Anda di halaman 1dari 8

BARU

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU MATERIAL KEDOKTERAN GIGI II

Topik : Penuangan Logam (Casting)


Kelompok : A7
Tgl Praktikum : 26 Agustus 2019
Pembimbing : Moh.Yogiartono, drg., M.Kes.

Penyusun:

1. Irene Anastasia W (021811133033)


2. Rifayinqa Ruyani P (021811133034)
3. Yeka Ramadhani (021811133035)
4. Wulan Ruhun N (021811133036)

DEPARTEMEN MATERIAL KEDOKTERAN GIGI

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS AIRLANGGA

2019
1. Tujuan

Mahasiswa diharapkan dapat membuat restorasi tuang dari logam campur dengan
mengisi mould sesuai model malam yang telah ditanam pada bumbung tuang.

2. Alat dan Bahan


2.1 Alat:
a. Glass lab f. Penjepit bumbung tuang
b. Kompor g. Pinset kecil
c. Oven h. Pisau malam
d. Alat tuang sentrifugal dan i. Jangka sorong
crucible casting j. Master die
e. Blow torch

a. Kompor

b. Oven

d. Penjepit bumbung tuang

c. Alat tuang sentrifugal dan


crucible casting

2
e. Jangka sorong

1.2 Bahan :
Logam campur Cu alloy

3. Cara kerja
3.1 Persiapan alat
a. Kompor untuk burn out sudah siap dinyalakan
b. Glass lab dalam keadaan bersih
c. Pinset disiapkan
d. Oven sudah dinyalakan
e. Alat casting sentrifugal sudah dalam keadaan siap dengan cara memutar
lengan pemutar sebanyak 3 putaran dan ditahan dengan menaikkan batang
penahan
f. Crucible casting dimasukkan ke dalam furnace

3.2 Burn out dan preheating


a. Crucible former dilepas dari bumbung tuang yang berisi bahan tanam
b. Burn out malam dengan cara bumbung tuang diletakkan diatas kompor dengan
posisi bagian datar ada di atas dan bagian crucible menghadap api dengan
kemiringan 45°

3
c. Api kompor dinyalakan,bahan tanam tuang pada bumbung tuang dibakar
sampai malam habis
d. Setelah malam terbakar habis, bumbung tuang diambil menggunakan penjepit
bumbung tuang dan diletakkan di meja dengan posisi bagian crucible diatas
untuk melakukan pengecekan malam sudah habis. Hal ini dilakukan dengan
cara menutupkan glass lab di bagian crucible. Jika ada uap berarti masih ada
malam yang tersisa dan harus dilakukan pembakaran lagi sampai malam benar
benar habis,jika tidak berarti malam sudah terbakar habis
e. Bumbung tuang yang sudah tidak ada malam dimasukkan ke dalam oven yang
sudah dipanaskan dan ditunggu hingga mencapai suhu 750°C

3.3 Pengecoran atau casting


a. Cawan tuang (crucible casting) panas diletakkan pada alat tuang sentrifugal,
kemudian logam yang akan dituang diletakkan pada cawan tuang
b. Bumbung tuang dikeluarkan dari oven dan diletakkan pada alat tuang
sentrifugal
c. Logam dipanaskan dengan api torch sampai cair dengan tanda ketika di ketuk
sekitarnya, logam tersebut bergetar. Kemudian lengan pemutar ditarik sedikit
hingga batang penahan turun lalu lengan pemutar dilepas hingga berputar.
d. Ketika logam sudah diperkirakan masuk kedalam mould bumbung tuang, alat
tuang sentrifugal dapat diperlambat putarannya dengan menekan porosnya
sampai lengan pemutar berhenti berputar
e. Bumbung tuang diambil menggunakan penjepit bumbung tuang dan
dimasukkan ke dalam air (quenching)
f. Setelah dirasa sudah dingin, bumbung tuang diambil lalu hasil tuangan
dikeluarkan dari bumbubg tuang dan dibersihkan dari bahan tanah dibawah air
mengalir
g. Hasil tuangan yang sudah bersih diberi tanda sesuai tanda waktu penanaman
h. Hasil tuangan dipasang pada master die dan di analisa marginal fit, porositas
atau tidak, ada bintil arau tidak, ada sayap atau tidak, bagian marginal
membulat atau tidak, hasil lengkap atau tidak, dan permukaannya kasar atau
halus

4
Gambar pengerjakan casting
a. Burn out malam

d. Quenching

b. Pemanasan bumbung
tuang di dalam oven e. Hasil tuangan
dikeluarkan dari
bumbung tuang

c. Pencairan logam
dengan api torch

5
4. Hasil Praktikum

Analisis hasil casting (ada/tidak)


Hasil Marginal
No Bag.marginal
casting space porositas bintil sayap
membulat
(mm)
1 1A 1.6 - ada - -
2 1B 0.1 - ada - -
3 2 0.1
4 3 0.6 - ada - -

5. Pembahasan

Sebagian besar hasil tuangan praktikum kami didapatkan bubbling (bintil). Bubbling
pada casting muncul sebagai bulatan- bulatan banyak yang menempel pada permukaan dari
casting. (Mc Cabe 2008, hal 82). Bintil pada hasil casting disebabkan karena gelembung
udara yang terjebak. Dalam pembuatan secara manual, bintil dapat dihilangkan melalui
pencampuran mekanik dengan getaran yang baik untuk menghindari udara terjebak. Hal
tersebut dilakukan sebelum dan sesudah pencampuran. (Anusavice 2013, 224).
Pada saat proses burning out dihindari terjadi overheating karenakan terjadi
perubahan fisik pada material tanam seperti permukaan mould kasar karena ada unsur sulfur
yang hilang, menguap menjadi SO2. Selain itu, over heating juga menyebabkan material
tanam tuang cracking atau retak sehingga bisa hancur/pecah.

