Anda di halaman 1dari 8

HUMANITAS Vol. 12 No. 1 .

52-59 ISSN 1693-7236

EFEKTIFITAS PELATIHAN ”SAYA SEHAT, SEMUA SEHAT” UNTUK


MENIGKATKAN KESADARAN TERHADAP PENYAKIT HEPATITIS A PADA
MAHASISWA

Ridwan Budi Pramono


Universitas Muria Kudus Jl. Gondangmanis, Bae, Kudus 59352
ridwanpsiumk@gmail.com

Abstract
Hepatitis A is a disease caused by a virus of hepatitis A. College students is a group have
highest risk exposed this disease. The objective of this research is to know whether the
method of the training called “sayasehat, semuasehat” is effective increasing awareness
for the college students with the efforts to decrease the risk of hepatitis A. The subject of
the research are twenty students. The criteria are the students who often buy food in street
foodstall. The subject were the students who live in the dormitory or in boarding house and
willing to follow the training. They fulfil ledwritten informed consent to follow the four
sessions training. This research uses pretest and postest control group design. The data was
analyzed using anava mixed design. The intervention of this research was training called
“saya sehat, semua sehat”. The result shows that the training of “saya sehat, semua sehat”,
were able to increase the college students’ awareness againts hepatitis A. The increase
significantly happened in experiment group. The awareness of the college students againts
hepatitis A increases 57,7%.

Keywords: awareness, hepatitis A, training.

Abstrak
Hepatitis A adalah penyakit hepatitis yang disebabkan virus hepatitis A. Mahasiswa
merupakan kelompok yang mempunyai risiko paling besar terkena hepatitis A. Mahasiswa
di kota Yogya lebih banyak bertempat tinggal di kontrakan maupun kos-kos di sekitar
lingkungan kampus, sehingga ketika ada mahasiswa yang terkena penyakit hepatitis A
maka yang lain pun mempunyai risiko yang sama besarnya terkena penyakit hepatitis
A. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah metode pelatihan “saya
sehat, semua sehat” efektif dalam meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap upaya
mengurangi risiko terkena penyakit hepatitis A. Subjek yang digunakan adalah mahasiswa
yang sejumlah 20 orang. Kriteria subjek adalah mahasiswa yang sering jajan di warung tenda
kaki lima, yang bertempat tinggal di kos atau asrama dan bersedia mengikuti pelatihan.
Desain penelitian ini menggunakan pretest posttest control group design. Data yang diambil
dianalisis menggunakan analisis anava mixed design. Intervensi yang digunakan adalah
pelatihan “saya sehat, semua sehat”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan
“saya sehat, semua sehat” dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap penyakit
53

hepatitis A. Peningkatan itu terjadi secara signifikan pada kelompok eksperimen. Kesadaran
mahasiswa terhadap penyakit hepatitis A meningkat sebesar 57,7%.

Kata Kunci: hepatitis A, kesadaran, pelatihan.

