Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu masalah kesehatan yang masih menjadi beban bagi Indonesia
adalah tingginya angka kejadian luar biasa baik itu keracunan maupun penyakit
menular. Hal ini diakibatkan karena rendahnya social ekonomi serta kualitas
lingkungan masyarakat. Oleh karena itu diperlukan adanya peningkatan system
kewaspadaan dini untuk memantau trend peningkatan penyakit sehingga dapat
dilakukan pencegahan agar peningkatan kasus tidak menjurus pada KLB. Selain
itu respon terhadapa KLB memiliki peran yang sangat penting. Dengan respon
yang cepat dan tepat maka penanggulangan KLB dapat cepat dan tepat pula.
dalah hal ini diperlukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan petugas yang
turun kelapangan dalam respon KLB.
Kejadian KLB di Indonesia pada juni 2019, hepatitis A di kabupaten
Pacitan yang tersebar di 9 wilayah puskesmas diantaranya Sudimoro, Sukarejo,
Ngadirojo, Monokarto, Tulakan, Bubakan, Tegalombo, Arjosari, dan
Ketrowonojoya. Sedangkan tahun 2018 diantaraya sebanyak 76 anak di suku
Asmat Papus meninggal akibat status gizi buruk dan campak. Di tahun 2017
Indonesia menghadapi KLB difteri di beberapa daerah terrmasuk wilayah ibukota
DKI Jakarta. Respon cepat dalam penanggulangan KLB yang dilakukan oleh
Kementrian Kesehatan yaitu dengan Outbreak Response Immunization (ORI)
pada 12 Kabupaten/Kota pada 3 Provinsi yang mengalami KLB diantaranya
Banten, Jawa Barat dan DKI Jakarta. (Depkes RI, )

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Kejadian Luar Biasa (KLB)?
2. Bagaimana klasifikasi KLB?
3. Apa saja kriteria KLB?
4. Apa saja faktor yang mempengaruhi timbulnya KLB?
5. Bagaimana penetapan dan pencabutan status KLB?
6. Bagaimana penyelidikan KLB?
7. Bagaimana deskripsi KLB berdasarkan orang, tempat dan waktu?
8. Bagaimana Penanggulangan KLB?
9. Bagaimana system pelaporan KLB?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pngertian Kejadian Luar Biasa KLB.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian KLB
Kejadian luar biasa (KLB) adalah salah satu katagori status wabah dalam
peraturan yang berlaku di Indonesia. Status KLB diatur oleh Peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004. KLB dijelaskan sebagai
timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna
secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.
(Nugrahaeni, 2011)
Sedangkan pengertian KLB menurut PERMENKES No. 1501 tahun 2010,
KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan/atau kematian
yang bermakna secara epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu
tertentu, dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah.
Jenis-jenis penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah
menurut PERMENKES No. 1501 tahun 2010, yaitu
1. Kolera
2. Pes
3. Demam Berdarah Dengue
4. Campak
5. Polio
6. Difteri
7. Pertusis
8. Rabies
9. Malaria
10. Avian Influenza H5N1
11. Antraks
12. Leptospirosis
13. Hepatitis
14. Influenza A baru (H1N1)/Pandemi 2009
15. Meningitis
16. Yellow Fever
17. Chikungunya
Perbedaan definisi antara wabah dan KLB, yaitu wabah harus mencakup
jumlah kasus yang besar, daerah yang luas, waktu yang lebih lama dan dampak
yang ditimbulkan lebih berat.

