Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ANAK

KKP(Kurang Kalori Protein)

DISUSUN OLEH :

Kelompok 5

1. Rahmatia A. Ali (1701028)


2. Heybi Waami (1701058)
3. Nuramelia Datuela (1701092)
4. Sri Devi Supu (1701095)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)


MUHAMMADIYAH MANADO
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEMESTER III
TAHUN 2018-2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapakan pada Allah SWT karena dengan ridhon-Nya kami dapat
menyusun serta dapat meyelesaikan makalah ini. Salawat serta salam tak lupa pula kami
ucapkan kepada nabi besar Muhammad SAW beserta pengikut beliau dari dahulu,
sekarang, dan hingga hari akhir nanti.

Ucapan terima kasih tak lupa juga kami ucapkan pada dosen mata kuliah
Keperawatan Anak 1 yang telah memberikan kami bimbingan serta pengajaran kepada
kami sehingga kami dapat menyelesaikan hasil makalah kami ini.

Kami menyadari, meskipun kami telah berusaha dengan sebaik-baiknya dalam


menyelesaikan makalah ini tapi kami mengetahui makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Karena itu kami mohon kritik serta saran yang kira nya dapat
membangun bagi kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini menjadi lebih
baik.

Kami berharap selain untuk memenuhi nilai kami harap dalam Makalah ini juga
dapat bermanfaat bagi teman-teman dan seluruh pembacanya.

Manado, Mei 2019

Kelompok 5
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................i

DAFTAR ISI........................................................................................................ii

BAB I (PENDAHULUAN)

A...................................................................................................................Latar
Belakang ......................................................................................................
B...................................................................................................................Tujua
n....................................................................................................................

BAB II (TINJAUAN TEORI)

A...................................................................................................................Penge
rtian..............................................................................................................
B...................................................................................................................Eteol
ogi ................................................................................................................
C...................................................................................................................Patofi
siologi ..........................................................................................................
D...................................................................................................................Manif
estasi Klinik .................................................................................................
E...................................................................................................................Komp
likasi.............................................................................................................
F....................................................................................................................Pemer
iksaan Penunjang..........................................................................................
G...................................................................................................................Penat
alaksanaan....................................................................................................

BAB III (ASKEP TEORI)

A...................................................................................................................Pengk
ajian .............................................................................................................
B...................................................................................................................Diagn
osa dan Perencanaan keperawatan ..............................................................
C...................................................................................................................Imple
mentasi.........................................................................................................
D...................................................................................................................Evalu
asi ................................................................................................................

BAB IV (PENUTUP)

A...................................................................................................................Kesi
mpulan .........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kurang kalori protein merupakan salah satu masalah gizi masyarakat yang
utama di Indonesia. Upaya untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat telah
dilaksanakan melalui berbagai program perbaikan gizi oleh Departemen Kesehatan
bekerja sama dengan masyarakat. Menurut Survai Kesehatan tahun 1986 angka
kejadian gizi buruk pada anak balita 1,72% dan gizi kurang sebanyak 11,4.
Penderita gizi buruk yang paling banyak dijumpai ialah tipe marasmus. Arif di
RS. Dr. Sutomo Surabaya mendapatkan 47% dan Barus di RS Dr. Pirngadi Medan
sebanyak 42%. Hal ini dapat dipahami karena marasmus sering berhubungan dengan
keadaan kepadatan penduduk dan higiene yang kurang di daerah perkotaan yang
sedang membangun dan serta terjadinya krisis ekonomi di ludonesia.
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Tujuan umum dari pembahasan materi ini penulis berharap agar kita semua,
khususnya para pembaca dapat memahami tentang masalah kekurangan kalori dan
protein pada anak.
2. Tujuan khusus
 Menjelaskan pengertian kurang kalori dan protein.
 Menjelaskan etiologi kurang kalori dan protein.
 Menjelaskan patofisiologi kurang kalori dan protein.
 Menjelaskan tanda dan gejala kurang kalori dan protein.
 Menjelaskan Askep kurang kalori dan protein.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
KURANG KALORI DAN PROTEIN (KKP)
A. . Pengertian
Kurang kalori dan protein ini terjadi karena ketidakseimbangan antara
konsumsi kalori atau karbohidrat dan protein dengan kebutuhan energi atau terjadinya
defisiensi atau defisit energi dan protein. Pada umumnya penyakit ini terjadi pada
anak balita karena pada umur tersebut anak mengalami pertumbuhan yang pesat.
Apabila konsumsi makanan tidak seimbang dengan kebutuhan kalori maka akan
terjadi defisiensi tersebut (kurang kalori dan protein).

