Anda di halaman 1dari 15

1

1. TUJUAN
1.1 Mahasiswa dapat melakukan manipulasi semen seng fosfat yang
digunakan untuk basis dan luting (penyemenan) dengan benar
1.2 Mahasiswa dapat melakukan pengujian konsistensi semen seng fosfat
sebagai basis dan luting dengan benar
1.3 Mahasiswa dapat melakukan pengujian setting time semen seng fosfat
sebagai basis dan luting dengan benar

2. ALAT DAN BAHAN


2.1 Bahan :
a. Bubuk dan cairan semen seng fosfat
b. Vaselin

2.2 Alat :
a. Glass lab (kaca tebal) h. Gunting / cutter
b. Kaca tipis i. Timbangan digital
c. Cetakan sampel j. Jarum gillmore
d. Spatula semen k. Pisau malam
e. Stopwatch l. Plastic filling instrument
f. Celluloid strip m. Kain putih
g. Kuas kecil

2
i

3
2.3 Cara Kerja :
2.3.1. Semen seng fosfat sebagai luting
a. Kain putih dibentangkan dan digunakan sebagai alas
b. Alat dan bahan kecuali timbangan digital dan jarum gillmore diletakkan diatas
kain putih
c. Timbangan digital dicek terlebih dahulu posisi batreinya. Kemudian
gelembung diujung timbangan diposisikan di tengah lingkaran . Kemudian
timbangan digital dinyalakan
d. Cetakan sampel diolesi vaselin dengan menggunakan kuas kecil
e. Celluloid strip diletakkan diatas kaca tipis. Kemudian di atas celluloid strip
diletakkan cetakan sampel
f. Botol bubuk semen seng fosfat di tepukkan pada telapak tangan secara
perlahan . Kemudian botol bubuk semen seng fosfat ditimbang pada timbangan
digital sebagai berat awal bubuk semen seng fosfat
g. Bubuk semen seng fosfat diambil sebanyak 1 sendok takar yang bertanda 3
tanpa penekanan,dikarenakan bubuk yang terambil lebih dari sendok takar
maka dikurangi dengan menggunakan bagian atas botol dan harus tegak lurus
sehingga tidak ada penekanan. kemudian bubuk semen seng fosfat diletakkan
diatas glass lab dan dibagi menjadi 3 bagian(bagian pertama sedikit,bagian
kedua sedang,bagian ketiga paling banyak daripada bagian pertama dan kedua)
h. Botol bubuk semen seng fosfat ditimbang pada timbangan digital sebagai berat
akhir bubuk semen seng fosfat
i. Botol cairan semen seng fosfat ditimbang pada timbangan digital sebagai berat
awal cairan semen seng fosfat. Kemudian botol cairan semen seng fosfat
diputar dengan posisi tutup botol yang dipegang
j. Botol cairan semen seng fosfat dipegang secara vertikal terbalik untuk
diteteskan tanpa penekanan sebanyak 3 tetes dan tidak boleh menyentuh glass
lab
k. Botol cairan semen seng fosfat ditimbang pada timbangan digital sebagai berat
akhir cairan semen seng fosfat
l. Bubuk semen seng fosfat bagian pertama dimasukkan ke dalam cairan semen
seng fosfat menggunakan spatula semen bersamaan dengan stopwatch

4
dinyalakan. Semen seng fosfat diaduk dengan cara memutar selama 7 detik
kemudian diaduk dengan cara spreading hingga detik ke 10. Kemudian bubuk
semen seng fosfat bagian kedua dimasukkan ke dalam cairan semen seng fosfat
dan diaduk dengan cara memutar selama 7 detik kemudian diaduk dengan cara
spreading hingga detik ke 20. Kemudian bubuk semen seng fosfat bagian
ketiga dimasukkan ke dalam cairan semen seng fosfat dan diaduk dengan cara
memutar selama 7 detik kemudian diaduk dengan cara spreading hingga detik
ke 30. Apabila adonan semen seng fosfat belum cukup homogen maka dapat
dilakukan pengadukan selama 10 detik
m. Adonan semen seng fosfat dikumpulkan jadi satu dengan cara spatula semen
dimiringkan dengan sudut 45⁰ terhadap glass lab. Adonan semen seng fosfat
yang sudah terkumpul diambil dan ditarik ke atas setinggi 1 inch atau 2,54 cm ,
apabila adonan membentuk tali (string) maka adonan semen tersebut dapat
digunakan sebagai luting
n. Adonan semen seng fosfat yang telah homogen dimasukkan ke dalam cetakan
sampel dengan menggunakan plastic filling instrument hingga penuh
o. Permukaan adonan semen seng fosfat ditutup celluloid strip dari ujung satu ke
ujung lain ditekan menggunakan jari tangan dan ditutup dengan kaca tipis.
Kemudian kaca tipis tersebut ditekan dengan jari tangan

