Anda di halaman 1dari 70

MINI PROJECT

PENGARUH PROMOSI KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN


SISWA TENTANG CACAR AIR (Varicella zoster) DI SEKOLAH DASAR
MI MA’ARIF PURWODESO KECAMATAN SRUWENG

Disusun oleh :
dr. Agya Ghilman Faza

Pendamping :
dr. Kukuh Muchrodi
NIP. 19831022 201001 1 019

UPTD PUSKESMAS SRUWENG


KABUPATEN KEBUMEN
2019

1
KEGIATAN MINI PROJECT

PENGARUH PROMOSI KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN


SISWA TENTANG CACAR AIR (Varicella zoster) DI SEKOLAH DASAR
MI MA’ARIF PURWODESO KECAMATAN SRUWENG

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Pelaksanaan Internsip Dokter Indonesia


Di Puskesmas Sruweng
Kabupaten Kebumen

Telah disetujui dan dipresentasikan


Pada tanggal:

Disusun oleh :
dr. Agya Ghilman Faza

Mengetahui,
Kepala Dinas Kesehatan Pembimbing
Kabupaten Kebumen

dr. Hj.Y. Rini Kristiani. M.Kes dr. Kukuh Muchrodi


NIP. 19621217 198902 2 003 NIP. 19831022 201001 1 019

2
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ..........................................................Error! Bookmark not defined.


DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. 3
DAFTAR TABEL.................................................................................................... 5
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... 6
BAB I PENDAHULUAN ......................................Error! Bookmark not defined.
A. Latar Belakang ............................................................................................ 8
B. Rumusan Masalah ....................................................................................... 9
C. Tujuan Penelitian....................................................................................... 10
D. Manfaat Penelitian..................................................................................... 10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................Error! Bookmark not defined.
A. Promosi Kesehatan .....................................Error! Bookmark not defined.
B. Varicella (Cacar Air) ..................................Error! Bookmark not defined.
C. Pengetahuan ...............................................Error! Bookmark not defined.
D. Hipotesis .....................................................Error! Bookmark not defined.
BAB III METODE PENELITIAN.........................Error! Bookmark not defined.
A. Jenis Penelitian ...........................................Error! Bookmark not defined.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ......................Error! Bookmark not defined.
C. Subyek Penelitian .......................................Error! Bookmark not defined.
D. Teknik Sampling.........................................Error! Bookmark not defined.
E. Variabel Penelitian......................................Error! Bookmark not defined.
F. Definisi Operasional ...................................Error! Bookmark not defined.
G. Instrumen Penelitian ...................................Error! Bookmark not defined.
H. Analisis Data ..............................................Error! Bookmark not defined.
BAB IV ANALISIS DATA ................................................................................... 41
A. Profil Puskesmas Sruweng ........................................................................ 42
B. Analisis Data ............................................................................................. 46
BAB V PEMBAHASAN ...................................................................................... 55
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 58
A. Simpulan.................................................................................................... 58

3
B. Saran .......................................................................................................... 58
DAFTAR PUSTAKA .............................................Error! Bookmark not defined.
LAMPIRAN .......................................................................................................... 60

4
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Grafik Jumlah Penderita Varicella di Kecamatan Sruweng


Gambar 2. Peta Wilayah Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen
Gambar 3. Grafik Luas Desa Kecamatan Sruweng
Gambar 4. Grafik Persebaran Jumlah Penduduk Kecamatan Sruweng Tahun 2018
Gambar 5. Grafik Hasil Nilai Pretest dan Posttest Responden Desa Tanggeran

5
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Keadaan Wilayah 21 Desa di Kecamatan Sruweng


Tabel 2. Nilai Pretest dan Posttest Responden Desa Tanggeran
Tabel 3. Statistik Deskriptif
Tabel 4. Uji Normalitas
Tabel 5. Korelasi Sampel Berpasangan
Tabel 6. Uji Sampel Berpasangan

6
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Soal Pretest dan Postest


Lampiran 2. Foto Kegiatan
Lampiran 3. Foto Produk

7
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut laporan The Legatum Prosperity Index 2017, Indonesia
menempati urutan ke 101 dari 109 negara dalam indeks kesehatan global 2017.
Indeks tersebut didasarkan pada kesehatan fisik, mental, infrastruktur
kesehatan, dan upaya pencegahan berbagai wabah dan penyakit. Secara umum
ada dua jenis penyakit yaitu penyakit menular (Infectious Diseases) dan
penyakit tidak menular (Non Infectious Diseases). Penyebaran penyakit
menular menjadi keprihatinan dan ancaman bagi masyarakat karena penyakit
menular umumya bersifat mendadak dan bisa menyerang seluruh lapisan
masyarakat dalam waktu tertentu. Salah satu penyakit yang sangat menular
adalah cacar air (WHO, 2015).
Cacar air adalah penyakit infeksi akut primer oleh virus Varicella zoster
yang menyerang kulit dan mukosa, secara klinis terdapat gejala konstitusi
disertai kelainan kulit polimorf, terutama berlokasi di bagian sentral tubuh
(Handoko, 2013).
Kejadian cacar air lebih sering terjadi di negara tropis dan subtropis. Di
Indonesia sering terjadi pada saat pergantian musim hujan ke musim kemarau
ataupun sebaliknya. Namun sampai saat ini belum ada pencatatan angka
kejadian cacar air secara nasional. Anderson (2018) menyebutkan bahwa 5 dari
1000 populasi menderita cacar air di Amerika Serikat. Sebelum adanya vaksin
cacar air, tercatat sekitar 4 juta kasus epidemi cacar air di Amerika Serikat setiap musim
dingin dan musim semi.
Menurut data kunjungan pasien Puskesmas Sruweng tahun 2018,
terdapat peningkatan jumlah pasien cacar air pada bulan Oktober sampai
Desember sebesar 11, 14, dan 18 orang. Sedangkan menurut data kunjungan
pasien tahun 2019 sampai bulan September, terjadi peningkatan jumlah pasien
cacar air pada bulan Agustus dan September sebesar 12 dan 19 orang.

8
Peningkatan jumlah pasien cacar air terjadi pada saat pergantian musim
kemarau ke musim penghujan.
Cacar air terdapat di seluruh dunia dan tidak ada perbedaan ras maupun
jenis kelamin (Zulkoni, 2011). Cacar air dapat mengenai semua kelompok umur
termasuk neonatus, tetapi hampir sembilan puluh persen kasus mengenai anak
di bawah umur 10 tahun dan usia puncak terjadinya adalah 5-10 tahun (Smith,
2014).
Menurut data kunjungan pasien cacar air di Puskesmas Sruweng, rata-
rata usia sekitar 5 – 9 tahun. Di Amerika, cacar air sering terjadi pada anak-anak
di bawah usia 10 tahun dan 5% kasus terjadi pada usia lebih dari 15 tahun.
Sedangkan di Jepang penyakit ini umum terjadi pada anak-anak di bawah usia
6 tahun. Di Indonesia sendiri belum ada pencatatan data secara nasional.
Mengingat kasus cacar air banyak menyerang anak-anak dan sifat
penularannya begitu cepat. Maka dibutuhkan suatu cara untuk melakukan
pencegahan penyebaran penyakit varisela agar tidak menjadi wabah dalam
suatu populasi. Salah satu caranya yaitu dengan promosi kesehatan.
Promosi kesehatan merupakan suatu proses yang bertujuan
memungkinkan individu meningkatkan kontrol terhadap kesehatan dan
meningkatkan kesehatannya berbasis filosofi yang jelas mengenai
pemberdayaan diri sendiri (Kemenkes, 2011). Salah satu media promosi
kesehatan yang mempermudah pemahaman dan dapat meningkatkan gairah
belajar adalah media cetak. Disamping media cetak, metode promosi kesehatan
dalam kelompok besar atau >15 orang adalah dengan penyuluhan. Penyuluhan
tersebut bertujuan agar audience mendapatkan informasi yang lebih jelas dan
dapat menanyakan langsung jika masih belum paham (Notoatmodjo, 2007).
Berdasarkan latar belakang dan uraian tersebut, maka peneliti
melakukan survei kesehatan untuk mengetahui “Pengaruh Promosi Kesehatan
terhadap Pengetahuan Siswa tentang Cacar Air (Varicella zoster) di Sekolah
Dasar Negeri 2 Tanggeran Kecamatan Sruweng”.
B. Rumusan Masalah

9
Adakah pengaruh promosi kesehatan terhadap pengetahuan siswa
tentang cacar air (Varicella zoster) di MI Purwodeso Kecamatan Sruweng?

C. Tujuan Penelitian
Mengetahui pengaruh promosi kesehatan terhadap pengetahuan siswa
tentang cacar air (Varicella zoster) di MI Purwodeso Kecamatan Sruweng.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi peneliti
a. Peneliti mengetahui secara langsung permasalahan yang ada di
lapangan.
b. Peneliti menjadi terbiasa melaporkan masalah.
c. Sebagai media yang menambah wawasan pengetahuan tentang
penyakit cacar air.
d. Sebagai modal dasar untuk melakukan penelitian pada tataran yang
lebih lanjut.
2. Manfaat bagi siswa
a. Siswa mengetahui mengenai penyakit cacar air.

BAB II

10
TINJAUAN PUSTAKA

A. Promosi Kesehatan
1. Definisi
Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI)
(2011), promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan
masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat,
agar mereka dapat menolong diri sendiri, serta mengembangkan kegiatan
yang bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan
didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Menurut Green
dan Kreuter dalam buku Promosi Kesehatan Notoatmodjo (2007), promosi
kesehatan adalah kombinasi upaya-upaya pendidikan, kebijakan (politik),
peraturan, dan organisasi untuk mendukung kegiatan-kegiatan dan kondisi-
kondisi hidup yang menguntungkan kesehatan individu, kelompok, atau
komunitas.

2. Tujuan
Menurut Green dalam Notoatmodjo (2007) tujuan promosi
kesehatan terdiri dari 3 tingkatan, yaitu :
a. Tujuan Program
Merupakan pernyataan tentang apa yang akan dicapai dalam periode
waktu tertentu yang berhubungan dengan status kesehatan.
b. Tujuan Pendidikan
Merupakan deskripsi perilaku yang akan dicapai untuk mengatasi
masalah kesehatan yang ada.
c. Tujuan Perilaku
Merupakan pendidikan atau pembelajaran yang harus tercapai (perilaku
yang diinginkan). Oleh sebab itu tujuan perilaku berhubungan dengan
pengetahuan dan sikap.

3. Sasaran

11
Menurut Kemenkes RI (2011) dalam pelaksanaan promosi
kesehatan, terdapat 3 jenis sasaran, yaitu:
a. Sasaran primer
Sasaran primer atau sasaran utama promosi kesehatan adalah pasien,
individu sehat dan keluarga (rumah tangga) sebagai komponen
masyarakat.
b. Sasaran sekunder
Sasaran sekunder adalah para pemuka masyarakat, baik pemuka
informal (missal: pemuka adat, pemuka agama, dan lain-lain) maupun
pemuka formal (missal petugas kesehatan, pejabat pemerintahan dan
lain-lain). Berperan sebagai kelompok penekan (pressure group) guna
mempercepat terbentuknya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
c. Sasaran tersier
Sasaran tersier adalag pembuat kebijakan publik yang berupa peraturan
perundang-undangan di bidang kesehatan dan bidang lain yang
berkaitan serta mereka yang memfasilitasi atau menyediakan sumber
daya.

4. Strategi
Dalam penerapan promosi kesehatan dibutuhkan strategi tertentu.
Menurut Kemenkes RI (2011) strategi promosi kesehatan yang paripurna
terdiri dari (1) pemberdayaan, yang didukung oleh (2) bina suasana dan (3)
advokasi, serta dilandasi oleh semangat (4) kemitraan.
a. Pemberdayaan adalah pemberian informasi dan pendampingan dalam
mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan, guna membantu
individu, keluarga atau kelompok-kelompok masyarakat menjalani
tahap-tahap tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS.
b. Bina suasana adalah pembentukan suasana lingkungan sosial yang
kondusif dan mendorong dipraktikkannya PHBS serta penciptaan
panutan-panutan dalam mengadopsi PHBS dan melestarikannya.

