Anda di halaman 1dari 29

KATA PENGANTAR

Segala puji rasa syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang karena berkah rahmat, petunjuk serta hidayahnya
akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah berjudul ”Asuhan Keperawatan
Pada Pasien Dengan Isolasi Sosial”.
Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa makalah ini jauh dari
kesempurnaan dan banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran
diharapkan untuk kesempurnaan penulisan makalah ini. Terwujudnya makalah ini
tiada lain besarnya bimbingan, saran, motivasi, dan bantuan dari berbagai pihak.
Dengan adanya makalah ini mudah-mudahan Allah SWT melimpahkan
rahmat dan hidayahnya kepada semua pihak yang telah memberikan manfaat bagi
pihak-pihak yang membutuhkan. Akhir kata saya ucapkan terimakasih.

Cimahi, 25 Agustus 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i


DAFTAR ISI........................................................................................................................ii

BAB I .................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
A. Latar Belakang .......................................................................................................... 1
B. Tujuan ....................................................................................................................... 3
C. Manfaat ..................................................................................................................... 3
BAB II................................................................................................................................. 4
TINJAUAN TEORI ............................................................................................................ 4
A. Konsep Dasar Isolasi Sosial...................................................................................... 4
B. Pengertian isolasi sosial ............................................................................................ 4
C. Proses Terjadinya Isolasi Sosial ............................................................................... 5
D. Tanda dan Gejala ...................................................................................................... 8
BAB III ............................................................................................................................... 9
PROSES ASUHAN KEPERAWATAN ............................................................................. 9
A. Pengkajian ................................................................................................................ 9
B. Diagnosa Keperawatan ........................................................................................... 17
C. Intervensi Keperawatan .......................................................................................... 20
D. Implementasi Dan Evaluasi .................................................................................... 23
BAB IV ............................................................................................................................. 26
PENUTUP ........................................................................................................................ 26
A. Kesimpulan ............................................................................................................. 26
B. Saran ....................................................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 27

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah kesehatan terutama gangguan jiwa insidennya masih
cukup tinggi. Data American Psychiatri Association (APA) tahun 1995
menyebutkan 1% penduduk dunia akan mengidap Skizoprenia. Jumlah
tiap tahun makin bertambah dan akan berdampak bagi keluarga dan
masyarakat (Kaplan & Saddock, 2005). Gangguan jiwa di Indonesia
menjadi masalah yang cukup serius, berdasarkan data Depkes (2001) ada
satu dari lima penduduk Indonesia menderita gangguan jiwa. Data dari
WHO pada tahun 2006, terdapat 26 juta penduduk Indonesia mengalami
gangguan jiwa, berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa angka
gangguan jiwa di Indonesia mencapai 12% - 16 % dari populasi penduduk.
Hasil SKMRT menunjukan gangguan mental emosional pada usia diatas
15 tahun adalah 140 orang per 1.000 penduduk dan usia 5 – 14 tahun
sebanyak 104 orang per 1.000 penduduk (Maramis,2006).
Prevalensi gangguan jiwa di Indonesia tahun 2007 sebesar 4,6%
sedangkan di Jawa Tengah 3,3% (Batitbangkes, 2008). Data diatas
menunjukan prevalensi gangguan jiwa di Indonesia cenderung meningkat
secara bermakna. Perlu perhatian yang serius untuk mencari pemecahan
masalah dan pencegahan lebih lanjut meningkatnya angka gangguan jiwa.
World Health Organization (WHO) menyebutkan masalah utama
gangguan jiwa di dunia adalah Skizofrenia, depresi unipolar, penggunaan
alkohol, gangguan bipolar, gangguan obsesi konpulsif (Stuart & Larala,
2005). Skizoprenia mempunyai karakteristik dengan gejala positif dan
negatif. Gejala positif antara lain delusi dan halusinasi. Gejala negatif
seperti sikap apatis, bicara jarang, afek tumpul, ,menarik diri. Perilaku
yang sering muncul pada klien skizoprenia yaitu motivasi kurang (81%),
isolasi sosial (72%), perilaku makan dan tidur buruk (72%), sukar
menyelesaikan tugas (72%), penampilan tidak rapih (64%), kurang
perhatian pada orang lain (56%), bicara pada diri sendiri (41%) (Stuart &
Larai, 2005).
Dari data diatas mengindikasikan isolasi sosial adalah salah satu
perubahan yang muncul pada skizoprenia. Isolasi sosial adalah suatu

