadi akibat adanya perubahan proses pikir
sehinggakemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri menurun.
Kurang perawatan diri terlihat dari ketidakmampuan merawat kebersihan diri
antaranyamandi, makan minum secara mandiri, berhias secara mandiri,
toileting(BAK/BAB) (Damaiyanti, 2012).
Defisit perawatan diri adalah kemampuan dasar yang dimiliki
manusiadalam melengkapi kebutuhannya dalam kelangsungan hidupnya
sesuai kondisikesehatannya. (Damaiyanti dan Iskandar, 2012).
Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan melakukanaktifitas
perawatan diri (mandi, berhias, makan serta toileting) kegiatan ituharus bisa
dilakukan secara mandiri ( Herman, 2011).

B. Etiologi
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2000), penyebab kurang perawatandiri
adalah kelelahan fisik dan penurunan kesadaran. Menurut Depkes
(2000), penyebab kurang perawatan diri adalah:
1. Factor predisposisi
a) Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien
sehingga perkembangan inisiatif terganggu.
b) Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu
melakukan perawatan diri.
c) Kemampuan realitas turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitasyang kurang
menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk
perawatan diri

5
d) Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan
diri lingkungannya.Situasi lingkungan mempengaruhi latihan
kemampuan dalam perawatan diri.

2. Faktor presivitasi
Faktor presivitasi defisit perawatan diri adalah kurang penurunan
motivasi,kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah yang
dialam individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu
melakukan perawatan diri.
Menurut Depkes (2000: 59) Faktor – faktor yang mempengaruhi personal
hygiene adalah:
a) Body Image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi
kebersihandiri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga
individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya.
b) Praktik Sosial
Pada anak– anak selalu dimanja dalam kebersihan diri,
makakemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
c) Status Sosial Ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta
gigi,sikat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang
untuk menyediakannya.
d) Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan
yang baik dapat meningkatkan kesehatan.
Misalnya pada pasien penderita diabetes mellitus ia harus menjaga
kebersihan kakinya.
e) Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh
dimandikan.
f) Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu
dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain– lain

6
g) Kondisi fisik atau psikis
Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri
berkurangdan perlu bantuan untuk melakukannya.

C. Tanda dan Gejala


Menurut Depkes (2000) tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri
adalah:
1. Fisik
a) Badan bau, pakaian kotor.
b) Rambut dan kulit kotor.
c) Kuku panjang dan kotor.
d) Gigi kotor disertai mulut bau.
e) Penampilan tidak rapi.
2. Psikologis
a) Malas, tidak ada inisiatif.
b) Menarik diri, isolasi diri.
c) Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.
3. Social
a) Interaksi kurang.
b) Kegiatan kurang.
c) Tidak mampu berperilaku sesuai norma.
d) Cara makan tidak teratur.
e) BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan mandi tidak
mampu mandiri.

D. Jenis– Jenis
Menurut (Damaiyanti, 2012) jenis perawatan diri terdiri dari :
1. Defisit perawatan diri : mandi
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan
mandi/beraktivitas perawatan diri sendiri.
2. Defisit perawatan diri : berpakaian
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan
aktivitas berpakaian dan berhias untuk diri sendiri.

7
3. Defisit perawatan diri : makan
hambatan untuk melakukan atau menyelesaikan aktifitas sendiri.
4. Defisit perawatan diri : eliminasi
Hambatan untuk melakukan atau menyelesaikan aktifitas sendiri.

