Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

METODE ASUHAN KEPERAWATAN PRIMER, MODULAR, TIM, KASUS


DAN FUNGSIONAL
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Manajemen Keperawatan
Dosen Pembimbing: Yustan Azidin, Ns., M.Kep

DISUSUN OLEH

Kelompok 2

AMALIA HARDIYANTI
AYU MAULIDYA RIZKA
ERNAWATI
ESTI MEILINDA
FARID MA’RUF
HELENA ADVENTIA
ISMI NORAIDA
JULIAN ANDREA CALMETTE
MUHAMMAD RAFI’IE AL ARIF

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
S1 KEPERAWATAN B ALIH JENIS
TAHUN AJARAN 2019/2020
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Asuhan keperawatan merupakan titik sentral dalam pelayanan keperawatan,
oleh karena itu manajemen asuhan keperawatan yang benar akan
meningkatkan mutu pelayanan asuhan keperawatan. Tujuan asuhan
keperawatan adalah untuk memandirikan pasien sehingga dapat berfungsi
secara optimal. Untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan manajemen
asuhan keperawatan yang profesional, dan salah satu faktor yang menentukan
dalam manajemen tersebut adalah bagaimana asuhan keperawatan diberikan
oleh perawat melalui berbagai pendekatan metode asuhan keperawatan yang
diberikan.Penetapan dan keberhasilan metode pemberian asuhan keperawatan
yang digunakan di suatu rumah sakit sangat dipengaruhi oleh banyak faktor,
diantaranya adalah bagaimana pemahaman perawat tentang metode-metode
asuhan keperawatan tersebut.

Banyak metode praktek keperawatan yang telah dikembangkan selama 35


tahun terakhir ini, yang meliputi keperawatan fungsional, keperawatan tim,
keperawatan primer, praktik bersama, dan manajemen kasus. Setiap unit
keperawatan mempunyai 2 upaya untuk menyeleksi metode yang paling tepat
berdasarkan kesesuaian antara ketenagaan, sarana dan prasarana, dan
kebijakan rumah sakit. Katagori pasien didasarkan atas, tingkat pelayanan
keperawatan yang dibutuhkan pasien , Usia, Diagnosa atau masalah kesehatan
yang dialami pasien dan terapi yang dilakukan (Bron , 1987).

Pelayanan yang profesional identik dengan pelayanan yang bermutu, untuk


meningkatkan mutu asuhan keperawatan dalam melakukan kegiatan
penerapan standart asuhan keperawatan dan pendidikan berkelanjutan. Dalam
kelompok keperawatan yang tidak kalah pentingnya yaitu bagaimana caranya
metode penugasan tenaga keperawatan agar dapat dilaksanakan secara teratur,
efesien tenaga, waktu dan ruang, serta meningkatkan ketrampilan dan
motivasi kerja. Menurut Tappen (1995), metode pemberian asuhan
keperawatan ada enam macam, yaitu: metode kasus, metode fungsional,
metode tim, metode primer, metode manajemen perawatan, dan metode
perawatan berfokus pada pasien

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa Definisi Metode Asuhan Keperawatan?
1.2.2 Apa Tujuan Metode Pemberian Askep?
1.2.3 Apa Fakto-Faktor Yang Mempengaruhi Metode Pemberian Askep?
1.2.4 Apa Dasar Pertimbangan Pemilihan Metode Asuhan Keperawatan?
1.2.5 Apa saja Metode Asuhan Keperawatan?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk Mengetahui Definisi Metode Asuhan Keperawatan
1.3.2 Untuk Mengetahui Tujuan Metode Pemberian Askep
1.3.3 Untuk Mengetahui Fakto-Faktor Yang Mempengaruhi Metode
Pemberian Askep
1.3.4 Untuk Mengetahui Dasar Pertimbangan Pemilihan Metode Asuhan
Keperawatan
1.3.5 Untuk Mengetahui Metode Asuhan Keperawatan
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi Metode Asuhan Keperawatan


Sistem MAKP adalah suatu kerangka kerja yang mendefinisikan empat
unsur, yakni: standar, proses keperawatan, pendidikan keperawatan,
dan sistem MAKP. Definisi tersebut berdasarkan prinsip-prinsip nilai
yang diyakini dan akan menentukan kualitas produksi/jasa layanan
keperawatan. Jika perawat tidak memiliki nilai-nilai tersebut sebagai
sesuatu pengambilan keputusan yang independen, maka tujuan
pelayanan kesehatan/keperawatan dalam memenuhi kepuasan pasien
tidak akan dapat terwujud.

