Anda di halaman 1dari 54

LAPORAN KASUS REMAJA

KEDOKTERAN KELUARGA

SEORANG REMAJA PEREMPUAN 19 TAHUN DENGAN ISPA, GIZI


BAIK PERAWAKAN NORMAL

Diajukan guna memenuhi tugas Kedokteran Keluarga Fakultas Kedokteran Universitas


Diponegoro

Disusun oleh :
ZAHIRA RIKIANDRASWIDA
22010117220054

Dosen pembimbing :
dr. Y.L. Aryoko Widodo S, M.si.Med

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2019
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kasus Kedokteran Keluarga dengan judul “Seorang Remaja Perempuan 19


Tahun dengan ISPA, gizi baik perawakan normal” telah disajikan guna melengkapi tugas
Kedokteran Keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro pada tanggal 4 Oktober 2019.

Semarang, 4 Oktober 2019

Telah disetujui dan disahkan

Pembimbing

dr. Y.L. Aryoko Widodo S, M.si.Med


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) adalah infeksi saluran pernafasan yang dapat
berlangsung sampai 14 hari. Secara klinis ISPA ditandai dengan gejala akut akibat infeksi
yang terjadi di setiap bagian saluran pernafasan dengan berlangsung tidak lebih dari 14 hari.
Infeksi saluran pernafasan akut merupakan kelompok penyakit yang komplek dan heterogen,
yang disebabkan oleh 300 lebih jenis virus, bakteri, serta jamur. Virus penyebab ISPA antara
lain golongan miksovirus yang meliputi virus influensa, virus pra-influensa dan virus campak.
Survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan ISPA
sebagai penyebab kematian terbesar di Indonesia dengan persentase 22,30% dari seluruh
kematian. Bukti bahwa ISPA merupakan penyebab utama kematian adalah banyaknya
penderita ISPA yang terus meningkat. Menurut WHO, ISPA merupakan peringkat keempat
dari 15 juta penyebab pada setiap tahunnya. Jumlah tiap tahun kejadian ISPA di Indonesia
150.000 kasus atau dapat dikatakan seorang meninggal tiap 5 menitnya. Berdasarkan
DEPKES (2006) juga menemukan bahwa 20-30% kematian disebabkan oleh ISPA.
Faktor penting yang mempengaruhi ISPA adalah pencemaran udara. Adanya
pencemaran udara di lingkungan rumah akan merusak mekanisme pertahanan paru-paru
sehingga mempermudah timbulnya gangguan pernapasan. Tingginya tingkat pencemaran
udara menyebabkan ISPA memiliki angka yang paling banyak diderita oleh masyarakat
dibandingkan penyakit lainnya. Selain faktor tersebut, peningkatan penyebaran penyakit ISPA
juga dikarenakan oleh perubahan iklim serta rendahnya kesadaran perilaku hidup bersih dan
sehat dalam masyarakat.
Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan remaja.
Proses perkembangan terjadi secara simultan dengan pertumbuhan, sehingga setiap
pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Memahami dan melaksanakan diagnosis holistik serta penanganan komprehensif pasien
remaja berdasarkan pendekatan keluarga.
1.2.2 Tujuan khusus
- Terlaksananya kunjungan ke rumah pasien.
- Mengetahui diagnosis holistik pasien dan keluarga pasien.
- Terlaksananya penatalaksanaan pasien secara komprehensif.

1.3 Manfaat
Studi kasus ini diharapkan dapat menjadi media belajar bagi mahasiswa agar dapat
melaksanakan praktek kedokteran keluarga termasuk diagnosis holistik dan penanganan
komprehensif secara langsung kepada pasien remaja.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 ISPA
2.1.1 Pengertian ISPA
ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) adalah infeksi akut saluran pernapasan bagian
atas dan saluran pernapasan bagian bawah.1
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernafasan akut yang
meliputi saluran pernafasan bagian atas seperti rhinitis, fharingitis, dan otitis serta saluran
pernafasan bagian bawah seperti laryngitis, bronchitis, bronchiolitis dan pneumonia, yang
dapat berlangsung selama 14 hari. Batas waktu 14 hari diambil untuk menentukan batas akut
dari penyakit tersebut. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung sampai alveoli
beserta organ seperti sinus, ruang telinga tengah dan pleura2, 3
Pada umumnya suatu penyakit saluran pernafasan dimulai dengan keluhan-keluhan
dan gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit mungkin gejala-gejala menjadi
lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan kegagalan pernafasan dan
mungkin meninggal. Bila sudah dalam kegagalan pernafasan maka dibutuhkan
penatalaksanaan yang lebih rumit, meskipun demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu
diusahakan agar yang ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat
ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernafasan .
ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) adalah suatu penyakit yang terbanyak di
diderita oleh anak-anak, baik di negara berkembang maupun di negara maju dan sudah mampu
dan banyak dari mereka perlu masuk rumah sakit karena penyakitnya cukup gawat. Penyakit-
penyakit saluran pernapasan pada masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan
sampai pada masa dewasa.
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah proses inflamasi yang disebabkan oleh
virus, bakteri, atipikal (mikroplasma), atau aspirasi substansi asing yang melibatkan suatu atau
semua bagian saluran pernapasan .4
Infeksi saluran pernapasan akut adalah infeksi yang terutama mengenai struktur
saluran pernapasan diatas laring, tetapi kebanyakan, penyakit ini mengenai bagian saluran atas
dan bawah secara simultan atau berurutan. Gambaran patofisioliginya meliputi infiltrat
peradangan dan edema mukosa, kongesti vaskuler, bertambahnya sekresi mukus, dan
perubahan dan struktur fungsi siliare. 5

2.1.2 Etiologi Penyakit ISPA


Mayoritas penyebab dari ISPA adalah oleh virus, dengan frekuensi lebih dari 90%
untuk ISPA bagian atas, sedangkan untuk ISPA bagian bawah frekuensinya lebih kecil.
Penyakit ISPA bagian atas mulai dari hidung, nasofaring, sinus paranasalis sampai dengan
laring hampir 90% disebabkan oleh viral, sedangkan ISPA bagian bawah hampir 50%
diakibatkan oleh bakteri. Saat ini telah diketahui bahwa penyakit ISPA melibatkan lebih dari
300 tipe antigen dari bakteri maupun virus tersebut (WHO, 1986). WHO (1986), juga
mengemukakan bahwa kebanyakan penyebab ISPA disebabkan oleh virus dan mikoplasma,
dengan pengecualian epiglotitis akut dan pneumonia dengan distribusi lobular. Adapun virus-
virus (agen non bakterial) yang banyak ditemukan pada ISPA bagian bawah pada bayi dan
anak-anak adalah Respiratory Syncytial Virus (RSV), adenovirus, parainfluenza, dan virus
influenza A & B.6

2.1.3 Masa Inkubasi dan Penularan ISPA


1. Masa inkubasi
ISPA adalah infeksi saluran pernafasan yang dapat berlangsung sampai 14 hari,
dimana secara klinis suatu tanda dan gejala akut akibat infeksi yang terjadi di setiap
bagian saluran pernafasan atau struktur yang berhubungan dengan saluran pernafasan
yang berlangsung tidak lebih dari 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan
berlangsungnya proses akut.7

2. Penularan
Pada umumnya ISPA termasuk ke dalam penyakit menular yang ditularkan
melalui udara. Sumber penularan adalah penderita ISPA yang menyebarkan kuman
ke udara pada saat batuk atau bersin dalam bentuk droplet. Inhalasi merupakan cara
terpenting masuknya kuman penyebab ISPA ke dalam saluran pernapasan yaitu
bersama udara yang dihirup, disamping itu terdapat juga cara penularan langsung
yaitu melalui percikan droplet yang dikeluarkan oleh penderita saat batuk, bersin dan
berbicara kepada orang di sekitar penderita, trasmisi langsung dapat juga melalui
ciuman, memegang/menggunakan benda yang telah terkena sekresi saluran
pernapasan penderita 6

2.1.4 Gejala dan Tanda Penyakit serta Cara Diagnosis ISPA


1. Gejala dan Tanda Penyakit ISPA6
Penyakit ISPA meliputi hidung, telinga, tenggorokan (pharinx), trachea, bronchioli
dan paru. Tanda dan gejala penyakit ISPA pada anak bermacam-macam seperti batuk,
kesulitan bernapas, sakit tenggorokan, pilek, demam dan sakit telinga . Sebagian besar
dari gejala saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk dan pilek tidak
memerlukan pengobatan dengan antibiotik. Namun sebagian anak akan menderita radang
paru (pneumonia) bila infeksi paru ini tidak diobati dengan anti biotik akan menyebabkan
kematian. 8
Tanda dan gejala ISPA berdasarkan tingkat keparahan :
1) Gejala dari ISPA Ringan
Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau
lebih gejala-gejala sebagai berikut :
a) Batuk
b) Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya pada
waktu berbicara atau menangis).
c) Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung.
d) Panas atau demam, suhu badan lebih dari 37⁰C.
2) Gejala dari ISPA Sedang
Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari
ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :
a) Pernafasan cepat (fast breating) sesuai umur yaitu : untuk kelompok umur
kurang dari 2 bulan frekuensi nafas 60 kali per menit atau lebih dan kelompok
umur 2 bulan - <5 tahun : frekuensi nafas 50 kali atau lebih untuk umur 2 – <12
bulan dan 40 kali per menit atau lebih pada umur 12 bulan – <5 tahun.
b) Suhu lebih dari 39⁰C (diukur dengan termometer).
c) Tenggorokan berwarna merah.
d) Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak.
e) Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.
f) Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur).
3) Gejala dari ISPA Berat
Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejal-gejala
ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:
a) Bibir atau kulit membiru.
b) Anak tidak sadar atau kesadaran menurun.
c) Pernafasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah.
d) Sela iga tertarik kedalam pada waktu bernafas.
e) Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba.
f) Tenggorokan berwarna merah.

