Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sitohistoteknologi berasal dari kata kata Sito/cyto/cyt/se : molekul-

molekul sel ; Histo : jaringan ; Teknis : cara ; Logos : Ilmu.

Jadi sitohistoteknologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari

tentang cara-cara membuat preparat jaringan tubuh manusia (Arman,

2016).

Anatomi tubuh manusia tersusun atas sel, jaringan, organ, dan sistem

organ. Sistem organ merupakan bagian yang menyusun tubuh manusia.

Sistem ini terdiri atas berbagai jenis organ, yang memiliki struktur dan fungsi

yang khusus. Sistem organ memiliki struktur dan fungsi yang khas begitupun

organ tersusun atas jaringan yang memiliki struktur dan fungsi yang sama

(Arman, 2016).

Jaringan dibentuk oleh dua komponen yang saling berinteraksi yaitu sel

dan matriks ekstrasel. Matriks ekstrasel terdiri atas banyak jenis molekul, dan

kebanyakan diantaranya sangat rumit dan membentuk struktur kompleks,

seperti serabut dan membran basal. Fungsi matriks ekstrasel ini adalah

sebagai penunjang mekanis bagi sel- sel, mengangkut nutrien ke sel- sel, dan

membawa katabolit dan produk sekresi. Walaupun menghasilkan matriks

ekstrasel, sel tersebut dipengaruhi dan kadang diatur oleh molekul- molekul

matriks. Sehingga terdapat semacam interaksi intensif antara sel- sel dan

matriks (Sila, 2013).

1
Jaringan adalah kumpulan dari sel- sel sejenis atau berlainan jenis

termasuk matriks antar selnya yang mendukung fungsi organ atau sistem

tertentu. Meskipun sangat kompleks tubuh mamalia hanya tersusun oleh 4

jenis jaringan yaitu jaringan : epitel, penyambung/ pengikat, otot dan saraf.

Dalam tubuh jaringan ini tidak terdapat dalam satuan-satuan yang tersendiri

tetapi saling bersambungan satu dengan yang lain dalam perbandingan yang

berbeda- beda menyusun suatu organ dan sistem tubuh (Arman, 2016).

Secara umum, jaringan penyokong terdiri atas dua jenis yaitu tulang

rawan dan tulang sejati. Tulang rawan dan tulang merupakan jaringan ikat

khusus dan seperti halnya semua jaringan ikat terdiri atas unsur sel, serabut

dan substansi dasar. Seperti jaringan ikat lain, rawan berkembang dari

jaringan masenkim yang diturunkan dari mesoderm embrional. Tulang rawan

tidak mengandung pembuluh darah, pembuluh limfa, dan pembuluh saraf.

Karena tidak mengandung pembuluh darah maka makanannya harus

mencapai sel-sel melalui difusi dari kapiler dalam jaringan penyambung di

dekatnya atau melalui cairan Synovial dari cavum sendi (Arman, 2016).

1.1 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari praktikum ini adalah bagaimana struktur

histologis jaringan tulang?

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah mempelajari struktur

histologis jaringan tulang.

2
1.3 Manfaat

Adapun manfaat dari praktikum ini agar mahasiswa mampu mengetahui

struktur histologis jaringan tulang.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Tulang

Tulang adalah bagian organ kaku yang merupakan bagian dari kerangka

tulang belakang pada manusia. Tulang ini juga berperan menopang serta

melindungi berbagai organ tubuh dan memproduksi sel darah merah & putih.

Jaringan tulang yakni merupakan jaringan yang terdiri atas sel-sel

tulang/Oesteon yang tersimpan dalam matriks. Adapun matriks ini terdiri dari

zat pelekat kolagen serta endapan garam mineral, garam kapur dan juga

kalsium. Selain itu, Jaringan tulang juga yakni ialah jenis jaringan ikat padat.

Tulang ini sendiri memiliki bermacam-macam bentuk dan ukuran & memiliki

struktur internal serta seksternal kompleks (Ahmad, 2011).

2.2 Fungsi Jaringan Tulang

Peran tulang sangatlah pentingbagi makhluk hidup baik itu manusia

maupun hewan, Adapun fungsi dari tulang yakni :

1. Sebagai Pendukung

Fungsi Jaringan tulang yakni sebagai pendukung serta memberikan

lampiran pada sebagian besar otot pada rangka manusia maupun hewan.

