Anda di halaman 1dari 8

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/332782147

ANALISA INDIKATOR KESELAMATAN PELAYARAN PADA KAPAL NIAGA

Article · January 2019

CITATIONS READS
0 336

1 author:

Andi Hendrawan
Akademi Maritim Nusantara, Cilacap
24 PUBLICATIONS   2 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

acadmic View project

All content following this page was uploaded by Andi Hendrawan on 24 July 2019.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Jurnal Saintara Vol 3 No. 2 Maret 2019

ANALISA INDIKATOR KESELAMATAN PELAYARAN PADA KAPAL NIAGA

Andi Hendrawan
Akademi Maritim Nusantara
Eamil : andihendrawan@amn.ac.id

Abstract
Shipping safety is very important and occupies a central position in all aspects of the shipping
world. Aspects inherent in shipping safety include the characteristics of attitudes, values, and
activities regarding the importance of fulfilling safety and security requirements concerning
transportation in waters Ship and shipping safety indicators are two sides that are not separated,
the ship must have safety equipment including lifeboats, life jackets, fire extinguishers, documents
and certificates, the ship's screen-worthy condition. The health of the crew, all must be properly
prepared and ascertained the existence and circumstances so that the cruise will be safe and
secure.
Kata kuncil safety, shipping

PENDAHULUAN kondisi cuaca perairan di Indonesia seperti


telegram perihal kesiapan cuaca buruk di
Semua pengguna sarana transportasi laut di
laut. (Ditjen Hubla, 2017).
Indonesia khususnya dan di dunia pada
umumnya, senantiasa sangat mengutamakan Keselamatan pelayaran merupakan hal yang
persoalan keselamatan dan keamanan, yang sangat penting dan menduduki posisi sentral
selanjutnya baru diikuti dengan aspek biaya dalam segala aspek di dunia pelayaran.
yang terjangkau, kecepatan dan ketepatan Aspek yang melekat pada keselamatan
waktu, serta aspek kenyamanan. Terjadinya pelayaran meliputi karakteristik sikap, nilai,
kecelakaan kapal seperti tenggelam, terbakar, dan aktivitas mengenai pentingnya
dll adalah permasalahan-permasalahan yang terpenuhinya persyaratan keselamatan dan
berkaitan dengan keselamatan dan keamanan keamanan yang menyangkut angkutan di
transportasi laut. Untuk pelaksanaan perairan dan kepelabuhanan. Pengabaian atas
peningkatan keselamatan pelayaran ini, keselamatan pelayaran cenderung
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut telah meningkatkan biaya ekonomi dan
mengeluarkan kebijakan dalam pencegahan lingkungan seperti penurunan produksi,
kecelakaan kapal seperti membuat maklumat timbul biaya medis, terjadi polusi dan
pelayaran tentang peningkatan pengawasan penggunaan energi yang tidak efisien.
keselamatan pelayaran bagi kapal Rendahnya keselamatan pelayaran ini dapat
penumpang, membuat maklumat tentang di aklnbatkan oleh lemahnya manajemen

