Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kualitas sperma yang baik merupakan suatu hal yang sangat penting untuk

dapat memperoleh keturunan. Kualitas sperma dapat dianalisis secara

makroskopik dan mikroskopik. Analisis secara makroskopik sperma diperiksa

dengan menganalisis volume sampel sperma, pH sperma (7,2-7,8), bau

sperma, warna sperma, dan visikositas sperma (Guyton, Setiawan, 1996).

Dalam pemeriksaan makroskopik, analisa semen dilakukan dengan segera

melakukan inspeksi setelah proses pencairan (liquefaction). Infeksi dilakukan

setelah 30 menit namun tidak lebih dari 1 jam agar tidak terjadi dehidrasi atau

perubahan temperatur yang mempengaruhi kualitas sampel (Guyton,

Setiawan, 1996).

Analisis sperma secara mikroskopik dapat dilakukan dengan mengamati

motilitas, jumlah, morfologi, vitalitas dan jumlah leukosit. Konsentrasi

merupakan jumlah Spermatozoa yang dinyatakan dalam milliliter. Morfologi

Spermatozoa dapat diamati dengan melakukan pembuatan preparat kering

dan diwarnai dengan 2 giemsa. Pemeriksaan morfologi ini bertujuan untuk

mengamati normal tidaknya morfologi spermatozoa. Kemudian pemeriksaan

vitalitas sperma, pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar

jumlah Spermatozoa yang mati. Pemeriksaan mikroskopis selanjutnya adalah

pemeriksaan pada motilitas sperma. Motilitas merupakan kemampuan gerak

sperma yang diamati pada 200 Spermatozoa (Guyton, Setiawan, 1996).

1
Oleh karena itu, dilakukanlah praktikum ini yaitu untuk mengetahui serta

dapat melakukan pemeriksaan sperma, baik secara makroskopik maupun

mikroskopik.

1.3 Rumusan Masalah

Bagaimana cara melakukan pemeriksaan sperma dengan cara makroskopis

dan mikroskopis.?

1.2 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui cara pemeriksaan

sperma secara makroskopis dan mikroskopis.

1.3 Manfaat Praktikum

Adapun manfaat dari praktikum ini yaitu agar mahasiswa dapat melakukan

pemeriksaan sperma secara makroskopis dan mikroskopis.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Sperma

Sperma atau disebut juga Spermatozoa adalah sel gamet dari laki-laki.Sel

ini mempunyai ukuran panjang keseluruhan 50-60 mikrometer, dimana terdiri

tiga bagian yaitu bagian kepala, bagian tengah (leher) dan ekor.Dimensi

kepala dengan panjang 4 - 5 mikrometer, lebar 2,5 – 3,5 mikrometer, dengan

rasio antara panjang dan lebar yaitu 1,50 – 1,75. Spermatozoa atau sperma

dihasilkan oleh testis, sedangkan cairan seminal diproduksi oleh kelenjar

tambahan disepanjang saluran reproduksi pria, yaitu kelenjar vesikula

seminalis, prostat, kelenjar bulbo urethralis (Cowper’s) dan kelenjar urethra

(Littre’s) (Gandasoebrata, 1969).

Cairan mani atau semen menyediakan lingkungan yang hangat dan lembab

yang sel sperma membutuhkan untuk kelangsungan hidup dan media tempat

mereka dapat bergerak dengan mudah. Hal ini juga melindungi sel-sel dan

membantu untuk mengontrol kecepatan saat mereka bergerak. Energi yang

dibutuhkan untuk gerakan seperti cambuk atau flagellar dengan ekor yang

mendorong setiap sel sperma melalui cairan mani disediakan oleh struktur

selular kecil yang disebut mitokondria yang mengelilingi bagian atas ekor

(Widodo, 2009).

2.2 Struktur Sperma

Spermatozoa merupakan sel yang sangat terspesialisasi dan padat yang

tidak lagi mengalami pembelahan atau pertumbuhan, berasal darigonosit yang

menjadi Spermatogonium, spermatosit primer dan sekunder kemudian

3
selanjutnya berubah menjadi spermatid dan akhirnya berubah menjadi

Spermatozoa. Spermatozoa terdiri atas dua bagian fungsional yang penting

yaitu kepala dan ekor (Gandasoebrata, 1969).

