Anda di halaman 1dari 26

ASUHAN KEPERAWATAN PALLIATIVE PADA PASIEN HIV

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah


Keperawatan Menjelang Ajal dan Palliative Care

Dosen Pengampu : Ns.Lina Marcelina, M. Kep, Sp. Kep. Mat

Disusun Oleh :
1. Erina Nur B 1710711020
2. Mustika W 1710711026
3. Sukmawati 1710711032
4. Norma Amalia 1710711057
5. Dila Sari Putri 1710711071
6. Lilis Mulyani 1710711073
7. Anggia Nur 1710711104

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
2019
A. Gambaran Umum HIV/AIDS
Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) adalah suatu sindrom yang
timbul akibat infeksi Human Imunodeficiency Virus (HIV). Pola penularan HIV saat
ini berkembang jauh berbeda, terutama 19 tahun terakhir. beberapa cara penularan
HIV melalui: 1) Kegiatan seksual yang tidak aman pada kelompok heteroseksual dan
homoseksual. 2) Terpapar darah dan cairan tubuh klien, misalnya melalui penggunaan
jarum suntik bergantian, transfusi darah dan transplantasi organ. 3) Secara vertikal
dari ibu kepada bayi yang dikandungnya yang dapat terjadi selama kehamilan, proses
melahirkan pervaginam, dan periode menyusui (Collein, I., 2010).
Proses patofisiologi secara umum terjadi karena aktivasi sel CD-4 yang akan
memicu ekspresi virus HIV yang akan menghasilkan protein yang akan mengalami
eksositosis, dimana pada fase ini CD4 dapat dihancurkan. Terjadi defisiensi sel T
berat, sehingga tubuh semakin tidak berdaya terhadap patogen yang seharusnya tidak
berbahaya. Proses patofisiologi ini menimbulkan bermacam-macam gejala dalam tubuh
seseorang, namun pada stadium awal biasanya asimptomatis dan ada pembesaran
kelenjar getah bening persisten. Disusul penurunan berat badan yang tidak dapat
dijelaskan penyebabnya, infeksi saluran nafas ringan berulang, demam persisten tanpa
penyebab yang jelas sampai pada stadium yang berat dengan penyakit-penyakit serius.
Penegakkan diagnosis dilakukan dengan berbagai rangkaian tes. Proses menjalani tes
ini merupakan proses yang menjadi beban pada pasien, terutama efek samping obat
antiretroviral yang pasien HIV konsumsi, yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan
pada pasien (Collein, I., 2010)
B. Terapi Antiretroviral
Dua alat ukur utama yang digunakan untuk memantau pasien HIV adalah
jumlah CD4+ limfosit T, sebuah pengukuran fungsi imun dan jumlah virus HIV dalam
darah pasien. Tujuan pemberian ART adalah untuk menekan replikasi HIV sehingga
jumlah virus menurun sampai kadar yang tidak terdeteksi (umumnya < 50 atau 25 kopi
RNA virus/mL, tergantung alat uji). Hal ini menyebabkan imunitas disusun kembali,
ditunjukan dengan peningkatan jumlah CD4+ dan menurunnya morbiditas serta
mortalitas terkait HIV. Di negara maju, pedoman yang ada saat ini menyarankan
pemberian ART pada semua pasien yang terinfeksi HIV, khususnya mereka yang jumlah
CD4 nya kurang dari 500 sel/mm3, dan pada semua pasien dengan kondisi tertentu
(misalnya hamil, hepatitis C, HIV nefropati). Ini merupakan pedoman, namun klinisi
biasanya mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk membuat keputusan mengenai
pemberian ART, termasuk faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan terapi seperti
keinginan pasien untuk memulai terapi dan adanya kelainan psikiatri, seperti
penyalahgunaaan zat atau masalah psikososial (Cherny, N., et al., 2015)
C. Gejala Umum pada HIV
Fatigue merupakan gejala paling umum dan membuat distres pada pasien
HIV/AIDS, Mempengaruhi sekitar 20-60% pasien. HIV-related fatigue didefinisikan
“lebih dari sekedar merasa lelah; sangat lelah. Pasien HIV dengan fatigue mengeluh
lemah, kehilangan energi, mengantuk, mudah lelah, kehausan, dan ketidakmampuan
mendapat istirahat yang cukup, dimana semua gejala mempengaruhi kualitas hidup.
Penyebab potensial HIV-related fatigue meliputi anemia, kurang istirahat dan
gangguan tidur, diet inadekuat, stres psikologis (depresi, kecemasan), penggunaan zat
sifatnya rekreasi), abnormalitas kelenjar tiroid, hipogonadism, infeksi, efek samping obat,
dan demam. Penyebab fisiologik lainnya adalah rendahnya jumlah sel hitung CD4,
gangguan fungsi hati, dan abnormalitas kortisol. Depresi dikatakan penyebab psikologis
potensial terjadinya fatigue. Tatalaksana keluhan ini antara lain program pelatihan aerobik
(treadmill), strategi perawatan diri (suplemen nutrisi, vitamin, dan perubahan diet,
istirahat cukup, terapi alternatif dan komplementer) (Engels, J., 2009).

