Anda di halaman 1dari 90

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

GEOLOGI MINYAK BUMI

Disusun Oleh:

ANDY SATRIO MADAO

410016010

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL

YOGYAKARTA

2018
LEMBAR PERSETUJUAN PRAKTIKUM

GEOLOGI MINYAK BUMI

Disusun Oleh:

ANDY SATRIO MADAO

410016010

Laporan ini dibuat sebagai pertanggung jawaban atas kegiatan mata kuliah

Praktikum

Geologi Minyak Bumi tahun ajaran 2018/2019, Jurusan Teknik Geologi, Sekolah

Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta.

DISAHKAN OLEH

Dosen Pengampu Asisten Praktikum

Geologi minyak Bumi

Hanindya Ramadhani, S.T.,M.Eng (……………………)

LABORATORIUM SOFTROCK

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL

YOGYAKARTA

2018
Daftar isi

Cover

Lembar Persetujuan

Daftar Gambar

Daftar Tabel

Bab I Geologi Minyak Bumi

1.1 Pendahuluan

Bab II Operasi Pemboran

2.1. Dasar Teori

2.2. Interpretasi

2.3. Laporan Resmi Oprasi Pemboran

Bab III Analisis Data Pemboran

3.1. Analisis Data Cutting

3.1.1. Dasar Teori

3.1.2. Interpretasi

3.1.3. Laporan Resmi Analisis Cutting

3.2. Analisis Sampel Coring

3.2.1. Dasar Teori

3.2.2. Interpretasi

3.2.3. Laporan Resmi Analisis Coring

Bab IV Geokimia Hidrokarbon

4.1. Dasar Teori

4.2. Interpretasi
4.3. Laporan Resmi Geokimia Hidrokarbon

Bab V Wireline Log

5.1. Evaluasi Kualitatif

5.1.1. Dasar Teori

5.1.2. Interpretasi

5.1.3. Laporan Resmi Evaluasi Kualitatif

5.2. Evaluasi Kuantitatif

5.2.1. Dasar Teori

5.2.2. Interpretasi

5.2.3. Laporan Resmi Evaluasi Kuantitatif

Bab VI Korelasi Struktur

6.1. Dasar Teori

6.2. Interpretasi

6.3. Laporan Resmi Korelasi Struktur

Bab VII Perhitungan Cadangan

7.1. Dasar Teori

7.2. Interpretasi

7.3. Laporan Resmi Perhitungan Cadangan

Bab VIII Kesimpulan Dan Saran

Daftar Pustaka

Lampiran
Daftar Gambar

Gambar Core Bit

Gambar Sidewell Coring

Gambar Perawatan Core (Core Handling)

Gambar Wireline Log

Gambar Log SP

Gambar Log Gamma Ray (GR)

Gambar Log Resistivitas

Gambar Log Densitas

Gambar Log Neutron

Gambar Log Sonik

Gambar Hubungan Jenis Litologi dengan Log

Gambar Penyamaan Datum

Gambar Korelasi Struktur

Gambar Korelasi Lapisan Reservoir


Daftar Tabel

Tabel kualitas penampakan Noda berdasarkan penyebaran dalam batua

Tabel warna Flouresensi Masing-masing minyak

Tabel Jenis Residu dan warna Flouresensi

Tabel Kualitas penampang dan Prosentase Distribusi Dalam Batuan

Tabel Sumber dari Immature Kerogen berdasarkan Indeks Hidrogen

Tabel Zonasi pembentukan minyak bumi (Sissada, 1986)

Gambar Analisis Pantulan Vitrinit

Gambar Analisis Indeks Warna Spora

Tabel Hubungan Antara Transpormation Ratio dengan Kematangan (Espifatie, etl


77 Vide tissot & Wefte 1978)

Tabel Hubungan Antara T Max dengan Tingkat Kematangan (Espifatie, etl Vide
tissot & Wefte 1978)

Tabel Klasifikasi S1 + S2 (HY) (Espilatie etal 77 Vide tissot & Welte 1978)

Tabel Geochemical Parameters Describing Source Rock Generative Potential

Tabel Geochemical Parameters Describing Type of Generative Generated

Tabel Geochemical Parameters Describing Type of Thermal Maturation


Bab I

Geologi Minyak Bumi

1.1.Pendahuluan

Geologi Minyak Bumi adalah ilmu geologi yang mempelajari minyak bumi,

mulai dari rekonaise, pemetaan, dan analisis keberadaan minyak bumi.

Keberadaan dari minyak bumi itu sendiri harus memiliki beberapa persyatan

diantaranya:

 Batuan Induk,

 Kematangan,

 Reservoar,

 Migrasi,

 Penutup Batuan, dan

 Perangkap

Istilah minyak bumi di Indonesia dikenal dengan sebagai minyak tanah, yang

berarti minyak yang keluar dari dalam tanah. Di Negara barat dikenal sebagai

petroleum, yang dalam Bahasa latin Oleum berarti minyak dan petro berarti

batu. Disebut juga sebagai minyak mentah (crude oil). sedangkan istilah yang

paling tepat adalah minyak bumi, karena terdapat di dalam bumi, bukan di

dalam tanah.
Bab II

Operasi Pemboran

2.1. Dasar Teori

Operasi Pemboran merupakan proses kelanjutan dari eksplorasi untuk

mengetahui lebih lanjut atas keterdapatan minyak atau gas bumi di bawah

permukaan. Dalam pelaksanaanya banyak hal yang perlu di persiapkan dan

direncanakan. Persiapan yang perlu dilakukan antara lain mengenai tempat

pemboran, logistic, dan perangkat pemboran (drilling rig) yang akan digunakan.

Persiapan dan perencanaan secara detail akan memudahkan dan melancarkan

proses pemboran serta mengurangi kendala secara teknis yang mungkin timbul

saat proses pemboran berlangsung.

Adapun beberapa jenis-jenis pemboran yaitu :

 Pemboran Eksplorasi (Wildcat)

untuk membuktikan keterdapatan minyak dam gas bumi pada suatu

cekungan yang belum pernah dilakukan pemboran sebelumnya, sehingga

memerlukan perencanaan dengan matang yang memperhitungkan segala

kemungkinan kendala yang akan timbul selama proses pemboran

berlangsung. Dalam pelaksanaanya perlu dilakukan pengamatan dengan

seksama dikarenakan kondisi dari lapisan batuan dan sifat-sifatnya belum

diketahui. Sehingga perencanaan penggunaan casing, penyemenan, lumpur

pemboran, dan bit yang akan digunakan sangat berpengaruh kepasa cost

yang akan dikeluarkan. Sumur eksplorasi sering disebut dengan sumur

“wild cat”. Apabila setelah dilakukan pemboran namun hasilnya tidak


ditemukan kandungan minyak atay gas bumi maka kemudian sumur

pemboran tersebut disebut dengan Dry Hole.

 Pemboran Deliniasi

Untuk mengetahui penyebaran, batas, dan ketebalan reservoir. Pemboran ini

biasanya tidak terlalu banyak menghabiskan biaya karena sudah ada data

dari pemboran eksplorasi sebelumnya. Untuk Menetukan batas reservoir

maka dilakukan pemboran deliniasi untuk jarak-jarak tertentu dari sumur

yang pertama.

 Pemboran Pengembangan/Eksplorasi

Pemboran ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengurasan terhadap

reservoir sekaligus meningkatkan volume produksi. Aktivitas ini

memerlukan biaya yang lebih murah dikarenakan lengkapnya data sumur

seperti kedalaman dan ketebalan reservoir serta jenis dan sifat batuan pada

formasi yang sudah ditembus oleh mata bor. Sumur eksplorasi dapar diubah

fungsinya menjadi sumur eksplorasi atau disebut juga sumur produksi.

 Pemboran sumur-sumur Sisipan (Infill)

Kegiatan ini bertujuan untuk hidrokarbon dari area yang tidak terambil oleh

sumur-sumur sebelumnya. Pembuatan sumur sisipan ini terletak diantara

sumur-sumur yang telah ada sebelumnya.

Dalam perminyakan, juga dikenal beberapa istilah mengenai sumur, yaitu:

a. Sumur produksi, merupakan sumur yang menghasilkan minyak, gas,

maupun keduanya dan memiliki aliran fluida dari bawah ke atas.

b. Sumur Injeksi, merupakan sumur yang bertujuan untuk menginjeksikan

fluida tertentu ke formasi dan memiliki aliran fluida dari atas ke bawah.
c. Sumur Vertikal, merupakan sumur yang lurus dan memanjang secara

vertical.

d. Sumur Berarah,(Deviated Well, Directional Well), merupakan sumur

yang secara geometri tidak memiliki benyuk lurus vertical, melainkan

dapat berbentuk S, J, maupun L.

e. Sumur Horizontal, merupakan sumur yang memiliki bagian yang

berarah horizontal dan merupakan bagian dari sumur berarah.

Berdasarkan lokasinya, rig dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

1. Rig darat (land rig), merupakan rig yang beroperasi di daratan yang

dibedakan atas rig besar dan rig kecil. Pada rig kecil biasanya hanya

digunakan unruk pekerjaan sederhana seperti well service atau work

over. Sementara itu untuk rig besar digunakan untuk operasi pemboran

baik secara vertical maupun directional. rig darat ini dirancang secara

portable sehingga dapat dengan mudah untuk dilakukan pembongkaran

dan pemasangannya ketika berpindah lokasi.

2. Rig laut ( offshore rig), merupakan rig yang dioperasikan di atas

permukaan air seperti laut, rawa-rawa, sungai, danau, maupun delta

sungai. Offshore rig terbagi atas beberapa jenis berdasarkan kedalaman

air, yaitu:

a. Swamp barge, rig ini merupakan jenis rig laut yang beroperasi pada

kedalaman maksimum 7 meter dan sangat sering dipakai pada

daerah rawa-rawa dan delta sungai.

b. Tender barge, merupakan jenis rig laut yang sama dengan model

swamp barge, namun dipakai pada kedalaman yang lebih lagi yaitu
pada kedalaman 10-30 meter. Rig jenis ini digunakan dengan cara

memobilisasi rig ke dalam sumur, kemudian ditenggelamkan

dengan cara mengisi ballast tanks-nya dengan air.

c. Jack up rig, rig jenis ini banyak digunakan pada pengeboran lepas

pantai dengan kedalaman 5-200 meter. Rig ini memiliki badan atau

disebut dengan platform. Platform ini berdiri diatas permukaan air

yang di topang oleh kaki-kaki (biasanya terdiri dari 3 atau 4 kaki)

yang terbuat dari baja. Saat dioperasikan, kaki-kaki baja tersebut

berpijak pada dasar laut. Setelah itu platform tersebut kemudian

diangkat ke atas permukaan air. Saat mobilisasi, kaki-kaki baja

tersebut kemudian diangkat, sehingga platform tersebut mengapung

diatas permukaan air. Saat terapung, maka platform dapat dengan

mudah dimobilisasi dengan cara ditarik menggunakan kapal jenis

tug boat. Rig jenis ini bisa dipakai untuk melakukan pengeboran

sumur-sumur eksplorasi.

d. Drilling jacket, merupakan jenis rig yang menggunakan platform

berstruk baja. Pada umumnya memiliki bentuk yang kecil dan sangat

cocok berada di laut dangkal maupun laut tenang. Rig jenis ini sering

dikombinasikan dengan rig jack up maupun tender barge

e. Semi-submersible rig, merupakan jenis rig yang mengapung

(flooded atau ballasted) yang menggunakan hull atau semacam kaki.

Rig ini dipakai ketika jack up rig tidak mampu menjangkau

permukaan dasar laut. Karena jenis rig ini sangat stabil, mala rig ini
sering dipakai pada lokasi yang memiliki gelombang laut besar dan

cuaca yan buruk. Rig ini dipakai pada kedalaman 90-750 meter.

f. Drill ship, merupakan jenis rig yang bersifat mobile dan diletakkan

di atas kapal laut, sehingga sangat cocok untuk pemboran di laut

dalam. Rig ini didirikan diatas kapal dan bagian bawahnya terbuka

ke laut (moon pool). Memiliki daya maut yang lebih banyak

sehingga sering dipakai pada daerah terpencil maupun jauh dari

daratan.

A. Perangkat Pemboran

Pada perkembangannya teknologi pengeboran semakin maju, dan

hingga saat ini sistem peralatan bor putar adalah teknologi yang paling tepat

untuk digunakan dalam operasi pembuatan sumur pengeboran. Pada sistem

peralatan bor putar ini memiliki beberapa fungsi utama yang mendukung

dalam kegiatan operasi pengeboran, secara garis besar peralatan pengeboran

dapat dibagi menjadi lima sistem peralatan utama, yaitu, sistem angkat

(hoisting system), sistem putar (rotating system), sistem sirkulasi

(circulating system), sistem tenaga (power system) dan sistem pencegah

sembur liar (Blow Out Preventer system).

Pada prinsipnya lima sistem ini saling mendukung satu sama

lainnya. Dalam kegiatan yang dilakukan pada operasi pengeboran, lima

sistem ini bekerja secara bersamaan dan saling mendukung. Sehingga

keberhasilan suatu operasi pengeboran sangat tergantung pada baik

tidaknya performa dari lima sistem ini.


Dalam operasi pengeboran yang menggunakan sistem peralatan

putar ini dikenal dua jenis sistem putar yakni sistem Kelly dan top drive.

Pada sistem Kelly putaran yang dihasilkan adalah dengan mentrasfer

putaran dari rotary table ke Kelly dan diteruskan ke rangkaian pengeboran

lainnya. Sedangkan pada top drive, rangkain pengeboran langsung

disambungkan ke top drive dan putaran yang dihasilkan adalah dari motor

yang ada pada top drive.

 Sistem angkat (Hoisting System)

Sistem angkat (hoisting system) fungsi utamanya adalah

memberikan ruang kerja yang cukup bagi crew pengeboran dan untuk

pengangkatan serta penurunan rangkaian pipa bor dan peralatan lainnya.

Sistem angkat ini sangat penting dalam kegiatan menyambung dan

melepaskan rangkaian pengeboran seperti bit, drill collar, drill pipe dan atau

Kelly. Sistem angkat terdiri dari dua bagian utama, yaitu :

a. Struktur pendukung (Supporting structure)

b. Peralatan Angkat (Hoisting equipment)

 Sistem Putar (Rotating System)

Fungsi utama dari sistem putar (rotating system) adalah untuk

memberikan puataran pada rangkaian pipa bor dan juga memberikan

beratan pada pahat dalam mengebor suatu formasi. Putaran bersumber dari

putaran rotary table (apabila menggunakan Kelly) atau dari putaran motor

pada top drive. Besarnya putaran yang diinginkan biasanya disebut dengan

Rotation Per Minutes(RPM). Besarnya beban rangkaian pemboran akan

memberikan beratan yang berguna untuk membantu mata bor dalam


pemecahan batuan pada saat operasi pengeboran berlangsung. Beban ini

sering dinamakan denga Weight On Bit(WOB). Dengan kombinasi RPM

dan WOB yang tepat akan menghasilkan kecepatan pengeboran yang

optimum (Rate of Penetration optimum).

