Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
NORMA DAN NILAI

Disusun Oleh :
Kelompok 2

Adilah Robbaniyah (18312244001)


Nandini Dwi Anandita (18312244012)
Anetta Mutiara Azari (18312244019)
Eka Sumiati (18312244028)
Risa Nurullailiyah Sujono (18312244035)
Rizal Catur Nugroho (18312244038)
Rosita Dwiki Mustafa (18312244039)

Dosen Pembimbing:
Cucu Sutrisno

Kelas D
Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Yogyakarta
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Nilai-nilai adalah perasaan-perasaan tentang apa yang diinginkan ataupun yang
tidak diinginkan, atau tentang apa yang boleh atau tidak boleh. Bidang yang
berhubungan dengan nilai adalah etika (penyelidikan nilai dalam tingkah laku manusia)
dan estetika (penyelidikan tentang nilai dan seni). Nilai dalam masyarakat tercakup
dalam adat kebiasaan dan tradisi yang secara tidak sadar diterima dan dilaksanakan oleh
anggota masyarakat. Norma merupakan aturan-aturan dengan sanksi-sanksi yang
dimaksudkan untuk mendorong bahkan menekan pribadi, kelompok masyarakat untuk
mencapai nilai-nilai sosial. Nilai dan norma selalu berkaitan, walaupun demikian
keduanya dapat dibedakan.
Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan individu
lain.Untuk menjaga kelangsungan hidup bermasyarakat diperlukan aturan-aturan yang
akan terwujud dalam norma dan nilai. Setiap masyarakat memiliki seperangkat nilai dan
norma yang berbeda sesuai dengan karakteristik masyarakat itu sendiri. Nilai dan norma
tersebut akan dijunjung tinggi, diakui dan digunakan sebagai dasar dalam melakukan
interaksi dan tindakan sosialnya. Dalam kehidupan sehari-hari manusia dalam
berinteraksi dipandu oleh nilai-nilai dan dibatasi oleh norma-norma dalam kehidupan
sosial. Norma dan nilai pada awalnya lahir tidak disengaja, karena kebutuhan manusia
sebagai makluk sosial dan harus berinteraksi dengan yang lain menuntut adanya suatu
pedoman, pedoman itu lama kelamaan norma-norma tersebut dibuat secara sadar. Nilai
dan norma tersebut harus dijaga kelestariannya oleh seluruh anggota masyarakat agar
masyarakat tidak kehilangan pegangan dalam hidup bermasyarakat.
Agar nilai-nilai di dalam masyarakat bisa terwujud masyarakat membuat
norma-norma. Norma merupakan ketentuan yang berisi perintah-perintah dan
larangan-larangan yang harus dipatuhi warga masyarakat demi terwujudnya nilai-nilai.
Dengan demikian norma-norma itu bersumber pada nilai-nilai yang ada dalam
masyarakat.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka masalah dalam makalah ini
dirumuskan sebagai berikut.
1. Apa yang dimaksud dengan nilai?
2. Apa fungsi, jenis, dan contoh nilai?
3. Apa yang dimaksud dengan norma dan fungsinya?
4. Apa saja macam norma dan contoh konkrit norma dalam kehidupan?
5. Apa perbedaan norma dan nilai?

