Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pelayanan Laboratorium adalah pelayanan yang tidak terpisahan dari

pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Laboratorium kesehatan sebagai

salah satu unit pelayanan kesehatan, yang diharapkan dapat memberikan

informasi yang teliti dan akurat berdasarkan hasil yang dikeluarkan. Tenaga

laboratorium kesehatan adalah tenaga profesi di bidang kesehatan yang

bertugas di laboratorium kesehatan. Biasanya tenaga laboratorium kesehatan

disebut Analis Kesehatan atau Ahli Teknologi Laboratorium Medik. Menurut

KEPMENKES RI NOMOR 370/MENKESSK/III/200, Analis Kesehatan atau

disebut juga Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan adalah tenaga kesehatan

dan ilmuan berketerampilan tinggi yang melaksanakan dan mengevaluasi

prosedur laboratorium dengan memanfaatkan berbagai sumber daya (Rudy,

2015).

Mikroorganisme dapat berkembang biak dengan alami atau dengan

bantuan manusia. Mikroorganisme yang dikembangkan oleh manusia

diantaranya melalui media. Medium yang digunakan untuk menumbuhkan dan

mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus sesuai susunanya dengan

kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan.mikroorganime

lainnya memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu berupa

medium ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya (Fahri, 2016).

1
Dalam bidang mikrobiologi, dipelajari mengenai mikroba yang meliputi

bakteri, fungi atau mikroorganisme lainnya. Karena itu, untuk melihat dengan

jelas penampakan mikroba tersebut, terlebih dahulu kita membuat biakan atau

piaraan organisme. Sebelumnya, bahan serta peralatan harus dalam keadaan

steril, artinya pada bahan dan peralatan yang ingin dipergunakan tidak terdapat

mikroba lain yang tidak diharapkan. Media merupakan campuran dari beberapa

zat-zat makanan untuk pertumbuhan mikroba dan berfungsi sebagai nutrisi

bagi mikroba tersebut. Media dibedakan berdasarkan fase (sifat fisik media),

yaitu media padat, media setengah padat, media cair (Pandu, 2012).

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana cara pembuatan media Triple Sugar Iron Agar (TSIA),

Nutrien Agar (NA), Mac Conkey Agar (MCA), Eosin Methylene Blue Agar

(EMBA) ?

1.3 Tujuan

Mengetahui cara pembuatan media Triple Sugar Iron Agar, Nutrien

Agar, Mac Conkey Agar, Eosin Methylene Blue Agar.

1.4 Manfaat

Dapat memberikan pengetahuan tentang cara membuat media Triple

Sugar Iron Agar, Nutrien Agar, Mac Conkey Agar, Eosin Methylene Blue

Agar.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Media

Media adalah substrat dimana mikroorganisme dapat tumbuh dan sesuai

dengan lingkungannya. Kehidupan mikroorganisme tergantung pada nutrisi

dalam substrat atau medium dan faktor lingkungan yang baik. Mikroba dapat

tumbuh dengan baik jika dalam suatu medium tersebut memenuhi syarat-

syarat, yaitu harus mengandung semua zat hara yang mudah digunakan

mikroba (Hafrah, 2009).

2.2 Macam-macam Media

2.2.1 Media Mac Conkey Agar (MCA)

Mac Conkey Agar adalah medium kultur yang dirancang untuk

tumbuh bakteri gram negatif dan noda mereka untuk & fermentasi

laktosa (Pandu, 2012).

2.2.2 Media Eosin Methylene Blue Agar (EMBA)

EMB Agar adalah media yang digunakan untuk mengetahui ada

atau tidaknya bakteri coliform di dalam suatu sample. Media Eosin

Methylene Blue Agar ini mempunyai keistimewaan mengandung laktosa

dan berfungsi untuk membedakan mikroba yang memfermentasikan

laktosa seperti S. aureus, P. aerugenosa, dan Salmonella (Pandu, 2012).

2.2.3 Media Nutrien Agar

Nutrient agar adalah media yang paling banyak digunakan untuk

menumbuhkan bakteri. Media ini dapat digunakan pada sebagian besar

3
jenis bakteri dan sering kali dipakai sebagai media penyimpanan

universal (Yulisman, 2016).

2.2.4 Media Triple Sugar Iron Agar (TSIA)

TSI Agar merupakan media untuk melihat kemampuan suatu

mikroorganisme dalam memfermentasikan gula. TSIA digunakan untuk

pengujian biokimia untuk membedakan beberapa jenis bakteri yang

termasuk kelompok Enterobacteriaceae yang bersifat gram negatif dan

memfermentasikan glukosa kemudian membentuk asam, sehingga dapat

dibedakan dengan bakteri gram negatif lain (Yulisman, 2016).