Hoffart & Woods (1996) juga menyebutkan Sistem MAKP (metode asuhan
kepewatan professional) adalah sebagai suatu sistem (struktur, proses dan
nilai- nilai) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian
asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan
tersebut.

Menurut Marquis & Huston (1998) perlu mempertimbangkan 6 unsur utama


dalam penentuan pemilihan metode pemberian asuhan keperawatan yaitu:
2.1 1.Sesuai dengan visi dan misi institusi
2.2 2.Dapat diterapkan proses keperawatan dalam asuhan keperawatan.
2.3 3.Efisien dan efektif penggunaan biaya.
2.4 4.Terpenuhinya kepuasan klien, keluarga dan masyarakat.
2.5 5.Kepuasan kinerja perawat.
2.6 6.Terlaksananya komunikasi yang adekuat antara perawat dan tim
kesehatan lainnya
Menurut Grant & Massey (1997) dan Marquis & Huston (1998) ada 5 metode
pemberian asuhan keperawatan profesional yang dikembangkan dalam
pelayanan keperawatan, yaitu:
1) Metode Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Fungsional
2) Metode Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Metode Kasus
3) Metode Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Primer
4) Metode Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Tim
5) Sistem manejemen kasus

2.2 Tujuan Metode Pemberian Askep


2.2.1 Menjaga konsistensi asuhan keperawatan.
2.2.2 Mengurangi konflik, tumpang tindih dan kekososongan pelaksanaan
asuhan keperawatan oleh tim keperawatan
2.2.3 Menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan.
2.2.4 Memberikan pedoman dalam menentukan kebijakan dan keputusan
2.2.5 Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan
keperawatan bagi setiap tim keperawatan

2.3 Fakto-Faktor yang Mempengaruhi Metode Pemberian Askep


2.3.1 Kualitas Pelayanan Keperawatan
2.3.2 Standar Praktik Keperawatan
2.3.3 Metode Praktik
2.3.4 Manajerial Grid

2.4 Dasar Pertimbangan Pemilihan Metode Asuhan Keperawatan


Mc. Laughin, Thomas dean Barterm (1995) mengidentifikasikan 5 metode
pemberian asuhan keperawatan, tetapi metode yang umum dilakukan di
rumah sakit adalah Keperawatan Tim dan Keperawatan Primer. Karena setiap
perubahan akan berdampak terhadap suatu stress, maka perlu
mempertimbangkan 6 unsur utama dalam penentuan pemilihan metode
pemberian asuhan keperawatan (Marquis & Huston, 1998; 143) yaitu:
1. Sesuai dengan visi dan misi intitusi
Dasar utama penentuan metode pemberian asuhan keperawatan harus
didasarkan pada visi dan misi rumah sakit.
2. Dapat diterapkannya proses keperawatan dalam asuhan keperawatan
Proses keperawatan merupakan unsur penting terhadap kesinambungan
asuhan keperawatan pada pasien. Keberhasilan dalam asuhan
keperawatan sangat ditentukan oleh pendekatan proses keperawatan.
3. Efisien dan efektif penggunaan biaya
Setiap suatu perubahan, harus selalu mempertimbangkan biaya dan
efektifitas dalam kelancaran pelaksanaanya. Bagaimana baiknya suatu
metode, tanpa ditunjang oleh biaya memadai, maka tidak akan didapatkan
hasil yang sempurna.
4. Terpenuhinya kepuasan klien, keluarga dan masyarakat
Tujuan akhir asuhan keperawatan adalah kepuasan pelanggan atau pasien
terhadap asuhan yang diberikan oleh perawat. Oleh karena itu metode
yang baik adalah metode asuhan keperawatan yang dapat menunjang
terhadap kepuasan pelanggan.
5. Kepuasan kinerja perawat
Kelancaran pelaksanaan suatu metode sangat ditentukan oleh motivasi
dan kinerja perawat. Oleh karena itu metode yang dipilih harus dapat
meningkatkan kepuasan perawat bukan justru menambah beban kerja dan
frustasi dalam pelaksanaannya.
6. Terlaksananya komunikasi yang adekuat antara perawat dan tim
kesehatan lainnya
Komunikasi secara profesional sesuai dengan lingkup tanggung jawab
merupakan dasar pertimbangan penentuan metode. Metode asuhan
keprawatan diharapkan dapat meningkatkan hubungan interpersonal yang
baik antara perawat dan tenaga kesehatan lainnya.
2.5 Metode Asuhan Keperawatan
2.5.1 Metode primer
Metode keperawatan primer merupakan suatu metode pemberian
asuhan keperawatan, dimana seorang perawat register bertanggung
jawab dan bertanggung gugat untuk memberikan asuhan keperawatan
kepada pasien dalam 24 jam. Metode keperawatan primer berkembang
pada awal tahun 1970-an menggunakan beberapa konsep pelayanan
keperawatan total dan membawa perawat teregister kembali ke sisi
tempat tidur untuk memberikan pelayanan klinis. Sesungguhnya
Manthey (2001) dalam Marquis, B.L. & Huston, C., J. (2002)
menganjurkan bahwa hanya keperawatan primer jenis pemberian
pelayanan pasien yang mengharuskan hubungan perorangan antara
seorang perawat dan pasien dengan tanggung jawab dalam perencanaan
dan pengelolaan pelayanan secara jelas. Keperawatan primer didesain
dengan seorang tenaga keperawatan profesional terhadap 4-5 klien
sebagai perawat primer yang bertanggung jawab terhadap kondisi klien,
semua kebutuhan dan koordinasi dengan tim kesehatan lainnya.