C. Tujuan
Sesuai dengan rumusan masalah yang diutarakan tersebut, maka makalah ini
bertujuan untuk:
1. Mengetahui pengertian tentang nilai
2. Mengetahui fungsi, jenis, dan contoh nilai
3. Mengetahui pengertian norma dan fungsinya.
4. Mengetahui macam dan contoh konkrit dari berbagai norma.
5. Mengetahui perbedaan norma dan nilai
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Nilai
Menurut Fraenkel (1977:6) menjelaskan bahwa ​a value is an idea a concept
about what some one think is important in life​. Hal tersebut berarti bahwa nilai adalah
suatu ide konsep mengenai apa yang seseorang pikirkan pentingnya dalam kehidupan.
Menurut Daroeso (1986:20) mengemukakan bahwa nilai adalah suatu kualitas
atau penghargaan terhadap sesuatu yang dapat menjadi dasar penentu tingkah laku
seseorang. Menurut Darmodiharjo (1996:1) mengatakan bahwa nilai adalah kualitas
atau keadaan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia, baik lahir maupun batin.
Nilai adalah esensi yang melekat pada sesuatu yang sangat berarti bagi
kehidupan manusia, khususnya mengenai kebaikan dan tindak kebaikan suatu hal
(Thoha,1996:61). Nilai artinya sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi
kemanusiaan ( Purwadaminta,1999:677).
Nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, ideal, nilai bukan benda konkrit,
bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian
empirik,melainkan sosial penghayatan yang dikehendaki, disenangi dan tidak
disenangi (Isna,2001:98). Adapun pengertian nilai menurut pendapat para ahli antara
lain:
1. Menurut Milton Rekeach dan James Bank, nilai adalah suatu tipe kepercayaan
yang berada dalam ruang lingkup sistem kepercayaan dalam, dimana seseorang
bertindak atau menghindari suatu tindakan atau memiliki dan dipercaya
(Kartawisastra,1980:1).
2. Menurut Lauis D. Kattsof yang dikutip Syamsul Maarif mengartikan nilai sebagai
berikut:​pertama, nilai merupakan kualitas empiris yang tidak dapat didefinisikan
tetapi kita dapat mengalami dan memahami cara langsung kualitas yang terdapat
dalam objek itu. Dengan demikian nilai tidak semata-mata subjektif, melainkan
ada tolak ukur yang pasti terletak pada esensi objek itu.​Kedua, nilai sebagai objek
dari suatu kepentingan yakni suatu objek yang berada dalam kenyataan maupun
pikiran.​Ketiga, nilai sebagai hasil dari pemberian nilai, nilai itu diciptakan oleh
situasi kehidupan (Maarif,2007:114).
3. Menurut Chabib Thoha nilai merupakan sifat yang melekat pada sesuatu (sistem
kepercayaan) yang telah berhubungan dengan subjek yang memberi arti (manusia
yang meyakini). Jadi nilai adalah sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi
manusia sebagai acuan tingkah laku (Thoha, 1996:61).
Pada pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai merupakan esensi
yang melekat pada sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Esensi belum
berarti sebelum dibutuhkan oleh manusia, tetapi tidak berarti adanya esensi karena
adanya manusia yang membutuhkan. Hanya saja kebermaknaan esensi tersebut
semakin meningkat sesuai dengan peningkatan daya tangkap pemaknaan manusia itu
sendiri. Jadi nilai adalah sesuatu yang dipentingkan manusia sebagai subjek
menyangkut segala sesuatu baik atau yang buruk sebagai abstraksi, pandangan atau
maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi perilaku yang ketat (Fitriani,
2014:28-29).

