Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH INDIVIDU

KLINIK RUTIN

“PEMERIKSAAN CAIRAN LAMBUNG”

OLEH

NAMA : MUH. AMIRUDDIN IDRIS


NIM : P00341017078
TINGKAT : II B

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2018

i
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum. Wr. Wb. puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT,
karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya, penulis tetap diberikan kekuatan, kesehatan
dan kesempatan sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul PEMERIKSAAN
CAIRAN LAMBUNG.
Makalah ini telah disusun semaksimal mungkin agar para pembaca memahami isi
dari materi ini. Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada
semuapihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah. Semoga materi dari
makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.

Kendari, 27 November 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR .................................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ............................................................................................ 1


1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 2
1.3 Tujuan.......................................................................................................... 2
1.4 Manfaat ........................................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Cairan Lambung .......................................................................................... 3
2.2 Tujuan Pemeriksaan Cairan Lambung ........................................................ 5
2.3 Cara Pemgambilan Sampel Cairan Lambung .............................................. 6
2.4 Cara Pemgiriman Sampel Cairan Lambung ................................................ 8
2.5 Pemeriksaan Cairan Lambung ..................................................................... 8

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan.................................................................................................. 18
3.2 Saran ............................................................................................................ 18

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 19

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Proses pencernaan dapat dilakukan dengan cara mekanik dan kimiawi.
Proses mekanik adalah proses pengubahan makanan yang berukuran besar sampai
ukurannya lebih kecil.Proses ini dibantu dengan gigi, lambung dan usus selain itu
juga dibantu dengan adanya gerakan peristaltik. Sedangkan pencernaan kimiawi
adalah pengubahan secara kimia dilakukan dengan bantuan enzim (An Nisa, 2010).

Cairan lambung adalah merupakan cairan yang ada di dalam lambung.


Komponen getah lambung terdari dari air, asam klorida dan enzim. Sekresi dari
getah lambung diatur oleh mekanisme syaraf dan hormonal. Impuls parasimpatis
yang terdapat pada medula dihantarkan melalui syaraf vagus dan merangsang
gastrik glands untuk mensekresikan pepsinogen, asam klorida, mukus, dan hormon
gastrin (An Nisa, 2010).

Asam lambung mempunyai pH sekitar 1,00 sampai 2,00. Fungsi


utamanya adalah pemecahan molekul protein dengan mengaktivasi pepsin. Fungsi
lainnya adalah kerja pendahuluan terhadap protein sebelum dipecah pepsin, yaitu
berupa denaturasi dan hidrolisis, aktivasi pepsinogen menjadi pepsin,
mempermudah penyerapan Fe, sedikit menghidrolisis suatu disakarida,
merangsang pengeluaran sekretin, suatu hormon yang terdapat dalam duodenum,
dan mencegah terjadinya fermentasi dalam lambung oleh mikroorganisme
(Poedjiadi, 1994).

Namun, dalam beberapa kasus organ lambung dapat mengalami


kerusakan atau tidak bekerjanya lambung sesuai fungsinya dengan baik. Untuk itu,
perlu di lakukan pemeriksaan lambung melalui pemeriksaan cairan lambung yang
tujuannya yaitu untuk mengetahui kemampuan lambung untuk meneruskan isinya
ke duodenum(usus), untuk mengetahui sekresi lambung apakah sudah bekerja
dengan baik atau tidak, dan untuk mencari adanya unsur-unsur abnormal dalam
lambung.

1
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu cairan lambung?
2. Apa tujuan dari pemeriksaan cairan lambung?
3. Bagaimana cara pemgambilan sampel cairan lambung?
4. Bagaimnana cara pemgiriman sampel cairan lambung?
5. Bagaimana metode pemeriksaan cairan lambung?

1.3 TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah, kita dapat mengetahui :
1. Pengertian cairan lambung.
2. Tujuan pemeriksaan cairan lambung.
3. Cara pemgambilan sampel cairan lambung.
4. Cara pemgiriman sampel cairan lambung.
5. Metode pemeriksaan cairan lambung.

