Anda di halaman 1dari 22

MANAJEMEN FT GANGGUAN GERAK FUNGSIONAL KNEE SINISTRA BERUPA

LIMITASI ROM ET CAUSAL TEAR MENISKUS LATERAL AKIBAT TRAUMA


OLAHRAGA 1 MINGGU YANG LALU

OLEH :

St. Mufliha Dachlan R 0241 72 016

PROGRAM STUDI PROFESI FISIOTERAPI


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2018

i
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Kasus Profesi Fisioterapi di Klinik Physio Sakti dengan judul Manajemen Fisioterapi
Gangguan Gerak Fungsional Knee Sinistra Berupa Limitasi ROM et. causal Tear
Meniskus Lateral Akibat Trauma Olahraga 1 Minggu yang lalu pada tanggal 11 April 2018.

Mengetahui,

Instruktur Klinis Bagian Terapi Latihan, Instruktur Klinis Fisioterapi,

Dr. Djohan Aras, S.Ft, Physio, M.Pd. M.Kes Yahya Dwitama, S.Ft, Physio

Edukator Klinis Fisioterapi,

Irianto Kadir S.Ft, Physio, M.Kes

ii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i

HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. ii

DAFTAR ISI......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1


A. Anatomi Knee Joint ........................................................................ 1
B. Biomekanik Knee Joint................................................................... 6
BAB II PATOFISIOLOGI ............................................................................... 8
A. Definisi Tear Meniskus .................................................................. 8
B. Epidemiologi .................................................................................. 8
C. Faktor Resiko dan Etiologi ............................................................. 9
D. Klasifikasi ....................................................................................... 10
E. Patomekanisme ............................................................................... 10
F. Manifestasi Klinis ........................................................................... 10
G. Komplikasi ..................................................................................... 11
BAB III MANAJEMEN FISIOTERAPI ........................................................... 12
A. Proses Pengukuran dan Pemeriksaan Fisioterapi ........................... 12
B. Diagnosis Fisioterapi ...................................................................... 15
C. Problem, Planning dan Program Pemeriksaan Fisioterapi ............. 15
D. Evaluasi ,Modifikasi Fisioterapi, Home Program dan Kemitraan .. 17
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 18

iii
BAB

PENDAHULUAN

A. Anatomi Knee Joint


Sendi lutut merupakan bagian dari extremitas inferior yang
menghubungkan tungkai atas (paha) dengan tungkai bawah. Fungsi dari
sendi lutut ini adalah untuk mengatur pergerakan dari kaki. Dan untuk
menggerakkan kaki ini juga diperlukan antara lain : 1). Otot- otot yang
membantu menggerakkan sendi, 2). Capsul sendi yang berfungsi untuk
melindungi bagian tulang yang bersendi supaya jangan lepas bila bergerak,
3). Adanya permukaan tulang yang dengan bentuk tertentu yang mengatur
luasnya gerakan, 4). Adanya cairan dalam rongga sendi yang berfungsi
untuk mengurangi gesekan antara tulang pada permukaan sendi. 5).
Ligamentum-ligamentum yang ada di sekitar sendi lutut yang merupakan
penghubung kedua buah tulang yang bersendi sehingga tulang menjadi
kuat untuk melakukan gerakan-gerakan tubuh.
Sendi lutut dibentuk oleh epiphysis distalis tulang femur, epiphysis
proksimalis, tulang tibia dan tulang patella, serta mempunyai beberapa
sendi yang terbentuk dari tulang yang berhubungan, yaitu antar tulang
femur dan patella disebut articulatio patella femoral, antara tulang tibia
dengan tulang femur disebut articulatio tibio femoral dan antara tulang
tibia dengan tulang fibula proximal disebut articulatio tibio fibular
proksimal (Kisner and Colby, 2013).