B. Fungsi, Jenis dan Contoh Nilai


Fungsi Nilai
Secara garis besar, nilai sosial mempunyai tiga fungsi, yaitu sebagai berikut:
a. Petunjuk Arah dan Pemersatu
Apakah maksud nilai sebagai petunjuk arah? Cara berpikir dan
bertindak anggota masyarakat umumnya diarahkan oleh nilai-nilai sosial yang
berlaku. Pendatang baru pun secara moral diwajibkan mempelajari
aturan-aturan sosio budaya masyarakat yang didatangi, mana yang dijunjung
tinggi dan mana yang tercela. Dengan demikian, dia dapat menyesuaikan diri
dengan norma, pola pikir, dan tingkah laku yang diinginkan, serta menjauhi
hal-hal yang tidak diinginkan masyarakat.
Nilai sosial juga berfungsi sebagai pemersatu yang dapat
mengumpulkan orang banyak dalam kesatuan atau kelompok tertentu. Dengan
kata lain, nilai sosial menciptakan dan meningkatkan solidaritas antarmanusia.
Contohnya nilai ekonomi mendorong manusia mendirikan
perusahaan-perusahaan yang dapat menyerap banyak tenaga kerja.
b. Benteng Perlindungan
Nilai sosial merupakan tempat perlindungan bagi penganutnya. Daya
perlindungannya begitu besar, sehingga para penganutnya bersedia berjuang
mati-matian untuk mempertahankan nilai-nilai itu. Misalnya perjuangan
bangsa Indonesia mempertahankan nilai-nilai Pancasila dari nilai nilai budaya
asing yang tidak sesuai dengan budaya kita, seperti budaya minum-minuman
keras, diskotik, penyalahgunaan narkotika, dan lain-lain. Nilai-nilai Pancasila
seperti sopan santun, kerja sama, ketuhanan, saling menghormati dan
menghargai merupakan benteng perlindungan bagi seluruh warga negara
Indonesia dari pengaruh budaya asing yang merugikan.
c. Pendorong
Nilai juga berfungsi sebagai alat pendorong (motivator) dan sekaligus
menuntun manusia untuk berbuat baik. Karena ada nilai sosial yang luhur,
muncullah harapan baik dalam diri manusia. Berkat adanya nilai-nilai sosial
yang dijunjung tinggi dan dijadikan sebagai cita-cita manusia yang berbudi
luhur dan bangsa yang beradab itulah manusia menjadi manusia yang
sungguh-sungguh beradab. Contohnya nilai keadilan, nilai kedisiplinan, nilai
kejujuran, dan sebagainya.
Di samping fungsi nilai-nilai sosial yang telah kita bahas di atas, nilai
sosial juga memiliki fungsi yang lain, yaitu dapat menyumbangkan
seperangkat alat untuk menetapkan harta sosial dari suatu kelompok, dapat
mengarahkan masyarakat dalam berpikir dan bertingkah laku, penentu akhir
bagi manusia dalam memenuhi perananperanan sosialnya, alat solidaritas di
kalangan anggota kelompok atau masyarakat, alat pengawas perilaku manusia.
Dengan nilai-nilai sosial yang tumbu pada jiwa individu, maka
perhatian dan simpati pada sesamanya juga semakin tinggi. Individu tidak lagi
mementingkan egonya, namun dengan menjunjung nilai-nilai sosial, ia juga
memperhatikan kepentingan bersama.
(Miladiyah, 2014:34-37)
Macam-Macam Nilai dan Contohnya
Nilai sosial berdasarkan ciri sosialnya dapat dibedakan menjadi dua yaitu nilai
dominan dan nilai yang mendarah daging.
a. Nilai dominan
Yaitu nilai yang dianggap lebih penting daripada nilai lainnya. Contoh:
Pak Romo, karena anaknya kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang
memerlukan biaya besar, membatalkan niatnya untuk membeli mobil baru.
Ukuran dominan atau tidaknya suatu nilai didasarkan pada hal-hal berikut ini:
1) Banyaknya orang yang menganut nilai tersebut. Contoh: hampir semua
orang/masyarakat menginginkan perubahan ke arah perbaikan di
segala bidang kehidupan, seperti bidang politik, hukum, ekonomi dan
sosial.
2) Lamanya nilai itu digunakan. Contohnya: dari dulu sampai sekarang
Kota Solo dan Yogyakarta selalu mengadakan tradisi sekaten untuk
memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. yang diadakan di
alun-alun keraton dan di sekitar Masjid Agung.
3) Tinggi rendahnya usaha yang memberlakukan nilai tersebut. Contoh:
menunaikan ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib
dilaksanakan umat Islam yang mampu. Oleh karena itu, umat Islam