B. Klasifikasi KLB
Menurut Nugrahaeni (2011), KLB digolongkan dilihat berdasarkan cara
peyebarannya di masyarakat atau populasi.
1. Common source epidemic
Common source epidemic terjadi apabila kelompok orang terpajan oleh
infeksi atau sumber kuman (agen pathogen) yang biasa/umum. Common
sources dibagi menjadi tiga subkatagori diantaranya :
a. Point sources epidemic adalah jka patogen berasal dari sumber tungal
seperti makanan, individu terpajan di satu tempat pada satu waktu, gejala
penyakit timbul cepat karena masa inkubasi yang pendek, dan penyakit
sembuh dalam waktu singkat.
b. Intermittent epidemic, pada KLB beberapa penyakit orang yang rentan
kadangkalaterpajan penyakit akan tetapi tidak selama satu periode waktu
dapat terjadi dalam beberapa hari, beberapa minggu atau lebih lama.
c. Continuous epidemic, apabila tingkat penyebaran epidemk cukup tinggi
di populasi dan menyerang orang didalam populasi tanpa terkecuali,
pajanan bertambah dan meluas serta orang yang sakit menjadi tetap atau
bahkan meningkat selama beberapa waktu.
2. Propagated epidemic
Epidemi atau KLB menyebar dari orang ke orang, terjadi peningkatan kasus
dan biasanya membentuk pola pertumbuhan eksponensial atau sangat
mencolok, kasus terjadi terus menerus melampaui masa inkubasi.
3. Mixed epidemic
Apabila common sources epidemic berlanjut melalui kontak orang ke orang
dan penyakit menyebar seperti KLB propagated.

C. Kriteria KLB PERMENKES No. 1501 tahun 2010


Suatu daerah dapat ditetapkan dalam keadaan KLB, apabila memenuhi salah
satu kriteria sebagai berikut:
1. Timbulnya suatu penyakit menular tertentu sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal pada suatu daerah.
2. Peningkatan kejadian kesakitan terus menerus selama 3 (tiga) kurun waktu
dalam jam, hari atau minggu berturut-turut menurut jenis penyakitnya.
3. Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan
periode sebelumnya dalam kurun waktu jam, hari atau minggu menurut jenis
penyakitnya.
4. Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkan
kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan
dalam tahun sebelumnya.
5. Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 (satu) tahun
menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata
jumlah kejadian kesakitan per bulan pada tahun sebelumnya.
6. Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 (satu)
kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% (lima puluh persen) atau
lebih dibandingkan dengan angka kematian kasus suatu penyakit periode
sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.
7. Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada satu periode
menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding satu periode
sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.

D. Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya KLB


1. Herd Immunity yang rendah
Disebabkan karena sebagian masyarakat sudah tidak kebal lagi
2. Patogenitas
Kemampuan bibit penyakit untuk menimbulkan reaksi pada pejamu sehingga
timbul sakit.
3. Lingkungan yang buruk
Seluruh kondisi yang terdapat di sekitar organisme tetapi mempengaruhi
kehidupan ataupun perkembangan organisme tersebut.

E. Penetapan dan Pencabutan Status KLB


Kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, kepala dinas kesehatan provinsi,
atau Menteri dapat menetapkan daerah dalam keadaan KLB, apabila suatu daerah
memenuhi salah satu kriteria diatas. Kepala dinas kesehatan kabupaten/kota atau
kepala dinas kesehatan provinsi menetapkan suatu daerah dalam keadaan KLB di
wilayah kerjanya masing-masing dengan menerbitkan laporan KLB sesuai
contoh formulir W1. Apabila kepala dinas kesehatan kabupaten/kota tidak
menetapkan suatu daerah di wilayahnya dalam keadaan KLB, kepala dinas
kesehatan provinsi dapat menetapkan daerah tersebut dalam keadaan KLB.
Apabila kepala dinas kesehatan provinsi atau kepala dinas kesehatan
kabupaten/kota tidak menetapkan suatu daerah di wilayahnya dalam keadaan
KLB, Menteri menetapkan daerah tersebut dalam keadaan KLB. Apabila KLB
telah berakhir Kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, kepala dinas kesehatan
provinsi, atau Menteri harus mencabut penetapan daerah dalam keadaan KLB.
(PERMENKES No. 1501 Tahun 2010)