1.4 MANFAAT
Adapun manfaat dari makalah ini adalah agar dapat dimanfaatkan
sebaik mungkin, sehingga dapat memenuhi tugas Klinik Rutin yang diberikan dan
sebagai sarana media pembelajaran serta menambah wawasan pengetahuan.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 CAIRAN LAMBUNG

Lambung merupakan organ yang berbentuk kantong seperti huruf ‘J’,


dengan volume 1200-1500ml pada saat berdilatasi. Pada bagian superior,
lambung berbatasan dengan bagian distal esofagus, sedangkan pada bagian
inferior berbatasan dengan duodenum. Lambung terletak pada daerah epigastrium
dan meluas ke hipokhondrium kiri. Kecembungan lambung yang meluas ke
gastroesofageal junction disebut kurvatura mayor. Kelengkungan lambung bagian
kanan disebut kurvatura minor, dengan ukuran ¼ dari panjang kurvatura mayor.
Seluruh organ lambung terdapat di dalam rongga peritoneum dan ditutupi oleh
omentum.

Gambar 1. Pembagian daerah anatomi lambung


Sumber : Laporan Kimia Klinik Khusus. Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri

Secara anatomik, lambung terbagi atas 5 daerah (gambar 2.1.) yaitu:


(1). Kardia, daerah yang kecil terdapat pada bagian superior di dekat
gastroesofageal junction; (2). Fundus, bagian berbentuk kubah yang berlokasi
pada bagian kiri dari kardia dan meluas ke superior melebihi tinggi
gastroesofageal junction; (3). Korpus, merupakan 2/3 bagian dari lambung dan
berada di bawah fundus sampai ke bagian paling bawah yang melengkung ke
kanan membentuk huruf ‘J’; (4). Antrum pilori, adalah bagian 1/3 bagian distal
dari lambung. Keberadaannya secara horizontal meluas dari korpus hingga ke

3
sphincter pilori; dan (5). Sphincter pilori, merupakan bagian tubulus yang paling
distal dari lambung.

 Fungsi Lambung
Lambung berfungsi untuk :
1) Sebagai bactericid ringan
2) Sebagai pencernaan makanan
3) Sebagai daya reabsorbsi dari makanan yang rendah
4) Mengekskresikan mucin, gastrin dan FIE

 Pengertian Cairan Lambung


Cairan lambung merupakan cairan yang disekresi secara aktif oleh
sel mukosa lambung yang terdiri atas dua kelenjar yaitu kelenjar
peptikfundus dan kelenjar pilorik. Kelenjar peptik mensekresi pepsin, lipase,
dan HCl, sedangkan kelenjar pilorik mensekresi bahan untuk proses
fermentasi.

 Macam-macam Cairan Lambung


A. Asam chloridan (HCl)
Bersifat bakteriacid ringan yang dihasilkan sel parietal Asam
chlorida juga berfungsi untuk mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin.
B. Pepsin
Fungsi : untuk memecah protein menjadi protease
Di dalam pankreas (sebagai proteolitik)
Pepsin dihasilkan di sel gablet yangn disebut chief cell
C. Lipase
Fungsi : memecah lemak menjadi asam lemak dan gliseral
D. Mucin
Fungsi : untuk melindungi lambung untuk melindikan makanan.
Dihasilkan oleh neck cell yang terdapat di dalam fundus FIE (Faktor
Intrinsik Eritropolitik). Merupakan mukroprotein yang ber fx untuk
membantu penyerapan vit B12 dalam usus.

4
 Proses Pembentukan Getah Lambung
Proses Pembentukan Getah Lambung melewati 3 (tiga) fase yaitu :
1) Fase Ghepalli
a. Melihat
b. Mencium makanan kortek cerebri nerves vasus sel
yang terdapat
c. Merasakan dalam lambung menghasilkan HCl, pepsin, mucin,
FIE
d. Memikirkan
2) Fase Intestinal
a. Makanan yang sampai di duodenum selaput lendir duodenum
aktivase humoral merangsang sekresi lambung
3) Fase Gastrin
a. Merangsang sekresi HCl dan pepsin
b. Merangsang sekreasi FIEMerangsang sekresi enzym pencernaan.
Gastrin suatu zat yg dihasikan oleh kelenjar gastrin oleh
karena adanya pengaruh hormon gastrin.

2.2 TUJUAN PEMERIKSAAN CAIRAN LAMBUNG


Tujuan pemeriksaan cairan lambung adalah
1) Menilai Motilitas lambung, yaitu Kemampuan lambung untuk meneruskan
isinya ke arah duodenum.
2) Menilai kemampuan sekresi lambung, yaitu HCL, secara kuantitatif dan
kualitatif serta enzim-enzimnya.
3) Mendeteksi adanya unsur-unsur abnormal, seperti darah,pus, jamur, dan bakteri.
4) Mendeteksi adanya racun untuk pemeriksaan forensik.
5) Pemeriksaan sitologi terhadap sel-sel tumor.

