Anda di halaman 1dari 54

LAPORAN

PRAKTEK KERJA LAPANGAN


DI PT MADUBARU YOGYAKARTA
BIDANG K3 KONSTRUKI BANGUNAN, INSTALASI
LISTRIK DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN

PEMBINAAN CALON AHLI K3 UMUM


ANGKATAN TAHUN XXX

KELOMPOK 3
1. AHMAD RIFALDI R., S.T
2. DIMAS BAGUS P. S., S.Pi
3. EKA PUTRI S., S.T
4. TAUFIQ WAHYU, SKM
5. SHINTA PUTRI LARASATI, S.Si

PENYELENGGARA

PT AJISAKA NUSA ILMU

YOGYAKARTA, 18 JULI 2019


DAFTAR ISI
DAFTAR ISI 2
BAB 1. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 3
B. Maksud dan Tujuan 4
C. Ruang Lingkup 5
D. Dasar Hukum 5
1. Dasar Hukum K3 Konstruksi Bangunan 5
2. Dasar Hukum K3 Instalasi Listrik 5
3. Dasar Hukum K3 Penanggulangan Kebakaran 6

BAB 2. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN


A. Profil Perusahaan 7
B. Gambaran Penerapan K3 Bidang Konstruksi Bangunan, Instalasi Listrik dan
Penanggulangan Kebakaran 9
C. Temuan Hasil Observasi (Temuan Positif dan Temuan Negatif) 10
1. Temuan Positif 10
2. Temuan Negatif 11

BAB 3. ANALISA
A. Hasil Temuan Postif dan Negatif K3 Konstruksi Bangunan 16
B. Hasil Temuan Postif dan Negatif K3 Instalasi Listrik 27
C. Hasil Temuan Postif dan Negatif K3 Penanggulangan Kebakaran 37

BAB 4 PENUTUP
A. KESIMPULAN ............................................................................................................. 54
B. SARAN ....................................................................................................................... 54

2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan industri yang semakin cepat di era ini mendorong berbagai sektor untuk
meningkatkan kualitas industri masing-masing. Saat ini, mekanisme produksi adalah cara untuk
meningkatkan produktivitas pada sektor industri untuk memenuhi peningkatan kebutuhan pasar.
Mekanisme produksi yang dilakukan dewasa ini menyebabkan pengunaan peralatan semakin
meningkat baik jumlah maupun jenisnya. Potensi bahaya dapat ditimbulkan dari peralatan
mekanis yang digunakan pada proses produksi baik pada penggunaannya maupun dampaknya
pada lingkungan kerja.
Setiap tenaga kerja maupun perusahaan tidak ada yang menghendaki terjadinya
kecelakaan, penyakit akibat kerja dan pencemaran lingkungan yang dapat membahayakan serta
dapat menyebabkan celaka kepada para tenaga kerja serta tentu dapat menimbulkan kerugian
yang dapat dialami oleh perusahaan. Hal-hal tersebut tentu akan mengakibatkan penurunan
kualitas dan produktivitas kerja dari tenaga kerja yang akan merugikan perusahaan dan tenaga
kerja itu sendiri. Oleh karena itu diperlukan pengendalian dan pengawasan K3 diperusahaan
seperti yang tercantum dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
Sesuai dengan UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan pada pasal 86 (1a)
menerangkan bahwa setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlidungan atas
keselamatan dan kesehatan kerja. Kemudian pada pasal 87 (1) menerangkan bahwa setiap
perusahaan wajib menerapkan sistem keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang terintegrasi
dengan sistem manajemen perusahaan. Sehingga dalam hal ini pemerintah telah memberikan
landasan penerapan K3 dilokasi kerja dimana perseorangan/badan hukum/serikat sebagai
penyedia tempat kerja diwajibkan menerapan K3 di lokasi kerja untuk melindungi pekerja dari
potensi bahaya ditempat kerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja sebagai salah satu unsur perlindungan tenaga kerja dan
merupakan salah satu faktor penting dalam pengembangan sumber daya manusia untuk
mendukung peningkatan kinerja pada perusahaan. Pada dasarnya program keselamatan dibuat
untuk menciptakan lingkungan dan perilaku kerja keselamatan dan kesehatan itu sendiri serta
membangun dan mempertahankan lingkungan fisik yang aman dan nyaman yang dapat
mencegah terjadinya kecelakaan. Akan tetapi dalam penerapannya kurang adanya kedesipilinan
kerja oleh karyawan yang kurang teliti menjadikan kecelakaan kerja sering terjadi. Penerapan
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang baik akan berdampak pada meningkatnya
3
kualitas atau kesejahteraan hidup, produktivitas kerja dan motivasi kerja yang kesemuanya
merupakan keuntungan yang akan didapat baik oleh pegawai atau perusahaan.
Peran Ahli K3 dalam pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK)
kaitannya dengan pengendalian dan pengawasan potensi bahaya ditempat kerja akan
menentukan keberhasilan pengusaha dan tenaga kerja dalam mewujudkan tempat kerja yang
bersih, sehat dan nyaman.
PT Madubaru bergerak di bidang proses produksi gula dan alkohol yang berbahan dasar
dari tebu. Pabrik Gula Madukismo Yogyakarta merupakan salah satu perusahaan yang bergerak
dibidang industri gula. Dalam melakukan proses produksinya hampir semua kegiatan dilakukan
dengan menggunakan mesin. Penggunaan mesin produksi yang digunakan oleh perusahaan
akan mengakibatkan banyak resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang ditimbulkan.
Karena itulah penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja sangat diperlukan di dalam
perusahaan. Salah satu lokasi yang perlu dan seharusnya menerapkan K3 adalah pabrik mulai
dari bagian konstruksi bangunan,instalasi listrik dan penanggulangan kebakaran.
Dalam pengamatan/observasi secara visual yang dilakukan akan diamati kesesuaian
pelaksanaan K3 dengan peraturan perundangan. Penulisan laporan ini melakukan pengamatan di
Bidang K3 Kontruksi Bangunan, Bidang K3 Instalasi Listrik, Dan Bidang K3 Penanggulangan
Kebakaran.

B. Maksud dan Tujuan


Observasi ini dimaksudkan sebagai peningkatan kemampuan Calon Ahli K3 Umum dengan
tujuan yaitu :
1. Membekali para Calon Ahli K3 Umum melalui praktek nyata dalam penerapan
persyaratan dan pembinaan K3 Umum ditempat kerja yang meliputi Bidang K3
Kontruksi, Bidang K3 Listrik, dan Bidang K3 Penanggulangan Kebakaran
2. Memahami kewajiban dan wewenang Ahli K3 Umum ditempat kerja, sehingga para
calon ahli K3 Umum dapat bertindak secara profesional dan dapat memberikan
kontribusi yang nilai dalam menciptakan, menjaga dan meningkatkan kinerja K3
ditempat kerja yang menjadi ruang lingkup tanggung jawab
3. Meningkatkan pemahaman calon ahli K3 mengenai praktek dalam dunia kerja sehingga
dapat memberikan bekal kepada calon ahli K3 untuk terjun langsung ke lapangan.

4
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup hasil observasi ini adalah :
1. Penerapan K3 Kontruksi,
2. Penerapan K3 Listrik,
3. Penerapan K3 Penanggulangan Kebakaran.

D. Dasar Hukum
 Undang-Undang No.1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja
 Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung
 Undang- Undang No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

1. Dasar Hukum K3 Kontruksi Bangunan


 Permenaker No.01/MEN/1980 Tentang Keselamatan dan Kesehatan kerja
pada konstruksi bangunan.
 SKB Menaker dan Menteri PU No. 174/MEN/1986 dan No.104/KPTS/1986
Tentang K3 pada Kegiatan Kontruksi.
 Kepdirjen Binawas No.Kep.20/BW/2004 Tentang Kompetensi Personil K3
Kontruksi Bangunan.

2. Dasar Hukum K3 Instalasi Listrik


 Permenaker No. Per. 02/MEN/1989 Tentang Instalasi Penyalur Petir.
 Permenaker No. Per.12/MEN/2015 Tentang K3 Listrik.
 Permenaker No. Per. 31/MEN/2015 Tentang Perubahan atas Permenaker No.
02/MEN/1989 Tentang Instalasi Penyalur Petir.
 Permenaker No. Per. 33/MEN/2015 Perubahan atas Permenaker No.
Per.12/MEN/2015 Tentang K3 Listrik.
 Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan
Pengawasan Ketangakerjaan No: Kep.311/BW/2002 Tentang Sertifikasi
Kompetensi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Teknisi Lisrik.
 Kep. Dirjen Binwasker No.89 Tahun 2012 Tentang Pembinaan Calon ahli
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Spesialis Listrik.

5
3. Dasar Hukum Pengawasan K3 Penanggulangan Kebakaran
 Permenaker No.Per.04/MEN/1980 Tentang Syarat Pemasangan dan
Pemeliharaan APAR.
 Permenaker No. Per.02/MEN/1983 Tentang Instalasi Alarm Kebakaran
Automatik.
 Kepmenakertrans No. Kep. 186/MEN/1999 Tentang Unit
Penanggulangan Kebakaran.