 Sistem Sirkulasi (Circulating System)

Sistem sirkulasi merupakan salah satu sistem yang

memegangperanan penting di dalam operasi pengeboran putar (rotary

drilling).Tugas utamanya adalah membantu sistem pemutar didalam

“mengebor sumur” dengan menyediakan perlengkapan-perlengkapan yang

sesuai untuk mengatur bahan-bahan lumpur dan tempat-tempat kerja untuk

mempersiapkan, merawat dan mengganti fluida pengeboran. Sistem

sirkulasi tersusun oleh empat sub komponen utama, yaitu :

a. Lumpur pengeboran (drilling fluid)

b. Tempat persiapan (preparation area)

c. Peralatan sirkulasi (circulating equipment)

d. Tempat pengkondisian lumpur (conditioning area atau solid control

equipment)

Secara umum lumpur pengeboran dapat disirkulasikan dengan urutan

sebagai berikut:

lumpur dalam steel mud pit dihisap oleh pompa - pipa tekanan – stand pipe

– rotary hose – swivel head – kelly – drill pipe – drill collar – bit – annulus

drill collar – annulus drill pipe – mud line/flow line, shale shaker – steel

mud pit – dihisap pompa kembali dan seterusnya.

 Sistem Tenaga (Power System)


Sistem tenaga dalam operasi pengeboran terdiri dari power

suplayequipment, yang dihasilkan oleh mesin-mesin besar yang biasa

dikenal dengan nama “prime mover” dan distribution equipment yang

berfungsi untuk meneruskan tenaga yang diperlukan untuk mendukung

jalannya kegiatan pengeboran. Tenaga yang dihasilkan prime mover

besarnya berkisar antara 500-5000 Hp. Pada umumnya suatu operasi

pengeboran memerlukan dua atau tiga buah mesin. Sedangkan untuk

pengeboran yang lebih dalam memerlukan tenaga yang lebih besar,

sehingga prime mover yang diperlukan dapat mencapai empat unit. Prime

mover sebagai sistem daya penggerak harus mampu mendukung keperluan

fungsi angkat, putar, pemompaan, penerangan, dan lain-lain. Dengan

demikian perencanaan dan pemilihan tipe dan jenis prime mover yang

dipergunakan harus memperhatikan hal tersebut.

 Sistem Pencegah Semburan Liat (BOP System)

Lumpur pengeboran merupakan pencegah semburan liar (blow

out)yang utama atau primer, sedangkan blowout preventer (BOP) system

merupakan pencegah blowout sekunder. Apabila kick sudah terjadi, segera

penutupan sumur sesuai prosedur kemudian dilakukan sirkulasi untuk

mematikannya.

B. Pengertian Casing

Casing adalah pipa yang dimasukkan kedalam sumur bor dimana casing

ini memiliki beberapa fungsi yang penting baik dalam pekerjaan pemboran

(drilling) maupun dalam pekerjaan penyelesaian sumur (completion).

Casing merupakan komponen yang cukup mahal dan harus diperhitungkan


dalam pekerjaan pemboran karena biasanya biaya untuk casing berkisar

antara 25% sampai dengan 30% dari keseluruhan biaya pemboran suatu

sumur.

Casing terdiri dari 5 (lima) tipe dasar, yaitu :

1. Conductor Casing

2. Surface Casing

3. Intermediate Casing

4. Production Casing

5. Liner

 Conductor Casing

Conductor Casing merupakan rangkaian casing yang pertama.

Conductor casing (conductor pipe) ini ditanamkan pada titik dimana suatu

sumur akan dibor dengan cara menumbuknya dengan menggunakan diesel

hammer. Kedalaman conductor pipe ini berkisar antara 10 ft sampai dengan

300 ft tergantung dari kondisi lokasi yang akan dibor. Ukuran diameter

conductor pipe biasanya antara 16 inci sampai dengan 36 inci. Conductor

pipe ini harus mempunyai ukuran yang lebih besar agar casing berikutnya

bisa masuk kedalamnya.

Kegunaan Conductor Pipe :

 Menampung drilling fluid (mud) agar sirkulasi bisa dilakukan.


 Mencegah membesarnya lobang (washout) pada lapisan permukaan

yang umumnya bersifat tidak solid/gampang runtuh (unconsolidated

formation).

 Surface Casing

Surface casing ialah casing yang dimasukkan kedalam

sumur/lobang bor melalui conductor pipe. Kedalaman (setting) dari surface

casing ini akan sangat bergantung dari kedalaman formasi yang tidak solid

(unconsolidated formation). Biasanya surface casing ini memiliki ukuran

diameter antara 9-5/8 inci sampai dengan 20.0 inci. Karena temperatur,

tekanan dan fluida yang korosif cenderung meningkat sejalan dengan

kedalaman lobang bor, maka pemilihan jenis besi casing (grade) harus

disesuaikan dengan kondisi sumur.

Kegunaan Surface Casing :

 Melindungi formasi dari lapisan air bersih (fresh water formation).

 Menutup unconsolidated formation dan zona-zona lost circulation.

 Menyediakan tempat untuk pemasangan BOP.

 Melindungi/menjaga “build” section pada sumur berarah.

 Menyediakan tempat untuk melakukan “leak-off test”.

 Intermediate Casing

Intermediate casing ialah casing yang dipasang setelah surface

casing yang biasanya digunakan untuk menutup/mengatasi masalah yang

akan timbul dengan formasi selama pekerjaan pemboran. Biasanya


intermediate casing ini ukuran diameternya antara 9 5/8 inci sampai dengan

13 5/8 inci.

Kegunaan Intermediate Casing:

 Menutup zona-zona yang akan menimbulkan masalah dalam pemboran (gas

zones, lost circulation zones, dl

 Production Casing

Production casing ialah rangkaian pipa selubung yang terakhir

dimasukkan kedalam lobang bor. Ukuran production casing ini akan sangat

bergantung dari perkiraan jumlah produksi dari sumur tersebut. Semakin

tinggi produksi suatu sumur akan semakin besar ukuran production casing

yang akan digunakan. Biasanya production casing ukuran diameternya

antara 13.0 inci sampai dengan 7.0 inci.

Kegunaan Production Casing:

 Menyediakan tempat berkumpulnya fluida yang akan diproduksi.

 Memisahkan formasi produksi dengan formasi lainnya.

 Menghubungkan formasi produksi dengan permukaan.

 Menyediakan tempat untuk alat bantu produksi (submersible pump).

 Linear

Liner ialah merupakan rangkaian casing produksi (production casing)

yang dipasang dalam lobang bor/sumur tetapi tidak sampai kepermukaan.

Biasanya liner dipasang pada intermediate casing dengan menggunakan packer


atau slip. Didalam pemasangannya, liner biasanya akan berhimpitan (overlap)

dengan intermediate casing antara 100 ft sampai dengan 150 ft.

Kegunaan Liner :

 Dugunakan untuk mengurangi biaya casing dan biaya untuk running

casing. Jika liner ini harus disambung sampai kepermukaan dengan

menggunakan rangkaian casing lainnya, maka rangkian casing ini

disebut dengan “Tie Back” string.

C. Standarisasi Casing

American Petroleum Institute (API) telah membuat dan mengembangkan

standard dan spesifikasi untuk casing dan tubing yang digunakan dalam

lapangan perminyakan. Salah satu standard yang lebih umum digunakan

baik untuk casing maupun untuk tubing ialah berat per satuan panjang

(weight per unit length) yang biasanya ditulis dengan pound per foot (ppf).

Terdapat 3 (Tiga) Standard API Untuk Berat Casing:

 Nominal Weight: Berat yang dihitung secara teoritikal terhadap casing

yang mencakup derat pin dan coupling nya untuk setiap panjang 20 feet.

 Plain End Weight: Berat batangan casing dimana casing tersebut diukur

beratnya tanpa memiliki derat dan coupling.

 Threaded and Coupled Weight: Berat batangan casing yang memiliki

derat pada kedua ujungnya dan coupling pada salah satu ujungnya.

Terdapat 3 (Tiga) Standard API Untuk Panjang Casing:


 R-1: Kisaran panjang setiap batangan casing antara 16 ft sampai dengan

25 ft, 95% memiliki panjang diatas 18 ft.

 R-2: Kisaran panjang setiap batangan casing antara 25 ft sampai dengan

34 ft, 95% memiliki panjang diatas 28 ft.

 R-3: Kisaran panjang setiap batangan casing lebih dari 34 ft, 95%

memiliki panjang diatas 36 ft.

Selain standard panjang (range) dan berat (weight) terdapat pula

standard grade (jenis besi) yang menggambarkan property/sifat besi atau

metal dari casing. Didalam penulisan property besi dari casing, “huruf” akan

menerangkan grade casing sedangkan “angka” akan menerangkan

minimum yield point dari casing. Misalkan: Casing J-55 berarti casing

tersebut memiliki grade “J” dan minimum yield point casing ini besarnya

55.000 psi.

3.2. Interpretasi

Berdasarkan dari hasil perhitungan Pump Capacity didapatkan hasil sama

dengan 0,091125 bbl/stk. Pada perhitungan pada Lag Down hasil yang didapatkan

pada perhitungan Volume Inner Piper yaitu 114,1441616 dan hasil dari perhitungan

Volume Drill Colar didapatkan sebesar 7,77157389 bbl/stk.Sedankan pada

perhitungan Lag Up itu sendiri didapatkan 3 hasil perhitungan dimana pada Volume

Annulus Dp (dengan casing) didapatkan hasil perhitungan sebesar 54,40062172,

pada Volume Annulus (tanpa casing) didapatkan hasil perhitungan sebesar

34,0975325, serta pada Volume Annulus DC (Log Up) didapatkan hasil sebesar

3,27. Berdasarkan hasil perhitungan diatas didapatkan hasil perhitungan Total Lag

sebesar 39,080 menit.


Bab III
Analisis Sampel Pemboran

3.1. Analisis Sampel Cutting

3.1.1. Dasar Teori

Cutting adalah serpihan-serpihan batuan sebagai akibat tergerusnya batuan

tersebut oleh mud bor pada saat pemboran berlangsung.

Pekerjaan analisa cutting ini dilakukan dalam kerangka pekerjaan mud

logging. Pertama-tama cutting dipisahkan dari aliran lumpur pemboran

dengan menggunakan shale shaker, setelah itu dilakukan deskripsi litologi

dengan menggunakan mikroskop, kemudian dianalisa untuk mengetahui

ada tidaknya kandungan hidrokarbon.

 Analisis Sampel Cutting

a. PenampakanNoda

Pada batuan jenis hidrokarbon berat (residu,tar) akan

memberikan noda yang lebih nyata. Jika kadar hidrokarbon

dalam batuan cukup tinggi akan terlihat kesan berupa cucuran.

Tabel 1.1 Kualitas Penampakan Noda Berdasarkan Penyebaran Dalam


Batuan

Kualitas Penampakan Presentasi Distribusi Dalam Batuan


Sangat baik >75%
Baik 50-75%
Sedang 25-50%
Buruk <25%
b. Bau
Biasanya batuan yang mengandung hidrokarbon mempunyai

bau yang spesifik. Kekuatan baunya tergantung dari jenis dan

kadar kuantitas kandungan hidrokarbon didalam batuan. Bau

wangi biasanya berasal dari minyak parafine dan naftatik,

sedangkan bau busuk berasal dari minyak aromatik.

c. Fluoroscopic

Yang akan dilakukan pada praktikum ini adalah pemeriksaan

indikasi hidrokarbon dengan pemeriksaan fluoroscopic (UV),

prinsip kerjanya: contoh cutting diletakkan diatas tray kemudian

dimasukkan kedalam fluoroscope untuk melihat ada tidaknya

warna fluoresensi. Biasanya hidrokarbon cair atau minyak

memberikan warna tertentu terhadap sinar ultra violet,

sedangkan gas dan minyak residu kadang-kadang tidak

berfluorensi.

Tabel 1.2 Warna Fluoresensi Masing-masing Minyak


Jenis Minyak Warna Fluorescensi
Residu Coklat gelap – tidak berwarna
Minyak berat Coklat – kuning tua
Minyak medium Putih – kuning cerah
Minyak ringan Putih biru – biru cerah
Kondensat Ungu – biru cerah
Tabel 1.3 Jenis Residu dan Warna Fluoresensi

Residu Warna Fluorescensi


Batu gamping / dolomite Kuning/ kekuning-kuningan
Batu gamping pasiran Coklat-coklat tua
Paper shale Kuning- coklat kopi
Fosil Kuning putih – kuning coklat
Napal Kuning tua – abu-abu coklat
Grease atau Gemuk Putih susu
Solar Putih terang
Kulit kumbang Biru
Kualitas penampakan fluoresensi ditentukan dari distribusi
fluoresensi dalam contoh batuan, yaitu:

Tabel 1.4 Kualitas Penampang dan Prosentase Distribusi Dalam


Kualitas Penampakan Presentasi Distribusi Dalam Batuan
Sangat baik >75%
Baik 50-75%
Sedang 25-50%
Buruk <25%
Batuan
3.2. Analisa Sampel Coring

3.1.1. Dasar Teori

Untuk dapat menentukan bahwa suatu reservoir migas dapat/ pantas untuk

dikembangkan / dikelola maka diperlukan informasi yang pasti tenang jumlah HK

yang ada didalamnya serta kemungkinan dari HK tersebut untuk di produksikan.

Jumlah hidrokarbon yang ada di reservoir dapat di hitung antara lain dengan

metode volumetric. Data yang diperlukan disini antara lain porsitas , saturasi dan

data geologi. Sedang untuk memperkirakan jumlah HK yang dapat di produksikan

diperlukan informasi yang tepat tentang permeabilitas. Kesemua informasi tersebut

dapat diperoleh dari beberapa macam test dan analisa antara lain adalah :

1. Logging

2. Analisa batuan

3. Analisa tekanan.

Coring adalah pemboran khusus untuk mendapatkan besaran-besaran fisik

dari batuan reservoir. Pemboran khusus ini sangat mahal biayanya karena

membutuhkan peralatan khusus dan memakan waktu lebih lama dari pemboran

biasa ( pemboran sumur keseluruhan) . Coring dilakukan pada interval tertentu

yang diperlukan data-data petrofisiknya terutama pada zone produktif. Hasil dari

coring diharapkan merupakan data yang valid sehingga perlu penanganan yang

cermat. Banyak factor yang dapat mempengaruhi kualitas maupun kuantitas coring

antara lain :

 Konstruksi dari peralatan

 Kondisi dari formasi

 Teknik pelaksanaan operasi Coring


Peralatan Coring

Peralatan coring terdiri dari :

1. Core bit : adalah pahat yang khusus untuk coring berbeda dengan pahat

pemboran biasa. Pahat biasa menghancurkan batuan menjadi cutting/ssrpih akan

tetapi core bit akan memotong batuan berbentuk silinder. Pemilihan jebis core bit

tergantung pada batuan formasi yang akan diambil contohnya. Dibawah ini salah

satu contoh core bit dan rangkaian alat coring.

2. Core Barrel : alat ini berfungsi untuk tempat contoh yang diperoleh dari coring

yang dapat menjaga keutuhan core dan melindungi core darui pengaruh luar

misalnya kontaminasi dengan lumpur, tekanan/beban dan lain sebagainya. Barrel

ini terletak diatas pahat ( cor bit) ada outer barrel ada inner barrel.

