Anda di halaman 1dari 18

Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada

Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017

PENGARUH NESTING TERHADAP PERUBAHAN FISIOLOGIS DAN PERILAKU


BAYI PREMATUR DI PERINATOLOGI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
TASIKMALAYA

Dini Nurbaeti Zen

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh nesting terhadap perubahan fisiologis (frekuensi
napas, frekuensi nadi, saturasi oksigen) dan perilaku bayi prematur. Rancangan penelitian ini adalah
menggunakan quai eksperimental dengan desaign self-controlled study. Sampel penelitian sebanyak 25
bayi premtur yang dirawat di Pernatologi Rumah Sakit Umum Daerah Tasikmalaya dan dipilih denga
teknik purposive sampling. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan paired t-test dan
wilcoxon test. Hasil analisis menunjukan ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan nesting
terhadap perilaku bayi prematur (p= 0,001) dan terhadap peningkatan saturasi oksigen bayi prematur
(p= 0,000), namun tidak signifikan terhadap penurunan frekwensi napas (p=0,112) dan penurunan
frekwensi nadi (p=0,601).Penggunaan nesting sebagai bentuk developmental care dapat memfasilitasi
pencapaian istirahat yang lebih baik (yang ditandai dengan keteraturan fungsi fisiologis dan
pencapaian perilaku tidur tenang), sehingga perlu diimplementasikan dalam perawatan bayi prematur
di ruang perinatologi.

Kata kunci : nesting, developmental care, fungsi fisiologis, perilaku, bayi prematur.

PENDAHULUAN sistem organyang bisa membuat bayi


Berdasarkan data yang bersumber prematur mengalami kelainan-kelainan
dari SDKI (Survey Demografi dan dibanding bayi normal (Hockenberry &
Kesehatan Indonesia) tahun 2007 Wilson, 2009).
didapatkan bahwa angka kematian bayi di Keadaan imaturitas sistem organ
Indonesia sebanyak 34 per 1000 kelahiran tubuh bayi prematur, menyebabkan bayi
dengan angka kematian neonatalnya membutuhkan ruangan perawatan khusus
sebesar 19 per 1000 kelahiran hidup. seperti Perinatologidan bayi prematur
Berdasarkan SDKI (2007) juga dihadapkan dengan tantangan yang
didapatkan data bahwa penyebab kematian berkaitan dengan perbedaan antara
terbesar pada neonatus berusia 0-6 hari lingkungan intrauterin dan ekstrauterin
yaitu prematuritas yang menempati urutan (Holly & Patrick, 2012). Perbedaan yang
dua besar setelah gangguan pernapasan. mencolok antara kondisi intrauterin dan
Bayi Prematur adalah bayi yang ekstrauterin membuat bayi harus berupaya
lahir sebelum akhir usia gestasi 37 keras beradaptasi terhadap hal tersebut.
minggu, tanpa memperhitungkan berat Rahim redup dan hangat, dengan
badan lahir (Behrman & Shiono 1997, suara teredam atau tenag, sedangkan di
dalam Wong, 2004).Bayi prematur akan ruang perawatan bayi intensif lampu
menghadapi ancaman terhadap menyala selama 24 jam, suhu ruangan
kelangsungan hidupnya akibat maturasi lebih dingin dari suhu tubuh normal, dan
organ yang belum sempurna saat penuh kebisingan yang bisa menjadi
dilahirkan. Belum matangnya masa gestasi stresor yang mengurangi kenyamanan
menyebabkan ketidakmatangan pada (Holly & Patrick, 2012).Kondisi ini bila
357
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017
dibiarkan bisa mengakibatkan cedera otak dan caesar (Rekam Medis RSUD
yang dapat mengakibatkan Tasikmalaya, 2013).
ketidakmampuan bayi prematur berespon Rumah sakit tersebut belum
sesuai dengan rasngasngan yang berasal menerapkan beberapa aspek dari
dari lingkungan. Ketika bayi prematur developmental care seperti belum
tidak mampu brespon dengan tepat tersedianya nesting. Nesting dapat
terhadap stimulasi lingkungan yang ada memfasilitasi perkembangan normal bayi
akan menimbulkan respon-respon prematur berupa kondisi fiologis dan
fisiologis yang negatif seperti penurunan neurologis (Goldsmith & Karotkin, 2003).
saturasi oksigen, hipoksia, bradikardi yang Penggunaan nesting ini bertujuan untuk
berulang (Shogan & Shcumman, 1993; menstabilkan postur tubuh, membantu
Holly & Patrick,2012). posisi kepala ke arah garis tengah, dan
Strategi pengelolaan lingkungan memfasilitasi untuk posisi fleksi atau
yang dapat dilakukan untuk menurunkan semifleksi kepala. Nesting juga berguna
stress sebagai akibat stimulus lingkungan untuk mencegah gerakan tiba-tiba pada
keperawatan yang berlebihan ini adalah bayi. Nesting ini berbentuk oval dan
dengan asuhan perkembangan terbuat dari kain (bisa menggunakan
(developmental care).Dampak positif dari gulungan selimut) dan diletakan di dalam
developmental care ini maka perawat inkubator (Ferrari et all, 2007).
perlu berperan aktif dalam upaya Penelitian telah menunjukkan
penerapannya terhadap bayi di rumah bahwauntuk beberapabayi, posisi yang
sakit terutama bayi beresiko seperti bayi baikdapat membantu perkembangan bayi,
prematur. Tujuannya adalah memberikan diantaranya positioningdapat
asuhan keperawatan suportif untuk melindungikulit bayi , meningkatkan
memberikan pengaruh positif terhadap kualitastidur, membantu bayi
pertumbuhan perkembangan serta menstabilkandetak jantung dan
perbaikan status kesehatan bagi bayi pernapasan, menghemat energi ,
prematur yang dirawat di ruang khusus membantu bayi dalam belajar
seperti Perinatologi. koordinasigerakan tanganke mulut,
Data yang didapatkan dari Rumah membantu bayi merasa lebih aman dan
Sakit Umum Daerah Tasikmalaya di mendorongbayi untuk rileks (BLISS,
Ruang Perinatologi sepanjang tahun 2012 2006).
didapatkan bahwa prematuritas disertai Nesting adalah salah satu bentuk
berat badan lahir rendah adalah penyebab developmental care yang coba di terapkan
kematian kedua terbanyak setelah asfiksia di beberapa negara maju untuk
yaitu mencapai 33%, sementara aspiksia mendukung pertumbuhan bayi prematur.
65,2% dan sisanya 0,75% akibat lahir dari Di Indonesia memang penggunaannya
ibu yang mengalami ketuban pecah dini belum menyeluruh di semua daerah, hanya

