Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahhirobbil alamin, segala puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas
segalah rahmat dan hidayahnya tercurahkan kepada kita yang tak terhingga ini, sholawat beriring
salam tidak lupa kita panjatkan kepada junjungan Nabi besar kita Muhammad SAW dan
keluarganya, sahabatnya, beserta pengikutnya sampai akhir zaman, amin ya robbal alamin.
Karena anugerah dan bimbingan-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
“kondisi kerja” yang merupakan salah satu tugas dari mata kuliah” Pengenalan Dunia
Kerja” tepat waktu. Tetapi, Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini banyak sekali
terdapat kekurangan ataupun kesalahan. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan
saran dari teman-teman dan dosen pengampuh yang sifatnya membangun demi kesempurnaan
makalah ini.

B.Lampung, Oktober 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan masalah
1.3. Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
2.I. Kondisi Kerja
BABA III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kondisi kerja di dalam pabrik yang didirikan oleh perusahaan merupakan faktor yang cukup
penting dalam pelaksanaan proses produksi yang dilaksanakan oleh perusahaan yang
bersangkutan. Yang dimaksud dengan kondisi kerja adalah kondisi yang dapat dipersiapkan oleh
manajemen perusahaan yang bersangkutan pada pabrik yang didirikan oleh perusahaan. Sejalan
dengan pendirian pabrik ini, manajemen perusahaan selayaknya bila mempertimbangkan kondisi
kerja karyawan yang tepat sehingga para karyawan perusahaan dapat bekerja dengan baik.
Perencanaan kondisi kerja ini akan dilaksanakan selaras dengan perencanaan layout pabrik
yang didirikan, oleh karena kondisi kerja ini erat hubungannya dengan layout pabrik yang
didirikan perusahaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi kerja banyak sekali pada jam
yang sama, terutama persyaratan teknis dari pelaksanaan proses produksi dalam perusahaan. Mesin
dan peralatan produksi berikut persyaratan teknisnya akan ikut serta menentukan kondisi kerja di
dalam perusahaan, demikian juga dengan metode pengawasan karyawan yang dilaksanakan dalam
perusahaan akan mempengaruhi kondisi kerja. Sehingga tujuan untuk merencanakan kondisi kerja
dalam perusahaan akan sejalan dengan tujuan dari perencanaan lingkungan kerja pada umunya,
yaitu terdapatnya tingkat produktivitas karyawan perusahaan cukup tinggi.
Beberapa macam kondisi kerja yang dapat dipersiapkan oleh manajemen perusahaan adalah
penerangan, suhu udara, suara bising, penggunaan warna, ruang gerak yang diperlukan serta
keamanan kerja dalam perusahaan. Masing-masing jenis kondisi kerja ini perlu dipersipkan dan
direncanakan dengan baik oleh manajemen perusahaan, sehingga diperoleh kenyamanan kerja
yang memadai bagi para karyawan yang bekerja di dalam perusahaan.
Menurut Stewart and Stewart, Kondisi Kerja adalah Working condition can be defined as
series of conditions of the working environment in which become the working place of the
employee who works there. yang kurang lebih dapat diartikan kondisi kerja sebagai serangkaian
kondisi atau keadaan lingkungan kerja dari suatu perusahaan yang menjadi tempat bekerja dari
para karyawan yang bekerja didalam lingkungan tersebut. Yang dimaksud disini adalah kondisi
kerja yang baik yaitu nyaman dan mendukung pekerja untuk dapat menjalankan aktivitasnya
dengan baik. Meliputi segala sesuatu yang ada di lingkungan karyawan yang dapat mempengaruhi
kinerja, serta keselamatan dan keamanan kerja, temperatur, kelambapan, ventilasi, penerangan,
kebersihan dan lain–lain.
Menurut Newstrom, Work condition relates to the scheduling of work-the length of work
days and the time of day (or night) during which people work. yang kurang lebih berarti bahwa

kondisi kerja berhubungan dengan penjadwalan dari pekerjaan, lamanya bekerja dalam hari
dan dalam waktu sehari atau malam selama orang-orang bekerja. Oleh sebab itu kondisi kerja yang
terdiri dari faktor-faktor seperti kondisi fisik, kondisi psikologis, dan kondisi sementara dari
lingkungan kerja, harus diperhatikan agar para pekerja dapat merasa nyaman dalam bekerja
sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja.
1.2. Rumusan masalah
Berpijak dari latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah pada penulisan
makalah ini adalah :
a. Apakah kondisi kerja sebenarnya ?
b. Dimensi apa saja yang terdapat di dalam kondisi kerja ?