53
Jurnal Saintara Vol 3 No. 2 Maret 2019

sumber daya manusia (pendidikan, menelan banyak korban jiwa. Pada tahap
kompetensi, kondisi kerja, jam kerja) dan permulaan, dimulai dengan fokus pada
manajemen proses . peraturan kelengkapan navigasi, kekedapan
dinding penyekat kapal serta peralatan
.
berkomunikasi, kemudian berkembang pada
Keselamatan dan keamanan maritim di sini, konstruksi dan peralatan lainnya.
adalah kebijakan utama yang harus Modernisasi peraturan SOLAS sejak 1960,
mendapatkan prioritas pada pelayaran dalam adalah menggantikan Konvensi 1918
menunjang kelancaran transportasi laut
dengan SOLAS 1960. Sejak saat itu,
Indonesia sebagai negara kepulauan.
peraturan mengenai desain untuk
Indonesia memiliki kedaulatan atas
meningkatkan faktor keselamatan kapal
keseluruhan wilayah laut lndonesia, sehingga
mulai dimasukan seperti: Desain konstruksi
laut memiliki peran cukup berarti baik bagi
kapal, Permesinan dan instalasi listrik,
sarana pemersatu bangsa dan wilayah
Pencegah kebakaran, Alat-alat keselamatan,
Republik lndonesia, mau pun laut sebagai
Alat komunikasi dan keselamatan navigasi.
asset bangsa yang tidak ternilai serta masa
Adapun, usaha penyempurnaan peraturan
depan Indonesia. Penguasaan atas laut
tersebut dengan cara mengeluarkan peraturan
tersebut, memiliki konsekuensi bahwa
tambahan (amandement) hasil konvensi
Pemerintah berkewajiban atas
IMO, yang dilakukan secara berturut-turut
penyelenggaraan pemerintahan di bidang
pada 1966, 1967, 1971 dan 1973. Namun,
penegakan hukum di laut, baik terhadap
usaha untuk memberlakukan peraturan-
ancaman pelanggaran, pemanfaatan perairan,
peraturan tersebut secara internasional
serta menjaga dan menciptakan keselamatan
kurang berjalan sesuai dengan yang
pelayaran secara optimal(Kadarisman &
diharapkan, terutama karena hambatan
Jakarta, 2017).
prosedural, yaitu: diperlukannya persetujuan
Penringya keselamatan kerja di sector 2/3 dari jumlah negara anggota untuk
prlayaran menunjukan bahw abahaya di meratifikasi peratruran dimaksud, ternyata
sector ini sangat banyak dan penuh dengan sulit dicapai pada waktu yang diharapkan.
resiko. Artikel ini akan mengkaji indikator Selanjutnya, pada rentang 1974, dibuat
keselamatan kerja disektor kapal perikanan, konvensi baru SOLAS 1974, yakni pada
yang pada umunya masih kurang mendapat setiap amandemen diberlakukan sesuai target
perhatian. waktu yang sudah ditentukan, kecuali ada
penolakan dari 1/3 jumlah negara anggota
atau 50 % dari pemilik tonnage yang ada di
KESEALAMATAN PELAYARAN dunia(Suryani, Pratiwi, Sunarji, &
Hendrawan, 2018)
Keselamatan pelayaran Peraturan Safety Of
Life At Sea (SOLAS) adalah peraturan yang Dalam pengoperasian kapal ditemukan
mengatur keselamatan maritim paling utama banyak sekali pekerjaan-pekerjaan baik yang
dengan tujuan untuk meningkatkan jaminan ringan maupun berat yang memiliki tingkat
keselamatan hidup di laut yang dimulai sejak resiko kecelakaan kerja yang cukup tinggi.
1914, mengingat, saat itu, di mana-mana Dalam penelitian ini penulis mengamati
banyak terjadi kecelakaan kapal yang sering terjadinya kecelakaan kerja awak

54
Jurnal Saintara Vol 3 No. 2 Maret 2019

kapal, Dengan mengungkapkan faktor-faktor 6. Sekoci - merupakan perahu kecil yang


yang menjadi penyebab terjadinya dilengkapi dengan mesin motor, tersedia satu
kecelakaan pada awak kapal sewaktu unit
bekerja, dan akibat yang timbul karena
7. Top Deck (Muster station) merupakan
kecelakaan tersebut, serta upaya yang harus
tempat berkumpul/ evakuasi penumpang
dilakukan untuk mengurangi resiko
pada keadaan darurat, tempat ini terdapat
kecelakaan kerja bagi awak kapal(Tjahjanto
dilantai atas kapal dan merupakan ruang
& Aziz, 2016)..\
terbuka.
8. Alat pemadam kebakaran, berikut
ANALISA INDIKATOR perlengkapannya
KESELAMATAN PELAYARAN
9. Disamping beberapa fasilitas keselamatan
Beberapa fasilitas keselamatan yang terdapat yang telah disebutkan diatas, untuk
diatas kapal meliputi: mengamankan kendaraan diatas kapal ,
dipasang suatu alat yang bemama Tali
1. Life Boy digunakan sebagai pelampung
Lasing. yang berguna unuk mengikat
untuk penumpang apabila tetjadi kecelakaan,
kendaraan terutama kendaraaan besar seperti
tersedia sebanyak 13 buah
truk agar tidak bergerak bila terjadi
2. Life Jacket merupakan jaket pelampung guncangan.
yang dikenakan oleh setiap penumpang
10. Diatas kapal disediakan pula tabung alat
apabila dalam kondisi darurat kapal
pemadam kebakaran bila diatas kapal terjadi
mengalami kecelekaan. Alat tersebut
kebakaran kecil, alat ini berjumlah 11 buah
disediakan pada tiap -tiap ruang
dan diletakan di beberapa tempat yang
penumpang dengan jumlah sesuai dengan mudah terjangkau.
jumlah penumpang, untuk penggunaan alat
Disamping persyaratan teknis dan non teknis,
terse but terlebih dahulu dilakukan peragaan
dalam manajemen keselamatan pelayaran
cara penggunaan.
ada beberapa persyaratan atau kelengkapan
3. Fire Plant merupakan peta denah evakuasi administrasi yang harus dipenuhi diantaranya
keadaan darurat alat tersebut terdapat pada di :
dinding dan diletakan pada suatu tempat yang
1. Dokumen Penyesuaian Manajemen
mudah terjangkau .
Keselamatan ( Document Of Compliance )
4. Life raft - berfungsi seperti sekoci yang
Merupakan audit dari Sistem Manajemen
digunakan dengan melempar kelaut dan akan
Keselamatan Perusahaan yang telah
mengembang, didalamnya terdapat oxygen
memenuhi ketentuan dari Koda Manajemen
5. Rakit- dengan kapasitas untuk 12 orang Intemasional untuk Keselamatan
sebagai alat angkut penumpang diatas air Pengoperasian Kapal dan Pencegahan
yang digunakan dalam kondisi darurat Pencemaran (ISM-Code), dokumen tersebut
apabila terjadi kecelakaan kapal, alat berlaku selama 5 ( lima) tahun dan wajib
tersebut, tersedia sebanyak 14 buah dilakukan verfikasi secara berkala setiap 1(
satu) tahun sekali.