Pendahuluan hari. Namun, virus ini bisa menyiksa dan


mengancam nyawa. Hampir semua orang di
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi
dunia dengan sanitasi buruk dapat terinfeksi
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dr
virus ini. Sanitasi yang baik dan vaksin
Bondan Agus Suryanto mengatakan bahwa
yang efektif dapat mencegah infeksi virus
para mahasiswa dan pelajar biasanya
hepatitis A (WHO, 2012).
mencari makan di tempat yang paling
Salah satu faktor yang menyebabkan
mudah dan murah tetapi mengabaikan
wabah hepatitis A terjadi, yaitu penyebaran
kebersihan makanan, padahal virus
virus melalui makanan yang tidak terjaga
hepatitis A menyebar melalui makanan yang
kebersihannya atau tidak higienis, membeli
dikonsumsi (kapanlagi.com). Kebiasaan
makanan yang sembarangan juga turut
berisiko seperti makan yang tidak sehat
mempengaruhi risiko penyebaran penyakit
dan makan makanan seadanya membuat
hepatitis A ini.
mahasiswa mempunyai risiko yang besar
Peristiwa pandemi Hepatitis A di
untuk terkena penyakit hepatitis A. Menurut
Yogyakarta tahun 2008, ditetapkan oleh Dinas
data Dinas Kesehatan Propinsi DIY bulan
Kesehatan Yogyakarta sebagai peristiwa
Januari-September 2008 dengan jumlah
kejadian luar biasa dikarenakan kejadian
600 kasus, penderita hepatitis A kelompok
mewabahnya hepatitis A yang begitu cepat
umur kurang dari enam tahun berjumlah 18
dan meningkat dengan tajam. Penelitian
anak, kelompok umur 7-17 tahun sebanyak
ini merupakan salah satu penelitian yang
121 orang, kelompok umur 18-24 tahun
dilakukan dalam merespon kejadian luar
sebanyak 528 orang, kelompok umur 25-
biasa Hepatitis A yang terjadi di Yogyakarta
55 tahun sebanyak 465 orang dan kelompok
tahun 2008. Peneliti tertarik pada komunitas
umur diatas 55 tahun sebanyak 28 orang.
mahasiswa, mahasiswa menjadi kelompok
Penyakit ini dapat menyebar secara
yang paling rentan terkena penyakit hepatitis
langsung dari orang ke orang, lewat air,
A. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi
makanan yang terkontaminasi virus, dan
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dr
lewat udara. Virus ini sering didapat dari
Bondan Agus Suryanto mengatakan bahwa
susu, masakan daging-dagingan, sayuran
Hepatitis A tidak mematikan tetapi tetap
dan buah-buahan mentah, kerang –kerangan
harus diwaspadai karena berdasarkan hasil
serta roti (Slamet, 2004). Hepatitis A
pemantauan banyak menyerang mahasiswa
biasanya ditularkan melalui mulut juga
dan pelajar di DIY dan penyebarannya cukup
anus, melalui kontak antar manusia maupun
cepat. (www.kapanlagi.com).
makanan atau air yang terkontaminasi virus
Pencegahan Hepatitis A jika dilihat
tersebut. Perilaku seks tertentu juga dapat
dari sebab dan tipikal penyebaranya yang
menyebarkan virus hepatitis A. Infeksi virus
person to person maka diperlukan kesadaran
ini tergolong jinak, hampir semua orang
yang tinggi bagi masyarakat dalam memilih,
berhasil sembuh dan tetap kebal terhadap
menyiapkan dan menyajikan makanan
infeksi virus hepatitis A di kemudian
Efektifitas PElatihan ”Saya Sehat, Semua Sehat” untuk Menigkatkan Kesadaran terhadap 54
Penyakit Hepatitis A pada Mahasiswa