D. Pengelolaan Gejala Nyeri dan Non-Nyeri pada Pasien HIV


Pengelolaan nyeri pada populasi HIV mungkin memiliki tantangan tersendiri
terkait fakta bahwa baik HIV dan nyeri kronik memiliki hubungan dengan penyakit
psikiatri dan penyalahgunaan zat. Konsep pentingnya adalah:
1. Nyeri kronik merupakan sesuatu yang subjektif. Keluhan nyeri seorang pasien
harus dianggap serius dan ditelusuri; selain itu, tidak ditemukannya sesuatu yang
objektif dari patologi fisik tidak menyingkirkan intervensi pengelolaan nyeri.
2. Pasien dengan gangguan psikiatri yang sedang berlangsung dan dengan
penyalahgunaan zat, banyak diantaranya komorbid dengan gangguan kepribadian,
akan mengekspresikan nyeri dan konsekuensinya serta meminta pengelolaan nyeri,
dengan cara yang dapat menyebabkan karyawan menjadi frustasi dan marah. Penting
untuk mengenali reaksi diri terhadap situasi yang terjadi dan tidak membiarkan
mempengaruhi pelayanan pada pasien.
3. Perilaku menyimpang terkait opioid, seperti sering menelpon ke klinik untuk meminta
opioid, fokus terhadap opioid selama kunjungan, pola hilang/dicurinya resep,
memiliki diagnosis banding. Meliputi kecanduan, pseudoadiksi (perilaku bermasalah
akibat nyeri yang tidak terkendali), gangguan psikiatri selain kelainan penggunaan
zat (termasuk gangguan kepribadian, gangguan cemas, dan lainnya), dan kriminal.
Diagnosis potensial ini dapat muncul bersamaan, penting pemeriksaan detail (Engels,
J., 2009).
E. Kelayakan Masuk Rumah Sakit
Di Amerika Serikat, perawatan rumah sakit untuk sebagian besar pasien
merupakan program pendukung pemerintah dalam pelayanan komprehensif berbasis
keluarga, untuk perawatan di akhir kehidupan. Kelayakan program ini membutuhkan
dua klinisi yang memastikan harapan hidup pasien 6 bulan atau kurang bila penyakit
terus berlanjut sesuai yang diperkirakan. Perkiraan tentu saja tidak selalu tepat dan klinisi
mengandalkan karakteristik prediktif pasien yang disesuaikan dengan data dan
pengalaman yang terbatas. Kriteria perawatan rumah sakit bagi pasien HIV/AIDS di
Amerika Serikat, bersama dengan pasien lain dengan diagnosis non-kanker, dijabarkan
oleh National Hospice and Palliative Care Organization (NHPCO, sebelumnya dikenal
dengan NHO) di tahun 1996. Mencakup: jumlah CD4+ kurang dari 25sel/mm3 atau
viral load lebih besar dari 100.000 kopi/mL, limfoma SSP, wasting yang tidak
tertangani atau refrakter, disseminated MAC, PML, limfoma sistemik, sarcoma Kaposi
viseral, gagal ginjal tanpa dialisis, infeksi cryptosporidium, atau toxoplasmosis serebri
refrakter. Selain memenuhi salah satu kriteria di atas, pasien harus memiliki skor
kurang dari 50% pada Palliative Performance Scale. Sejak dimulainya pemberian ART,
beberapa kriteria tersebut ditinggalkan, menyebabkan pasien dengan predictor harapan
hidup pendek tidak dianggap memenuhi syarat untuk perawatan di rumah sakit kecuali
bila terdapat penyakit yang berlangsung progresif dengan pemberian ART (Cherny, N., et
al., 2015; Fausto, J.A., Selwyn, P.A., 2011).
F. Pengobatan pada Akhir Hidup

Penting untuk diingat bahwa banyak orang terinfeksi HIV yang meninggal di negara maju
pada saat ini mungkin tidak meninggal akibat AIDS, namun akibat salah satu komorbiditas yang
dialami. Sebuah penelitian dengan 230 pasien HIV dalam program pelayanan paliatif di
Amerika Serikat menemukan, dari 120 kematian, 36% diantaranya meninggal akibat AIDS
stadium akhir, 19% akibat kanker non-AIDS, 18% akibat pneumonia bakterial dan sepsis, 13%
akibat gagal hati dan/atau sirosis, 8% akibat penyakit jantung dan paru-paru, 3% akibat
penyakit ginjal stadium akhir, 2% akibat amyotropik lateral sklerosis (ALS), dan 2% tidak
diketahui penyebabnya. Namun, meskipun adanya perkembangan dalam terapi HIV, orang-orang
tetap meninggal akibat penyebab yang berkaitan dengan AIDS di Amerika Serikat dan di luar
negeri lainnya. Meskipun ART sudah tersedia luas di Amerika Serikat, hanya 25% pasien
HIV yang memiliki kadar virus tidak terdeteksi. Alasan untuk ini adalah multifaktorial dan
meliputi masalah pada kepatuhan, retensi, dan akses pada pelayanan bagi populasi yang
rentan (Cherny, N., et al., 2015; Engels, J., 2009).