1
pengalaman menyendiri dari seseorang dan perasaan segan terhadap orang
lain sebagai sesuatu yang negatif atau keadaan yang mengancam (Nanda,
2005). Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa isolasi sosial adalah
kegagalan individu dalam melakukan interaksi dengan orang lain yang
disebabkan oleh pikiran negatif atau mengancam. Seseorang dapat
dikatakan mengalami gangguan isolasi sosial jika individu tersebut
menarik diri, tidak komunikatif, menyendiri, asyik dengan pikiran dan
dirinya sendiri, tidak ada kontak mata, sedih, afek tumpul, perilaku
bermusuhan, menyatakan perasaan sepi atau ditolak, kesulitan membina
hubungan di lingkungannya, menghindari orang lain dan mengungkapkan
perasaan tidak dimengerti orang lain. Jika perilaku isolasi sosial tidak
ditangani dengan baik dapat menurunkan produktivitas individu dan
menjadikan beban bagi keluarga ataupun masyarakat.
Isolasi sosial tidak hanya berdampak secara individu pada klien
yang mengalami tetapi juga pada sistem klien secara keseluruhan yaitu
keluarga dan lingkungan sosialnya. Isolasi sosial dapat menurunkan
produktifitas atau berdampak buruk pada fungsi di tempat kerja, karena
kecenderungan klien menarik diri dari peran dan fungsi sebelum sakit,
membatasi hubungan sosial dengan orang lain dengan berbagai macam
alasan. Menurut Chandra (2001), Health and Behaviour Advisor dari
WHO Wilayah Asia Tenggara (WHO-SEARO), meski bukan penyebab
utama kematian, gangguan jiwa merupakan penyebab utama disabilitas
pada kelompok usia paling produktifm yakni antara 15 – 44 tahun.
Dampak sosial berupa penolakan, pengucilan, dan diskriminasi. Begitu
pula dampak ekonomi berupa hilangnya hari produktif untuk mencari
nafkan bagi penderita maupun keluarga yang harus merawat, serta
tingginya biaya perawatan yang harus ditanggung keluarga maupun
masyarakat. Menurut Hawari (2003) salah satu kendala dalam upaya
penyembuhan pasien gangguan jiwa adalah pengetahuan masyarakat dan
keluarga.
Keluarga merupakan faktor yang sangat penting dalam proses
kesembuhan klien yang mengalami gangguan jiwa. Kondisi keluarga yang
terapeutik dan mendukung klien sangat membantu kesembuhan klien dan
memperpanjang kekambuhan. Bersarakan penelitian ditemukan bahwa
angka kekambuhan pada klien tanpa terapi keluarga sebessr 25 – 50%
sedangkan angka kekambuhan pada klien yang diberikan terapi keluarga 5
- 10% (Keliat, 2006). Keluarga sebagai “perawat utama” dari klien
memerlukan treatment untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
dalam merawat klien.

2
Berdasarkan Evidance Based Practice psokoedukasi keluarga
adalah terapi yang digunakan untuk memberikan informasi pada keluarga
untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam merawat anggota
keluarga mereka yang mengalami gangguan jiwa, sehingga diharapkan
keluarga akan mempunyai koping yang positif terhadap stres dan beban
yang dialami (Goldenberg & Goldengerg, 2004).

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep dasar isolasi sosial.
2. Untuk mengetahui proses terjadinya isolasi sosial.
3. Untuk mengetahui tanda dan gejala isolasi sosial.
4. Untuk mengetahui proses asuhan keperawatan pada pasien dengan
isolasi sosial.
5. Untuk mengetahui pengkajian pada pasien isolasi sosial.
6. Untuk merumuskan masalah pada pasien isolasi sosial.
7. Untuk mengetahui rencana asuhan keperawatan pada pasien isolasi
sosial.
8. Untuk mengetahui tindakan keperawatan pada pasien isolasi sosial.

C. Manfaat
1. Mengetahui konsep dasar isolasi sosial.
2. Mengetahui proses terjadinya isolasi sosial.
3. Mengetahui tanda dan gejala isolasi sosial.
4. Mengetahui proses asuhan keperawatan pada pasien dengan isolasi
sosial.
5. Mengetahui pengkajian pada pasien isolasi sosial.
6. Merumuskan masalah pada pasien isolasi sosial.
7. Mengetahui rencana asuhan keperawatan pada pasien isolasi sosial.
8. Mengetahui tindakan keperawatan pada pasien isolasi sosial.

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Isolasi Sosial

1. Pengertian isolasi sosial


Isolasi soasial adalah keadaan dimana seorang individu mengalami
penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan
orang lain di sekitarnya. Klien mungkin merasa ditolak, tidak di terima,
kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang
lain. Isolasi sosial adalah keadaan dimana seorang individu mengalami
penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orng
lain di sekitarnya (Damaiyanti, 2008). Isolasi sosial juga merupakan
kesepian yang dialami oleh individu dan dirasakan saat didorong oleh
keberdaan orng lain dan sebagai pernyataan negatif atau mengancam
(Nanda-I, 2012).

Isolasi sosial merupakan upaya klien untuk menghindari interaksi


dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain maupun
kominikasi dengan orang lain (Keliat,1998). Isolasi adalah salah suatu
gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian
yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptif dan
mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial (Depkes RI,2000).

Isolasi sosial merupakan upaya menghindari komunikasi dengan orang


lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai
kesempatan untuk berbagi rasa, pikiran, dan kegagalan. Klien mengalami
kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain yang di
manifestasikan dengan mengisolasi diri tidak ada perhatian dan t idak
sanggup berbagi pengalaman.

4
Isolasi Sosial adalah kondisi kesepian yang diekspresikan oleh individu
dan dirasakan sebagai hal yang ditimbulkan oleh orang lain dan sebagai
suatu keadaan negatif yang mengancam. Dengan karakteristik : tinggal
sendiri dalam ruangan, ketidakmampuan untuk berkomunikasi, menarik
diri, kurangnya kontak mata. Ketidaksesuaian atau ketidakmatangan minat
dan aktivitas dengan perkembangan atau terhadap usia. Preokupasi dengan
pikirannya sendiri, pengulangan, tindakan yang tidak bermakna.
Mengekspresikan perasaan penolakan atau kesepian yang ditimbulkan oleh
orang lain. Mengalami perasaan yang berbeda dengan orang lain, merasa
tidak aman ditengah orang banyak. (Mary C. Townsend, Diagnose Kep.
Psikiatri, 1998; hal 252).

