Anda di halaman 1dari 21

Afifah Salshabila R.

04011281621122
Alfa 2016

Retinitis Pigmentosa

Definisi
Merupakan degenerasi retina yang herediter, ditandai oleh disfungsi progresif fotoreseptor
disertai hilangnya sel secara progresif dan akhirnya atrofi pada beberapa lapisan retina.

Epidemiologi
Jumlah penderita RP diperkirakan memiliki rasio 1 dari 5000 penduduk di seluruh dunia.
Gejala klinis umumnya timbul pada masa dewasa muda usia 20-30 tahun, meskipun dapat juga
ditemukan pada masa kanak-kanak hingga pertengahan usia 30-an sampai 50-an.

Etiologi
RP dapat terjadi sebagai gangguan sporadis (simpleks), atau diwariskan (inheritance)
dalam pola AD, (Autosomal Dominant) AR (Autosomal Recessive) atau XLR (X-Linked
Recessive). Banyak kasus karena variasi alel (mutasi) gen rhodopsin. XLR adalah yang paling
sedikit terjadi namun memiliki gejala yang parah, dan dapat mengakibatkan kebutaan penuh
pada dekade ketiga atau keempat, umumnya hal tersebut terjadi karena kehilangan fungsi
protein tertentu.
Penyakit yang disebabkan karena AR juga bisa parah, seperti XLR hal tersebut terjadi karena
hilangnya beberapa jalur pada fungsi penglihatan. Kasus sporadis memiliki prognosis yang
lebih baik,dengan retensi visi sentral hingga dekade keenam atau sesudahnya.
Namun, RP yang disebabkan karena AD umumnya memiliki prognosis terbaik. Dalam 20-30%
kasus RP

Klasifikasi
Menurut pola pewarisan ;
 autosomal dominant
 autosomal recessive
 X-linked
Faktor Resiko
RP merupakan penyakit yang diwariskan, sehingga apabila sudah ada keluarga yang
didiagnosis mengalami RP, anggota keluarga lainnya segara berkonsultasi dengan dokter mata.

Manifestasi klinis
RP memiliki gejala yang khas dengan triad ; bone-spicule retinal pigmentation,arteriolar
attenuation dan ‘waxy’ disc pallor.

Gejala Klinis;
1. Sukar melihat di malam hari.
Buta senja: merupakan karakteristik yang terjadi pada beberapa tahun sebelum
adanya kelainan-kelainan pada retina dengan adanya perubahan. Penglihatan
retina, ini menunjukkan terjadinya degenerasi pada rods. Adaptasi gelap,
peninggian light treshold pada perifer retina, walaupun proses adaptasi gelap itu
sendiri menyerang sangat lambat.