F. Penyelidikan KLB
Penyelidikan Kejadian Luar Biasa yaitu kegiatan yang dilaksanakan
untuk memastikan adanya penderita penyakit yang dapat menimbulakn KLB
seperti sifat penyebab dan faktor yang mempengaruhi penyebaran. Penyelidikan
KLB mempunyai tujuan utama yaitu mencegah meluasnya(penanggulangan) dan
terulangnya KLB di masa yang akan datang (pengendalian).Langkah-langkah
yang harus dilalui pada penyelidikan KLB, sebagai berikut:
1. Mempersiapkan penelitian lapangan
Persiapan lapangan sebaiknya dikerjakan secepat mungkin, dalam 24
jam pertamasesudah adanya informasi. Kelsey., (1986), Greg (1985)
dan Bres (1986) dalam Maulani(2010) mengatakan bahwa persiapan
penelitian lapangan meliputi:
a. Pemantapan (konfirmasi) informasi.
b. Pembuatan rencana kerja
c. Pertemuan dengan pejabat setempat.
2. Menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB
Cara diagnosis penyakit pada KLB dapat dilakukan dengan
mencocokan gejala/tanda penyakit yang terjadi pada individu, kemudian
disusun distribusi frekuensi gejala klinisnya.
3. Memastikan diagnosa etiologis
Penetapan KLB dilakukan dengan membandingkan insidensi penyakit
yang tengah berjalan dengan insidensi penyakit dalam keadaan biasa
(endemik) pada populasi yangdianggap berisiko, pada tempat dan waktu
tertentu. Adanya KLB juga ditetapkan apabilamemenuhi salah satu dari
kriteria KLB. Pada penyakit yang endemis, maka cara menentukanKLB bisa
menyusun dengan grafik pola maksimum-minimum 5 tahunan atau 3
tahunan.
4. Mengidentifikasikan dan menghitung kasus atau paparan
Identifikasi kasus penting dilakukan untuk membuat perhitungan
kasus dengan teliti.Hasil perhitungan kasus ini digunakan selanjutnya untuk
mendeskripsikan KLB. Dasar yangdipakai pada identifikasi kasus adalah
hasil pemastian diagnosis penyakit.Identifikasi paparan perlu dilakukan
sebagai arahan untuk indentifikasi sumber penularan.Pada tahap ini cara
penentuan paparan dapat dilakukan dengan mempelajari teori cara penularan
penyakit tersebut. Ini penting dilakukan terutama pada penyakit yang cara
penularannya tidak jelas (bervariasi). Pada KLB keracunan makanan
identifikasi paparan inisecara awal perlu dilakukan untuk penanggulangan
sementara dengan segera (CDC, 1979dalam Maulani, 2010).
5. Mendeskripsikan kasus berdasarkan orang, waktu, dan tempat
a. Deskripsi Kasus Berdasarkan Waktu.
Penggambaran kasus berdasarkan waktu pada periode wabah (lamanya
KLB berlangsung)digambarkan dalam suatu kurva epidemik. Kurva
epidemik adalah suatu grafik yangmenggambarkan frekuensi kasus