3. Core Catcher : berfungsi untuk menahan core/contoh batuan agar tidak jatuh

dari

inner barrel.

Macam-macam coring

Ada dua macam cara pengambilan contoh batuan ( coring) yaitu :

1. Coring yang dilakukan bersamaan dengan pemboran dikenal sebagai Bottom

coring Sesuai dengan alat yang digunakan maka bottom core dibedakan menjadi:
> Conventional coring yaitu coring yang menggunakan core bit biasa atau diamond

bit. Ukuran core yang didapat adaloah diameter antara 3 – 5 inch dan panjang

>Wire-line Retrievable coring dimana pada cara ini alat diturunkan kedasar

sumur tanpa mengangkat drill string. Ukuran core yang diperoleh dengan cara ini

lebih kecil yaitu 1 1/8 - 1 ¾ inch dan panjang 10 - 20 ft.

2. Sidewall Coring yaitu coring yang dilakukan setelah pemboran umumnya

digunakan untuk mengambil sample/contoh pada interval tertentu (yang dipilih )

yang telah dibor. Sample diambil dari dinding lubang bor dengan diameter ¾ - 1

3/16 inch dan panjang ¾ - 1 inch.

Perawatan core ( Core Handling).

Kualitas/ keakuratan core yang diperoleh adalah sangat penting agar analisa

yang dilakukan memberikan hasil yang representative dan akurat. Pada saat core

sampai dipermukaan harus segera di lakukan konservasi / pengawetan agar kondisi

tidak berubah karena perubahan tekanan & temperature. Cara pengawetan/

konsevasi core dilapangan umumnya dilakukan dengan beberapa cara yaitu antara

lain :

1. Dengan dibungkus plastic tipis ( glad warp), lalu dibungkus lagi dengan

aluminium foil ( kertas auminium), diberi label ( nama sumur, kedalaman) dan

diberi tanda panah arah top & bottom) setelah itu core dicelupkan dalam plastic
wax ( seal peel ). Core yang sudah dibungkus disusun dalam kotak kayu diurutkan

sesuai dengan kedalamannya.. cara ini umumnya digunakan untuk batuan yang

cukup kompak dan sidewall core.

2. Pengawetan core dengan jalan memasukkan core kedalam pipa pralon

yang kedua ujungnya ditutrup rapat dan diluar pralon diberi label

3. Pengawetan dengan menggunakan pipa karet ( rubber sleeve) yang

lansung dipasang dalam core barrel. Jadi sampai permukaan core sudah langsung

terbungkus dalam pipa karet.. Core dalam rubber sleeve dipotong setiap 3 ft dan

ujungnya ditutup rapat. Dalam pengiriman core ini disimpan dalam kotak kayu.

Yang harus diperhatikan adalah sebelum core diawetkan core tidak boleh

dicuci hanya boleh dibersihkan dengan lap yang sebelumnya dibasahi dengan

lumpur pemboran yang dipakai .

Analisa core ( Core analysis )

Analisa core ( inti batuan) pada prinsipnya adalah menentukan sifat sifat

petrofisika dari batuan reservoir yang sangat diperlukan dalam pengelolaan suatu

lapangan Migas karena sifat-sifat ini dibutuhkan oleh bagian geologi, pemboran,

reservoir maupun produksi.

Sifat petrofisika tersebut antara lain adalah :

1. Porositas 6. Wettabilitas
2. Permeabilitas 7. Kompresibilitas

3. Saturasi 8. Permeabilitas relative

4. Tekanan kapiler 9. Water flooding

5. Sifat kelistrikan 10. EOR Dan lain-lain

Analisa core dibedakan menjadi dua yaitu :

 Analisa rutin ( Rutine Core analysis)

Analisa rutin menentukan sifat-sifat fisik batuan yang umum untuk

menentukan storage capacity dan flow capacity antara lain porositas,

saturasi dan permeabilitas .

 Analisa khusus ( Special Core Analysis)

Analisa khusus ini menentukan sifat –sifat khusus dari batuan reservoir

antara lain tekanan kapiler, wettability, kompresilititas, sifat kelistrikan dan

lain-lain.

Test yang dilakukan dalam aanalisa khusus ini dibedakan menjadi dua yaitu static

test dan dimanik test. Statik test menentukan antara lain kompresibilitas, tekanan

kapiler , sifat kelistrikan . Sedang dinamik test mencakup permeabilitas relative,

flooding dan EOR.

Hubungan dari analisa rutin dan analisa khusus adalah bahwa hasil analisa

rutin akan dipilih untuk digunakan dalam analisa khusus dengan jalan plot antara

permeabilitas dengan porositas atau ( √ k/ø ). Sampel dipilih dengan range harga

permeabilitas dan porositas serta litologi batuan tertentu.

Persiapan pengukuran sifat petrofisika batuan inti


Jenis core ( contoh batuan) atau sample yang dianalisa dibedakan

berdasarkan besar serta jenisnya menjadi :

1. Conventional plug core adalah core yang dianalisa diambil dengan jalan

dibor sejajar

dengan pelapisan dalam bentuk silinder dengan diameter 1 atau 1 ½ inch.

Umumnya

ini diterapkan pada batuan yang homogen.

2. Full diameter core yaitu core yang dianalisa sesuai dengan diameter

aslinya dengan

panjang kira-kira 8 inch. Core jenis ini umumnya diterapkan pada formasi

yang

heterogen atau batuan yang mempunyai rekahan / berongga.

3. Whole core dimana seluruh core dianalisa , ini biasanya untuk batuan

yang heterogen

4. Sidewall core adalah contoh batuan yang diambil dari sidewall coring (

diambil dari

penembakan pada dinding lubang bor

Setiap core akan dibagi-bagi untuk beberapa pengukuran (test) antara lain :

1. Pemeabilitas ( vertical, horizontal)

2. Porositas

3, CEC

4. SEM

5. Sieve analysis dll.


Persiapan yang lain sebelum test adalah pencucian dan pengeringan.

Sebelum dianalisa contoh dicuci/ dibersihkan dengan pelarut /solvent yaitu:

a. Toluene untuk melarutkan HK.

b. Methanol untuk melarutkan air garam.

LUMPUR PEMBORAN (DRILLING FLUID, MUD)

Fluida pemboran merupakan suatu campuran cairan dari beberapa komponen

yang dapat terdiri dari : air (tawar atau asin), minyak, tanah liat (clay), bahan-bahan

kimia, gas, udara, busa maupun detergent. Di lapangan fluida dikenal sebagai

"lumpur" (mud). Lumpur pemboran merupakan faktor yang penting serta sangat

menentukan dalam mendukung kesuksesan suatu operasi pemboran. Kecepatan

pemboran, efisiensi, keselamatan dan biaya pemboran sangat tergantung pada

kinerja lumpur pemboran. Fungsi lumpur dalam suatu operasi pemboran antara lain

adalah sebagai berikut :

1. Mengangkat cutting ke permukaan.

2. Mendinginkan dan melumasi bit dan drill string.

3. Memberi dinding lubang bor dengan mud cake.

4. Mengontrol tekanan formasi.

5. Membawa cutting dan material-material pemberat pada suspensi bila

sirkulasi lumpur dihentikan sementara.

6. Melepaskan pasir dan cutting dipermukaan.

7. Menahan sebagian berat drill pipe dan cutting (bouyancy efect).

8. Mengurangi effek negatif pada formasi.

9. Mendapatkan informasi (mud log, sampel log).

10. Media logging.


Komposisi lumpur pemboran.

Komposisi lumpur pemboran ditentukan oleh kondisi lubang bor dan jenis

formasi yang ditembus oleh mata bor. Ada dua hal penting dalam penentuan

komposisi lumpur pemboran, yaitu :

 Semakin ringan dan encer suatu lumpur pemboran, semakin besar laju

penembusannya.

 Semakin berat dan kental suatu lumpur pemboran, semakin mudah untuk

mengontrol kondisi dibawah permukaan separti masuknnya fluida formasi

bertekanan tinggi (dikenal sebagai "kick"). Bila keadaan ini tidak dapat

diatasi maka akan menyebabkan semburan liar (blowout).

Fungsi Lumpur Pemboran

Menurut Preston L. Moore (1974), lumpur pemboran mulai dikenal pada

sekitar tahun 1900-an bersamaan dengan dikenalnya pemboran rotari. Pada

mulanya tujuan utama dari lumpur pemboran adalah untuk mengangkat serbuk bor

secara kontinyu. Dengan berkembangnya zaman, banyak fungsi-fungsi tambahan

yang diharapkan dari lumpur pemboran. Banyak additif dengan berbagai fungsi

yang ditambahkan kedalamnya, menjadikan lumpur pemboran yang semula hanya

berupa fluida sederhana menjadi campuran yang kompleks antara fluida, padatan

dan bahan kimia.

Dari adanya perkembangan dalam penggunaan lumpur hingga saat ini,

fungsi-fungsi utama dari lumpur pemboran yang diharapkan adalah sebagai berikut:

1) Mengendalikan tekanan formasi.

2) Mengangkat serbuk bor kepermukaan dan membersihkan dasar lubang

bor.
3) Memberi dinding pada lubang bor dengan mud-cake.

4) Melumasi dan mendinginkan rangkaian pipa pemboran.

5) Menahan padatan dari formasi dan melepaskannya dipermukaan.

Tipe Lumpur Pemboran

Sesuai dengan lithologi dan stratigrafi yang berbeda-beda untuk setiap

lapangan, serta tujuan pemboran yang berbeda-beda (eksplorasi, pengembangan,

kerja ulang) kita mengenal type/ sistim lumput yang berbeda-beda pula, seperti :

1) Sistim Lumpur Tak Terdispersi (Non Dispersed). Termasuk diantaranya

lumpur tajak untuk permukaan dan sumur dangkal dengan treatment yang

sangat terbatas.

2) Sistim Lumpur Terdispersi untuk sumur yang lebih dalam yang

membutuhkan berat jenis yang lebih tinggi atau kondisi lubanh yang

problematis. Lumpur perlu didispersikan menggunakan dispersant seperti

senyawa Lignosulfonat, Lignite serta Tannin

3) Lime Mud (Calcium Treated Mud), sistim Lumpur yang mengandalkan

ion-ion Calcium untuk melindungi lapisan formasi shale yang mudah runtuh

karena me-nyerap air.

4) Sistim Lumpur Air Garam yang mengandalkan larutan garam (NaCl, KCl))

untuk mengurangi pembasahan formasi oleh air.

5) Sistim Lumpur Polymer yang mengandalkan polymer-polymer seperti

Poly Acrylate, Xanthan Gum, Cellulosa untuk melindungi formasi dan

mencegah terlarutnya cuttings kedalam lumpur bor. Sistim ini dapat

ditingkatkan kemam-puannya dengan menambahkan daram KCl atau NaCl,

sehingga sistim ini disebut Salt Polymer System.


6) Oil Base Mud. Untuk membor lapisan formasi yang sangat peka terhadap

air, digunakan sistim lumpur yang menggunakan minyak sebagai medium

pelarut. Bahan-bahan kimia yang dipakai haruslah dapat larut

atau kompatibel dengan minyak., berbeda dengan bahan kimia yang larut

dalam air. Sistim Lumpur ini Sistim Lumpur ini sangat handal melindungi

desintefrasi formasi, tahan suhu tinggi, akan tetapi kecuali mahal juga kurang

ramah lingkungan

7) Sistim Lumpur Synthetis menggunakan fluida sintetis dar jenis ester, ether,

dan poly alha olefin, untuk menggantikan minyak sebagai medium pelarut.

Lumpur ini sekwaalitas dengan Oil Based Mud, ramah lingkungan, akan

tetapi dianggap teralu mahal.

3.1.1. Interpretasi

Pada data Well Log dapat diinterpretasikan bahwa pada pemboran dengan

kedalaman 2328.0 m – 2495 m dengan skala perbandingan 1 : 500 di dominasi oleh

litologi sandy shale yang didapatkan dari batas sand base line dan batas shaly base

line.

Pada data Well Log tersebut, batuan reservoir hidrokarbon yaitu terdapat

pada batupasir dengan adanya cross over Antara RHOB dan NPHI dari nilai pasir.

Pada batuan reservoir tersebut mengandung adanya hidrokarbon berupa gas yang

dapat di dasarkan atas nilai GR, Porosity dan nilai LLD – LDW.
Bab IV
Geokimia Hidrokarbon

4.1. Dasar Teori

Hidrokarbon adalah sumber daya energi yang penting peranannya dalam

mendukung perekonomian negara. Di Indonesia terdapat lebih dari enam puluh

cekungan sedimen, baik yang ada di lepas pantai maupun di darat. Saat ini batuan

sedimen laut dalam mendapat perhatian karena berpotensi sebagai reservoir

hidrokarbon, seperti yang telah dibuktikan di Cekungan Kutai, Brunei, Tarakan,

Sumatra Utara, Jawa Timur, dan Cekungan Palawan (Kusumastuti drr., 2001;

Guritno drr., 2003)

Agar minyak dan gas Bumi dapat terbentuk dan tersimpan dalam perut

Bumi untuk kemudian ditemukan oleh manusia, dibutuhkan syarat-syarat tertentu.

Syarat-syarat itu di antaranya:

1. Terdapatnya batuan induk atau source rock, yaitu batuan sedimen yang

mengandung material organik

2. Adanya migrasi, yaitu proses berpindahnya minyak dan gas Bumi yang

terbentuk di source rock menuju lapisan resorvoir

3. Adanya batuan resorvoir yang merupakan batuan sedimen berpori, sehingga

minyak dan gas Bumi dapat tersimpan di daerah tersebut

4. Adanya perangkap minyak dan gas Bumi atau yang biasa disebut oil trap,

yaitu bentukan yang menyebabkan minyak dan gas Bumi terperangkap di

dalamnya
5. Terdapatnya batuan penutup yang merupakan batuan sedimen kedap air,

yang menyebabkan minyak dan gas Bumi tidak bisa keluar lagi sampai

saatnya ditemukan oleh manusia.

Ada beberapa pengertian dari batuan induk ataupun sorce rock yaitu sebagai berikut

1. Batuan induk (Source rocks) adalah batuan sedimen berbutir halus yang

memiliki kapabilitas sebagai sumber hidrokarbon (Waples, 1985)

2. Pengertian batuan induk adalah batuan sedimen yang sedang, akan, atau

telah menghasilkan hidrokarbon (Tissot and Welte, 1984 vide Peter and

Cassa, 1994).

3. Source rock adalah batuan karbonat yang berasal dari zat-zat organic yang

terendapkan oleh batuan sedimen. Sehingga tidak terjadi siklus carbon

seperti selayaknya. Justru karbonat terendapkan dan menjadi batu

Ada beberapa istilah mengenai batuan induk yang harus kita pahami, antara lain :

1. Batuan Induk efektif (effective source rocks) adalah batuan sedimen yang

sudah menghasilkan dan mengeluarkan (expelled) hidrokarbon

2. Batuan induk yang mungkin (possible source rocks) adalah batuan sedimen

yang potensi sumbernya belum dievaluasi, tetapi mungkin telah

menghasilkan dan mengeluarkan hidrokarbon

3. Batuan Induk potensial (potential source rocks) adalah batuan sedimen yang

belum matang (immature) yang kapabilitasnya dalam menghasilkan dan

mengeluarkan hidrokarbon diketahui jika tingkat kematangan termal

menjadi lebih tinggi.