E. Rentang Respon
Adaptif Maladaptif

Perawatan diri Kadang perawatan diri, Tidak melakukan


seimbang kadang tidak perawatan diri saat stres

1. Pola perawatan diri seimbang : saat klien mendaptakan stressor dan


mampu untuk berperilaku adaptif maka pola perawatan yang di lakukan
klien seimbang, klien masih melakukan perawatan diri.
2. Kadang melakukan peawatan diri kadang tidak: saat klien mendapatkan
stressor kadang-kadang klien tidak memperhatikan perawatan dirinya.
3. Tidak melakukan perawatan diri: klien mengatakan dia tidak peduli dan
tidak bisa melakukan perawatan diri saat stress (Ade, 2011)

F. Proses Terjadinya Masalah


Defisit perawatan diri terjadi diawali dengan proses terjadinya gangguan
jiwa yang dialami oleh klien sehingga menyebabkan munculnya gangguan
defisit perawatan diri pada klien. Pada klien skizofrenia dapat mengalami
defisit perawatan diri yang signifikan. Tidak memerhatikan kebutuhan
higiene dan berhias biasa terjadi terutama selama episode psikotik. Klien
dapat menjadi sangat preokupasi dengan ide-ide waham atau halusinasi
sehingga ia gagal melaksanakan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari
(stuart&laraia, 2005).
Faktor biologis terkait dengan adanya neuropatologi dan
ketidakseimbangan dari neurotransmiternya. Dampak yang dapat dinilai
sebagai manifestasi adanya gangguan adalah pada perilaku maladaptif pasien
(Townsend, 2005). Secara biologi riset neurobiologikal mempunyai fokus

8
pada tiga area otak yang dipercaya dapat melibatkan perilaku agresi yaitu
sistem limbik, lobus frontalis dan hypothalamus.
Sistem Limbik merupakan cicin kortek yang berlokasi dipermukaan
medial masing-masing hemisfer dan mengelilingi pusat kutup serebrum.
Fungsinya adalah mengatur persyarafan otonom dan emosi (Suliswati,et al,
2002: Struat & Laraia, 2005). Menyimpan dan menyatukan informasi
berhubungan dengan emosi, tempat penyimpanan memori dan pengolahan
informasi. Disfungsi pada sistem ini akan menghadirkan beberapa gejala
klinik seperti hambatan emosi dan perubahan kebribadian (Kaplan, Saddock
& Grebb, 2002).
Lobus Frontal berperan penting menjadi media yang sangat berarti dalam
perilaku dan berpikir rasional, yang saling berhubungan dengan sistem limbik
(Suliswati,et al, 2002: Struat & Laraia, 2005). Lobus frontal terlibat dalam
dua fungsi serebral utama yaitu kontrol motorik gerakan voluntir termasuk
fungsi bicara, fungsi fikir dan kontrol berbagai ekspresi emosi. Kerusakan
pada daerah lobus frontal dapat meyebabkan gangguan berfikir, dan gagguan
dalam bicara/disorganisasi pembicaraan serta tidak mampu mengontrol emosi
sehingga berperilaku maladaptif seperti tidak mau merawat diri : mandi,
berpakaian/berhias, makan, toileting. Kondisi ini menunjukkan gejala defisit
perawatan diri (Townsend 2005).
Hypotalamus adalah bagian dari diensefalon yaitu bagian dalam dari
serebrum yang menghubungkan otak tengah dengan hemisfer serebrum.
Fungsi utamanya adalah sebagai respon tingkah laku terhadap emosi dan juga
mengatur mood dan motivasi. Kerusakan hipotalamus membuat seseorang
kehilangan mood dan motivasi sehingga kurang aktivitas dan dan malas
melakukan sesuatu. Kondisi seperti ini sering kita temui pada klien dengan
defisit perawatan diri , dimana klien butuh lebih banyak motivasi dan
dukungan untuk dapat merawat dirinya (Suliswati, 2002; Stuart & Laraia,
2005).
Ganguan defisit perawatan diri juga dapat terjadi karena
ketidakseimbangan dari beberapa neurotransmitter. misalnya : Dopamine
fungsinya mencakup regulasi gerak dan koordinasi, emosi, kemampuan
pemecahan masalah secara volunter (Boyd & Nihart,1998 ; Suliswati, 2002).
Transmisi dopamin berimplikasi pada penyebab gangguan emosi tertentu.