1.3. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas Mata kuliah “
Pengenalan Dunia Kerja ” serta untuk menambah wawasan dan ilmu kami tentang Kondisi Kerja
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Kondisi Kerja
2.1.1 Pengertian Kondisi Kerja
Kondisi karyawan akan lebih mudah untuk menyelesaikan pekerjaan mereka
apabila kondisi kerja mendukung (seperti bersih,lingkungan menarik), tetapi jika kondisi kerja
tidak mendukung (seperti panas,lingkungan rebut,tidak nyaman) pegawai akan sukar untuk
melaksanakan tugasnya.
Disamping itu, salah satu faktor pendukung utama personalia dalam melaksanakan
kegiatan secara optimal, sehat, aman dan nyaman yaitu melalui perbaikan kondisi kerja. Sepeti
yang diungkapkan sedarmayanti (2000:22) bahwa: “manusia akan mampu melaksanakan tugasnya
dengan baik, sehingga dicapai suatu hasil yang optimal, apabila ditunjang suatu kondisi kerja yang
sesuai. Kondisi kerja dikatakan naik atau sesuai apabila manusia dapat melaksanakan kegiatannya
secara optimal, sehat, aman dan nyaman”.
Pengertian kondisi kerja menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2005:105) adalah “semua
aspek fisik kerja, psikologis kerja dan peraturan kerja yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja
dan pencapaian produktivitas kerja”.
Sedangkan menurut Agus Darma (2000:105) “kondisi kerja adalah semua faktor
lingkungan dimana pekerjaan berlangsung”. Kondisi kerja merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi motivasi karyawan, dengan motivasi yang tinggi maka kinerja suatu perusahaan
dapat meningkat bahkan produktivitaspun akan meningkat sehingga tujuan perusahaan dapat
tercapai.
Kondisi kerja menurut Sedarmayanti (2000:21) “semua keadaan yang terdapat disekitar
tempat kerja yang akan mempengaruhi pegawai baik secara langsung dan tidak langsung terhadap
pekerjaannya”.
Menurut Komaruddin (2001:75) kondisi kerja adalah suasana yang berhubungan dengan
lingkungan tempat bertugas.
Menurut Stewart and Stewart, 1983: 53: Kondisi Kerja adalah Working condition can be
defined as series of conditions of the working environment in which become the working place of
the employee who works there. yang kurang lebih dapat diartikan kondisi kerja sebagai
serangkaian kondisi atau keadaan lingkungan kerja dari suatu perusahaan yang menjadi tempat
bekerja dari para karyawan yang bekerja didalam lingkungan tersebut. Yang dimaksud disini
adalah kondisi kerja yang baik yaitu nyaman dan mendukung pekerja untuk dapat menjalankan
aktivitasnya dengan baik. Meliputi segala sesuatu yang ada di lingkungan karyawan yang dapat
mempengaruhi kinerja, serta keselamatan dan keamanan kerja, temperatur, kelambapan, ventilasi,
penerangan, kebersihan dan lain–lain.
Menurut Newstrom (1996:469): Work condition relates to the scheduling of work-the
length of work days and the time of day (or night) during which people work. yang kurang lebih
berarti bahwa kondisi kerja berhubungan dengan penjadwalan dari pekerjaan, lamanya bekerja
dalam hari dan dalam waktu sehari atau malam selama orang-orang bekerja. Oleh sebab itu kondisi
kerja yang terdiri dari faktor-faktor seperti kondisi fisik, kondisi psikologis, dan kondisi sementara
dari lingkungan kerja, harus diperhatikan agar para pekerja dapat merasa nyaman dalam bekerja
sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja.
2.1.2 Jenis Kondisi Kerja
1. Kondisi Fisik dari lingkungan kerja
Kondisi fisik dari lingkungan kerja di sekitar karyawan sangat perlu diperhatikan oleh
pihak badan usaha, sebab hal tersebut merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh untuk
menjamin agar karuyawan dapat melaksanakan tugas tanpa mengalami gangguan. Memperhatikan
kondisi fisik dari lingkungan kerja karyawan dalam hal ini berarti berusaha menciptakan kondisi
lingkungan kerja yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan para karyawan sebagai pelaksanan
kerja pada tempat kerja tersebut. Kondisi fisik dari lingkungan kerja menurut Newstrom
(1996:469) adalah among the more obvious factors that can affect the behavior of workers are the
physical conditions of the work environment, including the level of lighting, the usual temperature,
the level of noise, the amounts and the types of airbone chemicals and pollutans, and aesthetic
features such as the colors of walls and flors, and the presence (or absence) of art work, music,
plants decorative items. yang kira- kira berarti bahwa faktor yang lebih nyata dari faktor-faktor
yang lainnya dapat mempengaruhi perilaku para pekerja adalah kondisi fisik, dimana yang
termasuk didalamnya adalah tingkat pencahayaan, suhu udara, tingkat kebisingan, jumlah dan
macam-macam radiasi udara yang berasal dari zat kimia dan polusi-polusi, cirri-ciri estetis seperti
warna dinding dan lantai dan tingkat ada (atau tidaknya) seni didalam bekerja, musik, tumbuh-
tumbuhan atau hal-hal yang menghiasi tempat kerja.
Menurut Handoko (1995:84), lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan yang terdapat di sekitar
tempat kerja, yang meliputi temperatur, kelembaban udara, sirkulasi juadara, pencahayaan,
kebisingan, getaran mekanis, bau-bauan, warna dan lain-lain yang dalam hal ini berpengaruh
terhadap hasil kerja manusia tersebut.
Faktor-faktor lingkungan kerja meliputi :
A. Illumination
Menurut Newstrom (1996:469-478), cahaya atau penerangan sangat besar manfaatnya bagi para
karyawan guna menbdapat keselamatan dan kelancaran kerja. Pada dasarnya, cahaya dapat
dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: cahaya yang berasal dari sinar matahari dan cahaya buatan
berupa lampu. Oleh sebab itu perlu diperhatikan adanya penerangan (cahaya) yang terang tetpai
tidak menyilaukan. Dengan penerangan yang baik para karyawan akan dapat bekerja dengan
cermat dan teliti sehingga hasil kerjanya mempunyai kualitas yang memuaskan. Cahaya yang
kurang jelas (kurang cukup) mengakibatkan penglihatan kurang jelas, sehingga pekerjaan menjadi
lambat, banyak mengalami kesalajhan, dan pada akhirtnya menyebabkan kurang efisien dalam
melaksanbkan pekerjaan, sehingga tujuan dari badan usaha sulit dicapai.
B. Temperature
Menurut Newstrom (1996:469-478), bekerja pada suhu yang panas atau dingin dapat
menimbulkan penurunan kinerja. Secara umum, kondisi yang panas dan lembab cenderung
meningkatkan penggunaan tenaga fisik yang lebih berat, sehingga pekerja akan merasa sangat letih
dan kinerjanya akan menurun.
c.Noise
Menurut newstrom (1996:469-478) bising dapat didefinisikan sebagai bunyi yang tidak disukai,
suara yang mengganggu atau bunyi yang menjengkelkan suara bising adalah suatu hal yang
dihindari oleh siapapun, lebih-lebih dalam melaksanakan suatu pekerjaan, karena
konsentrasi perusahaan akan dapat terganggu. Dengan terganggunya konsentrasi ini maka
pekerjaan yang dilakukkan akan banyak timbul kesalahan ataupun kerusakan sehingga akan
menimbulkan kerugian.
d.Motion
Menurut Newstrom (1996:469-478) kondisi gerakan secara umum adalah getaran. Getaran-getaran
dapat menyebabkan pengaruh yang buruk bagi kinerja, terutama untuk aktivitas yang melibatkan
penggunaan mata dan gerakan tangan secara terus-menerus.
e.Pollution
Menurut Newstrom (1996:469-478) pencemaran ini dapat disebabkan karena tingkat pemakaian
bahan-bahan kimia di tempat kerja dan keaneksragaman zat yang dipakai pada berbagai bagian
yang ada di tempat kerja dan pekerjaan yang menghasilkan perabot atau perkakas. Bahan baku-
bahan baku bangunan yang digunakan di beberapa kantor dapat dipastikan mengandung bahan
kimia yang beracun. Situasi tersebut akan sangat berbahaya jika di tempat tersebut tidak terdapat
ventilasi yang memadai.
f. Aesthetic Factors
Menurut newstrom (1996:469-478) faktor keindahan ini meliputi: musik, warna dan bau-bauan.
Musik, warna dan bau-bauan yang menyenangkan dapat meningkatkan kepuasan kerja dalam
melaksankan pekerjaanya.

