Anda di halaman 1dari 15

Analisis Kebutuhan Media Pembelajaran IPA Kelas 5 SD

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latarbelakang

Desawa ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang


semakin pesat. Arus informasipun semakin deras tak terbendung. Begitu juga dalam
dunia pendidikan. Berbeda dengan era agraris dan industri, kemajuan suatu bangsa
dalam era informasi sangat tergantung pada kemampuan masyarakatnya dalam
memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan produktifitas. Karakteristik
masyarakat dunia telah dikenal dengan istilah masyarakat berbasis pengetahuan.
( Knowledge Based Society) . Siapa yang megnuasai pengetahuan, maka ia akan
mampu bersaing di era global.

Oleh karena itu setiap negara berlomba untuk mengintegrasikan teknologi


informasi dan komunikasi ke dalam semua aspek kehidupan termasuk dunia
pendidikan. Dalam dunia pendidikan, segala sarana, media dan fasilitas belajar
banyak tersedia untuk digunakan. Namun pada kenyataannya, penggunaan teknologi
dan informasi di dalam kelas dewasa ini belum optimal dalam menunjang
pembelajaran. Hal ini dikarenakan beberapa factor, diantaranya kemampuan guru
dalam merancang media pembelajaran berbasis teknologi masih belum memadai dan
penguasaan teknologi informasi yang masih tertatih.

Dalam pembelajaran IPA kelas V Sekolah Dasar, terdapat banyak materi yang
menyajikan konsep kongkrit dan membutuhkan visualisasi gambar yang tidak mudah,
seperti materi struktur bumi dan matahari, dan materi cahaya dan sifat-sifatnya.
Kedua materi ini termasuk materi yang sulit difahami siswa dan sulit dijelaskan guru.
Hal ini didasarkan fakta bahwa nilai rata-rata ulangan harian pada kedua topic ini
menjadi yang terendah selama beberapa tahun terakhir. Selain itu, bentuk struktur
bumi dan matahari tidak dapat disajikan secara nyata ke hadapan siswa.

Dengan kondisi di atas, maka dibutuhkan suatu solusi yang dapat mengatasi
masalah kesulitan guru dan siswa dalam memahami kedua topic materi tersebut.
Dibutuhkan suatu media pembelajaran yang dapat menayangkan materi secara lebih
kongkrit ke dalam kelas.
B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latarbelakang masalah di atas, maka teridentifikasi masalah


sebagai berikut :

1. Bagaimana cara menelaskan maeri IPA kepada anak SD dengan cara yang inerakif ?

2. Mengapa guru merasa sulit menjelaskan topic atau materi tertentu di atas?

3. Mengapa guru tidak memanfaatkan media dalam pembelajaran?

4. Media pembelajaran apa yang dapat memudahkan guru dan siswa dalam
mempelajari suatu topic Mata Pelajaran IPA kelas V SD?

C. Pembatasan Masalah

Dari hasil identifikasi masalah, maka pembatasan masalah ditentukan hanya


pada pemanfaatan media pembelajaran untuk mata pelajaran IPA kelas V jenjang
Sekolah Dasar.

D. Perumusan Masalah

1. Apakah pemanfaatan multimedia pembelajaran dalam kelas berpengaruh terhadap


kualitas pemahaman siswa?

2. Apakah perancangan multimedia pembelajaran yang dibuat dapat memudahkan guru


dalam menyampaikan materi?

E. Kegunaan Penelitian Analisis Kebutuhan

1. Diketahuinya masalah yang terjadi dalam pembelajaran


2. Dapat ditemukannya media pembelajaran yang tepat untuk beberapa topic pada mata
pelajaran IPA Kelas V Sekolah Dasar

3. Memudahkan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran

4. Mempermudah siswa dalam menyerap materi pelajaran.

F. Tujuan

1. enginventaris atau mengidentifikasi masalah-masalah pembelajaran di SD Negeri ......


