Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala
nikmat yang diberikan kepada kita semua atas terselesaikannya makalah ini tepat pada
waktunya guna membantu para pembaca.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian
makalah ini kepada para pembaca, diharapkan kritik serta saran yang bersifat konstruktif
untuk perbaikan bahan ajar ini dikemudian hari.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Amin.

Rancakalong, Mei 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 1
A. Latar Belakang .............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................................... 1
C. Tujuan ............................................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................... 2
A. Pemilu Sebagai Wujud Nilai-nilai Pancasila ...................................................... 2
B. Pemilu Sebagai Pengamalan Nilai Sila ke-4 Pancasila ....................................... 4
C. Pelaksanaan Pemilu Sebagai Pengamalan Pancasila ........................................... 10
BAB III PENUTUP........................................................................................................ 16
A. Simpulan.............................................................................................................. 16
B. Saran .................................................................................................................... 16
DAFTAR ISI .................................................................................................................. 17

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Secara yuridis-konstitusional kedudukan Pancasila sudah jelas, bahwa Pancasila


adalah pandangan hidup bangsa, dasar negara Republik Indonesia, dan sebagai ideologi
nasional. Sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila merupakan kristalisasi nilai-nilai
yang kebenarannya diakui, dan menimbulkan tekad untuk dilaksanakan dalam kehidupan
sehari-hari. Sejarah telah mengungkapkan bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat
Indonesia, yang memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia serta
membimbingnya dalam mengejar kehidupan lahir batin yang makin baik, di dalam
masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.
Dalam hal ini apakah pemilu itu sebenarnya pengamalan pancasila dan apa
sebenarnya pemilu dalam demokrsi pancasila. Mungkin orang awam akan mengatakan
bahwa pemilu merupakan politik para politikus yang sering mamperdaya masyarakat dan
setelah pemilu selesai, rakyat masih belum mendapat kesejahteraan.
Rakyat menganggap bahwa pemilu hanya rekayasa politikus – potikus munkin
dikarenakan bahwa pelaksanaan pemilu yang mereka anggap tidak teratur dan tidak
konsekuensi pada aturan. Tapi itu hanyalah anggapan mereka karena mereka belum tentu
mengerti dan faham akan perundang – undangan dalam pemilu.

B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini membahas beberapa masalah pemilu dalam demokrasi
pancasila diantaranya :
1. Mengapa pancasila dikatakan sebagai pengamalan demokrasi
pancasila?
2. Bagaimana pelaksanaan pemilu di indonesia sebagai salah satu
pengamalan pancasila?
3. Apa makna Pacasila sila ke – 4?

C. Tujuan
1) Memahami pelaksanaan demokrasi berdasarkan pancasila di Indonesia.
2) Memahami tujuan diadakannya pesta demokrasi.
3) Memahami pelaksanaan pemilu sebagai sarana pesta demokrasi rakyat saat ini.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pemilu Sebagai Wujud Nilai – nilai Pancasila


Pancasila dalam pesta demokrasi, dapat dilakukan dengan hal-hal sederhana di
kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan bergotong-royong, bertenggang rasa, saling
menghormati, dan menghargai dalam berkehidupan, termasuk berbeda dalam mendukung
calon gubernur di pesta demokrasi. Menghargai dan menghormati pendapat atau pilihan
orang lain dalam pesta demokrasi, itu termasuk perilaku yang menunjukkan nilai
persatuan dalam berbangsa.
Sesungguhnya pesta demokrasi merupakan pesta demokrasi, yang harus
berlandaskan asas Pancasila yang mengedepankan akan nilai Indonesia-nya yang
tertuang dalam Bhinneka Tunggal Ika bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa
terkecuali.Karena dengan mengedepankan Pancasila yang ber-Bhinneka Tunggal Ika,
akan mendatangkan tingginya nasionalisme, persaudaraan, persatuan dan kesatuan
diantara anak bangsa, tanpa membedakan ras, suku, agama dan etnis.
Pancasila bagi indonesia pada umumya dan ngaranya khusunya sebagai dasar
negara juga sebagi ideologi bangsa dan negara indonesia. Dengan demikian pancasila
telah dapat diterima oleh seluruh rakyat indonesia dan menjadi dasar serta pedoman
dalampenyelanggarakan pemerintahan negara republik indonesia Begitu juga dengan
pesta demokrasi harus dengan dasar-dasar pancasila agar berjalan dengan aman dan
menaati peraturan yang ada dalam isi dan pedoman pancasila.
nilai-nilai yang terkandung dalam Lima Sila Pancasila sebagai bahan baku
Pancasila memang sudah menjadi nilai-nilai ini sudah dipraktekkan di bumi pertiwi sejak
dahulu ajaran Demokrasi Pancasila melalui pemahaman dan pengimplementasi Bhinneka
Tunggal Ika yaitu Berbeda-beda tetapi tetap Satu. Secara sejarah Mohammad Yamin
telah meresapi arti kata ini dapat menjadi pengikat bangsa yang beragam-ragam sehingga
dia yang pertama kali mengusulkan kepada peserta rapat BPUPKI agar semboyan
Bhinneka Tunggal Ika dapat diadopsi menjadi semboyan Negara.
Pancasila bagi bangsa kita adalah sistem etika berbangsa. Sebagai etika
berbangsa, etika Pancasila adalah norma Ketuhanan yang Maha Esa, kemanusiaan yang
adil dan beradab, dan persatuan Indonesia yang dijadikan sebagai worl view politik
berbangsa dan bernegara Dengan norma inilah kita mengetahui adanya etika politik yang
mengikat kehidupan politik Etika politik Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang

2
adil dan beradab, dan persatuan Indonesia. Ketiga etika ini dilaksanakan dengan cara
permusyawaratan dan perwakilan guna mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia. Pemilihan kepala daerah dengan berbagai sistem pelaksanaannya tidak dapat
tidak mesti dibangun di atas etika politik Pancasila.
Dalam konteks pelaksanaaan Pemilu, Pacasila hendaklah juga menjadi visi, dasar,
dan parameter evaluasi dalam rangka mewujudkan kedaulatan rakyat. Sebab untuk
menjamin tercapainya cita-cita dan tujuan nasional, perlu diselenggarakan Pemilu untuk
Kepala Daerah, anggota Dewan Perwakilan Rakyat, anggota Dewan Perwakilan Daerah,
Presiden dan Wakil presiden, dan untuk memilih anggota Dewan perwakilan Rakyat
Daerah sebagai sarana perwujudan kedaulatan rakyat untuk menghasilkan wakil rakyat
dan sistem pemerintahan negara yang demokratis berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Oleh karena itu, Pancasila sebagai ideologi berfungsi sebagai lentera atau bintang
kejora yang menerangi sekaligus menuntun pelaksanaan langkah masyarakat, bangsa,
dan negara ke suatu tempat yang akan dituju. Dengan demikian, Pancasila hendaklah
menjadi penerang sekaligus penuntun pelaksanaan Pemilu untuk mewujudkan cita-cita
dan tujuan nasional. Pancasila akan haruslah menjadi seperangkat pengetahuan, norma,
dan pedoman bagi perencanaan, pembuatan peraturan, dan pelaksanaan Pemilu. Lebih
dari itu, sebagai ideologi Pancasila juga berfungsi sebagai parameter evaluatif atas
berbagai aturan perundangan, pelaksanaan Pemilu, serta dinamika dan sengketa atau
permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan Pemilu.
Upaya untuk menempatkan Pancasila sebagai visi, dasar, dan parameter evaluatif
atas pelaksanaan Pemilu tampaknya masih jauh dari harapan. Masih terlalu banyak
pelanggaran Pemilu yang mencederai demokrasi. Sangat kuat kesan, pelaksanaan Pemilu
yang sangat mahal ini terjebak pada aturan administratif dan prosedural semata. Terlebih
jika dilihat dari wakil rakyat dan kepala daerah yang dihasilkan, tentu masih sangat jauh
dari upaya cita-cita dan tujuan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
Suatu sistem demokrasi yang ber-Ketuhanan Maha Esa (sila-1 sebagai prinsip
keharusan mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa dan kebebasan memilih agama dan
kepercayaan masing-masing), yang ber-Peri Kemanusian Yang Beradab (sila-2 sebagai
prinsip keharusan bagi Negara dan rakyat Indonesia untuk mematuhi dan melaksanakan
prinsip-prinsip hak-hak azasi manusia), yang tetap menjaga Persatuan Indonesia (sila ke-
3 prinsip keharusan bagi Negara dan rakyat Indonesia untuk menjaga prinsip satu nusa,
satu bangsa, dan satu bahasa, Indonesia), yang mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi

3
seluruh rakyat Indonesia (sila ke-5 yang mengharuskan Negara menjamin dan
mewujudkan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.)
Apabila kita meterjemahkan Pancasila seperti tersebut diatas kita baru bisa melihat
Pancasila sebagai ideologi yang unik yang mungkin baru dimulai di Indonesia yang
mungkin bisa menjadi ideologi yang universal kalau negara dan bangsa Indonesia
mampu merealisasikan dalam bentuk nyata. Prinsip demokrasi yang punya koridor yang
sangat jelas pada batas-batas sila yang lain dalam Pancasila. Bukan prinsip demokrasi
untuk demokrasi tapi demokrasi yang punya tujuan mulia.
Pemilu merupakan wujud dari pelaksanaan demokrasi pancasila dalam kehidupan
bernegara. Sejarah telah membuktikan bahwa sejak kemerdekaan RI sampai sekarang
bentuk demokrasi yang paling cocok bagi bangsa Indonesia adalah demokrasi pancasila.
Oleh karena itu, sebagai bangsa indonesia secara moral berkewajiban untuk ikut serta
melaksanakan dan melestarikannya.
Partisipasi secara aktif setiap warga negara Indonesia hendaknya ikut berpartisipasi
secara aktif dalam pelaksanaan pemilu. Dalam UUD 1945 Pasal 28 yang secara tegas
disebutkan bahwa “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul mengeluarkan pikiran
dengan lisan dan tulisan dan sebagainya.” Dari penjelasan tersebut penyelenggaraan
pemilu dapat dikatakan sebagai pelaksanaan amanat UUD 1945 pasal 28.
Pemilu dikatakan sebagai pelaksanaan demokrasi pancasila karena pada dasarnya
pemilu itu adalah pemilihan rakyat untuk memilih wakilnya dalam mengatur roda
pemerintahan dan dalam hal ini rakyat sangat berperan penting untuk melaksanakan
politik dalam negara indonesia. Dalam pelaksanaannya, pemilu juga mempunyai
beberapa landasan idiil yaitu pancasila, landasan konstitusional yaitu UUD 1945 dan
landasan Operasional yaitu ketetapan MPR No. III/MPR/1998, UU No. 31 Th. 2002
tentang Partai Politik dan UU No. 12 Th. 2003 tentang Pemilu.