Perawat primer bertangungjawab mulai klien masuk sampai pulang.


Perawat Primer bertangungjawab untuk mengadakan komunikasi dan
koordinasi dalam merencanakan asuhan keperawatan dan juga akan
membuat rencana pulang klien jika diperlukan. Pada saat tidak bertugas
perawat primer lain bertindak sebagai perawat asosiet. Tanggung jawab
penting perawat primer adalah mengatur komunikasi yang jelas di
antara pasien, dokter, perawat asosiet, dan tim kesehatan lainnya.
Kombinasi komunikasi yang baik dan keberadaan interdisiplin dalam
satu grup dalam memberikan pelayanan langsung meningkatkan
kualitas pelayanan pasien secara holistic. Meskipun kepuasan kerja
tinggi dalam keperawatan primer, metode ini sulit diimplementasikan
karena dibutuhkan tanggung jawab dan otonomi yang tinggi dari
perawat primer. Sehingga bila perawat mengembangkan
kemampuannya dalam pemberian pelayanan keperawatan primer,
mereka akan merasa tertantang dan harus mendapatkan harga yang
setimpal.

Berikut beberapa keuntungan dan kerugian metode keperawatan primer:


a. Keuntungan
- Metode praktek keperawatan profesional dapat dilakukan atau
diterapkan.
- Memungkinkan asuhan keperawatan yang komprehensif
- Memungkinkan penerapan proses keperawatan
- Memberikan kepuasan kerja bagi perawat
- Memberikan kepuasan bagi klien dan keluarga menerima asuhan
keperawatan

b. Kerugian
- Hanya dapat dilakukan oleh perawat professional
- Biaya relatif lebih tinggi dibandingkan metode lain
2.5.2 Metode modular
Metode keperawatan modul merupakan metode modifikasi keperawatan
tim – primer, yang dilaksanakan untuk meningkatkan efektifitas konsep
keperawatan tim melalui penugasan modular. Perawat profesional dan
vokasional bekerjasama dalam merawat sekelompok klien dari mulai
masuk ruang rawat hingga pulang (tanggung jawab total)
Metode ini juga memerlukan perawat yg berpengetahuan luas dan
trampil, kemampuan kepemimpinan baik dimana pengorganisasian
pelayanan/asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat profesional
dan non profesional (trampil) untuk sekelompok klien dari mulai masuk
rumah sakit sampai pulang disebut tanggung jawab total atau
keseluruhan. Untuk metode ini diperlukan perawat yang
berpengetahuan, terampil dan memiliki kemampuan kepemimpinan.
idealnya 2-3 perawat untuk 8 – 12 orang klien.
a. Keuntungan dan Kerugian
- Sama dengan gabungan antara metode tim dan metode
keperawatan primer.
- Semua metode di atas dapat digunakan sesuai dengan situasi dan
kondisi ruangan. Jumlah staf yang ada harus berimbang sesuai
dengan yang telah dibahas pembicara yang sebelumnya. Selain
itu kategori pendidikan tenaga yang ada perlu diperhatikan sesuai
dengan kondisi ketenagaan yang ada saat ini di Indonesia
- Khususnya di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo metode tim
lebih memungkinkan untuk digunakan, selain itu menurut
organisasi rumah sakit Amerika bahwa dari hasil penelitian
dinyatakan 33% rumah sakit menggunakan metode Tim, 25%
perawatan total/alokasi klien, 15% perawatan primer dan 12%
metode fungsional (Kron & Gray, 1987).