1
Gambar 1 Anterior View knee

(Sumber: Anonim, chapter 16: The Musculoskeletal system)

Sendi lutut merupakan suatu sendi yang disusun oleh beberapa tulang
ligament beserta otot, sehingga dapat membentuk suatu kesatuan yang
disebut dengan sendi lutut atau knee joint. Anatomi sendi lutut terdiri dari:

1. Tulang pembentuk Sendi Lutut

a. Os. Femur

Merupakan tulang pipa terpanjang dan terbesar di dalam tulang


kerangka pada bagian pangkal yang berhubungan dengan
acetabulum membentuk kepala sendi yang disebut caput femoris.
Di sebelah atas dan bawah dari columna femoris terdapat taju yang
disebut 2ias2n2ulu mayor dan 2ias2n2ulu minor, di bagian ujung
membentuk persendian lutut, terdapat dua buah tonjolan yang
disebut 2ias2n2u medialis dan 2ias2n2u lateralis, di antara kedua
2ias2n2u ini terdapat lekukan tempat letaknya tulang tempurung
lutut (patella) yang disebut dengan fosa 2ias2n2u (Syaifuddin,
1997).

b. Os. Tibia

Tulang tibia bentuknya lebih kecil, pada bagian pangkal melekat


pada os fibula, pada bagian ujung membentuk persendian dengan

2
tulang pangkal kaki dan terdapat taju yang disebut os 3ias3n3ul
medialis. (Syaifuddin, 1997).

c. Os. Fibula

Merupakan tulang pipa yang terbesar sesudah tulang paha yang


membentuk persendian lutut dengan os femur pada bagian
ujungnya. Terdapat tonjolan yang disebut os 3ias3n3ul lateralis
atau mata kaki luar. (Syaifuddin, 1997).

d. Os. Patella

Pada gerakan fleksi dan ekstensi patella akan bergerak pada tulang
femur. Jarak patella dengan tibia saat terjadi gerakan adalah tetap
dan yang berubah hanya jarak patella dengan femur. Fungsi patella
di samping sebagai perekatan otot-otot atau tendon adalah sebagai
pengungkit sendi lutut. Pada posisi flexi lutut 90 derajat, kedudukan
patella di antara kedua 3ias3n3u femur dan saat extensi maka patella
terletak pada permukaan anterior femur (Syaifuddin, 1997).

2. Ligamen pembentuk Sendi Lutut

Ligamen berperan sebagai komponen penentu utama stabilisasi


pada knee joint. Ada beberapa ligament yang terdapat pada sendi lutut
antara lain :

a. Ligamentum crusiatum anterior, yang berjalan dari depan


eminentia intercondyloidea tibia, ke permukaan medial
3ias3n3u lateralis femur, fungsi menahan hiperekstensi dan
menahan bergesernya tibia ke depan.

b. Ligamentum crusiatum posterior, berjalan dari facies lateralis


3ias3n3u medialis femoris, menuju fossa intercondyloidea tibia,
berfungsi menahan bergesernya tibia, 3ias3n3 belakang.

c. Ligamentum collateral lateralle yang berjalan dari epicondylus


lateralis ke capitulum 3ias3n, yang berfungsi menahan gerakan
varus atau samping luar.

d. Ligamentum collateral mediale tibia (epicondylus medialis

3
tibia), yang berfungsi menahan gerakan valgus atau samping
dalam dan eksorotasi, dan secara bersamaan ligament collateral
juga berfungsi menahan bergesernya ke depan pada posisi lutut
fleksi 90 derajat.

e. Ligamentum popliteum abligum, berasal dari 4ias4n4u lateralis


femoris menuju ke 4ias4n4ul musculus semi membranosus
melekat pada fascia musculus popliteum.
f. Ligamentum transversum genu, membentang pada permukaan
anterior meniscus medialis dan lateralis. Semua ligament
tersebut berfungsi sebagai fiksator dan stabilisator sendi lutut.
Tranversum genu di samping ligament ada juga bursa pada
sendi lutut. Bursa merupakan kantong yang berisi cairan yang
memudahkan terjadinya gesekan dan gerakan, berdinding tipis
dan dibatasi oleh cairan synovial. Ada beberapa bursa yang
terdapat pada sendi lutut antara lain : (a) bursa popliteus, (b)
bursa supra patellaris, (c) bursa infra patellaris, (d) bursa
subcutan prapatellaris, I bursa sub patellaris, (f) bursa
prapatellaris.

3. Meniskus Pembentuk Sendi Lutut


Di antara dua tonjolan tulang dari femur dan tibia terdapat dua
lempeng fibrocartilagenous yang disebut 4meniscus medial dan
m e n i s c u s lateral. Lempeng-lempeng ini membantu memperdalam
permukaan antara dua tulang sehingga dapat meningkatkan stabilitas
dan berfungsi sebagai penyerap tekanan selama aktivitas penumpuan
beban. Meniskus adalah bangunan tulang rawan yang berfungsi
sebagai lubrikan dan membantu mengurangi goncangan.

