Anda di halaman 1dari 31

REFERAT

TUMOR PARU

Disusun oleh :
RizkyYhulianti Safitri
030.12.238

Pembimbing :
dr. Paralam S, Sp.Rad (K) RI, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI

RS ANGKATAN LAUT DR. MINTOHARDJO JAKARTA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

PERIODE 23 SEPTEMBER – 25 OKTOBER 2019


LEMBAR PENGESAHAN

Referat dengan judul

Tumor Paru

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan Kepanitraan Klinik


Ilmu Radiologi di

RS Angkatan Laut Mintohardjo Jakarta 23 September – 25 Oktober 2019

Disusun oleh:

RizkyYhulianti Safitri

030.12.238

Telah diterima dan disetujui oleh dr. Paralam S, Sp.Rad (K) RI, M.Kes
selaku dokter pembimbing Departemen Ilmu Radiologi RS Angkatan Laut
Mintohardjo Jakarta

Jakarta, Oktober 2019


Mengetahui,

dr. Paralam S, Sp.Rad (K) RI, M.Kes

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah S.W.T dan Baginda Rasulullah
Muhammad S.A.W karena berkah dan ridho-Nya yang begitu besar sehingga
penulis dapat menyelesaikan penyusunan referat yang berjudul “Tumor Paru”
pada kepaniteraan klinik departemen ilmu radiologi.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai
pihak yang telah membantu dalam penyusunan dan penyelesaian makalah ini,
terutama kepada dr. Paralam S, Sp.Rad (K) RI, M.Kes selaku pembimbing yang
telah memberikan waktu dan bimbingannya sehingga makalah referat ini dapat
terselesaikan.
Dengan segala keterbatasan yang ada, penulis menyadari bahwa referat ini
masih belum sempurna, oleh karena itu segala saran dan kritik penulis harapkan
untuk menyempurnakan referat ini di kemudian hari. Terlepas dari segala
keterbatasan yang ada penulis berharap semoga referat ini dapat bermanfaat bagi
yang membacanya.

Jakarta, Oktober 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. i


KATA PENGANTAR… .............................................................................. ..ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1
1.1 LATAR BELAKANG ................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................... 3
2.1 DEFINISI .................................................................................... 3
2.2 ETIOLOGI ................................................................................... 3
2.3 PATOFISIOLOGI ........................................................................ 5
2.4 MANIFESTASI KLINIS .............................................................. 5
2.5 KLASIFIKASI ............................................................................. 6
2.6 DIAGNOSIS ................................................................................. 9
2.7 DIAGNOSIS BANDING ........................................................... 15
2.8 PENATALAKSANAAN ............................................................ 15
2.9 PROGNOSIS .............................................................................. 18
2.10 PENCEGAHAN ......................................................................... 20
BAB III KESIMPULAN ......................................................................... 22
BAB IV DAFTAR PUSTAKA ............................................................... 23

iii
BAB I
PENDAHULUAN

Tumor adalah neoplasma pada jaringan yaitu pertumbuhan jaringan baru


yang abnormal. Paru merupakan organ elastis berbentuk kerucut dan letaknya
didalam rongga dada. Jenis tumor paru dibagi untuk tujuan pengobatan, meliputi
SCLC (Small Cell Lung Cancer) dan NSLC (Non Small Cell Lung
1,2,3
Cancer/Karsinoma Skuamosa, adenokarsinoma, karsinoma sel besar). Tumor
paru merupakan abnormalitas dari sel – sel yang mengalami proliferasi dalam paru.
Kanker paru merupakan keganasan pada jaringan paru. Karsinoma bronkogenik
adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas.4,5
Pada umumnya tumor paru terbagi atas tumor jinak (5%) antara lain
adenoma, hamartoma dan tumor ganas (90%) adalah karsinoma bronkogenik.
Kanker paru atau Karsinoma bronkus, tumor primer paru yang paling sering hampir
95%. Prevalensi kanker paru di negara maju sangat tinggi, di Amerika tahun 2002
dilaporkan terdapat 169.400 kasus baru (merupakan 13% dari semua kanker baru
yang terdiagnosis) dengan 154.900 kematian (merupakan 28 % dari seluruh akibat
kanker), di Inggris prevalensi kejadiannya mencapai 40.000/tahun, sedangkan di
Indonesia menduduki peringkat 4 kanker terbanyak, di RS Kanker Dharmais, Jakarta
tahun 2008 menduduki urutan ke 3 sesudah kanker payudara dan leher rahim.3
Tumor paru memerlukan penanganan dan tindakan yang cepat dan terarah.
Penegakan diagnosis penyakit ini membutuhkan ketrampilan dan sarana yang tidak
sederhana dan memerlukan pendekatan multidisiplin kedokteran. Penyakit ini
membutuhkan kerja sama yang erat dan terpadu antara ahli paru dengan ahli
radiologi, ahli patologi anatomi, ahli radiologi terapi dan ahli bedah toraks, ahli
rehabilitasi dan ahli-ahli lainnya.4,5