2.5.3 Metode tim


Metode tim keperawatan yaitu pengorganisasian pelayanan
keperawatan oleh sekelompok klien dan sekelompok klien. Kelompok
ini dipimpin oleh perawat profesional yang berpengalaman serta
memiliki pengetahuan dalam bidangnya (registered nurse).
Pembagian tugas di dalam kelompok dilakukan oleh pimpinan
kelompok/ketua tim. Selain itu ketua tim bertanggung jawab dalam
mengarahkan anggota grup/tim. Sebelum tugas dan menerima laporan
kemajuan pelayanan keperawatan klien serta membantu anggota tim
dalam menyelesaikan tugas apabila menjalani kesulitan. Selanjutnya
ketua tim yang melaporkan pada kepala ruangan tentang kemajuan
pelayanan/asuhan keperawatan terhadap klien.

Tim keperawatan dikembangkan pada tahun 1950-an dalam upaya


mengurangi masalah yang berhubungan dengan fungsi
pengorganisasian pelayanan pasien. Banyak yang percaya meskipun
terus-menerus kekurangan staf perawat professional, system pelayanan
pasien harus dikembangkan untuk mengurangi pelayanan yang terpilah-
pilah dari metode keperawatan fungsional. Dalam keperawatan tim,
tenaga pendukung berkolaborasi dalam memberikan pelayanan terhadap
sekelompok pasien di bawah arahan seorang perawat professional.
Seorang ketua tim bertanggung jawab mengetahui kondisi dan
kebutuhan seluruh pasien yang dirawat oleh tim. Kewajiban ketua tim
bergantung kepada kebutuhan pasien dan beban kerja, termasuk
membantu anggota tim, memberikan pelayanan langsung kepada
pasien, mendidik pasien dan melakukan koordinasi terhadap aktivitas
pasien. Melalui komunikasi tim yang terus-menerus, pelayanan
kompehensif akan dapat diberikan kepada pasien meskipun relative
banyak staf pendukung. Keperawatan tim biasanya berkaitan dengan
pola kepemimpinan demokratis. Anggota tim diberikan otonomi
sebanyak mungkin dalam mengerjakan tugas meskipun juga berbagi
dalam tanggung jawab dan tanggung gugatnya. Mengakui nilai-nilai
individual karyawan dan memberikan otonomi kepada anggota tim
akan menghasilkan kepuasan kerja yang tinggi.
Beberapa keuntungan dan kerugian metode keperawatan tim dapat
dilihat sebagai berikut:
a. Keuntungan
- Memfasilitasi pelayanan keperawatan yang komprehensif
- Memungkinkan pencapaian proses keperawatan
- Konflik atau perbedaan pendapat antar staf dapat ditekan melalui
rapat tim cara ini efektif untuk belajar.
- Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal
- Memungkinkan menyatukan kemampuan anggota tim yang
berbeda-beda dengan aman dan efektif.
b. Kerugian
- Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat
tim ditiadakan atau terburu-buru sehingga dapat mengakibatkan
komunikasi dan koordinasi antar anggota tim terganggu sehingga
kelancaran tugas terhambat.
- Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu
tergantung atau berlindung kepada anggota tim yang mampu atau
ketua tim.
- Akuntabilitas dalam tim kabur
Pelaksanaan metode tim harus didasarkan pada konsep berikut:
1. ketua tim diberikan pada perawat profesional dan harus mampu
menggunakan berbagai tehnik kepemimpinan, manajemen dan
komunikasi efektif.
2. Ketua tim harus dapat membuat keputusan tentang prioritas
perencanaan, supervisi, dan evaluasi asuhan keperawatan.
3. Komunikasi yang efektif penting untuk menjamin kontinuitas
rencana perawatan. Komunikasi yang terbuka dapat dilakukan
d. Melalui berbagai cara terutama melalui rencana perawatan
tertulis yang merupakan pedoman pelaksanaan asuhan, supervisi
dan evaluasi.
4. Anggota tim harus menerima dan menghargai kepemimpinan
ketua tim. Ketua tim membantu anggotanya untuk memahami
dan melakukan tugas sesuai dengan kemampuan mereka.