2. Lapang penglihatan menyempit.


Annular atau ring-shaped Scotoma, adalah tanda khas yang menunjukkan adanya
degenerasi pada daerah equatorial retina. Seperti perjalanan penyakitnya, skotoma
meningkat pada pada anterior dan posterior dan selanjutnya terjadi pada
penglihatan kspasien mengalami kebutaan.
3. Penglihatan sentral dinyatakan dengan adanya buta warna.
4. Retina mempunyai bercak dan pita halus yang berwarna hitam.
 Menurut Chantal Simon, et. al. (2006):
1. Biasanya pertama tampak pada masa remaja (adolescence).
2. Terdapat black pigment flecks di retina dan optic atrophy.
3. Dapat berkembang menjadi kebutaan.
 Menurut Myron Yanoff (1998):
1. Decreased night vision (nyctalopia) dan decreased color vision
2. Kehilangan penglihatan perifer (loss of peripheral vision)
3. Penglihatan kabur (blurry vision)
4. Terdapat gumpalan pigmen (pigment clumping) atau "bone spicule formation" di
retina perifer
5. Terdapat area atrofi pigmen retina
6. Pelemahan pembuluh darah arteri yang sangat kecil/arteriol (arteriolar attenuation)
7. Optic nerve "waxy" pallor
8. Pigmented cells di vitreous
9. Stellate pattern to posterior lens capsule opacification
10. Cystoid macular edema
11. Epimacular membrane
Berbeda dengan pendapat para ahli di atas, maka David G Telander (2007)
mengusulkan lima hal khas pada RP:
1. Nyctalopia ( bersinonim dengan: night blindness, moon blindness, mooneye).
Ini merupakan gejala paling awal pada RP. Dipertimbangkan sebagai hallmark (=
pathognomonic, tanda penting, khas) untuk RP. Pasien biasanya mengeluh kesulitan
menyelesaikan tugas di malam hari tau di tempat yang gelap/kurang cahaya, seperti:
sulit berjalan dalam ruangan yng cahayanya kurang terang (contoh: di gedung bioskop).
Pasien juga merasa kesulitan untuk mengemudi dengan cahaya redup, dalam kondisi
berdebu, atau berkabut. Pasien juga mengeluh saat ini memerlukan waktu yang lebih
lama untuk beradaptasi dari tempat terng ke tempat gelap dibandingkan dengan kondisi
sebelumnya.
2. Kehilangan penglihatan (visual loss).
Peripheral vision loss seringkali tnpa gejala/keluhan (asymptomatic). Bagaimanapun
juga, beberapa pasien memerhatikan hal ini dan melaporkannya seperti melihat
terowongan (tunnel vision). Pasien biasanya mengeluh suka menabrak mebel atau
perabot rumah tngga (meja, kursi, dll). Atau kesulitan saat berolahraga yang
memerlukan penglihatan perifer (peripheral vision), misalnya: tenis, basket.
Kehilangan penglihatan (loss of vision) biasanya tanpa disertai rasa sakit (painless) dan
berkembang secara perlahan.
3. Photopsia
Banyak pasien dengan RP melaporkan melihat pijaran halilintar kecil atau kilatan
cahaya dan mendeskripsikan apa yang mereka lihat itu sebagai cahaya yang kecil,
berkilauan atau berkelip-kelip (shimmering), berkedip-kedip (blinking).
4. Riwayat dan silsilah keluarga (family history with pedigree) dan pemeriksaan anggota
keluarga yang teliti dapat sangat membantu.
5. Riwayat pemakaian obat (drug history) amat penting untuk mengetahui adanya
phenothiazine/thioridazine toxicity.

Gambar A Gambar B
Penglihatan normal Penglihatan pada retinitis
pigmentosa

Patofisiologi dan pathogenesis


RP secara khas dipercaya sebagai suatu dystrophy (kelainan degeneratif, biasanya karena
kekurangan nutrisi tubuh) sel batang-kerucut dimana defek genetik menyebabkan kematian sel
(apoptosis), sebagian besar di fotoreseptor sel batang; sebagian kecil, defek genetik
memengaruhi retinal pigment epithelium (RPE) dan fotoreseptor sel kerucut. Variasi fenotip
sangat signifikan karena lebih dari seratus gen dapat menyebabkan RP.
perubahan histopatologi di RP telah didokumentasikan dengan baik, dan baru-baru ini,
perubahan histologis spesifik yang terkait dengan mutasi gen tertentu yang dilaporkan. Jalur
akhir yang umum tetap fotoreseptor kematian sel oleh apoptosis. Perubahan histologis pertama
yang ditemukan di fotoreseptor adalah pemendekan segmen luar batang. Segmen luar semakin
memendek, diikuti hilangnya fotoreseptor batang. Ini terjadi paling signifikan di pinggiran
pertengahan retina. Daerah-daerah retina mencerminkan apoptosis sel dengan memiliki inti
menurun di lapisan nuklir luar. Dalam banyak kasus, degenerasi cenderung lebih buruk di
retina inferior, dengan demikian menunjukkan peran paparan cahaya.
Jalur akhir (final common pathway) RP menyisakan kematian sel fotoreseptor oleh
karena apoptosis. Perubahan histologis pertama yang ditemukan di fotoreseptor adalah
pemendekan segmen luar sel batang. Segmen luar semakin memendek, diikuti hilangnya
fotoreseptor sel batang. Proses ini berlangsung di mid perifer retina. Daerah (region) retina ini
menggambarkan apoptosis sel dengan penurunan nuclei di lapisan inti luar (outer nuclear
layer). Dalam banyak kasus, degenerasi cenderung memburuk di inferior retina, karena itu
menyarankan suatu peran untuk terpapar cahaya (a role for light exposure).
Jalur akhir (final common pathway) RP adalah kematian secara khas fotoreseptor sel
batang yang cenderung menyebabkan kehilangan penglihatan (vision loss). Karena sel batang
paling banyak ditemukan di midperipheral retina, maka hilangnya sel di daerah ini akan
menyebabkan hilangnya penglihatan tepi (peripheral vision loss) dan hilangnya penglihatan
malam hari (night vision loss).
Kematian fotoreseptor sel kerucut mirip dengan apoptosis sel batang dengan
pemendekan bagian luar (outer segments) yang diikuti oleh kehilangan sel. Proses ini dapat
berlangsung cepat atau lambat pada berbagai macam RP.

