Anda di halaman 1dari 79

PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA)

FARMASI PERAPOTEKAN

PELAYANAN RESEP
DI APOTEK PLUS TAMALANREA MAKASSAR
GELOMBANG II
PERIODE 17 JULI - 11 AGUSTUS 2018

NIKMAWATI
N014172763

SEMESTER AWAL 2018/2019


PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA)
FARMASI PERAPOTEKAN

PELAYANAN RESEP
DI APOTEK PLUS TAMALANREA MAKASSAR
GELOMBANG II
PERIODE 17 JULI – 11 AGUSTUS 2018

NIKMAWATI
N014172763

Mengetahui, Menyetujui,
Koordinator PKPA Farmasi Perapotekan Pembimbing PKPA Farmasi Perapotekan
Program Studi Profesi Apoteker Program Studi Profesi Apoteker
Fakultas Farmasi Fakultas Farmasi
Universitas Hasanuddin Universitas Hasanuddin

Dr. Aliyah, M.S., Apt. Aminullah, S.Si., M.Pharm.Sc., Apt.


NIP. 19570704 198603 2 001 NIP. 19820210 200912 1 004

Makassar, 2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan seluruh rangkaian
kegiatan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) Farmasi Perapotekan di Apotek
Plus Tamalanrea Makassar, guna memenuhi salah satu persyaratan dalam
menyelesaikan Program Studi Profesi Apoteker (PSPA) di Fakultas Farmasi
Universitas Hasanuddin Makassar.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan
yang sebesar-besarnya kepada Bapak Aminullah, S.Si., M.Pharm.Sc., Apt. selaku
pembimbing Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) Farmasi Perapotekan, Ibu
Rezkiana, S.Si., Apt dan Ibu Rahmawati, S.Si., Apt selaku pembimbing di Apotek
Plus Tamalanrea Makassar, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin,
Ketua program studi apoteker Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin dan Ibu
Dr. Aliyah, M.S., Apt. sebagai koordinator PKPA Farmasi Perapotekan Program
Studi Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin yang keseluruhan
telah memberi kesempatan dan bimbingan kepada penulis untuk menambah ilmu
selama pelaksanaan PKPA Perapotekan.
Terima kasih juga penulis sampaikan kepada kedua orang tua yang
senantiasa memberi dukungan kepada penulis, seluruh asisten apoteker dan
pegawai Apotek Plus Tamalanrea serta semua pihak yang telah membantu penulis
selama melaksanakan PKPA.
Penulis menyadari bahwa laporan ini jauh dari kesempurnaan, namun
harapan penulis semoga laporan ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua.

Makassar, Desember 2018

Penulis

iii
DAFTAR ISI

halaman
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vii
DAFTAR LAMPIRAN viii
BAB I PENDAHULUAN 1
I.1 Latar Belakang 1
I.2 Tujuan Pelayanan Resep 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3
II.1 Tinjauan Umum Apotek 3
II.1.1 Definisi apotek 4
II.1.2 Tugas dan Fungsi Apotek 4
II.1.3 Registrasi, Izin Praktik dan Izin Kerja Apoteker 5
II.1.4 Pendirian Apotek 5
II.1.5 Surat Izin Apotek 7
II.2 Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek 9
II.2.1 Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan
medis habis pakai 10
II.2.2 Pelayanan Farmasi Klinik 12
II.3 Penggolongan Obat pada Apotek 19
II.3.1 Penggolongan Obat Berdasarkan Peraturan 19
II.3.2 Penggolongan Obat Berdasarkan Golongannya 21
II.3.2.1 Golongan Obat Bebas 21
II.3.2.2 Golongan Obat Bebas Terbatas 22
II.3.2.3 Golongan Obat Keras 23
II.3.2.4 Narkotika 27
II.4 Prekursor Farmasi 30
II.5 Penggolongan Obat Bahan Alam 32

iv
II.5.1 Jamu 32
II.5.2 Obat Herbal Terstandar 33
II.5.3 Fitofarmaka 34
BAB III PELAYANAN RESEP DI APOTEK 35
III.1 Contoh Resep 35
III.2 Skrining Resep 36
III.2.1 Skrining adminstratif 36
III.2.2 Skrining farmasetik 37
III.2.3 Skrining klinis 38
III.3 Uraian Obat dalam Resep 47
III.4 Penyiapan Obat 54
III.4.1 Resep racikan 54
III.4.2 Resep non-racikan 55
III.5 Etiket dan copy resep 55
III.5.1 Etiket 55
III.5.2 Copy resep 58
III.6 Penyerahan Obat 59
BAB IV PENUTUP 61
IV.1 Kesimpulan 61
IV.2 Saran 61
DAFTAR PUSTAKA 62
LAMPIRAN 65

v
DAFTAR TABEL

Tabel halaman
1. Skrining administratif resep 36
2. Interaksi antara obat-obat dalam resep 46

vi
DAFTAR GAMBAR

Gambar halaman
1. Penandaan obat bebas 22
2. Penandaan obat bebas terbatas 22
3. Tanda peringatan obat bebas terbatas 23
4. Penandaan obat keras 24
5. Penandaan obat narkotika 28
6. Penandaan Jamu 33
7. Penandaan obat herbal terstandar 33
8. Penandaan fitofarmaka 34
9. Contoh resep 35
10. Etiket resep racikan kapsul 56
11. Etiket resep Azitromisin tablet 56
12. Etiket resep Lansoprazole kapsul 56
13. Etiket resep Salbutamol tablet 57
14. Copy resep 58

vii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran halaman
1. Form surat pesanan narkotika 65
2. Form surat pesanan psikotropika 66
3. Form surat pesanan obat jadi prekursor 67
4. Contoh laporan penggunaan sediaan jadi narkotika 68
5. Contoh laporan penggunaan Morfin, Pethidin, dan derivatnya 69
6. Contoh laporan penggunaan psikotropika 70
7. Contoh laporan penggunaan mengandung prekursor 71

viii
1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Kesehatan merupakan kebutuhan dasar setiap orang karena setiap aspek
kehidupan berhubungan dengan kesehatan termasuk dalam memperoleh pelayanan
obat-obatan yang tepat dari pihak kefarmasian. Upaya pelayanan kesehatan
khususnya di bidang kefarmasian semakin kompleks, sehingga menuntut apoteker
untuk memberikan orientasinya kepada pasien.

Mutu pelayanan kefarmasian yang lebih tinggi memungkinkan untuk


mengurangi tingkat kesalahan, mengurangi ketidakpuasan pelanggan,
meningkatkan hasil yang memuaskan, sehingga diharapkan dapat meningkatkan
mutu pelayanannya guna tercapainya tujuan tersebut. Pengukuran mutu pelayanan
kefarmasian, tidak hanya dilihat dari tingkat kepuasan pasien, dimensi waktu, dan
prosedur tetap pelayanan kefarmasian saja, melainkan juga aspek lain yang telah
diatur dalam peraturan pemerintah ataupun undang-undang.

Pelayanan yang berbeda akan memberikan dampak yang sangat berarti bagi
suatu apotek. Apoteker harus memahami dan menyadari kemungkinan terjadinya
kesalahan pengobatan (medication error) dalam proses pelayanan dan
mengidentifikasi, mencegah, serta mengatasi masalah terkait Obat (drug related
problems), masalah farmakoekonomi, dan farmasi sosial (socio-
pharmacoeconomy). Untuk menghindari hal tersebut, apoteker harus menjalankan
praktik sesuai standar pelayanan. Apoteker juga harus mampu berkomunikasi
dengan tenaga kesehatan lainnya dalam menetapkan terapi untuk mendukung
penggunaan obat yang rasional. Apoteker juga dituntut untuk melakukan
monitoring penggunaan obat, melakukan evaluasi serta mendokumentasikan segala
aktivitas kegiatannya. Untuk melaksanakan semua kegiatan itu, diperlukan standar
pelayanan kefarmasian.

1
2

Salah satu indikator untuk mengukur keberhasilan pelayanan kefarmasian di


apotek yaitu pelayanan resep. Pelayanan resep merupakan kegiatan yag dimulai
dari penerimaan, pemeriksaan ketersediaan, penyiapan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai termasuk peracikan obat, pemeriksaan,
penyerahan disertai pemberian informasi obat. Pelayanan kesehatan dalam bidang
kefarmasian terus berkembang dan telah mengalami pergeseran orientasi dari
pelayanan obat (drug oriented) menjadi pelayanan pada pasien (patient oriented)
yang mengacu kepada Pharmaceutical Care (PerMenKes, No.73, 2016).

Pelayanan kefarmasian di apotek meliputi 2 (dua) kegiatan, yaitu kegiatan


yang bersifat manajerial berupa pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
bahan medis habis pakai dan pelayanan farmasi klinik. Pengelolaan sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai meliputi perencanaan,
pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pemusnahan, pengendalian, dan pencatatan
dan pelaporan. Pelayanan farmasi klinik meliputi pengkajian resep, dispensing,
pelayanan informasi obat, konseling, pelayanan kefarmasian di rumah, pemantauan
terapi obat, monitoring efek samping obat. Kegiatan tersebut harus didukung oleh
sumber daya manusia, sarana dan prasarana (PerMenKes, No.73, 2016).

Penggunaan obat yang rasional juga menjadi tanggung jawab apoteker


untuk menjamin efektivitas dan efisiensi penggunaan obat yang sesuai keutuhannya
dengan harga yang sesuai. Selain itu penggunaan obat yang rasional disertai dengan
pemberian informasi obat yang benar dan lengkap mulai dari tentang manfaat obat
hingga cara penggunaannya akan mengoptimalkan terapi pasien sehingga
meningkatnya kualitas hidup pasien.

Oleh karena itu, mengingat pentingnya peran apoteker dalam menjalankan


praktik sesuai standar kefarmasian dan sebagai tenaga profesional di apotek dalam
pelaksanaan pelayanan kesehatan, terutama dalam bidang kefarmasian, maka calon
apoteker harus dipersiapkan dengan baik. Selain penguasaan teori lmu kefarmasian
dan perapotekan, calon apoteker juga sebaiknya mampu berkomunikasi dengan
tenaga kesehatan lainnya dalam menetapkan terapi untuk mendukung penggunaan
3

obat yang rasional. Sehingga mampu mempersiapkan calon apoteker yang dapat
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dan memberikan informasi
obat untuk menjamin keamanan dan meningkatkan kualitas hidup pasien
(PerMenKes, No. 73, 2016).

Berdasarkan acuan tersebut maka Program Studi Profesi Apoteker Fakultas


Farmasi Universitas Hasanuddin bekerja sama dengan Apotek Plus Tamalanrea
untuk menyelenggarakan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA). Kegiatan PKPA
dilaksanakan di Apotek Plus Tamalanrea dimulai dari tanggal 17 Juli – 11 Agustus
2018 untuk memahami pelayanan kefarmasian dan peran apoteker di sebuah
apotek. Penyusunan laporan ini berupa hasil pemantauan terhadap pelayanan
kefarmasian yaitu salah satunya adalah pelayanan resep selama berlangsunya masa
PKPA.

I.2. Tujuan Pelayanan Resep


Adapun tujuan dari pelayanan resep adalah memberikan kesempatan kepada
mahasiswa calon apoteker agar dapat:
1. Mengetahui alur pelayanan resep dan meningkatkan keterampilan dalam
memberikan pelayanan di apotek mulai dari penerimaan resep dengan
memperhatikan persyaratan administratif, kesesuaian farmasetik,
pertimbangan klinis hingga penyerahan obat kepada pasien.
2. Mengetahui cara berkomunikasi yang baik dan jelas dalam memberikan
informasi terkait obat yang diterima oleh pasien.
3. Mampu mengidentifikasi, mencegah dan mengatasi masalah yang terkait resep
yang diterima.
4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Tinjauan Umum Apotek


II.1.1 Definisi Apotek
Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik
kefarmasian oleh apoteker (PerMenKes, No. 73, 2016). Berdasarkan Peraturan
Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009, pekerjaan kefarmasian tersebut meliputi
pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan,
penyimpanan dan distribusi obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep
dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat
tradisional (PerMenKes, No. 9, 2017).

Pekerjaan kefarmasian tersebut dilakukan oleh tenaga kefarmasian yang


terdiri atas apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. Apoteker adalah sarjana farmasi
yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker.
Adapun tenaga teknis kefarmasian adalah tenaga yang membantu apoteker dalam
menjalankan pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas sarjana farmasi, ahli madya
farmasi, dan analis farmasi (PerMenKes, No. 9, 2017).

II.1.2 Tugas dan Fungsi Apotek


Tugas dan Fungsi Apotek menurut Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009
adalah tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan
sumpah jabatan. Sarana yang digunakan untuk melakukan pekerjaan kefarmasian.
Sarana yang digunakan untuk memproduksi dan distribusi sediaan farmasi antara
lain obat, bahan obat, obat tradisonal, kosmetika. Sarana pembuatan dan
pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan
pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep
dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat
tradisional. Fungsi apotek menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 9 Tahun 2017 tentang apotek, adalah:

4
5

1. Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai.
2. Pelayanan farmasi klinik, termasuk komunitas.

II.1.3. Registrasi, Izin Praktik dan Izin Kerja Apoteker


Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar
pelayanan kefarmasian di apotek, pelayanan kefarmasian di apotek diselenggarakan
oleh apoteker, dapat dibantu oleh apoteker pendamping, dan/atau tenaga teknis
kefarmasian yang memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) dan surat izin praktik.

Dalam melakukan pelayanan kefarmasian apoteker harus memenuhi kriteria


(PerMenKes, No. 73, 2016) :
1. Persyaratan administrasi
a. Memiliki ijazah dari institusi pendidikan farmasi yang terakreditasi.
b. Memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA).
c. Memiliki sertifikat kompetensi yang masih berlaku.
d. Memiliki Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA).
2. Menggunakan atribut praktik antara lain baju praktik, tanda pengenal.
3. Wajib mengikuti pendidikan berkelanjutan/Continuing Professional
Development (CPD) dan mampu memberikan pelatihan yang
berkesinambungan.
4. Apoteker harus mampu mengidentifikasi kebutuhan akan pengembangan diri,
baik melalui pelatihan, seminar, workshop, pendidikan berkelanjutan atau
mandiri.
5. Harus memahami dan melaksanakan serta patuh terhadap peraturan perundang-
undangan, sumpah apoteker, standar profesi (standar pendidikan, standar
pelayanan, standar kompetensi dan kode etik) yang berlaku.

II.1.4 Pendirian Apotek


Apoteker dapat mendirikan apotek dengan modal sendiri dan/atau modal dari
pemilik modal baik perorangan maupun perusahaan. Dalam hal Apoteker yang
mendirikan apotek bekerjasama dengan pemilik modal maka pekerjaan
kefarmasian harus tetap dilakukan sepenuhnya oleh apoteker yang bersangkutan.
6

Pendirian apotek harus memenuhi persyaratan, meliputi lokasi, bangunan, sarana,


prasarana, dan peralatan serta ketenagaan (PerMenKes, No. 73, 2017).
a. Lokasi
Pemerintah daerah kabupaten/kota dapat mengatur persebaran apotek di
wilayahnya dengan memperhatikan akses masyarakat dalam mendapatkan
pelayanan kefarmasian.

b. Bangunan
1. Bangunan apotek harus memiliki fungsi keamanan, kenyamanan, dan
kemudahan dalam pemberian pelayanan kepada pasien serta perlindungan
dan keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat, anak-anak,
dan orang lanjut usia;
2. Bangunan apotek harus bersifat permanen;
3. Bangunan bersifat permanen dapat merupakan bagian dan/atau terpisah dari
pusat perbelanjaan, apartemen, rumah toko, rumah kantor, rumah susun, dan
bangunan yang sejenis.

c. Sarana, prasarana, dan peralatan


Bangunan apotek sebagaimana dimaksud paling sedikit memiliki sarana
ruang yang berfungsi :
1. Penerimaan resep;
2. Pelayanan resep dan peracikan (produksi sediaan secara terbatas);
3. Penyerahan sediaan farmasi dan alat kesehatan;
4. Konseling;
5. Penyimpanan sediaan farmasi dan alat kesehatan; dan
6. Arsip.

