Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

BEA MATERAI
(Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perpajakan 1)

Dosen Pengampu:
Merida, M.Ak.

Disusun Oleh:
Kelompok 05

K.M.Fathurrahman A.Q (1716220014)


Sherlina Seliawati (1716220032)
Siti Aisyah Nurrochmah F (1716220041)
Siti Aifiah (1716220074)
Jernih Aspintar Zega (1716220081)
Winda Mengku Pangesti (1716220076)
Septiria Astuti (1716220028)
Sepriman Laowo (1716220061)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI
PUTRA PERDANA INDONESIA
(2019)
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa, yang telah
mencurahkan nikmatnya serta kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah kami yang berjudul “Bea Materai”. Makalah ini kami buat dalam rangka
memenuhi tugas dari salah satu mata kuliah kami yaitu Perpajakan 1.
Kami mempersembahkan makalah mengenai bea materai yang diringkas dari
beberapa sumber dari internet yang secara garis besar membahas tentang
penjelasan bea materai. Kami berusaha menyajikan makalah ini semaksimal
mungkin agar mudah untuk dibaca dan dipahami.
Demikian sepintas tentang makalah yang penulis sampaikan. Terima kasih
kepada dosen pengampu dan teman-teman yang telah membantu penyelesaian
makalah ini hingga selesai. Dalam menyusun makalah ini, penulis menyadari
bahwa masih banyak terdapat kekurangan, maka dari itu kritik dan saran yang
bersifat membangun sangat penulis harapkan demi penyempurnaan makalah ini.
Selebihnya penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
pembacanya.

Tangerang, 22 Juni 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................ ii

DAFTAR ISI .............................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ......................................................................................... 2
1.4 Metode Penulisan ........................................................................................ 2
1.5 Ruang Lingkup ............................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pegertian Bea Materai ................................................................................. 3
2.2 Dasar Hukum Bea Materai .......................................................................... 4
2.3 Prinsip Umum Pemungutan atau Pengenaan Bea Materai .......................... 6
2.4 Objek dan Bukan Objek Bea Materai .......................................................... 6
2.5 Tarif Bea Materai......................................................................................... 8
2.6 Saat Terhutang dan Cara Pelunasan Bea Materai ...................................... 10
2.7 Cara Penggunaan Bea Materai .................................................................. 11
2.8 Pemateraian Kemudian .............................................................................. 14
2.9 Sanksi-sanksi dan Daluwarsa Bea Materai ................................................ 17

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ................................................................................................ 21
3.2 Saran .......................................................................................................... 21

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 22

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bea Materai adalah pajak yang dikenakan atas dokumen (kertas yang
berisikan tulisan yang mengandung arti dan maksud tentang perbuatan,
keadaan, atau kenyataan bagi seseorang dan atau pihak yang berkepentingan)
yang menurut Undang-Undang Bea Materai (UU No 13 Tahun 1985 tentang
Bea Materai), menjadi obyek Bea Materai. Atas setiap dokumen yang
menjadi objek Bea Materai harus sudah dibubuhi benda meterai atau
pelunasan Bea Materai dengan menggunakan cara lain sebelum dokumen itu
digunakan.
Bea Materai yang dimaksud diatas adalah Materai tempel dan kertas
Materai yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Sedangkan tanda tangan yang
dimaksud yaitu tanda tangan sebagaimana lazimnya dipergunakan, termasuk
pula paraf, teraan atau cap tanda tangan atau cap paraf, teraan cap nama atau
tanda lainnya sebagai pengganti tanda tangan. Dokumen yang harus
dikenakan Bea Materai adalah dokumen yang menyatakan nilai nominal
sampai jumlah tertentu (Materai Rp 6.000,- digunakan untuk dokumen yang
memuat jumlah uang lebih dari Rp 1.000.000,- dan Materai Rp 3.000,-
digunakan untuk dokumen yang memuat jumlah uang Rp 250.000 – Rp
1.000.000,-), dokumen yang bersifat perdata dan dokumen yang digunakan
dimuka pengadilan. Secara Umum dokumen yang tidak dikenakan Bea
Materai adalah dokumen yang berhubungan dengan transaksi intern
perusahaan, berkaitan dengan pembayaran pajak dan dokumen negara.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian bea materai?
2. Bagaimana dasar hukum bea materai?
3. Apa prinsip umum pemungutan atau pengenaan bea materai?
4. Apa saja objek dan bukan objek bea materai?
5. Bagaimana tarif bea materai?
6. Bagaimana saat terhutang dan cara pelunasan bea materai?
7. Bagaimana cara penggunaan bea materai?
8. Apa itu pemateraian kemudian?
9. Apa saja sanksi-sanksi dan daluwarsa bea materai?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun Tujuan Penulisan karya tulis ini adalah:
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui mengenai bea materai
2. Agar mahasiswa melatih menyusun makalah dalam upaya untuk
meningkatkan pengetahuan, menganalisis data, dan kreatifitas
mahasiswa.
3. Agar mahasiswa lebih mudah memahami mengenai bea materai secara
terperinci.