Kelas : V, Mata Pelajaran : IPA

2. Menyusun skala priotitas pemecahan masalah di SD Negeri Sindangsari – Kabupaten


Bandung Barat, Kelas : V, Mata Pelajaran : IPA

3. Merumuskan tujuan umum yang akan dicapai dari proses pemecahan masalah di SD
Negeri Sindangsari – Kabupaten Bandung Barat, Kelas : V, Mata Pelajaran : IPA

4. Menyusun rancangan media pembelajaran untuk memecahkan masalah pembelajaran


yang terjadi di SD NegeriSindangsari – Kabupaten Bandung Barat, Kelas : V, Mata
Pelajaran : IPA

G. Hasil yang dicapai

1. Daftar identifikasi masalah pembelajaran

2. Daftar skala prioritas pemecahan masalah

3. Rumusan tujuan

4. Perancangan media pembelajaran


BAB II
LANDASAN TEORI

- Karakteristik Mata pelajaran IPA


Carin (1993) menyatakan bahwa IPA sebagai produk atau isi mencakup fakta, konsep,
prinsip, hukum-hukum, dan teori IPA. Jadi pada hakikatnya IPA terdiri dari tiga
komponen, yaitu sikap ilmiah, proses ilmiah, dan produk ilmiah. Hal ini berarti bahwa
IPA tidak hanya terdiri atas kumpulan pengetahuan atau berbagai macam fakta yang
dihapal, IPA juga merupakan kegiatan atau proses aktif menggunakan pikiran dalam
mempelajari gejala-gejala alam yang belum dapat direnungkan. IPA menggunakan
apa yang telah diketahui sebagai batu loncatan untuk memahami apa yang belum
diketahui. Suatu masalah IPA yang telah dirumuskan dan kemudian berhasil
dipecahkan akan memungkinkan IPA untuk berkembang secara dinamis, sehingga
kumpulan pengetahuan sebagai produk juga bertambah.

Sementara itu, menurut Trowbridge dan Bybee (1990) IPA merupakan representasi
dari suatu hubungan dinamis yang mencakup tiga faktor utama, yaitu: “the extent
body of scientific knowledge, the values of science, and the methods and processes of
science“. Pandangan ini lebih luas jika dibandingkan dengan pengertian IPA yang
dikemukakan Hungerford dan Volk (1990), karena Trowbridge dan Bybee (1990)
selain memandang IPA sebagai suatu proses dan metode (methods and processes)
serta produk-produk (body of scientific knowledge), juga melihat bahwa IPA
mengandung nilai-nilai (values). IPA adalah sekumpulan nilai-nilai dan prinsip yang
dapat menjadi petunjuk pengembangan kurikulum dalam IPA (Gill, 1991).

Sebagai body of scientific knowledge, IPA adalah hasil interpretasi/deskripsi tentang


dunia kealaman (natural world). Hal ini sesungguhnya sama dengan elemen produk
pada definisi IPA yang dikemukakan oleh Hungerford dan Volk (1990). Tujuan IPA
adalah pengembangan body of scientific knowledge (Hyllegard dan Morrow, 1996).

Menurut BSNP (2006:1), Karakteristik mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dapat
dilihat melalui dua aspek yaitu biologis dan fisis. Aspek biologis, mata pelajaran IPA
mengkaji berbagai persoalan yang berkait dengan berbagai fenomena pada makhluk
hidup pada berbagai tingkat organisasi kehidupan dan interaksinya dengan faktor
lingkungan, pada dimensi ruang dan waktu. Untuk aspek fisis, IPA memfokuskan diri
pada benda tak hidup, mulai dari benda tak hidup yang dikenal dalam kehidupan
sehari-hari seperti air, tanah, udara, batuan dan logam, sampai dengan benda-benda di
luar bumi dalam susunan tata surya dan sistem galaksi di alam semesta.

Sedangkan hakikat IPA menurut Depdiknas (2006) meliputi empat unsur utama
yaitu :
1. Sikap: rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta
hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan
melalui prosedur yang benar; IPA bersifat open ended
2. Proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah
meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau percobaan, evaluasi,
pengukuran, dan penarikan kesimpulan
3. Produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum
4. Aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan.

