Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Keperawatan adalah unik karena fokusnya yang luas ke arah pemahaman


dan penatalaksanaan kesehatan seseorang.Perawat yang kompeten harus
mempunyai pengetahuan yang adekuat tentang fisiologi, patofisiologi,
psikopatologi, dan pengobatan medis untuk untuk dapat secara aman melakukan
pengobatan.

Dalam lingkup perawatan kesehatan yang kompleks sekarang ini, perawat


harus mampu memecahkan masalah secara akurat, menyeluruh, dan cepat.Hal ini
berarti bahwa perawat harus mampu menelaah informasi dalam jumlah yang
sangat banyak untuk membuat penilaian kritis. Pengkajian keperawatan adalah
proses sistematik dari pengumpulan, verifikasi, dan komunikasi data tentang
klien.
Pengkajian merupakan pengambilan data yang dilakukan pertama kali
setelah pasien masuk.Pada hal ini perawat hanya bisa mengumpulkan data yang
bersifat desriptif, singkat, dan lengkap.Pengkajian tidak mencakup kesimpulan
atau pernyataan interpratif yang tidak didukung oleh data. Data deskriptif berasal
dari persepsi klien tentang gejala, persepsi, dan pengamatan keluarga, pengamatan
perawat, atau laporan dari anggota tim perawatan kesehatan. Pengumpulan data
yang tidak akurat akan mengarah pada identifikasi kebutuhan perawatan klien
yang tidak tepat dan akibatnya diagnosa keperawatan yang dibuat tidak akurat,
dan tidak lengkap.

B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pengkajian keperawatan?
2. Bagaimana proses pengumpulan data?
3. Apa saja yang termasuk sumber data?
4. Apa saja metode pengumpulan data?

C. Tujuan penulisan
1. Tujuan umum
Tujuan umum penyusunan makalah ini adalah untuk menambah
pengetahuan kita tentang teori pengkajian keperawatan, Sehingga kita tahu
dan paham apa saja yang terkandung dalam materi tersebut dan bisa
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswaa/I bisa mengetahui dan memahami tentang pengertian,
pengkajian keperawatan.
b. Mahasiswa/I bisa mengetahui dan memahami tentang proses
pengumpulan data.
c. Mahasiswa/I bisa mengetahui dan memahami tentang sumber data..
d. Mahasiswa/I bisa mengetahui dan memahami tentang metode
pengumpulan data.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN

Pengkajian merupakan tahap awal proses keperawatan dan merupakan


suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data
untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien.

Tahap pengkajian merupakan pemikiran dasar dalam memberikan asuhan


keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu.Pengkajian yang lengkap, akurat,
sesuai kenyataan, kebenaran data sangat penting untuk merumuskan suatu
diagnosa keperawatan dan dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan
respon individu.

1. Data Dasar dan Data Fokus


Pengkajian data dasar pada proses keperawatan merupakan
kegiatan yang komprehensif dan menghasilkan kumpulan data mengenai
status kesehatan klien, kemampuan klien mengelola kesehatan dan
perawatan terhadap dirinya sendiri, serta hasil konsultasi medis (terapis)
atau profesi kesehatan lainnya (Taylor, Lillis, dan LeMone, 1996).
Data fokus keperawatan merupakan data tentang perubahan atau
repons klien terhadap kesehatan dan masalah kesehatannya serta mencakup
data-data yang berhubungan dengan asuhan keperawatan yang akan
dilakukan pada klien.
2. Fokus Pengkajian Keperawatan
Pengkajian fokus merupakan pemilihan data spesifik yang
ditentukan oleh perawat, klien, dan keluarga berdasarkan keadaan
klien.Pengkajian fokus dapat dilakukan selama tahap wawancara jika ada
data yang perlu divalidasi.