2.1.5 Cara Diagnosis


Diagnosis ISPA oleh karena virus dapat ditegakkan dengan pemeriksaan
laboratorium terhadap jasad renik itu sendiri. Pemeriksaan yang dilakukan adalah biakan
virus, serologis, diagnostik virus secara langsung. Sedangkan diagnosis ISPA oleh karena
bakteri dilakukan dengan pemeriksaan sputum, biakan darah, biakan cairan pleura.7
Diagnosis etiologi pnemonia pada balita sulit untuk ditegakkan karena dahak
biasanya sukar diperoleh. Sedangkan prosedur pemeriksaan imunologi belum memberikan
hasil yang memuaskan untuk menentukan adanya bakteri sebagai penyebab pnemonia,
hanya biakan spesimen fungsi atau aspirasi paru serta pemeriksaan spesimen darah yang
9
dapat diandalkan untuk membantu menegakkan diagnosis etiologi pnemonia.
Pemeriksaan cara ini sangat efektif untuk mendapatkan dan menentukan jenis bakteri
penyebab pnemonia pada balita, namun disisi lain dianggap prosedur yang berbahaya dan
bertentangan dengan etika (terutama jika semata untuk tujuan penelitian). Dengan
pertimbangan tersebut, diagnosa bakteri penyebab pnemonia bagi balita di Indonesia
mendasarkan pada hasil penelitian asing (melalui publikasi WHO), bahwa Streptococcus,
Pnemonia dan Hemophylus influenzae merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada
penelitian etiologi di negara berkembang. Di negara maju pnemonia pada balita disebabkan
oleh virus.
Diagnosis pnemonia pada balita didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran
bernafas disertai peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat) sesuai umur. Penentuan nafas
cepat dilakukan dengan cara menghitung frekuensi pernafasan dengan menggunkan sound
timer. Batas nafas cepat adalah :
a. Pada anak usia kurang 2 bulan frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali per menit atau
lebih.
b. Pada anak usia 2 bulan - <1 tahun frekuensi pernafasan sebanyak 50 kali per menit atau
lebih.
c. Pada anak usia 1 tahun - <5 tahun frekuensi pernafasan sebanyak 40 kali per menit atau
lebih.
Diagnosis pneumonia berat untuk kelompok umur kurang 2 bulan ditandai dengan
adanya nafas cepat, yaitu frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih, atau
adanya penarikan yang kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam. Rujukan penderita
pnemonia berat dilakukan dengan gejala batuk atau kesukaran bernafas yang disertai
adanya gejala tidak sadar dan tidak dapat minum. Pada klasifikasi bukan pneumonia maka
diagnosisnya adalah batuk pilek biasa (common cold), pharyngitis, tonsilitis, otitis atau
penyakit non-pnemonia lainnya.10

2.1.6 Transmisi Penyakit ISPA


Transmisi penyakit ISPA dapat melalui udara. Jasad renik yang berada di udara akan masuk
ke dalam tubuh melalui saluran pernafasan dan menimbulkan infeksi, penyakit ISPA dapat pula
berasal dari penderita yang kebetulan mengandung bibit penyakit, baik yang sedang jatuh sakit
maupun karier. Jika jasad renik bersal dari tubuh manusia maka umumnya dikeluarkan melalui
sekresi saluran pernafasan dapat berupa saliva dan sputum. Transmisi penyakit ISPA juga dapat
terjadi melalui kontak langsung/tidak langsung dari benda yang telah dicemari jasad renik (hand
to hand transmission). 11
2.1.7 Riwayat Alamiah Penyakit ISPA
Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus dengan tubuh.
Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan menyebabkan silia yang terdapat pada
permukaan saluran pernafasan bergerak ke atas mendorong virus ke arah faring atau dengan
suatu tangkapan refleks spasmus oleh laring. Jika refleks tersebut gagal maka virus merusak
lapisan epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan 7
Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk kering.
Kerusakan stuktur lapisan dinding saluran pernafasan menyebabkan kenaikan aktifitas
kelenjar mukus yang banyak terdapat pada dinding saluran pernafasan, sehingga terjadi
pengeluaran cairan mukosa yang melebihi normal. Rangsangan cairan yang berlebihan
tersebut menimbulkan gejala batuk. Sehingga pada tahap awal gejala ISPA yang paling
menonjol adalah batuk. 12
Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder bakteri. Akibat
infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris yang merupakan mekanisme
perlindungan pada saluran pernafasan terhadap infeksi bakteri sehingga memudahkan bakteri-
bakteri patogen yang terdapat pada saluran pernafasan atas seperti streptococcus pneumonia,
haemophylus influenza dan staphylococcus menyerang mukosa yang rusak tersebut. Infeksi
sekunder bakteri ini menyebabkan sekresi mukus bertambah banyak dan dapat menyumbat
saluran pernafasan sehingga timbul sesak nafas dan juga menyebabkan batuk yang produktif.
Invasi bakteri ini dipermudah dengan adanya fakor-faktor seperti kedinginan dan malnutrisi.
Suatu laporan penelitian menyebutkan bahwa dengan adanya suatu serangan infeksi virus
pada saluran pernafasan dapat menimbulkan gangguan gizi akut pada bayi dan anak. Virus
yang menyerang saluran pernafasan atas dapat menyebar ke tempat-tempat yang lain dalam
tubuh, sehingga dapat menyebabkan kejang, demam, dan juga menyebar ke saluran
pernafasan bawah. Dampak infeksi sekunder bakteri pun menyerang saluran pernafasan
bawah, sehingga bakteri-bakteri yang biasanya hanya ditemukan dalam saluran pernafasan
atas, sesudah terjadinya infeksi virus, dapat menginfeksi paru-paru sehingga menyebabkan
pneumonia bakteri .13
Penanganan penyakit saluran pernafasan pada anak harus diperhatikan aspek
imunologis saluran pernafasan terutama dalam hal bahwa sistem imun di saluran pernafasan
yang sebagian besar terdiri dari mukosa, tidak sama dengan sistem imun sistemik pada
umumnya. Sistem imun saluran pernafasan yang terdiri dari folikel dan jaringan limfoid yang
tersebar, merupakan ciri khas sistem imun mukosa. Ciri khas berikutnya adalah bahwa
imunoglobulin A (IgA) memegang peranan pada saluran pernafasan atas sedangkan
imunoglobulin G (IgG) pada saluran pernafasan bawah. Diketahui pula bahwa sekretori IgA
sangat berperan dalam mempertahankan integritas mukosa saluran pernafasan . Dari uraian di
atas, perjalanan klinis penyakit ISPA ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu:
1) Tahap prepatogenesis, penyebab telah ada tetapi penderita belum menunjukkan
reaksi apa-apa.
2) Tahap inkubasi, virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi
lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya memang sudah
rendah.
3) Tahap dini penyakit, dimulai dari munculnya gejala penyakit. Timbul gejala
demam dan batuk.
4) Tahap lanjut penyakit, dibagi menjadi empat, yaitu dapat sembuh sempurna,
sembuh dengan ateletaksis, menjadi kronis dan dapat meninggal akibat
pneumonia.

2.1.8 Pengobatan ISPA


ISPA mempunyai variasi klinis yang bermacam-macam, maka timbul persoalan pada
diagnostik dan pengobatannya. Sampai saat ini belum ada obat yang khusus antivirus.
Idealnya pengobatan bagi ISPA bakterial adalah pengobatan secara rasional dengan
mendapatkan antimikroba yang tepat sesuai dengan kuman penyebab. Untuk itu, kuman
penyebab ISPA dideteksi terlebih dahulu dengan mengambil material pemeriksaan yang tepat,
kemudian dilakukan pemeriksaan mikrobiologik, baru setelah itu diberikan antimikroba yang
sesuai.8
Kesulitan menentukan pengobatan secara rasional karena kesulitan memperoleh
material pemeriksaan yang tepat, sering kali mikroorganisme itu baru diketahui dalam waktu
yang lama, kuman yang ditemukan adalah kuman komensal, tidak ditemukan kuman
penyebab. Maka sebaiknya pendekatan yang digunakan adalah pengobatan secara empirik
lebih dahulu, setelah diketahui kuman penyebab beserta anti mikroba yang sesuai, terapi
selanjutnya disesuaikan.14
Di dalam referensi yang lain berikut ini disebutkan macm-macam pengobatan untuk
para penderita Pneumonia.
1. Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral, oksigen dan
sebagainya.
2. Pneumonia: diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila penderita tidak mungkin
diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian kontrmoksasol keadaan penderita
menetap, dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin
prokain.
3. Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan di rumah, untuk
batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung
zat yang merugikan seperti kodein, dekstrometorfan dan antihistamin. Bila demam
diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita dengan gejala batuk pilek bila
pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran
kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman
streptococcuss dan harus diberi antibiotik (penisilin) selama 10 hari. Tanda bahaya setiap
bayi atau anak dengan tanda bahaya harus diberikan perawatan khusus untuk pemeriksaan
selanjutnya.

2.1.9 Perkembangan Penyakit ISPA di Indonesia


ISPA sering disebut sebagai "pembunuh utama". Kasus ISPA merupakan salah satu
penyebab utama kunjungan pasien ke sarana kesehatan yaitu 40%-60% dari seluruh
kunjungan ke Puskesmas dan 15%-30% dari seluruh kunjungan rawat jalan dan rawat inap
Rumah Sakit. Diperkirakan kematian akibat ISPA khususnya Pneumonia mencapai 5 kasus
diantara 1000 balita. Ini berarti ISPA mengakibatkan 150.000 balita meninggal tiap tahunnya,
atau 12.500 korban perbulan, atau 416 kasus perhari, atau 17 anak perjam atau seorang bayi
tiap 5 menit .15
Di Indonesia, ISPA masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
utama terutama pada bayi (0-11 bulan) dan balita (1-4 tahun). Diperkirakan kejadian ISPA
pada balita di Indonesia yaitu sebesar 10-20%. Berdasarkan hasil SKRT, penyakit ISPA pada
tahun 1986 berada di urutan ke-4 (12,4%) sebagai penyebab kematian bayi. Sedangkan pada
tahun 1992 dan 1995 menjadi penyebab kematian bayi yang utama yaitu 37,7% dan 33,5%.
Hasil SKRT tahun 1998 juga menunjukkan bahwa penyakit ISPA merupakan penyebab
kematian utama pada bayi (36%). Hasil SKRT tahun 2001 menunjukkan bahwa prevalensi
tinggi ISPA yaitu sebesar 39% pada bayi dan 42% pada balita.16
Survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan ISPA
sebagai penyebab kematian terbesar di Indonesia dengan persentase 22,30% dari seluruh
kematian (Susilowati, 2010). Bukti bahwa ISPA merupakan penyebab utama kematian adalah
banyaknya penderita ISPA yang terus meningkat.
Berdasarkan DEPKES (2006) juga menemukan bahwa 20-30% kematian disebabkan
oleh ISPA. Selanjutnya berdasarkan hasil laporan RISKESDAS pada tahun 2007, prevalensi
ISPA tertinggi terjadi pada baduta (>35%), ISPA venderung terjadi lebih tinggi pada kelompok
dengan pendidikan dan tingkat pengeluaran rumah tangga yang rendah. 17
Data Kemenkes menunjukkan bahwa penyakit ISPA di Indonesia sepanjang 2007
sampai 2011 mengalami tren kenaikan. Pada 2007 jumlah kasus ISPA berkategori batuk bukan
Pneumonia sebanyak 7.281.411 kasus dengan 765.333 kasus Pneumonia, kemudian pada 2011
mencapai 18.790.481 juta kasus batuk bukan pneumonia dan 756.577 pneumonia.

