Anda di halaman 1dari 33

BAHAN AJAR

HAND OUT DAN JOB SHEET


PERHITUNGAN
HARGA JUAL BUSANA RUMAH
1. Harga Pokok Produksi
2. Titik Impas (Break even point)
3. Harga Jual Busana Rumah
4. Job sheet Praktik Menghitung Harga Jual
Busana Rumah

PPG DALJAB TAHAP 4


An. NOVIANTI DWI RATNASARI, S.Pd
(SMK NEGERI 2 BLORA)
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2019

1
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL :

Modul ini memiliki bagian-bagian sebagai berikut :


1. Hand out Menganalisis Harga Jual Busana Rumah (Daster) :
a. Pengantar untuk jenis-jenis busana sesuai kesempatan termasuk busana rumah.
b. Konsep Harga Pokok Produksi, komponen-komponen dalam Harga Pokok
Produksi dan cara perhitungan.
c. Bagian ketiga merupakan konsep Break Even Point, komponen-komponen
dalam Break Even Point dan cara perhitungan.
2. Job Sheet Praktek Menghitung Harga Jual Busana Rumah (Daster)
a. Bagian awal merumuskan material yang dibutuhkan untuk menentukan harga
jual
b. Menghitung biaya langsung dan tidak langsung
c. Menghitung laba dan pajak
d. Menghitung harga jual per satuan dan keseluruhan

2
HAND OUT PERHITUNGAN HARGA JUAL
BUSANA RUMAH (DASTER)

Kompetensi Dasar :
3.6 Menganalisis perhitungan harga jual busana rumah

Indeks Pencapaian Kompetensi :


3.6.1 Menelaah pengertian harga pokok produksi
3.6.2 Menelaah pengertian BEP (Break Event Point)\
3.6.3 Menguraikan perkiraan-perkiraan yang terkait dengan perhitungan harga
pokok produksi
3.6.4 Menguraikan perkiraan-perkiraan yang terkait dengan BEP (Break Event
Point)
3.6.5 Menelaah perhitungan harga pokok produksi

Tujuan Pembelajaran :
1. Setelah berdiskusi dan menggali informasi dari berbagai sumber, diharapkan
peserta didik akan dapat menelaah konsep harga pokok produksi secara
komprehensif.
2. Setelah berdiskusi dan menggali informasi dari berbagai sumber, diharapkan
peserta didik akan dapat menelaah pengertian BEP (Break Event Point)
secara komprehensif.
3. Setelah berdiskusi dan menggali informasi dari berbagai sumber diharapkan
peserta didik akan dapat menguraikan perkiraan-perkiraan yang terkait
dengan perhitungan harga pokok produksi dengan tepat.
4. Setelah berdiskusi dan menggali informasi dari berbagai sumber diharapkan
peserta didik akan dapat menguraikan perkiraan-perkiraan yang terkait
dengan BEP (Break Event Point) dengan tepat.
5. Setelah berdiskusi, menggali informasi dari berbagai sumber, diharapkan
peserta didik akan dapat menelaah harga pokok produksi dengan tepat.

3
BUSANA DALAM BERBAGAI KESEMPATAN

Sebelum melihat lebih detail pada bagaimana langkah menentukan harga jual
produk busana rumah, terlebih dahulu dapat kita ingat sekilas tentang apa itu busana
rumah. Busana rumah merupakan salah satu Desain Busana Berdasarkan Kesempatan.
Menurut jenis kelamin, busan dbedakan menjadi dua yaitu busana wanita dan busana
pria, sedangkan berdasarkan umurnya, busana dapat digolongkan menjadi busana anak
– anak, busana remaja, dan busana dewasa.
Untuk mencapai kenyamanan, desain busana haruslah memperhatikan: warna
kulit pengguna agar sesuai dengan karakter busana yang dipakai sehingga tampilan
menjadi lebih maksimal; bentuk tubuh pengguna, sehingga memilih jenis desain busana
yang serasi sesuai dengan bentuk tubuhnya; digunakan sesuai dengan kesempatan. Pada
umumnya setiap orang memerlukan busana untuk berbagai macam kesempatan antara
lain : busana rumah, busana kerja, busana olah raga, busana rekreasi, busana pesta dan
busana berkabung)

Gambar diambil dari http://mysweetchocololi.blogspot.com/2018/10/busana-rumah.html

1. Busana Rumah. Busana ini pantas dipakai di rumah. Busana rumah mempunyai
kesan sportif, bahan sederhana, bentuk dan desain tidak terlalu rumit, dan warna
tidak menyolok. Busana rumah meupakan busana yang digunakan pada
kesempatan santai di rumah. Bahan yang digunakan untuk busana rumah
merupakan bahan yang nyaman dan menyerap keringat seperti katun atau rayon

4
viscose. Karena desainnya yang sederhana dan longgar karena mengutamakan
kenyamanan saat digunakan, busana rumah kurang sopan atau kurang pas jika
digunakan untuk keluar rumah maupun menerima tamu. Ketika menemui tamu dan
keluar rumah sebaiknya tidak menggunakan busana rumah, dan berganti dengan
busana yang lebih sopan.
Adapun yang termasuk macam-macam busana rumah, yaitu :
a. Daster, adalah busana rumah berbentuk gaun dengan desain yang
sederhana dan longgar. Bahan yang digunakan untuk daster adalah bahan
yang yang nyaman dan menyerap keringat seperti batik katun atau kaos
dengan berbagai motif. Sama seperti baby-doll, peda bagian leher daster
tidak menggunakan kerah yang tinggi. Variasi kerah rebah atau garis
leher yang diselesaikan dengan depun, serip atau rompok yang
digunakan pada daster. Daster yang biasa ditemukan di pasaran dengan
model tanpa lengan atau variasi lengan yang longgar agar nyaman
digunakan. Namun juga terdapat model daster berlengan panjang dengan
panjang daster hingga mata kaki.
b. Baby-doll, adalah busana rumah yang terdiri dari dua bagian yaitu atasan
dan celana santai. Busana bagian atas baby-doll berbentuk blus tidak
dengan variasi model garis leher dengan penyelesaian rompok, depun,
atau serip, bisa juga menggunakan variasi kerah rebah. Jika terdapat
saku, biasanya saku yang digunakan adalah variasi saku tempel. Busana
bagian bawah baby-doll merupakan celana santai dengan desain
sederhana dan longgar dimana terdapat elastis pada bagian ban pinggang.
Panjang celana santai baby-doll bervariasi, ada yang pendek, selutut dan
ada yang panjang hingga mata kaki.