6
Saat proses burn out, bumbung tuang diperiksa apakah masih terdapat uap air atau
tidak dengan cara meletakkan glass lab dipermukaan yang berlubang. Selama pembakaran,
malam yang cair akan diserap oleh material tanam dan sisa karbon akibat pembakaran malam
cair akan terperangkap dalam material tanam. Pada teknik pemanasan tinggi, suhu mould
yang tinggi cukup untuk mengubah karbon menjadi karbon monoksida atau karbon dioksida.
Air yang terperangkap dalam pori-pori material tanam akan mengurangi penyerapan malam,
dan ketika menguap akan ikut mengalir dan membuang malam dari mould (Yogiartono,
2014).
Dalam beberapa kasus, lapisan luar bahan tanam mengembang lebih banyak dari
bagian tengah. Akibatnya lapisan luar mulai berkembang secara termal, mengakibatkan
tegangan tekan (compressive stress) pada lapisan luar, yang melawan tegangan tarik (tensile
stress) di daerah tengah mould. Distribusi tegangan tersebut menyebabkan pada bahan tanam
yang sudah rapuh dapat terjadi retak dari dalam ke luar dalam bentuk retak radial. Retak ini,
nantinya, akan diisi oleh alloy ketika alloy masuk ke dalam mould, dan dapat menghasilkan
casting dengan sayap atau duri. Oleh karena itu, mould seharusnya dipanaskan secara
bertahap paling sedikit 60 menit dari temperatur kamar hingga 650-700ºC, dan dipertahankan
selama 15-30 menit pada upper temperature, suhu tergantung dengan titik lebur logam yang
akan digunakan. Semakin tebal bahan tanamnya akan semakin lama waktu pemanasannya.
Penyebab lain timbulnya sayap pada hasil tuangan adalah bahan adonan yang terlalu encer
(W/P ratio tinggi) dan menggerakkan bumbung tuang sebelum bahan tanam setting. Untuk
mencegah timbulnya sayap pada hasil tuangan adalah dengan mencegah pemanasan bumbung
tuang yang terlalu cepat (Anusavice, 2013, p.218).
Dari hasil praktikum diperoleh, tidak ada satupun hasil yang mengalami marginal
membulat. Namun, dalam beberapa kasus dapat ditemukan hasil casting dengan marginal
yang membulat. Penyebabnya adalah terjadinya proses casting yang tidak sempurna. Hal ini
dikarenakan logam cair terhambat, sehingga tidak dapat sepenuhnya mengisi mould.
Hambatan tersebut antara lain adalah kurang memadainya ventilasi / lubang menuju mould
dan viskositas logam cair yang terlalu tinggi. Kurang memadainya ventilasi berhubungan erat
dengan tekanan balik dari udara di dalam mould. Jika udara tidak dibuang dengan cepat,
maka logam cair sudah mengeras sebelum mengisi mould dengan sempurna. Sehingga
munculah hasil casting yang tidak lengkap atau marginal yang membulat. (Anusavice, 2013,
p. 227-228)
Pada hasil percobaan kami juga ditemukkan adanya porus. Hal ini dapat disebabkan
karena blow torch yang kami gunakan saat pemanasan alloy yang melebihi titik lebur logam.

7
Seharusnya ketika mencairkan alloy menggunakan blow torch, nyala api yang dipakai untuk
mencairkan adalah pada zona reduksi, nyala api berwarna biru, dan nyala api terpanas.
Pemanasan logam yang melebihi titil lebur logam akan mengakibatkan over heating dan pada
hasil casting dapat menyebabkan porus.
Kecacatan berupa porus ini dapat terjadi pada permukaan dalam maupun luar dari
hasil casting. Porositas yang disebabkan karena ketidaksempurnaan. (Anusavice 2013, hal
225). Porositas bisa terlihat sebagai permukaan lubang pada casting. Bagian pecah pada
investment atau partikel kotor dimana bisa menjatuhkan sprue, mungkin menjadi perlekatan
di dalam casting dan menghasilkan lubang pada permukaan. Untuk alasan ini, semua mould
pada casting dapat diatasi dengan sprue yang lebih kebawah. (McCabe 2008, hal 82).

6. Simpulan

Secara keseluruhan hasil praktikum yang kami lakukan cukup bagus. Untuk
mendapatkan hasil casting yang bagus maka pengerjaan dari penanaman model malam
(investment material) hingga casting harus dilakukan dengan benar. Karena rongga tuang
yang akan diisi oleh cairan alloy dibentuk saat investing material. Hasil casting yang bagus
diperoleh dengan memperhatikan beberapa hal dengan benar seperti; tidak over heating,
pemanasan logam menggunakan zona reduksi, menggunakan temperature yang tepat untuk
pemanasan, serta melakukan persiapan mesin tuang sentrifugal dengan benar.

7. Daftar Pustaka

Anusavice KJ, 2013. Science of Dental Materials. 12th edition. St. Louis. WB
Saunders Co. pp. 194-224

Mc Cabe JF and Walls AWG, 2008. Applied Dental Material. 9th edition. Blackwell
Science Publ. pp. 80-83

Yogiartono Moh, 2014. Ilmu Material Kedokteran Gigi 1. Surabaya. Airlangga


University Press. pp. 176-183