Indikasi :
1) Keracunan.
2) Over dosis obat-obatan.
3) Pasien tidak ada reflek muntah.
4) Penatalaksanaan prabedah pasien stenosis pylorus.

5
5) Depresi status mental.
6) Gagal dengan terapi emesis.
7) Pasien dalam keadaan sadar

Kontraindikasi Pemeriksaan Cairan Lambung:


1) Stenois Esofagus, Varises Esofagus.
2) Keganasan pada Esofagus.
3) Dekompensasi Jantung.
4) Pendarahan lambung hebat yang baru terjadi.
5) Aneurisma Aorta.
6) Tidak dianjurkan pada wanita hamil dan sakit berat.
7) Intoksisasi asam/basa yang baru terjadi.
8) Adanya hipotensi dan gangguan Vasomotor (kontraindiksi untuk uji
histamin).

2.3 PENGAMBILAN SAMPEL CAIRAN LAMBUNG


Mengambil cairan lambung digunakan untuk pemeriksaan cairan
ataupun mengeluarkan zat racun dari lambung. Prosedur atau cara ini bertujuan
untuk menentukan aktivitas sekresi mukosa gaster, menganalisis komponen
sekresi dan asam hidroklorida, menganalisis cairan gaster pada klien dengan
obstruksi pilorus dan intestinal, dan untuk mengeluarkan zat racun.

ALAT DAN BAHAN :


Alat :
1) Selang karet/plastik ukuran 12-18 Fr.
2) Klem Selang.
3) Handuk.
4) Wadah/Piala Ginjal.
5) Spuit 50 cc.
6) Peralatan pengisap tekanan darah.
7) Mangkok Es untuk selang karet atau mangkok air hangat untuk selang
plastik.
8) Wadah untuk spesimen.
9) Salem sum Tube” (Ewald atau Eldich) Lumen tunggal ukuran besar.

6
10) levecator, Lumen rangkap untuk aspirasi dan irigasi.

Bahan :
1) Tisu.
2) Pelumas.
3) Air Es.

PROSEDUR KERJA :
1) Mencuci Tangan.
2) Menjelaskan tujuan dan prosedur analisis getah lambung.
3) Persiapan klien :
Puasa, Makanan padat 12 jam sebelum tindakan, air minum 8 jam sebelum
tindakan. Dan tidak minum obat (antasid, antikolinergik, dll).
4) Menutup bagian atas tubuh klien dengan handuk dan memberi bengkok
untuk meludah.
5) Memberi tahu klien untuk duduk di kursi atau posisi fowler di tempat tidur
dengan leher fleksi dan bersandar mulai dari pinggang.
6) Bersama-sama klien menentukan kode yang akan digunakan. Misalnya,
mengangkat telunjuk untuk mengatakan “ tunggu sejenak”.
7) Melepas gigi palsu (jika ada)
8) Bila selang karet terlalu lembek, rendam dalam air es; bila selang plastik
terlalu kaku, rendam dengan air hangat.
9) Memasang selang Nasogastrik (lihat prosedur pemasangan selang lambung),
yakinkan bahwa selang berada dalam lambung dengan:
- Memeriksa dengan menggunakan kertas lakmus.
- Selang masuk paling kurang 50 cm dari hidung.
- Menyuntikan udara dan mendengarkan dengan stetoskop.
10) Mengatur posisi klien, posisi dekubitus kiri lateral semi rekumben.
11) Mengisap semua getah lambung; mencatat dan mencatat, memberitahu
dokter bila ada ketidaknormalan: masih ada makanan yang belum dicerna,
residu lebih dari 100 ml, bau feses, darah, memberi istirahat kepada pasien
selama 20-30 menit, lalu melakukan aspirasi kembali.
12) Memberi label pada wadah, dan mengirim spesimen ke laboratorium.
13) Merapikan peralatan dan klien.

7
14) Mencatat tanggal pengambilan dan reaksi klien pada catatan perawat.
15) Mengobservasi klien setelah prosedur dilakukan.
16) Mendokumentasikan prosedur dan respons klien dalam catatan klien.