2. Kondisi psikologis dari lingkungan kerja

Rancangan fisik dan desain dari pekerjaan, sejumlah ruangan kerja yang tersedia dan jenis-
jenis dari perlengkapan dapat mempengaruhi perilaku pekerja dalam menciptakan macam-macam
kondisi psikologi. Menurut newstrom (1996:494) Psychological conditions of the work
environment that can affect work performance include feelings of privacy or crowding, the status
associated with the amount or location of workspace, and the amount of control over the work
environment. Kondisi psikologis dari lingkungan kerja dapat mempengaruhi kinerja yang meliputi
perasaan yang bersifat pribadi atau kelompok, status dihubungkan dengan sejumlah lokasi ruang
kerja dan sejumlah pengawasan atau lingkungan kerja.

Faktor-faktor dari kondisi psikologis meliputi:


a. Feeling of privacy
Menurut Newstrom (1996:478), privasi dari pekerja dapat dirasakan dari desain ruang kerja. Ada
ruang kerja yang didesain untuk seorang pekerja, adapula yang didesain untuk beberapa orang,
sehingga penyelia untuk mengawasi interaksi antar karyawan.
b. Sense of status and impotance
Menurut Newstrom (1996: 478), para karywan tingkat bawah senang dengan desain ruang yang
terbuka karena memberi kesempatan kepada karyawan untuk berkomunikasi secara informal.
Sebaliknya para manajer merasa tidak puas dengan desain ruang yang terbuka karena banyak
gangguan suara dan privasi yang dimiliki terbatas.

3. Kondisi sementara dari lingkungan kerja

Menurut Newstrom (1996:480), “The temporal condition-the time structure of the work day.
Some of the more flexible work schedules have developed in an effort to give workers a greater
sense of control over the planning and timing of their work days”
Kondisi sementara meliputi stuktur waktu pada hari kerja. Mayoritas dari pekerja bekerja dengan
jadwal 5-9 jam dimana pekerja akan diberi waktu 1 jam untuk istirahat dan makan siang.
Faktor-faktor dari kondisi sementara meliputi:
a.Shift
Menurut Newstrom (1996:481) dalam satu hari sistem kerja shift dapat dibagi menjadi 3 yaitu shift
pagi, shift psore, dan shift malam. Dan berdasarkan banyak penelitian bahwa shift malam dianggap
banyak menimbulkan masalah seperti stres yang tinggi, ketidakpuasan kerja dan kinerja yang
jelek.
b. Compressed work weeks
Menurut Newstrom (1996:481), maksudnya adalah mengurangi jumlah hari kerja dalam
seminggu, tetapi menambah jumlah jam kerja perhari. Mengurangi hari kerja dalam seminggu
mempunyai dampak yang positif dari karyawan yaitu karyawan akan merasa segar kembali pada
waktu bekerja karena masa liburnya lebih lama dan juga dapat mengurangi tingkat absensi dari
karyawan.
c.Flextime
Menurut Newstrom (1996:481) adalah suatu jadwal kerja dimana karywan dapat memutuskan
kapan mulai bkerja dan kapan mengakhiri pekerjaannya selama karywan dapat memenuhi jumlah
jam kerja yang ditetapkan oleh badan usaha.
Bekerja mengandung arti melaksanakan suatu tugas yang diakhiri dengan buah karya yang dapat
dinikmati oleh manusia yang bersangkutan. Kondisi kerja dipandang mempunyai peranan yang
cukup penting terhadap kenyamanan, ketenangan, dan keamanan kerja. Terciptanya kondisi kerja
yang nyaman akan membantu para karyawan untuk bekerja dengan lebih giat sehingga
produktivitas dan kepuasan kerja bisa lebih meningkat. Kondisi kerja yang baik merupakan kondisi
kerja yang bebas dari gangguan fisik seperti kebisingan, kurangnya penerangan, maupun polusi
seta bebas dari gangguan yang bersifat psikologis maupun temporary seperti privasi yang dimiliki
karyawan tersebut maupunpengaturan jam kerja.

2.1.3 Dimensi-dimensi Kondisi Kerja

Menurut Isaken, S.G Dorval K.B dan Treffeinger, bahwa kondisi kerja yang kondusif
meliputi beberapa dimensi seperti:
1. Tantangan, keterlibatan dan kesungguhan.
2. Kebebasan mengambil keputusan.
3. Waktu yang tersedia untuk memikirkan ide-ide baru.
4. Memberi peluang untuk mencoba ide-ide baru.
5. Tinggi rendahnya tingkat konflik.
6. Keterlibatan dalam tukar pendapat.
7. Kesempatan humor bercanda dan bersantai.
8. Tingkat saling kepercayaan dan keterbukaan.
9. Keberanian menanggung resiko/siap gagal.
Berdasarkan dimensi-dimensi di atas dapat disimpulkan bahwa untuk menciptakan kondisi
kerja yang kondusif sebaiknya peusahaan memiliki dimensi-dimensi seperti yang telah disebutkan
di atas. Sehingga dengan terciptanya kondisi kerja yang baik maka diharapkan dapat meningkatkan
motivasi karyawan.