Diagnosis kerja
Retinitis Pigementosus

Diagnosis banding
 Sifilis
 Rubela kongenital
 Defisiensi vitamin A
 Intoksikasi fenotiazin
 Resolusi ablasi retina eksudatif
 Toxic retinopathy secondary to phenotiazines
 Resolution of an old retinal detachment (serous or rhegmatogenous)
 Choroideremia
 End-stage Stargardt's disease
 Gyrate atrophy
 Congenital stationary night blindness
 Diffuse unilateral neuroretinitis
 ARMD nonexudative
 Best disease
 Keracunan (toxicity) chloroquine/ hydroxychloroquine
 Chorioretinopathy (central serous)
 Chronic progressive external ophthalmoplegia
 Neuroretinitis diffuse unilateral subacute
 Juvenile retinoschisis

Pemeriksaan
Untuk mengetahui apakah seseorang menderita retinitis pigmentosa, selain dari
anamnesis maka diperlukan juga pemeriksaan penunjang, antara lain sebagai berikut :
1. Funduskopi
Perubahan pigmentasi retina, ini adalah bentuk perivaskular yang khas dan mirip
dengan bentuk bone corpuscule. Pada mulanya perubahan ini ditemukan hanya pada
daerah equatorial dan kemudian menyebar diantara anterior dan posterior.
Penyempitan arterior retina dan menjadi seperti benang pada stadium akhir. Optik disk
menjadi pucat dan keruh pada stadium akhir dan akhirnya berturut-turut menjadi atrofi
optik. Perubahan-perubahan lainnya yang terlihat seperti koloid bodies, sklerosis
khoroidal, CME, atrofi atau cellophane makulopati.
o Pada retina tampak tidak berubah (unaffected) pada stadium awal RP.
o Pada funduskopi terlihat penumpukan pigmen perivaskuler di bagian perifer
retina.
o Terdapat degenerasi sel epitel retina terutama sel batang dan atrofi saraf optik,
menyebar tanpa gejala peradangan.
o Sel dalam badan kaca dengan papil pucat.
o Gambaran Fundus pada RP:
 Bone spicules
Terdapat gambaran midperipheral retinal hyperpigmentation dalam pola
yang karakteristik.
 Optic nerve waxy pallor
 Atrofi retinal pigment epithelium (RPE) di mid perifer retina
 Pelemahan arteriol retina (retinal arteriolar attenuation)
2. Imaging Studies
Meskipun fluorescein angiography jarang berguna untuk menegakkan diagnosis,
keberadaan cystoid macular edema dapat dikonfirmasikan dengan tes ini.
3. Electroretinogram (ERG)
ERG merupakan tes diagnostik yang paling critical (penting dan diperlukan) untuk RP
karena menyediakan pengukuran objektif fungsi sel batang (rod) dan kerucut (cone) di
retina dan peka (sensitive) bahkan untuk kerusakan photoreceptor yang ringan.
Perubahan elektrofisiologikal tampak lebih cepat pada penyakit ini sebelum tanda-
tanda sebelum tanda-tanda subyektif atau tanda-tanda obyektif (perubahan fundus).
ERG sub-normal atau EOG tidak tampak light peak.
4. Formal visual field
Progressive loss of peripheral vision merupakan gejala utama yang menyertai
perubahan visual acuity. Oleh karena itu, tes ini merupakan alat ukur paling bermanfaat
untuk melakukan ongoing follow-up care pada pasien RP.
Goldmann (kinetic) perimetry direkomendasikan karena dapat dengan mudah
mendeteksi perubahan progressive visual field.
5. Color testing
Umumnya terdapat mild blue-yellow axis color defects, meskipun pasien tidak
mengeluh kesulitan tentang persepsi warna.
6. Adaptasi gelap (Dark adaptation)
Pasien biasanya sensitif cahaya terang (bright light).
7. Genetic subtyping
Merupakan tes definitive untuk mengidentifikasi particular defect.