358
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017

hasil pengematan di beberapa Rumah tipis. Lanugo sangat banyak di seluruh


Sakit di Indonesia sudah diterapkan tubuh dengan penyebaran yang tidak
dengan harapan bahwa nesting ini akan merata. Kartilago telinga lunak dan dapat
membantu pertumbuhan fisiologis dan dilipat. Garis minimal pada telapak tangan
perilaku bayi prematur . dan telapak kaki sehingga tampak halus.
Maka di RSUD Kota Tasikmalaya Tulang tengkorak dan rusuk terasa lunak,
perlu penelitian tentang pengaruh nesting dan mata masih tertutup palpebra edema.
terhadap perubahan fisiologis dan perilaku Pada bayi laki-laki memiliki sedikit rugae
bayi prematur di Ruang Perinatologi. pada skrotum dan testisnya belum turun
(desenden testicular negatif). Sedangkan
KAJIAN PUSTAKA
pada bayi perempuan tampak labia dan
Adaptasi Fisiologis Bayi Prematur
klitoris masih menonjol (Wong et al,
Bayi prematur (preterm) adalah
2009).
bayi yang lahir sebelum akhir usia gestasi
Selama masa janin, plasenta
37 minggu, tanpa memperhitungkan berat
melaksanakan tugas fisiologis penting
badan lahir (Wong, 2009). Sebagian bayi
berupa pertukaran gas, nutrisi,
lahir dengan berat badan kurang dari 2500
pembuangan produk sisa, dan aspek
gram adalah bayi prematur. Ada juga yang
sirkulasi tambahan. Dalam beberapa menit
mendefinisikan bayi premature adalah
setelah lahir, bantuan plasenta ini terhenti
bayi yang lahir sebelu minggu ke 37,
sehingga sistem kardiovaskular,
dihitung dari mulai hari pertama
pernapasan, pencernaan, ginjal, dan
menstruasi terakhir, dianggap sebagai
metabolik bayi itu harus berfungsi secara
periode kehamilan memendek. (Nelson,
independen. Sehingga bayi perlu
2000).
beradaptasi dengan lingkungan
Saat inspeksi, bayi prematur
ekstrauterin. Sebagian besar kematian bayi
sangat kecil dan tampak kurus (dismatur,
terjadi dalam masa neonatus (28 hari
kecil untuk masa kehamilan, asymetris,
pertama) (Bernal et al, 1993) dan hal ini
malnutrisi fetal) dikarenakan memiliki
berkaitan dengan tidak memadainya
sedikit deposit lemak subkutan atau
perkembangan fungsi fisiologis neonatus.
bahkan dalam beberapa kasus prematuritas
Perilaku Bayi Prematur
sangat kurang. Kepala bayi prematur
Yang dianggap perilaku Bayi atau
secara proporsional tampak lebih besar
“newborn behavior” adalah perilaku yang
dibandingkan dengan tubuhnya. Warna
dapat diamati oleh orangtua atau
kulit bayi merah muda terang dan
pemeriksa yang bermakna dalami fungsi
terkadang transparan, hal ini tergantung
integritas syaraf bayi dan hubungan
pada derajat imaturitasnya. Kulit halus dan
terhadap sistem bayi-orangtua (Brazelton,
mengkilat dengan pembuluh darah kecil
2004).
yang tampak di bawah epidermis yang

359
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017
Status perilaku bayi dapat diukur merupakan salah satu aspek dari
dengan menggunakan berbagai cara. Salah pengelolaan lingkungan perawatan dalam
satunya adalah dengan menggunakan developmental care. Perilaku bayi berat
Anderson Behavioral State Scale (ABSS) badan rendah dan premature cenderung
yang digunakan pertama kali oleh pasif dan malas. Perilaku ini dapat diamati
Parmelee dan Stern pada tahun 1972 (Gill, dari ekstermitas yang tetap cenderung
dkk, 1988). Skala perilaku ini terdiri dari ektensi dan tidak berubah sesuai dengan
12 rangkaian perilaku bayi yaitu menangis pemosisian (Wong, et all, 2009). Perilaku
keras (12), menangis (11), meringis (10), ini ternyata berbeda dengan bayi yang
bangun, sangat gelisah (9), bangun, tenang lahir cukup bulan yang menunjukan
(8), bangun, gelisah (7), ngantuk (6), perilaku normal fleksi dan aktif. Oleh
tenang dengan beberapa gerakan tubuh karenanya, nesting sebagai salah satu
(5), tidur sangat gelisah (4), tidur, gelisah aspek dalam developmental care ,
(3), tidur, tenang (2), tidur sangat tenang merupakan asuhan yang memfasilitasi
(1). Cara penggunaan alat ukur ini adalah atau mempertahankan bayi berada dalam
dengan mengidentifikasi perilaku bayi posisi normal fleksi. Hal ini dikarenakan
dengan skor tertinggi dalam rentang waktu nesting dapat menopang tubuh bayi dan
30 menit. Ke-12 karakteristik perilaku juga sekaligus member bayi tempat yang
tersebut mencerminkan aktivitas yang nyaman (Lissauer & Fanaroff, 2009).
berhubungan dengan penggunaan energi Posisi fleksi sendiri merupakan posisi
pada bayi prematur. terapeutik karena posisi ini bermanfaat
Nesting Sebagai Aspek Penerapan dalam mempertahankan normalitas batang
Developmental Care tubuh (Kenner & McGrath, 2004) dan
Developmental care merupakan mendukung regulasi diri karena melalui
asuhan yang memfasilitasi perkembangan posisi fleksi, bayi difasilitasi untuk
bayi melalui pengelolaan lingkungan meningkatkan aktifitas tangan ke mulut
perawatan dan observasi perilaku sehingga dan tangan mengenggam (Kenner &
bayi mendapatkan stimulus lingkungan McGrath, 2004; Wong et all, 2009).
yang sesuai untuk menunjang stabilisasi Adanya kemampuan regulasi diri ini
fisiologis tubuh dan penurunan stress (Mc merupakan cerminan bahwa bayi mampu
Grat et all 2002). Tujuan dari mengorganisir perilakunya dan
developmental care adalah menunjukan kesiapan bayi untuk
meminimalisasi potensi terjadinya berinteraksi dengan lingkungan (Wong, et
komplikasi jangka pendek dan jangka all, 2009; Lissauer & Fanaroff, 2009).
panjang sebagai akibat hospitalisasi di Penggunaan nesting ini bertujuan
ruang perawatan intensive. untuk menstabilkan postur tubuh bayi.
Methode nesting atau sarang yang Ketika berbaring di nesting, bayi lebih
mengelilingi bayi dan posisi fleksi sering menampilkan postur fleksi dengan