3
Penyusunan pengkajian keperawatan tidak sama dengan
pengkajian medis, meskipun kadang-kadang hasil pengkajian keperawatan
dapat mendukung identifikasi diagnosis medis. Pengkajian medis
difokuskan pada keadaan patologis, sedangkan pengkajian keperawatan
ditujukan pada respon klien tehadap masalah-masalah kesehatan yang
berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia.
Sebagai contoh,kemampuan klien untuk melakukan aktivitas
sehari-hari sehingga fokus pengkajiannya adalah pada respons klien yang
saat ini terjadi maupun yang berisiko akan terjadi terhadap masalah-masalah
aktivitas lainnya.
Contoh yang lain, ketika perawat sedang melakukan pemeriksaan
fisik dan mendapatkan data patologis pada klien yaitu terdengarnya suara
jantung (S1 dan S2) sebagai indikator masalah keperawatan sementara.
Perawat dapat menambahkan data-data yang relevan dengan melakukan
pengkajian fokus untuk memastikan adanya masalah keperawatan.
Pada pengkajian fokus, perawat perlu menambahkan pernyataan
atau pemeriksaan fisik lebih lanjut untuk memastikan data-data penunjang
terhadap diagnosis keperawatan yang akan muncul.
Penyusunan data sebagai indikator dari data penunjang diagnosis
keperawatan merupakan suatu kegiatan kognitif yang kompleks dan cukup
sulit.
Misalnya rambut klien tidak tersisir rapi, kuku kotor, baju yang
kumal dan berbau harus ditunjang dengan data-data yang lain agar dapat
merumuskan diagnosis keperawatan “kurangnya perawatan diri”. Tetapi
perawat dapat pula menyimpulkan data tersebut sebagai “cara berdandan
atau berpakaian yang tidak rapi”.Hal ini dapat terjadi karena perawat kurang
memahami perbedaan antara pakaian yang tidak rapi, ketidakmampuan
klien untuk berpakaian atau berdandan, kurangnya minat untuk berpakaian
rapi, atau sudah merupakan kebiasaan klien untuk berpakaian tidak
rapi.Untuk beberapa kasus, munculnya data-data yang signifikan tidak
mempunyai korelasi dengan diagnosis keperawatan misalnya klien

4
mengatakan, “saya minta maaf karena penampilan saya. Tadi sepulang dari
kerja saya langsung buru-buru ke sini dengan naik bus kota”.

B. PENGUMPULAN DATA
1. Tipe Data
Tipe data pada pengkajian keperawatan dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu data subjektif dan data objektif.Penjelasan mengenai kedua tipe
tersebut adalah sebagai berikut :
a. Data Subjektif
Data subjektif adalah data yang didapatkan dari klien
sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian.Data
tersebut tidak dapat ditentukan oleh perawat secara independen tetapi
melalui suatu interaksi atau komunikasi.Data subjektif diperoleh dari
riwayat keperawatan termasuk persepsi klien, perasaan, dan ide
tentang status kesehatannya.Misalnya, penjelasan klien tentang nyeri,
lemah, frustasi, mual, atau malu.Data yang diperoleh dari sumber
lainnya, seperti dari keluarga, konsultan, dan profesi kesehatan
lainnya juga dapat dikategorikan sebagai data subjektif jika didasarkan
pada pendapat klien (Iyer et al., 1996, hlm. 23).
b. Data Objektif
Data objektif adalah data yang dapat diobservasi dan diukur
oleh perawat (Iyer et al., 1996).Data ini diperoleh melalui kepekaan
perawat (senses) selama melakukan pemeriksaan fisik melalui 2S
(sight, smell) dan HT (hearing, touch/taste).Yang termasuk data
objektif adalah frekuensi pernapasan, tekanan darah, adanya edema,
dan berat badan.
Fokus pengumpulan data meliputi:
 Riwayat status kesehatan sebelumnya dan saat ini.
 Pola koping yang pernah digunakan dan yang saat ini digunakan.
 Fungsi status sebelumnya dan saat ini.
 Respons terhadap terapi medis dan intervensi keperawatan.

5
 Risiko untuk masalah potensial.
 Hal-hal yang dapat menjadi dorongan atau kekuatan bagi klien.
2. Karakteristik Data
Data yang dikumpulkan untuk menunjang diagnosis keperawatan
harus mempunyai karakteristik yang lengkap, akurat dan nyata, serta
relevan.Penjelasan mengenai karakteristik-karakteristik tersebut adalah
sebagai berikut.
a. Lengkap

Seluruh data sangat diperlukan untuk mengidentifikasi


masalah keperawatan klien.Oleh karena itu data yang terkumpul harus
lengkap agar dapat membantu perawat untuk mengatasi masalah klien.