Gambar diambil dari https://www.laksani.com/model-baju-kerja-wanita/

2. Busana kerja. Seiring dengan perkembangan zaman, tuntutan dalam dunia kerja
semakin beragam. Situasi kerja yang penuh persaingan, membutuhkan kegesitan

5
dalam bergerak agar dapat meraih setiap peluang yang ada. Mereka yang ingin
sukses, tentu harus memperhatikan busana yang akan dikenakannya. Wanita aktif
membutuhkan busana yang nyaman dipakai dan menjamin keleluasaan, agar dapat
bebas bergerak dalam segala kesibukan sejak pagi sampai malam hari. Dengan
tuntutan kenyamanan dan keleluasaan beraktifitas, maka setelan atasan dengan
celana panjang bisa menjadi pilihan. Selain modis dan selalu trendi, celana
panjang aman membungkus tungkai hingga mata kaki. Para pengguna busana kerja
pun dapat lebih aktif bergerak sehingga dapat lebih produktif. Busana kerja
memiliki berbagai variasi desain sesuai dengan jenis pekerjaannya, misalnya
busana kerja untuk ke kantor, busana kerja untuk ke bengkel, dan busana kerja
untuk perawat.

Gambar diambil dari http://pabrikbaju.co.id/olahraga/baju-sport

3. Busana olah raga. Bentuk busana olah raga disesuaikan dengan jenis dan bentuk
olahraganya. Olah raga senam memakai pakaian senam, olah raga renang memakai
baju renang atau bikini, olah raga tennis dapat memakai short atau kulot dengan
perlengkapannya, yakni topi dan sepatu. Dengan kata lain, setiap olah raga
memakai seragam pakaian tersendiri (khusus). Bahan yang digunakan, pilihlah
bahan rajutan supaya mudah bergerak, warna bahan cerah dan kontras. Demikian
juga dengan pelengkap pakaianya, harus disesuaikan dengan suasana olah raga
yang akan dilakukan. Jika dilihat dari fungsinya, tentu saja baju sport berbeda
dengan baju casual. Baju sport merupakan pakaian yang digunakan untuk kegiatan
olahraga, sedangkan baju casual merupakan pakaian yang anda kenakan ketika
santai atau hang out dengan teman anda. Selain itu, kita bisa pula membedakan
kedua pakaian ini dari sisi bahan yang digunakan. Anda bisa perhatikan kaos
olahraga yang anda punya. Bahan yang digunakan oleh baju olahraga merupakan
bahan pakaian yang lebih menyerap keringat. Hal ini sengaja dilakukan untuk
membantu para pemain olahraga yang tentunya banyak mengeluarkan keringat.

6
Sedangkan baju casual biasanya berbahan katun yang terlihat lebih santai ketika
dikenakan.

4. Busana rekreasi. Busana rekreasi adalah busana yang dikenakan pada kesempatan
santai/ bertamasya. Misalnya, rekreasi ke pantai, ke gunung, ke taman – taman
hiburan, ke lokasi bersejarah dan tempat – tempat yang banyak di kunjungi orang.
Dalam desain busana rekreasi, pilihlah bahan yang enak untuk di pakai bergerak,
warna bahan dan desainnya dapat dibuat secara bervariasi disesuaikan dengan
waktu dan kesempatan. Contohnya, bahan, warna, corak, desain, dan pelengkap
busana untuk rekreasi ke gunung berbeda dengan rekreasi ke pantai.

7
HARGA POKOK PRODUKSI

Konsep Harga Pokok Produksi

Salah satu teknik untuk menentukan harga jual adalah Cost Based Pricing. Untuk
itu perlu mengetahui berapa harga pokok penjualan sebuah produk, sehingga kita dapat
menentukan harga jual produk tersebut dan menentukan berapa laba yang diinginkan.
Berikut ini disampaikan bagaimana cara menghitung HPP, Harga Pokok Produksi.
Dengan menganut pendekatan Cost Based Pricing, kita dapat menentukan harga
jual barang secara akurat. Bila penentuan harga jual barang salah atau tidak akurat,
akibatnya ada 2 (dua) kemungkinan yang bisa terjadi, yaitu:
 Harga jual barang menjadi lebih tinggi dari yang sebenarnya, sehingga
pendapatan bisa menjadi tinggi (bila ada yang mau beli tentunya), atau malah
tidak ada yang beli.
 Harga jual barang menjadi lebih rendah dari kondisi wajar sehingga perusahaan
akan rugi.
Dua akibat tersebut tentu kurang baik untuk kelangsungan dan perkembangan bisnis
kita. Oleh karena itu agar akibat seperti tidak itu terjadi, maka harga jual produk harus
dihitung secara benar dan akurat.

Definisi Harga Pokok Penjualan


Berdasarkan prinsip akutansi yang dimaksud dengan harga pokok penjualan
adalah biaya yang dilaporkan sebagai beban saat barang dijual. Sedangkan menurut
definisi yang ditulis dalam buku Intermediate Accounting edisi 6, karya Dr. Zaki
Baridwan, M.Sc, Ak dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) Jogja,
pengertian harga pokok penjualan adalah: jumlah semua pengeluaran-pengeluaran
langsung atau tidak langsung yang berhubungan dengan perolehan, produksi, dan
penyiapan produk agar dapat dijual.”
Sedangkan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), pengertian Harga pokok
produksi adalah: “harga pokok barang yang diproduksi meliputi semua biaya bahan
langsung yang dipakai, upah langsung serta biaya produksi tidak langsung, dengan
perhitungan saldo awal dan saldo akhir barang dalam pengolahan.”
Jadi harga pokok penjualan diperoleh dari:
 Biaya langsung, misalnya, biaya pembelian bahan baku/pembantu langsung,
biaya tenaga kerja langsung.
 Biaya tidak langsung, misalnya biaya overhead.

8
Fungsi Penentuan Harga Pokok Penjualan

Selain untuk menentukan harga jual suatu produk atau barang, tujuan perhitungan
harga pokok produksi ada 3 (tiga), yaitu :

1. Memantau Realisasi Biaya Produksi

Informasi biaya produksi yang sesungguhnya, dikeluarkan untuk sebuah produk,


biasanya dibutuhkan untuk membandingkan anatara pelaksanaan rencana produksi.
Untuk memudahkan sebaiknya disusun laporan Budget VS Realisasi. Dengan
membuat laporan seperti itu, pihak manajemen perusahaan dapat melakukan
analisis produksi. Manajemen dapat menganalisis apakah proses produksi
mengkonsumsi total biaya produksi yang telah diperhitungkan sebelumnya, apakah
ada penyimpangan, dan sebagainya.
2. Menghitung Laba Rugi Periodik
Informasi biaya produksi digunakan untuk mengetahui: apakah kegiatan produksi
dan pemasaran dalam periode tertentu mampu menghasilkan laba bruto atau rugi
bruto?
3. Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses
yang disajikan dalam neraca.
Di dalam laporan keuangan neraca harus disajikan harga pokok produk jadi dan
harga pokok produksi pada saat tanggal neraca. Biaya produksi yang melekat pada
produk jadi yang belum laku dijual pada tanggal neraca disajikan.

Perhitungan Harga Pokok Penjualan

Cara menghitung harga pokok penjualan pada perusahaan adalah dengan


menghitung harga pokok produksi. Berikut ini adalah rincian penggunaan biaya-biaya
tersebut disajikan di laporan harga pokok penjualan perusahaan manufaktur.

