Anda di halaman 1dari 21

FONDASI-FONDASI DAN ESENSI BENANG MERAH HISTORIS

PENDIDIKAN DI INDONESIA DAN ALIRAN-ALIRAN


PENDIDIKAN

A. PONDASI-PONDASI PENDIDIKAN
1. Pengertian Pondasi Pendidikan
Dasar atau pondasi adalah sebuah istilah yang dipakai sebagai
landasan untuk berpijak dan dari sanalah segala aktivitas yang berdiri
diatasnya (termasuk aktivitas pendidikan) akan dijiwai atau
diwarnainyaSecara awam, istilah pondasi diartikan sebagai sesuatu yang
memberikan dasar atau landasan terhadap sesuatu. Pondasi memuat nilai-
nilai positif yang dianut dan diyakini kebenarannya.Umar tirta rahardja
dan La Sulo (1994)menyebut pondasi pendidikan adalah pijakan dan
penentu isi dan arah pendidikan.Made Pidarta (200) secara implisit
mengartikan pondasi pendidikan sebagai sesuatu yang harus diikuti dalam
upaya pengembangan pendidikan .Menurut penulis ,pondasi pendidikan
adalah sesuatu yang memberikan dasar atau landasan terhadap
penyelenggaraan sistem pendidikan yamg dilakukan masyarakat.

2. Wujud Pondasi Pendidikan


Meskipun pendidikan sifatnya universal, namun terjadi perbadaan-
perbedaan tertentu sesuai dengan pandangan hidup dan latar sosiokultural
tersebut. Dengan kata lain, pendidikan diselenggarakanberlandaskan
filsafat hidup serta sosiokultural setiap masyatakat. Selain ketiga landasan
ini (filosofis, sosiologis ,dan cultural ) masih terdapat landasan filosofis
dan landasan hukum dan politik.
a. Landasan filosofis
Ditinjau dari sudut pandang filsafat,kualitas ilmu pengetahuan
pada umumnya tersusun atas tiga lapis,yaitu lapisan abstrak, poternsial
–teoritis dan lapisan konkrik-praktis. Dasar pelapisan ini adalah
realitas keberadaan setiap benda atau hal yang ada. Manusia misalnya,
pada lapisan abstrak mencakup semua jenis,sifat, bentuk, dan wujud
manusia yang berada dimana saja dan kapan saja. Adapun potensial-
teoritis berupa jenis, bentuk dan wujud yang berbeda, tapi satu dalam
karakter.sedangkan pada lapisan konkrit lebih menunjuk pada
perwujudannya sebagai manusia individual.
Pengertian filsafat yang umumnya dipakai adalah pendapat
yang dikemukakan Sidi Ghazalimenurutnya, filsafat adalah berfikir
secara mendalam, sistematis, radikal,dan universal dalam rangka
mencari kebenaran, intii, hikmah, atau hakikatmengenai segala sesuatu
yang ada. Orang yang cinta pengetahuan atau kebijaksanaan
disebut Philosophos atau dalam bahasa arabfailosof (filsafat).
Louis O. Kattsof mengatakan bahwa kegiatan kefilsafatan ialah
merenung,. Akan tetapi, merenung bukanlahmelamu,juga bukan
berfikir secara kebetulan yang bersifat untung-untungan, melainkan
dilakukan secara mendalam, radikal sistematis dan universal.
1) Pengertian tentang landasan filosofis
Terdapat kaitan yang erat antara pendidikan dan filsafat
karena filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan
masyarakat, sedangkan pendidikan berusaha mewujudkan citra itu.
Rumusan tentang harkat dan martabat manusia ikut menentukan
tujuan dan cara-cara penyelenggaraan pendidikan, dan dari sisi lain
pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia. Filsafat
pendidikan berupaya menjawab secara kritis dan mendasar
berbagai pertanyaan pokok sekitar pendidikan, seperti apa,
mengapa, kemana, bagaimana dan sebagainya dari pendidikan itu.
2) Ruang lingkup filsafat pendidikan
Ruang lingkup filsafat pendidikan adalah sebagai berikut:
a) Pendidik
b) Murid atau anak didik
c) Materi pendidikan
d) Perbuatan mendidik
e) Metode pendidikan
f) Eveluasi pendidikan
g) Tujuan pendidikan
h) Alat-alat pendidikan
i) Lingkungan pendidikan
b. Landasan sosiologis
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dengan
masyarakat dan menyelidiki ikata-ikatan antara manusia yang
menguasai hidupnya itu. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud
hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh, serta perubahannya
perserikatan-perserikatan hidup itu serta kepercayaannya, keyakinan
yang member sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam tiap
persekutuan hidup manusia.sementara itu, soejono soekanto
mengartikan sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang
membatasi diri terhadap persoalan penilaian.
Seorang sosiolog Alvin Bertrand memahami sosiologi sebagai
suatu ilmu yang mempelajari dan menjelaskan tentang hubungan
antara manusia (human relationship) di dalam ilmu ini juga dibahas
tentang proses-proses sosial, mengingat bahwa ilmu pengetahuan
perihal struktur menyarakat saja belum cukup untuk memperoleh
gambar yang nyata mengenai kehidupan bersama dari manusia.