4
Gambar 2. Anteior View Meniskus
(Sumber:Atlas Anatomy Netter, 2010)

4. Kapsul Sendi (Membran Synovial dan Cairan Synovial)


Sendi dikelilingi oleh 5ias5n5u synovial yang menghasilkan sedikit
cairan pelumas (cairan synovial). Cairan ini membantu memberi
nutrisi kartilago dan menjaga tetap licin. Synovial juga
mempunyai lapisan yang kuat yang dinamakan kapsul, yang membantu
memegang sendi di dalam tempatnya. Penutup dari lutut (patella)
adalah bagian lain dari sendi yang penting. Di bawah lapisan
patella juga ditutupi dengan kartilago. Patella diikat dengan otot yang
tebal dengan tendo yang besar.

5. Otot Penggerak Sendi Lutut

Lutut digerakkan dan distabilkan oleh banyak otot yang secara


fungsional dikenal sebagai kelompok extensor, flexor, adductor medial
dan abductor lateral. Mekanisme fungsi ekstensor dijalankan oleh
kelompok otot Quadriceps, yang terdiri dari m. Rectus femoris, m.
vastus lateralis, m. vastus medialis, m. vastus intermedius dan tendon
quadriceps serta patella. Fungsinya disamping sebagai ekstensor sendi
lutut juga fleksor sendi panggul dan gerakan ini dapat dilakukan
bersamaan. M. Rectus femoris bermula sebagai satu tendon dari spina
iliaca anterior inferior pelvis yang melewati sendi lutut, sedangkan
ketiga vastus bermula dari permukaan anterior tulang femur. Kelompok
ekstensor ini bersatu pada ligament yang melekat pada tuberositas
tulang tibia dan terminasinya menyatu ke dalam tendonnya tulang

5
sesamoid yaitu patella.

Otot hamstring (terdiri dari m . semimembranosus, m.


semitendinosus dan m . biceps femoris), berperan sebagai antagonis
kelompok otot quadriceps. Tarikan lutut ke lateral dilakukan oleh
otot traktus iliotibial, 6ias6n6ulum lateral dan ligamentum
patellofemoral, sedangkan tarikan ke medial dilakukan oleh vastus
obligusmedialis, 6ias6n6ulum medialis dan ligamentum
patellofemoral medial.

B. Biomekanik Knne Joint


Biomekanik adalah ilmu yang mempelajari gerakan tubuh manusia.
Dalam penulisan ini hanya akan membahas komponen kinematis yang
ditinjau dari gerak secara osteokinematika dan artrokinematika yang
terjadi pada sendi lutut.
1. Osteokinematika
Osteokinematika merupakan gerak sendi yang dipandang dari gerakan
tulangnya dan merupakan gerakan fisiologis sendi. Lutut merupakan hinge
joint dengan gerak rotasi ayun dalam bidang sagital dan menghasilkan
gerakan fleksi dengan nilai ROM normal 130º-140º dan soft end feel juga
posisi hiperekstensi berkisar antara 5º-10º dalam batas normalnya dengan
hard end feel, selain rotasi ayun lutut juga mempunyai gerak rotasi spin
dalam bidang tranversal pada posisi lutut fleksi dan menghasilkan gerakan
internal rotasi 15º-30º dengan elastic end feel dan eksternal rotasi 40º-45º
pada posisi awal, mid posisi dengan elastic end feel. Pada gerak akhir
ektensi terjadi eksternal rotasi yang dikenal sebagai closed rotation
(Sugijanto, 2008).
2. Artrokinematika
Arthrokinematik merupakan gerakan pada permukaan sendi. Gerak
arthrokinematik dari lutut yaitu : traksi dan kompresi dengan arah kaudal-
kranial searah axis longitudinal. Gerak translasi ke dorsal dan ke medial
terjadi saat fleksi sedangkan translasi ke ventral dan ke lateral terjadi saat
gerak ekstensi.