selalu berusaha sekuat tenaga untuk dapat melaksanakannya.
4) Prestise/ kebanggaan orang-orang yang menggunakan nilai dalam
masyarakat. Contoh: memiliki anak yang menempuh pendidikan di
perguruan tinggi ternama menjadi kebanggaan/ prestise tersendiri.
b. Nilai mendarah daging
Yaitu nilai yang telah menjadi kepribadian. Biasanya nilai ini telah
terisolasi sejak ia masih kecil dan apabila ia tidak melakukannya ia merasa
bersalah. Contoh: makan dengan tangan kanan, berpamitan kepada orang tua
jika hendak pergi. Prof. Dr. Notonegoro, membagi nilai menjadi tiga macam
sebagai berikut:
1) Nilai material
Nilai material adalah segala sesuatu yang berguna bagi jasmani/
unsur fisik manusia. Sebagai contoh, batu kali. Secara materi batu kali
mempunyai nilai tertentu. Hal ini disebabkan batu kali dapat digunakan
untuk membangun sebuah rumah tinggal. Nilai yang yang terkandung
dalam batu kali ini dinamakan nilai material.
2) Nilai vital
Nilai vital adalah segala sesuatu yang berguna bagi manusia
untuk melakukan suatu kegiatan dan aktivitas. Contoh payung. Payung
mempunyai kegunaan untuk menaungi tubuh dari air hujan. Apabila
payung ini bocor maka nilai kegunaan payung menjadi berkurang.
Nilai payung oleh karena kegunaannya dinamakan nilai vital.
3) Nilai kerohanian
Nilai kerohanian adalah segala sesuatu yang berguna bagi batin
(rohani) manusia. Nilai kerohanian manusia dibedakan menjadi empat
macam, yaitu:
a) Nilai kebenaran adalah nilai yang bersumber pada unsur akal
manusia.
b) Nilai keindahan adalah nilai yang bersumber pada perasaan
manusia (nilai estetika)
c) Nilai moral (kebaikan) adalah nilai yang bersumber pada unsur
kehendak atau kemauan (karsa dan etika).ilai religius adalah
nilai ketuhanan yang tertinggi, yang sifatnya mutlak dan abadi.
d) Nilai religius adalah nilai ketuhanan yang tertinggi, yang
sifatnya mutlak dan abadi.
(Miladiyah, 2014:30-33)
C. Pengertian dan Fungsi Norma
Kata " norma" dalam kamus besar bahasa Indonesia mengandung arti: ukuran
yang berlaku, peraturan. Dalam bahasa Latin kata "norma" memiliki arti pertamanya
adalah carpenter's square: siku-siku yang dipakai tukang kayu untuk mengecek
apakah benda yang dikerjakannya (meja, bangku, kursi, dan sebagainya) sungguh -
sungguh lurus. Bertolak dari pemahaman makna kata tersebut kata "norma" dapat
dikonotasikan maknanya sama dengan kata aturan atau kaidah yang dipakai sebagai
tolok ukur untuk menilai sesuatu (Surjawa, 2010 : 235).
Norma merupakan aturan-aturan dengan sanksi-sanksi yang dimaksudkan
untuk mendorong bahkan menekan pribadi, kelompok masyarakat untuk mencapai
nilai-nilai sosial. Nilai dan norma selalu berkaitan, walaupun demikian keduanya
dapat dibedakan. Adapun pendapat beberapa ahli mengenai pengertian norma adalah
sebagai berikut (Wila Huky, 1986 :146) :
1. Menurut John J. Macionis ​norma adalah aturan-aturan dan harapan-harapan
masyarakat untuk memandu perilaku anggota-anggotanya.
2. Menurut Robert Mz. Lawang Pengertian norma adalah gambaran mengenai
apa yang diinginkan baik dan pantas sehingga sejumlah angggapan yang baik
dan perlu dihargai sebagaimana mestinya.
3. Menurut Hans Kelsen, pengertian norma adalah perintah yang tidak personal
dan anonim. Pengertian norma menurut soerjono soekanto adalah suatu
perangkat agar hubungan antar masyarakat terjalin dengan baik. Pengertian
norma menurut Isworo Hadi Wiyono bahwa norma adalah peraturan atau
petunjuk hidup yang memberi ancar-ancar perbuatan mana yang boleh
dijalankan dan perubatan mana yang harus dihindari. Menurut Antony Gidden
bahwa pengertian norma adalah prinsip atau aturan konkret yang seharusnya
diperhatikan oleh masyarakat.
4. Menurut Widjaja Norma adalah petunjuk tingkah laku yang harus dilakukan
dan tidak boleh dilakukan dalam hidup sehari-hari, berdasarkan suatu alasan
(motivasi) tertentu dengan disertai sanksi. Sanksi adalah ancaman/akibat yang
akan diterima apabila norma tidak dilakukan.

