Anda di halaman 1dari 15

Kemudian pada pemeriksaan intra oral ditemukan area erosive pada gingival labiah anterior rahang atas dan

bawah,
ulkus multiple pada lateral lidah, mukosa bukal, hingga kedua sudut mulut. Tanda – tanda ini sesuai dengan tanda
gingivostomatitis herpetika primer yang disebutkan oleh Birnbaum dan Dunne (2010). Penderita gingivostomatitis
herpetika primer juga mengalami pengunyahan dan penelanan yang tidak memadai akibat adanya rasa sakit dari ulkus
tersebut (Langlain dan Miller, 2000), seperti yang menjadi keluhan utama pada pasien dari skenario tersebut.
Selain vesikel, tanda lain pada kelainan ini adalah daerah – daerah fokal dari tepi gusi menjadi merah pada
dan edema. Papilla - papilla interdental akan membengkak dan berdarah sesudah trauma ringan karena kerapuhan
kapiler dan meningkatnya permeabilitas (Langlais dan Miller, 2000). Pasien juga mempunyai tanda gusi berdarah
sejak lima hari lalu, yang dapat memperkuat diagnosis mengacu pada penyakit ini.
Faktor predisposisi gingivostomatitis herpetik primer ialah sistem imun yang buruk, seringkali menyertai
kondisi infeksi akut seperti pneumonia, meningitis, influenza, tifus, infeksi mononukleusis dan kondisi stress (Jaya
dan Harijanti, 2009). Pada pasien, faktor predisposisi ini dapat dikaitkan dengan sedang dalam pemakaian ortodontik
cekat, yang dapat meningkatkan resiko terjadinya infeksi dengan sedikit saja oral hygiene yang buruk.

4. Gingivastomatitis Herpetika Primer


Etiologi
Primer Herpes Simplex (HSV-I) tipe I menghasilkan infeksi virus yang paling umum di rongga mulut
( Anonim, 2011) Manifestasi klinis Infeksi primary HSV-1 umumnya terjadi pada anak-anak dan remaja.
Pada masa awal inkubasi virus, yakni 1 -3 hari pertama akan timbul gejala demam, hilang nafsu makan,
malaise, dan myalgia/nyeri otot yang juga dapat disertai pusing dan nausea. Beberapa hari setelah gejala
awal, eritema dan sekelompok vesikel dan/atau ulser muncul pada mukosa berkeratin palatum durum,
gingiva cekat, dan dorsum lidah, serta mukosa tak berkeratin pada mukosa labial, mukosa bukal, dan lidah
bagian depan. Vesikel pecah untuk membentuk ulkus yang biasanya berukuran 1 -5 mm lalu bergabung
membentuk ulkus yang lebih besar dengan batas scalloped dan eritema yang mengelilinginya. Gingiva
seringkali tampak merah disertai nyeri pada mulut yang menyebabkan kesulitan makan.

Immunologis
Infeksi HSV Primer berdampak pada kenaikan konsentrasi IgM lalu diikuti dengan konsentrasi permanen
IgM ( seroconversion ) pada beberapa minggu berikutnya. Keadaan ini terjadi karena telah terjadi infeksi
pada periode sebelumnya yang tidak dapat mengadakan perindungan terhadap serangan antigen. Infeksi
aktif yang berulang ini berdampak pada kenaikan konsentrasi antibodi IgG (Burket, 2003). Dari informasi
skenario dapat diambil final diagnosis penyakit ini adalah Primary Herpatical Gingivostomatitis

Terapi
Terapi untuk pasien primary herpetical gingivostomatitis meliputi kontrol rasa sakit,
supportive care, dan definitive treatment. Obat-obatan golongan acyclovir disarankan untuk mengurangi
sumber dan infeksi virus. Acyclovir menghambat replikasi virus dan diaktivasi oleh thymidine kinase.
Penggunaan acyclovir 15 mg/kg lima kali sehari pada anak-anak mengurangi demam, mengurangi produksi
HSV, menghambat progress dari lesi, memperbaiki asupan makanan, dan mengurangi insidensi rawat inap.
Contoh jenis acyclovir, yaitu valacyclovir dan
famciclovir. Selain itu, terapi dapat berupa obat kumur Chlorhexidine glukonat 0,2% yang digunakan 3 kali
sehari sebagai antiseptik sehingga mempercepat penyembuhan infeksi selain itu di klinik diberikan juga
triamcinolone acetonide 0,1% sebagai antiinflamasi diberikan untuk mengurangi rasa sakit (Burket, 2003).