Keempat unsur itu merupakan ciri IPA yang utuh yang sebenarnya tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Secara umum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SMP/MTs,
meliputi bidang kajian energi dan perubahannya, bumi antariksa, makhluk hidup dan
proses kehidupan, dan materi dan sifatnya yang sebenarnya sangat berperan dalam
membantu peserta didik untuk memahami fenomena alam. Ilmu Pengetahuan Alam
merupakan pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah mengalami uji
kebenaran melalui metode ilmiah, dengan ciri: objektif, metodik, sistematis, universal,
dan tentatif
Kesimpulan dari beberapa definisi diatas bahwa IPA adalah sebuah proses
memperoleh kebenaran tentang fakta dan fenomena alam yang meliputi aspek biologi,
fisis dan khemis. Sedangkan hakikat IPA dapat dipandang sebagai sikap, proses,
produk serta aplikasi pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari yang keseluruhannya
saling terkait secara erat.
Pada mata pelajaran IPA kelas V Sekolah Dasar, terdapat topic materi mengenai
macam – macam bentuk tulang daun

- Media pembelajaran
Dalam memberikan layanan instruksional, guru dapat menggunakan media
pembelajaran untuk menunjang prosesnya agar berjalan lebih efektif untuk mencapai
tujuan. menurut Briggs (1977) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk
menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya.
Kemudian menurut National Education Associaton(1969) mengungkapkan
bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun
pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Sesuai dengan perkembangan
jaman, maka media pengajaranpun juga berkembang dari bentuk yang sederhana
menjadi media pengajaran yang modern. Seperti dikatakan oleh R. Warsito bahwa
“ Kemajuan teknik cetak mencetak dan teknik elektronika sangat berpengaruh
terhadap perkembangan alat bantu mengajar. Alat bantu mengajar pada masa kini
terdiri dari :
a. Alat bantu dasar: sabak, papan tulis, gambar, peta, chart, atlas, blobe, model, kertas,
pena, cat, dan sebagainya.
b. Alat bantu cetak: buku teks, majalah, pamphlet berkala.
c. Alat bantu pandang benda seni, artefak, papan bulletin, grafik, film strip, slide, model,
transparan.
d. Alat bantu dengar: audio, tape recorder, radio, telephone.
e. Alat bantu dengar pandang: gambar hidup, televise, video tape.
f. Alat bantu lain-lain: bahan observasi, museum, tempat-tempat bersejarah”
(2001 : 45).

Di samping itu, media pengajaran dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) jenis


yaitu:
a. Media auditif, yaitu media pengajaran yang hanya mengandalkan kemampuan suara
saja, seperti radio, tape recorder, piringan audio. Media pengajaran ini cocok untuk
orang yang tuli atau mempunyai kelainan pendengaran.
b. Media visual, yaitu media pengajaran yang hanya mengandalkan gambar diam, seperti
film strip (film rangkai), slides (film bingkai), foto, gambar, lukisan dan cetakan. Ada
pula media visual yang menampilkan gambar atau symbol yang bergerak seperti film
bisu dan film kartun.
c. Media audio visual, yaitu media yang mempunyai unsur antara suara dan gambar.
Jenis media seperti ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi suara
dan gambar seperti film bingkai, ada suaranya dan ada pula gambar yang
ditampilkannya.