Batuan induk (source rock) diklasifikasikan dari jenis kerogen bahwa mereka

mengandung, yang pada gilirannya mengatur jenis hidrokarbon yang akan

dihasilkan :

a. Tipe 1 batuan sumber terbentuk dari alga masih diendapkan di bawah

anoksik kondisi di dalam danau : mereka cenderung menghasilkan minyak

mentah lilin ketika diberikan stres termal selama penguburan yang

mendalam

b. Tipe 2 sumber batuan terbentuk dari plankton laut dan bakteri tetap

dipertahankan dalam kondisi anoxic di lingkungan laut: mereka

menghasilkan baik minyak dan gas ketika termal retak selama penguburan

dalam.

c. Tipe 3 batuan sumber terbentuk dari bahan tanaman darat yang telah

diurai oleh bakteri dan jamur dalam kondisi oxic atau sub-oxic: mereka

cenderung menghasilkan sebagian besar gas dengan minyak ringan terkait

ketika termal retak selama penguburan dalam. Kebanyakan serpih bara dan

hitam legam umumnya Tipe 3 batuan sumber.

Faktor Terbentuknya Source Rock

Untuk menjadi source rock ada 3 faktor yang mempengaruhi, yaitu :

1. TOC ( total organic karbon ) merupakan kuantitas dari karbon organic

yang terendapkan dalam batuan tersebut. Semakin tinggi nilai OC maka akan
semakin baik source rock tersebut dan kemungkinan terbentuknya hidrokarbon

akan semakin tinggi. TOC yang dapat menghasilkan adalah di atas 1 % .

2. Kerogen merupakan kualitas dari carbon organic yang terendapkan dala

batuan tersebut. Komposisi kerogen juga dipengaruhi proses pematangan termal

(katagenesis dan metagenesis) yang mengubah kerogen tersebut.

Analisis dan Evaluasi Batuan Induk

Ada 5 hal yang akan di perhatikan dalam analisis dan evaluasi batuan induk, yaitu:

1. Transformasi material organik

Menurut Waples (1985), hidrokarbon berasal dari material organik

tumbuhan yang telah mati pada masa lampau dengan proses pembentukan yang

sangat rumit. Sampai saat ini, beberapa bagian daripada proses pembentukan

hidrokarbon masih belum dapat dimengerti. Namun secara garis besar diketahui

bahwa material organik ini berasal dari tumbuhan dan alga yang terlindungi dengan

baik pada sedimen berbutir halus yang terendapkan pada daerah tanpa oksigen

(anoksik). Kandungan organik ini akan berubah oleh adanya reaksi kimia dan

biologi pada suhu yang rendah (diagenesis) yang terjadi selama proses transportasi

dan pengendapan.

Perubahan kimia pada tahapan ini akan berkurang dengan hilangnya

kandungan oksigen (O2) dari material organik dalam bentuk air (H2O) dan

karbondioksida (CO2). Material organik yang selama diagenesis berubah menjadi

molekul yang lebih besar dinamakan kerogen. Dengan bertambahnya kedalaman,


porositas dan permeabilitas sedimen akan menurun, sementara suhu akan naik.

Perubahan ini menyebabkan terhentinya aktivitas mikroba secara bertahap, dan

pada akhirnya proses diagenesis organik akan terhenti. Dengan naiknya suhu, maka

reaksi termal menjadi semakin penting.

Selama fase berikutnya (katagenesis), kerogen mulai memisah menjadi

molekul yang lebih kecil dan mudah bergerak. Pada tahap perubahan akhir

(metagenesis), produk pokoknya akan terdiri dari molekul gas yang lebih kecil.

Kerogen yang terbentuk dari material organik yang berbeda, atau pada kondisi

diagenetik yang berbeda, akan memiliki perbedaan secara kimia satu sama lain.

Adanya perbedaan ini juga akan memberi perbedaan pada karakteristik hidrokarbon

yang dihasilkan.

2. Preservasi material organik

Batuan induk, yang dicirikan oleh jumlah kandungan organik tipe tertentu

akan terendapkan pada konisi tertentu. Kondisi yang tepat untuk pembentukan

sedimen yang kaya kandungan organik adalah sebagai berikut:

– Suplai detritus yang kaya material organik dalam jumlah yang banyak

– Terlindungi dari proses oksidasi biogenik/ abiogenik

– Sedimentasi pada daerah dengan energi rendah

– Transportasi yang cepat menuju permukaan pengendapan


Kondisi anoksik (depleted oxygen) diperlukan dalam preservasi material

organik pada suatu lingkungan pengendapan, dikarenakan kondisi lingkungan ini

akan membatasi aktivitas bakteri aerobik dan organisme biturbasi yang sangat

berperan dalam pengrusakan material organik. Kondisi anoksik berkembang

dimana kebutuhan oksigen lebih besar daripada suplai oksigen. Oksigen biasanya

dikonsumsi oleh proses pembusukan (degradasi) zat organik yang telah mati,

dimana kebutuhan oksigen amat besar pada area dimana produktivitas organik yang

tinggi. Pada lingkungan berair (aquatic), suplai oksigen dikontrol oleh sirkulasi air

yang mengandung oksigen dan berkurang pada kondisi pada dasar air yang stagnan.

3. Analisis kerogen

Material organik akan terpendam dalam sedimen (batuan induk) dalam

bentuk yang disebut kerogen. Pengukuran geokimia dapat digunakan untuk

menentukan kadar dan tingkat kematangan termal batuan ini. Pengukuran potensi

untuk menghasilkan hidrokarbon ditentukan oleh pengukuran Total Organic

Carbon (TOC) dan pyrolysis yield. Batuan dengan pyrolysis yield lebih besar dari

5 kg/ ton disebut batuan induk efektif. Untuk peralatan geokimia yang lebih modern

lagi, seperti gas chromatography dan studi isotop dapat digunakan untuk

menentukan produk hidrokarbon dan juga untuk aplikasi lain, seperti korelasi

batuan induk dengan minyak bumi.

Deskripsi kerogen secara visual (optical) juga dapat menjadi petunjuk yang

berguna untuk mengetahui potensi dan tipe hidrokarbon. Dari pengamatan secara

mikroskopik pada cahaya refeksi (reflected light), kerogen dapat diklasifikasikan

kepada grup exinite, vitrinite, and inertinite. Grup exinite terdiri dari maseral
dengan potensi minyak yang signifikan, sementara grup vitrinit adalah penghasil

gas (gasprone). Grup intertinit tidak mempunyai potensi untuk menghasilkan

hidrokarbon. Pengukuran dari vitrinite reflectance sering digunakan untuk

pengukuran index kematangan thermal.

Potensi sumber dari Immature Kerogen Berdasarkan Indeks Hidrogen

Hidrogen Indeks (mg


Principal Product Relative Quantity
HCg/TOC
< 150 gas Small
150-300 Oil + gas Small
300-450 Oil Moderate
450-600 Oil Large
> 600 Oil Very Large

4. Indikator kematangan termal

Vitrinite reflectance adalah indicator kematangan batuan induk yang paling

sering digunakan, dilambangkan dengan Ro (Reflectance in oil). Nilai Ro untuk

mengukur partikel-partikel vitrinite yang ada dalam sampel amat bervariasi. Untuk

menjamin kebenaran pengukuran, maka penentuan nilai Ro diperlukan secara

berulang pada sampel yang sama. Bila distribusi dari vitrinite reflectance adalah

bimodal, maka ada kemungkinan telah terjadi reworking. Skala vitrnite relectance

yang telah dikalibrasikan oleh berbagai parameter kematangan yang lain oleh studi

minyak dan gas adalah sebagai berikut:

– Ro < 0.55 belum matang (immature)

– 0.55 < Ro < 0.8 telah menghasilkan minyak dan gas bumi
– 0.8 < Ro < 1.0 minyak berubah menjadi gas bumi (zona kondensat gas)

– 1.0 < Ro < 2.5 dry gas

Vitrinite reflectance adalah indikator kematangan termal yang sangat baik

pada Ro antara 0.7 dan 0.8. Salah satu penggunaan vitrinite reflectance yang juga

penting dalam analisis cekungan (basin analysis) adalah kalibrasi sejarah termal

(thermal history) dan sejarah pengendapan (burial history) dengan tingkat

kematangan pada masa sekarang.

5. Akumulasi dan pembentukan minyak bumi

Hidrokarbon terbentuk ketika batuan induk telah menghasilkan dan

mengeluarkan hidrokarbon. Hidrokarbon ini seterusnya akan mengalir melalui

lapisan pembawa (carrier bed) menuju perangkap (trap). Hidrokarbon dihasilkan

sebagai reaksi dari perpecahan kimiawi kerogen (chemical breakdown) bersamaan

dengan bertambahnya suhu. Dengan keluarnya hidrokarbon dari batuan induk,

maka sisa kerogen akan berubah menjadi residu karbon. Suhu dan waktu adalah

faktor terpenting dari pecahnya kerogen. Keluarnya hidrokarbon dari batuan induk

kemungkinan terjadi akibat adanya perpecahan mikro (micro-fracturing) pada

batuan induk setelah terjadi overpressure akibat terbentuknya hidrokarbon.

Batuan induk yang miskin tidak akan menciptakan cukup minyak untuk

mengakibatkan ekspulsi hidrokarbon. Pada tingkat kematangan yang lebih lanjut,

maka minyak akan akan berubah menjadi gas yang lebih mudah untuk lepas dari

batuan induk. Untuk batuan induk yang kaya, efisiensi dari pengeluaran minyak

cukup tinggi (60 – 90 %). Lepasnya hidrokarbon dari batuan induk ke lapisan
pembawa (carrier bed) disebut juga migrasi primer (primary migration).

Perpindahan hidrokarbon melalui lapisan pembawa yang porous dan permeable

menuju perangkap (traps) disebut juga migrasi sekunder (secondary migration).

Kekuatan utama dibalik migrasi sekunder adalah adanya buoyancy yang

diakibatkan oleh adanya perbedaan densitas antara minyak (atau gas) dan air pada

pori pori batuan.

Sedangkan yang menahan buoyancy ini adalah tekanan kapiler (capillary

pressure). Tekanan kapiler akan semakin naik dengan semakin kecilnya pori pori

batuan. Selama migrasi sekunder (secondary migration), hidrokarbon cenderung

mengalir melalui jaringan pori pori batuan yang saling berhubungan pada lapisan

penghantar (carrier bed) daripada meliputi volume lapisan penghantar secara

keseluruhan. Perpindahan akan terhenti pada saat hidrokarbon melalui pori batuan

yang lebih kecil dimana tekanan kapiler (capillary pressure) akan lebih besar dari

gaya buoyancy dari kolom minyak. Sistem pori ini disebut juga sebagai lapisan

penutup (seal) dengan tinggi maksimum kolom minyak yang dapat ditahan oleh

lapisan penutup (seal) dapat dihitung. Hidrokarbon cenderung untuk pindah searah

dengan kemiringan (true dip) pada bagian atas dari lapisan penghantar (carrier bed).

Oleh karena itu peta struktur kontur dapat digunakan untk mebuat model arah

migrasi. Selama migrasi yang panjang (sebagai contoh pada foreland basin),

hidrokarbon akan mengalir terpusat pada tinggian regional (regional high).

Hilangnya hidrokarbon pada saat migrasi sekunder (secondary migration)

sangat sulit untuk dihitung. Akhirnya, hidrokarbon akan terperangkap dalam

reservoar yang yang disemuti oleh lapisan penghambat (seal). Hidrokarbon ini akan
berubah secara fisik dan kimia oleh proses biodegradasi, water washing,

deeasphalting dan alterasi termal pada perangkap tersebut.

Analisa Jumlah Organik Dalam Batuan Induk

Jumlah material organik yang terdapat di dalam batuan sedimen dinyatakan

sebagai Karbon Organik Total (TOC). Analisis ini cukup murah, sederhana dan

cepat. Biasanya memerlukan satu gram batuan, tetapi jika sample banyak material

organik, jumlah yang lebih kecil dari satu gram cukup.

Analisa TOC biasanya dilakukan dengan suatu alat penganalisis karbon,

Leco Carbon Analyzer.

Dimana tekniknya cukup sederhana, yaitu dengan membakar sample yang

berbentuk bubuk, bebas mineral karbonat pada temperatur tinggi dengan batuan

oksigen. Semua karbon organik dirubah menjadi karbon dioksida, yang kemudian

diperangkap dalam alat tersebut dan dilepaskan dalam suatu detector ketika

pembakaran sudah usai jumlah karbon organik di dalam batuan karbonat harus

dihilangkan dalam sample dengan asam klorida sebelum pembakaran, karena

mineral karbonat juga terurai selama pembakaran dan menghasilkan karbon

dioksida. Sample dengan kandungan TOC rendah biasanya dianggap tidak mampu

membentuk hidrokarbon yang komersial dan karena itu sample seperti biasanya

tidak dianalisis lebih lanjut. Titik batas didiskualifikasikan biasanya tidak merata,

tetapi pada umumnya antara 0,5 dan 1 % TOC. Sample yang terpilih, dianalisis

lebih lanjut untuk tipe material organik yang dikandungnya.

Jika penentuan TOC ditentukan terhadap sample inti bor, maka

pengambilan sample tersebut didasarkan pada litologi yang menarik. Sebelum

melakukan penentuan TOC, teknisi harus membuang kontaminan dan material


jatuhan. Jika terdapat lebih dari satu litologi dalam suatu sample, maka kita harus

melakukan pengambilan material tertentu saja. Pendekatan lain adalah tanpa

memilih materialnya dengan harapan agar kita mendapatkan harga yang

mencerminkan keseluruhan sample.

Kekurangan dari cara ini adalah kita secara tidak sadar mencampur material

kaya yang seringkali jumlahnya relatif sedikit dengan material yang tidak

mengandung material organik (kosong) yang jumlahnya cukup banyak, sehingga

akhirnya memberikan data yang membuat kita menjadi pesimis. Karena kedua cara

tersebut berbeda, maka jika tidak seseorang akan melakukan interpretasi haruslah

mengetahui metode mana yang telah ditempuh agar dapat menghasilkan interpretasi

dengan akurasi tinggi.

ANALISA KAMATANGAN BATUAN INDUK

Tingkat Kematangan Minyak Bumi

Para ahli berpendapat bahwa proses kematangan dikontrol oleh suhu dan

waktu. Pengaruh suhu yang tinggi dalam waktu yang singkat atau suhu yang rendah

dalam waktu yang lama akan menyebabkan terubahnya kerogen minyak bumi.

Mengenai jenis Minyak bumi yang terbentuk tergantung pada tingkat kematangan

panas batuan induk, semakin tinggi tingkat kematangan panas batuan induk maka

akan terbentuk Minyak bumi jenis berat, Minyak bumi ringan, kondensat dan pada

akhirnya gas.

Dari pengaruh suhu dan kedalaman sumur, umur batuan juga berperan

dalam proses pembentukan minyak bumi. Umur suatu batuan erat hubungannya

dengan lamanya proses pemanasan bedangsung serta jumlah panas yang diterima

batuan induk, sehingga suatu batuan induk yang terletak pada kedalaman yang
dangkal, pada kondisi temperatur yang rendah dapat mencapai suhu pembentukan

minyak bumi dalam suatu skala waktu tertentu.