2. Proses Terjadinya Isolasi Sosial


a) Pattern of parenting (pola asuh keluarga)
Misal : Pada anak yang kelahirannya tidak dikehendaki (unwanted
child) akibat kegagalan KB, hamil diluar nikah, jenis kelamin yang
tidak diinginkan, bentuk fisik kurang menawan menyebabkan keluarga
mengeluarkan komentar-komentar negatif, merendahkan menyalahkan
anak.

b) Inefective coping (koping individu tidak efektif)


Misal : Saat individu menghadapi kegagalan menyalahkan orang
lain, ketidakberdayaan, menyangkal tidak mampu menghadapi
kenyataan dan menarik diri dari lingkungan, terlalu tingginya self ideal
dan tidak mampu menerima realitas dengan rasa syukur.

c) Lack of Development task (Gangguan tugas perkembangan)


Misal : Kegagalan menjalin hubungan intim dengan sesama jenisn
atau lawan jenis, tidak mampu mandiri dan menyelesaikan tugas,
bekerja, bergaul, sekolah, menyebabkan ketergantungan pada orang tua,
rendahnya ketahanan terhadap berbagai kegagalan.

d) Stressor internal and exsternl (stress internal dan eksternal)


Misal : Stress terjadi akibat ansietas yang berkepanjangan dan terjadi
bersamaan dengan keterbatasan kemampuan individu untuk

5
mengatasinya. Ansietas terjadi akibat berpisah dengan orang terdekat,
hilangnya pekerjaan atau orang yang dicintai.

Menurut Stuart Sundeen rentang respons klien ditinjau dari


interaksi dengan lingkungan sosial merupakan suatu kontinum yang
terbentang antara respons adaptif dengan maladaptip sebagai berikut :

Respon adaptif Respon maladaptif

Menyendiri Manipulasi
Otonomi Kesepian Impulsif
Kebersamaan Menarik diri Narkisisme
Interdependen Dependen

Respons Adaptif :
Respon yang masih dapat diterima oleh norma – norma sosial dan
kebudayaan secara umum serta masih dalam batas normal dalam
menyelesaikan masalah.
1) Menyendiri (Solitude)
Merupakan respons yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan
apa yang telah terjadi di lingkungan sosialnya dan suatu cara
mengevaluasi diri untuk menentukn langkah selanjutnya. Solitude
umumnya dilakukan setelah melakukan kegiatan.
2) Otonomi: kemampuan individu untuk menentukan dan
menyampaikan ide, pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.
3) Kebersamaan (Mutualisme)
Mutualisme adalah suatu kondisi dalam hubungan interpersonal di
mana individu tersebut mampu untuk saling memberi dan menerima.
4) Saling ketergantungan (Interpenden)
Interdependen merupakan kondisi saling ketergantungan antara
individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.

6
Respons maladaptif :
Respons yang diberikan individu yang menyimpang dari nprma
sosial. Yang termasuk respons maladaptif adalah:
1) Kesepian
Merupakan kondisi dimana individu merasa sendiri dan terasing dari
lingkungannya.
2) Menarik diri (Isolasi sosial)
Merupakan suatu keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan
dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.
3) Ketergantungan (Dependen)
Dependen terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya
diri atau kemmpuannya untuk berfungsi secara sukses. Pada
gangguan hubungan sosial jenis ini orang lain diperlakukan sebgai
objek, hubungan terpusat pada masalah pengendalian orang lain, dan
individu cenderung berorientasi pada diri sendiri atau tujuan, bukan
pada orang lain.
4) Manipulasi
Merupakan gangguan hubungan sosial yang terdapat pada individu
yang menganggap orang lain sebagai objek. Individu tersebut tidak
dapat membina hubungan sosial secara mendalam.
5) Impulsif
Individu impulsif tidak mampu merencanakan sesuatu, tidak mampu
belajar dari pengalaman, tidak dapat diandalkan, dan penilaian yang
buruk.
6) Narkisisme
Pada individu narkisisme terdpat harga diri yang rapuh, secara terus
menerus berusaha mendapatkan penghargaan dan pujian, sikap
egosentrik, pencemburu, marah jika orang lain tidak mendukung.

7
3. Tanda dan Gejala
Gejala subjektif :
- klien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain.
- Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain.
- Respons verbal kurang dan sangat singkat.
- Klien mengatakan hubungan ynag tidak berarti dengan orang lain.
- Klien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu.
- Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan.
- Klien merasa tidak berguna.
- Klien tidak yakin dapat melangsungkan hidup.
- Klien merasa ditolak.

Gejala objektif :
- Klien banyak diam dan tidak mau bicara.
- Tidak mengikuti kegiatan.
- Banyak berdiam diri dikamar.
- Klien menyendiri dan tidak mau berinteraksi dengan orang yang
terdekat.
- Klien tampak sedih, eksprsi datar dan dangkal.
- Kontak mata kurang.
- Kurang spontan.
- Apatis (acuh terhadap lingkungan)
- Ekspresi wajah kurang berseri.
- Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri.
- Mengisolasi diri.
- Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya.
- Masukan makanan dan minuman terganggu
- Retensi urin dan feses
- Aktivitas menurun
- Kurang energi (tenaga)
- Rendah diri
- Postur tubuh berubah, misalnya sikap fetus/janin (khususnya pada
posisi ridur)

8
BAB III

PROSES ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
a) Identitas klien
Nama, Umur, Jenis kelamin, Status perkawinan, Tangggal MRS ,
Tanggal pengkajian, Agama, Pendidikan, Pekerjaan, Nomer Rekam
Medis, Alamat.
b) Alasan masuk rumah sakit
Keluhan pada pasien isolasi sosial biasanya adalah kontak mata kurang,
duduk sendiri lalu menunduk, menjawab pertanyaan dengan singkat,
menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi kurang atau tidak
ada, berdiam diri dikamar, menolak interaksi dengan orang lain, tidak
melakukan kegiatan sehari – hari.