6
BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
a. Profil Perusahaan
Pabrik Gula dan Alcohol, spirtus Madubaru ( PG-PS ) adalah satu-satunya pabrik Gula dan
Alkohol/Spirtus di Propinsi DIY. Yang mengemban tugas untuk mensukseskan program
pengadaan pangan Nasional, khususnya gula pasir. Sebagai perusahaan padat karya,
perusahaan ini banyak menampung tenaga kerja dari Propinsi DIY. Saat ini perusahaan ini
mempunyai karyawan berjumlah sekitar 1618 karyawan yaitu 35 karyawan perempuan dan
1583 karyawan laki-laki.
Pabrik gula dan Alkohol/Spirtus Madukismo terletak di Kalurahan Tirtonimolo,
Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Perusahaan ini
merupakan bentuk dari Perseroan Terbatas ( PT ), yang berdiri pada tanggal 14 Juni 1955, dan
diberi nama PT. Madu Baru. Yang kemudian PT. Madu Baru ini memiliki dua pabrik yaitu :
1. Pabrik Gula ( PG Madukismo )
2. Pabrik Alkohol/Spiritus ( PS Madukismo ).

Pada awal berdirinya saham kepemilikikan PT. Madu Baru hampir 75% dimiliki oleh Sri
Sultan Hamengku Buwono X, 25% milik pemerintah. Tetapi saat ini hanya 65% milik Sri
Sultan Hamengku Buwono X, 35% milik pemerintah ( dikuasakan kepada PT. Rajawali
Nusantara Indonesia, sebuah BUMN milik Departemen Keuangan RI ).

Sertifikat dan penghargaan yang telah diperoleh PT. PG Madubaru :


a. Sertifikat penggunaan tanda ( ISO 9001 : 2008)
b. Sertifikat Produk Penggunaan Tanda SNI (3140:3:2010).
c. Tanda Standar Nasional Indonesia (SNI) tahun 2008 dan 2010.
d. Sistem Manajemen Mutu (ISO 9001:2015) telah diterapkan pada di PG Madubaru.
e. Sertifikat Quality Management System (ISO 9001:2008 QMS) (memastikan kualitas,
keamanan, reability, efisiensi, dan interchangebility dari sebuah produk dan jasa pada
tahun 2017).
f. Sertifikat Halal MUI No. 12220002270817 (memastikan hasil produksi gula tersebut halal
untuk dikonsumsi. 2017)

7
Tahapan - tahapan dalam proses produksi pembuatan gula pasir Pabrik Madukismo, yaitu
meliputi :
a. Pemerahan Nira ( Extraction ) Tebu setelah ditebang dikirim ke stasiun gilingan (ekstraksi).
Untuk dipisahkan antara bagian padat (ampas) dengan cairannya yang mengandung gula
(nira mentah) melalui alat-alat berupa unigrator mark IV digabung dengan 5 gilingan,
masing-masing terdiri atas 3 rol dengan ukuran “36x64”. Ampas yang diperoleh sekitar 30%
tebu untuk bahan bakar tebu distasiun ketel (pusat tenaga), sedangkan nira mentah akan
dikirim ke stasiun pemurnian untuk proses lebih lanjut. Untuk mencegah kehilangan gula
karena bakteri dilakukan sanitasi distasiun gilingan.
b. Pemurnian Nira Madubaru menggunakan sistem sulfitasi. Nira mentah ditimbang,
dipanaskan 70º-75º c, direaksikan dengan susu kapur dalam defekator, dan diberi gas SO2
dalam peti sulfitasi sampai pH 7 kemudian dipanaskan lagi sampai suhu 100º-105ºc. Kotoran
yang dihasilkan diendapkan dalam peti pengendap (dorr clarifier) dan disaring menggunakan
rotary vacum filter (alat penapis hampa). Endapan padatnya (blothong) digunakan sebagai
pupuk organik. Kadar gula dalam blothong ini dibawah 2%. Nira jernihnya dikirim ke
satasiun penguapan.
c. Penguapan nira Nira jernih dipekatkan di dalam pesawat penguapan dengan sistem
Quadruple Effect, yang disusun secara interchangeable agar dapat dibersihkan secara
bergantian. Nira encer dengan padatan terlarut 16% dapat dinaikkan menjadi 64% dan
disebut nira kental, yang siap dikristalkan di stasiun kristalisasi/stasiun masakan. Total luas
bidang pemanas 5990 m VO. Nira kental yang berwarna gelap ini diberi gas SO2 sebagai
bleaching/pemucatan, dan siap untuk dikristalkan.
d. Kristalisasi Nira kental dari stasiun penguapan ini diuapkan lagi dalam pan kristalisasi
sampai lewat jenuh hingga timbul kristal gula. Sistem yang dipakai yaitu ACD, dimana gula
A sebagai gula produk, gula C dan D dipakai sebagai bibit (seed), serta sebagian lagi dilebur
untuk dimasak lagi. Pemanasan menggunakan uap dengan tekanan vacum sebesar 65 CmHg ,
sehingga suhu didihnya hanya 65ºC, jadi sakarosa tidak rusak akibat kena panas tinggi. Hasil
masakan merupakan campuran kristal gula dan larutan (stroop). Sebelum dipisahkan di
stasiun puteran, gula lebih dahulu didinginkan di dalam palung pendingin (kultrog).
e. Putaran Gula (Centripuge) Alat ini bertugas memisahkan gula dengan larutannya (stroop)
dengan gaya sentrifugal.
f. Penyelesaian dan Gudang Gula Dengan alat penyaring gula, gula SHS dari puteran SHS
dipisahkan antara gula halus, gula kasar dan gula normal dikirim ke gudang gula dan
dikemas dalam karung plastik (polipropoline), kapasitas 50 kg netto. Produksi gula perhari
8
tergantung dari rendaman gulanya, kalau rendaman 8% maka pada kapasitas 3000 tth di
peroleh gula 2400 ku atau 4800 sak.

Gambar 2.1 Alur Proses Produksi Pabrik Gula Madukismo


b. Gambaran Penerapan K3 Bidang Konstruksi, Instalasi Listrik dan Penanggulangan
Kebakaran
PT Madukismo merupakan pabrik produksi gula yang belum menerapkan Sisem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan telah membentuk P2K3 namun belum
disahkan oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Struktur P2K3 ini
diketuai oleh Direktur PT Madukismo Yogyakarta dan sekretaris oleh Ahli K3 Umum. Dalam
hal penerapan SMK3, PT Madukismo belum sepenuhnya melakukan prinsip-prinsip SMK3
antara lain tinjauan ulang manajemen. Tinjauan ulang manajemen ini berupa tidak
dilaksanakannya audit internal maupun audit eksternal selama penerapan SMK3.
PT Madukismo dibangun dengan konstruksi bangunan yang kuat,sebagian besar terbuat
dari baja,dan beratapkan seng. Beberapa ditemukan bangunan konstruksi yang berkarat/korosi.
Hal ini disebabkan kurang optimalnya maintenance maupun perhatian manajemen maupun
pekerja dalam penerapan bidang K3 konstruksi. PT Madukismo juga belum ada Ahli K3
Konstruksi maupun Teknisi K3 Konstruksi.
Bangunan-bangunan gedung yang tinggi seperti bangunan gudang ethanol, gedung
produksi, gedung kantor. Beberapa gedung tersebut dilengkapi dengan instalasi penyalur petir
namun pemasangannya tidak mencakup pemerataan perlindungan penyalur petir. Penyalur
petir tersebut tidak dilengkapi dengan pembumian yang sesuai dengan ketentuan yang
berlaku. Disamping itu, perusahaan tidak mempunyai Ahli K3 listrik dan teknisi K3 listrik.
Bangunan-bangunan yang ada di PT Madukismo dilengkapi dengan system
penanggulangan kebakaran dan keadaan darurat seperti arah evakuai, APAR, mobil pemadam
kebakaran, sirine manual berupa kentongan, dan petugas kebakaran. Arah evakuasi tidak

9
terpasang pada setiap sudut bangunan,lorong maupun gang. Pemasangan APAR banyak yang
tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dan maintenance serta inpeksi APAR tidak
dilaksanakan sesuai dengan yang berlaku. Petugas peran kebakaran belum teroganisir dengan
baik.
Berdasarkan hal diatas maka perlu adanya evaluasi terkait dengan penerapan K3
Konstruksi Bangunan, Instalasi Listrik dan Penyalur Petir serta Penanggulangan Kebakaran
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

c. Temuan Hasil Observasi (Temuan Positif dan Temuan Negatif)


1. Temuan Positif
K3 Konstruksi
 Bahan atap ruang produksi terbuat dari seng, sehingga kuat
 Tersedianya pintu masuk dan keluar pabrik
 Tersedianya pintu darurat
 Pintu khusus karyawan/yang berkepentingan
 Ventilasi udara berupa blower udara dan jendela tersedia
 Lantai kerja bersih dan kuat
 Terdapat instalasi pengolahan air limbah
 Bahan konstruksi bangunan terbuat dari baja, sehingga kuat
 Terdapat mushola ditengah-tengah area pabrik
 Ruang produksi diberikan pagar pengaman
 Ruang produksi dilengkapi ruang khusus merokok (smooking area)
K3 Listrik
 Tersedia sumber pembangkit listrik (Listrik PLN, Genset dan Turbin)
 Pemasangan instalasi listrik sesuai standar
 Peralatan instalasi listrik bersertifikat
 Tersedianya SOP penggunaan listrik
 Tersedianya alat proteksi pada pembangkit listrik
 Tersedianya alat proteksi pada mesin produksi
 Tersedianya pengatur tegangan dan daya listrik
 Tersedianya alat pemutus listrik otomatis
 Tersedianya instalasi penyalur petir
 Konstruksi peralatan instalasi penyalur petir kuat

