Anda di halaman 1dari 8

Penyakit paru pada pelaksanaan Haji

RANGKUMAN

Penyakit Pernapasan Pada Jamaah Haji

1.PPOK

Penyakit paru obstruksi kronik adalah penyakit paru kronik yang bisa dicegah dan
diobati. PPOK ditandai dengan adanya hambatan aliran udara di saluran napas yang
bersifat progresif nonreversibel atau reversibel parsial, serta adanya respons inflamasi
paru terhadap partikel atau gas yang berbahaya (GOLD, 2015).

Faktor risiko ppok


- Paparan dari asap rokok
- Polusi udara
- Stres oksidatif
- Infeksi saluran napas
- Sosial ekonomi
- Tumbuh kembang paru
- Genetik

2 Asma
Penyakit yang heterogen, dengan karakteristik adanya inflamasi kronis saluran napas. Hal
ini ditandai dengan riwayat gejala saluran napas berupa whizing, sesak napas, dada terasa
berat dan batuk yang bervariasi dari waktu kewaktu serta intensitasnya dan adanya
keterbatasan aliran udara ekspirasi yang bervariasi”
Beberapa gambaran gejala yang dapat mengarah pada diagnosis asma adalah :
- Pasien mengeluhkan adanya gejala lebih dari satu macam (adanya whizing, sesak napas,
dan dada terasa berat).
- Gejala biasanya memburuk pada malam serta dini hari.
- Intensitas gejala berubah-ubah.
- Adanya faktor pencetus dari gejala yang timbul, bisa berupa infeksi virus, asap,
paparan alergen atau hal-hal lain yang bersifat individual

SERANGAN ASMA BERAT


Sesak napas : saat istirahat
Posisi : duduk membungkuk
Berbicara : kata demi kata
Kesadaran : biasanya agitasi
RR : > 30 x/menit
Otot bantu napas : biasanya ada
HR : > 120 x/menit
Mengi : ekspirasi & inspirasi
Pulsus paradoksus : sering ada > 25 mmHg
APE : < 60 % (< 100 L/menit)
PaO2 : < 60 mmHg
PaCO2 : > 45 mmHg
Saturasi O2 : < 90 %
Bronkitis

4. Pneumonia

Secara klinis pneumonia didefinisikan sebagai suatu peradangan paru yang disebabkan
oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit). Pneumonia yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis tidak termasuk. Sedangkan peradangan paru yang
disebabkan oleh nonmikroorganisme (bahan kimia, radiasi, aspirasi bahan toksik, obat-
obatan dan lain-lain) disebut pneumonitis

KLASIFIKASI
Berdasar klinis dan epidemiologis:
- Pneumonia komuniti (community-acquired pneumonia)
- Pneumonia nosokomial (hospital-acquired pneumonia / nosocomial pneumonia)
- Pneumonia aspirasi
- Pneumonia pada penderita immunocompromised .

DEFINISI
- Pneumonia rumah sakit (HAP) atau pneumonia nosokomial adalah pneumonia yang
terjadi setelah 48 jam dirawat dan ketika dirawat tidak dalam masa inkubasi
- Ventilator associated pneumonia ( VAP); pneumonia yang terjadi setelah lebih dari 48
jam setelah pemasangan intubasi endotrakeal
- Health care associated pneumonia (HCAP) pneumonia yang terjadi setelah kontak
dengan sistem perawatan kesehatan di rumah sakit,meskipun tidak dirawat
Diagnosis pasti pneumonia ditegakkan jika pada foto toraks terdapat infiltrat baru atau
infiltrat progresif ditambah dengan 2 atau lebih gejala di bawah ini :
- Batuk-batuk bertambah
- Perubahan karakteristik dahak/purulen
- Suhu tubuh > 380C (aksila) / riwayat demam
- Pemeriksaan fisis : ditemukan tanda-tanda konsolidasi, suara napas bronkial dan ronki
- Leukosit > 10.000 atau < 4500

5. TB Paru
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan di dunia. Pada tahun 1993 WHO
menyatakan tuberkulosis sebagai Global Emergency. Indonesia menempati urutan kedua
terbesar setelah India, Indonesia, Cina, Afrika Selatan dan Nigeria.
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.
Bersifat batang tahan asam (BTA) berukuran lebar 0.3 – 0,6 µm dan panjang 1-4 µm.
Bakteri ini masuk ke paru, berkembang biak dengan cara membelah diri dan selanjutnya
akan terjadi peradangan.