2.1.10 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penyakit ISPA


Faktor resiko ISPA:
1. Faktor Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Berat badan lahir rendah ditetapkan sebagai suatu berat lahir yang kurang dari 2500
gram. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) akan meningkatkan resiko
kesakitan dan kematian bayi karena bayi rentan terhadap kondisi-kondisi infeksi saluran
pernapasan bagian bawah . Menurut Sulistyowati dalam Djaja (2000) bayi dengan berat
badan lahir rendah mempunyai angka kematian lebih tinggi dari pada bayi berat badan
lebih dari 2500 gram saat lahir selama satu tahun pertama kehidupannya. Pneumonia
adalah penyebab terbesar kematian akibat infeksi pada bayi yang baru lahir dengan berat
badan rendah, bila dibandingkan dengan bayi yang beratnya diatas 2500 gram.
2. Faktor umur
Faktor resiko ISPA juga sering disebutkan dalam literature adalah faktor umur.
Adanya hubungan antara umur anak dengan ISPA mudah dipahami, karena semakin
muda umur balita, semakin rendah daya tahan tubuhnya. Menurut Tupasi et al. (1998),
resiko terjadi ISPA lebih besar pada bayi berumur kurang dari satu tahun, sedangkan
menurut Sukar et al. (1996), anak berumur kurang dari dua tahun memiliki resiko lebih
tinggi untuk terserang ISPA. Depkes (2000), menyebutkan resiko terjadinya ISPA yaitu
pneumonia terjadi pada umur lebih muda lagi yaitu kurang dari dua bulan.
3. Faktor Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil SDKI tahun 1997 menunjukkan adanya perbedaan prevalensi 2
minggu pada balita dengan batuk dan napas cepat (yang merupakan ciri khas pneumonia)
antara anak laki-laki dengan perempuan, dimana prevalensi untuk anak laki-laki adalah
9,4% sedangkan untuk anak perempuan 8,5%.
Ada kecendrungan anak laki-laki lebih sering terserang infeksi dari pada anak
perempuan, tetapi belum diketahui faktor yang mempengaruhinya.6
4. Faktor Vitamin
Diketahui adanya hubungan antara pemberian vitamin A dengan resiko terjadi
ISPA. Anak dengan xerophthalmia ringan memiliki resiko 2 kali untuk menderita ISPA.
Depkes (2000), menyebutkan bahwa keadaan defisiensi vitamin A merupakan salah satu
faktor resiko ISPA. Defisiensi vitamin A dapat menghambat pertumbuhan balita dan
mengakibatkan pengeringan jaringan epitel saluran pernafasan. Gangguan pada epitel ini
juga menjadi penyebab mudahnya terjadi ISPA. 8,9
5. Faktor Gangguan Gizi (Malnutrisi)
Malnutrisi dianggap bertanggungjawab terhadap ISPA pada balita terutama pada
Negara berkembang termasuk Indonesia. Hal ini mudah dipahami karena keadaan
malnutrisi menyebabkan lemahnya daya tahan tubuh anak. Hal tersebut memudahkan
kemasukan agen penyakit ke dalam tubuh. Malnutrisi menyebabkan resistensi terhadap
infeksi menurun oleh efek nutrisi yang buruk. Menurut WHO (2000), telah dibuktikan
bahawa adanya hubungan antara malnutrisi dengan episode ISPA. 10

6. Status Imunisasi
Telah diketahui secara teoritis, bahwa imunisasi adalah cara untuk menimbulkan
kekebalan terhadap berbagai penyakit. Dari penelitian yang dilakukan oleh Dewi dan
Sebodo (1996), didapatkan proporsi kasus balita penderita ISPA terbanyak terdapat anak
yang imunisasinya tidak lengkap (10,25%).
7. Status Sosioekonomi
Diketahui bahwa kepadatan penduduk dan tingkat sosioekonomi yang rendah
mempunyai hubungan yang erat dengan kesehatan masyarakat. Sebuah penelitian di
Filipina telah membuktikan bahwa sosiaoekonomi orang tua yang rendah akan
meningkatkan resiko ISPA pada anak usia kurang dari 1 tahun .
8. Faktor Pemberian Air Susu Ibu (ASI)
Penelitian-penelitian yang dilakukan pada sepuluh tahun terakhir ini menunjukkan
bahwa ASI kaya akan faktor antibodi cairan tubuh untuk melawan infeksi bakteri dan
virus. Penelitian di Negara-negara sedang berkembang menunjukkan menunjukkan
bahwa ASI melindungi bayi terhadap infeksi saluran pernapasan berat .
Jika produksi ASI cukup, pertumbuhan bayi umur 4-5 bulan pertama akan
memuaskan, pada umur 5-6 bulan berat badan bayi menjadi 2 kali lipat dari pada berat
badan lahir, maka sampai umur 4-5 bulan tidak perlu memberi makanan tambahan pada
bayi tersebut .
Lemahnya koordinasi menelan pada bayi umur dibawah 4 bulan dapat
menimbulkan aspirasi kedalam saluran pernapasan menjadi pemicu untuk terjadinya
infeksi saluran pernapasan.10
9. Faktor Pencemaran Udara Dalam Lingkungan
Pencemaran udara di dalam rumah selain berasal dari luar ruangan dapat pula
berasal dari sumber polutan di dalam rumah terutama aktivitas penghuninya antara lain,
penggunaan biomassa untuk memasak maupun pemanas ruangan, asap dari sumber
penerangan yang menggunakan bahan bakar, asap rokok, penggunaan obat anti nyamuk,
pelarut organik yang mudah menguap (formaldehid) yang banyak dipakai pada peralatan
perabot rumah tangga dan sebagainya. Menurut soesanto (2000) yang dikutip dari
Samsuddin (2000), rumah dengan bahan bakar minyak tanah baik untuk memasak
maupun sumber penerangan memberikan resiko terkena ISPA pada balita 3,8 kali lebih
besar dibandingkan dengan bahan bakar gas.14
Asap rokok dalam rumah juga merupakan penyebab utama terjadinya pencemaran
udara dalam ruangan. Hasil penelitian yang dilakukan Charles (1996), menyebutkan
bahwa asap rokok dari orang yang merokok dalam rumah serta pemakaian obat nyamuk
bakar juga merupakan resiko yang bermakna terhadap terjadinya penyakit ISPA.
Penggunaan obat anti nyamuk bakar sebagai alat untuk menghindari gigitan
nyamuk dapat menyebabkan gangguan saluran pernapasan karena hasilnya asap dan bau
yang tidak sedap. Adanya pencemaran udara di lingkungan rumah akan merusak
mekanisme pertahanan paru-paru sehingga mempermudah timbulnya gangguan
pernapasan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Indra Chahaya pemakaian obat
nyamuk bakar mempunyai exp (B) 19,97 yang berarti faktor pemakaian obat nyamuk
bakar mempunyai 19 kali beresiko terhadap terjadiya ISPA.
Secara umum efek pencemaran udara terhadap saluran pernapasan dapat
menyebabkan terjadinya:
a. Iritasi pada saluran pernapasan, hal ini dapat menyebabkan pergerakan silia menjadi
lambat, bahkan berhenti, sehingga mekanisme pembersihan saluran pernapasan
menjadi terganggu.
b. Peningkatan produksi lendir akibat iritasi bahan pencemar.
c. Produksi lendir dapat menyebabkan penyempitan saluran pernapasan.
d. Rusaknya sel pembunuh bakteri saluran pernapasan.
e. Pembengkakan saluran pernapasan dan merangsang pertumbuhan sel sehingga saluran
pernapasan menjadi menyempit.
f. Lepasnya silia dan lapisan sel selaput lendir
Akibat hal tersebut di atas maka menyebabkan terjadinya kesulitan bernapas,
sehingga benda asing termasuk Mikroorganisme tidak dapat dikeluarkan dari saluran
pernapasan dan hal ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran pernapasan.
10. Ventilasi
Ventilasi adalah suatu usaha untuk menyediakan udara segar, mencegah akumulasi
gas beracun dan mikroorganisme, memelihara temperatur dan kelembaban optimum
terhadap udara di dalam ruangan. Ventilasi yang baik akan memberikan rasa nyaman dan
menjaga kesehatan penghuninya.
Penelitian yang dilakukan oleh Soewasti (2000) membuktikan bahwa ventilasi
berhubungan dengan kejadian ISPA. Penderita ISPA banyak di temukan pada masyarakat
yang mempunyai Ventilasi rumah dengan perhawaan paling kecil (0 - 0,99 m).
11. Kepadatan Hunian
Kepadatan hunian dapat mempengaruhi kualitas udara di dalam rumah, dimana
semakin banyak jumlah penghuni maka akan semakin cepat udara di dalam rumah akan
mengalami pencemaran. Hal ini sesuai dengan penelitian Achmadi (1990) yang dikutip
oleh Chahaya (2005), bahwa rumah yang padat sering kali menimbulkan gangguan
pernapasan terutama pada anak-anak dan pengaruh lain pada anak-anak adalah mereka
menekan tumbuh kembang mentalnya. Menurut hasil penelitian Hidayati (2003) yang di
kutip oleh Agustama (2005) menunjukkan bahwa dengan kepadatan rumah yang tidak
memenuhi syarat terhadap terjadinya ISPA pada balita sebesar 68% dimana jika terjadi
kepadatan dalam hunian kamar akan menyebabkan efek negatif terhadap kesehatan fisik,
mental maupun moril. Rumah dengan penghuni kamar yang padat akan memudahkan
terjadinya penularan penyakit saluran pernapasan.
Cara Pencegahan ISPA
Cara pencegahan berdasarkan level of prevention:
1. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)
Ditujukan pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan (health
promotion) dan pencegahan khusus (spesific protection) terhadap penyakit tertentu. Termasuk
disini adalah :
- Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini diharapkan dapat
mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-hal yang dapat meningkatkan
faktor resiko penyakit ISPA. Kegiatan penyuluhan ini dapat berupa penyuluhan
penyakit ISPA, penyuluhan ASI Eksklusif, penyuluhan imunisasi, penyuluhan gizi
seimbang pada ibu dan anak, penyuluhan kesehatan lingkungan, penyuluhan bahaya
rokok.
- Imunisasi, yang merupakan strategi spesifik untuk dapat mengurangi angka kesakitan
ISPA.
- Usaha di bidang gizi yaitu untuk mengurangi mal nutrisi.
- Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi berat badan lahir rendah.
- Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) yang menangani masalah polusi di
dalam maupun di luar rumah.
2. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Dalam penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan dan
diagnosis sedini mungkin. Dalam pelaksanaan program P2 ISPA, seorang balita
keadaan penyakitnya termasuk dalam klasifikasi bukan pneumonia apabila ditandai
dengan batuk, serak, pilek, panas atau demam (suhu tubuh lebih dari 370C), maka
dianjurkan untuk segera diberi pengobatan.
Upaya pengobatan yang dilakukan terhadap klasifikasi ISPaA atau bukan
pneumonia adalah tanpa pemberian obat antibiotik dan diberikan perawatan di
rumah. Adapun beberapa hal yang perlu dilakukan ibu untuk mengatasi anaknya
yang menderita ISPA adalah :
a. Mengatasi panas (demam).
b. Untuk balita, demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres
dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).
c. Pemberian makanan dan minuman
Memberikan makanan yang cukup tinggi gizi sedikit-sedikit tetapi sering,
memberi ASI lebih sering. Usahakan memberikan cairan (air putih, air buah) lebih
banyak dari biasanya.
3. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)
Tingkat pencegahan ini ditujukan kepada balita yang bukan pneumonia agar
tidak menjadi lebih parah (pneumonia) dan mengakibatkan kecacatan (pneumonia
berat) dan berakhir dengan kematian.
Upaya yang dapat dilakukan pada pencegahan Penyakit bukan pneumonia pada
bayi dan balita yaitu perhatikan apabila timbul gejala pneumonia seperti nafas
menjadi sesak, anak tidak mampu minum dan sakit menjadi bertambah parah, agar
tidak bertambah parah bawalah anak kembali pada petugas kesehatan dan pemberian
perawatan yang spesifik di rumah dengan memperhatikan asupan gizi dan lebih
sering memberikan ASI.
Cara Pencegahan Menurut Depkes RI, (2002) pencegahan ISPA antara lain:
1. Menjaga kesehatan gizi agar tetap baik
Dengan menjaga kesehatan gizi yang baik maka itu akan mencegah kita atau
terhindar dari penyakit yang terutama antara lain penyakit ISPA. Misalnya dengan
mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna, banyak minum air putih, olah raga
dengan teratur, serta istirahat yang cukup, kesemuanya itu akan menjaga badan kita tetap
sehat. Karena dengan tubuh yang sehat maka kekebalan tubuh kita akan semakin
meningkat, sehingga dapat mencegah virus / bakteri penyakit yang akan masuk ke tubuh
kita.