Prasarana apotek paling sedikit terdiri atas :


1. Instalasi air bersih;
2. Instalasi listrik;
3. Sistem tata udara; dan
4. Sistem proteksi kebakaran.
7

Peralatan apotek sebagaimana yang dimaksud adalah:


1. Peralatan apotek meliputi semua peralatan yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan pelayanan kefarmasian
2. Peralatan tersebut antara lain meliputi rak obat, alat peracikan, bahan
pengemas obat, lemari pendingin, meja, kursi, komputer, sistem pencatatan
mutasi obat, formulir catatan pengobatan pasien dan peralatan lain sesuai
dengan kebutuhan.
3. Formulir catatan pengobatan pasien merupakan catatan mengenai riwayat
penggunaan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan atas permintaan tenaga
medis dan catatan pelayanan apoteker yang diberikan kepada pasien.

d. Ketenagaan
1. Apoteker pemegang SIA dalam menyelenggarakan apotek dapat dibantu
oleh apoteker lain, tenaga teknis kefarmasian dan/atau tenaga administrasi.
2. Apoteker dan tenaga teknis kefarmasian wajib memiliki surat izin praktik
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

II.1.4 Surat Izin Apotek


Setiap pendirian apotek wajib memiliki izin dari menteri. Menteri
melimpahkan kewenangan pemberian izin kepada Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota. Izin sebagaimana dimaksud berupa SIA. SIA berlaku 5 (lima)
tahun dan dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan. Memperoleh SIA,
apoteker harus mengajukan permohonan tertulis kepada Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota.

Permohonan harus ditandatangani oleh apoteker disertai dengan kelengkapan


dokumen administratif meliputi:
1) Fotokopi STRA dengan menunjukan STRA asli
2) Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP)
3) Fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak Apoteker (NPWP) apoteker
4) Fotokopi peta lokasi dan denah bangunan
8

5) Daftar prasarana, sarana, dan peralatan. Paling lama dalam waktu 6 (enam)
hari kerja sejak menerima permohonan dan dinyatakan telah memenuhi
kelengkapan dokumen administratif.

Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menugaskan tim pemeriksa untuk


melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan apotek. Tim pemeriksa harus
melibatkan unsur dinas kesehatan kabupaten/kota yang terdiri atas tenaga
kefarmasian dan tenaga lainnya yang menangani bidang sarana dan prasarana.
Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak tim pemeriksa ditugaskan, tim
pemeriksa harus melaporkan hasil pemeriksaan setempat yang dilengkapi Berita
Acara Pemeriksaan (BAP) kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Paling
lama dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja sejak Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota menerima laporan dan dinyatakan memenuhi persyaratan,
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menerbitkan SIA dengan tembusan kepada
Direktur Jenderal, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala Balai POM, Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dan Organisasi Profesi.

Dalam hal hasil pemeriksaan dinyatakan masih belum memenuhi persyaratan,


Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota harus mengeluarkan surat penundaan paling
lama dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja, terhadap permohonan yang dinyatakan
belum memenuhi persyaratan, pemohon dapat melengkapi persyaratan paling
lambat dalam waktu 1 (satu) bulan sejak surat penundaan diterima. Pemohon yang
tidak dapat memenuhi kelengkapan persyaratan, maka Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota mengeluarkan Surat Penolakan. Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota yang menerbitkan SIA melebihi jangka waktu maka apoteker
pemohon dapat menyelenggarakan apotek dengan menggunakan BAP sebagai
pengganti SIA. Dalam hal pemerintah daerah menerbitkan SIA, maka
penerbitannya bersama dengan penerbitan SIPA untuk apoteker pemegang SIA.
Masa berlaku SIA mengikuti masa berlaku SIPA (PerMenKes, No. 7, 2017).
9

II.2. Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek


Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung
jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud
mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.
Berdasarkan kewenangan pada peraturan perundang-undangan, pelayanan
kefarmasian telah mengalami perubahan yang semula hanya berfokus kepada
pengelolaan obat (drug oriented) berkembang menjadi pelayanan komperhensif.
Pekerjaan kefarmasian ini harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai
keahlian dan kewenangan untuk itu. Oleh karena itu, apoteker dituntut untuk
meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku agar dapat melaksanakan
interaksi langsung dengan pasien. Apoteker harus memahami dan menyadari
kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan (medication error) dalam proses
pelayanan dan mengidentifikasi, mencegah, serta mengatasi masalah terkait obat
(drug oriented problems), masalah farmako-ekonomi, dan farmasi sosial (social-
pharmacoeconomy). Untuk menghindari hal tersebut, apoteker harus menjalankan
praktik sesuai standar pelayanan (PerMenKes, No. 73, 2016).

Standar pelayanan kefarmasian di apotek diatur dalam Peraturan Menteri


Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2016 tentang pelayanan
kefarmasian di apotek. Peraturan ini untuk menggantikan Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan dan
kebutuhan hukum.

Standar pelayanan kefarmasian adalah tolok ukur yang dipergunakan


sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan
kefarmasian. Pengaturan standar pelayanan kefarmasian di apotek bertujuan untuk
meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian; menjamin kepastian hukum bagi
tenaga kefarmasian; serta melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan obat
yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien (patient safety). Berdasarkan
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 73 Tahun 2016, bahwa pelayanan
kefarmasian di apotek meliputi 2 (dua) kegiatan, yaitu kegiatan yang bersifat
10

manajerial berupa pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis
habis pakai dan pelayanan farmasi klinik. Kegiatan tersebut harus didukung oleh
sumber daya manusia, sarana dan prasarana yang berorientasi kepada keselamatan
pasien (PerMenKes, No. 73, 2016).

II.2.1. Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai
Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
dilakukan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku meliputi
perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pemusnahan, pengendalian,
pencatatan dan pelaporan (PerMenKes, No. 73, 2016).

a. Perencanaan
Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
bahan medis habis pakai perlu diperhatikan pola penyakit, pola konsumsi, budaya
dan kemampuan masyarakat.

b. Pengadaan
Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan sediaan
farmasi harus melalui jalur resmi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

c. Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis,
spesifikasi, jumlah, mutu, waktu pelayanan, dan harga yang tertera dalam surat
pesanan dengan kondisi fisik yang diterima.

d. Penyimpanan
1. Obat atau bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Dalam
hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain, maka
harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas
pada wadah baru. Wadah sekurang-kurangnya memuat nama obat, nomor
batch dan tanggal kedaluarsa.
2. Semua obat atau bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai
sehingga terjamin keamanan dan stabilitasnya.
11

3. Tempat penyimpanan obat tidak dipergunakan untuk penyimpanan barang


lainnya yang menyebabkan kontaminasi.
4. Sistem penyimpanan dilakukan dengan memperhatikan bentuk sediaan dan
kelas terapi obat serta disusun secara alfabetis.
5. Pengeluaran obat memakai sistem FEFO (First Expire First Out) dan FIFO
(First in First Out).

e. Pemusnahan
1. Obat kedaluarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan jenis dan
bentuk sediaan. Pemusnahan obat kedaluarsa atau rusak yang mengandung
narkotik atau psikotropika dilakukan oleh apoteker dan disaksikan oleh dinas
kesehatan kabupaten/kota. Pemusnahan obat selain narkotika dan
psikotropika dilakukan oleh apoteker dan disaksikan oleh tenaga kefarmasian
lain yang memiliki surat izin praktik atau surat izin kerja. Pemusnahan
dibuktikan dengan berita acara pemusnahan.
2. Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 (lima) tahun dapat
dimusnahkan. Pemusnahan resep dilakukan oleh apoteker disaksikan oleh
sekurang-kurangnya petugas lain di apotek dengan cara dibakar atau cara
pemusnahan lain yang dibuktikan dengan Berita Acara Pemusnahan Resep
dan selanjutnya dilaporkan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota.
3. Pemusnahan dan penarikan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai
yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan dengan cara yang sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4. Penarikan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar/ketentuan peraturan
perundang-undangan dilakukan oleh pemilik izin edar berdasarkan perintah
penarikan oleh BPOM (mandatory recall) atau berdasarkan inisiasi sukarela
oleh pemilik izin edar (voluntary recall) dengan tetap memberikan laporan
kepada Kepala BPOM.
5. Penarikan alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dilakukan terhadap
produk yang izin edarnya dicabut oleh Menteri.
12

f. Pengendalian
Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah persediaan
sesuai kebutuhan pelayanan, melalui pengaturan sistem pesanan atau pengadaan,
penyimpanan dan pengeluaran. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya
kelebihan, kekurangan, kekosongan, kerusakan, kedaluarsa, kehilangan serta
pengembalian pesanan. Pengendalian persediaan dilakukan menggunakan kartu
stok baik dengan cara manual atau elektronik. Kartu stok sekurang-kurangnya
memuat nama obat, tanggal kedaluarsa, jumlah pemasukan, jumlah pengeluaran
dan sisa persediaan.

g. Pencatatan dan pelaporan


Pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai meliputi pengadaan (surat pesanan dan
faktur), penyimpanan (kartu stok), penyerahan (nota atau struk penjualan) dan
pencatatan lainnya sesuai kebutuhan.

Pelaporan terdiri atas pelaporan internal dan eksternal. Pelaporan internal


merupakan pelaporan yang digunakan untuk kebutuhan manajemen apotek,
meliputi keuangan, barang dan laporan lainnya.

Pelaporan eksternal merupakan pelaporan yang dibuat untuk memenuhi


kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, meliputi
pelaporan narkotika, psikotropika dan pelaporan lainnya.

II.2.2. Pelayanan farmasi klinik


Pelayanan farmasi klinik di apotek merupakan bagian dari pelayanan
kefarmasian yang langsung dan bertanggung jawab kepada pasien berkaitan dengan
sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dengan maksud
mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Pelayanan
farmasi klinik meliputi (PerMenKes, No. 73, 2016):
13

a. Pengkajian dan pelayanan resep


Kegiatan pengkajian resep meliputi administrasi, kesesuaian farmasetik, dan
pertimbangan klinis.
1) Kajian administratif meliputi:
a) Nama pasien, umur, jenis kelamin dan berat badan
b) Nama dokter, nomor Surat Izin Praktik (SIP), alamat, nomor telepon, dan
paraf
c) Tanggal penulisan resep
2) Kajian kesesuaian farmasetik meliputi :
a) Bentuk dan kekuatan sediaan
b) Stabilitas
c) Kompatibilitas (ketercampuran obat)
3) Pertimbangan klinis meliputi :
a) Ketepatan indikasi dan dosis obat
b) Aturan, cara, dan lama penggunaan obat
c) Duplikasi dan atau poliformasi
d) Reaksi obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping obat, manifestasi
klinik lain)
e) Kontra indikasi
f) Interaksi

Jika ditemukan adanya ketidaksesuaian dari hasil pengkajian maka apoteker


harus menghubungi dokter penulisan resep. Pelayanan resep dimulai dari
penerimaan, pemeriksaan ketersediaan, penyiapan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
bahan medis habis pakai termasuk peracikan obat, pemeriksaan, penyerahan disertai
pemberian informasi. Pada setiap tahap alur pelayanan resep dilakukan upaya
pencegahan terjadinya kesalahan pemberian Obat (medication error) (PerMenKes,
No. 73, 2016).

b. Dispensing
Dispensing terdiri atas penyiapan, penyerahan, dan pemberian informasi
obat. Setelah melakukan pengkajian resep dilakukan hal sebagai berikut :
14

1. Menyiapkan obat sesuai dengan permintaan resep


a. Menghitung kebutuhan jumlah obat sesuai dengan resep
b. Mengambil obat yang dibutuhkan pada rak penyimpanan dengan
memperhatikan nama obat, tanggal kedaluarsa dan keadaan fisik obat.
2. Melakukan peracikan obat bila diperlukan.
3. Memberikan etiket sekurang-kurangnya meliputi:
a. Warna putih untuk obat dalam/ oral
b. Warna biru untuk obat luar dan suntik
c. Menempelkan label “kocok dahulu” pada sediaan bentuk suspensi atau
emulsi.
4. Memasukkan obat ke dalam wadah yang tepat dan terpisah untuk obat yang
berbeda untuk menjaga mutu obat dan menghindari penggunaan yang salah.

Setelah penyiapan obat dilakukan hal sebagai berikut:


1. Sebelum obat diserahkan kepada pasien harus dilakukan pemeriksaan kembali
mengenai penulisan nama pasien pada etiket, cara penggunaan serta jenis dan
jumlah obat (kesesuaian antara penulisan etiket dengan resep).
2. Memanggil nama dan nomor tunggu pasien.
3. Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien.
4. Menyerahkan obat yang disertai pemberian informasi obat.
5. Memberikan informasi cara penggunaan obat dan hal-hal yang terkait dengan
obat antara lain manfaat obat, makanan dan minuman yang harus dihindari,
kemungkinan efek samping, cara penyimpanan obat dan lain-lain.
6. Penyerahan obat kepada pasien hendaklah dilakukan dengan cara yang baik,
mengingat pasien dalam kondisi tidak sehat mungkin emosinya tidak stabil.
7. Memastikan bahwa yang menerima obat adalah pasien atau keluarganya
8. Membuat salinan resep sesuai dengan resep asli dan diparaf oleh apoteker
(apabila diperlukan).
9. Menyimpan resep pada tempatnya.
10. Apoteker membuat catatan pengobatan pasien.
15

Apoteker di apotek juga dapat melayani obat non resep atau pelayanan
swamedikasi. Apoteker harus memberikan edukasi kepada pasien yang
memerlukan obat non resep untuk penyakit ringan dengan memilihkan obat bebas
atau bebas terbatas yang sesuai.

c. Pelayanan informasi obat (PIO)


Pelayanan informasi obat merupakan kegiatan yang dilakukan oleh apoteker
dalam pemberian informasi mengenai obat yang tidak memihak, dievaluasi dengan
kritis dan dengan bukti terbaik dalam segala aspek penggunaan obat kepada profesi
kesehatan lain, pasien atau masyarakat. Informasi mengenai obat termasuk obat
resep, obat bebas dan herbal. Informasi meliputi dosis, bentuk sediaan, formulasi
khusus, rute dan metode pemberian, farmakokinetik, farmakologi, terapetik dan
alternatif, efikasi, keamanan penggunaan pada ibu hamil dan menyusui, efek
samping, interaksi, stabilitas, ketersediaan, harga, sifat fisika atau kimia dari obat
dan lain-lain. Kegiatan pelayanan informasi obat di apotek, meliputi:
1) Menjawab pertanyaan baik lisan maupun tulisan
2) Membuat dan menyebarkan buletin/brosur/leaflet, pemberdayaan masyarakat
(penyuluhan)
3) Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien
4) Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa farmasi yang
sedang praktik profesi
5) Melakukan penelitian penggunaan obat
6) Membuat dan menyampaikan makalah dalam forum ilmiah
7) Melakukan program jaminan mutu

Pelayanan informasi obat harus didokumentasikan untuk membantu


penelusuran kembali dalam waktu relatif singkat. Hal-hal yang harus diperhatikan
dalam dokumentasi pelayanan informasi obat:
1. Topik pertanyaan
2. Tanggal dan waktu pelayanan informasi obat diberikan
3. Metode pelayanan informasi obat (lisan, tertulis, lewat telepon)
16

4. Data pasien (umur, jenis kelamin, berat badan, informasi lain seperti riwayat
alergi, apakah pasien sedang hamil/menyusui, data laboratorium)
5. Uraian pertanyaan
6. Jawaban pertanyaan
7. Referensi
8. Metode pemberian jawaban (lisan, tertulis, per telepon) dan data apoteker yang
memberikan pelayanan informasi obat

d. Konseling
Konseling merupakan proses interaktif antara apoteker dengan
pasien/keluarga untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran dan
kepatuhan sehingga terjadi perubahan perilaku dalam penggunaan obat dan
menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien. Untuk mengawali konseling,
apoteker menggunakan three prime questions. Apabila tingkat kepatuhan pasien
dinilai rendah, perlu dilanjutkan dengan metode Health Belief Model. Apoteker
harus melakukan verifikasi bahwa pasien atau keluarga pasien sudah memahami
obat yang digunakan. Kriteria pasien sudah memahami obat yang digunakan.