9
Pada klien skizoprenia dopamin dapat mempengaruhi fungsi kognitif (alam
pikir), afektif (alam perasaan) dan psikomotor (perilaku) kondisi ini pada
klien dengan defisit perawatan diri memiliki perilaku yang menyimpang
seperti tidak berkeinginan untuk melakukan perawatan diri (Hawari, 2001).
Serotonin berperan sebagai pengontrol nafsu makan, tidur, alam perasaan,
halusinasi, persepsi nyeri, muntah. Serotonin dapat mempengaruhi fungsi
kognitif (alam pikir), afektif (alam perasaan) dan psikomotor (perilaku)
(Hawari, 2001). Jika terjadi penurunan serotonin akan mengakibatkan
kecenderungan perilaku yang kearah maladaptif. Pada klien dengan defisit
perawatan diri perilaku yang maladaptif dapat terlihat dengan tidak adanya
aktifitas dalam melakukan perawatan diri seperti : mandi, berganti pakaian,
makan dan toileting (Wilkinson,2007).
Norepinephrin berfungsi untuk kesiagaan, pusat perhatian dan orientasi;
proses pembelajaran dan memori. Jika terjadi penurunan kadar
norepinephrine akan dapat mengakibatkan kelemahan sehingga perilaku yang
ditampilkan klien cendrung negatif seperti tidak mau mandi, tidak mau
makan maupun tidak mau berhias dan toileting (Boyd & Nihart, 1998;
Suliswati, 2002).

G. Mekanisme Koping
Mekanisme koping berdasarkan penggolongan di bagi menjadi 2 menurut
Damaiyanti 2012 yaitu:

1. Mekanisme koping adaptif Mekanisme koping yang mendukung fungsi


integrasi pertumbuhan belajar dan mencapai tujuan. Kategori ini adalah
klien bisa memenuhi kebutuhan perawatan diri secara mandiri.
2. Mekanisme koping maladaptif Mekanisme koping yang menghambat
fungsi integrasi, memecah pertumbuhan, menurunkan otonomi dan
cenderung menguasai lingkungan. Kategorinya adalah tidak mau merawat
diri.

H. Penatalaksanaan
1. Farmakologi
a. Obat anti psikosis : Penotizin.

10
b. Obat anti depresi : Amitripilin.
c. Obat antu ansietas : Diasepam, bromozepam, clobozam.
d. Obat anti insomia : phnebarbital.
2. Terapi
a. Terapi Keluarga
Berfokus pada keluarga dimana keluarga membantu mengatasi
masalah klien dengan memberikan perhatian :
1) Jangan memancing emosi klien.
2) Libatkan klien dalam kegiatan yang berhubungan dengan keluarga.
3) Berikan kesempatan klien mengemukakan pendapat.
4) Dengarkan, bantu, dan anjurkan pasien untuk mengemukakan
masalah yang dialaminya.
b. Terapi Aktivitas Kelompok
Berfokus pada dukungan dan perkembangan, keterampilan sosial, atau
aktivitas lainnya, dengan berdiskusi serta bermain untuk
mengembalikan keadaan klien karena maslah sebagian orang
merupakan perasaan dan tingkah laku pada orang lain. Ada 5 sesi
yang harus dilakukan :
1) Manfaat perawatan diri.
2) Menjaga kebersihan diri.
3) Tata cara makan dan minum.
4) Tata cara eliminasi.
5) Tata cara berhias.
c. Terapi Musik
Dengan musik klien bisa terhibur, rileks, dan bermain untuk
mengembalikan kesadaran pasien.

Penatalaksanaan manurut herman (Ade, 2011) adalah sebagai berikut.

1. Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri.


