Anda di halaman 1dari 15

PENGERTIAN DAN FUNGSI KONTRAK

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penyusunan Kontrak Bisnis

Dosen Pengampu :

Lukman Santoso, M.H.

Disusun Oleh :

Kelompok: Satu (1)

1. Agus Tarmo K. (210716120)


2. Fadilla Rismayanti (210716124)

Kelas : ES.D

JURUSAN EKONOMI SYARI’AH


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONOROGO
2017

0
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Bisnis merupakan sarana para enterpreneur sebagai ajang berkreasi dengan


bertujuan untuk mempermudah masyarakat dalam menjalani hidup. Baik itu berupa
jasa maupun produk. Dengan istilah lain para pengusaha adalah pembantu
perekonomian Negara, supaya sistem perekonomian didalam negeri tetap seimbang.

Pada kenyataannya, pengusaha hampir 60% telah keluar dari visi diatas yang
akhirnya mereka lebih pada sistem kapital, dimana pengusaha mendapatkan
penghasilan sebesar-besarnya dengan modal yang relatif minim. Hal ini telah jelas
bahwa para pengusaha kebanyakan telah berazaskan demikian.

Sistem yang digunakan salah satunya adalah kontrak. Kontrak merupakan jenis
perikatan yang sah untuk bekerjasama baik itu mengontrak seseorang, jasa, ataupun
barang. Dengan bersistemkan kontrak maka salah satu perusahaan atau individu
akan dimudahkan dalam perjalanan bisnisnya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Kontrak ?
2. Apa saja fungsi Kontrak ?
3. Apa saja jenis-jenis Kontrak ?
4. Bagaimanakah Kontrak dengan sistem Common Law ?
5. Bagaimanakah Kontrak dengan sistem Civil Law ?
6. Bagaimanakah Kontrak dengan sistem adat dan Islam ?
7. Bagaimanakah terjadinya momentum Kontrak ?

C. Tujuan
Setelah mempelajari materi ini diharapkan Mahasiswa dapat:
1. Memahami pengertian Kontrak.
2. Mengetahui fungsi Kontrak.
3. Mengetahui jenis-jenis Kontrak.

1
4. Memahami Kontrak dengan sistem Common Law.
5. Memahami Kontrak dengan sistem Civil Law.
6. Memahami Kontrak dengan sistem adat dan Islam.
7. Mengetahui momentum terjadinya Kontrak.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kontrak
Kontrak berasal dari bahasa Inggris yaitu contracts. Sedangkan dalam
bahasa Belanda disebut overenkomst yaitu perjanjian1
Pada prinsinya kontrak terdiri dari satu atau serangkaian janji yang dibuat
para pihak dalam kontrak. Esensi dari kontrak itu sendiri adalah kesepakatan
(agreement). Atas dasar itu Subekti mendefinisikan kontrak sebagai peristiwa
dimana seseorang berjanji kepada orang lain dimana dua orang saling berjanji
untuk melaksanakan sesuatu. Kontrak itu berisi serangkaian janji, tetapi yang
dimaksud dengan janji itu secara tegas dinyatakan adalah janji yang memiliki
akibat hukum dan apabila dilanggar pemenuhannya dapat dituntut di pengadilan.
Kontrak adalah suatu kesepakatan yang dapat dilaksanakan atau dipertahankan
di hadapan pengadilan.2

Ciri khas yang penting dari suatu kontrak adalah adanya kesepakatan
bersama para pihak. Kesepakatan bersama ini bukan hanya merupakan
karakteristik dalam pembuatan kontrak, tetapi hal itu penting sebagai suatu niat
yang diungkapkan kepada pihak lain. Di samping itu, sangat tidak mungkin
suatu kontrak yang sah dibuat tanpa adanya kesepakatan bersama.