Kriteria pasien/keluarga pasien yang perlu diberi konseling :


1. Pasien kondisi khusus (pediatrik, geriatrik, gangguan fungsi hati dan/atau
ginjal, ibu hamil dan menyusui).
2. Pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (misalnya : TB, DM,
AIDS, epilepsi).
3. Pasien yang menggunakan obat dengan instruksi khusus (penggunaan
kortikosteroid dengan tappering down/off).
4. Pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit (digoksin,
fenitoin, teofilin).
5. Pasien dengan polifarmasi, pasien menerima beberapa obat untuk indikasi
penyakit yang sama. Dalam kelompok ini juga termasuk pemberian lebih dari
satu obat untuk penyakit yang diketahui dapat disembuhkan dengan satu jenis
obat.
6. Pasien dengan tingkat kepatuhan rendah.
17

Tahapan kegiatan konseling:


1. Membuka komunikasi antara apoteker dengan pasien.
2. Menilai pemahaman pasien tentang penggunaan obat melalui Three Prime
Question, yaitu : Apa yang disampaikan dokter tentang obat Anda? Apa yang
dijelaskan oleh dokter tentang cara pemakaian obat Anda? Apa yang dijelaskan
oleh dokter tentang hasil yang diharapkan setelah Anda menerima terapi obat
tersebut?
3. Menggali informasi lebih lanjut dengan memberi kesempatan kepada pasien
untuk mengeksplorasi masalah penggunaan obat.
4. Memberikan penjelasan kepada pasien untuk menyelesaikan masalah
penggunaan obat.
5. Melakukan verifikasi akhir untuk memastikan pemahaman pasien.

Apoteker mendokumentasikan konseling dengan meminta tanda tangan


pasien sebagai bukti bahwa pasien memahami informasi yang diberikan dalam
konseling.

e. Pelayanan kefarmasian di rumah (home pharmacy care)


Apoteker sebagai pemberi layanan diharapkan juga dapat melakukan
pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok
lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Jenis pelayanan
kefarmasian di rumah yang dapat dilakukan oleh apoteker meliputi:
1. Penilaian/pencarian (assessment) masalah yang berhubungan dengan
pengobatan
2. Identifikasi kepatuhan pasien
3. Pendampingan pengelolaan obat dan/atau alat kesehatan di rumah misalnya
cara pemakaian obat asma, penyimpanan insulin
4. Konsultasi masalah obat atau kesehatan secara umum
5. Monitoring pelaksanaan, efektifitas, dan keamanan penggunaan obat
berdasarkan catatan pengobatan pasien
6. Dokumentasi pelaksanaan pelayanan kefarmasian di rumah.
18

f. Pemantauan terapi obat (PTO)


Merupakan proses yang memastikan bahwa seseorang pasien mendapatkan
terapi obat yang efektif dan terjangkau dengan memaksimalkan efikasi dan
meminimalkan efek samping. Kriteria pasien:
1. Anak-anak dan lanjut usia, ibu hamil dan menyusui
2. Menerima obat lebih dari 5 jenis
3. Adanya multidiagnosis
4. Pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan hati
5. Menerima obat dengan indeks terapi sempit
6. Menerima obat yang sering diketahui menyebabkan reaksi obat yang
merugikan

Kegiatan :
1. Memilih pasien yang memenuhi kriteria.
2. Mengambil data yang dibutuhkan yaitu riwayat pengobatan pasien yang terdiri
atas riwayat penyakit, riwayat penggunaan obat dan riwayat alergi, melalui
wawancara dengan pasien atau keluarga pasien atau tenaga kesehatan lain.
3. Melakukan identifikasi masalah terkait obat. Masalah terkait obat antara lain
adalah adanya indikasi tetapi tidak diterapi, pemberian obat tanpa indikasi,
pemilihan obat yang tidak tepat, dosis terlalu tinggi, dosis terlalu rendah,
terjadinya reaksi obat yang tidak diinginkan atau terjadinya interaksi obat.
4. Apoteker menentukan prioritas masalah sesuai kondisi pasien dan menentukan
apakah masalah tersebut sudah atau berpotensi akan terjadi
5. Memberikan rekomendasi atau rencana tindak lanjut yang berisi rencana
pemantauan dengan tujuan memastikan pencapaian efek terapi dan
meminimalkan efek yang tidak dikehendaki.
6. Hasil identifikasi masalah terkait obat dan rekomendasi yang telah dibuat oleh
apoteker harus dikomunikasikan dengan tenaga kesehatan terkait untuk
mengoptimalkan tujuan terapi.
7. Melakukan dokumentasi pelaksanaan pemantauan terapi obat.
19

g. Monitoring efek samping obat (MESO)


Merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap obat yang
merugikan atau tidak diharapkan terjadi pada dosis normal yang digunakan pada
manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi atau memodifikasi fungsi
fisiologis. Kegiatan:
1. Mengidentifikasi obat dan pasien yang mempunyai risiko tinggi mengalami
efek samping obat.
2. Mengisi formulir Monitoring Efek Samping Obat (MESO).
3. Melaporkan ke Pusat Monitoring Efek Samping Obat Nasional.

Faktor yang perlu diperhatikan:


1) Kerjasama dengan tim kesehatan lain.
2) Ketersediaan formulir monitoring efek samping obat.

II.3 Penggolongan Obat Pada Apotek


II.3.1 Penggolongan Obat Berdasarkan Peraturan
Pengelolaan obat dan ketepatan penggunaannya di tangan konsumen,
pemerintah menetapkan beberapa peraturan mengenai tanda untuk membedakan
jenis obat yang beredar di wilayah Republik Indonesia. Adapun beberapa peraturan
tersebut yaitu:
a. PerMenKes, No. 3 tahun 2017 tentang perubahan penggolongan psikotropika
b. PerMenKes,No. 2 tahun 2017 tentang perubahan penggolongan narkotika.
c. Keputusan Menteri Kesehatan tentang tanda khusus obat bebas dan obat bebas
terbatas (KepMenKes, No. 2380, 1983) Pada pasal 3 disebutkan bahwa:
1. Tanda khusus untuk obat bebas adalah lingkaran berwarna hijau dengan
garis tepi berwarna hitam.
2. Tanda khusus untuk obat bebas terbatas adalah lingkaran berwarna biru
dengan garis tepi berwarna hitam
3. Tanda khusus dimaksud dalam ayat (1) dan (2) harus diletakkan
sedemikian sehingga jelas terlihat dan mudah dikenali
4. Ukuran lingkaran tanda khusus dimaksud dalam ayat (1) dan (2)
disesuaikan dengan ukuran dan desain etiket wadah dan bungkus luar yang
20

bersangkutan dengan ukuran diameter lingkaran luar dan tebal garis tepi
yang proporsional, berturut-turut minimal 1 cm dan 1 mm.
5. Penyimpangan dan ketentuan dimaksud dalam ayat (4) harus mendapatkan
persetujuan khusus dari Menteri Kesehatan, Direktur Jenderal Pengawasan
Obat dan Makanan.
d. Keputusan Menteri Kesehatan tentang tanda khusus obat keras daftar G
disebutkan bahwa:
1. Tanda khusus untuk obat keras adalah lingkaran bulat berwarna merah
dengan garis tepi berwarna hitam dengan huruf K menyentuh tepi garis.
2. Tanda khusus untuk obat keras dimaksud dalam ayat (1) harus diletakkan
sedemikian rupa sehingga jelas terlihat dan mudah dikenali.
3. Ukuran lingkaran tanda khusus dimaksud dalam ayat (1) disesuaikan
dengan ukuran dan desain etiket dan bungkus luar yang bersangkutan
dengan ukuran diameter lingkaran terluar, tebal garis dan tebal huruf K
yang proporsional, berturut-turut minimal 1 cm, 1 mm dan 1 mm.
4. Penyimpangan dari ketentuan dimaksud dalam ayat (4) harus mendapatkan
persetujun khusus dari Menteri Kesehatan, Direktur Jenderal Pengawasan
Obat dan Makanan.
e. Keputusan Menteri Kesehatannomor 347/MenKes/SK/VII/ 1990 tentang Obat
Wajib Apotek berisi Daftar Obat Wajib Apotek No. 1
f. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 924 / Menkes /Per / X /1993 tentang
Daftar Obat Wajib Apotek No. 2
g. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1176/Menkes/SK/X/1999 tentang Daftar
Obat Wajib Apotek No. 3

Ketentuan obat OWA sebagai berikut:


a. Apoteker wajib memenuhi ketentuan jenis dan jumlah yang boleh diberikan
kepada pasien. Contohnya hanya jenis oksitetrasiklin salep saja yang
termasuk OWA, dan hanya boleh diberikan 1 tube.
b. Apoteker wajib melakukan pencatatan yang benar mengenai data pasien
(nama, alamat, umur) serta penyakit yang diderita.
21

c. Apoteker wajib memberikan informasi obat secara benar mencakup:


indikasi, kontra-indikasi, cara pemakain, cara penyimpanan dan efek
samping obat yang mungkin timbul serta tindakan yang disarankan bila efek
tidak dikehendaki tersebut timbul (KepMenKes, No. 347, 1990).

Tujuan OWA adalah memperluas keterjangkauan obat untuk masyarakat,


maka obat-obat yang digolongkan dalam OWA adalah obat - obat yang
diperlukan dan sering digunakan bagi masyarakat kebanyakan untuk mengatasi
penyakit yang sering diderita oleh pasien dan memudahkan aksesnya untuk
cepat mendapatkan terapi pengobatan.

II.3.2 Penggolongan Obat Berdasarkan Golongannya


Berdasarkan ketentuan peraturan, maka obat dapat dibagi menjadi beberapa
golongan yang beredar dimasyarakat berdasarkan cara mendapatkannya dan juga
berdasarkan efek yang ditimbulkan yaitu:

II.3.2.1 Golongan Obat Bebas


Obat bebas adalah obat yang dijual bebas dipasaran dan dapat diperoleh tanpa
resep dokter atau dikenal dengan nama OTC (Over The Counter). Contoh obat
bebas yang beredar di pasaran antara lain Diatabs®, Magasida®, Microlax®,
Panadol®, Neurobat®, Naprex®, Actal®. Obat golongan ini untuk menangani
penyakit simptomatis ringan yang banyak diderita masyarakat luas yang
penanganannya dapat dilakukan sendiri oleh penderita. Praktik seperti ini dikenal
dengan nama self medication pengobatan sendiri (DepKes, 2006).

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


2380/A/SK/VI/83 bahwa ukuran lingkaran tanda khusus obat bebas disesuaikan
dengan ukuran dan desain etiket wadah dan bungkus luar yang bersangkutan
dengan ukuran diameter lingkaran luar dan tebal garis tepi yang proporsional,
berturut-turut minimal 1cm dan 1 mm (KepMenKes, No. 2380, 1983).
22

Gambar 1. Penandaan obat bebas


(Sumber : KepMenKes RI No.2380/A/SK/VI/83)

II.3.2.2 Golongan Obat Bebas Terbatas


Obat bebas terbatas (daftar W= warschuwing= peringatan) adalah obat yang
sebenarnya termasuk obat keras tetapi masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa
resep dokter dan disertai dengan peringatan. Contoh obat bebas terbatas antara lain
Mucohexin®, Komix®, Fludane ®
Plus, Bufect®, Siladex®. Obat bebas terbatas
diberi tanda berupa lingkaran berwarna biru dengan garis tepi hitam (DepKes,
2006).

Gambar 2. Penandaan obat bebas terbatas


(Sumber : KepMenKes RI No.2380/A/SK/VI/83)

Tanda peringatan selalu tercantum pada kemasan obat bebas terbatas berupa
persegi panjang berwarna hitam berukuran panjang 5 cm, lebar 2 cm, dan memuat
pemberitahuan berwarna putih sebagai berikut (DepKes, 2006).
23

P no. 1 P no. 4
Awas! Obat Keras Awas! Obat Keras
Bacalah aturan pakainya Hanya untuk dibakar

P no. 2 P no. 5
Awas! Obat Keras Awas! Obat Keras
Hanya untuk kumur, jangan
Tidak boleh ditelan
ditelan

P no. 3 P no. 6
Awas! Obat Keras Awas! Obat Keras
Hanya untuk bagian luar badan Obat wasir, jangan ditelan

Gambar 3. Tanda peringatan obat bebas terbatas


(Sumber : KepMenKes RI No.2380/A/SK/VI/83)

1. P.No.1: Awas! Obat keras. Bacalah aturan pakainya.


Contoh: Difenhidramin tablet, Procold®, Komix®, OBH
2. P.No 2: Awas! Obat keras. Hanya untuk kumur, Jangan ditelan.
Contoh: Hexetidine, Hexafadol®, Betadine®gargle
3. P.No.3: Awas! Obat keras. Hanya untuk bagian luar dari badan.
Contoh: Kalpanax®, Insto®eye drops
4. P.No.4: Awas! Obat keras. Hanya untuk dibakar.
Contoh: Asma Sigaret
5. P.No.5: Awas! Obat keras. Tidak boleh ditelan.
Contoh: Dulcolax®suppositoria
6. P.No.6: Awas! Obat keras. Obat wasir, jangan ditelan.
Contoh: Superhoid®suppositoria, Anusol®suppositoria,

II.3.2.3 Golongan Obat Keras


Obat keras (daftar G = gevaarlijk = berbahaya) merupakan obat yang hanya
dapat dibeli di apotek dengan resep dokter. Contoh: Sporetik®, Tracetate®,
Nymiko®, Propepsa®, Ryvel®, Rhinofed®, Vometa®, Vosedon®, Epexol®, Intrizin®,
Lasal®, Latropil®, Mucos®, Hisdane®, Isprinol®, Histrine®, Fixacep®. Obat-obat
yang termasuk dalam daftar G antara lain antibiotika, hormon, obat kanker,
penyakit gula, obat malaria, obat jantung, tekanan darah tinggi, obat anti
24

pembekuan darah, dan semua obat suntik (MenKes RI, 1986). Selain itu, obat keras
juga meliputi Obat Wajib Apotek (OWA) dan psikotropika. Tanda khusus obat
keras daftar G, obat keras mempunyai penandaan khusus pada kemasan dan etiket
berupa huruf K dalam lingkaran merah dengan garis tepi berwarna hitam. Tanda
khusus obat keras daftar G harus diletakkan pada sisi utama kemasan agar jelas
terlihat dan mudah dikenali (KepMenKes, No. 2396, 1986).