2.4 PENGIRIMAN SAMPEL CAIRAN LAMBUNG


- Pengiriman <1 jam pada suhu ruang.
- Bila tidak memungkinkan, gunakan media tranport atau kultur pada media Tetra
Thionate Broth

Catatan:
- Pastikan informasi yang benar terdapat pada slip permintaan laboratorium dan
pada label yang melekat di wadah specimen
- Atur spesimen agar di bawa ke laboratorium untuk kultur atau pemeriksaan
parasit perlu segera dikirim. Bila tidak memungkinkan ikuti petunjuk pada
wadah spesimen.
- Pada beberapa institusi pendinginan di indikasikan karena perubahan
bakteriologis terjadi pada spesimen feses dalam suhu ruangan.
- Jangan pernah meletakkan spesimen dalam tempat pendingin yang berisi
makanan dan obat-obatan untuk mencegah kontaminasi.

2.5 PEMERIKSAAN CAIRAN LAMBUNG


Pemeriksaan cairan lambung terdiri dari :
A. Motilitas Lambung
Pemeriksaan motilitas dengan menggunakan sonde sangat primitive
dibandingkan dengan pemeriksaan radiologi, tetap imempunyai kelebihan
karena pasien tidak perlu terpapar sinar roentgent. Biasanya pemeriksaan
motilitas tidak dilakukan secara tersendiri, melainkan menjadi bagian dari
pemeriksaan lambung lain. Fungsinya adalah untuk mengetahui kemampuan
getah lambung meneruskan isinya ke duodenum
Motilitas turun jika :
- Volume getah lambung meningkat
- Sisa makanan (+)

8
B. Pemeriksaan Makroskopis
Pemeriksaan ini harus menggunakan sampel cairan lambung yang
diperoleh sebelum dilakukan rangsangan padalambung untuk pemeriksaan
lain. Beberapa hal yang diperiksa antara lain:
a) Volume
Dalam keadaan normal volume cairan lambung berbeda-beda
dari beberapa ml sampai 75 ml, dengan rata-rata 25 ml. Jika didapatkan
volume yang mendekati 100 ml, hal ini adalah keadaan yang abnormal.
Jumlah tersebut mungkin disebabkan oleh hipersekresi, menurunnya
motilitas lambung, obstruksi pilorus, atau sindrom Zollinger-Ellison.

b) Warna
Warna normal getah lambung adalah abu-abu mutiara dan
agak keruh (opalesent). Kelainan warna yang mungkin didapat adalah:
- Kehijau-hijauan (biliverdin) atau kuning (bilirubin) akibat terjadinya
regurgitasi isi duodenum ke dalam lambung. Keadaan ini akan
mengakibatkankesalahanpadahasilpemeriksaantitrasikeasaaman
lambung karena isi duodenum bersifat basa.
- Merahmuda(darahsegar) dapatdisebabkanolehtraumawaktu
memasukkansonde,ataupunkelainanpadaesofagussepertiulkus,
karsinoma, dan lain-lain.
- Coklat (darahtua)disebabkankarenahemoglobin dalamseldarah merah
telah diubah menjadi asam hematin oleh HCl.
Bermacam-macam warna oleh obat-obatan.

c) Bau
Bau getah lambung normal agak asam. Bau yang keras dapat
disebabkanoleh stasis dalam lambung yang disertai proses fermentasi. Bau
yang busukdapat disebabkan oleh adanya nekrosis dalam lambung,
sedangkan bautinja mungkin disebabkan oleh obstruksi usus atau akibat
adanya fistulaantara usus dan lambung.

9
d) Lendir
Dalam keadaan normal hampir tidak ada lendir dalam cairan
lambung, ataudidapatkan dalam jumlah yang sangat sedikit.Pada keadaan
abnormal,jumlah lendir akan bertambah. Lendir ini dapat berasal dari
mulut atausaluran pernafasan. Lendir akan terlihat tidak homogen, tampak
sepertigaris-garis halus, bergelembung, dan terapung di atas cairan. Jika
diperiksasecara mikroskopis,lendir ini mengandung banyak sel epitel dan
kuman.Karenalendirmengikatsebagianasambebasdalamlambung,makapenil
aian titrasi asam bebas akan menurun sedangkan nilai kandunganasam total
tidak berubah.