2. Membimbing dan menolong klien merawat diri.
3. Ciptakan lingkungan yang mendukung.

11
I. Akibat
Akibat dari Defisit Perawatan Diri Menurut Damiyanti, 2012 sebagai berikut.

a. Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak tidak
terpeliharanya kebersihan perorangandengan baik, gangguan 12 fisik yang
seering terjadi adalah: gangguan integritas kulit, gangguan membrane
mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada
kuku.
b. Dampak psikososial Masalah sosial yang berhubungan dengan personal
hygine adalah gangguan kebutuhan aman nyaman , kebutuhan cinta
mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi
sosial.

J. Masalah Keperawatan yang Mungkin Muncul


1. Defisit perawatan diri
2. Isolasi sosial
3. Harga diri rendah

K. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
1) Identitas
a. Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak
dengan klien tentang nama perawat, nama klien, panggilan perawat,
panggilan klien, tujuan, waktu, tempat pertemuan dan topik yang
akan dibicarakan. Kemudian usia dan No RM.
b. Mahasiswa menuliskan sumber data yang didapat.
2) Alasan masuk
Tanyakan kepada klien dan keluarga
a. Apa yang menyebabkan klien/keluarga datang ke rumah sakit saat
ini ?
b. Apa yang sudah dilakukan oleh keluarga untuk mengatasi masalah ?
c. Bagaimana hasilnya ?
3) Faktor predisposisi

12
a. Tanyakan kepada klien/keluarga apakah klien pernah mengalami
gangguan jiwa dimasa lalu.
b. Tanyakan pada klien apakah klien pernah melakukan dan atau
mengalami atau menyaksikan penganiayaan fisik, seksual,
penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan
kriminal.
c. Tanyakan kepada klien atau keluarga apakah ada anggota keluarga
lainnya yang mengalami gangguan jiwa.
d. Tanyakan kepada klien/keluarga tentang pengalaman yang tidak
menyenangkan (kegagalan, kehilangan, perpisahan, kematian,
trauma selama tumbuh kembang) yang pernah dialami klien pada
masa lalu.
4) Fisik
Pengkajian fisik difokuskan pada sistem dan fungsi organ :
a. Ukur dan observasi TTV.
b. Ukur tinggi badan dan berat badan klien.
c. Tanyakan kepada klien/keluarga, apakah ada keluhan fisik yang
dirasakn oleh klien.
d. Kaji lebih lanjut sistem dn fungsi organ serta jelaskan dengan
keluhan yang ada.
e. Masalah keperawatan ditulis sesuai dengan data yang ada.
5) Psikososial
a. Genogram
b. Konsep diri
c. Hubungan sosial
d. spiritual
6) Status mental
a. Penampilan
b. Pembicaraan
c. Aktivitas motorik
d. Alam perasaan
e. Afek
f. Interaksi selama wawancara
g. Persepsi

13
h. Proses pikir
i. Isi pikir
j. Tingkat kesadaran
k. Memori
l. Tingkat konsentrasi dan berhitung
m. Kemampuan penilaian
n. Daya tilik diri
7) Kebutuhan persiapan pulang
a. Makan
b. BAB/BAK
c. Mandi
d. Berpakaian
e. Istirahat dan tidur
f. Penggunaan obat
g. Pemeliharaan kesehatan
h. Kegiatan didalam rumah
i. Kegiatan di luar rumah
8) Mekanisme koping
Data dapat melalui wawancara pada klien atau keluarganya.
9) Masalah psikososial dan lingkungan
Data dapat melalui wawancara pada klien atau keluarganya. Pada tiap
masalah yang dimilki klien, beri uraian spesifik, singkat dan jelas.
10) Pengetahuan
Data dapat melalui wawancara pada klien atau keluarganya. Pada tiap
item yang dimiliki oleh klien simpulkan dalam masalah.
11) Aspek medik
Tuliskan diagnisa medik klien yang telah dirumuskan oleh dokter yang
merawat. Tuliskan obat-obatan klien saat ini, baik obat fisik,
psikofarmako, dan terapi lainnya.
12) Daftar masalah
a. Tuliskan semua masalah disertai data pendukung, yaitu data
subjektif dan data objektif.
b. Buat pohon masalah dari data yang tekah dirumuskan.
13) Daftar diagnosis keperawatan

14
a. Rumuskan diagnosa dengan rumusan P (permasalahan) dan E
(etiologi) berdasarkan pohon masalah.
b. Urutkan diagnosis sesuai prioritas.