6
Kondilus tibiofemoral yang tidak simetris dan permukaan sendi femur
yang lebih besar daripada permukaan sendi tibia menunjukan bahwa
ketika kondilus femur bergerak pada kondilus tibia (dengan kondisi
menumpu berat badan), kondilus femur harus roll dan slide terhadap
condilus tibia. Pada saat gerak fleksi, kondilus femur roll ke posterior dan
slide ke anterior. Meniskus pada sendi lutut mengikuti roll dari kondilus
dengan bergerak ke posterior saat fleksi. Saat ekstensi, kondilus femur roll
ke anterior dan slide ke posterior. Pada akhir ekstensi, gerakan terhenti
pada kondilus lateral femur tapi slide berlanjut pada kondilus medial
femur untuk mengunci sendi lutut.
Pada gerak aktif tanpa menumpu berat badan, terjadi slide oleh
permukaan sendi tibia yang konkaf terhadap kondilus femur yang konfek.
Kondilus tibia slide ke posterior terhadap kondilus femur saat gerak fleksi.
Dari fleksi penuh ke ekstensi, kondilus tibia slide ke anterior pada
terhadap kondilus femur (Sugijanto, 2008).

Gambar 3. Movement of Knee


(Sumber: Singh, Bone Spine)

7
BAB II

PATOFISIOLOGI

A. Defenisi Meniskus Tear


Meniskus tear adalah ruptur satu atau lebih fibrokartilago pada lutut.
Tear meniskus dapat terjadi akibat gerakan memutar pada lutut saat kaki
dibengkokkan. Sedangkan pada orang dewasa yang lebih tua, tear
meniskus dapat terjadi akibat “keausan” berkepanjangan. Tear meniskus
dapat menyebabkan rasa sakit dan atau pembengkakan pda sendi lutut.
Sendi lutut akan terasa nyeri apabila tidak digunakan (Ria, 2015).
Meniskus terbuat dari tulang rawan, bahan viscoelastic yang
membuatnya lebih rentan terhadap tingkat cedera trauma. Meniskus
berfungsi untuk memperlebar dan memperdalam permukaan kontak antara
femur dan tibia, hal ini menyebabkan berkurangnya stress atau tekanan
pada kartilago artikuler. Meniskus akan mendistribusikan beban yang
diterima oleh sendi lutut. Meniskus juga berfungsi untuk menjaga stbilitas
sendi dan fungsi lubrikasi menghasilkan cairan sendi (Ria, 2015).
B. Epidemiologi
Sepeti dilansir dari Majeweski cedera meniskus adalah cedera paling
umum terjadi kedua pada lutut dengan kejadian 12 %- 14 % dan prevalensi
6 kasus / 100.000 orang (Frizziero dkk, 2012).
1. Frekuensi
Meskipun di USA insiden dan prevalensi kejadian tear meniskus tidak
diketahui, tetapi ini adalah cedera terkait olahraga yang cukup umum
di kalangan orang dewasa. Meskipun pada anak-anak kejadian cedera
meniskus kurang umum terjadi dibandingkan pada orang dewasa,
tetapi cedera meniskus lutut memang terjadi pada individu yang
secara skeletal belum matang. Keadian cedera meniskus jarang terjadi
pada anak-anak yang usianya kurang dari 0 tahun dengan bentuk
morfologis meniskus normal.

8
2. Mortilitas dan Mobilitas
Cedera meniskus biasanya berhubungan dengan rasa sakit yang
menyebabkan gaya berjalan yang abnormal dan hilangnya waktu
untuk pekerjaan dan olahraga. Sebuah studi yang disampaikan oleh
Yasuda dkk, menyarankan bahwa medial meniskus tear
menyebabkan osteonekrosis spontan pada lutut (SONK). Secara
khusus penelitian ini menemukan ekstrution meniskus medial dan
sudut femorotibial secara signifikan terkait dengan tingkat dan
volume SONK di medial femoral kondilus.
3. Ras
Korelasi antara ras dan cedera meniskus tidak diketahui
keberadaannya.
4. Seks
Cedera meniskus lebih sering terjadi pada laki-laki, dilihat dari
banyaknya laki-laki yang terlibat dalam kegiatan olahraga dan
kegiatan sehari-hari yang mempengaruhi cedera rotasi lutut.
5. Umur
Cedera meniskus sering terjadi pada laki-laki yang berusia masih
muda dan terlibat dalam kegiatan olahraga maupun sehari-hari.
Tingkat insiden yang paling sering terjadi pada orang tua dengan
usia lebih dari 55 tahun, insiden ini bersifat sekunder akibat
meniskus yang mengalami degenerasi dan rentan terhadap cedera
dengan trauma kecil. Cedera meniskus jarang terjadi pada anak-anak
yang lebih muda dari 0 tahun dengan bentuk morfologis tubuh
normal (Sarjoo, 2018)

C. Faktor Risiko dan Etiologi


Etiologi dari adanya tear meniskus adalah dari adanya trauma dan faktor
degenerativ:
a. Trauma : Sering pada usia muda, lutut tampak bengkak dan
adanya nyeri akut.