2. Imunisasi
Pemberian immunisasi sangat diperlukan baik pada anak-anak maupun orang
dewasa. Immunisasi dilakukan untuk menjaga kekebalan tubuh kita supaya tidak mudah
terserang berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh virus / bakteri.
3 Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
Membuat ventilasi udara serta pencahayaan udara yang baik akan mengurangi polusi
asap dapur / asap rokok yang ada di dalam rumah, sehingga dapat mencegah seseorang
menghirup asap tersebut yang bisa menyebabkan terkena penyakit ISPA. Ventilasi yang
baik dapat memelihara kondisi sirkulasi udara (atmosfer) agar tetap segar dan sehat bagi
manusia.
4 Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) ini disebabkan oleh virus/ bakteri yang
ditularkan oleh seseorang yang telah terjangkit penyakit ini melalui udara yang tercemar
dan masuk ke dalam tubuh. Bibit penyakit ini biasanya berupa virus / bakteri di udara yang
umumnya berbentuk aerosol (anatu suspensi yang melayang di udara). Adapun bentuk
aerosol yakni Droplet, Nuclei (sisa dari sekresi saluran pernafasan yang dikeluarkan dari
tubuh secara droplet dan melayang di udara), yang kedua duet (campuran antara bibit
penyakit).
2.2 Remaja
2.2.1 Definisi
Remaja adalah suatu masa dimana individu berkembang dari saat pertama kali
ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan
seksual. Masa remaja disebut juga sebagai masa perubahan, meliputi perubahan dalam
sikap, dan perubahan fisik.Remaja pada tahap tersebut mengalami perubahan banyak
perubahan baik secara emosi, tubuh, minat, pola perilaku dan juga penuh dengan
masalah-masalah pada masa remaja. Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan
sosial budaya daerah setempat. WHO membagi kurun usia dalam 2 bagian, yaitu remaja
awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun. Batasan usia remaja Indonesia usia 11-
24 tahun dan belum menikah. Menurut Hurlock, masa remaja dimulai dengan masa
remaja awal (12-24 tahun), kemudian dilanjutkan dengan masa remaja tengah (15-17
tahun), dan masa remaja akhir (18-21 tahun).4
2.2.2 Tahapan Remaja
Menurut Sarwono dan Hurlock ada tiga tahap perkembangan remaja, yaitu5
a. Remaja awal (early adolescence) usia 11-13 tahun
Seorang remaja pada tahap ini masih heran akan perubahan-perubahan yang terjadi
pada tubuhnya. Remaja mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan
jenis, dan mudah terangsang secara erotis.Pada tahap ini remaja awal sulit untuk mengerti
dan dimengerti oleh orang dewasa.Remaja ingin bebas dan mulai berfikir abstrak.
b. Remaja Madya (middle adolescence) 14-16 tahun
Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan teman-teman.Remaja merasa senang
jika banyak teman yang menyukainya. Ada kecendrungan“narcistic”, yaitu mencintai diri
sendiri, dengan menyukai teman-teman yang mempunyai sifat yang sama pada dirinya.
Remaja cenderung berada dalam kondisi kebingungan karena ia tidak tahu harus memilih
yang mana. Pada fase remaja madya ini mulai timbul keinginan untuk berkencan dengan
lawan jenis dan berkhayal tentang aktivitas seksual sehingga remaja mulai mencoba
aktivitas-aktivitas seksual yang mereka inginkan.
c. Remaja akhir (late adolesence) 17-20 tahun
Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa yang ditandai dengan
pencapaian 5 hal, yaitu :
- Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.
- Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang dan dalam
pengalaman-pengalaman yang baru.
- Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.
- Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri.
- Tumbuh “dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan public

2.2.3 Perkembangan Remaja


a. Perkembangan fisik
Perubahan fisik terjadi dengan cepat pada remaja.Kematangan seksual sering
terjadi seiring dengan perkembangan seksual secara primer dan sekunder.Perubahan secara
primer berupa perubahan fisik dan hormon penting untuk reproduksi, perubahan sekunder
antara laki- laki dan perempuan berbeda.Pada anak perempuan tampak perubahan pada
bentuk tubuh seperti tumbuhnya payudara dan panggul yang membesar.Puncak
kematangan pada remaja wanita adalah ketika mendapatkan menstruasi pertama
(menarche). Menstruasi pertama menunjukkan bahwa remajaperempuan telah
memproduksi sel telur yang tidak dibuahi, sehingga akan keluar bersama darah menstruasi
melalui vagina atau alat kelamin wanita. 4

b. Perkembangan emosi
Perkembangan emosi sangat berhubungan dengan perkembangan hormon, dapat
ditandai dengan emosi yang sangat labil.Remaja belum bisa mengendalikan emosi yang
dirasakannya dengan sepenuhnya.4

c. Perkembangan kognitif
Remaja mengembangkan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah dengan
tindakan yang logis.Remaja dapat berfikir abstrak dan menghadapi masalah yang sulit
secara efektif.Jika terlibat dalam masalah, remaja dapat mempertimbangkan beragam
penyebab dan solusi yang sangat banyak.4
d. Perkembangan psikososial
Perkembangan psikososial ditandai dengan terikatnya remaja pada kelompok
sebaya.Pada masa ini, remaja mulai tertarik dengan lawan jenis.Minat sosialnya bertambah
dan penampilannya menjadi lebih penting dibandingkan sebelumnya. Perubahan fisik yang
terjadi seperti berat badan dan proporsi tubuh dapat menimbulkan perasaan yang tidak
menyenangkan seperti, malu dan tidak percaya diri. 4

