Anda di halaman 1dari 6

RINGKASAN MATERI NANOTEKNOLOGI

ETHOSOME

Disusun Oleh :

1. Ari Dwi Cahyani (4161003)


2. Brian Wicaksono (4161010)
3. Criste Mareta A.S (4161013)
4. Ika Kurniawati (4161021)
5. Sinta Wulandari (4161036)

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NASIONAL
SURAKARTA
2019/2020
BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG MASALAH

Sediaan obat herbal banyak mengandung zat aktif yang bersifat hidrofil. Pada
sediaantopikal, hal ini menjadi masalah utama dalam proses penghantaran dan
penetrasi obatmenembus kulit. Kulit tersusun atas lapisan yang bersifat hidrofob,
dengan lapisanterluar startum corneum yaitu lapisan berupa keratin dan sel-sel mati
yang sulitditembus. Sebagai upaya untuk mengatasi masalah tersebut, etosom
digunakan sebagaisistem penghantar obat. Etosom merupakan sebuah vesikel yang
tersusun atasfosfolipid, air, dan etanol. Etanol diduga memiliki pengaruh utama dalam
peningkatanpermease terhadap kulit (Touitou et al, 2000).
Etosom (dari luar ke dalam) tersusun atas molekul lipid, bagian hidrofob, lipid
bilayerfosfolipid, bagian hidrofil dan inti etanolik. Pada umumnya ukuran etosom
berkisar pada 150-200 nm sehingga disebut sebaga nanovesikel elastis (Cevc et al,
2010).
Mekanisme etosom penetrasi ke dalam kulit yaitu etanol berpenetrasi ke dalam
lipidintrasel dan meningkatkan fluiditas lipid membran sel dan menurunkan densitas
lipid pada lapisan sel membran sehingga etosom yang mengandung zat aktif hidrofil
dapat menembus lapisan lipid kulit terluar yang sulit ditembus yaitu stratum corneum
(Dave, etal, 2010 ; Tyagi, et al, 2013 ; Akiladevi D, 2010 ;Upadhyay D, 2011).
Etanol mampu merusak struktur lapisan kulit terluar yaitu stratum corneum
yang tersusunatas sel-sel hidrofob berupa keratin (Shaik, et al, 2013 ; Angadi, et al,
2013). Elastisitas etosom karena adanya kandungan etanol dan fosfolipid diduga
sebagai faktor utama yang meningkatkan kemampuan obat untuk berpenetrasi lebih
dalam (Cevc, 1996 ; Romero, 2013).
Tanaman dengan metabolit sekunder yang bersifat hidrofil, dapat digunakan
etosomsebagai penghantar zat aktif pada sediaan obat topikal. Kandungan etanol
didalam etosom sebagai enchancer dapat meningkatkan kemampuan obat untuk
penetrasi(Touitou, 2000 ; B. Godin., 2003).

2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah sebagai berikut.

2.1 Bagaimanakah pengertian etosom dalam nanoteknologi ?


2.2 Bagaimanakah sifat dan karakteristik etosom dalam nanoteknologi ?
2.3 Bagaimanakah aplikasi etosom dalam nanoteknologi ?

3. TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas adapun tujuan sebagai berikut.
3.1 Untuk mengetahui pengertian etosom dalam nanoteknologi
3.2 Untuk mengetahui sifat dan karakteristik etosom dalam nanoteknologi
3.3 untuk mengetahui aplikasi etosom dalam nanoteknologi
BAB II
LANDASAN TEORI

Etosom adalah suatu sistem pembawa berupa vesikel yang lembut dan elastik
dengan komponen utama adalah fosfopilid, alkohol (etanol atau isopropil alkohol)
dengan konsentrasi yang cukup tinggi (20-45%) dan air. Etosom dikembangkan
pertama kali oleh Touitou dan rekannya pada tahun 1997. Etosom merupakan
pembawa yang sangat menarik karena kemampuannya untuk berpenetrasi melalui
kulit karena deformabilitasnya tinggi. Sifat fisikokimia dari etosom dapat dijadikan
sebagai pembawa untuk menghantarkan senyawa aktif lebih baik melalui kulit secara
jumlah maupun kedalaman ketika dibandingkan dengan liposom konvensional. Selain
itu, etosom dapat digunakan untuk menghantarkan obat yang bersifat hidrofilik,
lipofilik ataupun amfifilik. Etosom merupakan pembawa yang noninvasif dan dapat
menghantarkan obat ke bagian dalam kulit atau hingga sirkulasi sistemik. Sifat
deformabilitas yang tinggi diperoleh karena komponen penyusunnya adalah fosfolipid
dan etanol. Fosfolipid merupakan bahan pembentuk vesikel dari sistem etosom.
Fosfolipid yang dapat digunakan untuk membuat etosom cukup beragam, misalnya
fosfatidilkolin (PC), PC terhidrogenasi ataupun fosfatidiletanolamin (PE) dengan
rentang konsentrasi 0,5-10%. Fosfolipid dapat berasal dari telur, kacang kedelai, semi
sintetik atau sintetik. Secara umum struktur dari etosom mirip dengan liposom, yaitu
merupakan suatu vesikel lipid bilayer yang memiliki suatu celah di bagian intinya
seperti terlihat pada Gambar 2. Etosom (dari luar ke dalam) tersusun atas molekul
lipid, bagian hidrofob, lipid bilayerfosfolipid, bagian hidrofil dan inti
etanolik.Perbedaannya dengan liposom yaitu pada komponen penyusunnya digunakan
etanol dengan konsentrasi yang tinggi. Etosom juga dapat memiliki ukuran yang lebih
kecil dan efisiensi penjerapan yang lebih besar bila dibandingkan dengan liposom
konvensional sehingga dapat memperbaiki stabilitas dari vesikel yang dihasilkan.
Pada aplikasinya, etosom dapat dijadikan sebagai suatu sediaan lepas lambat. Ukuran
etosom bervariasi dari 10 nm hingga 1000 nm, bergantung pada metode pembuatan,
komposisi dan teknik penggunaan alat seperti sonikator
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Sifat dan Karakteristik Etosom