dan minuman yang selalu higienis serta hepatitis A paling besar berada pada usia
menjaga kesehatan lingkungan maupun remaja.
perorangan guna memperkecil penyebaran Penelitian berikutnya adalah penelitian
virus (Fitzsimons, Francois, Alpers, Radu, yang dilakukan oleh Asif, Iqbal, Hussain
Jilg, & Rombo, 2005). Anak-anak sekolah, dan Hussain Khan (2009). Penelitian ini
remaja dan orang dewasa awal mempunyai menunjukkan dari 3654 responden yang
risiko yang tinggi terkait penyakit ini. diwawancarai, 642 (17.6%) yang menyadari
Keluarga besar, pendidikan rendah dan bahwa hepatitis B dan C ditularkan melalui
sistem pembuangan limbah yang buruk virus. Responden juga menyatakan bahwa
dikombinasikan dengan interaksi anak-anak ada beberapa cara penularan penyakit ini.
di sekolah sangat berhubungan erat dengan Seperlima (20%) dari responden tidak dapat
penyebaran wabah hepatitis (Yong & Son, mengidentifikasi tanda-tanda fisik atau
2009). gejala dari penyakit tersebut.
Penelitian yang berjudul Overheard Penelitian yang dilakukan oleh
in the Halls: What Adolescents Are Saying, Pathmanathan dan Lakshmanan (2013)
and What Teachers Are Hearing, About menyatakan bahwa tingkat kesadaran dan
Health Issues yang dilakukan oleh Cohall, pengetahuan tentang hepatitis B sangat
Dye, Dinni, Vaughan dan Coots (2007) rendah. Rendahnya tingkat kesadaran
tentang apa yang didengar oleh guru dalam dan pengetahuan ini seharusnya dapat
kaitannya dengan promosi kesehatan dan ditingkatkan melalui pendidikan dan
topik apa yang akan menolong mereka program vaksinasi berkala.
dalam memberikan saran terhadap siswa, Salah satu kegiatan yang dapat
menemukan bahwa guru sepakat jika mencegah meluasnya penyakit hepatitis
sekolah/kampus merupakan tempat yang adalah dengan adanya sosialisasi dan
penting untuk berdiskusi dan menyediakan edukasi tentang pengendalian hepatitis
pesan-pesan kesehatan. Lebih dari separuh kepada petugas kesehatan dan masyarakat
partisipan melaporkan bahwa mereka (Dirjen Kemertian Kesehatan RI. 2012).
mendengar diskusi siswa tentang kesehatan Bentuk sosialisasi dan edukasi bisa melalui
sepekan sekali atau lebih. Sebanyak 70% pelatihan. Pelatihan adalah Kegiatan yang
partisipan menyatakan bahwa mereka secara bertujuan menuju pada arah yang baik
aktif didekati siswa 1 – 3 kali tiap semester (HIMPSI, 2010).
dengan laporan permasalahan individu Pelatihan “Saya Sehat, Semua Sehat”
terkait dengan kesehatan. bertujuan untuk meningkatkan kesadaran
Penelitian lain tentang Anti-Hepatitis mahasiwa terhadap penyakit hepatitis A.
A Virus frequency in Adolesecents at an Pemberian pelatihan terhadap mahasiswa
Outpatient Clinic in Sao Paulo Brazil diharapkan dapat mengurangi risiko terkena
dilakukan oleh Dinelli, Fisberg & Morallis- penyakit hepatitis A. Mahasiswa yang telah
Pinto (2006). Kajian penelitian ini adalah menjalani pelatihan, diharapkan meningkat
tentang rata-rata antibodi hepatitis A pada kesadaran terhadap hepatitis A, sehingga
remaja yang merupakan pasien rawat jalan mereka dapat membantu meningkatkan
sebuah klinik di Sau Paulo. Penelitian ini kesadaran mahasiswa lainnya di lingkungan
menunjukkan bahwa remaja di Sau Paulo kontrakan/kosnya
mempunyai risiko yang besar terkena
penyakit hepatitis A dan usia terpapar infeksi
55

Metode penelitian penelitian.


