Anda di halaman 1dari 12

BAB 2

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pondasi Tiang Pancang


Pondasi adalah suatu struktur yang berguna untuk meneruskan beban dari
struktur bangunan ke tanah. Pada tanah dengan lapisan tanah keras yang jauh,
diperlukan pondasi yang dalam agar beban dapat ditransfer ke tanah keras dengan
baik.
Pondasi tiang adalah konstruksi berbentuk tiang pada bagian dasar dari
struktur bangunan yang ditanam ke dalam tanah dan berfungsi untuk meneruskan
beban dari bagian atas struktur ke lapisan tanah di bawahnya. Jika tiang yang
digunakan tidak bisa mencapai tanah keras, maka digunakan floating piles yang
meneruskan beban secara bertahap oleh gaya geser pada sisi tiang (Viggiani dkk,
2012)

Gambar 2.1. Ilustrasi tiang pancang dan berbagai beban yang mungkin
terjadi pada tiang

2.2. Pile Cap


Pile cap merupakan suatu cara untuk mengikat pondasi sebelum didirikan
kolom di bagian atasnya agar lokasi kolom benar-benar berada dititik pusat pondasi
sehingga tidak menyebabkan eksentrisitas yang dapat menyebabkan beban
tambahan pada pondasi. Pile cap tersusun atas tulangan baja berdiameter 16mm,
19mm, dan 25mm yang membentuk suatu bidang dengan ketebalan 50mm dan
lebar yang berbeda-beda tergantung dari jumlah tiang yang tertanam. Fungsi Pile

1 Universitas Sriwijaya
2

cap adalah untuk menerima beban dari kolom yang kemudian akan terus disebarkan
ke tiang pancang dimana masing-masing pile menerima (1/jumlah kelompok pile)
dari beban oleh kolom dan harus lebih daripada daya dukung yang diijinkan (ton).
Selain itu, seperti halnya kepala kolom, pile cap juga berfungsi untuk menahan gaya
geser dari pembebanan yang ada. Bentuk dari pile cap dapat berbentuk segitiga dan
persegi panjang, jumlah pondasi yang diikat pada tiap pile cap yaitu berbeda-beda,
ada yang mengikat 2 dan 4 buah pondasi yang diikat menjadi satu.

Gambar 2.2. Berbagai konfigurasi susunan pile cap

2.3. Material Pondasi Tiang Pancang dan Pile Cap

2.4. Manajemen Proyek


Secara umum manajemen dibagi menjadi dua tipe, manajemen fungsional
yang kadang dikenal sebagai manajemen terapan dan manajemen proyek.
Manajemen fungsional melibatkan koordinasi dari pekerjaan berulang yang
dilakukan oleh orang-orang yang sama, contohnya adalah manajemen dari bagian
bagian desain teknik, survei, estimasi dan lain sebagainya. Sedangkan manajemen
proyek melibatkan koordinasi dari pekerjaan (onetime work) dari satu tim yang
terdiri dari orang-orang yang sebelumnya tidak pernah bekerja bersama, contohnya
adalah manajemen dari desain dan/atau konstruksi dari stasiun bawah tanah, pusat
perbelanjaan, kilang minyak, instalasi pengolahan air, dan lain sebagainya.

Universitas Sriwijaya
3

Prinsip dasar dari manajemen proyek adalah mengorganisir pekerjaan-


pekerjaan proyek yang harus diselesaikan. Lingkup pekerjaan difokuskan pada
semua hal yang harus segera diselenggarakan dan berapa banyak pekerjaan ini
memakan biaya (Oberlender, 2000).