Dari hasil suatu riset, Bissada (1986) menyatakan bahwa temperatur

pembentukan minyak bumi sangat bervariasi. Dijelaskan bahwa batuan yang

berusia lebih muda relatif memerlukan temperatur yang lebih tinggi dalam

pembentukan minyak bumi.

5 tahapan zonasi pematangan minyak bumi menurut Bissada (1986) adalah

1. Zona I : dimana gas dapat terbentuk sebagai akibat aktivitas bakteri tidak ada

minyak yang dapat dideteksi kecuali minyak bumi tersebut merupakan zat pengotor

atau hasil suatu migrasi.

2. Zona II : merupakan awal pembentukan minyak bumi. Hasil utama yang

terbentuk pada zona ini adalah gas kering basah dan sedikit kondensat. Adanya

pertambahan konsentrasi minyak akan menyebabkan minyak burni terus

mengalami pengeceran, tetapi belum dapat terbebaskan dari batuan induknya.

Begitu titik kritis kemampuan menyimpan terlampaui, proses pelepasan minyak

bumi sebagai senyawa yang telah matang dimulai.

3. Zona III : merupakan zona puncak pembentukan dan pelepasan minyak bumi

dari batuan induk. Bentuk utama yang dihasilkan berupa gas dan minyak bumi.

Dengan bertambahnya tingkat pematangan maka minyak yang berjenis ringan akan

terbentuk.

4. Zona IV : merupakan zona peningkatan pembentukan kondensat gas basah.

5. Zona V : merupakan zona terakhir, dicirikan dengan suhu yang tinggi sehingga

zat organik akan terurai menjadi gas kering (metana) sebagai akibat karbonisasi.

Perubahan yang terjadi sebagai akibat penambahan panas dan lamanya pemanasan
pada kerogen atau batubara dapat bersifat kimia dan fisika, seperti diuraikan oleh

Bissada (1980) sebagai berikut :

a. Daya pantul cahaya dari partikel vitrinit akan meningkat secara eksposnensial.

b. Warna kerogen akan berubah menjadi lebih gelap.

c. Adanya peningkatan mutu batubara, dengan kandungan volatile akan

berkurang.

d. Sifat kimia dari kerogen akan berubah, kandungan oksigen dan hidrokarbon

akan berkurang sehingga perbandingan dari atom oksigen / karbon dan hydrogen /

karbon akan menurun dan akhirnya hanya akan membentuk karbon mumi (grafit).

ZONE I
BIOHEMICAL METANE GENERATION
DRY GAS
ZONE II
INITIAL THERMOCHEMICAL GENERATION
NO EFFECTIVE OIL RELEASE
DRY GAS - WET GAS - CONDENSATE - (OIL ?)
ZONE III
MAIN PHASE OF MATURE OIL GENERATION AND RELEASE OIL AND
GAS
ZONE IV
THERMAL DEGRADATION OF HEAVY HIDROCARBON
(OIL PHASE - OUT)
CONDENSATE WET GAS - DRY GAS
ZONE V
INTENSE ORGANIC METAMORFISM: METANA FORMATION DRY GAS

Zonasi pembentukan minyak bumi (Sissada, 1986)


Identifikasi kematangan minyak bumi

Perubahan thermal zat organik mungkin akan dimulai pada kondisi

temperatur sebesar 1000 C. Perubahan temperatur yang teejadi dapat menyebabkan

terjadinya proses metamorfosa dan ini akan sangat berpengaruh pada kondisi zat

organik yang terkandung dalam sedimen. Sehingga saat ini berkembang suatu cara

pengidentifikasian pematangan berdasarkan data geokimia organik yaitu dengan

cara :

Analisa Pantulan vitrinit

Analisa ini berdasarkan pada kemampuan daya pantul cahaya vitrinit.

Besarnya pantulan vitrinit merupakan petunjuk langsung untuk tingkat kematangan

zat organik, terutama humus yang cenderung membentuk gas dan merupakan

petunjuk tidak langsung untuk sapronel kerogen yang cenderung membentuk

minyak (Cooper, 1977). Kemampuan daya pantul ini merupakan fungsi temperatur

artinya dengan perubahan waktu pemanasan dan temperatur akan menyebabkan

warna vitrinit berubah dibawah sinar pantul.

Cara penganalisaam pantulan vitrinit ini yaitu dengan mengambil contoh

batuan dari kedalaman tertentu diletakkan diatas kaca preparat dan direkatkan

dengan epoxyresin. Kemudian digosokkan dengan kertas korondum kasar sampai

halus dan terakhir dengan menggunakan alumina. Selanjutnya contoh batuan

tersebut diuji dalam minyak immersi (indeks bias = 1,516) dengan menggunakan

mikroskop dan suatu micro photomultiplier dan digital voltmeter attachment.

Kemudian dilakukan kalibrasi terhadap vitrinit berdasarkan suatu standart yang

terbuat dari gelas. Table di bawah memperlihatkan hubungan antara nilai pantulan

vitrinit dengan tingkat kematangan hidrokarbon. (Tissot and Welte, 1978).


VITRINITE REFLECTANCE HYDROCARBON TYPE
0,33 – 0,35 Biogenic gas
0,35 – 0,66 Biogenic gas and oil immature
0,60 – 0,80 Immature oil
0,80 – 1,30 Mature oil
1,30 – 1,60 Mature oil, condensat, wet gas
1,60 – 2,00 Condensat, wet gas
> 2,00 Petrogenoic methane gas

Analisa Indeks Warna Spora

Analisa ini untuk mengetahui tingkat kematangan zat organik dengan

menggunakan mikro fosil dari sekelompok spora dengan serbuk sari. Analisa ini

dilakukan dengan cara contoh kerogen yang diperlukan dari keratan bor diuraikan

dengan cairan asam kemudian contoh spora atau tepung sari ini diletakkan pada

kaca preparat dan diamati tingkat warnanya dengan suatu skala warna melalui

mikroskop.

Kesulitan dalam analisis indeks warna spora ini terkadang timbul dalam hal

membandingkan tingkat warna dari suatu contoh spora atau tepung sari dengan

warna standart tertentu. Keterbatasan lainnya adalah bahwasannya tingkat warnan

spora akan sangat tergantung pada ketebalan dindingnya, pada beberapa jenis spora

efek panas yang mengenainya terkadang tidak selalu tercermin dari perubahan

warnanya. Table 3.2. memperlihatkan hubungan antara warna dari spora atau

tepung sari dengan tingkat kematangannya.


SCI PALYNOMORPH COLOUR MATURITY DEGREE
1 Pale Yellow Immature
2 Yellow Immature
3 Yellow Transition to mature
4 Gold Yellow Transition to mature
5 Orange of Yellow Mature
6 Orange Optimum oil generation
7 Brown Optimum oil generation
8 Drak Brown Mature, gas condensat
9 Drak Brown to Black Over mature, dry gas
10 Black Over mature, dry gas (traces)

Indeks Pengubahan Thermal

Metode ini mempergunakan penentuan warna secara visuil dari pollen

(serbuk kepala putik) dan zat organik lainnya, dari warna kuning, coklat sampai

hitam. Klasifikasi ini dihubungkan langsung dengan pembentukan atau pematangan

dari minyak dan gas bumi.


Identifikasi Kematangan Berdasarkan Pyrolisis

Metode Analisis

Alat yang dipergunakan untuk ini adalah rock-eval. Di dalam pyrolisis,

sejumlah kecil bubuk sample (biasanya sekitar 50 -100 mg) dipanasi secara

perlahan tanpa adanya oksigen dari suatu temperatur awal 2500 C ke temperatur

maksimum 5500 C.

Selama pemanasan berlangsung dua jenis hidrokarbon dikeluarkan dari

batuan. Hidrokarbon yang pertama, yang keluar sekitar 2500 C, merupakan

hidrokarbon yang sudah ada dalam batuan. Hidrokarbon ini setara dengan bitumen

yang dapat diekstraksi dengan mepergunakan pelarut. Detector pada Rock-Eval

akan merekam hal ini dan menggambarkannya dalam bentuk S1 pada kertas

pencatat. Dengan menerusnya pemanasan, aliran hidrokarbon yang sudah ada di

dalam batuan mulai berkurang. Pada temperatur 3500 C jenis hidrokarbon jenis

kedua mulai muncul. Aliran kedua ini mencapai maksimum ketika temperatur

pyrolisis hidrokarbon mencapai 4200 C dan 4600 C, yang kemudian menurun

sampai akhir pyrolisis. Hidrokarbon kedua ini disebut S2, merupakan hidrokarbon

yang terbentuk dari kerogen didalam Rock-Eval karena penguraian bahan kerogen.

S2 dianggap sebagai indicator penting tentang kemampuan kerogen memproduksi

hidrokarbon pada saat ini.

Selama pyrolisis, karbon dioksida juga dikeluarkan dari kerogen. Karbon

dioksida ini ditangkap oleh suatu perangkap selama pyrolisis berlangsung dan

kemudian dilepas pada detector kedua (direkam sabagai S3) setelah semua

pengukuran hidrokarbon selesai. Jumlah karbon dioksida yang didapat dari kerogen

yang dikorelasikan dengan jumlah oksigen tinggi berkaitan dengan material yang
berasal dari kayu selulosa atau oksida tinggi selama diagenesis, maka kandungan

oksigen tinggi di dalam kerogen merupakan indicator negatif potensial sumber

hidrokarbon.

Pyrolisis Tmax

Parameter Tmax adalah temperatur puncak S2 mencapai maksimum.

Temperatur pyrolisis digunakan sebagai indicator kematangan, sebab jika

kematangan kerogen meningkat, temperatur yang menunjukkan laju maksimum

pyrofisis terjadi juga meningkat atau dengan kata lain jika Tmax makin tinggi

batuan semakin matang. Demikian pula halnya dengan ratio S1 (S2 + S3) yang

disebut juga transportation ratio atau OPI (Oil Production Index) dan juga

parameter Tmax. Untuk hubungan antara transformation Ratio dan Tmax dengan

kematangan dapat dilihat pada table di bawah ini.

Tabel Hubungan antara traspormation Ratio dengan Kematangan (Espifatie etal 77

Vide tissot & Wefte 1978)

S1 1 (S1 = S2)
Tingkat Kematangan
(mg/gr atau kg/ton)
< 0,1 Beium matang
0,1-0,4 Matang (oil wirndow)
> 0,4 Lewat matang (gas window)

Tabel Hubungan antara T Max dengan Tingkat Kematangan (Espilatie etal Vide
tissot & Wefte 1978)
T Max (0C) Tingkat Kematangan
400 – 435 Beium matang
435 – 460 Matang (oil wirndow)
> 460 Lewat matang (gas window)
Peningkatan kematangan pada Torcian Paper Shale, cekungan Pads. Peningkatan

ini sejalan dengan bertambahnya kedalaman penimbun, seperti juga ditunjukkan

oleh meningkatnya puncak S1, bertambahnya rasio Sl(S1 + S2) dan bertambahnya

T Max (Waples, 1985, P.95).

Tabel Klasifikasi S1 + S2 (HY) (Espilatie etal 77 Vide tissot & Welte 1978)

S1 + S2
Tingkat Kematangan
(mg/gr atau kg/ton)
0,00-1,00 Poor
1,00-2,00 Marginal
2,00-6,00 Moderate
6,00-10,0 Good
10,0-20,0 Very good
> 20,0 Excellent

ANALISA TIPE MATERIAL ORGANIK

Tipe - tipe Bahan Organik Dalam Batuan Induk

Hampir seluruh bahan organik dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe

utama yaitu Sapropefic dan Hurnic (POTONIE, 1908). Istilah Spropelic

menunjukkan hasil dekornposisi dari lemak, zat organik lipid yang diendapkan

dalam lumpur bawah air (Laut dan Danau) pada kondisi oksigen terbatas.

Istilah Humic menjelaskan hasil dari pembentukan gambut, dan pada

umumnya berasal dari tumbuhan darat yang diendapkan pada rawa pada kondisi

adanya oksigen. Istilah Kerogen pada mulanya menunjukkan bahan organik dan

serpih minyak yang menjadi yang menjadi minyak akibat pematangan thermal.

Sekarang Kerogen didefinisikan sebagai bahan organik yang tidak dapat

larut dalam asam non oksidasi, basa dan pelarut organik (HUNT, 1979), sekitar 80
- 99% kandungan bahan organik pada batuan induk tersusun oleh kerogen,

selebihnya adalah bitumen.

Dalam diagram Van Krevelen yang dimodifikasi Tissot (1974) dan ahli

lainnya (North, 1985). Ia menggambarkan jalur evolusi pematangan (Evolusi

thermal), 4 tipe kerogen yaftu :

  Tipe 1 : Tipe ini merupakan tipe tinggi, berupa sedimen-sedimen algal,

umumnya merupakan endapan danau, mengandung bahan organik Sapropelic, rasio

atom H:C sekitar 1,6 – 1,8. Kerogen ini cenderung menghasilkan minyak (oil

prone).

  Tipe 2 : Kerogen tipe ini merupakan tipe intermediat, umumnya merupakan

endapan-endapan tepi laut. Bahan organiknya merupakan campuran antara bahan

organik asal darat dan laut, rasio atom H:C sekitar 1,4. Tipe ini juga menghasilkan

minyak (oil prone).

  Tipe 3 : Kerogen ini mengandung bahan organik Humic yang berasal dari darat,

yakni dari tumbuhan tingkat tinggi (ekivalen dengan vitrinite pada batubara). Rasio

antara atom H:C adalah 1,0. Tipe ini cenderung untuk membentuk gas (gas prone).

  Tipe 4 : Tipe ini bahan organiknya berasal dari berbagai sumber, namun telah

mengalami oksidasi, daur ulang atau teralterasi. Bahan organiknya yang lembam

(inert) miskin hydrogen (rasio atom H:C kurang dari 0,4) dan tidak menghasilkan

hidrokarbon.

Kelompok maseral Maseral Asal Tanaman


Alginit Alga
Eksinit Kutinit Lapisan lilin
(cenderung ke minyak Sporinit Spora / pollen
Resinit Resin
Siberinit Gabus
Liptoderinit Berbagai materil di atas
Vitrinit Telinit Jaringan tanaman
(cenderung gas) Kolinit Gel humus
Fussinit Arang
Semi Fussinit Tanaman
Inertinit Piro Fussinit Jaringan
(inert) Sklerotinit Jamur
Makrinit Amor tidak jelas praztnya
Makrinit

Metode Evaluasi Tipe Material Organik

Ada dua cara pendekatan untuk menentukan tipe material organik di dalam batuan

induk.

Metode Langsung

Metode yang dipakai adalah metode pyrolisis, dimana setelah pyrolisis

didapat (S1, S2, S3 dan T Max), maka kita bisa mendapatkan harga Hidrogen Index

dan Oksigen Indeks yaitu Hidrogen Indeks (H1) = S2/TOC x 100; Oksigen Indeks

(OI) = S3/TOC x 100. Harga ini kemudian diplotkan kedalam diagram Van

Krevelen, sehingga kita bisa menentukan tipe material organiknya. Kemudian bisa

juga dengan menggunakan data T Max dan HI, setelah itu kita mengetahui type

material organiknya, maka kita bisa menentukan lingkungan pengendapannya.