c) Faktor Predisposisi
Faktor-faktor predisposisi yang terjadi pada pasien Isolasi sosial adalah
:
1) Faktor Perkembangan
Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas
perkembangan yang harus dilalui individu dengan sukses agar tidak
terjadi gangguan dalam hubungan social. Tugas perkembangan pada
masing-masing tahap tumbuh kembang ini memiliki karakteristik
tersendiri. Apabila tugas ini tidak terpenuhi akan mencetuskan
seseorang sehingga mempunyai masalah respon social maladaptif.
Sistem keluarga yang terganggu dapat menunjang perkembangan
respon social maladaptif. Beberapa orang percaya bahwa individu
yang mempunyai masalah ini adalah orang yang tidak berhasil
memisahkan dirinya dan orang tua. Norma keluarga yang tidak
mendukung hubungan keluarga dengan pihak lain di luar keluarga.
2) Faktor Biologis
Genetik merupakan salah satu factor pendukung gangguan jiwa.
Berdasarkan hasil penelitian, pada penderita skizofrenia 8% kelainan
pada struktur otak, seperti atrofi, pembesaran ventrikel, penurunan
berat dan volume otak serta perubahan struktur limbik diduga dapat
menyebabkan skizofrenia.
3) Faktor Sosial Budaya
Isolasi social merupakan factor dalam gangguan berhubungan. Ini
akibat dari norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang
lain, atau tidak menghargai anggota masyarakat yang tidak

9
produktif, seperti lansia, orang cacat, dan penyakit kronik. Isolasi
dapat terjadi karena mengadopsi norma, prilaku, dan sistem nilai
yang berbeda dan kelompok budaya mayoritas. Harapan yang tidak
realistis terhadap hubungan merupakan factor lain yang berkaitan
dengan gangguan ini.
4) Faktor Komunikasi Dalam Keluarga
Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan factor pendukung
untuk terjadinya gangguan dalam hubungan social.
Dalam teori ini termasuk masalah komunikasi yang tidak jelas yaitu
suatu keadaan dimana seseorang anggota keluarga menerima pesan
yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan, eksperi emosi
yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan
dengan lingkungan diluar keluarga.
d) Stressor Presipitasi
Stressor presipitasi pada pasien Isolasi sosial umumnya mencakup
kejadian kehidupan yang penuh stres seperti kehilangan, yang
mempengaruhi kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang
lain dan menyebabkan ansietas. Stressor presipitasi dapat
dikelompokkan dalam kategori :
1) Stressor Sosial Budaya
Stres pada pasien Isolasi sosial dapat ditimbulkan oleh beberapa
faktor antara faktor lain dan faktor keluarga seperti menurunnya
stabilitas unit keluarga dan berpisah dengan orang yang berarti
dalam kehidupannya, misalnya dirawat di rumah sakit.
2) Stressor psikologis
Tingkat kecemasan yang berat pada pasien Isolasi sosial akan
menyebabkan menurunnya kemampuan individu untuk berhubungan
dengan orang lain. Intensitas kecemasan yang ekstrim dan
memanjang disertai terbatasnya kemampuan individu mengatasi
masalah diyakini akan menimbulkan berbagai masalah berhubungan
sosial (isolasi sosial)
3) Perilaku
Adapun prilaku yang biasa muncul pada isolasi sosial berupa kurang
spontan, apatis (kurang acuh terhadap lingkungan), ekspresi wajah
kurang berseri (ekspresi sedih), efek tumpul. Tidak merawat dan
tidak memerhatikan kebersihan diri, komunikasi verbal menurun
atau tidak ada. Klien tidak bercakap-cakap dengan klien lain atau
perawat, mengisolasi diri (menyendiri). Klien tampak memisahkan
diri dan orang lain, tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan
sekitar. Pemasukan makanan dan minuman terganggu, retensi urine

10
dan feses. Aktivitas menurun, kurang energi (tenaga), harga diri
rendah, posisi janin saat tidur, menolak hubungan dengan orang lain.
Klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-
cakap.
4) Sumber Koping
Sumber koping pada pasien Isolasi sosial yang berhubungan dengan
respon sosial maladaptif termasuk keterlibatan dalam hubungan yang
luas didalam keluarga maupun teman, menggunakan kreativitas
untuk mengekpresikan stres interpersonal seperti ksesenian, musik,
atau tulisan.
5) Mekanisme Defensif
Mekanisme yang digunakan pasien Isolasi sosial sebagai usaha
mengatasi kecemasan yang merupakan suatu kesepian nyata yang
mengancam dirinya. Mekanisme yang sering digunakan pada isolasi
sosial adalah regresi, represi, dan isolasi.
1) Regresi adalah mundur ke masa perkembangan yang telah lain
2) Represi adalah perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran yang tidak
dapat diterima, secara sadar dibendungn supaya jangan tiba
dikesadaran.
3) Isolasi adalah mekanisme mental tidak sadar yang mengakibatkan
timbulnya kegagalan defensive dalam menghubungkan perilaku
dengan motivasi atau pertentangan antara sikap dan perilaku.

e) Aspek fisik / biologis


1) Tanda-tanda Vital pada pasien Isolasi sosial pada umumnya TD :
cenderung meningkat, N : cenderung meningkat, S : meningkat, P :
bertambah.
2) Ukur TB dan BB pada pasien Isolasi sosial cenderung menurun.
3) Keluhan fisik
Keluhan fisik pada pasien Isolasi sosial biasanya mengalami
gangguan pola makan dan tidur sehingga bisa terjadi penurunan
berat badan. Klien biasanya tidak menghiraukan kebersihan
dirinya.
f) Psikososial
1) Genogram
Menggambarkan tiga generasi yang dapat menggambarkan
hubungan klien dan keluarga.
2) Konsep diri
a. Gambaran diri
Gambaran diri pada pasien Isolasi Sosial biasanya menolak
melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak

11
menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan
terjadi. Menolak penjelasan perubahan tubuh, persepsi negatif
tentang tubuh. Preokupasi dengan bagian tubuh yang hilang,
mengungkapkan keputusasaan, mengungkapkan ketakutan.
b. Identitas diri
Identitas pada pasien Isolasi sosial biasanya meliputi
ketidakpstian memandang diri, sukar menetapkan keinginan dan
tidak mampu mengambil keputusan.
c. Peran diri
Peran diri pada pasien Isolasi sosial biasanya meliputi berubah
atau berhentinya fungsi peran yang disebabkan penyakit, proses
menua, putus sekolah, PHK dan lainnya.
d. Ideal diri
Ideal diri pada pasien Isolasi sosial biasanya mengungkapkan
keputusasaan karena penyakitnya, mengungkapkan keinginan
yang terlalu tinggi.
e. Harga diri
Harga diri pada pasien Isolasi sosial biasanya meliputi perasaan
malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri sendiri,
gangguan hubungan sosial, merendahkan martabat, mencederai
diri, dan kurang percaya diri.
3) Hubungan sosial pada pasien Isolasi sosial
a. Orang yang berarti : merasa tidak memiliki teman dekat.
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok/msyarakat : tidak pernah
melakukan kegiatan kelompok atau masyarakat.
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : mengalami
hambatan dalam pergaulan.
g) Status mental
a. Penampilan : Pada pasien Isolasi sosial biasnya berpenampilan tidak
rapi, rambut acak-acakan, kulit kotor, gigi kuning, tetapi penggunaan
pakaian sesuai dengan keadaan serta klien tidak mengetahui kapan
dan dimana harus mandi.
b. Pembicaraan : Pembicaraan pasien Isolasi sosial pada umumnya
tidak mampu memulai pembicaraan, bila berbicara topik yang
dibicarakan tidak jelas atau kadang menolak diajak bicara.
c. Aktivitas motorik : Aktivitas motorik pasien Isolasi sosial umumnya
tampak lesu, tidak bergairah dalam beraktifitas, kadang gelisah dan
mondar-mandir.
d. Alam perasaan : Alam perasaan pasien Isolasi sosial biasanya
tampak putus asa dimanifestasikan dengan sering melamun.
e. Afek : Afek pasien Isolasi sosial biasanya datar, yaitu tidak bereaksi
terhadap rangsang yang normal.

12
f. Interaksi selama wawancara : Interaksi selama wawancara pada
pasien Isolasi sosial umumnya menunjukkan kurang kontak mata
dan kadang-kadang menolak untuk bicara dengan orang lain.
g. Persepsi : Persepsi pada pasien Isolasi sosial pada umumnya
mengalami gangguan persepsi terutama halusinasi pendengaran,
klien biasanya mendengar suara-suara yang mengancam, sehingga
klien cenderung sering menyendiri dan melamun.
h. Proses pikir
Proses pikir pada pasien Isolasi sosial umumnya akan kehilangan
asosiasi, tiba-tiba terhambat atau blocking serta inkoherensi
(pembicaran yang tidak logis dan kata-kata yang dikatakan tidak
dimengerti) dalam proses pikir.
i. Isi pikir
Isi pikir pada pasien Isolasi sosial pada umumnya mengalami
gangguan isi pikir seperti waham.
j. Kesadaran
Kesadaran pada pasien Isolasi sosial tidak mengalami gangguan
kesadaran.
k. Memori
Memori pada pasien Isolasi sosial tidak mengalami gangguan
memori, dimana klien mampu mengingat hal-hal yang telah terjadi.
l. Konsentrasi dan berhitung
Konsentrasi dan berhitung pada pasien Isolasi sosial pada umumnya
tidak mengalami gangguan dalam konsentrasi dan berhitung.
m. Kemampuan penilaian
Penilaian pada pasien Isolasi sosial tidak mengalami gangguan
dalam penilaian
n. Daya tilik diri
Daya tilik pasien Isolasi sosial mengalami gangguan daya tilik diri
karena pasien akan mengingkari penyakit yang dideritanya.

h) Kebutuhan persiapan pulang


a. Makan
Pada pasien Isolasi sosial mampu menyiapkan dan membersihkan
alat makan.
b. BAB / BAK
Pada pasien Isolasi sosial mampuan menggunakan dan
membersihkan WC kurang.
c. Mandi

13
Pada pasien Isolasi sosial bisanya tidak memiliki minat dalam
perawatan diri (mandi).
d. Berpakaian/berhias
Pada pasien Isolasi sosial bisanya tidak berhias dan berpakaian
seadanya.
e. Istirahat dan tidur
Kebutuhan istirahat dan tidur pada pasien Isolasi sosial biasanya
terganggu.
f. Penggunaan obat
Pada pasien Isolasi sosial dapat menjalankan program pengobatan
dengan benar.

i) Mekanisme koping
Koping yang digunakan pasien Isolasi sosial apabila mendapat masalah
takut atau tidak mau menceritakannya pada orang orang lain (lebih
sering menggunakan koping menarik diri). Mekanisme koping yang
sering digunakan pada klien Isolasi sosial adalah regresi, represi, dan
isolasi.
j) Masalah psikososial dan lingkungan
Masalah psikososial dan lingkungan pada pasien Isolasi sosial biasanya
mendapat perlakuan yang tidak wajar dari lingkungan seperti klien
direndahkan atau diejek karena klien menderita gangguan jiwa.
k) Pengetahuan kurang tentang
Pengetahuan pada pasien Isolasi sosial bisanya kurang mengetahuan
dalam hal mencari bantuan, faktor predisposisi, koping mekanisme dan
sistem pendukung sehingga penyakit klien semakin berat.
l) Aspek medik
Aspek medik yang biasa digunakan untuk pasien Isolasi sosial
dintaranya :
Obat anti psikotik
a. Clorpromazine (CPZ)
Untuk syndrome psikosis yaitu berdaya berat dalam kemampuan
menilai realitas, kesadaran diri terganggu, daya nilai norma sosial
dan tilik diri terganggu, berdaya berat dalam fungsi -fungsi mental:
waham, halusinasi, gangguan perasaan dan perilaku yang aneh atau,
tidak terkendali, berdaya berat dalam fungsi kehidupan sehari -hari,
tidak mampu bekerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan
rutin.
b. Haloperidol (HP)
Berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi netral
serta dalam fungsi kehidupan sehari –hari.