2.4.1. Tujuan dan Fungsi Manajemen Proyek


Manajemen proyek memiliki tujuan yang harus bisa dicapai saat pelaksanaan
proyek. Tujuan manajemenen proyek seperti; penyelesaian suatu proyek sesuai
dengan waktu yang ditentukan dan tidak terjadi keterlambatan, penggunaan
anggaran dalam proyek sesuai dengan rencana anggaran yang telah disusun dan
tidak ada pemborosan dan biaya tambahan di luar rencana anggaran, kualitas sesuai
dengan kriteria yang disyaratkan, dan keberjalanan kegiatan proyek berlangsung
dengan lancar.
Manajemen seringkali dikategorikan memiliki lima fungsi: perencanaan
(planning), pengorganisasian (organizing), kepegawaian (staffing), pengarahan
(directing), dan pengontrolan (controlling). Meski lima fungsi dasar ini berkembang
dalam manajemen bisnis, fungsi-fungsi ini juga berlaku sama dalam manajemen
proyek.
Perencanaan (planning) adalah penentuan acuan pekerjaan yang diperlukan
agar proyek dapat selesai. Dimulai dari bagian paling awal proyek dalam berbagai
aspek, dan dilanjutkan sepanjang masa proyek hingga selesai. Pembentukan
milestone dan pertimbangan kemungkinan-kemungkinan hambatan adalah bagian
utama dari perencanaan. Kesuksesan dari proyek dicapai dengan partisipasi dari
semua pihak yang terlibat dalam proyek, harus ada rencana pengoperasian secara
eksplisit untuk memandu proyek sepanjang pengerjaan.
Pengorganisasian (organizing) adalah pengaturan sumberdaya proyek secara
sistematis. Sebuah proyek harus diorganisir untuk setiap pekerjaan yang dilakukan,
pembagian pekerjaan ini harus dibuat agar proyek bisa dikelola secara terukur.
Struktur pembagian pekerjaan adalah sebuah sistem bertingkat yang terdiri dari
berbagai tugas (task), subtugas (subtask), dan berbagai pekerjaan.
Kepegawaian (staffing) adalah seleksi individu yang memiliki kemampuan
untuk menghasilkan pekerjaan. Setiap pekerja yang terlibat memiliki pengaruh

Universitas Sriwijaya
4

dalam proyek, sumberdaya manusia dianggap sebagai sumberdaya paling penting


dalam suatu proyek. Setiap pekerja memiliki kemampuan seperti mendesain,
mengkoordinasi, hingga menyusun sebuah proyek. Kebanyakan dari masalah-
masalah yang mungkin timbul selama masa proyek aka diselesaikan oleh manusia
atau pekerja itu sendiri.
Pengarahan (directing) adalah pedoman yang diperlukan untuk
menyelesaikan sebuah proyek. Semua orang yang terlibat dalam proyek dengan
berbagai keahlian berbeda harus dibagi ke dalam tim. Walaupun setiap orang
memiliki pekerjaan yang berbeda sesuai keahlian masing-masing, semua pekerjaan
yang ada harus diarahkan secara kolektif dalam upaya dan tujuan yang sama.
Pengontrolan (controlling) adalah pembentukan suatu sistem untuk
mengukur, melaporkan, dan meramalkan penyimpangan yang mungkin terjadi
dalam lingkup pekerjaan, anggaran, dan jadwal. Tujuan dari pengontrolan adalah
untuk memprediksi penyimpangan dalam proyek solusi bisa diambil. Pengontrolan
proyek membutuhkan laporan secara terus-menerus agar bisa dikendalikan
sepanjang pekerjaan. Pengontrolan seringkali menjadi bagian paling sulit dari
fungsi manajemen proyek.

2.4.2. T

2.4.3. Konflik dalam Manajemen Proyek


Dikarenakan lingkungan proyek yang tidak pasti, konflik antar tim hampir
tidak bisa dihindari. Konflik ini bisa didasari oleh hal-hal seperti distribusi sumber
daya, akses informasi, perselisihan pendapat, hingga persepsi dari individu yang
tidak dihormati oleh sebagian atau seluruh bagian tim.
`

2.5. Produktivitas Tenaga Kerja

Universitas Sriwijaya
5

Jika membicarakan masalah produktivitas munculah satu situasi yang yang


paradoksial (bertentangan), karena belum ada kesepakatan umum tentang maksud
pengertian produktivitas serta kriterianya dalam mengukur petunjuk-petunjuk
produktivitas. Dan tak ada konsepsi, metode penerapan maupun cara pengukuran yang
bebas dari kritik (Sinungan, Muchdarsyah, 1995). Para ahli tidak memberikan rumusan
produktivitas yang sama, karena itu masih ditemukan pengertian produktivitas dalam
berbagai cara, namun pada prinsipnya mempunyai kesamaan.