Metode tidak langsung

Sangat berbeda dengan metode langsung, metode ini mengamati potensial

sumber dari suatu kerogen dengan mengamati karakteristik fisik dan kimia yang

diperkirakan kaitannya dengan potensial sumber. Teknik tak langsung yang

umumnya digunakan adalah analisis mikroskopis dan analisis unsur.


Analisis Mikroskopis

Studi parlikel kerogen di bawah suatu mikroskop dengan menggunakan sinar

transisi sudah merupakan bagian integral geokimia organik untuk jangka dua

decade. Kerogen dikonsentrasikan atau diisolasi dan kemudian ditempatkan

didalam sayatan mikroskopik.

Pengamatan yang terlatih akan dengan mudah mengetahui adanya beberapa

macam partikel kerogen, seperti spora, pollen, acritachs, resin dan material dari

lapisan lilin tanaman yang dapat diakitkan dengan prazat biologisnya. Partikel lain

yang telah mengalami transformasi eksistensif sering dilakukan untuk membedakan

kerogen amorf yang berpotensial membentuk minyak (berflouresen) dari kerogen

amorf yang berpotensial membentuk gas (tidak berflouresen).

Analisis Unsur

Parameter penting di dalam analisis unsur untuk evaluasi batuan induk adalah

rasio HIC suatu kerogen. Karena hydrogen merupakan reagen terbatas dalam

pembentukan hidrokarbon (hydrogen biasanya habis lebih dahulu dibandingkan

dengan karbon), maka jumlah asal hydrogen menentukan jumlah maksimum

hidrokarbon yang terbentuk oleh suatu kerogen.

Metode tidak langsung merupakan metode yang berguna dalam penetuan

potensial batuan induk meskipun kepopuleran metode ini tergeser oleh kepopuleran

metode pyrolisis batuan induk. Walaupun demikian, disarankan agar setiap avaluasi

batuan induk dilakukan analisis unsur atau mikroskopik untuk mencek hasil

pyrobsis.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Tidak Langsung


Kelebihan dari metode ini adalah kita dapat memperoleh gambaran tentang

komposisi kimia dan sejarah suatu kerogen, sehingga kita akan dapat mengerti

semua masalah geologi dan geokimia yang mempengaruhi kualitas batuan induk.

Kelebihan lainnya ialah kita akan mendapatkan data yang akhimya akan kita

bandingkan dengan metode langsung. Kekurangannya ada dua : kecepatan dan

biaya analisisnya yang umumnya lebih tinggi dari kedua hal tersebut untuk

pyrolisis, sedangkan hasilnya tidak langsung memberikan kita gambaran tentang

kapasitas pembentukan hidrokarbon batuan tersebut.

Tabel 1. Geochemical Parameters Describing Source Rock

Generative Potential

TOC
Quantity S1* S2*
(wt. %)
Poor 0–5 0 – 0,5 0 – 2,5
Fair 0,5 – 1 0,5 – 1 2,5 – 5
Good 1–2 1–2 5 – 10
Very Good >2 >2 > 10
*Nomenclature S1 = mg HC/g rock S2 = mg HC/g rock
Tabel 2. Geochemical Parameters Describing Type of

Generative Generated

HI
Type S2/S3
(mg HG/g Corg)*
Gas 0 – 150 0–3
Gas and Oil 150 – 300 3–5
Oil > 300 >5
*Assumes a level of thermal maturation equivalent to Ro = 0,6%
Tabel 3. Geochemical Parameters Describing Type of
Thermal Maturation
Maturation PI Tmax Ro
[S1/(S1+S2)] (oC) (%)
Top oil window
~ 0,1 ~ 435 – 445* ~ 0,6
(birthline)
Bottom oil
~ 0,4 ~ 470 ~ 1,4
(deadline)

4.2. Interpretasi

a. Kekayaan Batuan Induk

Berdasarkan hasil perhitungan TOC setiap formasi maka disapatkan hasil

bahwa formasi A memiliki TOC 2,96% yang dalam klasifikasi Waples, 1985 masuk

ke dalam possibility of good to excellent source capacity, sedangkan klasifikasi

peters, 1986 masuk ke dalam Very Good. Formasi B memiliki TOC 2,98% yang

dalam klasifikasi Waples, 1985 masuk ke dalam Possibility Of Good To Source

Capacity, sedamgkan dalam klasifikasi Peters, 1986 masuk ke dalam Very Good.

Formasi C memiliki kandungan TOC Sebesar 2,58% yang dalam klasifikasi

Waples, 1985 masuk ke dalam Possibility Of Good To Excelent Source Capacity,

sedangkan dalam klasifikasi Peters, 1986 masuk ke dalam Very Good. Formasi D

memiliki Kandungan TOC sebesar 0,96% masuk ke dalam klasifikasi Waples, 1985

yaitu Possibility Of Slight Source Capacity, sedangkan dalam klasifikasi Peters,

1986 masuk ke dalam Fair. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa formasi

yang memiliki potensi besar kandungan Hidrokarbon adalah Formasi A, B, dan C,

sedangkan Formasi D memiliki potensi Hidrokarbon yang lebih rendah dari

Formasi A, B, dan C.

b. Ro Vs Kedalaman
Berdasarkan data plotting didapatkan bahwa Formasi A masuk ke dalam

kelas Immature, kemudian Formasi B masuk ke dalam kelas Early Mature,

kemudian Formasi C masuk ke dalam kelas Immature, dan Formasi D masuk ke

dalam kelas Late Mature. Pada lokasi ini terjadi Supresi Vitrinite, yaitu nilai

lonjakan Vitrinit dari Formasi C ke D pada kedalaman 2550. Supresi ini terjadi

karena proses ketidakselarasan yaitu pada formasi D yang sudah terlebih dahulu

matang, baru kemudian diendapkan Formasi C, B, Dan A.

c. Nilai HI dan OI pada diagram Van Krevelen

Berdasarkan Hasil Cross Plot pada diagram Van Krevelen dapat diketahui

bahwa Formasi A masuk ke dalam tipe kerogen III berdasarkan tabel komposisi

kerogen (Waples,1985) dengan maseral yaitu Vitrinit dan Material organic asal

yaitu tumbuhan tinggi (kayu, selulosa). Pada hasil cross plot pada diagram Van

Krevelen diketahui bahwa Formasi B masih sama dengan Formasi A yaitu masuk

ke dalam kerogen tipe III menurut tabel komposisi (Waples, 1985) dengan maseral

Vitrinit dan material organic asalnya yaitu material tumbuhan tinggi (kayu,

selulosa). Berdasarkan hasil cross plot pada diagram Van Krevelen dapat diketahui

bahwa Formasi C masuk pada kerogen tipe III didasrkan pada tabel komposisi

kerogen (Waples, 1985) dengan maseral Eksinit, Kutinit, Resinit, dan Liptinit

dengan material organic asalnya yaitu Spora, Polen, Lapisan Lilin Tanaman, Resin

Tanaman dan Lemak Tanaman, Alga Laut. Pada Formasi D masuk Ke dalam

kerogen tipe III menurut Waples, 1985 yang didasarkan pada tabel komposisi

kerogen dengan maeral Vitrinit dan material organic asalnya yaitu tumbuhan tinggi

(kayu, selulosa) yang didasari atas hasil cross plot pada diagram Van Krevelen.
d. Indeks Produksi Vs Kedalaman

Berdasarkan hasil plotting didapatkan perbedaan yang cukup mencolok

yaitu pada Formasi A, B, dan C yang memiliki nilai PI yang relative kecil

dibandingkan dengan Formasi D. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa batuan

induk pada Formasi A, B, dan C belum matang karena PI-nya rendah, ini mungkin

emiliki kemungkinan disebabkan karena batas kematangan Thermal pada lokasi ini

berbeda pada kedalaman 2550 M. Hal ini terbukti dengan nilai PI pada Formasi D

yang melonjak jauh pada nilai Antara 0,79 – 0,86, yang mana Formasi D berada

pada kedalaman >2500 m dengan banyaknya PI maka Formasi D menghasilkan

bitumen yang banyak pula


Bab V
Wireline Log

Log merupakan suatu grafik kedalaman/waktu dari suatu set data yang

menunjukkan parameter diukur secara berkesinambungan di dalam sebuah sumur

pemboran (Harsono, 1997).

Wireline logging adalah parameter yang dilakukan untuk mengetahui kondisi

bawah permukaan dan mencari reservoar pada kedalaman berapa, hal ini dilakukan

pada saat pemboran suatu sumur. Hasil dari wireline logging ini adalah kurva-kurva

log Permeable (Log Spontaneous Potensial, Gamma Ray, Caliper), log Resistivity

(Log Induksi dan Log Lateral), dan log Porosity (Log Density, Neutron, dan Sonic)

dan Caliper. Kurva-kurva ini digunakan untuk mengetahui zona prospek

hidrokarbon, evaluasi formasi, dan mengetahui lithologi di dalam formasi dan

sebagainya.

Gambar Wireline Log

Log wireline dapat dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan sifat fisik

yang diukur.

1. Log spontaneous potensial (SP)


Pada formasi yang permeable kurva SP menjauh dari garis lempung.

Pada zona permeabel yang tebal , kurva SP mencapai suatu garis konstan.

Dalam evaluasi formasi log SP digunakan untuk :

- Menentukan jenis litologi

- Menentukan kandungan lempung

- Menentukan harga tahanan jenis air formasi.

Gambar Log SP

2. Log Gamma Ray (GR)

Log GR merupakan suatu catatan terhadap kedalaman dari

radioaktivitas alamiah suatu formasi. Log Gamma Ray digunakan untuk :

- Menentukan volume lempung

- Identifikasi litolog

Gambar Log Gamma Ray

3. Log Resistivitas

Merupakan log elektrik yang digunakan untuk :

- Mendeterminasi kandungan fluida dalam batuan reservoir .

- Mengidentifikasi zona permeable


- Menentukan porositas

- Ada dua tipe log yang digunakan untuk mengukur resistiviti formasi

yaitu log induksi dan log elektroda.

Gambar Log Resistivitas

4. Log Densitas

Log Densitas merupakan suatu tipe log porositas yang mengukur

densitas elektron suatu formasi. Dalam evaluasi sumur log densitas berguna

untuk:

- Menentukan porositas

- Identifikasi litologi

- Identifikasi adanya kandungan gas

- Mederteminasi densitas hidrokarbon


Gambar Log Densitas

5. Log Netron

Merupakan tipe log porositas yang mengukur konsentrasi ion hydrogen

dalam suatu formasi. Dalam penentuan pekerjaan evaluasi formasi log

netron berguna untuk :

- Menentukan porositas

- Identifikasi litologi

- Indentifikasi adanya gas

Gambar Log Neutron

6. Log Sonik

Merupakan suatu log porositas yang mengukur interval waktu lewat dari

suatu gelombang suatu suara kompresional untuk melalui satu feet formasi.

Dalam evaluasi formasi log sonic berguna untuk :


- Menentukan porositas

- Identifikasi litologi

Gambar Log Sonik

5.1. Evaluasi Kualitatif

5.1.1. Dasar Teori

Menginterpretasikan dengan metode quick look log pada analisis kualitatif:

1. Log Gamma Ray

Dizona serpih, nilai GR tinggi dan pada batuan karbonat dan pasir

bersih nilai GR akan rendah. Selama interpretasi, pertama kita harus

memilih ‘zona bersih’. Zona ini didefinisikan dengan zona dimana

nilai GR rendah.

2. Log Spontaneous Potential

Zona permeable akan menampakkan defleksi pada kurva log SP.

3. Log Densitas dan log Neutron

Merupakan log yang baik sebagai pengenal dari indikasi lapisan

pembawa hidrokarbon. Pada zona pembawa hidrokarbon, hadir

cross over antara log densitas dan log neutron. Cirinya berupa kurva
log densitas bergerak ke sisi kiri dan kurva log neutron bergerak ke

sisi kanan.

4. Log Resistivitas

Hidrokarbon memiliki nilai resistivitas yang lebih tinggi dari air

formasi. Resistivitas air ‘fresh’ lebih tinggi dari pada saline water.

Resistivitas formasi tergantung dari fluida formasi dan porositasnya.

5. Log Sonic

Pada zona porous travel time dari suara besar (lambat). Sedangkan

pada zona kompak travel time gelombang suara cepat. Sehingga

travel timenya menjadi sedikit/cepat.

1.2 Zona Batuan Reservoir

Batuan reservoir yang sarang dapat dibedakan dengan zona batuan kedap

dengan melihat bentuk – bentuk kurva log. Perbedaan antara batuan kedap dengan

lapisan batuan sarang log adalah:

A. Zona batuan kedap dicirikan oleh:

 Harga kurva GR yang tinggi.

 Tidak terbentuk kerak lumpur pemboran, diameter lubang kadang

membesar.

 Adanya cross ove negative pada microlog.

 Harga tahanan jenis pada zona teusir (Rxo) hamper sama dengan

harga tahanan jenis formasi (Rt).

 Harga porositas neutron lebih tinggi dari pada porositas densitasnya.


B. Zona batuan reservoir yang porous dicirikan oleh:

 Harga kurva GR yang rendah.

 Harga kurva SP menjauhi garis dasar serpih.

 Terbentuknya kerak lumpur pemboran.

 Adanya cross over positif pada microlog.

 Mempunyai harga porositas menengah sampai tinggi.

1.3 Jenis Lithologi

Jenis litologi zona reservoir dapat ditentukan berdasarkan kenampakan

defleksi log tanpa melakukan perhitungan. Adapun kenampakan beberapa jenis

litologi batuan reservoir sebagai berikut:

a) Batupasir pada log dicirikan oleh:

 Defleksi GR rendah.

 Terjadinya cross over positif pada kurva tahanan jenis mikro.

 Kadang – kadang diameter lubang bor yang relative lebih kecil.

b) Batugamping pada log dicirikan oleh:

 Defleksi kurva GR rendah.

 Harga ɵ lebih tinggi.

 Terjadinya cross over positif pada kurva tahanan jenis mikro

apabila batugamping tersebut porous, dan terjadi cross over

negative bila tidak ada porous.

 Kurva log neutron berhimpitan dengan kurva log densitas.

 Kadang – kadang lubang bor membesar,

c) Batubara pada log dicirikan oleh:


 Nilai GR memiliki harga yang paling rendah, karena batu bara

sedikit mengandung unsur kalium.

 Densitas batu bara rendah.

 Batubara pada log neutron biasanya akan memberikan respon

defleksi yang relative lebih besar dengan batupasir.

 Umumnya memiliki nilai resistivitas yang cukup besar.

 Batubara umumnya memiliki transit waktu yang lebih lama.

Gambar Hubungan jenis litologi dengan Log

1.4 Jenis Cairan Pengisi Formasi

Untuk membedakan jenis cairan yang ada di dalam formasi, apakah air,

minyak atau gas dapat ditentukan dengan melihat log resistivity dan gabungan

log neutron dengan densitas. Zona hidrokarbon ditunjukan oleh adanya cross

over antara harga tahanan jenis zona terusir (Rxo) dengan harga tahanan jenis

formasi (Rt).