12
c. Advokasi adalah pendekatan dan motivasi terhadap pihak-pihak tertentu
yang diperhitungkan dapat mendukung keberhasilan pembinaan PHBS
baik dari segi materi maupun non materi.
d. Kemitraan harus digalang baik dalam rangka pemberdayaan maupun
bina suasana dan advokasi guna membangun kerjasama dan
mendapatkan dukungan. Dengan demikian kemitraan perlu digalang
antar individu, keluarga, pejabat atau instansi pemerintah yang terkait
dengan urusan kesehatan (lintas sektor), pemuka atau tokoh masyarakat,
media massa dan lain-lain.

5. Ruang lingkup
Ruang lingkup promosi kesehatan berdasarkan aspek pelayanan
kesehatan menurut Notoatmodjo (2007), meliputi :
a. Promosi kesehatan pada tingkat promotif
Sasaran promosi kesehatan pada tingkat pelayanan promotif adalah
pada kelompok orang sehat, dengan tujuan agar mereka mampu
meningkatkan kesehatannya.
b. Promosi kesehatan pada tingkat preventif
Sasaran promosi kesehatan pada tingkat ini selain pada orang yang
sehat juga bagi kelompok yang berisiko. Misalnya, ibu hamil, para
perokok, para pekerja seks, keturunan diabetes dan sebagainya. Tujuan
utama dari promosi kesehatan pada tingkat ini adalah untuk mencegah
kelompok-kelompok tersebut agar tidak jatuh sakit (primary
prevention).
c. Promosi kesehatan pada tingkat kuratif
Sasaran promosi kesehatan pada tingkat ini adalah para penderita
penyakit, terutama yang menderita penyakit kronis seperti asma,
diabetes mellitus, tuberkulosis, hipertensi dan sebagainya. Tujuan dari
promosi kesehatan pada tingkat ini agar kelompok ini mampu
mencegah penyakit tersebut tidak menjadi lebih parah (secondary
prevention).

13
d. Promosi kesehatan pada tingkat rehabilitatif
Sasaran pokok pada promosi kesehatan tingkat ini adalah pada
kelompok penderita atau pasien yang baru sembuh dari suatu penyakit.
Tujuan utama promosi kesehatan pada tingkat ini adalah mengurangi
kecacatan seminimal mungkin. Dengan kata lain, promosi kesehatan
pada tahap ini adalah pemulihan dan mencegah kecacatan akibat dari
suatu penyakit (tertiary prevention) (Notoatmodjo, 2007).

6. Metode
Pemikiran Dasar Promosi Kesehatan pada hakikatnya ialah suatu
kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat,
kelompok atau individu. Suatu proses promosi kesehatan yang menuju
tercapainya tujuan pendidikan kesehatan yakni perubahan perilaku
dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya yaitu metode. Metode harus
berbeda antara sasaran massa, kelompok atau sasaran individual.
a. Metode Individual (Perorangan)
Dalam pendidikan kesehatan, metode yang bersifat individual
ini digunakan untuk membina perilaku baru, atau membina seseorang
yang telah mulai tertarik kepada suatu perubahan perilaku atau inovasi.
Misalnya, seorang ibu yang baru saja menjadi akseptor atau seorang ibu
hamil yang sedang tertarik terhadap imunisasi Tetanus Toxoid (TT)
karena baru saja memperoleh/ mendengarkan penyuluhan kesehatan.
Pendekatan yang digunakan agar ibu tersebut menjadi akseptor lestari
atau ibu hamil segera minta imunisasi, ia harus didekati secara
perorangan. Perorangan disini tidak berarti harus hanya kepada ibu-ibu
yang bersangkutan, tetapi mungkin juga kepada suami atau keluarga ibu
tersebut.
Dasar digunakannya pendekatan individual ini karena setiap
orang mempunyai masalah atau alasan yang berbeda-beda sehubungan
dengan penerimaaan atau perilaku baru tersebut. Agar petugas
kesehatan mengetahui dengan tepat bagaimana cara membantunya

14
maka perlu menggunakan bentuk pendekatan (metode) berikut ini, yaitu
:
1) Bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling)
Dengan cara ini kontak antara klien dan petugas lebih intensif.
Setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat digali dan dibantu
penyelesaiannya. Akhirnya klien akan dengan sukarela, berdasarkan
kesadaran, dan penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut
(mengubah perilaku).
2) Interview (wawancara)
Cara ini sebenarnya merupakan bagian dari bimbingan dan
penyuluhan. Wawancara antara petugas kesehatan dengan klien
untuk mengetahui apakah klien memiliki kesadaran dan pengertian
yang kuat tentang informasi yang diberikan (perubahan perilaku
yang diharapkan), juga untuk menggali informasi mengapa ia tidak
atau belum menerima perubahan, ia tertarik atau belum menerima
perubahan yang disampaikan. Jika belum berubah, maka perlu
penyuluhan yang lebih mendalam lagi.
b. Metoda Kelompok
Dalam memilih metode kelompok, harus mengingat besarnya
kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal dari sasaran. Untuk
kelompok yang besar, metodenya akan lain dengan kelompok kecil.
Efektivitas suatu metode akan tergantung pada besarnya sasaran
pendidikan.
1) Kelompok Besar
Yang dimaksud kelompok besar disini adalah apabila peserta
penyuluhan itu lebih dari 15 orang. Metode yang baik untuk
kelompok besar ini, antara lain ceramah dan seminar.
a) Ceramah
Metode ini baik untuk sasaran pendidikan tinggi maupun rendah.
Merupakan metode dengan menyampaikan informasi dan
pengetahuan secara lisan. Metode ini mudah dilaksanakan tetapi

15
penerima informasi menjadi pasif dan kegiatan menjadi
membosankan jika terlalu lama.
b) Seminar
Metode ini hanya cocok untuk pendidikan formal menengah ke
atas. Seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari seorang
ahli atau beberapa orang ahli tentang suatu topik yang dianggap
penting dan dianggap hangat di masyarakat.
2) Kelompok Kecil
Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang biasanya kita sebut
kelompok kecil. Metode-metode yang cocok untuk kelompok kecil
antara lain:
a) Diskusi Kelompok
Metode yang dilaksanakan dalam bentuk diskusi antara
pemberi dan penerima informasi, biasanya untuk mengatasi
masalah. Metode ini mendorong penerima informasi berpikir
kritis, mengekspresikan pendapatnya secara bebas,
menyumbangkan pikirannya untuk memecahkan masalah
bersama, mengambil satu alternatif jawaban atau beberapa
alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdasarkan
pertimbangan yang seksama.
Dalam diskusi kelompok agar semua anggota kelompok
dapat bebas berpartisipasi dalam diskusi, maka formasi duduk
para peserta diatur sedemikian rupa sehingga mereka dapt
berhadap-hadapan atau saling memandang satu sama lain,
misalnya dalam bentuk lingkaran atau segi empat.
b) Curah pendapat (Brain Storming)
Prinsipnya sama dengan metode diskusi kelompok. Bedanya,
pada permulaan pemimpin kelompok memancing dengan satu
masalah dan kemudian tiap peserta memberikan jawaban atau
tanggapan (curah pendapat). Tanggapan atau jawaban-jawaban
tersebut ditampung dan ditulis dalam flipchart atau papan tulis.

16
Sebelum semua peserta mencurahkan pendapatnya, tidak boleh
dikomentari oleh siapa pun. Baru setelah semua anggota
dikeluarkan pendapatnya, tiap anggota dapat mengomentari, dan
akhirnya terjadi diskusi.
c) Bola salju (Snow Balling)
Metode dimana kesepakatan akan didapat dari pemecahan
menjadi kelompok yang lebih kecil, kemudian bergabung
dengan kelompok yang lebih besar. Kelompok dibagi dalam
pasangan-pasangan (1 pasang 2 orang) dan kemudian
dilontarkan suatu pertanyaan atau masalah. Setelah lebih kurang
5 menit maka tiap 2 pasang bergabung menjadi satu. Mereka
tetap mendiskusikan masalah tersebut, dan mencari
kesimpulannya. Kemudian tiap 2 pasang yang sudah
beranggotakan 4 orang ini bergabung lagi dengan pasangan
lainnya, demikian seterusnya sehingga akhirnya akan terjadi
diskusi seluruh anggota kelompok.
d) Kelompok-kelompok kecil (Buzz Group)
Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil
(buzz group) yang kemudian diberi suatu permasalahan yang
sama atau tidak sama dengan kelompok lain. Masing-masing
kelompok mendiskusikan masalah tersebut. Selanjutnya hasil
dan tiap kelompok didiskusikan kembali dan dicari
kesimpulannya.
e) Memainkan peran (Role Play)
Dalam metode ini beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai
pemegang peran tertentu untuk memainkan peranan, misalnya
sebagai dokter Puskesmas, sebagai perawat atau bidan, dan
sebagainya, sedangkan anggota yang lain sebagai pasien atau
anggota masyarakat. Mereka memperagakan, misalnya
bagaimana interaksi atau berkomunikasi sehari-hari dalam
melaksanakan tugas.

17
f) Permainan simulasi (Simulation Game)
Metode ini merupakan gabungan antara role play dengan diakusi
kelompok. Pesan-pesan kesehatan disajikan dalam beberapa
bentuk permainan seperti permainan monopoli. Cara
memainkannya persis seperti bermain monopoli, dengan
menggunakan dadu, gaco (petunjuk arah), selain beberan atau
papan main. Beberapa orang menjadi pemain, dan sebagian lagi
berperan sebagai narasumber.
c. Metode massa
Metode pendidikan kesehatan secara massa dipakai untuk
mengkomunikasikan pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada
masyarakat yang sifatnya massa atau publik. Beberapa contoh metode
pendidikan kesehatan secara massa ini, antara lain:
1) Ceramah umum (public speaking), acara-acara tertentu, misalnya
pada Hari Kesehatan Nasional, Menteri Kesehatan atau pejabat
kesehatan lainnya berpidato dihadapan massa rakyat untuk
menyampaikan pesan-pesan kesehatan. Safari KB juga merupakan
salah satu bentuk pendekatan massa.
2) Pidato-pidato/diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik,
baik TV maupun radio, pada hakikatnya merupakan bentuk promosi
kesehatan massa.
3) Simulasi, dialog antara pasien dengan dokter atau petugas kesehatan
lainnya tentang suatu penyakit atau masalah kesehatan adalah juga
merupakan pendekatan pendidikan kesehatan massa.
4) Tulisan-tulisan di majalah atau koran, baik dalam bentuk artikel
maupun tanya jawab atau konsultasi tentang kesehatan adalah
merupakan bentuk pendekatan promosi kesehatan massa.
5) Bill Board, yang dipasang di pinggir jalan, spanduk, poster, dan
sebagainya juga merupakan bentuk promosi kesehatan massa.

18
7. Media
Media promosi kesehatan adalah semua sarana atau upaya untuk
menampilkan pesan informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator
sehingga sasaran dapat meningkat pengetahuannya yang akhirnya
diharapkan dapat berubah perilakunya ke arah positif terhadap kesehatan.
Berdasarkan peran fungsinya sebagai penyaluran pesan/informasi
kesehatan, media promosi kesehatan dibagi menjadi 3 yakni :
a. Media cetak
Media ini mengutamakan pesan-pesan visual, biasanya terdiri dari
gambaran sejumlah kata, gambar atau foto dalam tata warna. Yang
termasuk dalam media ini adalah booklet, leaflet, flyer (selebaran), flip
chart (lembar balik), rubrik atau tulisan pada surat kabar atau majalah,
poster, foto yang mengungkapkan informasi kesehatan. Ada beberapa
kelebihan media cetak antara lain tahan lama, mencakup banyak orang,
biaya rendah, dapat dibawa kemana-mana, tidak perlu listrik,
mempermudah pemahaman dan dapat meningkatkan gairah belajar.
Media cetak memiliki kelemahan yaitu tidak dapat menstimulir efek
gerak dan efek suara dan mudah terlipat.
b. Media elektronik
Media ini merupakan media yang bergerak dan dinamis, dapat dilihat
dan didengar dan penyampaiannya melalui alat bantu elektronika.
Termasuk dalam media ini adalah televisi, radio, video film, kaset, CD,
VCD, internet (komputer dan modem), SMS (telepon seluler). Seperti
halnya media cetak, media elektronik ini memiliki kelebihan antara lain
lebih mudah dipahami, lebih menarik, sudah dikenal masyarakat,
bertatap muka, mengikut sertakan seluruh panca indera, penyajiannya
dapat dikendalikan dan diulang-ulang serta jangkauannya lebih besar.
Kelemahan dari media ini adalah biayanya lebih tinggi, sedikit rumit,
perlu listrik dan alat canggih untuk produksinya, perlu persiapan
matang, peralatan selalu berkembang dan berubah, perlu keterampilan
penyimpanan dan keterampilan untuk mengoperasikannya.