Di era ini, pasien yang benar-benar meninggal akibat AIDS meliputi salah satu dari 3 kategori:
(1) terlambat terdiagnosis dan tidak pernah menerima ART atau menggunakan ART hanya
dalam jangka waktu pendek namun terus mengalami perburukan akibat keparahan penyakit
saat datang berobat;

(2) terdiagnosis saat penyakit masih stadium awal, namun akibat berbagai faktor medis dan
psikososial tidak pernah menggunakan ART secara konsisten dan telah berkembang menjadi
ireversibel dan menjadi stadium akhir; dan

(3) seseorang dengan HIV bertahun-tahun dengan berbagai kegagalan regimen terapi, yang
sekarang memiliki virus resisten terhadap semua regimen obat yang ada saat ini.Seorang pasien
HIV datang dengan manifestasi AIDS stadium akhir akan dirujuk ke rumah perawatan tanpa
dicoba pemberian ART. Hal ini dapat terjadi apabila pasien baru terdiagnosis HIV dan langsung
ditemukan dengan AIDS stadium akhir

G. Kapan mulai perawatan paliatif

 Konsep tradisional : terapi paliatif sebagai “ end-of- life care “ , sesudah pengobatan kausal
gagal.

 Konsep kini : terapi paliatif diberikan bersama seiring dengan pengobatan kausal

 Terapi paliatif pada pra-HAART : good end-of-life

 Terapi paliatif pada era HAART : kualitas hidup yg baik

G. Pemberhentian ART dan Profilaksis Infeksi Oportunistik


Pedoman yang ada saat ini banyak yang memaparkan kapan harus memulai ART pada
pasien HIV, namun tidak ada pedoman yang memberikan informasi bagi klinisi dan pasien
mengenai kapan harus menghentikan ART atau profilaksis rutin untuk infeksi oportunistik pada
pasien HIV di akhir masa hidupnya. Penting untuk mengingat bahwa sebagian besar pasien HIV
yang meninggal tidak secara langsung karena AIDS, melainkan karena kondisi komorbid serius.
Hal ini menyebabkan penentuan keputusan penghentian ART dan profilaksis infeksi oportunistik
menjadi lebih rumit (Cherny, N., et al., 2015).

Secara umum, proses pengambilan keputusan sama seperti pengobatan lainnya – seperti,
beban masing-masing pasien dibandingkan dengan analisa keuntungan – harus diaplikasikan untuk
menentukan ART dan profilaksis. Terdapat manfaat potensial untuk melanjutkan HAART pada
penyakit stadium lanjut, berdasar asumsi bahwa viremia yang berkelanjutan dapat dikaitkan
dengan peningkatan beban gejala. Pada salah satu studi cohort, lebih dari sepertiga pasien yang
berhenti menggunakan ART mengalami gejala yang berkaitan dengan penghentian pengobatan.
Pada penyakit stadium lanjut, regimen yang tersedia mungkin hanya aktif sebagian, namun ada
pendapat bahwa pengobatan tersebut mungkin dapat menargetkan pada virus yang lebih lemah
meskipun terdapat peningkatan viral loads. Mempertahankan jumlah CD4+ pada kadar yang lebih
tinggi diperkenankan, karena hal tersebut memberikan perlindungan dari infeksi oportunistik.
Diketahui juga bahwa viral load perifer tidak selalu berhubungan dengan viral load SSP, dan
kemungkinan melanjutkan HAART dapat membantu melindungi fungsi kognitif dan menghindari
ensefalopati yang berhubungan dengan HIV atau demensia.

Terdapat juga alasan untuk mempertimbangkan pemberhentian ART. Apabila kepatuhan


pasien merupakan suatu kendala sebelum penyakit berada pada stadium akhir, maka melanjutkan
ART mungkin tidak memiliki manfaat terapeutik dan bisa memunculkan kecemasan karena
pengobatan tersebut. Peningkatan beban karena konsumsi pil juga berhubungan dengan penurunan
kualitas hidup. Melanjutkan ART dengan menyadari kesia-siaannya membuat kebingungan dalam
terapi, hal tersebut mengalihkan klinisi dan/atau pasien dari rencana perawatan lanjutan yang
penting serta perawatan pada masa akhir kehidupan. Biaya ART mungkin juga menjadi masalah
(Cherny, N., et al., 2015).
Menjaga status mental dapat memiliki efek mendalam dengan cara mempersilahkan pasien
dengan penyakit stadium akhir untuk tetap memahami kondisinya dan menjadi bagian dalam
pengambilan keputusan klinis (Engels, J., 2009; Cherny, N., et al., 2015; Gwyther, L., et al., 2006).