55
Jurnal Saintara Vol 3 No. 2 Maret 2019

2. Sertifikat Manajemen Keselamatan (Safety seperti alat keselamatan yang ada dalam
Man- agement Certificate ) pesawat terbang. Berdasarkan data yang
diperoleh bahwa jumlah Life Jacket yang
Sertifikat Manajemen Keselamatan
tersedia di atas kapal baik kualitas maupun
diterbitkan oleh Menteri Perhubungan
kuantitas sudah sesuai dengan kapasitas
berdasarkan Konvensi Intemasional tentang
jumlah penumpang dan awak kapal yaitu 315
KeselamatanJiwa di Laut 1974, sertifikat
buah, sedangkan jumlah penumpang yang
diterbitkan setelah dikakukan audit Sistem
diizinkan sesuai dengan sertifikat
Manajemen Keselamatan perusahaan yang
keselamatan kapal penumpang yang di miliki
telah memenuhi ketentuan dari Koda
adalah 160 penumpang.
Manajemen Intemasional untuk Keselamatan
pengoperasian kapal dan Pencegahan Bagian penting yang merupakan
Pencemaran ( ISM - Code ) perlengkapan keselamatan adalah Life Raft
yaitu rakit yang di pergunakan untuk
3. Sertifikat keselamatan Kapal Penumpang (
penyelamatan jiwa awak kapal dan
Passanger Ship Safety Certifikate )
penumpang pada waktu kapal tenggelam
Sertifikat Keselamatan Kapal Penumpang yang terdapat disisi kanan dan sisi kiri
diterbitkan berdasarkan pemeriksaan teknis berjumlah 8 ( delapan) buah. Sesuai dengan
atas kelengkapankapal termasuk ketentuan dan pemanfaatannya Life Raft
kelengkapankeselamatan yang harus tersedia yang tersedia diatas kapal telah dilakukan
diatas kapal berdasarkan ketentuan yang perawatan secara berkala sebagaimana yang
berlaku. tercantum dalam dokumen perawatan.
Beberapa item atau kelengkapan yang
Pemenuhan fasilitas keselamatan terdapat didalam Life Raft telah diuraikan
Safety equipment atau perlengkapan diatas , barang-barang dalam Life Raft yang
keselamatan yaitu segala peralatan dan penggunaannya bersifat terbatas seperti
perlengkapan yang di gunakan untuk makanan, minuman, obat-obatan, umumnya
melindungi jiwa awak kapal maupun harus ganti dengan barang yang baru apabila
penumpang pada waktu dalam keadaan telah masuk masa kadaluarsa. Sedangkan
darurat. Sebagai seorang awak kapal kita untuk alat-alat navigasi dan alat-alat
harus tahu macam-macam alat keselamatan keselamatan seperti Parachut Signal, Hand
itu dan juga harus tahu cara menggunakannya Flare, Buoyant Smoke Signal, Batteries
dengan benar. umumnya diganti setiap 3-5 tahun sekali.