2. Manifestasi Oral dari Penyakit Infeksi karena Virus


2.1 Herpes Simplex Virus (HSV)
Membran mukosa mulut dapat terinfeksi oleh satu dari beberapa jenis virus yang berbeda, masing –
masing menunjukkan gambaran klinis yang relatif berbeda. Virus Herpes adalah sekelompok besar virus
yang berbentuk inti DNA yang diselubungi oleh kapsul dan sarung. Tujuh tipe dari virus herpes dikenal
patogen terhadap manusia, dan enam dari ke tujuh tipe virus tersebut berhubungan dengan penyakit pada
daerah kepala dan leher 1.
Herpes simplex pada regio kepala dan leher

Primer Herpes Simplex (HSV-I) tipe 1 merupakan virus yang paling umum menghasilkan infeksi
dalam rongga mulut. Paling sering terjadi pada anak-anak di bawah usia 6 tahun tetapi dapat terjadi pada
pasien yang lebih tua. Infeksi primer pada sebagian besar anak-anak adalah sub-klinis (tanpa tanda-tanda
atau gejala klinis).
Herpes simplex virus hampir di mana-mana di populasi umum; lebih dari 90% orang dewasa
memiliki antibodi terhadap herpes simplex virus oleh dekade keempat kehidupan. Sekali seseorang
terinfeksi, virus menyebar ke daerah massa jaringan saraf, ganglia (misalnya, trigeminal ganglion), di
mana ia tetap laten namun dapat diaktifkan kapan saja sesuai kondisi. Kedua herpes simpleks tipe 1 dan 2
dapat menyebabkan infeksi orofacial dan infeksi kelamin, tetapi HSV-I lebih sering bertanggung jawab
atas lesi di dalam dan sekitar mulut.

2.1.1 Acute Herpetic Gingivostomatitis


Etiologi
Primary herpetic gingivostomatitis memiliki frekuensi infeksi virus terbesar di mulut dan
menjalar dengan mudah melalui saliva. Sumber infeksi mungkin dari individu yang virusnya
asimptomatik di saliva atau mendapat infeksi kambuhan, seperti herpes labialis. HSV pada
mulanya menginfeksi sel epitel tidak berkeratin pada mukosa oral untuk menghasilkan intra
epithelial blisters. Seperti infeksi primer, HSV terletak tersembunyi di jaringan saraf dan jaringan
orofasial. Pemeriksaan status antibodi mengungkapkan bahwa lebih dari 60 % populasi di Eropa
dan Amerika Utara menunjukkan infeksi HSV pada anak berumur 16 tahun.

Gambaran Klinis
Gingivostomatitis ulseratif akut terjadi sebagai akibat replikasi virus dalam jaringan yang
terkena. Masa inkubasi umumnya 4 hingga 5 hari kemudian gejala diawali dengan demam.
Pasien dapat merasa rasa sakit, panas dan perih atau gatal terutama pada saat makan dan minum.
Gusi dapat membengkak dan mudah berdarah.

Vesikuler dapat terjadi di seluruh mulut. Mereka mungkin memiliki penampilan bintik-bintik
di daerah kontak dengan rahang atas. Menyentuhnya atau mencoba untuk mengkonsumsi
makanan bisa menyebabkan rasa sakit parah.

Di dalam rongga mulut dapat timbul vesikel (gelembung) berukuran kecil yang umumnya
berkelompok dan dapat dijumpai di bagian dalam bibir, lidah, tenggorokan, langit-langit dan di
bagian dalam pipi. Selanjutnya vesikel ini akan pecah dan menjadi ulkus (luka) yang
dipermukaannya terdapat semacam lapisan kekuningan. Pada saat inilah rentan terjadi penularan
karena vesikel tersebut mengeluarkan cairan yang mengandung jutaan virus herpes simpleks.
Kelenjar getah bening setempat yaitu di sekitar leher dapat membesar dan saat ditekan terasa
lunak.
Herpes gingivostomatitis

Bibir dan gingiva dan mukosa buccal terlibat tetapi kadang-kadang juga lidah dan
retropharynx. Lesi individual dapat dimulai sebagai vesikula tetapi mungkin meluas ke mukosa
dan lapisan kulit dalam, menyukai penyebaran sistemik. Ada reaksi inflamasi lebih besar dan
akibatnya edema dan eritema.