B. Pemilu Sebagai Pengamalan Nilai Sila ke-4 Pancasila


Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia sudah mulai tergeser fungsi dan
kedudukannya pada zaman modern ini. Sebuah sila dari Pancasila yang hampir tidak
diterapkan lagi dalam demokratisasi di Indonesia yaitu Sila ke-4 Pancasila berbunyi
”kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam perwusyawaratan
perwakilan”.Sila ke-4 merupakan penjelmaan dalam dasar politik Negara, ialah Negara
berkedaulatan rakyat menjadi landasan mutlak daripada sifat demokrasi Negara
Indonesia.Disebabkan mempunyai dua dasar mutlak, maka sifat demokrasi Negara

4
Indonesia adalah mutlak pula, yaitu tidak dapat dirubah atau ditiadakan.Berkat sifat
persatuan dan kesatuan dari Pancasila, sila ke-4 mengandung pula sila-sila lainnya,
sehingga kerakyatan dan sebagainya adalah kerakyatan yang berke-Tuhanan Yang Maha
Esa, yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan Indonesia dan yang
berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.Binatang banteng (Latin:Bos javanicus)
atau lembu liar merupakan binatang sosial, yang sama halnya dengan manusia . Pertama
kali dicetuskan oleh Presiden Soekarno dimana pengambilan keputusan yang dilakukan
bersama (musyawarah), gotong royong, dan kekeluargaan merupakan nilai-nilai khas
bangsa Indonesia.
Sila ke-4 pancasila yang berbunyi “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat
Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan” memiliki makna :
• Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
• Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
• Mengutamakan budaya bermusyawarah dalam mengambil keputusan bersama.
• Bermusyawarah sampai mencapai katamufakat diliputidengan semangat
kekeluargaan.
Sila ke-4 yang mana berbunyi “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”.Sebuah kalimat yang secara bahasa
membahasakan bahwa Pancasila pada sila ke 4 adalah penjelasan Negara demokrasi.
Dengan analisis ini diharapkan akan diperoleh makna yang akurat dan mempunyai nilai
filosofis yang diimplementasikan secara langsung dalam kehidupan bermasyarakat.
Tidak hanya itu, sila ini menjadi banyak acuan dari setiap langkah pemerintah dalam
menjalankan setiap tindakannya.Kaitannya dengan arti dan makna sila ke 4 adalah sistem
demokrasi itu sendiri.Maksudnya adalah bagaimana konsep demokrasi yang berarti
setiap langkah yang diambil pemerintah harus ada kaitannya dengan unsur dari, oleh dan
untuk rakyat. Disini, rakyat menjadi unsur utama dalam demokrasi. Itulah yang
seharusnya menjadi realita yang membangun bangsa.
Dibawah ini adalah arti dan makna Sila ke 4 yang akan kita bahas sebagai berikut
:1. Hakikat sila ini adalah demokrasi. Demokrasi dalam arti umum yaitu
pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Secara sederhana, demokrasi yang melibatkan
segenap bangsa dalam pemerintahan baik yang tergabung dalam pemerintahan dan
kemudian adalah peran rakyat yang diutamakan.2. Pemusyawaratan. Artinya
mengusahakan putusan secara bulat, dan sesudah itu diadakan tindakan bersama. Disini
terjadi simpul yang penting yaitu mengusahakan keputusan secara bulat. Bulat yang

5
dimaksud adalah hasil yang mufakat, artinya keputusan itu diambil dengan kesepakatan
bersama. Dengan demikian berarti bahwa penentu demokrasi yang berdasarkan pancasila
adalah kebulatan mufakat sebagai hasil kebikjasanaan.Oleh karena itu kita ingin
memperoleh hasil yang sebaik-baiknya didalam kehidupan bermasyarakat, maka hasil
kebikjasanaan itu harus merupakan suatu nilai yang ditempatkan lebih dahulu.3. Dalam
melaksanakan keputusan diperlukan kejujuran bersama. Dalam hal ini perlu diingat
bahwa keputusan bersama dilakukan secara bulat sehingga membawa konsekuensi
adanya kejujuran bersama.Perbedaan secara umum demokrasi di barat dan di Indonesia
yaitu terletak pada permusyawaratan.Permusyawaratan diusahakan agar dapat
menghasilkan keputusan-keputusan yang diambil secara bulat.
Hal ini tidak menjadi kebiasaan bangsa Indonesia, bagi kita apabila pengambilan
keputusan secara bulat itu tidak bisa tercapai dengan mudah, baru diadakan pemungutan
suara.Kebijaksanaan ini merupakan suatu prinsip bahwa yang diputuskan itu memang
bermanfaat bagi kepentingan rakyat banyak.Jika demokrasi diartikan sebagai kekuatan,
maka dari pengamatan sejarah bahwa kekuatan itu memang di Indonesia berada pada
tangan rakyat atau masyarakat.Secara sederhana, pembahasan sila ke 4 adalah demokrasi.
Demokrasi yang mana dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Pemimpin yang hikmat
adalah pemimpin yang berakal sehat, rasional, cerdas, terampil, dan seterusnya pada hal-
hal yang bersifat fisik/jasmaniah; sementara kebijaksanaan adalah pemimpin yang
berhatinurani, arif, bijaksana, jujur, adil, dan seterusnya pada hal-hal yang bersifat
psikis/rohaniah. Jadi, pemimpin yang hikmat-kebijaksanaan itu lebih mengarah pada
pemimpin yang profesional (hikmat) dan juga dewasa (bijaksana). Itu semua negara
demokratis yang dipimpin oleh orang yang dewasa profesional dilakukan melalui tatanan
dan tuntunan permusyawaratan/perwakilan.Tegasnya, sila keempat menunjuk pada NKRI
sebagai Negara demokrasi-perwakilan yang dipimpin oleh orang profesional-dewasa
melalui sistem musyawarah. Sebuah kesadaran bertanggung jawab terhadap Tuhan Yang
Maha Besar menurut keyakinan beragama masing-masing, dan menghormati nilai-nilai
kemanusiaan ke atas harkat dan martabat manusia, serta memperhatikan penguatan dan
pelestarian kesatuan nasional menuju keadilan sosial.
Makna sila ke empat Pancasila yang menyiratkan adanya sistem demokrasi, kalau
diperinci lebih dalam dan lebih luas lagi, maka unsur-unsur demokrasi : kerakyatan,
permusyawaratan dan kedaulatan rakyat, menurut Drs. Kaelan bisa diformulasikan
sebagai berikut:

6
1. Arti yang terkandung dalam pengertian “kerakyatan” adalah bersifat cita-cita
kefilsafatan, yaitu bahwa negara adalah untuk keperluan rakyat. Oleh karena itu
maka sifat dan keadaan negara harus sesuai dengan kepentingan seluruh rakyat.
Jadi “kerakyatan” pada hakekatnya lebih luas pengertiannya dibanding dengan
pengertian demokrasi, terutama demokrasi politik.
2. Pengertian demokrasi pada hakekatnya terikat dengan kata-kata
permusyawaratan/perwakilan. Hal ini sesuai dengan rumusan yang terdapat dalam
sila keempat Pancasila. Hal ini merupakan suatu cita-cita kefilsafatan demokrasi.
Terutama dalam kaitannya dengan demokrasi politik, karena cita-cita kefilsafatan
demokrasi politik ini, merupakan syarat mutlak bagi tercapainya maksud
kerakyatan.
3. Dalam pengertian “kerakyatan” terkandung pula cita-cita kefilsafatan demokrasi
sosial-ekonomi. Demokrasi sosial -ekonomi adalah untuk pelaksanaan persamaan
dalam lapangan kemasyarakatan (social) dan ekonomi untuk mewujudkan
kesejahteraaan bersama dengan sebaik-baiknya. Adapun untuk mencapai
kesejahteraan sosial-ekonomi tersebut harus dengan syarat demokrasi politik.
4. Dengan demikian maka dalam sila keempat senantiasa terkandung dasar bagi
cita-cita kefilsafatan yang terkandung dalam sila ke lima yaitu keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia’.
Apabila kita membahas sila ke 4 dari Pancasila, ada kebutuhan melihat Pancasila
sebagai suatu keutuhan, tidak bisa melihat Pancasila satu persatu sila yang ada, karena
kalau kita melihat sila dalam Pancasila satu persatu, kita tidak akan bisa melihat sesuatu
yang unik di Pancasila. Hendaknya kita harus melihat Pancasila dalam bentuk kesatuan
atau benang merah yang terangkai dalam sila-sila Pancasila sehingga maknanya adalah
sebuah prinsip dasar yang unik dan hanya dipunyai oleh bangsa Indonesia yang berbeda
dengan prinsip yang mendasari demokrasi barat ataupun komunis/sosialis yang
mendasari negara-negara Eropa Timur, China. Karena itu kita bisa membentuk persepsi
baru tentang Pancasila sebagai konsep dasar bangsa Indonesia dalam melaksanakan
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat dengan sistem
penyelenggaraan Negara secara demokratis yaitu sesuai dengan sila ke-4 dari Pancasila –
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan – tapi sistem demokrasi yang dibangun harus dalam
koridor atau dalam ruang lingkup sila-sila yang lain dalam Pancasila.

7
Apabila kita meterjemahkan Pancasila seperti tersebut diatas kita baru bisa
melihat Pancasila sebagai ideologi yang unik yang mungkin baru dimulai di Indonesia
yang mungkin bisa menjadi ideologi yang universal kalau negara dan bangsa Indonesia
mampu merealisasikan dalam bentuk nyata. Prinsip demokrasi yang punya koridor yang
sangat jelas pada batas-batas sila yang lain dalam Pancasila. Bukan prinsip demokrasi
untuk demokrasi tapi demokrasi yang punya tujuan mulia. Bukan juga demokrasi Barat
yang berpasangan dengan sistem ekonomi pasar bebas dan kapitalisme.
Pancasila adalah ideologi yang juga berarti suatu sistem ide yang dijadikan dasar Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai prinsip dasar negara yang diharapkan menjadi
“basic belief” ataupun “way of life” sudah pasti dibuat sesempurna mungkin jadi tidak
harus dirubah dari waktu ke waktu, kalau bisa sistem ide ini memang dibuat sekali tapi
sudah bisa mencakup periode yang selama-lamanya dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara Indonesia.
sila ke-4 Pancasila dapat dimaknai sebagai berikut: Arti yang terkandung dalam
pengertian “kerakyatan” adalah bersifat cita-cita kefilsafatan, yaitu bahwa negara adalah
untuk keperluan rakyat. Oleh karena itu maka sifat dan keadaan negara harus sesuai
dengan kepentingan seluruh rakyat. Jadi “kerakyatan” pada hakekatnya lebih luas
pengertiannya dibanding dengan pengertian demokrasi, terutama demokrasi politik,
pengertian demokrasi pada hakekatnya terikat dengan kata-kata
permusyawaratan/perwakilan. Hal ini sesuai dengan rumusan yang terdapat dalam sila
keempat Pancasila. Hal ini merupakan suatu cita-cita kefilsafatan demokrasi. Terutama
dalam kaitannya dengan demokrasi politik, karena cita-cita kefilsafatan demokrasi politik
ini, merupakan syarat mutlak bagi tercapainya maksud kerakyatan, dalam pengertian
“kerakyatan” terkandung pula cita-cita kefilsafatan demokrasi sosial-ekonomi.
Demokrasi sosial -ekonomi adalah untuk pelaksanaan persamaan dalam lapangan
kemasyarakatan (social) dan ekonomi untuk mewujudkan kesejahteraaan bersama
dengan sebaik-baiknya. Adapun untuk mencapai kesejahteraan sosial-ekonomi tersebut
harus dengan syarat demokrasi politik.