Pengertian landasan sosiologis
Aspek sosial menunjukkan adanya saling hubungan diantara
individu, masyarakat, dan antara individu dengan masyarakat. Sejak
lahir, manusia individu memiliki hakekat kodrat social yaitu saling
membutuhkan satu sama llain. Berdasarkan fakta itu, materi
pendidikan perlu digali dari karakter manusia sebagai makhluk
social.Selanjutnya, nilai kebersamaan tersebut ditambah-kembangkan
di dalam diri setiap peserta didik melalui seluruh rangkaian kegiatan
pendidikannya.
Sosiologi mempunyai cirri-ciri sebagaimana uraian berkikut:
1) Empiris, adalah ciri utama sosiologi sebagai ilmu,sebab ia
bersumber dan diciptakan dari kenyataan yan g terjadi di lapangan.
2) Teoritis,adalah peningkatan fase penciptaan tadi yang menjadi
salah satu bentuk budaya yang dapat disimpan lama.
3) Komulatif, sebagai akibat proses penciptaan terus menerus
4) Noteris, karena teori itu menceritakan apa adanya tentang
masyarakat tapa menilai apakah hal itu baik atau buruk.
Secara sederhana, sosiologi pendidikan adalah ilmu
pengetahuan yang mempelajari tentang permasalahan-permasalan
pendidikan dan berusaha untuk mencari pemecahannya berdasarkan
pendekatan sosiologi.
Sosiologi pendidikan merupakan analisis alamiah tentang
proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan.
Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiologi pendidikan meliputi
empat bidang:
1) Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain, yang
mempelajari:
a) Fungsi pendidikan dlalam kebudayaan.
b) Hubungan system pendidikan dan kontrol sosial dan sistem
kekuasaan
c) Fungsi sistem pendidikan dalam memelihara dan mendorong
proses social dan perubahan kebudayaan
2) Hubungan pendidikan dengan kelas sosial dan sistem status.
Fungsionalisasi sistem pendidikan formal dalam hubungannya
dengan ras, kebudayaan, atau kelompok-kelompok dalam
masyarakat.
3) Hubungan kemanusiaan di sekolah yang meliputi:
a) Sifat kebudayaan sekolah khususnya yang berbeda dengan
kebudayaan di lllluar sekolah.
b) Pola interaksi sosial atau struktur masyarakat sekolah.
4) Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya,yang mempelajari:
a) Peranan sosial guru
b) Sifat kepribadian guru.
c) Pengaruh kepribadian guru terhadap tingkah laku siswa.
d) Fungsi sekolah dalam sosialisasi anak.
5) Sekolah dalam komunitas yang mempelajari pola interaksi antara
sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya, yang
meliputi:
a) Pelukisan tentang komunitas seperti tampak dalam
pengaruhnya terhadap organisasi sekolah.
b) Analisis tentang proses pendidikan seperti tampak terjadi pada
sistem social komunitas kaum tidak terpelajar.
c) Hubungan antara sekolah dan komunitas dalaml fungsi
kependidikannya.
d) Faktor-faktor demografi dan ekologi dalam hubungannya
dengan organisasi sekolah.
Atas pengaruh sosiologi, proses pendidikan yang ideal
adalah terarah kepada mempertahankan dan meningkatkan
keselarasan hidup, baik dalam interaksi sosial, stratifikasi social
maupun dalam hubungan diantara kelompok sosial. Oleh sebab itu,
terhadap pendidikan sekolah, sosiologi member petunjuk
setidaknya dalam tiga hal, yaitu: (1) bagaimana pendidikan sekolah
mengembangkan administrasi manajemen, (2) bagaimana
pendidikan sekolah mengorganisasi materi pendidikan, dan (3)
bagaimana pendidikan sekolah melaksanakan kegiatan
pembelajaran.
c. Landasan Psikologi
Psikologi adalah ilmu yang berusaha menyelidiki semua aspek
kepribadian dan tingkah laku manusia, baik yang bersifat jasmaniah
maupun rohaniah, baik secara teoritis maupun dengan melihat
kegunaannya didalam praktek, baik secara individual maupun dalam
hubungannya dengan manusia lain atau lingkungannya.
Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia,
sehingga landaan psikologis merupakan salah satu landasan yang
penting dalam dari hubungan interdisipliner dengn ilmu sosial lainnya
, khususnya terhadap pendidikan, psikologipun memberikan landasan,
yaitu dalam hal pembinaan perilakukarena oada dasarnya, perbaikan
perilaku merupakan sasaran utama penyelengaraan
pendidikan.orientasi umum psikologi perkembangan dalam hal aspek-
aspek kogniti, afektif dan psikomotorik member petunjuk terhadap
pendidik dalam hal menyiapkan dan mengorganisasi materi
pendidikan, serta member arah bagaimana membina peserta didik agar
mau belajar secara bebas, tanpa terbebani sesuatu apapun.
Pemahaman peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan
aspek kejiwaan, merupakan salah satu kunci keberhasilan
pendidikan.Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologi
sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan. dengan
bekal pemahaman yang mendalam dan menyeluruh tentang hal ini,
guru-guru diharapkan dapat menyiapkan dan melaksanakan
pengajaarannya dengan lebih baik, mampu memberikan bimbingan
yang lebih tepat, terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam
memberikan perlakuan pendidikan.
d. Landasan hukum dan politik
Arti pondasi hokum adakah kehidupan masyrakat aspek hokum
yang menjadi dasar atau melandasi penyelenggaraan pendidikan.begitu
juga pondasi politik yang menjadi dasar atau melandasi
penyelenggaraan pendidikan..hokum dan politik merupakan dua aspek
eekehidupan yang salingberkaitan.