Diagnosis
a. Gejala Klinis
Gejala klinis dibagi menjadi dua golongan yaitu ;
1. Lokal
Bila organ yang terkena adalah paru maka gejala lokal ialah gangguan respirasi berupa
- batuk > 2 minggu
- sesak napas
- nyeri dada dan batuk darah.

2. Sistemik
Gejala sistemik meliputi
- demam
- malaise
- keringat malam
- anoreksia dan berat badan menurun.

b. Pemeriksaan Radiologi
• Standar : Toraks PA;
Ro toraks Sugestif tuberculosis jika ditemukan lesi di lapangan atas, Fibroinfitrat dan
Cavitas

-c. Pemeriksaan bakteriologi

6. Emerging diseases (MERS-CoV)

MERS CoV adalah penyakit sindrom pernapasan yang disebabkan oleh virus Corona
yang menyerang saluran pernapasan mulai dari ringan sampai berat . Kasus pertama
dilaporkan September 2012 di Arab Saudi

Deteksi dan Tatalaksana Dini

Sebelum menentukan pasien suspek MERS CoV dilakukan :

Anamnesis:
- demam suhu > 38 C,
- batuk dan sesak,
- riwayat bepergian dari negara timur tengah 14 hari sebelum onset

Pemeriksaan fisis: sesuai dengan gambaran pneumonia

Klasifikasi

 Kasus dalam penyelidikan /Suspek


A. Pasien dengan ISPA) yaitu demam atau riwayat demam, batuk. DAN pneumonia atau
dengan ARDS (pasien immunocompromised mempunyai gejala dan tanda yang tidak
jelas) dan salah satu dari berikut :
- Riwayat perjalanan ke Timur Tengah atau Negara terjangkit dalam waktu 14 hari
sebelum mulainya gejala
- pneumonia yang bukan disebabkan oleh infeksi lainnya
- Penyakit muncul dalam satu klaster yang terjadi dalam waktu 14 hari, tanpa
memperhatikan tempat tinggal atau riwayat bepergian, kecuali ditemukan etiologi lain.
- Penyakit terjadi pada petugas kesehatan yang bekerja di RS/layanan kesehatan yang
merawat pasien dengan ISPA berat (SARI), terutama pasien yang memerlukan perawatan
intensif, tanpa memperhatikan tempat tinggal atau riwayat bepergian, kecuali ditemukan
etiologi lain
- Radiologi: Foto toraks dapat ditemukan infiltrat, konsolidasi sampai gambaran ARDS
- Laboratorium: ditentukan dari pemeriksaan PCR dari swab tenggorok dan sputum

B. Seseorang yang memiliki riwayat perjalanan ke Timur Tengah atau negara terjangkit
dalam waktu 14 hari sebelum mulai sakit selain ISPA (Pada pasien dengan gangguan
kekebalan tubuh kemungkinan tanda dan gejala tidak jelas)

C. Seseorang dengan penyakit pernapasan akut dengan berbagai tingkat keparahan


(ringan – berat) yang dalam waktu 14 hari sebelum mulai sakit, memiliki riwayat kontak
erat dengan kasus konfirmasi atau kasus probable infeksi MERS-CoV yang sedang sakit

 Kasus Probable
 Kasus konfirmasi

Tatalaksana MERS CoV 


 Identifikasi 
semua kasus kontak MERS CoV terutama HCW,dan pasien ranap kontak

 Isolasi dan follow up


Isolasi di rumah atau RS
Isolasi di rumah TIDAK dilakukan pada kondisi
- terdapat faktor risiko menjadi berat (komorbid, umur)
- kondisi lingkungan dan sosial tidak memadai
- Memiliki anggota keluarga berisiko MERS CoV berat