Kontrak juga dapat diartikan sebagai kesepakatan diantara dua atau lebih
orang yang memuat sebuah janji atau janji-janji yang bertimbal balik yang dapat
ditegakkan berdasarkan hukum, atau yang pelaksanaannya berdasarkan hukum
sampai tingkat tertentu diakui sebagai kewajiban.3

Didalam kontrak terdapat hukum kontrak merupakan bagian dari hukum


perdata, hukum ini memusatkan perhatian pada kewajiban untuk melaksanakan
kewajiban sendiri. Disebut sebagai hukum perdata disebabkan karena

1
Salim H.S, Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat Di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika,
2003), 15.
2
Ridwan Khairandy, Hukum Kontrak Indonesia Dalam Perspektif Perbandingan, (Yogyakarta:
FH UII Press, 2013), 57.
3
Bayu Seto Hardjowahono, “Naskah Akademik Rancangan Undang-undang Hukum Kontrak,”
Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum Dan HAM RI, 2013.

3
pelanggaran terhadap kewajiban-kewajiban yang ditentukan dalam kontrak
murni menjadi urusan pihak-pihak yang berkontrak.4

Hukum kontrak di Indonesia saat ini menganut tradisi civil law yang
berpedoman pada aturan yang merupakan warisan dari pemerintahan kolonial
Hindia Belanda, fakta lain yang tampak adalah pengaruh Belanda yang telah
menancapkan pilar-pilar ketentuan yang mengikat antara masyarakat dengan
masyarakat lain.5

Dari makna kontrak tersebut dapat ditarik simpulan bahwa ada beberapa
unsur yang terdapat di dalam kontrak, yaitu:

1. Ada para pihak


2. Ada kesepakatan yang membentuk kontrak
3. Kesepakatan itu ditujukan untuk menimbulkan akibat hukum
4. Ada objek tertentu.

B. Fungsi Kontrak
Fungsi kontrak dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu fungsi
Yuridis dan fungsi Ekonomis. Fungsi yuridis kontrak adalah fungsi dapat
memberikan kepastian hukum bagi para pihak. Sedangkan fungsi ekonomis
adalah menggerakkan (hak milik) sumber daya dari nilai penggunaan yang lebih
rendah menjadi nilai yang lebih tinggi.
Kontrak berdasarkan pasal 1338 KUH Perdata maka kontrak sebagai
hukum yang berlaku bagi para pihaknya harus bermanfaat bagi pihaknya.
Kontrak dikatakan memberikan manfaat apabila berdasarkan kontrak tersebut
pihak-pihaknya mampu melakukan prediksi mengenai kemungkinan-
kemungkinan apa yang terjadi yang ada kaitannya dengan kontrak yang disusun,
para pihak mampu mengantisipasi terhadap kemungkinan yang akan terjadi,
serta memberikan perlindungan hukum.6

4
Muhammad Muhtarom, “Asas-asas Hukum Perjanjian: Suatu Landasan Dalam Pembentukan
Kontrak,” Jurnal Suhuf, Vol.26, No.1, 2014, 50.
5
Agri Chairunisa Isradjuningtias, “Force Majeure (Overmatch) Dalam Hukum Kontrak
(Perjanjian) Indonesia,” 137.
6
Natasya Yunita Sugiastuti, “Esensi Kontrak Sebagai Hukum Vs Budaya Masyarakat Indonesia
Yang Non Law Minded Dan Berbasis Oral Tradition,” Jurnal Hukum PRIORIS, Vol. 5, No.1, 2015, 32.