Data kuantitatif diperoleh peneliti dari
Rancangan penelitian yang digunakan
pengukuran skala kesadaran. Teknik analisis
dalam penelitian ini adalah rancangan
data yang digunakan dalam penelitian ini
penelitian Quasi eksperimen untuk
adalah anava mixed design dengan data
pengambilan data kuantitatif dan metode
statistik parametrik atau data berskala
wawancara untuk pengambilan data
interval/rasio. Analisa data dengan teknik
kualitatif.
ini digunakan untuk data pretest dan posttest
Penelitian Quasi eksperimen dengan
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
dua kelompok yang di pilih secara non
Analisis dalam penelitian ini menggunakan
random, yaitu berdasarkan data statistik
anava mixed design yang perhitungannya
Dinas Kesehatan dan hasil koordinasi
dibantu dengan memakai program SPSS
dengan Dinas Kesehatan Yogyakarta
for Windows release 15.0. Data kualitatif
terkait dengan penentuan lokasi penelitian.
diperoleh peneliti dari hasil wawancara yang
Kelompok yang digunakanya itu kelompok
dilakukan kepada mahasiswa yang memiliki
kontrol dan kelompok eksperimen dengan
skor kesadaran paling tinggi dan paling
pretes dan postes. Kelompok yang diberi
rendah. Analisis yang digunakan untuk hasil
perlakuan hanya kelompok eksperimen.
wawancara adalah analisis deskriptif.
Cook dan Campbel (1979) menyebutnya
Modul disusun sebagai usaha
dengan pretest posttest control group design.
menyelaraskan peran mahasiswa sebagai
Desain penelitian yang digunakan
agen dalam pencegahan hepatitis A melalui
adalah pretest posttest control group design
peningkatan kesadaran terhadap penyakit
(Cook &Campbel, 1979), sebagai berikut :
hepatitis A. Modul ini dilaksanakan
selama empat sesi dan dilaksanakan dalam
KE O1 X O2
waktu dua minggu dengan waktu tiap sesi
KK O1 -X O2
selama dua jam. Setelah pelatihan berakhir,
mahasiswa yang mengikuti pelatihan
Keterangan :
diharapkan dapat menerapkan apa yang
A1 : Pengukuran pretest
didapat dalam pelatihan terhadap dirinya
A2 : Pengukuran posttest
sendiri dan mahasiswa lainnya.
X : Perlakuan
Pelatihan ini mencakup pengetahuan
-X : Tidak diberikan perlakuan
mengenai hepatitis A, kesadaran mengenai
KE : Kelompok eksperimen
hepatitis A dan sikap sebagai mahasiswa
KK : Kelompok kontrol
terhadap penyakit hepatitis A. Penyampaian
materi menggunakan metode psikoedukasi,
Wawancara dan lembar tugas
diskusi dan ceramah. Trainer ditunjuk oleh
digunakan untuk melengkapi dan
peneliti untuk melaksanakan pelatihan.
memperkuat data kuantitatif yang diperoleh
Trainer adalah seseorang yang sudah
dari pengukuran skala kesadaran. Wawancara
memiliki pengalaman dalam pelatihan dan
dilakukan untuk mengumpulkan informasi
menggeluti bidang psikologi, yang mampu
dengan mengajukan sejumlah pertanyaan
berinteraksi dan memimpin diskusi. Saat
secara lisan, untuk menghimpun informasi
melaksanakan tugasnya, trainer dibantu
mengenai tanggapan, pendapat, keyakinan
oleh empat co-trainer.. Tugas co-trainer
dan perasaan yang berkaitan dengan variabel
adalah melakukan pengamatan pelatihan
Efektifitas PElatihan ”Saya Sehat, Semua Sehat” untuk Menigkatkan Kesadaran terhadap 56
Penyakit Hepatitis A pada Mahasiswa

dan membantu kelancaran teknis pelatihan. penyakit Hepatitis A.


