Anda di halaman 1dari 14

KESULITAN BELAJAR

(alternatif sistem pelayanan dan penanganan)

PENDAHULUAN

Setiap anak adalah “unik”, tidak dapat disamakan antara satu anak dan lainnya. Mereka
mempunyai ritme perkembangan yang berbeda-beda. Tak terbanyang jika semua anak sama.
Seorang ibu biasanya lebih peka dalam menangkap “perbedaan” dari anak-anak yang
dilahirkannya. Wajar jika kemudian ibu akan terus mencoba mencari pendekatan yang tepat dan
terbaik dalam menuntun perbedaan pada diri anak-anaknya. Dengan memperhatikan apa yang
berbeda dari tiap-tiap anaknya, orang tua akan mengetahui bagaimana menyikapinya. Anak yang
memiliki “perbedaan” karena kekhususannya dikatakan sebagai anak berkebutuhan khusus dan
harus dibimbing sesuai dengan kekhususannya tadi. Anak berkebutuhan khusus yang dibahas
dalam buku ini adalah anak yang berkesulitan belajar.

Anak berkesulitan belajar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari anak luar biasa. Oleh
karena itu perlu, perlu pemahaman terhadap anak berkesulitan belajar ditinjau secara histories,
empiris, dan teoritik. Ketiga tinjauan ini dapat memberikan gambaran yang luas terhadap
pemahaman anak berkesulitan belajar.

Persoalan anak kesulitan belajar di Indonesia merupakan persoalan yang baru. Dalam kehidupan
sehari-hari sering ditemukan adanya penggunaan istilah mengenai hakikat kesulitan belajar
secara keliru, banyak orang termasuk sebagian besar para guru, tidak dapat membedakan antara
kesulitan belajar dengan tunagrahita. Tanpa memahami hakikat kesulitan belajar, akan sulit pula
menentukan jumlah anak berkesulitan belajar sehingga pada gilirannya juga sulit untuk membuat
kebijakan pendidikan bagi mereka. Dengan memahami hakikat kesulitan belajar, jumlah dan
klasifikasi mereka dapat ditentukan dan strategi penanggulangannya yang efektif dan efisien
dapat dicari. Penyebab kesulitan belajar juga perlu dipahami karena dengan pengetahuan tersebut
dapat dilakukan usaha-usaha preventif maupun kuratif. Oleh karena itu para calon guru bagi anak
berkesulitan belajar perlu lebih dahulu memahami hakikat kesulitan belajar sebelum melakukan
pengkajian yang lebih mendalam tentang pendidikan mereka.

BAB I

HAKIKAT KESULITAN BELAJAR


A. DEFINISI

Kesulitan belajar merupakan terjemahan dari istilah bahasa Inggris learning disability.
Terjemahan tersebut sesungguhnya kurang tepat karena learning artinya belajar dan disability
artinya ketidak mampuan; sehingga terjemahan yang benar seharusnya adalah ketidakmampuan
belajar. Istilah kesulitan belajar digunakan dalam tulisan ini karena dirasakan lebih optimistic.

Kesulitan belajar merupakan suatu konsep multidisipliner yang digunakan dilapangan


ilmu pendidikan, psykologi, maupun ilmu kedokteran. Pendidikan menggunakan istilah kesulitan
belajar spesifik (specific learning disability). Psikologi menggunakan istilah penyimpangan
persepsi dan tingkah laku hiperkinitik (perceptual desorders and hyperkinetic behavior). Bahasa
(speach and language) menggunakan istilah apasia dan disleksia (aphasia and dyslexia).
Kesehatan (medicine) menggunakan rusak otak (minimal brain clemage) disfungsi minimal otak
(brain injuiry), dan gangguan otak (brain impairment). Istilah yang umum digunakan adalah luka
otak, disfungsi minimal otak, dan kesulitan belajar.