2.5.4 Metode kasus


Metode ini adalah suatu penugasan yang diberikan kepada perawat
untuk memberikan asuhan secara total terhadap seorang atau
sekelompok klien.
- Berpusat pada client/pasien.
- Perawat bertanggung jawab untuk melakukan asuhan secara
komprehensif terhadap satu atau sekelompok pasien pada shift
dinas tertentu.
- Secara konsisten pasien dilayani oleh perawat yang sama dalam
satu periode/shift dinas.
- Dibutuhkan level kompetensi yang tinggi dari pelaksana asuhan.

Manajemen kasus merupakan sistem pemberian asuhan multidisiplin


yang bertujuan meningkatkan pemanfaatan fungsi berbagai anggota tim
kesehatan serta sumber-sumber yang ada. Manajemen kasus Sering
digunakan dalam sarana/perangkat komunitas dan pskiatri dan diadopsi
dalam pasien rawat inap. Manajemen kasus merupakan rancangan
terakhir yang diajukan untuk memenuhi kebutuhan pasien (Marquis,
B.L. & Huston, C., J., 2002). Zander, 1988 dalam Sullivan dan Decter,
2001 menyatakan bahwa keperawatan manajemen kasus adalah metode
untuk identifikasi, koordinasi dan monitoring implementasi kebutuhan
pelayanan untuk mencapai hasil asuhan yang diinginkan dalam periode
tertentu. Perkembangan pasien akan diikuti terus oleh manajer kasus
dari masuk sampai pulang. Integrasi layanan kesehatan untuk
klien/pasien secara individu atau kelompok dengan tim multidisiplin
yang bertanggung jawab secara kolaboratif dalam kajian kebutuhan
klien dan menetapkan rencana tindakan – implementasi – evaluasi dari
saat pasien diterima, dirujuk dan atau dipulangkan.

a. Keuntungan:
- Asuhan yang diberikan komprehensif, berkesinambungan dan
holistik.
- perawat lebih memahami kasus per kasus;
- sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah

b. Kerugian:
- Kurang efisien karena memerlukan perawat profesional dengan
keterampilan tinggi dan imbalan yang tinggi, sedangkan
Masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan oleh asisten perawat.
- Belum dapat diidentifikasi perawat penanggung jawab;
- Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar
yang
sama

2.5.5 Metode fungsional


Metode fungsional merupakan pengorganisasian tugas pelayanan
keperawatan yang didasarkan kepada pembagian tugas menurut jenis
pekerjaan yang dilakukan. Contoh : Perawat A tugasnya menyuntik,
perawat B tugasnya mengukur suhu badan klien. Seorang perawat dapat
melakukan dua jenis tugas atau lebih untuk semua klien yang ada di
unit tersebut. Kepala ruangan (head nurse) bertanggung jawab dalam
pembagian tugas tersebut dan menerima laporan tentang semua klien
serta menjawab semua pertanyaan tentang klien. Orientasi pada jenis
tugas tertentu. Pendekatan ini efisien , dalam arti :
1. Semua jenis pekerjaan akan terkelola dan terkontrol
2. Waktu pengerjaan lebih singkat
3. Seseorang dengan jenis tugas tertentu untuk jangka waktu lama
akan menjadi sangat trampil terhadap tugas tersebut
4. Dibutuhkan : uraian kerja, protap jelas, kontrol terstruktur
Metode ini cocok untuk keadaan darurat, tetapi kurang untuk
meningkatkan mutu askep (Gillies,1989; Tomey,1992).