2.2.4 Masalah dan Tantangan Remaja


Berikut masalah – masalah kompleks yang sering di hadapi remaja, yaitu: 5
a. Masalah seksualitas
Masalah seksualitas pada remaja adalah seks pranikah. Menurut survey yang
dilakukan oleh Komnas Perlindungan Anak di 33 provinsi pada Januari-Juni 2008
didapatkan data 1) 97% remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno, 2) 93,7%
remaja SMP dan SMA pernah berciuman, genital stimulation, oral seks, 3) 62,7%
remaja SMP tidak perawan, 4) 21,2%remaja mengaku penah aborsi. Faktor yang paling
mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seksual adalah teman sebaya/pacar,
mempunyai teman yang setuju dengan hubungan seks pranikah, dan mempunyai teman
yang mempengaruhi untuk melakukan seks pranikah.
b. Masalah aborsi
Berdasarkan data Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI, Rakyat
Merdeka, Tahun 2006) didapatkan bahwa 2,5 juta perempuan pernah melakukan aborsi
per tahun, 27% dilakukan oleh remaja, dan sebagian besar dilakukan secara tidak aman.
Sekitar 30 – 35% aborsi ini adalah penyumbang kematian ibu
c. Masalah HIV/AIDS
Infeksi HIV atau AIDS merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan
tubuh manusia, melemahkan sistem kekebalan tubuhnya sehingga mudah terserang
berbagai penyakit.HIV/AIDS dapat menular lewat darah, cairan sperma, cairan vagina,
dan ASI.HIV/AIDS sangat mempengaruhi kehidupan penderitanya. Penderitanya akan
dikucilkan oleh masyarakat sehingga mereka meresa tidak percaya diri. Ditjen PP & PL
Kemenkes RI melaporkan bahwa pada tahun 2014 (sampai bulan September 2014)
terdapat 22.869 kasus HIV dan 1.876 kasus AIDS di Indonesia. Berdasarkan kelompok
umur, jumlah kasus AIDS terbanyak berada pada kelompok umur 20 – 29 tahun
d. Masalah penyalahgunaan narkoba
Narkoba menjadi masalah yang cukup serius bagi generasi muda.Selain
perkembangan kasusnya yang begitu pesat, nakoba juga dapat meracuni generasi muda
baik tubuh maupun pikirannya.Nakoba ini menjadi titik awal dari berbagai masalah
sosial dan kriminalitas, misalnya perampokan. Berdasarkan data BNN 2004,
menunjukkan bahwa 1,5% dari jumlah penduduk Indonesia (3.2 juta jiwa) adalah
pengguna narkoba. Dari jumlah tersebut, 78% diantaranya adalah remaja usia 20 – 29
tahun.

2.2.5 Perilaku Kesehatan Remaja


Perubahan perilaku kesehatan sebagai tujuan dari promosi atau pendidkan
kesehatan, mempunyai 3 dimensi, yakni:5
a. Mengubah perilaku negatif yang tidak sehat menjadi perilaku positif sesuai dengan nilai
– nilai kesehatan
b. Mengembangkan perilaku positif yaitu pembentukan atau pengambangan perilaku sehat
c. Memelihara perilaku yang sudah positif atau perilaku yang sudah sesuai dengan
norma/nilai kesehatan (perilaku sehat)
Langkah yang bisa di ambil untuk membangun kesadaran remaja berperilaku sehat yaitu:
1. Penyuluhan rutin mengenai AIDS, narkoba dan seks pranikah kepada remaja yang dapat
dilakukan di sekolah maupun secara umum.
2. Diskusi ilmiah mengenai masalah remaja dengan menghadirkan orang yang sudah
pernah mengalami, sehingga dapat berbagi pengalaman.
3. Mengadakan buku-buku yang khusus membahas masalah tersebut dan dikemas secara
menarik, misal dalam bentuk komik atau novel.
4. Memasukkan materi mengenai kesehatan reproduksi ke dalam materi pelajaran di
sekolah. Materi kesehatan reproduksi ini dapat disisipkan pada pelajaranbiologi dan
penjaskes untuk hal-hal yang bersifat pengetahuan anatomi dan medis, serta pelajaran
pendidikan agama atau kewargaan negara untuk penanaman moral dan etika
kepribadian.
5. Mengadakan penyuluhan kepada orangtua mengenai masalah remaja supaya orang tua
lebih meningkatkan pengawasan terhadap anaknya. Kegiatan ini dapat dilakukan
melalui kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) atau kelompok kegiatan
lainnya.Mengadakan kegiatan peduli remaja, seperti pemeriksaan kesehatan remaja,
penyuluhan gizi remaja, pembinaan mental keagamaan, kegiatan pelatihan, dsb.

2.3 Kedokteran keluarga


Kedokteran keluarga merupakan disiplin akademik profesional, yaitu pengetahuan
klinik yang diimplementasikan pada komunitas keluarga. Doter harus memahami manusia
bukan hanya sebagai makhluk biologik, tetapi juga makhluk sosial. Dalam hal ini harus
memahami hakikat biologik, psikologik, sosiologik, ekologik, dan medik. 12,17,18
a. Hakikat biologik
Kedokteran keluarga memperhatikan pula perihal dinamika kehidupan
keluarga sebagai makhluk biologis, yaitu masuk keluarnya seseorang anggota
keluarga dalam organisasi keluarga. Mulai dari proses para-konsepsi/ para-nikah
sampai lahirnya anak, atau bertambahnya jumlah anggota keluarga. Bertambahnya
usia kemudian meninggal, atau anggota keluarga yang pindah tempat, sehingga
berkurang jumlah anggota keluarga.
Untuk lebih terinci menilai permasalahan keluarga, dinilai dari kualitas hidup
keluarga serta fungsi keluarga, yaitu peranan fungsi biologis keluarga perihal yang
berkenaan dengan organ sistem terpadu dari individu dan anggota keluarga lainnya
yang mempunyai risiko, meliputi adanya faktor keturunan, kesehatan keluarga, dan
reproduksi keluarga, yang semuanya berpengaruh terhadap kualitas hidup keluarga.
b. Hakikat psikologik
Sebagai makhluk sosial, manusia mempunyai aktivitas dan tingkah laku yang
merupakan gambaran sikap manusia yang menentukan penampilan dan pola perilaku
dan kebiasaannya.
c. Hakikat sosiologik
Dalam kehidupannya manusia berhubungan dengan sesama baik lingkup
keluarga, pekerjaan, budaya, dan geografis, yang menimbulkan berbagai proses dan
gejolak. Kebijaksanaan yang digunakan dokter keluarga adalah yang berorientasikan
penyakit/ permasalahan yang berhubungan dengan :
- Proses dinamika dalam keluarga
- Potensi keluarga
- Kualitas hidup yang dipengaruhi oleh budaya positif
- Pendidikan dan lingkungannya
d. Hakikat ekologik
Ekologi dalam kedokteran keluarga membahas manusia seutuhnya dalam
interaksinya dengan sesamanya dan spesies lainnya juga hubungannya dengan
lingkungan fisik dalam rumah tangganya.
e. Hakikat medik
Temuan-temuan di bidang teknologi kedokteran akan juga mempengaruhi
ilmu kedokteran keluarga. Pergeseran pola perilaku dan pola penyakit, akan
mempengaruhi pola pelayanan kesehatan. Karena itu, kedokteran keluarga sebagai
ilmu akan berkembang dalam bidang yang mempengaruhi kesehatan, kesejahteraan,
dan kebahagiaan keluarga. 17
Pendekatan kedokteran keluarga \
Prinsip dalam kedokteran keluarga adalah pendekatan keluarga. Pendekatan
keluarga merupakan serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang terencana, terarah,
untuk menggali, meningkatkan, dan mengarahkan peran serta keluarga agar dapat
memanfaatkan potensi yang ada guna menyembuhkan anggota keluarga dan
menyelesaikan masalah kesehatan keluarga yang mereka hadapi. Dalam pendekatan ini
diberdayakan apa yang dimiliki oleh keluarga dan anggota keluarga untuk menyembuhkan
dan menyelesaikan maslaah keluarga. Hal ini dapat dilakukan bila memahami profil dan
fungsi keluarga.18
Pelayanan kedokteran keluarga merupakan pelayanan yang bersifat komprehensif,
meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Materi kedokteran keluarga
pada hakikatnya merupakan kepedulian dunia kedokteran perihal masalah-masalah
ekonomi dan sosial, disamping masalah organobiologik, yaitu ditujukan terhadap
pengguna jasa sebagai bagian dalam lingkungan keluarga. Demikian pula pemanfaatan
ilmunya yang bersifat menyeluruh, yaitu pelayanan terhadap masalah organ, mental-
psikologikal dan sosial keluarga.17,18
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas penderita dan keluarga


Identitas Penderita
Nama : Nn.NS
Umur : 19 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status perkawinan : Belum kawin
Alamat : Rowosari Tampirejo RT 01/RW 05 , Semarang
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa
Pendidikan :SMK
Pekerjaan : Karyawan swasta
Identitas Kepala Keluarga
Nama : Tn.SH
Umur : 56 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status perkawinan : Kawin
Alamat : Rowosari Tampirejo RT 01/RW 05, Semarang
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Penyapu jalan
3.2 Resume penyakit dan penatalaksanaan yang sudah dilakukan
A. ANAMNESIS
Autoanamnesis dengan pasien pada 11 September 2019 di puskesmas Rowosari
pukul 11.00 WIB
Keluhan utama: Batuk dan pilek
5 hari sebelum ke Puskesmas,pasien mengeluh batuk dan pilek. Batuk dirasakan
terus-menerus. Batuk dirasakan berdahak. Pilek berwarna kekuningan dan kental.
Keluhan ini disertai dengan demam. Demam tidak diukur , pasien belum minum obat
penurunan demam. sesak (-), suara serak (-), tidur mendengkur (-). Nafsu makan
pasien masih baik, anak aktif. BAB dan BAK tidak ada keluhan.
Riwayat Penyakit Dahulu :
 Riwayat keluhan yang sama satu tahun yang lalu
 Riwayat alergi disangkal
 Riwayat asma disangka
Riwayat Penyakit keluarga:
 Riwayat alergi disangkal
 Riwayat anggota keluarga dengan keluhan serupa disangkal
 Riwayat asma disangkal
Lain-lain:
 Riwayat terpapar asap rokok disangkal. Di lingkungan rumah tidak ada yang
merokok.
B. PEMERIKSAAN FISIK
Tanggal 11 September 2019 pukul 11.00 WIB di Puskesmas Rowosari
Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmentis, GCS E4M6= 15
Tanda vital :
o Nadi : 86 x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup
o Laju Napas : 16 x/menit, kussmaul (-)

o Suhu : 38,30 C (axiller)