2. Memberi Perlindungan

Fungsi jaringan tulang yang mana dapat membentuk rangka tubuh

dan juga memberikan perlindungan mekanis pada organ tubuh lainnya,

dan dengan adanya jaringan tulang yang semacam ini dapat mengurangi

risiko cedera (George, 1999).

4
3. Membantu Dalam Bergerak

Rangka yang melekat di jaringan tulang akan berkontraksi yang

mana dengan adanya hal itu dapat memudahkan manusia dalam bergerak.

4. Menyimpan Mineral

Jaringan tulang dapat menyimpan mineral, termasuk kalsium “Ca”

& fosfor “P”. Selanjutnya jaringan tulang ini melepaskan mineral ke dalam

darah dan dengan begitu akan terjadinya keseimbangan mineral dalam

tubuh (George, 1999).

5. Memproduksi Sel-Sel Darah Merah

Dalam hal ini proses produksi sel darah merah akan berlangsung di

sumsum tulang merah pada beberapa tulang yang memiliki ukuran lebih

besar.

6. Menyimpan Energi Kimia

Seiring dengan bertambahnya usia, tentunya akan terjadi perubahan

sumsum tulang dari sumsum tulang merah akan menjadi sumsum tulang

kuning. Adapun sumsum tulang kuning terdiri atas sel-sel adiposa &

sedikit sel-sel darah. Jadi disinilah tempat penyimpanan cadangan energi

kimia yang penting bagi manusia (George, 1999).

2.3 Lapisan-Lapisan Jaringan Tulang

Berikut ini adalah lapisan-lapisan jaringan tulang, yakni :

1. Peristoneum

Peristoneum merupakan lapisan yang terluar tulang yang terdiri dari

2 lembar jaringan ikat. Adapun kedua lembaran itu yakni lembaran luar

5
yang berupa jaringan ikat fibrosa rapat dan lembaran dalam yang berupa

jaringan ikat fibrosa rapat, lembaran dalam berupa 1 lapis osteoblas (sel

pembentuk jaringan tulang) yang sifatnya osteogenik (membentuk tulang).

Peristoneum ini sendiri mengandung pembuluh darah serat Sharpey yakni

serat jaringan ikat untuk mengikatkan peristoneum pada tulang. Adapun

fungsi dari peristoneum yakni sebagai tempat melekatnya otot-otot rangka,

menyuplai nutrisi guna pertumbuhan tulang, serta memperbaiki jaringan

tulang yang rusak (Gunawijaya, 1994).

2. Tulang kompak (compact bone)

Tulang Kompak yakni adalah jaringan lapisan yang teksturnya halus

namun padat, sedikit berongga, dan kuat. Tulang kompak ini sendiri di

dalamnya banyak terkandung zat kapur kalsium fosfat & kalsium karbonat

inilah yang menjadikan tulang ini menjadi padat dan kuat. Tetapi tulang

kompak yang ada pada bayi atau anak-anak banyak mengandung serat

sehingga bersifat lentur.

3. Tulang spons (spongy bone)

Tulang spons adalah lapisan yang teksturnya berongga serta berisi

sumsum merah. Adapun tulang spons tersusun atas trabekula berupa kisi-

kisi tipis tulang.

4. Endosteum

Endosteum yakni merupakan jaringan ikat areolar vaskuler yang

melapisi rongga sumsum tulang (Yusminah, 2001).

6
5. Sumsum tulang

Sumsum tulang yakni adalah lapisan yang paling dalam yang

berbentuk seperti jeli, yang berfungi untuk memproduksi sel-sel darah

merah dan darah putih serta keping darah. Pada tulang panjang ada bagian

yang disebut dengan diafisis (batang) efipisis (ujung tulang yang

membesar). Adapun diafsis ini tersusun atas tulang kompak yang

berbentuk silinder tebal berisi sumsum. Sedangkan Epifisis ini tersusun

dari tulang spons yang di tersususn atas tulang kompak dan di lapisi tulang

rawan persendian (hialin), Pada bagian epifisis & diafisis terdapat

metafisis. Kemudian diantara metafisis & epifisis terdapat cakram epifisis.

Adapun arti Cakram epifisis ini yakni bagian tulang yang memiliki

kemampuan untuk tumbuh (Yusminah, 2001).