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Paru

Paru-paru adalah organ pada sistem pernapasan (respirasi) dan berhubungan


dengan sistem peredaran darah (sirkulasi). Fungsinya adalah menukar oksigen
dari udara dengan karbon dioksida dari darah. Paru-paru terdiri dari organ-organ
yang sangat kompleks. Bernapas terutama digerakkan oleh otot diafragma (otot
yang terletak antara dada dan perut). Saat menghirup udara, otot diafragma akan
mendatar, ruang yang menampung paru-paru akan meluas. Begitu pula
sebaliknya, saat menghembuskan udara, diafragma akan mengerut dan paru-
paru akan mengempis mengeluarkan udara. 1,2
Akibatnya, udara terhirup masuk dan terdorong keluar paru-paru melalui
trakea dan tube bronchial atau bronchi, yang bercabang-cabang dan ujungnya
merupakan alveoli, yakni kantung-kantung kecil yang dikelilingi kapiler yang
berisi darah. Di sini oksigen dari udara berdifusi ke dalam darah, dan kemudian
dibawa oleh hemoglobin. Selama hidup paru kanan dan kiri lunak dan
berbentuk seperti spons dan sangat elastic. Jika rongga thorax dibuka volume
paru akan segera mengecil sampai 1/3 atau kurang. Paru-paru terletak di
samping kanan dan kiri mediastinum. Paru satu dengan yang lain dipisahkan
oleh jantung dan pembuluh-pembuluh besar serta struktur lain di dalam
mediastinum. Masing-masing paru berbentuk kerucut dan diliputi oleh pleura
visceralis, dan terdapat bebas di dalam cavitas pleuralis masing-masing, hanya
dilekatkan pada mediastinum oleh radix pulmonalis. 1,2

2
Gambar 1. Lobus Paru Dextra dan Sinistra

Gambar 2. Segmen Paru Dextra dan Sinistra

3
Gambar 3. Gambaran Radiologi Paru Normal

 Fisiologi Paru
Fungsi utama pernapasan :
 Memperoleh O2 agar dapat digunakan oleh sel-sel tubuh.
 Mengeliminasi CO2 yang dihasilkan oleh sel.
Proses pernapasan dibagi menjadi dua :
 Respirasi internal
Proses metabolik intraseluler yang terjadi di mitokondria meliputi
konsumsi O2 dan produksi CO2 selama pengambilan energi dari
molekul-molekul nutrient
 Respirasi eksternal :
Proses pertukaran O2 dan CO2 antara sel-sel dalam tubuh dengan
lingkungan luar.

Proses respirasi eksternal terdiri atas :


1. Pertukaran O2 dan CO2 antara udara luar ( udara dalam atmosfer )
dengan udara dalam alveol paru. Hal ini melalui aksi mekanik

4
pernapasan disebut ventilasi . Kecepatan ventilasi diatur sesuai
dengan kebutuhan ambilan O2 dan pembentukan CO2 dalam tubuh.
2. Pertukaran O2 dan CO2 antara udara alveol dengan darah
dipembuluh kapiler paru melalui proses difusi.
3. Pengangkutan O2 dan CO2 oleh sistem peredaran darah dari paru ke
jaringan dan sebaliknya.
4. Pertukaran O2 dan CO2 dalam pembuluh darah dengan sel-sel
jaringan melalui proses difusi.

Gambar 4. Proses respirasi luar

2.2 Tumor Paru


2.2.1 Definisi Tumor Paru
Tumor adalah neoplasma pada jaringan yaitu pertumbuhan jaringan
baru yang abnormal. Paru merupakan organ elastis berbentuk kerucut
dan letaknya didalam rongga dada. Jenis tumor paru dibagi untuk tujuan
pengobatan, meliputi SCLC (Small Cell Lung Cancer) dan NSLC (Non
Small Cell Lung Cancer/Karsinoma Skuamosa, adenokarsinoma,
karsinoma sel besar).
Kanker paru adalah tumor berbahaya yang tumbuh diparu, sebagian
besar kanker paru berasal dari sel-sel didalam paru tapi dapat juga
berasal dari bagian tubuh lain yang terkena kanker. Tumor paru

5
merupakan abnormalitas dari sel – sel yang mengalami proliferasi dalam
paru. Kanker paru merupakan keganasan pada jaringan paru. Karsinoma
bronkogenik adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran
napas.