9
b. Degenerativ: Terjadi pada usia tua, nyeri kronik dan akut on
kronik dan nyeri aku knee.

Siapa saja yang melakukan kegitan yang melibatkan memutar lutut


secara berlebihan berisiko untuk mengalami tear meniskus, risiko yang
sangat tinggi terjadi pada atlet, terutama atlet yang berpartisipasi dalam
olahraga kontak seperti sepak bola atau kegiatan yang melibatkan
gerakan memutar, seperti ennis atau basket. Risiko tear meniskus juga
meningkat karena adanya proses degeneratif.

D. Klasifikasi
Hasil MRI meniskus yang abnormal dapat diklasifikasikan dalam tipe
berikut:
1 . Grade I : Area kecil dari peningkatan sinyal dalam meniskus
2. Grade II : Areaa linear dari sinyal yang meningkat dan tidak meluas
ke permukaan artiklatio.
3. Grade III : Abnormal peningkatan sinyal yang mencapai permukaan
atau meniskus (indikasi meniskus tear) tear meniskus ekstruasi
minimal 3 mm pada bidang mid-coronal (Bradley,2017).
E. Patomekanisme
Meniskus medial jauh lebih sering terkena daripada lateral, sebagian
karena perlekatannya pada kapsul yang membuatnya tidak begiu mobile.
Robeknya kedua meniskus dapat terjadi besama-sama bila terjadi ruptur
ligamen.
Pada 75 % kasus , robekan terjadi vertikal sepanjang meniskus. Kalau
fragmen yang terpisah tetap melekat di depan dan belakang, lesi itu
disebut “bucket handle tear” . bagian yang robek kadang-kadang
berpindah ke pusat sendi dan ditekan antara femur dan tibia, menyebabkan
penghambatan ekstensi. Kalau robekan timbul pada tepi yang bebas pada
meniskus akan tertinggal suatu penghubung yang memiliki dasar di bagian
antrior.
Kebanyakan meniskus bersifat avaskular dan perbaikannya cepat tidak
terjadi kecuali robekan itu berada pada sepertiga sebelah luar yang

10
divaskularisasi dari kapsul. Bagian yang tidak terkena sebagai suatu iitan
mekanis, menimbulkan efusi sendi yang berulang dan pada beberapa kasus
OA sekunder.
F. Manifestasi Klinik
Meniskus injury yang sudah robek, akan mengalami tanda dan gejala
berikut:
. munculnya rasa sakit
2. Pembengkakang atau kekakuan
3. Rasa sakit terutama ketika memutar atau memutar lutut
4. Kesulitan meluruskan lutut sepenuhnya
5. Terasa ada yang menghambat lutut untuk digerakkan, seolah- olah
lutut terkunci.
G. Komplikasi
Meniskus injuri yang tidak tertangani dengan baik akan mengakibatkan
kerusakan kartilago di os tibia, os femur dan pada patella mengalami
kerusakan akibat gesekan dan beban yang belebihan yang akan
mengakibatkan risiko terjadinya osteoarthritis.

11
BAB III

MANAJEMEN FISIOTERAPI

A. Proses Pengukuran dan Pemeriksaan Fisioterapi


Anamnesis Umum
Nama : Tn. A
Jenis kelamin : Laki-laki.
Usia : 58 tahun.
Alamat : Kompleks Perdos Unhas
Pekerjaan : PNS
Agama : Islam.
Hobi : Tennis Lapangan

C: Chief of complaint
Nyeri pada lutut bagian kiri
H: History taking
 Sudah satu minggu yang lalu klien merasakan nyeri pada lutut bagian
kiri.
 Nyeri yang dirasakan setelah bermain tennis lapangan, klien bermain
tennis selama kurang lebih 6 jam lamanya pada hari sabtu dan minggu.
 Belum pernah memeriksakan diri ke dokter.
 Tidak sedang mengkonsumsi obat apapun
 Klien mengeluhkan pada saat menekuk lutut terasa nyeri.
 Kegiatan ibadah (shalat) klien masih dilakukan secara normal (berdiri)
tetapi terasa nyeri pada saat sujud.
 Lutut klien sering bengkak setelah melakukan olahraga tennis.
 Ada riwayat penyakit lain seperti asam urat.
A: Assymetryc
 Inspeksi Statis :
 Ekspresi wajah meringis dan cemas
 Lutut kiri lebih besar disbanding lutut kanan