e) Sisa-sisa makanan
Dalam keadaan normal tidak terdapat sisa-sisa makanan.Bila
ada, mungkinakibat motilitas lambung berkurang.Untuk menguji hal ini,
pasien diberimakanan yang mudah dikenali, seperti kismis semalam
sebelum diadakansonde lambung. Selain karena kurangnya motilitas,
retensi isi lambungmungkin disebabkan oleh adanya obstruksi pilorus
akibat sikatrik atautumor.

f) Pus
Dalam keadaan normal, tidak dijumpai pus pada cairan
lambung.Adanyalekosit jarang sekali terlihat padapemeriksaan
mikroskopis.Lekositmungkinberasaldari saluran makanan atau saluran
pernapasan akibatsputum yang tertelan.

g) Potongan jaringan
Biasanya bila didapatkan potongan jaringan menunjukkan
adanya traumaatau tumor sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.

h) pH dan berat jenis


pH normal cairan lambung adalah 1,2 ± 0,0 pada orang
dewasa dalam keadaan puasa atau 1,3-2,5 setelah makan. Berat jenis cairan
ini sekitar1,007.

10
C. Pemeriksaan Mikroskopik
Sample terbaik : Keadaan puasa, bila tidak puasa sisa makanan akan
mempengaruhi hasil pemeriksaan, supaya sample
betul-betul murni dari lambung tidak dipengaruhi sisa
makanan.
Metode :
a) Natif
1. Setetes getah lambung diletakkan di atas obyek glass kemudian
hapus dengan deck glass.
2. Periksa di bawah mikroskop obyektif 10 x dan 40 x
Unsur yang mungkin terlihat :
- Erytrosit Sel Epitel
- Lekosit Sisa makanan
Jika : Volume meningkaat
- Sisa makanan (+ +)
- Gunzburg (-),(-) Keliling (+), (-)
- Batang gram (+)

b) Pengecatan
1. Lemak : Sudan III
2. Amylum : Lugol
3. Leptospira : Lofler
4. Gram dan ZN : Untuk mencari kuman
a) Kuman pengecatan gram
Sarcina : - Bentuk coccus susunan seperti kubus
- Gram (+)
- Menyebabkan statis tanpa anchordidria
b) Boas aplar :
- Bentuk batang berkelok-kelok
- Gram (+)
- Pemeriksaan Kehling (+) à Karena
menghilangkan asam laktat.
- Menyebabkan stasis dengan anchlorhidria.

11
 Anchilorhidria à Suatu keadaan dimana pH > 3,5 dan tak
akan turun > 1 satuan setelah dilakukan perangsangan
secara maximal.
 Pochlorhidria à Suatu keadaan dimana pH > 3,5 dan akan
turun > 1 satuan setelah dilakukan perangsangan secara
maximal.
 Acydity à Suatu keadaan dimana pH > 6 dan akan turun > 1
satuan setelah perangsangan secara maximal.

c) Kuman pengecatan 2N
M. TBC à Dengan NaCl 0,9%.
Untuk mendapatkan hasil yang berarti, bahan dihomogenkan,
dipusing, dibuang cairan atasnya dan lakukan pada sediment,
pemeriksaan makros, culture, percobaan binatang.Maksud
dihomogenkan adalah untuk mendapatkan kuman TGC
 Papanicolour : untuk mencari adanya sel-sel kuman
 Peroxidase : untuk membedakan lekosit dari jenis
granulocyte dan monosit peroxidase (+), sedang limfosit (-
).
D. Pemeriksaan Kimia
A. Keasaman Getah Lambung
a) Pemeriksaan HCl bebas
Tujuan : - Untuk mengetahui apakah lambung mersekresikan HCl /
tidak.
- Untuk mengetahui apakah HCl yang disekresi lambung
dalambatas normal/tidak.
Syarat : - Tidak ada lendir
- pH (4 karena HCl bebas dapat terdeteksi pada pH 2,5)
Bahan pemeriksaan: - Dari sordage lambung.
- Muntahan penderita.
Metode :
1) Indikator Toeffer (spesifik)
Tujuan: Untuk mengetahui ada / tidaknya HCL dalam getah
lambung

12
Prinsip: Asam total dalam getah lambung akan beraksi dengan
toeffer membentuk warna merah.
Cara kerja :
1. Masukkan 1 ml getah lambung ke dalam tabung serologi.
2. Tambahkan 1 tetes indikator toeffer, campur.
3. Amati hasil :
jika (+) terjadi warna merah
jika (-) terjadi warna kuning
Harga normal: (+) terjadi warna merah