Status Antropometri:
BB: 48 kg WAZ : 2,11
TB: 156 cm BMI for AGE : 1,22
LK: 50 cm HAZ : 2,66
Lila: 18 cm BMI : 19,72
Kesan: gizi baik, perawakan normal, mesosefal
Status Internus
Kepala : mesosefal
Mata : konjungtiva palpebral anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Telinga : discharge (-), nyeri tekan (-)
Hidung : nafas cuping hidung (-), epistaksis (-), discharge (-)
Mulut : drolling (-), bibir pucat (-), sianosis (-), karies gigi (-)
Tenggorokan : Tonsil T1-T1, hiperemis (+), kripte (-), detritus (-), eksudat (-)
faring hiperemis (+), eksudat dinding faring (+), granula dinding
faring (-)
Leher : simetris, pembesaran KGB (+/+)
Thorax : simetris, bentuk normal, retraksi (-), sela iga melebar (-)
Paru-paru :
Paru Anterior :
Inspeksi : Simetris saat statis dan dinamis
Palpasi : Stem fremitus dextra = sinistra
Perkusi : Sonor seluruh lapangan paru
Auskultasi : SD vesikular (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Paru Posterior :
Inspeksi : Simetris saat statis dan dinamis
Palpasi : Stem fremitus dextra = sinistra
Perkusi : Sonor seluruh lapangan baru
Auskultasi : SD vesikular (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung :
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba di SIC V 2 cm lateral dari mid clavicula
sinistra, kuat angkat (-), pulsasi parasternal (-), pulsasi
epigastrial (-), sternal lift (-)
Perkusi : Konfigurasi jantung dalam batas normal
Auskultasi : Bunyi jantung I-II murni, bising (-), gallop (-)
Abdomen :
Inspeksi : cembung, venektasi (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal, bruit hepar (-)
Perkusi : Timpani, pekak sisi (+) normal, pekak alih (-), area traube
timpani
Palpasi : Supel, hepar dan lien tak teraba, nyeri tekan (-),turgor kulit
kembali cepat
Ekstremitas : Superior Inferior
Akral dingin -/- -/-
Edema -/- -/-

Pembesaran KGB axilla -/-


Pembesaran KGB inguinal -/-
Capillary refill <2”/<2” <2”/<2”
Petekie -/- -/-
Motorik 5-5-5/5-5-5 5-5-5/5-5-5

C.HASIL LABORATORIUM DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang
D.DIAGNOSIS KERJA
ISPA dd: Bakterial
Gizi baik, perawakan normal
E.RENCANA PENATALAKSANAAN
Terapi medikamentosa:
- Paracetamol 500 mg / 8 jam (PO)
- Amoksisilin 500mg / 8 jam (PO)
- N-Asetilsistein 200 mg / 8 jam (PO)
- CTM 4mg / 8jam (PO)
Terapi nonmedikamentosa:
1. Penjelasan mengenai diagnosis ISPA, etiologi, dan cara penularan
2. Melatih etika bersin dan batuk yang benar agar mencegah penularan
penyakit kepada orang lain
3. Istirahat cukup
4. Menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makan bergizi dan
olahraga teratur untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan mengurangi
risiko penularan infeksi.
5. Menghindari paparan asap rokok, debu yang mengiritasi saluran nafas
6. Makan makanan lunak dan menghindari makan makanan yang mengiritasi
tenggorok (makanan yang terlalu dingin, terlalu panas)
7. Selalu menjaga kebersihan mulut. Sikat gigi setelah makan dan sebelum
tidur (minimal dua kali sehari). Berkumur dengan air yang hangat dan
berkumur dengan obat kumur antiseptik untuk menjaga kebersihan mulut.
8. Mencuci tangan secara teratur dan latihan cuci tangan 7 langkah

F. ASSESMENT TOOLS

A. Pengetahuan Mengenai NAPZA

Pasien masih belum mengetahui dengan jelas apa itu NAPZA dan bahayanya
untuk kesehatan dan kehidupan remaja secara umum. Pasien berkeinginan untuk
mengetahui lebih lanjut mengenai NAPZA, rokok, dan bahayanya serta bagaimana cara
menghindarinya.

B. Pengetahuan Mengenai Seks Bebas

Pengetahuan pasien mengenai kesehatan reproduksi dan seks bebas beserta


bahaya dari seks bebas itu sendiri juga masih kurang.Pendidikan dari sekolah maupun
dari orangtua di rumah jarang menyinggung masalah ini di samping itu pasien juga
merasa malu untuk menanyakan hal yang berkaitan dengan kesehatanreproduksi.

C. HEEADSS

Pasien tinggal bersama ayahnya. Ibunya sudah meninggal. Kakak-kakanya telah


tinggal di rumah sendiri. Bahasa yang biasa digunakan di rumah adalah bahasa Jawa
dan bahasa Indonesia. Pasien merasa dekat dengan semua anggota
keluarganya.Apabilaada masalah, pasien akan menceritakan pada ayahnya terlebih
dahulu. Tidak ada kekerasan dalam rumah tangga di keluarga pasien.Pasien saat ini
bekerja sebagai pramuniaga di toko aneka jaya. Pasien bekerja bias pagi sampai siang
atau siang sampai malam tergantung pembagian shift oleh bosnya. Pasien mengatakan
bahwa teman kerjanya ramah-ramah. Apabila ada masalah dengan pekerjaannya, pasien
bercerita kepada ayahnya. Pasien rajin bekerja dan merasa senang dengan lingkungan
kerjanya.
Pasien selalu sarapan sebelum beraktivitas di pagi hari, dan makan siang di
warung dekat tempat kerja atau di rumah setiap harinya.Pasien makan malam di rumah
terkadang di tempat kerjanya jika dia bekerja sampai malam. Hobi pasien adalah
bermain bulutangkis.Kegiatan sehari-hari pasien meliputi menonton televisi, bermain
handphone, bermain dengan teman sebaya dan membantu orang tua. Pasien menonton
tv 2-3 jam setiap harinya. Namun penggunan handphone tidak dibatasi. Pasien cukup
puas dengan diri pasien saat ini.

D. Strengths and Difficulties Questionnaire


Tabel 1. Strengths and Difficulties Questionnaire
























Interpretasi:
Skor gejala emosional 4
Skor masalah perilaku 4
Skor hiperaktivitas 3
Skor hubungan dengan teman sebaya 2
Skor kesulitan 13
Skor perilaku prososial
Kesan: Normal

3.3 Profil keluarga


Tabel 2. Profil keluarga
Kedudukandalam Umur
No Nama Sex Pendidikan Pekerjaan Keterangan
Keluarga (th)
1. Tn. SH Kepala keluarga L 60 SMP Penyapu Sehat
jalan
2. Nn.NS Anak P 19 SMK Karyawan Sakit
swasta

3.4 Family assessment tools


Genogram
Gambar 2. Genogram

Tn.PG Ny.L Tn.P Ny.N


B 1943 B B B
D 60 th 1944 1942 1942
Penyakit D 52 D66 th D 69
jantung th Tdk th
Gagal diketa Penya
ginjal hui kit
jantun
g

Tn.SH Ny.IK
B B 1961
1961 D 48 th
58 th Penyakit
jantung

Nn.DN Tn.AF Ny.DF


B 1983 B B Nn.NS
36 th 1987 B
1990
32 th 29 th 2000
19 th
 Tanggal pembuatan genogram: 11 September 2018 pukul 10.00
 Pemberi informasi: Nn. NS
 Jenis keluarga: nuclearfamily
 B: lahir
 D: meninggal
: Perempuan

: Laki-laki

: Meninggal

: Pasien

: Tinggal serumah

Family mapping
Gambar 3. Family mapping

Tn. Nn.
SH NS

1. Disfungsional
Hubungan antara anggota keluarga tidak erat
2. Fungsional
Hubungan antara keluarga erat
3. Enmeshed/over-involved/terlalu ikut campur
Hubungan antara keluarga yang terlalu ikut campur
4. Clear Boundaries (Batasan yang jelas)
Menolong keluarga mempertahankan otonomi dan privasi individual tanpa
mengurangi rasa saling memiliki dan interdependensi dalam keseluruhan
keluarga.
5. Rigid Boundaries (Batasan yang terlalu kaku)
Membuat anggota keluarga menjadi berjarak dan saling terisolasi. Otonomi
mungkin tetap ada namun sulit mempertukarkan keterlibatan dan afeksi satu
sama lain.
6. Diffused Bondaries (Batasan yang terlalu buram)
Membuat masing-masing anggota keluarga sangat mudah terganggu oleh
campur tangan anggota keluarga lainnya.Perkembangan kemandirian menjadi
terhambat.

Kesimpulan  Hubungan antara pasien dengan kedua orang tua dan kakak
perempuan dalam keadaan yang fungsional
Family APGAR-Score
Tabel 3. Family APGAR-Score

KOMPONEN INDIKATOR
A B
Saya puas bahwa saya dapat kembali pada
keluarga (teman-teman) saya, untuk 2
Adaptation 2
membantu saya pada waktu saya mendapat
kesusahan
Saya puas dengan cara keluarga (teman-
teman) saya, untuk membicarakan sesuatu 1
Partnership 2
dengan saya dan mengungkapkan masalah
dengan saya.
Saya puas bahwa keluarga (teman-teman)
saya, menerima dan mendukung keinginan 1
Growth 2
saya untuk melakukan aktifitas atau arah
baru.
Saya puas dengan cara keluarga (teman-
teman) saya, mengekspresikan afek dan 2
Affection 1
berespon terhadap emosi-emosi saya
seperti marah sedih atau mencintai.
Saya puas dengan cara keluarga (teman-
Resolve teman) saya, dan saya menyediakan waktu 2 2
bersama-sama.
TOTAL SKOR 9 8
Keterangan :
A : Tn. SH ( Ayah pasien)
B : Nn.NS (Pasien)
Kesan :
a. Tn. SH ( Ayah pasien) : 9, keluarga pasien fungsional
b. Nn.NS (Pasien) : 8 keluarga pasien fungsional
Family SCREEM
Tabel 4. Family SCREEM
Variabel Resource Pathology
Social Komunikasi pasien dengan kedua orang tua dalam -
keadaan baik dan harmonis. Komunikasi pasien
dengan tetangga baik dan teman kerja pasien baik
Cultural Pasien dan ayahnya merupakan suku Jawa dan -
lama hidup di Jawa, namun tidak percaya akan hal-
hal berbau mistis
Religion Seluruh anggota keluarga menganut agama Islam. -
Setiap hari rajin mengaji dan sholat lima waktu.
Economic Pasien seorang karyawan swasta. Ayah pasien -
bekerja sebagai penyapu jalan. Penghasilan
keluarga ± Rp. 3.000.000 perbulan. Keluarga
pasien memiliki kendaraan pribadi yaitu 1 motor.
Uang yang didapat ada yang disisihkan untuk
ditabung.
Education Pendidikan terakhir pasien merupakan SMK dan -
pendidikan terakhir ayah pasien adalah SMP.
Medical Pasien mengetahui bahwa pasien sedang sakit Pasien belum
radang tenggorokan. Seluruh anggota memiliki bisa
BPJS. menghindari
makanan
berminyak
dan es.