2.2.2 Etiologi Tumor Paru


Meskipun etiologi sebenarnya dari kanker paru belum diketahui, tetapi
ada beberapa faktor yang agaknya bertanggung jawab dalam
peningkatan insiden kanker paru:
a. Merokok
Suatu hubungan statistik yang defenitif telah ditegakkan antara
perokok berat (lebih dari dua puluh batang sehari) dari kanker paru
(karsinoma bronkogenik). Perokok seperti ini mempunyai
kecenderung sepuluh kali lebih besar dari pada perokok ringan.
Selanjutnya orang perokok berat yang sebelumnya dan telah
meninggalkan kebiasaannya akan kembali ke pola resiko bukan
perokok dalam waktu sekitar 10 tahun. Hidrokarbon karsinogenik
telah ditemukan dalam tembakau rokok yang jika dikenakan pada
kulit hewan, menimbulkan tumor.
b. Radiasi.
Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di
Schneeberg dan penambang radium di Joachimsthal (lebih dari 50
% meninggal akibat kanker paru) berkaitan dengan adanya bahan
radioaktif dalam bentuk radon. Bahan ini diduga merupakan agen
etiologi operatif.
c. Kanker paru akibat kerja
Terdapat insiden yang tinggi dari pekerja yang terpapar dengan
karbonil nikel (pelebur nikel) dan arsenic (pembasmi rumput).
Pekerja pemecah hematite (paru-paru hematite) dan orang-orang
yang bekerja dengan asbestos dan dengan kromat juga mengalami
peningkatan insiden.

6
d. Polusi udara
Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang
lebih tinggi dari pada mereka yang tinggal di desa dan walaupun
telah diketahui adanya karsinogen dari industri dan uap diesel
dalam atmosfer di kota.
e. Genetik
Terdapat perubahan/mutasi beberapa gen yang berperan dalaM
kanker paru, yakni:
1. Proton oncogen.
2. Tumor suppressor gene.
3. Gene encoding enzyme.
f. Diet
Dilaporkan bahwa rendahnya konsumsi betakaroten, selenium dan
vitamin A menyebabkan tingginya resiko terkena kanker paru.

2.2.3 Patofisiologi Tumor Paru


Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/subbronkus
menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan
karsinogen. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan
metaplasia, hyperplasia dan displasia. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh
metaplasia, hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura, biasa timbul
efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus
vertebra. Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus
yang terbesar. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan
diikuti dengan supurasi di bagian distal. Gejala-gejala yang timbul dapat
berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam, dan dingin. Wheezing
unilateral dapat terdengan pada auskultasi.

Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya


metastase, khususnya pada hati. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur-

7
struktur terdekat seperti kelenjar limfe, dinding esofagus, pericardium, otak, tulang
rangka.
Sebab-sebab keganasan tumor masih belum jelas, tetapi virus, faktor
lingkungan, faktor hormonal dan faktor genetik semuanya berkaitan dengan resiko
terjadinya tumor. Permulaan terjadinya tumor dimulai dengan adanya zat yang
bersifat intiation yang merangasang permulaan terjadinya perubahan sel.
Diperlukan perangsangan yang lama dan berkesinambungan untuk memicu
timbulnya penyakit tumor.
Intiation agen biasanya bisa berupa unsur kimia, fisik atau biologis yang
berkemampuan bereaksi langsung dan merubah struktur dasar dari komponen
genetik (DNA). Keadaan selanjutnya diakibatkan keterpaparan yang lama ditandai
dengan berkembangnya neoplasma dengan terbentuknya tumor, hal ini berlangsung
lama mingguan sampai tahunan.
Kanker paru bervariasi sesuai tipe sel daerah asal dan kecepatan
pertumbuhan. Empat tipe sel primer pada kanker paru adalah karsinoma epidermoid
(sel skuamosa). Karsinoma sel kecil (sel oat), karsinoma sel besar (tak
terdeferensiasi) dan adenokarsinoma. Sel skuamosa dan karsinoma sel kecil
umumnya terbentuk di jalan napas utama bronkial. Karsinoma sel kecil umumnya
terbentuk dijalan napas utama bronkial. Karsinoma sel besar dan adenokarsinoma
umumnya tumbuh dicabang bronkus perifer dan alveoli. Karsinoma sel besar dan
karsinoma sel oat tumbuh sangat cepat sehingga mempunyai progrosis buruk.
Sedangkan pada sel skuamosa dan adenokar. Paru merupakan organ yang elastis,
berbentuk kerucut dan letaknya di dalam rongga dada atau toraksinoma prognosis
baik karena pertumbuhan sel ini lambat.