Komposisi Indikator Toeffer


- Paradimethyl amino azobenzena : 0,6 gr
- Alkohol 95 % ad :100 ml

2) Indikator Gunzburg
Tujuan: Untuk mengetahui ada / tidaknya HCl bebas dalam
getah lambung.
Prinsip: HCl bebas dalam getah lambung akan bereaksi dengan
indikator gunzburg memberi warna merah.
Cara kerja :
1. Masukkan 5-10 tetes indikator gunzburg dalam cawan
penguap.
2. Panaskan cawan penguap tersebut diatas air mendidih
sampai kering dan menimbulkan bercak berwarna kuning.
3. Tambahkan beberapa tetes getah lambung yang diperiksa ke
atas bercak yang telah mengering.
4. Adanya perubahan warna yang menjadi merah jambu berarti
(+)

Komposisi indikator Gunzburg


- Phloroglucinol : 2 gr
- Vanillin : 1 gr
- Alkohol 96% : 330 ml

13
Tujuan pemanasan :
1. Menghindari pengarangan sehingga mudah diamati.
2. Agar reagen tidak mudah menguap (alkohol).

b) Pemeriksaan Getah Lambung Bertingkat


Tujuan : Untuk mengetahui jumlah HCl yang disekresikan oleh
lambung dalam jumlah normal.

Zat perangsang yang digunakan:


1) Alkohol 7%
Cara pemberian : melalui mulut/peroral sebanyak 520 ml
tiap 30’
Kelemanhan : kurang efektif, merupakan zat perangsang
yang lemah
2) Histamin
Cara pemberian : Dengan suntikan secara subcutan
sebanyak 0,04 mg per kg berat badan.
Kelemahan : Merupakan zat yang dapat menyebabkan
reaksi alergi (dapat menimbulkan reaksi
shock anaphilastic).

3) Pentazole hidrochloride/histalog : paling baik


Cara pemberian : Suntikan subcutan sebanyak 0,5 mg/kg
BB

4) Pentagastrin : paling baik


Cara pemberian : Suntikan ultramuscular sebanyak 0,5
mg/kg BB
Cara kerja :
1. Pasien dilakukan sondage lambung dengan posisi nuchter,
kemudian dimasukkan 50 ml alkohol 7% ke dalam
lambung pasien lewat sonde/dapat juga disuntikan dengan
perangsang lain.
2. Tiap 10’ dan 15’ isi lambung dihisap dan tiap porsi
disimpan sendiri.

14
3. Percobaan dihentikan 1 ½ - 2 jam setelah rangsangan.
4. Ambli 5 ml dari tiap porsi dan lakukan titrasi dengan :1 –
2 tetes indikator toeffer. Kemudian titrasi dengan NaOH
oleh N sampai terjadi perubahan warna dari merah
menjadi kuning.
5. Baca berapa ml NaOH 0,1 N yang terpakai untuk
menunjukkan HCl bebas.
6. Tambahkan 2 tetes indikator PP 1%.
7. Titrasi lagi dengan NaOH 0,1 N sampai warna kuning
berubah menjadi merah jambu.
8. Baca berapa ml NaOH 0,1N yang terpakai. Jumlah itu
menunjukkan jumlah asam total ml NaOH x 100vol
GL

Pemeriksaan getah lambung bertingkat dikatakan


anchlorhidria sejati bila setelah 1 jam dilakukan rangsangan
tidak didapatkan HCl

c) Pemeriksaan Tubulus Gastric Aralisis


Tujuan : untuk mengetahui : ratio BAO dan MAO
Cara kerja :
Kepada penderita diberi 1 tablet yang mengandung resin yang
terikat dengan zat warna azure A. Oleh karena pengaruh asam
lambung sebagian dari azure A akan dilepas dari resin. Banyaknya
azure A akan dilepas sesuai dengan banyaknya asam lambung. Azure
A akan diserap oleh usus dan dikeluarkan dari tubuh melalui ginjal
Banyaknya Azure A yang dalam urine menjadi ukuran untuk
mereduksi asam lambung.

Keuntungan : Penderita tidak merasa sakit


Kelemahan :
Pemeriksaan tidak berarti bila :
- Penyakit hati (zat warna dihasilkan tidak dapat diekskresi).
- Retensio urine (karena pengeluaran urine terhambat).