berdasarkan saat mulai sakit (onset of illness) selama periode wabah.
Penggunaan kurva epidemik untuk menentukan cara penularan penyakit.
Salah satu cara untuk menentukan cara penularan penyakit pada suatu
KLB yaitu dengan melihat tipekurva epidemik, sebagai berikut:
(1) Kurva epidemik dengan tipe point common source (penularan berasal
dari satu sumber).
Tipe kurva ini terjadi pada KLB dengan kasus-kasus yang terpapar
dalam waktu yang sama dansingkat. Biasanya ditemui pada penyakit-
penyakit yang ditularkan melalui air dan makanan(misalnya: kolera,
typoid).
(2) Kurva epidemik dengan tipe propagated
Tipe kurva ini terjadi pada KLB dengan cara penularan kontak dari
orang ke orang. Terlihat adanya beberapa puncak. Jarak antara
puncaksistematis, kurang lebih sebesar masa inkubasi rata rata
penyakit tersebut.
(3) Tipe kurva epidemik campuran antara common source dan
propagated.
Tipe kurva ini terjadi pda KLB yang pada awalnya kasus-kasus
memperoleh paparan suatu sumber secara bersama,kemudian terjadi
karena penyebaran dari orang ke orang (kasus sekunder).
b. Deskripsi kasus berdasarkan tempatTujuan menyusun distribusi kasus
berdasarkan tempat adalah untuk mendapatkan petunjuk populasi yang
rentan kaitannya dengan tempat (tempat tinggal, tempat pekerjaan).Hasil
analisis ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi sumber penularan.
Agar tujuantercapai, maka kasus dapat dikelompokan menurut daerah
variabel geografi (tempat tinggal, blok sensus), tempat pekerjaan, tempat
(lingkungan) pembuangan limbah, tempat rekreasi,sekolah, kesamaan
hubungan (kesamaan distribusi air, makanan), kemungkinan kontak
dariorang ke orang atau melalui vektor (CDC, 1979; Friedman, 1980
dalam Maulani, 2010).
c. Deskripsi kasus berdasarkan orangTeknik ini digunakan untuk
membantu merumuskan hipotesis sumber penularan atauetiologi
penyakit.Orang dideskripsikan menurut variabel umur, jenis kelamin,
ras, status kekebalan, status perkawinan, tingkah laku, atau kebudayaan
setempat. Pada tahap dini kadang hubungan kasusdengan variabel orang
ini tampak jelas. Keadaan ini memungkinkan memusatkan perhatian
pada satu atau beberapa variabel di atas. Analisis kasus berdasarkan
umur harus selaludikerjakan, karena dari age spscific rate dengan
frekuensi dan beratnya penyakit. Analisis iniakan berguna untuk
membantu pengujian hipotesis mengenai penyebab penyakit atau
sebagaikunci yang digunakan untuk menentukan sumber penyakit
(MacMahon and Pugh, 1970;Mausner and Kramer, 1985; Kelsey et al.,
1986 dalam Maulani, 2010).