Menurut Widodo, (2009), sperma dewasa terdiri dari tiga bagian yaitu

kepala, bagian tengah dan ekor (flagellata). Kepala sperma mengandung

nukleus.Bagian ujung kepala ini mengandung akrosom yang menghasilkan

enzim yang berfungsi untuk menembus lapisan–lapisan sel telur pada waktu

fertilisasi.Bagian tengah sperma mengandung mitokondria yang menghasilkan

ATP sebagai sumber energiuntuk pergerakan sperma. Ekor sperma berfungsi

sebagai alat gerak. Struktur utama sperma terdiri dari:

1. Kepala

Kepala Spermatozoa bentuknya bulat telur dengan ukuran panjang 5

mikron, diameter 3 mikron dan tebal 2 mikron yang terutama dibentuk

oleh nukleus berisi bahan-bahan sifat penurunan ayah. Kepala sperma

mengandung nukleus. Bagian ujung kepala atau pada bagian anterior

kepala spermatozoa terdapat akrosom, suatu struktur yang berbentuk topi

yang menutupi dua per tiga bagian anterior kepala dan mengandung

beberapa enzim hidrolitik antara lain: hyaluronidase, proakrosin, akrosin,

esterase, asam hidrolase dan Corona Penetrating Enzim (CPE) yang

semuanya penting untuk penembusan ovum (sel telur) pada proses

fertilisasi.

Bahan kandungan akrosom adalah setengah padat yang dikelilingi oleh

membran akrosom yang terdiri dari dua lapis, yaitu membran akrosom

4
dalam (inner acrosomal membran) dan membran akrosom luar (outer

acrosomal membran).Secara molekuler susunan kedua membran akrosom

ini sangat berbeda, membran akrosom luar bersatu dengan plasma

membran (membran spermatozoa) pada waktu terjadinya reaksi akrosom

sedang membran akrosom dalam menghilang. Bagian ekuatorial akrosom

merupakan bagian penting pada spermatozoa, hal ini karena bagian

anterior pada akrosom ini yang mengawali penggabungan dengan

membran oosit pada proses fertilisasi berubah menjadi spermatid dan

akhirnya berubah menjadi spermatozoa.

2. Ekor

Ekor dari sel sperma dibedakan atas 3 bagian, yaitu sebagai berikut:

a. Bagian tengah (midpiece)

b. Bagian utama (principle piece)

c. Bagian ujung (endpiece).

Panjang ekor seluruhnya sekitar 55 mikron dengan diameter yang

makin ke ujung makin kecil yakni jika bagian depannya 1 mikron, di

ujungnya 0,1 mikron, panjang bagian tengahnya 5-7 mikron, tebal 1

mikron, bagian utama dengan panjang 45 mikron, tebal 0,5 mikron dan

bagian ujung panjang 4-5 mikron, serta tebalnya 0,3 mikron. Bagian ekor

tidak bisa dibedakan dengan mikroskop cahaya tetapi harus dengan

mikroskop elektron.

Mitokondria sebagai pembangkit energi pada Spermatozoa. Principle

piece dibungkus oleh sarung fibrous (fibrous sheath) yang perbatasannya

5
disebut anulus. Sarung fibrous bentuknya terdiri dari kolom ventral dan

dorsal yang masing-masing melalui rusuk-rusuk. Ke arah sentral ada

semacam tonjolan yang memegangi cincin nomor 3,8 dari aksonema.

Keduanya (tahanan rusuk dan pegangan cincin aksonema) memberikan

gerak tertentu.

2.3 Spermatogenesis

Spermatogenesis terjadi didalam testis terdapat pada tubulus seminiferus.

Dinding tubulus seminiferus terdiri dari jaringan epitel dan jaringan ikat, pada

jaringan epithelium terdapat sel–sel spermatogonia dan sel Sertoli yang

berfungsi memberi nutrisi pada spermatozoa. Selain itu pada tubulus

seminiferus terdapat pula sel Leydig yang mengsekresikan hormon

testosterone yang berperan pada proses spermatogenesis (Widodo, 2009).

Sperma dihasilkan oleh tubulus seminiferus yang memiliki panjang 250

mdalam testes. Sel-sel yang berada di Tubulus seminiferus berupa sel germinal

dengan bermacam-macam tahap perkembangan dan sel Sertoli yang

memberikan dukungan penting pada spermatogenesis. Spermatogenesis adalah

proses kompleks sel germinal prmordial spermatogonia (46 kromosom)

berproliferasi dan dikonversi menjadi spermatozoa motil (23 kromosom).

Prosesnya memerlukan waktu 64 hari dengan 3 tahap yakni mitosis, meiosis,

dan spermiogenesis (Widodo, 2009).

Menurut Taufik, (2009), proses spermatogenesis ini dapat terjadi karena

dukungan dari sel Sertoli, fungsi penting dari sel Sertoli selama proses

spermatogenesis antara lain:

6
1. Sel Sertoli membentuk tight junction sebagai barrier spermatozoa dengan

arah sehingga dapat mencegah pembentukan antibodi yang dapat

menyerang sel spermatozoa (dianggap sebagai zat asing karena haploid,

sel tubuh bersifat diploid).

2. Memberikan makanan.

3. Sel Sertoli berfungsi untuk memfagosit sitoplasma dari spermatid yang

berubah menjadi spermatozoa dan menghancurkan sel germinal yang

rusak.

4. Sel Sertoli membentuk lumen cairan tubulus seminiferus sehingga sperma

dapat dilepaskan dari tubulus ke epididimis untuk disimpan dan diproses

lebih lanjut.