1.4 Metode Penulisan


Metode penulisan makalah ini menggunakan metode pustaka dan metode
searching melalui internet mengenai makalah yang kami buat.

1.5 Ruang Lingkup


Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan yang penulis miliki maka
ruang lingkup karya tulis ini terbatas pada pembahasan mengenai bea materai.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Bea Materai


"Bea Materai adalah pajak tidak langsung yang dipungut secara
insidentil (sekali pungut) atas dokumen yang disebut oleh Undang-Undang
Bea Materai yang digunakan masyarakat dalam lalu lintas hukum sehingga
dokumen tersebut dapat digunakan sebagai alat bukti dimuka pengadilan."
Dengan kata lain, Bea Materai adalah pajak yang dikenakan atas
pemanfaatan dokumen, seperti surat perjanjian, akta notaris, kwitansi
pembayaran, surat berharga, dan efek, yang memuat jumlah uang atau
nominal diatas jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan dan dokumen yang
digunakan sebagai alat bukti di pengadilan.
Bea materai adalah pajak atas dokumen. Sedangkan dokumen adalah
kertas yang berisikan tulisan yang mengandung arti dan maksud tentang
perbuatan, keadaan, atau kenyataan bagi seseorang dan atau pihak – pihak
yang berkepentingan. Bea materai adalah pajak yang dikenakan atas dokumen
yang bersifat perdata dan dokumen untuk digunakan di pengadilan. Nilai bea
meterai yang berlaku saat ini Rp. 3.000,00 dan Rp. 6.000,00 yang disesuaikan
dengan nilai dokumen dan penggunaan dokumen.
Menurut Pasal 1 ayat 1 UU No. 13 tentang Bea Materai, fungsi bea
materai adalah pajak dokumen yang dibebankan oleh negara untuk dokumen
tertentu. Jadi dapat disimpulkan, fungsi materai tidak menentukan sah atau
tidaknya suatu perjanjian. Namun, jika surat pernyataan atau perjanjian
dimaksudkan sebagai alat bukti di pengadilan maka harus dilunasi materau
yang terutang.
Berikut ini subjek bea materai, diantaranya:
1. Pihak yang menerima atau mendapat manfaat dokumen, kecuali pihak
yang bersangkutan menentukan lain.

3
2. Dalam hal dokumen dibuat sepihak, seperti kwitansi, bea meterai
terutang oleh penerima kwitansi.
3. Dalam hal dokumen dibuat oleh dua pihak atau lebih, seperti surat
perjanjian dibawah tangan, maka masing-masing pihak terutang bea
materai.

2.2 Dasar Hukum Bea Materai


Dasar hukum Bea Materai serta aturan mengenai Bea Materai:
1. Undang Undang nomor 13 1985
Undang undang ini berlaku sejak tanggal 1 Januari 1986. Sebab
sebab dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 13 tahun 1985 tentang bea
materai yaitu agar lebih sederhana serta lebih sempurna, agar objek lebih
luas serta lebih mudah untuk dilaksanakan karena hanya mengenal satu
jenis bea materai yaitu materai 3000 dan 6000.
2. PP No. 24 tahun 2000
Peraturan ini sebelumnya merupakan Peraturan Pemerintah No. 7
tahun 1995 yaitu peraturan untuk mengatur pelaksanaan Bea Materai
yang pada akhirnya dirubah menjadi Peraturan Pemerintah No. 24 tahun
2000 yang berisikan tentang perubahan tarif Bea Materai dan Besarnya
batas Pengenaan Harga Nominal yang dikenakan Bea Materai. Peraturan
ini mulai berlaku sejak tanggal 1 Mei tahun 2000.
3. KMK RI Nomor 133b/KMK.04/2000
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonseia Nomor
133b/KMK.04/2000 tertanggal 28 April 2000 tentang pelunasan Bea
Materai dengan menggunakan cara lain. Diantaranya yaitu pada pasal 1
berisikan tentang pelunasan Bea Materai dengan cara lain yaitu dengan
membubuhkan tanda Bea Materai Lunas dengan menggunakan mesin
teraan materai, teknologi percetakan, sistem komputerisasi, dan alat lain
dengan teknologi tertentu. Pada pasal 2 pelunasan Bea Materai harus
mendapatkan izin tertulis dari Direktur Jenderal Pajak dan hasil