Diagnosa
Isolasi dan kultur HSV menggunakan viral swab, metode standard diagnosa. Infeksi HSV
dapat juga diperkuat dengan adanya kenaikan empat kali lipat antibodi. Metode ini membutuhkan
10 hari untuk menghasilkan hasil. Chair- side kits dapat dengan cepat mendeteksi HSV dalam
waktu beberapa menit pada lesi smear/ coreng menggunakan immunofluoressence yang tersedia,
tapi terbatas pada biaya. Biopsi jarang digunakan tapi jika dilakukan akan memperlihatkan
vesikula yang tidak spesifik atau ulserasi dengan multinucleated giant cells yang menggambarkan
viral- infected keratinocytes.

Perawatan
Pasien, dan anak- anak seharusnya ditenangkan tentang kondisi dasar dan diberi tahu tentang
infeksi lesi. Instruksi seharusnya diberikan untuk membatasi bibir dan mulut untuk mengurangi
resiko penyebaran infeksi di daerah lainnya. Terapi supportive symptomatic termasuk obat kumur
clorhexidine, terapi analgesik, soft diet, dan cukup minum. Menggunakan acyclovir, agen
antivirus dengan melakukan perlawanan terhadap HSV. Dosis standard 200mg acyclovir, 5 kali
sehari selama 5 hari. Dosis harus dikurangi setengahnya untuk anak dibawah 2 tahun.
Mendukung langkah-langkah yang biasa untuk infeksi virus akut harus dilakukan. Ini
termasuk pemeliharaan kebersihan mulut yang tepat, cukup asupan cairan untuk mencegah
dehidrasi, dan penggunaan analgesik sistemik untuk mengontrol rasa sakit. Agen antipiretik juga
ditentukan ketika demam adalah gejala. Pada kasus yang parah mungkin perlu untuk
menggunakan anestesi topikal seperti lidokain atau diphenhyclramine. Pasien sering dapat
mentolerir cairan dingin, dan mereka dapat membantu dalam mencegah dehidrasi.

2.1.2 Chronic Herpetic Simplex


Etiologi
Infeksi ini disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe I atau tipe II yang ditandai oleh adanya
vesikel yang berkelompok di atas kulit yang erimatosa. Penyakit ini dapat menyerang baik pria
maupun wanita. Infeksi primer herpes simpleks tipe I biasanya menyerang pada usia anak-anak,
sedangkan VHS tipe II biasanya terjadi pada dekade 2 atau 3, dan berhubungan dengan
peningkatan aktivitas seksual.

Diagnosis
Tempat prediliksi VHS tipe I di daerah pinggang ke atas terutama di daerah mulut dan
hidung. Infeksi primer oleh VHS tipe II mempunyai tempat predileksi di daerah pinggang ke
bawah, terutama di daerah genital. Daerah predileksi ini sering kacau karena adanya aktivitas
seksual seperti oro-genital.
Infeksi ini berlangsung kira-kira 3 minggu dan sering disertai gejala sistemik, seperti demam
dan malese, serta dapat ditemukan pembengkakkan kelenjar getah bening regional. Kelainan
klinisnya dijumpai berupa vesikel yang berkelompok di atas kulit yang erimatosa, berisi cairan
jernih dan kemudian menjadi seropurulen (bersifat serosa dan bernanah), dapat menjadi kusta dan
kadang-kadang mengalami ulserasi yang dangkal.

Infeksi Herpes Simplex Knonis

Perawatan
Pengobatan bersifat simtomatik. Aspirin atau asetaminofen dapat diminum untuk mengatasi
demam dan mengatur keseimbangan cairan tubuh. Untuk pasien yang mengalami kesulitan makan
dan minum, dapat diberikan topikal anastesi, seperti dyclonine hyrocloride 0,5%. Untuk
pengobatan sistemik dapat diberikan asiklovir 5 x 400 mg/hari selama 5-10 hari.

2.1.3 Recurrent HSV

Infeksi herpes berulang berkembang di sekitar sepertiga dari pasien yang memiliki infeksi
primer. Herpes labialis adalah jenis infeksi yang paling sering kambuhan. Biasanya dilihat sebagai
sekumpulan vesikel muncul di sekitar bibir setelah penyakit sistemik atau stres. Sinar ultraviolet dan
rangsangan mekanis mungkin juga bisa menyebabkan kekambuhan.