Masalah Keperawatan Data yang Perlu dikaji


Defisit Perawatan Diri Subjektif :

1. Mengungkapkan dirinya malas


melakukan perawatan diri ( mandi, dan
berhias).
2. Mengungkapkan dirinya tidak ingin
makan.

Objektif :

1. Tercium aroma tidak sedap dari tubuh


klien.
2. Pakaian terlihat kotor.
3. Rambut dan kulit kotor.
4. Kuku panjang dan kototr.
5. Gigi kotor dan aroma mulut tidak
sedap.
6. Penampilan tidak rapi.
7. Tidak bisa menggunakan alat mandi.

Dokumentasi Asuhan Keperawatan

Berikut ini format dokumentasi keperawatan pengkajian pada pasien yang


mengalami defisit perawatan diri.

1. Status Mental
a. Penampilan
[ ] Tidak Rapi

15
[ ] Penggunaan pakaian tidak sesuai
[ ] Cara berpakaian tidak seperti biasanya
b. Jelaskan .............................................................
c. Masalah Keperawatan.........................................
2. Kebutuhan Sehari-hari
a. Kebersihan Diri
[ ] Bantuan Minimal [ ] Bantuan Total
b. Makan
[ ] Bantuan Minimal [ ] Bantuan Total
c. BAB/BAK
[ ] Bantuan Minimal [ ] Bantuan Total
d. Berpakaian/berhias
[ ] Bantuan Minimal [ ] Bantuan Total
e. Jelaskan.............................................................
f. Masalah keperawatan........................................

2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data yang didapat, masalah keperawatannya adalah defisit
perawatn diri : higiene diri, berhias, makan dan eliminasi.

3. Rencana Tindakan Keperawatan


Diagnosa Rencana Keperawatan
No. Intervensi
Keperawatan TUM TUK
1. Defisit perawatan diri Pasien tidak 1. Klien dapat mebina Bina hubungan saling
: kebersihan diri, mengalami defisit hubungan saling percaya dgn
berdandan, makan, perawatan diri. percaya. menggunakan prinsip
BAB/BAK. Kriteria Evaluasi : komunikasi terapeutik
:
Dalam
berinteraksi klien 1. Sapa pasien dengan
menunjukan ramah, baik verbal
tanda-tanda maupun non verbal.
percaya pada 2. Perkenalkan diri
perawat: dengan sopan.

16
a. Wajah cerah, 3. Tanyakan nama
tersenyum. lengkap dan nama
b. Mau panggilan yang di
berkenalan. sukai pasien.
c. Ada kontak 4. Jelaskan tujuan
mata. pertemuan. Jujur
d. Menerima dan menepati janji.
kehadiran 5. Tunjukkan sikap
perawat. empati dan
e. Bersedia menerima pasien
menceritakan apa adanya.
perasaannya. 6. Beri perhatian dan
perhatikan
kebutuhan dasar
pasien.

2. Klien mampu Melatih pasien cara-


melakukan cara perawatan
kebersihan diri kebersihan diri :
secara mandiri.
1. Menjelasan
pentingnya
menjaga
kebersihan diri.
2. Menjelaskan alat-
alat untuk
menjaga
kebersihan diri.
3. Menjelaskan cara-
cara melakukan
kebersihan diri.
4. Melatih pasien
mempraktekkan
cara menjaga

17
kebersihan diri

3. Klien mampu Melatih pasien


melakukan berdandan/berhias :
berhias/berdandan
1. Untuk pasien laki-
secara baik.
laki latihan
meliputi :
a. Berpakaian
b. Menyisir
rambut
c. Bercukur
2. Untuk pasien
wanita, latihannya
meliputi :
a. Berpakaian
b. Menyisir
rambut
c. Berhias

4. Pasien mampu Melatih pasien makan


melakukan makan secara mandiri :
dengan baik.
1. Menjelaskan cara
mempersiapkan
makan.
2. Menjelaskan cara
makan yang tertib.
3. Menjelaskan cara
merapihkan
peralatan makan
setelah makan.
4. Praktek makan

18
sesuai dengan
tahapan makan
yang baik.