Penyakit ini dibagi dalam tingkat-tingkat, yakni :


a. KKP ringan, kalau berat badan anak mencapai 84-95 % dari berat badan.
b. KKP sedang, kalau berat badan anak hanya mencapai 44-60 % dari berat badan.
c. KKP berat (gizi buruk), kalau berat badan anak kurang dari 60% dari berat badan.

Beberapa ahli hanya membedakan antara 2 macam kkp saja, yakni kkp ringan
atau gizi kurang dan kkp berat (gizi buruk) atau lebih sering disebut marasmus
(kwashiorkor). Anak atau penderita marasmus ini tampak sangat kurus, berat badan
kurang dari 60% dari berat badan ideal menurut umur, muka berkerut seperti orang
tua, apatis terhadap sekitarnya, rambut kepala halus dan jarang berwarna kemerahan.
Penyakit kkp pada orang dewasa memberikan tanda-tanda klinis : oedema atau
honger oedema (ho) atau juga disebut penyakit kurang makan, kelaparan atau busung
lapar. Oedema pada penderita biasanya tampak pada daerah kaki.
B. Etiologi
Kurang kalori protein yang dapat terjadi karena
1. Diet yang tidak cukup
2. Kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan
orangtua-anak terganggu,karena kelainan metabolik, atau malformasi
congenital
3. Pada bayi dapat terjadi karena tidak mendapat cukup ASI dan tidak
diberi makanan penggantinya atau sering diserang diare.

C. Patofisiologi
Kurang kalori protein akan terjadi manakala kebutuhan tubuh akan
kalori,
protein, atau keduanya tidak tercukupi oleh diet. Dalam keadaan kekuranga
makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi
kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat,
protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan
kehidupan, karbohidrat (glukosa) dapat dipaka oleh seluruh jaringan tubuh sebagai
bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat
sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan.
Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan
menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan ginjal.
Selam puasa jaringan lemak dipecah menjadi asam lemak, gliserol dan keton bodies.
Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energy
kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri
jangan sampai memecah protein lagi seteah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh.

D. Manifestasi Klinik
1. Badan kurus kering tampak seperti orangtua
2. Abdomen dapat kembung dan datar. BB menurun
3. Terjadi atropi otot dengan akibat hipotoni.
4. Suhu biasanya normal, nadi mungkin melambat,
5. Kulit keriput (turgor kulit jelek)
6. Ubun-ubun cekung pada bayi
7. Jaingan subkutan hilang
8. Malaise
9. Kelaparan
10. Apatis

E. Komplikasi
1. Infeksi
2. Kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung
3. Malabsorpsi
4. Gangguan metabolik
5. Penyakit ginjal menahun
6. Gangguan pada saraf pusat.
7. Gangguan asupan vitamin dan mineral.
8. Anemia gizi

F. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan fisik
2. Pemeriksaan laboratorium
3. Pemeriksaan laboratorium meliputi: albumin, kreatinin, nitrogen,
4. elektrolit, Hb, Ht, tdan ransferin
5. Pemeriksaan radiologis

