Anda di halaman 1dari 9

Faisal Tahir Rambe

13714011

Jenis-Jenis Mineral dan Batuan

1. Kuarsa (quartz)

Kuarsa adalah mineral yang tersusun atas atom-atom silikon dan oksigen dalam
susunan tetrahedral SiO2 yang kontinu. Setiap atom oksigen dalam susunan tersebut
terbagi di antara dua tetrahedral. Kuarsa adalah mineral dengan jumlah terbanyak kedua
di kerak bumi, setelah felspar.

Kuarsa memiliki dua bentuk, yaitu bentuk dalam temperatur normal (α-quartz)
dan bentuk dalam temperatur tinggi (β-quartz), yang keduanya bersifat kiral (bentuk
yang satu merupakan cerminan dari bentuk yang lain dalam struktur atom-atomnya,
namun keduanya berbeda dalam sifatnya). Transformasi dari bentuk alfa ke bentuk beta
terjadi pada temperatur 573oC. Terdapat berbagai jenis kuarsa, beberapa di antaranya
tergolong batu mulia yang bernilai cukup tinggi.

Kuarsa bersifat transparan atau translusen dalam bentuk murninya, namun


kuarsa bersifat polimorf (memiliki banyak wujud), seperti bentuk alfa dan beta, tridimit,
moganit, kristobalit, koesit, dan stishovit. Warna dari setiap bentuknya beragam. Ada
yang berwarna biru, putih susu, merah mawar, dll.

2. Felspar (feldspar)

Felspar adalah kelompok mineral tektosilikat yang membentuk batuan. Felspar


adalah mineral terbanyak di kerak bumi, dengan persentase 41% di kerak bumi. Felspar
mengkristal dari magma sebagai vein (lapisan berbentuk seperti jejaring pembuluh
darah) dalam wujud batuan beku ekstrusif dan intrusif. Selain itu, felspar juga
ditemukan dalam banyak jenis batuan metamorf dan batuan sedimen.

Secara umum, felspar memiliki komposisi kimia dalam satuan berulang sebagai
berikut: KalSi3O8 – NaAlSi3O8 – CaAl2Si2O8. Felspar terdiri dari beberapa jenis: felspar
alkali, felspar barium, dan felspar plagioklas. Terdapat berbagai macam warna felspar
sesuai bentuknya, di antaranya merah muda, putih, abu-abu, coklat, dan biru. Felspar
dapat mengalami pelapukan, dan hasil dari pelapukan tersebut di antaranya mineral illit
dan kaolinit.
3. Kaolinit (kaolinite)

Kaolinit adalah mineral lempung berwarna putih dengan komposisi kimia


Al2Si2O5(OH)4. Kaolinit termasuk golongan mineral silikat, dan seringkali didapati
pada batuan kaolin/lempung cina.

Kaolinit merupakan mineral yang lunak dan umumnya berwarna putih. Di


sebagian tempat, kaolinit terkadang berwarna merah muda-jingga-merah disebabkan
pengaruh oksida besi. Kaolinit juga ditemukan dalam warna putih, kuning, atau jingga
terang. Hal ini disebabkan oleh ketidakmurnian dari kaolinit itu sendiri. Kaolinit
merupakan hasil dari pelapukan mineral aluminium silikat seperti felspar.
4. Talk (talc)
Talk adalah mineral lempung yang terdiri dari magnesium silikat yang
terhidrasi, dengan komposisi kimia Mg3Si4O10(OH)2. Dalam bentuk serbuknya – yang
berwarna putih, talk digunakan secara luas sebagai bedak bayi. Talk adalah mineral
paling lunak, dengan skala Mohs 1 dari rentang 1-10. Talk tidak larut dalam air, namun
sedikit larut dalam asam anorganik yang encer.

Talk dihasilkan dari metamorfisme mineral-mineral seperti serpentine,


piroksen, amfibol, dan olivin, dengan bantuan karbon dioksida dan air. Proses ini terdiri
atas hidrasi dan karbonasi, dan menghasilkan batuan yang dikenal sebagai talk
karbonat. Talk juga dapat terbentuk melalui reaksi antara dolomit dan silika, atau
magnesian klorit dan kuarsa.

Talk adalah mineral berbentuk lapisan-lapisan trioktahedral, dan strukturnya


mirip pirofilit, dengan perbedaan magnesium pada strukturnya. Secara umum, talk
berwarna putih, namun ditemukan juga warna lain seperti hijau, coklat, dan abu-abu.

5. Kalsit (calcite)
Kalsit adalah mineral karbonat, yang merupakan bentuk paling stabil dari
kalsium karbonat, dengan skala Mohs 3. Kalsit memiliki sistem kristal trigonal, dengan
bentuk kristal heksagonal skalenohedral. Terdapat lebih dari 800 bentuk kristal kalsit
yang teridentifikasi, dan bentuk kristal yang paling umum yaitu skalenohedra.

Kalsit bersifat transparan dan sedikit opaque, dan dapat terjadi fenomena
fosforesen dan fluoresen padanya. Jenis transparan dari kalsit digunakan pada alat-alat
optik. Kristal kalsit dapat mengalami fenomena refraksi cahaya ganda, sehingga terlihat
dua penampakan objek di balik kalsit. Secara umum, kalsit larut dalam asam seperti
karbonat-karbonat lain, juga dapat larut atau terpresipitasi oleh air tanah. Kalsit
merupakan komponen umum dari batuan sedimen dan batu kapur.