9
Komponen Biaya Produksi

Untuk menghitung harga pokok penjualan perusahaan manufaktur perlu


diperhatikan juga komponen-komponen yang termasuk dalam biaya produk. Ada 3
(tiga) komponen pokok dalam biaya produksi, yaitu :
1. Biaya Bahan.

Bahan yang dimaksud adalah bahan-bahan baik itu bahan baku maupun bahan
pembantu yang diolah dalam proses produksi menjadi produk jadi. Biaya bahan
baku adalah nilai bahan baku yang digunakan dalam proses produksi, sedangkan
yang dimaksud dengan biaya bahan pembantu adalah nilai bahan pembantu atau
bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi.

MC =x MP
Biaya bahan merupakan perkalian antara jumlah bahan dikali harga pembelian.

2. Biaya Tenaga Kerja Langsung


Biaya tenaga kerja pada fungsi produksi lebih lanjut diklasifikasikan ke
dalam biaya tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung. Biaya tenaga
kerja langsung adalah jumlah upah yang dibayarkan tenaga kerja yang secara
langsung menangani proses pengolahan bahan baku menjadi produk selesai dan
dapat ditelusuri secara langsung kepada produk selesai. Yang termasuk pada
biaya kerja langsung misalnya : upah tukang potong, tukang jahit, tukang sablon
kaos, border, pembuatan pola dalam pembuatan pakaian, dan operator mesin jika
menggunakan mesin. Sedangkan pengertian biaya tenaga kerja tidak langsung
adalah jumlah upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja yang secara tidak
langsung menangani pengolaan bahan.

10
Untuk menghitung gaji karyawan yang terlibat langsung dalam proses
produksi adalah dengan mengalikan tarif upah per jam dengan jumlah jam kerja
karyawan.

3. Biaya Overhead
Pengertian Biaya Overhead (BOP) adalah adalah biaya produksi selain
bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya ini misalnya adalah biaya air,
biaya listrik, biaya sewa gudang, biaya penyusutan mesin untuk proses produksi
di pabrik dan sebagainya.

Evaluasi Harga Pokok Produksi

Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar!

1. Bu Poppy memiliki usaha rumahan produksi busana rumah, dengan nama UD. Tiga
Malaikat. Bu Poppy memproduksi sendiri daster dengan merk “Baby boomer”.
Sebagian besar produknya dijual melalui internet (online) dan sebagian lainnya
melalui dan offline di toko. Pada bulan Januari 2019, Bu Poppy memiliki:
 Persediaan awal bahan baku senilai Rp. 18.159.500,-
 Bahan jadi senilai Rp. 35.592.500,-.
Sebagai persiapan menjelang Lebaran, ia membeli:
 Bahan baku senilai Rp. 104.531.170,- dan
 Bahan pembantu Rp. 1.192.200,-.
 Biaya tenaga kerja langsung, yaitu upah tukang jahit Rp 21.952.500,-
Dari data-data di atas, maka kita dapat menghitung Harga Pokok Penjualan dan
Harga Pokok Produksi serta laporan harga pokok produksi tersebut berikut :

11
Baby Boomers
Harga Pokok Produksi
Januari 2019

Dari hasil perhitungan di atas, maka diperoleh jumlah biaya produksi sebesar Rp.
99.389.720,- dan Harga Pokok Penjualannya sebesar Rp. 81.725.970,-.

12
TITIK IMPAS (BREAK EVEN POINT)

Definisi Titik Impas (BEP)

Break even point atau yang biasa disebut dengan BEP adalah tingkat produksi di
mana total pendapatan sama dengan total pengeluaran. Dengan kata lain Break even
point adalah titik dimana perusahaan menghasilkan jumlah laba yang sama dengan
biaya selama proses manufaktur dalam periode akuntansi atau keuntungan dan kerugian
sama dengan nol. Pada posisi ini, merupakan keadaan ketika perusahaan dalam
operasinya tidak mendapatkan keuntungan dan tidak menderita kerugian. Hal ini terjadi
karena perusahaan dalam operasinya menggunakan biaya tetap dan volume penjualan
hanya cukup untuk menutup biaya tetap dan biaya variabel.

Fungsi Analisis Titik Impas (BEP)

Konsep break even point bisa diterapkan dalam semua bisnis dan industri apapun,
baik besar atau kecil. Fungsi dari break even point adalah sebagai berikut :
 Mengetahui jumlah penjualan minimum yang harus dipertahankan supaya
perusahaan tidak mengalami kerugian. Jumlah penjualan minimum artinya
adalah jumlah produksi minimum yang harus dibuat oleh perusahaan
 Untuk menentukan jumlah kapasitas yang tersisa setelah BEP tercapai, hal ini
dapat memberi gambaran kepada Anda tentang jumlah maksimum laba yang
dapat dihasilkan. Menentukan jumlah penjualan yang harus dicapai agar
memperoleh laba yang telah direncanakan. Bisa juga diartikan bahwa tingkat
produksi harus ditetapkan untuk memperoleh laba tersebut.
 Mengukur dan menjaga agar penjualan dan tingkat produksi tidak lebih rendah
dari BEP.
 Menganalisis perubahan harga jual, harga pokok dan besarnya hasil penjualan
atau tingkat produksi.
 Untuk menentukan dampak pada laba jika otomatisasi ( biaya tetap )
menggantikan tenaga kerja ( biaya variabel )
 Untuk menentukan perubahan laba jika harga produk diubah
 Suatu alat perencanaan penjualan dan sekaligus perencanaan tingkat produksi,
supaya perusahaan secara minimal tidak mengalami kerugian. Untuk
menentukan jumlah kerugian yang bisa diperkecil jika bisnis mengalami
penurunan penjualan

13
Manajemen harus secara konstan memantau break even point, khususnya dalam
hal untuk menguranginya bila memungkinkan. Cara untuk melakukan hal ini termasuk :
 Analisis biaya – Terus tinjau semua biaya tetap, untuk melihat apakah ada yang
bisa diimprovisasi. Tinjau juga biaya variabel untuk melihat apakah ada biaya
yang dapat dihilangkan, karena hal itu akan meningkatkan marjin dan
mengurangi break even point.
 Analisis margin – Perhatikan dengan seksama margin produk, dan dorong
penjualan produk dengan margin tertinggi, hal ini juga membantu mengurangi
break even point
 Outsourcing – Jika suatu kegiatan melibatkan biaya tetap, pertimbangkan untuk
mengalihdayakannya atau menggunakan outsourcing agar mengubahnya
menjadi biaya variabel per unit.
 Penetapan harga – Kurangi atau hilangkan penggunaan kupon atau
pengurangan harga lainnya, karena hal ini malah meningkatkan break even
point. Hal lain yang perlu dilakukan adalah tingkatkan harga secara bertahap
selama hal tersebut bisa diterima oleh pelanggan.