4
Sistematika KUH Perdata (Burgelijk Wetboek) terdiri atas, pertama
perihal orang (Van Personen), kedua perihal benda (Van Zaken), ketiga perihal
perikatan (Van Verbintenissen), keempat perihal pembuktian dan lewat waktu
(Van Bewijaeu Verjaring). 7

C. Jenis-jenis Kontrak
Para ahli dibidang kontrak tidak ada kesatuan pandangan tentang pembagian
kontrak. Masing-masing ahli mempunyai pandangan yang berbeda antara satu
dengan yang lainnya. Ada ahli yang mengkaji dari sumber hukumnya, namanya,
bentuknya, aspek kewajibannya, maupun aspek lapangannya. Berikut ini
dibagikan jenis-jenis kontrak berdasarkan pembagian diatas,
1. Kontrak menurut sumbernya
Sudikno Mertokusumo menggolongkan kontrak dari sumber hukumnya
menjadi 5 macam yaitu,
a. Perjanjian yang bersumber dari hukum keluarga, seperti perkawinan.
b. Perjanjian yang bersumber dari kebendaan, yaitu yang berhubungan
dengan peralihan hukum benda, misalnya peralihan hak milik.
c. Perjanjian Obligator, yaitu perjanjian yang menimbulkan kewajiban.
d. Perjanjian yang bersumber dari hukum acara ayng disebut dengan
bewijsovereenkomst.
e. Perjanjian yang bersumber dari hukum publik yang disebut dengan
publiekrechtelijke overeenkomst.
2. Kontrak menurut namanya.
Ada dua macam kontrak menurut namanya yaitu, kontrak nominaat
(bernama) adalah jual beli, tukar menukar, sewa-menyewa, persekutuan
perdata, hibah, penoitipan barang, pinjam pakai, pinjam meminjam, dll. Yang
kedua kontrak innominaat (tidak bernama) terdiri atas leasing, beli sewa,
kontrak karya, keagenan, dll.
3. Kontrak menurut bentuknya.
Menurut bentuknya dapat dibagi menjadi dua macam yaitu kontrak lisan
dan kontrak tertulis. Kontrak lisan adalahkontrak yang dibuat oleh para pihak

7
Erie Hariyanto, “Burgelijk Wetboek (Menelusuri Sejarah Hukum Pemberlakuaanya Di
Indonesia),” Jurnal Al-ihkam, Vol.4, No.1, 2009, 147.

5
cukup dengan lisan atau kesepakatan saja. Kontrak tertulis merupakan
kontrak yang dibuat oleh para pihak dalam bentuk tulisan.
4. Kontrak timbal balik.
Penggolongan ini dilihat dari hak dan kewajiban para pihak. Kontrak
timbal balik merupakan perjanjian yang dilakukan kedua belah pihak yang
menimbulkan hak dan kewajiban seperti pada jual beli dan sewa menyewa.
5. Perjanjian Cuma-cuma.
Perjanjian Cuma-Cuma merupakan perjanjian yang menurut hukum
hanya menimbulkan keuntungan pada salah satu pihak contohnya hadiah dan
pinjam pakai.
6. Perjanjian berdasarkan sifatnya.
Perjanjian berdasarkan sifatnya dibagi menjadi dua yaitu perjanjian
kebendaan dan perjanjian obligator. Perjanjian kebendaan adalah suatu
perjanjian yang ditimbulkan oleh hak kebendaan. Perjanjian obligator
merupakan perjanjian yang menimbulkan kewajiban dari para pihak.
7. Perjanjian dari aspek larangannya.
Penggolongan perjanjian berdasarkan larangannya merupakan
penggolongan perjanjian dari aspek tidak diperkenankannya para pihak untuk
membuat perjanjian yng bertentangan dengan Undang-Undang, kesusilaan,
dan ketertiban umum.