Peneliti bertanggung jawab atas kelancaran Hasil pengukuran kesadaran terhadap
pelatihan mulai dari awal hingga berakhirnya penyakit hepatitis A dapat dideskripsikan
pelatihan. sebagai berikut:
Penelitian ini dilakukan pada
komunitas mahasiswa yang sering jajan/ Tabel 1. Hasil Uji Perubahan Skor Kesadaran
makan dan bertempat tinggal di kos Grup Mean Difference p
atau asrama di daerah Gondokusuman Eksperimen -33.25 0.000
Yogyakarta. Pemilihan subjek penelitian Kontrol -2.55 0.703
dilakukan dengan cara random assignment,
yaitu suatu rancangan yang memberikan Berdasarkan tabel diatas terdapat
kesempatan sama bagi seluruh subjek perubahan skor kesadaran yang signifikan
penelitian untuk masuk dalam tiap kelompok pada kelompok eksperimen (MD=-33.25,
(Kazdin, 1992). p=0.000; p<0.05) dan perubahan skor yang
Penelitian ini merupakan bagian dari tidak signifikan pada kelompok kontrol
penelitian payung dengan judul “Mengikis (MD=-2.55, p=0.703;p>0.05). Tanda negatif
Risiko Infeksi Hepatitis A melalui Penguatan menunjukkan arah peningkatan skor dari
Komunitas Sekolah Dasar dan Lanjutan di pretest menuju posttest. Meskipun keduanya
D.I. Yogyakarta” yang dilakukan untuk ada peningkatan skor namun pada kelompok
merespon KLB Hepatitis A yang terjadi kontrol tidak signifikan. Sumbangan Efektif
tahun 2008 di Yogyakarta. Penentuan lokasi Pelatihan “saya sehat, semua sehat” dalam
dan subjek penelitian berdasarkan observasi meningkatkan Kesadaran terhadap penyakit
yang sudah ditunjuk DINKES DIY, yaitu Hepatitis A dapat dilihat pada tabel 2 berikut
daerah Gondokusuman. Informed consent ini.
ditegakkan kepada mahasiswa yang bersedia
mengikuti penelitian dan memenuhi Tabel 2. Sumbangan efektif pelatihan
persyaratan menjadi subjek penelitian. “saya sehat, semua sehat”
Grup F p Prosentase
Eksperimen 0.398 0.000 39.8%
Hasil dan Pembahasan
Kontrol 0.004 0.703 0.4%
Hasil seleksi yang dilakukan kepada
50 orang berdasarkan syarat yang ditetapkan Berdasarkan tabel diatas, kelompok
dalam karakteristik subjek penelitian, eksperimen mengalami peningkatan
mendapatkan 40 orang yang dapat dilibatkan kesadaran sebesar 39.8 % sedang pada
sebagai subjek penelitian. Selanjutnya dari kelompok kontrol yang tidak mendapatkan
40 orang tersebut, 20 orang menjadi subjek intervensi juga mengalami peningkatan
kelompok eksperimen dan 20 orang menjadi tetapi tidak signifikan yaitu sebesar 0.4%.
subjek kelompok kontrol. Sumbangan efektif pelatihan “saya sehat,
Kesadaran terhadap penyakit hepatitis semua sehat” pada peningkatan skor
A pada mahasiswa diukur melalui pre dan kesadaran terhadap Hepatitis A pada
post test dimana kelompok eksperimen mahasiswasebesar 39.8%.
diberikan intervensi berupa pelatihan Peneliti juga melakukan wawancara
“saya sehat, semua sehat”, alat ukur yang sebagai data pelengkap penelitian. Hasil
digunakan adalah skala kesadaran terhadap wawancara yang peneliti lakukan terhadap
57

