Anda di halaman 1dari 3

ZAT WARNA XANTEN

Fluoresensi adalah karakteristik suatu molekul yang ditunjukkan oleh kemampuannya untuk
mengabsorbsi (menyerap) suatu cahaya untuk kemudian memancarkan cahaya lagi, namun
cahaya yang dipancarkan kembali itu memiliki warna yang berbeda dengan warna cahaya
awalnya. Jika molekul itu menerima cahaya hijau, maka fluoresensi dari molekul itu akan
menghasilkan warna kuning atau oranye atau warna merah. Tidak mungkin bagi molekul itu
berfluoresensi dengan memancarkan cahaya berwarna biru atau ungu, mengapa demikian?

Mekanisme Terjadinya Fluoresensi

Fenomena fluoresensi terjadi manakala sebuah molekul menyerap suatu cahaya yang memiliki
energi tinggi, sehingga akibatnya elektron dari molekul itu tereksitasi ke tingkat energi yang
lebih tinggi dibanding tingkat ground (ground state).

Elektron yang tereksitasi ke tingkat energi yang tinggi itu kemudian akan melepaskan sebagian
energi yang tadi diperolehnya dan akan berada dalam keadaan relaksasi. Setelah itu, elektron
akan kembali ke ground state sambil memancarkan cahaya.

Nah, cahaya yang dipancarkan oleh elektron yang kembali ke ground state itu memiliki ENERGI
YANG LEBIH RENDAH dibandingkan dengan cahaya yang diabsorbsi. Selisih energi itu, yaitu
energi yang diserap dan energi yang dipancarkan, disebut dengan Stokes shift. Oleh karena itu,
jika cahaya yang diserap berwarna hijau, maka tidak mungkin suatu molekul berfluoresensi
dengan memancarkan cahaya biru atau ungu, karena warna biru atau ungu memiliki energi yang
lebih tinggi ketimbang warna hijau.

Anhidrida asam merupakan suatu senyawa organik yang memiliki dua gugus asil yang terikat
pada atom oksigen yang sama.[1] Jenis anhidrida asam organik yang umum adalah anhidrida
karboksilat, di mana asam induknya adalah asam karboksilat, rumus kimia yang umum pada
senyawa ini adalah (RC(O))2O. Anhidrida asam simetris pada jenis ini dinamai dengan
mengganti kata asam pada nama asam karboksilat induknya dengan kata anhidrida.[2]
Karenanya, (CH3CO)2O disebut sebagai anhidrida asetat. Anhidrida asam campuran (atau tidak
simetris), seperti anhidrida asetat format (lihat di bawah), juga dikenal.

Satu atau kedua gugus asil pada anhidrida asam mungkin juga dapat berasal dari asam organik
yang lain, seperti asam sulfonat atau asam fosfonat. Satu gugus asil pada anhidrida asam dapat
pula berasal dari asam anorganik seperti asam fosfat. Anhidrida campuran 1,3-bisfosfogliserat
merupakan suatu zat antara pada pembentukan ATP melalui glikolisis,[3] adalah suatu anhidrida
campuran antara asam 3-fosfogliserat dan asam fosfat. Oksida asam juga terkadang
dikelompokkan sebagai suatu anhidrida asam.

Seng klorida adalah suatu senyawa kimia dengan rumus kimia ZnCl2 dan hidratnya. Seng
klorida, di mana sembilan bentuk kristalinnya diketahui, adalah kristal tak berwarna hingga
putih, dan sangat larut dalam air. ZnCl2 sendiri bersifat higroskopis. Sampel senyawa ini harus
dilindungi dari sumber kelembapan, termasuk uap air yang terdapat pada udara ambien. Seng
klorida memiliki aplikasi yang luas dalam pemrosesan tekstil, fluks metalurgi, dan dalam sintesis
kimia. Tidak ada mineral dengan komposisi kimia ini yang diketahui selain mineral yang sangat
jarang simonkolleite, Zn5(OH)8Cl2·H2O.

Sifat-sifat

Zat warna xanten diantaranya yang terkenal ialah fluoresen dan eosin. Ia bersifat asam dan
banyak digunakan pada pencelupan wool dan sutera. Tetapi juga dapat digunakan pada katun
dengan mordan Sn dan Zn.