Norma diberlakukan dalam masyarakat karena memiliki berbagai fungsi


positif. Menurut Asmawati Burhan. (2019:9) fungsi norma yaitu :
1. Mengatur tingkah laku masyarakat agar sesuai dengan nilai yang berlaku.
2. Menciptakan ketertiban dan keadilan dalam masyarakat.
3. Membantu mencapai tujuan bersama masyarakat.
4. Menjadi dasar memberikan sanksi kepada masyarakat yang melanggar
norma.
D. Macam Norma dan Contoh Konkrit dalam Kehidupan
Dalam kehidupan umat manusia terdapat bermacam-macam norma, yaitu norma
agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, norma hukum dan lain-lain. Norma
agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, dan norma hukum digolongkan sebagai
norma umum. Selain itu dikenal juga adanya norma khusus, seperti aturan permainan,
tata tertib sekolah, tata tertib pengunjung tempat
bersejarah dan lain-lain.
1. Norma Agama
Norma agama adalah aturan-aturan hidup yang berupa perintah-perintah dan
larangan-larangan, yang oleh pemeluknya diyakini bersumber dari Tuhan
Yang Maha Esa. Aturan-aturan itu tidak saja mengatur hubungan vertikal,
antara manusia dengan Tuhan (ibadah), tapi juga hubungan horizontal, antara
manusia dengan sesama manusia. Pada umumnya setiap pemeluk agama
meyakini bahwa barang siapa yang mematuhi perintah-perintah Tuhan dan
menjauhi larangan-larangan Tuhan akan memperoleh pahala. Sebaliknya
barangsiapa yang melanggarnya akan berdosa dan sebagai sanksinya, ia akan
memperoleh siksa. Sikap dan perbuatan yang menunjukkan kepatuhan untuk
menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya tersebut disebut taqwa.

2. Norma Kesusilaan
Norma kesusilaan adalah aturan-aturan hidup tentang tingkah laku yang baik
dan buruk, yang berupa “bisikan-bisikan” atau suara batin yang berasal dari
hati nurani manusia. Berdasar kodrat kemanusiaannya, hati nurani setiap
manusia “menyimpan” potensi nilai-nilai kesusilaan. Hal ini analog dengan
hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh setiap pribadi manusia karena kodrat
kemanusiaannya, sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena potensi
nilai-nilai kesusilaan itu tersimpan pada hati nurani setiap manusia (yang
berbudi), maka hati nurani manusia dapat disebut sebagai sumber norma
kesusilaan. Ini sejalan dengan pendapat Widjaja tentang moral dihubungkan
dengan etika, yang membicarakan tata susila dan tata sopan santun. Tata susila
mendorong untuk berbuat baik, karena hati kecilnya menganggap baik, atau
bersumber dari hati nuraninya, lepas dari hubungan dan pengaruh orang lain
(Widjaja, 1985: 154).
Tidak jarang ketentuan-ketentuan norma agama juga menjadi
ketentuan-ketentuan norma kesusilaan, sebab pada hakikatnya nilai-nilai
keagamaan dan kesusilaan itu berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Demikian pula karena sifatnya yang melekat pada diri setiap manusia, maka
nilai-nilai kesusilaan itu bersifat universal. Dengan kata lain, nilai-nilai
kesusilaan yang universal tersebut bebas dari dimensi ruang dan waktu, yang
berarti berlaku di manapun dan kapanpun juga. Sebagai contoh, tindak
pemerkosaan dipandang sebagai tindakan yang melanggar kesusilaan, di
belahan dunia manapun dan pada masa kapanpun juga. Kepatuhan terhadap
norma kesusilaan akan menimbulkan rasa bahagia, sebab yang bersangkutan
merasa tidak mengingkari hati nuraninya. Sebaliknya, pelanggaran terhadap
norma kesusilaan pada hakikatnya merupakan pengingkaran terhadap hati
nuraninya sendiri, sehingga sebagaimana dikemukakan dalam sebuah mutiara
hikmah, pengingkaran terhadap hati nurani itu akan menimbulkan penyesalan
atau bahkan penderitaan batin. Inilah bentuk sanksi terhadap pelanggaran
norma kesusilaan.