Secara lebih luas arti landasan hukum dan politik dalam
penyelenggaraan pendidikan berupa peraturan baku yang dijadikan
pedoman di masyarakat serta berkaitan dengan kehidupan politik.
Dengan kata lain landasan hokum dan politik dalam penyelenggaraan
pendidikan adalah hal-hal yang menjadi dasar penyelenggaraan
pendidikan berupa kehidupan hukum dan politik.

B. LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN


1. Sejarah Pendidikan Dunia
Sejarah pendidikan dunia telah berlangsung lama sekitar 150 tahun
Sebelum Masehi, akan tetapi pendidikan pada zaman ini belum
memberikan kontribusi pada pendidikan pada saat ini (Pidarta, 2007).
a. Zaman Realisme
Realisme menghendaki pikiran yang praktis (Pidarta,2007),
menurut aliran ini pengetahuan diperoleh tidak hanya melalui
penginderaan semata tetapi juga melalui persepsi penginderaan
(Mudyahardjo,2008). Tokoh-tokoh pendidikan pada masa ini
diantaranya adalah : Francis Bacon dan Johann Amos Cornelius.
Prinsip-prinsip pendidikan yang dikembangkan antara lain:
1) Pendidikan lebih dihargai dari pengajaran.
2) Pendidikan harus menekankan aktivitas sendiri.
3) Penanaman pengertian lebih penting daripada hafalan.
4) Pelajaran disesuaikan dengan perkembangan anak, diawali dengan
bahasa ibu.
5) Pelajaran harus diberikan satu per satu, mulai dari yang mudah,
bisa dibantu dengan gambar-gambar.
6) Pendidikan diperoleh dari metode induktif, yaitu mulai dari
menemukan fakta-fakta khusus kemudian dianalisa sehingga
menimbulkan suatu kesimpulan).
7) Anak-anak belajar dari alam.
b. Zaman Rasionalisme
Aliran ini memberi kekuasaan pada manusia untuk berpikir
sendiri dan bertindak untuk dirinya, karena itu latihan sangat
diperlukan pengetahuannya sendiri dan bertindak untuk dirinya. Aliran
ini mulai muncul disaat masyarakat mampu menumbangkan kekuasaan
absolut Raja Perancis dengan menggunakan kekuatan akal pikirnya.
Tokoh pendidikan pada masa ini adalah John Locke yang
terkenal dengan teori Leon Tabularasa atau a blank sheet of paper,
yakni mendidik seperti menulis di atas kertas putih dan dengan
kebebasan dan kekuatan akal yang dimiliknya manusia digunakan
untuk membentuk penetahuannya sendiri.
Proses belajar menurut John Locke yaitu:
1) Mengamati hal-hal yang ada di luar diri manusia.
2) Mengingat apa yang telah diamati dan dihafalkan
3) Berpikir, yaitu mengolah bahan-bahan yang telah diperoleh tadi,
ditimbang-timbang untuk dirinya sendiri,
c. Zaman Naturalisme
Naturalisme menyatakan bahwa manusia didorong oleh kebutuhan-
kebutuhannya, dapat menemukan jalan kebenaran di dalam dirinya
sendiri (Mudyoharjo, 2008). Aliran ini muncul pada abad 18 dan
merupakan reaksi atas aliran rasionalisme dan menentang kehidupan
yang tidak wajar akibat dari rasionalisme seperti korupsi, gaya hidup
yang dibuat-buat dan sebagainya. Tokoh aliran Naturalisme adalah J.J
Rousseau yang menyatakan ada tiga asas mengajar, yaitu:
1) Asas pertumbuhan, bahwa pengajaran harus memberi kesempatan
untuk anak-anak bertumbuh secara wajar dengan cara
mempekerjakan mereka sesuai kebutuhan-kebutuhannya.
2) Asas aktivitas, bahwa dengan bekerja anak-anak menjadi aktif
yang akan memberikan pengalaman yang kemudian akan menjadi
pengetahuan mereka
3) Asas individualitas, maksudnya dengan cara menyiapkan
pendidikan sesuai dengan individualitas masing-masing anak,
sehingga mereka berkembang menurut alamnya sendiri.
d. Zaman Developmentalisme
Developmentalisme mulai berkembang pada abad ke 19. Aliran
ini beranggapan bahwa pendidikan sebagai suatu proses perkembangan
jiwa, sehingga aliran ini sering disebut gerakan psikologis dalam
pendidikan. Tokoh-tokoh aliran ini adalah: Petalozzi, Johann
Fredrich Herbart, Friedrich Wilhelm Frobel di Jerman dan Stanley
Hall di Amerika Serikat.
Intisari konsep pendidikan yang dikemangkan oleh aliran ini
adalah:
1) Mengaktualisasikan semua potensi anak yang masih laten,
membentuk watak susila dan kepribadian yang harmonis, serta
meningkatkan derajat sosial manusia.