Gambar 4. Penandaan obat keras


(Sumber : KepMenKes RI No.2396/A/SK/VIII/1986)

A. Golongan obat wajib Apotek


Daftar Obat Wajib Apotek (DOWA) merupakan obat keras yang dapat
diberikan oleh APA (Apoteker Pengelolah Apotek) kepada pasien. Walaupun APA
boleh memberikan obat keras, namun ada persyaratan yang harus dilakukan dalam
penyerahan DOWA (Daftar Obat Wajib Apotek) tentang obat wajib apotek yang
dapat diberikan yaitu:
1. Daftar Obat Wajib Apotek No. 1 (KepMenKes, No. 347, 1990)
Contoh: Ketotifen maksimal 10 tablet, Aminofilin Supp maksimal 3
Suppositoria, Salbutamol sirup 1 botol.
2. Daftar Obat Wajib Apotek No. 2 (KepMenKes, No. 924, 1993)
Contoh: Albendasol 400 mg 3 tablet, Klindamisin 1 tube, Ibuprofen 800 mb 10
tablet, Prednisolone 1 tube, Polimiksin B Sulfat 1 tube
3. Daftar Obat Wajib Apotek No. 3 (KepMenKes, No. 1176, 1999)
Contoh: Ranitidin 150 mg maksimal 10 tablet, Allopurinol 100 mg maksimal 10
tablet, Kloramfenikol maksimal 1 botol 5 ml.

B. Psikotropika (PerMenKes, No. 3, 2017; PerMenKes, No 3, 2017).


Psikotropika adalah zat dan bahan baku atau obat, baik alamiah maupun
sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh
selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas
pada aktivitas mental dan perilaku. Pengaturan peredaran, penyimpanan,
25

pemusnahan dan pelaporan narkotika, psikotropika, dan prekursor farmasi untuk


kepentingan pelayanan kesehatan atau pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Pengiriman narkotika, psikotropika, dan prekursor farmasi yang
dilakukan oleh industri farmasi, PBF, atau instalasi farmasi pemerintah harus
dilengkapi dengan:
a. Surat pesanan
b. Faktur dan/atau surat pengantar barang, paling sedikit memuat :
1. Nama narkotika, psikotropika, dan prekursor farmasi;
2. Bentuk sediaan;
3. Kekuatan;
4. Kemasan;
5. Jumlah;
6. Tanggal kedaluarsa; dan
7. Nomor batch.

Adapun Penggolongan Psikotropika dapat diketahui dari UU, No.5, 1997.


Psikotropika digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu:
1. Psikotropika golongan I adalah psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk
tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai
potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contohnya antara
lain ekstasi (MDMA= 3,4-Methylene-Dioxy Methil Amphetamine), LSD
(Lysergic Acid Diethylamid), DOM, Mekatinona, Tenoksilidina,
Tenamfetamina, Psilosibina, Brolamfetamina, Roliksidina, Etisiklidina (UU,
No.5, 1997)
2. Psikotropika golongan II adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan
dapat digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh: Amineptina, Sekobarbital, Metilfedinat (PerMenKes, No. 3, 2017)
3. Psikotropika golongan III adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan
banyak digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan.
26

Contoh: Pentazosina, Katina, Butalbital, Amobarbital, Pentobarbital,


Siklobarbital, Glutetimida, Buprenorfina dan Mogadon (UU, No.5, 1997).
4. Psikotropika golongan IV adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan
sangat luas digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan ilmu pengetahuan
serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh: Klobazam, Ketazolam, Halazepam, Flurazepam, Fenobarbital,
Etinamat, Estazolam, Diazepam, Barbital, Aminoreks (PerMenKes, No. 3, 2017)

Berdasarkan UU No. 35 Tahun 2009 tentang narkotika pasal 153 dinyatakan


bahwa lampiran mengenai jenis psikotropika golongan I dan golongan II
sebagaimana tercantum dalam lampiran UU No. 5 tahun 1997 tentang psikotropika
telah dipindahkan menjadi narkotika golongan I dan berdasarkan PerMenKes RI
No. 9 Tahun 2015 tentang psikotropika dinyatakan bahwa ada penambahan satu
jenis psikotropika golongan IV yaitu zolpidem.

Pengelolaan Psikotropika meliputi :


a. Pemesanan Psikotropika (PerMenKes, No. 3, 2015).
Berdasarkan PerMenKes RI No. 3 Tahun 2015, pemesanan psikotropika
hanya dapat dilakukan berdasarkan :
1) Surat pemesanan (SP) khusus psikotropika
2) Surat pemesanan psikotropika dapat digunakan untuk satu atau beberapa jenis
psikotropika dan harus terpisah dari pesanan barang lain dan dibuat sekurang-
kurangnya tiga rangkap.

b. Penyimpanan Psikotropika (PerMenKes, No. 3, 2015).


Tempat penyimpanan psikotropika dilarang digunakan untuk menyimpan
barang lain selain psikotropika. Lemari khusus penyimpanan psikotropika harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Terbuat dari bahan yang kuat
2. Tidak mudah dipindahkan dan mempunyai dua buah kunci yang berbeda
3. Diletakkan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum
27

4. Kunci lemari khusus dikuasai oleh apoteker penanggung jawab atau apoteker
yang ditunjuk dan pegawai lain yang dikuasakan.

c. Pelaporan Psikotropika(PerMenKes, No. 3, 2015).


Pelaporan psikotropika berdasarkan peraturan sebagai berikut bahwa:
1. Apotek wajib menyampaikan laporan pemasukan dan penyerahan/penggunaan
psikotropika setiap bulan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
dengan tembusan Kepala Balai setempat dan disampaikan paling lambat
tanggal 10 bulan berikutnya.
2. Pelaporan penyerahan/penggunaan psikotropika terdiri atas :
a. Nama, bentuk sediaan, dan kekuatan psikotropika
b. Jumlah persediaan awal dan akhir bulan
c. Jumlah yang diterima dan jumlah yang diserahkan

d. Pemusnahan Psikotropika (PerMenKes, No. 3, 2015).


Pemusnahan obat-obat psikotropika yaitu terlebih dahulu membuat berita
acara berupa surat permohonan yang dikirimkan ke balai besar pengawas obat dan
makanan agar menetapkan jadwal pemusnahan obat. Kemudian dibentuk panitia
pemusnahan yang terdiri atas APA, Asisten apoteker, Petugas Balai POM, dan
Kepala Suku Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. Pemusnahan dilakukan
dan disaksikan oleh panitia dan pihak aparat keamanan setempat.

II.3.2.4 Narkotika
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan
atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa
nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan
golongan sebagaimana terlampir dalam Undang - Undang tentang Narkotika
(PerMenKes, No. 3, 2015). Penandaan obat narkotika adalah palang medali merah
(DitBinFar, 2007).
28

Gambar 5. Penandaan obat narkotika


(Sumber:DitBinFar, 2007)

Narkotik digolongkan ke dalam 3 golongan, yaitu:


1) Narkotika golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk
tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi,
serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.
Contoh: Tiofentanil, DMA, DET, DMHP, Katinona, MDMA, Etofina, Kokaina,
Opium masak meliputi Candu, Jicing, Jicingko, Tanaman Papaver somniferum
L. dan semua bagian - bagiannya termasuk buah dan jeraminya, kecuali bijinya
(PerMenKes, No. 2, 2017).

2) Narkotika golongan II adalah narkotika berkhasiat pengobatan digunakan


sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan / atau untuk
tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi
mengakibatkan ketergantungan.
Contoh: Alfasetilmetadol, Alfameprodina, Alfaprodina, Benzetidin,
Hidrokodona, Hidromorfona, Fentanil, Metadona, Levorfanol, Metopon,
Mirofina, Morfina, Petidina (PerMenKes, No. 2, 2017).

3. Narkotika golongan III adalah narkotika berkhasiat pengobatan dan banyak


digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan
serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.
Contoh: Kodeina, Polkodina, Propiram, Dekstropropoksifena, Etilmorfina,
Nikokodina, Norkodeina, Buprenorfina, Garam – garam dari narkotika,
Campuran atau sediaan difenoksin dengan bahan lain bukan narkotik,
Asetildihidrokodeina (PerMenKes, No. 2, 2017).
29

Pengelolaan narkotika meliputi :


a. Surat Pesanan Narkotika (PerMenKes, No. 3, 2015)
Pemesanan narkotika hanya dapat dilakukan berdasarkan:
1. Surat pemesanan (SP) khusus narkotika
2. Surat pemesanan narkotika hanya dapat digunakan untuk satu jenis narkotika
dan harus terpisah dari pesanan barang lain serta dibuat 3 rangkap.

b. Penyimpanan Narkotika (PerMenKes, No. 3, 2015)


Tata Cara Penyimpanan Narkotika pada pasal 25, Tempat penyimpanan
Narkotika dilarang digunakan untuk penyimpanan barang selain Narkotika. Lemari
khusus harus memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Terbuat dari bahan yang kuat
2. Tidak mudah dipindahkan dan mempunyai 2 buah kunci yang berbeda
3. Diletakkan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum
4. Kunci lemari khusus dikuasai oleh apoteker penanggung jawab/apoteker yang
ditunjuk dan pegawai lain yang dikuasakan.

c. Penggunaan Narkotika (PerMenKes, No. 3, 2015)


Narkotika hanya digunakan untuk pengobatan penyakit yang membawa resep
dokter. Setiap resep yang mengandung narkotika sebaiknya diberi tanda garis
merah. Resep tersebut harus dipisahkan dari resep yang lain dan dicatat dalam buku
pencatatan narkotika, dilakukan pencatatan tersendiri untuk masing-masing nama
obat narkotika. Pencatatan meliputi tanggal, nomor resep, jumlah obat, nama
pasien, alamat pasien dan nama dokter.Narkotika hanya digunakan untuk
kepentingan pengobatan dan ilmu pengetahuan, narkotika hanya dapat diserahkan
pada pasien untuk pengobatan penyakit berdasarkan resep dokter, apotek dilarang
mengulangi menyerahkan narkotika atas dasar salinan resep dokter. Narkotika
hanya dapat diserahkan kepada pasien untuk pengobatan penyakit berdasarkan
resep dokter.
30

d. Pelaporan Narkotika (PerMenKes, No. 3, 2015)


Pelaporan Narkotika sebagai berikut menyatakan bahwa:
1. Apotek wajib menyampaikan laporan pemasukan dan penyerahan atau
penggunaan narkotika setiap bulan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dengan tembusan Kepala Balai setempat dan disampaikan
paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.
2. Pelaporan penyerahan atau penggunaan narkotika terdiri atas :
a. Nama, bentuk sediaan, dan kekuatan narkotika
b. Jumlah persediaan awal dan akhir bulan
c. Jumlah yang diterima
d. Jumlah yang diserahkan

Apotek berkewajiban menyusun dan mengirimkan laporan yang ditandatangani


oleh APA. Laporan tersebut terdiri atas laporan penggunaan bahan baku narkotika,
laporan penggunaan sediaan jadi narkotika dan laporan khusus menggunakan
morfin, petidin, dan derivatnya. Laporan dikirim ke kepala Dinas kesehatan
kabupaten/Kota setempat selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya, dengan
tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Badan/Balai Besar POM, dan
sebagai arsip. Laporan tersebut ditandatangani oleh APA disertai nama terang,
nomor SIK, dan cap Apotek.

e. Pemusnahan Narkotika (PerMenKes, No. 3, 2015)


Pemusnahan obat-obat narkotika yaitu terlebih dahulu membuat berita acara
berupa surat permohonan yang dikirimkan ke balai besar pengawas obat dan
makanan agar menetapkan jadwal pemusnahan obat. Kemudian dibentuk panitia
pemusnahan yang terdiri atas APA, asisten apoteker, petugas Balai POM, dan
Kepala Suku Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. Pemusnahan dilakukan
dan disaksikan oleh panitia dan pihak aparat keamanan setempat.

II.4. Prekursor Farmasi


Prekursor Farmasi adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat
digunakan sebagai bahan baku/penolong untuk keperluan proses produksi industri
31

farmasi atau produk antara, produk ruahan, dan produk jadi yang mengandung
Ephedrine, Pseudoephedrine, Norephedrine atau Phenyl-propanolamine,
Ergotamin, Ergometrine, atau Potasium Permanganat. Pengaturan peredaran,
penyimpanan, pemusnahan dan pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor
Farmasi dalam Peraturan Menteri ini meliputi Narkotika, Psikotropika, dan
Prekursor Farmasi untuk kepentingan pelayanan kesehatan atau pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi (PerMenKes, No. 3, 2015).

a. Pengelolaan Prekursor Farmasi


Pedoman pengelolaan prekursor farmasi dan/atau obat mengandung prekursor
farmasi merupakan acuan bagi pengelola prekursor farmasi dan/atau obat
mengandung prekursor farmasi untuk melakukan perencanaan, pelaksanaan,
monitoring dan evaluasi terhadap pengelolaan yang dimulai dari pengadaan,
penyimpanan, produksi, penyaluran/ penyerahan, pemusnahan serta identifikasi
diversi dalam upaya pencegahan diversi dan kebocoran. Pedoman pengelolaan
prekursor farmasi meliputi seluruh kegiatan pengelolaan prekursor farmasi dan/atau
obat mengandung prekursor farmasi di industri farmasi, pedagang besar farmasi,
instalasi farmasi rumah sakit, apotek dan toko obat berizin. Prekursor farmasi
dan/atau obat mengandung prekursor farmasi yang dimaksud adalah bahan obat
yang dapat disalahgunakan untuk pembuatan narkotika dan psikotropika ilegal,
termasuk produk antara, produk ruahan dan obat yang mengandung Efedrin,
Pseudoefedrin, Norefedrin (fenilpropanolamin), Ergometrin, Ergotamin atau
Kalium Permanganat (BPOM, 2013).

b. Pemesanan Prekursor Farmasi (PerMenKes, No. 3, 2015).


Pemesanan prekursor farmasi hanya dapat dilakukan berdasarkan pengaturan
sebagai berikut :
1. Surat pemesanan (SP) khusus prekursor farmasi.
2. Surat pemesanan prekursor farmasi dibuat 3 rangkap hanya dapat digunakan
untuk satu atau beberapa jenis prekursor dan harus terpisah dari pesanan barang
lain.
32

c. Penyaluran Prekursor Farmasi (PerMenKes, No. 3, 2015).


Penyaluran pekursor farmasi hanya dapat dilakukan berdasarkan pengaturan
sebagai berikut :
1. Penyaluran Prekursor Farmasi berupa zat/bahan pemula/bahan
kimia atau produk antara/produk ruahan hanya dapat dilakukan oleh
PBF yang memiliki izin IT Prekursor Farmasi kepada Industri Farmasi
dan/atau Lembaga Ilmu Pengetahuan.
2. Penyaluran Prekursor Farmasi hanya dapat dilakukan berdasarkan surat
pesanan dari Apoteker penanggung jawab produksi dan/atau Kepala Lembaga
Ilmu Pengetahuan.

II.1 Penggolongan Obat Bahan Alam

Obat bahan alam Indonesia adalah obat bahan alam yang diproduksi di
Indonesia. Berdasarkan cara pembuatan serta jenis klaim penggunaan dan tingkat
pembuktian khasiat. Obat bahan alam Indonesia dikelompokkan menjadi jamu,
obat herbal terstandar, dan fitofarmaka (BPOM, No. HK.00.05.4.2411, 2004).