D. Kontrak Dalam Tradisi Common Law, Civil Law, Islam.


1.Sistem hukum Common Law
Perkembangan Common Law dapat dibagi dalam beberapa tahapan,
yaitu:8
a. Periode awal dari sejarah hukum Common Law dimulai dengan
memberlakukan hukum kebiasaan (tahun 1066) oleh William the
Congcueror, raja dari bangs Normandi yang pada waktu itu menjajah
Inggris.
b. Periode kedua membentang dari tahun 1066 sampai penggabungan Tudors
(1485). Pada periode ini berlangsung pembentukan Common Law, yaitu

8
Johannes Gunawan, Hukum Bisnis Dalam Persepsi Manusia Modern, (Bandung: Refika
Aditama, 2004), 71.

6
penerapan sistem hukum tersebut secara luas dengan menyisihkan kaidah-
kaidah lokal.
c. Dari tahun 1485 sampai tahun1832 berkembang suatu sistem kaidah lain
yang disebut dengan equity. Sistem kaidah ini berfungsi untuk melengkapi
common law.
d. Dari tahun1832 sampai saat ini merupakan periode modern bagi common
law. Pada periode ini mengalami perkembangan dalam penggunaan hukum
yang dibuat atau perundang-undangan dan tidak hanya mengandalkan
perkembangan yang bersifat tradisional.

Sumber hukum dalam sistem hukum common law terdiri atas Yrisprudensi,
Statuta law, Custom, Reason (akal sehat).System common law tidak dikenal
adanya hukum perikatan, di dalam system hukum common law ada pemisahan
yang tegas antara kontrak dan perbuatan melawan hukum, sehingga keduanya
diatur dalam bidang hukum yang berbeda.9

Untuk dapat mengetahui dengan baik sumber hukum kontrak dan perbuatan
melawan hukum di dalam system common law, khususnya Anglo-American
harus terlebih dahulu dipahami sumber hukum pada umumnya di Amerika
Serikat. Di dalam system common law , khususnya Anglo-American sumber
hukum dibedakan antara sumber hukum primer dan sumber hukum sekunder.10

Sumber hukum primer meliputi:

1. Konstitusi Amerika Serikat dan konstitusi berbagai negara bagian,


2. Undang-undang yang dikeluarkan Congress dan badan legislative negara
bagian,
3. Regulasi yang diciptakan oleh badan-badan administrasi, seperti Federal
Food and Drug Administration, dan
4. Putusan pengadilan.

Sumber hukum sekunder meliputi:

9
Ibid., 76.
10
Ridwan Khairandy, Hukum Kontrak Indonesia Dalam Perspektif Perbandingan, 19.

7
1. Buku dan artikel yang memuat ringkasan dan penjelasan sumber hukum
primer,
2. Eksiklopedia hukum, kompilasi ( seperti Restatement of Law),
3. Komentar resmi terhadap undang-undang,
4. Traktat, dan
5. Artikel-artikel hukum dari berbagai jurnal fakultas hukum.

Syarat perjanjian dalam system common law Di negara-negara common law,


seperti Inggris dan Amerika Serikat ketentuan persyaratan keabsahan kontrak
tersebut ditafsirkan oleh para sarjana (doktrin) dari putusan-putusan pengadilan
(case law) akibatnya terdapat perbedaan dalam menafsirkan persyaratan
keabsahan kontrak tersebut. Ada prbedaan penekanan unsur-unsur persyaratan
keabsahan tersebut.11

Roger LeRoy Miller dan Gaylord A. jentz menyebutkan adanya 4 persyaratan


bagi keabsahan perjanjian di dalam system common law, khususnya Anglo
Amerika, yaitu:

1. Agreement adalah unsur utama dalam pembentukan kontrak. Semua pihak


harus sepakat terhadap semua isi kontrak.
2. Consideration merupakan satu ciri khusus hukum kontrak dalam system
common law. Consideration secara teknis mengacu pada apakah satu pihak
dalam suatu perjanjian memberikan janji atau berjanji, dan apakah pertukaran
balik yang diberikan atau dijanjikan dari pihak lainnya.
3. Contractual capacity, kedua belak pihak yang melakukan kontrak harus
memiliki kecakapan kontraktual (contractual capacity) atau kecakapan untuk
membuat kontrak. Kecakapan untuk membuat kontak adalah kemampuan untuk
membuat kontrak atau kemampuan untuk mengadakan suatu hubungan
konstraktual.
4. Legality, kausa hukum yang halal di dalam system common law dikenal dengan
istilah legality yang dikaitkan dengan public policy. Tujuan kontrak harus
sesuai atau memenuhi tujuan hukum dan tidak bertentangan dengan public
policy. Suatu kontrak menjadi tidak sah jika bertentangan dengan public policy.