2.1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kondisi Kerja

faktor yang mempengaruhi pembentukan perilaku yang berhubungan dengan kondisi


kerja, dapat dikelompokan menjadi tiga macam yaitu kondisi kerja yang menyangkut :
1. Kondisi fisik kerja, yang mencakup penerangan, suhu udara, suara kebisingan, penggunaan warna,
musik, kelembaban dan ruang gerak yang diperlukan.
2. Kondisi psikologis kerja, misalnya stres kerja, bosan kerja dan letih kerja.
3. kondisi temporer kerja, yang dimaksud adalah peraturan lama kerja, waktu istirahat kerja dan shif
kerja.
faktor-faktor yang membentuk kondisi kerja adalah kegiatan pengaturan kerja yang
mencakup pengendalian suara bising, pengaturan penerangan tempat kerja, pengaturan suhu udara,
pelayanan kebutuhan karyawan, pengaturan penggunaan warna, pemeliharaan kebersihan
ditempat kerja, dan penyediaan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan karyawan.
Berdasarkan para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang membentuk
kondisi kerja sekaligus dijadikan sebagai indikator untuk kondisi kerja yaitu kondisi fisik kerja,
kondisi psikologis kerja dan kondisi temporer kerja.

Kondisi fisik dari lingkungan kerja di sekitar karyawan sangat perlu diperhatikan oleh
pihak badan usaha, sebab hal tersebut merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh untuk
menjamin agar karyawan dapat melaksanakan tugas tanpa mengalami gangguan. Memperhatikan
kondisi fisik dari lingkungan kerja karyawan dalam hal ini berarti berusaha menciptakan kondisi
lingkungan kerja yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan para karyawan sebagai
pelaksanan kerja pada tempat kerja tersebut

Kondisi fisik dari lingkungan kerja menurut Newstrom (1996:469) adalah among the more
obvious factors that can affect the behavior of workers are the physical conditions of the work
environment, including the level of lighting, the usual temperature, the level of noise, the
amounts and the types of airbone chemicals and pollutans, and aesthetic features such as the
colors of walls and flors, and the presence (or absence) of art work, music, plants decorative
items. yang kira- kira berarti bahwa faktor yang lebih nyata dari faktor-faktor yang lainnya dapat
mempengaruhi perilaku para pekerja adalah kondisi fisik, dimana yang termasuk didalamnya
adalah tingkat pencahayaan, suhu udara, tingkat kebisingan, jumlah dan macam-macam radiasi
udara yang berasal dari zat kimia dan polusi-polusi, cirri-ciri estetis seperti warna dinding dan
lantai dan tingkat ada (atau tidaknya) seni didalam bekerja, musik, tumbuh-tumbuhan atau hal-
hal yang menghiasi tempat kerja.
Menurut Handoko (1995:84), lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan yang terdapat di
sekitar tempat kerja, yang meliputi temperatur, kelembaban udara, sirkulasi uadara,
pencahayaan, kebisingan, getaran mekanis, bau-bauan, warna dan lain-lain yang dalam hal ini
berpengaruh terhadap hasil kerja manusia tersebut.

Faktor-faktor lingkungan kerja meliputi :

A. Pencahayaan
Menurut Newstrom (1996:469-478), cahaya atau penerangan sangat besar manfaatnya bagi para
karyawan guna mendapat keselamatan dan kelancaran kerja. Pada dasarnya, cahaya dapat
dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: cahaya yang berasal dari sinar matahari dan cahaya buatan
berupa lampu. Oleh sebab itu perlu diperhatikan adanya penerangan (cahaya) yang terang tetapi
tidak menyilaukan. Dengan penerangan yang baik para karyawan akan dapat bekerja dengan
cermat dan teliti sehingga hasil kerjanya mempunyai kualitas yang memuaskan. Cahaya yang
kurang jelas (kurang cukup) mengakibatkan penglihatan kurang jelas, sehingga pekerjaan
menjadi lambat, banyak mengalami kesalahan, dan pada akhirnya menyebabkan kurang efisien
dalam melaksanakan pekerjaan, sehingga tujuan dari badan usaha sulit dicapai.

b. Temperatur
Menurut Newstrom (1996:469-478), bekerja pada suhu yang panas atau dingin dapat
menimbulkan penurunan kinerja. Secara umum, kondisi yang panas dan lembab cenderung
meningkatkan penggunaan tenaga fisik yang lebih berat, sehingga pekerja akan merasa sangat
letih dan kinerjanya akan menurun

c. Kebisingan
Menurut Newstrom (1996:469-478) bising dapat didefinisikan sebagai bunyi yang tidak disukai,
suara yang mengganggu atau bunyi yang menjengkelkan suara bising adalah suatu hal yang
dihindari oleh siapapun, lebih-lebih dalam melaksanakan suatu pekerjaan, karena konsentrasi
perusahaan akan dapat terganggu. Dengan terganggunya konsentrasi ini maka pekerjaan yang
dilakukkan akan banyak timbul kesalahan ataupun kerusakan sehingga akan menimbulkan
kerugian.

d. Getaran
Menurut Newstrom (1996:469-478) kondisi gerakan secara umum adalah getaran. Getaran-
getaran dapat menyebabkan pengaruh yang buruk bagi kinerja, terutama untuk aktivitas yang
melibatkan penggunaan mata dan gerakan tangan secara terus-menerus.

e. Pencemaran
Menurut Newstrom (1996:469-478) pencemaran ini dapat disebabkan karena tingkat pemakaian
bahan-bahan kimia di tempat kerja dan keaneksragaman zat yang dipakai pada berbagai bagian
yang ada di tempat kerja dan pekerjaan yang menghasilkan perabot atau perkakas. Bahan baku-
bahan baku bangunan yang digunakan di beberapa kantor dapat dipastikan mengandung bahan
kimia yang beracun. Situasi tersebut akan sangat berbahaya jika di tempat tersebut tidak terdapat
ventilasi yang memadai.

f. Faktor Keindahan
Menurut Newstrom (1996:469-478) faktor keindahan ini meliputi: musik, warna dan bau-bauan.
Musik, warna dan bau-bauan yang menyenangkan dapat meningkatkan kepuasan kerja dalam
melaksankan pekerjaanya.