Herpes simplex labialis

Etiologi
Infeksi herpes labialis yang berulang ( recurrent herpes labialis (RHL) merupakan infeksi
recurrent intraoral herpes simplex (RIH) terjadi pada pasien yang mengalami infeksi herpes
simplex sebelumnya dan yang memiliki serum antibody dalam proteksi infeksi primer.
Sebaliknya, infeksi yang berulang ini terbatas pada daerah di kulit dan membran mukosa. Herpes
yang berulang tidak merupakan infeksi tetapi virus yang aktif kembali dari masa laten di jaringan
saraf. Herpes simplex dikultur dari trigeminal ganglion dari cadavers manusia, dan lesi herpes
yang berulang biasanya tampak setelah pembedahan ganglion. Herpes recurrent mungkin dapat
diaktifkan oleh trauma bibir, demam, sunburn, immunosuppression dan menstruasi. Perjalanan
virus menginfeksi sel epitel, penyebarannya dari sel ke sel untuk menyebabkan sebuah lesi.
Seluruh pasien yang mengalami infeksi herpes primer tidak mengalami herpes recurrent.
Jumlah pasien dengan riwayat infeksi genital primer dengan HSV1 yang kemudian mengalami
infeksi HSV recurrent kira-kira 15%. Rata- rata angka kambuhan untuk infeksi HSV1 oral antara
20-40%.

Gambaran Klinis

Fever blister

Cold sore" atau "fever blister" merupakan suatu lesi vesikuler mukosa biasanya terletak di
sekitar lubang seperti bibir dan hidung. Sering beberapa lesi muncul secara serentak atau
berturut-turut. Sering ada riwayat infeksi saluran pernafasan sebelumnya atau demam, paparan
sinar matahari atau dingin, atau trauma ke daerah, tetapi apakah pada kenyataannya pengaruh ini
mengaktifkan virus tetap tidak jelas.

Cold sore atau fever blisters, diperparah oleh faktor presipitasi demam, menstruasi, sinar UV,
dan mungkin stres emosional. Lesi didahului oleh periode prodormal yaitu tingling atau burning.
Diiringi dengan edema di tempat lesi, diikuti dengan formasi cluster vesikel kecil. Masing-
masing vesikel berdiameter 1-3 mm, dengan ukuran cluster 1-2 cm. Ukuran lesi secara umum
tergantung imun individu.

Lesi pada penderita Herpes

Diagnosa
Jika pada tes laboratorium dapat dipastikan, RIH dapat dibedakan dari RAS dengan cytology
smears dari lesi baru. Cairan dari lesi herpes menunjukkan sel dengan ballooning degeneration
dan multinucleated giant cells; sedangkan pada lesi RAS tidak. Untuk hasil yang lebih akurat,
dapat di test dengan cytology smears untuk HSV dengan menggunakan fluorescein- antigen HSV.
Kultur virus juga digunakan untuk membedakan herpes simplex dari lesi virus lainnya, terutama
infeksi varicella zoster.
Perawatan
Infeksi herpes kambuhan pada bibir dan mulut jarang dibandingkan gangguan sementara
pada individu normal. Pasien yang sering mengalami , besar, nyeri atau lesi yang kotor harus
berkonsultasi. Pertama dokter harus mencoba untuk memperkecil pemicunya. Beberapa
kambuhan dapat dikurangi dengan menggunkan unblock selama terpapar sinar matahari.
Obat- obatan dapat menekan formasi dan mempercepat waktu penyembuhan dari lesi
recurrent yang baru. Acyclovir, obat antiherpes, aman dan efektif. Obat antivirus yang baru
seperti valacyclovir, prodrug dari acyclovir, dan famciclovir, prodrug dari penciclovir, memiliki
bioavailabilitas yang lebih besar dari pada acyclovir, tapi tidak mengurangi masa laten HSV.
Tetapi , pada percobaan tikus, famciclovir dapat menekan HSV laten. Keefektivan obat antiherpes
untuk mencegah kambuhan genital HSV. Acyclovir 400mg dua kali sehari, valaciclovir 250 mg
dua kali sehari dan famciclovir 250mg yang lebih efektiv pada kambuhan genital. Penggunaan
antiherpes nucleoside analog untuk mencegah dan mengobati RHL namun sangat controversial.
Terapi sistemik seharusnya tidak digunakan untuk pengobatan berkala atau RHL yang biasa, tapi
kadang- kadang digunakan untuk mencegah lesi pada pasien mudah terjangkit sebelum resiko
yang tinggi seperti berski dengan ketinggian yang tinggi atau sebelum menjalani prosedur seperti
dermabrasi atau pembedahan nervus trigeminal. Beberapa dokter menganjurkan menggunakan
terapi antiherpes suppressive untuk persentase kecil pada pasien RHL yang sering mengalami
peristiwa deforming pada RHL. Acyclovir 400 mg dua kali sehari terbukti mengurangi frekuensi
dan keganasan RHL. Acyclovir maupun penciclovir tersedia pada sediaan topical, digunakan pada
untuk mempercepat waktu penyembuhan pada RHL kurang dari 2 hari.