H. Perawatan Akhir Hidup

Serupa dengan penyakit kronis lainnya, pergeseran ke arah paliatif masa akhir kehidupan
merupakan keputusan yang membutuhkan banyak pertimbangan dan kolaborasi antar pasien,
keluarga, dan pendamping. Terapi pada HIV secara spesifik baik terhadap penyakit dan gejala,
saat digunakan bersamaan, dapat membantu mengendalikan gejala serta secara signifikan
berkontribusi terhadap kenyamanan pasien. Sebagai contoh, melanjutkan terapi untuk pneumonia
dapat mengatasi dyspneu, disamping terapi gejala spesifik lainnya seperti oksigen,

opioid, dan benzodiazepin. Pada beberapa kasus, intervensi yang disesuaikan dengan penyakit
mungkin tidak memiliki manfaat memperpanjang kehidupan secara langsung namun dapat
membantu memberikan kualitas hidup pada pasien yang akan meninggal (seperti valganciclovir
dapat mempertahankan pengelihatan pada pasien dengan retinitis CMV); pada individu lain, hal
tersebut mungkin juga dapat meringankan penderitaan dengan segera, serta memperpanjang
kehidupan (seperti fluconazole atau amphotericin B, dengan analgesik kuat, untuk mengobatan
odynophagia kadidiasis esofagus, atau nyeri kepala yang berhubungan dengan meningitis
cryptococcal) (Cherny, N., et al., 2015).

I. Peluang integrasi

Menurut Jan Stjernsward seorang pionir metode perawatan paliatif terintegrasi, yang
bekerja di WHO, definisi integrasi dalam konteks perawatan paliatif dilihat dari tiga perspektif
berbeda, dari sistem pelayanan kesehatan, dari perawatan paliatif patient-centered dan dari
perspektif klien setelah mengalami kesuksesan implementasi. Tujuan dari integrasi adalah untuk
memungkinkan seseorang dengan HIV mendapat akses ke berbagai bidang yang berbeda namun
melalui akses pelayanan perawatan kesehatan dan psikososial satu pintu. Cara seperti ini
menyebabkan pekerja-pekerja pelayanan kesehatan HIV dapat menjadi lebih baik dalam
memperbaiki outcome pasien dengan efisien baik untuk pasien maupun sistem pelayanan
perawatan kesehatan. Secara umum integrasi adalah organisasi, koordinasi, dan manajemen dari
berbagai aktivitas dan sumber untuk menjamin pelayanan yang lebih efisien dan sesuai dalam hal
biaya, luaran, efek, dan penggunaan (pelayanan kesehatan) ( Green, K., Horne, C., 2012).

Perawatan pasien dengan HIV tergolong rumit seperti pengobatan gejala saat virus
terkontrol atau membantu dengan perencanaan perawatan lebih lanjut pada masa akhir kehidupan,
tim perawatan paliatif berperan penting dalam mendukung pasien dan dokter melalui proses ini.
Hal ini menjadi alasan perawatan paliatif dianjurkan sebagai terapi pendamping bagi pasien HIV.
Menyadari efek potensial dari integrasi perawatan paliatif ke dalam perawatan rutin, World Health
Organization (WHO) menyatakan bahwa “perawatan paliatif sebaiknya tergabung dalam setiap
stadium penyakit HIV”. Hal serupa tertera dalam pedoman UNAIDS yang menyatakan bahwa
seluruh individu yang hidup dengan HIV sebaiknya diberi perawatan paliatif yang efektif selama
pengobatannya. Program yang ada yang menggabungkan perawatan paliatif ke dalam perawatan
HIV beragam, menawarkan berbagai layanan, termasuk perawatan paliatif berbasis rumah sakit
dan rawat inap (Souza, P.N., 2016).

Perawatan paliatif bukanlah pengganti untuk pemberian ART, dipandang sebagai terapi
tambahan bila digabungkan dalam proses penyakit HIV dapat meningkatkan hasil luaran.
Keterlibatan perawatan paliatif secara dini tidak hanya meningkatkan kualitas kehidupan, namun
juga dapat memberikan keuntungan dampak kepatuhan terhadap pengobatan. Sehingga penting
untuk kualitas kehidupan dan hasil luaran penyakit serta kelangsungan hidup untuk
memprioritaskan integrasi perawatan paliatif ke dalam perawatan HIV rutin.Terdapat beberapa
pendekatan untuk mengganti paradigma perawatan klinis HIV pada umumnya yang menjamin
eksplorasi lebih lanjut. Pertama, uji klinis yang dirancang untuk membandingkan perawatan
paliatif HIV terintegrasi dengan perawatan klinis HIV biasa harus diuji untuk menentukan dampak
layanan terintegrasi pada hasil luaran terapi, kepuasan pasien, dan biaya. Kedua, pendekatan untuk
memastikan akses awal terhadap ahli perawatan paliatif dalam perawatan HIV perlu ditinjau.
Terakhir, penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk menilai keterlibatan perawatan paliatif secara
dini dalam diskusi mengenai arahan awal dan tujuan perawatan pada populasi yang terinfeksi HIV
(Jones, S.G., 2017).

Bukti-bukti penelitian mengindikasikan integrasi perawatan paliatif pada pasien HIV/AIDS


menghasilkan:
1. Pengalaman dan distresing terhadap gejala fisik lebih sedikit.
2. Lebih patuh terhadap terapi antiretroviral.