10
 Tidak terdapat korosi pada peralatan instalasi penyalur petir
 Penyambung instalasi penyalur petir sesuai pemasangan
 Tersedianya penerima petir
 Penghantar penurunan petir tersedia
 Tahanan pembumian dan sistemnya sesuai peraturan
K3 Kebakaran
 Unit penanggulan kebakaran terdapat regu dan koordinator penanggulangan
kebakaran
 Tersedia APAR
 Kondisi APAR dalam keadaan baik
 Memiliki jalur evakuasi
 Memiliki tangga darurat melalui pintu darurat
 Memiliki mobil pemadam kebakaran

2. Temuan Negatif
K3 Konstruksi
 Penerangan untuk tempat kerja kurang pencahayaan
 Tidak ada petunjuk pintu khusus orang berkepentingan
 Ventilasi ruang pembakaran ketel tidak tersedia blower udara
 Atap ruang kerja sebagian mengalami kerusakan/kebocoran
 Bahan bangunan konstruksi berkarat/korosi
 Sarana air bersih tidak layak, kondisi kotor di ruang produksi
 Terdapat tempat sampah yang tidak terpilah
 Tidak memiliki ahli K3 Konstruksi
K3 Listrik
 Tidak dilakukan pemeriksaan instalasi listrik secara berkala
 Isolasi pada instalasi listrik belum sempurna
 Kurangnya rambu-rambu peringatan bahaya listrik
 Tidak tersedia SDM kelistrikan yang bersertifikat
 Tidak ada sertifikat instalasi penyalur petir
 Tidak dilakukan riksa uji penyalur petir secara berkala
K3 Kebakaran
 Tidak adanya petugas peran kebakaran

11
 Tidak adanya ahli K3 spesialis penanggulangan kebakaran
 Tidak tersedia alarm kebakaran
 Tidak tersedia hidran
 Pemasangan APAR di perusahaan belum sesuai peraturan
 Tempat peletakan APAR belum sesuai peraturan

Tabel 1. Checklist Pengawasan

K3 Konstruksi
No. Item yang Diperiksa Ya Tidak Keterangan Peraturan
1 Sarana untuk keperluan
keluar masuk
Pintu masuk-keluar √ Sesuai Permenaker No. 01/Men/1980 Pasal 5 Ayat 1
Pintu darurat √ Sesuai SKB MENAKER dan MEN PU
NO.174/MEN/1986 dan No. 104/KPTS/1986
Kriteria 2.1
2 Tempat kerja dilenkapi
penerangan yang cukup
Ruang produksi √ Tidak Sesuai Permenaker No. 01/Men/1980 Pasal 5 Ayat 2
Tangga-tangga √ Tidak Sesuai Permenaker No. 01/Men/1980 Pasal 5 Ayat 2
Lorong-lorong √ Tidak Sesuai SKB MENAKER dan MEN PU
NO.174/MEN/1986 dan No. 104/KPTS/1986
Kriteria 2.2
Gang-gang √ Tidak Sesuai SKB MENAKER dan MEN PU
NO.174/MEN/1986 dan No. 104/KPTS/1986
Kriteria 2.2
3 Tempat kerja dilengkapi
ventilasi udara
Blower udara √ Sesuai Permenaker No. 01/Men/1980 Pasal 5 Ayat 3
Jendela √ Sesuai SKB MENAKER dan MEN PU
NO.174/MEN/1986 dan No. 104/KPTS/1986
Kriteria 2.3
4 Keadaan lantai di tempat Permenaker No. 01/Men/1980 Pasal 8
kerja
Lantai berlubang √ Tidak Sesuai SKB MENAKER dan MEN PU
NO.174/MEN/1986 dan No. 104/KPTS/1986
Kriteria 2.7.8 s/d 2.7.11
5 Keadaan atap di tempat
kerja
Atap ruangan kerja yang √ Sesuai Permenaker No. 01/Men/1980 Pasal 8
terbuka/rusak
6 Struktur bangunan di
tempat kerja
Bahan struktur bangunan √ Sesuai SKB MENAKER dan MEN PU
Atap bangunan √ Sesuai NO.174/MEN/1986 dan No. 104/KPTS/1986
Lantai bangunan √ Sesuai Kriteria 2.10.1 s/d 2.10.5
7 System sanitasi
Sanitasi air bersih √ Sesuai UU R.I No. 28 Tahun 2002 Pasal 24
12
Sanitasi air kotor √ Sesuai
Sanitasi air hujan √ Sesuai
Tempat sampah √ Sesuai
8 Teknisi bangunan
Teknisi gedung √ Tidak Sesuai KEPDIRJEN BINAWAS
Ahli K3 kostruksi √ Tidak Sesuai KETENAGAKERJAAN No.20 Tahun 2004

13
K3 Instalasi Listrik
No. Item yang Diperiksa Ya Tidak Keterangan Peraturan
1 Sumber pembangkit listrik
Listrik PLN √ Sesuai
Generator set √ Sesuai PERMENAKER No.12
Tegangan listrik √ Sesuai Tahun 2015 Pasal 4
Daya listrik √ Sesuai
2 Instalasi listrik
Pemasangan sesuai standar √ Sesuai
PERMENAKER No.12
Peralatan Instalasi Bersertifikat √ Sesuai
Tahun 2015 Pasal 5
Peralatan instalasi secara berkala √ Tidak Sesuai
SOP penggunaan listrik √ Sesuai
3 Pengamanan listrik
Alat proteksi pada pembangkit listrik √ Sesuai
Isolasi pada instalasi listrik √ Tidak Sesuai
Alat proteksi pada mesin produksi √ Sesuai
PERMENAKER No.12
Alat pengukur/pengantur tegangan dan daya √ Sesuai
Tahun 2015 Pasal 3
listrik
Alat pelindung atau pemutusan listrik √ Sesuai
otomatis
Rambu peringatan bahaya listrik √ Sesuai
4 SDM kelistrikan
Teknisi listrik bersertifikasi √ Tidak Sesuai PERMENAKER No.12
Tahun 2015 Pasal 6
Ahli K3 listrik bersertifikasi √ Tidak Sesuai PERMENAKER No.12
Tahun 2015 Pasal 6 dan 7
5 Instalasi penyalur petir
Terdapat tanda pengujian/sertifikasi √ Tidak Sesuai
PERMENAKER No.
peralatan
02/MEN/1989 Pasal 2 dan
Korosi pada peralatan √ Tidak Sesuai
9
Konstruksi peralatan kuat √ Sesuai
6 Penyambung instalasi penyalur petir
Peralatan dilas/diklem/disolder √ Sesuai
PERMENAKER No.
Korosi pada sambungan √ Tidak Sesuai
02/MEN/1989 Pasal 4
Sambungan mudah dijangkau √ Sesuai
7 Penerima petir
Peralatan berada di tempat tinggi √ Sesuai
PERMENAKER No.
Peralatan berada di atas yang datar dengan √ Sesuai
02/MEN/1989 Pasal 10
tinggi minimal 15 cm
8 Penghantar petir
Jarak antara penghantar tidak lebih dari 15 √ Sesuai PERMENAKER No.
cm 02/MEN/1989 Pasal 15
Dua penghantar penurunan dalam sebuah √ Sesuai PERMENAKER No.
instalasi penyalur petir 02/MEN/1989 Pasal 19
9 Pembumian
Elektroda bumi dipasang mencapai air √ Sesuai PERMENAKER No.
dalam bumi 02/MEN/1989 Pasal 28
Tahanan pembumian dan sistemnya √ Sesuai PERMENAKER No.
maksimal 5 ohm 02/MEN/1989 Pasal 54
10 Pemeriksaan penyalur petir
Pemeriksaan penyalur petir selama 2 tahun √ Tidak Sesuai PERMENAKER No.
02/MEN/1989

14
K3 Penanggulangan Kebakaran
No. Item yang Diperiksa Ya Tidak Keterangan Peraturan
1 Unit penanggulangan kebakaran
Petugas peran kebakaran √ Sesuai KEPMENAKER 186 Tahun
Regu penanggungan kebakaran √ Tidak Sesuai 1999 Pasal 5 dan Pasal 6 Ayat 1
Kordinator unit penanggulangan √ Sesuai dan 2
kebakaran
Ahli K3 spesialis penanggulangan √ Tidak Sesuai
kebakaran
2 Alarm kebakaran automatic
Jenis alarm Deteksi asap, panas √ Tidak Sesuai PERMENAKER No.2 Tahun
Jarak pemasangan √ Tidak Sesuai 1983 Pasal 60, 61, 68 dan 78
Perawatan √ Tidak Sesuai
3 Hydrant √ Tidak Sesuai
4 Alat pemadam api ringan √ Sesuai
(APAR)
5 Apakah kondisi APAR yang ada √ Sesuai PERMENAKER TRANS No.4
di perusahaan ini masih dalam Tahun 1980 Pasal 5
kondisi baik atau tidak?