2.4 Ciri-Ciri Tulang Keras

Adapun ciri-ciri dari tulang keras yaitu:

1. Mempunyai bentuk kaku dan keras

2. Sifatnya mudah patah

3. Zat perekat sedikit

4. Zat kapur dan fosfor adalah penyusunnya

5. Susunan sel tulang membentuk lingkaan yang berlapis

2.5 Contoh Tulang Keras

Didalam manusia, terdapat tulang keras yang bisa ditemui sebagai

penyusun rangka tubuh, yaitu meliputi tulang aksial atau tulang sumbu yang

meliputi tenkorak, rusuk, dada, dan ruas tulang belakang. Contoh lainnya

7
adalah pada tulang spons yang terdiri atas tulang pipih dan tulang pendek.

Dan untuk pada tulang kompak yang contohnya seperti tulang jari tangan,

tulang selangka, tulang paha, tulang telapak kaki, tulang ruas jari kaki.

8
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Adapun praktikum Sitohistoteknologi tentang Jaringan Tulang

dilaksanakan dalam Laboratorium Kimia Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina

Mandiri Gorontalo pada hari Selasa, 24 Septemeber 2019, Pukul 15.00 –

selesai WITA.

3.2 Alat

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu mikroskop,

sediaan preparat jaringan hard bone.

3.3 Prosedur kerja

Adapun prosedur kerja yang dilakukan, sebagai berikut:

1. Menyiapkan sediaan preparat jaringan hard bone

2. Amati dibawah mikroskop

9
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Hasil dari praktikum yang telah dilakukan, yaitu sebagai berikut:

4.1.1 Tabel Hasil Pengamatan Jaringan Hard Bone

No. Gambar Keterangan

1. Pengamatan dengan

menggunakan

pembesaran 40x,

terlihat kaku dan

keras

Jaringan Hard Bone

4.2 Pembahasan

Menurut adam (2019) dalam skripsinya Tulang adalah suatu jaringan

ikat vaskular terdiri atas sel-sel dan zat antar sel yang mengalami kalsifikasi,

seperti tulang padat (tulang kompakta) dan seperti spons (tulang spongiosa).

Tulang juga mempunyai banyak fungsi sebagai penyokong, pelindung,

penyimpan mineral pada ujung-ujung persendian dimana tulang rawan sebagai

pelapis yang khusus untuk mempermudah pergerakan.

Tulang adalah organ kaku yang merupakan bagian dari endoskeleton

vertebrata. Mereka bergerak, dukungan, dan melindungi berbagai organ

tubuh, memproduksi sel darah merah dan putih dan mineral toko. Jaringan

tulang adalah jenis jaringan ikat padat. Bones datang dalam berbagai bentuk

10
dan memiliki struktur internal dan eksternal yang kompleks, yang ringan

namun kuat dan keras, dan melayani beberapa fungsi. Salah satu jenis

jaringan yang membentuk tulang adalah jaringan osseous termineralisasi, juga

disebut jaringan tulang, yang memberikan kekakuan dan sarang lebah-seperti

struktur internal tiga-dimensi.

Menurut (Endah, 2014) tulang keras mengandung serat kolagen dan

beberapa senyawa organik. Klasifikasi tulang keras mengakibatkan adanya

senyawa kalsium karbonat dan kalsium fosfat dalam matriks tulang keras dan

dengan adanya kalsifikasi tersebut juga menyebabkan matriks tulang keras

menjadi padat dan juga kuat yang membedakannya dengan tulang rawan

(kartilago).

Dalam praktikum ini, dilakukan pengamatan dengan menggunakan

perbesaran 40x untuk melihat susunan jaringan tulang keras. Preparat awetan

yang diamati adalah preparat awetan tulang keras (hard bone). Bentuknya

seperti serabut. Sel tulang keras merupakan jaringan ikat yang kaku, keras,

dengan serabut kolagen yang tertanam di dalam matriks. Di dalam matriks sel

tulang terdapat kalsium yang dapat bergerak dan diserap oleh darah. Hal ini

merupakan peran penting tulang dalam proses homeostasis kadar kalsium

dalam darah.

11
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari hasil praktikum adalah jaringan tulang keras

atau hard bone memiliki bentuk seperti serabut kaku dan keras..

5.2 Saran

Saran untuk praktikum selanjutnya, mahasiswa dapat melakukan

pembuatan sediaan jaringan di laboratorium luar jika di laboratorium kampus

tidak terdapat alat dan bahannya. Agar mahasiswa dapat mengetahui langsung

cara kerja dan kesulitan dalam pembuatan sediaan.

12
DAFTAR PUSTAKA

13