Family Life line


Tabel 5. Family life line
Tahun Usia Life Event Severity of Illness
2000 0 Lahir
2000 0 th Imunisasi lengkap
2002 2 th Imunisai booster (+)
2004 4 th Pasien masuk TK
2006 6 th Pasien masuk SD
2012 12 th Pasien masuk SMP , mulai sering ada
kegiatan ekstrakulikuler sehingga
pasien jarang makan di rumah.
2015 15 th Pasien masuk SMK grafika. Pasien
menikmati sekolah sesuai bidang yang
diinginkan
2019 19 th Pasien bekerja sebagai pramuniaga di
took aneka jaya

Family cycle
Family life cycle melukiskan berbagai tahapan perkembangan dalam status
keluarga dan menjelaskan cara sebuah keluarga berfungsi. Pada setiap tahapan keluarga
memproyeksikan berbagai identitas dan peran, pemenuhan yang akan memastikan
kemajuan ke tahap berikutnya atau lebih tinggi. Berdasarkan 8 tahap oleh Duvall 1967,
keluarga Nn.NS termasuk dalam tahap ke 7 yaitu keluarga dengan anak yang telah
meninggalkan rumah. Hubungan pasien dengan keluarga baik, setiap hari selalu
berkumpul bersama-sama
3.5 Identifikasi fungsi-fungsi keluarga
Fungsi Keluarga pada keluarga Nn.NS adalah sebagai berikut:
1. Fungsi Biologis
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit kronis selama 2 bulan terakhir.Pasien berusia
19 tahun dengan ISPAdan satu tahun yang lalu mempunyai riwayat penyakit yang sama.
Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita penyakit yang sama. Tidak ada
anggota keluarga yang meninggal dalam satu tahun terakhir
2. Fungsi Psikologis
Pasien tinggal bersama ayah, ibu, dan kakak kandung pasien. Hubungan antara pasien
dengan keluarga baik. Pasien merupakan seorang karyawan swasta. Pasien mempunyai
kepribadian cukup terbuka terhadap orang lain. Waktu luang diisi dengan melakukan
beres-beres rumah, bermain media sosial, atau menonton tv di rumah. Bila ada masalah
dalam keluarga, dibicarakan dan dirundingkan dengan anggota keluarga lain.
3. Fungsi Ekonomi
Biaya kebutuhan sehari-hari pasien dipenuhi oleh ayah dan pasien. Pendapatan ayah
dan pasien perbulan kurang lebih Rp 3.000.000 . Pasien dan keluarga sudah tergabung
dalam BPJS PBI.
4. Fungsi Pendidikan
Pasien merupakan lulusan SMK grafika. Ayah pasien tamatan SMP .
5. Fungsi Religius
Pasien menganut agama Islam, anggota keluarga lainnya juga menganut agama yang
sama dan taat beribadah.
6. Fungsi Sosial dan Budaya
Pasien dan keluarga tinggal di Kelurahan Tampirejo Kecamatan Rowosari, Kota
Semarang. Pasien dapat bersosialisasi dengan lingkungan di sekitar rumah. Hubungan
dengan tetangga dekat terjalin cukup baik
7. Fungsi Penguasaan Masalah dan Kemampuan Beradaptasi
Pasien mengetahui jika dirinya sakit dan berharap cepat sembuh agar bisa beraktivitas
seperti sebelumnya. Jika ada masalah pasien bercerita ke ayah pasien.

3.6 Perilaku Hidup Sehat


Tabel 6. Perilaku Hidup Sehat
Indikator Suami Istri Balita bayi 0- Keluarga
6 bl
Keluarga mengikuti KB NA
Ibu bersalin di faskes NA
Bayi mendapat imunisasi NA NA
dasar lengkap
Bayi diberi ASI eksklusif NA NA
selama 6 bulan
Pertumbuhan balita NA NA
dipantau tiap bulan
Penderita TB paru berobat NA N NA
sesuai standar A
Penderita hipertensi berobat NA N NA
Teratur A
Gangguan jiwa berat tidak NA N NA
Ditelantarkan A
Tidak ada anggota keluarga Y 1
yang merokok
Keluarga Y Y Y 1
memiliki/memakai air
bersih
Keluarga Y Y Y 1
memiliki/memakai
jamban sehat
Sekeluarga menjadi Y Y Y 1
anggota JKN/Askes
Indeks Keluarga Sadar Kesehatan 4/4
(KS)

3.7 Hasil kunjungan rumah


Kunjungan dilakukan pada tanggal 15 September 2019 pukul 12.30
1. Keadaan rumah
Ukuran :12 x 10 m
Penghuni :2 orang (Ayah pasien dan pasien)
Dinding rumah : kayu
Lantai rumah : keramik
Atap : genting
Ruangan :1 ruang tamu, 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1 dapur ,
1 ruang keluarga.
Ventilasi : ada, luas >10% dari luas lantai
Pencahayaan : kurang
Kebersihan : cukup
Sumber air :untuk mandi, mencuci, dan memasak menggunakan air
Sumur . Memiliki tempat penyimpanan air artesis
dengan ember untuk persediaan air memasak , ember
tidak ditutup dan di kuras.
Tempat sampah :sampah dikumpulkan di bak sampah di depan rumah ,
kemudian ada petugas yang mengambil sampah.
Jendela dan pintu rumah setiap hari dibuka. Lantai kamar jarang disapu. Pasien dan
keluarga memiliki sepeda motor, lemari, tempat tidur, lemari es, alat perlengkapan
dapur dan setrika listrik.
2. Sarana sanitasi
Sarana pembuangan air limbah (SPAL) di rumah keluarga dialirkan ke selokan
tertutup yang mengalir ke depan rumah.. Sarana air bersih dari air sumur tanah.
Jamban keluarga ini adalah jamban bentuk leher angsa. Tempat penampungan air
dikuras 1 kali seminggu.
3. Akses ke sarana kesehatan
Jarak dari rumah ke Puskesmas Rowosari kurang lebih 10 menit dengan
menggunakan sepeda motor
4. Denah rumah
Kamar
Dapur mandi

Kamar
Ruang tidur 2
keluarga
Kamar
Ruang tidur 1
tamu

3.8 Lingkungan pekerjaan


Pasien seorang karyawan swasta di toko aneka jaya. Pasien mengatakan lingkungan
kerjanya cukup baik dan pasien merasa nyaman bekerja disana. Pasien setiap hari
menggunakan motor untuk bekerja tanpa menggunakan masker dan helm yang tertutup
dengan kaca depan. Pasien juga belum memiliki kebiasaan mencuci tangan dengan
sabun setelah beraktivitas sehingga meningkatkan risiko terkena infeksi baik viral,
bakterial, maupun parasit. Pasien juga memiliki kebiasan untuk mengonsumsi
minuman es dan makan makanan berminyak.
3.9 Pengetahuan kedokteran wisata
Keluarga pasien merencanakan terlebih dahulu apabila akan berwisata, biasanya
dengan akomodasi kendaraan bermotor, pasien dan keluarga sudah mengerti
pentingnya menggunakan helm, memakai sabuk pengaman, dan berkendara yang
aman. Pasien dan ayah pasien jarang berwisata karena lebih senang menghabiskan
waktu di rumah.
3.10 Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan

GENETIK

YANKES STATUS LINGKUNGAN


KESEHATAN
Puskesmas Rowosari ± Dinding belum permanen, ventilasi dan
10 menit menggunakan pencahayaan kamar kurang, memiliki
sepeda motor kamar mandi dan jamban keluarga,
kebersihan rumah cukup baik
PERILAKU

Pasien memiliki kebiasaan makan


berminyak dan minum es , jajan
sembarangab

3.11 Diagnostik holistic


a. Aspek 1
Keluhan : Batuk dan pilek
Kekhawatiran : khawatir tidak lekas sembuh, susah makan
Harapan : gejala yang dirasakan menghilang, sehat kembali
b. Aspek 2
Remaja perempuan 19 tahun dengan ISPA bakterial, gizi baik, perawakan
normal
c. Aspek 3
Usia : 19 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Genetik : tidak didapatkan penyakit keturunan dalam keluarga.
Pendidikan : SMK
Perilaku olahraga : Pasien dan keluarga tidak olahraga rutin.
Pola makan : Kebiasaan pasien makan 3x/hari dengan menu nasi,
sayur, lauk yang digoreng (tahu/tempe/ayam/ikan/telur) dan buah. Menu
makanan cukup bervariasi. Air minum berasal dari sumber mata air yang
dimasak terlebih dahulu.
Pola istirahat : Pasien tidur teratur 7 jam/hari
Kebiasaan : Tidak cuci tangan sebelum makan, tidak sikat gigi
malam, sering jajan diluar dan makan makanan
berminyak serta minum minuman es
Spiritual : Agama Islam, rajin beribadah
d. Aspek 4
Lingkungan rumah bersih namun kurang pencahayaan. Dinding rumah belum
permanen, ventilasi dan pencahayaan kamar kurang, memiliki kamar mandi
dan jamban keluarga. Tidak terdapat anggota keluarga yang merokok.Sehari-
hari pasien bekerja dan bersih-bersih rumah. Interaksi pasien dengan keluarga
baik.