3. Norma Kesopanan
Norma kesopanan adalah aturan hidup bermasyarakat tentang tingkah laku
yang baik dan tidak baik baik, patut dan tidak patut dilakukan, yang berlaku
dalam suatu lingkungan masyarakat atau komunitas tertentu. Norma ini
biasanya bersumber dari adat istiadat, budaya, atau nilai-nilai masyarakat. Ini
sejalan dengan pendapat Widjaja tentang moral dihubungkan dengan etika,
yang membicarakan tentang tata susila dan tata sopan santun. Tata sopan
santun mendorong berbuat baik, sekedar lahiriah saja, tidak bersumber dari
hati nurani, tapi sekedar menghargai menghargai orang lain dalam pergaulan
(Widjaja, 1985: 154). Dengan demikian norma kesopanan itu bersifat kultural,
kontekstual, nasional atau bahkan lokal. Berbeda dengan norma kesusilaan,
norma kesopanan itu tidak bersifat universal. Suatu perbuatan yang dianggap
sopan oleh sekelompok masyarakat mungkin saja dianggap tidak sopan bagi
sekelompok masyarakat yang lain. Sejalan dengan sifat masyarakat yang
dinamis dan berubah, maka norma kesopanan dalam suatu komunitas tertentu
juga dapat berubah dari masa ke masa. Suatu perbuatan yang pada masa
dahulu dianggap tidak sopan oleh suatu komunitas tertentu mungkin saja
kemudian dianggap sebagai perbuatan biasa yang tidak melanggar kesopanan
oleh komunitas yang sama. Dengan demikian secara singkat dapat dikatakan
bahwa norma kesopanan itu tergantung pada dimensi ruang dan waktu. Sanksi
Terhadap pelanggaran norma kesopanan adalah berupa celaan, cemoohan, atau
diasingkan oleh masyarakat. Akan tetapi sesuai dengan sifatnya yang
“tergantung” (relatif), maka tidak jarang norma kesopanan ditafsirkan secara
subyektif, sehingga menimbulkan perbedaan persepsi tentang sopan atau tidak
sopannya perbuatan tertentu. Sebagai contoh, beberapa tahun yang lalu ketika
seorang pejabat di Jawa Timur sedang didengar kesaksiannya di pengadilan
dan ketika seorang terdakwa di ibu kota sedang diadili telah ditegur oleh
hakim ketua, karena keduanya dianggap tidak sopan dengan sikap duduknya
yang “jegang” (menyilangkan kaki). Kasus ini menimbulkan tanggapan pro
dan kontra dari berbagai kalangan dan menjadi diskusi yang hangat tentang
ukuran kesopanan yang digunakan. Demikian pula halnya ketika advokat
kenamaan di ibu kota berkacak pinggang di depan majelis hakim, yang oleh
majelis hakim perbuatan itu bukan hanya dinilai tidak sopan, tapi lebih dari itu
dinilai sebagai contempt of court (penghinaan terhadap pengadilan), sehingga
tentu saja mempunyai implikasi hukum.

4. Norma Hukum
Norma hukum adalah aturan-aturan yang dibuat oleh lembaga negara yang
berwenang, yang mengikat dan bersifat memaksa, demi terwujudnya
ketertiban masyarakat. Sifat “memaksa” dengan sanksinya yang tegas dan
nyata inilah yang merupakan kelebihan norma hukum dibanding dengan
ketiga norma yang lain. Negara berkuasa untuk memaksakan aturan-aturan
hukum guna dipatuhi dan terhadap orang-orang yang bertindak melawan
hukum diancam hukuman. Ancaman hukuman itu dapat berupa hukuman
badan atau hukuman benda. Hukuman bandan dapat berupa hukuman mati,
hukuman penjara seumur hidup, atau hukuman penjara sementara. Di samping
itu masih dimungkinkan pula dijatuhkannya hukuman tambahan, yakni
pencabutan hak-hak tertentu, perampasan barang-barang tertentu, dan
pengumuman keputusan pengadilan. Demi tegaknya hukum, negara memiliki
aparat-aparat penegak hukum, seperti polisi, jaksa, dan hakim. Sanksi yang
tegas dan nyata, dengan berbagai bentuk hukuman seperti yang telah
dikemukakan itu, tidak dimiliki oleh ketiga norma yang lain. Sumber hukum
dalam arti materiil dapat berasal dari falsafah, pandangan hidup, ajaran agama,
nilai-nilai kesusilaan, adat istiadat, budaya, sejarah dan lain-lain. Dengan
demikian dapat saja suatu ketentuan norma hukum juga menjadi ketentuan
norma-norma yang lain. Sebagai contoh, perbuatan mencuri adalah perbuatan
melawan hukum (tindak pidana, dalam hal ini : kejahatan), yang juga
merupakan perbuatan yang bertentangan dengan norma agama, kesusilaan
(asusila), maupun kesopanan (asosial). Jadi, diantara norma-norma tersebut
mungkin saja terdapat kesamaan obyek materinya, akan tetapi yang tidak sama
adalah sanksinya. Akan tetapi, sebagai contoh lagi, seorang yang mengendarai
kendaraan bermotor tanpa memiliki SIM, meskipun tidak melanggar norma
agama, akan tetapi melanggar norma hukum.