15
- Penyerapan usus yang tidak baik (zar warna yang dihasilkan
tidak baik)

BAO (Basal Acid Output) : jumlah meq sekresi HCl maximal


sebelum dilakukan perangsangan.
MAO (maximal add output) : jumlah meq sekreasi maximal
selama 1 jam setelah dilakukan perangsangan.

B. Pemeriksaan Pepsin
Indikator : Anchlorhidria
Prinsip : Adanya pepsin dalam getah lambung akan menguraikan substrat
putih telur dalam waktu 24 jam suhu 370C.
Cara kerja :
1. Buatlah substrat putih telur dengan cara :
- Rebuslah sebutir telur kemudian kupas dan buang kuningnya.
- Putih telur beku dipotong membentuk lempeng dengan ukuran
p = 5 mm , l = 1 m.
2. 7 – 8 getah lambung ditambah HCl 0,1 N sebanyak 7-8 ml, kemudian
dicampur dan dibagi dalam 3 tabung dalam volume yang sama banyak
(A, B, C).
3. Tabung A : ditambah pepsin + 2 lempeng telur (sebagai kontrol (1)).
Tabung B : dipanaskan + 2 lempeng telur (sebagai kontrol (-)).
Tabung C : tambah 2 lempeng telur + toluena (sebagai katalisator)
Fungsi memanasan pada tabung B adalah untuk menghilangkan
enzim-enzim.
4. Incubasi pada suhu 370 C selama 24 jam.
5. Bandingkan besarnya lempeng telur pada 3 tabung dalam keadaan
normal :
Tabung A: lempeng telur hilang
Tabung B: lempeng telur tidak hilang
Tabung C : lempeng telur hilang

16
C. Pemeriksaan Asam Laktat
Indikasi : dengan HCl Hipochlorhidra bebas < 20 satuan
Tujuan : untuk membedakan hasil (+) yang disebabkan HCl / asam
yang lain
Prinsip : Reaksi antara FeCl3 : 10% dengan asam laktat membentuk
ferrylaktat yang berwarna kuning
Cara kerja :
1. Masukkan 20 ml aquadest dalam tabung reaksi.
2. Tambahkan 5-10 tetes larutan FeCl3 10% kemudian campur dan
bagi menjadi 2 :
Tabung I : sebagai test + 1 ml getah lambung yang telah disaring.
Tabung II : sebagai kontrol + 1 ml aquadest
3. Bandingkan jika pada tabung test lebih kuning dari tabung kontrol
maka hasil test (+) dengan latar belakang putih

Harga normal : (-) tidak terjadi warna kuning melebihi kontrol


Fungsi penyaringan : Agar tidak mengganggu perubahan warna

17
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Cairan lambung merupakan cairan yang disekresi secara aktif oleh sel
mukosa lambung yang terdiri atas dua kelenjar yaitu kelenjar peptikfundus dan
kelenjar pilorik. Kelenjar peptik mensekresi pepsin, lipase, dan HCl,
sedangkankelenjar pilorik mensekresi bahan untuk proses fermentasi.
Tujuan pemeriksaan cairan lambung yaitu untuk mengetahui
kemampuan lambung untuk meneruskan isinya ke duodenum(usus), untuk
mengetahui sekresi lambung apakah sudah bekerja dengan baik atau tidak, dan
untuk mencari adanya unsur-unsur abnormal dalam lambung.

3.2 SARAN
Diharapakan kapada pembaca agar dapat mengetahui apa yang
dimaksud dengan cairan lambung serta cara pemeriksaan cairan lambung dengan
baik dan benar.

18
DAFTAR PUSTAKA

Anonim A. Analisis Cairan Lambung Dan Duodenum [Online].


https://dokumen.tips/documents/analisis-cairan-lambung-dan-duodenum-
55c9976c8b7dc.html . Di Akses Pada Tanggal 27 November 2018.

Anonym E. Makalah Cairan Lambung.HTTPS://EDOC.SITE/MAKALAH-CAIRAN-


LAMBUNG-PDF-FREE.HTML. Di Akses Pada Tanggal 27 November 2018.

Olin Nurcahyani. 2012. Pemeriksaan Getah


Lambung.http://olinbintisuyadi.blogspot.com/2012/05/pemeriksaan-getah-
lambung.html . Di Akses Pada Tanggal 27 November 2018.

Twin Ade Susila. 2015. Laporan Kimia Klinik Khusus “Pemeriksaan Getah Lambung”.
Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri : Fakultas Ilmu Kesehatan
Masyarakat.

19