Definisi kesulitan belajar pertama kali ditemukan oleh The United States Offfice of Education
(USOE) pada tahun 1977. Definisi tersebut seperti dikutip oleh Hallahan, Kauffman dan Lloyd,
seperti berikut:

“Kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses
psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan.
Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berfikir,
berbicara, membaca, menulis, mengeja atau berhitung. Batasan tersebut mencakup kondisi-
kondisi seperti gangguan perceptual, luka pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan.
Batasan tersebut tidak mencakup anak-anak yang memiliki problematika belajar yang penyebab
utamanya berasal dari adanya hambatan dalam penglihatan, pendengaran, atau motorik,
hambatan karena tunagrahita, karena gangguan emosional, atau karena kemiskinan lingkungan,
budaya, atau ekonomi.”(Hallahan, D.F: Kauffman, J.M; & Lloyd, J.W :14)

Sementara itu, The National Joint Committee for Learning Disabilities (NJCLD)
mengemukakan definisi kesulitan belajar sebagai berikut:

Kesulitan belajar menunjuk pada sekelompok kesulitan yang dimanifestasikan dalam bentuk
kesulitan yang nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengarkan, bercakap-
cakap, membaca, menulis, menalar atau kemampuan dalam bidang studi matematika. Gangguan
tersebut intrinsic dan diduga disebabkan oleh adanya disfungsi system syaraf pusat. Meskipun
suatu kesulitan belajar mungkin terjadi bersamaan dengan adanya kondisi lain yang mengganggu
(misalnya gangguan sensoris, tunagrahita, hambatan social dan emosional) atau berbagai
pengaruh lingkungan (misalnya perbedaan budaya, pembelajaran yang tidak tepat, factor-faktor
psikogenik), berbagai hambatan tersebut bukan penyebab atau pengaruh langsung.( Hammill
et,al, 1981:336)

Lain halnya dengan The Board of The Association For children and Adult With Learning
Disabilities (ACALD), mengemukakan definisinya sebagai berikut:

“Kesulitan belajar khusus adalah suatu kondisi kronis yang diduga bersumber neurologist yang
secara selektif mengganggu perkembangan, integrasi, dan/atau kemampuan verbal dan/atau non
verbal.

Kesulitan belajar khusus tampil sebagai suatu kondisi ketidakmampuan yang nyata pada orang-
orang yang memiliki inteligensi rata-rata hingga superior, yang memiliki system sensoris yang
cukup dan kesempatan untuk belajar yang cukup pula. Berbagai kondisi tersebut bervariasi
dalam perwujudan dan derajatnya.

Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap harga diri, pendidikan, pekerjaan, sosialisasi,
dan/atau aktivitas kehidupan sehari-hari sepanjang kehidupan.” (Lovitt, 1989 : 7)

Maka dapat disimpulkan bahwa indikasi kesulitan belajar dapat berwujud sebagai suatu
kekurangan dalam satu atau lebih bidang akademik, baik dalam mata pelajaran yang spesifik
seperti membaca, menulis, matematika, dan mengeja; atau dalam berbagai keterampilan yang
bersifat lebih umum seperti mendengarkan, berbicara dan berfikir. Namun, penulis mengamati
dari ketiga definisi di atas, ada hal yang berbeda dari definisi yang diungkapkan ACALD yaitu
pada kalimat terakhir yang menyatakan bahwa kesulitan belajar dapat melampaui kawasan
akademik.

Di Indonesia belum ada definisi yang baku tentang kesulitan belajar. Para guru umumnya
memandang semua siswa yang memperoleh prestasi belajar yang rendah disebut siswa yang
berkesulitan belajar. Dalam kondisi seperti ini, kiranya dapat dipertimbangkan untuk mengadopsi
definisi yang dikemukakan oleh ACALD untuk digunakan dalam dunia pendidikan di Indonesia.

B. FAKTOR PENYEBAB DAN KARAKTERISTIK ANAK BERKESULITAN BELAJAR

Aktivitas belajar bagi setiap individu tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar.
Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang
dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi,
tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi. Ada beberapa ahli pesimis untuk
menyebutkan penyebab kesulitan belajar. Fenomena kesulitan belajar seorang siswa biasanya
tampak jelas dari menurunnya kinerja akademik atau prestasi belajarnya. Namun, kesulitan
belajar juga dapat dibuktikan dengan munculnya kelainan prilaku (misbehavior) siswa seperti
kesukaan berteriak-teriak di dalam kelas, mengusik teman, berkelahi, sering bolos, dan sering
minggat dari sekolah.