Keterangan : gambar diatas menunjukkan lapisan jaringan retina dengan menggunakan high-
resolution microscope. Gambar kiri menunjukkan retina yang normal, sedangkan gambar
kanan menunjukkan keadaan retina yang terkena retinitis pigmentosa
(www.nei.nih.gov/eyeonnei).
Tatalaksana
Farmakoterapi RP bertujuan untuk mengurangi morbiditas dan mencegah komplikasi.
Sebagian besar pengobatan tidak berhasil, sampai saat ini belum ada pengobatan yang efektif
untuk penyakit ini. Tujuan terapi antara lain :
1. Evaluasi terhadap penghentian progresifitas perjalanan penyakit yang telah dicoba dari
tahaun ke tahun, termasuk: vasodilar, ekstrak plasenta, tranplantasi otot rektus ke
dalam rongga suprakoroid, light exclusion therapi, terapi ultrasonik, terapi akupuntur.
Belum lama ini, Vitamin A dan E telah direkomendasikan untuk mengontrol
progresifitas.
2. Low vision aids (LVA) dalam bentuk magnifying glasses, dan night vision device,
mungkin dapat membantu.
3. Rehabilitasi pasien yang berpengaruh terhadap dirinya seperti latar belakang sosial
ekonomi.
4. Profilaksis, konseling genetik untuk tidak menikah dengan keturunan yang sama untuk
menghindari diturunkannya insiden penyakit ini. Selanjutnya bagi yang sudah menikah
dianjurkan untuk tidak mempunyai anak.

Penatalaksanaan penyakit retinitis pigmentosa sebagai berikut :


1. Menurut Prof. Sidarta Ilyas (2007) menganjurkan pemberian vitamin A larut-air 10.000-
15.000 IU, kurangi makan lemak sampai 15 % kalori harian, dan tambahan diet dengan
Zinc.
2. Menurut Myron Yanoff (1998) menyarankan obati/hilangkan penyebab pokok (underlying
cause) jika berhubungan dengan sindrom sistemik. Berikanlah suplemen vitamin E, C, dan
karoten.
3. Beberapa pilihan terapi menurut David G Telander (2007)
o Vitamin A palmitate dosis 15 ribu U per hari.
o Beta-carotene dosis 25 ribu IU.
o Docosahexaenoic acid (DHA), DHA merupakan omega-3 polyunsaturated fatty
acid dan antioxidant.
o Acetazolamide
Efek samping obat ini, yaitu: kelelahan (fatigue), batu ginjal, kehilangan selera
makan, hand tingling, dan anemia, telah membatasi penggunaannya.
o Lutein/zeaxanthin
Lutein dan zeaxanthin adalah macular pigments yang tidak dapat diproduksi
tubuh namun dapat diperoleh dari makanan. Lutein dapat melindungi macula
dari kerusakan okidatif, dan suplementasi oral telah terbukti meningkatkan
pigmen macular. Dosis 20 mg per hari telah direkomendasikan.
o Vitamin E dosis 800 IU per hari telah direkomendasikan.
o Vitamin C (ascorbic acid) dosis 1000 mg per hari. Namun belum ada bukti nyata
dan penelitian lanjut tentang manfaat vitamin C pada RP.
o Bilberry dosis 80 mg, sebagai obat alternatif. Namun belum ada studi kontrol
tentang safety atau efficacy dalam mengobati pasien RP.
o Perawatan bedah (Surgical Care), misalnya: Cataract extraction. Bedah katarak
seringkali bermanfaat pada stadium kemudian (later stages) RP. Penggunaan
perioperatif kortikosteroid direkomendasikan untuk mencegah postoperative
cystoid macular edema.
4. Beberapa terapi RP di masa depan yang sedang dikembangkan dan diteliti lebih lanjut
adalah:
 Growth factors
Pada hewan percobaan, ciliary neurotrophic factor (CNTF) telah berhasil
memperlambat degenerasi retina.
 Transplantasi (seperti: RPE cell transplants, stem cells)
 Retinal prosthesis ( = phototransducing chip,subretinal microphotodiodes)
 terapi gen (gene therapy)
 steam cell