360
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017

adduksi bahu dan siku, pinggul dan lutut posisi fleksi, yaitu dengan memberikan
fleksi, dan kepala berada di garis tengah. nesting sebagai penopang tubuh bayi agar
Nesting juga dikaitkan dengan berada dalam posisi yang tepat dan
peningkatan gerakan pergelangan tangan nyaman .Intervensi ini dilakukan dengan
yang elegan dan gerakan menuju garis harapan untuk mempertahankan energi
tengah serta mengurangi gerakan tiba-tiba yang dikeluarkan oleh tubuh bayi agar
dari anggota gerak badan bayi (Fferrari et digunakan secara optimal bagi tumbuh
all, 2007). kembangnya.
Teori Keperawatan Levine “Konservasi Model keperawatan yang sesuai
Energi” dalam penelitian ini adalah konsep
Prinsip perawatan pada bayi “konservasi” yang dikemukakan oleh
prematur diantaranya adalah mendukung Myra Esterin Levine yang berfokus pada
proses pertumbuhan dan perkembangan interaksi manusia.Tiga konsep utama
bayi. Dengan keadaan imaturitas organ dalam konsep konservasi yaitu: (1)
bayi prematur maka bayi prematur Wholeness, (2) adaptasi, (3) konservasi
memerlukan banyak energi untuk (Tomey & Alligood, 2006). Konservasi
mengoptimalkan tugas perkembangannya. (perlindungan) adalah hukum alam yang
Posisi bayi mempengaruhi banyaknya menjadi dasar ilmu pengetahuan. Tujuan
energi yang dikeluarkan oleh tubuh. dari Model Konservasi adalah
Posisi terbaik bagi bayi prematur adalah meningkatkan adaptasi dan memelihara
melakukan posisi fleksi karena akan keutuhan (keholistikan) dengan
menurunkan metabolisme dalam tubuh. menggunakan prinsip konservasi
Penelitian ini memfasilitasi bayi dalam (perlindungan).

METODOLOGI PENELITIAN
Kerangka Konsep Penelitian
Variabel independen Variabel dependen

Perubahan fisiologis :
 frekuensi nadi
 frekuensi napas
Penggunaan Nesting selama
 satuasi oksigen
30 menit saat bayi tenang,
tidak kencing, 5 menit sesudah
minum.
Perubahan perilaku

361
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017
Desain Penelitian
Rancangan Penelitian
Subjek Penelitian :
Bayi Prematur
Q₁ Q₂

fase “non-nesting fase “nesting”

Keterangan :
Q1 : Pengukuran frekuensi nadi, frekuensi napas, saturasi oksigen, berat badan dan perilaku bayi prematur
dalam keadaan bebas sebelum penggunaan nesting.
Q2 : Pengukuran frekuensi nadi, frekuensi napas, saturasi oksigen, berat badan dan perilaku bayi prematur
dalam keadaan bebas setelah penggunaan nesting .
Y : Perbedaan pengukuran pada variabel dependen antara fase “non-nesting” dan “nesting”

Hipotesis Penelitian
Terdapat perbedaan fisologis dan perilaku bayi prematur yang menggunakan nesting dan non
nesting
Definisi Operasional
Definisi Operasioal Penelitian

No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Hasil Ukur Skala


1. Variabel independen : Nesting adalah suatu alat yang Observasi 0 :Bayi Nominal
Penggunaan nesting digunakan di ruang Perinatologi berupa prem
shell berbentuk yang diberikan pada atur
bayi prematur yang dibuat dengan tidak
menempatkan dua selimut berupa meng
pernel yang digulung dalam bentuk oval guna
yang disesuaikan dengan ukuran kan
bayi.Bayi akan diletakan dalam nesting nestin
dengan posisi miring kanan. g
Penggunaan protokol ini berlangsung 1 :Bayi
selama setengah jam (30 menit) prem
atur
meng
guna
kan
nestin
g
2. Variabel dependent :
a. Frekuensi Jumlah frekuensi napas dalam satuan Instrumen pengukuran Frekuensi napas Interval
napas menit. frekuensi napas adalah dalam angka
Pengukuran frekuensi napas ini stetoskop yang (x/menit)
dilakukan pada 30menit tanpa digunakan di ruang
menggunakan nesting dan 30 menit pada rawat
saat penggunaan nesting

b. Frekuensi nadi Jumlah denyut nadi dalam satu menit. Instrumen pengukuran Frekuensi napas Interval
pengukuran denyut nadi ini dilakukan frekuensi nadi adalah dalam angka
selama 30 menit pada saat bayi tidak oksimetry nadi yang (x/menit)
menggunakan nesting dan 30 menit pada digunakan di ruang
saat bayi menggunakan nesting rawat

c. Saturasi Saturasi oksigen adalah satuan Instrumen pengukuran Saturasi oksigen Interval
oksigen konsentrasi oksigen di dalam darah bayi saturasi aksigen adalah dalam angka
prematur dengan menggunakan alat oksimetry nadi yang (%)
oksimetri. digunakan di ruang
Pengukuran dilakukan selama 30 menit rawat
pada saat bayi tidak menggunakan

362
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017

nesting dan 30 menit pada saat bayi


menggunakan nesting

d. Perilaku bayi Perubahan sikap tubuh atau aktivitas Instrumen skala Perilaku bayi Interval
prematur bayi selama observasi. perilaku yang dipakai dengan rentang
Pengamatan dilakukan selama 30 menit adalah Anderson 1-12. Yaitu
pada saat bayi tidak menggunakan Behavioral State Scale menangis keras
nesting dan 30 menit pada saat bayi (12), menangis
menggunakan nesting (11), meringis
(10), bangun,
sangat gelisah
(9), bangun,
tenang (8),
bangun, gelisah
(7), ngantuk (6),
tenang dengan
beberapa
gerakan tubuh
(5), tidur sangat
gelisah (4),
tidur, gelisah
(3), tidur,
tenang (2), tidur
sangat tenang
(1).