6. Magnetit (magnetite)

Magnetit adalah mineral batuan dengan komposisi kimia Fe3O4. Magnetit


adalah salah satu oksida besi, dan bersifat ferimagnetik. Magnetit adalah mineral paling
magnetik yang ada di bumi. Magnetit umumnya ditambang sebagai bijih besi.

Magnetit berwarna hitam atau coklat kehitaman dengan kilap logam pada
permukaannya. Magnetit memiliki skala Mohs 5-6, dan goresannya berwana hitam.
Magnetit terdapat dalam batuan beku maupun sedimen.

7. Wolastonit (wollastonite)
Wolastonit adalah mineral kalsium inosilikat (CaSiO3) yang terkadang
mengandung besi, magnesium, dan mangan dalam jumlah kecil, yang menggantikan
kalsium. Wolastonit umumnya berwarna putih. Wolastonit merupakan hasil dari
pelapukan batu kapur atau dolomit yang mengalami temperatur dan tekanan tinggi.
Nama wolastonit berasal dari nama seorang kimiawan dan mineralogis Inggris bernama
William Hyde Wollaston (1766-1828). Wolastonit umumnya berwarna putih, tak
berwarna, atau abu-abu, dengan skala Mohs 4.5-5. Goresannya berwarna putih dan
kilapnya bersifat vitreous. Wolastonit umumnya digunakan pada keramik, plastik, juga
sebagai pengisi (filler) pada cat, dll.
8. Kyanit (kyanite)

Kyanit adalah mineral aluminosilikat (nesosilikat) berwarna biru, yang


umumnya ditemukan pada pegmatit metamorf yang kaya aluminium dan/atau batuan
sedimen. Kyanit umumnya ditemukan dalam kuarsa. Rumus kimianya adalah Al 2SiO5.
Pada temperatur di atas 1100oC, kyanit terdekomposisi menjadi mulit dan silika.

Kyanit memiliki kekerasan 4.5-7 skala Mohs, dan memiliki kilap kaca serta
goresan berwarna putih. Kyanit umumnya digunakan sebagai produk refraktori dan
keramik, termasuk alat makan porselen, juga dalam produk elektronk dan sebagai batu
mulia yang bernilai cukup tinggi.
9. Pirofilit (pyrophyllite)

Pirofilit adalah mineral filosilikat yang memiliki rumus kimia Al2Si4O10(OH)2. Pirofilit
memiliki dua bentuk: folia kristalin dan bongkahan padat. Pirofilit umumnya memiliki
tampilan kilap mutiara. Pirofilit ditambahkan kepada lempung untuk mengurangi
pemuaian saat pembakaran.
10. Korundum (corundum)
Korundum adalah bentuk kristalin dari aluminium oksida, yang di dalamnya terdapat
unsur besi, titanium, vanadium, dan kromium. Korundum adalah mineral yang
berbentuk batuan, dan bersifat transparan. Korundum memiliki warna beragam, yang
dipengaruhi oleh kandungan logam di dalamnya. Terdapat dua jenis korundum yang
menjadi batu mulia, yaitu rubi dan safir. Korundum memiliki kekerasan 9 skala Mohs,
sehingga umumnya digunakan sebagai bahan abrasif, baik pada kertas amplas maupun
lainnya. Goresannya berwarna putih, dan memiliki kilap adamantin menuju kaca.

11. Granit (granite)

Granit adalah batuan beku intrusif yang bersifat granular dan faneritik dalam
teksturnya. Granit dapat berwarna putih, merah muda, atau abu-abu, bergantung pada
komposisi mineralnya. Granit mengandung mineral felspar kalium, felspar plagioklas,
kuarsa, dan biotit atau amfibol. Granit memiliki sifat keras dan tangguh, sehingga
banyak digunakan sebagai bahan bangunan. Komponen utama granit adalah mineral
silika (SiO2) sebanyak 72.04% dan alumina (Al2O3) sebanyak 14.42%.

12. Syenit (syenite)


Syenit adalah batuan beku intrusif dengan komposisi utama mirip granit, namun
memiliki kadar kuarsa lebih kecil (di bawah 5%). Komponen felspar pada syenit
umumnya bersifat basa. Felspar plagioklas terkandung dalam syenit dengan komposisi
di bawah 10%. Syenit memiliki warna abu-abu – putih.

Sumber tulisan:
1. Deer, W. A., R. A. Howie and J. Zussman (1996), An Introduction to the Rock Forming
Minerals, Logman.
2. Anderson, Robert S.; Anderson, Suzanne P. (2010). Geomorphology: The Mechanics
and Chemistry of Landscapes. Cambridge University Press.
3. Deer WA, Howie RA, Zussman J (1992). An Introduction to the Rock-forming
Minerals (2nd ed.). Harlow: Longman.
4. Hurlbut CS, Klein C (1985). Manual of Mineralogy – after J. D. Dana (20th ed.).
Wiley.
Sumber gambar:

1. http://www.mcdougallminerals.com
2. https://www.worldatlas.com
3. https://www.mineralseducationcoalition.org
4. http://www.cloudfront.net
5. http://www.thefossilcartel.com
6. https://www.crystal-life.com
7. http://www.geologypage.com
8. https://geology.com