19
c. Media luar ruang
Media menyampaikan pesannya di luar ruang, bisa melalui media cetak
maupun elektronik misalnya papan reklame, spanduk, pameran, banner
dan televisi layar lebar, umbul-umbul, yang berisi pesan, slogan atau
logo. Kelebihan dari media ini adalah lebih mudah dipahami, lebih
menarik, sebagai informasi umum dan hiburan, bertatap muka,
mengikut sertakan seluruh panca indera, penyajian dapat dikendalikan
dan jangkauannya relatif besar. Kelemahan dari media ini adalah biaya
lebih tinggi, sedikit rumit, perlu alat canggih untuk produksinya,
persiapan matang, peralatan selalu berkembang dan berubah,
memerlukan keterampilan penyimpanan dan keterampilan untuk
mengoperasikannya.
d. Media lain, seperti :
1) Iklan di bus
2) Mengadakan acara, merupakan suatu bentuk kegiatan yang diadakan
di pusat perbelanjaan atau hiburan yang menarik perhatian
pengunjung seperti, road show, sampling, dan pameran.

B. Varicella (Cacar air)


1. Definisi
Varicella adalah suatu penyakit infeksi akut primer oleh virus
Varicella zoster yang menyerang kulit, mukosa, dan selaput lendir, klinis
terdapat gejala konstitusi, kelainan kulit polimorf ditandai oleh adanya
vesikel-vesikel, terutama berlokasi di bagian sentral tubuh. Sinonimnya
adalah cacar air, chicken pox (Djuandaet al., 2011:115-116). Varicella
merupakan penyakit infeksi virus akut dan cepat menular. Penyakit ini
merupakan hasil infeksi primer pada penderita yang rentan (Harahap,
2000:94-96).
Varicella merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus
Varicella zoster. Virus Varicella zoster merupakan virus DNA yang mirip
dengan virus Herpes Simpleks. Pada hakekatnya varicella memberikan

20
gambaran penyakit yang berat dan peradangan yang lebih jelas dibanding
dengan penyakit herpes simpleks. Virus tersebut dapat pula menyebabkan
herpes zoster. Kedua penyakit ini mempunyai manifestasi klinis yang
berbeda (Rassner, 1995:44-45; Hassan, 2007:637-640).Varicella pada
umumnya menyerang anak, sedangkan herpes zoster atau shingles
merupakan suatu reaktivasi infeksi endogen pada periode laten VZV
umumnya menyerang orang dewasa atau anak yang menderita defisiensi
imun (White, 1994:330-334).
Virus Varicella Zoster dapat menyebabkan 2 jenis, yaitu infeksi
primer dan sekunder. Varicella (chicken pox)merupakan suatu bentuk
infeksi primer virus Varicella zoster yang pertama kali padaindividu yang
berkontak langsung dengan virus tersebut sedangkan
infeksisekunder/rekuren (karena persistensi virus) disebut Herpes
Zoster/shingles(Rassner, 1995:44-45).
Virus Varicella Zoster masuk kedalam tubuh dan menyebabkan
terjadinya infeksi primer, setelah ada kontak dengan virus tersebut akan
terjadi varicella. Kemudian setelah penderita varicella (infeksiprimer)
sembuh, mungkin virus itu tetap ada dalam bentuk laten (tanpa ada
manifestasi klinis) pada dasar akar ganglia dan nervusspinalis. Virus
tersebut dapat menjadi aktif kembali dalam tubuh individu
danmenyebabkan terjadinya Herpes Zoster (Hassan, 2007:637-640).

2. Epidemiologi
Varicella tersebar kosmopolit (di seluruh dunia), dapat mengenai
semua golongan umur, termasuk neonatus (varicella kongenital). Tersering
menyerang terutama anak-anak, tetapi dapat juga menyerang orang dewasa.
Bila terjadi pada orang dewasa, umumnya gejala konstitusi lebih berat.
Transmisi penyakit ini berlangsung secara aerogen. Varicella sangat mudah
menular terutama melalui kontak langsung, droplet atau aerosol dari lesi
vesikuler di kulit ataupun melalui saluran nafas, dan jarang melalui kontak
tidak langsung. Masa penularannya, pasien dapat menularkan penyakit

21
selama 24-48 jam sebelum lesi kulit timbul sampai semua lesi timbul
krusta/keropeng, biasanya kurang lebih 6-7 hari dihitung dari timbulnya
gejala erupsi di kulit. Penyakit ini cepat sekali menular pada orang-orang di
lingkungan penderita. Seumur hidup seseorang hanya satu kali menderita
varicella. Serangan kedua mungkin berupa penyebaran ke kulit pada herpes
zoster (Djuanda et al., 2011:115-116).
Varicella dapat terjadi di sepanjang tahun. Di Negara Barat,
prevalensi kejadian varicella tergantung dari musim (musim dingin dan
awal musim semi lebih banyak). Di Indonesia belum pernah dilakukan
penelitian, agaknya penyakit virus menyerang pada musim peralihan.
Angka kejadian di Negara kita belum pernah diteliti, tetapi di Amerika
dikatakan kira-kira 3,1-3,5 juta kasus dilaporkan tiap tahun (Hassan,
2007:637-640; White, 1994:330-334).

3. Etiologi
Varicella disebabkan oleh Varicella Zoster Virus (VZV). Penamaan
virus ini memberi pengertian bahwa infeksi primer virus ini meyebabkan
penyakit varicella, sedangkan reaktivasi menyebabkan herpes zoster.
Varicella Zoster Virus (VZV) termasuk kelompok virus herpes dengan
ukuran diameter kira-kira 140–200 nm (Siregar, 2004).
Varicella-Zooster virus diklasifikasikan sebagai herpes virus alfa
karena kesamaannya dengan prototipe kelompok ini yaitu virus herpes
simpleks. Inti virus disebut Capsid, terdiri dari protein dan DNA dengan
rantai ganda, yaitu rantai pendek (S) dan rantai panjang (L) dan membentuk
suatu garis dengan berat molekul 100 juta yang disusun dari 162 capsomer
dan sangat infeksius. Genom virus mengkode lebih dari 70 protein,
termasuk protein yang merupakan sasaran imunitas dan timidin kinase
virus, yang membuat virus sensitif terhadap hambatan oleh asiklovir dan
dihubungkan dengan agen antivirus (Lichenstein, 2002).
VZV dapat pula menyebabkan Herpes Zoster. Kedua penyakit ini
mempunyai manifestasi klinis yang berbeda. Kontak pertama dengan virus

22
ini akan menyebabkan varicella, oleh karena itu varicella dikatakan infeksi
akut primer, kemudian setelah penderita varicella tersebut sembuh,
mungkin virus itu tetap ada di akar ganglia dorsal dalam bentuk laten (tanpa
ada manifestasi klinis) dan kemudian VZV diaktivasi oleh trauma sehingga
menyebabkan Herpes Zoster (Lichenstein, 2002).
VZV dapat ditemukan dalam cairan vesikel dan dalam darah
penderita varicella sehingga mudah dibiakan dalam media yang terdiri dari
fibroblast paru embrio manusia(Hassan, 2007:637-640).

4. Patofisiologi
Varicella disebabkan oleh VZV yang termasuk dalam famili virus
herpes. Virus masuk ke dalam tubuh manusia melalui mukosa saluran napas
bagian atas dan orofaring (percikan ludah, sputum). Multiplikasi virus di
tempat tersebut diikuti oleh penyebaran virus dalam jumlah sedikit melalui
darah dan limfe (viremia primer). Virus VZV dimusnahkan/ dimakan oleh
sel-sel sistem retikuloendotelial, di sini terjadi replikasi virus lebih banyak
lagi (pada masa inkubasi). Selama masa inkubasi infeksi virus dihambat
sebagian oleh mekanisme pertahanan tubuh dan respon yang timbul
(imunitas nonspesifik) (Straus,2008).
Pada sebagian besar individu replikasi virus lebih menonjol atau
lebih dominan dibandingkan imunitas tubuhnya yang belum berkembang,
sehingga dalam waktu dua minggu setelah infeksi terjadi viremia sekunder
dalam jumlah yang lebih banyak. Hal ini menyebabkan panas dan malaise,
serta virus menyebar ke seluruh tubuh lewat aliran darah, terutama ke kulit
dan membrane mukosa. Lesi kulit muncul berturut-berturut, yang
menunjukkan telah memasuki siklus viremia, yang pada penderita yang
normal dihentikan setelah sekitar 3 hari oleh imunitas humoral dan imunitas
seluler VZV. Virus beredar di leukosit mononuklear, terutama pada
limfosit. Bahkan pada varicella yang tidak disertai komplikasi, hasil viremia
sekunder menunjukkan adanya subklinis infeksi pada banyak organ selain
kulit (Straus, 2008).

23
Respon imun penderita menghentikan viremia dan menghambat
berlanjutnya lesi pada kulit dan organ lain. Imunitas humoral terhadap VZV
berfungsi protektif terhadap varicella. Pada orang yang terdeteksi memiliki
antibodi serum biasanya tidak selalu menjadi sakit setelah terkena paparan
eksogen. Sel mediasi imunitas untuk VZV juga berkembang selama
varicella, berlangsung selama bertahun-tahun, dan melindungi terhadap
terjadinya resiko infeksi yang berat (Straus, 2008).
Reaktivasi pada keadaan tubuh yang lemah sebagian idiopatik tanpa
diketahui penyebabnya, sebagian simptomatik (defisiensi imun melalui
penyakit system imun, neoplasia, supresi imun) (Rassner, 1995).

5. Gejala Klinis
Masa inkubasi penyakit ini berlangsung 14 sampai 21 hari. Masa
inkubasi dapat lebih lama pada pasien dengan defisiensi imun dan pada
pasien yang telah menerima pengobatan pasca paparan dengan produk yang
mengandung antibodi terhadap varicella (Straus, 2008).
Perjalanan penyakit dibagi menjadi 2 stadium yaitu stadium
prodromal dan stadium erupsi. Stadium prodromal yaitu 24 jam sebelum
kelainan kulit timbul, terdapat gejala seperti demam, malaise, kadang-
kadang terdapat kelainan scarlatinaform atau morbiliform. Stadium erupsi
dimulai dengan terjadinya papul merah, kecil, yang berubah menjadi vesikel
yang berisi cairan jernih dan mempunyai dasar eritematous. Permukaan
vesikel tidak memperlihatkan cekungan ditengah (unumbilicated) (Hassan,
2007).
Gejala klinis mulai gejala prodromal, yakni demam yang tidak
terlalu tinggi, malaise dan nyeri kepala, kemudian disusul timbulnya erupsi
kulit berupa papul eritematosa yang dalam waktu beberapa jam berubah
menjadi vesikel. Bentuk vesikel ini khas berupa tetesan embun (tear drops).
Vesikel akan berubah menjadi keruh (pustul) dalam waktu 24 jam dan
kemudian pecah menjadi krusta. Biasanya vesikel menjadi kering sebelum
isinya menjadi keruh. Sementara proses ini berlangsung, dalam 3-4 hari

24
erupsi tersebar disertai perasaan gatal. Timbul lagi vesikel-vesikel yang
baru di sekitar vesikula yang lama, sehingga menimbulkan gambaran
polimorfi. Stadium erupsi yang seperti ini disebut sebagai stadium erupsi
bergelombang (Hassan, 2007).
Penyebaran terutama di daerah badan dan kemudian menyebar
secara sentrifugal ke muka dan ekstremitas, serta dapat menyerang selaput
lendir mata, mulut, dan saluran napas bagian atas. Jika terdapat infeksi
sekunder terdapat pembesaran kelenjar getah bening regional. Penyakit ini
biasanya disertai gatal (Djuanda, 2011).
Infeksi yang timbul pada trimester pertama kehamilan dapat
menimbulkan kelainan kongenital, sedangkan infeksi yang timbul beberapa
hari menjelang kelahiran dapat menyebabkan varisela kongenital pada
neonatus (Djuanda, 2011).Karena kemungkinan mendapat varisela pada
masa kanak-kanak sangat besar, maka varisela jarang ditemukan pada
wanita hamil (0,7 tiap 1000 kehamilan). Diperkirakan 17% dari anak yang
dilahirkan wanita yang mendapat varicella ketika hamil akan menderita
kelainan bawaan berupa bekas luka di kulit (cutaneous scars), berat badan
lahir rendah, hypoplasia tungkai, kelumpuhan dan atrofi tungkai, kejang,
retardasi mental, korioretinitis, atrofi kortikal, maupun katarak (Hassan,
2007).