5. Sel Sertoli mensekresi androgen-binding protein (ABP). ABP berfungsi

untuk mempertahankan testosteron tetap berada dalam tubulus

seminiferus, karena testosteron berupa lipid yang mudah keluar dari

membran plasma dan meninggalkan lumen.

6. Menghasilkan hormon inhibin sebagai umpan balik negatif yang

mengontrol sekresi FSH.

Menurut Taufik, (2009), sel sperma yang bersifat haploid (n) dibentuk di

dalam testis melewati sebuah proses kompleks yang disebut dengan

spermatogenesis. Secara simultan proses ini memproduksi sperma matang

didalam Tubulus Seminiferus lewat langkah-langkah sebagai berikut:

7
1. Ketika seorang anak laki-laki mencapai pubertas pada usia 11 - 14 tahun,

sel kelamin jantan primitif yang belum terspesialisasi dan disebut dengan

Spermatogonium menjadi diaktifkan oleh sekresi Hormon testosteron.

2. Masing-masing spermatogonium membelah secara mitosis untuk

menghasilkan 2 sel anak yang masing-masing berisi 46 kromosom

lengkap.

3. Dua sel anak yang dihasilkan tersebut masing-masing disebut

spermatogonium yang kembali melakukan pembelahan mitosis untuk

menghasilkan sel anak, dan satunya lagi disebut spermatosit primer yang

berukuran lebih besar dan bergerak ke dalam lumen Tubulus seminiferus.

4. Spermatosit primer melakukan meiosis untuk menhasilkan dua

spermatosit sekunder yang berukuran lebih kecil dari spermatosit primer.

Spermatosit sekunder ini masing-masing memiliki 23 kromosom yang

terdiri atas 22 kromosom tubuh dan satu kromosom kelamin (Y atau X).

5. Kedua Spermatosit sekunder tersebut melakukan mitosis untuk

menghasilkan empat sel lagi yang disebut Spermatid yang tetap memiliki

23 kromosom.

6. Spermatid kemudian berubah menjadi Spermatozoa matang tanpa

mengalami pembelahan dan bersifat haploid (n) 23 kromosom.

Keseluruhan proses spermatogenesis ini menghabiskan waktu sekitar 64

hari.

Proses pembentukan dan pemasakan Spermatozoa disebut

spermatogenesis. Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal

8
melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel, yang bertujuan untuk

membentuk sperma fungsional. Pematangan sel terjadi di tubulus

seminiferus yang kemudian disimpan di epididimis. Dinding Tubulus

seminiferus tersusun dari jaringan ikat dan jaringan Epitelium germinal

(jaringan epitelium benih) yang berfungsi pada saat spermatogenesis. Pintalan-

pintalan Tubulus seminiferus terdapat di dalam ruang-ruang testis (Lobulus

testis). Satu testis umumnya mengandung sekitar 250 Lobulus testis. Tubulus

seminiferus terdiri dari sejumlah besar sel epitel germinal (sel epitel benih)

yang disebut spermatogonia (spermatogonium = tunggal). Spermatogonia

terletak di dua sampai tiga lapisan luar sel-sel epitel Tubulus seminiferus.

Spermatogonia terus-menerus membelah untuk memperbanyak diri, sebagian

dari Spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap-tahap perkembangan

tertentu untuk membentuk sperma (Taufik, 2009).

Pada Tubulus seminiferus terdapat sel-sel induk Spermatozoa atau

Spermatogonium, sel Sertoli, dan sel Leydig. Sel Sertoli berfungsi memberi

makan Spermatozoa sedangkan sel Leydig yang terdapat di antara Tubulus

seminiferus berfungsi menghasilkan testosterone (Taufik, 2009).

Menurut Taufik, (2009), proses pembentukan Spermatozoa dipengaruhi

oleh kerja beberapa hormone yang diantaranya dihasilkan kelenjar Hipofisis

yaitu:

1. LH (Luteinizing Hormone) merangsang sel Leydig untuk menghasilkan

hormon Testosteron. Pada masa pubertas, androgen/testosteron memacu

tumbuhnya sifat kelamin sekunder.

9
2. FSH (Folicle Stimulating Hormone) merangsang sel Sertoli untuk

menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang akan memacu

Spermatogonium untuk memulai proses spermatogenesis. Proses

pemasakan spermatosit menjadi spermatozoa disebut spermiogenesis.

Spermiogenesis terjadi di dalam epididimis dan membutuhkan waktu

selama 2 hari.

Menurut Taufik, (2009), proses pembentukan sel sperma melalui 3 fase

yaitu fase pertumbuhan, fase pembelahan, dan fase diferensiasi.