2.3.2. Semen seng fosfat sebagai basis


a. Kain putih dibentangkan dan digunakan sebagai alas
b. Alat dan bahan kecuali timbangan digital dan jarum gillmore diletakkan diatas
kain putih
c. Cetakan sampel diolesi vaselin dengan menggunakan kuas kecil
d. Celluloid strip diletakkan diatas kaca tipis. Kemudian di atas celluloid strip
diletakkan cetakan sampel
e. Botol bubuk semen seng fosfat di tepukkan pada telapak tangan secara
perlahan . Kemudian botol bubuk semen seng fosfat ditimbang pada timbangan
digital sebagai berat awal bubuk semen seng fosfat
f. Bubuk semen seng fosfat diambil sebanyak 1 sendok takar yang bertanda 3
tanpa penekanan,dikarenakan bubuk yang terambil lebih dari sendok takar

5
maka dikurangi dengan menggunakan bagian atas botol dan harus tegak lurus
sehingga tidak ada penekanan. kemudian bubuk semen seng fosfat diletakkan
diatas glass lab dan dibagi menjadi 3 bagian(bagian pertama sedikit,bagian
kedua sedang,bagian ketiga paling banyak daripada bagian pertama dan kedua)
g. Botol bubuk semen seng fosfat ditimbang pada timbangan digital sebagai berat
akhir bubuk semen seng fosfat
h. Botol cairan semen seng fosfat ditimbang pada timbangan digital sebagai berat
awal cairan semen seng fosfat. Kemudian botol cairan semen seng fosfat
diputar dengan posisi tutup botol yang dipegang
i. Botol cairan semen seng fosfat dipegang secara vertikal terbalik untuk
diteteskan tanpa penekanan sebanyak 2 tetes dan tidak boleh menyentuh glass
lab
j. Botol cairan semen seng fosfat ditimbang pada timbangan digital sebagai berat
akhir cairan semen seng fosfat
k. Bubuk semen seng fosfat bagian pertama dimasukkan ke dalam cairan semen
seng fosfat menggunakan spatula semen bersamaan dengan stopwatch
dinyalakan. Semen seng fosfat diaduk dengan cara memutar selama 7 detik
kemudian diaduk dengan cara spreading hingga detik ke 10. Kemudian bubuk
semen seng fosfat bagian kedua dimasukkan ke dalam cairan semen seng fosfat
dan diaduk dengan cara memutar selama 7 detik kemudian diaduk dengan cara
spreading hingga detik ke 20. Kemudian bubuk semen seng fosfat bagian
ketiga dimasukkan ke dalam cairan semen seng fosfat dan diaduk dengan cara
memutar selama 7 detik kemudian diaduk dengan cara spreading hingga detik
ke 30. Apabila adonan semen seng fosfat belum cukup homogen maka dapat
dilakukan pengadukan selama 10 detik
l. Adonan semen seng fosfat dikumpulkan jadi satu dengan cara spatula semen
dimiringkan dengan sudut 45⁰ terhadap glass lab. Apabila adonan semen seng
fosfat menyerupai bentuk putty, dapat dibentuk menjadi bola/bulatan dan tidak
melekat pada glass lab maka adonan tersebut dapat digunakan sebagai basis
m. Adonan semen seng fosfat yang telah homogen dimasukkan ke dalam cetakan
sampel dengan menggunakan plastic filling instrument hingga penuh

6
n. Permukaan adonan semen seng fosfat ditutup celluloid strip dari ujung satu ke
ujung lain ditekan menggunakan jari tangan dan ditutup dengan kaca tipis.
Kemudian kaca tipis tersebut ditekan dengan jari tangan