5. Pasien mampu Mengajarkan pasien


melakukan melakukan
BAB/BAK secara BAB/BAK secara
mandiri. mandiri :

1. Menjelaskan
tempat BAB/BAK
yang sesuai.
2. Menjelaskan cara
membersihkan diri
setelah BAB dan
BAK.
3. Menjelaskan cara
membersihkan
tempat BAB dan
BAK

4. Tindakan Keperawatan
1. Tindakan Keperawatan pada Pasien
a) Tujuan Keperawatan
1) Pasien mampu melakukan kebersihan diri secara mandiri.
2) Pasien mampu melakukan berhias secara baik
3) Pasien mampu melakukan melakukan makan dengan baik.
4) Pasien mampu melakukan eliminasi secara mandiri.
b) Tindakan Keperawatan
1) Melatih pasien cara perawatan kebersihan diri dengan cara :
(a) Menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan diri.
(b) Menjelaskan alat-alat untuk menjaga kebersihan diri.
(c) Menjelaskan cara-cara melakukan kebersihan diri.

19
(d) Melatih pasien mempraktikan cara menjaga kebersihan diri.
2) Membantu pasien latihan berhias
Latihan berhias pada pria harus dibedakan dengan wanita. Pada pasien
laki-laki, latihan meliputi latihan berpakaian, menyisir rambut, dan
bercukur, sedangkan pada pasien perempuan, latihan meliputi latihan
berpakaian, menyisir rambut, dan berhias/berdandan.
3) Melatih pasien makan secara mandiri dengan cara :
(a) Menjelaskan cara mempersiapkan makanan.
(b) Menjelaskan cara makan yang tertib.
(c) Menjelaskan cara merapikan peralatan makam setelah makan.
(d) Mempraktikan cara makan yang baik.
4) Mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara mandiri dengan cara
:
(a) Menjelaskan tempat BAB?BAK yang sesuai.
(b) Menjelaskan cara membersihkan diri setelah BAB dan BAK.
(c) Menjelaskan cara membersihkan tempat BAB dan BAK.
SP 1 pasien : mendiskusikan pentingnya kebersihan diri, cara-cara merawat diri
dan melatih pasien tentang cara-cara perawatan kebersihan diri.

SP 2 pasien : melatih pasien berhias (laki-laki : berpakaian, menyisir rambut, dan


bercukur. Perempuan : berpakaian, menyisir rambut, dan berhias).

SP 3 pasien : mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara mandiri


(menjeaskan tempat BAB/BAK yang sesuai, menjeaskan cara membersihkan diri
setelah BAB dan BAK, menjelaskan cara membersihkan tempat BAB dan BAK).

SP 4 pasien : melatih pasien makan secara mandiri (menjelaskan cara


mempersiapkan makan, menjelaskan cara makan yang tertib, menjeaskan cara
merapikan peralatan makan setelah makan, praktik makan sesuai dengan tahapan
makan yang baik).

2. Tindakan Keperawatan pada Keluarga


a) Tujuan Keperawatan
Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami masalah
defisit perawatan diri.