II.5.1 Jamu

Jamu harus memenuhi kriteria yakni aman sesuai dengan persyaratan yang
ditetapkan, klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris, dan memenuhi
persyaratan mutu yang berlaku. Jenis klaim penggunaan sesuai dengan jenis
pembuktian tradisional dan tingkat pembuktiannya yaitu tingkat pembuktian umum
dan medium. Jenis klaim penggunaan harus diawali dengan kata- kata: "Secara
tradisional digunakan untuk…", atau sesuai dengan yang disetujui pada
pendaftaran. Ketentuan logo jamu yakni memenuhi syarat berikut ini:
a. Kelompok jamu untuk pendaftaran baru harus mencantumkan logo dan tulisan
“JAMU”.
b. Logo tersebut berupa ranting daun terletak dalam lingkaran, dan ditempatkan
pada bagian atas sebelah kiri dari wadah/pembungkus/brosur
c. Logo (ranting daun dalam lingkaran) dicetak dengan warna hijau di atas dasar
warna putih atau warna lain yang menyolok kontras dengan warna logo
33

d. Tulisan “JAMU” harus jelas dan mudah dibaca, dicetak dengan warna hitam di
atas dasar warna putih atau warna lain yang menyolok kontras dengan tulisan
“JAMU” (BPOM, No. HK.00.05.4.2411, 2004).

Gambar 6. Penandaan jamu


(Sumber : BPOM, No. HK.00.05.4.2411, 2004)

II.5.2 Obat Herbal Terstandar

Obat Herbal Terstandar harus memenuhi kriteria tertentu yakni aman sesuai
dengan persyaratan yang ditetapkan, klaim khasiat dibuktikan secara ilmiah/pra
klinik, dan telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam
produk jadi Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku. Jenis klaim penggunaan
sesuai dengan tingkat pembuktian yaitu tingkat pembuktian umum dan medium.
Ketentuan logo obat herbal terstandar yakni memenuhi syarat berikut ini:
a. Obat herbal terstandar harus mencantumkan logo dan tulisan “OBAT HERBAL
TERSTANDAR”.
b. Logo berupa jari-jari daun (3 pasang) terletak dalam lingkaran, dan ditempatkan
pada bagian atas sebelah kiri dari wadah/ pembungkus/ brosur.
c. Logo (jari-jari daun dalam lingkaran) dicetak dengan warna hijau di atas warna
putih atau warna lain yang menyolok kontras dengan warna logo.
d. Tulisan “OBAT HERBAL TERSTANDAR” harus jelas dan mudah dibaca,
dicetak dengan warna hitam di atas dasar warna putih atau warna lain yang
mencolok kontras dengan tulisan “OBAT HERBAL TERSTANDAR” (BPOM,
No. HK.00.05.4.2411, 2004).

Gambar 7. Penandaan obat herbal tersantar


(Sumber : BPOM, No. HK.00.05.4.2411, 2004)
34

II.5.3 Fitofarmaka

Fitofarmaka harus memenuhi kriteria yakni aman sesuai dengan persyaratan


yang ditetapkan, klaim khasiat dibuktikan secara ilmiah/ klinik, dan telah dilakukan
standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk jadi, dan
memenuhi persyaratan mutu yang berlaku. Jenis klaim penggunaan sesuai dengan
tingkat pembuktian medium dan tinggi. Ketentuan logo fitofarmaka yakni
memenuhi syarat berikut ini:
a. Kelompok Fitofarmaka harus mencantumkan logo dan tulisan
“FITOFARMAKA”.
b. Logo berupa jari-jari daun (yang kemudian membentuk bintang) terletak dalam
lingkaran, dan ditempatkan pada bagian atas sebelah kiri dari
wadah/pembungkus/brosur.
c. Logo (jari-jari daun dalam lingkaran) dicetak dengan warna hijau di atas dasar
putih atau warna lain yang menyolok kontras dengan warna logo.
d. Tulisan “FITOFARMAKA” harus jelas dan mudah dibaca, dicetak dengan
warna hitam di atas dasar warna putih atau warna lain yang menyolok kontras
dengan tulisan “FITOFARMAKA” (BPOM, No. HK.00.05.4.2411, 2004).

Gambar 8. Penandaan fitofarmaka


(Sumber : BPOM, No. HK.00.05.4.2411, 2004)
35

BAB III
PELAYANAN RESEP DI APOTEK

III.1 Contoh Resep


Berdasarkan Praktik Kefarmasian di Apotek, maka diperoleh contoh kasus
resep yang bermasalah seperti pada gambar 9.

DL

dr.Nikmawati, Sp.PD., FINASIM. MARS


SIP N014172763

Gambar 9. Contoh resep

35
36

III.2 Skrining Resep


III.2.1 Skrining Administratif
Berdasarkan Skrining administratif pada resep maka diperoleh
kelengkapan administratif seperti pada tabel 1.

Tabel 1. Kelengkapan Administratif Resep


Bagian No Kelengkapan Tercantum Keterangan
Resep Resep Ada Tidak
Ada
Inscriptio 1 Nama Dokter √ - dr.Nikmawati, Sp.PD., FINASIM.
MARS
2 SIP √ - N014172763
3 Alamat Dokter √ - JL. Jenderal Sudirman No 27
Makassar
4 No. Telepon - √ Tidak dicantumkan
5 Tgl Penulisan Resep √ - 11 Juli 2018
Signatura 6 Nama Pasien √ - DL
7 Umur Pasien √ - 47 Tahun
8 Alamat Pasien - √ Tidak dicantumkan
9 Aturan Pemakaian √ - 1. ∫ 3 dd I cap
2. ∫ I dd I
3. ∫ 2 dd I
4. ∫ 3 dd I
10 Tanda R/ √ - Lengkap untuk semua resep
11 Nama obat √ - 1. CTM 2 mlg
Cetirizine 5 mg
Codein 10 mg
Metilprednisolone 4 mg
2. Azitromisin 500 No VII
Prescription
3. Lansoprazole cps No VII
4. Salbutamol No XXI

12 Bentuk Sediaan √ - 1. CTM tablet


Cetirizine tablet
Codein tablet
Metilprednisolone tablet
2. Azitromisin tablet
3. Lansoprazole kapsul
4. Salbutamol tablet

14 Jumlah Diminta √ - 1. m.f. Pulv da in cap . dtd No XXI


2. N0 VII
3. N0 VII
4. N0 XXI
Subscription 15 Paraf atau Tanda √ -
Tangan Dokter
Keterangan: Skrining Administratif didasarkan pada resep Asli pasien An. DL pada saat datang
untuk mengambil obatnya.
37

Setelah dilakukan skrining resep, terdapat beberapa kekurangan yaitu:


1. Alamat dan nomor telepon pasien
Alamat dan nomor telepon pasien perlu diketahui agar memudahkan
penelusuran pasien jika terjadi kesalahan dalam pemberian obat sehingga dapat
dicegah, serta untuk membedakan pasien yang satu dan lainnya jika memiliki
nama yang sama. Pada resep tersebut tidak tertera alamat dan nomor telepon
pasien.
2. Berat badan pasien juga tidak dicantumkan hal ini menjadi masalah jika
digunakan dalam penentuan dosis yang ingin diberikan ke pasien, sebaiknya
berat badan dan umur harus dicantumkan untuk mempermudah penentuan dosis
dan rasionalitas dosis obat yang diberikan ke pasien.
3. Aturan pakai obat, aturan pakai penggunaan obat seperti bahasa latin a.c (ante
coenam = sebelum makan), p.c. (post coenam = sesudah makan), atau d.c
(durante coenam= sementara makan) tidak tercantum dalam resep yang dapat
menyebabkan masalah pada efektivitas penggunaan obat pasien nantinya

III.2.2. Skrining farmasetik


1. Kesesuaian bentuk sediaan
a. Obat racikan dalam bentuk kapsul
Obat racikan yang terdapat dalam resep terdiri atas CTM, cetirizine, codein,
metilprednisolon. Bentuk sediaan dalam bentuk serbuk dalam kapsul dianggap
sudah sesuai untuk diberikan kepada pasien untuk menutupi bau dan rasa yang
tidak enak dan jumlah pemberian jenis obat yang terlalu banyak sehingga
diracik dalam 1 bentuk sediaan yaitu kapsul.
b. Azitromisin Tablet
Dokter meresepkan azitromisin dalam bentuk tablet. Bentuk sediaan dianggap
sudah tepat.
c. Lansoprazole Tablet
Dokter meresepkan Lansoprazole dalam bentuk kapsul. Bentuk sediaan
dianggap sudah tepat.
38

d. Salbutamol Tablet
Dokter meresepkan salbutamol dalam bentuk tablet. Bentuk sediaan dianggap
sudah tepat.
2. Stabilitas
Obat-obat yang diresepkan terdiri atas 2 jenis sediaan yaitu tablet dan kapsul.
Sediaan-sediaan tablet yang diberikan stabil secara farmasetika untuk diracik dan
juga stabil pada kondisi penyimpanan yang sejuk (suhu ruang) dan kering. Untuk
obat yang telah diracik dalam bentuk serbuk puyer (kapsul) maka harus dijaga
kondisi penyimpanannya yaitu pada tempat kering, sejuk, dan terhindar dari cahaya
matahari langsung serta hanya dapat disimpan hingga 3 bulan.

3. Inkompatibilitas Obat
Pada obat racikan yang diresepkan yang terdiri atas CTM tablet, cetirizine
tablet, dan codein tablet, metilpednisolone tidak terdapat inkompatibilitas antar
bahan-bahan tersebut. Oleh karena itu, obat tersebut dapat diracik menjadi sediaan
serbuk terbagi yang dikemas dalam sediaan kapsul tanpa merusak stabilitas maupun
efek terapi dari obat tersebut.

III.2.3. Skrining Klinis


1. Kesesuaian dosis dan aturan pakai
a. CTM
Tiap tablet CTM® mengandung Chlorpeniramine maleat 4 mg
Dosis lazim CTM : (4mg/16mg)
Berdasarkan Resep,
Sekali : 1 x 2 mg : 2 mg (<4 mg tidak sesuai dosis lazim)
Sehari : 3 x 2 mg : 6 mg (<16mg, tidak sesuai dosis lazim)

Dosis maksimum : 24 mg
6 mg
% Dosis maksimum sehari : x 100 % = 25 % (<100 %, tidak
24 mg

melebihi dosis maksmum)


Berdasarkan perhitungan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian
obat CTM pada resep tersebut tidak memenuhi dosis lazim untuk pemakaian
39

sekali. Sedangkan untuk pemakaian sehari, dosis yang diberikan juga tidak
memenuhi dosis lazim, sehingga dosis perlu ditingkatkan. Pemberian obat
CTM berdasarkan perhitungan di atas juga tidak melebihi dosis maksimum
sehingga tergolong aman digunakan.

b. Salbutamol (Sweetman, S.C, 2009)


Tiap tablet Salbutamol mengandung salbutamol sulfat setara dengan salbutamol
4 mg.
Dosis lazim Salbutamol : (4 mg 3-4 kali sehari)
Berdasarkan Resep,
Sekali : 1 x 4 mg : 4 mg (sesuai dosis lazim)
Sehari : 3 x 4 mg : 12 mg (sesuai dosis lazim)
8 mg
Dosis maksimum : 40 mg
4 mg
% Dosis maksimum sekali : x 100 % = 50 % (<100 %, tidak
8 mg

melebihi dosis maksmum


12 mg
% Dosis maksimum sekali : x 100 % = 30 % (<100 %, tidak
40 mg

melebihi dosis maksmum


Berdasarkan perhitungan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian obat
salbutamol pada resep tersebut, dosis maksimum sekali penggunaan maupun
tiga kali penggunaan sehari tidak over dosis sehingga pemberian dosis
salbutamol sudah tepat.

c. Codein® (Sweetman, 2009; BNF, 2015)


Tiap tablet Codein 10 mg mengandung codein fosfat hemihidrat setara dengan
Codein 10 mg
Dosis lazim Codein : 10-20 mg/30-60 mg.
Berdasarkan resep :
Sekali : 1 x 10 mg : 10 mg (sesuai dosis lazim)
Sehari : 3 x 10 mg : 30 mg (sesuai dosis lazim)
60 mg
Dosis maksimum : 300 mg
40

Sekali : 1 x 10 : 10 mg < 60 mg
Sehari : 3 x 10 : 30 mg< 300 mg
10 mg
% Dosis Maksimum Sekali : x 100 % = 16,66 % (<100%, tidak
60 mg

melebihi DM)
30 mg
% Dosis Maksimum Sehari : x 100 % = 10 % (<100%, tidak
300 mg

melebihi DM)
Berdasarkan perhitungan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian obat
codein pada resep tersebut, dosis maksimum sekali penggunaan maupun tiga kali
penggunaan sehari tidak over dosis sehingga pemberian dosis codein sudah
tepat.

d. Cetirizine (Sweetman, 2009; BNF, 2015)


Tiap tablet Cetirizine mengandung Cetirizine 5 mg
Dosis lazim Cetirizine : 5 mg/10 mg.
Berdasarkan resep :
Sekali : 1 x 5 mg : 5 mg (sesuai dosis lazim)
Sehari : 3 x 5 mg : 15 mg (> 10mg, tidak sesuai dosis lazim)
Berdasarkan perhitungan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian obat
cetirizine pada resep tersebut melebihi dosis lazim untuk pemakaian sehari
sehingga dosis perlu diturunkan.

e. Methylprednisolone (Tarto, 2009)


Tiap tablet Methylprednisolone mengandung Methylprednisolone 4 mg
Dosis lazim Methylprednisolone : 4 - 48 mg/hari
Berdasarkan resep :
Sekali : 1 x 4 mg : 4 mg (sesuai dosis lazim)
Sehari : 3 x 4 mg : 12 mg (sesuai dosis lazim)

Dosis maksimum : 60 mg

Sekali :1x4 : 4 mg
Sehari :3x4 : 4 mg < 60 mg
41

12 mg
% Dosis Maksimum Sehari : x 100 % = 20 % (<100%, tidak
60 mg

melebihi DM)
Berdasarkan perhitungan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian obat
metilprednisolone sekali pakai ataupun perhari (3 kali pakai) pada resep tersebut
sesuai dosis lazim dan tidak melebihi dosis maksimum sehingga aman
digunakan dan mampu mencapai efek terapi.

f. Azitromicin (Tarto, 2009)


Tiap tablet azitromicin mengandung azitromicin 500 mg
Dosis lazim azitromicin : (500 mg/hari)
Berdasarkan Resep,
Sekali : 1 x 500 mg : 500 mg (sesuai dosis lazim)
Sehari : 1 x 500 mg : 500 mg (sesuai dosis lazim)

Dosis maksimum : 1500 mg

Sekali : 1 x 500 mg : 500 mg


Sehari : 1 x 500 mg : 500 mg (<1500, tidak melebihi dosis
maksimum)
500 mg
% Dosis maksimum sehari : x 100 % = 33,33 % (<100 %, tidak
1500 mg

melebihi dosis maksmum


Berdasarkan perhitungan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian obat
azitromicin sekali pakai ataupun perhari pada resep tersebut sesuai dosis lazim
sehingga aman digunakan dan mampu mencapai efek terapi.

g. Lansoprzole (Tarto, 2009)


Tiap tablet mengandung lansoprzole 15 mg
Dosis lazim lansoprzole (15 – 30 mg/hari)
Berdasarkan Resep,
Sekali : 1 x 15 mg : 15 mg (sesuai dosis lazim)
Sehari : 1 x 15 mg : 15 mg (sesuai dosis lazim)
42

Berdasarkan perhitungan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian obat


lansoprzole sekali pakai ataupun perhari pada resep tersebut sesuai dosis lazim
sehingga aman digunakan dan mampu mencapai efek terapi.
2. Pertimbangan klinis
Resep terdiri atas 3 obat tunggal yaitu azitromisin, lansoprazole, salbutamol,
serta 1 obat racikan yang terdiri atas CTM, cetirizine, codein, metilprednisolone.
Kodein HCl merupakan obat analgetik opioid yang diindikasikan untuk mengatasi
batuk. Kodein HCl adalah antitusif yang berfungsi untuk menekan batuk di sistem
saraf pusat. Dosis lazim untuk dewasa adalah 10-20 mg/ 30-60 mg. Pasien diberikan
kodein sebanyak 10 mg 3 kali sehari. Dosis ini berada dalam interval dosis yang
direkomendasikan sehingga efek terapi dapat tercapai (Depkes RI, 1979). Pada
dosis lazim yang menekan rangsang batuk, kodein hanya sedikit bekerja
menghambat proses pernafasan dan tidak menyebabkan euforia. Karena itu adiksi
jarang terjadi. Sebagai efek samping dapat terjadi mual dan obstipasi lemah
(Hasanah, 2014).