Misalnya klien menolak untuk makan dan hal ini sudah


terjadi selama dua hari.Perawat harus mengkaji lebih dalam mengenai
masalah klien tersebut dengan menanyakan apakah klien memang
sengaja tidak makan atau apakah klien sedang tidak mempunyai nafsu
makan.Selain itu, perhatikan dan kaji lebih dalam apakah klien
mengalami perubahan pola makan atau apakah klien mengalami hal-
hal yang patologis. Setelah itu, amati respons klien tersebut.

b. Akurat dan Nyata

Pada proses pengumpulan data perawat mungkin saja


melakukan kesalahan dalam menafsirkan data. Untuk mencegah hal
itu terjadi, perawat harus berpikir secara akurat (tepat) dan
menampilkan data-data yang nyata untuk membuktikan kebenaran
data dari apa yang telah didengar, dilihat, diamati, dan diukur serta
memvalidasi semua data yang meragukan. Jika perawat merasa
kurang jelas atau kurang mengerti terhadap data yang telah
dikumpulkan, maka perawat harus berkonsultasi dengan perawat yang
lebih mengerti.

6
Pada proses pendokumentasian keperawatan, perawat harus
menguraikan perilaku klien dan bukan memperkirakan atau
menginterpretasikan perilaku klien (Taylor et al., 1988). Misalnya
pada saat observasi terlihat bahwa klien selalu diam dan sering
menutup mukanya dengan bantal.Perawat berusaha untuk mengajak
klien berkomunikasi, tetapi klien selalu diam dan tidak menjawab
pertanyaan perawat.Selama sehari klien tidak mau makan makanan
yang diberikan.Jika pada saat pendokumentasian perawat menuliskan
bahwa klien depresi berat, maka perawat telah melakukan perkiraan
dari perilaku klien dan bukan menulis data yang aktual. Catatan
perilaku klien yang akurat dan nyata akan memudahkan tim pelayanan
kesehatan untuk mencari penyebab perilaku klien tersebut.

c. Relevan

Pendokumentasian data yang komprehensif harus


mengumpulkan banyak data sehingga akan mengambil waktu yang
diperlukan perawat untuk mengidentifikasi data-data tersebut. Kondisi
ini dapat diantisipasi dengan melakukan pendokumentasian data fokus
yang relavan dan sesuai dengan masalah klien pada situasi khusus
sehingga akan didapatkan data yang komprehensif namun cukup
singkat dan jelas.

C. SUMBER DATA

Data-data yang dikumpulkan dapat diperoleh tidak hanya dari klien tetapi
dari orang terdekat (keluarga) klien, catatan klien, riwayat penyakit terdahulu,
konsultasi dengan terapis, hasil pemeriksaan diagnostik, catatan medis, dan
sumber kepustakaan.Penjelasan mengenai sumber-sumber data tersebut adalah
sebagai berikut.

7
1. Klien
Klien adalah sumber data yang utama (primer) dan perawat dapat
menggali informasi yang sebenarnya mengenai masalah kesehatan klien.
Jika klien mengetahui bahwa informasi yang disampaikan akan membantu
memecahkan masalahnya sendiri maka klien akan dengan mudah
memberikan informasi kepada perawat. Perawat harus mampu
mengidentifikasi masalah ataupun kesulitan-kesulitan klien agar dapat
memperoleh data yang benar dan lancar.
Misalnya, didapatkan klien dengan kesadaran menurun, mengeluh
nyeri, dan ketakutan selain itu diperoleh data bahwa klien mengalami
gangguan dalam berkomunikasi. Jika perawat mendapatkan data yang
berbeda dari keadaan fisik atau perilaku klien, maka perawat harus
menginformasikan data tersebut kepada sumber yang lain. Hal ini dapat
terjadi pada klien dengan ganguan mental.
2. Orang Terdekat

Pada klien yang mengalami gangguan dalam berkomunikasi


ataupun kesadaran yang menurun data dapat diperoleh dari orang tua,
suami/istri, anak, atau teman klien.Pada klien yang masih anak-anak, data
dapat diperoleh dari ibu atau orang yang menjaga anak selama dirumah
sakit.

3. Catatan Klien

Catatan klien ditulis oleh anggota tim kesehatan dan dapat


dipergunakan sebagai sumber data dalam riwayat keperawatan. Untuk
menghindari pengulangan yang tidak perlu maka sebelum mengadakan
interaksi kepada klien, perawat hendaknya membaca catatan klien terlebih
dahulu. Hal ini membantu perawat untuk fokus dalam mengkaji data dan
memperluas data yang akan diperoleh dari klien.