Populasi dan Sampel tuanya tidak bersedia bayinya dijadikan


Populasi dalam penelitian ini adalah responden.
semua bayi prematur yang sedang dan Untuk mendapatkan besar sampel,
dirawat di ruang Perinatologi Rumah Sakit sebelumnya dilakukan perhitungan
Umum Daerah Kota Tasikmalaya.Sampel terhadap nilai σ² atau Sp² sebagai berikut
dalam penelitian ini akan diambil dengan :
memilih responden berdasarkan dari Sp² = [(n₁- 1) S1² + (n₂-1) S2²]
kriteria inklusi meliputi :bayi prematur (n₁- 1) + (n₂- 1)
dengan berat badan lahir < 2500 gram, Data penelitian yang diambil berdasarkan
suhu badan bayi dalam rentang 36,5 0C – penelitian sebelumnya yang mendekati
0
37,5 C, frekuensi nadi bayi dalam rentang tujuan penelitian ini yaitu penelitian yang
120 x/menit – 160 x/menit, bayi prematur dilakukan oleh Bayuningsih (2011) hasil
yang tidak mengalami masalah respiratori, julah sampel sebelum intervensi adalah 15
bayi prematur yang dirawat dalam dan setelah intervensi 15, rata-rata saturasi
inkubator. oksigen sebelum intervensi yaitu 96,60
Sedangkan subyek yang memenuhi (standar deviasi 2,53) rata-rata saturasi
kriteria inklusi tapi tidak bisa oksigen sesudah intervensi yaitu 98,07
didikutsertakan dalam penelitian (standar deviasi 1,751) pada tingkat
dikarenakan berbagai sebab dikelompokan kemaknaan 5% dan kekuatan uji 90%
dalam kriteria eklusi, yaitu bayi prematur maka jumlah sampel yang didapatkan
yang menderita syndrom neurologis adalah 23 orang bayi prematur.
kelainan kongenital menurut catatan Validitas dan Reabilitas Instrumen
medik dan bayi prematur yang orang Validitas dalam penelitian ini dilakukan
pada alat ukur yaitu oksimetri (untuk

363
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017
saturasi) , monitor (untuk pernapasan) dan Kegiatan memasukan data penelitian
timbangan berat badan dengan cara ke dalam paket program
melakukan peneraan (kalibrasi) terlebih komputer.yaitu program analisis
dahulu sebelum penggunaan. Adapun statistik.
penilaian perilaku bayi menggunakan alat 4. Cleaning
ukur yang sudah baku yaitu Anderson Cleaning data merupakan kegiatan
Behavioral State Scale (ABSS) yang meneliti apakah data yang sudah
sudah valid dan digunakan dalam dimasukan memiliki kesalahan atau
penelitian sebelumnya dengan jalan tidak, dengan cara mengetahui missing
content-related-validity. data (tidak ada data yang hilang),
Uji Reliabilitas dilakukan dengan cara : mengetahui variasi data, dan
stability atau konsistensi hasil pengukuran mengetahui konsistensi data.
instrumen dengan jalan membandingkan Analisa Data
pengukuran pertama dengan yang kedua Analisa data dilakukan secara univariat
pada responden yang sama. dan bivariat. Analisa univariat untuk
Pengolahan Data menggambarkan karakteristik data
1. Editing demografi responden dan frekuensi napas,
Editing data merupakan kegiatan yang nadi, saturasi oksigen , dan perilaku bayi
dilakukan untuk memeriksa apakah prematur sebelum dan sesudah intervensi
alat pengumpulan data sudah lengkap, yang ditampilkan dalam mean, median,
jelas, relevan dan konsisten. Dalam standar deviasi, nilai maksimum-
penelitian ini, tahapan kegiatan editing minimum. Analisa bivariat dilakukan
dilakukan untuk menilai kelengkapan untuk mengetahui perbedaan skor
data penelitian yang telah diperoleh. frekuensi napas, denyut nadi, saturasi
2. Coding oksigen dan perilaku bayi prematur antara
Coding data merupakan kegiatan yang sebelum dan setelah intervensi. Dalam
dilakukan untuk mengubah data penelitia ini untuk frekuensi nafas dan
penelitian dari data yang berbentuk saturasi oksigen menggunakan uji t
huruf menjadi data yang berbentuk sementara untuk frekuensi nadi dan
bilangan untuk mempermudah dan perilaku menggunakan uji Wilcoxon.
mempercepat saat entery dan analisis
data dilakukan. Dalam penelitian ini HASIL PENELITIAN

coding dilakukan berdasarkan rencana Analisis Univariat

hasil ukur yang telah disusun dalam 1. Fisiologis Bayi Prematur

definisi operasional. Fungsi fisiologis bayi prematur pada

3. Processing fase non nesting dan fase nesting


adalah sebagai berikut :

364
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017

Tabel 4.1: Distribusi Frekwensi Napas , Frekwensi Nadi, dan Saturasi Oksigen
Pada Fase Nesting dan Non Nesting Di Perinatologi RSUD
Tasikmalalaya, Mei-Juni 2013 (n=23)
Variabel Rata- Median Standar Terendah Tetinggi 95% CI
rata Deviasi
Frekwensi Napas
Fase Non Nesting 58,04 60 10,60 40 72 53,46-62,63
Fase Nesting 56,17 58 10,26 72 70 51,74-60,61
Frekwensi Nadi
Fase Non Nesting 113,87 120 28,69 60 169 101,46-126,28
Fase Nesting 110,09 112 33,42 56 160 95,64-124,54
Saturasi Oksigen
Fase Non Nesting 94,91 95 2,98 85 98 93,62-96,20
Fase Nesting 97,30 97 1,26 95 99 96,76-97,85

2. Perilaku Bayi Prematur


Perilaku bayi prematur pada saat fase non nesting dan fase nesting adalah sebagai
berikut :
Tabel 4.2: Distribusi Perilaku Fase Nesting dan Non Nesting Di Perinatologi
RSUD Tasikmalalaya, Mei-Juni 2013 (n=23)
Variabel Rata- Median Standar Terendah Tetinggi 95% CI
rata Deviasi
Perilaku
Fase Non Nesting 6,22 6 2,92 2 11 4,95-7,48
Fase Nesting 3,61 2 2,27 1 8 2,63-4,59

Analisa Bivariat value > 0,05. Sehingga untuk perubahan


Dalam data penelitian didapatkan fisiologis frekwensi napas dan saturasi
nilai p value < 0,05 untuk frekwensi nadi oksigen menggunakan uji parametrik,
fase non nesting dan perilaku fase nesting. sedangkan untuk frekwensi nadi dan
Sedangkan untuk variabel frekwensi napas perilaku bayi prematur menggunakan uji
dan saturasi oksigen baik fase nesting non parametrik.
maupun non nesting didapatkan nilai p

Tabel Analisa Pengaruh Penggunaan Nesting Terhadap Perubahan


4.3: Fisiologis Frekwensi Napas Bayi Prematur di Perinatologi RSUD
Tasikmalaya, Mei-Juni 2013
Variabel n Rerata SD t P value
Frekwensi Napas
Fase Non Nesting 23 58,04 10,60 1,654 0,112
Fase Nesting 23 56,17 10,26