beberapa subjek memperlihatkan bahwa dalam memberikan pengetahuan dan


sebelum pelatihan, subjek tidak mengetahui meningkatkan kesadaran dalam komunitas
seluk beluk penyakit hepatitis, bagaimana mereka, pemberian pendidikan harus
penyakit hepatitis menular, bagaimana diberikan kepada mereka terkait pentingnya
mengurangi risiko terkena penyakit hepatitis penularan hepatitis. Lebih lanjut, fokus
A, setelah mengikuti pelatihan akhirnya pendidikan terhadap hepatitis lebih
mereka menjadi sadar bahwa penyakit diarahkan pada menghindari infeksi dan
hepatitis A menular jika tidak menjaga mencari pertolongan jika tertular (Ibrahim
kebersihan alat makan, dan makanan yang & Idris, 2014). Hal ini semakin menegaskan
dimakan. Subjek memahami bahwa setelah bahwa pengetahuan menjadi titik awal
mendapatkan rangsangan berupa pelatihan, dalam membangun sebuah kesadaran, dan
subjek menjadi sadar bahwa selama ini mahasiswa menjadi agen yang efektif untuk
perilaku yang dilakukan sangat rentan bagi membantu menyebarkan pengetahuan dan
dirinya untuk terkena penyakit hepatitis A. meningkatkan kesadaran akan hepatitis
Berdasarkan uji analisis, peneliti A. Mahasiswa diharapkan menjadi agen
menyimpulkan bahwa hipotesis dalam perubahan karena usia, kualifikasi pendidikan
penelitian ini terbukti bahwa pelatihan dan budaya mempunyai pengaruh dalam
“saya sehat, semua sehat” efektif dalam pengetahuan dan kesadaran hepatitis subjek
meningkatkan kesadaran mahasiswa, (Pathmanathan dkk, 2014).
sehingga terbukti mampu memberikan Data WHO tahun 2012, diperkirakan
manfaat bagi peserta pelatihan. 119 juta orang terinfeksi virus hepatitis A
Kesadaran bisa muncul jika ada pada tahun 2005, dengan 31 juta menderita
pengetahuan yang diterima oleh seseorang, gejala penyakit dan 34.000 mengalami
dalam hal ini pengetahuan tentang hepatitis A, kematian. WHO juga memperkirakan bahwa
munculnya kesadaran seseorang dipengaruhi dalam sepuluh tahun kedepan, lebih dari
oleh konsep yang mengidentifikasikan tahap lima juta orang di wilayah asia tenggara
pengalaman dengan munculnya sensasi, akan mati karena penyebaran hepatitis. Virus
pengenalan dan menamakannya, membuat hepatitis A dan E merupakan permasalahan
makna darinya, memutuskan bagaimana kesehatan yang serius. Sekitar 12 juta kasus
merespon, mengambil tindakan, melakukan hepatitis terjadi di wilayah asia tenggara,
kontak secara sadar dengan situasi yang ada, yang merupakan lebih dari setengah kasus
kemudian menyelesaikan dan meredakan di dunia.
energi untuk bersiap pada situasi pengalaman Peran stakeholders juga menjadi
lain. (Joyce & Sill, 2001). penting, karena akan menjadi sia-sia,
Pelatihan“saya sehat, semua sehat” usaha yang dilakukan dalam penelitian ini,
yang mencakup aspek pengetahuan, sikap, jika hanya mengarah pada orang per orang
dan perilaku terbukti dapat meningkatkan saja. Berbagai aktivitas yang dilakukan juga
kesadaran mahasiswa terhadap hepatitis A. diarahkan pada advokasi dan peningkatan
Pencegahan adalah satu-satunya strategi kesadaran pembuat kebijakan dan tenaga
yang aman melawan penyebaran penyakit kesehatan, karena tantangan dalam
hepatitis. Pengetahuan dan sikap yang sesuai pencegahan dan pengendalian virus hepatitis
terhadap infeksi penyakit ini adalah pondasi tidak hanya dari masyarakat, namun juga dari
awal dalam mencegah penyebarannya, kurangnya pengetahuan dan kesadaran para
mahasiswa memiliki peranan penting tenaga kesehatan dan pembuat kebijakan
Efektifitas PElatihan ”Saya Sehat, Semua Sehat” untuk Menigkatkan Kesadaran terhadap 58
Penyakit Hepatitis A pada Mahasiswa