8
4. Riwayat Penyakit

Pemeriksaan fisik (physical examination) dan catatan


perkembangan merupakan riwayat penyakit yang diperoleh dari terapis.Data
yang diperoleh merupakan data fokus pada identifiklasi patologis yang
bertujuan untuk menentukan rencana intervensi medis.

5. Konsultasi

Kadang-kadang terapis memerlukan konsultasi dengan tim


kesehatan spesialis, khususnya dalam menentukan diagnosis medis atau
dalam merencanakan dan melakukan tindakan medis. Informasi tersebut
dapat diambil guna membantu menegakkan diagnosis medis.

6. Hasil Pemeriksaan Diagnostik

Hasil pemeriksaan laboratorium dan tes diagnostik dapat


digunakan perawat sebagai data objektif yang disesuaikan dengan masalah
kesehatan klien.Hasil pemeriksaan diagnostik dapat membantu terapis untuk
menetapkan diagnosis medis dan membantu perawat untuk mengevaluasi
keberhasilan asuhan keperawatan.

7. Catatan Medis dan Anggota Tim Kesehatan Lainnya

Anggota tim kesehatan lain juga merupakan personel yang


berhubungan dengan klien. Mereka memberikan intervensi, mengevaluasi,
dan mendokumentasikan hasilnya pada status klien sesuai dengan
speasialisasinya masing-masing.Catatan kesehatan yang terdahulu dapat
dipergunakan sebagai sumber data yang mendukung rencana asuhan
keperawatan.

8. Perawat Lain

Jika klien adalah rujukan dari pelayanan kesehatan lain, maka


perawat harus meminta data-data klien sebelumnya kepada perawat yang

9
dulu merawatnya. Hal ini dimaksudkan untuk kesinambungan dari asuhan
keperawatan yang telah diberikan.

9. Kepustakaan

Untuk memperoleh data dasar klien yang komprehensif, perawat


dapat membaca literatur yang berhubungan dengan masalah klien.Membaca
literatur sangat membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan
yang benar dan tepat.

D. METODE PENGUMPULAN DATA


Pengumpulan data pada tahap pengkajian dapat dilakukan dengan
menggunakan tiga metode, yaitu komunikasi, observasi, dan pemeriksaan
fisik.Metode tersebut sangat bermanfaat bagi perawat dalam melakukan
pendekatan kepada klien pada tahap pengumpulan data, perumusan diagnosis
keperawatan, dan perencanaan secara rasional dan sistematik.Penjelasan mengenai
metode-metode tersebut adalah sebagai berikut.
1. Komunikasi

Interaksi perawat dengan klien harus berdasarkan


komunikasi.Komunikasi yang dilakukan perawat dengan kliennya
merupakan komunikasi terapeutik.Komunikasi terapeutik merupakan suatu
teknik yang mengkaji klien dan keluarga untuk bertukar pikiran dan
perasaan.Teknik tersebut mencakup keterampilan secara verbal maupun
nonverbal, empati, dan rasa kepedulian yang tinggi.Teknik verbal meliputi
pertanyaan terbuka atau tertutup, menggali jawaban, dan memvalidasi
respons klien.Teknik nonverbal meliputi mendengarkan secara akif, diam,
sentuhan, dan kontak mata.Mendengarkan secara aktif merupakan suatu hal
yang penting dalam pengumpulan data tetapi juga merupakan sesuatu yang
cukup sulit untuk dipelajari. Unsur-unsur yang penting dalam
mendengarkan secara aktif meliputi:

10
 Memerhatikan pesan yang disampaikan dan menghubungkan dengan
yang sedang dipikirkan.
 Mengurangi hambatan-hambatan yang terjadi.
 Mengatur posisi duduk yang sesuai (berhadapan, jarak yang sesuai, cara
duduk, dan lain-lain).
 Menghindarkan terjadinya interupsi.
 Menyimak setiap perkataan klien dengan penuh rasa empati.
 Memberikan kesempatan kepada klien untuk beristirahat.