Dalam berbagai referensi terdapat banyak sekali pengertian mengenai


produktivitas, yang dapat dikelompokkan menjadi dua (Sinungan, Muchdarsyah, 1995)
yaitu:

a. Rumusan tradisional bagi keseluruhan produktivitas tidak lain ialah ratio dari apa
yang dihasilkan (output) terhadap keseluruhan peralatan produksi yang
dipergunakan (input).
b. Produktivitas merupakan interaksi terpadu secara serasi dari tiga faktor penting,
yakni: Investasi, termasuk penggunaan pengetahuan dan teknologi serta riset,
manajemen, dan tenaga kerja.
c. Secara umum produktivitas didefinisikan sebagai perbandingan antara keluaran
suatu proses terhadap sumber daya masukan dalam proses tersebut, yang dapat
digambarkan sebagai berikut:

𝑀𝑎𝑠𝑢𝑘𝑘𝑎𝑛
Produktivitas = 𝐾𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛
(3.7)

Keluaran adalah hasil yang bermanfaat bagi manusia yang didapat dari suatu
kegiatan, sedangkan masukan adalah sumber-sumber yang digunakan untuk memperoleh
hasil tersebut. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa produktivitas berarti juga suatu
ukuran efektivitas masukan yang digunakan suatu proses untuk menghasilkan
keluarannya. Definisi produktivitas secara umum yaitu:

Produktivitas = Output : Satuan Waktu (3.8)

Universitas Sriwijaya
6

Salah satu pendekatan untuk mencoba mengukur hasil guna tenaga kerja adalah
dengan memakai parameter indeks produktivitas dirumuskan sebagai berikut (Soeharto,
1995) :

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑚 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑑𝑖𝑔𝑢𝑛𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘


𝑚𝑒𝑛𝑦𝑒𝑙𝑒𝑠𝑎𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑒𝑛𝑡𝑢
Produktivitas= 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑚 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 (3.9)
𝑚𝑒𝑛𝑦𝑒𝑙𝑒𝑠𝑎𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑘𝑜𝑛𝑑𝑖𝑠𝑖 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟

Produktivitas adalah suatu pendekatan interdisipliner untuk menentukan tujuan


yang efektif, pembuatan rencana, aplikasi penggunaa cara yang produktif untuk
menggunakan sumber-sumber secara efisien, dan tetap menjaga adanya kualitas yang
tinggi (Soeharto, 1995). Sedangkan efektivitas adalah suatu perbandingan antara evaluasi
pekerjaan dari suatu unit output dengan evaluasi satu unit input sehingga dapat diperoleh
besarnya efektivitas dari suatu jenis pekerjaan yang ditinjau.

Kurang diperhatikannya pekerja pada suatu proyek konstruksi dapat


menghambat pekerjaan konstruksi tersebut. Ada beberapa macam faktor yang dapat
mempengaruhi produktivitas dalam proyek konstruksi, dimana salah satunya
adalah tenaga kerja yang berkaitan langsung dengan proses pembangunan kontruksi
di lapangan. Manajemen memang selalu diarahkan sebagai upaya meminimalisir
baik dalam hal biaya pendanaan, fasilitas, ataupun sumber daya manusianya, namun
tetap ditempatkan dalam porsi yang tepat sehingga tujuan usaha tercapai. Prinsip
manajemen pada umumnya adalah peningkatan efisiensi dengan mengurangi
pemborosan (wastage).
Sumber-sumber yang ada digunakan secara maksimal, termasuk modal,
bahan-bahan mentah dan setengah jadi, dan tenaga kerja sendiri. Ketidak-
efisiensian terjadi karena manajemen yang kurang baik atau kurangnya pengawasan
dari manajer. Ketidak efisiensian itu dapat diketahui melalui analisa dari hasil
pengamatan terhadap aktivitas tiap pekerjaan dalam jangka waktu tertentu
(Oglesby, 1989). Dalam bidang konstruksi, produktivitas merupakan suatu unsur
utama dalam menentukan keberhasilan pelaksanakan suatu proyek konstruksi