Analisis titik impas merupakan sarana untuk menentukan kapasitas produksi yang
harus dicapai oleh suatu operasi agar mendapatkan keuntungan. Analisis titik impas
dapat memberikan informasi kepada pelaku usaha bagaimana pola hubungan antara
volume penjualan, biaya dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada level
penjualan tertentu. Hasil analisis titik impas ini dapat digunakan untuk dasar
pengambilan keputusan-keputusan tentang:
 kapasitas alat/mesin yang harus disediakan,
 jumlah tenaga kerja yang harus disediakan, dan
 perubahan-perubahan struktur biaya terhadap kuantitas produksi yang
menguntungkan.

14
Syarat dalam Menghitung BEP
Untuk menghitung BEP, ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi, antara lain:
1. Harga jual produk harus tetap
2. Tidak menggunakan lebih dari satu jenis produk, apabila menggunakan lebih
dari satu jenis produk maka menggunakan perhitungan analisa BEP tersendiri
3. Produksi haruslah konstan
4. Semua biaya besaran produksi dapat diukur secara realistik

Komponen yang mempengaruhi BEP

Penerapan analisis titik impas pada permasalahan produksi biasanya digunakan


untuk menentukan tingkat produksi yang bisa mengakibatkan perusahaan berada pada
kondisi impas. Dalam mencari titik impas maka harus dicari fungsi biaya ataupun
pendapatannya, yaitu ketika total biaya sama dengan total pendapatan.
Agar dapat menghitung seberapa besar Break even point atau titik impas, maka
kita membutuhkan beberapa komponen. Dalam BEP terdapat setidaknya tiga
komponen. Antara lain fixed cost (biaya tetap), variable cost (biaya variable) dan
selling price (harga jual). Berikut adalah penjelasan selengkapnya Adapun komponen
biaya yang mempengaruhi analisis titik impas adalah:
 biaya tetap (fixed cost),
Komponen ini merupakan biaya tetap atau konstan. Biaya ini tidak
mempengaruhi kegiatan produksi secara langsung
 biaya variabel (variable cost),
Komponen biaya yang satu ini bersifat dinamis. Variabel cost disebut juga
sebagai biaya per unit yang tergantung pada tingkat volume produksi. Apabila
produksi meningkat, maka variabel cost juga akan meningkat. Contohnya
seperti biaya bahan baku, biaya upah tenaga kerja, biaya listrik dan lain
sebagainya
 harga jual (Selling price)
Merupakan harga jual per unit barang atau jasa yang telah diproduksi dan siap
untuk dijual.

15
Komponen-komponen biaya tersebut akan membentuk suatu pola hubungan
dalam analisis titik impas sebagai berikut.

Berikut ini poin-poin penting untuk memahami gambar di atas.


 Total Sales = Total unit sold x Unit Price
 Profit = Total Sales – Total Cost
 Total Cost = Total Variable cost + fix cost
 BEP = Total sales = Total Cost

Berikut ini merupakan teknik menghitung BEP per unit produk :

BEP = Fixed Cost / (Price – Variable Cost)

Sedangkan untuk menghitung BEP berdasarkan nilai penjualan adalah :

BEP = Fixed Cost / (1 – (Variable Cost /Price))

16
Evaluasi Titik Impas

Kerjakan soal-soal berikut ini dengan benar!

Contoh :

1. Bu Poppy baru saja mendirikan sebuah usaha pembuatan busana rumah berupa
daster. Setiap bulan produksi Bu Poppy adalah 50 potong daster. Harga daster
per buah Rp 40.000. Untuk biaya variabel per daster rata-rata Rp 20.000 dan
rata-rata biaya tetap tahunan Rp 2.000.000. Untuk mencapai BEP, maka jumlah
daster yang harus diproduksi dan harga jual per daster ditetapkan dengan cara :
menghitung terlebih dahulu jumlah yang harus diproduksi supaya mencapai titik
impas atau break even point.
BEP unit produk = Fixed Cost / (Price – Variabel Cost)
= 2.000.000 / (40.000 – 20.000) = 100 buah daster

BEP nilai penjualan = Fixed Cost / (1 – (Variabel Cost/Price))


= 2.000.000 / (1 – (20.000/40.000) = Rp 4.000.000
Maka Anda harus memperoleh penjualan (omset) sebesar Rp 4.000.000 untuk
mencapai BEP. Untuk membuktikan apakah hitungan tersebut benar adalah
dengan mengalikan unit BEP x harga jual per unit.

BEP = 100 x Rp 40.000 = Rp 4.000.000

2. Bu Rudi mendirikan bisnis busana rumah dengan produk daster batik. Setiap
bulan produksi pabrik tersebut 50 potong daster batik. Sedangkan harga per
potong adalah Rp 100.000. Untuk biaya variabel per pasang daster rata-rata Rp
60.000 dan rata-rata biaya tetap tahunan Rp 3.000.000. Pertanyaannya berapa
jumlah daster yang harus diproduksi dan harga per potong daster agar mencapai
BEP? Penyelesaiannya dapat disimak di bawah ini.
Pertama-tama hitung terlebih dahulu jumlah pasang daster yang harus diproduksi
supaya mencapai titik impas atau BEP.
BEP unit produk = FC / (P-VC)
= 3.000.000 / (100.000 – 60.000) = 75 potong daster batik
BEP unit rupiah = FC / (1 – (VC/P))
= 3.000.000 / (1 – (60.000/100.000) = Rp 7.500.000
Maka pabrik tersebut harus memperoleh keuntungan (omset) sebesar Rp
7.500.000 untuk mencapai BEP.
Untuk membuktikan apakah hitungan tersebut benar adalah dengan mengalikan
unit BEP x harga jual per unit.
BEP = 75 x Rp 100.000 = Rp 7.500.000

17
JOB SHEET

MENGHITUNG HARGA JUAL BUSANA RUMAH


(DASTER)

Kompetensi Dasar :
4.6 Menghitung harga jual busana rumah

Indeks Pencapaian Kompetensi :


4.6.1 Merumuskan kebutuhan material pada busana rumah (daster)
4.6.2 Menghitung Biaya Langsung dan Tidak Langsung (overhead) pada
pembuatan busana rumah (daster).
4.6.3 Menghitung Laba.
4.6.4 Menghitung pajak.
4.6.5 Menghitung harga jual per satuan dan keseluruhan

Tujuan Pembelajaran :
1. Setelah berdiskusi dan menggali informasi dari berbagai sumber, diharapkan
2. Setelah berdiskusi, menggali informasi dari berbagai sumber dan melakukan
praktek, diharapkan peserta didik akan dapat merumuskan kebutuhan
material pada busana rumah dengan benar.
3. Setelah berdiskusi, menggali informasi dari berbagai sumber dan melakukan
praktek, diharapkan peserta didik akan dapat menghitung biaya langsung
dan tidak langsung pada busana rumah dengan tepat.
4. Setelah berdiskusi, menggali informasi dari berbagai sumber dan melakukan
praktek, diharapkan peserta didik akan dapat menghitung laba dan pajak
dengan tepat.
5. Setelah berdiskusi, menggali informasi dari berbagai sumber dan melakukan
praktek, diharapkan peserta didik akan dapat menghitung harga jual busana
rumah per satuan dan keseluruhan dengan tepat.