Rata-rata frekwensi napas pada fase frekwensi napas adalah 56,17 x/menit
non nesting adalah 58,04 x/menit dengan standar deviasi 10,26 x/menit.
dengan standar deviasi 10,60 x/menit. Terlihat nilai mean perbedaan anara
Pada fase nesting didapat rata-rata fase non nesting dan fase nesting
365
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017
adalah 1,87x/menit dengan standar yang signifikan antara frekwensi
deviasi 5,42x/menit. Hasil uji statistik napas fase non nesting dan fase
didapatkan nilai 0,112 maka nesting.
disimpulkan tidak ada perbedaan

Tabel 4.4: Analisa Pengaruh Penggunaan Nesting Terhadap Perubahan


Fisiologis Frekwensi Nadi Bayi Prematur di Perinatologi RSUD
Tasikmalaya, Mei-Juni 2013 (n=23)
Variabel n Rerata SD Z P value
Frekwensi Nadi
Fase Non Nesting 23 113,87 28,69 0,522 0,601
Fase Nesting 23 110,09 33,42

Rata-rata frekwensi nadi pada fase Hasil uji statistik didapatkan nilai
non nesting adalah 113,87 x/menit 0,601 maka disimpulkan tidak ada
dengan standar deviasi 28,69 x/menit. perbedaan yang signifikan antara
Pada fase nesting didapat rata-rata frekwensi nadi fase non nesting dan
frekwensi nadi adalah 110,09 x/menit fase nesting.
dengan standar deviasi 33,42 x/menit.

Tabel 4.5: Analisa Pengaruh Penggunaan Nesting Terhadap Perubahan


Fisiologis Saturasi Oksigen Bayi Prematur di Perinatologi RSUD
Tasikmalaya, Mei-Juni 2013 (n=23)
Variabel n Rerata SD t P value
Saturasi Oksigen
Fase Non Nesting 23 94,91 2,98 -4,802 0,000
Fase Nesting 23 97,30 1,26

Rata-rata saturasi oksigen pada fase nesting dan fase nesting adalah -
non nesting adalah 94,91% dengan 2,39% dengan standar deviasi 2,39%.
standar deviasi 2,98%. Pada fase Hasil uji statistik didapatkan nilai
nesting didapat rata-rata saturasi 0,000 maka disimpulkan ada
oksigen adalah 97,30% dengan perbedaan yang signifikan antara
standar deviasi 1,26%. Terlihat nilai saturasi oksigen fase non nesting dan
mean perbedaan anara fase non fase nesting.

Tabel 4.6: Analisa Pengaruh Penggunaan Nesting Terhadap Perubahan


Perilaku Bayi Prematur di Perinatologi RSUD Tasikmalaya, Mei-
Juni 2013 (n=23)
Variabel n Rerata SD Z P value
Perilaku Bayi
Fase Non Nesting 23 6,22 2,92 3,412 0,001
Fase Nesting 23 3,61 2,27

366
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017

Rata-rata perilaku bayi pada fase non ada, tanpa mimik wajah namun
nesting adalah 6,22 dengan standar terkadang dapat melakukan gerakan
deviasi 2,92. Pada fase nesting menghisap dengan teratur (Als, 1995
didapat rata-rata perilaku bayi adalah dalam Hockenberry & Wilson; Wong
3,61 dengan standar deviasi 2,27.. et al, 2009).
Hasil uji statistik didapatkan nilai 2. Fungsi fisiologis frekwensi nadi
0,001 maka disimpulkan ada Hasil penelitian menunjukan rerata
perbedaan yang signifikan antara frekwensi nadi pada fase nesting
perilaku bayi pada fase non nesting mengalami sedikit penurunan
dan fase nesting. dibandingkan dengan pada saat non
nesting. Namun hasil analisis statistik
PEMBAHASAN
menunjukan bahwa tidak terdapat
Fungsi fisiologis bayi prematur sebelum
perbedaan bermakna dari penurunan
dan setelah menggunakan nesting di ruang
rerata frekwensi nadi. Denyut nadi
Perinatologi RSUD Kota Tasikmalaya
merupakan denyutan atau dorongan
1. Fungsi fisiologis frekwensi napas
yang dirasakan dari proses
Hasil penelitian menunjukan rerata
pemompaan jantung. Setiap kali bilik
frekwensi napas pada fase nesting
jantung menegang untuk
mengalami sedikit penurunan
menyemprotkan darah ke aorta yang
dibandingkan dengan pada saat non
sudah penuh, maka dinding arteria
nesting. Namun hasil analisis statistik
dalam sistem peredaran darah
menunjukan bahwa tidak terdapat
mengembang untuk mengimbangi
perbedaan bermakna dari penurunan
bertambahnya tekanan.
rerata frekwensi napas yang lebih
Mengembangnya aorta menghasilkan
rendah. Artinya bahwa selama fase
gelombang di dinding aorta yang
nesting dilakukan, didapatkan rerata
akan menimbulkan dorongan atau
frekwensi napas yang lebih rendah.
denyutan (Alimul, 2006). Proses
Dalam penelitian ini rarata frekwensi
perubahan denyut nadi tersebut
napas pada fase nesting mengalami
dipengaruhi oleh perubahan
penurunan, dimana pada fase nesting
kecepatan jantung terhadap
juga 50% bayi berada di bawah skor
rangsangan yang ditimbulkan oleh
2 dengan kata lain bayi sedang ada
sistem saraf simpatis dan saraf
dalam kondisi tidur tenang yang lebih
parasimpatis. Rangsangan simpatis
banyak. Pada saat keadaan tidur
dapat menambah kecepatan denyut
tenang bayi akan tidur sangat tenang
jantung seperti ketika tubuh dalam
meskipun terkadang terkejut atau ada
keadaan terjaga atau cemas,
kedutan, pola nafas teratur, gerakan
sedangkan rangsangan parasimpatis
ekstermitas dan kelopak mata tidak
dapat mengurangi kecepatan denyut
367
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017
nadi seperti pada kondisi tidur dibandingkan pada saat fase non
tenang. nesting.
Bobak et all (2005) mengatakan 3. Fungsi fisiologis saturasi oksigen
bahwa frekwensi denyut nadi bayi Hasil penelitian menunjukan rerata
berbeda pada saat tidur tenang dan saturasi oksigen pada fase nesting
terjaga. Pada bayi baru lahir rerata mengalami peningkatan
denyut nadi pada saat tidur sebesar dibandingkan dengan pada saat non
128 x/menit dan pada saat terjaga nesting. Hasil analisis statistik
sebesar 163 x/menit. Dalam menunjukan bahwa terdapat
penelitian ini pada fase nesting perbedaan bermakna dari
denyut nadi mengalami penurunan peningkatan rerata saturasi oksigen.
menjadi 110,09 x/menit, dimana Hal ini sejalan dengan hasil
dalam fase ini juga bayi berada dalam penelitian yang dilakukan oleh
kondisi tidur tenang. Guyton (1995) Bayuningsih (2011) yang
menerangkan bahwa pada fase tidur menyatakan bahwa terdapat
tenang ini terjadi penurunan tonus perbedaan yang signifikan nilai
vaskuler perifer dan tekanan darah saturasi oksigen antara penggunaa
arteri, penurunan frekwensi denyut nesting dengan posisi prone pada
nadi, dilatasi pembuluh darah kulit, kelompok intervensi dibandingkan
kegiatan gastrointestinal kadang- dengan kelompok kontrol.
kadang meningkat, serta otot-otot Saturasi oksigen merupakan
mengalami keadaan istirahat persentase jumlah hemoglobin yang
sempurna. Olehkarena itu, dalam teroksigenasi di dalam darah
penelitian ini didapatkan frekwensi (Hockenberry & Wilson, 2007).
denyut nadi lebih rendah pada fase Hemoglobin berperan dalam
nesting karena pada saat yang mengikat oksigen dalam setiap
bersamaan responden berada pada molekulnya. Hemoglobin ini
kondisi tidur gelombang lambat. merupakan suatu senyawa protein
Denyut nadi juga akan dipengaruhi yang memiliki empat sub unit rantai
oleh kadar oksigen darah. Bila polipeptida dan globin dan profin
keadaan bayi hipoksia maka jantung yang masing-masing mengandung
yang akan meningkatkan frekuensi heme, dan heme ini mengandung
dan kekuatan kontraksi untuk suatu atom besi dalam bentuk ferro.
mensirkulasikan lebih banyak Sehingga satu hemoglobin memiliki
oksigen guna memperbaiki keadaan empat atom besi yang akan mengikat
hipoksia. Namun pada penelitian ini empat molekul oksigen. Oleh sebab
bayi memiliki nilai saturasi oksigen itu bila kadar hemoglobin dalam
yang meningkat pada fas nesting