2.2 Varicella Zoster Virus (VZV)


Varicella zoster (VZV) adalah virus herpes, dan seperti virus herpes lainnya menyebabkan infeksi
utama maupun infeksi kambuhan dan tetap tersembunyi dalam neuron-neuron yang ada dalam sensori
ganglia. VZV adalah penyebab utama pada infeksi klinis mayor pada manusia. Chicken pox (varisella)
dan shingles (herpes zoster (HZ)).
Chicken pox adalah infeksi primer yang disamaratakan yang terjadi pertama kali pada orang yang
kontak dengan virus. Hal ini dapat di analogikan pada gingivostomatitis herpetic akut dari virus herpes
simplex. Setelah penyakit primer ini disembuhkan, VZV menjadi laten dalam akar dorsal ganglia dari nervus
spinal atau ekstramedullary ganglia dari nervus cranial. Seorang anak yang tidak kontak dengan VZV dapat
mengalami chicken pox setelah kontak dengan orang yang terkena HZ.

2.2.1 Chicken Pox


Etiologi
Cacar air, juga dikenal sebagai varicella, adalah sangat menular dan infeksi terbatas diri yang
paling sering mempengaruhi anak-anak antara usia 5-10 tahun. Penyakit memiliki distribusi di
seluruh dunia. Cacar air disebabkan oleh virus Varicella-zooster. Masa inkubasi penyakit ini
berlangsung antara 10 s/d 21 hari (biasanya 14 s/d 16 hari).
Gambaran Klinis
Anak-anak yang sehat umumnya mengalami satu atau dua hari dari demam, sakit
tenggorokan, dan malaise sekitar dua minggu setelah paparan VZV. Selanjutnya, 3 sampai 5 hari
kemudian muncul gejala yang khas yaitu ruam pada awalnya berkembang di dada dan kemudian
menyebar selama tujuh hingga 10 hari ke luar untuk kepala, lengan, dan kaki. Ruamnya terdiri
dari papul kecil di seluruh badan yang cepat berubah menjadi vesikel (“benjolan” berisi air).
Selanjutnya, vesikel yang pecah akan ditutupi krusta (keropeng). Biasanya, seluruh lesi akan
penuh ditutupi krusta dalam waktu 10 hari. Lesi tersebut dapat muncul dimana saja tetapi
umumnya di kulit kepala, wajah, badan, mulut, dan konjungtiva.

Manifestasi Oral pada penderita chicken pox

Pada puncak penyakit, pasien mungkin memiliki lebih dari 300 lesi kulit pada satu waktu
Setelah semua luka berkerak di atas, orang tidak lagi menular. Jarang menyebabkan luka jaringan
parut permanen, kecuali infeksi sekunder berkembang (lihat di bawah). Lesi mungkin umumnya
dapat ditemukan di mulut dan mungkin juga melibatkan alat kelamin.

Diagnosa
Diagnosis varicella terutama gejala klinis karena biasanya dapat didiagnosis dengan gejala-
gejala saja. Jika diagnosis masih belum jelas setelah pemeriksaan fisik, tes diagnostik mungkin
diperlukan penyelidikan lebih lanjut, konfirmasi diagnosis dapat dicari melalui pemeriksaan baik
di dalam cairan vesikel, atau dengan tes darah untuk bukti respon kekebalan yang akut. Cairan
vesikuler dapat diperiksa dengan Tsanck smear, atau lebih baik dengan pemeriksaan untuk
antibodi fluorescent langsung. Cairan juga dapat dikultur, yaitu usaha yang dibuat untuk
menumbuhkan virus dari sampel fluida. Tes darah dapat digunakan untuk mengidentifikasi respon
terhadap infeksi akut (IgM) atau sebelumnya berikutnya infeksi dan kekebalan (IgG).

Chicken pox pada batang tubuh,


mukosa oral dan wajah

Diagnosis prenatal janin infeksi varicella dapat dilakukan dengan menggunakan USG,
meskipun penundaan dari 5 minggu-minggu setelah infeksi ibu primer disarankan. Sebuah PCR
(DNA) ujian ibu cairan ketuban juga dapat dilakukan, meskipun risiko aborsi spontan karena
amniosentesis prosedur yang lebih tinggi daripada risiko bayi sindrom varicella janin
berkembang.