6. Pemeriksaan Penunjang
Gambaran histopatologi yaitu vesikula terdapat dalam epidermis,
terbentuk akibat ‘degenerasi balon’, sangat sukar dibedakan dari kelainan
pada herpes zoster dan herpes simpleks (White, 1994; Siregar, 2004).
Lesi pada varisela dan herpes zoster tidak dapat dibedakan secara
histopatologi. Pada pemeriksaan menunjukkan sel raksasa berinti banyak
dan sel epitel yang mengandung badan inklusi intranuklear yang asidofilik
(Straus, 2008).
Pemeriksaan dapat dilakukan dengan percobaan Tzanck dengan cara
membuat sediaan hapus yang diwarnai, dimana bahan pemeriksaan diambil

25
dari kerokan dari dasar vesikel yang muncul lebih awal, kemudian
diletakkan di atas object glass, dan difiksasi dengan ethanol atau methanol,
dan diwarnai dengan pewarnaan hematoxylin-eosin, Giemsa, Papanicolaou,
atau pewarnaan Paragon. Hasilnya akan didapati sel datia berinti banyak
(Straus, 2008).

7. Diagnosis
Varisela khas ditandai dengan erupsi papulovesikuler setelah fase
prodromal ringan atau bahkan tanpa fase prodromal, dengan disertai panas
dan gejala konstitusi ringan. Gambaran lesi bergelombang, polimorfi
dengan penyebaran sentrifugal. Sering juga ditemukan lesi pada membran
mukosa. Penularannya berlangsung cepat (Harahap, 2000).
Diagnosis laboratorik sederhana yaitu dengan pemeriksaan sediaan
hapus secara Tzanck (deteksi sel raksasa dengan banyak nukleus/inti)
(Rassner, 1995).

8. Diagnosis Banding
Varicella dapat dibedakan dengan beberapa kelainan kulit, antara
lain harus dibedakan dengan variola. Pada variola, penyakit lebih berat,
memberi gambaran lesi monomorf, dan penyebarannya sentripetal dimulai
dari bagian akral tubuh, yakni telapak tangan dan telapak kaki, baru ke
badan (Djuanda, 2011; Harahap, 2000).
Bedakan juga dengan herpes zoster. Pada herpes zoster lesi
monomorf, nyeri, unilateral. Pada herpes zoster juga didahului oleh fase
prodromal, kemudian disertai dengan rasa nyeri, perubahan pada kulit
terjadi pada setengah bagian badan (unilateral) dan berbentuk garis
berkaitan dengan daerah dermatom dengan lesi yang berupa gelembung-
gelembung kecil yang berkelompok di atas dasar eritematosa. Dapat terjadi
perkembangan yang berat yang meliputi keterlibatan mata (Zoster
trigeminus I), mukosa mulut (Zoster trigeminus II, III), telinga bagian dalam
(Zoster oticus) (Siregar, 2004).

26
Dermatitis herpetiform: biasanya simetris terdiri dari papula
vesikuler yang eritematosus, serta ada riwayat penyakit kronis, dan sembuh
dengan meninggalkan pigmentasi.
Impetigo: lesi impetigo yang pertama adalah vesikel yang cepat
menjadi pustula dan krusta. Distribusi lesi impetigo terletak dimana saja.
Impetigo tidak menyerang mukosa mulut.
Skabies: pada skabies terdapat papula yang sangat gatal. Lokasi
biasanya antara jari-jari tangan dan kaki. Pada pemeriksaan laboratorium
didapatkan Sarcoptes Scabiei.

9. Tata Laksana
Pengobatan secara sistemik dapat dengan memberikan antivirus.
Beberapa analog nukleosida seperti acyclovir, famciclovir, valacyclovir,
dan brivudin, dan analog pyrophosphate foskarnet terbukti efektif untuk
mengobati infeksi VZV. Acyclovir adalah suatu analog guanosin yang
secara selektif difosforilasi oleh timidin kinase VZV sehingga
terkonsentrasi pada sel yang terinfeksi. Enzim-enzim selular kemudian
mengubah acyclovir monofosfat menjadi trifosfat yang mengganggu
sintesis DNA virus dengan menghambat DNA polimerase virus. VZV kira-
kira sepuluh kali lipat kurang sensitif terhadap acyclovir dibandingkan HSV
(Straus, 2008).
Valacyclovir dan famcyclovir, merupakan prodrug dari acyclovir
yang mempunyai bioavaibilitas oral lebih baik daripada acyclovir sehingga
kadar dalam darah lebih tinggi dan frekuensi pemberian obat berkurang
(Straus, 2008).
Antivirus pada anak dengan pengobatan dini varicella dengan
pemberian acyclovir (dalam 24 jam setelah timbul ruam) pada anak
imunokompeten berusia 2-12 tahun dengan dosis 4 x 20 mg/kgBB selama 7
hari menurunkan jumlah lesi, penghentian terbentuknya lesi yang baru, dan
menurunkan timbulnya ruam, demam, dan gejala konstitusi bila
dibandingkan dengan placebo. Tetapi apabila pengobatan dimulai lebih dari

27
24 jam setelah timbulnya ruam cenderung tidak efektif lagi. Hal ini
disebabkan karena varicella merupakan infeksi yang relatif ringan pada
anak-anak dan manfaat klinis dari terapi tidak terlalu bagus, sehingga tidak
memerlukan pengobatan acyclovir secara rutin. Namun pada keadaan
dimana harga obat tidak menjadi masalah, dan pengobatan bisa dimulai
pada waktu yang menguntungkan (dalam 24 jam setelah timbul ruam), dan
ada kebutuhan untuk mempercepat penyembuhan sehingga orang tua pasien
dapat kembali bekerja, maka obat antivirus dapat diberikan (Siregar, 2004;
Straus, 2008).
Pada remaja dan dewasa, pengobatan dini varicella dengan
pemberian acyclovir dengan dosis 5 x 800 mg selama 7 hari menurunkan
jumlah lesi, penghentian terbentuknya lesi yang baru, dan menurunkan
timbulnya ruam, demam, dan gejala konstitusi bila dibandingkan dengan
placebo (Straus, 2008).

10. Pencegahan
Pencegahan dengan melakukan vaksinasi. Vaksin dapat diberikan
aktif ataupun pasif. Aktif dilakukan dengan memberikan vaksin varisela
berasal dari galur yang telah dilemahkan (live attenuated). Pasif dilakukan
dengan memberikan zoster imuno globulin (ZIG) dari zoster imun plasma
(ZIP) (Hassan, 2007).
Vaksin varisela (Varivax, Merck) merupakan vaksin virus hidup
yang dilemahkan, yang berasal dari strain Oka VZV. Virus vaksin diisolasi
oleh Takahashi pada awal tahun 1970 dari cairan vesikular yang berasal dari
anak sehat dengan penyakit varisela. Vaksin varicella ini dilisensikan untuk
penggunaan umum di Jepang dan Korea pada tahun 1988. Vaksin ini
diijinkan di Amerika Serikat pada tahun 1995 untuk orang-orang usia 12
bulan dan yang lebih tua (Djuanda, 2011).Jadwal vaksinasi dan penggunaan
vaksin varisela dosis pertama diberikan pada usia 12 sampai 15 bulan.Dosis
kedua vaksin varisela diberikan pada 4 sampai 6 tahun kemudian. Dosis
kedua dapat diberikan lebih awal dari 4 sampai 6 tahun jika setidaknya 3

28
bulan telah berlalu setelah dosis pertama (yaitu, interval minimum antara
dosis vaksin varisela untuk anak-anak berusia di bawah 13 tahun adalah 3
bulan). Namun, jika dosis kedua diberikan setidaknya 28 hari setelah dosis
pertama, dosis kedua tidak perlu diulang. Dosis kedua vaksin varisela ini
juga dianjurkan bagi orang yang lebih tua, dimana vaksin varisela diberikan
kepada orang-orang 13 tahun atau lebih pada minimal 28 hari sampai 8
minggu kemudian
Keefektifan vaksin, setelah pemberian satu dosis tunggal vaksin
varisela antigen, 97% dari anak yang berusia 12 bulan sampai 12 tahun
mengembangkan titer antibodi yang dapat terdeteksi. Sedangkan lebih dari
90% dari responden vaksin mempertahankan antibodi untuk setidaknya 6
tahun. Dalam studi di Jepang, 97% dari anak-anak memiliki antibodi 7
sampai 10 tahun setelah vaksinasi. Efikasi vaksin diperkirakan memiliki
ketahanan 70% sampai 90% terhadap infeksi (Soedarmo, 2002).
Di antara remaja yang sehat dan orang dewasa yang berusia 13 tahun
dan yang lebih tua, rata-rata 78% mengembangkan antibodi setelah
pemberian satu dosis, dan 99% mengembangkan antibodi setelah pemberian
dosis kedua yang diberikan 4 sampai 8 minggu kemudian. Antibodi
bertahan selama minimal 1 tahun pada 97% dari pemberian vaksin varisela
setelah dosis kedua yang diberikan pada 4 sampai 8 minggu setelah dosis
pertama (Soedarmo, 2002).
Data dari Amerika Serikat dan Jepang dalam berbagai penelitian
menunjukkan bahwa vaksin varisela ternyata efektif sekitar 70% sampai
100% dalam mencegah penyakit atau terjadinya keparahan penyakit jika
digunakan dalam waktu 3 hari, dan mungkin sampai 5 hari, setelah paparan.
ACIP merekomendasikan vaksin untuk digunakan pada orang yang tidak
terbukti memiliki kekebalan terhadap varisela atau pada orang yang terpapar
varicella. Jika paparan terhadap varisela tidak menyebabkan infeksi,
vaksinasi pasca paparan harus diberikan untuk memberi perlindungan
terhadap paparan berikutnya (Djuanda, 2011).

29
Wabah varicella yang terjadi dalam beberapa keadaan
(misalnya,pada tempat penitipan anak, dan sekolah) dapat bertahan sampai
dengan 6 bulan. Tetapi vaksin varicella diketahui telah berhasil digunakan
untuk mengendalikan wabah. ACIP merekomendasikan pemberian dosis
kedua vaksin varicella untuk pengendalian wabah. Jadi selama wabah
varicella, orang-orang yang telah menerima satu dosis vaksin varicella harus
menerima dosis kedua, yang diberikan sesuai dengan interval vaksinasi
yang telah berlalu sejak dosis pertama (3 bulan untuk orang yang berusia 12
bulan sampai 12 tahun dan setidaknya 4 minggu untuk orang yang berusia
13 tahun dan lebih tua) (Djuanda, 2011).