Pada pasien asma, penggunaan kodein yang tidak hati-hati dapat


menyebabkan terjadinya insufisiensi atau tidak memadainya pernapasan yang
disebabkan oleh peningkatan viskositas sekresi bronkial dan supresi refleks batuk
(McEvoy, G.K., 2004). Pasien tersebut juga diberikan salbutamol dalam resep,
yang mengindikasikan pasien kemungkinan mempunyai riwayat asma atau sesak
nafas. Oleh karena itu, penggunaan kodein sebagai antitusif sebaiknya
dipertimbangkan dan butuh pengawasan ketat.

CTM memiliki efek farmakologi sebagai antihistamin. CTM merupakan


antihistamin generasi pertama mempunyai profil efek samping yaitu sedasi yang
dipengaruhi dosis, merangsang SSP menimbulkan mulut kering. Antihistamin
bekerja dengan menghambat pelepasan mediator inflamasi seperti histamin serta
memblok migrasi sel. Sedasi yang ditimbulkan oleh generasi pertama disebabkan
oleh blokade neuron histaminergik sentral yang mengontrol kantuk. Hal ini tidak
terjadi pada generasi kedua, karena tidak dapat menembus blood brain barrier
(Depertemen Kesehatan, 2005). Pada resep diberikan CTM sekali pakai 2 mg
43

dengan frekuensi pemakaian sebanyak 3 kali dalam sehari sedangkan dosis lazim
untuk CTM adalah 4/16 mg. Berdasarkan hasil perhitungan maka diketahui bahwa
dosis CTM yang diberikan tidak memenuhi dosis lazim. Oleh karena itu perlunya
peningkatan dosis sesuai dosis lazim.

Menurut American Medical Association (AMA), resep yang rasional adalah


resep yang mengandung tidak lebih dari 3 komponen aktif dari golongan
farmakologi yang berbeda. Dalam resep tersebut terdapat 7 jenis sediaan obat yang
diberikan dan terdapat 4 bahan aktif yang diracik menjadi serbuk puyer. Oleh
karena itu, resep yang diberikan perlu dipertimbangkan kembali.

Salbutamol merupakan golongan obat simpatomimetik 2 agonis yang


bekerja selektif pada reseptor . Salbutamol digunakan sebagai bronkodilator
dalam mengatasi obstruksi saluran udara seperti pada pasien asma dan obstruktif
paru kronik (Sweetman, S.C., 2009).

Cetirizine adalah metabolit karboksilat dari antihistamin generasi pertama


hidroksizin. Antihistamin generasi kedua bekerja pada reseptor histamin H-1 di sel-
sel perifer tubuh dan memiliki efek sedatif yang jauh lebih rendah jika
dibandingkan dengan antihistamin H-1 generasi pertama. Berkompetisi dengan
histamin pada reseptor-H1 di sel efektor saluran pencernaan, pembuluh darah, dan
saluran pernapasan (Aberd, 2009).

Methylprednisolone adalah salah satu jenis obat kortikosteroid yang dapat


menekan sistem kekebalan tubuh dan mengurangi reaksi peradangan.
Methylprednisolone bekerja dengan berikatan pada reseptor khusus dalam
sitoplasma sel. Ikatan tersebut dapat menghambat sintesis beberapa protein tertentu
yang berperan pada reaksi inflamasi dalam tubuh. Kortikosteroid mengerahkan
beragam efek fisiologis termasuk memodulasi karbohidrat, protein, dan
metabolisme lipid dan pemeliharaan homeostasis cairan dan elektrolit. Mengurangi
peradangan dengan menekan migrasi leukosit polimorfonuklear dan pembalikan
peningkatan permeabilitas kapiler (Aberd, 2009).
44

Lansoprazole merupakan golongan PPI yang menghasilkan efek penekanan


terhadap sekresi asam lambung yang lebih superior dibandingkan penghambat
reseptor histamin H2. Mekanisme kerja obat golongan PPI adalah
dengan menghambat produksi asam pada tahap akhir mekanisme sekresi asam,
yaitu pada enzim (H+, K+)-ATPase dari pompa proton sel parietal. Enzim (H+,
K+)-ATPase berperan penting dalam pertukaran ion dari dan ke dalam sel parietal,
hasil pertukaran ion inilah yang membentuk asam lambung HCl. PPI bersifat
lipofilik (larut dalam lemak), sehingga dapat dengan mudah menembus membrane
sel parietal tempat asam dihasilkan serta hanya aktif dalam lingkungan asam dan
pada satu tipe sel saja yaitu sel parietal mukosa lambung (Aberd, 2009).

Azitromisin beraksi menghambat sintesis protein RNA-dependent pada


langkah perpanjangan rantai peptida yang berikatan dengan subunit ribosom 50S
mengakibatkan penyumbatan transpeptida. Antibiotik ini efektif terhadap bakteri
gram positif, namun ada beberapa spesies bakteri gram negatif yang sangat peka
terhadap azitromisin ((Aberd, 2009).

Pada resep racikan pertama untuk dosis dan cara penggunaan obat CTM,
codein dan metilprednisolone sudah tepat yaitu diberikan 3 kali, dianjurkan
diberikan setelah makan serta dalam keadaan tidak melakukan aktivitas yang berat
karena efek sedasi dari obat CTM dapat mengganggu aktivitas tersebut (MIMS,
2016). Untuk cetirizine berdasarkan peninjauan dosis, untuk dosis sehari
pemakaian melebih dosis lazim yang seharusnya hanya sekali sehari 10 mg atau
dua kali sehari 5 mg diresepkan 3 kali sehari 5 mg sehingga melebihi dosis lazim
sehari yang seharusnya hanya 10 mg. Selain itu penggunaan cetirizine seharusnya
dikonsumsi bersama makanan (durante coenam). Namun karena dicampurkan
bersama obat yang lainnya maka waktu pemberian menjadi tidak efektif. Dalam
racikan juga menggunakan dua jenis antihistamin yang memiliki efek sinergis
sehingga disarankan hanya memilih salah satunya yang lebih efektif untuk
pengobatan pasien.
45

Selama pemberian terapi obat, sebaiknya disarankan untuk melakukan


monitoring rutin kondisi kesehatan pasien selama atau setelah penggunaan terapi
obat. Jika pasien tidak lagi mengalami gejala maka pemberian terapi obat dapat
dihentikan karena obat yang diresepkan merupakan obat-obatan yang bersifat
simtomatis yang digunakan untuk mengatasi gejala penyakit. Namun, jika obat
yang diresepkan telah habis dan gejala masih dirasakan oleh pasien, maka pasien
dapat menerima obat tambahan atau obat yang sama seperti obat dalam resep
sebelumnya dari dokter. Dokter akan meresepkan kembali obat yang dibutuhkan
dalam penanganan gejala penyakit pasien.

Interaksi obat terjadi jika efek suatu obat (index drug) berubah akibat adanya
obat lain (precipitant drug), makanan atau minuman. interaksi obat dapat
menghasilkan efek yang memang dikehendaki (Desirable Drug Interaction), atau
efek yang tidak dikehendaki (Undesirable/Adverse Drug Interactions = ADIs)
yang lazimnya menyebabkan efek samping obat dan/atau toksisitas karena
meningkatnya kadar obat di dalam plasma, atau sebaliknya menurunnya kadar obat
dalam plasma yang menyebabkan hasil terapi menjadi tidak optimal. Meningkatnya
kombinasi obat, juga akan meningkatkan potensi interaksi antar obat. Interaksi
dapat terjadi secara farmakodinamik dan farmakokinetik. Interaksi farmakodinamik
adalah interaksi antara obat yang bekerja pada sistem reseptor, tempat kerja atau
sistem fisiologis yang sama sehingga menimbulkan efek yang aditif, sinergis atau
antagonis tetapi tidak terjadi perubahan konsentrasi obat dalam plasma. Sedangkan
interaksi antara obat secara farmakokinetik terjadi ketika salah satu obat
mempengaruhi absorbsi, distribusi, metabolisme ataupun ekskresi obat lainnya
yang menyebabkan terjadinya peningkatan ataupun penurunan kadar obat dalam
plasma yang berkaitan dengan bioavailabilitas obat. Interaksi farmakodinamik
umumnya dapat diekstrapolasikan ke obat lain yang segolongan dengan obat yang
berinteraksi, karena klasifikasi obat adalah berdasarkan efek farmakodinamiknya.
Selain itu, umumnya kejadian interaksi farmakodinamik dapat diramalkan sehingga
dapat dihindari sebelumnya jika diketahui mekanisme kerja obat (DiPiro, 2005).
46

Salah satu masalah yang dapat d adalah adanya reaksi yang tidak dinginkan
(ROTD). Adanya ROTD ini penting untuk diperhatikan karena dapat memberikan
rasa tidak nyaman pada pasien (Dirjen Bina Farmasi, 2011). Efek yang dapat timbul
dan perlu pemantauan pada obat di atas adalah levofloxacin yang dapat
menimbulkan efek sakit kepala, mual, anemia, rasa tidak nyaman pada abdomen,
diare dan dispepsia. Efek lain yang dapat timbul adalah rasa pusing dan kantuk
akibat efek sedasi dari penggunaan CTM dan kodein (PIO DepKes).

Adapun interaksi obat yang terjadi dalam kasus resep ini adalah sebagai
berikut tertera pada tabel 2 dibawah ini :
Tabel 2. Interaksi antara obat-obat dalam resep
Interaksi obat dalam resep Jenis interaksi Efek yang ditimbulkan
CTM + Codein Farmakodinamik Meningkatkan efek sedasi
CTM + Salbutamol Farmakodinamik CTM meningkatkan efek sedasi dan
salbutamol menurunkan efek sedasi
Codein + Salbutamol Farmakodinamik Codein meningkatkan efek sedasi dan
salbutamol menurunkan efek sedasi
Methylprednisolone + Metabolisme Methylprednisolone meningkatkan efek dan
Lansoprazole jumlah lansoprazole

Berikut penjelasan interaksi obat-obat dalam resep yang tertera pada tabel diatas:
a. CTM + Codein
Kombinasi regimen terapi ini menyebabkan interaksi yaitu peningkatan efek
sedasi pada kombinasi obat CTM dan kodein. Interaksi ini termasuk interaksi
farmkodinamik. Codein sebagai obat batuk memiliki efek samping berupa ngantuk
atau sedasi sedangkan CTM yang memiliki efek sebagai antihistamin generasi
pertama memiliki efek sedasi yang kuat sehingga kombinasi kedua obat tersebut
akan meningkatkan atau memperkuat efek sedasi (Medscape, 2017).

Obat antihistamin yaitu CTM yang dikombinasikan dengan kodein yang


merupakan obat golongan opioid akan memiliki efek aditif pada depresan sistem
saraf pusat yang dapat menyebabkan peningkatan sedasi dan depresi pernapasan.
Oleh karena itu penggunaan kedua obat ini harus diawasi dengan baik (Baxter, K.,
2010).
47

b. CTM + Salbutamol
Kombinasi regimen terapi ini menyebabkan interaksi yaitu CTM
meningkatkan efek sedasi dan salbutamol menurunkan efek sedasi. Sehingga
kombinasi kedua obat tersebut saling berlawanan, oleh karenanya penggunaannnya
harus hati-hati dan dibutuhkan monitoring secara terus menerus (stockley).

c. Codein + Salbutamol
Kombinasi regimen terapi ini menyebabkan interaksi yaitu CTM
meningkatkan efek sedasi dan salbutamol menurunkan efek sedasi. Sehingga
kombinasi kedua obat tersebut saling berlawanan, oleh karenanya penggunaannnya
haru hati-hati dan dibutuhkan monitoring secara terusmenerus (stockley).

d. Methylprednisolone + Lansoprazole
Kombinasi regimen terapi ini menyebabkan interaksi metabolisme.
Methlprednsolone mempengaruhi enzim CYP3A4 sehingga metobolisme
lansoprazole terhambat, akibatnya terjadi peningkatan efek dan level dari
lansoprazole (Stockley)

III.3. Uraian Obat dalam Resep


1. Salbutamol (MIMS, 2017)
a. Komposisi
Tiap tablet mengandung salbutamol sulfat yang setara dengan salbutamol
2mg.
b. Nama dagang
Asmacel®, Teosal®, Ventolin®
c. Farmakologi
Salbutamol merupakan suatu agonis adrenergik yang akan merelaksasi otot
bronkus secara langsung.
d. Indikasi
Kejang bronkus pada semua jenis asma bronkial, bronktis kronis dan
emfisema.
e. Kontraindikasi
48

Hipersensitif terhadap salbutamol.


f. Efek samping
Pada dosis yang dianjurkan tidak ditemukan adanya efek samping yang
serius. Pada pemakaian dosis besar dapat menyebabkan tremor halis pada otot
skelet (biasanya pada tangan), palpitasi, kejang otot, takikardia, sakit kepala
dan ketegangan. Efek ini terjadi pada semua perangsang adrenoreseptor beta.
Vasodilator perifer, gugup, hiperaktif, epitaxis (mimisan), susah tidur
g. Peringatan dan perhatian
1. Hati-hati bila diberikan pada penderita thyrotoxicosis, hipertensi,
gangguan kardiovaskuler, hipertiroid dan diabetes mellitus.
2. Meskipun tidak terdapat bukti teratogenitas, sebaiknya penggunaan
salbutamol selama masa kehamilan trimester pertama, hanya jika benar-
benar diperlukan.
3. Hati-hati penggunaan pada wanita menyusui karena kemungkinan
diekskresikan melalui air susu.
4. Hati-hati penggunaan pada anak kurang dari 2 tahun karena keamanannya
belum diketahui dengan pasti.
5. Pemberian intravena pada pasien diabetik, perlu dimonitor kadar gula
darah.
h. Dosis
1. Dewasa dan anak-anak > 12 tahun : 2 – 4 mg, 3 – 4 kali sehari
2. Anak-anak 6 – 12 tahun : 2 mg, 3 – 4 kali sehari
3. Anak-anak 2 – 6 tahun : 1 – 2 mg, 3 – 4 kali sehari
4. Digunakan pada saat perut kosong.