12
 Pinggul asimetris, lebih tinggi pinggul kanan daripada
pinggul kiri
 Inspeksi Dinamis :
 Gait analysis dalam batas normal
 Pasien agak susah saat melangkah
 Palpasi :
 Suhu : Lebih hangat lutut kiri dibandingkan lutut
kanan
 Kontur kulit : Mengkilap karena bengkak
 Oedem : Bengkak pada lutut kiri
 Tenderness : Ada pada area lutut

 PFGD :
 Gerakan Aktif
 Fleksi – Ekstensi Hip DBN
 Abduksi – Adduksi Hip DBN
 Eksorotasi – Endorotasi Hip DBN
 Fleksi – Ekstensi Knee terbatas
 Dorsofleksi – Plantarfleksi Ankle DBN
 Inversi – Eversi Ankle DBN
 Gerakan Pasif
 Fleksi – Ekstensi Hip DBN
 Abduksi – Adduksi Hip DBN
 Endorotasi – Eksorotasi Hip DBN
 Fleksi – Ekstensi Knee terbatas
 Eksorotasi – Endorotasi Knee terbatas
 Dorsofleksi – Plantarfleksi Ankle DBN
 Inversi – Eversi Ankle DBN
 TIMT
 Fleksi – Ekstensi Hip DBN
 Abduksi – Adduksi Hip DBN
 Endorotasi – Eksorotasi Hip DBN

13
 Fleksi – Ekstensi Knee lemah
 Dorsofleksi – Plantarfleksi Ankle DBN
 Inversi – Eversi Ankle DBN

R: Restrictive
 ROM : Limitasi gerakan aktif dan pasif pada region Knee
 Pekerjaan : -
 ADL : Limitasi praying
 Rekreasi : Limitasi aktivitas tennis lapangan
T: Tissue impairment and psychological prediction
 Musculotendinogen :.
 Kelemahan m.quadriceps femoris
 Osteoarthrogen :
 Meniskus lateral tear
 Neurogen : -
 Psikogen :
 Kecemasan
S: Specific test
 Vital sign
 Tekanan darah : 140/80 mmHg.
 Frekuensi pernapasan : 18 kali/menit.
 Suhu : 37° C.
 Denyut nadi : 7 kali/menit (irama regular).
 VAS
 Nyeri diam :0
 Nyeri tekan :4
 Nyeri gerak :3
 MMT : Muscle Quadriceps femoris (3+)
 Ballotement Test : (-) Tidak ada penumpukan cairan pada patella
 Varus/valgus test : (-) Tidak ada masalah pada LCM dan LCL
 Anerior drawer test: (-) Tidak ada masalah pada ACL
 Posteror drawer test: (-) Tidak ada masalah pada PCL

14
 Mc Murrray tet: (+) Indikasi ada lesi pada meniscus
 Apley Test: (+) Indikasi nyeri akibat tear pada meniscus
B. Diagnosis Fisioterapi
Adapun diagnosis fisioterapi yang dapat ditegakkan dari hasil proses
pengukuran dan pemeriksaan tersebut, yaitu:
“Gangguan gerak fungsional knee sinistra berupa limitasi ROM et causal
meniscus tear lateral akibat trauma olahraga 1 minggu yang lalu.”

C. Problem, Planning, dan Program Fisioterapi


Adapun problem dan planning fisioterapi yang dapat diuraikan berdasarkan
hasil proses pengukuran dan pemeriksaan tersebut, yaitu:
1. Problem:
 Primer:
 Keterbatasan ROM intraarticular dan ekstraarticular
 Sekunder:
 Nyeri
 Kecemasan
 Muscle weakness
 Kompleks:
 Gangguan ADL praying.
2. Planning:
 Tujuan jangka panjang:
 Mengajarkan cara berjalan yang baik agar klien dapat
mengoptimalkan ADL
 Tujuan jangka pendek:
 Mengurangi gangguan psikis dan kecemasan.
 Mengurangi nyeri.
 Meningkatkan ROM
 Meningkatkan kekuatan otot
 Mengurangi oedem