2) Pengembangan ini dilakukan sejalan dengan tingkat-tingkat
perkembangan anak yang melalui observasi dan eksperimen
3) Pendidikan adalah pengembangan pembawaan (nature) yang
disertai asuhan yang baik (marture).
4) Pengembangan pendidikan mengutamakan perbaikan pendidikan
dasar dan pengembangan pendidikan universal
e. Zaman Nasionalisme
Aliran ini muncul pada abad 19 dan merupakan upaya dalam
membentuk patriot-patriot bangsa dan mempertahankan kaum
imperialis. Tokohnya adalah La Chatolais (Perancis) Fichte (Jerman),
dan Jefferson (Amerika Serikat).
Konsep pendidikan yang ingin dikemukakan oleh aliran ini adalah:
1) Menjaga, memperkuat, dan mempertinggi kedudukan negara.
2) Mengutamakan pendidikan sekuler, jasmani, dan kejuruan
Materi pelajarannya meliputi: bahasa dan kesusastraan nasional,
pendidikan kewarganegaraan, lagu-lagu kebangsaan, sejarah dan
geografi Negara dan pendidikan jasmani.
Dampak negatif dari pendidikan ini adalah munculnya chaufinisme di
Jerman, yaitu kegilaan atau kecintaan terhadap tanah air yang
berlebihan dibeberapa negara seperti Jerman, sehingga timbul Perang
Dunia I (Pidarta, 2007).
f. Zaman Liberalisme, Positivisme, dan Individualisme
Zaman ini lahir pada abad ke 19. Liberalisme berpendapat
bahwa pendidikan adalah alat untuk memperkuat kedudukan
penguasa/pemerintah yang dipelopori dalam bidang ekonomi oleh
Adam Smith. Pada masa ini siapa yang banyak pengetahuanlah yang
paling berkuasa sehingga kemudian mengarah pada individualisme.
Sedangkan positivisme percaya kebenaran yang dapat diamati oleh
panca indera sehingga kepercayaan terhadap agama semakin lemah.
Tokoh aliran positivisme adalah August Comte.
g. Zaman Sosialisme
Aliran ini muncul pada abad ke 20 sebagai reaksi terhadap
dampak aliran liberalisme, positivisme dan individualsme. Tokoh-
tokohnya adalah Paul Nartrop, George Kerchensteiner, dan John
Dewey. Aliran ini berpendapat bahwa masyarakat memiliki arti yang
lebih penting daripada individu. Ibarat atom, individu tidak ada artinya
bila terwujud benda. Oleh karena itu, pendidikan harus diabdikan
untuk tujuan-tujuan tertentu.
2. Sejarah Pendidikan Di Indonesia
a. Landasan Historis Pendidikan Di Indonesia
Landasan historis pendidikan Nasional Indonesia tidak terlepas
dari sejarah bangsa indonesia itu sendiri. Bangsa Indonesia terbentuk
melalui suatu proses sejarah yang cukup panjang sejak zaman kerajaan
Kutai, Sriwijaya, Majapahit sampai datangnya bangsa lain yang
menjajah serta menguasai bangsa Indonesia. Beratus-ratus tahun
bangsa Indonesia dalam perjalanan hidupnya berjuang untuk
menemukan jati dirinya sebagai suatu bangsa yang merdeka, mandiri
serta memiliki suatu prinsip yang tersimpul dalam pandangan hidup
serta filsafat hidup bangsa. Pada akhirnya bangsa Indonesia
menemukan jati dirinya, yang di dalamnya tersimpul ciri khas, sifat
dan karakter bangsa yang berbeda dengan bangsa lain. Para pendiri
negara kita merumuskan negara kita dalam suatu rumusan yang
sederhana namun mendalam, yang meliputi 5 prinsip (lima sila) yang
kemudian diberi nama Pancasila.
Secara historis nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila
Pancasila sebelum dirumuskan dan disahkan menjadi dasar negara
Indonesia secara objektif historis telah dimiliki oleh bangsa Indonesia
sendiri. Sehingga asal nilai-nilai Pancasila tersebut tidak lain adalah
dari bangsa Indonesia sendiri. Konsekuensinya, Pancasila
berkedudukan sebagai dasar filsafat negara serta ideologi bangsa dan
negara, bukan sebagai suatu ideologi yang menguasai bangsa, namun
justru nilai-nilai dari sila-sila Pancasila itu melekat dan berasal dari
bangsa Indonesia itu sendiri. Dengan kata lain, tinjauan landasan
sejarah atau historis Pendidikan Nasional Indonesia merupakan
pandangan ke masa lalu atau pandangan retrospektif. Pandangan ini
melahirkan studi-studi historis tentang proses perjalanan pendidikan
nasional Indonesia yang terjadi pada periode tertentu di masa yang
lampau.