2.2.4 Klasifikasi Tumor Paru


a. Tumor Jinak Paru

8
Tumor jinak paru jarang dijumpai, hanya sekitar 2% dari seluruh tumor
paru, biasanya ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan rutin,
karena tumor jinak jarang memberikan keluhan dan tumbuh lambat
sekali. Tumor jinak paru yang sering dijumpai adalah hamartoma. Jenis
tumor jinak lain yang lebih jarang dijumpai adalah fibroma, kondroma,
lipoma, hemangioma, tumor neurogenik, papiloma, leiomiofibroma,
dan lain-lain.
1. Hamartoma
Hamartoma merupakan tumor jinak paru yang pertambahan besarnya berlangsung
dengan sangat lambat. Tumor ini jarang didapati pada anak-anak, biasanya di atas
umur 40 tahun. Sebagian besar (90%) ditemukan di perifer paru dan sebagian lagi
di sentral (endobronkial) dan sering terdapat di beberapa bagian paru (multiple).
Bentuk tumor bulat atau bergelombang (globulated) dengan batas yang tegas.
Biasanya ukuran kurang dari 4 cm dan sering mengandung kalsifikasi berbentuk
bercak-bercak garis atau gambaran pop corn. Kalsifikasi ini akan bertambah dengan
bertambah besarnya tumor. Pembentukan kavitas tidak pernah terjadi. 5

Gambar 5. Hamartoma

9
2. Kista Paru
Terbentuknya kista paru merupakan hiperinflasi udara ke dalam parenkim paru
melalui suatu celah berupa klep akibat suatu peradangan kronis. Kista paru dapat
pula disebabkan kelainan kongenital yang secara radiologik tidak dapat dibedakan
dengan kista paru didapat (akibat peradangan). Gambaran radiologik memberi
bayangan bulat berdinding tipis dengan ukuran bervariasi. Bila kista paru lebih dari
satu dan tersebar di kedua paru dikenal sebagai paru polikistik. 5,6

Gambar 6. Kista Paru

b. Tumor Ganas Paru


Berdasarkan level penyebarannya penyakit kanker paru-paru
terbagi dalam dua kriteria:

1. Kanker paru primer


Memiliki 2 tipe utama, yaitu:
a. Small cell lung cancer (SCLC)

10
SCLC adalah jenis sel yang kecil-kecil (banyak) dan memiliki
daya pertumbuhan yang sangat cepat hingga membesar. Biasanya
disebut “oat cell carcinomas” (karsinoma sel gandum). Tipe ini sangat
erat kaitannya dengan perokok, Penanganan cukup berespon baik
melalui tindakan kemoterapi dan radioterapi.7 Stadium (Stage) SCLC
ada 2 yaitu9:
 Stage terbatas (limited) jika hanya
melibatkan satu sisi paru (hemitoraks)
 Stage luas (extensived) jika sudah meluas
dari satu hemitoraks atau menyebar ke organ
lain
b. Non-small cell lung cancer (NSCLC).
NSCLC adalah merupakan pertumbuhan sel tunggal, tetapi
seringkali menyerang lebih dari satu daerah di paru-paru,7 mencakup
adenokarsinoma, karsinoma sel skuamosa, karsinoma sel besar (Large
Cell Ca) dan karsinoma adenoskuamosa.9
Stage NSLCLC dibagi atas : Stage 0, IA, IB, IIA, IIB, IIIA, IIIB
dan IV yang ditentukan menurut International Staging System for Lung
Cancer 1997, berdasarkan sistem TNM. 9

Stadium TNM

Occult Tx N0 M0
carcinoma Tis N0 M0
0 T1 N0 M0
IA T2 N0 M0
IB T1 N1 M0
IIA T2 N1 M0, T3 N0 M0
IIB T1 N2 M0, T2 N2 M0,
IIIA T3 N1 M0, T3 N2 M0
berapapun T N3 M0,
IIIB T4 berapapun N M0

11
berapapun T berapapun
IV N M1

Kategori TNM untuk Kanker Paru 9:


T : Tumor Primer
To : Tidak ada bukti ada tumor primer
Tx : Tumor primer sulit dinilai, atau tumor primer terbukti dari
penemuan sel tumor ganas pada sekret bronkopulmoner tetapi tidak
tampak secara radiologis atau bronkoskopis.
Tis : Karsinoma in situ
T1 : Tumor dengan garis tengah terbesar tidak melebihi 3 cm,
dikelilingi oleh jaringan paru atau pleura viseral dan secara
bronkoskopik invasi tidak lebih proksimal dari bronkus lobus (belum
sampai ke bronkus utama). Tumor sembarang ukuran dengan
komponen invasif terbatas pada dinding bronkus yang meluas ke
proksimal bronkus utama.
T2 :Setiap tumor dengan ukuran atau perluasan sebagai berikut:
:
- Garis tengah terbesar lebih dari 3 cm
- Mengenai bronkus utama sejauh 2 cm atau lebih distal
dari karina, dapat mengenai pleura viseral
- Berhubungan dengan atelektasis atau pneumonitis
obstruktif yang meluas ke daerah hilus, tetapi belum
mengenai seluruh paru.
T3 : Tumor sembarang ukuran, dengan perluasan langsung
pada dinding dada (termasuk tumor sulkus superior), diafragma, pleura
mediastinum atau tumor dalam bronkus utama yang jaraknya kurang
dari 2 cm sebelah distal karina atau tumor yang berhubungan dengan
atelektasis atau pneumonitis obstruktif seluruh paru.
T4 : Tumor sembarang ukuran yang mengenai mediastinum
atau jantung, pembuluh besar, trakea, esofagus, korpus vertebra, karina,

12
tumor yang disertai dengan efusi pleura ganas atau tumor satelit nodul
ipsilateral pada lobus yang sama dengan tumor primer.
N : Kelenjar getah bening regional (KGB)
Nx : Kelenjar getah bening regional tak dapat dinilai
No : Tak terbukti keterlibatan kelenjar getah bening
N1 : Metastasis pada kelenjar getah bening peribronkial
dan/atau hilus ipsilateral, termasuk perluasan tumor secara
langsung
N2 : Metastasis pada kelenjar getah bening mediatinum
ipsilateral dan/atau KGB subkarina
N3 : Metastasis pada hilus atau mediastinum kontralateral atau
KGB skalenus/supraklavikula ipsilateral/kontralateral
M : Metastasis (anak sebar) jauh
Mx : Metastasis tak dapat dinilai
Mo : Tak ditemukan metastasis jauh
M1 : Ditemukan metastasis jauh. Nodul ipsilateral di luar
lobus tumor primer dianggap sebagai M1

2. Kanker paru sekunder


Merupakan penyakit kanker paru yang timbul sebagai dampak
penyebaran kanker dari bagian organ tubuh lainnya, yang paling sering
adalah kanker payudara dan kanker usus (perut). Kanker menyebar
melalui darah, sistem limpa atau karena kedekatan organ.7

2.2.5 Penegakkan Diagnostik Tumor Paru


a. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Anamnesis yang lengkap dan pemeriksaan fisik yang teliti merupakan
kunci dalam diagnosis yang tepat. Pada fase awal kebanyakkan kanker
paru tidak menunjukkan gejala-gejala klinis. Bila sudah menampakkan
gejala berarti pasien dalam stadium lanjut. Gejala-gejala dapat bersifat:
a. Lokal dan sistemik akibat tumor:

13
1. Batuk baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronis
2. Hemoptisis
3. Dada penuh
4. Dispepsi
5. Demam
6. Gejala sistemik non spesifik: anoreksia, penurunan berat badan,
kakeksia pada stadium lanjut
Segala gejala saluran pernafasan yang tidak sembuh setelah
diobati selama 2 minggu lebih harus diwaspadai kemungkinan
keberadaan karsinoma paru

b. Gejala invasi keluar dan metastasis karsinoma paru


1. Sindrom obstruksi vena kava superior: ini akibat dari karsinoma
paru berlangsung menginvasi atau metastasis kelenjar limfe
mediastinum superior kanan mendesak vena kava superior
2. Sindrom horner: disebabkan karsinoma paru atau metastase
kelenjar limfe mengenai saraf simpatis paravertebra servikal VII
hingga torakal I
3. Sindrom pancoast: tumor lebih lanjut mendistruksi iga I, II dan
saraf pleksus brakialis

Gejala lain invasi dan metastase yang sering ditemukan adalah


mengenai nervus rekuren laringeus timbul suara serak, sebagian
pasien datang dengan keluhan awal ini, metastase otal timbul
sefalgia, muntah, hemiplegia, metastase tulang timbul nyeri menetap
daerah tersebut.

c. Sindrom paraneoplastik: terdapat pada 10% kanker paru, dengan


gejala:

14
1. Sistemik: penurunan berat badan, anoreksia, demam
2. Hematologi: leukositosis, anemia, hiperkoagulasi
3. Hipertrofi osteoartropati
4. Neurologik: dementia, ataksia, tremor, neuropati perifer
5. Neuromiopati
6. Endokrin: sekresi berlebihan hormon paratiroid (hiperkalsemia)
7. Dermatologik: eritema multiform, hiperkeratoisis, jari tabuh
8. Renal: syndrom of inappropriate andiuretic hormone (SIADH)
d. Asimtomatik dengan kelainan radiologik
1. Sering terdapat pada perokok dengan PPOK/COPD yang
terdeteksi secara radiologik
2. Kelainan berupa nodul soliter
2.2.6 Pemeriksaan Penunjang Tumor Paru
a. Radiologi.
1. Foto thorax posterior – anterior (PA) dan leteral
Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi
adanya kanker paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi.
Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus, effuse pleural,
atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra.
2. Bronkhografi
Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.
3. CT-Scanning
Untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.
4. MRI
Untuk menunjukkan keadaan mediastinum.