368
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017

darah kurang akan mempengaruhi berada di bawah skor 6. Sedangkan


saturasi oksigen di dalam tubuh. pada fase nesting 50% bayi prematur
Pada penelitian ini Saat bayi lahir, berada pada skor perilaku 2 (tidur
nilai rata-rata hemoglobin lebih tinggi tenang) dan 50 % lagi berada di
dari nilai normal orang dewasa. bawah skor 2. Semakin kecil skor
Hemoglobin bayi baru lahir berkisar perilaku menunjukan kualitas tidur
antara 14,5 sampai 22,5 g/dl dan akan bayi prematur semakin baik.
berangsur turun samapai mencapai Sedangakan skor perilaku di atas 4
kadar rata-rata 11 sampai 17 g/dl menunjukan bayi dalam kondisi
pada ahir bulan pertama kehidupan bangun, dimana dalam kondisi
(Bobak, 2005). Dalam penelitian ini bangun ini konsumsi oksigen pada
bayi rata-rata ada pada usia 7 hari dan bayi prematur akan lebih tinggi
sebagian besar responden memiliki (Ludington, 1990).
nilai Hb pada ambang normal. Maka Pada seorang bayi kondisi
hal ini bisa menunjang terhadap tidur tenang ini adalah hal yang
peningkatan saturasi oksigen dalam sangat diperlukan, dimana dalam
darah bayi prematur tersebut. kondisi ini bayi akan terfasilitasi
Perilaku bayi prematur sebelum dan untuk mengoptimalisasikan proses
setelah menggunakan nesting di tumbuh kembangnya. Karena dengan
ruang Perinatologi RSUD Kota adanya penurunan tonus vaskuler
Tasikmalaya ferifer , tekanan darah arteri,
Hasil penelitian menunjukan frekwensi denyut nadi serta otot-otot
bahwa rerata skor perilaku selama yang mengalami keadaan istirahat
fase non nesting dan fase nesting sempurna selama tidur tenang ini
mengalami penurunan dari 6 selama akan menjadikan bayi menggunakan
fase non nesting menjadi 3 pada fase energi yang ada untuk pertumbuhan
nesting. Penurunan skor ini dan perkembangannya (Guyton,
menunjukan perilaku bayi prematur 1995; Wong et al, 2009). Dengan
mengalami perubahan dari kondisi berkurangnya aktivitas motorik
bangun (skor 5-12) ke kondisi tidur merupakan indikasi bayi dalam
(1-4). Hasil uji statistik disimpulkan keadaan istirahat dan terjadinya
ada perbedaan yang signifikan antara proses konservasi energi.
perilaku bayi pada fase non nesting Dengan kondisi bayi dalam
dan fase nesting. keadaan tidur tenang ini
Hasil analisis menunjukan mengimplikasikan bayi dalam
bahwa pada fase non nesting 50 % keadaan rileks dan kegiatan motorik
bayi berada di atas skor 6 (fase minimal dengan bantuan nesting
bangun dan menangis) dan 50 % lagi tersebut. Hal ini sesuai dengan
369
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017
penelitian yang dilakukan Ferrari et mungkin mencoba untuk
all (2007) bahwa berbaring di nesting meningkatkan suhu tubuh dengan
memiliki efek besar terhadap perilaku menangis atau meningkatkan
motorik spontan. aktivitas motorik dalam berespon
Dengan demikian, pendapat terhadap ketidaknyamanan karena
peneliti tentang pengaruh nesting suhu lingkungan ekstrauterin lebih
terhadap perubahan fisiologis dan rendah. Namun dengan menagis akan
perilaku bayi prematur telah dapat meningkatkan beban kerja, dan
dibuktikan. Dengan penggunaan penyerapan energi (kalori) bisa
nesting tersebut akan mengurangi berlebihan, terutama pada bayi
gerakan tiba-tiba yang bisa prematur yang memiliki lemak
meningkatkan stres pada bayi, dan subkutis yang lebih sedikit dan rasio
memfasilitasi terjadinya fleksi dan luas permukaan terhadap massa lebih
adduksi tungkai sehingga besar, serta memiliki kepala yang
memudahkan gerakan anggota badan secara proporsional lebih besar.
bayi menuju garis tengah. Hal ini, Penurunan suhu akan merangsang
pada gilirannya akan meningkatkan pembebasan noradrenalin dari ujung
kontak anggota badan dengan bagian saraf simpatis yang merangsang sel
lain dari tubuh seperti dalam lemak cokelat. Katekolamin dari
kehidupan janin di dalam rahim. medula adrenal dan tiroksin (T4) dari
Tangan-tangan kontak, tangan-kepala kelenjar tiroid memperkuat efek
kontak, tangan menyentuh bahu, noradrenalin. Konsumsi oksigen dan
tangan dan kaki kontak dan kaki laju metabolisme meningkat sebagai
dengan kaki pun kontak. Keadaan ini respon terhadap penurunan suhu.
menawarkan umpan balik Pembentukan panas melibatkan
exteroceptive dan propioseptif sistem lipolisis sel lemak cokelat, yang
saraf pusat secara terus menerus bergantung pada ketersediaan
(Ferarri et all, 2007). oksigen, ATP dan glukosa. (Bobak et
Dengan nesting dapat al, 2005; Coad & Dunstall, 2007;
mencegah pelepasan panas karena Scanlon & Sunders, 2007; Ferrari et
posisi fleksi mengurangi pemajanan al, 2007).
permukaan tubuh pada suhu Maka dengan tujuan nesting sebagai
lingkungan. Bayi dapat menghasilkan salah satu bentuk intervensi
panas dari proses metabolik dan developmental care untuk
peningkatan aktivitas, sehingga mempertahankan konservasi energi
perubahan postur dan pengaturan sebagai hasil dari adaptasi bayi
posisi bayi juga penting untuk prematur dalam menghadapi kondisi
menghemat panas. Bayi normal ekstrauterin bisa dicapai sehingga