11. Komplikasi
Pada anak-anak, varisela jarang disertai komplikasi. Komplikasi
tersering umumnya disebabkan oleh infeksi sekunder bakterial pada lesi
kulit, yang biasanya disebabkan oleh stafilokokus atau streptokokus,
sehingga terjadi impetigo, furunkel, selulitis, atau erisipelas, tetapi jarang
terjadi gangren. Infeksi fokal tersebut sering menyebabkan jaringan parut,
tetapi jarang terjadi sepsis yang disertai infeksi metastase ke organ yang
lainnya. Vesikel dapat menjadi bula bila terinfeksi stafilokokus yang
menghasilkan toksin eksfoliatif (Hassan, 2007).
Pneumonia, otitis media, dan meningitis supurativa jarang terjadi
dan responsif terhadap antibiotik yang tepat. Bagaimanapun juga,
superinfeksi bakteri umum dijumpai dan berpotensi mengancam kehidupan
pada pasien dengan leukopenia (Hassan, 2007).
Pada orang dewasa, demam dan gejala konstitusi biasanya lebih
berat dan berlangsung lebih lama, ruam varisela lebih luas, dan komplikasi
lebih sering terjadi. Pneumonia varisela primer merupakan komplikasi
tersering pada orang dewasa. Pada beberapa pasien gejalanya asimpomatis,
tetapi yang lainnya dapat berkembang mengenai sistem pernafasan dimana
gejalanya dapat lebih parah seperti batuk, dyspnea, tachypnea, demam

30
tinggi, nyeri dada pleuritis, sianosis, dan batuk darah yang biasanya timbul
dalam 1-6 hari sesudah timbulnya ruam (Hassan, 2007).
Varisela pada kehamilan mengancam ibu dan janinnya. Infeksi yang
menyebar luas dan varicella pneumonia dapat mengakibatkan kematian
pada ibu, tetapi baik kejadian maupun keparahan pneumonia varisela
tampaknya meningkat secara signifikan pada kehamilan. Janin dapat
meninggal karena kelahiran prematur atau kematian ibu karena varisela
pneumonia berat. Namun demikian, pada varisela yang tidak disertai
komplikasi, viremia pada ibu dapat menyebabkan infeksi intrauterin
(kongenital), dan dapat menyebabkan abnormalitas kongenital. Varisela
perinatal (varicella yang terjadi dalam waktu 10 hari dari kelahiran) lebih
serius daripada varicella yang terjadi pada bayi yang terinfeksi beberapa
minggu kemudian (Hassan, 2007).
Morbiditas dan mortalitas pada varisela secara nyata meningkat
pada pasien dengan defisiensi imun. Pada pasien ini replikasi virus yang
terus-menerus dan menyebar luas mengakibatkan terjadinya viremia yang
berkepanjangan, dimana mengakibatkan ruam yang semakin luas, jangka
waktu yang lebih lama dalam pembentukan vesikel baru, dan penyebaran
visceral klinis yang signifikan. Pada pasien dengan defisiensi imun dan
diterapi dengan kortikosteroid mungkin dapat berkembang menjadi
pneumonia, hepatitis, encephalitis, dan komplikasi berupa
perdarahan,dimana derajat keparahan dimulai dari purpura yang ringan
hingga parah dan seringkali mengakibatkan purpura yang fulminan dan
varicella malignansi (Hassan, 2007).
Komplikasi susunan saraf pusat pada varicella terjadi kurang dari 1
diantara 1000 kasus. Varicella berhungan dengan sindroma Reye
(ensepalopati akut disertai degenerasi lemak di liver) yang khas terjadi 2
hingga 7 hari setelah timbulnya ruam. Dulu, dari 15-40% pada semua kasus
sindroma Reye berhubungan dengan varicella, khususnya pada penderita
yang diterapi dengan aspirin saat demam, dengan mortalitas setinggi 40%.
Ataksia serebri akut lebih umum terjadi daripada kelainan neurologi yang

31
lainnya. Encephalitis lebih jarang lagi terjadi yaitu pada 1 diantara 33.000
kasus, tetapi merupakan penyebab kematian tertinggi atau menyebabkan
kelainan neurologi yang menetap. Patogenesis terjadinya ataksia serebelar
dan ensephalitis tetap jelas, dimana pada banyak kasus ditemukan adanya
VZV antigen, VZV antibodi, dan VZV DNA pada cairan cerebrospinal pada
pasien, yang diduga menyebabkan infeksi secara langsung pada sistem saraf
pusat (Hassan, 2007).
Komplikasi yang jarang terjadi antara lain myocarditis, pancreatitis,
gastritis dan lesi ulserasi pada saluran pencernaan, artritis, vasculitis
Henoch-Schonlein, neuritis, keratitis, dan iritis. Patogenesis dari komplikasi
ini belum diketahui, tetapi infeksi VZV melalui parenkim secara langsung
dan endovascular, atau vasculitis yang disebabkan oleh VZV antigen-
antibodi kompleks, tampaknya menjadi penyebab pada kebanyakan kasus
(Djuanda, 2011).

C. Pengetahuan
1. Definisi
Pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh
manusia melalui pengamatan inderawi. Pengetahuan muncul ketika
seseorang menggunakan indera atau akal budinya untuk mengenali benda
atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya
(Meliono, 2008). Menurut Sunaryo (2004) pengetahuan merupakan hasil
dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan terhadap
objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni
indra pengelihatan, pendengaran, penghidu, perasa, dan peraba.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam
membentuk tindakan seseorang (overt behavior).

2. Tingkatan pengetahuan

32
Bloom (1956) dalam Notoadmojo membagi pengetahuan menjadi enam
tingkatan yaitu sebagai berikut:
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai ingatan akan sesuatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya atau mengingat kembali. Tahu merupakan tingkat yang
paling rendah dalam pengetahuan. Ukuran bahwa seseorang itu tahu
adalah ia dapat menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, dan
menyatakan.
b. Memahami (understand)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan dan
menginterpretasikan objek atau materi tersebut secara benar. Seseorang
yang telah paham terhadap objek atau materi dapat menjelaskan,
memberikan contoh, dan menyimpulkan objek yang dipelajari.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi adalah kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan untuk menguraikan objek ke dalam bagian-
bagian kecil, tetapi masih dalam struktur objek sebelumnya dan saling
berkaitan.
e. Sintetsis (synthesis)
Sintesis adalah kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian
dalam suatu bentuk yang baru atau kemampuan untuk menyusun
formulasi baru dari formulasi-formulasi yang sudah ada. Ukuran
kemampuan adalah seseorang dapat menyusun, meringkas,
merencanakan, dan menyesuaikan suatu teori atau rumusan yang ada.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian
terhadap suatu objek.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

33
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan dikemukakan oleh
Notoatmodjo (2010) adalah pengalaman, tingkat pendidikan, keyakinan,
fasilitas, penghasilan, dan sosial budaya.
a. Pengalaman :pengalaman yang didapatkan oleh seseorang yang bisa
berasal dari pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain.
Pengalaman kadang-kadang dihubungkan dengan usia seseorang
meskipun usia tidak mutlak mempengaruhi pengalaman seseorang.
b. Pendidikan: faktor pendidikan memberikan wawasan yang baru kepada
seseorang. Secara umum, seseorang yang berpendidikan memiliki
tingkat pengetahuan dan wawasan yang luas dibandingkan dengan
orang yang memiliki tingkat pendidikan rendah.
c. Keyakinan: keyakinan bisa bersifat turun-temurun yang kadang tanpa
pembuktian sebelumnya yang bisa mempengaruhi tingkat pendidikan
seseorang, baik keyakinan yang bersifat positif maupun negatif.
d. Fasilitas: fasilitas dapat berupa sumber informasi yang dapat
mempengaruhi pengetahuan seseorang. Misalnya ketersediaan radio,
buku, televisi, koran, dan lain-lain.
e. Penghasilan/tingkat ekonomi: secara tidak langsung penghasilan yang
didapat memungkinkan seseorang memperoleh fasilitas untuk
menambah pengetahuan mereka.
f. Sosial budaya: kebudayaan setempat dan kebiasaan dalam keluarga
dapat mempengaruhi pengetahuan, persepsi, dan sikap seseorang
tentang sesuatu.
4. Pengukuran pengetahuan
Pengetahuan dapatdiukur berdasarkan jenis penelitiannya apakah
bersifat kualitatif atau kuantitatif. Penelitian kualitatif dilakukan dengan
wawancara yang mendalam dan diskusi kelompok terfokus. Sedangkan
penelitian kuantitatif dilakukan dengan menggunakan wawancara tertutup
atau wawancara terbuka dengan menggunakan instrumen (alat
pengukur/pengumpul data).
D. Hipotesis

34
Terdapat pengaruh dari promosi kesehatan terhadap pengetahuan siswa tentang
cacar air di Sekolah Dasar Negeri 2 Tanggeran Kecamatan Sruweng.

BAB III

35
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental
kuasi dengan rancangan one group pre-posttest design. Bentuk rancangan
penelitian ini adalah sebagai berikut :

Subyek Pretest Perlakuan Posttest


K O I O1
Time 1 Time 2 Time 3

B. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian dilaksanakan di MI Ma’arif Purwodeso, Kecamatan
Sruweng, Kabupaten Kebumen pada hari Kamis, 3 Oktober 2019.

C. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel


1. Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa MI Ma’arif Purwodeso,
Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen sejumlah 157 siswa.
2. Sampel
Metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah
proportional random sampling yaitu cara pengambilan sampel secara
proporsi dengan mengambil subyek dari setiap strata atau setiap
wilayah ditentukan seimbang dengan banyaknya subyek dalam masing-
masing strata atau wilayah. Kemudian dilakukan simple random
sampling yaitu pengambilan sampel secara acak sederhana, metode ini
digunkan untuk pengambilan sampel variabel berupa pengetahuan.
a. Kriteri Inklusi
1) Semua siswa MI Ma’arif Purwodeso
2) Bersedia menjadi subyek penelitian
b. Kriteria Eksklusi

36
1) Tidak mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir
3. Besar Sampel
Dalam menentukan besar sampel, peneliti menggunakan rumus dari
Snedecor dan Cochran dalam (Azizah 2012), yaitu
Z𝛼 2 . P. Q
𝑛=
𝑑
(1.96)2 . 0.5.0.5
𝑛=
0. 12
𝑛 = 96

Karena populasi tersebut terbatas dan berjumlah kurang dari 10.000


maka rumus tersebut dilakukan koreksi sebagai berikut:
𝑛
𝑛𝑘 = 𝑛
1+
𝑁
96
𝑛𝑘 =
96
1+
157
𝑛𝑘 = 60

Keterangan:

n = besar sampel sebelum koreksi


nk = besar sampel setelah koreksi
N = besar populasi
P = Proporsi suspect, jika tidak diketahui dianjurkan
menggunakan 50% (0,5)
Q = (1 – p) = 1 – 0.5 = 0.5
Zα = Simpangan rata-rata distribusi normal standar pada derajat
kemaknaan α, Zα pada α = 0.05 dua arah adalah 1.96
d = Kesalahan sampling yang masih dapat ditoleransi adalah 10%
(0.1)

37
Jadi jumlah sampel setelah dikoreksi yang dapat mewakili
populasi adalah 60 siswa. Maka tahap selanjutnya adalah menghitung
jumlah sampel pada tiap kelas dengan menggunakan rumus menurut
Sugiono (2005), yaitu:

𝑛 = (𝑋⁄𝑁) x N1

Keterangan:
n = Jumlah sampel tiap kelas
X = Jumlah populasi siswa tiap kelas
N = Jumlah siswa keseluruhan
N1 = Jumlah sampel keseluruhan

Jumlah seluruh siswa MI Ma’arif Purwodeso adalah 157 orang,


terdiri dari kelas 1 sebanyak 27 orang, kelas 2 sebanyak 28 orang, kelas
3 sebanyak 26 orang, kelas 4 sebanyak 28 orang, kelas 5 sebanyak 24
orang, dan kelas 6 sebanyak 24 orang. Jadi, jumlah sampel tiap kelas
adalah:
a. Kelas 1 = 27/157 x 60 = 10
b. Kelas 2 = 28/157 x 60 = 11
c. Kelas 3 = 26/157 x 60 = 10
d. Kelas 4 = 28/157 x 60 = 11
e. Kelas 5 = 24/157 x 60 = 9
f. Kelas 6 = 24/157 x 60 = 9

4. Teknik Pengambilan Sampel


Teknik pengambilan sampel adalah dengan probability
sampling secara proportionate stratified random sampling untuk
memenuhi jumlah sampel yang dibutuhkan.