4
percetakan tanda Bea Materai Lunas harus dilaporkan kepada Direktur
Jenderal Pajak.
Pada pasal 3, pembubuhan Bea Materai Lunas dengan menggunakan
teknologi percetakan hanya boleh dilakukan oleh Perum Peruri atau
perusahaan lain yang sudah memiliki izin dari Badan Koordinasi
Pemberantasan Uang Palsu yang ditunjuk oleh Bank Indonesia dan masih
banyak yang lainnya.
4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 65/PMK.03/2014
Peraturan Mentri Keuangan Nomor 65/PMK.03/2014 tentang
bentuk, Ukuran, Warna Benda Materai. Pada peraturan ini dijelaskan
secara mendetail berapa ukuran dimensi materai, cetakan dasar, cetakan
utama, gambar serta penggunaan teks yang ada pada materai, berat dan
jenis kertas hingga penentuan warna pada materai.
5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 70/PMK.03/2014
Peraturan Mentri Keuangan Nomor 70/PMK.03/2014 tentang tata
cara pemateraian kemudian. Peraturan ini mulai berlaku sejak tanggal 25
April 2014, dengan berlakunya peraturan ini otomatis PMK Nomor
476/KMK.03/2002 tentang pelunasan Bea Materai dengan cara
pematraian kemudian dinyatakan tidak berlaku lagi.
6. Pada Peraturan Mentri Keuangan Nomor 70/PMK.03/2014 menetapkan
tata cara pemateraian kemudian merupakan cara pelunasan Bea Materai
yang dilakukan oleh pejabat pos atas permintaan pemegang dokumen
yang Bea Materainya belum dilunasi. Serta Hak dan Kewajiban pejabat
pos, pemilik dokumen dan kantor pelayanan pajak sehubungan dengan
pemateraian kemudian.
Jadi suatu dokumen yang Bea Materainya belum atau tidak dilunasi
bukan berarti tidak sah, sah atau tidaknya suatu dokumen tidak bergantung
pada pelunasan Bea Materai. Dokumen tetap sah akan tetapi harus dilakukan
pelunasan Bea Materainya terlebih dahulu dan dikenakan denda sebesar
200% pada kantor pos besar agar dokumen tersebut dapat digunakan.

5
2.3 Prinsip Umum Pemungutan atau Pengenaan Bea Materai
Prinsip umum dari Bea Materai sendiri yaitu:
1. Bea Meterai dikenakan atas dokumen (Bea materai merupakan pajak atas
suatu dokumen, seperti yang sudah dijelaskan yaitu pajak yang
dibebankan pada dokumen yang berisikan suatu perjanjian, pembayaran
atau mengandung arti penting lainnya).
2. Satu dokumen hanya terutang satu Bea Meterai.
3. Rangkap/tindasan (yang ikut ditandatangani) terutang Bea Meterai sama
dengan aslinya.
Bea Meterai adalah pajak atas dokumen. Dokumen adalah kertas yang
diberisikan tulisan yang mengandung arti dan maksud tentang perbuatan,
keadaan, atau kenyataan bagi seseorang dan atau pihak-pihak yang
berkepentingan. Benda Material adalah tempel dan kertas meterai yang
dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Tanda Tangan adalah tanda
tangan sebagaimana lazimnya diperlukan, termasuk pula paraf, teraan atau
cap tanda tangan atau cap paraf, teraan cap nama atau benda lainnya sebagai
pengganti tanda tanggan.
Yang menanggung Bea Meterai apabila ada sesuatu di kemudian hari
(pelanggaran administrasi) adalah pemegang dokumen. Yang terutang Bea
Meterai adalah orang-orang atau pihak-pihak yang mendapatkan manfaat dari
dokumen tersebut.

2.4 Objek dan Bukan Objek Bea Materai


1. Objek Bea Materai
Pada prinsipnya dokumen yang harus dikenakan materai adalah
dokumen menyatakan nilai nominal sampai jumlah tertentu, dokumen
yang bersifat perdata dan dokumen yang digunakan di muka pengadilan,
antara lain:
a. Surat perjanjian dan surat-surat lainnya (antara lain: surat kuasa,
surat hibah, surat pernyataan) yang dibuat dengan tujuan untuk

6
digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan
atau keadaan yang bersifat perdata.
b. Akta-akta notaris termasuk salinannya.
c. Akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah termasuk
rangkap-rangkapnya.
d. Surat yang memuat jumlah atau harga nominal yang dinyatakan
dalam mata uang asing yaitu:
1) yang menyebutkan penerimaan uang
2) yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang
dalam rekening bank
3) yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank
4) yang berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya atau
sebagian telah dilunasi atau diperhitungkan.
e. Surat berharga seperti wesel, promes dan aksep.
f. Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun.
g. Surat-surat biasa dan surat-surat kerumah tanggaan serta surat-surat
uang semula tidak dikenakan bea materai berdasarkan tujuannya,
jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain, lain
dari maksud semula, yang akan digunakan sebagai alat pembuktian
di muka pengadilan.
h. Cek dan bilyet giro.
2. Bukan Objek Bea Materai
a. Dokumen yang berupa:
1) surat penyimpanan barang;
2) konosemen;
3) surat angkutan penumpang dan barang;
4) keterangan pemindahan yang dituliskan diatas dokumen surat
penyimpanan barang, konosemen, dan surat angkutan
penumpang dan barang;
5) bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang;
6) surat pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan pengirim;