Komplikasi
Komplikasi yang dapat ditemukan pada penyakit retinitis pigmentosa antara lain :
1. Penurunan penglihatan (decreased vision)
2. Katarak
3. Cystoid macular edema
4. Drusen in the optic nerve head
Masalah Lain yang Perlu Dipertimbangkan:
1. Infeksi: TORCH (toxoplasmosis, other infections, rubella, cytomegalovirus infection,
dan herpes simplex); congenital rubella; syphilis.
2. Keturunan (inherited): choroideremia, gyrate atrophy, Stargardt/fundus flavimaculatus,
North Carolina macular dystrophy (NCMD), Bietti syndrome, pattern dystrophies,
ocular albinism, cystinosis.
3. Toksisitas: thioridizine toxicity, oxalosis
4. Neoplasma: cancer-associated retinopathy (CAR)
5. Inflamasi: serous uveitis
6. Metabolik: refsum disease, abetalipoproteinemia
Anatomi dan Fisiologi Mata

Secara struktral anatomis, bola mata berdiameter ±2,5 cm dimana 5/6 bagiannya
terbenam dalam rongga mata, dan hanya 1/6 bagiannya saja yang tampak pada bagian luar.
Perhatikan gambar dibawah ini:

Gambar diatas adalah gambar anatomi mata. Bagian-bagian mata mempunyai fungsi-fungsi
tertentu. Fungsi-fungsi dari anatomi mata adalah sebagai berikut:

 Sklera: Melindungi bola mata dari kerusakan mekanis dan menjadi tempat melekatnya
bola mata.
 Otot-otot mata, adalah Otot-otot yang melekat pada mata, terdiri dari: muskulus rektus
superior (menggerakan mata ke atas) dan muskulus rektus inferior (mengerakan mata
ke bawah).
 Kornea: memungkinkan lewatnya cahaya dan merefraksikan cahaya.
 Badan Siliaris: Menyokong lensa dan mengandung otot yang memungkinkan lensa
untuk beroakomodasi, kemudian berfungsijuga untuk mengsekreskan aqueus humor.
 Iris: Mengendalikan cahaya yang masuk ke mata melalui pupil, mengandung pigmen.
 Lensa: Memfokuskan pandangan dengan mengubah bentuk lensa.
 Bintik kuning (Fovea): Bagian retina yang mengandung sel kerucut.
 Bintik buta: Daerah syaraf optic meninggalkan bagian dalam bola mata
 Vitreous humor: Menyokong lensa dan menjaga bentuk bola mata
 Aquous humor: Menjaga bentuk kantong bola mata

Otot, Saraf dan Pembuluh darah Pada Mata

Otot yang menggerakan bola mata dengan fungsi ganda dan untuk pergerakan mata
tergantung pada letak dan sumbu penglihatan sewaktu aksi otot. Otot penggerak bola mata
terdiri enam otot yaitu:

 Muskulus oblik inferior memiliki aksi primer eksotorsi dalam abduksi, dan memiliki
aksi sekunder elevasi dalam adduksi, abduksi dalam elevasi.
 Muskulus oblik superior memiliki aksi primer intorsi dalam aduksi, dan aksi sekunder
berupa depresi dalam aduksi, dan abduksi dalam depresi.
 Muskulus rektus inferior memiliki aksi primer berupa gerakan depresi pada abduksi,
dan memiliki aksi sekunder berupa gerakan ekstorsi pada abduksi, dan aduksi dalam
depresi.
 Muskulus rektus lateral memiliki aksi gerakan abduksi.
 Muskulus rektus medius memiliki aksi gerakan aduksi
 Muskulus rektus superior memiliki aksi primer yaitu elevasi dalam abduksi dan aksi
sekunder berupa intorsi dalam aduksi serta aduksi dalam elevasi.
Beberapa otot bekerja sama menggerakkan mata. Setiap otot dirangsang oleh saraf
kranial tertentu. Tulang orbita yang melindungi mata juga mengandung berbagai saraf lainnya.