1. Fase Pertumbuhan

Pada fase pertumbuhan sel–sel calon indung sperma tumbuh,

membesar dan berduplikasi.Pada fase ini juga terjadi penambahan materi

inti, sintesis DNA dan sintesis organel sel. Fase ini juga disebut fase

persiapan sebelum melakukan pembelahan.Akhir dari fase pertumbuhan

terbentuklah spermatogonium (sel induk sperma) yang sudah siap untuk

melakukan pembelahan.

2. Fase Pembelahan

Tiap Spermatogonium yang sudah terbentuk akan mengalami proses

pembelahan. Spermatogonium yang terbentuk akan menjadi spermatosit

primer. Spermatosit primer inilah yang akan mengalami

pembelahan.Pembelahan yang tejadi adalah pembelahan meiosis, yaitu

pembelahan yang terjadi pada pembentukan gamet yang bertujuan untuk

mereduksi jumlah kromosom. Spermatosit primer mengalami pembelahan

10
meiosis I membentuk 2 buah Spermatosit sekunder. Jumlah kromosom sel

Spermatosit sekunder adalah setengah dari sel Spermatosit primer.

Pembelahan belum selesai, Spermatosit sekunder yang tebentuk akan

segera mengalami pembelahan menjadi 4 buah spermatid. Spermatid inilah

sel yang akan menjadi sel sperma.

3. Fase Diferensiasi

Spermatid yang terbentuk pada fase pembelahan harus mengalami

perubahan agar mampu berenang mencari letak sel telur.Bentuk awalnya

yang hanya berbentuk bulatan dirasa tidak mungkin mampu mencapai sel

telur. Maka dari itu, Spermatid harus mengalami diferensiasi menjadi sel–

sel sperma yang siap untuk membuahi sel telur. Setelah proses

diferensiasi, terbentuklah 4 buah sel sperma aktif yang strukturnya sudah

berubah. Kini sperma berbentuk seperti seekor berudu, dengan bentuk

kepala seperti mata panah dan berekor panjang.Tentu saja bentuk seperti

ini dimaksudkan agar sel sperma bisa dengan mudah berenang mencapai

sel telur. Selain itu, pada bagian kepala terdapat organel Aparatus golgi

yang berfungsi pada saat penetrasi.

Pada manusia proses spermatogenesis berlangsung setiap hari. Siklus

spermatogenesis berlangsung rata–rata 74 hari. Artinya, perkembangan sel

Spermatogonia menjadi Spermatozoa matang memerlukan waktu rata–rata

74 hari. Sementara itu, pemasakan Spermatosit menjadi sperma

memerlukan waktu dua hari. Proses pemasakan Spermatosit menjadi

sperma dinamakan spermatogenesis dan terjadi di dalam epididimis.

11
Pada pria dewasa normal, proses spermatogenesis terus berlangsung

sepanjang hidup, walaupun kualitas dan kauntitasnya makin menurun

dengan bertambahnya usia.

Gambar 2.1 Proses pembentukan Spermatozoa

2.4 Kelainan Pada Sel Sperma

Menurut Taufik, (2009), kelainan pada sperma terdiri dari 5, yakni:

1. Jumlah Sperma

Cairan yang dikeluarkan pria pada saat ejakulasi sewaktu senggama

disebut cairan semen.Volume normal cairan semen sekitar 2-5 ml. Cairan

semen ini berwarna putih mutiara dan berbau khas langu dengan pH 7-

8. Volume cairan semen dianggap rendah secara abnormal jika kurang

dari 1,5 ml. Volume semen melebihi 5 ml juga dianggap abnormal. Dalam

cairan semen inilah jumlah spermatozoa merupakan penentu keberhasilan

memperoleh keturunan. Yang normal, jumlah spermatozoanya sekitar 20

12
juta/ml. Pada pria ditemukan kasus spermatozoa yang kurang

(oligozoospermia) atau bahkan tak ditemukan sel sperma sama sekali

(azoospermia).

Kecuali sel-sel spermatozoa, dalam cairan semen ini terdapat zat-zat

lain yang berasal dari kelenjar-kelenjar sekitar reproduksi pria.Zat-zat itu

berfungsi menyuplai makanan dan mempertahankan kualitas spermatozoa

sehingga bisa bertahan hidup sampai masuk ke dalam saluran reproduksi

wanita.

2. Kelainan Bentuk (Morfologi)

Sperma yang normal berbentuk seperti kecebong.Terdiri dari kepala,

tubuh, dan ekor. Kelainan seperti kepala kecil atau tak memiliki ekor akan

mempengaruhi pergerakan sperma. Ini tentu saja akan mempersulit sel

sperma mencapai sel telur.

3. Pergerakan Lemah

Untuk mencapai sel telur, sel sperma harus mampu melakukan

perjalanan panjang.Ini pun menjadi penentu terjadinya pembuahan. Jumlah

sel sperma yang cukup, jika tak dibarengi pergerakan yang normal,

membuat sel sperma tak akan mencapai sel telur. Sebaliknya, kendati

jumlahnya sedikit namun pergerakannya cepat, bisa mencapai sel telur (Tri

Bowo, 2011).Kasus lemahnya pergerakan sperma (asthenozoospermia)

kerap dijumpai.Adakalanya spermatozoa mati (necrozoospermia).