2.3 Klasifikasi Media

2.3.1 Klasifikasi media berdasarkan atas susunan kimia :

1. Media anorganik, yaitu media yang tersusun dari bahan bahan

anorganik.

2. Media organik, yaitu media yang tersusun dari bahan bahan organic.

3. Media sintetik, yaitu media yang susunan kimianya dapat diketahui

dengan pasti: media ini biasanya digunakan untuk mempelajari

kebutuhan makanan mikroba.

4. Media non-sintetik, yaitu media yang susunan kimianya tidak

ditentukan dengan pasti: media ini banyak digunakan untuk

menumbuhkan dan mempelajari taksonomi mikroba

2.3.2 Klasifikasi media berdasarkan atas susunan kosistensi :

1. Media cair (liquid medium ), yaitu media yang berbentuk cair.

2. Media padat (solid medium),yaitu media yang berbentuk padat

4
3. Media padat yang dicairkan (semi solid medium), yaitu media yang

dalam keadaan panas (dipanasi) berbentuk cair tetapi dalam keadaan

dingin berbentuk padat sebab media ini dapat mengandung agar-agar

atau gelatin.

2.3.3 Klasifikasi media berdasarkan atas fungsinya

1. Transport media, pembenihan yang digunakan untuk mengirimkan

spesimen dari suatu tempat ke laboratorium. Contoh: carry and blair

untuk tinja/ rectal usap nasofaring.

2. Media selektif (selective media ), yaitu media yang ditambahkan zat

kimia tertentu yang bersifat selektif untuk mencegah pertumbuhan

mikroba lain, misalnya media yang mengandung kristal violet pada

kadar tertentu dapat mencegah pertumbuhan bakteri garam positif

tanpa memepengaruhi bakteri garam negatif atau pembenihan yang

dapat digunakan untuk membedakan golongan satu dengan yang

lainnya, sehingga dapat dipilih koloni-koloni bakteri yang dicarinya

contoh blood agar, SSA untuk salmonella shigella.

3. Enrichment media : pembenihan yang dapat digunakan untuk

memperbanyak bakteri, baik yang ada dalam spesimen maupun

koloni-koloni yang kecil-kecil. Contoh : BHIB untuk darah ( aerob),

thioglycolate broth untuk darah ( anaerob)

4. Enrichment exclusive media : pembenihan yang dapat memprbanyak

segolongan bakteri sedangkan yang lainnya dihambat atau tidak dapat

5
tumbuh. Contoh : alkalis pepton water untuk fibrio sp, selenite broth,

tell urite broth, azide broth untuk salmonela sp.

5. Exlusive media : pembenihan yang hanya dapat ditumbuhi

segolongan bakteri saja, sedangkan baktri lainnya tidak tumbuh dan

dapat dibeda-bedakan koloni spesies satu dengan yang lainnya.

Contoh blood tellurit plate untuk fibrio cholera, azide agar untuk

salmonella.

6
BAB III
METODE KERJA
3.1 Waktu dan Tempat

Adapun waktu dan tempat praktikum dalam pembuatan media sebagai

berikut :

Hari / Tanggal : Jum’at / Oktober 2018

Pukul : 13.00 WITA - selesai

Tempat : Laboratorium Kimia Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan (STIKES) Bina Mandiri Gorontalo


3.2 Pra Analitik

Pra analitik kita menyediakan alat dan bahan yang digunakan dalam

praktikum pembuatan media, berikut alat dan bahannya :

3.2.1 Alat

Adapun alat yang digunakan dalam pembuatan media ini yaitu,

neraca, autoclave, pipet tetes, erlenmeyer, sendok tanduk, kertas ph,

cawan petri, tabung, rak tabung, pipet ukur dan batang pengaduk.

3.2.2 Bahan

Adapun bahan yang digunakan dalam pembuatan media ini yaitu,

reagen Triple Sugar Iron Agar (TSIA), Nutrien Agar (NA), Mac Conkey

Agar (MCA), Eosin Methylene Blue Agar (EMBA) dan aquadest.

3.3 Analitik
Pada analitik, kita melakukan prosedur kerja pada praktikum pembuatan
media sebagai berikut :
3.3.1 Media Triple Sugar Iron Agar
1. Siapkan alat dan bahan.

7
2. Menimbang bahan, dengan jumlah 2,6 gr memakai alat ukur yaitu
neraca. Berikut rumus mencarinya,
X gr = gr . V = 65.40 = 2600 = 2,6 gr
1000 1000 1000
3. Mengatur pH aquadest dengan kertas pH.