2.1.5 kondisi kerja yang dapat dipersiapkan oleh manajemen perusahaan


Beberapa macam kondisi kerja yang dapat dipersiapkan oleh manajemen perusahaan adalah
penerangan, suhu udara, suara bising, penggunaan warna, ruang gerak yang diperlukan serta
keamanan kerja dalam perusahaan. Masing-masing jenis kondisi kerja ini perlu dipersipkan dan
direncanakan dengan baik oleh manajemen perusahaan, sehingga diperoleh kenyamanan kerja
yang memadai bagi para karyawan yang bekerja di dalam perusahaan.
1. Penerangan
Penerangan dalam kondisi kerja adalah cukupnya sinar yang masuk di dalam ruang kerja
masing-masing karyawan perusahaan. Penerangan untuk ruang kerja merupakan faktor yang
cukup penting dalam kaitannya dengan peningkatan produktivitas kerja dari perusahaan, sehingga
para karyawan akan terdorong untuk bekerja dengan lebih baik dan hasil kerja yang diperoleh
perusahaan akan menjadi lebih baik. Penerangan yang tidak memadai akan mengakibatkan para
karyawan tidak jelas dalam melihat dan mengamati pekerjaan yang dilaksanakannya, dimana hal
ini akan memperbesar tingkat kesalahan kerja dari para karyawan. Tepat tidaknya obyek yang
dilihat oleh para karyawan juga akan dipengaruhi oleh penerangan ini. Sehingga semakin jelas
bahwa penerangan yang cukup pada tempat kerja karyawan akan sangat membantu karyawan
dalam usaha peningkatan produktivitas kerja karyawan, perbaikan kualitas kerja dan hasil kerja,
peningkatan keamanan kerja dalam proses produksi serta keberhasilan pelaksanaan proses
produksi dalam perusahaan.
Adapun beberapa keuntungan yang akan dapat diperoleh dengan pelaksanaan sistem
penerangan yang tepat bagi perusahaan, antara lain sebagai berikut:
a. Terdapat kenaikan tingkat produksi
Dengan adanya penerangan yang cukup, para karyawan dapat melihat dan mengamati obyek
pekerjaannya dengan lebih cermat dan cepat. Dengan demikian para karyawan perusahaan dapat
menyelesaikan pekerjaannya dengan waktu yang lebih singkat pula. Dengan jumlah waktu kerja
yang sama, maka unit output yang dihasilkan berarti akan menjadi lebih besar. Dengan demikian
jumlah produksi dalam perusahaan secara keseluruhan menjadi bertambah besar, atau terdapat
kenaikan tingkat produksi yang dilaksanakan dalam perusahaan.
b. Terdapat perbaikan kualitas pekerjaan para karyawan
Dengan digunakannya sistem penerangan yang tepat pada masing-masing ruang kerja
karyawan perusahaan, maka para karyawan perusahaan dapat melihat dan mengamati obyek
pekerjaannya dengan lebih cermat. Kecermatan pengamatan ini sangat diperlukan dalam upaya
untuk dapat menaikkan tingkat kualitas kerja dari para karyawan perusahaan. Penerangan yang
kurang memadai pada masing-masing ruang kerja karyawan dapat menimbulkan berbagai macam
kesalahan yang tidak disengaja, sehingga kualitas kerja karyawan perusahaan mengalami
penurunan. Dengan demikian sistem penerangan yang tepat untuk masing-masing ruang kerja
karyawan dalam perusahaan dapat berpengaruh terhadap kenaikan kualitas kerja parab karyawan.
c. Tingkat kecelakaan yang terjadi dapat berkurang
Pelaksanaan proses produksi dalam pabrik pada umumnya akan menuntut terdapatnya
ketelitian dan kehati-hatian dari masing-masing karyawan di dalam pabrik. Sehubungan dengan
hal ini, maka pemasangan tanda-tanda bahaya pada umumnya akan dicarikan lokasi yang tepat
sehingga mudah terbaca oleh para karyawan perusahaan. Dalam keadaan semacam ini, jika tempat
tanda bahaya tersebut tidak terdapat cukup sinar berakibat tanda bahaya tidak terlihat atau tidak
terbaca oleh karyawan perusahaan. Maka manajemen perusahaan harus merencanakan penerangan
yang tepat sehingga tanda bahaya dapat terlihat dan terbaca dengan jelas dan mudah oleh para
karyawan. Sehingga para karyawan dapat berhati-hati jika berada pada daerah bahaya dan
kecelakaan yang terjadi dapat dihindarkan atau ditekan menjadi sekecil-kecilnya.
d. Terdapat kemudahan pengamatan dan pengawasan
Dengan digunakannya sistem penerangan yang tepat dalam perusahaan yang bersangkutan,
maka para karyawan perusahaan dapat mengadakan pengamatan dan pengawasan yang cukup
cermat terhadap obyek pekerjaan yang dilakukan.
e. Terdapat peningkatan gairah kerja para karyawan
Penerangan yang cukup pada raung kerja karyawan akan dapat menimbulkan dampak positif
bagi para karyawan perusahaan. Dengan penerangan yang cukup maka ruang kerja dapat dijaga
kebersihannya, karena pengotoran ruangan yang terjadi segera kelihatan. Mudahnya pengamatan,
bersihnya ruang kerja serta tempat yang terang akan dapat menimbulkan gairah kerja bagi para
karyawana perusahaan.
f. Tingkat perputaran karyawan akan berkurang
Hubungan kerja yang baik akan semakin memperkokoh kesetiaan para karyawan kepada
perusahaan, sehingga semakin lama para karyawan akan merasa bertanggung jawab penuh
terhadap perusahaan, merasa bahwa perusahaan digunakan sebagai tempat menyandarkan diri
untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya, sehingga tidak terfikir lagi untuk keluar dari perusahaan
untuk mencari pekerjaan lain. Sehingga tingkat perputaran (turn over) dari para karyawan akan
sangat kecil, karena para karyawan merasa senang dan puas bekerja di dalam perusahaan.
g. Kerusakan barang dalam proses berkurang
Adanya sistem penerangan yang baik pada ruang kerja karyawan perusahaan akan dapat
memudahkan pengamatan yang baik terhadap obyek pekerjaannya, mempertinggi gairah kerja