Setiap bidang kegiatan yang ingin dicapai manusia untuk maju,
pada umumnya dikaitkan dengan bagaimana keadaan bidang tersebut
pada masa yang lampau (Pidarta, 2007: 110). Demikian juga halnya
dengan bidang pendidikan. Sejarah pendidikan merupakan bahan
pembanding untuk memajukan pendidikan suatu bangsa. Sejarah telah
memberi penerangan, contoh, dan teladan bagi manusia dan
diharapkan akan dapat meningkatkan peradaban manusia itu sendiri di
masa kini dan masa yang akan datang.
b. Sejarah Pendidikan Di Indonesia
Perjalanan sejarah pendidikan di Indonesia sangat panjang
bahkan semenjak jauh sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945
sampai akhirnya sekarang setelah 69 Indonesia merdeka yang telah
mewujudkan pola Pendidikan Nasional seperti sekarang. Dengan
demikian setiap bidang kegiatan yang ingin dicapai manusia untuk
maju, pada umumnya dikaitkan dengan bagaimana keadaan bidang
tersebut pada masa lampau (Pidarta, 2007). Begitu juga dengan bidang
pendidikan, sejarah pendidikan dapat dijadikan sebagai bahan
pembanding untuk memajukan pendidikan itu sendiri. Sejarah
pendidikan di Indonesia dimulai dari zaman kuno/ tradisional yang
dimulai dengan zaman pengaruh Hindu dan Budha, zaman pengaruh
Islam, zaman penjajahanan, sampai saat ini. Berikut ini adalah uraian
dan rincian perjalanan sejarah pendidikan Indonesia:
1) Zaman Pengaruh Hindu dan Budha (Purba)
Hinduisme dan Budhisme datang ke Indonesia sekitar abad
ke-5. Hinduisme dan Budhisme merupakan dua agama yang
berbeda, namun di Indonesia keduanya memiliki kecenderungan
sinkretisme, yaitu keyakinan mempersatukan figur Syiwa dengan
Budha sebagai satu sumber Yang Maha Tinggi. Motto pada
lambang Negara Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika, secara
etimologis berasal dari keyakinan tersebut (Mudyahardjo, 2008:
215).
Bila mengamati sejarah tentang borobudur merupakan
warisan sejarah yang dapat digunakan sebagai perbandingan
perkembangan pendidikan pada masa itu dengan masa sekarang.
Borobudur adalah candi budha terbesar pada abad 9, yang
berukuran 123 X 123 meter serta terdiri dari 1.460 relief dan 504
stupa. Borobudur setelah dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat di
Kamboja dan 4 abad sebelum Katedral Agung di Eropa ini.
Berdasarkan keterangan di atas Borobudur merupakan
tonggak sejarah terbesar bagi Indonesia, karena pada saat itu (abad
9) bisa dikatakan Indonesia menjadi negara number one. Jika
ditinjau dari segi pembuatannya, maka akan muncul asumsi
tentang jumlah tenaga yang digunakan (berhubungan dengan
manajemen) dan arsitekturnya. Padahal pada masa itu sumber
belajarnya hanya berupa orang, tidak seperti sekarang yang sumber
belajarnya tidak hanya berupa orang, tetapi ada buku, TV, radio,
HP, Tablet, komputer (laptop), dan internet.
2) Zaman Pengaruh Islam (Tradisional)
Agama islam yang dibawa oleh pedagang dari Persia dan
Gujarat ke Indonesia. Agama Islam mudah tersebar karena agama
Islam dapat bersatu dengan kebudayaan Indonesia. Keduanya dapat
saling membantu dan saling mempengaruhi. Agama Islam besar
sekali pengaruhnya di dalam mendidik rakyat jelata. Berbeda
dengan Agama Hindu dan Budha, Agama Islam menyiarkan
Agamanya mulai dari bawah/dari rakyat biasa. Para Ulama sangat
dekat dengan rakyat biasa, mereka bisa hidup bersama dengan
rakyat biasa. Bentuk pendidikan yang Islam ada 3 macam, yaitu di
Langgar, Pesantren, dan Madrasah. Bentuk itulah sebenarnya awal
terbentuknya pembelajaran klasikal maupun individual di
Indonesia.
a) Langgar : Merupakan tempat pendidikan agama islam
permulaan. Yang dipentingkan ialah membaca dan menulis
huruf arab. Pengajaran berlangsung secara secara Individual,
artinya seorang guru mengajar seorang anak.
b) Pendidikan di pesantren : Tempat pengajaran Agama Islam
yang lebih lanjut dan lebih mendalam ada di pesantren.
Pengetahuan yang diberikan ada 3 bidang yaitu: agama; ilmu
pengetahuan; keterampilan.
c) Pendidikan Madrasah : Pada madrasah guru-guru
diperkenankan menerima balasan jasa dalam bentuk uang
(gaji). Lembaga pendidikan ini lebih menekankan pada
pemberian ilmu pengetahuan umum disamping pelajaran
agama. Pendidikan Madrasah diatur berjenjang sejajar dengan
pendidikan dasar dan menengah seperti sekarang ini. Jenjang
ini adalah :
Tingkat TK : Bustanul
Tingkat SD : Ibtidaiyah
Tingkat SMP : Tsanawiyah
Tingkat SMA : Aliyah
3) Zaman Pengaruh Nasrani (Katholik dan Kristen)
Bangsa Portugis pada abad ke-16 bercita-cita menguasai
perdagangan dan perniagaan Timur-Barat dengan cara menemukan
jalan laut menuju dunia Timur serta menguasai bandar-bandar dan
daerah-daerah strategis yang menjadi mata rantai perdagaan dan
perniagaan (Mudyahardjo, 2008: 242). Di samping mencari
kejayaan (glorious) dan kekayaan (gold), bangsa Portugis datang
ke Timur (termasuk Indonesia) bermaksud pula menyebarkan
agama yang mereka anut, yakni Katholik (gospel).