7
7) surat-surat lainnya yang dapat disamakan dengan surat-surat di
atas.
b. Segala bentuk ijazah
c. Tanda terima gaji, uang tunggu, pensiun, uang tunjangan dan
pembayaran lainnya yang ada kaitannya dengan hubungan kerja
serta surat-surat yang diserahkan untuk mendapatkan pembayaran
itu.
d. Tanda bukti penerimaan uang negara dari kas Negara dan kas
pemerintah daerah.
e. Kwitansi untuk semua jenis pajak dan untuk penerimaan lainnya
yang dapat disamakan dengan itu ke kas negara, kas pemerintah.
f. Tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern
organisasi.
g. Dokumen yang menyebutkan tabungan, pembayaran uang tabungan
kepada penabung oleh bank, koperasi, dan badan-badan lainnya yang
bergerak di bidang tersebut.
h. Surat gadai yang diberikan oleh Perum Pegadaian.
i. Tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek, dengan nama
dan bentuk apapun.
j. Apabila suatu dokumen (kecuali cek dan bilyet giro) mempunyai
tidak lebih dari Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah),
maka atas dokumen tersebut tidak terutang Bea Materai.

2.5 Tarif Bea Materai


Tarif Bea Meterai terbagi 2 (dua), yaitu Rp 3.000,00 dan Rp 6.000,00.
Perbedaan ini didasarkan atas ketentuan dokumen yang dikenakan.
1. Tarif Bea Meterai Rp. 3.000,00 Dikenakan atas Dokumen:
a. Surat yang membuat jumlah uang yang mempunyai harga nominal
lebih dari Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) tetapi
tidak lebih dari Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah): yang

8
menyebutkan penerimaan uang, yang menyatakan pembukuan uang
atau penyimpanan uang dalam rekening di bank, yang berisi
pemberitahuan saldo rekening di bank, yang berisi pengakuan bahwa
utang uang sebagian atau seluruhnya telah dilunasi atau
diperhitungkan;
b. Surat-surat berharga seperti : wesel, promes dan aksep yang harga
nominalnya lebih dari Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu
rupiah) tetapi tidak lebih dari Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah)
c. Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun, sepanjang harga
nominalnya lebih dari Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu
rupiah) tetapi tidak lebih dari Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah);
d. Cek dan bilyet giro dengan harga nominalnya berapapun.
2. Tarif Bea Meterai Rp. 6.000,00 Dikenakan atas Dokumen:
a. Surat perjanjian surat-surat lainnya (antara lain: surat kuasa, surat
hibah, dan surat pernyataan) yang dibuat dengan tujuan digunakan
sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau kedaan
yang bersifat perdata;
b. Akta-akta Notaris termasuk salinannya;
c. Akta-akta yang dibuat Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)
termasuk rangkap-rangkapnya;
d. Surat yang memuat jumlah yang mempunyai harga nominal lebih
dari Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), yang menyebutkan
penerimaan uang, yang menyatakan pembukuan uang atau
penyimpanan uang dalam rekening di bank, yang berisi
pemberitahuan saldo rekening di bank, yang berisi pengakuan bahwa
utang uang sebagai atau seluruhnya telah dilunasi atau
diperhitungkan;
e. Surat-surat berharga seperti: wesel, promes, dan aksep yang harga
nominalnya lebih dari Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah);
f. Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun sepanjang harga
nominalnya lebih dari Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah);

9
g. Dokumen-dokumen yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di
muka pengadilan: surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan,
surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan
tujuannya, jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan untuk
orang lain, lain dari maksud semula.

2.6 Saat Terhutang dan Cara Pelunasan Bea Materai


1. Saat Terhutang Bea Materai
Saat terutang bea materai adalah saat sebelum dokumen yang
terutang bea materai tersebut digunakan. Dalam Pasal 5 UU No. 13
Tahun 1985 disebutkan saat terutangnya bea materai sebagai berikut:
a. Dokumen yang dibuat oleh satu pihak
Saat terutangnya bea materai atas dokumen yang dibuat oleh
satu pihak adalah pada saat dokumen itu diserahkan dan diterima
oleh pihak untuk siapa dokumen itu dibuat,jadi bukan pada saat
ditandatangani,misalnya: cek, kuitansi.
b. Dokumen yang dibuat oleh lebih dari satu pihak
Saat terutangnya bea materai adalah pada saat selesai
dibuat,yang ditutup dengan pembubuhan tandatangan dari yang
bersangkutan. Misalnya: surat perjanjian jual beli.
c. Dokumen yang dibuat di luar negeri
Saat terutangnya bea materai adalah pada saat dokumen tersebut
digunakan di Indonesia.
Pihak yang terutang bea materai yaitu pihak yang menerima atau
pihak yang mendapat manfaat dari dokumen, kecuali pihak-pihak yang
bersangkutan menentukan lain.
2. Cara Pelunasan Bea Materai
a. Dengan menggunakan benda materai, yaitu:
1) Materai Tempel
2) Kertas Materai