13
Menurut Taufik, (2009), gerakan spermatozoa dibagi dalam 4 kategori,

yaitu:

a. Bergerak cepat dan maju lurus

b. Bergerak lambat dan sulit maju lurus

c. Tak bergerak maju (bergerak di tempat)

d. Tak bergerak

Sperma dikatakan normal bila memiliki gerakan normal dengan kategori a

lebih besar atau sama dengan 25% atau kategori b lebih besar atau sama

dengan 50%. Spermatozoa yang normal satu sama lain terpisah dan bergerak

sesuai arahnya masing-masing. Dalam keadaan tertentu, spermatozoa

abnormal bergerombol, berikatan satu sama lain, dan tak bergerak.Keadaan

tersebut dikatakan terjadi aglutinasi. Aglutinasi dapat terjadi karena terjadi

kelainan imunologis di mana sel telur menolak sel sperma (Taufik, 2009).

4. Cairan Semen Terlalu Kental

Cairan semen yang terlalu kental mengakibatkan sel sperma sulit

bergerak.Pembuahan pun jadi sulit karena sel sperma tak berhasil mencapai

sel telur. Pada kasus normal, saat diejakulasikan, cairan semen dalam bentuk

yang kental akan mencair (liquifaksi) antara 15-60 menit (Taufik, 2009).

5. Saluran Tersumbat

Saat ejakulasi, sperma keluar dari testis menuju penis melalui saluran yang

sangat halus.Jika saluran-saluran itu tersumbat, maka sperma tak bisa

keluar.Umumnya hal ini disebabkan trauma pada benturan.Bisa juga karena

14
kurang menjaga kebersihan alat kelamin sehingga menyuburkan kehidupan

virus atau bakteri (Taufik, 2009).

6. Kerusakan Testis

Testis dapat rusak karena virus dan berbagai infeksi, seperti

gondongan,gonorrhea,sifilis, dan sebagainya. Untuk diketahui, testis

merupakan pabrik sperma. Dengan demikian kesehatannya harus

dijaga karena testis yang sehat akan menghasilkan sperma yang baik secara

kualitas dan kuantitas. Testis ini sangat sensitif. Mudah sekali dipengaruhi

oleh faktor-faktor luar. Jika testis terganggu, produksi sperma bisa terganggu.

Mungkin saat berhubungan, pria tetap mengeluarkan sperma. Hanya saja tanpa

sel sperma (Azoospermia) (Taufik, 2009).

2.5 Hal yang Harus di Perhatikan Dalam Tahap Pengambilan Sampel

Menurut Taufik, (2009), pada tahap pengambilan sampel, beberapa hal

yang harus diperhatikan adalah :

1. Pria yang akan diambil semennya dalam keadaan sehat dan cukup

istirahat. Tidak dalam keadaan letih atau lapar.

2. Tiga atau empat hari sebelum semen diambil, pria tersebut tidak boleh

melakukan aktifitas seksual yang mengakibatkan keluarnya semen. WHO

bahkan merekomendasikan 2 – 7 hari harus puasa ejakulasi, tentunya tidak

sebatas hubungan suami istri, tapi dengan cara apapun.

3. Semen (sperma) dikeluarkan melalui masturbasi di laboratorium (biasanya

disediakan tempat khusus). Sperma kemudian ditampung pada tabung

15
terbuat dari gelas. Jika mengalami kesulitan untuk mengeluarkan sperma

dengan cara ini, diskusikan dengan dokter anda.

4. Masturbasi tidak boleh menggunakan bahan pelicin seperti sabun, minyak,

dll.

2.6 Metode Makroskopik

Metode makroskopik adalah metode pemeriksaan secara kasat mata.

Pemeriksaan makroskopis semen meliputi pemeriksaan :warna semen, bau

semen, volume semen, pH semen, viskositas (kekentalan) semen dan

pencairan (Taufik, 2009).

Menurut Taufik, (2009), adapun interpretasi pemeriksaan sperma metode

makroskopik yaitu:

1. Warna semen, pada umumnya berwarna putih keruh, ada yang berwarna

putih jernih, dan ada juga yang berwarna putih kelabu.

2. Bau semen, normalnya khas (pandan, kaporit, chlor, dan bunga akasia)

3. Volume semen, ditentukan dengan menggunakan gelas ukur 10 dan 5

mL.normalnya 2-5 mL

4. Viskositas (kental) semen, normalnya kental.

5. pH semen, penentuan dilakukan setelah likuifasi sempurna, yaitu dengan

kertas pH.

6. Pencairan, normalnya 10-20 menit diukur setelah terjadi pencairan

(likuifasi) yang sempurna.