 Saraf optikus membawa gelombang saraf yang dihasilkan di dalam retina ke otak
 Saraf lakrimalis merangsang pembentukan air mata oleh kelenjar air mata
 Saraf lainnya menghantarkan sensasi ke bagian mata yang lain dan merangsang otot
pada tulang orbita.

Arteri oftalmika dan arteri retinalis menyalurkan darah ke mata kiri dan mata kanan,
sedangkan darah dari mata dibawa oleh vena oftalmika dan vena retinalis. Pembuluh darah ini
masuk dan keluar melalui mata bagian belakang.

Struktur pelindung

Struktur di sekitar mata melindungi dan memungkinkan mata bergerak secara bebas ke
segala arah. Struktur tersebut melindungi mata terhadap debu, angin, bakteri, virus, jamur dan
bahan-bahan berbahaya lainnya, tetapi juga memungkinkan mata tetap terbuka sehingga
cahaya masih bisa masuk.

 Orbita adalah rongga bertulang yang mengandung bola mata, otot-otot, saraf, pembuluh
darah, lemak dan struktur yang menghasilkan dan mengalirkan air mata.
 Kelopak mata merupakan lipatan kulit tipis yang melindungi mata. Kelopak mata
secara refleks segera menutup untuk melindungi mata dari benda asing, angin, debu
dan cahaya yang sangat terang.

Ketika berkedip, kelopak mata membantu menyebarkan cairan ke seluruh permukaan


mata dan ketika tertutup, kelopak mata mempertahankan kelembaban permukaan mata. Tanpa
kelembaban tersebut, kornea bisa menjadi kering, terluka dan tidak tembus cahaya. Bagian
dalam kelopak mata adalah selaput tipis (konjungtiva) yang juga membungkus permukaan
mata.

 Bulu mata merupakan rambut pendek yang tumbuh di ujung kelopak mata dan
berfungsi membantu melindungi mata dengan bertindak sebagai barrier (penghalang).
 Kelenjar kecil di ujung kelopak mata menghasilkan bahan berminyak yang mencegah
penguapan air mata.
 Kelenjar lakrimalis terletak di puncak tepi luar dari mata kiri dan kanan dan
menghasilkan air mata yang encer.

Air mata mengalir dari


mata ke dalam hidung melalui 2 duktus lakrimalis; setiap duktus memiliki lubang di ujung
kelopak mata atas dan bawah, di dekat hidung. Air mata berfungsi menjaga kelembaban dan
kesehatan mata, juga menjerat dan membuang partikel-partikel kecil yang masuk ke mata.
Selain itu, air mata kaya akan antibodi yang membantu mencegah terjadinya infeksi.

Bola mata mempunyai 3 lapis dinding yang mengelilingi rongga bola mata. Ketiga lapis
dinding ini dari luar ke dalam adalah sebagai berikut:
Sklera

Sklera merupakan jaringan ikat dengan serat yang kuat; berwarna putih buram (tidak
tembus cahaya), kecuali di bagian depan bersifat transparan, disebut kornea. Konjungtiva
adalah lapisan transparan yang melapisi kornea dan kelopak mata. Lapisan ini berfungsi
melindungi bola mata dari gangguan.

Koroid

Koroid berwarna coklat kehitaman sampai hitam merupakan lapisan yang berisi banyak
pembuluh darah yang memberi nutrisi dan oksigen terutama untuk retina. Warna gelap pada
koroid berfungsi untuk mencegah refleksi (pemantulan sinar). Di bagian depan, koroid
membentuk badan siliaris yang berlanjut ke depan membentuk iris yang berwarna. Di bagian
depan iris bercelah membentuk pupil (anak mata). Melalui pupil sinar masuk. Iris berfungsi
sebagai diafragma, yaitu pengontrol ukuran pupil untuk mengatur sinar yang masuk. Badan
siliaris membentuk ligamentum yang berfungsi mengikat lensa mata. Kontraksi dan relaksasi
dari otot badan siliaris akan mengatur cembung pipihnya lensa.
Retina

Lapisan ini peka terhadap sinar. Pada seluruh bagian retina berhubungan dengan badan
sel-sel saraf yang serabutnya membentuk urat saraf optik yang memanjang sampai ke otak.
Bagian yang dilewati urat saraf optik tidak peka terhadap sinar dan daerah ini disebut bintik
buta.