6 Apakah pemasangan APAR di √ Tidak Sesuai PERMENAKER TRANS No.4


perusahaan ini sudah peraturan? Tahun 1980 Pasal 4, 6 , 7, 8, 9
dan 10
7 Apakah tempat peletakan APAR √ Tidak Sesuai PERMENAKER TRANS No.4
sudah sesuai? Tahun 1980 Pasal10
8 Apakah APAR yang digunakan √ Sesuai PERMENAKER TRANS No.4
sudah di reksa uji? Tahun 1980 Pasal 12 ayat 1
9 Apakah perusahaan memiliki √ Sesuai
jalur evakuasi
10 Apakah perusahaan ini memiliki √ Sesuai
tanggan darurat
11 Apakah perusahaan ini memiliki √ Sesuai
pintu darurat.

15
BAB III
ANALISA
A. Hasil Temuan Positif dan Negatif K3 Konstruksi
Tabel 3.1 Hasil Temuan Positif Konstruksi
No Lokasi Dokumentasi Temuan Manfaat Peraturan

K3 KONSTRUKSI BANGUNAN
1 Ruang produksi Bahan kuat terbuat dari seng Atap kuat dapat menahan SKB MENAKER dan MEN.PU No.KEP-
174/MEN/1986 dan No.104/KPTS/1986
dari kejatuhan material
- kriteria 2.10.3 disebutkan bahwa bagian-
bagian struktur bangunan dan peralatan-
peralatan yang terbuat dari logam harus:
a. tidak boleh retak, berkarat dan
keropos
b. jika perlu untuk mencegah bahaya
harus dilapisi dengan cat atau alat
anti karat (protective coating)
Terdapat pintu masuk-keluar Untuk lalu lintas pekerja, Permenaker No.01 Tahun 1980 pasal 5 ayat
orang lain yang berada 1disebutkan bahwa di setiap tempat kerja
harus dilengkapi dengan sarana untuk
ditempat kerja keperluan keluar masuk dengan aman
Ruang Produksi
2

16
3 Terdapat pintu darurat Digunakan untuk keadaan Permenkes No.48 tahun 2016 tentang
Gudang Standar K3 Perkantoran pasal 14 ayat 4
Pengemasan darurat menuju titik kumpul
disebutkan bahwa sarana penyelamatan
terdekat gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
huruf a meliputi:
a. tangga darurat; dan/atau
b. pintu darurat.

4 Terdapat tangga darurat Digunakan untuk keadaan Permenkes No.48 tahun 2016 tentang
Ruang produksi Standar K3 Perkantoran pasal 14 ayat 4
darurat menuju titik kumpul
disebutkan bahwa sarana penyelamatan
terdekat gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
huruf a meliputi:
a. tangga darurat; dan/atau
b. pintu darurat.

5 Terdapat blower pada ruang Digunakan untuk Permenaker No.01/MEN/1980 pasal 5 ayat 3
Ruang Produksi
produksi penggantian udara dsiebutkan bahwa semua tempat kerja harus
mempunyai ventilasi yang cukup sehingga
dapat mengurangi bahaya debu, uap, dan
bahaya lainnya.

17
6 Jendela cukup untuk Digunakan untuk cahaya Lampiran Permenaker no.05 tahun 2018
Kantor
pergantian udara dan alami terkait standar pencahayaan di ruang kantor
pencahayaan

7 Lantai bersih dan kuat Pekerja dengan nyaman SKB MENAKER dan MEN.PU No.KEP-
Ruang Produksi 174/MEN/1986 dan No.104/KPTS/1986
melakukan pekerjaan
kriteria 2.7.8 disebutkan bahwa tutup-tutup
lubang pada lantai harus aman untuk orang
lewat dan jika perlu harus aman untuk
kendaraan yang lewat diatasnya

8 Terdapat instalasi Untuk pengelolaan air Kepmenaker no.51 tahun 1995 pasal 6
IPAL menyebutkan setiap penanggung jawab
pengolahan air limbah limbah sehingga yang
kegiatan industri sebagaimana dimaksud
dibuang ke lingkungan dalam Pasal 2 ayat (1) Keputusan ini wajib
melakukan pengelolaan limbah cair sehingga
sesuai baku mutu air limbah mutu limbah cair yang dibuang ke
lingkungan tidak melampaui Baku Mutu
Limbah Cair yang telah ditetapkan

18
9 Bahan konstruksi bangunan Konstruksi bangunan kuat SKB MENAKER dan MEN.PU No.KEP-
Ruang produksi 174/MEN/1986 dan No.104/KPTS/1986
terbuat dari baja
kriteria 2.10.2 disebutkan bahwa struktur
bangunan dan peralatan harus cukup kuat
dan aman untuk menahan tekanan-tekanan
dan muatan-muatan yang dapat terjadi

10 Mushola berada di tengah- Pekerja dengan mudah Lembaran Permenkes No.48 tahun 2016
Mushola tentang Standar K3 Perkantoran disebutkan
tengah lokasi pabrik memanfaatkannya untuk
bahwa Kelengkapan prasarana dan sarana
beribadah pada bangunan gedung untuk kepentingan
umum meliputi penyediaan fasilitas yang
cukup untuk ruang ibadah, ruang ganti,
ruangan bayi, toilet, tempat parkir, tempat
sampah, serta fasilitas komunikasi dan
informasi
11 Ruang produksi diberi pagar Pekerja lain/orang lain selain Permenaker No.01/MEN/1980 pasal 8
Ruang produksi disebutkan bahwa semua peralatan sisi-sisi
pengaman petugas yang berwenang
lantai yang terbuka, lubang-lubang di lantai
tidak dapat memasuki area yang terbuka, atap-atap atau panggung yang
dapat dimasuki, sisi-sisi tangga yang
mesin produksi terbuka, semua galian-galian dan lubang-
lubang yang dianggap berbahaya harus
diberi pagar atau tutup pengaman yang kuat

19
12 Ruang produksi dilengkapi Digunakan sebagai tempat Peraturan Bersama Menteri Kesehatan dan
Ruang produksi Menteri Dalam Negeri no.188 tahun 2011
ruang khusus merokok khusus untuk merokok
dan no.7 tahun 2011 pasal 3 disebutkan
bahwa Pimpinan atau penanggung jawab
tempat-tempat sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) wajib menetapkan dan menerapkan
KTR

20
Tabel 3.2 Hasil Temuan Negatif Konstruksi
No. Temuan Dokumentasi Potensi Bahaya Peluang Konseku Rating Ratio Dampak Saran/Rekomendasi Peraturan
ensi
K3 KONSTRUKSI BANGUNAN
1 Lorong Tidak ada arah 1 40 Resiko Ketika terjadi Setiap sudut ruangan Lampiran Permenkes
evakuasi sedang, keadaan perlu ada petunjuk No.48 tahun 2016
perlu darurat, pekerja arah evakuasi menuju tentang Standar K3
tindakan tidak tahu arah pintu darurat dan Perkantoran bahwa
perbaikan menuju pintu menuju ke titik perusahaanmenyiapka
namun dapat darurat kumpul n rambu-rambu arah
dijadwalkan ke tempat titik
kumpul, lokasi tabung
pemadam kebakaran
dan lain-lain

2 Pintu khusus Tidak ada 1 40 Resiko Pekerja/orang Diberi rambu/tanda


karyawan/yang petunjuk pintu sedang, lain yang tidak larangan memasuki
berkepentingan khusus/yang perlu berkepentingan ruangan kecuali
berkepentingan tindakan dapat memasuki petugas
perbaikan area tertentu
namun dapat dan dapat
dijadwalkan mengoperasikan
peralatan
khusus