16
2.7 Metode Mikroskopik

Metode paling akurat untuk mendeteksi secara dini suspek infertilitas pada

pria adalah melalui tes laboratorium. Analisis sperma dapat dilakukan melalui

analisis makroskopis dan mikroskopis terhadap sperma manusia. Pemeriksaan

analisis sperma pada semen pria merupakan suatu analisis lengkap yang

penting untuk pasangan yang berkonsultasi masalah infertilitas. Infertilitas

yang diperkirakan 10% hingga 15% dari seluruh jumlah pasangan yang ada,

bila ditelusuri setengah dari kasus-kasusnya, penyebabnya dari pihak pria

(Widodo, 2009).

Analisis sperma adalah suatu pemeriksaan yang penting untuk menilai

fungsi organ reproduksi pria. Yang dianalisis secara rutin ialah kualitas dan

kuantitas spermatozoa serta fungsi sakretoris kalenjar asesoris seks (Taufik,

2009).

2.8 Skema Kerja

A. Makroskopik:

Sperma

pH Bau Warna Volume Kekentalan

7,2 -7,8 Khas/Pandan Putih Kelabu 2-5 ml Kental

17
B. Mikroskopik:

Sperma

Uji Motilitas Jumlah Spermatozoa Morfologi Jumlah Leukosit

a. Pergerakan 60-150 juta/ml a. Kepala 100 µl


aktif b. Ekor
b. Pergerakan
lemah
c. Tidak
bergerak

18
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum kimia klinik pemeriksaan sperma secara makroskopis dilakukan

pada tanggal 5 maret 2019 pukul 13.00 wita dan untuk pemeriksaan secara

mikroskopis dilakukan pada tanggal 19 maret 2019 pukul 13.00 WITA, yan

bertempat di Laboratorium Fitokimia Stikes Bina Mandiri Gorontalo.

3.2 Pra-Analitik

Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini berupa

pot sampel, gelas ukur, kertas indicator universal, pipet posteur, cover glass,

mikroskop, pipet leukosit, kamar hitung, eosin 0,5%, giemsa, aquadest, metil

alkohol, minyak imersi dan sampel sperma.

3.3 Analitik

3.3.1 Pemeriksaan Makroskopis

A.Bau

1. Kibaskan telapak tangan di atas pot sampel yang berisi sperma

2. Cium bau sperma tersebut.

B. Warna

Amati sperma dengan latar belakang warna putih dengan

penerangan yang cukup.

C. Pengukuran pH

1. Celupkan kertas pH pada sperma yang telah homogen

2. Baca hasil : pH normal = 7,2 – 7,8

19
D. Pengukuran Volume

1. Ukur volume sperma dengan gelas ukur

2. Baca hasil : Volume normal = 2 – 3 ml

E. Pengukuran konsentrasi dan pencairan

1. Mengambil permukaan sperma dengan kedua jari telunjuk dan

ibu jari atau batang pengaduk

2. Kemudian ditarik akan membentuk benang yang panjangnya 2-5

cm

3.3.2 Pemeriksaan Mikroskopis

A. Uji Motilitas

1. Teteskan semen yang sudah mencair sebanyak 1 tetes diatas

objek glass dan tutup dengan menggunakan cover glass

2. Pemeriksaan dilakukan dengan lensa objektif 40x

3. Perhatikan berapa % spermatozoa yang bergerak aktif dan

hitung pula waktu yang sudah berlalu sejak saat ejakulasi,

karena semakin banyak waktu lewat semakin berkurang

motilitas spermatozoa. Berkurangnya motilitas banyak

dipengaruhi oleh cara menyimpan sampel

4. Campurlah sedikit semen dengan larutas eosin 0,5% dalam air,

untuk membedakan spermatozoa yang tidak bergerak aktif dari

yang mati. Untuk spermatozoa yang mati akan berwarna

kemerah-merahan dan yang masih hidup tidak berwarna

20
B. Jumlah Spermatozoa

1. Menghitung jumlah spermatozoa dengan menggunakan kamar

hitung Improved Naubauer dan teteskan air mani dengan pipet

leukosit

2. Untuk mengencerkan dapat digunakan aquadest, istilah pipet

leukosit dengan air mani yang sudah mencair dengan aquadest

sampai garis bertanda 0,5 dan kemudian aquadest sampai garis

bertanda 11

3. Hitunglah spermatozoa dalam kamr hitung Improved Naubauer

pada permukaan seluas 1 mm2 jumlah yang dihitung dikalikan

dengan 200.000 untuk mendapatkan jumlah spermatozoa dalam

1 mL air mani

4. Pemeriksaan jumlah spermatozoa perlu disarankan untuk

dilakukan hitung ulang pada lain waktu karena kualitas air mani

seseorang akan berbeda-beda dari satu waktu ke waktu yang lain

C. Morfologi

1. Buatlah apusan air mani seperti membuat apusan darah tepi

biarkan mengering pada hawa udara

2. Kemudian lakukan fiksasi dengan metil alkohol (methanol)

selama 5 menit

3. Selanjutnya diwarnai dengan reagen giemsa/wright atau lainnya

4. Periksalah morfologi spermatozoa dengan pembesaran 100x

menggunakan minyak imersi (kepala dan ekor spermatozoa)

21
5. Hitung % kelainan (abnormal) bentuk kepala (telalu besar,

terllau kecil, terlalu memanjang, inti terpecah dsb) dan bentuk

ekor (tidak ada ekor, ada dua ekor, ekor amat pendek dsb).