Petunjuk Praktik :
Pada praktik kali ini, yang diperlukan adalah pengamatan terhadap desain / sketsa,
atau model riil (contoh daster) atau soal-soal perhitungan. Soal perhitungan tersebut
merupakan simulasi dari produksi yang dihadapi oleh siswa dalam memproduksi busana
rumah.

18
Langkah-langkah yang diperlukan oleh siswa untuk menghitung harga jual busana
rumah (daster) adalah sebagai berikut :
1. Merumuskan kebutuhan material pada busana rumah (daster)
2. Menghitung Biaya Langsung dan Tidak Langsung (overhead) pada
pembuatan busana rumah (daster).
3. Menghitung Laba
4. Menghitung pajak.
5. Menghitung harga jual per satuan dan keseluruhan

Materi Pokok :

Merumuskan
Material
yang
diperlukan

Menghitung
BL dan BTL

Harga jual
busana
rumah
Menghitung
laba dan
pajak

Menghitung
harga jual
per satuan
dan
keseluruhan

Skema Materi Menghitung Harga jual Busana Rumah

19
Materi :
Menghitung harga jual hasil produksi ( marketing ) merupakan bagian dari
tahapan perhitungan terhadap penentuan kebutuhan harga bahan dasar/utama, bahan
tambahan, bahan pelengkap dan semua biaya yang digunakan untuk produksi, serta
keuntungan yang diinginkan sehingga dapat dipergunakan untuk menetapkan harga jual
baik perpotong maupun dalam jumlah yang besar. Langkah menghitung atau
menentukan harga jual produk yaitu :
1. Menghitung kalkulasi harga pokok, yaitu merupakan perhitungan terhadap biaya
pengeluaran produksi yang terdiri dari bahan utama, bahan pelengkap /
pendukung, biaya listrik dan tenaga kerja.
2. Menghitung kalkulasi harga jual, dalam menentukan harga jual ini harus
memperhatikan tentang jumlah keuntungan yang ditentukan sesuai dengan
prosentase yang berlaku pada usaha tersebut.
Penetapan harga jual yang dilakukan oleh usaha busana dapat ditetapkan melalui 3 cara
yaitu:
1. Cost Based Pricing ( harga berdasarkan pada biaya produksi )
2. Value Based Pricing ( harga berdasarkan nilai artistik yang bagus )
3. Completition Based Pricing ( harga berdasarkan pada persaingan produksi )
Penetapan harga jual Cost Based Pricing dan Competition Based Pricing dapat
digunakan untuk usaha busana bentuk garment, konveksi, tailor, modiste dan adi
busana. Namun biasanya usaha busana jenis adi busana sering menggunakan tipe
penetapan harga jual Value Based Pricing yang harganya bisa sangat tinggi atau di atas
harga pokok produksi karena ada unsur value artistiknya yang menyebabkan busana
tersebut sangat indah.

Harga jual dapat diperhitungkan dengan cara :

Harga pokok produksi + % laba + % pajak.

1. Merumuskan Material yang diperlukan :

Material yang diperlukan dalam perhitungan untuk menentukan besaran harga


pokok produksi tergantung pada model dan ukuran yang digunakan pada produk busana
tersebut. Pada busana rumah seperti daster, desain yang digunakan kurang lebih sama
antara satu dengan yang lainnya.
Untuk menentukan jumlah bahan dan harga yang digunakan dalam suatu produk
maka langkah-langkah yang diambil adalah :
1. Melakukan pengukuran terhadap model busana rumah yang dikehendaki /
model sesuai desain.
2. Menentukan jenis bahan sesuai spesifikasi yang disepakati oleh pembeli (user)

20
3. Melakukan pecah pola
4. Melakukan rancang bahan, baik bahan utama, bahan pendukung dan bahan
pelengkap.
5. Melakukan riset harga terhadap bahan utama, bahan pendukung dan bahan
pelengkap
6. Melakukan rancang harga

2. Menghitung Biaya Langsung dan Biaya Tidak Langsung (Overhead)

Yang dimaksud dengan :


Biaya langsung yaitu biaya yang secara langsung masuk dalam proses produksi,
misalnya bahan baku langsung, upah buruh langsung, bahan penolong, barang gagal,
dan biaya lembur. Biaya langsung ini dapat dihitung dari :
1. Hasil rancang bahan dikalikan harga satuan masing-masing bahan.
2. Upah buruh langsung (Biaya Tenaga Kerja Langsung / BTKL).
a. Dalam sistem borongan, upah buruh dapat langsung ditentukan dengan
menetapkan harga borongan untuk satu jenis pekerjaan (contoh : ongkos
jahit satu potong daster, ongkos obras satu potong daster, dsb).
b. Dalam sistem harian, upah buruh dapat dicari dari tarif buruh per jam /
per hari dibagi jumlah pekerjaan yang dapat diselesaikan per jam / per
hari.

Biaya tidak langsung yaitu biaya yang secara tidak langsung ikut menentukan
proses produksi, dimana terdapat dua jenis yaitu :
1. Biaya Produksi tidak langsung, misalnya penggunaan listrik, BBM bila
menggunakan mesin genset, penggunaan air, dsb.
2. Biaya tetap (overhead), gaji karyawan, biaya penyusutan, biaya asuransi, biaya
perawatan, sewa gedung dan mesin.

Setelah diketahui seluruh biaya yang timbul dalam memproduksi suatu barang
(busana rumah) maka dapat dihitung harga pokok produksi.

3. Menghitung Laba dan Pajak

Penentuan Laba

Penentuan jumlah prosentase (%) laba berdasarkan target atau keinginan dari
pengusaha, misalnya 20% atau berdasarkan persaingan yang rata-rata misalnya 12%,
kemudian laba ditetapkan 12%. Perolehan persentase laba dikalikan dengan jumlah

21
keseluruhan biaya langsung (bahan pokok, bahan pelengkap, ongkos pembuatan)
ditambah dengan biaya tidak langsung dan biaya tetap.

Penentuan besar pajak

Penentuan besarnya pajak yaitu % dari ( harga pokok produksi + laba ). Besarnya
persentase pajak sekitar 5% dapat berubah tergantung dari lamanya sewa gedung. Pada
umumnya pajak yang dikenakan dalam proses produksi selain PBB untuk penggunaan
gedungnya adalah, PPN (pajak penjualan) dan PPh (pajak penghasilan). Pada umumnya
PPN ditetapkan 10% dari harga jual, dan PPh tergantung pada ketentuan pemerintah.
Bisa 1% atau 1,5% dari harga jual.