b. Laboratorium
1. Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe)
Dilakukan untuk mengkaji adanya/ tahap karsinoma.
2. Pemeriksaan fungsi paru dan GDA

15
Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi
kebutuhan ventilasi.
3. Tes kulit, jumlah absolute limfosit
Dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum pada
kanker paru).

c. Histopatologi
1. Bronkoskopi
Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian, dan pembersihan
sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui).
2. Biopsi Trans Torakal (TTB)
Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer
dengan ukuran < 2 cm, sensitivitasnya mencapai 90 – 95 %.
3. Torakoskopi
Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik
dengan cara torakoskopi.
4. Mediastinosopi
Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening
yang terlibat.
5. Torakotomi
Totakotomi untuk diagnostik kanker paru dikerjakan bila bermacam
– macam prosedur non invasif dan invasif sebelumnya gagal
mendapatkan sel tumor.

Pemeriksaan radiologik untuk mencari tumor ganas bermacam-


macam antara lain bronkografi invasif, CT-Scan dengan pesawat
yang canggih, tetapi pemeriksaan radiologik konvesional (toraks
PA, lateral, fluoroskopi) masih tetap mempunyai nilai diagnostik
yang tinggi, meskipun kadang-kadang tumor itu sendiri tidak terlihat
tetapi kelainan sebagai akibat adanya tumor akan sangat dicurigai ke
arah keganasan, misalnya kelainan emfisema setempat, atelektasis,

16
peradangan sebagai komplikasi tumor atau akibat bronkus terjepit
dan pembesaran kelenjar hilus yang unilateral. Efusi pleura yang
progresif dan elevasi diafragma (paralisis nervus frenikus) juga perlu
dipertimbangkan sebagai akibat tumor ganas paru).

1. Atelektasis
Gambaran perselubungan padat akibat hilangnya aerasi yang
disebabkan sumbatan bronkus oleh tumor, dapat terjadi secara
segmental, lobaris, atau seluruh hemitoraks. Gambaran atelektasis yang
disebabkan oleh penyumpatan bronkus lainnya.

Gambar 5. Atelektasis

2. Pembesaran hilus unilateral


Suatu perbedaan besar hilus antara kedua hilus atau perbedaan besar
hilus dengan foto-foto sebelumnya perlu dicurigai adanya suatu tumor
dan perlu penelitian bronkus dengan tomografi atau bronkoskopi.

17
Gambar 6. Pembesaran hilus unilateral

3. Emfisema lokal (setempat)


Penyumbatan sebagian lumen bronkus oleh tumor akan menghambat
pengeluaran udara sewaktu ekspirasi sehingga terjadi densitas yang
rendah atau emfisema setempat dibandingkan daerah lain. Karsinoma
bronkogen jenis anaplastik sering mengenai bronkus utama yang
mengakibatkan pelebaran mediastinum. Keadaan ini sukar dibedakan
dengan limfoma maligna.

Gambar 7. Emfisema lokal (setempat)

4. Kavitas atau abses yang soliter

18
Suatu kavitas soliter dengan tanda infeksi yang tidak berarti terutama
pada orang berusia lanjut, perlu dipikirkan suatu karsinoma bronkogen
jenis epidermoid. Biasanya dinding kavitas tebal dan irregular.

Gambar 8. Foto Thorax Posisi Lateral, tampak adanya cavitas dengan air-fluid level
yang merupakan karakteristik dari abses paru.

5. Pneumonitis yang sukar sembuh


Peradangan paru sering disebabkan aerasi tidak sempurna akibat
sumbatan sebagian bronkus dan pengobatan dengan antibiotik
umumnya tidak memberikan hasil yang sempurna atau berulang
kembali peradangannya. Sering setelah peradangan berkurang, di
daerah peradangan berkurang, di daerah peradangan terlihat gambaran
massa yang sangat dicurigai sebagai keganasan paru.

6. Nodul soliter pada paru


Bayangan nodul pada paru berukuran beberapa milimeter sampai 4 cm
atau lebih dan tidak mengandung kalsifikasi harus diutamakan pada
kecurigaan sebagai karsinoma bronkogen terutama pada usia di atas 40
tahun.