2.3.3. Uji setting time semen seng fosfat


a. Kaca tipis dilepas. Celluoloid strip dilepas jika sudah dapat dilepas dengan
mudah dan tidak lengket pada adonan semen. Permukaan semen seng fosfat
siap dilakukan uji setting time.
b. Jarum gillmore diletakkan pada permukaan semen seng fosfat tanpa penekanan
dan tidak boleh dijatuhkan. Apabila bekas jarum gillmore masih bentukan
cekungan dalam maka uji setting time dilakukan dengan interval kurang lebih
setiap 30 detik.
c. Ketika bekas jarum gillmore mulai hilang atau sudah dalam bentukan cekungan
yang sangat dangkal maka uji setting time dengan meletakkan jarum gillmore
di permukaan semen seng fosfat dilakukan dengan interval 5 detik.
d. Jika sudah tidak ada bekas jarum gillmore maka semen seng fosfat telah setting
dan waktu pada stopwatch dapat dicatat sebagai setting time semen seng fosfat

3. HASIL PRAKTIKUM
Bubuk semen seng Cairan semen seng
No Setting time
fosfat (gram) fosfat (gram)
1 0,37 0,2 13’
2 0,33 0,15 16’ 5’’
3 0,35 0,19 15’ 55’’
Rata-
0,35 0,18 15’
rata
Tabel 3.1 Setting time semen seng fosfat yang dimanipulasi sebagai luting

Pada manipulasi semen seng fosfat sebagai luting dilakukan 3 kali


percobaan. Massa bubuk semen seng fosfat pada percobaan pertama yaitu 0,37
gram, pada percobaan kedua yaitu 0,33 gram dan pada percobaan ketiga yaitu
0,35 gram. Dari 3 percobaan tersebut didapatkan rata-rata massa bubuk semen

7
seng fosfat sebesar 0,35 gram. Massa cairan semen seng fosfat pada percobaan
pertama yaitu 0,2 gram, pada percobaan kedua yaitu 0,15 gram dan pada
percobaan ketiga yaitu 0,19 gram. Dari 3 percobaan tersebut didapatkan rata-rata
massa cairan semen seng fosfat sebesar 0,18 gram. Setting time pada percobaan
pertama yaitu 13 menit, pada percobaan kedua 16 menit 5 detik, pada percobaan
ketiga yaitu 15 menit 55 detik. Dari 3 percobaan tersebut didapatkan rata-rata
setting time semen seng fosfat 15 menit.

Bubuk semen seng Cairan semen seng


No Setting time
fosfat (gram) fosfat (gram)
1 0,36 0,15 -
2 0,31 0,12 7’ 20’’
3 0,32 0,13 7’ 35’’
Rata-
0,33 0,13 7’ 28’’
rata
Tabel 3.2 Setting time semen seng fosfat yang dimanipulasi sebagai basis

Pada manipulasi semen seng fosfat sebagai basis dilakukan 3 kali


percobaan. Massa bubuk semen seng fosfat pada percobaan pertama yaitu 0,36
gram, pada percobaan kedua yaitu 0,31 gram dan pada percobaan ketiga yaitu
0,32 gram. Dari 3 percobaan tersebut didapatkan rata-rata massa bubuk semen
seng fosfat sebesar 0,33 gram. Massa cairan semen seng fosfat pada percobaan
pertama yaitu 0,15 gram, pada percobaan kedua yaitu 0,12 gram dan pada
percobaan ketiga yaitu 0,13 gram. Dari 3 percobaan tersebut didapatkan rata-rata
massa cairan semen seng fosfat sebesar 0,13 gram. Setting time pada percobaan
pertama tidak diketahui dikarenakan keterlambatan dalam melakukan uji setting
time sehingga semen seng fosfat sudah setting, pada percobaan kedua 7 menit 20
detik, pada percobaan ketiga yaitu 7 menit 35 detik. Dari 3 percobaan tersebut
didapatkan rata-rata setting time semen seng fosfat 7 menit 28 detik.