10
b. Dengan cara lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan

2.7 Cara Penggunaan Bea Materai


Cara Penggunaan Bea Materai
a. Pelunasan Bea Meterai Dengan Menggunakan Meterai Tempel
Cara menggunakan meterai tempel:
1) Meterai tempel direkatkan seluruhnya dengan utuh dan tidak rusak
diatas dokumen yang yang dikenakan Bea Meterai.
2) Meterai Tempel direkatkan di tempat di mana tanda tangan akan di
bubuhkan.
3) Pembubuhan tanda tangan disertai dengan pencantuman tanggal,
bulan dan tahun dilakukan dengan tinta atau yang sejenis dengan itu
sehingga sebagian tanda tangan di atas kertas dan sebagin lagi di atas
Meterai Tempel.
4) Jika digunakan lebih dari satu meterai tempel, tanda tangan harus
dibubuhkan sebagian diatas semua meterai tempel dan sebagian lagi
di atas kertas.
b. Pelunasan Bea Meterai Dengan Menggunakan Kertas Meterai
Cara menggunakan Kertas Meterai:
1) Sehelai Kertas Meterai hanya dapat digunakan untuk sekali
pemakaian.
2) Kertas Meterai yang sudah digunakan, tidak boleh digunakan lagi.
3) Jika isi dokumen yang dikenakan Bea Meterai terlalu panjang untuk
dimuat seluruhnya diatas kertas meterai yang digunakan, maka untuk
bagian isi yang masih tertinggal dapat digunakan kertas yang tidak
bermeterai.
4) Jika sehelai Kertas Meterai karena suatu hal tidak jadi dugunakan
dan dalam hal ini belum di tandatangani oleh yang berkepentingan,
sedangkan dalam kertas meterai telah terlanjur ditulis dengan
beberapa kata/kalimat yang belum merupakan suatu dokumen yang

11
selesai dan kemudian tulisan yang ada pada kertas meterai tersebut
dicoret atau di muat tulisan atau keterangan baru, maka kertas
meterai yang demikian dapat digunakan dan tidak perlu dibubuhi
meterai lagi.
c. Pelunasan Dengan Membubuhkan Tanda Bea Meterai Lunas Dengan
Mesin Teraan
Pelunasan dengan cara ini memerlukan beberapa syarat:
1) Pelunasan Bea Meterai dengan Mesin Teraan meterai hanya
diperkenankan kepada penerbit dokumen yang melakukan
pemeteraian dengan jumlah rata – rata setiap hari minimal sebanyak
50 dokumen.
2) Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai
dengan Mesin Teraan meterai harus melakukan prosedur sebagai
berikut:
a) Mengajukan permohonan ijin secara tertulis kepada Kantor
Pelayanan Pajak setempat dengan mencantumkan jenis/merk
dan tahun pembuatan mesin teraan meterai yang digunakan,
serta melampirkan surat pernyataan dengan jumlah rata – rata
dokumen yang harus dilunasi Bea Meterai setiap hari.
b) Melakukan penyetoran Bea Meterai di muka minimal sebesar
Rp.15.000.000 dengan menggunakan Surat Setoran Pajak Ke
Kas Negara melalui Bank Persepsi.
c) Menyampaikan laporan bulanan penggunaan mesin teraan
meterai kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat paling
lambat tanggal 15 setiap bulan.
d) Ijin penggunaan mesin teraan meterai berlaku selama 2 tahun
sejak tanggal ditetapkannya, dan dapat diperpanjang selama
memenuhi persyaratan.
d. Pelunasan Dengan Membubuhkan Tanda Bea Meterai Lunas Dengan
Sistem Komputerisasi

12
1) Pelunasan Bea Meterai dengan Sistem Komputerisasi hanya
diperkenankan untuk dokumen yang berbentuk surat yang memuat
jumlah uang dalam Pasal 1 huruf d PP No.24 Tahun 2000 dengan
jumlah rata – rata pemeteraian setiap hari minimal sebanyak 100
dokumen.
2) Mengajukan permohonan ijin secara tertulis kepada Dirjen Pajak
dengan mencantumkan jenis dokumen dan perkiraan jumlah rata-rata
dokumen yang akan dilunasi Bea Meterai setiap hari.
3) Pembayaran Bea Meterai dimuka minimal sebesar perkiraan jumlah
dokumen yang harus dilunasi Bea Meterai setiap bulan, dengan
menggunakan Surat Setoran Pajak ke Kas Negara melalui Bank
Persepsi.
4) Menyampaikan laporan bulanan tentang realisasi penggunaan dan
saldo Bea Meterai kepada Dirjen Pajak paling lambat tanggal 15
seiap bulan.
5) Ijin pelunasan Bea Meterai dengan membubuhkan tanda Bea Meterai
Lunas dengan Sistem Komputerisasi berlaku selama saldo Bea
Meterai yang telah dibayar pada saat mengajukan ijin masih
mencukupi kebutuhan pemeteraian 1 bulan berikutnya.
e. Pelunasan Bea Meterai Dengan Teknologi Percetakan
1) Pelunasan Bea Meterai dengan Teknologi Percetakan hanya di
perkenankan untuk dokumen yang berbentuk cek, bilyet giro, atau
efek dengan nama dan dalam bentuk apapun.
2) Penerbit dokumen yang akan melakukan pelunasan Bea Meterai
dengan Teknologi Percetakan harus melakukan prosedur sebagai
berikut:
a) Pembayaran Bea Meterai dimuka sebesar jumlah dokumen yang
harus dilunasi Bea Meterai, dengan menggunakan Surat Setoran
Pajak ke Kas Negara melalui Bank Persepsi.