19
Bayangan nodul sering menjadi masalah perdebatan dalam hal
menentukan keganasan. Ada pendapat mengatakan bahwa sifat nodul
yang ganas batasnya tidak jelas, apalagi berbenjol-benjol atau adanya
nodul-nodul kecil sekitarnya sebagai gambaran satelit atau adanya
gambaran kaki-kaki infiltrasi yang berasal dari nodul tersebut
(pseudopodi).

Gambar 9. Bentuk nodul dengan kaki (pseudopodi)


Bercak kalsifikasi dalam nodul sering dinyatakan sebagai proses jinak.
Bila suatu nodul tidak terlihat adanya kalsifikasi, maka perlu dilakukan
pemeriksaan tomografi untuk memastikan adanya kalsifikasi di
dalamnya; tetapi nodul yang ganas bisa berkalsifikasi di dalamnya.
Keadaan ini dapat terjadi bila tumor ganas tumbuh sekitar sisa proses
peradangan lama atau sisa efek primer (Ghon tubercle). Dapat pula
terjadi pada tumor ganas yang memang mengalami kalsifikasi,
meskipun keadaan ini jarang terjadi.

7. Efusi pleura
Adanya gambaran cairan dalam rongga pleura yang cepat bertambah
(progresif) atau bersamaan ditemukan bayangan massa dalam paru,

20
perlu dipertimbangkan suatu keganasan paru yang sudah bermetastasis
ke pleura. Biasanya cairan pleura tersebut terdiri atas cairan darah.

Gambar 10. Efusi pleura

8. Elevasi diafragma
Letak tinggi diafragma sesisi dengan bayangan massa tumor yang
diakibatkan kelumpuhan nervus frenikus dapat diperlihatkan pada
pemeriksaan fluoroskopi di mana pergerakan diafragma berkurang atau
tak ada sama sekali.

Gambar 11. Elevasi diafragma

9. Perselubungan dengan destruksi tulang sekitarnya


Suatu perselubungan padat terutama dipuncak paru dengan gambaran
destruksi tulang iga atau korpus vertebra sekitarnya merupakan tumor

21
ganas primer pada paru (sulkus superior) yang lanjut yang dikenal
sebagai tumor Pancoast, klinis disertai dengan sindroma Horner.

Gambar 12. Tumor pancoast, perselubungan padat di paru kanan atas dengan
destruksi tulang iga I-II kanan.

10. Metastasis paru


Paru merupakan salah satu alat tubuh yang sering dihinggapi
penyebaran tumor ganas asal tempat lain. Penyebaran dapat melalui
hematogen dan limfogen.
a. Metastasis hematogen
Tumor ganas anak yang sering bermetastasis ke paru adalah tumor
Wilms, neuroblastoma, sarkoma osteogenik, sarkoma Ewing;
sedangkan tumor ganas dewasa adalah karsinoma payudara, tumor-
tumor ganas alat cerna, ginjal, dan testis.

Gambaran radiologik dapat bersifat tunggal (soliter) atau ganda


(multiple) dengan bayangan bulat berukuran beberapa milimeter
sampai beberapa sentimeter, batas tegas. Bayangan tersebut dapat
mengandung bercak kalsifikasi, misalnya pada penyebaran sarkoma
osteogenik dan kavitas dapat terbentuk meskipun jarang (5%) yang
disebabkan nekrosis iskemik.

22
b. Metastasis limfogen
Penyebaran melalui saluran limfogen sering menyebabkan
pembesaran kelenjar mediastium yang dapat mengakibatkan
penekanan pada trakea, esofagus, dan vena kava superior, dengan
keluhan-keluhannya.

Penyebaran juga bisa menetap di saluran limfe peribronkial atau


perivaskular yang secara radiologik memberi gambaran
bronkovaskular yang kasar secara dua sisi atau satu sisi hemitoraks
atau gambaran garis-garis berdensitas tinggi yang halus seperti
rambut. Beberapa penyebaran tumor ganas misalnya karsinoma
tiroid, silidroma dan kelenjar air liur dapat menetap di paru
bertahun-tahun dengan keadaan umum yang baik.