M. Dalyono (2006:229) mengungkapkan bahwa kesulitan belajar tidak selalu disebabkan


karena factor intelegensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan oleh
factor-faktor non intelegensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin
keberhasilan belajar. Karena itu, Dalyono membagi kesulitan belajar dalam beberapa kelompok:

1) Dilihat dari jenis kesulitan belajar:

- berat

- sedang.

2) Dilihat dari bidang studi yang dipelajari:

- sebagian bidang studi

- keseluruhan bidang studi

3) Dilihat dari sifat kesulitan:

- permanen

- sementara

4) Dilihat dari faktor penyebabnya:

- intelegensi

- non intelegensi

Sementara menurut Muhibbin syah mengungkapkan bahwa secara garis besar, faktor-
faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri dari (Muhibbin Syah, 2007:173)

1. Faktor intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri
siswa sendiri, meliputi gangguan atau kekurang mampuan psiko-fisik siswa, yakni:

a. Yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas
intelektual/intelegensi siswa.

b. Yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap.

c. Yang bersikap psikomotor (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat
indera penglihatan dan pendengaran (mata dan telinga)
2. Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri
siswa, meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung
aktivitas belajar siswa, yakni:

a. Lingkungan keluarga, contohnya ketidak harmonisan hubungan orang tua dan


rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.

b. Lingkungan perkampungan/masyarakat, contohnya wilayah perkampungan


kumuh (slum area) dan teman sepermainan yang nakal.

c. Lingkungan sekolah, contohnya kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk
seperti dekat pasar dan kondisi guru dan alat-alat belajar yang berkualitas rendah.

Selain faktor-faktor penyebab umum di atas, ada faktor penyebab yang lebih khusus yakni
sindrom psykologis seperti yang telah dikemukakan dimuka berupa ketidakmampuan belajar
(learning disability). Sindrom (syndrome) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai
indikator adanya keabnormalan psikis yang menimbulkan kesulitan belajar, itu terdiri atas:
(Muhibbin Syah, 2007:174)

1. Disleksia (dyslexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca

2. Disgrafia (dysgraphia), yakni ketidakmampuan belajar menulis

3. Diskalkulia (dyscalculia), yakni ketidakmampuan belajar matematika

Kesulitan belajar biasa terjadi secara bersamaan dengan kondisi lain, seperti adanya hambatan
sosial emosional. Gambaran anak dengan kesulitan belajar dapat dilihat pada bagan di bawah ini:
Dalam bukunya Mulyono Abdurrahman “Pendidikan bagi anak yang berkesulitan Belajar”
(1998:13), mengatakan bahwa kesulitan belajar dipengaruhi oleh dua faktor, internal dan
eksternal. Penyebab utamanya adalah disfungsi neurologis. Disfungsi neurologis sering tidak
hanya menyebabkan kesulitan belajar tetapi juga dapat menyebabkan tunagrahita dan gangguan
emosional. Berbagai faktor yang dapat menyebabkan disfungsi neurologis yang pada gilirannya
dapat menyebabkan kesulitan belajar antara lain adalah:

1. Faktor genetik.1[1]

2. Luka pada otak karena trauma fisik atau karena kekurangan oksigen

3. Biokimia yang hilang (misalnya biokimia yang diperlukan untuk memfungsikan saraf
pusat).

4. Biokimia yang dapat merusak otak (misalnya zat pewarna pada makanan)

5. Pencemaran lingkungan (misalnya pencemaran timah hitam).

6. Gizi yang tidak memadai.


7. Pengaruh-pengaruh psykologis dan social yang merugikan perkembangan anak (deprivasi
lingkungan)

Dari berbagai penyebab tersebut dapat menimbulkan gangguan dari tarafnya ringan hingga yang
berat. Namun demikian, siswa yang mengalami sindrom-sindrom di atas secara umum
sebenarnya memiliki potensi IQ yang normal bahkan diantaranya ada yang memiliki kecerdasan
di atas rata-rata. Oleh karenanya, kesulitan belajar siswa yang menderita sindrom-sindrom tadi
mungkin hanya disebabkan oleh adanya minimal brain dysfunction, yaitu gangguan ringan pada
otak.