20
b) Tindakan Keperawatan
Untuk memantau kemampuan pasien dalam melakukan cara perawatan
diri yang baik, perawat harus melakukan tindakan agar keluarga dapat
meneruskan melatih dan mendukung pasien sehingga kemampuan pasien
dalam perawatan diri meningkat. Tindakan yang dapat perawat lakukan
adalah sebagai berikut.
1) Diskusikan dengan keluarga tentang masalah yang dihadapi keluarga
dalam merawat pasien.
2) Jelaskan pentingnya perawatan diri untuk mengurangi stigma.
3) Diskusikan dengan keluarga tentang fasilitas kebersihan diri yang
dibutuhkan oleh pasien untuk menjaga perawatan diri pasien.
4) Anjurkan keluarga untuk terlibat dalam merawat diri pasien dan
membantu mengingatkan pasien dalam merawat diri (sesuai jadwal
yang telah disepakati).
5) Anjrkan keluarga untuk memberikan pujian ats keberhasilan pasien
dalam merawat diri.
6) Bantu keluarga melatih cara merawat pasien defisit perawatan diri.
SP 1 Keluarga memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang masalah
perawatan diri dan cara merawat anggota keluarga yang mengalami masalah
defisit perawatan diri.
SP 2 Keluarga : melatih keluarga cara merawat pasien.
SP 3 Keluarga : membuat perencanaan pulang bersama keluarga.

21
5. Evaluasi
EVALUASI KEMAMPUAN PASIEN DEFISIT PERAWATAN DIRI dan
KELUARGANYA

Nama :

Ruangan :

Nama perawat :

Petunjuk :

Berilah tanda checklist (√) jika pasien mampu melakukan kemampuan di bawah ini.
Tuliskan tanggal setiap dilakukan supervisi.

Tanggal
No. Kemampuan

A. Pasien

1. Menyebutkan pentingnya
kebersihan diri.

2. Menyebutkan cara membersihkan


diri.

3. Mempraktikan cara membersihkan


diri dan memasukkan dalam
jadwal.

4. Menyebutkan makan yang baik.

5. Mempraktikan cara makan yang


baik dan memasukkan dalam
jadwal.

6. Menyebutkan cara BAB/BAK


yang baik.

7. Mempraktikan cara BAB/BAK


yang baik dan memasukkan dalam

22
jadwal.

8. Menyebutkan cara berdandan

9. Mempraktikkan cara berdandan


dan memasukkan dalam jadwal.

B. Keluarga

1. Menyebutkan pengertian
perawatan diri dan proses
terjadinya masalah defisit
perawatan diri.

2. Menyebutkan cara merawat pasien


defisit perawatan diri.

3. Mempraktikan cara merawat


pasien defisit perawatan diri.

4. Membuat jadwal aktivitas dan


meminum obat pasien di rumah
(perencanaan pulang).

23
EVALUASI KEMAMPUAN PERAWAT dalam MERAWAT PASIEN
DEFISIT PERAWATAN DIRI

Nama Pasien :

Ruangan :

Nama perawat :

Petunjuk :

a. Berilah tanda checklist (√) pada tiap kemampuan yang ditampilkan.


b. Evaluasi tindakan keperawatan untuk setiap SP dilakukan menggunakan
instrumen Evaluasi Penampilan Klinik Perawat MPKP.
c. Masukan nilai tiap Evaluasi Penampilan Klinik Perawat MPKP ke dalam baris
nilai SP.
Tanggal
No. Kemampuan

A. Pasien

SP 1 Pasien

1. Menjelaskan pentingnya
kebersihan diri.

2. Menjelaskan cara menjaga


kebersihan diri.

3. Membantu pasien mempraktekkan


cara menjaga kebersihan diri.

4. Mengajukan pasien memasukkan


dalam jadwal kegiatan harian.

Nilai SP 1 Pasien

SP 2 Pasien

1. Mengevaluasi jadwal kegiatan


harian pasien

24
2. Menjelaskan cara makan yang baik

3. Membantu pasien mempraktikan


cara makan yang baik.

4. Menganjurkan pasien memasukkan


dalam jadwal kegiatan harian.

Nilai SP 3 Pasien

SP 3 Pasien

1. Mengevaluasi jadwal kegiatan


harian pasien.