Faktor-faktor risiko Cacar Air (Varicella)

Antara 75 - 90% dari kasus cacar air terjadi pada anak-anak di bawah usia 10 tahun.
Sebelum pengenalan vaksin, sekitar 4 juta kasus cacar dilaporkan di AS setiap tahun. Dapat
ditularkan dari kontak langsung dengan luka yang terbuka. (Pakaian, selimut, dan benda-benda
lain seperti itu yang biasanya tidak menyebarkan penyakit.)

Seorang pasien dengan cacar air dapat menularkan penyakit dari sekitar 2 hari sebelum
munculnya bercak-bercak sampai akhir tahap melepuh. Periode ini berlangsung sekitar 5-7 hari.
Setelah kering bentuk scabs, penyakit ini tidak menyebar. Sebagian besar sekolah membiarkan
anak-anak dengan cacar air kembali 10 hari setelah onset. Beberapa anak-anak memerlukan
untuk tinggal di rumah sampai kulitnya telah benar-benar bersih, meskipun hal ini tidak
diperlukan untuk mencegah penularan.

Potensial komplikasi
* Varicella pneumonia
* Ensefalitis
* Asceptic meningitis
* Bakteri superinfections
* Miokarditis
* Glomerulonefritis
* Purpura fulminans
* Reye's syndrome
* Cacat bawaan

Perawatan
Cacar air biasanya merupakan penyakit yang ringan dan dapat sembuh sendiri. Pada anak
normal (tidak mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh), tidak ada terapi khusus. Cukup
calamine lotion, kompres dingin. Apabila anak mengalami gatal hebat, dapat diberikan
antihistamin oral di malam hari untuk meningkatkan kualitas tidur anak. Jika mengalami demam,
dokter anda dapat merekomendasikan acetaminophen atau ibuprofen. Dan apabila tampak
mengalami dehidrasi dan tidak dapat minum cairan, dapat dilakukan melalui cairan intravena
cairan IV baik di ruang gawat darurat atau sebagai pasien di rumah sakit. Upayakan agar vesikel
tidak pecah, kulit tidak digaruk sehingga anak terhindar dari risiko terjadinya infeksi sekunder.
Potonglah kuku si anak.
Bakteri sekunder infeksi kulit dapat diobati dengan antibiotik. Karena virus penyebab cacar
air, tidak ada antibiotik yang dapat menyembuhkan penyakit. Bagi orang-orang yang memiliki
infeksi berat, sebuah agen antivirus yang disebut asiklovir (zovirax) telah terbukti dapat
mempersingkat durasi dan keparahan gejala bila diberikan segera setelah timbul ruam. Acyclovir
dapat diberikan melalui mulut atau dengan IV untuk membantu orang-orang beresiko terkena
infeksi parah.
Infeksi VZV neonatal dapat diobati dengan VZIG (varicella zoster immune globulin) - sebuah
bentuk yang sangat terkonsentrasi VZV anti-globulin gamma. Ketersediaan VZIG cepat menurun
karena satu-satunya produsen produk telah berhenti produksi. Alternatif produk, VariZIG, tersedia
pada protokol penelitian.
2.2.2 Zoster
Herpes zoster adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varisela-zoster yang
menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini merupakan reaktifasi virus yang terjadi setelah infeksi
primer. Virus ini berdiam di ganglion posterior susunan saraf tepi dan ganglion kranialis. Saat virus
ini mendapatkan stimulus, maka terjadilah reaktivasi dan menyebabkan herpes zoster. Keadaan ini
lebih sering terjadi pada orang-orang dengan imunosupresi.

Herpes Zoster

Gambaran Klinis
Lesi-lesi intraoral adalah vesikuler dan ulseratif dengan tepi meradang dan merah sekali.
Perdarahan adalah biasa. Bibir, lidah, dan mukosa pipi dapat terkena lesi ulseratif unilateral jika
mengenai cabang mandibuler dari saraf trigeminus. Keterlibatan divisi dua dari saraf trigeminus
secara khas akan menyebabkan ulserasi palatum unilateral yang meluas ke atas, tetapi tidak keluar
dari raphe palatum. Malaise, demam, dan penderitaan yang cukup berat dapat menyertai herpes
zoster. Pasien sering kali datang dengan sakit hebat 1 sampai 2 hari sebelum vesikel-vesikel virusnya
timbul.