Gambar 13: a. Metastasis Paru Hematogen b. Metastasis Paru Limfogen

2.2.7 Terapi
1. NSCLC
Terapi gabungan multidisiplin karsinoma paru bukan sel kecil (NSCLC)
sesuai stadium
 Terapi NSCLC stadium IA: pilihan pertama adalah operasi, pasca
operasi tak diperlukan terapi adjuvan. Jika karena terbatasan faal

23
hingga tak dapat dioperasi, dianjurkan radioterapi konformal
terhadap lesi primer.
 Terapi NSCLC stasium IIB dan sebagian IIIA (NI): pilihan
pertama adalah operasi, pasca operasi diberikan adjuvan
kemoterapi regimen dua obat mengandung platinum sebanyak 4
siklus
 Terapi NSCLC stadium IIIA (N2) IIIB (NONI): diberikan
kemoterapi neoadjuvan lalu operasi, jika tak dapat dioperasi
maka diberikan radioterapi
 Terapi NSCLC stadium IIIA (N2 konfluen) – IIIB (kering, N2):
kombinasi radioterapi dan kemoterapi
 Terapi NSCLC stadium IIIB (basah) IV: kemoterapi regimen dua
obat mengandung platinum.
Radiasi preoperasi untuk mengecilkan ukuran tumor agar
misalnya pada reseksi lebih komplit pada Pancoas tumor atau
stasium IIIb dilaporkan bermanfaat. Radiasi paliatif pada
beberapa kasus sindrom vena kava superior atau kasus dengan
komplikasi dalam rongga dada akibat kanker seperti hemoptisis,
batuk refrakter, atelektasis, mengurangi nyeri akibat metastasis
kranium dan tulang juga amat berguna.

2. SLCL
SLCL dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Limited stage disease yang diobati dengan tujuan kuratif (kombinasi
kemoterapi dan radiasi) dan angka keberhasilan terapi sebesar 20%
b. Extensive stage disease yang diobati dengan kemoterapi dengan
angka respon terapi inisial 60-70% dan angka respon terapi komplit
20-30%.

24
2.2.8 Prognosis
Secara keseluruhan, NSCLC memiliki prognosis lebih baik daripada SCLC.
Jika NSCLC (karsinoma skuamosa atau adenocarsinoma) terdeteksi
sebelum metastasis atau penyebaran lokal, dapat dicapai kesembuhan
dengan lobektomi atau pneumonrktomi. SCLC biasanya telah menyebar
saat pertama kali terdeteksi, bahkan jika tumor primernya tampak kecil dan
lokal. Oleh karena itu reseksi bedah bukan merupakan pilihan. Tumor ini
sangat peka terhadap kemoterapi tetapi pada umumnya akan sembuh.

25
BAB III
KESIMPULAN

Kanker paru merupakan salah satu keganasan yang paling sering terjadi dengan
prognosis yang buruk. Prognosis pasien sesuai dengan stadiumnya, namun
kanker ini sulit dideteksi secara dini karena biasanya asimptomatik pada
stadium awal. Gejala yang muncul pada stadium lanjut antara lain batuk, sesak,
hemoptisis, suara serak sampai gejala metastasis seperti nyeri kepala dan nyeri
tulang. Modalitas radiologi yang dapat digunakan untuk diagnosis kanker paru
meliputi foto polos toraks, CT scan, MRI, PET scan, dan radiologi nuklir. Foto
polos toraks masih banyak digunakan untuk deteksi awal kanker paru karena
banyak tersedia di berbagai pusat kesehatan namun relatif tidak sensitif.
Modalitas baru yang sekarang lebih sering digunakan untuk diagnosis dan
penentuan stadium kanker paru adalah CT scan. MRI juga memiliki peran
dalam diagnosis dan penentuan stadium kanker paru, bersaing dengan CT scan.
Namun CT scan lebih sering digunakan karena lebih banyak tersedia di berbagai
tempat di bandingkan dengan MRI dan harganya lebih murah. Gambaran
radiologis yang paling sering ditemui pada kanker paru adalah nodul soliter
sehingga penting untuk mengetahui karakteristik nodul yang sugestif
malignansi dan diagnosis bandingnya.

26
DAFTAR PUSTAKA

1.Fauci, Braundwald, Kasper, Hauser, Longo, Jemeson, Loscalzo. Harrison’s


Principal Of Internal Medicine. 18th ed. New York : Mc Graw Hill ; 2012
2.Mason RJ, Broaddus VC, Martin TR, King Jr TE, Schraufnagel DE, Muray JF,
Nadel JA. Murray & Nadel’s. Textbook Of Respiratory Medicine. 5th ed.
Philadelphia : Saunders Elsevier ; 2010
3.Sjamsuhidajat, De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah.3rd ed. Jakarta : EGC ; 2010
4.Rasad S. Radiologi Diagnostik. 2nd ed. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 2011
5.Danhert W. Radiology Review Manual. 7th ed. North america : LWW ; 2011
6.Provenzale JM, Nelson RC, Vinson EN. Duke Radiology Case Review. 2nd ed.
North America : LWW ; 2011
7.Mendell J. Core Radiology : A Visual approach to Diagnostic Imaging. 1st ed.
Cambridge : Cambridge University ; 2013
8.Herring W : Learning Radiology : Recognizing the Basics. 2nd Ed. Philadelphia
: Saunders Elsevier ; 2011

27