TABEL 2.1.Hambatan yang Terjadi selama Mendengarkan secara Aktif

Internal

 Pandangan atau pendapat klien berbeda dengan persepsi klien


 Cara bicara klien atau penampilan klien berbeda
 Klien dalam keadaan cemas atau nyeri
 Klien memberitahukan sesuatu kepada perawat bahwa dia tidak ingin
mendengar sesuatu hal
 Perawat merasa tidak senang dengan perawat lainnya
 Perawat berpikir sesuatu hal yang lain
 Perawat sedang merencanakan pertanyaan berikutnya
 Perawat merasa terburu-buru
 Perawat sangat gelisah atau menggebu-gebu dalam bertanya

Eksternal

 Suara gaduh dari peralatan, pembicaraan, TV, radio, dan lain-lain


 Kurangnya privasi
 Ruangan atau tempat yang tidak memadai untuk berbicara
 Adanya interupsi atau pertanyaan dari perawat lainnya

Wawancara merupakan suatu metode komunikasi yang


direncanakan dan meliputi tanya jawab antara perawat dengan klien yang

11
berhubungan dengan masalah kesehatan klien. Untuk itu kemampuan
komunikasi sangat dibutuhkan oleh perawat agar dapat memperoleh data
yang diperlukan.

Tujuan wawancara pada pengkajian keperawatan adalah (1)


Mendapatkan informasi yang diperlukan untuk mengidentifikasi dan
merencanakan asuhan keperawatan, (2) Meningkatkan hubungan perawat-
klien dengan adanya komunikasi, (3) Membantu klien untuk memperoleh
informasi akan kesehatannya dan ikut berpartisipasi dalam identifikasi
masalah dan pencapaian tujuan asuhan keperawatan, dan (4) Membantu
perawat untuk menentukan pengkajian lebih lanjut (Iyet et al., 1996).

Komunikasi dalam keperawatan merupakan suatu proses yang


kompleks dan memerlukan kemampuan (skill) berkomunikasi dan
berinteraksi. Hal ini berbeda dengan wawancara yang dilakukan profesi
kesehatan lain, di mana komunikasi keperawatan difokuskan pada
identifikasi respons klien yang dapat diatasi melalui asuhan keperawatan.

Komunikasi dalam keperawatan digunakan untuk memperoleh riwayat


keperawatan.Riwayat keperawatan merupakan data yang khusus dan harus
didokumentasikan, sehingga rencana asuhan keperawatan dapat dibuat
sesuai dengan kebutuhan klien. Riwayat keperawatan sebaiknya sudah
diperoleh ketika klien baru masuk rumah sakit karena riwayat tersebut akan
memudahkan perawat untuk mengidentifikasi kemampuan dan kelemahan
klien, menimbulkan risiko terjadinya gangguan fungsi kesehatan, dan
mengatasi masalah-masalah keperawatan yang aktual maupun potensial
(Gordon, 1982).

a. Tahapan Komunikasi

Komunikasi dalam keperawatan yang dilakukan dengan


wawancara untuk memperoleh data harus terdiri dari empat tahapan,
yaitu persiapan, perkenalan (pembukaan), kerja (isi), dan

12
terminasi.Penjelasan mengenai empat tahap tersebut adalah sebagai
berikut.

1). Persiapan
Sebelum berkomunikasi dengan klien, perawat
harus melakukan persiapan salah satunya dengan membaca
status (rekam medis) klien. Perawat diharapkan tidak
mempunyai prasangka buruk terhadap klien karena akan
mengganggu hubungan saling percaya yang terjalin antara
perawat dan klien. Seorang perawat profesional harus belajar
dan peka terhadap kebutuhan klien dan mampu menciptakan
lingkungan yang terapeutik.Jika klien belum bersedia untuk
berkomunikasi, maka perawat tidak boleh memaksa dan harus
menunggu sampai klien sampai klien siap untuk
berkomunikasi.Hal ini penting dilakukan karena klien
mempunyai hak dan wewenang untuk dirawat atau tidak
(Stunton dan Whyburn, 1993).
Pengaturan posisi duduk dan teknik yang akan
digunakan dalam wawancara harus disusun dengan baik agar
memperlancar proses komunikasi. Teknik-teknik tersebut akan
dijelaskan pada proses komunikasi berikutnya.
2). Perkenalan (Pembukaan)

Pada tahap ini, mulai terjalin hubungan yang


terapeutik antara perawat dengan klien. Perawat profesional
dengan perilaku yang baik akan membantu terciptanya
lingkungan yang nyaman. Hal ini yang sangat penting dalam
proses perkenalan (pembukaan) adalah pendekatan yang
dilakukan oleh perawat, yaitu dengan memberikan
penghargaan yang positif terhadap klien. Langkah pertama
pada tahap perkenalan adalah memperkenalkan diri (nama dan
peran), memberitahu tujuan wawancara dan faktor-faktor yang

13
menjadi pokok pembicaraan, serta waktu yang akan
diperlukan.