1. Dapat menyerang pria dan wanita tapi biasanya pada orang dewasa, kadang-kadang pada anak-
anak.
2. Daerah tersering adalah torakal.
Selain mengenai N. Spinalis, juga dapat menyerang ganglion Gasseri dan Geniculatum.
Neuralgia dapat beberapa hari sebelum kelainan kulit atau bersama-sama, kadang-kadang
didahului oleh demam.
3. Kelainan kulit mula-mula berbentuk eritema yang kemudian menjadi papel yang akan bersatu
membentuk bulae.
Isi vesikel mula-mula jernih dan translusen, setelah beberapa hari menjadi keruh. Bila bercampur
darah disebut : herpes zoster.
4. Bila terjadi absorbs, vesikel menjadi krusta yang berwarna coklat yang kemudian rontok dalam
beberapa hari dengan meninggalkan macula yang berangsur-angsur akan menghilang.
Bila tidak terjadi absorbs tetapi vsikel pecah, maka infeksi ekunder mudah terjadi yang
menyebabkan ulsera atau nekrosis dan menyembuh dengan sikatriks yang dalam.
Bila herpes zoster hanya pada stadium papel, disebut herpes abortif.
5. Herpes zoster biasanya disertai dengan pembesaran kelenjar, limfe regional.
Pada herpes zoster torakal dan di lengan, kelenjar limfe aksila besar. Jika menyerang perut
bawah dan tungkai akan menyebabkan pembesaran kelenjar inguinal. Dan jika menyerang muka
maka kelenjar pre aurikuler membesar.
6. Neuralgia hebat pada orang tua. Neuralgia pos herpetic dapat terasa beberapa minggu-bulan
setelah erupsi hilang.
Kadang-kadang terjadi paralisis, yang sering adalah paralisis fasialis. Herpes zoster supra
orbitalis dapat disertai paralisis otot intrinsic dan ekstrinsik mata.

Diagnosa
Frekuensi penyakit ini pada pria dan wanita sama, dan lebih sering pada orang dewasa.
Sebelum timbul gejala kulit, terdapat gejala prodomal, baik sistemik (demam, pusing, malese),
maupun gejala prodomal local (nyeri otot-tulang, gatal, pegal). Setelah itu timbul eritema yang dalam
waktu singkat menjadi vesikel yang berkelompok dengan dasar kulit yang erimatosa dan edema.
Vesikel ini berisi cairan yang jernih, kemudian menjadi warna keruh, lalu dapat menjadi pustule dan
krusta.
Masa tunasnya 7-12 hari. Pada masa aktif penyakit ini, timbul lesi-lesi baru yang kirra-kira
berlangsung selama seminggu. Disamping gejala kulit dapat juga dijumpai pembesaran kelenjar
getah bening regional. Lokalisasi penyakit ini adalah unilateral dan bersifat dermatomal sesuai
dengan tempat persarafan. Pada susunan saraf tepi, jarang timbul kelainan motorik. Kelainan pada
wajah sering disebabkan karena gangguan pada saraf trigeminus atau saraf fasialis.
Postherpetic neuralgia adalah rasa nyeri yang timbul pada daerah bekas penyembuhan lebih
dari sebulan setelah penyakitnya sembuh. Nyeri ini dapat berlangsung selama beberapa bulan bahkan
bertahun-tahun dengan gradasi nyeri yang bervariasi. Kecenderungan ini terjadi pada pasien yang
terkena herpes zoster di atas usia 40 tahun.
Cytology adalah metoda evaluasi yang cepat yang dapat digunakan dalam kasus-kasus
dimana diagnosa tidak meyakinkan. Fluorescent-antibody yang tercemar melumasi dengan
menggunakan fluorescein yang di konjugasi dengan monoclonal antibody lebih dapt diandalkan dari
pada cytology rutin dan hasilnya positif pada lebih dari 80% kasus. Metoda diagnosa yang paling
akurat adalah isolasi virus dalam kultur jaringan tetapi tes ini lebih m,ahal dan hasilnya
membutuhkan waktu berhari-hari. Demonstrasi dari titer antibody yang meningkat jarang diperlukan
untuk diagnosa kecuali dalam kasus zoster sine eruptione, dimana hal itu merupakan satu-satunya
cara untuk mengkonfirmasi kasus yang dicurigai/diduga.