6. Membuat cara penanggulangan sementara dengan segera (jika diperlukan)


Penanggulangan sementaraKadang-kadang cara penanggulangan
sementara sudah dapat dilakukan atau diperlukan,sebelum semua tahap
penyelidikan dilampaui. Cara penanggulangan ini dapat lebih spesifikatau
berubah sesudah semua langkah penyelidikan KLB dilaksanakan.Menurut
Goodman et al. (1990) dalam Maulani (2010), kecepatan keputusan cara
penanggulangan sangat tergantung dari diketahuinya etiologi penyakit,
sumber dan cara penularannya, sebagai berikut:
a. Jika etiologi telah diketahui, sumber dan cara penularannya dapat
dipastikan maka penanggulangan dapat dilakukan tanpa penyelidikan
yang luas.Sebagai contoh adanya kasus Hepatitis A di rumah sakit,
segera dapat dilakukan penanggulangannya yaitu memberikan
imunisasi pada penderita yang diduga kontak, sehingga penyelidikan
hanya dilakukan untuk mencari orang yang kontak dengan penderita
(MMWR,1985 dalam Maulani, 2010).
b. Jika etiologi diketahui tetapi sumber dan cara penularan belum dapat
dipastikan, maka belumdapat dilakukan penanggulangan. Masih
diperlukan penyelidikan yang lebih luas untukmencari sumber dan
cara penularannya.Sebagai contoh: KLB Salmonella Muenchen tahun
1971. Pada penyelidikan telah diketahuietiologinya (Salmonella).
Walaupun demikian cara penanggulangan tidap segera
ditetapkansebelum hasil penyelidikan mengenai sumber dan cara
penularan ditemukan. Cara penanggulangan baru dapat ditetapkan
sesudah diketahui sumber penularan dengan suatu penelitian kasus
pembanding (Taylor et al., 1982 dalam Maulani, 2010).
c. Jika etiologi belum diketahui tetapi sumber dan cara penularan sudah
diketahui maka penanggulangan segera dapat dilakukan, walaupun
masih memerlukan penyelidikan yang luastentang etiologinya.
Sebagai contoh: suatu KLB Organophosphate pada tahun 1986.
Diketahui bahwa sumber penularan adalah roti, sehingga cara
penanggulangan segera dapat dilakukan dengan mengamankan roti
tersebut. Penyelidikan KLB masih diperlukan untuk mengetahui
etiologinya yaitu dengan pemeriksaan laboratorium, yang ditemukan
parathion sebagai penyebabnya (Etzel et al., 1987 dalam Maulani,
2010).
d. Jika etiologi dan sumber atau cara penularan belum diketahui, maka
penanggulangan tidak dapat dilakukan. Dalam keadaan ini cara
penanggulangan baru dapat dilakukan sesudah penyelidikan.
7. Mengidentifikasi sumber penularan dan keadaan penyebab KLB
a. Mengidentifikasi sumber penularan
Untuk mengetahui sumber dan cara penularan dilakukan dengan
membuktikan adanya agent pada sumber penularan.
b. Identifikasi keadaan penyebab KLB
Secara umum keadaan penyebab KLB adalah adanya perubahan
keseimbangan dari agent, penjamu, dan lingkungan.
8. Merencanakan penelitian lain yang sistematis
Goodman et al (1990) dalam Maulani, 2010 mengatakan bahwa KLB
merupakankejadian yang alami (natural), oleh karenanya selain untuk
mencapai tujuan utamanya penyelidikan epidemiologi KLB merupakan
kesempatan baik untuk melakukan penelitian.Mengingat hal ini sebaiknya
pada penyelidikan epidemiologi KLB selalu dilakukan:
a. Pengkajian terhadap sistem surveilans yang ada, untuk mengetahui
kemampuannya yang adasebagai alat deteksi dini adanya KLB,
kecepatan informasi dan pemenuhan kewajiban pelaksanaan sistem
surveilans.
b. Penelitian faktor risiko kejadian penyakit KLB yang sedang
berlangsung.
c. Evaluasi terhadap program kesehatan.