370
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017

bayi pada akhirnya dapat nesting dengan fase nesting dengan


menjalankan pertumbuhan dan nilai p value > 0,05.
perkembangannya dengan optimal. Saran
1. Pelayanan Keperawatan
SIMPULAN DAN SARAN
Hasil penelitian menunjukan bahwa
Simpulan
penggunaan nesting ini dapat
1. Rerata frekwensi napas bayi prematur
memfasilitasi pengaturan fisiologis
mengalami penurunan pada fase
dan perilaku bayi prematur melalui
nesting yaitu 56,17 x/menit dari
ketraturan frekwensi napas, frekwensi
58,04 x/menit pada fase non nesting.
nadi, saturasi oksigen dan perilaku
Begitu pula dengan frekuensi nadi
bayiprematur sebagai bentuk
bayi prematur yang mengalami
penurunan stresor bagi bayi prematur
penurunan pada saaf fase nesting
di ruang perawatan intensif. Oleh
yaitu 113,87 x/menit dari 95,64
karena itu penggunaan nesting ini
x/menit pada fase non nesting.
bisa diterapkan sebagai bentuk
Sementara untuk saturasi oksigen
intervensi dan implementasi
pada fase nesting mengalami
keperawatan yang berbasis
peningkatan yaitu 97,30 %
pembuktian ilmiah.Untuk penerapan
dibandingkan pada saat fase non
nesting ini tidak hanya bisa dilakukan
nesting dengan rerata 94,91 %..
di lingkungan rumah sakit tetapi juga
2. Rerata perilaku bayi prematur
di lingkungan masyarakat dengan
mengalami penurunan pada saat fase
jalan sosialisasi.
nesting dibandingkan pada fase non
2. Penelitian Keperawatan
nesting. Rata-rata perilaku bayi
Penelitian ini bisa dijadikan landasan
prematur pada fase non nesting
atau dasar bagi penelitian selanjutnya
adalah 6,22 dan menurun pada fase
mengenai pengaruh nesting terhadap
nesting yaitu 3,61.
perubahan fisiologis dan perilaku
3. Terdapat perbedaan signifikan nilai
bayi prematur dengan jumlah sampel
saturasi oksigen dan perilaku bayi
yang lebih representatif. Selain itu
prematur antara fase nesting dan fase
juga dapat dilakukan pada kelompok
non nesting dengan nilai p value
kontrol yang berbeda dengan
0,000 < 0,05. Sementara untuk
mengamati setiap menit terhadap
frekwensi napas dan frekwensi nadi
perubahan fifiologis dan perilaku
hasil analisa statistik menunjukan
bayi prematur tersebut.
tidak terdapat perbedaaan yang
signifikan antara frekwensi napas dan DAFTAR PUSTAKA
frekwensi nadi pada saat fase non Als, H., Lawhon, G., Duffy, F.H.,
McAnulty, G.B., Grossman, L.G.,

371
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017
& Blickman, J.G. (1994). developmental care program in
Individualized developmental care neonatal intensive care unit. Journal
for the very low-birth-weight for specialisis in pediatric nursing,
preterm infant : Medical and 13 (4); 281-291
neurofunctional effect. JAMA. Brooker, C. (2005). Ensiklopedia
272(11), 853-858. Keperawatan. Jakarta : EGC.
Als, H. (1986) A Synactive Model Of BLISS. (2006). Handle me with care
Neonatal Behavioral supportig your premature baby’s
Organization_Physical and development. Association of
Occupationnal Theraphy In Pediatric Chartered Physiotherapists
Pediatric, 6,3-53, dalam Neonatal Group. BLISS : London.
Symingtion, A.J., & Pinelli, J diunduh pada tanggal 27 Maret
(2006) Developmental Care For 2013.
Promoting, Developmental and Byers, et al. (2006). A quasi-experimental
Preventing Morbidity In Pretern trial on individualized,
Infants. www.conchrane.org developmentally suportif family
Aylott, M. (2006). The neonatal energy centered care. JOGNN, 35 : 105-
triangle : Metabolic adaptation. 115, diunduh pada tanggal 5 Mei
Pediatric Nursing, 18 (6), 38-42. 2013 dari
Bayuningsih, R. (2011). Tesis : Efektivitas http://onlinelibrary.wiley.com.
penggunaan nesting dan posisi Chandra S, Boumgart S. (2005). Fetal and
prone terhadap saturasi oksign dan Neonatal thermal regulation. Dalam
frekuensi nadi pada bayi prematur : Spitzer AR penyunting. Intensiv
di RSUD Bekasi. Tidak care of fetus and neonates. Edisi ke
dipublikasikan. Depok : Universitas 2. Philadelphia : Elseiver Mosby., h.
Indonesia 495-513.
Berman, A., Snyder, S., & Kozier, B. Clevelan Hospital.newborn behavior,
(2009). Praktik Keperawatan diunduh dari URL
Klinis. Jakarta : EGC. http://clevelandclinic.org/health.
Bobak; Lowdermilk; & Jensen. (2005). Coad, J; & Dunstall, M. (2007). Anatomi
Buku Ajar Keperawatan dan Fisiologi Untuk Bidan. Jakarta :
Maternitas. Edisi 4. Jakarta : EGC. EGC.
Brazelton TB.Preface. Pediatrics. 2004; Depkes RI (2006). Pedoman Pelaksanaan
113 (3) : 632-3. Diunduh dari URL: Stimulasi: Deteksi, dan Intervensi
http://pediatrics.aapublications.org. Dini Tumbuh Kembang Anak Di
Breedmeyer, S. Reid, S., Polverino, J., & Tingkat Pelayanan Kesehatan
Wocaldo, C. (2008).Implementation Dasar. Jakarta: Dirjen Bina
and evaluation of an individualized Kesehatan Masyarakat, Depkes RI