11
Ibid., 193.

8
Raymond Youngs menyebutkan bahwa, ada 3 persyaratan bagi keabsahan
kontrak yang berlaku dalam hukum kontrak common law, khususnya di Inggris,
yaitu:

1. Agreement,
2. An intention to create legal relation,
3. Consideration.
2. Sistem hukum Civil Law
Sistem hukum Romawi Jerman adalah sistem yang dipakai di Indonesia.
Sistem ini lebih dikenal dengan civil law. Sistem hukum ini tidak dapat
dilepaskan dari hukum romawi yang muncul pada abad ke 13 dan setelah itu
mengalami berbagai evolusi sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan dari
masyarakat yang selalu berubah. 12
Sedangkan sumber hukum civil law terdiri atas:
a. Undang-Undang
Undang-Undang merupakan sumber hukum formal yang utama. Yang
terbagi atas peraturan, penetapan atau ketetapan, vonis.
b. Kebiasaan
Kebiasaan atau tradisi adalah sumber hukum yang tertua. Sumber
darimana dikenal atau dapat digali sebagian dari hukum diluar undang-
undang, tempat kita dapat menemukan atau menggali hukumnya.
c. Traktat
Traktat adalah perjanjian antar negara.
d. Yurisprudensi
Yurisprodensi berarti peradilan pada umumnya, yaitu pelaksanaan
hukum dalam hal kongkret terjadi tuntutan hak yang dijalankan oleh suatu
badan yang berdiri sendiri dan diadakan oleh negara serta bebas dari
pengaruh apa atau siapapun dengan cara memberikan putusan yang bersifat
mengikat dan berwibawa.
e. Penemuan hukum

12
Johannes Gunawan, Hukum Bisnis Dalam Persepsi Manusia Modern,, 58.

9
Negara-Negara yang menganut sistem hukum romawi jerman menganut
sistem pengaturan sumber hukum pada prinsipnya bersifat tertulis.13
3. Sistem hukum Islam
Kontrak dalam hukum islam diperbolehkan sepanjang tidak
merugikan dan memperhatikan aspek-aspek dalam masyarakat, seperti
prinsip keadilan dan kejujuran.14
Di dalam hukum Islam istilah yang telah lama dikenal adalah akad
sebagai padaan perjanjian atau kontrak. System hukum Islam adalah system
hukum yang bersifat religious. Karena system hukum yang bersifat
religious, maka sumber hukumnya termasuk hukum kontrak yang juga
bersifat religious. S.E. Rayner mengklasifikasikan sumber hukum kontrak
Islam ke dalam 2 klasifikasi sebagai berikut:15
1. Sumber hukum primer
a. Al-qur’an
Al-qur’an ini banyak memuat prinsip umum kontrak misalnya
terdapat dalam ketentuan surat Al-Maidah ayat 1 yang mewajibkan
orang-orang beriman untuk mematuhi perjanjian yang mereka buat,.
b. Sunnah
Sunnah ini adalah ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW baik
yang disampaikan melalui ucapan, tindakan, atau persetujuannya.
2. Sumber hukum sekunder
Sumber hukum sekunder penting jika terdapat kekosongan hukum
primer. Sumber hukum sekunder dikembangkan berdasarkan intelektual
manusia. Sumber hukum sekunder meliputi:
a. Ijma’ adalah kesepakatan pendapat secara bulat para ahli hukum yang
melakukan penemuan hukum Islam (mujtahidin) mengenai masalah
tertentu pada periode setelah meninggalnya Rasulullah SAW.
b. Qiyas adalah prinsip sumber hukum Islam yang disepakati oleh
sarjana hukum Islam yang merupakan sarana yang rasional untuk
memahami ketentuan fiqh.
13
Ibid., 61-67
14
Prita Putri Lestari, “Klausul-Klausul Kontrak Baku Dan Modal Kontrak Dalam Perspektif
Hukum Islam,” (Skripsi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2016), 117.
15
Windi Afdal, ”Korporasi Dalam Hukum Organisasi Bisnis Islam,” Jurnal Hukum Dan
Pembangunan, Vol.47, No.3, 2016, 414.