Dalam membina hubungan saling percaya dengan


klien, perawat perlu memberikan informasi kepada klien
mengenai data yang sudah terkumpul seperti tempat dan cara
menyimpan data-data tersebut serta siapa saja yang berhak
mengetahui dan mempergunakannya. Data-data yang telah
diperoleh tersebut akan sangat membantu perawat dalam
menentukan tahap proses keperawatan selanjutnya.

3). Kerja (Isi)

Pada tahap ini, perawat memfokuskan arah


pembicaraan pada masalah kesehatan yang ingin dikaji.Data
yang diperoleh didapatkan dari keluhan-keluhan klien dan
sekaligus data mengenai riwayat penyakit sebelumnya, riwayat
keluarga, agama, dan budaya.Wawancara dapat dilakukan di
mana saja seperti di rumah sakit, klinik, dan/atau rumah klien
pada saat melakukan perawatan di rumah (nursing home).Hal-
hal yang perlu di perhatikan dalam berkomunikasi adalah
sebagai berikut.

 Memfokuskan wawancara pada klien. Perawat harus


menunjukkan rasa ingin tahu dan rasa ikut terlibat dengan
memanggil nama klien, melakukan kontak mata, dan
menghindari perdebatan dengan klien.
 Mendengarkan klien dengan penuh perhatian dan
menggunakan teknik komunikasi refleksi dan penjelasan
agar klien dapat mengerti dan memahami apa yang
disampaikan perawat.
 Menanyakan masalah yang paling dirasakan klien dengan
menggunakan kata yang mudah dimengerti oleh klien. Jika

14
klien tidak mampu untuk terus berkomunikasi, perawat
dapat mengakhiri wawancara dan membuat kontrak waktu
untuk pertemuan selanjutnya.
 Menggunakan pertanyaan tertutup (closed-ended questions)
untuk memperoleh data yang spesifik dan menggunakan
pertanyaan terbuka (open-ended questions) untuk
memperoleh data yang memerlukan penjelasan atau uraian
dari klien. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat
bermanfaat dalam memvalidasi atau mengklarifikasi data
yang kurang jelas.
 Menggunakan teknik komunikasi diam jika diperlukan.
Teknik ini memberikan kesempatan kepada klien untuk
mengungkapkan perasaannya tanpa harus terpotong oleh
pertanyaan perawat yang terus-menerus.
 Menggunakan teknik komunikasi sentuhan. Teknik ini
diperlukan jika situasi dan kondisi memungkinkan serta
bertujuan memberikan dorongan spiritual, merasa di
perhatikan, dan mempunyai teman. Teknik ini dapat
dilakukan pada klien dengan masalah depresi yang berat
dan memerlukan rasa “tidak ditinggalkan”. Akan tetapi
penggunaan teknik tersebut harus hati-hati dan harus
memerhatikan norma, budaya, dan agama dari klien.

Penguasaan teknik komunikasi yang memadai dari perawat yang


akan sangat membantu dalam proses pengkajian data dan
memengaruhi klien dalam menilai “arti” wawancara (negatif/positif).

4). Terminasi
Tahap akhir dalam wawancara adalah terminasi
(penutupan). Pada tahap ini perawat memberitahukan klien bahwa
wawancara akan segera berakhir. Oleh karena itu, klien harus
diberitahukan sejak tahap perkenalan tentang tujuan dan waktu yang

15
diperlukan untuk wawancara sehingga diharapkan pada tahap
terminasi ini perawat dan klien mampu menilai keberhasilan dan dapat
mengambil kesimpulan bersama.Jika diperlukan, perawat perlu
membuat kontrak waktu lagi untuk pertemuan selanjutnya.
2. Observasi

Metode pengumpulan data yang kedua adalah observasi.Observasi


merupakan kegiatan mengamati perilaku dan keadaan klien untuk
memperoleh data tentang masalah kesehatan klien.Observasi memerlukan
keterampilan disiplin dan praktik klinik sebagai bagian dari tugas
perawat.Kegiatan observasi meliputi 2S-HFT (sight, smell, hearing, feeling,
taste).Kegiatan tersebut mencakup aspek fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Sight = Kelainan fisik, pendarahan, terbakar, menangis, dan seterusnya.

Smell = Alkohol, darah, feses, obat-obatan, urine, dan seterusnya.