Media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik mata pelajaran IPA adalah alat-
alat peraga untuk uji coba dan visualisasi proses ilmiah dari suatu gejala alam atau
kejadian. Dengan demikian, proses pencahayaan dan sifat-sifatnya yang tak kasat
mata perlu didemonstrasikan lebih khusus dalam bentuk video animasi sehingga lebih
mudah diamati siswa. Adapun media yang relevan lainnya sehubungan dengan
percobaan percobaan yang dilakukan seperti gelas, air, pinsil, kertas karton, kaca
spion, cermin datar, kaca mata & alat optic lainnya dan sebagainya.
- Karakteristik Anak Sekolah Dasar
Ciri-ciri sifat anak pada masa kelas tinggi di Sekolah Dasar yaitu :
1. Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret; hal
ini menimbulkan adanya kecendrungan untuk membandingkan pekerjaan-
pekerjaan yang praktis;
2. Amat realistik, ingin tahu, dan ingin belajar;
3. Menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal atau mata
pelajaran khusus, para ahli yang mengikuti teori faktor ditafsirkan sebagai
mulai menonjolnya faktor-faktor;
4. Sampai kira-kira umur 11,0 anak membutuhkan guru atau orang-orang
dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugasnya dan memenuhi keinginannya;
setelah kira-kira umur 11,0 pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya
dengan bebas dan berusaha menyelesaikannya sendiri.
5. Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran
yang tepat (sebaik-baiknya) mengenai prestasi sekolah;
6. Anak-anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya,
biasanya untuk dapat bermain bersama-sama. Di dalam permainan ini
biasanya anak tidak lagi terikat kepada aturan permainan yang tradisional;
mereka membuat peraturan sendiri;
7. Peran manusia idola yang sempurna. Karena itu guru acapkali
dianggap sebagai manusia yang serba tahu.
Dengan demikian, perlu pemikiran khusus mengenai pemilihan media pembelajaran
yang sesuai dengan karakteristik mata pelajaran IPA dan sesuai dengan karakteristik
anak Sekolah Dasar terutama di kelas V.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan
Teknik yang ditempuh dalam melakukan analisis kebutuhan ini adalah dengan
melakukan survey dan wawancara. Survey terkait proses pembelajaran dan seluruh
sarana pendukungnya, dan wawancara dengan guru-guru di satu sekolah dalam
menggali permasalahan yang dihadapi selama melaksanakan tugas mengajar.

B. Objek
Objek penelitian yang ditetapkan adalah Guru di SDN Sindangsari Kab. Bandung
Barat.

C. Populasi dan Sampel


Populasi penelitian ini adalah seluruh guru di Sekolah Dasar Sindangsari yang
berjumlah 15 orang. Sampel yang diambil adalah guru kelas V.

D. Instrumen Penelitian
Instrumen yang dipilih adalah instrument wawancara dan observasi lingkungan kelas
dan sekolah.

INSTRUMEN WAWANCARA
PENJARINGAN DATA KEBUTUHAN PENGEMBANGAN
MODEL/SISTEM/MEDIA PEMBELAJARAN

Nama Guru __________________________ Kelas


Nama Sekolah __________________________ Keterangan lain
Tanggal __________________________
Kunjungan
Indikator Pemecahan
Masalah Penyebab
Masalah Instruksional Mana
(1) (2) (3) (4) (5)

FORMAT RENCANA TINDAK LANJUT


HASIL ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN MEDIA
PEMBELAJARAN

Nama __________________________ Kelas __________


Guru
Nama __________________________ Keterangan ____________
Sekolah lain
Tanggal __________________________ ____________
Kunjungan
Tanggal Agenda Rincian Kegiatan Ke

INSTRUMEN OBSERVASI
ANALISIS KEBUTUHAN MEDI PEMBELAJARAN

Nama __________________________
Guru
Nama __________________________
Sekolah
Tanggal __________________________
Kunjungan
NO ITEM Deskripsi 1 2 3
1. Rasio guru : siswa
2. Luas ruangan
3. Supervisi Kepsek
4. LCD Proyektor
5. Kemampuan IPTEK Guru
6. Keragaman media yang
tersedia
7. Media yang dirancang guru
8. Hasil belajar siswa
9. Tingkat melek teknologi
para siswa
10. Kualitas sarana
pembelajaran di kelas
11. Persistensi penggunaan
media belajar

E. Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian instrument wawancara dan observasi
untuk menggali permasalahan guru dalam mengajar dan mencari solusi yang tepat.
Selain itu juga melakukan pengumpulan data pendukung sebagai bukti permasalahan
yang ada, berupa hasil belajar siswa pada kelas, mata pelajaran, dan topic tertentu
yang dirasakan bermasalah.
Observasi dilakukan terhadap lingkungan kelas dan lingkungan sekolah, terkait
kesiapan sarana pra sarana yang menunjang proses pembelajaran.