8
4. PEMBAHASAN

4.1 Semen Seng Fosfat


Semen seng fosfat merupakan salah satu jenis material dengan bahan dasar
air yang pertama digunakan pada bidang kedokteran gigi. Semen ini tersedia
dalam botol terpisah yakni, bubuk dan cairan (McCabe & Walls, 2008, p.273).
Semen seng fosfat dapat digunakan sebagai luting berupa, inlay, crown, bridges,
orthodontic bands, dan pemakaian lainnya (Gladwin and Bagby 2013, p.102).
Hal ini bertujuan agar suatu protesa memerlukan adanya mekanisme retensi antara
gigi dan protesa saat ditempatkan pada rongga mulut pasien (McCabe & Walls,
2008, p. 271). Konsistensi final dari semen sebagai luting ialah encer dan
membentuk bentukan menyerupai tali (string) ketika diangkat menggunakan
spatula semen dengan kemiringan 45 derajat dari glass slab setinggi 1 cm.
Kegunaan lain semen seng fosfat ialah sebagai basis. Tujuan basis ialah
sebagai penghalang antara pulpa dan bahan tumpatan untuk memberikan thermal,
chemical, dan electrical barrier. Basis sebagai insulator terhadap thermal shock
tidak dapat digunakan pada semua restorasi logam namun, hal ini tergantung pada
kedalam kavitas. Kedalaman kavitas mengindikasikan dentin yang tersisa
(McCabe & Walls, 2008, p. 267). Semakin dalam suatu kavitas, semakin sedikit
pula dentine yang tersisa sehingga, memerlukan insulator. Pada penggunaan
semen seng fosfat sebagai basis diperlukan perlindungan pulpa dengan
menggunakan liner atau varnish karena sifat semen yang berupa asam (Gladwin
and Bagby 2013, p.102). Konsistensi final dari semen sebagai basis ialah padat
atau putty like consistency.

4.2 Komposisi
Semen seng fosfat umumnya tersedia dalam bentuk bubuk dan cairan yang
terpisah. Namun, ada juga yang tersedia dalam bentuk encapsulated product
meskipun jarang karena dibutuhkan biaya yang lebih banyak (McCabe & Walls,
2008, p.274).

9
Bubuk Persentase Peran
Zinc Oxide Sekitar 90%
Sebagai kandungan aktif
Logam oksida lainnya sekitar
utama
10%
Cair
Asam
50-60%
Fosfat
Sebagai buffer
AlPO4
Sekitar 10%
Zn3(PO4)2
Tabel 4.2 Komposisi Semen Seng Fosfat (McCabe & Walls, 2008, p.274)

Adanya MgO pada bubuk dapat menurunkan suhu pada proses kalsinasi.
SiO2 berfungsi sebagai inactive filler. Sedangkan Bi2O3 merupakan masa semen
yg diaduk. Dalam cairan semen seng fosfat, terdapat kandungan Al dan Zn yang
berguna sebagai buffer (pengontrol pH) (McCabe & Walls, 2008, p.273). Adanya
buffer juga dapat memperlambat reaksi dan memperbaiki working time.

4.3 Sifat semen seng fosfat sebagai luting dan basis


Sifat semen seng fosfat sebagai luting, yakni:
1. Memiliki kekuatan yang tinggi sehingga tahan terhadap patahan
2. Tahan terhadap keausan
3. Mudah diaplikasikan
4. Memiliki kemampuan untuk mengalir (flow) yang baik

Sifat semen seng fosfat sebagai basis, yakni:


1. Tidak mengiritasi pulpa dan dapat merangsang pembentukan dentin
sekunder
2. Compressive strength tinggi
3. Solubility rendah