Pada akhirnya pedagang Portugis menetap di bagian timur
Indonesia tempat rempah-rempah itu dihasilkan. Namun kekuasaan
Portugis melemah akibat peperangan dengan raja-raja di Indonesia
dan akhirnya dilenyapkan oleh Belanda pada tahun 1605
(Nasution, 2008: 4). Dalam setiap operasi perdagangan, mereka
menyertakan para paderi misionaris Paderi yang terkenal di
Maluku, sebagai salah satu pijakan Portugis dalam menjalankan
misinya, adalah Franciscus Xaverius dari orde Jesuit. Orde ini
didirikan oleh Ignatius Loyola (1491-1556) dan memiliki tujuan
yaitu segala sesuatu untuk keagungan yang lebih besar dari Tuhan
(Mudyahardjo, 2008: 243). Yang dicapai dengan tiga cara:
memberi khotbah, memberi pelajaran, dan pengakuan. Orde ini
juga mempunyai organisasi pendidikan yang seragam: sama di
mana pun dan bebas untuk semua. Xaverius memandang
pendidikan sebagai alat yang ampuh untuk penyebaran agama,
Nasution dalam Rohmawati (2008).
Sedangkan pengaruh Kristen berasal dari orang-orang
Belanda yang datang pertama kali tahun1596 di bawah pimpinan
Cornelis de Houtman dengan tujuan untuk mencari rempah-
rempah. Untuk menghindari persaingan di antara mereka,
pemerintah Belanda mendirikan suatu kongsi dagang yang disebut
VOC (vreenigds Oost Indische Compagnie) atau Persekutuan
Dagang Hindia Belanda tahun 1602 (Mudyahardjo, 2008: 245).
Sikap VOC terhadap pendidikan adalah membiarkan
terselenggaranya Pendidikan Tradisional di Nusantara, mendukung
diselenggarakannya sekolah-sekolah yang bertujuan menyebarkan
agama Kristen. Kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh VOC
terutama dipusatkan di bagian timur Indonesia di mana Katholik
telah berakar dan di Batavia (Jakarta), pusat administrasi kolonial.
Tujuannya untuk melenyapkan agama Katholik dengan
menyebarkan agama Kristen Protestan, Calvinisme (Nasution,
2008: 4-5).
4) Zaman Kolonial Belanda
Tujuan bangsa Belanda ke Indonesia juga sama dengan
bangsa Spanyol dan Portugis. Belanda mendirikan sekolah-sekolah
yang tidak hanya mengajarkan agama saja, tetapi juga mengajarkan
pengetahuan umum. Sekolah-sekolah banyak didirikan di Pulau
Ambon, Ternate, dan Bacan (Maluku). Bahasa pengantar yang
dipergunakan adalah bahasa Melayu dan Belanda. Selain itu
mereka juga mendirikan sekolah untuk calon pegawai VOC.
Sekolah ini didirikan di Ambon dan Jakarta (rizal, 2008).
Secara umum, sistem pendidikan di Indonesia digambarkan
sebagai berikut:
a) Pendidikan dasar meliputi jenis sekolah dengan pengantar
bahasa Belanda untuk anak Belanda , Indonesia dan Cina.
Sekolah dengan pengantar bahasa daerah, dan sekolah
peralihan.
b) Pendidikan lanjutan yang meliputi pendidikan umum dan
pendidikan kejuruan.
Menurut Nasution (1993) ada enam prinsip politik
pendidikan kolonial Belanda di Indonesia, yaitu: Pertama,
dualisme dalam pendidikan dengan adanya sekolah anak belanda
dan untuk anak pribumi, untuk anak yang berada dan anak yang
tidak berada. Kedua, gradualisme yang ekstrim dengan
mengusahakan pendidikan rendah yang sederhana mungkin bagi
anak Indonesia. Ketiga, prinsip konkordansi yang memaksa semua
sekolah berorientasi barat mengikuti model sekolah di Netherland
dan menghalangi penyesuaian dengan keadaan di Indonesia.
Keempat, kontrol sentral yang ketat. Kelima, tidak adanya
perencanaan pendidikan sistematis. Keenam, pedidikan pegawai
sebagai tujuan utama sekolah.
Meskipun sekolah-sekolah telah banyak berdiri, tetapi
secara vormal, sekolah-sekolah itu tidak didirikan atas nama VOC,
tetapi didirikan oleh orang-orang dari kalangan agama, yaitu agama
Kristen Protestan. Keuntungan besar dari sekolah ini adalah setelah
kita mencapai kemerdekaan dimana kebutuhan akan pendidikan
sangat diperlukan. Sebagian besar penduduk di Indonesia bagian
timur sudah tidak mengalami tuna aksara. Ini karena telah lama
penduduk Indonesia bagian timur telah mengenal
pendidikan/sekolah (Rizal, 2008).
Sejak dijalankannya Politik Etis ini tampak kemajuan yang
lebih pesat dalam bidang pendidikan selama beberapa dekade.
Pendidikan yang berorientasi Barat ini meskipun masih bersifat
terbatas untuk beberapa golongan saja, antara lain anak-anak
Indonesia yang orang tuanya adalah pegawai pemerintah Belanda,
telah menimbulkan elite intelektual baru (Rohmawati, 2008).