para karyawan, mempertinggi kualitas kerja para karyawan, mengurangi tingkat kesalahan yang
dilakukan oleh karyawan dan mengurangi kebosanan karyawan terhadap pekerjaannya.
h. Biaya produksi dapat ditekan
Turunnya biaya per unit merupakan faktor yang sangat menguntungkan perusahaan, terutama
dalam upaya penekanan biaya produksi dalam perusahaan. Hal ini ditambah dengan semakin
baiknya kualitas kerja para karyawan perusahaan dan berkurangnnya kerusakan barang dalam
proses akan dapat memperkecil biaya produksi per unit dalam perusahaan.
Sistem penerangan yang tepat mempunyai dua persyaratan utama, yang pertama adalah
terdapatnya sinar yang cukup apada ruang kerja yang tidak menyilaukan para karyawan yang
bekerja di dalamnya. Sedangkan yang kedua adalah terdapatnya distribusi cahaya yang merata,
sehingga tidak terdapat kontras yang tajam dalam ruang kerja para karyawan tersebut.
a. Sinar yang terang dan tidak menyilaukan
Sistem penerangan yang tepat akan dapat membuahkan sinar yang cukup terang dalam ruang
kerja, tetapi tidak menyilaukan para karyawan yang bekerja di dalamnya. Keperluan akan
terangnya sinar yang masuk ini akan berbeda-beda untuk jenis pekerjaan yang berbeda. Sinar yang
masuk ini diusahakan agar tidak menyilaukan mata meskipun sinar ini harus cukup untuk
menerangi ruang kerja. Sinar yang menyilaukan justru dapat menurunkan produktivitas kerja para
karyawan perusahaan. Sehingga dalam penyusunan dari perencanaan sistem penerangan dalam
perusahaan masalah cukupnya sinar masuk dan terdapatnya sinar yang tidak menyilaukan sangat
perlu untuk diperhatikan oleh manajemen perusahaan.
b. Distribusi cahaya yang merata
Pemerataan distribusi cahaya terhadap seluruh ruangan dalam perusahaan akan memudahkan
para karyawan perusahaan untuk mengadakan penyesuaian mata, sehingga para karyawan tidak
menderita kelelahan mata karena terdapat perbedaan sinar yang menyolok dari masing-masing
ruang kerja yang ada dalam perusahaan. Perbedaan yang masih dapat dibenarkan adalah perbedaan
kuat penerangan dari masing-masing ruang kerja yang disebabkan oleh persyaratan teknis dalam
penyelesaian pekerjaan yang terdapat didalam ruangan tersebut.
2. Sumber Penerangan
Manajer perlu mempertimbangkan efisiensi dalam penggunaan sumber penerangan serta
pertimbangan biaya yang harus dikeluarkan dengan dipilihnya salah satu sumber penerangan
tersebut.
Secara umum, penerangan yang dapat dipergunakan dalam perusahaan ini ditinjau dari
sumbernya akan dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu penerangan alami dan buatan. Penerangan
alami adalah sistem penerangan yang dilaksanakan dengan memanfaatkan sinar matahari atu
merupakan penerangan dengan mempergunakan energi lain yang dipersiapkan untuk sistem
penerangan tersebut. Ditinjau dari segi biaya untuk penerangan, biaya untuk penerangan alami
akan relatif murah. Namun penerangan alami ini akan terpengaruh oleh cuaca, sehingga kadang-
kadang sinar yang masuk tidak memadai untuk proses produksi. Oleh karena itu pada umumnya
di dalam ruang kerja dipergunakan penerangan alami untuk penerangan utama yang kemudian
dilengkapi dengan penerangan buatan.
Penerangan buatan dapat dilakukan dengan lampu minyak atau lampu listrik. Penggunaan
lampu minyak biasanya digunakn pada perusahaan kecil tradisional, yakni pada daerah pelosok
yang belum terjangkau listrik. Sistem penerangan ini umumnya hanya sebagai penunjang saja.
Untuk perusahaan-perusahaan menengah, pada umumnya penggunaan lampu minyak ini akan
dipergunakan sebagai cadangan apabila arus listrik tiba-tiba terputus.
Lampu listrik yang sering digunakan dalam perusahaan ini antara lain lampu pijar, lampu TL,
dan lampu mercury. Lampu pijar akan dipergunakan oleh perusahaan karena harganya yang
murah, pemeliharaannya yang mudah, kualitas sinar yang cukup memadai dan tidak perlu waktu
tunggu saat dinyalakan. Namun tingkat efisiensi yang tidak begitu tinggi serta pendeknya umur
ekonomis selayaknya juga perlu dipertimbangkan.
Tingkat efisiensi yang tinggi dari lampu TL serta jernihnya sinar yang dihasilkan akan dapat
menunjang pelaksanaan proses produksi. Namun perlu diingat di dalam pemasangan lampu TL
untuk ruang kerja ini pada umumnya akan dipasang berpasangan. Pemasangan semacam ini
mempunyai tujuan untuk mengurangi efek getaran sinar yang ditimbulkan oleh lampu TL tersebut.
Harga lampu TL relatif mahal namun umur ekonomisnya relatif lebih panjang.
Pemasangan sumber sinar dapat mempengaruhi efektifitas penyinaran terhadap obyek
pekerjaan masing-masing karyawan. Dalam hal pemasangan sumber sinar ini terdapat lima cara
yang berbeda, antara lain:

 a. Penerangan langsung, yakni langsung dari sumber sinar terhadap obyek,intenitas


cahaya 90-100% di bawah sumber, dan 0-10% di atas sumber.
 b. Penerangan setengah langsung, yakni penyebaran sinar 60-90% untuk area bawah,
sedangkan atas berkisar antara 10-40%.
 c. Penyebaran merata, merupakan penerangan dengan pancaran sinar yang merata ke
dalam seluruh ruangan.
 d. Penerangan setengah tidak langsung, merupakan pembauran sinar yang pada
ummnya sumber sinar akan diarahkan kepada langit-langit ruangan dan daripadanya akan
terdapat pembauran sinar tersebut. Distribusi penerangan 60-90%di atas dan 10-40% di
bagian bawah.
 e. Penerangan tidak langsung, proporsi sinar di atas sumber berkisar 90-100%, sedang
di bawah 0-10%.