Pada dasarnya didalam sila keempat Pancasila dijelaskan tentang kerakyatan yang
diwakilkan sistem permusyawaratan dalam perwakilan. Dengan demikian, pemilihan
presiden harusnya dilakukan dalam forum permusyawaratan perwakilan. Jadi seharusnya
pemilihan presiden dilakukan di MPR sebagai lembaga tertinggi negara. Sila ke-4 pada
intinya adalah permusyawaratan perwakilan. Demokrasi di Indonesia itu merupakan

8
demokrasi perwakilan, bukanlah secara langsung. Seharusnya yang memilih presiden
adalah wakil rakyat yaitu melalui sebuah lembaga tinggi.
Sila keempat dalam Pancasila menjadi dasar Indonesia untuk menjadi negara
demokrasi. Hal itu menjadi perwujudan dalam penerapan asas-asas demokrasi pancasila.
Dalam hal ini, Indonesia memberi kebebasan kepada rakyat untuk mengemukakan
pendapat. Selain itu, Indonesia juga sangat menghargai suara rakyat dalam pengambilan
keputusan atau kebijakan politik. Berikut contoh-contoh yang mencerminkan bahwa
dunia politik indonesia menerapkan sila keempat Pancasila:
 Penerapan pemilihan langsung dalam sistem pemilu di Indonesia.
 Adanya Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah yang mewakili
suara rakyat dalam ranah politik Indonesia.
 Pengambilan kebijakan politik selalu diputuskan dengan sistem musyawarah
mufakat yang melibatkan pimpinan dan perwakilan rakyat.
 Pihak oposisi menghormati dan tetap melaksanakan kebijakan yang telah
ditetapkan sebagai wujud penghormatan pada hasil musyawarah mufakat.

Bila Pancasila benar-benar akan diamalkan sebagai dasar kehidupan kenegaraan,


tentu membutuhkan contoh pengamalannya berdasarkan berbagai macam keteladanan.
Keteladanan yang dapat ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari terutama oleh para
pemuka atau pemimpin yang berkuasa disemua tingkatan.
Tetapi tanggung jawab dari pengamalan Pancasila yang dimiliki oleh setiap
pemuka atau pemimpin berkuasa, tentu berbeda dengan tanggung jawab dari rakyat biasa
.Artinya, pengamalan Pancasila oleh para pemuka dan pemimpin rakyat dalam kehidupan
kenegaraan akan sangat berpengaruh pada kondisi sosial politik masyarakatnya, akan
berpengaruh pada tingkat stabilitas sosial politik masyarakatnya, dan akan sangat
berpengaruh pada semua upaya penegakan hukum dan keadilan sosialnya.
Tetapi pengamalan Pancasila tidak akan berjalan dengan baik jika tidak muncul kekuatan
kedaulatan rakyat yang dapat mengawasi kehidupan kenegaraan maupun kekuasaan para
pemimpin secara seutuhnya.
Misalnya saja, sampai saat ini para wakil rakyat yang lebih mengutamakan daerah
pemilihannya sendiri didalam mengalokasikan anggaran pembangunan, jelas hal itu akan
merusak keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam kehidupan kenegaraan
berdasarkan Pancasila, sila pertama sebenarnya mengedepankan betapa pentingnya
kehidupan kenegaraan dilandasi unsur spiritual (rohani, religius, keagamaan, etika,

9
moral). Tetapi kenyataan kehidupan kenegaraan yang dirasakan oleh kita selama ini,
unsur material (kebendaan, keuangan, kenikmatan jabatan yang sangat duniawi) sangat
menonjol sekali. Pancasila sebagai landasan kehidupan kenegaraan sebenarnya
merupakan sebuah landasan spiritual bangsa .Pada saat itu para pendiri bangsa ini
mempersiapkan bentuk dasar Negara dan kemerdekaannya, tidak terpikirkan bagaimana
ketiadaan dan kesiapan materi untuk mendukung perjuangannya. Sebagai landasan
spiritual, Pancasila terbukti telah mempersatukan bangsa ini pada masa awal perjuangan
kemerdekaannya. Para pemuka dan pemimpin rakyat pada saat itu benar-benar berjuang
untuk kepentingan negara dan rakyat dengan membangun kekuatan spiritual bangsa,
tanpa mementingkan kepentingan duniawi yang material .