4. Menghitung Harga Jual per Satuan dan Keseluruhan :

Harga jual per satuan dari produk busana rumah yang di produksi dapat
ditentukan dari perhitungan sebagai berikut :

Biaya Bahan = Jumlah bahan yang digunakan x harga satuan


bahan
Biaya Tenaga Kerja Langsung = Jumlah biaya per satuan (ongkos jahit, ongkos
obras, ongkos seterika, ongkos packing, dsb)
Biaya Tidak Langsung = Jumlah biaya tidak langsung dalam satu bulan :
jumlah produksi pada bulan yang sama

HPP = Jumlah Biaya Bahan + Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Tidak
Langsung per satuan

Harga Jual per satuan = HPP + Laba ditentukan + pajak (mis. PPn dan
PPh).

Harga Jual Keseluruhan = Harga jual per satuan x jumlah produksi


keseluruhan

22
Alat dan Bahan yang Digunakan :
1. Pita ukur / meteran untuk mengukur model / contoh busana
2. Pensil / ballpoint
3. Spidol merah / biru
4. Penggaris
5. Kertas

Keamanan dan Keselamatan Kerja :


1. Menggunakan peralatan sesuai fungsinya
2. Fokus dan perhatian pada pekerjaan
3. Mengerjakan sesuai petunjuk Guru / pembimbing

Langkah Kerja :
1. Melakukan pengamatan terhadap contoh yang diberikan guru / pembimbing
2. Melakukan pengukuran terhadap model / sketsa yang diberikan oleh guru /
pembimbing
3. Membuat rancang bahan
4. Membuat rancang harga
5. Menghitung biaya langsung
6. Menghitung biaya tidak langsung
7. Menghitung harga pokok produksi
8. Menentukan laba dan pajak
9. Menghitung harga jual busana rumah (daster) per satuan dan keseluruhan
berdasarkan bahan diskusi yang diberikan guru / pembimbing.

Contoh cara menghitung harga jual busana.

Sebuah butik “UD Tiga Malaikat” membuatkan 5 buah daster bagi seorang
pelanggannya. Seluruh daster tersebut membutuhkan biaya sebagai berikut; untuk
bahan baku sebanyak Rp.125.000,00, bahan pembantu Rp. 7.500,00, bahan pelengkap
Rp.25.000,00, ongkos jahit dan obras sebesar Rp.50,000,00, biaya penyusutan
Rp.10.000,00, biaya sewa gedung Rp. 5.000,00 dengan laba 20% dan pajak 5%.

Berikut ini contoh cara perhitungannya.

1. Merumuskan bahan yang digunakan :


a. Bahan baku : Rp. 125.000,-
b. Bahan pembantu : Rp. 7.500,-
c. Bahan pelengkap : Rp 25.000,-
Sub Total : Rp. 157.500,-

23
2. Menghitung Biaya Langsung :
a. Biaya bahan : Rp. 157.500,-
b. Ongkos jahit dan obras : Rp. 50.000,-
Sub Total : Rp. 207.500,-

3. Menghitung biaya Tidak Langsung:


a. Biaya Penyusutan : Rp. 10.000,-
b. Biaya Sewa Gedung : Rp. 5.000,-
c. Sub Total : Rp. 15.000,-

4. Harga Pokok Produksi:


a. HPP : Biaya Langsung + Biaya Tidak Langsung
: Rp. 207.500 + 15.000
: Rp. 222.500,-

5. Menghitung Laba dan Pajak;


a. Laba ditentukan : 20% dari HPP
b. Pajak ditentukan : 5% dari HPP

6. Menghitung harga jual keseluruhan :


a. Harga jual = HPP + laba + pajak
Harga jual = Rp. 222.500,- + (20% x 222.500) + (5% x 222.500)
Harga jual = Rp. 222.500,- + Rp. 44.500,- + Rp. 11.125,-
Harga jual = Rp. 278.125,-

7. Menghitung harga jual satuan :


a. Harga jual satuan = harga jual keseluruhan / total produksi
Harga jual satuan = Rp. 278.125,- : 5
Harga jual satuan = Rp. 55.625,-

Dari perhitungan tersebut dapat diperoleh harga jual sebesar Rp.55.625,- dari hasil
tersebut kita bulatkan menjadi Rp. 56.000,-.

24
BAHAN DISKUSI :

Bahan Diskusi 1.
UD Tiga Malaikat adalah suatu industri kecil yang memproduksi busana rumah
tangga berupa daster dan baby-doll. Pada bulan Agustus 2019, UD Tiga Malaikat
menerima pesanan dari Toko Adul-adul di Pasar Sido Makmur Blora daster sejumlah
200 potong dari 3 ukuran. Model Daster yang dipesan toko Adul-adul adalah sebagai
berikut:

Bahan yang diinginkan oleh pemesan adalah Katun Jepang bermotif, ritsleting
menggunakan YKK, sedangkan bahan pelengkap dan pembantu diserahkan sepenuhnya
kepada produsen. Dari suplier diketahui harga bahan adalah sebagai berikut:
Harga satuan
No Jenis bahan Keterangan
(Rp)
1. Katun Jepang bermotif (lebar 150 cm) 47.500 Per meter
2. Ritsleting YKK panjang 15 cm 1.500 Per buah
3. Bisban katun polos 1.500 Per pak
4. Benang jahit sewarna 1.500 Per buah
5. Vliselin 5.000 Per meter
6. Obras sewarna 3.000 Per potong
7. Ongkos jahit 30.000 Per potong
8. Ongkos lain-lain 5.000 Per potong

25
Adapun detail ukuran dan kuantitas yang diperlukan adalah sebagai berikut:
Ukuran (cm)
No Ukuran yang diperlukan
S M L

Kuantitas (potong) 50 150 50

1 Lingkar leher 34 36 38
2 Lingkar badan 80 84 88
3 Lingkar panggul 91 94 97
4 Lingkar pinggang 64 68 72
5 Panjang bahu 11 12 14
6 Panjang muka 30 32 34
7 Lebar muka 30 32 34
8 Panjang punggung 34 36 38
9 Lebar punggung 32 34 36
10 Jarak dada 15 16 17
11 Tinggi dada 13 14 15
12 Lingkar kerung lengan 43 45 47
13 Tinggi puncak lengan 10 12 14
14 Lingkar lengan 26 28 30
15 Panjang lengan 21 22 25
16 Panjang daster 91 95 98

Apabila diketahui biaya overhead UD Tiga Malaikat pada bulan Agustus tersebut
adalah 2,5 juta rupiah, laba yang diharapkan adalah 15% dari harga pokok produksi dan
pajak yang dikenakan oleh pemerintah hanya pajak penghasilan final sebesar 1 %.
Apabila order tersebut diselesaikan oleh UD Tiga Malaikat dalam waktu 1 bulan,
maka diskusikan:
1. Berapa harga pokok produksi per unit daster masing-masing ukuran!
2. Berapa harga pokok produksi keseluruhan untuk pesanan tersebut!
3. Berapa harga jual per unit daster masing-masing ukuran! Bulatkan ke atas
dalam ribuan rupiah terdekat.
4. Berapa keuntungan UD Tiga Malaikat pada bulan tersebut!