38
D. Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah promosi kesehatan tentang
cacar air
2. Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pengetahuan tentang cacar
air

E. Definisi Operasional Variabel Penelitian


1. Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan
kemampuan masyarakat melalui pembelajaran diri oleh dan untuk
masyarakat agar dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan
kegiatan yang bersumber daya masyarakat sesuai sosial budaya
setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan
kesehatan (Kemenkes, 2016).
Promosi kesehatan tentang cacar air adalah upaya penyebarluasan
informasi tentang penyakit cacar air, secara tatap langsung kepada
siswa SD dengan menggunakan metode ceramah serta tanya jawab
yang dibantu dengan media elektronik berupa presentasi power point
dan media cetak berupa booklet, sticker, poster, dan banner. Promosi
kesehatan menggunakan skala kategorik nominal.

2. Pengetahuan tentang cacar air


Pengetahuan yaitu pengetahuan yang dimiliki responden
mengenai penyakit cacar air yang meliputi :
a. Pengertian penyakit cacar air
b. Penyebab penyakit cacar air
c. Tanda dan gejala penyakit cacar air
d. Penularan penyakit cacar air
e. Pengobatan penyakit cacar air

39
f. Pencegahan penyakit cacar air

Tingkat pengetahuan diukur dengan instrumen yang berupa


kuisioner tingkat pengetahuan. Untuk keperluan statistik maka skor
menggunakan skala rasio dengan nilai persentase jawaban benar.

F. Pengumpulan Data
Pengumpulan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan data
primer, yaitu data yang diambil secara langsung oleh peneliti dengan
kuisioner.

G. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner
untuk mengumpulkan data mengenai pengetahuan, sedangkan media yang
digunakan untuk penyuluhan kesehatan yaitu slide penyuluhan dengan
media laptop untuk presentasi, serta media cetak berupa booklet, sticker,
poster dan banner.

H. Tahap Penelitian
1. Peneliti mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam
penelitian, yaitu mempersiapkan lembar kuesioner pretest dan posttest
yang berisi pertanyaan serta perlengkapan untuk dokumentasi.
2. Menetapkan responden penelitian sesuai jumlah sampel.
3. Peneliti mendatangi calon responden penelitian menjelaskan maksud
dan tujuan peneliti.
4. Peneliti mendampingi responden dalam pengisian kuesioner pretest
5. Peneliti memberikan promosi kesehatan tentang cacar air
6. Peneliti mendampingi responden dalam pengisian kuesioner postest
7. Peneliti melakukan pengolahan dan analisis data berdasarkan seluruh
informasi yang telah dikumpulkan.
I. Analisis Data

40
Data dianalisis menggunakan program SPSS 22. Uji yang digunakan
adalah uji T berpasangan (dependent t test), apabila data yang didapat
nantinya memenuhi syarat, yaitu:

1. Data harus terdistribusi normal.


2. Jika memenuhi syarat (data terdistribusi normal), maka dipilih Uji T
berpasangan.
3. Jika tidak memenuhi syarat (data terdistribusi normal), maka
digunakan uji Wilcoxon.

BAB IV
ANALISIS DATA

41
A. Profil Puskesmas Sruweng
1. Pemetaan Wilayah
a. Keadaan geografi
UPTD Unit Puskesmas Sruweng merupakan salah satu
Puskesmas di kabupaten Kebumen yang berada di desa Karanggedang,
kecamatan Sruweng, Wilayah UPTD Unit Puskesmas Sruweng terdiri
dari 21 Desa yang terletak pada posisi 7o – 8o lintang selatan dan posisi
109o – 110o bujur timur, dan berbatasan wilayah dengan :
1) Sebelah barat : Kecamatan Karanganyar
2) Sebelah timur : Kecamatan Pejagoan
3) Sebelah utara : Kecamatan Karanggayam
4) Sebelah selatan : Kecamatan Petanahan

Gambar 4.1. Peta Wilayah Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen


Luas wilayah UPTD Unit Puskesmas Sruweng yakni 437.243,85
Ha, yang terlintasi jalur selatan Pulau Jawa dengan topografi 40%
daerah pegunungan/bukit dan 60% merupakan daerah dataran, UPTD

42
Unit Puskesmas Sruweng juga terlintasi jalur rel kereta api yang
menghubungkan Jakarta - Surabaya.
Secara adminstratif UPTD Unit Kecamatan Sruweng mempunyai
21 desa dengan keadaan wilayah:
Tabel 4.1. Keadaan Wilayah 21 Desa di Kecamatan Sruweng
1 Menganti Dataran 12 Karangsari Bukit
2 Trikarso Dataran 13 Karangpule Bukit
3 Sidoharjo Dataran 14 Pakuran Bukit
4 Karanggedang Dataran 15 Pengempon Bukit
5 Jabres Dataran 16 Kejawang Bukit
6 Sruweng Dataran 17 Karangjambu Bukit
7 Sidoagung Dataran 18 Penusupan Bukit
8 Purwodeso Dataran 19 Donosari Bukit
9 Klepusanggar Dataran 20 Pandansari Bukit
10 Tanggeran Dataran 21 Condongcampur Bukit
11 Sidoagung Dataran

Analogi pembagian dan pemanfaatan lahan di wilayah kerja


UPTD Unit Puskesmas Sruweng adalah sebagai berikut ;
1) Tanah sawah : 1.367.000 Ha
2) Tanah kering : 740.000 Ha
3) Pekarangan/bangunan : 2.261.000 Ha

Gambaran lebih rinci luas wilayah per desa dapat dilihat pada
grafik di bawah ini:

43
Trikarso Condong Campur
Tanggeran 5% 5% Donosari
6% 5%
Giwangretno Jabres
3% 1%
karanggedang
4%
Sidoagung Karangsari
12% 2%
Karangjambu
2%
Karanggpule
Sidoharjo 4%
7%
Kejawang
3%
Klepiusanggar
Sruweng 2%
5%
Menganti
3%
Pengempon Pandasari Purwodeso
6% 12% 3%
Pakuran
4% Penusupan
4%

Gambar 4.2. Grafik Luas Desa Kecamatan Sruweng

b. Keadaan dermografi
Jumlah penduduk kecamatan Sruweng Kabupaten Kebumen
Tahun 2018 adalah 61.676 Jiwa ( Sumber Disdukcapil ) yang tersebar
di 21 desa di kecamatan Sruweng dengan 19.620 KK atau rata-rata ART
per rumah tangga 3,14. Dengan pengertian bahwa setiap rumah tangga
di kecamatan Sruweng pada umumnya terdiri dari 3 anggota rumah
tangga. Jumlah penduduk terbesar di Kecamatan Sruweng Kabupten
Kebumen berada Di desa Sidoagung karena desa Sidoagung adalah
desa terluas di Kecamatan Sruweng dengan jumlah penduduk 6.830
Jiwa. Sedangkan penduduk terkecil berada di desa Karangsari dengan
jumlah penduduk 892 Jiwa.
Gambaran penyebaran jumlah penduduk lebih rinci dapat dilihat
pada tabel di bawah ini :

44
7,000
6,000
5,000
4,000
3,000
2,000
1,000
0
Donosari
Karangsari

Condong

Pakuran
Kejawang

Sidoagung
Pandansari
Sruweng

Karangpule
Sidoarjo

Trikarso
Tanggeran
Klepusanggar

Menganti
Purwodeso

Penusupan

Giwangretno

Karanggedang
Karangjambu
Jabres

Pengempon
Jumlah Penduduk Jumlah Rumah Tangga

Gambar 4.3. Grafik Persebaran Jumlah Penduduk Kecamatan Sruweng


Tahun 2018
c. Sarana Kesehatan
Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, UPTD Puskesmas
Sruweng mempunyai:
1) Sarana gedung
Sarana gedung berupa 1 Puskesmas induk yang berada di Desa
Karanggedang dan 4 Puskesmas Pembantu (Karangjambu,
Karangpule, Trikarso & Pengempon).
2) Sarana kesehatan bersumber daya masyarakat
Dalam rangka memberdayakan yang bersumber daya masyarakat
wilayah Puskesmas Sruweng memiliki Posyandu sejumlah 104,
PKD/POSKESDES 18.

d. Tenaga Kesehatan
Pada tahun 2018 Puskesmas Sruweng memiliki sejumlah tenaga
kesehatan yang terdiri dari:
1) Tenaga medis : 2 orang; 1 dokter umum dan 1 dokter
gigi

45
2) Perawat / bidan : perawat 13 orang/bidan 31 orang
3) Perawat gigi : 1 orang
4) Farmasi : 1 orang
5) Gizi : 1 orang
6) Sanitasirian : 1 orang
7) Surveilans (SKM) : 1 orang
8) Tenaga Penunjang Medis : 5 orang
Tenaga penunjang kesehatan lain
1) Staf penunjang administrasi : 5 orang
2) Jurumudi/driver : 1 orang

B. Analisis Data
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen untuk mengetahui
promosi kesehatan terhadap pengetahuan siswa tentang cacar air (Varicella
zoster). Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu one
group pretest-posttest design. Berdasarkan rancangan one group pretest-
posttest design, eksperimentasi hanya dilakukan pada satu kelompok dimana
pada kelompok tersebut diberikan tes awal (pretest) lalu diberikan perlakuan
kemudian diadakan tes akhir (posttest). Adapun kelompok yang dijadikan
sebagai sampel penelitian dengan teknik probability sampling secara
proportionate stratified random sampling adalah siswa MI Ma’arif Purwodeso
Kecamatan Sruweng kelas 1 (10 siswa), kelas 2 (11 siswa), kelas 3 (10 siswa),
kelas 4 (11 siswa), kelas 5 (9 siswa), dan kelas 6 (9 siswa), total berjumlah 60
siswa.
Pengumpulan data penelitian dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada saat
tes awal (pretest) dan pada saat tes akhir (posttest) sesudah perlakuan. Adapun
bentuk perlakuan yang diberikan adalah promosi kesehatan tentang
pengetahuan cacar air (Varicella zoster). Dalam setiap tes baik itu tes awal
maupun tes akhir, setiap siswa mengerjakan soal kuisioner yang sudah
disediakan. Untuk lebih jelasnya, ringkasan data hasil penelitian tes awal dan
tes akhir dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

46
Tabel 4.2. Nilai Pretest dan Posttest Responden MI Purwodeso

No Pretest Posttest No Pretest Posttest No Pretest Posttest

1 60 80 21 75 85 41 70 95

2 65 80 22 75 95 42 85 100

3 60 80 23 70 85 43 75 95

4 65 85 24 60 90 44 75 90

5 75 80 25 70 90 45 80 90

6 75 85 26 85 95 46 70 95

7 65 85 27 75 100 47 80 95

8 70 80 28 80 95 48 85 95

9 70 85 29 80 95 49 80 90

10 70 80 30 85 100 50 80 90

11 70 85 31 75 95 51 75 100

12 70 85 32 75 100 52 75 95

13 60 80 33 70 95 53 80 100

14 70 85 34 70 95 54 70 100

15 65 80 35 70 90 55 70 90

16 75 85 36 75 95 56 85 95

17 65 80 37 80 95 57 75 95

18 65 80 38 75 100 58 75 90

19 70 80 39 75 100 59 85 100

20 70 85 40 80 95 60 85 100

47
Besarnya perbedaan antara data hasil tes awal (pretest) dan hasil tes akhir
(posttest) tersebut jika dikonversi dalam bentuk histogram, maka hasilnya akan
terlihat sebagai berikut.