C. Pelaksanaan Pemilu Sebagai Pengamalan Pancasila


Pelaksanaan pemilu dari tahun ketahun masih belum memuaskan karena apabila
dilihat dari sejarah politik indonesia dari orde baru pun ada suatu kejanggalan –
kejanggalan, contohnya ada monopoli politik yang dilakukan oleh beberapa partai politik
yang diatur dalam perpu dan dikecilkannya politik besar menjadi tiga partai dalam masa
orde baru.
Dalam sumber dijelaskan ada banyak penyimpangan dalam pelaksanaan pemilu
pada masa orde baru, seperti: penyelenggaraan pemilu tidak jujur dan adil, pengekangan
kebebasan berpolitik bagi PNS ( monoloyalitas ), masih ada intervensi pemerintah denan
lembaga peradilan, kurangnya jaminan kebebasan mengemikakan pendapat, sistem
kepartaian tidak otonom, pembatasan jumlah parpol secara paksa dan banyak lagi
penyimpangan demokrasi pancasila khusunya dalam pelaksanaan pemilu.
Pada masa sekarang sistem dalam pemilu dirubah semua dan peraturan pemilu pun
juga direvisi lagi yang diharapkan pemilu bisa berjalan dengan baik dan rakyat pun tidak
merasa kecewa atas pilihannya karena calon yang diajukan dalam pemilu sangat banyak
sehingga rakyat bisa memilih wakil yang diingikannya. Sehingga kebebasan hak asasi
manusia lebih diperhatikan.
Dalam pemilu sekarang sistemnya mungkin sudah bagus tetapi pada saat
pelaksanaan pemilu masih ada sedikit kejanggalan – kajanggalan yang ditemukan di
lapangan. Contohnya: maraknya sistem suap untuk memilih calon wakil rakyat,
pemanipulasian surat suara masih banyak, banyaknya parpol yang menyalahi aturan
dalam berkampaye dan kinerja KPU yang lamban dalam menyikapi pelanggaran yang
terjadi di lapangan.

10
Pelaksanaan pemilu yang dilakukan di indonesia mungkin masih belum sesuai
dengan nilai luhur pancasila tetapi dari sistem dan peraturan tetang pemilu mungkin
mendekati dengan nilai idologi pancasila. Sehingga diharapkan dengan adanya sistem
peraturan pemilu yang berlandaskan pancasila itu pelaksanaan pemilu menjadi sedikit
baik dan pelaksanaan pemilu menjadi jurdil luber.
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden sengaja dimasukkan di dalam Pasal 22E
Ayat (2) bukan kebetulan semata, melainkan sebuah kesengajaan yang dilakukan oleh
para pelaku perumus perubahan UUD 1945 saat itu yang berpendapat bahwa sebaiknya
pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden bersamaan dengan pemilihan umum untuk
memilih anggota DPR, DPD dan DPRD. Sehingga pemiihan umum dilakukan serentak
sekali dalam lima tahun, bukan dua kali dengan memisahkan pemilihan Presiden dan
Wakil Presiden tersendiri yang dilakukan sesudah pemilihan anggota legislatif. Kalau itu
dilaksanakan, akan ada lima kotak suara yang harus diisi, yaitu kotak suara untuk
memilih Presiden dan Wakil Presiden, DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD
kabupaten/kota.
Ada banyak keuntungan seandainya pemilihan umum diadakan serentak
sebagaimana yang difikirkan oleh pelaku perubahan UUD 1945. Di antaranya, akan
terjadi efisiensi biaya, memperpendek tensi suhu politik, dan ketegangan sosial akibat
Pemilu. Selain itu, dengan diberlakukannya pemilihan umum serentak maka koalisi
antarpartai bisa dilakukan sebelum pemilihan umum, bukan setelah Pemilu Legislatif.
Dalam kaitannya dengan Pemilihan Umum untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden,
UUD 1945 menentukan syarat-syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh para calon
Presiden dan Wakil Presiden, sekaligus bagaimana mekanisme yang harus dijalankan
dalam pemilihan tersebut. Secara khusus UUD 1945 setelah perubahan mengatur
pemilihan Presiden, yaitu dengan keharusan melakukan penggabungan dalam satu paket.
Alasan yang berkembang saat itu diantaranya adalah untuk menyederhanakan partai
politik. Dengan diharuskan calon Presiden dan Wakil Presiden satu paket maka bisa
dilakukan koalisi antarpartai untuk memenangkan calonnya.

Pasal 6A Ayat (1)

”Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh
rakyat.”

11
Selanjutnya Pasal 6 (A) ayat 2 muncul didasari pemikiran bahwa Presiden terpilih
agar bisa mudah dalam menjalankan tugas-tugasnya maka harus memiliki dukungan
yang kuat dari parlemen (DPR). Oleh karenanya, UUD 1945 mengharuskan bahwa
seorang Presiden dan Wakil Presiden diusung oleh partai politik atau gabungan partai
politik. UUD 1945 tidak memberi peluang bagi calon independen untuk mencalonkan
menjadi Presiden dan Wakil Presiden dengan alasan akan lemah di depan Parlemen
sehingga sulit menjalankan roda pemerintahan. Pasal ini juga menegaskan tentang
pentingnya partai politik dalam bangunan system kenegaraan yang demoktaris. Tak ada
demokrasi tanpa partai politik

Pasal 6A Ayat (2)

“Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau
gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum.”