26
Dari model dan ukuran yang diketahui, langkah-langkah yang diambil adalah
sebagaimana berikut:
1. Merumuskan material yang diperlukan untuk perhitungan
Melakukan pecah pola dan melakukan rancang bahan pada ukuran
sebagaimana berikut ini:

2. Menghitung biaya langsung


Dari pecah pola dan hasil rancang bahan, maka diketahui rincian biaya bahan
utama, pelengkap dan pembantu adalah sebagai berikut:
Ukuran
S M L
N Harga
Jenis Bahan Jumlah Biaya Jumlah Biaya Jumlah Biaya
o satuan
per per per unit
unit unit

1 Katun Jepang 47.500 0.9 m 42.750 1 m 47.500 1.25 m 71.875


bermotif
2 Ritsleting YKK 1.500 1 unit 1.500 1 unit 1.500 1 unit 1.500
3 Bisban katun polos 1.500 1 pak 1.500 1 pak 1.500 1 pak 1.500
4 Benang jahit sewarna 1.500 1 buah 1.500 1 buah 1.500 1 buah 1.500
5 Vliselin 5.000 4 cm 200 5 cm 250 7 cm 350
6 Obras sewarna 3.000 1 pt 3.000 1 pt 3.000 1 pt 3.000
7 Ongkos jahit 30.000 1 pt 30.000 1 pt 30.000 1 pt 30.000
8 Lain-lain 5.000 1 pt 5.000 1 pt 5.000 1 pt 5.000
JUMLAH 85.450 90.250 102.225

27
Dari rincian tersebut maka dapat disampaikan bahwa Biaya produksi yang
diperlukan untuk masing-masing ukuran adalah :
Daster ukuran S = Rp 85.450
Daster ukuran M = Rp 90.250
Daster ukuran L = Rp 102.225

3. Menghitung Biaya Tidak Langsung


Apabila seluruh order tersebut dikerjakan dalam waktu satu bulan, maka
harga pokok produksi per unit adalah sebagai berikut:
Biaya overhead per bulan = Rp 2.500.000
Produksi bulan tersebut = 200 potong daster
Beban biaya overhead per unit = 12.500

4. Menghitung Biaya Pokok Produksi per satuan


Harga Pokok Produksi per unit daster untuk setiap ukuran adalah sebagai
berikut ;
Daster ukuran S = Rp 85.450 + 12.500 = Rp 97.950
Daster ukuran M = Rp 90.250 + 12.500 = Rp 102.750
Daster ukuran L = Rp 102.225 + 12.500 = Rp 114.725

5. Menghitung Biaya Pokok Produksi Keseluruhan


Adapun harga pokok produksi secara keseluruhan adalah sebagai berikut :
Daster ukuran S = Rp 97.950 x 50 potong = Rp 4.897.500
Daster ukuran M = Rp 102.750 x 100 potong = Rp 10.275.000
Daster ukuran L = Rp 114.725 x 50 potong = Rp 5.736.250
Jumlah HPP keseluruhan adalah Rp 20.908.750

6. Menghitung Harga Jual Per Satuan


Harga jual per unit daster adalah sebagai berikut
a. Daster ukuran S
Harga jual
= Rp 97.950 + (15% x Rp 97.950) + (1% x Rp 97.950)
= Rp 97.950 + Rp 14.693 + Rp 979.
= Rp 113.622

Jadi harga jual untuk daster ukuran S adalah Rp 114.000

28
b. Daster ukuran M
Harga jual
= Rp 102.750+ (15% x Rp 102.750) + (1% x Rp 102.750)
= Rp 102.750 + Rp 15.413 + Rp 1.028
= Rp 119.191

Jadi harga jual untuk daster ukuran M adalah Rp 120.000

c. Daster ukuran L
Harga jual
= Rp 114.725 +(15% x Rp 114.725)+(1% x Rp 114.725)
= Rp 114.725 + Rp 17.209 + Rp 1.148
= Rp 133.082

Jadi harga jual untuk daster ukuran L adalah Rp 134.000

7. Laba yang dihasilkan adalah sebagai berikut:


Penjualan Daster ukuran S = 50 x Rp 114.000 = Rp 5.700.000
Penjualan daster ukuran M = 100 x Rp 120.000 = Rp 12.000.000
Penjualan daster ukuran L = 50 x Rp 134.000 = Rp 6.700.000

Total Sales Rp 24.400.000


Total pajak Rp 244.000
Total HPP Rp 20.908.750
Laba dihasilkan Rp 3.247.250

Bahan Diskusi 2.

Pada bulan Agustus 2019, Bu Poppy, Direktur PT Nugroho Jaya memperoleh


order sejumlah 1000 Daster dan 5 gross baby-doll. Untuk memproduksi permintaan
tersebut, bahan baku yang dibutuhkan untuk setiap daster adalah 1,25 meter dengan
harga Rp 40.000,00 / meter. Sedangkan, biaya bahan penolong antara lain :
 Kancing 4 biji / daster @ Rp 100,00
 Benang 1 biji / 3 daster, harga per biji benang Rp 1.500,00. Biaya per daster @
Rp. 500.00
 Obras / daster @ Rp 2.000,00
 Viselin / daster @Rp 750,00
Ongkos jahit per daster ditentukan @ Rp 5.000,00
Biaya operasional yang terdiri dari :
 Listrik Rp 1.000,00 / daster

29
 Sewa tempat Rp 500,00 / daster
 Penyusutan alat Rp 500,00 / daster
Adapun bahan baku untuk sepasang baby doll adalah 2 meter dengan harga Rp
40.000,00 per meternya. Biaya bahan penolong dapat dirinci sebagai berikut :
 Benang Rp 750,00 / pasang baby doll
 Viselin Rp 750,00 / pasang baby doll
 Elastic Kecil Rp 1.250 / pasang baby doll
 Obras Rp 3.000,00 / pasang baby doll
 Ongkos jahit Rp 10.000,00 dan BOP sama dengan daster.
Selain biaya operasional untuk produksi masing-masing pakaian, pada bulan Agustus
ini juga PT Nugroho Jaya juga mengeluarkan biaya operasional lain sebagai berikut :
 Gaji manajer Rp 6.000.000,00
 Listrik kantor Rp 500.000,00
 Biaya pemasaran di media cetak Rp 1.000.000,00
 Sewa kantor Rp 12.000.000,00 / tahun
 Biaya administrasi Rp 250.000,00 / bulan
 Aktiva kantor dengan penyusutan 3% /tahun dengan total aktiva Rp
30.000.000,00
Diskusikan :
1. Berapa harga pokok per unit daster, per pasang baby doll dan seluruhnya !
2. Berapa harga jual apabila margin 35% ?
3. Bagaimana menyusun laporan laba ruginya !