3. Suhu Udara
Suhu udara ruang kerja para karyawan perusahaan akan ikut mempengaruhi produktivitas
kerja para karyawan. Suhu yang terlalu panas bagi para karyawan perusahaan ini akan dapat
menjadi penyebab turunnya gairah kerja para karyawan tersebut.
Beberapa jalan yang dapat digunakan oleh manajemen perusahaan di dalam rangka
pengaturan suhu udara dalam ruang kerja para karyawan dari perusahaan yang bersangkutan
tersebut anatara lain:
a. Ventilasi yang cukup pada gedung pabrik
Apabila pabrik yang didrikan oleh perusahaan yang bersangkutan ini dilengkapi dengan
ventilasi udara yang cukup, maka pertukaran udara yang memadai akan dapat diharapan terjadi
pada masing-masing ruang kerja para karyawan, sehingga dapat melaksanakan tugas dengan baik.
Biaya untuk pemasangan ventilasi relatif murah dan hanya dikeluarkan pada saat pembangunan.
b. Pemasangan kipas angin
Untuk membantu proses terjadinya pertukaran udara yang cukup di dalam ruang kerja par
karyawan perusahaan ini, maka umumnya perusahaan akan memasang kipas angin dalam ruang
kaerja mereka. Biaya untuk pemasangannya relatif kecil namun memerlukan biaya operasional.
c. Pemasangan air conditioning
AC dapat digunakan untuk pengaturan udara dan kelembapan udara. Biaya pemasangan serta
biaya operasional dari alat ini cukup tinggi akan menyebabkan kebanyakan perusahaan kecil dan
menengah tidak mempergunakannya. Namun bagi perusahaan besar hal ini mungkin sudah biasa.
d. Pemasangan humidifier
Peralatan yang lain dapat dipergunakan dalam usaha untuk mengatur suhu udara dan
kelembapan ini adalah humidifier. Dengan alat ini maka kelembapan udar di dalam ruang kerja
tersebut akan dapat disesuaikan denn kebutuhan pelaksanaan proses produksi di dalam perusahaan
yang bersangkutan.

4. Suara Bising
Di dalam pelaksanaan proses produksi dari suatu perusahaan, maka pada umumnya akan
terdapat suara bising dari mesin dan peralatan produksi yang digunakan di dalam perusahaan yang
bersangkutan. Suara bising yang terus-menerus sebenarnya akan dapat menurunkan kesehatan para
karyawan yang bekerja di dalam perusahaan yang bersangkutan. Oleh karena itu penanggulangan
terhadap suara bising ini sangat perlu untuk dipertimbangkan oleh manajemen perusahaan yang
bersangkutan di dalam perencanaan kondisi kerja untuk para karyawan perusahaan pada
khususnya, serta perencanaan lingkungan kerja pada umumnya.
Adapun beberapa metode yang dapat digunakan untuk pengaturan dan pengendalian
suara bising yang terdapat di dalam perusahaan tersebut antara lain :

a. Pengendalian sumber suara


Pengurangan suara dari mesin dan peralatan produksi yang ada dan dipergunakan di dalam
perusahaan yang bersangkutan akan dapat dilaksanakan dengan jalan mengadakan pemeliharaan
yang baik dan teratur terhadap mesin dan peralatan tersebut. Selain itu, pengawasan terhadap
bekerjanya pipa gas buang dari mesin-mesin perusahaan sangat diperlukan pula.
b. Isolasi dari suara
Di dalam beberapa hal, suara bising yang ditimbulkan oleh mesin dan peralatan yang
digunakan tersebut dapat diisolir di dalam ruang mesin yang bersangkutan. Isolasi suara ini dapat
dilaksanakan dengan menutup rapat ruang mesin tersebut dengan dinding tembok yang cukup kuat
dan rapat, sehingga suara yang ditimbulkan oleh mesin yang bekerja di dalam ruang tersebut dapat
diisolasi dengan baik. Dengan tertutup rapatnya ruangan tersebut, maka tidak boleh dilupakan
untuk memberikan saluran gas buang yang cukup baik bekerjanya, keluar dari ruangan mesin
tersebut dikarenakan penumpukan gas buang pada ruang mesin tersebut sangat membahayakan
karyawan yang bekerja di dalam ruang tersebut.
c. Penggunaan peredam suara
Peredam suara yang dipasang di dalam ruang kerja para karyawan (terutama pada karyawan
bagian administrasi) ini akan menyerap getaran suara dan tidak memantulkannya. Peredam suara
ini pada umumnya akan dipasang pada setiap dinding ruangan tersebut akan dapat teredam dengan
baik dan tidak dipantulkannya kembali oleh dinding-dinding ruang kerja tersebut.
d. Penggunaan sistem akustik
Dengan pemasangan sistem akustik ini, maka akan terdapat perubahan-perubahan kecil dari
perencanaan ruang dilihat dari kepentingan mesin dan peralatan produksi yang digunakan. Hal ini
disebabkan karena susunan ruangan yang akan dibuat dalam hal ini ditambah dengan

pertimbangan minimisasi dampak suara yang ditimbulkan oleh mesin dan peralatan yang
digunakan di dalam perusahaan.
e. Pemakaian alat perlindungan telinga
Di dalam sebuah perusahaan, akan terdapat beberapa ruangan tertentu yang mau tidak mau
akan terdapat suara bising di dalam ruang tersebut. Untuk menghindarkan diri dari dampak negatif
yang akan diderita oleh para karyawan yang bekerja di ruang tersebut, maka pada umumnya para
karyawan yang bersangkutan akan dilengkapi dengan alat perlindungan telinga yang harus
digunakan apabila para karyawan masuk ke dalam ruangan tersebut.