21
3 Ruang produksi Penerangan 10 3 Resiko Kondisi malam Dilakukan SKB MENAKER dan
cukup pada sedang, hari penerangan penambahan MEN.PU No.KEP-
siang hari karena perlu kurang penerangan 174/MEN/1986 dan
dibantu tindakan berpotensi pada No.104/KPTS/1986
pencahayaan perbaikan kelelahan mata kriteria 2.2.1
alami, namun namun dapat pekerja, dan Jika penerangan alam
kurang dijadwalkan berpotensi tidak sesuai untuk
penerangan terjadi mencegah bahaya,
untuk malam kecelakaan alat-alat penerangan
hari buatan yang cocok
4 Tangga-tangga Penerangan 1 40 Resiko Apabila Dilakukan dan sesuai harus
tangga darurat sedang, keadaan darurat penambahan diadakan diseluruh
hanya perlu terjadi di malam penerangan minimal 5 tempat kerja, termasuk
pencahayaan tindakan hari maka akan lux sesuai Permenaker pada gang-gang.
alami perbaikan membahayakan no.05 tahun 2018 Lampiran Permenaker
namun dapat pekerja no.05 tahun 2018
dijadwalkan kesusahan terkait standar
menuju titik pencahayaan darurat,
kumpul halaman dan jalan
5 Lorong-lorong Penerangan di 1 40 Resiko Apabila Dilakukan
lorong-lorong sedang, keadaan darurat penambahan
kurang, perlu terjadi di malam penerangan minimal
mengandalkan tindakan hari maka akan 20 lux sesuai
pencahayaan perbaikan membahayakan Permenaker no.05
alami namun dapat pekerja tahun 2018
dijadwalkan kesusahan
menuju titik
kumpul
6 Gang-gang Penerangan di 1 40 Resiko Apabila Dilakukan
lorong-lorong sedang, keadaan darurat penambahan
kurang, perlu terjadi di malam penerangan minimal
mengandalkan tindakan hari maka akan 20 lux sesuai
pencahayaan perbaikan membahayakan Permenaker no.05
alami namun dapat pekerja tahun 2018
dijadwalkan kesusahan
menuju titik
kumpul
22
7 Blower udara Ventilasi/blower 10 3 Resiko Pekerja dapat Diberikan blower atau SKB MENAKER dan
udara pada sedang, mengalami ventilasi untuk MEN.PU No.KEP-
gang-gang perlu dehidrasi mendapat udara segar 174/MEN/1986 dan
menuju mesin tindakan No.104/KPTS/1986
ketel uap perbaikan - kriteria 2.3.1
kondisinya namun dapat disebutkan bahwa
panas, tidak ada dijadwalkan ditempat kerja
pergantian udara yang tertutup,
yang baik harus dibuat
8 Ruang Tidak ada 10 3 Resiko Udara Dilakukan ventilasi yang
pembakaran blower sedang, diruangan tidak penambahan blower sesuai untuk
ketel uap perlu dapat berganti pada ruang mendapat udara
tindakan dg udara segar, pembakaran ketel uap segar
perbaikan iklim kerja - kriteria 2.3.2
namun dapat panas yang disebutkan bahwa
dijadwalkan tinggi jika perlu untuk
mengakibatkan mencegah bahaya
dehidrasi terhadap
pekerja kesehatan dari
udara yang
dikotori oleh
debu, gas-gas,
atau dari sebab-
sebab lain, harus
dibuatkan
ventilasi untuk
pembuangan
udara kotor
9 Atap ruang Beberapa atap 3 40 Resiko Tetesan air Atap yang bocor Permenaker
kerja ada yang terdapat substansial, hujan dilakukan penutupan No.01/MEN/1980
terbuka/rusak kebocoran perlu berpotensi pasal 8 disebutkan
tindakan menimbulkan bahwa semua
perbaikan konsleting peralatan sisi-sisi
listrik pada lantai yang terbuka,
ruang instalasi lubang-lubang di
listrik lantai yang terbuka,
atap-atap atau

23
panggung yang dapat
dimasuki, sisi-sisi
tangga yang terbuka,
semua galian-galian
dan lubang-lubang
yang dianggap
berbahaya harus diberi
pagar atau tutup
pengaman yang kuat
10 Bahan struktur Bahan terbuat 0,5 100 Resiko - Bahan - Dilakukan SKB MENAKER dan
bangunan dari baja namun sedang, perlu struktur pengecatan ulang MEN.PU No.KEP-
berkarat/korosi tindakan bangunan untuk melindungi 174/MEN/1986 dan
perbaikan yang struktur bangunan No.104/KPTS/1986
namun dapat berkarat/kor dari korosif - kriteria 2.10.3
dijadwalkan osi disebutkan bahwa
berpotensi bagian-bagian struktur
menimbulk bangunan dan
an peralatan-peralatan
kerobohan yang terbuat dari logam
bangunan harus:
c. tidak boleh retak,
berkarat dan keropos
jika perlu untuk
mencegah bahaya harus
dilapisi dengan cat atau
alat anti karat
(protective coating)
11 Sanitasi air Ada namun 1 1 Risiko Sarana air Sarana air bersih Permenker no.32 tahun
bersih kondisinya kotor rendah bersih untuk dioptimalkan dengan 2017 ps 2 disebutkan
kegiatan cara pembersihan bahwa setiap
domestik tempat akses air penyelenggara wajib
kurang bersih, bersih menjamin kualitas air
berpotensi untuk keperluan hygiene
mengundang sanitasi, air untuk kolam
bibit penyakit renang, air untuk SPA,
dan air untuk pemandian
umum yang memenuhi

24
standar baku mutu
kesehatan lingkungan
dan persyaratan
kesehatan

13 Tempat sampah Ada namun 1 1 Risiko Sampah Pembuatan tempat Permen PU no.03 tahun
tidak ada sign rendah tercampur tidak sampah terpilah 2013 pasal 16 ayat 2
dan warna sesuai jenisnya disebutkan bahwa
tempat sampah Pengelola kawasan
tidak sesuai permukiman, kawasan
komersial, kawasan
industri, kawasan
khusus, fasilitas umum,
fasilitas sosial, dan
fasilitas lainnya dalam
melakukan pemilahan
sampah wajib
menyediakan sarana
pemilahan dan
pewadahan sampah
skala kawasan
14 Ahli K3 Tidak memiliki 1 1 Risiko Penanganan, Dipersyaratkan Kep Dirjen Binawas
Konstruksi ahli K3 rendah pemantauan adanya ahli K3 Ketenagakerjaan No.20
Konstruksi konstruksi Konstruksi tahun 2004 “setiap
perusahaan proyek konstruksi
tidak terkontrol bangunan yang
dg baik memperkerjakan tenaga
kerja lebih 100 orang
atau penyelenggaraan
proyek diatas 6 bulan,
harus memiliki
sekurang-kurangnya 1
orang ahli utama K3
Konstruksi, 1 orang ahli
25
madya K3 Konstruksi,
dan 2 orang ahli muda
K3 Konstruksi

26
B. Hasil Temuan Positif dan Negatif K3 Listrik
Tabel 3.3 Hasil Temuan Positif Instalasi Listrik
No Lokasi Dokumentasi Temuan Manfaat Peraturan
1 Area Pabrik Sumber pembangkit listrik : Meningkatkan produktivitas pengolahan PERMENAKER
- Menggunakan Listrik PLN Pabrik Gula Madukismo NO.12 Tahun 2015
- Generator set sebagai sumber Pasal 4 ayat 2
pembangkit “Persyaratan K3
- Turbin Uap sebagaimana
dimaksud pada ayat 1
dilaksanakan pada
kegiatan pembangkit
listrik, transmisi
listrik, distribusi
listrik dan
pemanfaatan listrik
yang beroperasi pada
tegangan lebih dari 50
volt arus bolak balik
atau 120 volt arus
searah”

2 Instalasi Listrik - Pemasangan Sesuai Standar Mempermudah pengoperasian listrik dan PERMENAKER
- Peralatan instalasi mencegah terjadinya kecelakaan kerja No.12 Tahun 2015
bersertifikat tentang K3 Listrik di
- Sudah ada SOP penggunaan Tempat Kerja Pasal 5
listrik (1)
“ Kegiatan
perencanaan,
pemasangan,
penggunaan,
perubahan dan
pemeliharaan sebagai
mana dimaskud
dalam pasal 4 ayat 1
huruf (a) yang
27
dilaksanakan pada
kegiatan
pembangkitan,
transmisi, distribusi
dan pemanfaatan
listrik wajib mangacu
pada standar bidang
kelistrikan dan
ketentuan peraturan
perundang-undangan”

28
3 Pengamanan - Alat proteksi pada Melindungi Keselamatan dan Kesehatan Permenaker No.12
listrik pembangkit listrik tenaga kerja dari potensi bahaya listrik Tahun 2015 pasal 3
- Alat proteksi pada mesin poin a “Melindungi
produksi keselamatan dan
- Alat pengukur/pengatur kesehatan tenaga
tegangan tegangan dan daya kerja dan orang lain
listrik yang berada di dalam
- Alat pelindung /pemutus lingkungan tempat
listrik otomatis kerja dari potensi
bahaya listrik”

29
4 Instalasi Penyalur - Konstruksi peralatan kuat Melindungi tenaga kerja, orang lain yang Permenaker No.2
Petir - Tidak ada korosi pada ada ditempat kerja dan bangunan pabrik Tahun 1989 pasal 2
peralatan dari sambaran petir. ayat 2 “Instalasi
penyaur petir secara
umum harus
memenuhi
persyaratan sebagai
berikut : kemampuan
perlindungan secara
teknis, ketahanan
mekanis, ketahanan
terhadap korosi”
Ayat 3 “Bahan dan
konstruksi penyalur
petir harus kuat dan
memenuhi syarat”.
Pasal 9 ayat 1 poin (a)
“ Bangunan yang
terpencil atau tinggi
dan lebih tinggi dari
pada bangunan
sekitarnya seperti
menara-menara,
cerobong, silo antena
pemancar, monumen,
dll.”