Golongan baru inilah yang kemudian berjuang merintis
kemerdekaan melalui pendidikan. Perjuangan yang masih bersifat
kedaerahan berubah menjadi perjuangan bangsa sejak berdirinya
Budi Utomo pada tahun 1908 dan semakin meningkat dengan
lahirnya Sumpah Pemuda tahun 1928 (Rohmawati, 2008). Setelah
itu tokoh-tokoh pendidik mulai muncul tokoh yang berjuang di
bidang pendidikan, antara lain :
a) Mohammad Syafei dengan mendirikan INS (Indonesisch
Nederlandse School) di Sumatera Barat pada tahun 1926.
Sekolah ini bertujuan membina anak-anak ke arah hidup yang
merdeka melalui pendidikan hidup mandiri. Model sekolahnya
sendiri berupa asrama.
b) Ki Hajar Dewantara yang merupakan pendiri Taman Siswa
pada 3 Juli 1922. Semboyan Ki Hajar Dewantara yang sangat
terkenal adalah Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun
Karsa, Tut Wuri Handayani yang artinya kurang lebih adalah
yang di depan memberi contoh, yang ditengah membangun
keinginan dan bekerja sama dan yang dibelakang memberikan
daya semangat dan dorongan.
c) Kyai Haji Ahmad Dahlan yaitu pendiri organisasi Islam
bernama Muhammadiyah yang berdiri pada tahun 1912.
Pendidikan Muhammadiyah oleh KHA Dahlan mempunyai
tujuan yaitu lahirnya manusia-manusia baru yang mampu
tampil sebagai “ulama-ulama intelek” yaitu seorang muslim
yang memiliki keteguhan iman dan ilmu yang luas serta sehat
jasmani dan rohani.
5) Zaman Kolonial Jepang
Perjuangan bangsa Indonesia dalam masa penjajahan
Jepang tetap berlanjut sampai cita-cita untuk merdeka tercapai.
Walaupun bangsa Jepang menguras habis-habisan kekayaan alam
Indonesia, bangsa Indonesia tidak pantang menyerah dan terus
mengobarkan semangat di hati mereka (Rohmawati, 2008).
Meskipun demikian, ada beberapa segi positif dari penjajahan
Jepang di Indonesia. Di bidang pendidikan, Jepang telah
menghapus dualisme pendidikan dari penjajah Belanda dan
menggantikannya dengan pendidikan yang sama bagi semua orang.
Selain itu, pemakaian bahasa Indonesia secara luas diinstruksikan
oleh Jepang untuk di pakai di lembaga-lembaga pendidikan, di
kantor-kantor, dan dalam pergaulan sehari-hari. Hal ini
mempermudah bangsa Indonesia untuk merealisasi Indonesia
merdeka. Pada tanggal 17 Agustus 1945 cita-cita bangsa Indonesia
menjadi kenyataan ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan
kepada dunia (rohmawati, 2008).
Sistem pendidikan pada masa penjajahan Jepang dapat
dijelaskan sebagai berikut :
a) Pendidikan/ Sekolah Rakyat, lama studi 6 tahun termasuk SR
adalah Sekolah Pertama yang merupakan konversi dari Sekolah
Dasar 3 atau 5 tahun bagi pribumi pada masa Belanda.
b) Pendidikan Lanjutan, terdiri dari Shoto Chu Gakko (Sekolah
Menengah Pertama) dengan lama studi 3 tahun dan Koto Chu
Gakko (Sekolah Menengah Tinggi) juga dengan lama studi 3
tahun
c) Sekolah guru, ada tiga macam sekolah guru :
(1) Sekolah guru 2 tahun = Sjootoo Sihan Gakoo
(2) Sekolah Guru Menengah 4 tahun = Guutoo Sihan Gakko
(3) Sekolah Guru Tinggi 6 tahun = Kooto Sihan Gakko
6) Zaman Kemerdekaan (Awal)
Setelah Indonesia merdeka, perjuangan bangsa Indonesia
tidak berhenti sampai di sini karena gangguan-gangguan dari para
penjajah yang ingin kembali menguasai Indonesia datang silih
berganti sehingga bidang pendidikan pada saat itu bukanlah
prioritas utama. Hal tersebut terjadi karena konsentrasi bangsa
Indonesia adalah bagaimana mempertahankan kemerdekaan yang
sudah diraih dengan perjuangan yang amat berat.
Tujuan pendidikan belum dirumuskan dalam suatu undang-
undang yang mengatur pendidikan. Sistem persekolahan di
Indonesia yang telah dipersatukan oleh penjajah Jepang terus
disempurnakan. Namun dalam pelaksanaannya belum tercapai
sesuai dengan yang diharapkan bahkan banyak pendidikan di
daerah-daerah tidak dapat dilaksanakan karena faktor keamanan
para pelajarnya. Di samping itu, banyak pelajar yang ikut serta
berjuang mempertahankan kemerdekaan sehingga tidak dapat
bersekolah.
7) Zaman ‘Orde Lama’
Saat gangguan-gangguan itu mereda, pembangunan untuk mengisi
kemerdekaan mulai digerakkan. Pembangunan dilaksanakan
serentak di berbagai bidang, baik spiritual maupun material
(Rohmawati: 2008). Setelah diadakan konsolidasi yang intensif,
sistem pendidikan Indonesia terdiri atas: Pendidikan Rendah,
Pendidikan Menengah, dan Pendidikan Tinggi. Dan pendidikan
harus membimbing para siswanya agar menjadi warga negara yang
bertanggung jawab. Sesuai dengan dasar keadilan sosial, sekolah
harus terbuka untuk tiap-tiap penduduk negara (Rahmawati; 2008).