Karakteristik kesulitan belajar tampak pada (1) gangguan perhatian adalah hiperaktif, pengalihan
perhatian; (2) kegagalan untuk mengembangkan dan memobilisasi strategi untuk belajar,
mengorganisasi belajar, kerangka belajar aktif, dan fungsi-fungsi metakognitif; (3) lemah dalam
kemampuan gerak antara koordinasi gerakan baik dan kasar, kegagalan umum dan canggung,
persoalan-persoalan special; (4) permasalahan-permasalahan persepsi antara lain, perbedaan
stimulus pendengaran, penglihatan, closure dan cequensi pendengaran dan penglihatan; (5)
kesulitan bahasa lisan, pendengaran berbicara daftar kata, kemampuan linguistic; (6) kesulitan
membaca antara lain pengkodean, keterampilan dasar membaca, membaca komprehensif; (7)
kesulitan menulis bahasa, antara lain mengeja, tulisan tangan, mengarang; (8) kesulitan
matematika, antara lain pemikiran kuantitatif, berhitung, waktu, ruang, dan menghitung fakta; (9)
tingkah laku sosial yang tidak pantas antara lain persepsi sosial, tingkah laku emosi, penegakan
saling berhubungan.

Cecil D. Mercer memberikan gambaran karakteristik anak berkesulitan belajar sebelum kesulitan
belajar dan karakteristik kesulitan belajar temporer. Karakteristik kesulitan belajar sebelum
istilah ini digunakan secara umum mulai tahun 1963 Clement (1966) mencatat sepuluh
karakteristik disfungsi minimal otak yang dicatat dengan menggunakan tata jenjang. Kesepuluh
gambaran disfungsi minimal otak yang telah didefinisikan tersebut di atas sebagai berikut:
(Mulyono Abdurrahman, 1998:73), (1) hiperaktif suatu gerakan tingkah laku yang tidak
berorientasi pada sasaran dan kerap kali kacau; (2) gangguan gerak persepsi merupakan
permasalahan koordinasi pendengaran dan penglihatan atau input visual dengan respon gerakan
umpama pengkopian kata atau bilangan; (3) gangguan emosional merupakan perpindahan
tingkah laku normal yang tidak tampak secara langsung dan terkait dengan situasi tertentu; (4)
gangguan orientasi umum merupakan kesulitan dengan bermacam-macam gerak perpindahan
(berpindah-pindah); (5) gangguan perhatian merupakan rentang perhatian singkat/pendek dan
kebingungan secara umum umpama menyimpan perhatian yang relevan dengan tugas; (6)
impulsivitas merupakan tingkah laku tanpa berfikir konsekuensinya; (7) gangguan ingatan dan
berfikir merupakan kesulitan untuk mengingat kembali informasi yang telah dikuasai dan
persoalan dalam menyusun konsep yang komprehensif; (8) kesulitan belajar spesifik merupakan
kesulitan keterampilan akademik, seperti membaca, menulis, berhitung, dan atau mengeja; (9)
gangguan bicara dan pendengaran, merupakan kesulitan mengerti dan mengingat bicara bahasa,
gangguan dalam artikulasi dan kesulitan dalam mengekspresikan dirinya sendiri secara verbal,
dengan menggunakan kata-kata dan tata bahasa yang benar; (10) tanda/gejala neurologist samar-
samar seperti problem gerak, problem persepsi dan perkembangan bahasa yang tidak seimbang
dengan daerah gerakan.

Sebagai tambahan, gejala-gejala adanya gangguan belajar pada anak dapat kita lihat pada :

a. Gangguan Persepsi Visual

 Melihat huruf/angka dengan posisi yang berbeda dari yang tertulis, sehingga seringkali
terbalik dalam menuliskannya kembali.

 Sering tertinggal huruf dalam menulis.

 Menuliskan kata dengan urutan yang salah misalnya: ibu ditulis ubi.

 Kacau (sulit memahami) antara kanan dan kiri.