E. Perbedaan Nilai dan Norma


Nilai adalah kualitas dari sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia,
baik lahir maupun batin. Dalam kehidupan manusia, nilai dijadikan landasan, alasan,
atau motivasi dalam bersikap dan bertingkah laku baik disadari maupun tidak. Nilai
berbeda dengan fakta, karena fakta dapat diobservasi melalui suatu verifikasi empiris,
sedangkan nilai bersifat abstrak yang hanya dapat dipahami, dipikirkan, dimengerti
dan dihayati oleh manusia. Nilai berkaitan dengan harapan, cita-cita, keinginan dan
segala sesuatu pertimbangan internal (batiniah) manusia. Nilai dengan demikian, tidak
bersifat konkret yaitu tidak dapat ditangkap dengan indra manusia, dan nilai dapat
bersifat subjektif maupun objektif. Bersifat subjektif manakala nilai tersebut diberikan
oleh subjek (dalam hal ini manusia sebagai pendukung pokok nilai) dan bersifat
objektif jikalau nilai tersebut telah melekat pada sesuatu terlepas dari penilaian
manusia (Kaelan, 2003: 92)
Menurut Peursen (1988:47), norma masyarakat adalah perwujudan nilai,
ukuran baik/buruk yang dipakai sebagai pengarah, pedoman, pendorong perbuatan
manusia di dalam kehidupan bersama. Wujud nilai, ukuran baik buruk itu mengatur
bagaimana seharusnya seseorang itu melakukan perbuatan. Dikatakan wujud nilai,
karena antara norma dan nilai itu berhubungan erat, bahkan merupakan satu kesatuan,
terutama nilai kebaikan. Norma merupakan perwujudan aktif dari nilai.
Sebagai pengertian abstrak, nilai berarti suatu keberhargaan, atau suatu
kualitas yang patut dimiliki seseorang. Batasan yang bercorak sosial menyatakan
bahwa nilai itu merupakan kemampuan yang dapat mendatangkan kemakmuran bagi
masyarakat. Tiap-tiap perbuatan dikatakan mengandung nilai, apabila perbuatan itu
dapat mewujudkan apa yang diinginkan bersama. Berdasarkan apa· yang telah
diuraikan di muka, dapat disimpulkan bahwa nilai (nilai kebaikan) yang semula
sifatnya abstrak berubah menjadi kenyataan dalam perbuatan manusia. Perbuatan
yang mencerminkan nilai itu kemudian merupakan contoh atau pedoman perbuatan
selanjutnya. Pedoman perbuatan (yang baik) itu dinamakan norma. Pada giliran orang
berbuat dengan berpegang pada norma, secara langsung atau tidak langsung orang
mewujudkan nilai melalui norma. Nilai merupakan unsur mutlak dari norma.
Pembicaraan tentang nilai kebaikan ini tidak mengesampingkan adanya nilai lain
(selain nilai kebaikan), sebagaimana dikemukakan oleh S. Alexander di dalam Beauty
and Other Furm of Value yang membagi nilai dalam empat tingkatan: pertama, nilai
subhuman (alamiah, hewaniah); kedua, nilai psikologis; ketiga, nilai yang lebih
tinggi; keempat, nilai religius/ketuhanan (Langeveld, 1970: 42).
Dari uraian di atas secara garis besar dapat dikatakan bahwa yang
membedakan nilai dan norma yaitu nilai merupakan sesuatu yang baik, diinginkan,
dicita-citakan dan dipentingkan oleh masyarakat. Sedangkan norma adalah kaidah
atau pedoman , aturan berperilaku untuk mewujudkan keinginan dan cita-cita tersebut.
Atau dengan kata lain boleh dikatakan bahwa nilai adalah pola yang diinginkan
sedangkan norma adalah pedomana atau cara-cara untuk mencapai nilai tersebut.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Nilai merupakan esensi/ide konsep yang melekat pada sesuatu yang sangat berarti
bagi kehidupan manusia serta nilai yaitu suatu kualitas atau penghargaan terhadap
sesuatu yang dapat menjadi dasar penentu tingkah laku seseorang.
2. Fungsi nilai yaitu sebagai petunjuk arah dan pemersatu, sebagai benteng perlindungan
untuk para penganutnya, dan sebagai pendorong (motivator) dan sekaligus menuntun
manusia untuk berbuat baik. Jenis nilai antara lain, nilai dominan dan nilai mendarah
daging. Contoh nilai dominan yaitu : karena anaknya kuliah di salah satu Perguruan
Tinggi Negeri yang memerlukan biaya besar, Pak Romo membatalkan niatnya untuk
membeli mobil baru. Contoh nilai mendarah daging yaitu makan dengan tangan
kanan, berpamitan kepada orang tua jika hendak pergi.
3. Norma merupakan aturan-aturan dengan sanksi-sanksi yang dimaksudkan untuk
mendorong bahkan menekan pribadi, kelompok masyarakat untuk mencapai
nilai-nilai sosial. Fungsi norma, antara lain, untuk menertibkan dan mengatur tingkah
laku masyarakat agar sesuai dengan nilai yang berlaku, membantu mencapai tujuan
bersama masyarakat, dan menjadi dasar memberikan sanksi kepada masyarakat yang
melanggar norma.
4. Macam norma meliputi norma hukum, norma kesopanan, norma kesusilaan, dan
norma agama. Contoh konkrit dalam kehidupannya, yakni memakai helm dan selalu
membawa surat kelegkapan mengemudi (norma hukum), tidak meludah di sembarang
tempat (norma kesopanan), berkata jujur setiap waktu (norma kesusilaan), dan
melaksanakan sholat/sembahyang dan melaksanakan kewajiban agama (norma
agama)
5. Perbedaan antara nilai dan norma yaitu nilai merupakan sesuatu yang baik,
diinginkan, dicita-citakan dan dipentingkan oleh masyarakat. Sedangkan norma
adalah kaidah atau pedoman , aturan berperilaku untuk mewujudkan keinginan dan
cita-cita tersebut. Dengan kata lain nilai adalah pola yang diinginkan sedangkan
norma adalah pedomana atau cara-cara untuk mencapai nilai tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Asmawati Burhan. 2019. ​Etika Umum.​ Yogyakarta: Deepublish Publisher