Universitas Sriwijaya
7

pemberdayaan tenaga kerja tidak efektif, seperti menganggur, mengobrol, makan,


minum, merokok yang dilakukan di luar jam istirahat. Produktivitas adalah
interaksi antar tiga faktor yang mendasar (Muchdarsyah, 1992) yaitu:
1. Investasi
Komponen pokok dari investasi ialah modal, karena modal merupakan landasan
gerak suatu usaha, namun modal saja tidaklah cukup, untuk itu harus ditambahkan
dengan komponen teknologi. Untuk berkembang menjadi bangsa yang maju harus dapat
mengusai teknologi yang memberi dukungan kepada kemajuan pembangunan nasional,
ditingkat mikro tentunya teknologi yang mampu mendukung kemajuan usaha atau
perusahaan.

2. Manajemen
Kelompok manajemen dalam organisasi bertugas pokok menggerakan orang-orang
lain untuk bekerja sedemikian rupa sehingga tujuan tercapai dengan baik. Hal-hal yang
kita hadapi dalam manajemen, terutama dalam organisasi modern, ialah semakin
cepatnya cara kerja sebagai pengaruh langsung dari kemajuan-kemajuan yang diperoleh
dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang mempengaruhiseluruh aspek
organisasi seperti prosesproduksi, distribusi, pemasaran dan lain-lain.

3. Tenaga kerja
Dalam penyelenggaraan proyek, salah satu sumber daya yang menjadi penentu
keberhasilannya adalah tenaga kerja. Jenis dan intensitas kegiatan proyek berubah
sepanjang siklusnya, sehingga penyediaan jumlah tenaga, jenis keterampilan dan
keahliannya harus mengikuti tuntutan perubahan kegiatan yang sedang berlangsung.

Bertolak dari kenyataan tersebut, maka suatu perencanaan tenaga kerja proyek
yang menyeluruh dan terperinci harus meliputi perkiraan jenis dan kapan tenaga kerja
dibutuhkan. Dengan mengetahui perkiraan angka dan jadwal kebutuhannya, maka dapat
dimulai kegiatan pengumpulan informasi perihal sumber penyediaan, baik kualitas
maupun kuantitas. Dalam pelaksanaan proyek, jumlah kebutuhan tenaga kerja yang
terbesar adalah tenaga kerja lapangan. Tenaga kerja lapangan ini berhubungan langsung
dengan pekerjaan fisik konstruksi di lapangan. Tenaga konstruksi dapat digolongkan
menjadi dua macam (Soeharto, 1995):

Universitas Sriwijaya
8

a. Penyedia atau pengawas, bertugas untuk mengawasi dan mengarahkan


pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja/buruh lapangan. Setiap
pengawas membawahi sejumlah pekerja lapangan.
b. Pekerja atau buruh lapangan (craft labour), terdiri dari berbagai macam tukang
yang memiliki keahlian tertentu, seperti: tukang kayu, tukang besi, tukang batu,
tukang alumunium dan tukang cat. Dalam melaksanakan pekerjaan biasanya
mereka dibantu oleh pembantu tukang atau pekerja (buruh terlatih, buruh semi
terlatih, dan buruh tak terlatih).
Dalam hal ini hanya akan membahas kebutuhan pekerja atau buruh lapangan saja.
Bila dilihat dari bentuk hubungan kerja antara pihak yang bersangkutan, maka tenaga
kerja proyek khususnya tenaga kerja konstruksi dibedakan menjadi :