4. Melarutkan bahannya memakai erlenmeyer.

5. Dipanaskan, dan selalu di goyang ketika medididih.

6. Sterilkan dengan sterilisasi basah yang menggunakan Autoclave.

7. Tuangkan ke 4 tabung lalu di miringkan.

3.3.2 Media Nutrien Agar


1. Siapkan alat dan bahan.
2. Menimbang bahan, dengan jumlah 4,5 gr memakai alat ukur yaitu
neraca. Berikut rumus mencarinya,
X gr = gr . V = 20 . 225 = 4500 = 4,5 gr
1000 1000 1000
3. Mengatur pH aquadest dengan kertas pH.

4. Melarutkan bahannya memakai erlenmeyer.

5. Dipanaskan, dan selalu di goyang ketika medididih.

6. Sterilkan dengan sterilisasi basah yang menggunakan Autoclave.

7. Tuangkan ke 15 cawan petri.

3.3.3 Mac Conkey Agar


1. Siapkan alat dan bahan.
2. Menimbang bahan, dengan jumlah 3 gr memakai alat ukur yaitu
neraca. Berikut rumus mencarinya,
X gr = gr . V = 50 . 60 = 3000 = 3 gr
1000 1000 1000
3. Mengatur pH aquadest dengan kertas pH.

8
4. Melarutkan bahannya memakai erlenmeyer.

5. Dipanaskan, dan selalu di goyang ketika medididih.

6. Sterilkan dengan sterilisasi basah yang menggunakan Autoclave.

7. Tuangkan ke 4 cawan petri.

3.3.4 Eosin Methylen Blue Agar


1. Siapkan alat dan bahan.
2. Menimbang bahan, dengan jumlah 2,1 gr memakai alat ukur yaitu
neraca. Berikut rumus mencarinya,
X gr = gr . V = 36 . 60 = 2160 = 2,1 gr
1000 1000 1000
3. Mengatur pH aquadest dengan kertas pH.

4. Melarutkan bahannya memakai erlenmeyer.

5. Dipanaskan, dan selalu di goyang ketika medididih.

6. Sterilkan dengan sterilisasi basah yang menggunakan Autoclave.

7. Tuangkan ke 15 cawan petri.

9
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan pada tanggal 27

september 2018 di peroleh hasil sebagai berikut :

4.1.1 Media Triple Sugar Iron Agar

Gambar 4.1 Hasil Media Triple Sugar Iron Agar

Hasil pembuatan media triple sugar iron agar adalah 4 tabung.

Dengan 2,6 gram triple sugar iron agar yang ditimbang yang dihasilkan

dari rumus gr x v /1000 menghasilkan 4 tabung media.

4.1.2 Media Natrium Agar

Gambar 4.2 Hasil Media Natrium Agar

10
Hasil pembuatan media natrium agar adalah 15 media. Dengan 4,5

gram natrium agar yang ditimbang yang dihasilkan dari rumus gr x v

/1000 menghasilkan 15 cawan petri.

4.1.3 Media Mac Conkey Agar

Gambar 4.3 Hasil Media Mac Conkey Agar

Hasil pembuatan media natrium agar adalah 4 media. Dengan 3

gram natrium agar yang ditimbang yang dihasilkan dari rumus gr x v

/1000 menghasilkan 4 cawan petri.

4.1.3 Media Eosin Methylen Blue Agar

Gambar 4.3 Hasil Media Mac Conkey Agar

Hasil pembuatan media natrium agar adalah 4 media. Dengan 2,1

gram natrium agar yang ditimbang yang dihasilkan dari rumus gr x v

/1000 menghasilkan 4 cawan petri.

11
4.2 Pembahasan

Pembuatan media dilakukan dengan media padat. Sebelum melakukan

kerja, wadah dan tangan dibilas terlebih dahulu menggunakan alkohol untuk

menghindarkan mikroorganisme dari kontaminan yang dapat menghambat

pertumbuhan mikroba. Masing-masing bahan ditimbang di dalam wadah

menggunakan neraca analitik, kemudian dilarutkan dengan aquadest. Setelah

bahan dimasukkan ke dalam wadah segera ditutup menggunakan pelindung

untuk mencegah mikroba masuk atau meminimalisasi kontaminasu ke dalam

cawan petri dan tabung reaksi. Kemudian bahan disterilkan. Sterilisasi ada 2

macam, yaitu sterilisasi uap/panas basah dan sterilisasi panas kering. Sterilisasi

uap panas basah dilakukan dengan suhu 121°C selama 15 menit.

Uji Triple Sugar Iron Agar (TSIA) merupakan metode yang digunakan

untuk melihat kemampuan mikroorganisme dalam memfermentasikan gula.