F. Teknik Analisis Data


Data yang terkumpul kemudian di analisis secara deskriptif berdasarkan hasil
wawancara dan observasi yang di kelompokkan ke dalam penilaian skala likert.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pengolahan Data
Data yang dihasilkan adalah kumpulan kondisi dan permasalahan yang dimasukkan
ke dalam skala likert. Point-point penting yang menjadi sorotan adalah keadaan yang
berada pada skala 1 dan 2 dari skala 5. Selain itu, data hasil wawancara
dikelompokkan ke dalam kategori masalah per bidang seperti : manajemen,
pembelajaran, dan kompetensi professional guru.

B. Penyaian data
Sering sekali diemukan materi hagi anak SD yang sulit dipahami tanpa adanya
media. Nah, disinilah peran media diutuhkan dalam materi jenis-jenis tulang daun

C. Analisis Data
Daftar Identifikasi Masalah
Dari Sisi Profesionalisme Guru, Ibu Suhartati mengalami masalah dalam penguasaan
mata pelajaran IPA terutama untuk topik bentuk-bentuk tulang daun. Indikatornya
adalah karena kurangnya tanaman yang beragam. Di setiap sekolah, yang mana terjadi
pertumhan penduduk yang sangat pesat, sehingga kurangnya lahan dalam pemuaan
taman agi sekolah sekolah terpencil, atau bahkan disekolah yang berada dilingkungan
yang padat penduduk juga terasa sulit dijelaskan karena dalam pelaksanaannya,
proses uji coba dengan alat peraga selalu tidak lengkap dibawa siswa (selalu ada
siswa yang lupa dan tertinggal membaca alat peraga yang ditugaskan secara
kelompok). Selain itu, materi pencahayaan sangat perlu visualisasi proses yang dapat
didemonstrasikan secara lebih nyata.

Selain itu, kemampuan guru dalam merancang media pembelajaran masih sangat
kurang. Apalagi tingkat melek teknologi masih lemah. Perancangan media sederhana
dalam bentuk cetak, kartu-kartu, gambar atau media sederhana lainnya pun belum
dihasilkan, apalagi yang berbentuk media audio visual. Kemampuan guru masih
kurang dalam pengoperasian alat komunikasi dan teknologi informasi. Namun
demikian, keduanya sudah memiliki laptop.

Dari sisi sarana dan prasarana di dalam kelas, sudah terdapat meja dan kursi sesuai
jumlah siswa, hanya jumlahnya cukup padat untuk keleluasaan belajar (50 siswa).
Selain itu, sudah memiliki LCD proyektor yang bisa digunakan dalam kegiatan
sekolah maupun pembelajaran.

Dari sisi manajemen, supervise kelas yang dilakukan kepala sekolah belum rutin
terlaksana sesuai jadwal. Hal ini terjadi secara spontan dan belum ada penekanan
khusus, bimbingan tertentu yang dilakukan kepala sekolah. Sehingga peningkatan
kualitas pembelajaran tidak dilakukan secara terencana. Selain itu, adanya jam siang
untuk siswa menjadi kendala tersendiri terutama berkenaan dengan kesegraran
konsentrasi siswa dalam menerima pelajaran. Hal ini terjadi akibat kurang
seimbangnya rasio jumlah kelas dengan jumlah siswa.