3. Memiliki fungsi kekebalan yang lebih baik dan mengurangi mortalitas.


4. Mau bertahan dalam perawatan.
5. Sedikit mengalami masalah psikologis.

6. Kualitas umum menjadi lebih baik.

Komponen-komponen perawatan paliatif pada pasien HIV/AIDS adalah:

1. Penilaian kebutuhan fisik, emosional, sosial dan spiritual pasien maupun keluarga, meliputi:
skrining nyeri dan gejala fisik lain (termasuk efek samping obat antiretroviral) dan skrining
kesehatan mental serta kebutuhan dukungan sosial.

2. Mengobati gejala berdasarkan temuan medis.

3. Memberikan kebutuhan kesehatan mental dan dukungan sosial berdasarkan kapasitas


pelayanan.

4. Mendiskusikan dengan pasien dan keluarga mengenai kebutuhan dalam keahlian perawatan
diri dan jangka panjang.

5. Melakukan follow-up dan membantu membuat rujukan apabila dibutuhkan.

Daftar ilustrasi yang disediakan oleh komponen perawatan paliatif yang terintegrasi dengan
pelayanan HIV terlihat pada tabel di bawah ini.
J. Implementasi
Beberapa studi mengenai implementasi perawatan paliatif pada beberapa klinik HIV
menyimpulkan terdapat lima langkah proses integrasi perawatan paliatif-HIV (Green, K., Horne,
C., 2012; Engels, J., 2009) :
1. Membentuk tim dan menilai keuntungan dan keterbatasan integrasi perawatan.

Tim meliputi kepala klinik/rumah sakit atau kepala subdivisi, klinisi dari berbagai disiplin ilmu,
perawat, dan klien atau pasien. Tugas tim adalah menjamin bahwa proses integrasi sesuai dan
efisien. Tujuan primer tim adalah melakukan penilaian kebutuhan perawatan paliatif pasien dan
memutuskan langkah yang harus diambil dalam rangka memenuhi kebutuhan pasien. selanjutnya
akan dipandu dan dimonitor implementasinya. Pembentukan tim disesuaikan di masing-masing
tempat pelayanan.

2. Membuat perencanaan integrasi

Tujuan perencanaan integrasi adalah untuk memudahkan tim integrasi mengambil langkah yang
dibutuhkan dalam menyediakan perawatan paliatif bagi pasien. Perencanaan sebaiknya dibuat
secara kolaboratif dengan bidang disiplin lain, dan disusun secara spesifik mengenai apa yang
dibutuhkan, kapan dan oleh siapa. Idealnya perencanaan tersebut harus melalui proses validasi.

3. Membangun sistem dan keahlian, memungkinkan integrasi perawatan paliatif.

Perawatan paliatif masih tergolong baru dikenal oleh pekerja kesehatan pelayanan pasien HIV,
sehingga langkah pertama yang penting adalah memberikan pelatihan dasar pada mereka.
Pelatihan dasar bisa diselesaikan dalam waktu beberapa hari atau kurang, informasi yang
diberikan meliputi:
a) Mengapa perawatan paliatif penting bagi kualitas hidup pasien dan keluarganya.

b) Prevalensi nyeri, gejala lain dan gangguan kesehatan mental yang bisa terjadi pada pasien
HIV.

c) Intervensi utama pada pelayanan pasien HIV yang dapat diimplementasikan untuk mengatasi
masalah-masalah tersebut.

Langkah lain adalah menggunakan alat ukur untuk deteksi gejala dan perawatan paliatif yang
dibutuhkan. Terdapat beberapa alat ukur untuk penilaian pasien yang dapat digunakan pada
perawatan pasien HIV, antara lain Palliative Care Outcome Scale (POS) dan Memorial Symptom
Assesment Scale. Pusat perawatan HIV dapat menggunakan alat ukur tersebut atau membuat
sendiri alat ukurnya. Contoh alat ukur yang dikembangkan oleh suatu klinik HIV di Vietnam
adalah alat ukur singkat yang menggambarkan bermacam-macam gejala dan masalah. Alat ukur
ini bertujuan melihat masalah atau gejala yang ada pada pasien di klinik HIV mereka dan dibuat
tingkat keparahannya, seperti terlihat pada gambar di bawah ini (Gwyther, L., et al., 2006;
Engels, J., 2009; Green, K., Horne, C., 2012).
4. Implementasi perencanaan pada fase pendekatan.
Setelah melakukan pelatihan dasar pada pekerja dan melakukan penilaian menggunakan alat
ukur, pelayanan dapat dimulai. Terdapat sejumlah panduan perawatan paliatif yang dapat
digunakan untuk membantu klinisi menangani nyeri, gejala lain dan gangguan mental, namun
masing-masing pusat pelayanan HIV akan mengikuti panduan nasional masing-masing.

5. Monitoring dan evaluasi perencanaan implementasi.

Efektivitas pelayanan integrasi dapat dipantau dengan melakukan evaluasi dan


tinjauan ulang menggunakan daftar pendek yang dapat dibuat dan divalidasi
sendiri untuk mengukur kualitas (Green, K., Horne, C., 2012; Engels, J., 2009).
Kasus:

Seorang perawat melakukan pengkajian pada seorang laki2 usia 37 tahun , pekerjaan supir angkot
, menikah dengan dengan dengan seorang perempuan usia 35 tahun dan saat ini sedang hamil 28
minggu kehamilan anak ke 3 . Klien mengatakan diare dan stomatitis sudah 6 bulan tdk sembuh
sembuh.badan lemas, muka pucat. Takut dengan dengan penyakitnya. hasil pemeriksaan di RS
UD menunjukan hasil positif mengidap HIV. Klien mengatakan semua temannya sudah meninggal
dunia. ibu mengatakan klien pernah menggunakan narkoba suntik waktu muda , ibu tampak
menangis pada saan menceritakan ttg penyakit suaminya dan kawatir menular pada kedua anaknya
, dirinya dan bayi dalam kandungannya.