Pretest-Posttest kelas 1
90
85 85 85 85
80 80 80 80 80 80 80
75 75
70 70 70 70
65 65 65
60 60 60
50
40
30
20
10
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

pretest posttest

Kurva 4.1. Hasil Pretest-Posttest kelas 1

Kelas 2
90
85 85 85 85 85 85
80 80 80 80 80 80
75 75
70 70 70 70 70 70
65 65 65
60 60
50
40
30
20
10
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

pretest posttest

Kurva 4.2. Hasil Pretest-Posttest kelas 2

48
Kelas 3
120

100 100 100


95 95 95 95 95
90 90
85 85 85
80 80 80
75 75 75
70 70
60 60

40

20

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

pretest posttest

Kurva 4.3. Hasil Pretest-Posttest kelas 3

Kelas 4
120

100 100 100 100 100


95 95 95 95 95 95
90
85
80 80 80
75 75 75 75
70 70 70 70
60

40

20

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

pretest posttest

Kurva 4.4. Hasil Pretest-Posttest kelas 4

49
Kelas 5
120

100 100
95 95 95 95
90 90 90 90
85
80 80 80 80 80
75 75 75
70
60

40

20

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9

pretest posttest

Kurva 4.5. Hasil Pretest-Posttest kelas 6

Kelas 6
120

100 100 100 100 100


95 95 95
90 90
85 85 85
80 80
75 75 75
70 70
60

40

20

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9

pretest posttest

Kurva 4.6. Hasil Pretest-Posttest kelas 6

Berdasarkan bentuk histogram data hasil tes awal (pretest) dan data tes
akhir (posttest), dapat dilihat dengan jelas dimana ada perbedaan antara data
hasil tes awal (pretest) dan data tes akhir (posttest). Namun, perbedaan hasil
tersebut perlu pengujian sesuai dengan metode statistika pengujiannnya.

50
Tabel 4.3. Statistik Deskriptif
Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

PRETEST 60 60 85 73.50 6.784


POSTEST 60 80 100 90.58 7.016
Valid N (listwise) 60

Berdasarkan Tabel 3. dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Skor tertinggi pada pretest adalah 85 kemudian pada posttest skor tertinggi
meningkat yaitu 100 dengan selisih 15.
2. Skor terendah pada pretest adalah 60 kemudian pada posttest skor terendah
meningkat yaitu 80 dengan selisih 20.
3. Rata-rata skor pada pretest adalah 73.50 kemudian pada posttest skor rata-
rata menjadi 90.58 dengan selisih keduanya adalah 17.08.
4. Standar deviasi skor pada pretest adalah 6.784 kemudian pada posttest
nilai standar deviasi skor yaitu 7.016 dengan selisih keduanya adalah
0.232.
Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis penelitian ini menggunakan uji T berpasangan.
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah hasil penelitian ini sesuai dengan
hipotesis yang diajukan atau tidak. Adapun kriteria pengujian sebagai berikut.
Ho : 1≥2
H1 : 1< 2
Keterangan
H0 = tidak terdapat perbedaan rata-rata setelah diberikan promosi
kesehatan berupa penyuluhan tentang cacar air pada siswa MI Purwodeso.
H1 = terdapat perbedaan rata-rata setelah diberikan promosi kesehatan
berupa penyuluhan tentang cacar air pada siswa MI Purwodeso.
Selanjutnya untuk mempermudah pengujian, perlu diadakan perhitungan
data. Perhitungan data hasil penelitian ini menggunakan program SPSS versi 20.

51
Sebelum diadakan uji rata-rata, perlu diadakan uji normalitas data dengan uji
Kolmogorov-Smirnov dan Saphiro-Wilk.
Tabel 4.4. Uji Normalitas

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

PRETEST ,147 60 ,002 ,934 60 ,003


POSTTEST ,219 60 ,000 ,881 60 ,000

Pada tabel di atas menunjukkan signifikasi distribusi data < 0,05.


Sehingga dapat disimpulkan hasil analisis normalitas data bahwa data
terdistribusi tidak normal. Karena data terdistribusi tidak normal, uji T
berpasangan tidak dapat digunakan. Alternatif uji statistik yang dapat
digunakan yaitu uji statistik non parametrik Wilcoxon berpasangan (Wilcoxon
matched-pair test).
Uji Wilcoxon berpasangan adalah uji nonparametrik yang digunakan
untuk menentukan apakah ada hubungan antara dua ukuran yang berkorelasi
dari variabel yang sama dimana skala pengukuran variabel setidaknya ordinal.
Uji ini dapat digunakan jika asumsi uji T berpasangan tidak terpenuhi, misalnya
ukuran sampel kecil, data tidak terdistribusi normal, skala pengukuran ordinal.
Uji Wilcoxon berpasangan menguji hipotesis 0 bahwa median dari kedua
kelompok berkorelasi sama.
Tabel 4.5. Uji Statistik
Ranks

N Mean Rank Sum of Ranks

POSTEST - PRETEST Negative Ranks 0a .00 .00

Positive Ranks 60b 30.50 1830.00

Ties 0c

Total 60
a. POSTEST < PRETEST
b. POSTEST > PRETEST
c. POSTEST = PRETEST

52
Dari tabel tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Negative Ranks atau selisih (negatif) antara pengetahuan tentang varicella
untuk pretest dan posttest adalah 0, baik pada nilai N, Mean Rank,
maupun Sum Rank. Nilai 0 ini menunjukkan tidak adanya penurunan
(pengurangan) dari nilai pretest ke nilai posttest.
2. Positive Ranks atau selisih (positif) antara pengetahuan tentang varicella
untuk pretest dan posttest. Disini terdapat 60 data positif (N) yang artinya
ke 60 siswa mengalami peningkatan pengetahuan tentang varicella dari
nilai pretest ke nilai posttest. Mean Rank atau rata-rata peningkatan
tersebut adalah sebesar 30.50 sedangkan jumlah rangking positif atau
Sum of Ranks adalah sebesar 1830.00.
3. Ties adalah kesamaan nilai pretest dan posttest. Di sini nilai Ties adalah
0, sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada nilai yang sama antara nilai
pretest dan posttest.

Dalam uji hipotesis kita menggunakan output SPSS yang kedua yakni
output “Test Statistics”. Dasar pengambilan keputusan dalam uji Wilcoxon
adalah jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih kecil dari 0,05, maka H1 diterima.
Sebaliknya jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih besar dari 0,05, maka H1
ditolak
Tabel 4.6. Statistik pada Uji Wilcoxon

POSTEST -
PRETEST

Z -6.794b
Asymp. Sig. (2-tailed) .000

a. Wilcoxon Signed Ranks Test


b. Based on negative ranks.

Berdasarkan tabel hasil statistik uji di atas, diketahui nilai Z adalah -6.794
dengan Asymp. Sig. (2-tailed) bernilai 0.000. Karena nilai Asymp.Sig.(2-tailed)
yaitu 0.000 lebih kecil dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa H1 diterima.
Artinya ada perbedaan antara pengetahuan tentang varicella untuk pretest dan

53
posttest, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh dari promosi
kesehatan terhadap pengetahuan siswa tentang cacar air di MI Purwodeso
Kecamatan Sruweng.

54
BAB V
PEMBAHASAN

Penyuluhan Sebagai Upaya Promosi Kesehatan


Penyuluhan mengenai cacar air (Varicella zoster) terhadap siswa MI
Purwodeso yang dilakukan pada hari Kamis, 3 Oktober 2019 bertujuan mengetahui
pengaruh promosi kesehatan terhadap tingkat pengetahuan cacar air. Strategi untuk
memperoleh perubahan pengetahuan adalah dengan pemberian informasi untuk
meningkatkan pengetahuan sehingga menimbulkan kesadaran yang pada akhirnya
orang itu akan memiliki sikap yang sesuai dengan pengetahuannya. Salah satu
upaya pemberian informasi itu adalah dengan memberi penyuluhan. Pada
hakekatnya penyuluhan merupakan suatu kegiatan non formal dalam rangka
mengubah masyarakat menuju keadaan yang lebih baik seperti yang dicita-citakan
(Zulkarimein, 1989).
Pengetahuan adalah hasil dari tahu, yang akan terjadi setelah seseorang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, seperti melihat, mendengar,
mencium, merasa, dan juga meraba. Namun, sebagian besar pengetahuan itu sendiri
diperoleh melalui mata dan telinga. Jadi, dengan kata lain dari hasil mendengar dan
juga melihat (Notoatmodjo, 2010). Salah satu cara meningkatkan pengetahuan
sehingga menimbulkan kesadaran dan pada akhirnya orang akan berperilaku sesuai
dengan pengetahuannya tersebut yaitu dengan penyuluhan kesehatan.
Penyuluhan kesehatan tentang pengetahuan cacar air merupakan salah satu
pencegahan primer sebelum terjadinya penyakit. Oleh karena itu penyuluhan
kesehatan harus dilakukan terutama pada anak-anak usia berisiko cacar air (5-9
tahun) sehingga peningkatan pemahaman tentang cacar air dapat memberikan
danpak yang positif kepada anak-anak tersebut. Metode penyuluhan yang dilakukan
dengan menggunakan metode ceramah dengan menggunakan media silde.
Ceramah adalah salah satu cara memberikan penyuluhan kesehatan
pengetahuan cacar air dengan lisan disertai dengan tanya jawab dengan dibantu
beberapa alat peraga yang dianggap perlu. Metode ceramah dapat disertai dengan
tanya jawab dan diskusi. Metode ini dapat digunakan jika tujuan yang ingin dicapai

55
adalah bidang pengertian atau pengetahuan. Ceramah juga dapat diartikan sebagai
suatu cara menerangkan pengertian atau pesan secara lisan, disertai dengan tanya
jawab, kepada sasaran pendidikan atau pendengar dengan menggunakan alat bantu
pendidikan (Budiharto, 2010).
Sebelum dilakukan penyuluhan, para responden diperintahkan untuk
mengisi kuisioner tentang pengetahuan cacar air (pretest) 20 soal mengenai
pengertian, penyebab, tanda dan gejala, penularan, pengobatan, serta pencegahan
cacar air. Selanjutnya, para siswa diberikan penyuluhan tentang materi cacar air
berkaitan dengan soal yang mereka kerjakan. Selanjutnya diteruskan dengan sesi
diskusi serta tanya jawab mengenai materi yang telah disampaikan. Di akhir acara,
para responden kembali mengisi kuisioner yang sama (posttest).

Cacar Air di Kecamatan Sruweng


Menurut data kunjungan pasien Puskesmas Sruweng tahun 2018, terdapat
peningkatan jumlah pasien cacar air pada bulan Oktober sampai Desember sebesar
11, 14, dan 18 orang. Sedangkan menurut data kunjungan pasien tahun 2019 sampai
bulan September, terjadi peningkatan jumlah pasien cacar air pada bulan Agustus
dan September sebesar 12 dan 19 orang. Peningkatan jumlah pasien cacar air terjadi
pada saat pergantian musim kemarau ke musim penghujan. Menurut data
kunjungan pasien cacar air di Puskesmas Sruweng, rata-rata usia penderita cacar air
di rentang usia 5–9 tahun.

Di masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Kecamatan Sruweng,


pengetahuan terhadap cacar air masih terbatas. Keterbatasan pengetahuan
menyebabkan berkembangnya mitos terkait penyakit cacar air. Sehingga hal-hal
yang berkaitan dengan cacar air baik dalam pengertian, penyebab, tanda, gejala,
cara penularan hingga tatalaksana masih berupa mitos, bukan berdasarkan ilmiah.
Mitos di masyarakat seperti pantangan untuk tidak boleh mandi, masih banyak
dilakukan. Mitos-mitos tersebut membuat tingkat keparahan penyakit dan angka
kejadian semakin meningkat. Maka perlu adanya penyuluhan pengetahuan cacar air
(pengertian, penyebab, tanda gejala, cara penularan, pengobatan, dan pencegahan)
terhadap masyarakat terutama usia berisiko yaitu 5-9 tahun.