14
c. Trihexy phenidyl (THP)
Segala jenis penyakit parkinson,termasuk paska ensepalitis dan
idiopatik,sindrom parkinson akibat obat misalnya reserpin dan
fenotiazine.
(........., thn)
Terapi yang diterima klien bisa berupa therapy farmakologi, ECT,
Psikomotor, therapy okopasional, TAK , dan rehabilitas.
Terapi Farmakologi:
a. Teori biologis (somatik), mencakup: pemberian obat psikofarmaka,
lobektomi dan electro convulsi therapy (ECT)
b. Terapi somatis
Terapi somatis adalah terapi yang diberikan kepada klien dengan
gangguan jiwa dengan tujuan mengubah perilaku yang maladaptif
menjadi perilaku adaptif dengan melakukan tindakan yang ditujukan
pada kondisi fisik klien. Walaupun yang diberikan perlakuan fisik
adalah fisik klien, tetapi target terapi adalah perlakuan klien. Jenis
terapi somatik adalah meliputi pengikatan, ECT, isolasi, dan
fototerapi1.
1) Pengikatan
Pengikatan adalah terapi menggunakan alat mekanik atau manual
untuk membatasi mobilitas fisik klien yang bertujuan untuk
melindungi cedera fisik pada klien sendiri atau orang lain.
2) Terapi Kejang Listrik/Elektro Convulsive Therapy (ECT)
Adalah bentuk terapi kepada klien dengan menimbulkan kejang
(Grandmal) dengan mengalirkan arus listrik kekuatan rendah (2-3
joule) melalui electrode yang ditempelkan di bebrapa titik pada
pelipis kiri/kanan (lobus frontalis) klien.
3) Isolasi
Isolasi adalah bentuk terapi dengan menempatkan klien sendiri di
ruangan tersendiri untuk mengendalikan perilakunya dan
melindungi klien, orang lain, dan lingkungan dari bahaya
potensial yang mungkin terjadi.
4) Fototerapi
Fototerapi adalah terapi yang diberikan dengan memaparkan klien
pada sinar terang 5-10 x lebih terang daripada sinar ruangan
dengan posisi klien duduk, mata terbuka, pada jarak 1,5 meter di
depan klien diletakkan lampu setinggi mata.
5) Terapi Deprivasi Tidur

15
Terapi deprivasi tidur adalah terapi yang diberikan kepada klien
dengan mengurangi jumlah jam tidur klien sebanyak 3,5 jam.
Cocok diberikan pada klien dengan depresi.
c. Terapi Modalitas
Terapi modalitas adalah terapi utama dalam keperawatan jiwa.
Tetapi ini diberikan dalam upaya mengubah perilaku klien dari
perilaku yang maladaptif menjadi perilaku adaptif. Jenis-jenis terapi
modalitas antara lain1 :
1) Aktifitas Kelompok
Terapi Aktifitas Kelompok (TAK) adalah suatu bentuk terapi
yang didasarkan pada pembelajaran hubungan
interpersonal.Fokus terapi aktifitas kelompok adalah membuat
sadar diri (self-awereness), peningkatan hubungan interpersonal,
membuat perubahan, atau ketiganya.
2) Terapi keluarga
Keluarga merupakan sistem pendukung utama yang member
perawatan langsung pada setap keadaan (sehat-sakit) klien.
Perawat membantu keluarga agar mampu melakukan lima tugas
kesehatan yaitu mengenal masalah kesehatan, membuat
keputusan tindakan kesehatan, member perawatan pada anggota
keluarga yang sehat, menciptakan lingkungan yang sehat, dan
menggunakan sumber yang ada dalam masyarakat.
3) Terapi Rehabilitasi
Program rehabilitasi dapat digunakan sejalan dengan terapi
modalitas lain atau berdiri sendiri, seperti Terapi okupasi,
rekreasi, gerak, dan musik.
4) Terapi Psikodrama
Psikodrama menggunakan struktur masalah emosi atau
pengalaman klien dalam suatu drama. Drama ini member
kesempatan pada klien untuk menyadari perasaan, pikiran, dan
perilakunya yang mempengaruhi orang lain.
5) Terapi Lingkungan
Terapi lingkunagan adalah suatu tindakan penyembuhan penderita
dengan gangguan jiwa melalui manipulasi unsur yang ada di
lingkungan dan berpengaruh terhadap proses penyembuhan.
Upaya terapi harus bersifat komprehensif, holistik, dan
multidisipliner.

Analisa data

16
DATA MASALAH
Subjektif : Isolasi sosial
- Sukar didapat jika klien menolak
komunikasi, kadang hanya
dijawab dengan singkat, ya atau
tidak.
- Klien mengatakan lebih suka
sendiri daripada berhubungan
dengan orang lain.
Objektif :
- Tidur berlebihan
- Tidak memperdulikan
lingkungan.
- Kegiatan menurun, mobilitas
kurang
- Klien tampak diam, melamun
dan menyendiri.
- Apatis
- Ekpresi sedih
- Afek tumpul
- Menyendiri
- Berdiam diri dikamar
- Banyak diam
- Kontak mata kurang (menunduk)
- Menolak berhubungan dengan
orang lain
- Perawatan diri kurang
- Posisi menekuk.