Daftar Skala Prioritas Pemecahan Masalah


Dari hasil identifiasi masalah di atas, yang menjadi prioritas pertama adalah
ketersediaan media pembelajaran yang dapat memfasilitasi kesulitan guru dalam
menjelaskan suatu materi/topik tertentu.
Prioritas kedua adalah peningkatan pengetahuan dan pemahaman guru mengenai
materi IPA Kelas V Sekolah Dasar. Hal ini dapat dilakukan dengan penugasan
konsisten (tidak banyak/sering berubah tugas mengajar jenjang kelas), melalui diklat
maupun kegiatan KKG.

Prioritas ketiga adalah peningkatan pemahaman guru dalam merancang media


pembelajaran. Kreatifitas guru perlu diasah sehingga dapat menyajikan materi dengan
cara menarik dan menyenangkan siswa.

Prioritas keempat adalah peningkatan kualitas supervisi kepala sekolah ke dalam


pembelajaran. Harus lebih intensif, membangun dan memotivasi kinerja guru di
dalam kelas.
Prioritas kelima adalah menyesuaikan rasio siswa dengan luas ruangan kelas, dan
rasio jumlah siswa dengan jumlah kelas yang ada. Sehingga siswa dapat belajar
dengan suasana nyaman dan kondusif.
Rumusan Tujuan
Berdasarkan hasil wawancara guru yang bersangkutan diketahui terdapat dua
materi/topik yang dirasakan sulit diterangkan yaitu materi tentang “cahaya dan Sifat-
sifatnya” dan materi “struktur bumi dan matahari”. Untuk materi “cahaya dan sifat-
sifatnya, dirumuskan tujuan pembelajaran sebagai berikut:
1. Siswa dapat memahami peta konsep tentang cahaya
2. Siswa dapat menyebutkan sifat cahaya
3. Siswa dapat menyebutkan spectrum cahaya
4. Siswa dapat menyebutkan alat optic dan penggunaannya

D. Penarikan Kesimpulan
Berdasakan hasil analisis data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa guru
memerlukan media pembelajaran berkenaan dengan topic Cahaya dan Sifat-sifatnya.
Adapun media yang dibutuhkan adalah dalam bentuk multimedia yang mudah dalam
penggunaannya.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Dari hasil analisis kebutuhan yang telah dipaparkan di atas, maka kesimpulannya
adalah bahwa Guru Sekolah Dasar Sindangsari memerlukan media pembelajaran
untuk mata pelajaran IPA Kelas V SD pada topic Cahaya dan Sifat-sifatnya.
Saran
Sehubungan dengan kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan, maka:
A. Pejabat fungsional PTP agar :
1. Menyusun rancangan media pembelajaran yang dibutuhkan
2. Membuat garis besar isi media dan jabaran materi
3. Membuat naskah media pembelajaran terkait
4. Memproduksi media pembelajaran
5. Mengujj coba media pembelajaran yang telah dibuat
6. Menulis bahan penyerta media pembelajaran

B. Guru Kelas V SDN Sindangsari


1. Membuat RPP terkait topik materi untuk media pembelajaran
2. Mengumpulkan bahan materi
3. Melakukan uji coba di dalam kelas
4. Memberikan bahan masukan penyempurnaan media yang di produksi

C. LPMP Jawa Barat


1. Memfasilitasi kegiatan pengembangan profesi PTP PMP Jawa barat di SDN
Sindangsari.
2. Memberikan fasilitasi berupa pendampingan peningkatan profesionalisme guru di
satuan pendidikan jenjang dasar.

DAFTAR PUSTAKA DAN LAMPIRAN

Briggs, Leslie (1977) Instrukctional Design Principles and Aplication. New Jersey
: Educaional Technology Publication
Depdiknas, (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Jakarta : Depdiknas
Hungerford and Volk, (1990). Changing Learner Behaviour Through Environmental
Education.
Hyllegard R., Mood. DP. And Morrow JR (1996) Interpreting Research in Sport and
Exercise Science, St. Louis, MO : Mosby-Year Book, Lehmann M. Foster, C
National Education Association (1996)
Trowbridge L.W & Bybee (1990). Became a Secondary School Science Teache. Merril
Publishing Company, OHIO