 Bingung membedakan antara obyek utama dan latar belakang.

 Sulit mengkoordinasi antara mata (penglihatan) dengan tindakan (tangan, kaki dan lain-
lain).

b. Gangguan Persepsi Auditori

 Sulit membedakan bunyi; menangkap secara berbeda apa yang didengarnya.

 Sulit memahami perintah, terutama beberapa perintah sekaligus.

 Bingung/kacau dengan bunyi yang datang dari berbagai penjuru (sulit menyaring)
sehingga susah mengikuti diskusi, karena sementara mencoba memahami apa yang
sedang didengar, sudah datang suara (masalah) lain.

c. Gangguan Belajar Bahasa

 Sulit memahami/menangkap apa yang dikatakan orang kepadanya.

 Sulit mengkoordinasikan/mengatakan apa yang sedang dipikirkan.

d. Gangguan Perseptual - Motorik

 Kesulitan motorik halus (sulit mewarnai, menggunting, menempel, dsb.)

 Memiliki masalah dalam koordinasi dan disorientasi yang mengakibatkan canggung dan
kaku dalam gerakannya.

e. Hiperaktivitas
 Sukar mengontrol aktifitas motorik dan selalu bergerak (tak bisa diam)

 Berpindah-pindah dan satu tugas ke tugas lain tanpa menyelesaikannya

 Impulsif

f. Kacau (distractability)

 Tidak dapat membedakan stimulus yang penting dan tidak penting

 Tidak teratur, karena tidak memiliki urutan- urutan dalam proses pemikiran

 Perhatiannya sering berbeda dengan apa yang sedang dikerjakan (misalnya melamun atau
mengkhayal saat belajar disekolah)

Adapun karakteristik kontemporer disajikan secara berturut turut sebagai berikut, (Mulyono
Abdurrahman, 1998: 76): (1) kesulitan keterampilan akademik, terdiri dari keterampilan dasar
membaca, membaca komprehensif, ekspresi tulisan dan kalkulasi matematik, resoning
matematik; (2) gangguan persepsi seperti persepsi visual, diskriminasi visual, ingatan visual,
diskriminasi pendengaran, ingatan pendengaran, dan integrasi intersensory; (3) gangguan gerak,
yaitu hiperaktif, hipoaktif, lemah dalam koordinasi gerak yang baik dan kacau, kecanggungan
secara umum; (4) emosi sosial, seperti perasaan prustrasi akan menimbulkan tindakan tidak
senonoh dan menginginkan perasaan negatif tentang harga diri; (5) problem memory, seperti
sering lupa mengeja kata, fakta matematika dan pengarahan/ petunjuk guru.

Sementara menurut Dalyono (2005: 247-248), anak yang berkesulitan belajar menunjukkan
gejala-gejala yang bisa diamati oleh orang lain, misalnya:

4. menunjukkan pretasi yang rendah/di bawah rata-rata yang dicapai oleh kelompok kelas.

5. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia berusaha dengan keras
tetapi nilainya selalu rendah.

6. Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawannya


dalam segala hal, misalnya: dalam mengerjakan soal-soal dan dalam mengerjakan tugas-tugas.

7. Menunjukkan sikap yang kurang wajar seperti : acuh tak acuh, berpura-pura, dusta, dan
lain-lain

8. Menunjukkan tingkah laku yang berlainan, misalnya mudah tersinggung, murung,


pemarah, bingung, cemberut, kurang gembira, selalu sedih.
C. PREVALENSI SISWA BERKESULITAN BELAJAR DI INDONESIA

Prevalensi siswa belajar di Indonesia tidak diketahui dengan pasti. Penelitian Pandu W (1977)
menyatakan bahwa siswa kelas I - III yang berkesulitan belajar sebanyak 5,8%. Penelitian
Monica Suharto, (1988) di kecamatan Jebres Kotamadya Surakarta diketahui 64 anak-anak (18%
dari 12 ribu siswa SD dan 491 anak (76%) berkesulitan belajar. Penelitian Rahmad Djatun
(1993) di kecamatan Banjarsari menyimpulkan bahwa anak berkesulitan belajar sebanyak 486
anak dari 855 siswa luar biasa. Dari penelitian Sunardi (1993) di kabupaten Boyolali diperoleh
211 anak berkesulitan belajar dari siswa 19 SD yang berjumlah 2000 siswa lebih. Penelitian di
Jakarta pada siswa kelas I – VI sejumlah 3215 siswa terdapat 16,52% anak berkesulitan belajar.
Penelitian Hari Widyastomo (1997) pada siswa SD di Indonesia yang diambil secara acak ada
13,9% anak berkesulitan belajar