B. Diagnosa Keperawatan
a) Risiko gangguan persepsi sensori : Halusinasi
b) Isolasi Sosial
c) Harga Diri Rendah Kronik

Pohon Masalah

Koping individu tidak efektif

Harga Diri Rendah Kronis


(Causa)

17
Isolsi Sosial
(Core problem)

Resiko bunuh diri

Rencana Keperawatan Isolasi Sosial dalam bentuk Strategi Pelaksanaan

No Pasien Keluarga
SP1P SP1K
1. Mengidentifikasi penyebab isolasi Mendiskusikan masalah yang
sosial pasien. dirasakan keluarga dalam merawat
2. Berdiskusi dengan klien tentang pasien.
keuntungan berinteraksi dengan Menjelaskan pengertian, tanda dan
orang lain. gejala isolasi sosial yang dialami
3. Berdiskusi dengan klien tentang klien beserta proses terjadinya.
kerugian berinteraksi dengan Menjelaskan cara-cara merwat klien
orang lain. dengan isolasi sosial.
4. Menga jrkan klien cara berkenalan
dengan satu orang.
5. Menganjurkan klien memasukkan
kegiatan latihan berbincang-
bincang dengan orang lain dalam
kegitan harian
SP2P SP2K
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan Melatih keluarga mempraktikan cara
harian pasien. merawat klien dengan isolasi sosial.
2. Memberikan kesempatan kepada Melatih keluarga mempraktikn cara
klien mempraktikan cara merawat langsung kepada klien
berkenalan dengan satu orang. isolasi sosial.
3. Membantu klien memasukkan
kegiatan latihan berbincang-
bincang dengan orang lain sebagai
salah satu kegiatan harian.
SP3P SP3K
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan Membantu keluarga membuat jadwal
harian pasien. aktivitas di rumah termasuk minum
2. Memberikan kesempatan kepada obat (discharge planning).

18
klien mempraktikan cara Menjelaskan follow up klien setelah
berkenalan dengan dua orang atau pulang.
lebih.
3. Menganjurkan klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian.

19
C. Intervensi Keperawatan
Dx.
Keperawata Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi
n
Isolasi Pasien mampu : SP 1
Sosial - Menyadari Setelah ….x pertemuan 1. Identifikasi penyebab
penyebab klien mampu : - Siapa yang satu rumah
isolasi sosial - Membina hubungan dengan pasien
- Berinteraksi saling percaya. - Siapa yang dekat
dengan orang - Menyadari penyebab dengan pasien
lain isolasi sosial, - Siapa yang tidak dekat
keuntungan dan dengan pasien
kerugian berinteraksi 2. Tanyakan keuntungan dan
dengan orang lain. kerugian berinteraksi
- Melakukan interaksi dengan orang lain
dengan orang lain - Tanyakan pendapat
secara bertahap. pasien tentang
kebiasaan berinteraksi
dengan orang lain
- Tanyakan apa yang
menyebabkan pasien
tidak ingin berinteraksi
dengan orang lain
- Diskusikan
keuntungan bila pasien
memiliki banyak
teman dan bergaul
akrab dengan mereka
- Diskusikan kerugian
kerugian bila pasien
hanya mengurung diri
dan tidak bergaul
dengan orang lain
- Jelaskan pengaruh
isolasi sosial terhadap
kesehatan fisik pasien
3. Latih berkenalan
- Jelaskan kepada klien
cara berinteraksi
dengan orang lain
- Berikan contoh cara
berinteraksi dengan
orang lain
- Beri kesempatan
pasien mempraktekan
cara berinteraksi
dengan orang lain yang
dilakukan di hadapan
perawat
- Mulailah bantu pasien
berinteraksi dengan
satu orang
temen/anggota
keluarga

20
- Bila pasien sudah
menunjukkan
kemajuan, tingkatkan
jumlah interaksi
dengan 2, 3, 4 orang
dan seterusnya
- Beri pujian untuk
setiap kemajuan
interaksi yang telah
dilakukan oleh pasien
- Siap mendengarkan
ekspresi perasaan
pasien setelah
berinteraksi dengan
orang lain, mungkin
pasien akan
mengungkapkan
keberhasilan atau
kegagalannya, beri
dorongan terus
menerus agar pasien
tetap semangat
meningkatkan
interaksinya
4. Masukkan jadwal kegiatan
pasien
SP 2
- Evaluasi SP1
- Latih berhubungan sosial
secara bertahap
- Masukkan dalam jadwal
kegiatan pasien
SP 3
- Evaluasi SP1 dan 2
- Latih cara berkenalan
dengan 2 orang atau lebih
- Masukkan dalam jadwal
kegiatan pasien

Keluarga mampu Setelah ….x pertemuan SP 1


: keluarga mampu - Identifikasi masalah yang
Merawat pasien menjelaskan tentang : dihadapi keluarga dalam
isolasi sosial di - Masalah isolasi sosial merawat pasien
rumah dan dampaknya pada - Penjelasan isolasi sosial
pasien - Cara merawat pasien isolasi
- Penyebab isolasi sosial sosial
- Sikap keluarga untuk - Latih (simulasi)
membantu pasien - RTL keluarga / jadwal
mengatasi isolasi keluarga untuk merawat
sosialnya pasien
- Pengobatan yang SP 2
berkelanjutan dan - Evaluasi SP 1
mencegah putus obat - Latih (langsung ke
Tempat rujukan dan pasien)
fasilitas kesehatan - RTL keluarga /

21
yang tersedia bagi jadwal keluarga
pasien untuk merawat pasien
SP 3
- Evaluasi SP 1 dan SP 2
- Latih (langsung ke pasien)
- RTL keluarga / jadwal
keluarga untuk merawat
pasien

22
D. Implementasi Dan Evaluasi
Contoh implementasi dan evaluasi keperawatan Isolasi Sosial

Nama Klien :

Ruangan :