10
4.4 Reaksi Setting
Pada pencampuran bubuk dan cairan secara bersamaan maka akan terjadi
suatu reaksi, sehingga terbentuk seng fosfat yang relatif tidak larut sebagai berikut
3ZnO + 2H3PO4 + H2O → 3(ZnPO4)2 ∙ 4H2O
Pada prinsipnya, reaksi pencampuran semen seng fosfat merupakan reaksi
asam basa yang relatif tidak terlarut. Ketika bubuk dan cairan bercampur, ion
asam fosfat bereaksi dengan permukaan ion Zn untuk menghasilkan garam seng
fosfat yang amorf dan terhidrasi. Setelah permukaan inti ion Zn bereaksi, maka
struktur inti yang tidak bereaksi akan bereaksi dengan matriks fosfat
sehingga semen seng fosfat menjadi setting. Akhirnya dihasilkan kristal tersier
seng fosfat yang membentuk matriks yang terkristalisasi di sekeliling partikel
residu semen fosfat. Selama proses pencampuran, terjadi reaksi eksotermis yaitu
melepaskan panas (McCabe & Walls, 2008,p.273).
Semen seng fosfat terdiri dari bubuk (zinc oxide) dan liquid (asam fosfat).
Pada basis, komposisi zinc oxide lebih banyak daripada fosfat, hal
ini menyebabkan semakin banyak pula inti ion Zn yang tidak bereaksi. Inti ion
Zn yang tidak bereaksi ini akan berikatan dengan matriks fosfat sehingga ikatan
ion Zn dan matriks fosfat juga semakin banyak. Banyaknya ikatan ion Zn dan
matriks fosfat menyebabkan inti banyak dan terletak saling berdekatan, dan
matriksnya menjadi sedikit. Sedangkan pada lutting, komposisi seng oxide dan
asam fosfat sama banyak, sehingga ikatan ion Zn dengan matriks fosfat tidak
terlalu banyak, sehingga, letak inti berjauhan dan matriks lebih banyak. Hal ini
dapat menyebabkan setting time semen seng fosfat sebagai basis jauh lebih cepat
daripada semen seng fosfat sebagai luting, karena setting time dilihat dari matriks
yang sudah mengeras, banyaknya matriks dan banyaknya ikatan ion Zn dengan
matriks fosfat.
Setting time pada basis dan luting dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni:
1. Ukuran partikel bubuk. Makin halus partikel bubuk zinc oxide maka, proses
pembentukan matriks semakin cepat yang akan mengakibatkan berkurangnya
setting time.

11
2. Buffering agents pada cairan. Buffering agents memiliki peran dalam
memperlambat reaksi sehingga, dapat meningkatkan working time dan
mengurangi setting time.
3. Perbandingan bubuk dan cairan. Ketika bubuk yang digunakan terlalu banyak
maka, akan meningkatkan reaksi eksotermis yang dapat mengakibatkan setting
time semakin cepat.
4. Kecepatan penambahan bubuk pada cairan. Makin cepat penambahan bubuk ke
dalam cairan maka, pembentukan matriks akan semakin cepat. Sehingga,
terjadi penigkatan suhu reaksi eksotermis yang dapat mengurangi setting time.
5. Adanya kelembaban. Makin lembab suasana pencampuran bubuk dan cairan
maka, setting time akan semakin cepat.
6. Suhu. Makin rendah suhu maka, makin lambat campuran bereaksi. Sedangkan,
ketika makin tinggi suhu maka, campuran akan semakin cepat bereaksi.

Reaksi eksotermik yang timbul setelah bubuk dan cairan semen seng fosfat
dicampur memberikan kerugian berupa working time yang singkat. Untuk
mengatasi kerugian tersebut, dapat disiasati dengan cara sebagai berikut:
1. Menggunakan glass slab yang dingin atau tebal. Pada glass slab yang tebal
atau dingin, memungkinkan untuk menyerap panas lebih banyak dari pada
glass slab yang tipis. Penggunaan glass slab dingin dapat memperpanjang
working time dan memperpendek setting time. Glass slab yang dingin dapat
menyerap panas lebih banyak dari reaksi eksotermis yang terjadi. Metode
pendinginan glass slab dapat menggunakan glass slab bersuhu 6oC atau –10oC.
Tujuan memanipulasi semen seng fosfat dalam glass slab dingin adalah
menurunkan kecepatan reaksi, mengontrol pH agar tidak terlalu rendah,
mengurangi panas yang dihasilkan pada rekasi eksotermis, dan working time
cukup (Anusavice,2013, p.478).
2. Menggunakan teknik spreading. Teknik spreading pada saat pengadukan
juga dapat mengurangi reaksi eksotermis, karena dengan cara spreading
bidang pengadukan akan lebih luas, sehingga panas yang dapat diserap
oleh glass slab akan lebih banyak. (Anusavice,2013, p.478)
3. Membagi bubuk menjadi beberapa bagian. Pada saat sebelum
melakukan pencampuran semen, bubuk semen dibagi menjadi beberapa porsi

12
kecil terhadap cairan. Dengan menggabungkan porsi kecil bubuk ke cairan,
panas yang dilepaskan lebih sedikit. Sejumlah bubuk yang secara bertahap
dalam jumlah kecil dicampur ke dalam cairan akan mengurangi panas yang
ditimbulkan jika dibandingkan dengan langsung mencampur semua bubuk,
sehingga dapat memperlambat setting time dan menambah working
time (Anusavice, 2013,p.478).