Bahan baku

Anhidrit asam ptalat, resorsinol, ZnCl2 dan air brom.

Uraian dari diagram alir

Saring,

Eosin ialah zat warna merah fluorescent yang dihasilkan dari aksi brom pada fluorescein. Eosin
dapat digunakan untuk mewarnai sitoplasma, kolagen dan serat otot untuk pengujian di bawah
mikroskop. Struktur yang mudah diwarnai dengan eosin disebut eosinofil.

Secara etimologi nama eosin berasal dari Eos, kata Junani kuno untuk ‘fajar’ dan nama Dewi
Junani Kuno fajar.

Varian

Sebenarnya ada dua senyawa yang sangat erat kaitannya secara umum yang mengacu pada eosin.
Yang paling sering digunakan ialah Eosin Y (juga dikenal sebagai eosin Y ws, eosin yellowish,
eosin kekuningan, Acid Red 87, C.I. 45380, bromoeosine, bromofluoresceic acid, D&C Red
No. 22); senyawa ini memiliki warna kekuningan sangat sedikit. Senyawa eosin lain ialah eosin
B (eosin kebiruan, Acid Red 91, C.I. 45400, Saffrosine, Eosin Scarlet, atau imperial red);
memiliki warna kebiruan sangat samar. Dua pewarna yang dipertukarkan, dan penggunaan yang
satu atau yang lainnya adalah masalah preferensi dan tradisi.

Eosin Y ialah tetrabromo turunan dari fluorescein. Eosin B ialah suatu dibromo dinitro turunan
dari fluorescein.

Penggunaan dalam Histologi


Sampel dari trakea yang diwarnai dengan hematoksilin dan eosin. Eosin paling sering digunakan
sebagai lawan warna untuk hematoksilin dalam pewarnaan H & E (hematoksilin dan Eosin).
Pewarnaan H&E merupakan salah satu teknik yang paling umum digunakan dalam histologi.
Jaringan yang diwarnai dengan hematoksilin dan eosin menunjukkan sitiplasma berwarna merah
jambu-jingga dan nukleus berwarna gelap, biru atau ungu.

Eosin juga mewarnai sel-sel darah merah dengan warna merah yang intens. Eosin ialah zat warna
asam dan muncul di bagian dasar sel, yaitu sitoplasma. Hematoksilin bagaimanapun adalah
pewarna dasar dan muncul di bagian yang asam dari sel seperti nukleus, di mana asam nukleat
(DNA dan RNA) terpekatkan.

Untuk mewarnai, eosin Y secara khas digunakan dalam konsentrasi 1 sampai 5 % berat
berdasarkan volume, yang dilarutkan dalam air atau etanol. Untuk pencegahan pertumbuhan
jamur dalam larutan encer, terkadang timol ditambahkan. Konsentrasi kecil (0,5 %) asam asetat
biasanya memberikan warna merah lebih dalam pada jaringan.

Eosin adalah zat yang berwarna kemerahan dan mendekati pink. Eosin akan memberikan warna pink
pada protein-protein yang terdapat pada sel. Hal ini terjadi karena eosin merupakan zat yang bersifat
asam dan bermuatan negatif, sehingga mudah berikatan dengan molekul protein yang bersifat basa dan
bermuatan positif. Molekul protein di dalam sel kebayakan bersifat basa dan bermuatan positif karena
pengaruh asam amino penyusunnya. Asam amino arginin, lisin, dan histidin memiliki sifat basa dan
bermuatan positif.

Eosin merupakan cairan berwarna merah yang biasanya dipakai


untuk eksperimen biologi mengenai "Kecepatan Laju O2 yang dibutuhkanSerangga dan Tumbuhan".
Dalam penggunaanya, eosin dimasukkan ke dalam pipa respirometer agar dapat melihat kecepatan
laju oksigennya, untuk mengetes kecepatan pernapasan serangga atau tumbuhan pada saat
dimasukkan ke dalam tabung yang udaranya terbatas

Resorsinol senyawa pembuat obat atau zat warna dengan rumus kimia C6H4(OH)2.