Bambang Daroeso.1986.​Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pancasila​.Surabaya:Aneka
Ilmu.
Chabib Thoha.1996.​Kapita Selekta Pendidikan Islam​.Yogyakarta:Pustaka Belajar.
Dardji Darmodihardjo.​Santiaji Pancasila: Suatu Tinjauan Filosofis, Historis, dan Yuridis
Konstitusional.1​ 996.Jakarta:Gramedia Pustaka.
Fitriani.2014.​Kajian Pustaka Tinjaun Tentang Nilai​.Diunduh dari https://digilib.uinsby.ac.id
pada tanggal 21 Oktober 2019 pukul 12.30 WIB.
​ ew Jersey:Prentice
Frankel.1977.​How to Teach About Values: An Analytic Approach.N
Hall,Inc.
Kaelan. 2003. ​Pendidikan Pancasila.​ Yogyakarta: Paradigma.
Langeveld, M, 1970, M​enuju Ke Pemikiran Filsafat. J​ akarta:Pembangunan Press.
Mansur Isna.2001.​Diskursus Pendidikan Islam,​ Yogyakarta:Global Pustaka Utama.
Miladiyah, M. 2014. ​Nilai-Nilai Sosial​. Surabaya : Digilib UIN Sunan Ampel.
Peursen, C.A van. 1988.​ Strategi Kebudayaan​. Yogyakarta : Kanisius.
Purwadaminta.1999.Kamus Umum Bahasa Indonesia.Jakarta:Balai Pustaka.
Sujarwa. 2010. ​Ilmu Sosial dan Budaya Dasar : Manusia dan Fenomena Sosial Budaya.
Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Syamsul Maarif.2007.​Revitalisasi Pendidikan Islam.​ Yogyakarta:Graha Ilmu.
Una Kartawisastra.1980.​Strategi Klarifikasi Nilai.​ Jakarta:P3G Depdikbud.
Wila Huky. 1986. ​Pengantar Sosiologi​. Surabaya : Usaha Nasional.