10
c. Istihsan adalah menyetujui atau menerima sesuatu yang baik,
d. Maslahah Mursalah berarti membawa manfaat atau kepentingan dan
mencegah kerugian.
e. Sadd al-Dhara’i bermakna menutup keburukan.
f. Urf adalah kebiasaan yang dijadikan sumber hukum.
g. Istishab berarti kelangsungan kasus hukum suatu hal pada masa lalu,
masa kini, dan masa mendatang sejauh belum ada perubahan terhadap
status hukum tersebut.
h. Amal ahl al-Madinah adalah praktek atau perbuatan yang dilakukan
orang-orang Madinah.

Persyaratan keabsahan kontrak atau akad dalam hukum Islam sangat


bervariasi karena didasarkan pada doktrin atau pendapat dari para sarjana
hukum Islam (fuqaha). Pendapat para fuqaha tentang persyaratan keabsahan
kontrak tersebut sangat bervariasi. Diantara mereka terjadi perbedaan
penekanan dan pendekatan.16

Syarat sahnya perjanjian dalam hukum Islam:

a. Muwafaqah (Al-ridha)
Hukum Islam menekankan akan keharusan adanya kata sepakat dari
para pihak yang membuat kontrak. Kata sepakat ini menjadi dasar utama
kontrak.
b.Majlis al-‘aqd
Kesepakatan akan tercapai jika apabila ijab dan qabul saling
bersesuaian satu dengan lainnya. Kesepakatan harus terjadi dalam satu
waktu yang sama atau majlis yang sama.
c. Ahliyyah
Ahliyyah adalah kecakapan atau kapasitas hukum. Kata kapasitas
hukum digunakan dalam hukum untuk menunjukkan kemampuan
seseorang untuk melakukan perbuatan hukum yaitu kemampuan untuk
bertanggungjawab atau mendapat hak-hak hukum.

16
Ridwan Khairandy, 201.

11
d.Al ma’qud Alaihi adalah objek kontrak.
Al ma’qud Alaihi adalah objek kontrak. Dalam kontrak harus ada
objek kontrak.
Sebagian besar madzhab menentukan persyaratan yang berkaitan dengan
objek kontrak agar kontrak menjadi sah, yaitu:17
a. Legalitas,
b. Objek sudah ada pada saat kontrak dibuat,
c. Objek itu dapat diserahkan,
d. Objek itu tertentu.

E. Momentum Terjadinya Kontrak


Dalam berbagai literatur disebutkan empat teori yang membahas momentum
terjadinya kontrak, yaitu:
1. Teori pernyataan
Menurut teori pernyataan kesepakatan terjadi pada saat pihak yang
menerima penawaran menyatakan bahwa ia menerima penawaran itu.
2. Teori pengiriman
Menurut teori pengiriman, kesepakatan terjadi apabila pihak yang
menerima penawaran mengirimkan telegram. Kritik terhadap teori ini
bagaimana hal itu bisa diketahui. Bisa saja walaupun sudah dikirim tetapi
tidak diketahui oleh pihak yang menawarkan.
3. Teori pengetahuan
Menurut teori pengetahuan bahwa kesepakatan terjadi apabila pihak yang
menawarka nitu ,mengetahui adanya penerimaan. Akan tetapi penerimaan itu
belum diterimanya (tidak diketahui secara langsung). Kritik terhadap teori
ini bagaimana ia mengetahuinya isi penerimaan itu apabila ia belum
menerimanya.
4. Teori penerimaan
Menurut teori penerimaan bahwa kesepakatan terjadi pada saat pihak
yang menawarkan menerima langsung jawaban dari pihak lawan.18