G. Penatalaksanaan
a. Keadaan ini memerlukan diet yang berisi jumlah cukup protein yang kualitas
biologiknya baik. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin.
b. Pemberian terapi cairan dan elektrolit.
c. Penatalaksanaan segera setiap masalah akut seperti masalah diare berat.
d)Pengkajian riwayat status sosial ekonomi, kaji riwayat pola makan, pengkajian
antropometri, kaji manifestasi klinis, monitor hasil laboratorium, timbang berat
badan, kaji tanda-tanda vital.
 Penanganan KKP berat
Secara garis besar, penanganan KKP berat dikelompokkan menjadi pengobatan awal
dan rehabilitasi. Pengobatan awal ditujukan untuk mengatasi keadaan yang
mengancam jiwa, sementara fase rehabilitasi diarahkan untuk memulihkan keadaan
gizi. Upaya pengobatan, meliputi :
Pengobatan/pencegahan terhadap hipoglikemi, hipotermi, dehidrasi.
Pencegahan jika ada ancamanperkembangan renjatan septik
Pengobatan infeksi
Pemberian makanan
Pengidentifikasian dan pengobatan masalah lain, seperti kekurangan vitamin,
anemia berat dan payah jantung.

BAB III
Asuhan keperawatan

a. Pengkajian
1. Data biologis meliputi :
Identitas klien
Identitas penanggung
2. Riwayat kesehatan :
a) Riwayat kesehatan dahulu
Apakah dahulu si anak memiliki gangguan nutrisi,
b) Riwayat kesehatan sekarang
Pada umumnya anak masuk rumah sakit dengan keluhan gangguan pertumbuhan
(berat badan semakin lama semakin turun), bengkak pada tungkai, sering diare dan
keluhan lain yang menunjukkan terjadinya gangguan kekurangan gizi.
c) Riwayat keluarga Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan
rumah dan komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan
hubungan angota keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat
mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.
3. Pengkajian fisik :
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan
komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota
keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan,
persepsi keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.Pengkajian secara umum
dilakukan dengan metode head to too yang meliputi: keadaan umum dan status
kesadaran, tanda-tanda vital, area kepala dan wajah, dada, abdomen, ekstremitas dan
genito-urinaria.
4. Fokus pengkajian pada anak dengan Marasmik-Kwashiorkor adalah pengukuran
antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkaran lengan atas dan tebal lipatan kulit).
Tanda dan gejala yang mungkin didapatkan. Adalah:
 Penurunan ukuran antropometri
 Perubahan rambut (defigmentasi, kusam, kering, halus, jarang
dan mudah dicabut)
 Gambaran wajah seperti orang tua (kehilangan lemak pipi),
edema palpebra
 Tanda-tanda gangguan sistem pernapasan (batuk, sesak,
ronchi,retraksi otot intercostal)
 Perut tampak buncit, hati teraba membesar, bising usus dapat
meningkat bila terjadi diare.
 Edema tungkai
 Kulit kering, hiperpigmentasi, bersisik dan adanya crazy
pavement dermatosis terutama pada bagian tubuh yang sering tertekan
(bokong, fosa popliteal, lulut, ruas jari kaki, paha dan lipat paha)

b. Diagnosa keperawatan
1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
makanan tidak adekuat (nafsu makan berkurang).
Tujuan : Pasien mendapat nutrisi yang adekuat
Kriteria hasil :
1. Meningkatkan masukan oral
2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi
3. Nafsu makan meningkat

Intervensi Rasional
 Dapatkan riwayat diet  Riwayat diet untuk data klien
 Dorong orangtua atau anggota  Sebagai suport untuk anak
keluarga lain untuk menyuap anak sewaktu makan
atau ada disaat makan
 Untuk menambah semangat
 Gunakan alat makan yang
makan si anak
dikenalnya
 Menggunakan alat makan
 Sajikan makansedikit tap sering
yang di kenal oleh si anak
akan menambah semangat
anak untuk makan
 Sajikan porsi kecil makanan dan
 Untuk memenuhi keb nutrisi si
berikan setiap porsi secara terpisah
anak

2. Defisit volume cairan berhubungan dengan diare.


Tujuan : Tidak terjadi dehidrasi
Kriteria hasil :
1. Mukosa bibir lembab
2. Tidak terjadi peningkatan suhu
3. Turgor kulit baik
Intervensi Rasional
 Monitor tanda-tanda vital dan  Untuk mengetahui TTV dan
tandatanda dehidrasi tanda dehidrasi si anak
 Monitor jumlah dan tipe masukan  Untuk mengetahui cairan pada
cairan anak
 Ukur haluaran urine dengan akurat  Untuk mengetahui
keseimbangan antara input
dan output

3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan nutrisi/status metabolik.