Hearing = Tekanan darah, batuk, menangis, ekspresi nyeri, denyut dan


ritme jantung.

Feeling = Perasaan yang dirasakan oleh klien.

Taste = Hal yang dirasakan oleh indra pengecapan.

3. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik (physical examination) dalam pengkajian


keperawatan dipergunakan untuk memperoleh data objektif dari
klien.Tujuan dari pemeriksaan fisik ini adalah untuk menentukan status
kesehatan klien, mengidentifikasi masalah kesehatan, dan memperoleh data
dasar guna menyusun rencana asuhan keperawatan.Pemeriksaan fisik
sebaiknya dilaksanakan bersamaan dengan wawancara.Fokus pemeriksaan
fisik yang dilakukan perawat adalah pada kemampuan fungsional
klien.Misalnya, pada klien dengan gangguan sistem pernapasan maka

16
perawat mengkaji apakah gangguan tersebut memengaruhi klien dalam
melaksanakan kegiatan sehari-hari.

Jika pemeriksaan fisik yang dilakukan perawat bertujuan untuk


menegakkan diagnosis medis (dilaporkan kepada dokter), maka
pemeriksaan yang dilakukan hanya difokuskan pada data-data yang
diperlukan.

Yang terpenting di sini adalah menekankan kemampuan


keterampilan perawat untuk melakukan pemeriksaan fisik.Misalnya,
perawat harus mempunyai kemampuan mengidentifikasi tanda peningkatan
tekanan intrakranial dan tidak perlu difokuskan pada pengkajian sistem
persarafan.Tetapi bukan berarti perawat generalis (umum) tidak perlu
mempelajari keterampilan yang tinggi.

a. Teknik Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dapat dilakukan melalui empat teknik,


yaitu inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi (IPPA).Penjelasan
mengenai pemeriksaan fisik tersebut adalah sebagai berikut.

Inspeksi. Inspeksi merupakan proses observasi yang dilaksanakan


secara sistematik. Inspeksi dilakukan dengan menggunakan indra
penglihatan, pendengaran, dan penciuman sebagai alat untuk
mengumpulkan data. Inspeksi dimulai pada awal berinteraksi dengan
klien dan diteruskan pada pemeriksaan selanjutnya.Penerangan yang
cukup sangat diperlukan agar perawat dapat membedakan warna,
bentuk, dan kebersihan tubuh.

Fokus inspeksi pada setiap bagian tubuh meliputi ukuran


tubuh, warna kulit, bentuk tubuh, serta posisi dan kesimetrisan tubuh.
Pada proses inspeksi perawat harus membandingkan bagian tubuh
yang normal dengan bagian tubuh yang abnormal.

17
Palpasi. Palpasi merupakan teknik pemeriksaan yang menggunakan
indra peraba. Tangan dan jari-jari adalah instrumen yang sensitif dan
dapat digunakan untuk mengumpulkan data tentang suhu, turgor,
bentuk, kelembapan, vibrasi, dan ukuran.

Langkah-langkah yang perlu di perhatikan selama melakukan palpasi:

 Ciptakan lingkungan yang kondusif, nyaman, dan santai.


 Tangan perawat harus dalam keadaan yang kering dan hangat
serta kuku-kuku jari harus dipotong rapi dan pendek.
 Bagian yang nyeri di palpasi paling terakhir.

Perkusi. Perkusi merupakan teknik pemeriksaan dengan mengetuk-


ngetukkan jari perawat (sebagai alat untuk menghasilkan suara) ke
bagian tubuh klien yang akan dikaji untuk membandingkan bagian
yang kiri dengan yang kanan. Perkusi bertujuan untuk
mengidentifikasi lokasi, ukuran, bentuk, dan konsistensi jaringan.

Suara-suara yang akan ditemui perkusi:

 Sonor: Suara perkusi jaringan normal.


 Pekak: Suara perkusi jaringan padat yang terdapat jika ada cairan
di rongga pleura, perkusi daerah jantung, dan perkusi daerah
hepar.
 Redup: Suara perkusi jaringan yang lebih padat atau konsolidasi
paru-paru, seperti pneumonia.
 Hipersonor atau timpani: Suara perkusi pada daerah yang
mempunyai rongga-rongga kosong seperti pada daerah caverna-
caverna paru dan klien dengan asma kronik. Pada klien yang
mempunyai bentuk dada Barrel-chest akan terdengar seperti
ketukan pada benda-benda kosong dan bergema.