5. Penggunaan Warna

Masalah penggunaan warna di dalam ruang kerja para karyawan perusahaan pada umumnya
belum mendapatkan perhatian dengan semestinya oleh manajemen perusahaan yang bersangkutan.
Pemilihan warna yang cerah atau yang gelap belum tentu akan menaikkan atau menurunkan
produktifitas kerja para karyawan perusahaan yang bersangkutan.
Pedoman di dalam pemilihan warna yang digunakan di dalam ruang kerja dalam
perusahaan yang bersangkutan adalah:

Perkiraan Pemantulan Sinar dari Warna yang Digunakan


No Permukaan Warna Pemantulan (+/-)
1 Atap/ langit-langit Putih 75% - 80%
2 Dinding atas Hijau muda 50% - 55%
Kuning muda
3 Dinding bawah Hijau tua 25% - 35%
Kuning tua
4 Dasar tempat kerja Hijau sedang 30% - 40%
Kuning sedang
5 Lantai .................. 10% - 20%
Pada dasarnya pemilihan warna yang dilaksanakan oleh manajemen perusahaan ini
mempunyai tujuan untuk dapat lebih memperjelas pengamatan para karyawan perusahaan tersebut
kepada obyek pekerjaanya.

6. Ruang Gerak yang Diperlukan


Agar para karyawan perusahaan ini dapat leluasa bekerja dengan baik, maka ruang gerak dari
para karyawan perlu diberikan di dalam besar ruangan yang memadai. Pada umumnya di dalam
suatu perusahaan tersebut tidak diinginkan adanya penurunan produktifitas kerja yang dikarenakan
oleh terlalu sempitnya ruang gerak para karyawan atau juga terjadinya pemborosan ruangan di
dalam perusahaan tersebut.

Untuk menyusun ruang gerak yang tepat bagi para karyawan perusahaan tersebut, berikut
disajikan gambar-gambar yang diperkirakan dapat membantu di dalam penyusunan ruang gerak
tersebut. Bagan 42 dan 43 berikut ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan di dalam
penyusunan ruang gerak para karyawan.
7. Keamanan Kerja
Pada umumnya perencanaan keamanan kerja yang disusun untuk suatu perusahaan akan
berhubungan erat dengan layout pabrik yang digunakan di dalam perusahaan yang bersangkutan.
Keamanan kerja para karyawan ini tergantung pada mesin dan peralatan produksi yang digunakan
perusahaan, maka ruang gerak yang disediakan untuk para karyawan di dalam perusahaan juga
akan berpengaruh. Ruang gerak yang cukup serta keamanan penggunaan mesin dan peralatan
produksi akan dapat mengurangi tingkat kecelakaan kerja di dalam perusahaan.
Faktor yang menjadi penyebab terhadap turunnya tingkat keamanan kerja yang harus
diperhatikan oleh manajemen perusahaan yang bersangkutan antara lain:

a. Tidak cukupnya ruang gerak yang diperlukan oleh para karyawan pada tempat kerja karyawan
yang bersangkutan.
b. Tidak kuatnya daya tahan dari lantai yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan proses
produksi.
c. Tidak tersedianya alat pemadam kebakaran di dalam jumlah yang memadai.
d. Tempat kerja para karyawan perusahaan tersebut merupakan daerah bahaya.
e. Terdapatnya beberapa gangguan proses produksi yang dikarenakan oleh rusaknya lantai pabrik.

2.1.6 Pengaruh Kondisi Kerja Terhadap Motivasi kerja

Hubungan kondisi kerja dengan motivasi kerja dari teori Herzberg (2006:283) yang dikutip
oleh Fred Luttans, menyatakan bahwa:
“Kondisi kerja yang merupakan faktor yang dapat menimbulkan ketidakpuasan dimana
jika kondisi kerja yang kondusif dan memadai maka akan cenderung meningkatkan
motivasi kerja karyawan”.

Maharudin Pangewa (2004:92), menyatakan bahwa :


“Salah satu faktor ekstrinsik yang dapat mempengaruhi kondisi kerja yaitu motivasi kerja”.
Menurut Teori Sutermeister ( Yayat Hayati Djatmiko, 2004:71), menyatakan bahwa :
“Faktor yang mempengaruhi kondisi kerja yang meliputi kondisi fisik dan kondisi sosial
kerja adalah motivasi kerja”.
maka dapat disimpulkan bahwa kondisi kerja merupakan salah satu faktor strategis yang
dapat mempengaruhi motivasi karyawan. Dengan diperhatikannya kondisi kerja dengan baik maka
secara otomatis akan mempengaruhi kepada motivasi kerja karyawan itu sendiri.
BAB III
PENUTUP
1.1 Kesimpulan

kondisi kerja adalah kondisi yang dapat dipersiapkan oleh manajemen perusahaan yang
bersangkutan pada pabrik yang didirikan oleh perusahaan dan kondisi kerja merupakan salah
satu faktor strategis yang dapat mempengaruhi motivasi karyawan. Dengan diperhatikannya
kondisi kerja dengan baik maka secara otomatis akan mempengaruhi kepada motivasi kerja
karyawan itu sendiri.

1.2 Saran

Jadikan kondisi kerja yang baik dapat membuat kita bekerja lebih maksimal dan kondisi kerja
yang baik juga akan mempengaruhi pada motivasi serta hasil kerja karyawan itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.kondisi kerja.co.id// blogger.com
DrsMoh. As’ad, S.U., Psi, psikologi industri “ sumber daya manusia “, 1999, Liberty,
Yogyakarta.
http://www.Keadaan kerja.co.id
perpustakaan kampus C universitas Bina Darma palembang