Tujuan : Tidak terjadi gangguan integritas kulit
Kriteria hasil :
1. Kulit tidak kering
2. Kulit tidak bersisik,
3. Elastisitas normal

Intervensi Rasional
 Monitor kemerahan,  Mencegah terjadinya
pucat,ekskoriasi kerusakan pada kulit
 Dorong mandi 2x sehari dan  Mandi dapat menjaga
gunakan lotion setelah mandi kebersihan kulit
 Massage kulit Kriteria hasil ususnya  Massage dapat mencegah
diatas penonjolan terjadinya kerusakan kulit
Tulang
 Alih baring  Baring yang sering akan
mengakibatkan penekanan
pada kulit

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kerusakan pertahanan tubuh


Tujuan : Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
Kriteria hasil:
1. Suhu tubuh normal
2. Lekosit dalam batas normal

Intervensi Rasional
 Mencuci tangan sebelum dan  Tangan yamg bersih akan
sesudah melakukan tindakan terhindar dari kuman
 Pastikan semua alat yang kontak  Alat yang bersih/steril tidak
dengan pasien bersih/steril akan mengakibatkan infeksi
 Instruksikan pekerja perawatan
 Untuk mengurangi resiko
kesehatan dan keluarga dalam
terjadinya infeksi
prosedur kontrol infeksi
 Antibiotik sesuai program
 Antibiotik sbg pengobatan

5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang nya informasi


Tujuan : pengetahuan pasien dan keluarga bertambah
Kriteria hasil:
1. Menyatakan kesadaran dan perubahan pola hidup
2. Mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala.
Intervensi Rasional
 Tentukan tingkat pengetahuan  Pengetahuan orang tua pasien
orangtua pasien mempengaruhi perawatan
pasien
 Mengkaji kebutuhan diet dan jawab
 Jawaban sesuai indikasi agar
pertanyaan sesua indikasi
tidak membingungkan
 Konsumsi makanan tinggi serat dan
orangtua pasien
masukan cairan adekuat
 Untuk memenuhi kebutuhan
 Berikan informasi tertulis untuk
orangtua pasien nutrisi pasien
 Menambah wawasan orangtua
klien dalam perawatan pasien
C. Implementasi
Implementasi dilakukan berdasarkan pengkajian diagnosa keperawatan
dan intervensi.
D. Evaluasi
Evaluasi dilakukan berdasarkan pengkajian, diagnosa keperawatan
intervensi dan implementasi.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kurang kalori dan protein ini terjadi karena ketidakseimbangan antara
konsumsi kalori atau karbohidrat dan protein dengan kebutuhan energi atau terjadinya
defisiensi atau defisit energi dan protein. Pada umumnya penyakit ini terjadi pada
anak balita karena pada umur tersebut anak mengalami pertumbuhan yang pesat.
Apabila konsumsi makanan tidak seimbang dengan kebutuhan kalori maka akan
terjadi defisiensi tersebut (kurang kalori dan protein).
Beberapa ahli hanya membedakan antara 2 macam KKP saja, yakni KKP
ringan atau gizi kurang dan KKP berat (gizi buruk) atau lebih sering disebut
marasmus (kwashiorkor). Anak atau penderita marasmus ini tampak sangat kurus,
berat badan kurang dari 60% dari berat badan ideal menurut umur, muka berkerut
seperti orang tua, apatis terhadap sekitarnya, rambut kepala halus dan jarang
berwarna kemerahan.

DAFTAR PUSTAKA
www. Google.com/ Askep kurang kalori protein_akses 10 mar 09
www. Google.com/ Askep marasmus dan kwasiokor_akses 10 mar 09
Doenges, Marilynn. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan; pedoman
untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien: Jakarta :
EGC.