56
Pengaruh Promosi Kesehatan dengan Penyuluhan Metode Ceramah terhadap
Peningkatan Pengetahuan Cacar Air

Berdasarkan hasil nilai posttest, menunjukkan peningkatan nilai jika


dibandingkan dengan nilai pretest. Hal tersebut menunjukkan bahwa penyuluhan
cacar air berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan siswa MI Purwodeso.
Kemudian, berdasarkan uji statistik Wilcoxon menunjukan signifikansi 0.000
(p<0.05), maka dapat disimpulkan bahwa penyuluhan cacar air metode ceramah
berpengaruh secara statistik terhadap peningkatan pengetahuan siswa MI
Purwodeso terkait pengertian, penyebab, tanda, gejala, penularan, pengobatan, dan
pencegahan cacar air.

Hal ini didukung oleh Notoatmodjo (2007) yang mengemukakan bahwa


metode ceramah merupakan metode yang paling sering dilakukan dalam kegiatan
penyuluhan karena metode ini mudah dalam pelaksanaannya, di samping itu
metode ceramah cocok untuk sasaran dari berbagai tingkat pendidikan dalam
meningkatkan ranah kognitif.

Hal ini juga sejalan dengan pernyataan Kemenkes (2011) bahwa promosi
kesehatan merupakan suatu proses yang bertujuan memungkinkan individu
meningkatkan kontrol terhadap kesehatan dan meningkatkan kesehatannya berbasis
filosofi yang jelas mengenai pemberdayaan diri sendiri. Salah satu media promosi
kesehatan yang mempermudah pemahaman dan dapat meningkatkan gairah belajar
adalah media cetak. Disamping media cetak, metode promosi kesehatan dalam
kelompok besar atau >15 orang adalah dengan penyuluhan. Penyuluhan tersebut
bertujuan agar audience mendapatkan informasi yang lebih jelas dan dapat
menanyakan langsung jika masih belum paham (Notoatmodjo, 2007).

57
BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian kegiatan yang dilakukan di MI Purwodeso,
Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen mengenai pengaruh promosi
kesehatan (penyuluhan) terhadap pengetahuan cacar air pada siswa MI
Purwodeso, didapatkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Terdapat pengaruh promosi kesehatan terhadap tingkat pengetahuan cacar
air pada siswa MI Purwodeso, Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen.
2. Terdapat korelasi yang kuat antara promosi kesehatan dengan tingkat
pengetahuan cacar air pada siswa MI Purwodeso, Kecamatan Sruweng,
Kabupaten Kebumen.

B. Saran
1. Bagi masyarakat
a. Mayarakat khususnya usia berisiko (siswa SD usia 6-12 tahun)
diharapkan menggunakan pengetahuan cacar air yang telah didapat ke
dalam sikap dan perilaku yang sesuai dalam menyikapi penyakit cacar
air
b. Masyarakat khususnya usia berisiko (siswa SD usia 6-12 tahun)
diharapkan menjadi agen perubahan dengan mengamalkan
pengetahuan cacar air yang telah didapat kepada keluarga dan
masyarakat sekitar sehingga meningkatkan tingkat pengetahuan
masyarakat secara umum
2. Bagi Puskesmas
a. Berperan aktif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait
cacar air sehingga melahirkan sikap dan perilaku yang sesuai dalam
menyikapi penyakit cacar air
b. Mendorong masyarakat yang menderita cacar air untuk berobat ke
fasilitas pelayanan kesehatan (praktek dokter pribadi, puskesmas,

58
rumah sakit) sehingga mendapatkan pengobatan dan edukasi yang
sesuai sehingga angka kesembuhan meningkat dan angka kejadian tidak
semakin bertambah

59
DAFTAR PUSTAKA

Anderson, WE. 2018. Varicella-zoster virus. Medscape reference : Diseases &


Condition. Available at: https://emedicine.medscape.com/article/231927-
overview [Accessed Oktober 13, 2019].
Bloom, Benjamin S. 1956. Psikologi Pendidikan dalam Notoatmodjo, Soekidjo.
1997. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta
Djuanda Adhi, dkk. 2011. Varisela. Dalam: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin; edisi
Keenam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. H.115-116.
Handoko RP. 2013. Penyakit Virus. In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editors.
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 6th ed. Jakarta. Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. p. 110-8.
Harahap Marwali. 2000. Varisela. Dalam: Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates.
H.94-96.
Hassan Rusepno, Alatas Husein. 2007. Varisela (cacar air,”chicken pox”). Dalam:
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Jilid 2. Jakarta: INFOMEDIKA. P.637-
640.
Kementrian Kesehatan RI. 2011. Promosi Kesehatan. Jakarta: Kementrian
Kesehatan.
Lichenstein R. 2002. Pediatrics: Chicken pox or varicella (serial on the internet).
Available from: http://www.emedicine.com
Meliono, I . 2007 . Pengetahuan . Dalam: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian
Terintegrasi (MPKT) Modul I . Jakarta : FEUI.
Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka
Cipta.
Rassner, Steinert. 1995. Penyakit virus varisela-zoster. Dalam: Buku Ajar dan Atlas
Dermatologi; edisi 4. Jakarta: EGC. H.44-45.
Siregar RS. Varisela. 2004. Dalam: Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit; edisi
2. Jakarta: EGC. H. 88-84.

60
Smith S. Penyakit Infeksi. 2014. In: Marcdante KJ, Kliegman RM, Jenson HB,
Behrman RE, editors. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial. 6th ed.
Singapore. Elsevier Inc. p. 367- 450.
Soedarmo SSP, Garna H, Hadinegoro SRS. 2002. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak
Infeksi dan Penyakit Tropis. Edisi ke-1. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. h.
152-159
Straus, Stephen E. Oxman, Michael N. Schmader, Kenneth E. 2008. Varicella. In:
Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine; seventh edition, vol 1 and
2. P.1885-1895.
Sunaryo. 2004. Psikologi Untuk Kesehatan. Jakarta: EGC
White David, Fenner Frank. Varicella-zoster virus. 1994. In: Medical Virology;
Fourth Edition. United Kingdom: Academic Press. P.330-334.
WHO. 2015. World Health Statistic Report 2015. Geneva: World Health
Organization
Widoyono. 2011. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan,
Pemberantasannya. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Zulkoni, Akhsin. 2011. Parasitologi untuk Keperawatan, Kesehatan Masyarakat,
dan Teknik Lingkungan. Yogyakarta: Nuha Medika.

61
LAMPIRAN

Lampiran 1
Surat Informed Consent

PEMERINTAH KABUPATEN KEBUMEN


DINAS KESEHATAN
UPTD PUSKESMAS SRUWENG
Alamat: Desa Karanggedang Kec. Sruweng, Kebumen. Telp ( 0287 ) 551298 KODEPOS
54362

Sruweng, 20 September 2019


Nomor : 441.1/....
Lamp. : -
Perihal : Pelaksanaan Penyuluhan
Kesehatan Sekolah

Kepada
Yth.Kepala Sekolah
............................................
Kecamatan Sruweng
Di Sruweng

Dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan di wilayah kecamatan


Sruweng, maka kami akan mengadakan kegiatan Penyuluhan Kesehatan tentang
Cacar Air, besok pada :
NO HARI/TANGGAL INSTITUSI WAKTU/JAM KET
1. Selasa, 24-09-2019 SDN 1 Sruweng 09.00 WIB sd. selesai

2. Kamis, 26-09-2019 SDN 2 Tanggeran 09.00 WIB sd. selesai


3. Senin, 30-09-2019 SDN Giwangretno 09.00 WIB sd. selesai
4. Selasa, 01-10-2019 MI Sidoagung 09.00 WIB sd. selesai
5. Kamis, 03-10-2019 MI Purwodeso 09.00 WIB sd. selesai

62
Adapun sasarannya adalah semua peserta didik, untuk kelancaran
pelaksanaan kegiatan tersebut dimohon untuk menyiapkan daftar nama peserta
didik setiap kelas.
Demikian untuk menjadikan periksa, atas perhatian dan kerjasamanya yang baik
disampaikan terima kasih.
KEPALA UPTD KESEHATAN
UNIT PUSKESMAS SRUWENG

M.LU’AYIN, S.KM.
NIP. 19650325 1990031 008

Tembusan : Kepada Yth.


1. Kepala UPT Dikpora Kecamatan Sruweng
2. Arsip

63
Kuisoner

PENGARUH PROMOSI KESEHATAN TERHADAP TINGKAT


PENGETAHUAN SISWA TENTANG CACAR AIR DI MI PURWODESO

I. Karakteristik Responden
Nama :
Tanggal lahir :
Jenis Kelamin :  Laki-Laki  Perempuan
Sakit Cacar :  Pernah  Tidak

II. Pengetahuan
Petunjuk pengisian: Beri tanda silang (X) pada salah satu jawaban
yang kamu anggap benar

1. Menurut kamu, apakah penyakit cacar air itu?


a. Penyakit menular
b. Penyakit keturunan
c. Penyakit kutukan
d. Tidak tahu

2. Menurut kamu, apa penyebab penyakit cacar air?


a. Bakteri
b. Virus
c. Jamur
d. Tidak tahu

3. Apa tanda tanda penyakit cacar air yang kamu ketahui?


a. Lenting merah, gatal, berair
b. Lenting merah, tidak gatal, bernanah
c. Lenting merah, tidak gatal, kering
d. Tidak tahu

4. Apakah cacar air dapat menyerang di semua usia?


a. Ya
b. Tidak

5. Apakah penyakit cacar air dapat menular?

64
a. Ya
b. Tidak

6. Jikat dapat menular, menurut kamu bagaimana cara penularannya?


a. Bersentuhan dengan penderita
b. Berbicara dengan penderita melalui telepon
c. Melihat penderita dari kejauhan
d. Tidak tahu

7. Apabila kita menggunakan handuk yang sama secara bergantian


dengan penderita apakah kita akan ikut tertular?
a. Ya
b. Tidak

8. Bagaimana cara mencegah agar tidak tertular cacar air?


a. Menggunakan pakaian bergantian dengan penderita cacar air
b. Memakai masker dan mencuci tangan setelah bersentuhan
dengan penderita
c. Tidak tahu

9. Bila kamu belum pernah sakit cacar air perlukah imunisasi untuk
mencegahnya?
a. Perlu
b. Tidak perlu

10. Apakah penderita cacar air boleh mandi?


a. Boleh
b. Tidak

11. Jika boleh, apa yang harus diperhatikan penderita cacar air saat
mandi?
a. Lenting tidak boleh digaruk sampai pecah
b. Tidak boleh menggunakan sabun
c. Tubuh direndam di air maizena
d. Tidak tahu

12. Penyakit cacar air akan bertambah parah apabila?


a. Digaruk
b. Mandi
c. Kompres air hangat

65
d. Tidak tahu

13. Apakah akibat yang yang timbul setelah sakit cacar air?
a. Bekas luka atau keropeng
b. Penderita tidak akan sembuh walaupun sudah di obati
c. Kematian
d. Tidak tahu

14. Apakah penyakit cacar air dapat kambuh?


a. Ya
b. Tidak

15. Apa akibat apabila penyakit cacar air tidak diobati?


a. Akan sembuh dalam waktu lebih lama
b. Akan menderita seumur hidupnya
c. Kematian
d. Tidak tahu

16. Apakah kamu tahu penyakit cacar air ada obatnya?


a. Tahu
b. Tidak tahu

17. Obat yang perlu di minum penderita cacar air, kecuali?


a. Penurun panas
b. Antivirus
c. Antibiotik
d. Vitamin

18. Bagaimana cara mengkonsumsi obat tersebut?


a. Setiap hari
b. Setiap 1 minggu sekali
c. Setiap 1 bulan sekali
d. Tidak tahu

19. Dari mana penderita cacar air bisa mendapatkan obat?


a. Apotik
b. Puskesmas, klinik pratama, dokter praktik swasta, rumah sakit
c. Pengobatan alternatif
d. Tidak tahu

66
20. Di mana saja penderita cacar air dapat berobat?
a. Puskesmas, klinik pratama, dokter praktik swasta, rumah sakit
b. Dukun
c. Pengobatan alternatif
d. Tidak tahu

67
Lampiran 2
Foto Kegiatan Penyuluhan

68
Lampiran 3
Foto produk
Stiker

Leaflet

69
Poster Publik

Banner

70