Pendidikan Nasional zaman ‘Orde Lama’ adalah pendidikan yang
diharapkan dapat membangun bangsa agar mandiri sehingga dapat
menyelesaikan revolusinya baik di dalam maupun di luar;
pendidikan yang secara spiritual membina bangsa yang ber-
Pancasila dan melaksanakan UUD 1945, Sosialisme Indonesia,
Demokrasi Terpimpin, Kepribadian Indonesia, dan merealisasikan
ketiga kerangka tujuan Revolusi Indonesia sesuai dengan Manipol
yaitu :
a) Membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia berwilayah
dari Sabang sampai Merauke
b) Menyelenggarakan masyarakat Sosialis Indonesia yang adil
dan makmur lahir-batin, melenyapkan kolonialisme,
c) Mengusahakan dunia baru, tanpa penjajahan, penindasan dan
penghisapan, ke arah perdamaian, persahabatan nasional yang
sejati dan abadi (Mudyahardjo, 2008: 403).
8) Zaman ‘Orde Baru’
Orde Baru dimulai setelah penumpasan G-30S pada tahun
1965 dan ditandai oleh upaya melaksanakan UUD 1945 secara
murni dan konsekuen. Haluan penyelenggaraan pendidikan
dikoreksi dari penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh
Orde Lama yaitu dengan menetapkan pendidikan agama menjadi
mata pelajaran dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi.
Di samping itu, dikembangkan kebijakan link and match di bidang
pendidikan. Konsep keterkaitan dan kepadanan ini dijadikan
strategi operasional dalam meningkatkan relevansi pendidikan
dengan kebutuhan pasar (Pidarta, 2008: 137-38). Inovasi-inovasi
pendidikan juga dilakukan untuk mencapai sasaran pendidikan
yang diinginkan. Sistem pendidikannya adalah sentralisasi dengan
berpusat pada pemerintah pusat.
Namun demikian, dalam dunia pendidikan pada masa ini
masih memiliki beberapa kesenjangan. Beberapa kesenjangan,
yaitu (1) kesenjangan okupasional (antara pendidikan dan dunia
kerja), (2) kesenjangan akademik (pengetahuan yang diperoleh di
sekolah kurang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari), (3)
kesenjangan kultural (pendidikan masih banyak menekankan pada
pengetahuan klasik dan humaniora yang tidak bersumber dari
kemajuan ilmu dan teknologi), dan (4) kesenjangan temporal
(kesenjangan antara wawasan yang dimiliki dengan wawasan dunia
terkini). Namun demikian keberhasilan pembangunan yang
menonjol pada zaman ini adalah (1) kesadaran beragama dan
kebangsaan meningkat dengan pesat, (2) persatuan dan kesatuan
bangsa tetap terkendali, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga
meningkat (Pidarta, 2008: 141).
9) Zaman ‘Reformasi’
Selama Orde Baru berlangsung, rezim yang berkuasa
sangat leluasa melakukan hal-hal yang mereka inginkan tanpa ada
yang berani melakukan pertentangan dan perlawanan, rezim ini
juga memiliki motor politik yang sangat kuat yaitu partai Golkar
yang merupakan partai terbesar saat itu. Hampir tidak ada
kebebasan bagi masyarakat untuk melakukan sesuatu, termasuk
kebebasan untuk berbicara dan menyampaikan pendapatnya (ibid.:
143). Begitu Orde Baru jatuh pada tahun 1998 masyarakat merasa
bebas. Reformasi ini pada awalnya lebih banyak bersifat mengejar
kebebasan tanpa program yang jelas.
Sementara itu, ekonomi Indonesia semakin terpuruk,
pengangguran bertambah banyak, demikian juga halnya dengan
penduduk miskin. Korupsi semakin hebat dan semakin sulit
diberantas. Namun demikian, dalam bidang pendidikan ada
perubahan-perubahan dengan munculnya Undang-Undang
Pendidikan yang baru dan mengubah sistem pendidikan sentralisasi
menjadi desentralisasi, di samping itu kesejahteraan tenaga
kependidikan perlahan-lahan meningkat. Hal ini memicu
peningkatan kualitas profesional mereka. Instrumen-instrumen
untuk mewujudkan desentralisasi pendidikan juga diupayakan,
misalnya KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), MBS
(Manajemen Berbasis Sekolah), Life Skills (Lima Ketrampilan
Hidup), TQM (Total Quality Management), KTSP (Kurikulum
Satuan Pendidikan).
Sekarang sudah ada Undang-undang yang mengatur tentang
sistem pendidikan di Indonesia yaitu UU RI No.20 Th.2003, Bab
VI. Secara undang-undang pemerintah telah berusaha
menyelenggarakan pendidikan dengan sebaik-baiknya, setiap tahun
dan setiap ada pergantian pimpinan selalu berupaya untuk
menyempurnakan kurikulum, pola dan strategi pembelajaran,
penyempurnaan terarah pada pembinaan pola dan strategi
pembelajaran dan peningkatan mutu pendidikan.