e. Aspek 5
Derajat fungsional 1 (pasien masih dapat beraktivitas seperti biasa)
3.12 Rencana penatalaksanaan komprehensif
A.Patient Centered Care
 Promotif :
- Mengedukasi pasien cuci tangan menggunakan sabun setelah beraktivitas dan
sebelum makan.
- Mengedukasi pasien sikat gigi setelah makan dan sebelum tidur, minimal 2 kali
sehari dengan cara yang benar untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut
- Pola makan: menu makan seimbang dan bervariasi. Jika sulit makan karena nyeri
telan, makan dalam porsi kecil tapi sering. Hindari makanan yang mengiritasi
tenggorok seperti makanan berminyak,es, dan ciki.
- Istirahat yang cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
- Menggunakan masker atau helm dengan penutup setiap berangkat bekerja
 Preventif :
- Edukasi etiologi dan cara penularan faringitis akut
 Kuratif :
- Parasetamol 500 mg / 8jam (PO)
- Amoksisilin 500 mg / 8 jam (PO)
- N-asetilsistein 200 mg / 8 jam (PO)
- CTM 4 mg / 8 jam (PO)

 Rehabilitatif :
- Belum dibutuhkan upaya rehabilitatif
B. Family Focused
 Promotif
- Mengedukasi keluarga cuci tangan menggunakan sabun setelah beraktivitas dan
sebelum makan.
- Mengedukasi keluarga sikat gigi setelah makan dan sebelum tidur, minimal 2 kali
sehari dengan cara yang benar untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut.
- Mengedukasi keluarga agar membersihkan rumah secara teratur
- Mengedukasi untuk memakai masker setiap berangkat bekerja
 Preventif
- Mengedukasi keluarga mengenai ISPA, tanda dan gejala, serta pencegahannya.
- Mengedukasi etika batuk dan bersin agar mencegah penularan.
- Mengedukasi keluarga untuk mengurangi makan gorengan dan minuman
kemasan agar tidak menimbulkan iritasi/radang pada saluran napas.
- Pintu dapat dibuka untuk menambah ventilasi rumah
- Mengedukasi keluarga agar mencari fasilitas kesehatan saat berwisata
sehingga mengetahui informasi kesehatan yang perlu diperhatikan dan
akses terdekat pelayanan kesehatan wisata.
 Kuratif
- Mengedukasi pasien agar minum paracetamol jika masih demam dan
menghabisakan antibiotic yang telah diberikan
 Rehabilitatif
- Belum dibutuhkan upaya rehabilitatif

C.Community Oriented
 Promotif
- Mengedukasi lingkungan sekitar rumah untuk cuci tangan
menggunakan sabun setelah beraktivitas dan sebelum makan.
- Mengedukasi tetangga agar membersihkan lingkungan sekitar rumah secara
teratur.
 Preventif
- Mengedukasi tetangga agar memperhatikan etika batuk dan bersin agar mencegah
penularan.
- Mengedukasi tetangga untuk mendukung pasien dan orang lain yang sakit serupa
untuk mengurangi makan gorengan dan minuman kemasan agar tidak
menimbulkan iritasi/radang pada saluran napas
- Penggunaan masker pada orang orang yang sedang sakit agar tidak menular
- Penggunaan masker atau helm penutup saat naik motor dan jika berada di
lingkungan yang berdebu
• Kuratif
- Perlunya motivasi yang diberikan oleh tetangga dan teman bermain agar pasien
dapat istirahat cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
• Rehabilitatif
- Tidak membutuhkan upaya rehabilitative

3.13 Hasil pembinaan


Risiko dan Intervensi Follow Up
Masalah 12/9/2109 14/9/2019
Kesehatan
ISPA Konseling mengenai: - Pasien dan keluarga sudah
- Cuci tangan pakai sabun memahami cara cucitangan
setelah beraktivitas dan pakai sabun, sikat gigi
sebelum makan. yang baik, dan etika batuk
- Pelatihan langkah cuci tangan bersin serta mau
- Sikat gigi setelah makan dan menerapkannya.
sebelum tidur, minimal 2x - Pasien dan keluarga mau
sehari dengan cara yang benar untuk makan makanan bergizi
- Pelatihan sikat gigi yang benar dan mengingatkan pasien agar
- Etika batuk dan bersin istirahat cukup.
- Memakai masker atau helm - Pasien mau untuk
dengan penutup saat berkendara menggunakan masker saat
menggunakan motor berkendara menggunakan
- Makan makanan bergizi dan motor
istirahat cukup untuk
meningkatkan daya tahan
tubuh.
- Memberikan Pesan Umum
Gizi Seimbang (PUGS)
- Minum paracetamol jika
masih demam.
- Menghabiskan
antibiotik yang
telah diberikan
Tidak menutup Mengedukasi pasien dan keluarga Pasien sudah menutup
dan menguras untuk selalu menutup dan tempat penampungan air dan
tempat menguras tempat penyimpanan air menguras penampungan air
penyimpan air agar tidak menjadi tempat nyamuk
berkembang biak.
Tidak - Mengedukasi pasien dan Pasien sudah memahami
mengetahui keluarga pasien mengenai pentingnya ventilasi rumah
pentingnya pentingnya ventilasi rumah untuk sirkulasi udara dan
ventilasi agar pencahayaan rumah pencahayaan dalam rumah
rumah dan cukup
menjaga - Edukasi untuk membersihkan - Pasien sudah mau untuk
kebersihan rumah setiap hari membersihkan rumah
rumah setiap hari
Kesimpulan tidak lanjut:
Tingkat pemahaman : baik
Faktor pendukung : pasien mengerti dan berjanji melakukan saran yang diberikan.
Faktor penghambat : Tidak ada
Indikator keberhasilan : pasien mengetahui, mengulangi edukasi yang diberikan, dan
pasien melakukan perubahan perilaku.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Penatalaksanaan pasien remaja perempuan 19 tahun dengan ISPA
bakterial, gizi baik, perawakan normal dengan pendekatan kedokteran
keluarga adalah sebagai berikut:
A. Terapi medikamentosa:
Paracetamol 500 mg/ 8 jam (PO)
Amoksisilin 500 mg / 8 jam (PO)
N-asetilsistein 200 mg/ 8 jam (PO)
CTM 4 mg / 8 jam (PO)
B. Terapi non medikamentoda:
1. Edukasi mengenai cara penularan ISPA, tanda dan gejala ISPA
2. Edukasi kepada keluarga ketika bersin atau batuk untuk menutup dengan
tisu/tangan agar mencegah penularan penyakit kepada orang lain
3. Edukasi tentang pola hidup sehat seperti: cuci tangan teratur terutama
setelah beraktivitas di tempat umum, sikat gigi setelah makan dan
sebelum tidur minimal dua kali sehari, diet kaya serat dan vitamin untuk
meningkatkan daya tahan tubuh, olahraga secara teratur dan istirahat
cukup untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan mengurangi risiko
penularan infeksi, memakai masker saat berkendara menggunakan
motor
C. Pembinaan terhadap pasien dan keluarga
1. Mengedukasi pentingnya menutup dan menguras tempat penampungan air
dalam upaya mencegah perkembangbiakan nyamuk di dalam rumah
2. Mengedukasi pasien akan pentingnya ventilasi yang cukup di rumah untuk
pencahayaan dan sirkulasi udara.

4.2 Saran
Untuk kesembuhan dan meningkatkan kualitas hidup remaja dengan ISPAdiperlukan
pelayanan kedokteran keluarga berupa pelayanan secara holistik, menyeluruh atau
komprehensif, berkesinambungan, dan terintegrasi, dengan pusat pelayanan yaitu keluarga
sebagai suatu unit.
DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan RI. 2005. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi


Saluran Pernapasan. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Direktorat
Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
http://125.160.76.194/bidang/yanmed/farmasi/Pharmaceutical/ISPA.pdf
(Diakses: 13 April 2013)
2. DepKes RI. 2001. Pedoman Pemberantasan Penyakit ISPA. Jakarta
3. Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan. 2011. Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran
Pernapasan Akut. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI
4. Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumonia Pada Anak
Balita, Orang Dewasa, Usia Lanjut. Jakarta : Pustaka Obor Populer
5. Rasmaliah. 2004. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan
Penanggulangannya. Fakultas Kesehatan Masyrakat Universitas Sumatera Utara.
http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-rasmaliah9.pdf (Diakses: 13 April
2013)
6. WHO (2007). Pencegahan dan pengendalian infeksi saluran pernapasan akut
(ISPA) yang cenderung menjadi epidemi dan pandemi di fasilitas pelayanan
kesehatan. WHO Interim Guidelines. Available from:
http://www.who.int/csr/resources/publications/csrpublications/en/index7.html
(Diakses: 12 April 2013)
7. WHO (2008). Pengenalan dini, pelaporan, dan manajemen pencegahan dan
pengendalian infeksi ISPA yang berpotensi menimbulkan kekhawatiran.
8. Laksmiwati A. 2011. Transformasi social dan perilaku reproduksi Remaja
Yogyakarta : UGM.
9. Retnowati S, 2011. Remaja dan permasalahannya. Yogyakarta:UGM
10. Khairani EN. 2011. Tonsilofaringitis Akut. Makalah. Fakultas Farmasi
Universitas Andalas. Padang.
11. Lebuan AW, Somia A. 2017. Faktor yang Berhubungan dengan Infeksi Saluran
Pernapasan Akut pada Siswa Taman Kanak-kanak di Kelurahan Dangin Puri
Kecamatan Denpasar Timur Tahun 2014. E-Jurnal Medika, 6 (6): 1 – 8
12. Miriam T. Vincent, M.D., M.S., Nadhia Clestin, M.D., and Aneela N. Hussain,
M.D., 2004. Pharyngitis. In: A Peer-Reviewed Journal of the American
Academy of Family Physician, 2004. State University of New York- Downstate
Medical Center, Brooklyn, New York.
13. Acerra, J.R. 2010. Pharyngitis. Departement of Emergency Medicine. North
Shore.
14. Shulman, Stanford. 2012. Clinical Practice Guideline for the Diagnosis and
Management of Group A Streptococcal Pharyngitis
15. Jill Gore, 2013. Acute Pharyngitis. In: Journal of the American Academy of
Physician Assistants
16. Prasetyawati, Arsita Eka. 2010. Kedokteran Keluarga. Bandung : Rhineka
Cipta.
17. Azwar, Azrul ; Gan, Goh Lee ; Wonodirekso, Sugito. 2004. A Primer On Family
Medicine Practice. Singapore International Foundation : Singapore
18. Anies. Kedokteran Keluarga: Pelayanan Kedokteran yang
Berprinsip Pencegahan. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
2014.
LAMPIRAN