13
b) Mengajukan permohonan ijin secara tertulis kepada Dirjen Pajak
dengan mencantumkan jenis dokumen yang akan dilunasi Bea
Meterai dan jumlah Bea Meterai yang telah dibayar.
3) Perum Peruri dan Perusahaan Sekuriti yang melakukan pembubuhan
tanda Bea Meterai Lunas pada cek, bilyet giro, dan efek dengan
nama dan dalam bentuk apapun, harus menyampaikan laporan
bulanan kepada Dirjen Pajak paling lambat tanggal 10 setiap bulan.
4) Pelunasan Bea Meterai bagi dokumen yang dibuat di luar negeri.
Dokumen yang dibuat diluar negeri tidak dikenakan Bea Meterai
sepanjang tidak digunakan di Indonesia.

2.8 Pemateraian Kemudian


1. Pengertian Pemateraian Kemudian
Pemetaraian kemudian adalah suatu cara pelunasan Bea Materai
yang dilakukan oleh Pejabat Pos atas permintaan pemegang dokumen
yang Bea Meterainya belum dilunasi sebagaimana mestinya.
Pemeteraian kemudian dilakukan atas ;
a. Dokumen yang semula tidak terutang Bea Materai namun akan
digunakan sebagai alat pembuktian di Muka Pengadilan.
b. Dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi
sebagaimana mestinya.
c. dokumen yang dibuat diluar negeri yang akan digunakan di
Indonesia.
2. Mekanisme Pemeteraian Kemudian
a. Pemeteraian kemudian dilakukan oleh pemegang dokumen dengan
menggunakan meterai tempel atau SSP yang telah disahkan oleh
Pejabat Pos
b. Lembar ke-1 (satu) dan ke-3 (ketiga) SSP dilampiri dengan daftar
dokumen yang dimeteraikan kemudian yang merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan

14
c. Pengesahan atas pemeteraian kemudian dilakukan setelah pemegang
dokumen membayar denda
3. Besarnya Pelunasan Bea Meterai Dengan Cara Pemeteraian Kemudian
a. Atas dokumen yang semula tidak terutang Bea Meterai namun akan
digunakan sebagai alat bukti di pengadilan adalah sebesar Bea
Meterai yang terutang sesuai dengan peraturan yang berlaku pada
saat pemeteraian kemudian dilakukan.
b. Atas dokumen yang tidak atau kurang dilunasi adalah sebesar Bea
Meterai yang terutang
c. Atas dokumen yang dibuat di luar negeri yang akan digunakan di
Indonesia adalah sebesar Bea Meterai yang terutang sesuai dengan
peraturan yang berlaku pada saat pemeteraian kemudian dilakukan.
4. Besarnya Sanksi Atas Pemeteraian kemudian
a. Pemegang dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi
sebagaimana mestinya wajib membayar denda sebesar 200% (dua
ratus persen) dari Bea Meterai yang tidak atau kurang dilunasi.
b. Dalam hal pemeteraian kemudian atas dokumen yang dibuat di luar
negeri yang akan digunakan di Indonesia baru dilakukan setelah
dokumen digunakan, pemegang dokumen wajib membayar denda
sebesar 200% (dua ratus persen) dari Bea Meterai yang terutang.
5. Tata Cara Pemeteraian kemudian dengan Menggunakan Meterai Tempel
a. Pemegang dokumen membawa dokumen yang akan dilunasi dengan
Cara pemeteraian kemudian kepada Pejabat pos pada Kantor Pos
terdekat.
b. Pemegang dokumen melunasi Bea Meterai vang terutang atas
dokumen yanq dimeteraikan kemudian tersebut sesuai ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 476/KMK.03/2002 tentang Pelunasan Bea Meterai Dengan
Cara Pemeteraian Kemudian dengan cara menempelkan Meterai
Tempel pada dokumen yang akan dimeteraikan kemudian.