Data tambahan :
Klien beragama Islam, dan selalu berdoa terhadap kesembuhan penyakitnya

Nama : Setyo Mulyadi


No. MR : 324567
Tanggal Lahir : 17 April 1986
(Mohon diisi atau tempelkan stiker jika ada)

FORMULIR SKRINING PASIEN MEMASUKI FASE AKHIR KEHIDUPAN


DI SERTAI PROSES KEMATIAN
Diagnosis : HIV
Ruangan :
DPJP utama : dr. Tunggul
No Indikator Pasien Memasuki Fase Akhir Kehidupan disertai Proses Kematian
1. Palliative Performance Status ≤ 20
√□Ambulasi (Perpindahan) : tirah baring
□ Aktivitas : tidak mampu melakukan aktivitas sama sekali
□ Kemampuan merawat diri : membutuhkan perawatan total (Total Care)
□ Intake : minimal, atau hanya beberapa tetes
□ Kesadaran : mengantuk atau kebingungan
2. □ Nadi / pulsasi pada arteri radialis sulit diraba
3. □ Pola nafas Cheynes-Stokes
4. □ Bernafas dengan gerakan mandibular
5. □ Deathh Rattle (terdengar suara saat inspirasi dan atau ekspirasi akibat retensi spulum
6. □ Produksi urin ≤ 100 ml dalam 12 jam terakhir

Catatan :
Pasien dikatakan memasuki proses kematian, jika memenuhi minimal seluruh kriteria nomor 1
disertai salah satu dari kriteria 2,3,4,5 atau 6
Tanggal,………………. Pukul :
……….
Dokter pemeriksa,

(______________________________)
Nama jelas dan tanda tangan
Nama : Setyo Mulyadi
No. MR : 324567
Tanggal Lahir : 17 April 1986
(Mohon diisi atau tempelkan stiker jika ada)

PENGKAJIAN PASIEN AKHIR KEHIDUPAN

Ruang : Mawar
Tgl. Masuk Rawat : 20 September 2019

PENGKAJIAN KEPERAWATAN (Dilakukan oleh Perawat)


III. PENGKAJIAN AWAL
A. Identitas Klien
1. Nama : Setyo Mulyadi
2. Tempat tanggal lahir / usia : Jakarta, 17 April 1986
3. Usia : 33 Tahun
4. Jenis Kelamin :L
5. Agama : √□ Islam □ Kristen Protestan □ Kristen Katolik □
Hindu
□ Buddha □ Kong-huchu
6. Suku : Jawa
7. Pelaku rawat : Keluarga
8. Alamat : Jalan Kemboja no 17 RT 4 RW8 Jakarta Timur
9. Pendidikan Terakhir : □ Tidak □ SD √□ SMP/Sederajat □ SMA/Sederajat
□ D3 □ D4/S1 □ S2 □ S3
10. Status : √□ Menikah □ Belum Menikah
11. Diagnosia Medis : HIV

B. Identitas Penanggung Jawab


1. Nama : Merry
2. Usia : 36 Tahun
3. Hubungan dengan pasien : □ Orang tua □ Anak □ Saudara √□ Lain-lain:Istri
4. Alamat Rumah : Jalan Kemboja no 17 RT 4 RW8 Jakarta Timur

C. Genogram
D. ANAMNESA
1. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Diare dan Stomatitis sudah 6 bulan
2. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
...............................................................
3. RIWAYAT ALERGI
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
...............................................................
IV. RIWAYAT KESEHATAN DAN KONDISI FISIK
Beri tanda (√) sesuai dengan kondisi pasien :
1. General :
□ Lelah □ Gangguan mobilisasi □ Gangguan Tidur □ Demam
□ Nyeri
a. Paliatif : ............
b. Quality : ............
c. Region :

Right Left Right Left Left Right Right Left

d. Scale :

None Mild Moderate Severe

No Pain Worst
Possible Pain
0 2 4 6 8 10
Hurt Hurt Little Hurt Even Hurt Whole Hurt
No Hurt Little Bit More More Lot Worst
e. Timing : □ Akut □ Kronis □ Sering □ Kadang-kadang □ Jarang

2. Respirasi
□ Sesak napas □ Batuk (Sputum/Tidak) □ Hemoptosis □ Sekresi saluran napas
berlebihan

3. Saluran Cerna
√□ Nafsu Makan Hilang □ Gangguan oral □ Penurunan berat badan □ Disfagia
□ Konstipasi √□ Mual □ Muntah □ Melena
√□ Diare □ Hematemesis
□ Tidak mampu menelan