17
Ibid., 210.
18
Salim H.S, Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat Di Indonesia, 30 – 31.

12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada prinsinya kontrak terdiri dari satu atau serangkaian janji yang dibuat para
pihak dalam kontrak. Esensi dari kontrak itu sendiri adalah kesepakatan
(agreement).
Kontrak berdasarkan pasal 1338 KUH Perdata maka kontrak sebagai hukum
yang berlaku bagi para pihaknya harus bermanfaat bagi pihaknya. Kontrak
dikatakan memberikan manfaat apabila berdasarkan kontrak tersebut pihak-
pihaknya mampu melakukan prediksi mengenai kemungkinan-kemungkinan apa
yang terjadi yang ada kaitannya dengan kontrak yang disusun, para pihak mampu
mengantisipasi terhadap kemungkinan yang akan terjadi, serta memberikan
perlindungan hukum.
Jenis-jenis kontrak dibagi menjadi 5 bagian menurut Mertokusuma, yaitu
Perjanjian yang bersumber dari hukum keluarga, perjanjian yang bersumber dari
kebendaan, perjanjian Obligator, dan perjanjian yang bersumber dari hukum acara
ayng disebut dengan bewijsovereenkomst.
Sumber hukum dalam sistem hukum common law terdiri atas Urisprudensi,
Statuta law, Custom, Reason (akal sehat). Sedangkan sumber hukum civil law
terdiri atas Undang-Undang, kebiasaan, traktat ,yurisprudensi, dan penemuan
hukum.
Dalam berbagai literatur disebutkan empat teori yang membahas momentum
terjadinya kontrak, yaitu Teori pernyataan, Teori pengiriman, teori pengetahuan, dan
teori penerimaan.

13
DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, Johannes. Hukum Bisnis Dalam Persepsi Manusia Modern. Bandung: Refika
Aditama, 2004.

Khairandy, Ridwan. Hukum Kontrak Indonesia Dalam Perspektif Perbandingan.


Yogyakarta: FH UII Press, 2013.

Salim H.S, Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat Di Indonesia. Jakarta: Sinar


Grafika, 2003.

Afdal, Windi”Korporasi Dalam Hukum Organisasi Bisnis Islam,” Jurnal Hukum Dan
Pembangunan, Vol.47, No.3, 2016.
Hardjowahono, Bayu Seto. “Naskah Akademik Rancangan Undang-undang Hukum
Kontrak,” Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum Dan
HAM RI, 2013.
Hariyanto, Erie. “Burgelijk Wetboek (Menelusuri Sejarah Hukum Pemberlakuaanya Di
Indonesia),” Jurnal Al-ihkam, Vol.4, No.1, 2009.

Isradjuningtias , Agri Chairunisa. “Force Majeure (Overmatch) Dalam Hukum Kontrak


(Perjanjian) Indonesia,”.
Muhtarom, Muhammad. “Asas-asas Hukum Perjanjian: Suatu Landasan Dalam
Pembentukan Kontrak,” Jurnal Suhuf, Vol.26, No.1, 2014.
Sugiastuti, Natasya Yunita. “Esensi Kontrak Sebagai Hukum Vs Budaya Masyarakat
Indonesia Yang Non Law Minded Dan Berbasis Oral Tradition,” Jurnal
Hukum PRIORIS, Vol. 5, No.1, 2015.
Lestari, Prita Putri. “Klausul-Klausul Kontrak Baku Dan Modal Kontrak Dalam
Perspektif Hukum Islam,” (Skripsi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga,
Yogyakarta, 2016)

14