Medium TSIA mengandung 3 macam gula, yaitu glukosa, laktosa, dan sukrosa.

Terdapat juga indikator fenol merah serta FeSO4 untuk memperlihatkan

pembentukan H2S yang ditunjukkan dengan adanya endapan hitam.

Konsentrasi glukosa adalah 1/10 dari konsentrasi laktosa atau sukrosa agar

fermentasi glukosa saja yang terlihat (Atika, 2012).

TSI Agar merupakan media untuk melihat kemampuan suatu

mikroorganisme dalam memfermentasikan gula. TSIA digunakan untuk

pengujian biokimia untuk membedakan beberapa jenis bakteri yang termasuk

kelompok Enterobacteriaceae yang bersifat gram negatif dan

memfermentasikan glukosa kemudian membentuk asam, sehingga dapat

12
dibedakan dengan bakteri gram negatif lain. Perbedaan ini didasarkan pada

pola fermentasi karbohidrat dan produksi H2S pada tabung reaksi. Media ini

memiliki 3 gula dalam kandungannya, yaitu glukosa, laktosa, dan sukrosa,

dengan konsentrasi 1% sukrosa, 1% laktosa, dan 0,1% glukosa. Konsentrasi ini

akan berpengaruh terhadap penggunaan karbohidrat dan keadaan asam yang

terbentuk.

Pengukuran pelarut merupakan hal penting terutama untuk media

berbentuk padat (agar) seperti media TSIA. Pelarut dalam hal, ini yaitu

aquades, harus dalam takaran yang tepat untuk keberhasilan dari media agar

media tersebut tidak terlalu cair maupun padat. Proses pemanasan dilakukan

untuk membantu proses pengadukan/pelarutan, agar larutan media tersebut

dapat terhomogenisasi dengan sempurna. Jika larutan tidak terhomogenisasi

dengan sempurna, komposisi pada media tidak merata maka, dapat

menyebabkan kegagalan dalam media tersebut. Penuangan juga merupakan hal

yang penting untuk diperhatikan. Penuangan media harus sesuai dengan wadah

yang digunakan, tidak terlalu sedikit maupun terlalu banyak. Terlalu

banyaknya larutan media yang dituang akan menimbulkan masalah saat media

sudah membeku. Jika terlalu banyak, media tidak akan bisa dimiringkan, maka

luas permukaan untuk tumbuhnya bakteri akan semakin sempit. Sempitnya

luas permukaan ini akan membuat mikroorganisme sulit untuk tumbuh dan

membentuk koloni yang spesifik.

media memadat media Mac Conkey Agar (MCA) berwarna merah muda,

kemudian media disimpan dalam posisi terbalik agar uap air yang tersisa pada

13
bagian tutup plate tidak jatuh ke permukaan media dan menyebabkan

kontaminasi. Media Mac Conkey Agar (MCA) kemudian disimpan dalam

lemari pendingin atau dapat langsung digunakan.

Dalam pembuatan media pertumbuhan mikroorganisme menggunakan

Natrium Agar (NA) diperlukan 4,5 gram. Kemudian dilarutkan dalam 225 ml

aquades. Kemudian disterilkan dalam autoklaf dengan suhu 121°C selama 15

menit. Setelah steril, disimpan di tempat yang bersih dan aman. Ketika

melakukan pertumbuhan bakteri pada media ada beberapa kesalahan yang

mengakibatkan pembuatan media tersebut gagal, salah satu faktornya yaitu

tidak sterilnya alat yang digunakan pada saat percobaan, sehingga hasil yang

didapatkan tidak terlihat dan pada media telah terkontaminasi ataupun pada

saat pemindahan larutan media ke dalam cawan petri, larutan tersebut tidak

menyebar merata ke seluruh bagian cawan petri.

Media Eosin Methylen Blue Agar (EMBA) berwarna ungu gelap,

kemudian media disimpan dan ditutup plate agar tidak terkontaminasi. Media

Eosin Methylen Blue Agar (EMBA) kemudian disimpan dalam lemari

pendingin atau dapat langsung digunakan.

14
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dengan judul pembuatan

media dapat disimpulkan bahwa media dibuat dengan beberapa langkah

langkah yaitu ditimbang, ukur pH, dilarutkan, dipanaskan, disterilkan dan

dituang.

5.2 Saran

Saran saya, alat sterilisasi atau pemanasan bisa ditambahkan agar dapat

mempermudah mahasiswa melakukan praktikum. Dan untuk praktikum

selanjutnya dapat memaksimalkan waktu yang sudah terjadwal dengan cara

tepat waktu masuk didalam kelas.

15