Dalam karakterisasi etosom terdapat beberapa metode. Bentuk dan ukuran


vesikel, bentuk vesikel dapat ditentukan secara visual menggunakan SEM (Scanning
Electron Microscopy) dan TEM (Transmission Electron Microscopy) dan distribusi
ukuran partikel dapat ditentukan menggunakan metode Dynamic Light Scattering dan
spektroskopi korelasi foton. Potensi Zeta, menggunakan zeta meter untuk menentukan
permukaan partikel yang digunakan untuk memprediksi stabilitas etosom (Grace, et al,
2014). Efisiensi jerapan Obat, dapat diukur dengan teknik ultrasentrifugasi, kolom
sentrifugasi kecil dan juga spektrofotometer floresensi. Evaluasi fisikokimia berupa
organoleptik, homogenitas, pH dan viskositas etosom gel dan rheologinya diukur (Grace
et al, 2014). Turbiditas, dapat diukur dengan nephalometer (Rakesh, 2012). Interaksi
vesikel dan kulit, dapat menggunakan confocal laser scanning microscopy, mikroskopi
floresensi, TEM, dan Eosin Hematoxylin Staining untuk menentukan interaksi vesikel
dan kulit, permeasi dan penetrasi obat menembus kulit. Interaksi fosfolipid dan etanol,
dapat ditentukan dengan 319-nmr dan dengan metode Differential Scanning Colorimetric.
Deformabilitas, diukur melalui metode ekstrusi (Grace et al, 2014). Pelepasan obat,
secara in vitro dapat dilakukan dengan difusi sel Franz dengan membran artifisial atau
biologis atau dapat dengan metode dialysis bag diffusion. Kandungan obat, ditentukan
dengan metode HPLC. Pengukuran aktivitas tegangan permukaan, diukur dengan Du
nuoy Ring Tensiometer untuk larutan berbasis air (Grace et al, 2014). Stabilitas Etosom,
dievaluasi berdasarkan efisiensi jerapan dan ukuran partikel, hal ini bergantung pada
komposisi fosfolipid pada etosom (Sheo et al, 2010).
3.2 Aplikasi Etosom

3.2 Keuntungan dan Kelemahan Etosom

Keuntungan Kelemahan
1. Permeasi lebih tinggi (Prausnitz, Fosfolipid kurang ekonomis (Verma and
2008 ; Schoellhammer, 2014) Pathak, 2010).
dan kompatibilitas lebih tinggi
dibanding liposom konvensional
(V. Dubey et al, 2007)
2. Risiko toksik rendah, bahan Absorpsi tergantung ukuran molekul obat
yang terkandung sudah disetujui (Verma and Pathak, 2010).
untuk penggunaan farmasetika
dan kosmetika (Grace et al,
2014)
3. Dapat digunakan untuk molekul Sistem penghantaran obat terbatas untuk
besar seperti protein dan peptida obat yang poten (Verma and Pathak,
(Verma and Fahr, 2004 ; Sheer 2010).
and Chauhan, 2011)
4. Meningkatkan permeasi, dapat Dapat timbul iritasi dan dermatitis saat
digunakan dalam bidang penetrasi (Verma and Pathak, 2010).
farmasetika, kosmetika dan
kedokteran hewan (Verma and
Fahr, 2004 ; Sheer and Chauhan,
2011)
5. Bersifat non-invasif, pasid dan
non-toksik (Verma and Fahr,
2004 ; Sheer and Chauhan,
2011)
6. Selain pada molekul hidrofilik,
dapat digunakan pada molekul
bersifat lipofilik atau amfifilik
(Verma and Fahr, 2004 ; Sheer
and Chauhan, 2011)

BAB IV

KESIMPULAN

Etosom adalah suatu sistem pembawa berupa vesikel yang lembut dan elastik
dengan komponen utama adalah fosfopilid, alkohol (etanol atau isopropil alkohol)
dengan konsentrasi yang cukup tinggi (20-45%) dan air.