Perlengkapan keselamatan yang diuraikan Kelengkapan dokumen keselamatan


pada penjelasan sebelumnya merupakan Disamping beberapa perlengkapan
bagaian dari manajemen keselamatan. keselamatan, untuk mengendalikan
Bebeberapa perlengkapan keselamatan yang keselamatan pelayaran secara intemasional
terdapat diatas kapal diantaranya Life Jacket diatur dengan ketentuan International
yaitu baju pelampung yang di kenakan oleh Convention for the Safety of Life at Sea
awak kapal atau penumpang untuk (SOLAS), 1974, sebagaimana disebutkan
mengapungkan diri di dalam air pada waktu juga dalam Undang- undang no.17 T ahun
kapal berada dalam keadaan darurat. Alat 2008, BAB IX tentang sertifikasi
yang satu ini sudah tidak asing lagi sama

56
Jurnal Saintara Vol 3 No. 2 Maret 2019

keselamatan.Berdasarkan data yang sempuma atau jumlahnya berkurang karena


dikumpulkan bahwa sertifikat sebagaimana adanya tindakan pencurian(Agusta & K,
dimaksud telah terpenuhi diantaranya: 2017; Khikmatul Heny Masitoh, Sonhaji,
2017; Nurhasanah, Joni, & Shabrina, 2015).
a. DokumenPenyesuaian Manajemen
Keselamatan (Document Of Compliance) b. Inflatable Life Raft
b. Sertifikat Manajemen Keselamatan ( Fasilitas keselamatan umumnya hanya
Safety Man- agement Certificate ) dipergunakan pada saat-saat darurat
terjadinya kecelakaan, perawatan alat
c. Sertifikat Keselamatan Kapal Penumpang
keselamatan Life Raft atau Re-Inspec- tion
( Passanger Ship Safety Certifikate)
Life Raft umumnya dilaksanakan setiap 1
tahun sekali sesuai SOLAS 1974, baik untuk
kapal-kapal niaga, kapal penumpang,
Pelatihan maupun kapal-kapal khusus, untuk lebih
Kegiatan pelatihan Safety Drill yang memastikan kondisi barang tersebut
merupakan kegiatan pelatihan penanganan berfungsi sebagaimana mestinya maka perlua
keadaan darurat yang diikuti oleh semua kru adanya pemeriksaan berkala setiap satu
kapal dilaksanakan oleh staf DP A yang bulan, baik secara teknis fungsi dari pada
bertugas menangani proyek latihan diatas barang itu sendiri maupun perlengkapan yang
kapal, disamping itu dibentuk juga ERT ( terdapat didalamnya .
Emergency Response Team), team yang c. Sekoci penolong
bergerak pada saat kondisi darurat .
Sekoci penolong merupakan salah satu
Upaya peningkatan fasilitas keselamatan fasilitas keselamatan yang berupa barang
Fasilitas keselamatan kapal telah tersedia mekanik yang dilengkapi motor tempel,
diatas kapal sesuai dengan persyaratan dan karena merupakan barang mekanik maka
kebutuhan, namun untuk dapat dipergunakan perlu pemeliharaan secara rutin sebagaimana
dengan sebaik-baiknya sesuai dengan pemeliharaan kendaraan bermotor pada
pemanfaatannya maka perlu adanya umumnya agar fungsi mekaniknya berjalan
peningkatan kualitas melalui pemeliharaan dengan baik pada saat digunakan.
secara intensif d. Sumber Daya Manusia.
Pemeliharaan sebagaimana dimaksud Tugas penyelamatan diatas kapal pada saat
dilakukan pemeriksaan secara berkala antara kondisi darurat saat ini dilaksanakan oleh
lain : pihak perusahaan pelayaran yang bemama
a. Life boy, Life jacket ERT (Emergency Response Team), team
yang bergerak pada saat kondisi darurat ,
Mengingat barang tersebut relatif jarang namun perlu adanya peningkatan koordinasi
digunakan maka perlu dilakukan antar swasta dalam hal ini perusahaan
pemeriksaan tiap satu bulan, baik kondisi, pelayaran dan pihak pemerintah dengan
fungsi maupun jumlahnya, hal ini menjaga membentuk tim yang mewakili pihak
kemungkinan pada waktu kondisi darurat ada pemerintah yang khusus menangani
barang barang tidak berfungsi secara kecelakaan diatas kapal(Mutholib, 2013).