2. CTM® (ISO, 2012, BNF 2015)


a. Komposisi
Tiap tablet mengandung Chlorpheniramine Maleate 4 mg
b. Nama Generik/Dagang
Advil® Alergi Sinus, Ah-Chew®, Alka-Seltzer Plus®, Aller-Chlor®,
Allerest®, Atrohist®, Brexin® LA, Chlo-Amine®, ChlorDex GP®, Chlor-
49

Mes D®, Chlor -Phed®, Chlor-Trimeton®, Comhist®, Comtrex®,


Coricidin®, Dallergy®, Deconamine®, Dimetapp®, Dristan®, Dura-Vent®,
Efidac 24®, EX-Histine®.
c. Farmakologi
CTM berfungsi menurunkan sensitivitas saraf terhadap histamin, suatu
hormon manusia yang akan dikeluarkan bila ada zat asing tak dikenal dan
memunculkan reaksi yang disebut 'alergi'. Karena itu CTM disebut anti-
histamin yang efek jelasnya adalah sedative (ngantuk). Sedangkan maleate
pada CTM itu adalah pengesternya, sehingga CTM adalah bentuk garam
antara Chlorpheniramin dengan maleate acid, suatu asam karboksilat.
d. Indikasi
Terapi rinitis alergi perennial dan musiman, rinits vasomotor, konjungtivitis
alergi, alergi kulit, urtikaria, angioedema
e. Kontraindikasi
Ibu menyusui bayi premature dan bayi baru lahir.
f. Efek Samping
Sedatif ringan, mulut kering.
g. Peringatan atau Perhatian
Selama minum obat ini, jangan mengendarai kendaraan bermotor atau
menjalankan mesin.
h. Dosis
Dewas 3 - 4 kali sehari 0,5 - 1 tablet dan maksimum 24 mg per hari.
Sedangkan untuk anak-anak 6 - 12 tahun diberikan 0,5 dosis dewasa dan
untuk anak-anak 1-6 tahun diberikan dosis 0,25 dosis dewasa.
3. Codein® (ISO, 2012, Binfar)
a. Komposisi
Tiap tablet mengandung kodein 10 mg
b. Nama Generik/Dagang
Codein®, Codikaf®, Codipront®, Coditam® dan Kodein Fosfat®.
c. Farmakologi
50

Bersifat bakteriostatik namun dapat menjadi bakterisida pada konsentrasi


tinggi. Bekerja menghambat sintesis protein dengan cara berikatan dengan
subunit ribosom 50S, dengan begitu dapat menghambat aminoasil-transfer
RNA dan menghambat sintesis polipeptida. Codeine merupakan agonis
opiat turunan fenantren yang meruah persepsi dan respon terhadap nyeri
dengan cara mengikat reseptor opiat di SSP. Selain itu kodein dapa
menekan batuk dengan kerja langsung di bagian medula medulla (MIMS,
2016).
d. Indikasi
Terapi nyeri ringan dan sedang, antitusif pada dosis rendah
e. Kontraindikasi
Pada pasien yang hipersensitif terhadap kodein,penyakit hati, gangguan
ventilatori, wanita hamil.
f. Efek Samping
Efek pada sistem saraf yaitu mengantuk, pusing, sakit kepala, berkunang-
kunang, kebingungan. Efek gastrointestinal yaitu konstipasi, mulut kering,
anoreksia, mual, muntah. Efek pada kardiovaskular yaitu
takikardi/bradikardi. Efek dermatologik yaitu kemerahan, urtikari.
g. Peringatan dan Perhatian
Hati-hati penggunaan pada pasien dengan infark miokardial dan penderita
asma, hindari minuman beralkohol, tidak boleh melebihi dosis yang
dianjurkan karena dapat menyebabkan kerusakan fungsi hati, hati-hati
penggunaan obat ini pada penderita penyakit ginjal dan hati-hati pada
pemberian jangka panjang.
h. Dosis
Dewasa : 10-20 mg, tiap 4 - 6 jam sesuai kebutuhan, maks. 60-300 mg
perhari.
4. Cetirizine® (ISO, 2012; Aberd, 2009)
a. Komposisi
Tiap tablet mengandung cetirizine 5 mg
51

b. Nama Generik/Dagang
Cerini®, Cetinal®, Cetrixal®, Cetryn® dan Alergine®.
c. Farmakologi
bekerja pada reseptor histamin H-1 di sel-sel perifer tubuh dan memiliki
efek sedatif yang jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan antihistamin
H-1 generasi pertama. Berkompetisi dengan histamin pada reseptor-H1 di
sel efektor saluran pencernaan, pembuluh darah, dan saluran pernapasan.
d. Indikasi
Terapi nyeri ringan dan sedang, antitusif pada dosis rendah
e. Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap obat dan komponennya, kehamilan, menyusui
f. Efek Samping
Sakit kepala, pusing, mengantuk, agitasi, mulut kering, rasa tidak nyaman
di perut, reaksi hipersensitif seperti reaksi kulit dan angioudem
g. Peringatan dan Perhatian
Dapat menyebabkan depresi SSP, yang dapat merusak kemampuan fisik
atau mental; pasien harus diperingatkan tentang melakukan tugas yang
membutuhkan kewaspadaan mental, gunakan dengan hati-hati pada pasien
dengan gangguan hati, penyesuaian dosis direkomendasikan untuk
kerusakan ginjal.
h. Dosis
Dewasa : 5mg 2 kali sehari atau 10 mg sekali sehari.
5. Methylprednisolone® (ISO, 2012; Aberd, 2009)
a. Komposisi
Tiap tablet mengandung methylprednisolone 4 mg
b. Nama Generik/Dagang
Meproson®, Metasolone®, Medixon®, Timelon® dan Tisolone®.
c. Farmakologi
Mekanisme dengan mengatur ekspresi gen setelah berikatan dengan
reseptor intraseluler spesifik dan translokasi ke dalam nukleus.
Kortikosteroid memodulasi karbohidrat, protein, dan metabolisme lipid dan
52

pemeliharaan homeostasis cairan dan elektrolit. Selain itu, kardiovaskular,


imunologi, muskuloskeletal, endokrin, dan fisiologi neurologis dipengaruhi
oleh kortikosteroid. Mengurangi peradangan dengan penekanan migrasi
leukosit polimorfonuklear dan pembalikan peningkatan permeabilitas
kapiler.
d. Indikasi
Supresi Inflamasi dan gangguan alergi, udema serebral, reumatik.
e. Kontraindikasi
Hipersensitivitas terhadap methylprednisolone atau komponen dari
formulasi; virus, jamur, atau lesi kulit tuberkular; administrasi vaksin virus
hidup; infeksi serius, kecuali syok septik atau meningitis TB. Formulasi
metilprednisolon yang mengandung pengawet benzil alkohol
dikontraindikasikan pada bayi.
f. Efek samping
Dispepsia, tukak lambung, pankreatitis akut, ulserasi esophageal dan
kandidiasis, dan efek muscloskeletal termasuk miopati proksimal.
g. Peringatan dan Perhatian
Digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan hati, penyesuaian
dosis direkomendasikan untuk kerusakan ginjal.
h. Dosis
Dewasa : 4 – 48 mg/hari
6. Azitromisin® (ISO, 2012; Aberd, 2009)
a. Komposisi
Tiap tablet mengandung azitromisin 500 mg
b. Nama Generik/Dagang
Azomax®, Aztrin®, Azifol®, Azomax® dan Zifin®.
c. Farmakologi
Menghambat sintesis protein RNA-dependent pada langkah perpanjangan
rantai peptida yang berikatan dengan subunit ribosom 50S mengakibatkan
penyumbatan transpeptida.
53

d. Indikasi
Infeksi yang disebabkan oleh organisme yang peka, infeksi saluran nafas
atas (tonsilitis, pharingitis), infeksi saluran nafas bawah (bronchitis,
pneumonia), infeksi kulit dan jaringan lunak, penyakit hubungan seksual
(Sexually Transmitted Disease), urethritis, cervicitis yang berkaitan dengan
Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum dan Neisseria gonorrhoe.
e. Kontraindikasi
Gangguan fungsi hati.
f. Efek Samping
Anoreksia, dyspepsia, flatulesns, konstipasi, pankreatitis, mengantuk, sakit
kepala, ansietas, trombositopenia, hepatitis.
g. Peringatan dan Perhatian
Perubahan konduksi jantung: Makrolida dikaitkan dengan penurunan QTc
dan aritmia ventrikel yang langka, gunakan dengan hati-hati pada pasien
yang berisiko mengalami repolarisasi jantung yang berkepanjangan.
Superinfeksi: Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan superinfeksi
jamur atau bakteri, termasuk.
h. Dosis
Dewasa : 500 mg/hari
7. Lansoprazole ® (ISO, 2012; Aberd, 2009).
a. Komposisi
Tiap tablet mengandung Lansoprazole 15 mg
b. Nama Generik/Dagang
Lancid®, Prolans®, Prosogan®, Gastrolan® dan Digest®.
c. Farmakologi
Lansoprazole merupakan golongan PPI yang menghasilkan efek penekanan
terhadap sekresi asam lambung yang lebih superior dibandingkan
penghambat reseptor histamin H2. Mekanisme kerja obat golongan PPI
adalah dengan menghambat produksi asam pada tahap akhir mekanisme
sekresi asam, yaitu pada enzim (H+, K+)-ATPase dari pompa proton sel
parietal. Enzim (H+, K+)-ATPase berperan penting dalam pertukaran ion
54

dari dan ke dalam sel parietal, hasil pertukaran ion inilah yang membentuk
asam lambung HCl. PPI bersifat lipofilik (larut dalam lemak), sehingga
dapat dengan mudah menembus membrane sel parietal tempat asam
dihasilkan serta hanya aktif dalam lingkungan asam dan pada satu tipe sel
saja yaitu sel parietal mukosa lambung
d. Indkasi
Tukak duodenum dan tukak lambung ringan, refluks esofagitis
e. Kontraindikasi
Hipersensitivitas terhadap lansoprazole, benzimidazole tersubstitusi (mis.,
Esomeprazol, omeprazol, pantoprazol, rabeprazole), atau komponen lain
dari formulasi.
f. Efek Samping
Alopesia, paraestesia, brungsing, purpura, petechiae, lelah, vertigo,
halusinasi, bingung, jarang terjadi ginekomastia, impotensi.
g. Peringatan dan Perhatian
Terapi omeprazole jangka panjang menyebabkan gastritis atrofi (melalui
biopsi) ini juga dapat terjadi dengan lansoprazole. Gangguan hati: Pasien
dengan disfungsi hati berat mungkin memerlukan pengurangan dosis.
Populasi khusus: Keamanan dan kemanjuran belum ditetapkan pada anak-
anak berusia <1 tahun.
h. Dosis
Dewasa : 15 mg/hari

III.4. Penyiapan Obat


III.4.1. Resep racikan
a. Perhitungan bahan
Berdasarkan resep, obat racikan yang diminta sebanyak 21, yang disetujui
sebanyak 20 untuk dibuat serbuk terbagi pengemasan dalam kapsul, maka bahan
yang dibutuhkan adalah :
1. CTM = 4 mg/ 2 mg x 20 = 40 mg @ 10 tablet
2. Cetirizine = 10 mg/ 5 mg x 20 = 40 mg @ 10 tablet
55

3. Codein = 20 mg/ 10 mg x 20 = 40 mg @ 10 tablet


4. Metilprednisolon = 4 mg x 20 = 80 mg @ 20 tablet

b. Peracikan
1. Semua alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan.
2. Semua obat yang telah disiapkan berdasarkan perhitungan kemudian
dimasukkan ke dalam blender obat hingga homogen.
3. Dimasukkan serbuk yang homogen tersebut dalam kapsul No. 0
4. Dibagi rata ke dalam 20 Kapsul
5. Dimasukkan dalam sak obat
6. Diberi etiket putih

III.4.2. Resep non-racikan


1. Azitromisin 500 mg
Permintaan dokter sebanyak 7 tablet, yang disetujui sebanyak 5 tablet. Setelah
itu diberi etiket berwarna putih dengan aturan pakai 1 kali sehari 1 tablet setelah
makan, serta diberi edukasi terkait antibiotik dan penggunaannya (dihabiskan).
2. Lansoprazole
Permintaan dokter sebanyak 7 kapsul, yang disetujui sebanyak 5 kapsul.
Setelah itu diberi etiket berwarna putih dengan aturan pakai 1 kali sehari 1
tablet sebelum makan.
3. Salbutamol
Permintaan dokter sebanyak 7 tablet, yang disetujui sebanyak 5 tablet. Setelah
itu diberi etiket berwarna putih dengan aturan pakai 3 kali sehari 1 tablet
sesudah makan.

III.5. Etiket dan copy Resep


III.5.1. Etiket
Terdapat 4 etiket untuk resep yaitu untuk racikan (kapsul), Azitromisin,
Lansoprazole, salbutamol. Keempatnya menggunakan etiket putih karena
merupakan obat yang digunakan secara peroral.
56

a. Resep racikan
APOTEK PLUS
TAMALANREA
SIA : 503/00316/DPM-PTSP/KES/VII/2017
Jl. Perintis Kemerdekaan KM 11 No. 11 Makassar
Tlp. (0411) 581217
APA : Rahmawati, S.Si., Apt
No. SIPA: 446/514.1.14/SIPA/DKK/IV/2017

No. Tgl.

Gambar 10. Etiket resep racikan (kapsul)


b. Resep Azitromsin
APOTEK PLUS
TAMALANREA
SIA : 503/00316/DPM-PTSP/KES/VII/2017
Jl. Perintis Kemerdekaan KM 11 No. 11 Makassar
Tlp. (0411) 581217
APA : Rahmawati, S.Si., Apt
No. SIPA: 446/514.1.14/SIPA/DKK/IV/2017

No. Tgl.

Gambar 11. Etiket resep Azitromsin tablet

c. Resep Lasoprazole
APOTEK PLUS
TAMALANREA
SIA : 503/00316/DPM-PTSP/KES/VII/2017
Jl. Perintis Kemerdekaan KM 11 No. 11 Makassar
Tlp. (0411) 581217
APA : Rahmawati, S.Si., Apt
No. SIPA: 446/514.1.14/SIPA/DKK/IV/2017

No. Tgl.

Gambar 12. Etiket resep Lansoprazole


d. Resep Salbutamol
57

APOTEK PLUS
TAMALANREA
SIA : 503/00316/DPM-PTSP/KES/VII/2017
Jl. Perintis Kemerdekaan KM 11 No. 11 Makassar
Tlp. (0411) 581217
APA : Rahmawati, S.Si., Apt
No. SIPA: 446/514.1.14/SIPA/DKK/IV/2017

No. Tgl.

Gambar 13. Etiket resep Salbutamol


58

III.5.2. Copy resep


Salinan resep atau copy resep dapat diberikan apabila pasien meminta atau bila
masih ada obat yang harus ditebus dalam resep. Berikut adalah contoh salinan
resepnya.

APOTEK PLUS
TAMALANREA
SIA : 503/00316/DPM-PTSP/KES/VII/2017
Jl. Perintis Kemerdekaan KM 11 No. 11
Makassar
Tlp. (0411) 581217
APA : Rahmawati, S.Si., Apt
No. SIPA: 446/514.1.14/SIPA/DKK/IV/2017
59

SALINAN RESEP
Tanggal : No. :
Dari Dokter :
Pro/Umur :
Alamat :

R/

p.c.c

Paraf APA
stempel

Rahmawati, S.Si., APt

Gambar 14. Contoh copy resep


III.6. Penyerahan Obat
Penyerahan obat dilakukan dengan terkebih dahulu memeriksa kesesuaian
antara obat dan resep, serta etiket yang diberikan. Setelah dilakukan pemeriksaan
akhir, obat diserahkan kepada pasien dengan pemberian informasi obat.

Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan kegiatan yang dilakukan oleh


Apoteker dalam pemberian informasi mengenai obat yang tidak memihak,
dievaluasi dengan kritis dan dengan bukti terbaik dalam segala aspek penggunaan
obat kepada profesi kesehatan lain, pasien atau masyarakat. Informasi mengenai
obat termasuk obat resep, obat bebas dan herbal (PerMenKes, No. 73, 2016).
60

Sebelum memberikan informasi, apoteker terlebih dahulu memastikan


kesesuaian antara resep dan pasien, serta mengajukan beberapa pertanyaan kepada
pasien. Pertanyaan yang diajukan antara lain adalah:
a. Nama dan usia pasien yang sakit. Dilakukan untuk menghindari kesalahan
penyerahan obat.
b. Apa keluhan dan gejala yang dirasakan pasien. Hal ini dilakukan untuk
menghindari kesalahan peresepan oleh dokter. Apabila terjadi sesuatu yang tidak
sesuai, apoteker dapat menghubungi dokter untuk mengkonfirmasi kesalahan
yang mungkin terjadi.
c. Apakah ada obat lain yang sementara dikonsumsi pasien selain yang diresepkan.
Pertanyaan ini penting untuk menghindari risiko interaksi obat yang dapat
terjadi.

Informasi yang diberikan kepada pasien pada saat penyerahan obat yaitu :
a. Racikan, obat ini dikonsumsi 3 kali sehari sebanyak 1 kapsul setelah makan.
Obat yang diberikan sebanyak 20 kapsul dan akan habis setelah dikonsumsi
selama 7 hari. Akan tetapi, penggunaan obat ini dapat dihentikan jika batuk dan
rasa sakit pada tenggorokan telah hilang .
b. Azitromisin merupakan antibiotik yang diberikan untuk mengatasi infeksi di
saluran pernapasan. Obat ini diminum 1 kali sehari 1 kapsul setelah makan. Obat
yang diberikan sebanyak 5 tablet dan akan habis setelah penggunaan selama 5
hari. Obat ini harus dikonsumsi sampai habis meskipun pasien telah sembuh.
c. Lansoprazole merupakan obat untuk mengatasi magh (gangguan lambung). Obat
ini diminum 1 kali sehari 1 kapsul 30 sebelum makan. Obat yang diberikan
sebanyak 5 tablet dan akan habis setelah penggunaan selama 5 hari.
d. Salbutamol merupakan obatk yang diberikan untuk mengatasi sesak nafas
(asma) pada pasien. Obat ini diminum 3 kali sehari 1 tablet setelah makan. Obat
yang diberikan sebanyak 5 tablet dan akan habis setelah penggunaan selama 5
hari.
61

BAB IV
PENUTUP

IV.1. Kesimpulan
Dari pembahasan mengenai pelayanan resep di Apotek Plus Tamalanrea
Makassar, maka dapat disimpulkan bahwa resep yang diberikan diindikasikan
untuk batuk, sesak nafas, magh/ulkus peptikum dan infeksi pada saluran
pernapasan. Semua obat yang diresepkan sudah sesuai dengan penyakit yang
diderita pasien. Namun, penggunaan kodein perlu dipehatikan karena mempunyai
risiko memperparah sesak nafas yang dialami pasien, dan penggunaan dua obat
sinergis perlu dipertimbangkan.

IV.2. Saran
Sebaiknya dokter mempertimbangkan dosis dan jenis obat yang diberikan
pada pasien untuk menghindari risiko interaksi dan efek samping, serta
memperhatikan kelengkapan resep, hal ini penting untuk mencegah terjadinya hal-
hal yang tidak dinginkan pada pelaksanaan pengobatan.
Untuk obat cetirizine sebaiknya diturunkan frekuensi penggunaannya karena
telah melewati dosis lazim terlebih sudah adanya penggunaan CTM yang berefek
sinergis.

61
62

DAFTAR PUSTAKA

American Medical Association. 2008. American Medical Association Complete


Guide to Prevention and Wellness. Wiley, United State of America.

Aberd, Judith A, et al. 2009. Drug Information Hand Book edition seventh.
America: Lexicomp

Baxter, K. 2010. Stockley’s drug interaction edisi 8. Pharmaceutical Press. London

BPOM. 2014. Keputusan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik
Indonesia Nomor HK.00.05.4.2411 tentang Ketentuan Pokok Pengelompokan
dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia. Jakarta

Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope edisi III. Dirjen POM. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia nomor 3 tahun 2015 tentang Peredaran, Penyimpanan,
Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor
Farmasi. Jakarta.
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. 2007. Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas.
Jakarta.

Dipiro, JT., Talbert, RL., Yee, GC., Matzke, GR., Wells, BG., dan Posey, LM. 2005.
Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Sixth Edition. ISBN
0071416137 McGraw - Hill Medical.

Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan. 2006. Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas.
Depkes RI: Jakarta
ISO Indonesia. 2012. Informasi Spesialite Obat untuk Kalangan Medis. Volume 46
– 2011-2012, ISSN 0854 – 4492. Jakarta : Penerbit Ikatan Apoteker
Indonesia.

Kian, Chia Hue, Nikki Ng, dkk. 2017. MIMS Referensi Obat Informasi Ringkas
Produk Obat Edisi 2017. TT Lapi loboratories.

Martin, J. 2015. Britis National Formulary.BNJ Group and Royal Pharmaceutical


Society. United Kingdom.
63

Medscape. 2017. Drug Interaction. Diakses pada Tanggal 20 mei 2017. Makassar

Menteri Kesehatan RI. 2015. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor


3/Menkes/SK/X/2015 Tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan dan
Pelaporan Narkotika, Psikotropikadan Prekursor Farmasi. Jakarta
62
Menteri Kesehatan Republik Indonesia.1983. Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 2380/A/SK/VI/1983 tentang Tanda Khusus untuk
Obat Bebas dan Obat Bebas Terbatas. Jakarta.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia.1986. Keputusan Menteri Kesehatan RI


Nomor 02396/A/SKA/VIII/1986 Tentang Tanda Khusus Obat Keras Daftar G.
Jakarta.

Menteri Kesehatan RI.1990. Keputusan Menteri Kesehatan RI No.


347/Menkes/SK/VII/1990 Tentang Obat Wajib Apotek. Jakarta.

Menteri Kesehatan RI. 1990. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor


347/MENKES/SK/VII/1990 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No.1. Jakarta.

Menteri Kesehatan RI. 1993. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor


924/MENKES/PER/X/1993 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No.2. Jakarta.

Menteri Kesehatan RI. 1999. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor


1176/MENKES/SK/X/1999 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No.3. Jakarta.
Menteri Kesehatan RI. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 73 Tahun 2016.
Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta

Menteri Kesehatan RI, 2017. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 9 Tahun 2017.
Tentang Apotek. Jakarta

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 3 Tahun 2015. Tentang Peredaran,


Penyimpanan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan
Prekursor Farmasi.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 Tentang


Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 13 Tahun 2014. Tentang Perubahan


Penggolongan Narkotika. Jakarta
Peraturan Pemerintah Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014
Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta.
64

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 2 Tahun 2017. Tentang Perubahan


Penggolongan Narkotika. Jakarta

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 3 Tahun 2017. Tentang Perubahan


Penggolongan Psikotropika. Jakarta.
Peraturan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia
Nomor 40 Tahun 2013 Tentang Pedoman Pengelolaan Prekursor Farmasi
dan Obat Mengandung Prekursor Farmasi.
Sweetman, S.C. 2009. Martindale 36thThe Complete Drug Reference. London: The
Pharmaceutical Press.
Tarto, David, et al. 2009. A to Z Drug Facts. London: Fact and Komparisons

Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 Tentang Psikotropik.


Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotik.
65

Lampiran 1. Form surat pesanan narkotika (PerMenKes, No. 3, 2015)

SURAT PESANAN NARKOTIKA


Nomor : ………………………

Yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : ………………………………………
Jabatan : ………………………………………
Mengajukan pesanan Narkotika kepada :
Nama distributor : ………………………………………
Alamat : ………………………………………
Telp : ………………………………………
dengan Narkotika yang dipesan adalah:
(Sebutkan nama obat, bentuk sediaan, kekuatan/potensi, jumlah dalam bentuk
angka dan huruf)
Narkotika tersebut akan dipergunakan untuk :
Nama sarana : ……………………………………..
(Industri farmasi/PBF/Apotek/Puskesmas/Instalasi Farmasi
Rumah Sakit/Instalasi Farmasi Klinik/Instalasi Farmasi
Pemerintah/LembagaIlmu Pengetahuan)*
Alamat Sarana : ……………………………………..

Nama Kota, Tanggal, Bulan, Tahun


Pemesan

Tanda Tangan dan Stempel

Nama Apoteker/Kepala Lembaga Ilmu


Pengetahuan
No. SIKA/SIPA/NIP
*Coret yang tidak perlu

Catt:
- Satu surat pesanan hanya berlaku untuk satu jenis Narkotika
- Surat pesanan dibuat sekurang-kurangnya 3 (tiga) Rangkap
66

Lampiran 2. Form surat pesanan psikotropika (PerMenKes, No. 3, 2015)

SURAT PESANAN PSIKOTROPIKA


Nomor : ………………………

Yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : ………………………………………
Jabatan : ………………………………………
Mengajukan pesanan Psikotropika kepada :
Nama distributor : ………………………………………
Alamat : ………………………………………
Telp : ………………………………………
dengan Psikotropika yang dipesan adalah:
(Sebutkan nama obat, bentuk sediaan, kekuatan/potensi, jumlah dalam bentuk
angka dan huruf)
Psikotropika tersebut akan dipergunakan untuk :
Nama sarana : ……………………………………..
(Industri farmasi/PBF/Apotek/Puskesmas/Instalasi Farmasi
Rumah Sakit/Instalasi FarmasiKlinik/Instalasi Farmasi
Pemerintah/LembagaIlmu Pengetahuan)*
Alamat Sarana : ……………………………………..

Nama Kota, Tanggal, Bulan, Tahun


Pemesan

Tanda Tangan dan Stempel

Nama Apoteker/Kepala Lembaga Ilmu


Pengetahuan
No. SIKA/SIPA/NIP
*Coret yang tidak perlu

Catt:
- Surat pesanan dibuat sekurang-kurangnya 3 (tiga) Rangkap
67

Lampiran 3. Form surat pesanan prekursor (PerMenKes, No. 3, 2015)


SURAT PESANAN OBAT JADI PREKURSOR FARMASI
Nomor : ………………………

Yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : ………………………………………
Jabatan : ………………………………………
Mengajukan pesanan Obat Jadi Prekursor Farmasi kepada :
Nama distributor : ………………………………………
Alamat : ………………………………………
Telp : ………………………………………
dengan Obat Jadi Prekursor Farmasi yang dipesan adalah:
(Sebutkan nama obat, bentuk sediaan, kekuatan/potensi, jumlah dalam bentuk
angka dan huruf)
Obat Jadi Prekursor Farmasi tersebut akan dipergunakan untuk :
Nama sarana : ……………………………………..
(Industri farmasi/PBF/Apotek/Puskesmas/Instalasi Farmasi
Rumah Sakit/Instalasi FarmasiKlinik/Instalasi Farmasi
Pemerintah/Lembaga Ilmu Pengetahuan)*
Alamat Sarana : ……………………………………..

Nama Kota, Tanggal, Bulan, Tahun


Pemesan

Tanda Tangan dan Stempel

Nama Apoteker/Kepala Lembaga Ilmu


Pengetahuan
No. SIKA/SIPA/NIP
*Coret yang tidak perlu

Catt:
Surat pesanan dibuat sekurang-kurangnya 3 (tiga) Rangkap
68

Lampiran 4. Contoh laporan penggunaan sediaan jadi narkotika

Nama Unit Layanan : Apotek Plus Sinar Jakarta Tahun : 2018


Provinsi, Kabupaten/ Kota : Sulawesi Selatan, Kota Makassar Bulan : Juni
No Nama Stok Pemasukan Pengeluaran Pemusnahan Stok akhir
Awal PBF Sarana Resep Sarana
1 CODEINE 10 MG TABLET Tablet 100 0 0 32 0 68
2 CODEINE 15 MG TABLET Tablet 0 0 0 0 0 0
3 CODEINE 20 MG TABLET Tablet 114 0 0 31 0 83
4 CODIPRONT CUM EXPECTORAN KAPSUL Kapsul 0 0 0 0 0 0
5 CODIPRONT KAPSUL Kapsul 0 0 0 0 0 0
6 CODIPRONT CUM EXPECTORAN SIRUP Botol 0 0 0 0 0 0
7 CODIPRONT SIRUP Botol 0 0 0 0 0 0
8 CODITAM TABLET Tablet 0 0 0 0 0 0
9 DUROGESIC MATRIX 25 MU Patch 0 0 0 0 0 0
10 DUROGESIC MATRIX 12 MU Patch 0 0 0 0 0 0
11 DUROGESIC MATRIX 50 MU Patch 0 0 0 0 0 0
12 FENTANYL 0.05 MG/ML 10 ML INJEKSI Ampul 0 0 0 0 0 0
Apoteker Penanggung Jawab

Ambo Intang, S.Si., Apt


SIPA: 446/514.1.14/SIPA/DKK/IV/2017

68
69

Lampiran 5. Contoh laporan penggunaan Morphin, Pethidin, dan derivatnya (PerMenKes, No. 3, 2015)

LAPORAN PENGGUNAAN MORPHIN, PETHIDIN, DAN DERIVATNYA


NAMA APOTEK : ………………………… BULAN : …………………………
NO. IZIN APOTEK : ………………………… TAHUN : …………………………
ALAMAT : …………………………
TELEPON : …………………………

PEMASUKAN PASIEN DOKTER


NO NAMA
SATUAN TANGGAL NAMA KET.
. NARKOTIKA JUMLAH NAMA ALAMAT SPESIALIS
NOMOR PENYERAHAN ALAMAT
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Makassar,……………… 20…….
Apoteker Pengelola Apotek

(...........................................)
No. SIPA

69
70

Lampiran 6. Contoh laporan penggunaan sediaan jadi psikotropika

Pelaporan Psikotropika Periode April 2018 – Apotek Plus Tamalanrea

Apoteker Penanggung Jawab

RAHMAWATI, S.Si., Apt


SIPA: 446/514.1.14/SIPA/DKK/IV/2017

70
71

Lampiran 7. Contoh laporan penggunaan sediaan mengandung prekursor (PerMenKes, No. 3, 2015)

LAPORAN PENGGUNAAN SEDIAAN MENGANDUNG PREKURSOR


NAMA APOTEK : ………………………… BULAN : …………………………
NO. IZIN APOTEK : ………………………… TAHUN : …………………………
ALAMAT : …………………………
TELEPON : …………………………

Pengeluaran
Nama Persediaan Pemasukan Jumlah Untuk Persediaan
No Bahan Satuan Awal Keseluruhan Akhir Ket.
Lain- Jumlah
Sediaan Bulan (4+7) Pembuatan (8-11)
Tgl Dari Jumlah lain
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Makassar, ……………… 20…….


Apoteker Pengelola Apotek

(...........................................)
No. SIPA

71