Unruk membedakan gas atau minyak yang ada di dalam formasi dapat dilihat

pada gabungan log neutron dan densitas. Zona gas oleh harga porositas neutron

yang jauh lebih kecil dari harga porositas densitas, sehingga akan ditunjuakna

oleh cross over kurva log densitas dan neutron yang lebih besar.
Dalam zona minyak kurva neutron dan kurva densitas membentuk cross over

positif yang lebih sempit dari zona gas. Pada zona lempungan kurva neutron

dan kurva densitas berhimpitan. Zona air dibedakan dengan zona minyak akan

menunjukan harga tahanan jenis formasi (Rt) yang lebih tinggi dari pada zona

air.

5.1.1. Interpretasi

Berdasarkan data yang well log yang telah digunakan sebagai data, dan secara

geologi regional berada pada formasi menggala, cekngan sumatra tengah, dapat

diinterpretasikan bahwa :

 Pada log gamma ray

Pola log menunjukan kenampakan yang meruncing dan relatif sama, hanya

beberapa kedalaman saja yang memiliki pola yang berbeda/ mencolok

sendiri. Pola meruncing dan cenderung tidak beraturan yang cenderng ke

arah kanan pada bagian atas dan bawah, dan pada bagian tengah terdapat

kenampakan yang hanya beberapa lapis / tidak dominan. Apabila dilihat dari

polanya dapat diinterpretasikan bahwa pada sumur ini tersusun oleh 2

litologi, yaitu batupasir, batulempung. Sesuai dengan definisinya, log

gamma ray dapat mendeterminasi batuan yang mengandung mineral

radioaktif, mineral radioaktif umumnya berada pada batuan sedimen

berbutir halus. Dari pola yang ada di log dapat dilihat bahwa garis

menunjukkan tren rendah, yaitu pada kedalaman 4065 m, tersusun oleh

batulanau kemudian pada bagian atasnya pola GR mengarah ke kanan, yang

menunjukan meningkatnya kadar radioaktif di dalam batuan, kemuian

terdapat batuan dengan GR rendah disertai dengan meningkatnya densitas


hingga terjadi cross over, sehingga batuan tersebut dapat diinterpretasikan

sebagai batugamping. Kemudian pada bagian atasnya pola menunjukkan

peningkatan nilai GR yang menandai kedalaman itu tersusun oleh

batulempung. Kemudian hingga kedalaman 4000 m terlihat pola GR yang

kembali menurun dan berangsur meningkat, dapat diinterpretasikan

kedalaman tersebut tersusun oleh batupasir kemudian batulempng,

kemudian terdapat batulempung Pada bagian atasnya terlihat pula pola log

GR yang kembali merendah, sehingga diinterpretasikan sebagai batupasir

berporos.diikuti kenaikan pola GR yang cukup drastis, hal ini menunjukan

litologi berupa batulempung dengan sisipan sellysand. Berangsur

meningkat menjadi batulanau batulempung, dan turun kembali menjadi

batupasir, dan menjadi batulempung.

 Pada Log Densitas

Apabila dilihat dari polanya log denditas didominasi oleh densitas

yang cukup tinggi, pola densitas yang cukup tinggi/ besar ini menandai

bahwa batuan yang mendominasi sumur ini memiliki ukran butir yang

halus, cenderung kompak dan keras. Pada log ini di interpretasikan sebagai

batulempung yang memiliki densitas tinggi, karena batu lempung tersebut

mengand8ng air dan tidak dapat meloloskan air, dan batupasir cenderung

lebih rendah densitasnya.

 Pada Log Neutron

Pada log neuton, dapat diinterpretasikan bahwa pola garis cenderung

lebih sering mengarah ke defleksi tinggi / arah kiri yang menandakan batuan

tersebut berporositas tinggi, dan apabila defleksi rendah / arah kanan makan
batuan yang dilewati tersebut berporositas rendah. Pada kedalaman 4020

m ke bawah batuan cenderung memiliki porositas tinggi. Sementara pada

kedalaman 3950 m ke atas porositas cenderung rendah.

 Pada Log Resistivitas

Dapat terlihat kombinasi dari LLD dan LLS yang menunjukan defleksi ke

arah negatif / ke arah kiri, hal ini menunjukan bahwa batuan penyusun pada sumur

ini cenderung memiliki porositas tinggi dan mengandung fluida air maupun gas

pada bagian atas , namun pada bagian bawah pada log terlihat bahwa sumur

tersusun oleh batuan berporos tinggi dengan asumsi fluida penyusun berupa

minyak. Apabila dari data log tersebut dikorelasikan dengan data peta, maka

diperoleh hasil bahwa lapisan batuan yang terdaat pada log sumur tersebut terdapat

pada kedalaman.

5.2. Evaluasi Kuantitatif

5.2.1. Dasar Teori

Dalam melakukan evaluasi kuantitatif parameter – parameter yang harus

diidentifikasikan adalah:

 Penentuan volume lempung (Vsh).

 Porositas

 Tahanan jenis

 Tahanan jenis air formasi (Rw)

 Tahanan jenis cairan lumpur (Rmf)

 Tahanan jenis formasi (Rt)

 Tahanan jenis zona terusir (Rxo)


 Kejenuhan air

 Indeks mobilitas hidrokarbon

 Volume hidrokarbon yang dapat bergerak

2.2 Penentuan Volume Lempung (Vsh)

 Menggunakan log Gamma Ray (GR) adalah yang seiring digunakan

karena log ini mengukur tingkat radioaktif formasi.

𝐺𝑅 log − 𝐺𝑅 𝑚𝑖𝑛
 𝑉𝑠ℎ = 𝐺𝑅 max − 𝐺𝑅 𝑚𝑖𝑛

 Dimana : Vsh : Volume lempung standar

 GR log : Harga kurva GR formasi

 GR min : Harga GR log minimum

 GR max : Harga GR log maksimum

2.3 Porositas

Dengan menggunakan log densitas, untuk formasi yang bersih berlaku persamaan:

𝑝𝑚𝑎 − 𝑝𝑏
𝜙𝐷 =
𝑝𝑚𝑎 − 𝑝𝑓

Dimana : 𝜙𝐷 : Kesarangan dari log densitas

pma : Densitas matrik batuan : 2,65 untuk batupasir 2,71 untuk

batugamping 2,87 untuk dolomit

pf : Densitas caritan lumpur

pb : Densitas bulk formasi

Porositas efektif didapatkan dari nilai rata – rata porositas log densitas dan

porositas log neutron dengan rumus (Dewan, 1983):

(𝜙𝐷𝑐 + 𝜙𝑁𝑐)
𝜙𝑒 =
2
Dimana : 𝜙𝑒 : Porositas efektif

𝜙𝐷𝑐 : Porositas densitas terkoreksi

𝜙𝑁𝑐 : Porositas neutron terkoreksi

2.4 Tahanan Jenis

Tahanan jenis air formasi (Rw) merupakan tahanan jenis air yang terdapat

dalam formasi sebelum formasi tersebut ditembus oleh bit pemboran. Tahanan

jenis air formasi (Rw) dapat ditentukan dengan cara:

𝑅𝑡 𝑥 𝜙𝑒 𝑚
𝑅𝑤 =
𝛼

Dimana : Rw : Tahanan jenis air formasi

Rt : Tahanan jenis yang sesungguhnya

𝛼 : Factor pembandingan (= 1)

m : Faktor semestinya (=2)

2.5 Kejenuhan Air

Harga kejenuhan air formasi (Sw) dapat ditentukan dengan

menggunakan persamaan dari Arcie (1942), Indonesia (1971), Simandoux

(1972), dan modifikasi Simandoux (1986).

Persamaan Arcie (1942):

𝑎 𝑥 𝑅𝑤
𝑆𝑤 = √ 𝑚
𝜙𝑒 𝑥 𝑅𝑡

Dimana : Sw : Kejenuhan air formasi

Rt : Tahanan jenis formasi

Rw : Tahanan jenis cairan lumpur


𝜙𝑒 𝑚 : Porositas yang sesungguhnya

a : Faktor pembanding (=1)

2.6. Kejenuhan Hidrokarbon yang Dapat Bergerak

Dalam suatu sumur hidrokarbon, seluruh cadangan hidrokarbon didalam

reservoir tidak dapat dikeluarkan semua, ada hidrokarbon yang tersisa

didalam formasi. Kejenuhan hidrokarbon sisa pada zona dirumuskan sebagai

berikut:

𝑆ℎ = 1 − 𝑆ℎ𝑟

Dimana : Sh : Kejenuhan hidrokarbon Shr : Harga kejenuhan sisa


Bab VI

Korelasi Struktur

6.1. Dasar Teori

Korelasi ialah penghubungan titik-titik kesamaan waktu atau penghubungan

satuan-satuan stratigrafi dengan mempertimbangkan kesamaan waktu (Sandi

Stratigrafi Indonesia, 1996).

Menurut North American Stratigraphy Code (1983) ada tiga macam prinsip dari

korelasi, yaitu :

 Litokorelasi, yang menghubungkan unit yang sama pada litologi dan posisi

stratigrafinya.

 Biokorelasi, yang secara cepat menyamakan fosil dan posisi

biostratigrafinya.

 Kronokorelasi, yang secara cepat menyesuaikan umur dan posisi

kronostratigrafi.

Log adalah suatu terminologi yang secara original mengacu pada hubungan

nilai dengan kedalaman, yang diambil dari pengamatan kembali (mudlog).

Sekarang itu diambil sebagai suatu pernyataan untuk semua pengukuran kedalam

lubang sumur (Mastoadji, 2007)

Tahapan Korelasi Log Sumur (Well Log)

1. Penyamaan Datum (Flatten)

Tahap awal dalam melakukan korelasi suatu unit stratigrafi terlebih dahulu

kita harus menyamakan datum yang akan dipakai (Di-flatten pada satu datum),

datum yang dipakai harus sama antara satu sumur dengan sumur lainnya supaya
sumur dapat dikorelasikan. Datum merupakan suatu kesamaan data yang dimiliki

oleh semua sumur yang akan dikorelasikan, datum tersebut dapat berupa kedalaman

(depth) lapisan maupun kesamaan waktu geologi yang dikontrol oleh dinamika

muka air laut (principal of stratigraphic sequence) dalam hal ini yang biasa dipakai

adalah Maximum Flooding Surface (MFS), Unconformity (UC) / Sequence

Boundary (SB). Maximum flooding surface dapat teridentifikasi oleh adanya

maximum landward onlap dari lapisan marine pada batas basin dan kenaikan

maksimum secara relatif dari sea level (Armentout, 1991), MFS biasanya

ditunjukan oleh adanya akumulasi shale yang melimpah yang merupakan amplitude

dari log pada daerah shale (High gamma ray), akan tetapi pada kondisi litologi

berupa batugamping terumbu (Reef Carbonate) MFS biasanya ditandai oleh

pertumbuhan gamping yang optimal pada saat genang laut sehingga datum yang

dipakai yaitu pada zona reservoir (low gamma ray) yaitu kondisi dimana log gamma

ray menunjukan akumulasi batugamping yang sangat melimpah.

Unconformity merupakan suatu jeda pengendapan (hiatus) yang terjadi pada

kondisi diatas muka air laut (Sub aerial) yang biasanya ditunjukan oleh perubahan

drastis dari fining upward menjadi coarsening upward atau sebaliknya, sebagian

ahli menyamakan antara sequence boundary dengan unconformity, sedangkan

pengertian sequence boundary sendiri merupakan batas atas dan bawah satuan

sikuen stratigrafi yang berupa bidang ketidakselarasan atau bidang-bidang

keselarasan padanannya (Sandi Stratigrafi Indonesia, 1996).


Masing-masing flatten dalam korelasi stratigrafi memiliki fungsi yang berbeda,

untuk mengetahui deformasi struktur geologi yang telah terjadi sepanjang waktu

geologi kita dapat melakukan flatten pada kedalaman (depth) yang sama pada

masing-masing sumur dimana dalam flatten ini kondisi stratigrafi yang diamati

adalah kondisi pada saat ini (setelah terdeformasi), korelasi ini dinamakan dengan

korelasi struktur. Sedangkan untuk melihat distribusi reservoir dan gejala

sedimentasi dengan baik kita dapat melakukan flatten pada salah satu datum sikuen

stratigrafi umumnya pada Maximun Flooding Surface (FS), korelasi ini dinamakan

dengan korelasi stratigrafi.


2. Korelasi Lapisan Reservoir

Prinsip dari korelasi stratigrafi adalah untuk menyamakan umur suatu

lapisan sejenis dalam satu sumur dengan sumur lainnya, karena dalam hal ini

korelasi digunakan untuk kepentingan eksplorasi minyak dan gas bumi maka

korelasi perlu dikombinasikan antara kronokorelasi (menggunakan prinsip sikuen

stratigrafi) dan litokorelasi. Biasanya lapisan yang dikorelasikan adalah lapisan

reservoir baik itu sandstone maupun limestone karena lapisan inilah yang

memungkinkan untuk menyimpan dan mengalirkan hidrokarbon dalam jumlah

yang ekonomis.

Untuk mengetahui kesamaan lapisan tersebut kita dapat membaca pola dari

log sumur baik itu log gamma ray, resistivity, neutron, density maupun

photoelectric dan juga bila perlu dikalibrasi dengan data sampel cutting dan side

wall core untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Lapisan dengan litologi

sejenis dan memiliki umur geologi yang sama diasumsikan akan menghasilkan pola

kurva log yang sama ketika dideteksi oleh logging tools sehingga kesamaan pada

masing-masing sumur tersebut dapat ditarik garis korelasi.


Setelah menggantung log pada datum kedalaman (depth) maupun sikuen stratigrafi

(MFS, SB/UC) selanjutnya kita dapat dengan mudah melakukan korelasi lapisan

pada masing-masing sumur, korelasi dapat dilakukan dengan melihat litologi

penciri pada masing-masing sumur misalnya batubara (coal), dapat juga dilakukan

dengan membaca pola log gamma ray, log ini membaca kandungan radioaktif pada

batuan dimana semakin tinggi kandungan radioaktifnya maka log gamma ray akan

menunjukan nilai yang tinggi. Gamma ray dengan nilai yang tinggi biasanya

mencirikan litologi berbutir halus (shaly) sedangkan gamma ray dengan harga yang

rendah biasanya menunjukan litologi berupa reservoir baik itu sandstone maupun

limestone, akan tetapi dalam kondisi lapangan tertentu juga ditemukan high gamma

ray sand dimana lapisan sandstone banyak mengandung mineral feldspar sehingga

kurva log gamma ray akan menunjukan defleksi nilai yang tinggi disebabkan oleh

mineral feldspar yang bersifat radioaktif (Terutama Potassium), untuk itu dalam

penentuan zona reservoir kita juga harus membaca log lain dan di kalibrasi dengan

sampel cutting dan side wall core.

Ada beberapa pola pada log gamma ray yang dapat digunakan sebagai

acuan untuk mempermudah dalam korelasi diantaranya pola bell shape, funnel,

symmetric, irregular dan blocky/boxcar seperti yang ditunjukan oleh gambar 4.

Pola-pola tersebut menunjukan gejala sedimentasi yang berbeda dimana faktor

yang mempengaruhi gejala sedimentasi tersebut dikontrol oleh suplai sedimen,

ruang akomodasi, perubahan muka air laut dan subsiden. Pola-pola log tersebut juga

dapat menunjukan perbedaan fasies dan lingkungan pengendapan yang dikenal

dengan istilah elektrofasies.