D. Jumlah leukosit

1. Hitunglah leukosit yang ditemukan dalam kamar hitung

Improved Naubauer seperti hitung sel leukosit pada sediaan

darah dan catat jumlah leukositnya

3.4 Pasca Analitik

3.4.1 Pemeriksaan Makroskopik

A. Bau

1. Normal : Khas seperti bunga akasia, pandan, kaporit

2. Abnormal : Bau Busuk

B. Warna

1. Normal : Putih kelabu homogen

2. Abnormal : Jernih

C. Pengukuran Ph

1. Normal : pH 7,2 – 7,8

2. Abnormal : pH > 7,8 (infeksi)

D. Pengukuran Volume

1. Normal : > 2 ml

2. Abnormal : < 2 ml

E. Pengukuran Konsentrasi

1. Normal : Benang yang terbentuk > 2 ml

22
2. Abnormal : Benang yang terbentuk < 2 ml

3.4.2 Pemeriksaan Mikroskopik

A. Uji Motilitas

1. Pergerakan aktif

a. Normal : > 50%

b. Abnormal : <30%

c. Tidak Bergerak : <20%

2. Jumlah Sperma : 60-150 juta/ml

3. Morfologi Spermatozoa

a. Normal : >60%

b. Abnormal : <40%

4. Jumlah Leukosit : 100 µl

23
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Adapun hasil yang didapatkan pada praktikum pemeriksaan sperma

yaitu sebagai berikut:

4.1.1 Pemeriksaan Sperma Secara Makroskopis

No Pemeriksaan Normal Abnormal Hasil

1. Bau Pandan Amis Normal

2. Warna Putih Kelabu Kuning Normal

3. Pengukuran pH pH 7,2-7,8 pH 8 Normal

4. Pengukuran Normal
2-5 ml 1 ml
Volume

5. Kekentalan kental - Normal

6. Pencairan Cair - Normal

Tabel 4.1.1 Hasil Pemeriksaan Sperma Secara Makroskopik

4.1.2 Pemeriksaan Sperma Secara Mikroskopis

Pemeriksaan Nilai
No Hasil Satuan
Mikroskopis Normal

Uji Motilitas:

Pergerakan aktif >50 >50 %


1.
Pergerakan lemah 15 <30 %

Tidak bergerak 10 <20 %

2. Jumlah Sperma - 60-150 juta ml

24
Morfologi

Spermatozoa

a. Normal:

Kepala >60 >60 %

Ekor >60 >60 %

b. Abnormal:

Kepala 10 <40 %

Ekor 10 <40 %

4. Jumlah Leukosit 30 100 µl

5. Aglutinasi Negatif Negatif +/-

Tabel 4.1.2 Hasil Pemeriksaan Sperma Secara Mikroskopik

4.2 Pembahasan

Praktikum pemeriksaan sperma bertujuan untuk menganalisis keadaan

fisik dari cairan semen secara makroskopis dan mikroskopis.Semen

(sperma) adalah suatu cairan yang dikeluarkan alat reproduksi pria pada saat

ejakulasi berupa cairan kental dan keruh, berisi sekret dari kelenjar prostat,

kelenjar-kelenjar lain spermatozoa. Pemeriksaan sperma harus dari seluruh

ejakulasi, karena itu pengambilannya harus dengan masturbasi atau coitus

interuptus (bersetubuh dan waktu ejakulasi persetubuhan dihentikan dan

25
mani ditampung semua). Boleh juga dengan memakai kondom asal kondom

tersebut khusus, bebas dari spermatisida karena kondom biasanya telah

diberi spermatisida. Sebelum menjalani pemeriksaan pasien diminta tidak

melakukan kegiatan seksual selama 3-5 hari. Mani langsung dikeluarkan ke

dalam suatu wadah dari gelas atau plastik yang bermulut lebar dan terlebih

dahulu dibersihkan dan dikeringkan. Pasien diminta mencatat waktu

pengeluaran mani tepat sampai menitnya. Sampel diperiksa selambat-

lambatnya 1 jam.

Dari hasil praktikum pemeriksaan sperma secara makroskopik yang

didapatkan yaitu diantaranya bau sperma yang khas seperti daun pandan,

tidak busuk. Bau busuk berasal dari oksidasi sperma yang dihasilkan

prostat. Jika tak ada bau khas pada sperma, adanya gangguan yang

disebabkan oleh gangguan pada saluran kelenjar prostat atau karena infeksi.