9. Menetapkan saran cara pengendalian dan penanggulangan


a. Program Pengendalian
Program pengendalian dilakukan oleh institusi kesehatan dalam upaya
menurunkanangka kesakitan, kematian dan kecacatan akibat penyakit
menular dan penyakit tidak menular. Tahapan - tahapan program, yaitu:
(1) Perencanaan
Dalam tahap perencanaan dilakukan analisis situasi masalah,
penetapan masalah prioritas, inventarisasi alternatif pemecahan
masalah, penyusunan dokumen perencanaan.Dokumen perencaan
harus detail terhadap target/tujuan yang ingin dicapai, uraian
kegiatandimana, kapan, satuan setiap kegiatan, volume, rincian
kebutuhan biaya, adanya petugas penanggungjawab setiap kegiatan,
metode pengukuran keberhasilan.
(2) Pelaksanaan dalam tahap pelaksanaan dilakukan implemantasi
dokumen perencanaan, menggerakandan mengkoordinasikn seluruh
komponen dan semua pihak yang terkait.
(3) Pengendalian (Monitoring/Supervisi)Supervisi dilakukan untuk
memastikan seluruh kegiatan benar-benar dilaksanakan sesuai
dengan dokumen perencanaan.(Pickett dan John, 2009).
b. Penanggulangan KLB
Penanggulangan dilakukan melalui kegiatan yang secara terpadu oleh
pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat, meliputi:
(1) Penyelidikan epidemilogisPenyelidikan epidemiologi pada Kejadian
Luar Biasa adalah untuk mengetahui keadaan penyebab KLB dengan
mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian
tersebut, termasuk aspek sosial dan perilaku sehingga dapat diketahui
cara penanggulangan dan pengendaian yang efektif dan efisien
(Anonim, 2004 dalam Wuryanto, 2009).
(2) Pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita termasuk
tindakan karantina.Tujuannya adalah:
a) Memberikan pertolongan medis kepada penderita agar sembuh
dan mencegah agar merekatidak menjadi sumber penularan.
b) Menemukan dan mengobati orang yang tampaknya sehat, tetapi
mengandung penyebab penyakit sehingga secara potensial dapat
menularkan penyakit (carrier).
(3) Pencegahan dan pengendalian
Merupakan tindakan yang dilakukan untuk memberi perlindungan
kepada orang-orangyang belum sakit, tetapi mempunyai resiko
terkena penyakit agar jangan sampai terjangkit penyakit.
(4) Pemusnahan penyebab penyakit
Pemusnahan penyebab penyakit terutama pemusnahan terhadap bibit
penyakit/kumandan hewan tumbuh-tumbuhan atau benda yang
mengandung bibit penyakit.
(5) Penanganan jenazah akibat wabah
Terhadap jenazah akibat penyebab wabah perlu penanganan secara
khusus menurut jenis penyakitnya untuk menghindarkan penularan
penyakit pada orang lain.
(6) Penyuluhan kepada masyarakatPenyuluhan kepada masyarakat, yaitu
kegiatan komunikasi yang bersifat persuasifedukatif tentang penyakit
yang dapat menimbulkan wabah agar mereka mengerti sifat-sifat
penyakit, sehingga dapat melindungi diri dari penyakit tersebut dan
apabila terkena, tidakmenularkannya kepada orang lain. Penyuluhan
juga dilakukan agar masyarakat dapat berperanserta aktif dalam
menanggulangi wabah.
(7) Upaya penanggulangan lainnyaUpaya penanggulangan lainya adalah
tindakan-tindakan khusus masing-masing penyakityang dilakukan
dalam rangka penanggulangan wabah.
10. Melaporkan hasil penyelidikan kepada instansi kesehatan setempat dan
kepada sistim pelayanan kesehatan yang lebih tinggi
Hasil penyelidikan epidemiologi hendaknya dilaporkan kepada pihak yang
berwenang baik secara lisan maupun secara tertulis. Laporan secara lisan
kepada instansi kesehatansetempat berguna agar tindakan penanggulangan
dan pengendalian KLB yang disarankan dapatdilaksanakan. Laporan tertulis
diperlukan agar pengalaman dan hasil penyelidikanepidemiologi dapat
dipergunakan untuk merancang dan menerapkan teknik-teknik
sistimsurveilans yang lebih baik atau dipergunakan untuk memperbaiki
program kesehatan sertadapat dipergunakan untuk penanggulangan atau
pengendalian KLB.
Pada pelaksanaan penyelidikan KLB, langkah-langkah tersebut tidak
harus dikerjakan secara berurutan kadang-kadang beberapa langkah dapat
dikerjakan secara serentak. Pemastian diagnosa dan penetapan KLB merupakan
langkah awal yang harus dikerjakan (Mausner and Kramer, 1985; Vaughan and
Marrow, 1989 dalam Maulani, 2010).

G. Deskripsi KLB
1. Deskripsi KLB Berdasarkan Orang
Teknik ini digunakan untuk membantu merumuskan hipotesis sumber
penularan atau etiologi penyakit. Orang dideskripsikan menurut variabel
umur, jenis kelamin, ras, status kekebalan, status perkawinan, tingkah laku
atau kebudayaan setempat.
2. Deskripsi KLB Berdasarkan Tempat
Bertujuan untuk mendapatkan petunjuk populasi yang rentan kaitannya
dengan tempat (tempat tinggal, tempat pekerjaan). Hasil analisis ini dapat
digunakan untuk mengidentifikasi sumber penularan.
3. Deskripsi KLB Berdasarkan Waktu
Penggambaran kasus berdasarkan waktu pada periode wabah (lamanya KLB
berlangsung), digambarkan dalam suatu kurva epidemik yaitu grafik yang
menggambarkan frekuensi kasus berdasarkan saat mulai sakit (onset of
illness) selama periode wabah. Kegunaan kurva ini diantaranya untuk
menentukan sumber atau cara penularan penyakit dengan melihat tipe kurva
epidemik tersebut dan mengidentifikasi waktu paparan atau pencarian kasus
awal.