30
5 Penyambung Sambungan insatalasi petir sesuai Memudahkan jangkauan sambungan PERMENAKER No.
instalasi penyalur standar instalasi petir 02 Tahun 1989 Pasal
petir 4 ayat 1 “
penyambungan
dilakukan dengan
cara : dilas, diklem
dengan panjang
sekurang-kurangnya 5
cm, dan disolder
dengan panjang
sekurang-kurangnya
10 cm dan khusus
untuk penghantar
penurunan dari pita
harus dikeling”, ayat
2 “sambungan harus
dibuat sedemikian
rupa sehingga tidak
berkarat” dan ayat 3 “
sambungan-
sambungan harus
ditempatkan
sedemikian rupa
sehingga dapat
diperiksa dengan
mudah”

31
6 Penerima Petir Peralatan berada ditempat Menyalurkan sambaran petir ke dalam PERMENAKER
tertinggi dan peralatan berada di tanah atau ke dalam bumi. No.2 Tahun 1989
atap yang datar dengan tinggi Pasal 10 ayat 1
minimal 15 cm “Penerima harus
dipasang ditempat
atau dibagian yang
diperkirakan dapat
tersambar petir
dimana jika bangun
yang terdiri dari
bagian-bagian seperti
bangunan yang
mempunyai menara,
antena, papan reklame
atau suatu blok
bangunan harus
dipandang sebagai
satu kesatuan” dan
ayat 3 “ penerima
yang dipasang diatas
atap yang datar
sekurang-kurangnya
lebih tinggi 15 cm
dari pada sekitarnya”

32
7 Penghantar petir Dua penghantar penurunan dalam Untuk menghantarkan sambaran petir PERMENAKER
sebuah instalasi penyalur petir menuju bumi No.2 Tahun 1989
pasal 19 ayat 1
“Instalasi penyalur
petir dari suatu
bangunan paling
sedikit harus
mempunyai dua buah
penghantar
penurunan”

8 Pembumian Tahanan pembumian dan Menghindari kesalahan-kesalahan dari PERMENAKER


sistemnya maksimal 5 Ohm polarisasi No.2 Tahun 1989
Pasal 54 ayat 1
“Tahanan pembumian
dan seluruh sistem
pembumian tidak
boleh lebih dari 5
Ohm”

33
Tabel 3.4 Hasil Temuan Negatif Instalasi Listrik
No. Temuan Potensi Bahaya Peluang Konsekuensi Rating Ratio Dampak Saran/Rekomendasi Peraturan
1 Instalasi Listrik - Belum adanya 3 40 Resiko Akan menyebabkan Dilakukan PERMENAKER
pemeriksaan instalasi Substansi potensi kebakaran pemeriksaan No.12 Tahun 2015
listrik secara berkala perlu yang disebabkan secara berkalatentang K3 Listrik di
tindakan hubungan arus paling sedikit 1 Tempat Kerja Pasal
perbaikan pendek tahun sekali. 11 (1)
“Pemeriksaan secara
berkala sebagaimana
dimaksud dalam
pasal 10 ayat (2)
huruf c dilakukan
paling sedikit 1 (satu)
tahun sekali
2 Pengamanan Listrik - Isolalsi pada instalasi 2 15 Resiko - Akan menyebabkan Perlunya PERMENAKER
listrik masih banyak Sedang, perlu Tenaga kerja atau kesadaran No.12 Tahun 2015
yang belum tindakan pengunjung yang perusahaan untuk tentang K3 Listrik di
sempurna perbaikan berada di lokasi menciptakan Tempat Kerja Pasal 3
- Terdapatnya namun dapat kerja terkena bahaya instalasi listrik (a) “Menlindungi
gulungan-gulungan dijadwalkan sengatan arus listrik yang aman, keselamatan dan
kabel listrik yang - Menyebabkan handal, dan kesehatan tenaga
masih menggantung pekerja atau memberikan kerja dan orang lain
atau belum tertata pengunjung keselamatan yang berada di dalam
rapi di ata, dinding tersandung karena bangunan beserta lingkungan tempat
dan lantai kabel listrik isinya kerja dari potensi
- Rambu peringatan bahaya listrik”
akan bahaya listrik (b) “Menciptakan
masih kurang instalasi listrik yang
aman,handaldan
memberikan
keselamatan
bangunan beserta
isinya”
3 SDM Kelistrikan - Teknisi listrik tidak 3 100 Resiko - Instalasi listrik Perlunya PERMENAKER
bersertifikat Tinggi, kurang terpelihara kesadaran No.12 Tahun 2015
- Belum adanya Ahli Perbaikan sehingga akan perusahaan untuk tentang K3 Listrik di

34
K3 listrik dengan mempengaruhi memiliki Ahli K3 Tempat Kerja Pasal 6
bersertifikat segera kinerja dan umur Bidang Listrik dan ayat (3) “
(keterlibatan instalasi listrik teknisi yang Perencanaan,
manajemen) - akan menimbulkan bersertifikat pemasangan,
resiko kecelakaan perubahan dan
dan penyakit akibat pemeliharaan
kerja yang dilakukan oleh ahli
- ditimbulkan oleh K3 bidang listrik
instalasi listrik perusahaan maupun
PJK3” ayat (4) “
Dalam hal kegiatan
yang dilaksanakan
berupa pemasangan
dan pemeliharaan
pada pembangkit,
transmisi, distribusi
dan pemanfaatan
listrik dapat
dilakukan oleh teknisi
K3 listrik perusahaan
maupun PJK3” dan
pasal 7 “ Untuk
perusahaan yang
memiliki
pembangkitan listrik
lebih dari 200
KVA wajib
mempunyai ahli K3
bidang listrik”

35
4. Instalasi Penyalur Tidak ada sertifikat 1 15 Resko - Dilakukan PERMENAKER No.
Petir instansi penyalur Sedang, pengujian ulang 02 Tahun 1989 Pasal
petir Perlu 2 ayat 4 “Bagian-
tindakan bagian instalasi
perbaikan penyalur petir harus
namun dapat memiliki tanda hasil
dijadwalkan pengujian dan/atau
sertifikat yang
diakui”
5. Pemeriksaan - Tidak dilakukan 2 100 Resiko Akan menimbulkan Perlunya PERMENAKER 02
Penyalur Petir riksa uji secara Tinggi, potensi bahaya kesadaran Tahun 1989 Pasal 50
berkala Perbaikan akibat sambaran perusahaan untuk ayat 2 poin (c)
dengan petir melakukan “Pemeriksaan dan
segera pemeriksaan pengujian dilakukan
(Keterlibatan instalasi penyalur secara berkala setiap
Manajemen) petir secara dua tahun sekali”
berkala

36
C. Hasil Temuan Positif dan Negatif K3 Kebakaran
Tabel 3.5 Hasil Temuan Positif Kebakaran
No Lokasi Gambar Temuan Analisa Potensi Saran/Rekomendasi Peraturan Perundangan K3
Temuan Bahaya

UNIT PENANGGULANGAN KEBAKARAN


1 Area N/A Regu Penanggulangan Kekurangan regu Penambahan regu KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA
Pabrik Kebakaran dapat penanggulangan R.I No.KEP.186/MEN/1999 :
Menyebabkan Kebakaran karena tidak 1. Pasal (6) ayat (2) “Regu
penanganan kebakaran sesuai dengan kriteria penanggulangan kebakaran dan ahli K3 spesialis
apabila terjadi yang tercantum pada penanggulangan kebakaran sebagaimana
akan kurang maksimal Kep.186/MEN/1999 pasal dimaksud dalam pasal 5 hurf b dan huruf d,
dan membutuhkan 6 dan ada spesialis dalam ditetapkan untuk tempat kerja tingkat resiko
waktu yang lama. bidang tersebut. bahaya kebakaran ringan dan sedang I yang
mempekerjakan tenga kerja 300 (tiga ratus)
orang, atau lebih, atau setiap
tempat kerja tingkat resiko bahaya kebakaran sedang
II, sedang III dan berat.”

2 Area Koordinator Kekurangan Pembentukan koordinator KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA


Penannggulangan coordinator yang sesuai dengan R.I No.KEP.186/MEN/1999 :
Pabrik
Kebakaran menyebabkan Kepmen. 1. Pasal (6) ayat (3) “Koordinator unit
penanganan kebakaran penanggulangan kebakaran sebagaimana
saat terjadi dimaksud pasal 5 juruf c, ditetapkan sebagai
kurang maksimal berikut :
a. Untuk tempat kerja tingkat resiko bahaya
kebakaran ringan ndan sedang I, sekurang-
kurangnya 1 (satu) orang untuk setiap
jumlah tenaga kerja 100 (seratus) orang.
b. Untuk tempat kerja tingkat resiko bahaya kebakaran
sedang II dan sedang III dan berat,
sekurang- kurangnya 1 (satu) orang untuk setiap unit
kerja.

37
APAR (Alat Pemadam Api Ringan)

1 Area Kondisi APAR Yang Apabila tidak terisi, Dilakukan PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA
Pabrik Ada Di Perusahaan saat terjadi kebakaran pemeliharaan dan
ini Masih Dalam tidak bisa perawatan secara berkala DAN TRANSMIGRASI No :
Kondisi Baik Atau memadamkan atau PER.04/MEN/1980 :
Tidak mengurangi besarnya 1. Pasal (5) “Dilarang memasang dan menggunakan
api alat pemadam api ringan yang didapati sudah
berlubang- lubang atau cacat karena karat.”