Pasal 6A Ayat (3) selanjutnya merupakan buah pemikiran yang sangat mendalam
dari pelaku perubahan UUD 1945 untuk memecahkan persoalan yang muncul akibat
beraneka ragamnya penduduk Indonesia. Dengan ayat tersebut diharapkan bahwa
Presiden dan wakil Presiden yang terpilih mewakili seluruh elemen masyarakat. Artinya,
bagaimana sistem yang dibangun tidak dimonopoli oleh suku, agama, golongan, atau
daerah tertentu saja, melainkan mencakup seluruh bangsa Indonesia.

Pasal 6A Ayat (3) “Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapat-
kan suara lebih dari lima puluh persen dari jumlah suara dalam pemilihan umum dengan
sedikitnya dua puluh persen suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah
jumlah provinsi di Indonesia, dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden.“

Demikian pula pada Pasal 6A Ayat (4). Para pelaku perubahan UUD 1945 saat itu
berpendapat bahwa keharusan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden memperoleh
suara lebih dari lima puluh persen adalah untuk memperkuat legitimasi seorang Presiden
dalam menjalankan roda pemerintahannya.

Pasal 6A Ayat (4) “Dalam hal tidak ada pasangan calon Presiden dan Wakil Pre-
siden terpilih, dua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua
dalam pemilihan umum dipilih oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang
memperoleh suara rakyat terbanyak dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden.”

12
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung sebagaimana yang
diamanatkan oleh Pasal 6A UUD 1945 adalah murni pemilu rakyat. Tidak semua negara
yang mengklaim dirinya demokrasi menerapkan sistem pemilu rakyat. Amerika Serikat
yang menjadi rujukan utama demokrasi dunia, tidak menganut sistem se-demokratis di
Indonesia. Di negara tersebut, dianut mekanisme electoral collage. Seorang calon
Presiden meskipun dia memperoleh suara terbanyak dalam pemilu, tetapi dia kalah suara
di electoral collage, dia tidak bisa jadi Presiden. Hal inilah yang menimpa Calon Presiden
Al Gore dari Partai Demokrat pada 2000. Saat itu, popular votes Al Gore lebih unggul
daripada Bush. Dia memperoleh 48.595.533 suara dan Bush hanya 48.363.922 suara. Al
Gore unggul 231.611 suara. Artinya, suara rakyat secara langsung mendukung Al Gore
sebagai Presiden. Namun, peraturan AS menyebutkan, kepastian siapa yang menang
ditentukan oleh electoral collage. Rakyat ke kotak suara untuk memilih elector, bukan
memilih Presidennya secara langsung.
Selain melakukan pemilihan langsung Presiden dan Wakil Presiden untuk
mengemban tugas pemerintahan (eksekutif), rakyat juga mempunyai hak untuk memilih
para wakil-wakilnya di lembaga perwakilan, yaitu DPR dan DPD untuk mengemban
tugas legislatif. Pasal 19 Ayat (1) UUD 1945 setelah perubahan mengatakan, “Anggota
Dewan Perwakilan Rakyat dipilih melalui pemilihan umum.” Sementara pengisian
anggota DPD diatur di dalam Pasal 22C Ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi, “Anggota
Dewan Perwakilan Daerah dipilih dari setiap provinsi melalui pemilihan umum.”
Proses pemilihan umum langsung tentunya tidak terlepas dari dasar negara RI
yaitu Pancasila, terutama sila ke-4 Pancasila. Apabila kita lihat antara keterkaitan antara
sistem pemilihan umum langsung dengan sila ke-4 Pancasila, maka kurang adanya
kesesuaian.
Setelah empat kali amandemen, sila ke 4 dari Pancasila yang bisa diartikan
sebagai sistem pemerintahan yang demokratis yaitu sistem pemerintahan yang
mendasarkan diri kepada kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan, telah tercermin dalam pasal-pasal di UUD’45, sebagai
berikut:

1. BAB II – MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, pasal 2 s/d pasal 3.


2. BAB III – KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA, pasal 4 s/d pasal 16.
3. BAB IV – DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG, dihapus pada amandemen IV –
2002.

13
4. BAB V – KEMENTERIAN NEGARA, pasal 17
5. BAB VI – PEMERINTAH DAERAH, pasal 18, 18A, dan 18B
6. BAB VII – DEWAN PERWAKILAN RAKYAT. Pasal 19 s/d pasal 22B
7. BAB VIIA - DEWAN PERWAKILAN DAERAH, pasal 22C, 22D
8. BAB VIIB – PEMILIHAN UMUM, pasal 22E
9. BAB VIII - HAL KEUANGAN, pasal 23 s/d 23D
10. BAB VIIIA - BADAN PEMERIKSA KEUANGAN, pasal 23E s/d 23G
11. BAB IX – KEKUASAAN KEHAKIMAN, pasal 24 s/d pasal 25