4.5 Manipulasi
Pada manipulasi semen seng fosfat rasio bubuk dan cairan tergantung pada
aplikasinya. Jika digunakan untuk basis membutuhkan putty like dengan rasio
bubuk dan cairan yang digunakan yaitu 3,5:1. Sedangkan untuk luting
ditambahkan cairan. Rasio bubuk dan cairan yang lebih rendah bermanfaat untuk
mendapatkan sifat flow yang lebih baik sehingga terjadi seating yang benar
(McCabe 2008, p . 273).
Working time seng fosfat umumnya 60-90 detik, dalam rentang waktu
tersebut cukup untuk menghasilkan campuran seng fosfat yang baik ( Craig 2002,
p. 597).
Pada manipulasi semen seng fosfat sebagai luting, pada percobaan pertama
didapatkan setting time selama 13 menit dengan bubuk 0,37 gram dan cairan 0,20
gram. Pada percobaan kedua didapatkan setting time selama 16 menit 05 detik
dengan bubuk 0,33 dan cairan 0,15 gram. Pada percobaan ketiga didapatkan
setting time selama 15 menit 55 detik dengan bubuk 0,35 gram dan cairan 0,19
gram. Konsistensi yang dihasilkan cukup encer.
Sedangkan pada manipulasi semen seng fosfat sebagai basis, pada
percobaan pertama didapatkan setting time selama 7 menit 20 detik dengan bubuk
0,31 gram dan cairan 0,12 gram dan percobaan kedua didapatkan setting time
selama 7 menit 35 detik dengan bubuk 0,32 gram dan cairan 0, 13 gram.
Konsistensi yang dihasilkan cukup padat sehungga dapat dibentuk menjadi
bola/bulatan.
Setting time yang didapatkan pada percobaan yang telah dilakukan sangat
menunjukkan bahwa setting time semen seng fosfat sebagai luting lebih lama dari
pada sebagai basis. Perbedaan setting time ini disebabkan karena terdapat
perbedaan pada rasio bubuk dan cairan yang digunakan. Rasio bubuk dan cairan

13
yang digunakan pada manipulasi semen seng fosfat sebagai luting lebih kecil dari
pada sebagai basis. Atau dalam arti jumlah cairan yang digunakan pada
manipulasi sebagai luting lebih banyak dari pada basis. Pada manipulasi seng
fosfat sebagai luting diperlukan hasil campuran yang tipis, sehingga diperlukan
rasio bubuk dan cairan yang lebih kecil untuk menghasilkan konsistensi yang
lebih encer. Rasio bubuk dan cairan yang lebih kecil dapat memperpanjang setting
dan working time. (Anusavice 2013, p. 317)

4.6 Pembahasan Hasil Praktikum

5. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah kami lakukan, kesimpulan yang didapat
sebagai berikut:
a. Semen seng fosfat yang dimanipulasi sebagai luting konsistensinya lebih cair
dari pada basis
b. Semen seng fosfat yang dimanipulasi sebagai basis konsistensinya lebih kental
dari pada luting
c. Semen seng fosfat yang dimanipulasi sebagai luting setting time nya lebih lama
daripada basis
d. Semen seng fosfat yang dimanipulasi sebagai basis setting time nya lebih
cepat daripada luting

6. DAFTAR PUSTAKA
th
Anusavice K. J. 2013. Philip’s Science of Dental Materials. 12 ed. St Louis :
Elsevier Saunders. pp: 316-317
Anusavice, KJ. 2012. Phillip’s Science of Dental Material. 12th ed. W.B
Saunders, st. Louis Missouri. p. 317.
Craig, Robert and John M. Power. 2002. Restorative Dental Material. Ed. 11th.

Missouri: Mosby Inc. pp. 596-597.


14
Gladwin, M., Bagby, M., 2013. Clinical Aspects of Dental Materials Theory,
Practice,and Cases. 4th Ed, Philadephia: Lippincott Williams & Wilkins.
p.102
th
McCabe, JF dan Walls, Angus WG. 2008. Applied Dental Materials. 9 ed.
Victoria : Blackwell Science publ, Inc. p. 271-267.

.


15