itu sendiri. Peran kita sebagai ilmuwan peningkatan kesadaran guna mencegah
psikologi yang mempelajari tentang manusia penyebaran penyakit hepatitis. Salah
dan perilakunya, menjadikan kita juga satunya, adalah aspek demografi dan tingkat
bertanggung jawab atas hal ini, karena hanya pemahaman masyarakat dan stakeholders
jika kita keluar dari tempat kita sekarang dan terhadap penyakit hepatitis.
melakukan pendekatan terhadap siapapun
yang bertanggung jawab pada pengambilan Daftar Pustaka
kebijakan kesehatan, kita dapat memastikan
bahwa dokter dan pasien hepatitis dapat
bertemu (Piorkowsky, 2009). Asif, S.A., Iqbal, R., Hussain, H., Khan
Peningkatan kesadaran terhadap M.H., (2009). Awareness of Viral
hepatitis A juga harus mempertimbangkan Hepatitis In Ten Villages of District
lokasi subjek. Pengetahuan tentang hepatitis Nowshera. Gomal Journal of Medical
A dan B secara umum rendah di masyarakat. Sciences, Vol. 7, No.1
Orang dengan pendidikan yang lebih tinggi
mempunyai pengetahuan yang lebih baik Cohall, A.T., Cohall, R., Dye, B., Dini, S.,
tentang penyakit ini karena mereka lebih Vaughan, R. D., Coots, S. (2007).
banyak mendapatkan informasi kesehatan. Overheard in the Halls: What
Subjek yang berasal dari wilayah perkotaan Adolescent Are Saying, and What
sedikit lebih baik dalam tahap pengetahuan Teachers Are Hearing, about Health
tentang hepatitis A dan B dibandingkan Issues. Wiley-Blackwell, Maden
yang berasal dari wilayah pedesaan (Lim :Journal of School Health. 7, 344-350.
& Rashwan, 2003). Hal ini memungkinkan Cook & Campbell. (1979). Quasi
bahwa metode pelatihan yang didesain Eksperimentation: Design and
oleh peneliti hanya cocok untuk wilayah Analysis Issues for Field Setting.
perkotaan dengan tingkat pengetahuan akan Boston: Houghton Mifflin.
kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan
dengan wilayah pedesaan. Dinelli, M., Fisberg, M., Pinto, M. (2006).
Hepatitis A Virus freguency in
Adolescents at an Outpatient Clinic
Simpulan
in Sao Paulo Brazil. Journalbrasileiro
Pelatihan “saya sehat, semua sehat” de Journal Abbreviation, 48, 43-44.
efektif meningkatkan kesadaran, namun
Direktorat Jendral PPdan PL Kementrian
secara persentase peningkatannya hanya
Kesehatan. (2012). Pedoman
sebesar 39.8% masih banyak aspek-aspek
Pengendalian HepatitisVirus.
lain yang sebenarnya dapat diteliti lebih
h t t p : / / r e p o s i t o r y. u s u . a c . i d /
lanjut. Akhirnya, kesadaran masih pada
bitstream/123456789/16804/4/
tahap kognitif sedangkan kesehatan tidak
Chapter%20II.pdf
hanya didapat dari meningkatnya kesadaran
saja. Perilaku terhadap kesehatan juga Fitzsimons, D., Francois, G., Alpers,
merupakan aspek penting dalam melakukan K., Radu, D., Jilg, W., Rombo, L.
pencegahan terhadap penyakit hepatitis. (2005). Prevention of viral hepatitis
Peneliti mendorong peneliti lain untuk in the nordic countries and germany.
mempertimbangkan aspek-aspek lain, dalam Scandinavianjournal of infectious
59

diseases, 30 (37), 549-560. Srinivasan, N. (2014). Public


Awareness is a Key Role to Eradicate
HIMPSI. (2010). Kode Etik Psikologi
Hepatitis: A Survey to Determine the
Indonesia. Jakarta: Pengurus Pusat
Awareness and Knowledge of Public
Himpunan Psikologi Indonesia.
on Hepatitis B. Pharmacreations, 11,
Ibrahim, N., & Idris, A. (2014). Hepatitis B 4.
Awareness among Medical Students
Piorkowsky, N. Y. (2009). Europe’s Hepatitis
and Their Vaccination Status at Syrian
Challenge: Defusing the “Viral Time
Private University. Hepatitis Research
Bomb”. Journal of Hepatology, 51, 6,
and Treatment.
1068-1073.
Joyce, P. & Sills, C. (2001).Skills in Gestalt
Slamet, J. (2004). Kesehatan Lingkungan.
Counselling and Psychotherapy.
Yogyakarta: UGM Press.
London: Sage Publication.
World Health Organization. (2012).
Lim, H. C., & Rashwan, H. (2003).
Prevention & Controlof Viral Hepatitis
Awareness of Hepatitis A and Hepatitis
Infection. World Health Organization.
B among Residents in Kuala Lumpur
and Selangor. Malaysian Journal of Yong, H. H., & Son, R. (2009). Review
Pharmacy, 1, 3, 76-85. Article Hepatitis A Virus- a General
Overview. International Food
Pathmanathan, H., & Lakshmanan, P.
Research Journal, 16, 455-467.
(2013). Assessement of Awareness
and Knowledge of Hepatitis B among __________, awas jajanan tidak sehat.
the Residents of Puchong, Malaysia. http://www.kapanlagi.com/lifestyle/
Tropical Journal of Pharmaceutical trendz/women/1155-awas-jajanan-
Research. 13, 1719-1724 tidak-sehat-you-are-what-you-eat.
pdf. diunduhpadatanggal29 Juli 2008.
Pathmanathan, H., Lakshmanan, P.,