Berdasarkan Situs Bank Dunia dari internet jumlah penduduk Indonesia tahun 2010
sebesar 236 juta dengan asumsi pertumbuhan penduduk tahun 1996 sampai 2010 rata-rata 1,3%.
Jumlah siswa SD tahun 1996 sebesar 30.503.800 anak pertumbuhan siswa SD tahun 2010 adalah
1,3% x 14 x 30.503.800 anak sebesar 5.551.691 anak. Prediksi anak SD tahun 2010 adalah
30.503.800 + 5.551.691 ada 36.055.491 anak. Prediksi siswa SD berkesulitan belajar ada 16,52%
x 36.055.491 sebesar 5.956.307 anak (Anton Sukarno, 2006:84-85)

Prevalensi anak berkesulitan belajar sebesar 16,52% diambil dari penelitian di Jakarta tahun
1994 oleh Mulyono Abdurrahman, Nafsiah Ibrahim karena rentangan perkiraan kesulitan belajar
antara 1 – 30%. Jadi, prevalensi 16,52% kurang lebih tengah-tengah antara 1 – 30%.

D. ANAK YANG BERISIKO BERKESULITAN BELAJAR

Istilah berisiko digunakan untuk menunjukkan bahwa melakukan identifikasi anak berkesulitan
belajar pada masa prasekolah merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Anak-anak tersebut belum
mengalami kegagalan di sekolah tetapi mungkin memiliki potensi untuk mengalami kegagalan
dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Ada tiga alas an untuk menyatakan bahwa anak
memiliki potensi untuk gagal di sekolah atau memiliki potensi menjadi anak berkesulitan belajar,
(1) hasil pemeriksaan medis, (2) risiko biologis, dan (3) risiko lingkungan.

Melalui pemeriksaan medis pada masa bayi dan kanak-kanak dapat diprediksi adanya
kemungkinan kelak menjadi anak berkesulitan belajar. Prediksi ilmiah tidak selamanya tepat
tetapi dapat meningkatkan kewaspadaan orang tua untuk melakukan usaha yang lebih intensif,
misalnya dengan menyediakan lingkungan yang sebaik-baiknya untuk anak. Beberapa penyakit
yang dapat menimbulkan kerusakan pada otak seperti meninghitis dan ensifalitis serta juga
peristiwa yang dapat menimbulkan kerusakan pada otak lainnya, misalnya akibat kecelakaan.
dapat juga dijadikan acuan untuk memprediksi terjadinya kesulitan belajar di sekolah.
Risiko biologis menunjuk pada suatu kemungkinan yang didasarkan atas peristiwa medis dan
kesehatan, misalnya prematuritas dan orang tua yang berkesulitan belajar. Walaupun tidak setiap
anak prematuritas berkesulitan belajar namun cukup banyak anak yang mengalami kesulitan
belajar dengan latar belakang prematuritas. Sama juga halnya bahwa tidak semua anak yang
orang tuanya berkesulitan belajar juga mengalami kesulitan belajar. Meskipun demikian seperti
dikemukakan oleh Hornsby (1981: 41), Sembilan dari sepuluh anak disleksia memiliki orang tua
yang juga disleksia.

Risiko lingkungan terkait dengan adanya kekurangan stimulasi lingkungan sosial yang
menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan anak tidak optimal. Stimulasi tersebut mencakup
fisik, emosi, kognitif dan intuisi. risiko lingkungan juga dapat disebabkan oleh adanya kondisi
sosial ekonomi atau pengetahuan orang tua yang rendah sehingga orang tua tidak memiliki
kesempatan yang cukup untuk menyediakan lingkungan yang bergizi, maksudnya adalah
lingkungan yang mampu memberikan stimulasi fisik, emosi, kognitif, dan intuisi yang
memungkinkan fungsi-fungsi tersebut berkembang optimal dan terintegrasi.