a. Tenaga kerja borongan, tenaga kerja berdasarkan ikatan kerja yang ada antara
perusahaan penyedia tenaga kerja (labour supplier) dengan kontraktor untuk
jangka waktu tertentu.
b. Tenaga kerja langsung (direct hire), tenaga kerja yang direkrut dan menandatangani
ikatan kerja perorangan dengan perusahaan kontraktor. Umumnya diikuti dengan
latihan, sampai dianggap cukup memiliki kemampuan dan kecakapan dasar.
Produktivitas pekerja dinyatakan sebagai orang jam (OJ) atau orang hari (OH) yang
diperlukan untuk menghasilkan suatu satuan pekerjaan tertentu. Pengukuran
produktivitas kerja tersebut menggunakan metode “Time and motion study” dengan
mengamati gerak para pekerja dan produknya pada setiap menitnya. Selain itu,
pendekatan lain yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah dengan menggunakan
metode site progress record yang menggunakan laporan harian proyek sebagai acuan.
Rumus yang digunakan dalam perhitungan produktivitas diambil dari peraturan
Departemen Pekerjaan Umum No.11 Tahun 2013 yaitu sebagai berikut :

𝐽𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑒𝑓𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓 𝑝𝑒𝑟ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑥 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎


Koefisien tenaga kerja = 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 𝑝𝑒𝑟ℎ𝑎𝑟𝑖
(3.10)

𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 𝑝𝑒𝑟ℎ𝑎𝑟𝑖
Produktivitas tenaga kerja (OJ) = 𝐽𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑒𝑓𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓 𝑥 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑛𝑎𝑔𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎
(3.11)

Produktivitas tenaga kerja (OH) = (OJ) x jam kerja efektif (3.12)

Universitas Sriwijaya
9

𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
Waktu penyelesaian pekerjaan = (3.13)
𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 𝑝𝑒𝑟ℎ𝑎𝑟𝑖

2.6. Faktor-faktor yang Memengaruhi Produktivitas Tenaga Kerja


Penelitian tentang produktivitas telah banyak dilakukan, di antaranya dilakukan di
Singapura oleh Low pada tahun 1992. Low menyimpulkan bahwa produktivitas konstruksi
dipengaruhi oleh tujuh faktor, yaitu:

a. Buildability
b. Structure of industry
c. Training
d. Mechanization and automation
e. Foreign labour
f. Standardization
g. Building control

Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas proyek diklasifikasikan menjadi


empat kategori utama (Ervianto, 2005), yaitu:
a. Metoda dan teknologi, terdiri atas faktor: disain rekayasa, metoda konstruksi,
urutan kerja, pengukuran kerja.
b. Manajemen lapangan, terdiri atas faktor: perencanaan dan penjadwalan,tata letak
lapangan, komunikasi lapangan, manajemen material,manajemen peralatan,
manajemen tenaga kerja.
c. Lingkungan kerja, terdiri atas faktor: keselamatan kerja, lingkunganfisik, kualitas
pengawasan, keamanan kerja, latihan kerja, partisipasi.
d. Faktor manusia, tingkat upah pekerja, kepuasan kerja, insentif,pembagian
keuntungan, hubungan kerja mandor-pekerja, hubungankerja atarsejawat,
kemangkiran.
Menurut Pramuji (2008), mengemukakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi produktivitas pekerjaan antara lain:
a. Tingkat upah
b. Pengalaman dan ketrampilan para pekerja
c. Pendidikan keahlian
d. Usia pekerja

Universitas Sriwijaya
10

e. Pengadaan barang
f. Cuaca
g. Jarak material
h. Hubungan kerja sama antar pekerja
i. Faktor managerial
j. Efektivitas jam kerja.
Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja menurut Simanjuntak
(dalam Ade Suherman, 2011) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
produktivitas tenaga kerja adalah:

a. Kualitas dan Kemampuan Fisik Karyawan


Kualitas dan kemampuan fisik karyawan dipengaruhi juga oleh tingkat pendidikan,
latihan, motivasi kerja, mental, dan kemampuan fisik karyawan yang bersangkutan.