15
c. Pemegang dokumen yang Bea Meterainya tidak atau Kurang
dilunasi sebagaimana mestinya Wajib membayar denda administrasi
sebesar 200% dari Bea Meterai yang tidak atau kurang dilunasi
dengan menggunakan Surat Setoran Pajak dengan kode jenis MAP
0174.
d. Dokumen telah dimeteraikan kernudian dan SSP dicap “TELAH
DIMETERAIKAN KEMUDIAN SESUAI UNDANG-UNDANG
NOMOR 13 TAHUN 1985 sebagaimana diatur Iebih lanjut dengan
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR
476/KMK.03/2002” oleh Pejabat Pos disertai dengan tanda tangan,
nama terang dan Nomor Pegawai Pos yang bersangkutan.
6. Tata Cara Pemeteraian kemudian dengan Menggunakan Surat Setoran
Pajak
a. Membuat daftar dokumen yang akan dimeteraikan kemudian.
b. Membayar Bea Meterai yang terutang berdasarkan daftar tersebut
sesuai ketentuan di dalam Pasal 4 Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 476/KMK.03/2002 tentang Pelunasan bea Meterai Dengan
Cara Pemeteraian Kemudian dengan menggunakan SSP.
c. Pemegang dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi
sebagairnana mestinya vvajib membayar denda administrasi sebesar
200% dari Bea Meterai yang tidak atau kurang dilunasi dengan
menggunakan SSP terpisah dengan SSP yang digunakan untuk
memeteraikan kemudian.
d. Cara pengisian SSP adalah sebagai berikut:
1) SSP yang digunakan untuk melunasi pemeteraian kemudian,
diisi dengan Kode Jenis Pajak (MAP) 0171.
2) SSP yang digunakan untuk membayar denda administrasi, diisi
dengan Kode Jenis (MAP) 0174.
e. Daftar dokumen yang dimeteraikan kemudian dan SSP yang telah
digunakan untuk membayar pemeteraian kemudian dicap “TELAH
DIMETERAIKAN KEMUDIAN SESUAI UNDANG-UNDANG

16
NOMOR 13 TAHUN 1985 sebagaimana diatur lebih lanjut dengan
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR
476/KMK.03/2002” oleh Pejabat Pos disertai dengan tanda tangan,
nama terang dan Nomor Pegawai Pejabat Pos yang bersangkutan.

2.9 Sanksi - sanksi dan Daluwarsa Bea Materai


1. Sanksi Administrasi
Apabila dokumen tidak atau kurang di lunasi Bea Meterai
sebagaimana mestinya, maka akan dikenakan denda administrasi sebesar
200% (dua ratus persen) dari Bea Meterai yang tidak atau kurang
dibayar. Misalnya Bea Meterai terutang Rp.6.000,00. Karena kelalaian
belum mengenakan Bea Meterai, maka Bea Meterai dan sanksi yang
harus dibayar adalah:
Bea Meterai yang terutang Rp. 6.000,00
Denda Administrasi Rp. 12.000,00 +
Jumlah Pemeteraian Kemudian Rp. 18.000,00
Pemeteraian kemudian atas dokumen tersebut dilakukan oleh Pejabat
Pos menurut tata cara yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

Pemeteraian Kemudian
TANPA DENDA BERIKUT DENDA (200%)
1. Dokumen yang dibuat di luar negri 1. Semua dokumen yang dikenakan
sebelum digunakan di Indonesia. Bea Meterai tetapi dokumen tersebut
tidak/ kurang dibayar Bea Meterainya,
kecuali dokumen yang akan digunakan
sebagai alat pembuktian di muka
pengadilan.
2. Surat surat biasa dan surat 2. Dokumen yang dibuat di luar
kerumah tanggan sebagai alat bukti negeri, yang Bea Meterainya dilunasi
di pengadilan. sesudah dokumen tersebut digunakan

17
di Indonesia.
3. Dokumen yang semula tidak
dikenakan Bea Meterai berdasarkan
tujuannya, kemudian berubah tujuan
atau dipergunakan pleh orang lain
(sebagai alat bukti di pengadilan)

Ketentuan Khusus:
1) Pejabat pemerintah, hakim, panitera, juru sita, notaris dan pejabat
umum lainnya yang masing-masing tengah berada dalam tugas dan
jabatannya tidak dibenarkan:
a. Menerima, mempertimbangkan atau menyimpan dokumen yang
bea materainya tidak atau kurang bayar
b. Melekatkan dokumen yang bea materainya tidak atau kurang
dibayar sesuai dengan tarifnya pada dokumen lain yang
berkaitan
c. Membuat salinan, tembusan, rangkapan atau petikan dari
dokumen yang bea materainya tidak atau kurang dibayar
d. Memberikan keterangan atau catatan pada dokumen yang tidak
atau kurang dibayar sesuai dengan tarif bea materainya
2) Sanksi atas poin 1, sanksi administrasi sesuai dengan pengaturan
perundang-undangan yang berlaku, misalnya : untuk yang berstatus
pegawai negeri sipil dapat diberlakukan dengan PP. No. 30 tahun
1980, antara lain:
a. Peringatan, teguran
b. Penundaan kenaikan gaji/pangkat
c. Diberhentikan.
2. Sanksi Pidana
Berdasarkan Pasal 14 UU No. 13 Tahun 1985, bahwa Barangsiapa
dengan sengaja melakukan pelunasan Bea Materai tanpa izin menteri
keuangan, yang akan menimbulkan keuntungan bagi pemilik atau yang