H. Penanggulangan KLB
Penanggulangan KLB/wabah tertuang dalam PERMENKES No.1501 tahun 2010
yaitu :
1. Penanggulangan KLB/Wabah dilakukan secara terpadu oleh Pemerintah,
pemerintah daerah dan masyarakat.
2. Penanggulangan KLB/Wabah meliputi:
a. Penyelidikan epidemiologis;
b. penatalaksanaan penderita yang mencakup kegiatan pemeriksaan,
pengobatan, perawatan dan isolasi penderita, termasuk tindakan
karantina;
c. Pencegahan dan pengebalan
d. pemusnahan penyebab penyakit
e. penanganan jenazah akibat wabah
f. penyuluhan kepada masyarakat dan
g. upaya penanggulangan lainnya.
3. Upaya penanggulangan lainnya berupa meliburkan sekolah untuk sementara
waktu, menutup fasilitas umum untuk sementara waktu, melakukan
pengamatan secara intensif/surveilans selama terjadi KLB serta melakukan
evaluasi terhadap upaya penanggulangan secara keseluruhan.
4. Upaya penanggulangan lainnya dilakukan sesuai dengan jenis penyakit yang
menyebabkan KLB/Wabah.
Dinas kesehatan kabupaten/kota harus melakukan upaya penanggulangan
secara dini apabila di daerahnya memenuhi salah satu kriteria KLB baik sebelum
maupun setelah daerah ditetapkan dalam keadaan KLB. Upaya penanggulangan
secara dini dilakukan kurang dari 24 (dua puluh empat) jam terhitung sejak
daerahnya memenuhi salah satu kriteria KLB.
Penetapan suatu daerah dalam keadaan KLB atau suatu daerah dalam
keadaan wabah diperlukan untuk mempermudah koordinasi dan optimalisasi
sumber daya di bidang kesehatan dalam upaya penanggulangan KLB/Wabah.
Sumber daya di bidang kesehatan meliputi segala bentuk dana, tenaga,
perbekalan kesehatan, sediaan farmasi, dan alat kesehatan serta fasilitas
pelayanan kesehatan dan teknologi.
I. Pelaporan KLB
Tenaga kesehatan atau masyarakat wajib memberikan laporan kepada kepala
desa/lurah dan puskesmas terdekat atau jejaringnya selambat-lambatnya 24 (dua
puluh empat) jam sejak mengetahui adanya penderita atau tersangka penderita
penyakit tertentu.
1. Laporan adanya penderita atau tersangka penderita penyakit menular tertentu
yang dapat menimbulkan wabah disebut laporan kewaspadaan. Yang
diharuskan menyampaikan laporan kewaspadaan adalah:
a. Orang tua penderita atau tersangka penderita, orang dewasa yang tinggal
serumah dengan penderita atau tersangka penderita, kepala keluarga, ketua
RT, RW atau kepala kecamatan.
b. Dokter, petugas kesehatan yang memeriksa penderita, dokter hewan yang
memeriksa hewan tersangka penderita.
c. Kepala stasiun kereta, kepala terminal kendaraan bermotor, kepala asrama,
kepala sekolah, pimpinan perusahaan, kepala unit kesehatan pemerintah
dan swasta.
d. Nahkoda kendaraan air dan udara.
2. Isi laporan kewaspadaan antara lain:
a. Nama penderita atau yang meninggal
b. Golongan umur
c. Tempat dan alamat kejadian
d. Waktu kejadian
e. Jumlah yang sakit dan meninggal
Pimpinan puskesmas yang menerima harus segera melaporkan kepada
kepala dinas kesehatan kabupaten/kota selambat-lambatnya 24 (dua puluh empat)
jam sejak menerima informasi. Kepala dinas kesehatan kabupaten/kota
memberikan laporan adanya penderita atau tersangka penderita penyakit tertentu
secara berjenjang kepada bupati/walikota, gubernur, dan Menteri melalui
Direktur Jenderal selambat-lambatnya 24 (dua puluh empat) jam sejak menerima
laporan. Pelaksanaan penanggulangan KLB/Wabah harus dilaporkan secara
berjenjang kepada Menteri dengan berpedoman pada format laporan KLB
(Formulir W1) dalam kurun waktu kurang dari 24 (dua puluh empat) jam.
Pelaporan KLB/Wabah meliputi laporan penetapan, perkembangan dan laporan
penanggulangan KLB/Wabah.

BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan dan pembahasan Kejadian Luara Biasa (KLB), maka
dapat ditarik kesimpulan :
A. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1501/MENKES/PER/X/2010,Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya atau
meningkatnya kejadian kesakitan dan/atau kematian yang bermakna secara
epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu dan merupakan
keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah.
B. Istilah wabah dan KLB memiliki persamaan yaitu peningkatan kasus yang
melebihi situasiyang lazim atau normal, namun wabah memiliki konotasi
keadaan yang sudah kritis, gawat atau berbahaya, melibatkan populasi yang
banyak pada wilayah yang lebih luas.
C. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1501/MENKES/PER/X/2010,suatu derah dapat ditetapkan dalam keadaan KLB
apabila memenuhi salah satu dari 7 kriteria KLB.
D. Faktor yang mempengaruhi Kejadian Luar Biasa (KLB) adala herd immunity
Yang rendah, patogenesitas, dan lingkungan yang buruk.
E. Langkah-langkah yang harus dilalui pada penyelidikan KLB, adalah: (1)
mempersiapkan penelitian lapangan, (2) menetapkan apakah kejadian tersebut su
atu KLB, (3) memastikandiagnosa etiologis, (4) mengidentifikasikan dan
menghitung kasus atau paparan, (5)mendeskripsikan kasus berdasarkan orang,
waktu, dan tempat; (6) membuat cara penanggulangan sementara dengan segera
(jika diperlukan), (7) mengidentifikasi sumber penularan dan keadaan penyebab
KLB, (8) merencanakan penelitian lain yang sistematis, (9)menetapkan saran
cara pengendalian dan penanggulangan, (10) melaporkan hasil
penyelidikankepada instansi kesehatan setempat dan kepada sistim pelayanan
kesehatan yang lebih tinggi.
F. Penanggulangan dilakukan melalui kegiatan yang secara terpadu oleh
pemerintah, pemerintahdaerah dan masyarakat, meliputi: (1) penyelidikan
epidemilogis, (2) pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita
termasuk tindakan karantina, (3) pencegahan dan pengendalian (4) pemusnahan
penyebab penyakit, (5) penanganan jenazah akibat wabah, (6) penyuluhan
kepada masyarakat, (7) upaya penanggulangan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Agung, Trisno. 2011. Investigasi Wabah. Diakses pada 15 Oktober 2019
http://www.kmpk.ugm.ac.id/images/Semester_1/Epidemiologi/Investigasi_W
abah.pdf
Nugrahaeni, Dyan Kunthi. 2011. Konsep Dasar Epidemiologi. Penerbit Buku
Kedokteran EGC: Jakarta.
Kemenkes RI. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan No. 1501 tahun 2010 Tentang
Jenis Penyakit Menular Tertentu yang Dapat Menimbulkan Wabah.
www.depkes.go.id Diakses pada 14 Oktober 2019.