b. Sarana Pendukung
Sarana pendukung untuk meningkatkan produktivitas karyawan digolongkan
menjadi:
1. Menyangkut lingkungan kerja termasuk sarana dan peralatan yang
digunakan, teknologi dan cara produksi, tingkat keselamatan dan kesehatan
kerja serta suasana lingkungan kerja itu sendiri.
2. Menyangkut kesehatan karyawan yang tercermin dalam system pengupahan
dan jaminan sosial serta jaminan keselamatan kerja.
Variabel-variabel yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja dilapangan dapat
dikelompokkan menjadi berikut, (Soeharto,1995):

a. Kondisi fisik lapangan dan sarana bantu


b. Supervise, perencanaan, dan koordinasi
c. Komposisi kelompok kerja
d. Kerja lembur
e. Ukuran besar proyek
f. Kurva pengalaman (learning curve)
g. Kepadatan tenaga kerja.
Banyak dari hasil penelitian yang menunjukan bahwa produktivitassangat
dipengaruhi oleh faktor: pengetahuan (knowledge), keahlian (skill), kemampuan (ability),

Universitas Sriwijaya
11

sikap (attitude), dan tingkah laku (behaviour) dari para pekerja yang ada di dalam
organisasi (Gomes, 1995).

Permasalahan produktivitas juga berkaitan dengan seberapa besar pekerjaan itu


digolongkan dalam kelompok kerja efektif. Efektif biasanya digunakan sebagai
perbandingan dimana sasaran yang dikemukakan dapat dianggap tercapai. Sedangkan
pengertian efektivitas adalah suatu perbandingan antara evaluasi pekerjaan dari suatu
unit output dengan evaluasi satu unit input sehingga dapat diperoleh besarnya efektivitas
dari suatu jenis pekerjaan yang ditinjau.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas dapat dibagi menjadi dua


bagian besar, yaitu:

a. Faktor dari dalam pekerja, diantaranya:


1. Moral dan tingkah laku
2. Tingkat pendidikan
3. Keterampilan
4. Absensi
5. Keterlambatan
b. Faktor dari luar, diantaranya:
1. Material
2. Alat
3. Penjadwalan
4. Informasi
5. Kepemimpinan
6. Kontrol dan pengawas
Pembagian dua faktor ini didasarkan pada kemampuan dari pekerja untuk
mengontrol faktor-faktor tersebut, dimana faktor luar menunjukkan bahwa faktor
tersebut diluar kontrol pekerja dan lebih cenderung berada dibawah kontrol pihak
manajemen.

Universitas Sriwijaya
12

a. Kerja dari tingkat mudah, sedang, dan berat. Dengan demikian kapasitas peralatan
yang digunakan dapat disesuaikan dengan kondisi-kondisi tersebut.
b. Cuaca, identifikasi ini perlu dilakukan khususnya pada proyek dengan keadaan
lahan terbuka. Cuaca basah/hujan cenderung menyulitkan pengendalian peralatan, baik
mobilisasi maupun maneuver-manuver yang akan dilakukan di lokasi setempat.
c. Mobilisasi peralatan ke lokasi proyek perlu direncanakan dengan detail, khususnya
untuk peralatan-peralaan berat. Akan ada kesulitan bila rute perjalanan menuju proyek
tidak didukung oleh keadaan jalan atau jembatan kecil atau tidak memadai.
d. Komunikasi yang memadai antar operator peralatan dengan pengendalian
pekerjaan harus terjalin baik, dengan peralatan komunikasi yang cukup dan harus tersedia
agar langkah-langkah pekerjaan yang dilakukan sesuai rencana.

e. Fungsi peralatan harus sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan untuk
menghindari tingkat pemakaian yang tidak efektif dan efisien.
f. Kondisi peralatan harus layak pakai agar pekerjaan tidak tertunda karena
peralatan rusak. Bila perlu tenaga mekanikal peralatan harus disiapkan guna mengatasi
kerusakan-kerusakan alat.
Data pekerja diubah dalam bentuk diagram yang disebut crew balance chart.
Pembentukan crew balance chart diawali dengan pencatatan waktu kerja untuk setiap
pekerja (metode time study) lalu menentukan waktu yang dikonsumsi oleh setiap pekerja.

Universitas Sriwijaya