D. AKIBAT KESULITAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI SEKOLAH ANAK

1. Anak yang kurang dalam kematangan fisik, mental atau emosi, akan mengakibatkan:

 Angka kurang untuk tugas-tugas manual yang membutuhkan ketangkasan dan


keterampilan tangan.

 Angka kurang untuk pelajaran berhitung, membaca dan imlak (dikte).

 Angka kurang untuk sosialisasi (bermasyarakat), untuk sikap kooperatif (kerjasama)


terhadap teman-teman dan tugas-tugas yang harus dikerjakan bersama. Sikap dependent
(tergantung pada bantuan orang lain), mudah menangis, atau sangat kasar terhadap
kawan.

2. Anak yang mengalami hambatan fisik atau kelainan organik, diantara akibatnya:

 Angka kurang, terutama untuk pelajaran yang membutuhkan daya tangkap dan
pendengaran yang baik, misalnya imlak (dikte). Karena sering kurang menangkap
penjelasan-penjelasan guru, maka rata-rata angkanya rendah, hampir untuk setiap
pelajaran.

 Seperti halnya dengan gangguang pendengaran, maka pada gangguang penglihatan,


sering mengakibatkan prestasi yang rata-rata menurun dalam pelajaran yang
membutuhkan ketelitian dan ketajaman penglihatan. Di samping itu anak sering merasa
rendah diri bila ia harus menggunakan kaca mata, yang antara lain berpengaruh terhadap
menurunnya prestasi belajar anak.
 Terutama yang mengalami cacat atau gangguan pada tangan, maka prestasi pelajarannya
menjadi karena segala sesuatunya tidak dapat dilaksanakan dengan cepat, sehingga tugas-
tugas di sekolah sering tidak selesai.

 Adanya gangguan pada syaraf sering menyebabkan anak hyper-active (terlalu sangat
aktif), daya tangkap dan daya ingatnya lemah. Hal ini akan mengakibatkan ia tidak dapat
maju atau sedikit sekali mendapat kemajuan dalam pelajaran.

3. Anak yang kurang kemampuannya (IQ rendah), pada umumnya sejak mereka mulai sekolah
prestasinya kurang dibandingkan anak-anak lain. Dan perbedaan ini bertambah jelas dengan
peningkatan pelajaran-pelajaran, terutama dalam matematika (berhitung) dan pelajaran-pelajaran
hafalan. Pada beberapa anak, juga dalam menulis dan membaca angkanya kurang.

Pada mereka dengan kemampuan tinggi, pada umumnya semua prestasinya baik, tetapi
karena kurangnya pengertian dari orang tua atau guru dan tidak ada penyaluran, maka nampak
adanya penurunan prestasi secara menyeluruh.

4. Anak yang mengalami hambatan atau gangguan emosi, menyebabkan keseluruhan


prestasinya kurang atau mundur, terutama dalam pelajaran-pelajaran yang membutuhkan
konsentrasi, perhatian dan daya ingat. Di samping itu motivasi untuk belajar pun menurun, lalu
anak menjadi apatis (diam pasif, tidak punya inisiatif).

F. MENYIKAPI ANAK BERKESULITAN BELAJAR

1. Anak-anak yang mengalami kesulitan dalam belajar memiliki beberapa tingkat intelektual.
Ada yang inteligensinya berada di bawah rata-rata, namun sebaliknya ada juga yang berbakat.
Keadaan ini berbeda antara anak yang satu dan anak yang lainnya. Sulit pula untuk mengenali
karakteristik yang mirip pada semua anak.

2. Ketidaksesuaian akan ada dalam level kemampuan dan fungsi mereka. Mungkin mereka
dapat menyelesaikan suatu tugas dalam bidang tertentu. Namun, bisa juga tugas yang lebih
sederhana menuntut proses yang akan menimbulkan kesulitan bagi mereka untuk
menyelesaikannya. Misalnya, seorang anak mungkin memiliki kesulitan dalam membaca bahan
yang paling sederhana, tetapi memiliki kelebihan dalam seni. Anak-anak lainnya dapat membaca
dengan baik, tetapi sulit berkoordinasi.