15
1. Program:
PROBLEM MODALITAS
No. DOSIS
FISIOTERAPI FISIOTERAPI
1 Gangguan psikis dan Komunikasi terapeutik F : 2x/hari
kecemasan. I : pasien fokus
T : Wawancara
T : selama proses FT
2 Oedem Cold Therapy F : 1x/hari
I : 3 menit kompres 2 menit
lepas / 3 x rept.
T : iced compres
T : satu 5 menit
3 Nyeri Elektro Therapy F : 1x/hari
(interferensi) I : 20-30 Hz
T : co planar
T : 5 menit
Manual therapy F : 1x/hari
I : 3x repetisi 10 hit. /1x
terapi
T : Thumb Friction
T : 1 menit
4 Limitasi ROM Exercise therapy F : 1x/hari
I : 3x repetisi 10 hit. /1x
terapi
T : static kontraksi dan
mobilisasi patella
T : 1 menit

Exercise therapy F : 1x/hari


I : 3x repetisi 10 hit. /1x
terapi
T : PCM
T : menit
Exercise therapy F : 1x/hari
I : 3x repetisi 10 hit. /1x
terapi
T : Traksi
T : 1 menit
5 Muscle weakness Exercise Therapy F : 1x/hari
I : 3x repetisi 10 hit.
T : strengtening
T : satu menit/set
Exercise therapy F : 1x/hari
I : 3x repetisi 16 hit.

16
T : stretching
T : 2 menit
9. Gangguan ADL dan Exercise Therapy F : 1x/hari
keseimbangan I : 3x repetisi 10 hit. /1x
terapi
T : Bridging+ strengtening
abduktor
T : 1 menit

D. Evaluasi, Modifikasi Fisioterapi, Home Program dan Kemitraan


Adapun hasil evaluasi dan modifikasi terhadap program fisioterapi yang
telah diberikan pada klien tersebut, adalah sebagai berikut:
1. Evaluasi:

No. Problem Parameter Intervensi Ket.


Sebelum Setelah 2 Kali
Intervensi Intervensi
VAS Diam (0);
Diam (0); Tekan
1 Nyeri Tekan (4);
(2); Gerak (1)
Gerak (3)
Evaluasi MMT
kekuatan
2 3+ 4
otot (M.
Quadriceps)
Indeks Pasien
Pasien terasa lebih
Evaluasi Barthel tampak
3 ringan saat
ADL susah saat
melangkah
melangkah
Pasien susah
Gerakan sujud
saat shalat
masih ada terasa
terutama
nyeri tapi sudah
gerakan
agak berkurang.
sujud

2. Modifiksi Fisioterapi
Modifikasi fisioterapi yang bisa diberikan pada pasien ini adalah latihan
static biscle yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot.
3. Home Program
Adapun home program pada pasien ini adalah pasien diedukasikan untuk
melakukan iced compres dirumah selama 3 kali sehari untuk menurunkan
bengkak pada lututnya.

17
4. Kemitraan
Melakukan kemitraan dalam rangka memberikan layanan prima kepada
pasien, diantaranya dengan membangun kemitraan dengan dokter spesialis
ortopedik, dokter spesialis radiologi, dokter ahli gizi.

18
DAFTAR PUSTAKA
Baker, S. Bradley. 2017. Meniscus Injuries. Medscape
Bhagia, M., Sarjoo. 2018. Meniscal Injury. Medscape
Khalifah, Ria.2015. lesi meniskus. Academia Edu
Kisner Carolyn, dan Lynn Allen Colby. 2013. Therapeutic Exercise. Philadelphia:
F.A Davis Company
Sugijanto. 2008. Kinesiologi dan Biomekanik Knee Joint. Slide Player
Syaifudin, Anatomi Fisiologi untuk Siswa Perawat. 1997. Jakarta: EGC.
Antonio, Frizziero.,Ferrari Raffaelo, Gianotti Erika, Ferroni Costanza, Poli
Patrizia, Masiero Stefano. 2012. The Meniscus Tear. State of The Art of
Rehabilitation Protocols Releated to Surgical Procedures. Muscle,
ligaments, and Tendon jurnal: 2(4):295-301.
Singh, Arun Pal. Normal Biomechanics of Knee. Bone Spine.
Netter, Frank. 2010. Atlas of Human Anatomy 5th edition. Elsevier-Health
Sciences Division.
Anonim. The Musculoskeletal System-The Knee. Health Appointments, Chapter
16.

19

Anda mungkin juga menyukai