18
menggunakannya, dan sebaliknya akan menimbulkan kerugian bagi
Negara, dapat dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 7 tahun.
Pada Pasal 13 UU No. 13 Tahun 1985 juga mengatur bahwa sanksi
pidana dapat diterapkan apabila terdapat pelanggaran yang memenuhi
ketentuan pidana dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yaitu:
a. Barangsiapa meniru atau memalsukan Materai tempel dan kertas
materai atau meniru dan memalsukan tanda tangan yang perlu untuk
mensahkan materai.
b. Barangsiapa dengan sengaja menyimpan dengan maksud untuk
diedarkan atau dimasukkan ke Negara Indonesia materai palsu, yang
dipalsukan atau yang dibuat dengan melawan hak.
c. Barangsiapa dengan sengaja menggunakan, menjual, menawarkan,
menyerahkan, menyediakan untuk dijual atau dimasukkan ke Negara
Indonesia materai yang mereknya, capnya, tanda tangannya, tanda
sahnya atau tanda waktu mempergunakannya telah dihilangkan
seolah-olah materai itu belum dipakai dan atau menyuruh orang lain
menggunakannya dengan melawan hak.
d. Barangsiapa menyimpan bahan-bahan atau perkakas-perkakas yang
diketahui digunakan untuk melakukan salah satu kejahatan untuk
meniru dan memalsukan benda matera.
Penanggung jawab atas sanksi:
a. Untuk sanksi administrasi: Pemegang dokumen
b. Untuk sanksi pidana: Sesuai keputusan pengadilan
3. Daluwarsa Bea Materai
Kewajiban pemenuhan bea materai dan denda administrasi yang
terutang menurut UU Bea Materai menjadi daluwarsa setelah lampau
waktu 5 tahun tanggal dokumen dibuat. Sesuai dengan ketentuan dalam
KUHP, maka barang siapa:
a. Meniru atau memalsukan materai tempel, kertas materai atau meniru
dan memalsukan tanda tangan yang perlu untuk mensahkan materai.

19
b. Dengan sengaja menyimpan dengan maksud untuk diedarkan atau
memasukkan ke negara Indonesia materai palsu, yang dipalsukan
atau yag dibuat dengan melawan hak.
c. Yang sengaja menggunakan, menjual, menawarkan, menyerahkan,
menyediakan untuk dijual atau dimasukkan ke negara Indonesia
materai yang mereknya, capnya, tanda tangannya atau tanda sahnya
atau tanda waktunya telah dihilangkan seolah-olah materai itu belum
dipakai dan atau menyuruh orang lain menggunakannya melawan
hak.
d. Menyimpan bahan-bahan atau perkakas-perkakas yang diketahuinya
digunakan untuk melakukan salah satu kejahatan untuk meniru dan
memalsukan benda materai.

20
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bea Materai adalah pajak yang dikenakan atas pemanfaatan dokumen,
seperti surat perjanjian, akta notaris, kwitansi pembayaran, surat berharga,
dan efek, yang memuat jumlah uang atau nominal diatas jumlah tertentu
sesuai dengan ketentuan dan dokumen yang digunakan sebagai alat bukti di
pengadilan.
Bea materai digunakan untuk dokumen-dokumen yang berhubungan
dengan penerimaan uang, ataupun untuk surat-surat berharga yang
penggunaannya telah diatur oleh menteri keuangan, adapun jenisnya berupa
materai tempel dengan nominal Rp. 3.000,00 dan Rp. 6.000,00 maupun
materai kertas yang biasanya digunakan untuk surat berharga seperti surat
tanda tamat belajar maupun akta tanah. Penggunaan bea materai dalam
dokumen-dokumen tersebut adalah sebagai alat pengesahan dokumen
tersebut.

3.2 Saran
Menyadari bahwa dalam menulis makalah ini penulis masih jauh dari
kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus dan detail dalam
menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber-sumber yang lebih
banyak yang tentunya dapat di pertanggungjawabkan. Karena itu, kritik dan
saran yang membangun sangat kami butuhkan. Semoga dari kritik dan saran
pembaca kami bisa menjadi lebih baik dalam penulisan berikutnya.

21
DAFTAR PUSTAKA

https://dosenekonomi.com/ilmu-ekonomi/perpajakan/dasar-hukum-bea-materai

http://keuanganlsm.com/prinsip-umum-pengenaan-bea-meterai/

http://dipajak.blogspot.com/2016/04/dasar-hukum-meterai-fungsi-meterai.html

http://dadi-doank.blogspot.com/2009/12/prinsip-umum-pemungutan-atau-

pengenaan.html

https://kppbanjarbaru.wordpress.com/2016/08/10/pengenaan-bea-meterai/

https://www.pelajaran.id/2018/04/pengertian-bea-materai-fungsi-subjek-objek-

dan-tarif-bea-materai-terlengkap.html

http://endoapiperpajakan.blogspot.com/2015/04/tata-cara-pelunasan-bea-

meterai.html

http://infodantips2.blogspot.com/2014/12/pengertian-bea-meterai-dan-cara.html

https://allinpajak.wordpress.com/2009/11/30/pemeteraian-kemudian/

http://luffydmonkeyop.blogspot.com/2016/07/rangkuman-bea-meterai.html

http://annekasaldianmardhiah.blogspot.com/2012/06/bea-materai.html

http://okta-wiskey.blogspot.com/2016/03/pajak-bea-materai.html

22