3. Tingkah laku mungkin menjadi masalah di kelas ketika kegiatan-kegiatan yang harus
diselesaikan anak-anak ini terlalu sulit untuk tingkat kemampuan mereka. Guru harus berhati-
hati dalam memberikan perintah kepada anak untuk melakukan sesuatu.
4. Anak-anak yang mengalami kesulitan dalam belajar sering memiliki penghargaan diri yang
rendah. Mereka sadar akan kesulitan mereka dan bahwa mereka telah gagal memenuhi harapan
orang tua dan guru mereka.

5. Berikan kesempatan kepada anak-anak ini untuk merasakan keberhasilan. Menyelesaikan


tugas dengan baik akan menolong meningkatkan penghargaan diri anak.

6. Berikan pujian yang tulus kepada anak untuk tugas-tugas yang telah diselesaikan dengan
baik (Robert E. Clark, Joanne Brubaker, & Roy B. Zuck : 176 – 178)

Frustasi dapat menyerang anak yang mengalami kesulitan dalam belajar. Guru yang peka
akan menyesuaikan pelajaran yang ia sampaikan dengan kualitas pelajaran. Dengan demikian,
anak-anak yang mengalami kesulitan belajar juga mendapatkan pengalaman keberhasilan dalam
belajar. Tujuannya adalah menyampaikan pelajaran yang menantang bagi anak yang mengalami
kesulitan dalam belajar, dan bukan pelajaran yang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi
sehingga anak menjadi frustasi dan kehilangan minat dalam program ini.

1. Berikan perintah yang terperinci. Karena anak-anak ini memiliki kesulitan dalam
merangkai, Anda perlu mengulang atau memberikan perintah baru ketika tahap pelajaran
berikutnya dimulai. Contohnya, daripada membacakan serangkaian perintah yang harus
ditaati, berikan satu atau dua perintah pada saat yang sama. Pada saat anak sudah
menyelesaikannya, berikan perintah tambahan.

2. Gunakan semua indra Anda pada saat mengajar. Jika memungkinkan, tanyakan kepada
orang tua atau guru lainnya, indra mana yang potensial bagi anak untuk dapat belajar
dengan maksimal. Jika anak dapat belajar dengan maksimal melalui penglihatan mereka,
berikan kesempatan besar bagi anak untuk mengalaminya melalui media penglihatan.
Tekankan perintah Anda dengan menggunakan indra lainnya.

3. Pastikan bahwa Anda mengajarkan ide pokok dari pelajaran Anda. Murid yang
mengalami kesulitan belajar ini bisa memberi rincian dari pelajaran Anda, meskipun
mungkin mereka tidak tahu apa inti dari pelajaran itu.

4. Sebisa mungkin jangan ada gangguan di dalam kelas karena anak-anak ini mudah
terganggu. Gambar-gambar, mainan, atau barang-barang yang tidak diperlukan sangat
berpeluang untuk mengganggu mereka.

5. Sampaikan pelajaran dengan menggunakan contoh-contoh konkret. Anak yang


mengalami kesulitan dalam belajar akan memahami maknanya jika dia dapat melihat dan
merasakan apa yang Anda jelaskan. Contohnya, pada saat sesi cerita, berceritalah sambil
menunjukkan benda-benda yang berhubungan dengan cerita tersebut. Doronglah anak-
anak untuk membayangkan bagaimana mereka melakukannya dalam kegiatan mereka
sehari-hari.
6. Perhatikan jika mungkin beberapa anak yang mengalami kesulitan dalam belajar ini
terlihat sangat aktif atau bahkan terlalu aktif. Mereka memiliki rentang perhatian yang
rendah untuk melakukan hal yang sama terus-menerus. Berusahalah supaya anak ini terus
berada di dekat Anda. Kontak fisik seperti merangkul atau memegang pundak bisa
meningkatkan perhatian mereka.