Adanya lensa dan ligamentum pengikatnya menyebabkan rongga bola mata terbagi
dua, yaitu bagian depan terletak di depan lensa berisi carian yang disebut aqueous humor dan
bagian belakang terletak di belakang lensa berisi vitreous humor. Kedua cairan tersebut
berfungsi menjaga lensa agar selalu dalam bentuk yang benar. Kotak mata pada tengkorak
berfungsi melindungi bola mata dari kerusakan. Selaput transparan yang melapisi kornea dan
bagian dalam kelopak mata disebut konjungtiva. Selaput ini peka terhadap iritasi. Konjungtiva
penuh dengan pembuluh darah dan serabut saraf. Radang konjungtiva disebut konjungtivitis.

Untuk mencegah kekeringan, konjungtiva dibasahi dengan cairan yang keluar dari
kelenjar air mata (kelenjar lakrimal) yang terdapat di bawah alis. Air mata mengandung lendir,
garam, dan antiseptik dalam jumlah kecil. Air mata berfungsi sebagai alat pelumas dan
pencegah masuknya mikroorganisme ke dalam mata.

Normalnya, sinar – sinar sejajar yang masuk ke dalam bola mata akan dibiaskan oleh
sistem optis bolamata dan terfokus dalam satu titik yang jatuh tepat pada retina. Kondisi ini
disebut emmetropia. Dari proses jatuhnya titik cahaya diretina inilah, yang biasanya
menyebabkan kelainan pada mata, baik itu kelainan dengan mata minus, ataupun mata dengan
positif, atau biasa disebut dengan rabun.

Anatomi Tambahan pada Mata

Anatomi tambahan pada mata terdiri dari alis mata, kelopak mata, bulu mata dan
aparatus lakrimalis.

 Alis mata: terdiri dari rambut kasar yang terletak melintang di atas mata, fungsinya
untuk melindungi mata dari cahaya dan keringat juga untuk kecantikan.
 Kelopak mata: ada 2, yaitu atas dan bawah. Kelopak mata atas lebih banyak bergerak
dari kelopak yang bawah dan mengandung musculus levator pepebrae untuk menarik
kelopak mata ke atas (membuka mata). Untuk menutup mata dilakukan oleh otot otot
yang lain yang melingkari kelopak mata atas dan bawah yaitu musculus orbicularis
oculi. Ruang antara ke-2 kelopak disebut celah mata (fissura pelpebrae), celah ini
menentukan “melotot” atau “sipit” nya seseorang. Pada sudut dalam mata terdapat
tonjolan disebut caruncula lakrimalis yang mengandung kelenjar sebacea (minyak) dan
sudorifera (keringat).
 Bulu mata: ialah barisan bulu-bulu terletak di sebelah anterior dari kelenjar Meibow.
Kelenjar sroacea yang terletak pada akar bulu-bulu mata disebut kelenjar Zeis. Infeksi
kelenjar ini disebut Lordholum (bintit).
 Apparatus lacrimalis: terdiri dari kelenjar lacrimal, ductus lacrimalis, canalis lacrimalis,
dan ductus nassolacrimalis.
Daftar Pustaka

Diagnosis dan Tatalaksana Retinitis Pigmentosa: Studi Kasus. Siti Alvina Octavia, Rani
Himayani. 2017 (http://repository.lppm.unila.ac.id/5133/1/1112-1714-1-
PB%20Jurnal%20Majority%20Vol%203%202017.pdf) diakses pada tanggal 3 September
2018

Ilyas, S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. FK UI. Jakarta. 2007. Hlm. 225-6.

Simon C, Everitt H, Kendrick T. Oxford Handbook of General Practice. Second Edition.


Oxford University Press. 2006. p. 945.
Telander DG. Retinitis Pigmentosa. Last Updated: Mar 14, 2007.
Cited from: http://www.emedicine.com/oph/TOPIC704.HTM
Yanoff M. Ophthalmic Diagnosis and Treatment. Current Medicine, Inc. Philadelphia. 1998.
p.210-211.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22961/4/Chapter%20II.pdf
www.nei.nih.gov/eyeonnei
www.tree.com
www.molvis.org
http://www.news-medical.net
http://emedicine.medscape.com/article/1227488-overview#a0104