372
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017

Ferrari, F, Bertoncelli, N, Gallo, C, Hockenberry, M.J, & Wilson , D. (2007).


Roversi, M., F, Guerra, M., PP, Wong’s : Nursing Care of Infants
Ranzi, A, & Hadders, A., M. and Children. St; Louis : Mosby.
(2007). Posture and movement in Holly, J., D, & Patrick, M., E. (2012).
healthy preterm infants in supine Soothability and growth in preterm
position in and outside the nest. infants. American Holistic Nurses
Arch Dis Child Fetal Neonatal, 92 Association. 30(1): 38-47. diunduh
(5) : 386-390.diunduh pada tanggal pada tanggal 15 februari 2013 di
12 maret 2013. http://www.sagepublications.com.
Fleisher, B., E, Vandenberg, K, Information about newborns.htm,
Constantinou, J, Heller, C, Benitz, Diunduh dari URL :
W., E, Johnson, et al. (1996)). http://pediatrics.
Individualized developmental care Aappublications.org/cgi/content.
for very low-birth-weight premature Kenner, C., & Mc. Grath., J.M (2004).
infants. Standford University Developmental Care Of New Borns
School of Medicine, California : & Infants: A guide For Health
USA. Professionalis. St. Louis: Mosby Inc
Grenier, I.R., Bigsby, R., Vergara, E, R., Kosim, M.S., Yunanto, A. Dewi, R,
& Lester, B. M. Comparasion of Surosa, G.I & Usman, A (2010).
mootor self –regulatory and stress Buku Ajar Neonatologi. Jakarta:
behaviors of preterm infants across Ikatan Dokter Anak Indonesia
body positions. American Journal of Lissauer, T., Fanarrof, A. (2009). At a
Occupational Therapy, 57, 289-297. glance : neonatology. Jakarta :
diunduh pada tanggal 11 Maret Erlangga.
2013. LPPM STIKES Jenderal Achmad Yani.
Goldsmith, J., & Karotkin., E., H, (2003). (2013). Pedoman penulisan dan
Assistedd ventilation of the petunjuk pembuatan tesis. Cimahi :
neonatal. Philadelphia : Saunders STIKES A. Yani.
Inc. MacGregor, J. (2008). Introduction to the
Guyton, A.C (1995). Fisiologi Manusia anonimity and phisiology of
dan Mekanisme Penyakit (edisi 3) children: A guide for students of
Jakarta: EGC nursing. child care and health (2nd
Hidayat, A. (2005). Asuhan neonatus bayi edition). New York : Routledge.
dan balita : Buku praktikum McGrath, J.M., Lutes, L., Kenner, C., Lot,
mahasiswa kebidanan . Jakarta : J,W., Strodbeck, F, S. (2002).
EGC. Commentary : Developmental care
: Accptable or not ? Newborn &
Infant Nursing Reviews, 2(1) : 46-
373
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada
Volume 17 Nomor 2 Agustus 2017
48. diunduh pada tanggal 7 april Slevin, M, Murphy, J., F, Daly, L, et al.
20013 dari www.nair.com. (1997). Retinopathy of prematurity
Nelson, B. (2000). Ilmu kesehatan anak screening, stress related respones,
Vol 2. Jakarta : EGC. the role of nesting. British Journal
Notoatmodjo, S. (2002). Metodologi of Opthalmology. 81 : 762-764.
penelitian kesehatan. Jakarta : diunduh pada tanggal 27 maret
Rineka Cipta. 2013.
Polit, D.F & Beck , C.T. (2004). Nursing Sugiyono. (2008). Statistik untuk
researsch : principle and methods. penelitian. Bandung : Alfabeta.
Philadhelphia : Lipincot. Surasmi, A., Handayani, S., & Kusuma,
Priya, G. S.K & Biljani, J. (2005). Low H.N. (2002). Perawatan Bayi
cost positioning device for nesting Resiko Tinggi. Jakarta : EGC.
preterm and low birth weight Syahreni, E. (2010). Tesis : Pengaturan
neonates. Practical on call Child pengaruh stimulus sensori terhadap
Health Care, 5(3). diunduh pada respon fisiologis dan perilaku
tanggal 7 april 2013 di BBLR di RSUPN Dr. Cipto
http/www.pediatriconcall.com/ford Mangunkusumo. Tidak
octor/conference. dipublikasikan. Depok : Universitas
Resnick, M.B., Eyler, F.D., Nelson, R.M., Indonesia
Eitzman, D.V., & Buciarelli, R.L. Tomey, A.M., & Alligood, M.R.(2006).
(1987). Developmental intervention Nursing theory. Missouri : Mosby,
for low birth weight infants : Inc.
infroved early developmental Wijaya, A.M. (2009). Kondisi angka
outcome. Pediatrics, 80 : 68-74, kematian neonatal (AKN), angka
diunduh pada tanggal 5 april dari kematian bayi (AKB), angka
www.pediatric.org. kematian balita (AKBAL), angka
Scanlon, V.C; & Sanders, T. (2007). Buku kematian ibu (AKI) dan
Ajar Anatomi dan Fisiologi. Edisi 3. penyebabnya di Indonesia (2009),
Jakarta : EGC. http:www.infodokterku.com
SDKI: (2007). diperoleh pada 15 Februari 2013.
http://menegpp.go,id/aplikasidata/in Wong, D.L., Eaton, M. H., Wilson, D.,
dex/php?option.com diperoleh pada Winkelstein, L. M., & Schhwartz,
tanggal 29 Juli 2013 P. (2009). Buku Ajar Keperawatan
Pediatrik. (Edisi 6). Jakarta : EGC.

374