Setelah membaca kesamaan pola pada log gamma ray kita juga harus

membaca pada log resistivity, log ini membaca nilai resistivitas dari suatu fluida

pada lapisan batuan sehingga jika kandungan fluidanya sama maka log

resistivitasnya akan menunjukan harga yang sama, akan tetapi pada suatu reservoir

sering kali kandungan fluidanya berbeda dikarenakan adanya perbedaan

hydrocarbon to water contact yang biasanya dikontrol oleh sistem jebakan

hidrokarbon (Gambar 5), kasus ini sering terjadi pada lapisan antiklin dimana pada

lapisan puncak antiklin akan terbaca sebagai hidrokarbon yang menunjukan

resistivitas tinggi dan semakin rendah akan terbaca sebagai water yang memiliki

resistivitas rendah.

6.2. Interpretasi

Berdasarkan hasil dari line 1 mempunyai datum pada kedalaman 1950

ditemukan respon Gamma Ray berbentuk Bell yang mana menandakan

retrograding pada bagian diantaranya terdapat respon gamma ray yang berbentuk

serrated yang mana mendakan agradasi dan pada bagian atasnya lagi terdapat

lapisan yang berupa batubara dan digunakan sebagai key bed pada line 1 dan tidak

menerus dan berhenti sampai sumur W34. Pada lapisan yang hamper ke permukaan

respon log gamma ray yang berbentuk cylindrical yang menandakan aggrading.
Jadi adri data diatas dapat disimpulkan bahwa lingkungan pengendapan pada line 1

berada di daerah transisi dari sungai sampai delta.

pada Line 1 di duga adanya struktur geologi yang berupa sesar turun dengan

ditandai penurunan bentuk bell dari atas datum hingga turun di bawah datum pada

sumur W19 ke W34 dan ditandai adanya basemap korelation yang memperlihatkan

liniamen struktur geologi pada daerah sekitar sesar.

Pada line 2 mempunyai datum pada kedalaman 1950 dimana pada lapisan

paling bawah respon log gamma ray berbentuk bell yang menandakan retrodating.

pada bagian atasnya ditemukan respon gamma ray berbentuk cylindrical yang

menandakan aggradating. Jadi dapat disimpulkan bahwa line 2 ini berada pada

lingkungan transisi dari sungai dampai dengan delta.

Pada line 2 diduga adanya struktur geologi yang dapat berupa sesar turun

dengan ditandai penurunan bentukan dari atas datum hingga turun kebawah datum.

hal ini diperkuat dengan adanya basemap korelasi yang saling berkesinambungan

dengan data log sumur dengan struktur geologi yang ada pada data.
BAB VII

PERHITUNGAN CADANGAN

7.1. Dasar Teori

Pemetaan Geologi Bawah Permukaan adalah metoda atau teknik pemetaan

struktur, ketebalan lapisan dan karakteristik unit batuan dengan menggunakan data

bawah permukaan. Metoda Pemetaan Geologi Bawah Permukaan merupakan salah

satu metoda yg penting dalam eksplorasi dan eksploitasi migas atau endapan

mineral ekonomi lainnya. Pada prinsipnya pemetaan bawah permukaan sama

dengan pemetaan pada permukaan, hanya terdapat beberapa perbedaan yang agak

mencolok. Pada pemetaan permukaan kita berhadapan dengan satu bidang

permukaan dan yang dipetakan adalah sifat-sifat/keadaan geologi/topografi yang

dituangkan dalam bentuk gambar pada bidang permukaan tersebut.

Pada pemetaan bawah permukaan, kita berhadapan dengan berbagai macam

bidang permukaan atau interval-interval antara 2 bidang permukaan tersebut.

Bidang permukaan ini biasanya adalah bidang perlapisan atau lapisan, tetapi dapat

pula bidang-bidang lainnya misalnya bidang ketidákselarasanatau bidang patahan.

Suatu hal yang khas dan peta-peta bawah permukaan adalah sifat kuantitatif

dan peta-peta tersebut. Sifat kuantitatif itu dinyatakan dengan apa yang dinamakan

garis iso atau secara popular disebut garis kontur (countour lines/tranches untuk

peta topografi). Garis ini menyatakan titik-titik yang mempunyai nilai yang sama,

terutama nilai kuantitatif dan suatu gejala atau sifat tertentu yang terdapat pada

suatu bidang permukaan/perlapisan atau dalam interval antar dua bidang

permukaan/perlapisan.

Nilai dan gejala tersebut dapat berupa:


• Kedalaman suatu lapisan terhadap permukaan laut (kontur struktur)

• Kedalaman suatu permukaan (bidang ketidakselarasan, basement

(isolath)

• Ketebalan suatu interval antar dua bidang

• Ketebalan total lapisan-lapisan batuan tertentu dalam suatu interval

(isolith)

• Persentase ketebalan total lapisan-lapisan batuan tertentu dalam

suatu interval perlapisan (isopresentase)

• Perbandingan ketebalan total suatu lapisan batuan tertentu terhadap

ketebalan lapisan lain (isoratio)

Menghitung Cadangan

Metode perhitungan cadangan dalam dunia perminyakan adalah jumlah

kandungan hidrokarbon yang terdapat didalam reservoir. Berdasarkan nilainya,

cadangan digolongkan dalam :

1. Cadangan Minyak mula-mula di Reservoir (STOIIP)

Merupakan jumlah cadangan minyak pada reservoir secara keseluruhan

sebelum diproduksikan, biasa ditulis dengan STOIIP.

2. Cadangan Minyak Ekonomis (Recoverable Reserve)

Cadangan minyak ekonomis adalah jumlah cadangan minyak yang terdapat

pada reservoir yang biasa diproduksikan, biasa dinotasikan RR.

Metode Perhitungan Cadangan

Secara umum perhitungan cadangan dapat dilakukan dengan 4 metode,

yaitu :
1. Metode Volumetrik

2. Metode Material Balance

3. Metode Decline Curva (kurva penurunan produksi)

4. Metode Monte Carlo

1. Volume Bulk Reservoir

Dalam perhitungan volume reservoir dibutuhkan data berupa net pay

area dan alat planimeter, dimana alat planimeter akan dapat mengukur luas

masing-masing kontur ketebalan yang ada pada peta net pay area.Kemudian

dari bentuk kontur yang ada pada peta tersebut,dapat digambarkan bentuk

reservoir.Untuk menghitung volume reservoir,ditentukan dengan dua

cara,yaitu cara pyramidal dan cara trapezoidal.

a. Cara Pyramidal

Metode ini digunakan bila harga perbandingan antara kontur yang berurutan

kurang atau sama dengan 0,5 atau An+1/An<0,5 (Sylvan,J.Pirson,1985).

Dimana persamaan yang digunakan :

Vb = h/3 x (An + An+1 + √An x An+1)

b. Cara Trapezoidal

Metode ini digunakan bila harga perbandingan antara kontur yang berurutan

lebih dari 0,5 atau An+1/An>0,5 (Sylvan,J.Pirson,1985).

Dimana persamaan yang digunakan :

Vb = h/2 x (An + An+1)

Dimana :
Vb = Volume Bulk, (m³)

H = Interval garis-garis net pay area (m)

An = Luas daerah yang dibatasi oleh garis net pay terendah (m²)

An+1 = Luas daerah yang dibatasi oleh garis net pay diatasnya (m²)

2. Penentuan Cadangan Minyak dengan Metode Volumetris

Pada metode ini perhitungan didasarkan pada persamaan volume,

data-data yang menunjang dalam perhitungan cadangan ini adalah

porositas dan saturasi hidrokarbon, persamaan yang digunakan dalam

metode volumetric adalah :

STOIIP = 77758 x Vb x Ф x Sh (STB)

Boi

Atau

STOIIP = Vb x Ф x Sh (STM³)

BOI

Dimana :

STOIIP : Volume hidrokarbon mula-mula (a) STB atau (b) STM³

Vb : Volume reservoir, (a) acre feet atau (b) STM³

Ф : Porositas batuan

Sh : Hidrokarbon saturasi

Boi : Faktor volume formasi minyak mula-mula (a) BBL/STB atau (b)

m³/STM³.

7758 : Konstanta konversi, BBL/acre feet


Sedangkan cadangan minyak yang dapat terambil adalah :

RR = STOIIP x RF

Dimana

STOIIP : Volume hidrokarbon mula-mula,STB atau STM³

RR : Cadangan hidrokarbon yang dapat diambil,STB atau STM³

RF : Harga recovery factor

7.2. Iterpretasi
Bab VIII

Kesimpulan Dan Saran

Kesimpulan

Geologi Minyak Bumi adalah ilmu geologi yang mempelajari minyak bumi,

mulai dari rekonaise, pemetaan, dan analisis keberadaan minyak bumi. Operasi

Pemboran merupakan proses kelanjutan dari eksplorasi untuk mengetahui lebih

lanjut atas keterdapatan minyak atau gas bumi di bawah permukaan. Dalam

pelaksanaanya banyak hal yang perlu di persiapkan dan direncanakan. Persiapan

yang perlu dilakukan antara lain mengenai tempat pemboran, logistic, dan

perangkat pemboran (drilling rig) yang akan digunakan. Persiapan dan perencanaan

secara detail akan memudahkan dan melancarkan proses pemboran serta

mengurangi kendala secara teknis yang mungkin timbul saat proses pemboran

berlangsung.

Adapun beberapa jenis-jenis pemboran yaitu :

 Pemboran Eksplorasi (Wildcat)

 Pemboran Deliniasi

 Pemboran Pengembangan/Eksplorasi

 Pemboran sumur-sumur Sisipan (Infill)

Cutting adalah serpihan-serpihan batuan sebagai akibat tergerusnya batuan

tersebut oleh mud bor pada saat pemboran berlangsung.

Pekerjaan analisa cutting ini dilakukan dalam kerangka pekerjaan mud logging.

Pertama-tama cutting dipisahkan dari aliran lumpur pemboran dengan

menggunakan shale shaker, setelah itu dilakukan deskripsi litologi dengan


menggunakan mikroskop, kemudian dianalisa untuk mengetahui ada tidaknya

kandungan hidrokarbon.

 Analisis Sampel Cutting

a. PenampakanNoda

b. Bau

c. Fluoroscopic

d. Untuk dapat menentukan bahwa suatu reservoir migas dapat/ pantas untuk

dikembangkan / dikelola maka diperlukan informasi yang pasti tenang

jumlah HK yang ada didalamnya serta kemungkinan dari HK tersebut untuk

di produksikan.

Jumlah hidrokarbon yang ada di reservoir dapat di hitung antara lain dengan

metode volumetric. Data yang diperlukan disini antara lain porsitas , saturasi dan

data geologi. Sedang untuk memperkirakan jumlah HK yang dapat di produksikan

diperlukan informasi yang tepat tentang permeabilitas. Kesemua informasi tersebut

dapat diperoleh dari beberapa macam test dan analisa antara lain adalah :

1. Logging

2. Analisa batuan

3. Analisa tekanan

Coring adalah pemboran khusus untuk mendapatkan besaran-besaran fisik

dari batuan reservoir. Banyak factor yang dapat mempengaruhi kualitas maupun

kuantitas coring antara lain :

 Konstruksi dari peralatan

 Kondisi dari formasi


 Teknik pelaksanaan operasi Coring

Hidrokarbon adalah sumber daya energi yang penting peranannya dalam

mendukung perekonomian negara. Di Indonesia terdapat lebih dari enam puluh

cekungan sedimen, baik yang ada di lepas pantai maupun di darat. Saat ini batuan

sedimen laut dalam mendapat perhatian karena berpotensi sebagai reservoir

hidrokarbon, seperti yang telah dibuktikan di Cekungan Kutai, Brunei, Tarakan,

Sumatra Utara, Jawa Timur, dan Cekungan Palawan (Kusumastuti drr., 2001;

Guritno drr., 2003)

Log merupakan suatu grafik kedalaman/waktu dari suatu set data yang

menunjukkan parameter diukur secara berkesinambungan di dalam sebuah sumur

pemboran (Harsono, 1997).

Wireline log adalah parameter yang dilakukan untuk mengetahui kondisi

bawah permukaan dan mencari reservoar pada kedalaman berapa, hal ini dilakukan

pada saat pemboran suatu sumur. Hasil dari wireline logging ini adalah kurva-kurva

log Permeable (Log Spontaneous Potensial, Gamma Ray, Caliper), log Resistivity

(Log Induksi dan Log Lateral), dan log Porosity (Log Density, Neutron, dan Sonic)

dan Caliper. Kurva-kurva ini digunakan untuk mengetahui zona prospek

hidrokarbon, evaluasi formasi, dan mengetahui lithologi di dalam formasi dan

sebagainya.

Korelasi ialah penghubungan titik-titik kesamaan waktu atau penghubungan

satuan-satuan stratigrafi dengan mempertimbangkan kesamaan waktu (Sandi

Stratigrafi Indonesia, 1996).


Menurut North American Stratigraphy Code (1983) ada tiga macam prinsip dari

korelasi, yaitu :

 Litokorelasi, yang menghubungkan unit yang sama pada litologi dan posisi

stratigrafinya.

 Biokorelasi, yang secara cepat menyamakan fosil dan posisi

biostratigrafinya.

 Kronokorelasi, yang secara cepat menyesuaikan umur dan posisi

kronostratigrafi.

Pemetaan Geologi Bawah Permukaan adalah metoda atau teknik pemetaan

struktur, ketebalan lapisan dan karakteristik unit batuan dengan menggunakan data

bawah permukaan. Metoda Pemetaan Geologi Bawah Permukaan merupakan salah

satu metoda yg penting dalam eksplorasi dan eksploitasi migas atau endapan

mineral ekonomi lainnya. Pada prinsipnya pemetaan bawah permukaan sama

dengan pemetaan pada permukaan, hanya terdapat beberapa perbedaan yang agak

mencolok. Pada pemetaan permukaan kita berhadapan dengan satu bidang

permukaan dan yang dipetakan adalah sifat-sifat/keadaan geologi/topografi yang

dituangkan dalam bentuk gambar pada bidang permukaan tersebut.

Saran

Kalau menurut penulis kegiatan praktikumnya suasananya sudah nyaman, tidak


terlalu tegang. mungkin hanya sedikit saran mengenai waktu konsul praktikan
menurut penulis kurang terlalu kondusif dimana pada saat proses konsultasi
berlangsung masih terlalu ribut. Bila ada salah kata atau perbuatan yang penulis
lalukan selama proses praktikum berlangsung mohon di maafkan. Sekian dan
terima kasih.
Daftar Pustaka

Kosoemadinata, R.P. 1980. Geologi Minyak Dan Gas Bumi

Halliburton 1995. “ Electrical Micro-Images Tool”.

Halliburton. 2004, “Persentasi Tentang Logging”.

Harsono, A. 1997. “Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log”.

Kosoemadinata, R.P. 1980. Teknik Evaluasi Geologi Bawah Permukaan.

ITB. Bandung

Komisi Sandi Stratigrafi Indonesia. 1980. Sandi Stratigrafi Indonesia. IAGI.

Jakarta

Anda mungkin juga menyukai