N Hari/ Dx. Rencana


o Tgl Kepera Keperawat Implementasi Evaluasi
watan an
1 Isolasi SP1P Melakukan SP1P Isolasi S:
Sosial Isolasi Sosial :  Pasien mengatakan
Sosial 1. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial.
penyebab isolasi  Pasien mengatakan
sosial. keuntungan bila
2. Berdiskusi dengan berhubungan dengan
klien tentang orang lain.
keuntungan bila  Pasien mengatakan
berhubungan dengan kerugian bila tidak
orang lain. berhubungan dengan
3. Berdiskusi dengan orang lain.
klien tentang kerugian  Pasien mengatakan
bila tidak berhubungan mampu melakukan
dengan orang lain. bagaimana cara
4. Mengajarkan klien berkenalan.
cara berkenalan.  Pasien mengatakan
5. Menganjurkan klien mampu memasukkan
memasukkan kegiatan kegiatan latihan
latihan berkenalan ke berkenalan ke dalam
dalam kegiatan harian. kegiatan harian.
O:
 Klien mampu
menyebutkan apa yang
dia alami.
 Klien mampu
menyebutkan kerugian
dan keuntungannya.
 Klien menyebutkan cara
berkenalan
 Kontak mata kirang
 Afek tumpul
 Bicara lambat
 Klien dapat memasukkan
latihan berkenalan
kedalam jadwal hariannya

A : SP1P tercapai

P:
Perawat : Lanjutkan SP2P
Isolasi Sosial pada

23
pertemuan selanjutnya.
Klien : Memotivasi klien
latihan berkenalan dengan
sesuai jadwal yang dibuat.
2 Isolasi SP2P Melakukan SP2P Isolasi S:
Sosial Isoolasi Sosial :  Pasien mengatakan
Sosial 1. Mengevaluasi jadwal mampu melakukan jadwal
kegiatan harian pasien. kegiatan hariannya.
2. Memberikan kesempatan  Pasien mengatakan
kepada klien mampu mempraktikan
mempraktikan cara cara berkenalan dengan
berkenalan dengan satu satu orang.
orang.  Pasien mengatakan
3. Membantu klien mampu memasukkan
memasukkan kegiatan kegiatan latihan
latihan berbincang- berbincang-bincang
bincang dengan orang dengan orang lain sebagai
lain sebagai salah satu salah satu kegiatan harian.
kegiatan harian. O:
 Klien menyebutkan cara
berkenalan.
 Klien memprktekan
berkenalan dengan
seorang perawat.
 Kontak mata kurang
 Afek tumpul
 Bicara lambat
 Klien dapat memassukkan
latihan berkenaln dengan
satu orang, kedalam
jadwal hariannya.

A : SP2P tercapai

P:
Perawat : Lanjutkan SP3P
Isolasi Sosial pada pertemuan
selanjutnya.

3 Isolasi SP3P Melakukan SP3P Isolasi S:


Sosial Isolasi Sosial :  Pasien mengatakan
Sosial 1. Mengevaluasi jadwal mampu melakukan jadwal
kegiatan harian pasien. kegiatan hariannya.
2. Memberikan  Pasien mengatakan
kesempatan kepada mampu mempraktikan
klien mempraktikan cara berkenalan dengan
cara berkenalan dua orang atau lebih.
dengan dua orang atau  Pasien mengatakan
lebih. mampu memasukkan
3. Menganjurkan klien dalam jadwal
memasukkan dalam kegiatan harian.
jadwal kegiatan harian.
O:
 Klien mempraktekan

24
berkenalan dengan
seorang perawat dan klien
lain.
 Kontak mata kurang
 Afek tumpul
 Bicara lambat
 Klien dapat memasukkan
latihan berkenalan dengan
orang ke dua ke dalam
jadwal hariannya.

A : SP3P tercapai

P:
Perawat : Lanjutkan SP
budaya Isolasi Sosial.
Klien : Memotivasi klien
latihan berkenalan dengan
perawat dan klien lain sesuai
jadwal yang dibuat

25
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Isolasi sosial adalah keadaan dimana seseorang individu mengalami
penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang
lain sekitarnya. Pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan
tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain. Salah satu
gangguan hubungan sosial diantaranya perilaku menarik diri atau isolasi
sosial yang tidak disebabkan oleh perasaan tidak berharga yang bisa dialami
klien dengan latar belakang yang penuh dengan permasalahan, ketegangan,
kekecewaan, dan kecemasan. Commented [H1]: Simpulkn mulai bab I sampai bab 3

B. Saran
Sebagai seorang perawat yang profesional kita harus bisa mengetahui
tentang pasien gangguan isolasi sosial dengan berbagai macam sikap, prilaku
dan hal-hal lainnya yang mengindikasikan bahwa pasien tersebut mengalami
isolasi sosial, agar tercapainya kesehatan jiwa yang optimal maka perawat
juga harus bisa memberitahukan kepada keluarga pasien untuk lebih sering
menjlin hubungan yang baik dengan pasien demi menunjang penyembuhan
psien dengan cepat, karena dengan danya orang-orng terdekat disekitar pasien
akan mempercepat proses penyembuhan pasien, karena bagaimanapun juga. Commented [H2]: Saran untuk audien, institusi, pasien

26
DAFTAR PUSTAKA

Damaiyanti Mukhripah dan Iskandar. (2014). Asuhan Keperawatan Jiwa.


Bandung: Refika Aditama

Yosep, H. Iyus dan Sutini, Titin. (2014). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta:
Refik Aditama

https://id.scribd.com/doc/255058154/ASUHAN-KEPERAWATAN-tanpa-LP-
PADA-Ny-E-DENGAN-ISOLASI-SOSIAL

https://www.academia.edu/8412645/STANDAR_ASUHAN_KEPERAWATAN_
JIWA_KHUSUS_SAK_Khusus_ Commented [H3]: Cra penulisn dftr pustak dri internet yng
benr teh kumaha?

27