Perawatan
Perawatan secara umum
- Meredakan rasa sakit – aspirin, atau parasetamol, atau ibuprofen biasanya sudah memadai. Tablet
aspirin dan papaveretum, setiap 2 atau 4 jam, efeknya sedikit lebih kuat. Jika rasa sakit hebat,
dapat dipertimbangkan pemberian narkotik. Dextromoramide 5-10 mg setiap 4 sampai 6 jam
secara oral akan sangat membantu. Buprenorphine sebaiknya dihindari untuk lansia karena efek
sampingnya.

- Infeksi sekunder – larutan kumur klorheksidine dapat mengurangi meluasnya infeksi sekunder.
Sedangkan larutan kumur tetrasiklin saja atau tetrasiklin dengan sirup amphotericin sebaiknya
digunakan untuk kasus-kasus yang lebih berat. Jika ada tanda-tanda penyebaran infeksi sistemik
disertai dengan meningkatnya pireksa, dan limfadenopati servikal, maka perlu diberikan
antibiotic spectrum luas, contohnya, amoksisilin 250 – 500 mg tiga kali sehari selama lima hari.

- Penanganan secara umum – pasien mungkin menjadi lemah karena kekurangan cairan dan kalori.
Infuse intravena harus diberikan untuk mengembalikan keseimbangan cairan. Pemberian
makanan secara parenteral tidak perlu dilakukan. Untuk membantu pasien makan dan minum,
dapat diberikan larutan kumur benzydamine hydrochloride (Diffam) yang digunakan sebelum
makan.

- Depresi sering kali menyertai herpes dan bisa muncul pada awal penyakit. Depresi dapat sangat
mendalam dan banyak pasien lansia yang ingin mengakhiri hidupnya. Obat antidepresi seperti
amitryptiline, 25 – 50 mg sehari bersama dengan sodium valproate 200 mg 3 kali per hari dapat
membantu baik dalam mengontrol rasa sakit dan depresi, maupun mengurangi kemungkinan
terjadinya neuralgia pascaherpetik. Pada pria lansia, hindari pemakaian obat trisiklik bila ada
riwayat penyakit prostat. Pada kasus neuralgia pascaherpatik dapat diberikan dosis obat
psikotropik yang sama. Krem analgesic yang dioleskan pada bagian yang terlibat akan
mengurangi rasa sakit.

Penatalaksanaan :
1. Istirahat total

2. Untuk mengurangi neuralgia diberikan analgetik

3. Untuk mencegah pecahnya vesikel diberikan salisil 2%

4. Bila terjadi infeksi sekunder dapat diberikan antibiotic-lokal, misalnya salep kloramfenikol 2%

5. Larutan kumur seperti pada ulserasi

6. Steroid sistemik – prednisone 60 mg per hari dalam dosis terbagi dan dikurangi sampai nol dalam
sepuluh hari, dapat menghilangkan serangan dini yang berulang atau menyembuhkan penyakit
dalam tiga sampai empat hari. Steroid sistemik sebaiknya diberikan di bawah pengawasan dokter.

Penanganan sebaiknya diarahkan pada pemendekan masa penyakit, pencegahan postherpetic


neuralgia pada pasien berusia 50tahun, dan pencegahan disseminasi pada pasien
immunocompromised. Acyclovir atau valacyclovir atau famcyclovir mempercepat penyembuhan dan
menurunkan insiden neuralgia postherpetic. Obat-obat terbaru memiliki bioavabilitas yang lebih
hebat dan lebih efektif pada pengobatan HZ.
Penggunaan sistemik kortikosteroid untuk mencegah postherpetic neuralgia pada pasien
diatas 50tahun masih controversial, pengamatan data terakhir menunjukkan penurunan rasa sakit dan
kecacatan/ketidakmampuan selama 2 minggu pertama tetapi tidak berpengaruh pada insiden atau
kerasnya postherpetic neuralgia.
Sebagian ahli klinis menganjurklan penggunaan kombinasi antara intralesional steroid dan
anestetik local untuk menurunkan waktu penyembuhan dan mencegah neuralgia postherpetic, tetapi
ini belum dilakukan.
Terapi yang efektif bagi neuralgia postherpetic termasuk pemakaian capsalcin, satu zat yang
diambil dari cabe pedas. Topical capsaicin memang aman tetapi harus digunakan untuk periode
waktu yang lebih lama agar efektif dan bisa menyebabkan sensasi kulit yang terbakar. Ketika terapi
topical tidak efektif, penggunaan tricyclin antidepressant atau gabapentin dianjurkan. Neurolysis
bedah atau kimiawi mungkin diperlukan dalam kasus yang sukar disembuhkan.