Warna sperma yang putih kelabu, hal ini menunjukkan bahwa warna sperma

normal karena warna sperma yang normal adalah seperti lem kanji encer

yaitu putih keabu-abuan. Jika putih atau kuning tandanya banyak leukosit

kemungkinan adanya infeksi pada genitalis dan beberapa macam obat

seperti antibiotok dapat mempengaruhi warna semen.

Didapatkan volume sperma tidak normal yaitu 3 ml, dimana volume

dapat dikatakan normal apabila jumlahnya 2-5 ml. Adapun jika volumenya

rendah (Hypospermia) dapat terjadi oleh beberapa sebab diantaranya

kemungkinan sampel tumpah, gangguan patologi genetik, vesicula seminalis

tidak ada atau tidak berfungsi, gangguan hormonal atau radang kelenjar. pH

26
yang dihasilkan normal yaitu 7,5 sedangkan nilai rujukannya yaitu 7,2 – 7,8,

sedangkan pada pH > 7,8 menunjukan adanya radang akut kelenjar kelamin

atau epididimis. Pada pH >7,2 menunjukkan adanya penyakit kronis pada

kelenjar atau aplasi pada vesicular seminalis atau ductusejaculatoris. pH

dapat berubah-ubah 1 jam setelah ejakulasi.

Viskositas yang dihasilkan yaitu kental, menandakan sperma yang

diperiksa yaitu normal. Jika sperma terlalu kental berarti kurang enzim

likuifaksi dari prostat.Jika terlalu encer dikarenakan zat koagulasi yang

dihasilkan vesicularsem inalis terlalu sedikit atau enzim pengenceran dari

prostat terlalu banyak. Pencairan yang dihasilkan normal yaitu cair karena

lama waktu mencair lebih dari 10 menit.Jika sampel sperma terlalu cair

karena disebabkan sampel terlalu lama diperiksa.

Dari hasil praktikum pemeriksaan sperma secara mikroskopis yang

didapatkan dari uji motilitas yaitu normal atau jumlah sperma yang motil

lebih dari 50% jumlah sperma/ejakulasi. Motilitas atau daya gerak

Spermatozoa yang dinilai segera sesudah penampungan semen, sewaktu

penampungan harus diperhatikan agar ejakulasi tidak mengalami penurunan

suhu secara mendadak yang sangat mempengaruhi motilitas sperma.

Gangguan motilitas sperma dipengaruhi oleh kesalahan pengeluaran,

penempatan sampel, abnormalitas masturbasi, infeksi, dan riwayat perokok

berat. Untuk jumlah sperma yang didapatkan yaitu normal karena lebih dari

60 juta/ejakulasi. Jumlah sperma yang tidak normal dapat dipengaruhi oleh

27
beberapa faktor yaitu memakai pakaian dalam yang ketat, merokok,

mengkonsumsi alkohol, radiasi handphone, dan ikat pinggang.

Pada pemeriksaan morfologi didapatkan sampel sperma memiliki

morfologi normal lebih dari 60%. Gangguan bentuk dihubungkan dengan

peningkatan prakmentasi DNA, imatur kromatin, aberasi struktur

kromosom, keganasan pada testis dan infeksi. Sedangkan untuk jumlah

leukosit yang didapatkan pada sampel sperma yaitu normal sebanyak 100

µl. Jumlah leukosit yang tidak normal dikarenakan oleh adanya infeksi yang

menyebabkan penurunan kualitas sperma.Leukosit dapat mempengaruhi

moltilitas sperma dan integritas DNA melalui serangan oksidatif.

28
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa

pada pemeriksaan makroskopik sampel sperma yang diperiksa normal semua,

mulai dari pH, volume, kekentalan, bau khas (pandan), warna putih kelabu

serta lama waktu mencair lebih dari 10 menit.

Sedangkan pada pemeriksaan mikroskopik bahwa sampel sperma normal,

baik motilitas > 50%, jumlah sperma 60-150 juta/ml, morfologi Spermatozoa

> 60%, dan jumlah leokosit 100 µl.

5.2 Saran

Sebaiknya semua pengguna laboratorium agar tetap menjaga kebersihan

laboratorium agar kenyamanan pada saat praktikum terealisasikan dan saat

pengambilan sampel sperma harus sesuai prosedur kerja.

29
DAFTAR PUSTAKA

Guyton, Hall., Setiawan, Irawati. 1996. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 9th
ed. Jakarta: EGC.
Gandasoebrata, R. 1969. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta: Dian Rakyat.
Widodo, T. 2009. Jumlah Motilitas Sperma Pada Hasil Analisis Sperma Pada
Manusia. Universitas Diponegoro.
Taufik, F. 2009. Hubungan antara jumlah leukosit dengan motilitas sperma
Pada hasil analisis sperma pasien infertilitas di rsup dr kariadi.
Semarang.

30