Pasal-pasal tersebut telah mengalami empat kali amandemen untuk sampai pada
bentuk yang sekarang ini yang pada hakekatnya membagi kekuasaan negara untuk lebih
berimbang diantara lembaga tinggi negara (MPR, DPR, DPD, BPK, Presiden dan
Mahkamah Agung) sehingga kekuasaan tidak terpusat terlalu besar di Presiden
(Eksekutif) saja seperti yang tercermin pada UUD’45 sebelum amandemen.
Kalau kita menterjemahkan sila ke-4 dari Pancasila - kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan – adalah sistem demokrasi
untuk penyelenggaraan Negara, sudah barang tentu amandemen UUD’45 yang berkaitan
dengan ketatanegraan ini adalah kemajuan yang sangat besar dibandingkan dengan
UUD’45 versi aslinya yang kekuasaan Negara terlalu besar berada di Presiden
(Eksekutif).
Menurut Drs. Kaelan, sila ke-4 Pancasila dapat dimaknai sebagai berikut: Arti
yang terkandung dalam pengertian “kerakyatan” adalah bersifat cita-cita kefilsafatan,
yaitu bahwa negara adalah untuk keperluan rakyat. Oleh karena itu maka sifat dan
keadaan negara harus sesuai dengan kepentingan seluruh rakyat. Jadi “kerakyatan” pada
hakekatnya lebih luas pengertiannya dibanding dengan pengertian demokrasi, terutama
demokrasi politik, pengertian demokrasi pada hakekatnya terikat dengan kata-kata
permusyawaratan/perwakilan. Hal ini sesuai dengan rumusan yang terdapat dalam sila
keempat Pancasila. Hal ini merupakan suatu cita-cita kefilsafatan demokrasi. Terutama
dalam kaitannya dengan demokrasi politik, karena cita-cita kefilsafatan demokrasi politik
ini, merupakan syarat mutlak bagi tercapainya maksud kerakyatan, dalam pengertian
“kerakyatan” terkandung pula cita-cita kefilsafatan demokrasi sosial-ekonomi.
Demokrasi sosial -ekonomi adalah untuk pelaksanaan persamaan dalam lapangan
kemasyarakatan (social) dan ekonomi untuk mewujudkan kesejahteraaan bersama

14
dengan sebaik-baiknya. Adapun untuk mencapai kesejahteraan sosial-ekonomi tersebut
harus dengan syarat demokrasi politik.
Pada dasarnya didalam sila keempat Pancasila dijelaskan tentang kerakyatan yang
diwakilkan sistem permusyawaratan dalam perwakilan. Dengan demikian, pemilihan
presiden harusnya dilakukan dalam forum permusyawaratan perwakilan. Jadi seharusnya
pemilihan presiden dilakukan di MPR sebagai lembaga tertinggi negara. Sila ke-4 pada
intinya adalah permusyawaratan perwakilan. Demokrasi di Indonesia itu merupakan
demokrasi perwakilan, bukanlah secara langsung. Seharusnya yang memilih presiden
adalah wakil rakyat yaitu melalui sebuah lembaga tinggi.
Pancasila sebagai dasar negara Pilpres atau Pemilihan Presiden sebentar lagi akan
berlangsung, lebih tepatnya pada tanggal 9 Juli 2014 sebentar lagi Indonesia akan
mendapatkan presiden ke-7 dalam sejarah NKRI. Indonesia bersiap menantikan
pemimpin baru yang akan memimpin negara kita tercinta ini selama setidaknya 5 tahun
kedepan. pada saat ini penduduk indonesia dihadapkan pada 2 pilihan yaitu pasangan
Jokowi-JK atau Prabowo dan Hatta Rajasa. Kedua pasangan calon ini tentunya sama-
sama mempunyai tekad yang mulia yaitu mempimpin negara kita tercinta ini menjadi
negara yang lebih baik lagi dari Indonesia yang sebelumnya. saya tidak meragukan
kapasitas dan kapabilitas kedua calon pemimpin kita yang betul-betul memiliki gaya
kepemimpinan yang sangat bertolak belakang.

15
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Dari uraian pada halaman pambahasan dapat kita simpulkan bahwa:
 Pemilu merupakan pelaksanaan demokrasi pancasila secara tidak langsung karena
rakyat tidak langsung menjalankan pemerintahan tetapi rakyat memilih wakil
rakyat untuk menjalankan pemerintahan negara indonesia.
 Pemilu dikatakan sebagai pengamalan pancasila karena pemilu mempunyai
landasan undang – undang yang sah dimata hukum dan pemilu juga diatur dalam
UUD 1945 yang berlandaskan pada nilai – nilai luhur pancasila.
 Sistem pelaksanaan pemilu di indonesia sudah hampir sejalan dengan nilai luhur
pancasila tetapi dalam pelaksanaannya di lapangan masih ada kecurangan –
kecurangan yang seharusnya tidak diharapkan. Karena kecurangan tersebut sangat
merusak nilai pancasila.

B. Saran
Semoga kita sebagai warga Negara yang baik bisa mengamalkan nilai – nilai
pancasila khususnya ketika pesta demokrasi berlangsung demi terwujudnya Demokrasi
Pancasila.

16
DAFTAR PUSTAKA

http://pemudakompeten.blogspot.com/2010/03/pemilu-sebagai-pengamalan-
demokrasi.html
http://dedetugas.blogspot.com/2016/10/nilai-nilai-pancasila-dalm-pilkada.html
https://www.academia.edu/6708458/Hubungan_Antara_Sistem_Pemilu_dengan_Pancasil
a
https://www.kompasiana.com/sigalo/54f73056a33311b7728b46e2/pengamalan-nilai-
nilai-pancasila-dalam-pemilihan-presiden
http://law.ui.ac.id/v3/makna-sila-ke-4-dalam-konteks-pilkada-2/

17