Metode pemberian asuhan keperawatan fungsional pertamakalinya


berkembang pada saat perang dunia ke II. Kebanyakan institusi
menganggap keperawatan fungsional memiliki nilai ekonomis dalam
pemberian pelayanan kesehatan. Hal tersebut benar jika kualitas
pelayanan dan pelayanan yang holistik bukan sesuatu hal yang penting.
a. Keuntungan:
- Perawat terampil untuk tugas /pekerjaan tertentu.
- Mudah memperoleh kepuasan kerja bagi perawat setelah selesai
tugas.
- Kekurangan tenaga yang ahli dapat diganti dengan tenaga yang
kurang berpengalaman untuk satu tugas yang sederhana.
- Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staf atau peserta
didik yang praktek untuk ketrampilan tertentu.
b. Kerugian
- Pelayanan keperawatan terpilah-pilah atau total sehingga proses
keperawatan sulit dilakukan.
- Apabila pekerjaan selesai cenderung meninggalkan klien dan
melakukan tugasnon keperawatan.
- Kepuasan kerja keseluruhan sulit dicapai dan sulit diidentifikasi
kontribusinya terhadap pelayanan.
- Perawat hanya melihat asuhan keperawatan sebagai
keterampilan saja.

2.6. Contoh Metode Asuhan Keperawatan


2.6.1. Metode primer
Model MPKP ini ruangan memerlukan 26 perawat. Drnga
menggunakaan model modifikasi keperawatan primer ini diperlukan
empat orang perawat primer (PP) dengan kualifikasi Ners, di samping
seorang kepala ruang rawat yang juga Ners. Perawat pelaksana (PA) 21
orang, kualifikasi pendidikan perawat pelaksanaan terdiri atas lulusan
D-3 Keperawatan (tiga orang) dan SPK (18 orang). Pengelompokan tim
pada setiap sif jaga terliaht pada bagan:
2.6.2. Metode tim

2.6.3. Metode modular


2.6.4. Metode kasus

2.6.5. Metode fungsional


Contoh:
Perawat A tugasnya menyuntik sedangkan perawat B tugasnya
mengukur suhu badan pasien. Seorang perawat dapat melakukan dua
jenis tugas atau lebih untuk semua klien yang ada di unit tersebut.
Kepala ruangan bertanggung jawab dalam pembagian tugas dan
menerima laporan tentang semua klien serta menjawab semua
pertanyaan tentang klien.
Metode fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan
asuhan keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia
kedua. Pada saat itu, karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan
perawat, maka setiap perawat hanya melakukan satu atau dua jenis
intervensi keperawatan saja (misalnya, merawat luka) kepada semua
pasien di bangsal.
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pengembangan metode di dasarkan pada falsafah mengupayakan tujuan
dengan menggunakan kecakapan dan kemampuan anggota kelompok. Metode
perlu juga didasari atas keyakinan bahwa setiap pasien berhak memperoleh
pelayanan terbaik. Selain itu, setiap staf berhak menerima bantuan dalam
melaksanakan tugas memberi asuhan keperawatan yang terbaik sesuai
kemampuannya, dalam keperawatan, metode diterapkan dengan
menggunakan kerja sama tim perawat yang heterogen, terdiri dari perawat
profesional, non pofesional, dan pembantu perawat untuk memberikan asuhan
keperawatan kepada sekelompok pasien.
Metode pemberian asuhan keperawatan yaitu :
1. Metode Fungsional
2. Metode tim
3. Metode Keperawatan Primer
4. Metode Medular
5. Metode Manajemen Kasus

3.2 Saran
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan dapat
menambah wawasan para pembacanya. Makalah ini juga dapat dijadikan
referensi awal untuk bahan penugasan dan bahan belajar para mahasiswa
keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA

La Monica L. Elaine. (1998). Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan,


Pendekatan Berdasarkan Pengalaman. Alih Bahasa Nurachmah. Elly.
EGC. Jakarta.

Marquis, B.L. & Huston, C., J. (1998). Management decision making for
nurses: 124 case studies. (3rd edition). Philadelphia: Lippincott.

Marquis, B.L. & Huston, C., J. (2002). Leadership roles and management
function in nursing: Theory & application. (3rd ed.). Philadelphia:
Lippincott.

Sitorus, R, Yulia (2006). Metode Praktik Keperawatan Profesional di Rumah


Sakit; Penataan Struktur dan Proses (Sistem) Pemberian Asuhan
Keperawatan di Ruang Rawat, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta

Swansburg, R.C. & Swansburg, R.J. (2000). Pengantar Kepemimpinan dan


Manajemen Keperawatan. Untuk Perawat Klinis. Alih Bahasa
Samba.Suharyati. EGC. Jakarta.

Swanburg,russel c. pengantar kepemimpinan dan manajemen keperawatan


untuk perawat klinis. Jakarta. 1994. Penerbit buku kedokteran EGC.