18
Auskultasi.Auskultasi merupakan teknik pemeriksaan dengan
menggunakan stetoskop untuk mendengarkan bunyi yang dihasilkan
oleh tubuh.

Ada empat ciri-ciri bunyi yang perlu dikaji dengan auskultasi, yaitu:

(1) Pitch (bunyi yang tinggi ke rendah).


(2) Keras (bunyi yang halus ke keras).
(3) Kualitas (menguat sampai melemah).
(4) Lama (pendek, menengah, panjang).

Bunyi tambahan atau bunyi tidak normal yang dapat ditemukan pada
saat auskultasi jantung dan napas meliputi:

 Rales: Bunyi ini dihasilkan oleh eksudat yang lengket saat saluran-
saluran halus pernapasan mengembang pada inspirasi (rales halus,
sedang, dan kasar). Sering terjadi pada peradangan jaringan paru
(pneumonia dan TB paru).
 Ronchi: Nada rendah dan sangat kasar yang terdengar pada saat
inspirasi maupun ekspirasi. Ronchi akan hilang bila klien batuk.
Sering dijumpai pada klien dengan edema paru.
 Wheezing: Bunyi musikal yang terdengar “ngiiiii....ik” atau
pendek “ngik”. Dapat dijumpai pada fase inspirasi dan ekspirasi.
Sering terdapat pada klien dengan bronchitis akut.
 Pleural Friction Rub: Bunyi yang terdengar “kering” persis
seperti suara gosokan amplas pada kayu. Sering terjadi pada klien
dengan peradangan pleura.
b. Pendekatan Pemeriksaan Fisik
Pendekatan yang dilakukan pada saat melakukan pemeriksaan fisik
dapat menggunakan pendekatan dari kepala sampai ke kaki (head-to-
toe), pendekatan melalui fungsi sistem tubuh (review of system), dan
pendekatan dengan menggunakan pola fungsi kesehatan Gordon

19
(1982).Penjelasan mengenai pendekatan-pendekatan tersebut adalah
sebagai berikut.
(1) Pendekatan dari kepala sampai ke kaki (head-to-toe)
Pendekatan ini dilakukan secara berurutan mulai dari kepala
sampai kaki:
Keadaan umum, tanda-tanda vital, kepala, wajah, mata,
telinga, hidung, mulut dan tenggorokan, leher, dada, paru,
jantung, abdomen, ginjal, genitalia, rektum, ekstremitas, dan
punggung (Iyer et al., 1986, hlm. 49).
(2) Pendekatan melalui fungsi sistem tubuh (review of system)
Pada pendekatan ini perawat melakukan pemeriksaan sistem
tubuh secara keseluruhan.Data yang didapat dari wawancara
dan observasi membantu perawat untuk menentukan sistem
tubuh mana yang perlu dilakukan pengkajian lebih
lanjut.Lingkup pemeriksaan fungsi sistem tubuh meliputi
keadaan umum, tanda-tanda vital, sistem pernapasan, sistem
kardiovaskular, sistem persarafan, sistem perkemihan, sistem
pencernaan, sistem muskuloskeletal dan integumen, dan sistem
reproduksi.
(3) Pendekatan dengan menggunakan pola fungsi kesehatan
Gordon (1982)
Pendekatan ini memungkinkan perawat untuk mengumpulkan
data secara sistematis dengan cara mengevaluasi pola fungsi
kesehatan dan memfokuskan pemeriksaan fisik pada masalah
yang khusus. Pola fungsi kesehatan meliputi persepsi
kesehatan-kesehatan-penatalaksanaan kesehatan, nutrisi-pola
metabolisme, pola eliminasi, pola tidur-istirahat, kognitif-pola
perseptual, peran-pola hubungan, aktivitas-pola latihan,
seksualitas-pola reproduktif, koping-pola toleransi stres, dan
nilai pola keyakinan.

20
4. Masalah-masalah dalam Pengumpulan Data
Masalah-masalah yang mungkin terjadi selama proses
pengumpulan data adalah ketidakmampuan perawat dalam mengorganisasi
data dasar, kehilangan data yang telah diperoleh tidak relevan, adanya
duplikasi data, salah memersepsikan data, data yang tidak lengkap, adanya
interpretasi data dalam mengobservasi perilaku, dan kegagalan dalam
mengambil data dasar terbaru.

21