Jawab :
1. Harga Pokok produksi
Bahan Pokok
Bahan Daster 1,25 m x 40.000 Rp 50.000,00
Bahan Penunjang
Kancing 4 x Rp 100,00 Rp 400,00
Benang 1/3 x Rp 1.500,00 Rp 500,00
Obras 1 x Rp 2.000,00 Rp 2.000,00
Viselin 1 x Rp 750,00 Rp 750,00
Sub Total Rp 3.650,00
BOP
Listrik Rp 1.000,00
Sewa tempat Rp 500,00
Penyusutan alat Rp 500,00
Sub Total Rp 2.000,00
BTKL Rp 5.000,00

30
Harga pokok daster per unit :
HP. Produksi = Biaya Bahan Baku + Bahan Penolong + BOP + BTKL
HP. Produksi = Rp 50.000,00 + Rp 3.650,00 + Rp 2.000,000 + Rp 5.000,00
= Rp 60.650,00 / unit

Harga pokok daster keseluruhan :


HP.Ps = HP.Produksi x 1000
Rp 60.650 x 1000
Rp 60.650.000,00

Bahan Pokok
Bahan baby doll 2 m x Rp 40.000 Rp 80.000,00
Bahan Penunjang
Benang 1 x Rp 750,00 Rp 750,00
Viselin 1 x Rp 750,00 Rp 750,00
Elastic Kecil 1 x Rp 1.250,00 Rp 1.250,00
Obras 1 x Rp 3.000,00 Rp 3.000,00
Sub Total Rp 5.750,00
BOP
Listrik Rp 1.000,00
Sewa tempat Rp 500,00
Penyusutan alat Rp 500,00
Rp 2.000,00
BTKL Rp 10.000,00

Harga pokok baby doll per pasang :


HP. Produksi = Biaya Bahan Baku + Bahan Penolong + BOP + BTKL
HP. Produksi = Rp 80.000,00 + Rp 5.750,00 + Rp 2.000,00 + Rp 10.000,00
= Rp 97.750,00 / unit

Harga pokok baby doll keseluruhan :


HP.Ps = HP.Produksi x 5 gross
Rp 97.750,00 x 720
Rp 70.380.000,00

2. Harga Jual dengan margin 55%


a. Menentukan Harga Jual Daster
Harga jual daster per unit :
𝑯𝑱 = 𝑯𝑷. 𝑷𝒓𝒐𝒅𝒖𝒌𝒔𝒊 + (%𝑴𝒂𝒓𝒈𝒊𝒏 × 𝑯𝑷. 𝑷𝒓𝒐𝒅𝒖𝒌𝒔𝒊)
𝑯𝑱 = Rp 60.650,00 + (35% x Rp 60.650,00)
𝑯𝑱 =Rp 60.650,00 + 21.227,50
𝑯𝑱 = Rp 81.877,50

31
Harga jual daster keseluruhan :
𝑯𝑱𝒔 = 𝑯𝒂𝒓𝒈𝒂 𝑱𝒖𝒂𝒍 𝐱 𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒑𝒓𝒐𝒅𝒖𝒌𝒔𝒊 𝒌𝒆𝒔𝒆𝒍𝒖𝒓𝒖𝒉𝒂𝒏
= 𝑹𝒑 𝟖𝟏. 𝟖𝟕𝟕, 𝟓𝟎 𝐱 𝟏𝟎𝟎𝟎
= 𝑹𝒑 𝟖𝟏. 𝟖𝟕𝟕. 𝟓𝟎𝟎, 𝟎𝟎

b. Menentukan Harga Jual Baby doll


Harga jual baby doll per pasang :
𝑯𝑱 = 𝑯𝑷. 𝑷𝒓𝒐𝒅𝒖𝒌𝒔𝒊 + (%𝑴𝒂𝒓𝒈𝒊𝒏 × 𝑯𝑷. 𝑷𝒓𝒐𝒅𝒖𝒌𝒔𝒊)
𝑯𝑱 = Rp 97.750,00 + (35% x Rp 97.750,00)
𝑯𝑱 =Rp 97.750,00 + 34.212,50
𝑯𝑱 = Rp 131.962,5

Harga jual baby doll keseluruhan :


𝑯𝑱𝒔 = 𝑯𝒂𝒓𝒈𝒂 𝑱𝒖𝒂𝒍 𝐱 𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒑𝒓𝒐𝒅𝒖𝒌𝒔𝒊 𝒌𝒆𝒔𝒆𝒍𝒖𝒓𝒖𝒉𝒂𝒏
= 𝐑𝐩 𝟏𝟑𝟏. 𝟗𝟔𝟐, 𝟓 𝐱 𝟕𝟐𝟎
= 𝐑𝐩 𝟗𝟓. 𝟎𝟏𝟑. 𝟎𝟎𝟎, 𝟎𝟎

3. Laporan laba rugi

Penjualan Daster Rp 81.877.500,00


Baby doll Rp 95.013.000,00
Rp 176.890.500,00
Harga Pokok Daster Rp 60.650.000,00
Produksi Baby doll Rp 70.380.000,00

Rp 131.030.000,00
Laba Kotor Rp 45.860.500,00
Biaya Gaji manajer Rp 6.000.000,00
Operasional Biaya cetak di media Rp 1.000.000,00
cetak
Listrik Rp 500.000,00
Sewa kantor Rp 12.000.000,00 : 12 =
Rp 1.000.000,00
Biaya administrasi Rp 250.000,00
Aktiva Rp 30.000.000,00 x 3% =
Rp 900.000,00 : 12
= Rp 75.000,00
Rp 8.825.000,00
EBIT Rp 37.035.500,00

Karena tak ada bunga dan pajak (0) maka hasil akhir adalah juga disebut
EBIT.

32
DAFTAR PUSTAKA

Abas, T dan Suciati. 2007. Modul bahan ajar Manajemen Usaha Busana. Prodi
Pendidikan Tata Busana, Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, Fakultas
Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Universitas Pendidikan Indonesia.
Bandung.

Jerusalem, M.A. 2011. Manajemen Usaha Busana. Fakultas Teknik Universitas


Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.

Rinartati, A dan Mustofani, H. 2019. Pembuatan Busana Industri. Tata Busana.


Ikatan Penata Busana Indonesia. Surabaya.

Tambahan bacaan (Literasi) :

https://ontbpwjt.wordpress.com/info-penting/3-pengayaan/3-kelas-xii/perhitungan-
harga-jual/

https://manajemenkeuangan.net/cara-menghitung-hpp/

https://cpssoft.com/blog/manajemen/break-even-point-mengetahui-titik-impas/

http://kursusjahityogya.blogspot.com/2015/02/anali.html

https://carasiiumi.com/cara-menghitung-bep/

https://reenapuji.wordpress.com/2013/05/03/desain-busana-berdasarkan-kesempatan/

Tambahan Referensi (Short video) :

https://www.youtube.com/watch?v=y_jp6DDTQDw

https://www.youtube.com/watch?v=IcJpwjhal3I

https://www.youtube.com/watch?v=RNyAooUMsLg

https://www.youtube.com/watch?v=2v4S4tGm9GQ

33