4. Sistem Saraf Pusat


□ Sakit kepala □ Pusing □ Pingsan □ Kelemahan
Tungkai
□ Penurunan Kesadaran □ Kebingungan □ Hilang memori □ Halusinasi
□ Mimpi buruk □ Delirium □ Kejang

5. Saluran Kemih dan Reproduksi


□ Gangguan saluran kemih □ Ginekologi (..…..…) □ Kateter
□ Lain-lain : …………………

V. KONDISI PSIKOSOSIAL
Beri tanda (√) sesuai dengan pemahaman kondisi pasien saat dikaji :
1. Mengerti kondisi akhir hidup : Pasien : √□ Ya □ Tidak
Keluarga/lainnya* : √□ Ya □ Tidak
2. Berada dalam tahap berduka ya/tidak*
3. Pasien : □ Menyangkal □ Marah □ Tawar Menawar □ Depresi
□ Menerima □ Tidak dapat dinilai
4. Keluarga/wali hokum* : □ Menyangkal □ Marah □ Tawar Menawar □ Depresi
□ Menerima □ Tidak dapat dinilai
5. Potensi reaksi patologis masa berkabung dari keluarga/wali hukum* : □ Ya □ Tidak
6. Pasien memerlukan dukungan psikolog : √□ Ya □ Tidak
7. Keluarga memerlukan dukungan psikolog : √□ Ya □ Tidak
8. Pasien memerlukan dukungan keluarga : √□ Ya □ Tidak
9. Tinggal serumah : √□ Ya, ........................ □ Tidak
10. Dukungan emosional dan sosial dari pihak lain : √□ Ya, Pihak keluarga □ Tidak
11. Kesulitan untuk melakukan pekerjaan : √□ Ya, ........................ □ Tidak
12. Harapan mengenai tujuan perawatan : √ □ Ya, ........................ □ Tidak
13. Tempat untuk perawatan : √□ Rumah sakit □ Rumah
□ lain-lain,..........
14. Kondisi pikiran dan perasaan selama sebulan terakhir :
a. Putus asa dan tidak berdaya : √□ Ya □ Tidak
b. Kehilangan minat : √□ Ya □ Tidak

c. Depresi : √□ Ya □ Tidak
d. Tegang atau cemas : √□ Ya □ Tidak
e. Serangan panik : □ Ya √□ Tidak
15. Pemahaman terhadap sakit : √□ Ya, ........................ □ Tidak
16. Ekspektasi terhadap penyakit : √□ Ya, ........................ □ Tidak
17. Sumber – sumber dan hal yang menguatkan : √□ Ya, Keluarga □ Tidak
18. Masalah psikologis, sosial, spiritual : √□ Ya, cemas, takut, bingung, tidak
berdaya □ Tidak

VI. KONDISI SPIRITUAL


Beri tanda (√) Pada kebutuhan religious / spiritual sesuai dengan kondisi pasien saat dikaji :
1. Pasien memerlukan konsultasi dan dukungan : √□ Ya □ Tidak
Religius /spiritual dari kelompok religious / spiritual
2. Keluarga memerlukan konsultasi dan dukungan : √□ Ya □ Tidak
Religius /spiritual dari kelompok religious / spiritual
3. Adakah yang memberi anda harapan atau kekuatan pada saat sakit : √□ Ya,pihak keluarga □
Tidak
4. Apakah anda bagian dari organisasi agama atau kepercayaan : □ Ya,............ √□ Tidak
5. Apakah organisasi keagamaan memberikan dukungan : □ Ya,............ √□ Tidak
6. Adakah kepercayaan spiritual yang paing bermakna secara pribadi : √□ Ya,............ □ Tidak
7. Adakah harapan untuk tim kesehatan dalam memfasilitasi kebutuhan : √□ Ya,............
□ Tidak

- Hubungan dengan diri sendiri


Apa makna dan arti hidup anda atau apa yang anda pahami tentang tujuan hidup? Bagaimana
anda menyadari bahwa makna dan tujuan hidup anda saat ini berdasarkan apa yang telah
anda kerjakan?
Klien mengetahui tentang makna dan arti hidup.
- Hubungan dengan orang lain atau sesama
Bagaimana hubungan anda selama ini dengan orang-orang sekitar?
Klien bergaul dengan orang yang salah, karena klien pernah mengkonsumsi narkoba.

- Hubungan dengan alam


Apakah anda menyukai tentang alam? Apakah ini membuat anda merasa tenang dan damai di
saat mengalami masalah?
Klien tidak menyukai lingkungan alam.

- Hubungan dengan Tuhan


Apakah anda selama ini mengikuti acara keagamaan atau berkumpul dengan keluarga atau
teman dekat yang membantu anda dalam dukungan keagamaan?
Tidak.