2 Area APAR Yang Penggunaan APAR Dilakukan Riksa Uji PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN
Pabrik Digunakan yang digunakan tidak APAR di semua atau tiap- TRANSMIGRASI No : PER.04/MEN/1980 : Pasal (12)
Sudah Riksa Uji seluruhnya dilakukan tiap pada perusahaan. “Pemeriksaan jangka 6 (enam) bulan ”
Riksa Uji dan hanya
APAR tertentu saja
sehingga jika terjadi
kebakaran maka tidak
di tanggulangi dengan
cepat .

38
Jalur Evakuasi
1 Area Jalur Kekurangan jalur Pembuatan dan PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
Pabrik Evakuasi evakuasi menyebabkan penambahan jalur INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2005
proses evakuasi kurang evakuasi. TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN
maksimal UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2002
TENTANG BANGUNAN GEDUNG:
1. Pasal (59) “Setiap bangunan gedung,
kecuali rumah tinggal tunggal dan rumah deret
sederhana, harus menyediakan sarana evakuasi yang
meliputi sistem peringatan bahaya bagi pengguna,
pintu keluar darurat, dan jalur evakuasi yang dapat
menjamin kemudahan pengguna bangunan gedung untuk
melakukan evakuasi dari dalam bangunan gedung secara
aman apabila terjadi bencana atau keadaan darurat.”

Tangga Darurat
1 Area Memiliki Tangga Terjatuh dan terpeleset Dilakukan PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
Pabrik Darurat pembersihan dan INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2005
perawatan secara berkala TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN
UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN
2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG:
1. Pasal (59) Ayat (1) “Untuk bangunan
gedung bertingkat, sarana jalan keluar
termasuk penyediaan tangga
darurat/kebakaran.”

39
Tabel 3.6 Hasil Temuan Negatif Kebakaran
No. Temuan Dokumentasi Potensi Bahaya Peluang Konsekuensi Rating Dampak Saran/Rekomendasi Peraturan
Rasio
1 Area N/A Petugas Peran 0,5 100 Resiko - Tidak Membentuk Kepmenaker No.186
Pabrik Penanggulangan substansial, terorganisir spesialis Ahli Tahun 1999 pasal 5
Kebakaran dan perlu dalam K3Penanggulangan “Unit
Ahli K3 Spesialis tindakan menagani Kebakaran p e n a n gggu a l a n ga n
Penanggulangan perbaikan kejadian ke b a ka r a n
Kebakaran kebakaran s e b a ga i ma n a
- Tidak bisa d i ma ks u d dalam
meminimalis p a s al 3 t er d i r i
ir kerugian dari :
akibat a. Tugas Peran
kebakaran Kebakaran
b. Penanggulangan
Kebakaran
c. Koordinator unit
penanggulangan
Kebakaran
d. Ahli K3 Spesialis
penanggulangan
Kebakaran sebagai
penanggungjawab
teknis.
Pasal 6 ayat (1)
“Petugas Peran
Kebakaran
sebagaimana dimaksud
dalam pasal 5 huruf a,
sekurang-kurangnya 2
orang untuk setiap
jumlah tenaga kerja 25
orang dan ayat (2)
“Regu penanggulangan
kebakaran dan ahli K3
spesialis
penanggulangan

40
kebakaran sebagaimana
dimaksud dalam pasal 5
huruf b dan d,
ditetapkan untuk tempat
kerja tingkat resiko
bahaya kebakaran
ringan dan sedang 1
yang memperkerjakan
tenaga kerja 300 orang
atau lebih atau setiap
tempat kerja tingkat
resiko bahaya
kebakaran sedang 2,
sedang 3 dan berat‟
2 Area N/A Jenis Alarm 1 40 Resiko Tidak Melakukan Permenaker Nomor 2
Pabrik deteksi asap, sedang, mengetahui pemasangan Tahun 1983 pasal 60
panas perlu terjadinya detektor asap dan “Pemeliharaan dan
tindakan suatu panas yang sesuai pengujian tahunan
namun peringatan dengan peraturan. antara lain meliputi :
dapat kebakaran memeriksa tegangan
dijadwalkan bagi orang instalasi kondisi dan
yang berada keberhasilan seluruh
didalam
detektor serja menguji
perusahaan
sekurang-kurangnya
hanya dengan
cara 20% detekor dari setiap
tradisional kelompok instalasi
yaitu sehingga selambat-
menggunakan lambatnya dalam waktu
peringatan 5 tahun seluruh detektor
lonceng. di uji”. Pasal 61 “Letak
dan jarak antar 2
detektor harus
sedemikian rupa
sehingga merupakan
letak yang terbaik bagi
pendeteksian adanya

41
kebakaran yaitu : a.
Untuk setiap 46m2 luas
lantai dengan tinggi
langit-langit dalam
keadaan rata tidak lebih
dari 3 m harus dipasang
sekurang-kurangnya 1
buah detektor panas. B.
Jarak antar deketktor
dengan detektor hatus
tidak lebh dari 7 meter
keseluruhan jurusan
ruang biasa dan tidak
boleh lebih dari 10
meter dalam koridor c.
Jarak detektor dengan
panas dengan tembok
atau dinding pembatas
paling jauh 3 meter
pada ruang biasa dan
6m. Dalam koridor
serta paling dekat 30
cm. 2. Detektor panas
yang dipasang pada
ketinggian yang
berbeda 2. Detektor
panas yang dipasang
pada ketinggian
sekurang-kurangnya
satu dedektor untuk 92
m2 luas lantai dengan
syarat : detektor
disusun dalam jarak
tidak boleh lebih dari
3m dari dinding b.
Sekurang-kurangnya
setiap sisi dinding
42
memiliki 1 detektor c.
Setiap detektor berjarak
7m. Pasal 68 „1.bila
detektor asap dipasang
secara terbenam maka
alas dari elemen
pengindraannya harus
berada sekurang-
kurangnya 40mm
dibawah permukaan
langit 2. Dalam
menetukan letak
detektor asap harus
memperhatikan hal-hal
sebagai berikut : a. Bila
detektor asap dipasang
dalam saluran udara
yang mengalir dengan
kecepatan lebih dari
1m/detik perlu di
lengkapi dengan alat
penangkap asap, b. Bila
disuatu tempat dekat
langit-langit atau atap
dimungkinkan dapat
timbul suhu tinggi
maka detektor perlu
diletakkan jauh di
bawah langit-langit atau
atap agar detektor dapat
bereaksi sedini
mungkin c. Apabila
detektor asap di pasang
dekat dengan saluran
udara atau dalam ruang
ber-AC harus
diperhitungkan
43
pengaruh aliran udara
serta gerakan asapnya‟
dan pasal 78 „Satu
kelompok alarm
kebakaran harus
dibatasi dengan 20
nyala api untuk
melindungi secara baik
ruangan maksimum
2000m2 luas lantai
kecuali terhadap
ruangan yang luas tanpa
sekat maka ataus
persetujuan direktur
yang ditunjuknya dapat
di perluas lebih dari
20000m2. Luas lantai
3 Area N/A Jarak Pemasangan 0,5 40 Resiko Tidak Melakukan Permenaker Nomor 2
Pabrik sedang, terdeteksi pemasangan alarm Tahun 1983 pasal 60
pelu terjadinya o t o m a t i s sesuai “Pemeliharaan dan
tindakan kebakaran dengan peraturan pengujian tahunan
perbaikan dan sumber antara lain meliputi :
namun titik kebakaran memeriksa tegangan
dapat instalasi kondisi dan
dijadwalkan keberhasilan seluruh
detektor serja menguji
sekurang-kurangnya
20% detekor dari setiap
kelompok instalasi
sehingga selambat-
lambatnya dalam waktu
5 tahun seluruh detektor
di uji”. Pasal 61 “Letak
dan jarak antar 2
detektor harus
sedemikian rupa