57
Jurnal Saintara Vol 3 No. 2 Maret 2019

Keselamatan kapal adalah keadaan kapal dari kapal, serta manajemen keamanan kapal
yang memenuhi persyaratan material, untuk berlayar di perairan tertentu. Sumber
konstruksi, bangunan, permesinan dan daya manusia yang handal dengan ditunjukan
perlistrikan, stabilitas, tata susunan serta dengan sertifikat keahlian menjadi hal yang
perlengkapan termasuk radio, dan diharuskan untuk menunjang keselamatan
elektronika kapal, berdasarkan Peraturan pelayaran sebagai salah satu indikatornya.
Pemerintah Nomor 51 Tahun 2002 tentang
Perkapalan.Keselamatan merupakan upaya
untuk bebas atau mengurangi tingkat resiko
kecelakaan. Keselamatan merupakan hal
yang selalu menjadi prioritas utama dalam DAFTAR PUSTAKA
bidang apapun termasuk di sub sektor Agusta, A., & K. (2017). Analisis Undang-
transportasi laut(Siswoyo, 2016). undang Kelautan di Wilayah Zona
Ekonomi Eksklusif. Jurnal Pendidikan
Sebagaimana dijelaskan dalam Undang- Geografi, 17(2), 147–152.
Undang Nomor 17 tersebut bahwa sebelum
berlayar, kapal harus memenuhi persyaratan Kadarisman, M., & Jakarta, U. M. (2017).
kelaiklautan. Pengertian menurut Undang- Maritime Safety and Safety Policy.
Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Kebijakan Keselamatan Dan
Pelayaran pasal 1 butir 33, kelaiklautan kapal Keamanan Maritime Dalam
Menunjang Sistem Transportasi, 4(2),
adalah keadaan kapal yang memenuhi
177–192.
persyaratan keselamatan kapal, pencegahan
pencemaran perairan dari kapal, Khikmatul Heny Masitoh, Sonhaji, S.
pengawakan, garis muat, pemuatan, (2017). PELAKSANAAN
kesejahteraan Awak Kapal dan kesehatan PERLINDUNGAN HUKUM BAGI
penumpang, status hukum kapal, manajemen AWAK KAPAL PADA PT
keselamatan dan pencegahan pencemaran PELAYARAN NASIONAL
INDONESIA (PELNI) SEMARANG.
dari kapal, serta manajemen keamanan kapal
DIPONEGORO LAW JOURNAL, 6(1),
untuk berlayar di perairan tertentu.
1–12.
KESIMPULAN Mutholib, A. (2013). Kajian fasilitas
Indikator keselamatan kapal dan pelayaran keselamatan kapal pada lintas
adalah dua sisi yang tidak dipisahkan, kapal penyeberangan 35 ilir- muntok. Jurnal
Transportasi, 25(5), 140–146.
harus mempunyai peralatan keselamatan
antara lain sekoci, life jaket, alat pemadam Nurhasanah, N., Joni, A., & Shabrina, N.
kebakaran, dokumen dan sertifikat, kondisi (2015). Persepsi Crew dan Manajemen
laik layar kapal. Kesehatan para awak kapal, dalam Penerapan ISM Code Bagi
semua harus benar benar disiapkan dan Keselamatan Pelayaran dan
dipastikan keberadaan dan keadaannya Perlindungan Lingkungan Laut.
sehingga pelayaran akan aman dan selamat. Proceeding SENDI_U, 978–979.
kesejahteraan Awak Kapal dan kesehatan Siswoyo, B. (2016). PERSEPSI
penumpang, status hukum kapal, manajemen MASYARAKAT TERHADAP
keselamatan dan pencegahan pencemaran PERALATAN KESELAMATAN
KAPAL LAUT DAN PENYE-
58
Jurnal Saintara Vol 3 No. 2 Maret 2019

BERANGAN DI PROVINSI Tjahjanto, R., & Aziz, I. (2016). ANALISIS


MALUKU. Warta Penelitian PENYEBAB TERJADINYA
Perhubungan, 28(2), 146–156. KECELAKAAN KERJA DI ATAS
KAPAL MV . CS BRAVE. Jurnal
Suryani, D., Pratiwi, A. Y., Sunarji, & Kapal, 13(1), 13–18.
Hendrawan, A. (2018). Peran
syahbandar dalam keselamatan
pelayaran. Jurnal Saintara, 2(2).

59

View publication stats