VII. Kebutuhan Pelayanan Pendukung untuk Pasien, Keluarga/Care Giver


Beri tanda (√) Pada kebutuhan Pelayanan Pendukung Sesuai dengan kondisi saat dikaji :
1. Pasien / keluarga /Care Giver membutuhkan : √□ Ya □ Tidak
Pelayanan pendukung lain temasuk terapi komplementer
2. Pasien / keluarga membutuhkan Care Giver : √ □ Ya □ Tidak
3. Pasien / keluarga menghendaki perawatan di rumah : □ Ya √□ Tidak

VIII. Riwayat Pengobatan

1. Obat : Dapat/ Tidak


No. Nama Obat/Rute Dosis Sejak Hasil
1. Oralit/Oral 2x sehari 6 bulan Belum sembuh
2.
3.
4.
5.
6.
7.
2. Operasi : □ Ya √□ Tidak
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
.......................................

3. Radioterapi : □ Ya √□ Tidak
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
......................................

4. Kemoterapi : □ Ya √□ Tidak
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
.......................................

5. Rehabilitasi : □ Ya √□ Tidak
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
.......................................

6. Komplementer : □ Ya √□ Tidak
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
.......................................

7. Alternatif : □ Ya □ Tidak
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
....................................................................................................................................................
.......................................

Tanggal,25 September 2019 Pukul : 10.00 WIB


Dokter pemeriksa,
(______________________________)
Nama jelas dan tanda tangan
Nama :
No. MR :
Tanggal Lahir :
(Mohon diisi atau tempelkan stiker jika ada)

PENGKAJIAN MEDIS (Dilakukan oleh dokter)


A. MASALAH MEDIS & KEPERAWATAN
1. DIAGNOSIS dan MASALAH MEDIS (Diisi oleh dokter)
Isi titik-titik dan beri tandan (√)
1. Diagnosis 1 : HIV
2. Diagnosis2:………………………………………………………………………
……
3. Intervensi untuk semua penyebab yang dapat diperbaiki sudah
dipertimbangkan, dan tidak memungkinkan lagi dilakukan
□ Tidak ada □ Ada
2. MASALAH KEPERAWATAN (Diisi oleh dokter)
□ Ketidakefektifan bersihan jalan napas □ Resiko aspirasi
□ Ketidakefektifan pola napas □ Mual
□ Gangguan pertukaran gas □ Nyeri
□ Gangguan perfusi jaringan □ Resiko Infeksi
□ Penurunan curah jantung □ Kurangnya perawatan
diri
□ Ketidakseimbangan nutrisi : Kurang dari kebutuhan
□ Kerusakan integritas kulit
□√ Kekurangan Volume Cairan □ Risiko cedera
□ Kelebihan volume Cairan □ Risiko perdarahan
□ Ketidakefektifan pengaturan suhu tubuh (Thermoregulasi)
□ Kurangnya Pengetahuan
□ Kerusakan membrane mukosa oral □ Cemas
□√ Lainnya Resiko Infeksi

B. PERENCANAAN ASUHAN (CARE PLAN) PASIEN TERINTEGRASI (Diisi oleh


dokter)
1. Penghentian pengobatan kausatif yang tidak perlu :
□ Terapi sistemik kanker □ Anticoagulasi □ Antidiabetes mellitus □
Antihipertensi
□ Radiasi □ Antibiotik □ Kausatif lain : …………………………..
2. Penghentian intervensi yang tidak perlu
□ Pemeriksaan darah □ Transfusi
□ Pungsi □ Fisioterapi
□ Resusitasi □ Cairan / Obat intravena /Subkutan
□ Albumin □ Inotropik
□ Oksigen (Ventilasi mekanik)
□ Penghentian intervensi keperawatan yang tidak perlu (kecuali untuk
kenyamanan pasien, seperti : Perubahan posisi, penggunaan matras, anti
dekubitus, tanda vital, dll)
3. Tata Laksana :

4. Edukasi : (lihat dan isi formulir edukasi terintegrasi)


Edukasi tentang pemberian obat ARV menggunakan Flipchart.

Tanggal,………………. Pukul : ……….

Dokter, Perawat

(______________________________) (_____________________________)
Nama jelas dan tanda tangan Nama jelas dan tanda tangan
DAFTAR PUSTAKA

Cherny, N., Fallon, M., Kaasa, S., Potenoy,R., David C.C. 2015. Issues in populations with non-
cancer illnesses (HIV/AIDS) dalam Oxford Textbook of Palliative Medicine. Fifth edition, 15(1),
955-968. Oxford: Oxford University Press.

Coleein, I., 2010. Makna Spiritualitas pada Pasien HIV/AIDS dalam Konteks Asuhan
Keperawatan di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, tesis. Jakarta: Universitas Indonesia.

Engels, J. 2009. Palliative Care Strategy for HIV and Other Disease. Cambodia: Family Health
International.

Green, K., Horne, C. 2012. Integrating palliative care into HIV service. A Practical toolkit for
implementers. London: FHI 360 and The Diana Memorial Fund.

Gwyther, L., et al. 2006. A Clinical Guide to Supportive and Palliative Care for HIV/AIDS.
Cape Town: Hospice Palliative Care Association of South Africa.

Jones, S.G., 2017. Symptom Management and Palliative Care in HIV/AIDS. [cited Jun, 9, 2017].
Avalaible at: http://www.medscape.org/viewarticle/445637.

Souza, P.N., et al. (2016). Palliative Care for Patients with HIV/AIDS Admitted to Intensive
Care Units. Rev Bras Intensiva, 28(3): 301-309.