44
sehingga merupakan
letak yang terbaik bagi
pendeteksian adanya
kebakaran yaitu : a.
Untuk setiap 46m2 luas
lantai dengan tinggi
langit-langit dalam
keadaan rata tidak lebih
dari 3 m harus dipasang
sekurang-kurangnya 1
buah detektor panas. B.
Jarak antar deketktor
dengan detektor hatus
tidak lebh dari 7 meter
keseluruhan jurusan
ruang biasa dan tidak
boleh lebih dari 10
meter dalam koridor c.
Jarak detektor dengan
panas dengan tembok
atau dinding pembatas
paling jauh 3 meter
pada ruang biasa dan
6m. Dalam koridor
serta paling dekat 30
cm. 2. Detektor panas
yang dipasang pada
ketinggian yang
berbeda 2. Detektor
panas yang dipasang
pada ketinggian
sekurang-kurangnya
satu dedektor untuk 92
m2 luas lantai dengan
syarat : detektor
disusun dalam jarak
tidak boleh lebih dari
45
3m dari dinding b.
Sekurang-kurangnya
setiap sisi dinding
memiliki 1 detektor c.
Setiap detektor berjarak
7m. Pasal 68 „1.bila
detektor asap dipasang
secara terbenam maka
alas dari elemen
pengindraannya harus
berada sekurang-
kurangnya 40mm
dibawah permukaan
langit 2. Dalam
menetukan letak
detektor asap harus
memperhatikan hal-hal
sebagai berikut : a. Bila
detektor asap dipasang
dalam saluran udara
yang mengalir dengan
kecepatan lebih dari
1m/detik perlu di
lengkapi dengan alat
penangkap asap, b. Bila
disuatu tempat dekat
langit-langit atau atap
dimungkinkan dapat
timbul suhu tinggi
maka detektor perlu
diletakkan jauh di
bawah langit-langit atau
atap agar detektor dapat
bereaksi sedini
mungkin c. Apabila
detektor asap di pasang
dekat dengan saluran
46
udara atau dalam ruang
ber-AC harus
diperhitungkan
pengaruh aliran udara
serta gerakan asapnya‟
dan pasal 78 „Satu
kelompok alarm
kebakaran
4 Area N/A Perawatan 0,5 40 Resiko Tidak Melakukan Permenaker Nomor 2
Pabrik sedang, berfungsinya perawatan berkala Tahun 1983 pasal 60
pelu Alarm agar alarm “Pemeliharaan dan
tindakan kebakaran bekerja dengan pengujian tahunan
perbaikan o t o ma t i s baik. antara lain meliputi :
namun dengan baik memeriksa tegangan
dapat dan perawatan instalasi kondisi dan
dijadwalkan pada pabrik. keberhasilan seluruh
detektor serja menguji
sekurang-kurangnya
20% detekor dari setiap
kelompok instalasi
sehingga selambat-
lambatnya dalam waktu
5 tahun seluruh detektor
di uji”. Pasal 61 “Letak
dan jarak antar 2
detektor harus
sedemikian rupa
sehingga merupakan
letak yang terbaik bagi
pendeteksian adanya
kebakaran yaitu : a.
Untuk setiap 46m2 luas
lantai dengan tinggi
langit-langit dalam
keadaan rata tidak lebih
dari 3 m harus dipasang

47
sekurang-kurangnya 1
buah detektor panas. B.
Jarak antar deketktor
dengan detektor hatus
tidak lebh dari 7 meter
keseluruhan jurusan
ruang biasa dan tidak
boleh lebih dari 10
meter dalam koridor c.
Jarak detektor dengan
panas dengan tembok
atau dinding pembatas
paling jauh 3 meter
pada ruang biasa dan
6m. Dalam koridor
serta paling dekat 30
cm. 2. Detektor panas
yang dipasang pada
ketinggian yang
berbeda 2. Detektor
panas yang dipasang
pada ketinggian
sekurang-kurangnya
satu dedektor untuk 92
m2 luas lantai dengan
syarat : detektor
disusun dalam jarak
tidak boleh lebih dari
3m dari dinding b.
Sekurang-kurangnya
setiap sisi dinding
memiliki 1 detektor c.
Setiap detektor berjarak
7m. Pasal 68 „1.bila
detektor asap dipasang
secara terbenam maka
alas dari elemen
48
pengindraannya harus
berada sekurang-
kurangnya 40mm
dibawah permukaan
langit 2. Dalam
menetukan letak
detektor asap harus
memperhatikan hal-hal
sebagai berikut : a. Bila
detektor asap dipasang
dalam saluran udara
yang mengalir dengan
kecepatan lebih dari
1m/detik perlu di
lengkapi dengan alat
penangkap asap, b. Bila
disuatu tempat dekat
langit-langit atau atap
dimungkinkan dapat
timbul suhu tinggi
maka detektor perlu
diletakkan jauh di
bawah langit-langit atau
atap agar detektor dapat
bereaksi sedini
mungkin c. Apabila
detektor asap di pasang
dekat dengan saluran
udara atau dalam ruang
ber-AC harus
diperhitungkan
pengaruh aliran udara
serta gerakan asapnya‟
dan pasal 78 „Satu
kelompok alarm
kebakaran harus
dibatasi dengan 20
49
nyala api untuk
melindungi secara baik
ruangan maksimum
2000m2 luas lantai
kecuali terhadap
ruangan yang luas tanpa
sekat maka ataus
persetujuan direktur
yang ditunjuknya dapat
di perluas lebih dari
20000m2. Luas lantai
5 Area Pemasangan 1 40 Resiko Tidak Memasang Permenakertrans
Pabrik APAR Di sedang, terjangkaunya APAR sesuai Nomor 4 Tahun 1980
Perusahaan pelu APAR dari dengan peraturan. Pasal 4 “1. Setiap satu
Ini Sesuai tindakan titik atau kelompok alat
Peraturan perbaikan kebakaran pemadam api ringan
namun harus di tempatkan
dapat pada posisi yang mudah
dijadwalkan dilihat dengan jelas,
mudah dicapai dan
diambil serta dilengkapi
dengan pemberian
tanda pemasangan
2.pemberian tanda
pemasangan tersebut
ayat 1 hatus sesuai
dengan lampiran 1, 3.
Tinggi pemberian tanda
pemasangan tersebut
ayat 1 adalah 125 cm
dari dasar lantai tepat
diatas 1 atau kelompok
alat pemadam api
ringan bersangkutan 4.
Pemasangan dan
penempatan alat

50
pemadam api ringan
harus sesuai dengan
jenis dan penggolongan
kebakaran seperti
tersebut dalam lampiran
2, 5. Penempatan
tersebut antara alat
pemadam api yang satu
dengan lainnya atau
kelompok satu dengan
lainnya tidak boleh
melebihi 15 meter
kecuali ditetapkan
pegawai pengawas 6.
Semua tabung alat
pemadam ringan
sebaiknya berwarna
merah‟ Pasal 6 „1.
Setiap alat pemadam
api ringan harus di
pasang menggantung
pada dinding dengan
penguatan sengkang
atau ditempatkan dalam
lemari yang tidak
dikunci 2. Lemari
seperti ayat 1 dapat
dikunci dengan syarat
bagian depannya harus
diberi kaca dengan
tebal maksimum 2mm‟
Pasal 7 “1. Sengkang
lainnya seperti tersebut
pasal 6 ayat 1 tidak
boleh dikunci 2.
Ukuran panjang dan
lebar bingkai kaca
51
tersebut pasal 6 ayat 2
harus disesuaikan
dengan besarnya alat
pemadam api ringan
yang ada dalam lemari
sehingga mudah
dikeluarkan‟ Pasal 8
„Pemasangan APAR
harus sedemikian rupa
sehingga paling atas
berada pada ketinggian
1,2m dari permukaan
lantai kecuali CO2 dan
tepung kering dapat
ditempatkan lebih
rendah dengan jarak
antara dasar apar tidak
kurang 15 cm dari
permukaan lantai‟ Pasal
9 „APAR tidak boleh
dipasang dalam
ruangan atau tempat
dengan suhu melebihi
49oC atau turun sampai
- 44oC kecuali APAR
tersebut dibuat khusus
untuk suhu diluar batas
tersebut‟ Pasal 10
“APAR yang
ditempatkan dialam
terbuka harus
dilindungi dengan tutup
pengaman‟.

52
6 Area Tempat Peletakan 1 40 Resiko Sulit Meletakkan Permenakertrans
Pabrik APAR Tidak sedang, menjangkau APAR ditempat Nomor 4 Tahun 1980
Sesuai. pelu alam terbuka Pasal 10 „APAR yang
tindakan harus dilindungi ditempatkan dialam
perbaikan dengan tutup terbuka harus
namun pengaman dilindungi dengan tutup
dapat pengaman‟
dijadwalkan
7 Area N/A Hydrant 2 40 Resiko Kebocoran Dilakukan N/A
Pabrik substansial, hydrant pemeliharaan
perlu dan perawatan
tindakan secara berkala
perbaikan

53
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang diperoleh dari hasil praktek kerja lapangan pada Pabrik Gula
Madukismo diantaranya :
1. Masih ada beberapa aspek K3 yang belum diterapkan dengan baik terutama di bidan
aspek kontruksi bangunan, instalasi listrik dan penanggulangan kebakaran.
2. Banyak aspek K3 juga yang belum melakukan pemeriksaan berkala.
3. Perusahaan belum memiliki teknisi bersertifikat dan ahli K3 spesialis dibidang
konstruksi bangunan, instalasi listrik dan penanggulangan kebakaran.
4. Kurangnya penerapan SOP diperusahaan terutama di bagian kontruksi bangunan,
instalasi listrik, dan penanggulangan kebakaran.
5. Pekerja masih banyak yang belum memakai perlengkapan alat APD dan kurangnya
rambu di perusahaan

B. SARAN
Adapun saran yang dapat diberikan yaitu :
1. Memenuhi persyaratan K3 sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Melakukan pemeriksaan berkala sesuai standar persyaratan dalam K3 dibidang
kontruksi bangunan, instalasi listrik dan penanggulangan kebakaran.
3. Perlu memiliki teknisi bersertifikat dan ahli K3 spesialis dibidang konstruksi bangunan,
instalasi listrik dan penanggulangan kebakaran
4. Penerapan SOP yang sepenuhnya harus diterapkan agar meminimalisir Kecelakaan
Kerja dan Penyakit Akibat Kerja
5. Perusahaan perlu menambah rambu jalur evakuasi untuk ke arah titik kumpul saat
terjadi bahaya

54