2. Menjelaskan cara eliminasi yang


baik

3. Membantu pasien mempraktikan


cara eliminasi yang baik dan
memasukkan dalam jadwal.

4. Menganjurkan pasien memasukkan


dalam jadwal kegiatan harian.

Nilai SP 3 Pasien

SP 4 Pasien

1. Mengevaluasi jadwal kegiatan


harian pasien.

2. Menjelaskan cara berdandan.

3. Membantu pasien mempraktikan


cara berdandan.

4. Menganjurkan pasien memasukkan


dalam jadwal kegiatan harian.

Nilai SP 4 Pasien

25
B. Keluarga

SP 1 Keluarga

1. Mendiskusikan masalah yang


dirasakan keluarga dalam merawat
pasien.

2. Menjelaskan pengertian, tanda dan


gejala defisit perawatan diri, dan
jenis defisit perawatan diri yang
dialami pasien beserta proses
terjadinya.

3. Menjelaskan cara-cara merawat


pasien defisit perawatan diri.

Nilai SP 1 Keluarga

SP 2 Keluarga

1. Melatih keluarga mempraktikan


cara merawat langsung pasien
dengan defisit perawatan diri.

2. Melatih keluarga melakukan cara


merawat langsung pasien defisit
perawatn diri.

Nilai SP Keluarga

SP 3 Keluarga

1.
Membantu keluarga membuat
jadwal aktivitas di rumah termasuk
minum obat (discharge planning).

2. Menjelaskan tindak lanjut pasien


setelah pulang.

26
Nilai SP 3 Keluarga

Total Nilai: SP Pasien + SP


Keluarga

Nilai Rata-Rata

27
BAB IV

PENUTUP
A. Kesimpulan
Klien dengan gangguan jiwa yaitu defisit perawatan diri hendaknya di
berikan perhatian yang lebih dalam perawatan diri sehinngga peningkatan
kebersihan klien dapat lebih meningkat lebih baik. Klien yang sering menyendiri
merupakan resiko menjadi isolasi sosial maka komunikasi terapeutik yang di
gunakan sebagai landasan untuk membina saling percaya sehingga dapat
mengggali semua permasalahan.

Klien dengan gangguan jiwa yaitu defisit perawatan diri harus selalu di
libatkan dalam kegiatan dan di temani setiap tindakan yang lebih. Identifikasi diri
mengenai penyebab awal terjadinya gangguan tersebut menjadi focus perhatian
pemberian pelayanan kesehatan. Klien dengan gangguan jiwa yaitu defisit
perawatan diri membutuhkan dukungan dari keluarganya sehingga dapat
mempercepat proses penyembuhan klien.

B. Saran
Klien diharapkan dalam mengikuti program penyembuhan yang
direncanakan oleh dokter dan perawat mau dan mampu untuk mengikuti guna
kesembuhan klien. Keluarga nantinya mampu memberikan motivasi dan semangat
kepada klien untuk mengembalikan kepercayaan diri baik di rumah maupun di
rumah sakit.

28
DAFTAR PUSTKA

Think good one. 2012. Defisit Perawatan Diri.

(http://thinkgoodone.blogspot.com/2012/09/defisit-perawatan-diri.html)

Diakses pada tanggal 20 juli 2019 pukul 15.00 WITA

Academia Edu. Makalah Defisit Perawatan Diri.

(https://www.academia.edu/34831905/makalah_defisit_perawatan_diri.docx)

Diakses pada tanggal 20 juli 2019, pukul 15.00

Academia Edu. Asuhan Keperawatan Diri.

https://www.academia.edu/9222718/ASUHAN_KEPERAWATAN_DEFISIT
_PERAWATAN_DIRI_DPD_Disusun_Guna_Memenuhi_Tugas_Blok_Jiwa_Disusu
n_oleh)

Diakses pada tanggal 20 juli 2019, pukul 15.00

29